Anda di halaman 1dari 6

RINGKASAN MATERI KULIAH

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN


“PUSAT-PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN; PUSAT PENDAPATAN,
BIAYA DAN LABA”

KELOMPOK I
BUDIMAN TERI A31116303
SRI RESKIAWATI SYAM A31116501
HASTIA ALRIANTI A31116532

DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
PUSAT TANGGUNG JAWAB: PENDAPATAN DAN BEBAN
Pusat Tanggung Jawab
Pusat tanggung jawab merupakan organisasi yang di pimpin oleh seorang manajer yang
bertanggung jawab terhadap aktivitas yang di lakukan. Pada hakikatnya, perusahaan
merupakan sekumpulan pusat-pusat tanggung jawab, yang masing-masing di wakili oleh
sebuah kotak dalam bagan organisasi pusat-pusat tanggung jawab tersebut kemudian
membentuk suatu hierarki. Pada tingkatan terendah adalah pusat untuk seksi-seksi, pergesaran
kerja (workshift) dan unit organisasi kecil lainnya. Departemen bisnis yang memiliki beberapa
unit organisasi yang lebih kecil menduduki posisi yang lebih tinggi dalam hierarki. Dari sudut
pandang manajer senior dan dewan direksi perusahaan seraca keseluruhan merupakan pusat
pertanggungjawaban, meskipun istilah ini biasanya berkenaan dengan unit-unit dalam
perusahaan.

Sifat Pusat Tanggung Jawab

Pusat tanggung jawab muncul guna mewujudkan satu atau lebih maksud, yang disebut
dengan cita-cita. Perusahaan secara keseluruhan memiliki cita-cita, dan manajemen senior
menentukan sejumlah strategi untuk mencapai cita-cita tersebut. Fungsi dari berbagai pusat
tanggung jawab dalam perusahaan adalah untuk mengimplementasikan strategi tersebut.
Karena setiap organisasi merupakan sekumpulan pusat tanggung jawab, maka jika setiap pusat
tanggung jawab telah memenuhi tujuannya, maka cita-cita organisasi tersebut juga telah
tercapai.

Tampilan gambar diatas menggambarkan cara kerja setiap pusat tanggung jawab. Pusat
tanggung jawab menerima masukan, dalam bentuk bahan baku, tenaga kerja, dan jasa-jasa.
Dengan menggunakan model kerja capital (seperti persediaan,piutang), peralatan dan aktiva
lainny, pusat tanggung jawab melaksanakan fungsi-fungsi tertentu, dengan tujuan akhir untuk
mengubah input menjadi output, baik yang berwujud atau tidak berwujud. Dalam sebuah
pabrih, outputnya berbentuk produk jadi. Dalam unit-unit staf, outputnya berbentuk jasa.
Jenis-Jenis Pusat Tanggung Jawab

Ada empat jenis pusat tanggung jawab, digolongkan menurut sifat input dan/ atau
output moneter yang diukur untuk tujuan pengendalian : pusat pendapatan, pusat beban, pusat
laba, dan pusat investasi. Masing-masing pusat tanggungjawab tersebut membutuhkan
perencanaan dan sistem pengendalian yang berbeda. Ditinjau dari ringkas perencanaan dan
teknik-teknik pengendalian yang digunakan di pusat pendapatan, dan kemudian beralih ke
diskusi yang lebih luas mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam pusat beban.

1. Pusat Pendapatan
Pada pusat pendapatan, suatu output (yaitu, pendapatan) diukur secara moneter dalam
bentuk uang, akan tetapi tidak ada upaya formal yang dilakukan untuk mengaitkan input (yaitu,
beban atau biaya) dengan output. Jika pengeluaran sesuai dengan pendapatan, maka unit
tersebut akan menjadi pusat laba. Pada umumnya, pusat pendapatan merupkan unit pemasaran
atau penjualan yang tak memiliki wewenang untuk menetapkan harga jual dan tidak
bertanggungjawab atas harga pokok penjualan dari barang-barang yang mereka pasarkan.
Penjualan atau pesanan aktual diukur dari angggaran dan kuota, dan manajer harus terbuka
terhadap beban yang terjadi secara langsung didalam unitnya, akan tetapi ukuran utamanya
adalah pendapatan.

2. Pusat Beban
Pusat beban adalah pusat tanggung jawab yang inputnya diukur secara monoter, namun
outputnya tidak diukur dengan cara yang sama. Ada dua jenis umum dari pusat beban, yaitu
pusat beban teknik dan pusat beban kebijakan. Dua jenis istilah ini berkaitan dengan dua jenis
biaya. Biaya teknik adalah biaya-biaya yang jumlahnya secara “tepat” dan “memadai” dapat
diestimasikan dengan keandalan yang wajar-sebagai contoh, biaya pabrik untuk tenaga kerja
langsung, bahan baku langsung, komponen, perlengkapan, dan keperluan-keperluan. Biaya
kebijakan (juga disebut dengan biaya yang dikelola) adalah biaya yang tidak tersedia estimasi
tekniknya. Di pusat beban kebajikan, biaya-biaya yang di keluarkan tergantung pada penilaian
manajemen atas jumlah yang memadai dalam kondisi tertentu.

Pusat Administratif dan Pendukung


Pusat administratif meliputi manajemen senior korporat dan manajemen unit bisnis,
serta para manajer unit-unit pendukung. Pusat pendukung merupakan unit-unit yang
menyediakan layanan kepada pusat tanggung jawab.
Permasalahan dalam Pengendalian

Pengendalian atas beban administrasi cukup sulit dikarenakan masalah-masalah


yang ada dalam pengukuran output, dan banyaknya ketidak sesuaian antara tujuan staf
departemen dan tujuan perusahaan secara keseluruhan.

 Kesulitan dalam Pengukuran Output


 Tidak Adanya Kesalarasan Tujuan
 Penyusunan Anggaran

Pusat Penelitian dan Pengembangan

1. Permasalahan dalam Pengendalian


Pengedalian terhadap pusat penelitian dan pengembangan akan menyajikan
kesulitan tersendiri, terutama, kesulitan dalam menghubungkan hasil yang diperoleh
dengan input dan kurangannya keselarasan tujuan.

 Kesulitan dalam Menghubungkan Hasil yang Diperoleh dengan Input


 Tidak Adanya Keselarasan Cita-cita

2. Rangkaian Kesatuaan Penelitian dan Pengembangan


Aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh organisasi litbang merupakan satu
kesatuan rangkaian, dimana penelitian dasar merupakan titik awal, sementara itu
pengujian produk merupakan titik akhir. Penelitian dasar memiliki dua ciri, yaitu tidak
terencana, dimana pihak manajemen hanya membuat keputusan secara umum
mengenai bagian yang harus dieksplorasi dan seringkali ada tenggang waktu yang lama
antara dimulainya penelitian dengan pengenalan produk baru yang berhasil.

3. Program Litbang
Program litbang terdiri dari serangkaian program ditambah kelonggaran untuk
pekerjaan yang tidak direncanakan. Hal tersebut biasanya ditinjau setiap tahunnya oleh
manajemen senior. Tinjauan ini sering dilakukan oleh komite penelitian yang terdiri
dari CEO, direktur penelitian serta para manajer produksi dan pemasaran (pihak yang
terakhir ini dibatalkan karena merekalah yang akan menggunakan output dari proyek-
proyek penelitian yang sukses). Komite ini membuat keputusan yang luas mengenai
proyek-proyek yang akan dikerjakan, mana yang akan diperluas, mana yang akan
dipangkas atau dihentikan. Tentu saja keputusan-keputusan ini bersifat subjektif,
namun berada pada batas-batas kebijakan yang sudah ditetapkan atas total pengeluaran
penelitian.

4. Anggaran Tahunan
Jika suatu perusahaan telah memutuskan suatu program litbang berjangka
panjang dan telah menjalankan program ini dengan sitem persetujuan proyek, maka
upaya untuk menyusun anggaran litbang per tahun akan menjadi persoalan yang
sederhana, dengan cara “menjadwalkan” atas pengeluaran yang diperkirakan selama
periode anggaran. Jika anggaran yang disusun sesuai dengan rencana strategis
perusahaan (sebagaimana seharusnya), maka persetujuaan atas proyek merupakan
suatu yang rutin-semata-mata membantu dalam pengucuran dana dan perencanaan
penempatan pegawai.

5. Pengukuran Kinerja
Secara regular biasanya per bulan atau per kuartal, hampir semua perusahaan
membandingkan pengeluaran aktual dengan pengeluaran yang dianggarkan dari semua
pusat tanggung jawab dan seluruh proyek yang dijalankan. Perbandingan ini kemudiaan
dirangkum untuk dilaporkan kepada manajer dengan seprogresif mungkin guna
membantu para manajer di pusat tanggung jawab dalam merencanakan pengeluaran
mereka dan untuk meyakinkan para atasan mereka bahwa pengeluaran-pengeluaran
tersebut masih dalam batas-batas yang disepakati.

Pusat Laba

Pusat laba merupakan pusat pertanggungjawaban dimana kinerja finansialnya diukur dalam
ruang lingkup laba, yaitu selisih antara pendapatan dan pengeluaran. Laba merupakan ukuran
kinerja yang berguna karena laba memungkinkan pihak manajemen senior dapat menggunakan
satu indikator yang komprehensif dibandingkan harus menggunakan beberapa indikator.
Keberadaan suatu pusat laba akan relevan ketika perencanaan dan pengendalian laba mengaku
kepada pengukuran unit masukan dan keluaran dari pusat laba yang bersangkutan.

Bentuk – Bentuk Pusat Laba

1. Unit bisnis (divisi) sebagai pusat laba, manajernya bertanggungjawab dan mempunyai
kebijakan serta kendali terhadap pengembangan produk, proses produksi dan pemasaran
serta perolehan produk, sehingga ia dapat mempengaruhi pendapatan dan biaya yang
berakibat terhadap laba bersihnya. Proses tersebut menciptakan unit usaha yang
bertanggungjawab terhadap manufaktur dan pemasaran suatu produk.
2. Unit-unit fungsional sebagai pusat laba, pada perusahaan multibisnis setiap unit
diperlakukan sebagai penghasil laba yang independen, tetapi bisa saja terorganisasi
dalam bentuk fungsional, misalnya: Pemasaran, Manufaktur, dan Jasa. Misalnya,
fungsional pemasaran dimana aktifitas pemasaran dijadikan sebagai pusat laba dengan
cara:
a. Membebankan biaya dari produk yang dijual melalui harga transfer dengan cara
membuat Trade Off Pendapatan atau Biaya yang optimal.
b. Harga transfer dibebankan kepada pusat laba berdasarkan biaya standar, memisakan
kinerja biaya pemasaran terhadap biaya manufaktur, hal ini berpengaruh terhadap
perubahan efisiensi di luar kendali manajer pemasaran.
3. Unit-unit fungsioanl pendukung (support) sebagai pusat laba, hal ini meliputi unit-unit
pemeliharaan, teknologi informasi, transportasi, tekhnik, konsultan, dan layanan yang
dapat dijadikan pusat laba. Caranya yaitu:
a. Membebankan biaya dari layanan yang diberikan dan menutupnya dari pendapatan
atas layanan yang diberikan baik kepada internal dan eksternal.
b. Manajer organisasi unit ini termotivasi untuk mengendalikan biayanya agar
pelanggannya tidak meninggalkan, di samping itu konsumen termotivasi untuk
membuat keputusan pakah jasa yang diterima telah sesuai dengan harganya.