Anda di halaman 1dari 5

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah di Kesehatan Kabupaten Malang.

Hasil dan Pembahasan

Jumlah penderita Demam Berdarah di Kabupaten Malang dari tahun ke tahun


cenderung fluktuatif yaitu tahun 2012 kasus DBD sebesar 173 kasus (4.06 per 100.000
penduduk), penderita meninggal sebanyak 7. Tahun 2013 kasus DBD meningkat cukup tinggi
sebesar 1.165 kasus (46,49 per 100.000 penduduk), penderita meninggal sebanyak 14 orang.
Tahun 2014 kasus DBD terjadi penurunan sebesar 834 kasus (33,03 per 100.000 penduduk)
yang terdiri dari 379 penderita laki-laki dan 455 penderita perempuan, penderita meninggal
sebanyak 4 orang. Tahun 2015 kasus DBD meningkat cukup tinggi sebesar 1.331 kasus
(52,31 per 100.000 penduduk) penderita meninggal sebanyak 11 orang. Sedangkan tahun
2016 kasus DBD sedikit mengalami penurunan 1.268 (51.50 per 100.000 penduduk. Angka
ini lebih rendah dari target nasional yaitu 2 per 100.000 penduduk, meskipun demikian masih
sangat perlu dilakukan peningkatan kegiatan-kegiatan pencegahan dan pemberantasan
Penyakit Demam Berdarah, yaitu menggalakkan kegiatan penggerakan masyarakat (Dinkes
Kabupaten Malang, 2017).
Tabel 2. Perkembangan Penyakit Demam Berdarah di Kabupaten Malang Tahun
2012-1016

Sumber : Bidang P2P Dinkes Malang

Vektor penyakit DBD adalah nyamuk jenis Aedes aegypti dan Aedes albopictus terutama
bagi Negara Asia, Philippines dan Jepang, sedangkan nyamuk jenis Aedes polynesiensis,
Aedes scutellaris dan Aedes pseudoscutellaris merupakan vektor di negara-negara kepulauan
Pasifik dan New Guinea. Vektor DBD di Indonesia adalah nyamuk Aedes (Stegomya) aegypti
dan albopictus (Djunaedi, 2006). Host alami DBD adalah manusia, agentnya adalah virus
dengue yang termasuk ke dalam famili Flaviridae dan genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe
yaitu Den-1, Den-2, Den3 dan Den-4.1 Dalam 50 tahun terakhir, kasus DBD meningkat 30
kali lipat dengan peningkatan ekspansi geografis ke negara- negara baru dan, dalam dekade
ini, dari kota ke lokasi pedesaan. Penderitanya banyak ditemukan di sebagian besar wilayah
tropis dan subtropis, terutama Asia Tenggara, Amerika Tengah, Amerika dan Karibia
(Kristina et al, 2004). Kasus demam berdarah di Kabupaten Malang cukup tinggi, terutama di
daerah Malang selatan. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat kurang memperhatikan
kesehatan lingkungan. Pada daerah Malang selatan terdapat banyak sumber mata air, ini da[at
memungkinkan perkembangan dari nyamuk Aedes aegypti.
Penyakit lain selain demam berdarah yang ada di Kabupaten Malang yaitu Malaria.
Kasus malaria di Kabupaten Malang tahun 2012-2016 cenderung mengalami peningkatan.
Kasus terbanyak yaitu pada tahun 2013 dengan jumlah kasus sebesar 136 penderita. Dan di
tahun 2016 terdapat 63 penderita. Hasil surveilans rutin malaria tahun 2016
menginformasikan terdapat penderita malaria sebanyak 298 penderita malaria import dan
tidak ditemukan malaria indegeneous selama tahun 2016 (Dinkes Provinsi Jawa Timur, 2015).

Gambar 5. Perkembangan kasus malaria di Kabupaten Malang tahun 2012-2016 (Sumber :


Bidang P2P Dinkes Malang).

Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh golongan parasit dari genus
Plasmodium. Penularan penyakit malaria melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. betina.
Terdapat empat jenis spesies Plasmodium penyebab penyakit malaria pada manusia, yaitu
Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale
(Achmadi, 2005). Penyakit ini ditemukan hampir di seluruh wilayah yang beriklim tropis
maupun subtropis. Penduduk yang berisiko terkena malaria berjumlah sekitar 2,3 miliar atau
41% dari jumlah penduduk dunia. Di dunia, kasus ini diperkirakan berjumlah sekitar 300 _
500 juta dan mengakibatkan 1,5 _ 2,7 juta kematian setiap tahun, terutama di negara-negara
benua Afrika (WHO,2008).
Faktor penentu penularan malaria dibedakan atas dua kategori yang dibedakan dalam
dua kategori besar. Pertama, faktor-faktor yang berpengaruh langsung, rata-rata nyamuk
menggigit manusia dalam sehari, rata-rata gametosit Plasmodium pada populasi, lama siklus
sporogonik dalam tubuh nyamuk, rata-rata kemampuan hidup harian pada nyamuk. Kedua,
faktor-faktor tidak langsung, meliputi lingkungan dan iklim, curah hujan, kekeringan,
pengelolaan lingkungan buatan, perubahan pola menggigit vektor, suhu udara, kelembaban,
importasi parasit malaria lewat perpindahan penduduk dan migrasi penduduk yang non imun
(Mardihusodo, 1999). Wilayah Kabupaten Malang yang dikelilingi oleh perbukitan
menyebabkan curah hujan cukup tinggi dengan tingkat kelembaban yang tinggi pula. Kondisi
ini menjadikan lingkungan nyaman untuk kehidupan nyamuk.

Gambar 6. Perkembangan kasus filariasis di Kabupaten Malang tahun 2012-2016 (Sumber :


Bidang P2P Dinkes Malang).

Kasus kaki gajah (Filariasis) di Kabupaten Malang cukup rendah. Filariasis limfatik
merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia.
Filariasis limfatik disebabkan oleh cacing filaria Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan
Brugia timori yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening serta ditularkan oleh
berbagai jenis nyamuk (Kemenkes RI, 2010). Kasus filariasis di Kabupaten Malang cukup
rendah, tetapi di Jawa timur cukup banyak. Di Jawa Timur total kasus kaki gajah/Filariasis
Klinis Kronis tercatat sampai dengan tahun 2016 sejumlah 351 kasus tercatat di 38 Kabuaten
/ Kota, Dari data tersebut jumlah kasus terbanyak berada di Kabupaten Lamongan, Malang,
dan Ponorogo (Dinkes Provinsi Jawa Timur, 2015).

Penyakit diare juga salah satu kasus penyakit tertinggi di Kabupaten Malang. Secara
keseluruhan jumlah penderita diare di Kabupaten Malang terjadi penurunan dari tahun 2012-
2015 sebesar 8.686. dan di tahun 2016 terjadi kasus diare sebesar 54.896 untuk semua umur.
Pada balita dari tahun 2012-2016 juga mengalmi penurunan. Pada Cakupan pelayanan diare
dalam 6 tahun terakhir meningkat pada tahun 2013 yaitu mencapai 118%. Hal ini terjadi
karena ada penurunan angka morbiditas dari tahun 2012 yang 411/1.000 penduduk menjadi
214/1.000 penduduk pada tahun 2013. Sedangkan capaian cakupan pelayanan diare terendah
berada di tahun 2016 yaitu sebesar 82 % atau. Hal ini disebabkan oleh rendahnya ketepatan
dan kelengkapan laporan bulanan dari Kabupaten/ Kota (Dinkes Provinsi Jawa Timur, 2015).

Gambar 7. Perkembangan kasus diare pada balita dan semua umur di Kabupaten Malang
tahun 2012-2016. (Sumber : Bidang P2P Dinkes Malang).

Kasus untuk balita juga termasuk tinggi. Hal ini mungkin dikarenakan, pada umur
balita masih tidak bisa menjaga kebersihan. Balita biasanya suka bermain pasir dan sesuatu
yang kotor hal inilah yang mengakibatkan diare akibat terkontaminasi telur cacing yang ada
di pasir maupus sesuatu yang kotor lainnya.

DAFTAR RUJUKAN

Achmadi UF. Manajemen penyakit berbasis wilayah. Jakarta: Kompas; 2005.

Depkes RI. 2005. Petunjuk Teknis. Jakarta: Depkes RI Dirjen P2M dan P2L.
Dinkes Kabupaten Malang. 2017. Buku Saku Profil Kesehatan Kabupaten Malang Tahun
2017. Malang: Dinas Kesehatan Kabupaten Malang
Dinkes Provinsi Jawa Timur. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2015.
Surabaya: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
Djunaedi D. 2006. Demam Berdarah [Dengue DBD] Epidemiologi, Imunopatologi,
Patogenesis, Diagnosis dan Penatalaksanaannya. Malang: UMM Press.

Kementerian Kesehatan RI. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi Filariasis di Indonesia.


Volume 1. Jakarta : Pusat data dan Surveilans Epidemiologi Kementerian Kesehatan
RI.
Kristina, Ismaniah, Wulandari L. 2004. Kajian Masalah Kesehatan : Demam Berdarah
Dengue. In:Balitbangkes, editor.: Tri Djoko Wahono. p. hal 1-9.
Mardihusodo SJ. Malaria: status kini dan pengendalian nyamuk vektornya untuk abad XXI,
pidato pengukuhan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada; 1999

World Health Organization. Malaria, global and regional risk [monograph on the internet].
Geneva: World Health Organization [cited 2008 Mar 28]. Available from:
www.who.int/countries.