Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Dry eyes merupakan suatu keadaan dimana terjadi ketidaknyamanan


dalam pengelihatan penderita yang disebabkan karena kekurangan kelembaban
lubrikasi dan agen dalam mata. Saat ini, dry eyes lebih sering terjadi dibandingkan
pada masa-masa lampau. Hal ini dapat distimulasi oleh berbagai aspek lingkungan
seperti udara yang dapat mengiritasi mata dan lapisan air mata menjadi kering.
Penderita dry eyes sering merasakan ketidaknyamanan dalam mata
sehingga mereka sering mengeluhkan perasaan seperti iritasi, tanda-tanda
inflamasi sering merasa ada benda asing di mata. Penderita dengan Dry eyes
kronis didiagnosis oleh dokter jika keluhan dry eyes terjadi berulang sehingga
menurunkan jumlah air mata yang menyebabkan gejala bertahan dalam periode
yang lama. Penderita dry eyes sering dijumpai pada mereka yang sering
menggunakan komputer dalam jangka panjang.
Penggunaan komputer dewasa ini telah demikian luas di segala bidang,
baik di perkantoran maupun bagian dari kehidupan pribadi seseorang. Hampir
semua petugas administrasi menggunakan komputer dalam pekerjaan sehari-hari.
Penggunaan komputer tidak terlepas dari hal-hal yang dapat mengganggu
kesehatan.
Gangguan kesehatan pada pengguna komputer antara lain kelelahan mata
karena terus menerus memandang monitor atau video display terminal (VDT).
Kumpulan gejala kelelahan pada mata ini disebut Computer Vision Syndrome
(CVS). Gejala-gejala yang termasuk dalam CVS ini antara lain penglihatan kabur,
dry eye, nyeri kepala, sakit pada leher, bahu dan punggung. Sedangkan sindrom
dry eye adalah gangguan defisiensi air mata baik kuantitas maupun kualitas.
Selain penggunaan VDT, faktor risiko sindrom dry eye pada pekerja adalah faktor
pekerja dan lingkungan kerja. Faktor pekerja meliputi usia, jenis kelamin,
kebiasaan membaca dan kelainan refraksi, sedangkan faktor lingkungan kerja

1
meliputi suhu, kelembaban, penerangan, tinggi meja, tinggi kursi dan jarak mata
ke monitor.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Anatomis lapisan air mata

Lapisan air mata melapisi permukaan okuler normal. Pada dasarnya,


lapisan air mata terdiri dari 3 lapisan yang terdiri dari:

a. Lapisan tipis superfisial (0.11um) diproduksi oleh kelenjar meibomian dan


fungsi utamanya adalah menahan evaporasi air mata dan mempertahankan
penyebaran air mata
b. Lapisan tengah, lapisan tebal (lapisan aqueous, 7um) diproduksi oleh
kelenjar lakrimalis utama ( untuk refleks menangis), seperti halnya kelenjar
lakrimalis asesoris dari kelenjar Krause dan Wolfring.
c. Lapisan terdalam, lapisan musin hidrofilik diproduksi oleh sel-sel goblet
konjunctiva dan epitel permukaan okuler dan berhubungan dengan permukaan
okuler melalui ikatan jaringan longgar dengan glikokalik dari epitel konjunctiva.
Adanya musin yang bersifat hidrofilik membuat lapisan aqueous menyebar ke
epitel kornea.

Gambar 1. Lapisan air mata

3
Lapisan lemak yang diproduksi oleh kelenjar meibomian berperan sebagai
surfaktant, sama seperti lapisan aqueous (mempertahankan terjadinya evaporasi
dari lapisan aqueous) dan juga sebagai pelindung permukaan mata. Selain itu,
lapisan lemak dapat berperan sebagai barier melawan partikel asing dan dapat
juga berperan sebagai antimikroba. Kelenjar ini bersifat holokrin dan kelenjar
dapat mensekresi lipid polar (interaksi aquaous-lipid) dan lipid nonpolar (interaksi
permukaan air mata- udara) yang merupakan materi berisi protein. Semua lapisan
tersebut diikat menjadi satu dengan ikatan ion, ikatan hidrogen dan tekanan van
der Waal.
Sekresi dari lapisan air mata bersifat neuronal ( sumber parasimpatik,
simpatik dan persarafan sensoris), hormonal ( reseptor androgen dan estrogen)
dan regulasi vaskuler. Terjadinya evaporasi kebanyakan disebabkan karena
disfungsi kelenjar meibomian.

SISTEM SEKRESI AIR MATA

Sistem lakrimalis meliputi struktur-struktur yang terlibat dalam produksi


dan drainase air mata. Komponen sekresi terdiri atas kelenjar yang menghasilkan
berbagai unsur pembentuk cairan air mata. Volume terbesar air mata dihasilkan
oleh kelenjar air mata utama yang terletak di fossa lakrimalis di kuadran temporal
atas orbita. Selain kelenjar air mata utama terdapat kelenjar lakrimal tambahan.
Meskipun hanya sepersepuluh dari massa utama, namun mempunyai
peran yang penting.
Komponen lipid air mata disekresi oleh kelenjar Meibom dan Zeis di
tepian palpebra. Sekresi lipid ini dipengaruhi oleh serabut saraf kolinergik yang
berisi kolinesterase dan agonis kolinergik seperti pilokarpin. Selain itu sekresi
kelenjar dipengaruhi oleh hormon androgen seperti testosteron yang dapat
meningkatkan sekresi, sementara hormon antiandrogen dan estrogen akan
menekan sekresi kelenjar lipid. Refleks mengedip juga memegang peran penting
dalam sekresi oleh kelenjar Meibom dan Zeis. Mengedip menyebabkan lipid
mengalir ke lapisan air mata.

4
Komponen akuos air mata disekresi oleh kelenjar utama, kelenjar Krause
dan Wolfring. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan kelenjar utama
namun tidak mempunyai sistem saluran. Mekanisme sekresi akuos dipersarafi
oleh saraf kranial V. Stimulasi reseptor saraf V yang terdapat di kornea dan
mukosa nasal memacu sekresi air mata oleh kelenjar lakrimalis. Kurangnya
sekresi air mata oleh kelenjar lakrima dan sindrom dry eye dapat disebabkan oleh
penyakit maupun obat-obatan yang berefek pada sistem otonom.
Komponen musin lapisan air mata disekresi oleh sel Goblet konjungtiva
dan sel epitel permukaan. Mekanisme pengaturan sekresi musin oleh sel ini tidak
diketahui. Hilangnya sel Goblet berakibat mengeringnya kornea meskipun banyak
air mata dari kelenjar lakrimal.

SISTEM EKSKRESI AIR MATA


Selain sistem sekresi, kelenjar air mata juga terdiri dari komponen ekskresi.
Komponen ekskresi terdiri atas punkta, kanalikuli, sakus lakrimalis dan duktus
lakrimalis. Setiap berkedip, palpebra menutup mirip risleting mulai dari lateral,
menyebarkan air mata secara merata di atas kornea dan menyalurkannya ke dalam
sistem ekskresi di sisi medial palpebra. Dalam keadaan normal, air mata
dihasilkan dengan kecepatan yang sesuai dengan jumlah yang diuapkan. Oleh
sebab itu hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi.

5
Gambar 2. Anatomi air mata + sistem sekresi dan eksresi air mata

2.2 Definisi

Dry eye merupakan penyakit multifaktorial pada kelenjar air mata dan
permukaan okuler yang menghasilkan gejala-gejala ketidaknyamanan, gangguan
pengelihatan, air mata yang tidak stabil sehingga berpotensi untuk menimbulkan
kerusakan pada permukaan okuler. Dry eye sering disertai dengan peningkatan
osmolaritas dari air mata dan peradangan dari permukaan okuler.

Gambar 3. Dry eye syndrome

6
2.3 Epidemiologi

Sindroma dry eye biasanya terjadi pada pasien usia lebih dari 40 tahun
dan merupakan penyakit mata yang cukup sering terjadi, yaitu sekitar 10-30%
populasi. Di Amerika Serikat, diperkirakan ada sekitar 3.23 juta wanita dan 1.68
juta pria yang berusia 50 tahun keatas yang menderita sindroma dry eyes.
Frekuensi sindroma dry eyes di beberapa negara hampir serupa dengan
frekuensi di Amerika Serikat.

2.4 Pemeriksaan klinis


a. anamnesis
perlu dilakukan pemeriksan riwayat penyakit untuk menegakkan diagnosis
sindroma dry-eyes seperti ada tidaknya:
Gejala Subjektif Mata Kering
 mata terasa gatal
 adanya sensasi mata seperti berpasir,
 Sakit
 Silau
 Penglihatan kabur.

 Iritasi okuler dengan gejala klinis seperti rasa kering , rasa terbakar, gatal, nyeri ,
rasa adanya benda asing pada mata, fotofobia, pandangan berkabut. Biasanya
gejala tersebut dicetuskan pada lingkungan berasap atau kering, aktivitas panas
indoor, membaca lama, pemakaian komputer jangka panjang.
 Terkadang, pasien mengeluh sekret air mata yang berlebihan, hal ini disebabkan
karena reflek menangis mata yang meningkat karena permukaan kornea yang
mengering
 Pemakaian obat-obatan sistemik, karena dapat menurunkan produksi air mata
seperti antihistamin, beta bloker dan kontrasepsi oral.

7
b. pemeriksaan fisik
Gejala Objektif Mata Kering
 Sekresi mukus yang berlebihan
 Sukar menggerakkan kelopak mata
 Mata tampak kering dan terdapat erosi kornea
 Pada pemeriksaan slit lamp, meniskus air mata pada tepi palpebra inferior
menghilang atau terganggu
 Konjungtiva bulbi tampak edema, hiperemik, menebal, dan kusam (tidak
tampak kilauan). Kadang – kadang terdapat benang mucus kekuning-
kunigan pada forniks konjungtiva inferior.
 Pada keadaan lanjut, biasa ditemukan filament (benang-benang) yang satu
ujungnya melekat di kornea sedangkan ujung lainnya bergerak bebas. Pada
keadaan ini dapat ditemukan neovaskularisasi kornea

c.Pemeriksaan diagnostik.

Tes Schimer

Tes ini dilakukan dengan mengeringkan lapisan air mata dan memasukkan
strip Schirmer (kertas saring Whartman No. 41) ke dalam cul de sac konjungtiva
inferior pada batas sepertiga tengah dan temporal dari palpebra inferior. Bagian
basah yang terpapar diukur lima menit setelah dimasukkan. Panjang bagian basah
kurang dari 10 mm tanpa anestesi dianggap abnormal.

8
Gambar 4. Tes Schimmer

Tes Break-up Time


Tes ini berguna untuk menilai stabilitas air mata dan komponen lipid
dalam cairan air mata; diukur dengan meletakkan secarik kertas berfluorescein di
konjungtiva bulbi dan meminta penderita untuk berkedip. Lapisan air

mata kemudian diperiksa dengan bantuan filter cobalt pada slitlamp, sementara
penderita diminta tidak berkedip. Selang waktu sampai munculnya titik-titik
kering yang pertama dalam lapis fluorescein kornea adalah break-up time.

9
Biasanya lebih dari 15 detik. Selang waktu akan memendek pada mata dengan
defisiensi lipid pada airmata.

Tes Ferning Mata


Sebuah tes sederhana dan murah untuk meneliti komponen musin air mata ;
dilakukan dengan mengeringkan kerokan lapisan air mata di atas kaca obyek
bersih.

Sitologi
Impresi Adalah cara menghitung densitas sel Goblet pada permukaan konjungtiva.
Pada orang normal, populasi sel Goblet paling tinggi di kuadran infra nasal.

Pemulasan Fluorescein
Dilakukan dengan secarik kertas kering fluorescein untuk melihat derajat
basahnya air mata dan melihat meniskus air mata. Fluorescein akan memulas
daerah yang tidak tertutup oleh epitel selain defek mikroskopik pada epitel
kornea.

Pemulasan Rose Bengal


Rose Bengal lebih sensitif daripada fluorescein. Pewarna ini akan memulas semua
sel epitel yang tidak tertutup oleh lapisan musin yang mengering dari kornea dan
konjungtiva.

Pengujian kadar lisozim air mata


Air mata ditampung pada kertas Schirmer dan diuji kadarnya dengan cara
spektrofotometri.

Osmolalitas air mata


Hiperosmolalitas air mata telah dilaporkan pada keratokonjungtivitis sicca
dan pemakai lensa kontak; diduga sebagai akibat berkurangnya sensitifitas kornea.
Laporan-laporan penelitian menyebutkan bahwa hiperosmolalitas adalah tes yang
paling spesifik bagi keratokonjungtivitis sicca, karena dapat ditemukan pada
pasien dengan tes Schirmer normal dan pemulasan Rose Bengal normal.

10
Laktoferin
Laktoferin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien dengan hiposekresi
kelenjar lakrimalis

Untuk mengukur kuantitas komponen akuos dalam air mata dapat


dilakukan tes Schirmer. Tes Schirmer merupakan indikator tidak langsung untuk
menilai produksi air mata. Berkurangnya komponen akuos dalam air mata
mengakibatkan air mata tidak stabil. Ketidakstabilan air mata pada dry eyes
disebabkan kerusakan epitel permukaan bola mata sehingga mukus yang
dihasilkan tidak normal yang berakibat pada proses penguapan air mata. Salah
satu pemeriksaan untuk menilai stabilitas lapisan air mata adalah dengan
pemeriksaan break up time (BUT)

2.5 Penyebab

Hipofungsi - Kongenital : Aplasia kelenjar lakrimal (alakrima kongenital), Aplasia nervus


kelenjar lakrimal trigeminus, Dysplasia ektodermal
- Didapat :
a. Penyakit sistemik (Sindrom syorgen, sklerosis sistemik progresif,
sarkoidosis, leukemia, limfoma, amiloidosis, hemokromatosis);
b. Infeksi (Trachoma, parotitis epidemica);
c. Cedera (Pengangkatan kelenjar lakrimal, iridiasi, luka bakar
kimia);
d. Medikasi (Antihistamin, antimuskarinik (atropin, skopolamin),
anestesi umum (halothane, nitous oxide), beta adrenergik blocker
(timolol)

Defisiensi musin Defisiensi vitamin A, sindrom Stevens Johnson, pemfigoid okuler,


konjungtivitis menahun, luka bakar kimia, obat – obatan (antihistamin,
agen antimuskarinik, beta blocker (practolol))

Defisiensi Lipid Blepharitis menahun, jaringan parut di tepian palpebra

Evaporasi Keratitis neroparalitik, keratitis lagoftalmus


berlebihan

11
Defektif film air a. Kelainan palpebra
mata (Coloboma, Ektropion atau entropion, Keratinisasi tepian palpebra, Kedipan
berkurang (gangguan neurologik, hipertiroid, lensa kontak, keratitis herpes
simpleks, lepra), Lagophthalmos )
b. Kelainan konjungtiva (Pterygium, Symblepharon)
c. Proptosis

2.6 Penatalaksanaan

Sindroma dry eye sangat kompleks penyebabnya dan diatasi berdasarkan


penyebabnya, tetapi sementara mencari penyebabnya dapat juga diatasi terlebih
dahulu keluhan lainnya seperti kering, gatal dan rasa terbakar.
Tujuan utama dari pengobatan sindrom dry eye adalah penggantian cairan
mata. Terapi yang saat ini dianut adalah air mata buatan sebagai pelumas air mata
sedangkan salep berguna sebagai pelumas jangka panjang terutama saat tidur.
Terapi tambahan dapat dilakukan dengan memakai pelembab, kacamata pelembab
atau kacamata berenang.
Untuk menjaga agar air mata tidak terdrainase dengan cepat dapat
digunakan punctal plug, dengan demikian mata akan lebih terasa lembab, tidak
kering, tidak gatal, tidak seperti terbakar.

Gambar 5. Plug punctal

Salmon merupakan sumber asam lemak omega 3 yang dapat mengurangi


resiko dry eyes. Sardine, herring dan minyak ikan dapat dicoba untuk dijadikan
suplemen sehari.

12
Jika menggunakan kontak lens, jangan sembarangan memakai kontak
lensa karena tidak semua tetes mata cocok digunakan untuk kontak lensa. Untuk
memberi tetes mata, maka sebaiknya kontak lensa dilepaskan dahulu dari mata
dan biarkan 15 menit tanpa kontak lensa.
Jika permasalahan timbul akibat lingkungan, maka dapat digunakan
kacamata hitam ketika beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan
sinar matahari, angin dan debu.
Silicon plug yang dimasukkan ke dalam kelenjar lakrimalis pada ujung
mata dapat menjaga air mata terdrainase lebih lambat sehingga menjaga
kelembaban mata. Alat ini dikenal dengan istilah lakrimal plug dan diletakkan
tanpa nyeri oleh spesialis mata. Untuk sebagian orang silicon plug terasa tidak
nyaman di mata maka saat ini dapat juga dilakukan puncta kauterisasi.
Dapat juga mengkonsumsi obat-obatan seperti restasis, kortikosteroid
topikal, tetrasiklin oral, doksisiklin. Obat restasis memiliki efek dalam
memproduksi cairan air mata sehingga mata dapat menghasilkan air mata alami
sehingga dapat mengurangi kekeringan pada mata yang disebabkan oleh proses
penuaan atau agen yang menyebabkan produksi menurun.

2.7 Prognosis

 Secara umum, prognosis untuk ketajaman visual pada pasien dengan sindrom
mata kering adalah baik.
 Sebagian besar pasien dengan derajat keparahan ringan hingga sedang dapat
diobati gejalanya dengan pemberian lubricant, dan gejalanya bisa teratasi.
 Pada mata kering yang berat, bisa mengganggu kualitas hidup karena
seringkali pasien mengeluhkan penglihatan kabur, iritasi berat sehingga mereka
kesulitan membuka mata dan mereka aktivitas kerja menjadi terganggu

13
BAB III

KESIMPULAN

1. Dry eye merupakan penyakit multifaktorial pada kelenjar air mata dan permukaan
okuler yang menghasilkan gejala-gejala ketidaknyamanan, gangguan
pengelihatan.
2. Karena bersifat multifaktorial, maka penyebab dry eyes sangat bervariasi dan
penanganannya disesuaikan dengan causanya.
3. Deteksi dini dry eyes diperlukan karena keluhan dry eyes ini sangat mengganggu
pengelihatan kita.

14
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

1. http://emedicine.medscape.com/article/1210417-overwiew, 22 Juli 2010


2. http//www.mayoclinic.com/health/dry-eyes/DS00463/DSECTION=causes, 22
juli 2010
3. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000426.htm, 22 juli 2010
4. http://www.eyecaresource.com/conditions/dry-eyes/, 22 juli 2010
5. Nenjah Roestijawati, 2007. Sindroma Dry eye pada VDT.
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/154_11_Sindromadryeye.pdf/154_11_si
ndromadryeye.html, 22 Juli 2010
6. http://www.allaboutvision.com/conditions/dryeye.htm, 22 Juli 2010

15