Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan adalah harta yang paling berharga. Menjadi sehat adalah
harapan bagi semua orang. Ketika dihadapkan dengan keadaan tidak sehat
atau sakit, secara spontan manusia akan mencari cara untuk kembali sehat.
Terapi medikamentosa maupun non medikamentosa akan dilakukan, dengan
biaya yang terkadang tidak sedikit. Ditambah dengan berbagai faktor, seperti
ketidaknyamanan terhadap efek samping obat dan sebagainya. Tingkat
kepatuhan pasien terhadap terapi farmakologi pun menurun. Dan sebagian
orang mencoba cara lain, seperti pengobatan herbal. Demi mengatasi
penyakitnya, dan mencapai kualitas kesehatan yang lebih baik.
Pada saat ini penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian
terbanyak yang ada diseluruh dunia. Jika dibandingkan sebelum tahun 1900an,
penyakit infeksi dan malnutrisi adalah penyebab kematian terbanyak di dunia
dan penyakit kardiovaskular hanya mengambil bagian <10% dari seluruh
kematian. Sekarang penyakit kardiovaskular mencapai ~30% dari kematian di
dunia, dan mendekati angka 40% pada negara berpendapatan tinggi dan
sekitar 28% pada negara berpendapatan rendah dan menengah.1
Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular.
Diperkirakan telah menyebabkan 4.5% dari beban penyakit secara global, dan
prevalensinya hampir sama besar di negara berkembang maupun di negara
maju.2
Di Amerika, diperkirakan 30% penduduknya (± 50 juta jiwa)
menderita tekanan darah tinggi (≥ 140/90 mmHg); dengan persentase biaya
kesehatan cukup besar setiap tahunnya.3 Di Indonesia berdasarkan Riset
Kesehatan Dasar tahun 2007, dari 32 provinsi didapatkan angka prevalensi
31,7% penduduk mengidap hipertensi. Hipertensi menjadi penyakit yang
sering terjadi di masyarakat Indonesia baik dari golongan atas dan bawah.
Dikarenakan banyak hal seperti faktor stres, makanan, lingkungan dan

1
pekerjaan. Banyak masyarakat tidak menyadari bahwa mereka menderita
hipertensi baik mulai dari tahap ringan sampai tahap berat. Sampai sekarang
ini, masyarakat tidak tahu secara pasti bagaimana diagnosis dari hipertensi,
tetapi bisa dari gejala yang dialami penderita.
Hipertensi merupakan faktor risiko penting penyakit jantung koroner
di Indonesia, khususnya Jakarta. Hipertensi adalah keadaan tubuh kehilangan
atau kurang mampu mengendalikan tekanan darah sehingga mengalami
tekanan berlebih atau biasa dikenal sebagai tekanan darah tinggi. Jika tidak
terkendali, hipertensi dapat menimbulkan komplikasi ke otak sehingga terjadi
stroke, mempengaruhi ginjal dan jantung. Risiko pada jantung dapat mencapai
angka 75% berupa pembengkakan jantung (left ventricel hyperthophy),
penyempitan pembuluh darah koroner (coronary artery disease), atau
kombinasi keduanya. Ketiga komplikasi tersebut akan meningkatkan angka
kematian kardiovaskuler atau gagal jantung.
Karena itu, pengenalan dini terhadap hipertensi serta
penanggulangannya akan dapat menurunkan angka kematian tersebut.
Sayangnya masyarakat sering mengabaikan hipertensi karena gejalanya
sendiri kurang bermakna. Selain itu, pengetahuan tentang pengendalian
hipertensi masih sangat minim, biaya pengobatan mahal karena mesti
dilakukan seumur hidup, dan kampanye mengenai pengetahuan hipertensi
juga minim. Di Amerika, menurut National Health and Nutrition Examination
Survey (NHNES III); paling sedikit 30% pasien hipertensi tidak menyadari
kondisi mereka, dan hanya 31% pasien yang diobati mencapai target tekanan
darah yang diinginkan dibawah 140/90 mmHg.4 Dan di Indonesia
kemungkinan angka tersebut lebih besar. Langkah awal untuk pengobatan dan
pengendalian hipertensi secara non-medis bisa dilakukan dengan memulai
pola hidup sehat, yakni olah raga teratur, polamakan seimbang, serta
mengobati penyakit penyerta seperti diabetes. Jika penanganan non-medis ini
tidak berhasil maka harus diteruskan dengan upaya medis.
Para praktisi kesehatan berusaha melakukan semua pencegahan yang
memungkinkan untuk mengurangi keparahan dan faktor risiko hipertensi.

2
Disamping dari upaya pencegahan, banyak apoteker mencari cara pengobatan
medikamentosa dan tradisional. Jenis-jenis pengobatan medikamentosa
banyak beredar di masyarakat luas. Obat-obat tersebut memiliki banyak
kelebihan dan kekurangan. Dimana kekurangan tersebut mulai dari harga yang
mahal, sulitnya didapat, kurangnya pemasaran, dan seringnya kurang
responsif obat.
Dikarenakan pengobatan medikamentosa dirasakan sulit diterima oleh
masyarakat luas, maka banyak praktisi kesehatan yang mengolah tanaman-
tanaman yang sering kita jumpai sehari-hari dan ternyata banyak mengandung
manfaat yang berguna untuk penderita hipertensi. Salah satu contoh tanaman
tersebut ádalah seledri. Dikatakan dalam banyak jurnal bahwa tanaman seledri
banyak mengandung zat aktif yang secara efektif menurunkan tekanan darah
pada penyakit hipertensi. Menurut Kompas.com tanaman yang bernama Latin
Apium graveolens ini memang telah dikenal banyak manfaatnya untuk
kesehatan. Tak hanya daunnya saja yang memiliki khasiat, akar, buah dan biji
seledri pun dapat digunakan sebagai obat.
Akar seledri berkhasiat memacu enzim pencernaan dan peluruh
kencing (diuretik), buah atau bijinya sebagai pereda kejang (antispasmodik),
menurunkan kadar asam urat darah, antirematik, peluruh kencing, peluruh
kentut (karminatif), afrodisiak, dan penenang (sedatif).

1.2 Rumusan Masalah


Apakah setiap kandungan zat aktif pada tanaman seledri (Apium graveolens)
dapat secara efektif digunakan untuk menormalkan penyempitan pembuluh
darah pada penderita hipertensi?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
1. Mengetahui kegunaan setiap kandungan zat aktif yang terdapat pada
tanaman seledri (Apium graveolens) untuk menurunkan tekanan darah
pada penderita hipertensi

3
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui lebih rinci apa saja kandungan zat aktif pada tanaman
seledri tersebut
2. Mengetahui kegunaan dari masing-masing zat aktif tersebut
3. Mengetahui bagaimana zat aktif tersebut menormalkan
penyempitan pembuluh darah pada penderita hipertensi

1.4 Manfaat Penulisan


1. Memaparkan informasi kepada masyarakat bahwa kandungan zat aktif
yang sering ditemukan pada tanaman seledri banyak mengandung
kegunaan yang efektif.
2. Masyarakat jadi lebih mengerti menggunakan tanaman seledri sesuai
fungsinya.
3. Menarik minat-minat yang lain untuk menggali potensi tanaman-tanaman
yang kita jumpai sehari-hari untuk lebih diteliti lagi.

4
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Hipertensi
Definisi hipertensi adalah tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan
tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg atau bila pasien memakai obat
antihipertensi. (Mansjoer,A).

2.1.1 Etiologi Hipertensi


Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu:
a.Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui
penyebabnya disebut juga hipertensi idiopatik. Menurut data di Jakarta
terdapat sekitar 95% kasus hipertensi ini.
b. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal yang terdapat sekitar 5%
kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penyakit ginjal, hipertensi
vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, sindrom Cushing, dan lain-
lain. (Mansjoer,A,1999).

2.1.2 Manifestasi Klinis


Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya
gejala. Bila demikian, gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada
ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah
sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk,
sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing.

2.1.3 Faktor Risiko Hipertensi5


Tabel 1.
1. Merokok
2. Mikroalbuminuria (GFR<60 mL/mnt)
3. Obesitas (BMI ≥ 30)
4. Umur (pria>55 tahun, wanita>65 tahun)

5
5. Aktifitas fisik yang tidak aktif
6. Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskuler dini
7. Dislipidemia
8. DM

2.1.4 Patofisiologi
Banyak faktor yang mengontrol tekanan darah berkontribusi secara
potensial dalam terbentuknya hipertensi; faktor-faktor tersebut adalah6
(gambar 1 ):
a) Meningkatnya aktifitas sistem saraf simpatik (tonus simpatis dan/atau
variasi diurnal), mungkin berhubungan dengan meningkatnya respons
terhadap stress psikososial dll
b) Produksi berlebihan hormon yang menahan natrium dan
vasokonstriktor
c) Asupan natrium (garam) berlebihan
d) Tidak cukupnya asupan kalium dan kalsium
e) Meningkatnya sekresi renin sehingga mengakibatkan meningkatnya
produksi angiotensin II dan aldosteron
f) Defisiensi vasodilator seperti prostasiklin, nitrik oxida (NO), dan
peptide natriuretik
g) Perubahan dalam ekspresi sistem kallikrein-kinin yang mempengaruhi
tonus vaskular dan penanganan garam oleh ginjal
h) Abnormalitas tahanan pembuluh darah, termasuk gangguan pada
pembuluh darah kecil di ginjal
i) Diabetes mellitus
j) Resistensi insulin
k) Obesitas
l) Meningkatnya aktivitas vascular growth factors
m) Perubahan reseptor adrenergik yang mempengaruhi denyut jantung,
karakteristik inotropik dari jantung, dan tonus vaskular
n) Berubahnya transpor ion dalam sel

6
Gambar 1

2.1.5 Klasifikasi Hipertensi


a. Klasifikasi tekanan darah oleh JNC 7 untuk pasien dewasa (umur ≥ 18
tahun). Berdasarkan rata-rata pengukuran dua tekanan darah atau lebih pada
dua atau lebih kunjungan klinis4 (Tabel 2). Klasifikasi tekanan darah
mencakup 4 kategori, dengan nilai normal pada tekanan darah sistolik (TDS)
< 120 mm Hg dan tekanan darah diastolik (TDD) < 80 mm Hg. Prehipertensi
tidak dianggap sebagai kategori penyakit tetapi mengidentifikasi pasien-pasien
yang tekanan darahnya cendrung meningkat ke klasifikasi hipertensi dimasa
yang akan datang. Ada dua tingkat (stage) hipertensi , dan semua pasien pada
kategori ini harus diberi terapi obat.

Tabel 2 Klasifikasi tekanan darah untuk dewasa umur ≥ 18 tahun menurut JNC 7.4
Klasifikasi tekanan Sistolik Diastolik (mmHg)
Darah (mmHg)

7
Normal <120 dan <80
Prehipertensi 120-139 atau 80-89
Hipertensi tingkat 1 140-159 atau 90-99
Hipertensi tingkat 2 ≥ 160 atau ≥ 100-109

Catatan: Pasien tidak sedang sakit atau minum obat antihipertensi pada saat
pengukuran.

2.1.6 Cara diagnosis hipertensi5


Tujuan dari diganosis hipertensi:
1.Menilai pola hidup serta identifikasi faktor-faktor risiko kardiovaskular
lainnya, dan kemungkinan adanya penyakit penyerta yang mempengaruhi
prognosis dan pengobatan
2. Mencari penyebab hipertensi
3.Menentukan ada tidaknya kerusakan target organ dan penyakit
kardiovaskular

2.1.6.1 Anamnesis5
Wawancara medis pada pasien dengan hipertensi harus meliputi:
1. Jangka waktu, derajat keparahan dan riwayat perjalanan penyakit hipertensi.
2. Indikasi hipertensi sekunder :
a.Riwayat penyakit ginjal pada keluarga (ginjal polikistik)
b. Ada/tidaknya penyakit ginjal, ISK, dan hematuria
c.Pemakaian obat-obat analgesik dan atau obat lainnya yang dapat
meningkatkan tekanan darah atau mengganggu efektivitas obat
antihipertensi.
d. Episoda berkeringat, sakit kepala, kecemasan, palpitasi
(pheochromocytoma). Pheocromocytoma adalah tumor sel kromafin pada
medula adrenal atau para ganglion simpatis; gejalanya terutama hipertensi,
mencerminkan bertambahnya sekresi epinefrin dan norepinefrin.
e.Episoda lemah otot dan tetani (aldosteronisme)
3. Faktor-faktor risiko

8
Secara umum pasien dapat terlihat sehat atau beberapa diantaranya sudah
mempunyai faktor resiko tambahan, tetapi kebanyakan asimptomatik. (Tabel 1.)
4. Gejala kerusakan organ :
a.Otak dan mata : Sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan
b. Jantung : Palipitasi, nyeri dada, sesak, bangkak kaki
c.Ginjal : haus, poliuria, nokturia, hematuri
d. Arteri perifer : eksremitas dingin, klaudikasiointermiten
5. Pengobatan antihipertensi sebelumnya
6. Faktor pribadi, keluarga, dan lingkungan yang dapat mempengaruhi tekanan
darah (tingkat stress)

2.1.6.2 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik dapat dimulai dari penampilan secara general,
menginspeksi obesitas pada daerah wajah dan obesitas seperti pada Cushing's
syndrome. Inspeksi perkembangan dari eksremitas atas yang tidak proporsional
dengan eksremitas bawah yang menunjukan adanya coarctation dari aorta.
Pemeriksaan fisik bertujuan untuk memeriksa tekanan darah juga
mengidentifikasi tanda hipertensi sekunder atau komplikasi yang telah terjadi
pada organ tertentu. Minimal pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah tanda-
tanda vital yaitu berat badan, tinggi badan, denyut nadi, dan tekanan darah.
Pengukuran tekanan darah:
• Pengukuran rutin di kamar periksa
• Pengukuran 24 Jam (Ambulatory Blood Pressure Monitoring-ABPM)
• Pengukuran sendiri oleh pasien

Pengukuran di kamar periksa dilakukan pada posisi duduk di kursi setelah


pasien istirahat selama 5 menit, kaki di lantai dan lengan pada posisi setinggi
jantung. Pengukuran dilakukan dua kali dnegan sela 1-5 menit, pengukuran
tambahan dilakukan jika terdpat perbedaan hasil yang signifikan.5

9
Fokus pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Leher
a. Denyut dan bising arteri carotis
Palpitasi dan auskultasi dari arteri karotid sebagai bukti adanya stenosis
atau oklusi.
b. Bendungan vena jugularis
c. Pembesaran kelenjar tiroid
2. Jantung
a. Denyut jantung dan iramanya
b. Denyut jantung apikal
c. Precordial heave
d. Bising jantung (murmur, gallop, bunyi jantung ke 3-4)
3. Paru-Paru
a. Crackles
b. Wheezing dan ronkhi
4. Abdomen
a. Massa, aneurisma aorta, ginjal polikistik
b. Bising abdomen
5. Alat gerak
a. Denyut arteri perifer
b. Denyut arteri femoralis
c. Edema
6. Saraf sentral dan perifer
a. Tanda/gejala dini dari penyakit saraf-pembuluh darah
7. Fundoskopi
a. Penarikan atau penyempitan arteri-vena
b. Perdarahan
c. Eksudat
d. Papiledema

2.1.6.3 Pemeriksaan Penunjang5

10
1. Test darah rutin
2. Glukosa darah
Glukosa darah dihitung karena DM berasosiasi dengan percepatan
arterosklerosis, penyakit vaskular renal, dan diabetik nephropathy, dan
karena aldosteronism, cushing syndrome, dan pheochromocytoma mungkin
diasosiasikan dengan hiperglisemia.
3. Kolesterol total serum
4. Kolesterol LDL dan HDL serum
5. Trigilserida serum
6. Asam urat serum
Asam urat adalah salah satu bagian dari BUN (blood urea nitrogen). Level
yang meningkat dapat dilihat di penyakit ginjal, beberapa keganansan,
penyakit hati, konsumsi alkohol dan kebanyakan pengobatan untuk melawan
keganasan.
7. Kreatinin serum
Seperti juga urea clearance, tes ini menilai faal glomerulus.
8. Kalium serum
Serum postasium harus diukur untuk melihat meralocorticoid-induce
hypertension dan untuk memberi garis dasar sebelum terapi diuretik dimulai.
9. Hemoglobin dan hematokrit
10. Urea Clearence
Urea clearance mengukur fungsi glomerulus karena ureum difiltrasi melalui
glomerulus tersebut.
11. Elektrokardiogram

2.1.7 Tatalaksana
1. Terapi non-farmakologis
Pengobatan non farmakologis berupa pengurangan asupan garam,
penurunan berat badan bagi pasien gemuk dan olahraga (Bakri, 2003)

11
2. Terapi farmakologis
Menurut JNC VII, pengobatan dengan diuretik, ACE inhibitor, beta
blocker, angiotensin reseptor bloker, dan calcium antagonist mempunyai
manfaat pada terapi hipertensi pada diabetes tipe 1 dan tipe 2 (Chobanian et
al., 2004).
Obat antihipertensi yang ideal untuk penyandang hipertensi dan diabetes
mellitus sebaiknya memenuhi syarat-syarat:
a) Efektif menurunkan tekanan darah
b) Tidak menganggu toleransi glukosa atau menganggu respons
terhadap hipohiperglikemia
c) Tidak mempengaruhi fraksi lipid
d) Tidak menyebabkan hipotensi postural, tidak mengurangi aliran
darah tungkai, tidak meningkatkan risiko impotensi
e) Bersifat kardio-protektif dan reno-protektif (Bakri, 2003)
Pilihan pertama obat antihipertensi:

Pilihan obat-obat antihipertensi:7,8


(1). Diuretik
Mekanisme: Diuretik bekerja meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida
sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Akibatnya tejadi
penurunan curah jantung dan tekanan darah. Selain itu beberapa diuretik juga
menurunkan resistensi perifer sehingga menambah efek hipotensinya. Efek ini
diduga akibat penurunan natrium di ruang intertisial dan di dalam sel otot polos
pembuluh darah yang selanjutnya menghambat influks kalsium (Nafrialdi et al.,
2007)

12
(2). Beta bloker
Mekanisme:
(1). Penurunan denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga
menurunkan curah jantung.
(2). Hambatan sekresi renin di sel-sel jukstaglomeruler ginjal dengan akibat
penurunan produksi angiotensin II
(3). Efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis, perubahan pada
sensitivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron adrenergik perifer
dan peningkatan biosintesis prostasiklin.
(3). ACE Inhibitor (ACEI)
Mekanisme: ACE-inhibitor menghambat perubahan angiotensin I menjadi
angiotensin II, sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron.
Selain itu, degradasi bradikinin dalam darah meningkat dan berperan dalam efek
vasodilatasi ACE-inhibitor. Vasodilatasi secara tidak langsung akan menurunkan
tekanan darah, sedangkan berkurangnya aldosteron akan menyebabkan ekskresi
air dan retensi kalium (Nafrialdi et al., 2007)
(4). Calsium channel bloker (CCB)
Mekanisme: Antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada sel otot polos
pembuluh darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium terutama
menimbulkan relaksasi arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi. Penurunan
resistensi perifer ini sering diikuti oleh reflek takikardia dan vasokonstriksi,
terutama bila menggunakan golongan dihidropiridin kerja pendek (nifedipin).
Sedangkan diltiazem dan verapamil tidak menimbulkan takikardi karena efek
kronotropik negatif langsung pada jantung (Nafrialdi et al., 2007)
(5). Angiotensin reseptor bloker (ARB)
Mekanisme: Dengan mencegah efek angiotensin II, senyawa antagonis reseptor
angiotensin II ( losartan, kandesartan, irbesartan, valsatran dan erprosartan)
merelaksasi otot polos sehingga mendorong vasodilatasi, meningkatkan ekskresi
garam dan air di ginjal, menurunkan volume plasma, dan mengurangi hipertropi
sel (Oates et al., 2008)

13
Tips untuk penderita hipertensi
- Bagi yang kegemukan, sebaiknya turunkan berat badan.
- Konsumsi serat dan sayur-sayuran,buah-buahan dan kacang-kacangan.
- Batasi konsumsi gula, garam, kafein, makanan berlemak,dan makanan kaleng.
- Berolahraga secara teratur.
- Belajar mengendalikan stress.
- Hentikan kebiasan merokok.
- Menghindari minuman beralkohol
- Cukup istirahat dan tidur

2.2 Jenis tanaman untuk menurunkan tekanan darah9,10


1. Belimbing manis
Universitas Sains Malaysia pernah melakukan penelitian untuk melihat
manfaat buah yang bernama latin Averrhoa carambola linn ini pada beberapa
orang. Ternyata, buah ini dapat menurunkan tekanan darah. Hanya saja,
mereka tidak sampai meneliti kandungan yang membuat buah ini dapat
menurunkan tekanan darah.
Perkiraan para ahli, kemungkinanbuah ini mengandung banyak serat
yang mampu menyerap lemak tubuh. Bisa juga karena kandungan airnya yang
tinggi dan mengandung kalium yang membuat buah ini bersifat diuretik.

2. Seledri
Dr. William J. Elliot, farmakolog dari fakultas Kedokteran, Universitas
Chicago berhasil mengisolasi senyawa pada seledri yang dapat menurunkan
tekanan darah. Senyawa itu adalah 3-n-butyphththalida yang memberi aroma
harum. Elliot memperkirakan, seledri membantu menurunkan tekanan darah
karena mampu menekan konsentrasi hormon stres sehingga pembuluh darah
kembali melebar.
Bila hendak menggunakan seledri untuk membantu menurunkan tekanan
darah. Ambil seluruh bagian tanaman lalu cuci bersih dan rebus dengan air.

14
Minum air rebusannya beberapa kali sehari. Cara lain, membuat tumisan
seledri.

3. Mentimun
Buah ini mengandung fosfor, kalium, magnesium, vitamin A, C, E,
betakoren, dan asam folat. Universitas Airlangga dan juga Universitas Kristen
Maranatha pernah melakukan penelitian terhadap mentimun. Dari penelitian
mereka, terbukti jus mentimun dapat menurunkan tekanan darah, baik pada
manusia maupun pada hewan percobaan.
Caranya sangat gampang, bisa dimakan begitu saja. Dijadikan teman
lalapan, dimasak ataupun dijus. Sebaiknya, saat makan mentimun jangan
dikupas kulitnya karena serat kasarnya dapat membantu menurunkan berat
badan.

4. Anggur
Berita paling mutakir adalah bahwa ekstrak biji anggur ternyata
membantu untuk menurunkan hipertensi. Biji anggur menurut Prof. C. Tissa
Kappagoda, sang penemu efek biji anggur untuk menurunkan tekanan darah
tinggi, bukan berarti kita harus menelan biji anggur bulat-bulat, tapi diekstrak.
Jadi, bila membuat jus anggur, sertakan bijinya dan haluskan hingga benar-
benar hancur.
Diperkirakan efek menurunkan tekanan darah pada ekstrak biji anggur
berkat senyawa polifenolnya yang dapat melebarkan pembuluh darah sehingga
aliran darah lancar dan tekanan darah membaik. Selain itu, kandungan vitamin
E, plavanoid, asam linoleat dan prosianidin juga diperkirakan ikut membantu
menyeimbangkan tekanan darah.
5. Bawang putih
Dr. V. Petkov dari Bulgaria pernah melakukan penelitian manfaat
bawang putih pada penderita hipertensi. Dalam penelitiannya setelah diberi
bawang putih, tekanan sistolik mereka turun 20-30 poin, sedangkan
diastoliknya turun10-20 poin. Diperkirakan, kemampuan umbi bawang putih

15
dalam membantu menurunkan tekanan darah akibat kandungan alisin yang
melenturkan pembuluh darah. Tapi peneliti dari Universitas George
Washington melihat senyawa adenosinlah yang melenturkan pembuluh darah.
Ditambah lagi, umbi ini juga mengandung prostaglandin dan vitamin E yang
berefek menurunkan tekanan darah. Bila anda ingin mencoba khasiatnya tapi
tak kuat dengan baunya, masukan saja lumatan bawang putih dalam kapsul
dan masukkan dalam mulut.

2.2.1 Deskripsi tanaman seledri


a. Gambaran umum tanaman Seledri
Apium (bahasa Latin) berarti beraroma, graveolens (bahasa Latin)
penyebar bau. Berdasarkan habitusnya, tanaman seledri (Apium graveolens L.)
dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Seledri daun (Apium graveolens L. varietas Secalinum Alef)
Ciri khas seledri ini adalah pada tatacara panennya yaitu dicabut
batangnya atau dipetiik tangkai daunnya. Seledri varietas ini lebih suka
tumbuh di tanah-tanah yang agak kering.
2. Seledri potong (Apium graveolen L. varietas Sylvestre Alef)
Jenis ini biasanya dipanen dengan cara memotong tanaman pada pangkal
batangnya.
3. Seledri berumbi (Apium graveolens L. varietas Rapaceum alef)
Seledri jenis ini biasanya dipanen hanya daun-daunnya saja. Ciri khasnya
adalah pada bagian pangkal batangnya membengkak merupakan umbi.
Dari ketiga jenis golongan seledri tersebut, yang paling banyak ditanam di
Indonesia adalah seledri daun (Apium graveolens L. varietas Secaiinem alef).11
Apium graveolens adalah daun seledri dari famili Apiaceae atau
Umbelliflorae. Ciri makroskopis simplisia daun seledri berupa daun tunggal
atau majemuk semu, tangkai silindris beralur, panjang tangkai 5–15 cm. Daun
seledri berbentuk segi tiga, dengan ujung runcing, pangkal berlekuk, tepi
bergerigi dan panjang 10–25 cm. Dalam keadaan kering daun seledri
menggulung, berwarna hijau kecoklatan, berbau aroma kuat, rasa manis sedikit

16
pahit (Djumidi et al. 1998). Tanaman ini sangat mudah dikenal karena secara
luas digunakan sebagai sayuran atau lalapan oleh masyarakat di Indonesia.

b. Sistematika tanaman menurut Backer dan Van den Brink, 1965


Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Umbelliferales
Familia : Apiaceae
Genus : Apium
Spesies : Apium graveolens L.

c. Penamaan
Celery (Inggris), Celeri (Perancis), Seleri (Italia), Selinon, Parsley (Jerman),
Saladri, Seleri, Sederi (Jawa) (Hariana, 2006).

d. Morfologi tanaman
Seledri merupakan herba tegak, tinggi sekitar 50 cm dengan bau aromatik
yang khas, batang persegi, beralur, beruas, tidak berambut, bercabang banyak,
berwarna hijau pucat. Daun majemuk menyirip ganjil dengan anak daun 3-7 helai.
Anak daun bertangkai yang panjangnya 1-2,7 cm, pertulangan menyirip, berwarna
hijau keputih-putihan. Bunga majemuk berbentuk payung, 8-12 buah, kecil-kecil,
berwarna putih mekar secara bertahap. Buahnya buah kotak, berbentuk kerucut,
panjang 1-1,5 mm, berwarna hijau kekuningan (Dalimarta, 2003).

17
e. Kandungan zat aktif10
Kandungan zat aktif seledri adalah apiin, apigenin, manitol, volatileoil,
glycosides, furanocoumarins, flavonoids. Flavonoid dengan komponen utama
apiin dan apigenin, minyak atsiri, saponin, senyawa kumarin dengan komponen
utama umbelliferon.
Menurut Soedibyo (1998), kandungan kimia seledri adalah apiin, apigenin,
manit, inositol, asparagina, glutamina, kolina, dan linamarosa. Kandungan seledri
daun tiap 100g ialah 89 g air, 2,20 g protein, 0,60 g lemak, 4,60 g karbohidrat,
1,40 g serat, 1,70g abu, 2685 IU vitamin A, 0,08 mg vitamin B1, 0,12mg vitamin
B2, 0,60 mg niasin, 49 mg vitamin C, 326 mg Ca, 51 mg P, 15,30 mg Fe, 151 mg
Na, 318 mg K (Susiarti 2000).

2.2.2 Manfaat seledri bagi masyarakat:12


A. Seledri dan manfaatnya bagi kesehatan.
1. Menyuburkan Rambut
Caranya: Cuci 7-10 tangkai daun seledri sampai bersih, lalu tumbuk
sampai halus. Gosokkan tumbukan daun seledri ke kulit kepala dan rambut
secara merata sambil dipijat ringan. Setelah selesai, bungkus rambut
dengan handuk selama kurang lebih 1 jam. Bilas rambut dengan air bersih.
Lakukan seminggu sekali.

2. Menurunkan Kolesterol
Caranya: Cuci 30 gram akar seledri sampai bersih, lalu rebus dalam 2
gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring. Airnya
diminum sekaligus.
3. Mengatasi Alergi

18
Caranya: Ambil 2 batang seledri, 3 buah wortel ukuran sedang, dan 1 buah
umbi bit ukuran sedang, cuci bersih, lalu dijus. Minum jus tersebut
sekaligus waktu perut kosong. Lakukan dua kali sehari.
4. Mengurangi Kolik dan Sakit Perut
Caranya: Sediakan 60 gram seledri segar, 1 ruas jari tangan jahe merah,
dan sepotong gula aren. Rebus dalam 2 gelas air bersih hingga tersisa 1
gelas. Setelah dingin saring, airnya diminum sekaligus.
5. Meredakan Batuk
Caranya: Cuci 30 gram seledri segar, lalu potong-potong. Rebus dalam 3
gelas air bersih hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring. Bila suka,
tambahkan madu. Gunakan ramuan ini untuk dua kali minum, pagi dan
sore.
6. Mengobati Bronkitis
Caranya: Cuci 60 gram seledri segar, 10 gram kulit jeruk mandarin kering,
dan 25 gram gula aren hingga bersih. Setelah dipotong-potong, masukkan
ke dalam panci, tambahkan 3 gelas air bersih dan rebus hingga tersisa
setengahnya. Setelah dingin, saring dan airnya dibagi untuk dua kali
minum, pagi dan sore.
7. Menurunkan Tekanan Darah
Caranya: Cuci 100 gram seledri seutuhnya sampai bersih, lalu tumbuk
hingga halus. Tambahkan 1 cangkir air hangat, lalu disaring. Setelah
dingin, bagi untuk dua kali minum, pagi dan siang.
8. Mengobati Rematik
Caranya: Cuci 30-40 lembar daun seledri, lalu siram dengan air panas.
Makan sebagai lalapan. Lakukan dua kali sehari.

B. Kegunaan seledri yang lain:


Dengan mengunyah seledri kita akan mendapat 2 manfaat:
a.Ketika mengunyah zat dalam daun ini akan memijit gusi-gusi kita.
Kalsium dalam daun ini bisa membantu penguatan gigi.

19
b. Selain itu ia juga bisa menetralisir bumbu yang berbau tajam
seperti bawang.

C. Kegunaan Tradisional di Masyarakat9,13


Secara tradisional herba seledri digunakan sebagai pemacu enzim
pencernaan atau sebagai penambah nafsu makan. Disamping itu digunakan
pula untuk memperlancar keluarnya air seni juga digunakan sebagai anti
kejang. 12 Bijinya juga diyakini memiliki efek sedatif terhadap sistem syaraf
sentral. Sering dipakai untuk mengobati penderita bingung. Selebihnya daun
dan batang seledri sangat populer sebagai sayur, lalapan untuk penyedap
masakan tradisional.

D. Hasil Penelitian Mutakhir dari tanaman seledri:


- Kandungan dl-3-n-butilphtalida mencegah kerusakan oksidatif dan
mengurangi disfungsi mitokondria dalam MPP (+) yang diinduksi penyakit
Parkinson (Huang, dkk 2010)
- Karvakrol dan sinamil aldehida dalam seledri bersifat menonaktifkan resisten
antibiotik resisten terhadap Salmonella (Rhavinsakhar, 2010)
- Triterpenoid dan flavonoid dari seledri (Apium graveolens) (Zhou dkk, 2010)
- Seledri sebagai pembunuh serangga (Khater, 2010)
- Seledri sebagai anti oksidan (Jimenez dkk, 2010)
- Minyak atsiri seledri sebagai pengusir serangga (Tuetun, 2010)
- Seledri sebagai pengharum makanan (Kurobayashi, 2010)
- Ekstrak daun seledri sebagai antibakteri dan anti-radang (Mencherini, 2010)

BAB III
METODOLOGI

3.1 Jenis Penulisan

20
Dalam penulisan karya tulis ini, kami menggunakan jenis penulisan
berdasarkan jenis masalah yang akan dianalisis. Karena berkaitan dengan
penelaah lebih lanjut maka kami menggunakan penelitian studi pustaka dengan
pendekatan kualitatif langsung pada masalah yang dituju. Tujuan penulisan ini
untuk menjelaskan bahwa pada tanaman seledri terdapat kandungan zat aktif yang
secara efektif berguna untuk penderita hipertensi.

3.2 Fokus Penulisan


Fokus penulisan ini bertujuan untuk membatasi pembahasan yang akan
dipaparkan supaya terfokus. Adapun fokus utama dari penulisan ini adalah
memaparkan ilmu pengetahuan tentang obat tradisional yang sudah teruji secara
klinis bermanfaat dalam menormalkan penyempitan pembuluh darah, dimana
kandungan tersebut yang secara aktif berguna.

3.3 Sumber Data


Sumber data yang kami gunakan berdasarkan jenis penulisan kami yang
berasal dari data sekunder. Data sekunder tersebut bersumber dari jurnal, literatur
buku, buku-buku kedokteran, situs internet.

3.4 Teknik Pengumpulan Data


Teknk pengumpulan data yang kami gunakan adalah teknik dokumentasi
yang mengumpul data dari dokumen, literatur atau arsip termasuk internet sesuai
dengan masalah yang ditulis.

3.5 Analisis Data


Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis data sekunder. Data yang
sudah dikumpulkan dari berbagai sumber, kemudian diseleksi dan diklasifikasikan
menurut fokus penulisan, sehingga mampu menjelaskan dan menjawab
permasalahan. Selanjutnya data tersebut diolah dengan melakukan penggalian
teori, pemikiran dan penafsiran.

21
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Kandungan zat aktif dalam seledri yang berguna menurunkan tekanan darah

22
Senyawa identitas seledri adalah apiin dan apigenin (Anonim, 1999).
Apiin ini ketika masuk ke lambung, oleh pengaruh asam lambung akan pecah
menjadi apigenin dan gula. Apigenin, berfungsi sebagai beta blocker yang dapat
memperlambat detak jantung dan menurunkan kekuatan kontraksi jantung
sehingga aliran darah yang terpompa lebih sedikit dan tekanan darah menjadi
berkurang. Manitol dan apiin, bersifat diuretik yaitu membantu ginjal
mengeluarkan kelebihan cairan dan garam dari dalam tubuh, sehingga
berkurangnya cairan dalam darah akan menurunkan tekanan darah.14
Telah diketahui bahwa tanaman seledri (Apium graveolens L)
mengandung asam lemak tidak jenuh, sehingga memungkinkan penggunaan
tanaman tersebut sebagai obat penurun kadar kolesterol. Berdasarkan literatur,
herba seledri mengandung asam lemak tak jenuh yaitu asam lemak oleat dan asam
linoleat, sehingga penurunan kadar kolesterol total dan lemak total mungkin
disebabkan oleh adanya asam lemak tak jenuh. Asam lemak tidak jenuh berfungsi
menurunkan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) dan meningkatkan kadar
High Density Lipoprotein (HDL) yang pada akhirnya akan menyebabkan
peningkatan metabolisme kolesterol dalam empedu untuk dapat dikeluarkan dari
tubuh. Mekanisme ini yang menyebabkan terjadinya penurunan kadar kolesterol.15
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan FMIPA UI terbukti bahwa air
herba seledri memiliki efek menurunkan kadar kolesterol dan lipid dalam darah
tikus putih yang diberi diit tinggi kolesterol dan lemak.
Ada beberapa hipotesis yang dapat digunakan untuk menjelaskan efek
tersebut, termasuk stimulasi ekskresi kolesterol ke dalam usus dan stimulasi
oksidasi kolesterol menjadi asam empedu. Ester kolesterol yang terdapat pada
asam lemak tidak jenuh ganda memungkinkan lebih cepat dimetabolisme oleh hati
dan jaringan lainnya sehingga meningkatkan kecepatan pertukaran dan
ekskresinya.15 Pada kasus ini, seledri menurunkan tekanan darah dengan
menghambat dan memperbaiki resistensi perifer.
Dikatakan Dra. Aty, seledri mengandung pthalides dan magnesium yang baik
untuk membantu melemaskan otot-otot sekitar pembuluh darah arteri dan

23
membantu menormalkan penyempitan pembuluh darah arteri. Pthalides dapat
mereduksi hormon stres yang dapat meningkatkan tekanan darah. Sebuah
penelitian membuktikan pthalides dapat mereduksi tekanan pembuluh darah
hingga 12-14 %.16
Buah atau seledri mengandung 2-3% minyak atsiri, terdiri antara lain:7,12,17
a) 3-Butyltetrahydrophthalide————————3-Butylhexahydrophthalide
b) 3-Butylphthalide————————————–3-Isovalidenephthalide
c) 3-Isobutylidene-3a.,4,5,6-tetrahydrophthalide—3-Propylidenephthalide
d) 3-Isovalidene-3a,4-dihydrophthalide—————3-Sedanolide
Seledri juga kaya pasokan kalium, asam folic, kalsium, magnesium, zat
besi, fosfor, sodium dan banyak mengandung asam amino esensial. Pasokan
kalium sangat bermanfaat untuk terapi darah tinggi. Pada 100 g seledri terkandung
344 mg kalium dan 125 mg natrium. Konsumsi makanan dengan perbandingan
kalium dan natrium yang mencapai 3:1 sangat baik bagi penderita darah tinggi.
Pada seledri perbandingan tersebut mencapai 2,75:1 sudah sangat mendekati rasio
ideal untuk pencegahan hipertensi.16 Karena dengan rasio kandungan kalium
seperti dijelaskan di atas, seledri dapat mencegah retensi natrium dan air dalam
pembuluh darah yang akan mengakibatkan peningkatan curah jantung dan
tekanan darah.
Penelitian lain yang dilakukan di FMIPA Universitas Hasanudin, Makasar,
Sulawesi Selatan, tahun 1985, pemberian ekstrak seledri dengan cara peras
menunjukkan penurunan tekanan darah kucing.
Pemberian intravena ekstrak daun seledri pada anjing dapat menurunkan
tekanan darah normal. Efek hipotensif juga ditunjukkan oleh pemberian intravena
pada anjing dan kelinci. Telah dibuktikan pula adanya efek menurunkan tekanan
darah pada 16 orang laki-laki bertekanan darah tinggi yang diberi 40 ml campuran
ekstrak seledri dan madu atau sirup secara oral 3 kali sehari. 7,13,17
Seluruh bagian tanaman berefek menurunkan tekanan darah pada hewan
yang dibuat hipertensi. Pada pemberian intravena apigenin 10 mg/kg pada anjing
dan kelinci dapat menurunkan tekanan darah dari 120 mmHg menjadi 70 mmHg.
Efek tersebut dapat dilihat pada anjing dengan hipertensi esensial. Pemberian per-

24
oral dan intravena cairan segar seluruh bagian tanaman dapat menurunkan tekanan
darah anjing maupun sampai sebesar 50%. Efek penurunan tekanan darah tersebut
disebabkan karena terjadinya stimulasi pada reseptor kimia (chemoreceptor) pada
“carotid body” dan “aorticarch”. Dan efek ini ada kaitannya dengan sistem syaraf
simpatik.9

4.2 3-n-butylphthalide sebagai komponen utama seledri dalam penurunan tekanan


darah
4.2.1 Definisi 3nB
3nB merupakan komponen utama yang memberikan karakteristik rasa
dalam seledri. Berdasarkan hasil penelitian, 3nB sebagai komponen aktif seledri
mempunyai peranan untuk menurunkan tekanan darah dan mengurangi gejala dari
penyakit arthritis. Penelitian pertama mengenai 3nB dilakukan oleh peneliti-
peneliti dari University of Chicago Medical Center, dimana mereka
mengidentifikasi zat tersebut berperan penting dalam proses penurunan tekanan
darah. Berdasarkan hasil penelitian, pasien hipertensi yang diberikan satu per
empat pon seledri setiap hari dalam satu minggu dapat menurunkan tekanan
darahnya dari 158/96 menjadi 118/82. Studi yang dilakukan terhadap hewan
menunjukkan sejumlah kecil 3nB menurunkan tekanan darah sebanyak 12%-14%,
selain itu juga menurunkan level kolesterol sebanyak 7%.

4.2.2 Cara kerja 3nB di dalam tubuh


Berdasarkan hasil penelitian, jelas dibuktikan bahwa 3nB
menyeimbangkan sistem kontrol tubuh khususnya sistem prostalglandin.
Prostalglandin merupakan senyawa kimia yang memediasi atau mengontrol
beberapa proses penting dalam tubuh sebagai contoh: meregulasi proses inflamasi,
nyeri , edema, tekanan darah, jantung, saluran pencernaan dan ginjal. Contoh
sederhana dalam proses inhibisi produksi prostalglandin dengan menghambat
enzim yang memproduksi senyawa seperti aspirin dan selective COX-2 inhibitors,
3nB berperan menyeimbangkan keseimbangan system prostalglandin.

25
4.2.3 Cara kerja 3nB dalam menurunkan tekanan darah
Kemampuan 3nB untuk menurunkan tekanan darah melalui beberapa
faktor. Retensi kelebihan cairan dan fleksibilitas yang buruk dari pembuluh darah
dapat menimbulkan peningkatan tekanan darah. Beberapa kasus seperti retensi
sodium dan atau kekurangan kalium, menyebabkan peningkatan volume cairan
dalam darah. Pengerasan pembuluh darah dan pengeluaran hormon selama stress
dapat menyebabkan berkurangnya fleksibilitas atau konstriksi aliran darah. Dalam
mengobati pasien hipertensi, dokter biasanya meresepkan diuretik untuk
menurunkan tekanan darah dengan mengeluarkan natrium tubuh dan mengurangi
volume darah dan obat-obat vasodilator untuk merelaksasi arteri, melebarkan
pembuluh darah. Hal tersebut menurunkan resistensi aliran darah atau beta-
blockers dengan menurunkan kemampuan pompa jantung. 3nB berperan
membantu menurunkan tekanan darah dengan kerja sebagai diuretik dan
vasodilator melalui pengaruh produksi dari prostalglandin. Zat tersebut berperan
sebagai calcium-channel blockers(Tsi, et al): obat yang menghambat aliran ion
kalsium melalui membrane sel dari otot polos. Dengan mengurangi aliran
kalsium, tonus otot relaksasi dan resiko spasme otot arteri dapat dikurangi.
3nB tidak menghambat absorpsi kalsium di tulang. Zat tersebut juga dapat
menurunkan level kolesterol dan menurunkan pembentukan plak arterial yang
dibuktikan dalam studi eksperimental pada binatang dan test tube studies. Zat
tersebut dapat meningkatkan elastisitas pembuluh darah dan penurunan tekanan
darah. Sebagai tambahan, 3nB mempengaruhi area di otak yang mengatur
resistensi vaskular.
Keuntungan menggunakan seledri untuk menurunkan tekanan darah
dikarenakan aman dikonsumsi sebagai obat diuretik. Kebanyakan obat diuretic
mempunyai efek samping yang berbahaya sebagai contoh mengurangi kadar
sodium menjadi kalium pada darah. Meskipun berperan sebagai diuretik, seledri
tidak mempengaruhi rasio antara natrium dan kalium dalam tubuh.
Keuntungan lainnya dalam penggunaan seledri, tidak menurunkan aliran
darah ke otak seperti yang dilakukan obat penurun tekanan darah. Ketika
menurunkan tekanan darah dapat mereduksi kemungkinan terjadinya stroke,

26
dalam hal ini obat-obatan lainnya dapat menyebabkan pasien merasa lelah,
depresi, pusing dan lupa akan kondisi sekitarnya. 3nB sebagai komponen utama
seledri membantu mencegah terjadinya stroke dan juga membantu meningkatkan
aliran darah, melindungi otak, dan meningkatkan produksi energi (adenosine
triphosphate). 18,19,20,21

4.3 Keefektifan kerja seledri di hati


Berdasarkan teori Chinese, seledri efektif untuk hipertensi karena ia
bekerja pada hati; salah satu tipe dari hipertensi berhubungan dengan hati.
Di mainland China, jus seledri bermanfaat untuk menurunkan hipertensi
dalam 14 dari 16 pasien. Jus tersebut dicampur dengan sejumlah madu yang setara
dan sekitar 8 ons di minum 3 kali dalam sehari untuk 1 minggu. Dengan memakan
4 tangkai seledri dalam sehari, kita bisa mendapatkan efek yang sama. Jus seledri
yang fresh dapat dicampur dengan cuka untuk menghilangkan keluhan pusing dan
sakit kepala serta sakit pada bahu yang berhubungan dengan hipertensi.
Sedangkan pada hipertensi karena kehamilan dan hipertensi karena haid, di
anjurkan meminum jus seledri segar setiap hari.
Penelitian dari National University of Singapore mengamati komposisi dari
seledri yang memberikan efek pada tekanan darah sistolik. Dengan menggunakan
hewan sebagai bahan percobaan untuk penghitungan hipertensi, mereka
mengekstraksi salah satu dari bahan kimia yang terdapat di dalam seledri dan
kemudian diberikan ke tikus yang secara genetik terdapat hipertensi selama 13
hari. Peneliti menemukan bahwa dosis tinggi harian 2 mg dan 4 mg ekstrak seledri
tidak menghasilkan penurunan tekanan darah. Akan tetapi pada dosis rendah 0,5
mg per hari, tekanan darah sistolik menurun dalam waktu 13 hari. Hasil yang
tidak terduga ini mengarahkan peneliti kesebuah pertanyaan baru, apakah
toleransi terhadap dosis yang lebih tinggi disebabkan oleh biokimia kompleks atau
apakah peralatan yang digunakan telah beroperasi dengan baik. Diperlukan
penelitian lebih lanjut.
Dokter meresepkan diuretik, untuk hipertensi. Dalam sebuah penelitian
terbukti injeksi minyak seledri berfungsi dalam menurunkan tekanan darah pada

27
kelinci dan anjing secara signifikan. Diuretik hanya bisa digunakan setelah
berkonsultasi dengan dokter. Karena diuretik akan menyebabkan tubuh
kehilangan potassium. Oleh sebab itu, penggunaan diuretik seharusnya diikuti
dengan diet tinggi potassium, untuk mengganti elektrolit yang hilang.
Benih seledri juga mampu membantu dalam menurunkan tekanan darah,
tetapi hanya bisa digunakan setelah berkonsultasi dengan dokter.22

4.4 Pengelolaan tanaman seledri untuk mendapatkan bahan zat aktif17,23


Komponen kimia serbuk kering seluruh tanaman seledri daun berumur tiga
bulan diisolasi dengan metode ekstraksi cair padat sinambung, berturut-turut
menggunakan pelarut : eter petroleum, kloroform dan etanol 95%, memakai alat
Soxhlet. Ekstrak etanol 95% pada suhu kamar membentuk endapan, endapan
disaring (KR-3). Filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan penguap putar vakum,
sehingga diperoleh ekstrak kental dan kristal (ET-3 dan RR-3). Selanjutnya
ekstrak etanol 95% (ET-3) dikromatografi cair vakum berulang, menggunakan
silika gel G 60, dan campuran pelarut non polar dan polar dalam bermacam-
macam perbandingan. Dari kromatografi cair vakum ini diperoleh kristal AG-6.
Endapan (KR-3) direkristalisasi berulang dengan pelarut metanol dan etanol
95%:air = 3:2 diperoleh kristal AG-2 dan AG-1. Rekristalisasi berulang endapan
(KR-3) dengan pelarut metanol, menghasilkan kristal AG-10. Senyawa hasil
isolasi diidentifikasi berdasarkan uji kimia, sifat fisika serta penentuan spektrum
inframerah, spektrum ultraviolet, spektrum massa dan spektrum resonansi magnet
inti proton. Dari ekstrak etanol 95% tanaman seledri daun telah diisolasi empat
senyawa, yaitu:
Pertama, kalium nitrat (3,14 %), yang diidentifikasi melalui
pembandingan data titik leleh, hasil analisis ion kalium dengan spektroskopi emisi
nyala dengan data pustaka dan hasil analisis ion nirat dengan uji difenilamin.
Pada uji farmakologi diuresis oleh Siswono et al. kalium nitrat hasil isolasi
yang diberikan per oral dengan dosis 0,150 gram dan 0,300 gram per kg berat
badan hewan percobaan, keduanya memberikan pengaruh natriuresis pada tikus
putih jantan strain Wistar.

28
Kedua, manitol (0,47%) yang diidentifikasi melalui pembandingan titik
leleh, spektrum inframerah, spektrum resonansi magnet inti proton dan spektrum
massa, senyawa hasil asetilasi dengan titik leleh dan spektrum manitol heksaasetat
otentik.
Manitol merupakan suatu diuretik osmotik, yang digunakan terutama
sebagai bahan diagnosis fungsi ginjal. Selain itu, manitol juga digunakan untuk
mengurangi tekanan intraokuler pada operasi mata karena,sakit glaukoma.
Ketiga, apigenin-7-0-glukosida (0,016 %), yang telah diidentifikasi
melalui pembandingan spektrum inframerah dan spektrum ultraviolet dengan
spektrum apigenin-7-0-glukosida otentik, spektrum massa aglikon dengan
spektrum apigenin otentik, spektrum resonansi magnet inti proton dengan data
pustaka dan pada kromatografi kertas Rf dan warna bercak glikon dengan Rf dan
warna bercak glukosa otentik.
Dari telaah pustaka, ternyata bahwa pada penelitian efek farmakologi
apigenin oleh Chang et al. apigenin dapat menurunkan tekanan darah normal
anjing dan kelinci sebesar 50 mm Hg bila diberikan secara intravena dengan dosis
sebesar 10 mg per kg berat badan. Apigenin-7-0-glukosida pada pemberian per
oral, akan menurunkan tekanan darah penderita hipertensi, karena akan
terhidrolisis menjadi apigenin dan glukosa dalam saluran cerna.
Keempat, metilamentoflavon (0,014 %), yang telah diidentifikasi melalui
pengamatan spektrum inframerah, spektrum ultraviolet dan pembandingan
spektrum resonansi magnet inti proton dengan amentoflavon otentik.
Senyawa biflavonoid, terdistribusi tidak merata pada dunia tanaman.
Spermatophyta, paling banyak mempunyai tanaman mengandung senyawa
biflavonoid (22 suku tanaman), diikuti oleh Pteridophyta dengan dua bangsa
tanaman dan terakhir, Bryophyta dengan satu bangsa tanaman.
Sepanjang telaah pustaka, belum pernah dilaporkan adanya biflavonoid
dalam tumbuhan suku Apiaceae, dengan demikian ditemukannya
metilamentoflavon merupakan penemuan pertama adanya biflavonoid dalam suku
Apiaceae, karena senyawa tersebut baru ditemukan dalam satu tanaman yaitu
Araucaria excelsa dari suku Araucariaceae.

29
Pada penelitian kandungan kimia seledri daun umur sembilan bulan
dengan metode yang sama seperti pada tanaman umur tiga bulan, didapatkan
kalium nitrat pada akar (0,28 %). Pada batang, didapatkan juga kalium nitrat yang
jumlahnya sebanyak dua setengah kali jumlah pada akar (0,70%), sedangkan pada
daun, jumlahnya sama dengan jumlah pada akar. Selain kalium nitrat, pada akar
didapatkan juga manitol (0,046%). Pada batang, didapatkan juga manitol yang
jumlahnya sebanyak satu tiga perempat kali jumlah pada akar (0,080%),
sedangkan pada daun, jumlahnya sama dengan jumlah pada akar. Di samping
kedua komponen di atas, pada akar didapatkan juga apigenin-glukosida (0,031
%). Pada batang, didapatkan juga senyawa ini yang jumlahnya satu setengah kali
jumlah pada akar (0,046%), sedangkan pada daun, jumlahnya sama dengan
jumlah pada akar.23
Berbeda dengan tanaman seledri daun berumur tiga bulan, dimana
didapatkan senyawa 7,7 -di-0-metilamentoflavon sebanyak 0,014 %, pada seledri
daun berumur sembilan bulan, tidak didapatkan senyawa tersebut. Dari senyawa
yang diketemukan dalam ekstrak etanol 95% dari tanaman seledri daun, diperoleh
petunjuk mengenai kemungkinan apigenin-7-0-glukosida berperan juga pada
penurunan tekanan darah binatang percobaan. Hasil penelitian ini memberi
peluang untuk mengkaji efek farmakologi dan mekanisme kerja apigenin-7-0-
glukosida lebih jauh dan dengan demikian dapat menunjang penggunaan tanaman
obat tradisional secara lebih rasional.

4.5 Cara mengkonsumsi seledri


Berbagai kandungan seledri tersebut maka konsumsi seledri dapat
menurunkan tekanan darah tinggi pada penderita Hipertensi. Cara konsumsinya
pun bisa berbagai macam sesuai selera agar anda tak bosan.
1. Konsumsi penuh dengan membuat jus seledri, campur dengan buah-
buahan segar. Contohnya campurkan 250 g seledri segar dengan 2 buah
apel hijau segar. Sebelum di jus seledri rebus terlebih dahulu lalu campur

30
dengan apel blender hingga halus. Siap untuk dikonsumsi. Minum dua hari
sekali untuk penderita Hipertensi.
2. Selain apel gunakan buah belimbing wuluh. Caranya sangat mudah
campur 100 g belimbing wuluh dan 100 g seledri batang blender jadi satu.
Tambahkan air dan es, jika anda ingin manis tambahkan madu. Ini sangat
membantu menurunkan tekanan darah tinggi.
3. Kedisiplinan konsumsi terkadang membuat seseorang merasa berat untuk
melakukannya. Jika hal ini sulit maka campurkan dalam masakan anda.
Pagi hari jika anda masak nasi goreng untuk sarapan berikan seledri. Pada
makan siang pilihlah makanan yang ada seledri untuk penyedapnya
tambahkan lebih banyak seledri pada makanan yang anda konsumsi seperti
soto, bakso, sup. Pada malam hari jika anda makan bubur ayam tambahkan
lebih banyak seledri agar anda tak bosan memakannya. Karena seledri
sangat baik efek hipotensifnya.
4. Imbangi dengan olahraga sesuai dengan kebutuhan anda dan minum air
putih juga sesuai dengan kebutuhan tubuh anda.16
Cara mengkonsumsi yang praktis, diharapkan membuat herba seledri ini dapat
dimanfaatkan secara luas untuk penderita hipertensi, khususnya di Indonesia.
Dengan tetap menjaga higienitas dan dosis yang tepat dalam penggunaannya,
penurunan tekanan darah adalah hasil akhir yang akan dicapai.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Kandungan zat aktif dalam tanaman seledri terbukti bermanfaat untuk
menurunkan tekanan darah bagi penderita hipertensi dengan cara,
menurunkan curah jantung dan resistensi pembuluh darah perifer.

31
2. 3nB merupakan komponen aktif utama dalam seledri yang dapat
menurunkan hormon stres serta berfungsi seperti ca antagonist untuk
menurunkan tekanan darah.
3. Apigenin akan menurunkan tekanan darah penderita hipertensi, dengan
mekanisme kerja seperti beta blocker.
4. Manitol dan apiin bermanfaat sebagai diuretik.
5.2 Saran
1. Pemanfaatan tanaman seledri (Apium graveolens) dapat menguntungkan
bagi terapi alternatif bagi penderita hipertensi
2. Pengetehuan lebih lanjut pada tanaman seledri membuat masyarakat
mengetahui betapa penting kegunaan tanaman ini.
3. Memasyarakatkan semua kandungan zat aktif tanaman seledri supaya
dapat dijadikan tanaman untuk pengobatan tradisional.

DAFTAR PUSTAKA

1. Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser, Longo, Jameson, Loscalzo. 2008.

Harrison’s Principles of Internal Medicine, 17th edt.

32
2. 2003 World Health Organization (WHO) / International Society of

Hypertension Statement on Management of Hypertension. J Hypertens

2003;21:1983-1992

3. Hajjar I, Kotchen TA. Trends In Prevalence, Awareness, Treatment, And

Control Of Hypertension In The United States, 1998 – 2000. JAMA

4. Chobaniam AV et al. Seventh Report of the Joint National Committee on

Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure.

JAMA 2003;289:2560-2572

5. Aru, Bambang, Idrus, Marcellus, Siti. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit

Dalam, eds. IV.

6. Vasan RS et al, Impact of High Normal Blood Pressure on the Risk of

Cardiovascular Disease, NEJM 2001;345:1291-1297

7. Wichtl, M., 1994, Herbal Drugs and Phytopharmacochemistry., MedPhar

Scientific Publishers., CRC-Press., p. 81-82

8. Katzung B G, 2002, Farmakologi Dasar dan Klinik, Alih Bahasa Bagian

Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Buku 2, Edisi 8,

Penerbit Salemba Medika, Jakarta.

9. Wiryodagdo S, M sitanggang, 2002, Tanaman Obat untuk Penyakit Jantung,

Darah Tinggi dan Kolesterol, penerbit Ago media pustaka, Tangerang.

10. Hariana A, 2006, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Penebar Swadaya,

Jakarta.

11. Gembong Tjitrosoepomo, 1989, Morfologi Tumbuhan, Yogyakarta : Gajah

Mada University Press.

33
12. Waluyo S, 2004, Aneka Tip Obat Alami dalam Buah dan Sayuran, PT Elex

Media Komputindo, Jakarta.

13. Sudarsono, Pudjoanto, A., Gunawan, D., Wahyuono, S., Donatus, I. A.,

Drajad, M., Wibowo, S., dan Ngatidjan (1996). Tumbuhan Obat, Hasil

Penelitian, Sifat-sifat dan Penggunaan, Pusat Penelitian Obat

Tradisional, UGM, Yogyakarta.

14. http://obat-kesehatan.blogspot.com/2009/03/seledri-dapat-menurunkan-

hipertensi.html (diakses tanggal 1 September 2010)

15. F.D. Suyatna, S.K. Handoko, dalam: Farmakologi dan Terapi, Edisi ke-4,

Penerbit Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,

Jakarta, 1995, p. 368.

16. Martiana, Esty, 2009. Kandung Pthalides Untuk Normalkan Penyempitan

Pembuluh Darah. (http:// www.surabaya-ehealth.org/content/tips-

konsumsi-seledri-untuk-hipertensi , diakses tanggal 1 September 2010)

17. Ika Rochdjatun Sastrahidayat, Soemarno, 1991, Budidaya Berbagai Jenis

Tanaman Tropika., Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya., Malang., p.

386-387

18. Le Q.T.’ W.J., “ Dose-response relationship of blood pressure and serum

cholesterol to 3-n- butylphthalide, a component of celery oil”, Cin Res,

39 :750A : 1991.

19. Chong Z.Z., Feng Y.P., “ dl-3-n- butylphthalide attenuates reperfusion-

induced blood-brain barrier damage after focal cerebral ischemia in rats.”

Chun Kua Yao Li Hseuh Pao, 20 : 696-700;1999.

34
20. Chong Z.Z., Feng Y.P., “ dl-3-n- butylphthalide improves regional

cerebral flow after experimental subarachnoid hemorrhage in rats.” Chun

Kua Yao Li Hseuh Pao, 20 : 509-12;1999.

21. Yan C.H., Feng Y.P., Zhang J.T., “ Effects of dl-3-n- butylphthalide on

regional cerebral blodd flow in right middle cerebral artery occlusion

rats”, Chun Kua Yao Li Hseuh Pao, 19: 117-20;1998.

22. http://curezone.com/dis/1.asp?C0=60/Hypertension - Prevention & Curing

Protocol (diakses tanggal 1 September 2010)

23. Pramono, S,Katno, Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat dan

Obat Tradisional, Balai Penelitian Tanaman Obat Tawangmangu,

Fakultas Farmasi, UGM, 2002

24. Muhlisah, Fauziah & Hening, Sapta (2003). Sayur dan bumbu dapur

berkhasiat obat. Jakarta : Penebar Swadaya

LEMBAR ORISINALITAS

Judul karya tulis: KANDUNGAN ZAT AKTIF PADA TANAMAN SELEDRI


(Apium graveolens) UNTUK MENURUNKAN TEKANAN
DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI.

35
Penulis menjamin bahwa karya tulis ilmiah yang diikutsertakan dalam lomba
adalah hasil karya sendiri dan bukan jiplakan/plagiat dari karya orang lain, serta
belum pernah dilombakan sebelumnya.

Palembang, 24 September 2010

1. Dendy Riansyah

2. Enggrajati Moses Hotasi Silitonga

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Dendy Riansyah


Tempat,tanggal lahir : Bandar Lampung,11 Desember 1990
Alamat : Jl. Manunggal no.17a Talang Semut,Palembang
Institusi : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Tahun 2008
Karya tulis ilmiah :

36
1. CHIKUNGUNYA DISASTER tahun 2010
2. MEDICAL TREATMENT OF DEPRESSION FOR OLD PATIENTS IN
SOUTH SUMATERA : USING OF PSYCHOTHERAPY AND
ANTIDEPRESSANT AGENT tahun 2010

Nama : Enggrajati Moses Hotasi Silitonga


Tempat, tanggal lahir : Palembang,24 Juni 1990
Alamat : Jln. M.P Mangkunegara, Komp Villa Kenten blok A6 RT.27/01
Sukamaju,Palembang
Institusi : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Tahun 2008
Karya Tulis Ilmiah :
1. APLIKASI NS1-CAPTURE ELISA UNTUK DIAGNOSIS AWAL
DEMAM BERDARAH tahun 2010
2. MEDICAL TREATMENT OF DEPRESSION FOR OLD PATIENTS IN
SOUTH SUMATERA : USING OF PSYCHOTHERAPY AND
ANTIDEPRESSANT AGENT tahun 2010

37