Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH PENGAUDITAN 2

PENYELESAIAN DAN TANGGUNG JAWAB PASCA AUDIT

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4

TAUFIK HIDAYAT A31116035

BUDIMAN TERI A31116303

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan
rahmat-Nya, sehingga penulis dapat merampungkan makalah yang berjudul
“PENYELESAIAN AUDIT DAN TANGGUNG JAWAB PASCA AUDIT” tepat
pada waktunya.

Penulisan makalah ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan


tambahan dan memudahkan seluruh pembaca dalam memahami dan materi ini
sehubungan dengan auditing.

Ucapan terima kasih tak lupa penulis haturkan kepada seluruh pihak yang
telah membantu penyelesaian makalah ini. Seperti kata pepatah tak ada gading yang
tak retak, penulis cukup menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca yang
bersifat membangun.

Makassar, 12 April 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah` ................................................................................................ 2

1.3 Tujuan ................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Penyelesaian Pekerjaan Lapangan......................................................................... 3

2.2 Mengevaluasi Temuan .......................................................................................... 9

2.3 Komunikasi Dengan Klien ................................................................................. 14

2.4 Tanggung Jawab Setelah Audit .......................................................................... 18

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 23

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 24

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tahap penyelesaian audit sangat mempengaruhi keberhasilan hasil audit.


Tahap ini sangat penting dan dilaksanakan setelah pelaksanaan audit atas berbagai
siklus. Keputusan yang diambil auditor selama tahap penyelesaian ini untuk
mencapai hasil audit yang optimal. Berbagai prosedur yang diterapkan dalam tahap
ini dapat menghasilkan bukti tambahan yang dapat mempengaruhi kesimpulan
audit. Pengaruh tersebut meliputi kesimpulan akhir atas saldo setiap rekening yang
akan dicantumkan dalam laporan keuangan, dan pendapat auditor atas laporan
keuangan secara keseluruhan. Prosedur-prosedur yang diterapkan pada tahap
penyelesaian audit mempunyai beberapa karakteristik khusus, yaitu:

1. Prosedur-prosedur tersebut tidak mengacu ke siklus transaksi


maupun saldo rekening tertentu.
2. Prosedur-prosedur tersebut dilaksanakan setelah tanggal neraca.
3. Prosedur-prosedur tersebut sangat memerlukan pertimbangan
subyektif auditor.
4. Prosedur-prosedur tersebut biasanya dilaksanakan oleh manajer
audit atau akuntan senior yang berpengalaman.

Pada tahap penyelesaian audit, auditor bekerja dengan keterbatasan waktu.


Hal ini diakibatkan oleh keinginan klien untuk memperoleh laporan audit secepat
mungkin. Meskipun waktu tidak mendukung auditor, auditor harus menggunakan
waktu yang tersedia untuk membuat pertimbangan professional dan menyatakan
pendapat sesuai keadaan yang sebenarnya.

Dalam menyelesaikan audit, auditor seringkali menghadapi kendala waktu,


terutama ketika klien berusaha mendapatkan tanggal yang paling cepat untuk
penerbitan laporan audit. Auditor harus menggunakan waktu tersebut untuk
membuat pertimbangan professional yang baik dan menyatakan pendapat yang

1
tepat dalam situasi bersangkutan. Tanggung jawab auditor dalam menyelesaikan
audit dibagi menjadi tiga kategori berikut ini:

1. Menyelesaikan pekerjaan lapangan


2. Mengevaluasi temuan
3. Berkomunikasi dengan klien

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah adalah sebagai
berikut.

1. Bagaimana prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan?


2. Bagaimana mengevaluasi temuan?
3. Bagaimana berkomunikasi dengan klien?
4. Bagaimana tanggung jawab setelah audit?

1.3 Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah:

1. untuk mengetahui prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan;


2. untuk mengetahui pengevaluasian temuan;
3. untuk mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan klien;
4. untuk mengetahui tanggung jawab setelah audit.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENYELESAIAN PEKERJAAN LAPANGAN

Melakukan Review atas Peristiwa Kemudian

Laporan keuangan mungkin dipengaruhi oleh peristiwa tertentu yang terjadi


setelah tanggal laporan keuangan. SA 560 - Peristiwa Kemudian,
mendefinisikan peristiwa kemudian sebagai: “Peristiwa yang terjadi di antara
tanggal laporan keuangan dan tanggal laporan auditor, dan fakta yang
diketahui oleh auditor setelah tanggal laporan auditor”. Gambar di bawah ini
mengilustrasikan periode yang dicakup oleh peristiwa kemudian.

Tanggal klien
Tanggal neraca Tanggal laporan
menerbitkan laporan
klien auditor
keuangan

Periode penelaahan Periode pengolahan laporan


peristiwa kemudian keuangan

Auditor harus menelaah transaksi dan kejadian yang terjadi setelah tanggal
neraca untuk menentukan apakah transaksi atau kejadian tersebut
mempengaruhi kelayakan penyajian dan pengungkapan laporan keuangan
tahun yang diperiksa. SA 560 juga merumuskan tujuan auditor berkaitan
dengan peristiwa kemudian yaitu untuk:
1. Memperoleh bukti yang cukup dan tepat tentang apakah peristiwa yang
terjadi antara laporan keuangan dan tanggal laporan auditor yang
mengharuskan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan
keuangan, secara tepat telah digambarkan dalam laporan keuangan
tersebut sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku; dan
2. Merespon secara tepat fakta yang diketahui oleh auditor setelah tanggal
laporan auditor, yang mana jika diketahui oleh auditor pada tanggal

3
tersebut, kemungkinan menyebabkan auditor mengubah laporan
auditnya.

Di dalam AU 506.03 dan .05 menunjukkan bahwa terdapat dua jenis peristiwa
kemudian yaitu:
 Peristiwa kemudian jenis 1 memberikan bukti tambahan berkenan
dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca dan mempengaruhi
estimasi yang inheren dalam proses penyusunan laporan keuangan.
 Peristiwa kemudian jenis 2 memberikan bukti berkenaan dengan
kondisi yang tidak ada pada tanggal neraca tetapi muncul setelah
tanggal itu.

Peristiwa jenis 1 membutuhkan penyesuaian atas laporan keuangan; sementara


peristiwa jenis 2 memerlukan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Kelalaian untuk mencatat atau mengungkapkan peristiwa kemudian akan
menimpulkan penyimpangan dari laporan standar auditor. Tergantung pada
materialitas, auditor dapat menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian
atau bahkan tidak wajar karena laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan
prinsip yang berlaku.

Peristiwa kemudian yang memiliki dampak langsung atas laporan keuangan


dan memerlukan penyesuaian

Transaksi yang terjadi sesudah tanggal neraca dapat memberikan tambahan


informasi yang membantu manajemen dalam menentukan kewajaran penyajian
saldo-saldo akun pada tanggal neraca. Peristiwa kemudian berikut ini
membutuhkan penyesuaian atas saldo akun dalam laporan keuangan pada
tahun ini apabila jumlahnya material:
 Pengumuman kebangkrutan konsumen yang merupakan debitur
perusahaan karena debitur tersebut mengalami kesulitan keuangan
 Keputusan pengadilan dengan jumlah yang berbeda dari jumlah yang
tercantum dalam pembukuan.
 Penjualan peralatan yang sudah tidak digunakan lagi dalam operasi,
dengan harga di bawah nilai buku peralatan tersebut

4
Apabila peristiwa kemudian digunakan untuk menilai jumlah-jumlah yang
tercantum dalam laporan keuangan akhir tahun, auditor harus membedakan
antara kondisi yang ada pada tanggal neraca dengan yang timbul setelah akhir
tahun. Informasi kemudian tidak boleh dimasukkan langsung ke laporan
keuangan apabila kondisi yang menimbulkan perubahan dalam penilaian
timbul setelah akhir tahun. Misalnya, sejenis persediaan milik klien tiba-tiba
ketinggalan zaman karena perubahan teknologi setelah tanggal neraca.
Penjualan persediaan dengan merugi pada periode berikutnya, tidak relevan
dalam penilaian persediaan pada kasus ini.

Peristiwa kemudian yang tidak mempunyai dampak langsung atas laporan


keuangan tetapi memerlukan pengungkapan

Contoh peristiwa kemudian jenis ini adalah:


 Penurunan nilai pasar sekuritas yang dimiliki sebagai investasi
sementara atau investasi untuk diperdagangkan.
 Penerbitan sekuritas obligasi atau ekuitas
 Penurunan nilai pasar persediaan sebagai akibat keputusan pemerintah
yang mempengaruhi penjualan berikutnya suatu produk.
 Kerugian persediaan akibat kebakaran yang tidak diasuransikan.
 Suatu penggabungan (merger) atau akuisisi.
Peristiwa kemudian seperti di atas, memerlukan pengungkapan apabila
jumlahnya material dan apabila laporan keuangan akan bisa menyesatkan tanpa
adanya pengungkapan. Biasanya peristiwa semacam itu cukup diungkapkan
dengan menggunakan catatan kaki. Kadang-kadang ada pula peristiwa
demikian yang perlu diungkapkan dengan menggunakan suplemen laporan
keuangan yang di dalamnya memuat dampak peristiwa tersebut, seandainya
terjadi pada tanggal neraca. Contoh peristiwa kemudian semacam itu adalah
merger yang sangat material.

Membaca Notulen Rapat

Notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, dan subkomitenya, seperti


komite keuangan dan komite audit, dapat memuat hal-hal yang mempunyai

5
signifikansi audit. Pembacaan notulen rapat biasanya dilakukan segera setelah
hal itu tersedia, guna memberikan auditor kesempatan maksimum untuk
menilai signifikansi auditnya. Pembacaan notulen rapat oleh auditor harus
didokumentasikan dalam kertas kerja.

Mendapatkan Bukti Mengenai Litigasi, Klaim, dan Penilaian

Auditor harus selalu waspada terhadap kemungkinan adanya kewajiban


kontinjen. Ketika membaca notulen rapat dewan komisaris dan mereview
kontrak, auditor harus melihat situasi yang dapat menunjukkan kontijensi yang
harus diselidiki. Persyaratan untuk mengaudit litigasi, klaim, dan penilaian
biasanya dipenuhi auditor pada saat penyelesaian audit karena auditor ingin
agar masalah bukti diperoleh sedekat mungkin dengan akhir pekerjaan
lapangan.

Pertimbangan audit

SAS 12, Inquiry of a Client’s Lawyer Concerning Litigation, Claims, and


Assessments (AU 337.04), menyatakan bahwa auditor harus mendapatkan
bukti-bukti tentang:
 Eksistensi kondisi, situasi, atau serangkaian situasi yang menunjukkan
ketidakpastian mengenai kemungkinan terjadinya kerugian pada suatu
entitas dari litigasi, klaim, dan penilaian (litigation, claims, and
assessments — LCA).
 Periode di mana penyebab yang mendasari tindakan hukum terjadi.
 Tingkat probabilitas hasil yang tidak menguntungkan.
 Jumlah atau rentang kerugian yang potensial.

Surat pertanyaan audit

Biasanya auditor tidak memiliki keahlian hukum yang mencukupi untuk


membuat pertimbangan yang jelas mengenai semua LCA. AU 337.08
menunjukkan bahwa surat pertanyaan audit (letter of audit inquiry) kepada ahli
hukum klien merupakan sarana audit utama bagi auditor untuk mendapatkan

6
informasi pendukung tentang LCA yang diserahkan oleh manajemen. Surat ini
harus dijawab oleh ahli hukum dan dikirimkan langsung kepada auditor.

Pengaruh jawaban terhadap laporan auditor

Jawaban ahli hukum mungkin tidak mempunyai pengaruh terhadap laporan


auditor. Yaitu, auditor dapat mengeluarkan suatu laporan standar dengan
pendapat wajar tanpa pengecualian. Ini dapat terjadi apabila jawabannya
menunjukkan bahwa, berdasarkan penyelidikan yang layak atas masalah yang
dihadapi, terdapat (1) probabilitas yang tinggi atas hasil yang menguntungkan
atau (2) masalah yang dihadapi adalah tidak material.

Penolakan seorang ahli hukum untuk menjawab surat pertanyaan audit


merupakan pembatasan atas ruang lingkup audit. Tergantung pada materialitas
dari pos-pos yang ada, auditor harus menyatakan pendapat wajar dengan
pengecualian atau menolak memberikan pendapat atas laporan keuangan.
Auditor juga dapat memperoleh bantuan tentang LCA dari departemen hukum
klien.

Mendapatkan Surat Representasi Klien

Auditor diwajibkan untuk mendapatkan representasi tertulis tertentu dari


manajemen dalam memenuhi sandar ketiga pekerjaan lapangan. Hal ini dapat
dicapai melalui surat representasi klien, yang umumnya dikenal sebagai surat
rep. Representasi merupakan bagian dari barang bukti tetapi bukan pengganti
penerapan prosedur audit yang diperlukan untuk mendapatkan dasar yang
layak atas suatu pendapat. Representasi manajemen harus dapat :
 Mengkonfirmasikan representasi lisan yang diberikan kepada auditor
 Mendokumentasikan kelayakan yang berkelanjutan dari representasi
tersebut
 Mengurangi kemungkinan kesalahpahaman mengenai representasi
manajemen

7
Menurut AU 333.06 terdapat empat kategori utama dari representsi spesifik
yang harus termasuk dalam surat representasi. Surat representasi itu harus
mencakup representasi mengenai :
 Laporan keuangan
 Kelengkapan informasi
 Pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan
 Peristiwa kemudian

Apabila auditor menerima surat representasi dan mampu mendukung


representasi manajemen, maka suatu laporan audit standar dapat dikeluarkan.
Terdapat keterbatasan pada lingkup audit jika auditor tidak dapat:
 Memperoleh surat representasi
 Mendukung representasi manajemen yang bersifat material bagi
laporan keuangan dengan prosedur audit lainnya

Pembatasan lingkup ini akan mengakibatkan penyimpangan dari laporan


standar auditor baik melalui pendapat wajar dengan kualifikasi maupun
penolakan pemberian pendapat.

Melaksanakan Prosedur Analitis

Standar audit SA 520.6 mewajibkan auditor untuk melakukan prosedur analitis


pada tahapan penyelesaian audit, yang menyatakan sebagai berikut:

“Auditor harus merancang dan melaksanakan prosedur analitis


mendekati akhir audit yang membantu auditor ketika membentuk
kesimpulan keseluruhan tentang apakah laporan keuangan telah disajikan
konsisten dengan pemahaman auditor atas entitas”.

Prosedur ini berguna sebagai penelaahan akhir tentang kesalahan penyajian


material atau masalah keuangan yang tidak terlihat ketika auditor melakukan
pengujian lain. Pelaksanaan prosedur analitis akhir biasanya dilakukan seorang
partner ketika ia melakukan penelaahan akhir atas dokumentasi audit dan
laporan keuangan. Pada waktu melaksanakan prosedur analitis selama tahapan
penelaahan akhir, partner biasanya membaca laporan keuangan, termasuk

8
catatan kaki, dan mempertimbangkan kecukupan bukti yang diperoleh tentang
saldo akun yang tidak biasa atau tidak terduga atau hubungan yang
teridentifikasi selama tahap perencanaan dan pelaksanaan audit. Partner juga
mempertimbangkan saldo akun yang tidak biasa atau tidak terduga atau
hubungan yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Hasil prosedur analitis
tersebut dapat mengidentifikasi risiko kesalahan penyajian yang sebelumnya
tidak disadari. Dalam kondisi ini, SA 315 mengharuskan auditor untuk
mengubah risiko kesalahan penyajian material dan memodifikasi prosedur
audit yang telah direncanakan lebih lanjut sesuai dengan risiko tersebut.
prosedur analitis yang dilaksanakan berdasarkan ketentuan di atas, dapat sama
dengan prosedur yang akan digunakan dalam penilaian risiko.

2.2 MENGEVALUASI TEMUAN

Auditor memiliki dua tujuan dalam mengevaluasi temuan yaitu untuk


menentukan jenis pendapat yang harus dinyatakan dan untuk menentukan
apakah GAAS telah dipenuhi dalam audit. Untuk mencapai tujuan itu, auditor
menyelesaikan langkah-langkah berikut:
1. Membuat penilaian akhir atas materialitas dan risiko audit.
2. Mengevaluasi apakah ada keraguan yang besar mengenai kemampuan
entitas untuk mempertahankan kelanjutan usahanya (going concern).
3. Melakukkan review teknis atas laporan keuangan
4. Merumuskan pendapat dan membuat naskah laporan audit
5. Melakukan review akhir atas kertas kerja.

Membuat Penilaian Akhir atas Materialitas dan Risiko Audit

Auditor harus menggabungkan semua bukti yang diperoleh selama audit untuk
merumuskan pendapat atas laporan keuangan. Prasyarat yang esensial dalam
memutuskan suatu pendapat yang akan dikeluarkan adalah penilaian akhir atas
materialitas dan risiko audit. Titik tolak untuk melakukan proses ini adalah
menjumlahkan salah saji-salah saji yang ditemukan ketika memeriksa semua
akun yang belum dikoreksi oleh klien. Apabila koreksi tidak bersifat meterial,

9
maka auditor mungkin tidak memeriksa koreksi kliennya. Penentuan auditor
atas salah saji dalam suatu akun dapat mencakup komponen berikut :
 Salah saji yang belum dikoreksi yang secara spesifik diidentifikasi
melalui pengujian substantif atas rincian transaksi dan saldo (salah saji
yang diketahui)
 Proyeksi salah saji yang belum dikoreksi yang diestimasi melalui teknik
sampling audit
 Estimasi salah saji yang dideteksi melalui prosedur analitis dan
dikuantifikasi oleh prosedur audit lainnya

Semua komponen yang terdapat dalam suatu akun dikenal sebagai salah saji
yang mungkin, sementara jumlah salah saji yang mungkin dalam semua akun
disebut sebagai salah saji agregat yang mungkin. Penilaian auditor atas salah
saji agregat yang mungkin dapat mencakup pengaruh dari semua salah saji
yang mungkin belum dikoreksi selama periode sebelumnya terhadap laporan
keuangan periode berjalan.

Data yang telah diakumulasi kemudian dibandingkan dengan pertimbangan


pendahuluan auditor mengenai materialitas yang dibuat ketika merencanakan
audit. Dalam merencanakan audit, auditor menetapkan tingkat risiko audit yang
dapat diterima. Jika salah saji agregat meningkat, maka risiko bahwa laporan
keuangan mengandung salah saji yang material juga meningkat. Dalam
merencanakan audit, auditor menetapkan tingkat risiko audit yang dapat
diterima. Jika salah saji agregat yang mungkin meningkat, maka risiko bahwa
laporan keuangan mungkin mengandung salah saji yang material juga
meningkat. Apabila auditor menyimpulkan bahwa risiko audit berada pada
tingkat yang dapat diterima, maka ia dapat merumuskan pendapat yang
didukung oleh temuan yang diperoleh. Jika auditor merasa bahwa risiko audit
tidak dapat diterima, maka auditor harus: (1) melaksanakan pengujian
substantif tambahan, dan (2) meyakinkan klien untuk melakukan koreksi yang
diperlukan untuk mengurangi risiko salah saji yang material.

Mengevaluasi Kelanjutan Usaha

10
Di dalam AU 341, auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi apakah ada
keraguan yang substansial tentang kemampuan klien untuk mempertahankan
kelanjutan usahanya selama suatu periode waktu yang layak, yaitu tidak
melebihi satu tahun di luar tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit.
Biasanya, informasi yang akan menimbulkan keraguan yang substansial
tentang asumsi kelanjutan usaha berkaitan dengan ketidakmampuan entitas
untuk terus memenuhi kewajibannya ketika jatuh tempo tanpa diposisi aktiva
yang besar di luar arah bisnis yang biasa, merestrukturisasi hutang, merevisi
operasinya yang dipaksa dari luar, atau melakukan tindakan yang serupa.

Auditor bisanya mengevaluasi apakah ada keraguan yang substansial mengenai


kemampuan klien untuk mempertahankan kelanjutan usahanya berdasarkan
hasil dari prosedur audit normal yang dilaksanakan dari perencanaan hingga
penyelesaian audit. Jika auditor merasa yakin bahwa terdapat keraguan yang
substansial mengenai kemampuan perusahaan untuk mempertahankan
kelanjutan usahanya, maka auditor harus: (1) mendapatkan informasi mengenai
rencana manajemen untuk mengurangi pengaruh kondisi atau peristiwa
tersebut, dan (2) menilai kemungkinan bahwa rencana tersebut dapat
diterapkan secara efektif.

Apabila setelah mengevaluasi rencana manajemen, auditor menyimpulkan


terdapat keraguan yang substansial mengenai kelanjutan usaha, maka auditor
harus:
 Mempertimbangkan kelayakan pengungkapan mengenai kemungkinan
ketidakmampuan entitas untuk mempertahankan kelanjutan usahanya
selama periode waktu yang layak
 Menyertakan suatu paragraf penjelasan

Jika auditor menyimpulkan tidak ada keraguan yang substansial, maka auditor
tetap harus mempertimbangkan kebutuhan akan pengungkapan. Beberapa
informasi yang mungkin diungkapkan mencakup:
 Kondisi dan peristiwa bersangkutan yang menimbulkan penilaian atas
keraguan yang substansial mengenai kemampuan entitas untuk

11
mempertahankan kelanjutan usahanya selama periode waktu yang
layak.
 Kemungkinan pengaruh kondisi dan peristiwa tersebut
 Evaluasi manajemen atas signifikansi dari kondisi-kondisi dan
peristiwa itu serta setiap faktor yang dapat mengurangi.
 Kemungkinan penghentian operasi.
 Rencana manajemen (termasuk informasi keuangan prospektif yang
relevan)
 Informasi tentang pemulihan atau klasifikasi jumlah aktiva yang
tercatat atau jumlah atau klasifikasi kewajiban.

Jika, setelah mempertimbangkan kondisi-kondisi yang diidentifikasi dan


rencana manajemen, auditor menyimpulkan bahwa ada keraguan yang
substansial mengenai kemampuan entitas untuk mempertahankan kelanjutan
usaha selama periode waktu tersisa yang layak, maka laporan audit biasanya
berisi pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan tentang
ketidakpastian (sesudah paragraf pendapat) untuk mencerminkan kesimpulan
itu. Kesimpulan auditor mengenai kemampuan entitas untuk mempertahankan
kelanjutan usahanya harus dinyatakan dengan menggunakan frasa “keraguan
yang substantsial mengenai kemampuan (entitas) untuk mempertahankan
kelanjutan usaha.” Jika auditor menyimpulkan bahwa pengungkapan entitas
mengenai kemampuan entitas itu untuk mempertahankan kelanjutan usaha
tidak memadai, maka ada penyimpangan dari prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Ini dapat mengakibatkan pendapat wajar dengan pengecualian
(kecuali untuk) atau penolakan memberikan pendapat.

Melakukan Review Teknis atas Laporan Keuangan

Sebelum mengeluarkan laporan audit atas klien yang merupakan perusahaan


terbuka, Harus dilakukan suatu review teknis atas laporan oleh partner yang
bukan anggota tim audit. Daftar periksa tersebut mencakup hal-hal yang
berkenaan dengan bentuk dan isi dari masing-masing laporan keuangan dasar
termasuk pengungkapan yang disyaratkan.

12
Merumuskan Pendapat dan Menulis Naskah Laporan Audit

Dalam penyelesaian audit, auditor perlu memisahkan temuan-temuan dengan


mengikhtisarkan dan mengevaluasinya untuk tujuan menyatakan pendapat atas
laporan keuangan secara keseluruhan. Tanggung jawab akhir atas langkah-
langkah ini terletak pada partner yang melakukan penugasan itu. Dalam
beberapa kasus, manajer audit mengambil keputusan awal lalu direview oleh
partner.

Sebelum mengambil keputusan akhir tentang pendapat, biasanya diadakan


suatu konferensi dengan klien. Pada pertemuan ini, auditor melaporkan semua
temuannya secara lisan dan berusaha memberikan dasar pemikiran untuk
melakukan penyesuaian yang diusulkan dan / atau pengungkapan tambahan.
Sebaliknya, manajeen berusaha mempertahankan posisinya. Hingga akhirnya
dicapai beberapa kesepakatan yang dapat dicapai. Jika kesepakatan tersebut
tidak dapat dicapai, auditor akan mengeluarkan jenis pendapat lainnya.
Penyampaian pendapat tersebut dilakukan melalui suatu laporan audit.

Melakukan Review Akhir atas Kertas Kerja

Review ini dilakukan untuk mengevaluasi pekerjaan yang dilakukan, bukti


yang diperoleh, dan kesimpulan yang dib

uat oleh penyusun kertas kerja. Review tambahan atas kertas kerja dapat
dilakukan pada akhir pekerjaan lapangan oleh anggota tim audit. Tingkatan
review yang dapat dilakukan dalam penyelesaian audit yaitu:

Review Sifat Review


Manajer Me-review kertas kerja yang disiapkan
oleh auditor senior dan mereview
beberapa atau semua kertas kerja yang
direview oleh auditor

13
Partner yang Bertanggung Me-review kertas kerja yang disiapkan
jawab atas Penugasan oleh manajer dan mereview kertas kerja
lainnya atas dasar selektif

Review yang dilakukan partner atas kertas kerja dirancang untuk mendapatkan
kepastian bahwa:
 Pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan adalah akurat dan lengkap
 Pertimbangan yang dilakukan oleh bawahan adalah layak dan tepat
pada situasi yang bersangkutan
 Penugasan audit telah diselesaikan sesuai dengan kondisi dan syarat
yang ditetapkan dalam surat penugasan
 Semua pertanyaan tentang akuntansi, auditing, dan pelaporan
signifikan yang timbul selama audit telah diselesaikan dengan tepat.
 Kertas kerja mendukung pendapat auditor
 GAAS dan kebijakan serta prosedur pengendalian mutu kantor akuntan
telah dipenuhi.

2.3 KOMUNIKASI DENGAN KLIEN

Setelah audit diselesaikan, komunikasi dari auditor perlu disampaikan kepada


manajemen dan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola. Komunikasi ini
disyaratkan oleh standar audit untuk memastikan bahwa pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola, yang dalam banyak hal sering beruka
komite audit dan senior manajemen, mendapat informasi mengenai temuan
dari informasi penting lain, serta rekomendasi dari auditor. Dalam SPAP,
ketentuan mewajibkan auditor untuk berkomunikasi dengan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola tersebar dalam berbagai standar audit.
Komunikasi dengan klien membicarakan hal-hal berkenaan dengan (1)
pengendalian internal klien, dan (2) pelaksanaan audit.

14
Mengkomunikasikan Hal-hal yang Berkaitan dengan Pengendalian
Internal

Auditor dipersyaratkan untuk menyampaikan kondisi-kondisi yang dapat


dilaporkan, yang didefinisikan sebagai hal yang merupakan kekurangan yang
signifikan dalam perancangan atau operasi pengendalian internal, yang dapat
berpengaruh buruk terhadap kemampuan organisasi untuk mencatat,
memproses, mengikhtisarkan, dan melaporkan data keuangan yang konsisten
dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan. AU 325.11 menyatakan
bahwa setiap laporan yang diterbitkan mengenai kondisi yang dapat dilaporkan
harus :
 Menunjukkan bahwa tujuan audit adalah melaporkan tentang laporan
keuangan dan bukan memberikan kepastian tentang pengendalian
internal
 Menyertakan definisi tentang kondisi yang dapat dilaporkan
 Menyertakan pembatasan pembagian

Faktor-faktor tambahan berikut dapat mempengaruhi isi laporan:


 Karena potensi misinterpretasi dari tingkat kepastian yang sangat
terbatas yang diberikan oleh laporan itu, maka auditor sebaiknya tidak
menyatakan dalam laporan bahwa tidak ada kondisi yang dapat
dilaporkan yang dicatat.
 Dengan persetujuan klien, laporan itu mungkin (1) tidak memasukkan
kondisi yang dapat dilaporkan yang sudah diketahui oleh komite audit
dan (2) memasukkan hal-hal yang tidak memenuhi syarat sebagai
kondisi yang dapat dilaporkan.

Suatu kondisi yang dapat dilaporkan biasa begitu besar sehingga merupakan
kelemahan yang material. AU 325.15 mendefinisikan kelemahan yang material
sebagai:

“Suatu kondisi yang dapat dilaporkan dimana rancangan atau operasi


dari satu atau lebih komponen pengendalian internal tidak mengurangi
risiko hingga tingkat yang relatif rendah sehingga salah saji yang

15
disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan dalam jumlah yang material
dalam kaitannya dengan laporan keuangan yang sedang diaudit mungkin
terjadi dan tidak terdeteksi pada periode yang tepat waktu oleh karyawan
ketika melaksanakan kegiatan normal dari fungsi yang telah dibebankan
kepadanya”

Auditor tidak disyaratkan oleh GAAS untuk mengidentifikasi secara terpisah


dan mengkomunikasikan kelemahan yang material dalam laporan kepada
komite audit. Namun, apabila baik oleh permintaan klien ataupun oleh pilihan
auditor kelemahan yang material diidentifikasi dan diuraikan dalam laporan,
maka dua paragraf tambahan akan diperlukan. Paragraf pertama harus memuat
definisi dari istilah “kelemahan yang material” dan suatu uraian tentang kondisi
yang dapat dilaporkan yang merupakan kelemahan material. Paragraf
tambahan kedua harus menguraikan keterbatasan pekerjaan auditor. Apabila
paragraf sebelumnya disertakan dalam laporan dan tidak ada kondisi yang
dapat dilaporkan yang dipandang sebagai kelemahan material, maka
pernyataan mengenai pengaruh ini akan ditambahkan pada paragraf itu.

Mengkomunikasikan Hal-hal yang Berkenaan dengan Pelaksanaan Audit

AU 380 mempersyaratkan auditor untuk menyampaikan hal-hal tertentu


berkenaan dengan pelaksanaan audit kepada mereka yang bertanggung jawab
mengawasi proses pelaporan keuangan. Biasanya tanggung jawab ini
dibebankan ke suatu komite audit dari dewan komisaris atau ke satu kelompok
dengan wewenang yang sama seperti komite keuangan. Komunikasi itu bisa
dilakukan secara lisan atau tertulis, dan hal ini dapat terjadi selama atau segera
setelah audit. Apabila komunikasi itu harus dilakukan secara tertulis, maka
laporan tersebut harus menunjukkan bahwa hal itu diamksudkan untuk komite
audit atau dewan komisaris dan, jika sesuai, untuk manajemen.

AU 380.06-14 menyatakan bahwa komunikasi dengan komite audit dapat


mencakup hal-hal berikut :
 Tanggung jawab auditor menurut GAAS
 Kebijakan akuntansi yang signifikan

16
 Pertimbangan auditor tentang mutu prinsip akuntansi entitas
 Pertimbangan manajemen dan estimasi akuntansi
 Penyesuaian audit yang signifikan
 Ketidaksepakatan dengan manajemen
 Konsultasi dengan akuntan lain
 Masalah penting yang dibahas dengan manajemen sebelum penarikan
diri
 Kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan audit

Menyampaikan Surat Manajemen

Setelah audit selesai, auditor terkadang merasa perlu untuk mengirimkan surat
kepada manjemen atau management letters. Suruat ini bertujuan untuk
memberikan informasi kepada personilklien tentang rekomendasi yang
diberikan akuntan publik untuk perbaikan suatu bidang tertentu dalam bisnis
klien. Rekomendasi auditor kebanyakan berisi saran untuk perbaikan efisiensi
operasi mengingat auditor telah berpengalaman dalam mengaudit berbagai
jenis perusahaan. Hal ini juga bertujuan untuk menunjukkan bahwa KAP
memberi manfaat tambahan kepada entitas yang diauditnya di luar jasa audit.
Hal ini bertujuan untuk menjaga hubungan baik dengan manajemen sekaligus
menawarkan jasa-jasa lainnya yang dapat dilakukan oleh akuntan publik
seperti jasa perpajakan. Surat ini bukanlah suatu kewajiban karena tidak diatur
dalam standar. Namun, sebagian besar KAP akan melakukan hal ini.

Ikhtitas Tanggung Jawab Auditor dalam Penyelesaian Audit

17
2.4 TANGGUNG JAWAB SETELAH AUDIT

Peristiwa Kemudian yang terjadi antara Tanggal dan Penerbitan


Laporan audit

Dalam SA 560 paragraf 6 ditetapkan bahwa:

“Auditor harus melaksanakan prosedur audit yang dirancang untuk


memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, bahwa seluruh peristiwa
yang terjadi antara tanggal laporan keuangan dan tanggal laporan
auditor yang mengharuskan penyesuaian atau pengungkapan dalam
laporan keuangan, telah diidentifikasi. Namun, auditor tidak diharapkan
untuk melakukan prosedur audit tambahan atas hal-hal yang mana
prosedur audit yang sebelumnya diterapkan telah menyediakan
kesimpulan yang memadai.”

Auditor harus melakukan prosedur yang disyaratkan oleh paragraf 6 di atas


sehingga prosedur tersebut mencakup periode dari tanggal laporan keuangan
sampai ke tanggal laporan auditor, atau periode terdekat yang dapat dicapai.

18
Auditor harus mempertimbangkan penilaian risiko auditor dalam menetapkan
sifat dan luas prosedur audit, yang harus mencakup hal-hal sebagai berikut:
 Memperoleh suatu pemahaman tentang prosedur yang telah ditetapkan
oleh manajemen untuk memastikan bahwa peristiwa kemudian
teridentifikasi
 Meminta keterangan dari manajemen dan, jika relevan, pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, tentang peristiwa kemudian yang
telah terjadi yang mungkin memengaruhi laporan keuangan.
 Membaca risalah rapat, jika ada, tentang pemilik, manajemen, dan
pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola entitas, yang rapat
tersebut diadakaan setelah tanggal laporan keuangan dan meminta
keterangan tentang hal-hal yang dibahas dalam rapat tersebut yang
risalah hasil rapatnya belum tersedia.
 Membaca laporan keuangan interim terakhir entitas, jika ada.

Jika sebagai hasil prosedur yang diuraikan di atas, auditor mengidentifikasi


peristiwa yang mengharuskan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan
keuangan, auditor harus menentukan apakah setiap peristiwa tersebut telah
digambarkan dalam laporan keuangan secara tepat dan sesuai kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku.

Penemuan Fakta yang Ada pada Tanggal Neraca

Auditor tidak berkewajiban untuk melakukan prosedur audit atas laporan


keuangan setelah tanggal laporan auditor. Namun, jika setelah tanggal laporan
auditor tetapi sebelum tanggal laporan keuangan diterbitkan, suatu fakta
ditemukan oleh auditor yang mungkin menyebabkan auditor mengubah
laporan auditnya jika fakta tersebut telah diketahui auditor pada tanggal
laporan auditor, maka auditor harus:
 Membahas hal tersebut dengan manajemen dan, jika relevan, dengan
pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola;
 Menentukan apakah laporan keuangan tersebut memerulukan suatu
perubahan dan jika demikian;

19
 Meminta keterangan bagaimana manajemen akan memperlakukan hal
tersebuut dalam laporan keuangan.

Dalam SA 560 paragraf 11 menyatakan bahwa jika manajemen mengubah


laporan keuangan, maka auditor harus:
1) Melaksanakan prosedur audit yang diperlukan dalam kondisi atas
perubahan tersebut
2) Kecuali jika kondisi yang tertera dalam paragraf 12 terjadi:
i. Memperluas prosedur audit yang disebutkan dalam paragraf 6
dan 7 sampai pada tanggal auditor baru; dan
ii. Menyediakan suatu laporan auditor baru atas laporan keuangan
yang sudah diubah. Laporan auditor yang baru tidak dapat
diberi tanggal lebih awal daripada tanggal persetujuan atas
laporan keuangan.

Paragraf 12 SA 560 menyatakan bahwa bilamana peraturan perundang-


undangan atau kerangka pelaporan keuangan tidak melarang manajemen untuk
membatasi perubahan atas laporan keuangan yang disebabkan oleh pengaruh
peristiwa kemudian atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dan pihak
yang bertanggungjawab untuk menyetujui laporan keuangan tidak dilarang
untuk membatasi persetujuan terhadap perubahan yang bersangkutan, maka
auditor diizinkan untuk membayasi prosedur audit atas peristiwa kemudian
yang disyaratkan pada paragraf 11 (2) (i) berkaitan dengan perubahan tersebut.
dalam kasus seperti ini, auditor harus:
1) Mengubah laporan auditor dengan memasukkan tanggal tambahan
yang dibatasi sampai dengan perubahan tersebut. Hal ini menunjukkan
bahwa prosedur auditor untuk peristiwa kemudian hanya dibatasi pada
perubahan atas laporan keuangan yang digambarkan dalam catatan atas
laporan keuangan yang relevan; atau
2) Menyajikan suatu laporan auditor baru atau laporan auditor yang diubah
yang meliputi suatu pernyataan dalam suatu paragraf penekanan suatu
hal atau paragraf hal lain yang menyampaikan bahwa prosedur audit
atas peristiwa kemudian hanya terbatas untuk perubahan pada laporan

20
keuangan seperti yang dijelaskan dalam catatan atas laporan keuangan
(CALK) yang relevan.

Dalam beberapa yuridiksi, manajemen mungkin tidak disyaratkan oleh


peraturan perundang-undangan atau kerangka pelaporan keuangan untuk
menerbitkan laporan keuangan yang diubah, dan oleh karena itu auditor tidak
perlu menyediakan laporan auditor yang diubah, atau yang baru. Namun, jika
manajemen tidak mengubah laporan keuangan dalam kondisi yang auditor
yakin bahwa laporan keuangan tersebut perlu diubah, maka:
1) Jika laporan auditor belum diserahkan kepada entittas, auditor harus
mengubah opininya seperti yang disyaratkan dalam SA 705 dan
kemudian menyerahkan laporan auditor tersebut.
2) Jika laporan auditor telah diserahkan kepada entitas, auditor harus
memberitahu manajemen, dan jika relevan, pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola, agar tidak menerbitkan laporan
keuangan kepada pihak ketiga sebelum perubahan yang diperlukan
dibuat. Jika laporan keuangan diterbitkan kemudian tanpa memasukkan
perubahan yang diperlukan, auditor harus mengambil tindakan yang
tepat, untuk mencegah pengguna meletakkan kepercayaan terhadap
laporan auditor tersebut.

Penemuan Prosedur yang Dihilangkan

Terdapat kemungkinan bahwa setelah tanggal laporan audit, satu atau lebih
prosedur audit yang dipandang perlu dalam situasi-situasi bersangkutan telah
dihilangkan dari audit. Di dalam standar audit, tidak diatur bahwa auditor harus
melaksanakan setiap review setelah audit atas pekerjaannya. Akan tetapi,
penemuan prosedur yang dihilangkan dapat berasal dari review setelah
penugasan yang dilaksanakan selama program pengendalian mutu perusahaan
atau selama review horizontal dari akuntan publik luar. Ketika menemukan
suatu prosedur yang telah dihilangkan, auditor harus menilai kepentingan hal
itu bagi kepentingan hal itu bagi kemampuannya saat ini untuk mendukung
pendapat yang dinyatakan atas laporan keuangan. Auditor dapat mereview
kertas kerja dan reevaluasi atas keseluruhan lingkup audit dapat

21
memungkinkan auditor untuk menyimpulkan bahwa ia masih dapat
mendukung pendapat yang dinyatakan sebelumnya. Dalam AU 390.05
menunjukkan jika auditor memutuskan bahwa pendapatnya tidak dapat
didukung dan auditor yakin bahwa orang-orang saat ini mengandalkan pada
laporan itu, maka auditor harus segera melaksanakan prosedur yang
dihilangkan atau prosedur alternatif yang akan memberikan dasar yang
memuaskan atas pendapatnya.

Apabila dasar yang memuaskan untuk menyatakan pendapat telah diperoleh


dan bukti-bukti mendukung pendapat yang dinyatakan, auditor tidak
mempunyai tanggung jawab lagi. Tetapi, jika pelaksanaan prosedur yang
dihilangkan mengungkapkan fakta yang ada pada tanggal laporan sehingga
akan mengubah pendapat yang dinyatakan sebelumnya, auditor harus
mengikuti prosedur pemberitahuan yang diuraikan dalam paragraph terakhir
dari bagian terdahulu untuk mencegah ketergantungan selanjutnya atas laporan
bersangkutan. Jika auditor tidak dapat melaksanakan prosedur alternatif atau
yang dihilangkan, maka auditor dapat berkonsultasi dengan pengacara untuk
menentukan tindakan yang tepat.

22
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dalam menyelesaikan pekerjaan lapangan, auditor melaksanakan prosedur audit


spesifik untuk mendapatkan bukti audit tambahan. Pertama, melakukan review atas
peristiwa kemudian. Peristiwa kemudian terbagi menjadi peristiwa kemudian jenis
I, yang memberikan bukti tambahan berkenan dengan kondisi yang ada pada
tanggal neraca dan jenis II, yang memberikan bukti berkenan dengan kondisi yang
tidak ada pada tanggal neraca. Kedua, membaca notulen rapat. Ketiga,
mendapatkan bukti mengenai litigasi, klaim, dan penilaian. Keempat, mendapatkan
surat representasi klien. Dan, kelima, melaksanakan prosedur analitis.

Auditor memiliki dua tujuan dalam mengevaluasi temuan yaitu untuk


menentukan jenis pendapat yang harus dinyatakan dan untuk menentukan apakah
GAAS telah dipenuhi dalam audit. Untuk mencapai tujuan itu, auditor
menyelesaikan langkah-langkah berikut: (1) membuat penilaian akhir atas
materialitas dan risiko audit, (2) mengevaluasi apakah ada keraguan yang besar
mengenai kemampuan entitas untuk mempertahankan kelanjutan usahanya (going
concern), (3) melakukkan review teknis atas laporan keuangan, (4) merumuskan
pendapat dan membuat naskah laporan audit, dan (5) melakukan review akhir atas
kertas kerja.

Setelah audit diselesaikan, komunikasi dari auditor perlu disampaikan


kepada manajemen dan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola. Komunikasi
ini disyaratkan oleh standar audit untuk memastikan bahwa pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola, yang dalam banyak hal sering beruka komite
audit dan senior manajemen, mendapat informasi mengenai temuan dari informasi
penting lain, serta rekomendasi dari auditor. Komunikasi dengan klien
membicarakan hal-hal berkenaan dengan (1) pengendalian internal klien, dan (2)
pelaksanaan audit.

23
DAFTAR PUSTAKA

Willian C. Boynton, Raymon N. Johnson, Walter G. Kell, 2003, Moderen Auditing


edisi ke-7, Jakarta, Erlangga.

24