Anda di halaman 1dari 4

Suku Mee & Marga Makii (Tanah) Di Paniai, Papua

Penulis : Demianus Nawipa

I. Suku Mee

Suku Mee adalah salah satu suku yang mendiami di pegunungan tengah Papua bagian barat.
Secara etnolinguistik suku Mee merupakan bagian dari ras Trans New Guinea (Papua Asli), dan
rumpun Melanesia. Suku Mee mempunyai 4 (Kelompok Besar), yaitu; marga tanah
(mee:makituma), marga kus-kus (mee:wodatuma), marga ular (mee:yinatuma), dan marga batu
(mee:mogopiya). Bahasa yang digunakan pada ke-empat marga itu adalah “bahasa mee”.

Marga Tanah, adalah nawipa, muyapa, kayame, kadepa, pigai, yatipai, ogetai, bobi, dan badii.
Marga Kus-kus adalah; tenouye, yeimo, yogi, you, dogopiya, kobepa, kogi, kedepa,
nakapa,yobe, dou dll. Marga Ular adalah degei, mote, edowai, bunai, keiya, iyai, madai, giyai,
yukei, tebai, gobai, kudiai, pekei, agapa, yumai, tobai, magai, dll. Marga Batu adalah tekege,
tagi, pigome, adii dll.

a. Arti Suku Mee

Suku adalah sekumpulan dari dua atau lebih marga yang menghuni di suatu daerah atau
kawasan. Sedangkan Mee artinya Manusia, jadi Suku Mee adalah “Suku Manusia” yang terdiri
dari 4 (empat) kelompok marga yang mendiami di daerah, mapiha, kamu, tigi dan paniai. Suku
Mee disebut Suku Manusia Sejati, karena dalam sebutan bahasa Mee seorang diri manusia juga
disebut mee, contohnya ; Demi adalah mee, dia bukan binatang.

b. Kepercayaan dan Hidup Berdasarkan Dogma/kitab tak tertulis

Dua kata bijak yang bersifat kontinuitas dalam kehidupan sepanjang waktu atau dari turun-
temurun nenek moyang setiap marga dalam suku mee adalah “Ayi-ayi (mencari keselamatan
kekal)”, dan “Mobu atau Petitai (puas dan selamat)”.

Dulu zaman nenek moyang pada setiap marga yang ada dalam suku mee mencoba dan
melakukan berbagai cara untuk mencari keselamatan yang kekal, seperti kata “Ugaugamee atau
Titita mee atau Poyamee (maha pencipta, mahatinggi, dan manusia suci)”.

Setelah, itu mereka juga mencari suatu kehidupan yang bahagia, seperti berkebun (Oda-owada),
beternak babi (ekina muni) dan berburuh (boke mainai, woda agopa doutou), ini bertujuan untuk
mencari kepuasan dan kebahagiaan (mobu) dalam keluarga dan akhirnya memperoleh
keselamatan tubuh (petitai).

Suku Mee mempunyai satu dogma/kitab tak tertulis, yaitu “Touye Mana”, terdiri dari “Tou
(ada)” dan “Iye (daun, dogma, kitab, sifat)”, sedangkan “Mana (suara/nafas/roh)” maka
dalamnya terisi banyak hal berdasarkan waktu, seperti kata “Tota Mana (dulu ada Suara), Topa
Mana (Sedang ada Suara), dan Touta (Akan ada Suara)”, oleh sebab itu,orang mee tahu
bahwa dalam “Touye Itu Kekal Adanya”.
c. Larangan Dalam Dogma/Kitab Tak Tertulis tentang Perkawinan

Dalam Touye juga sudah termuat beberapa hukum budaya, seperti; kasih, jangan mencuri,
jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mengingini istri atau barang orang lain, selalu jujur,
menghargai orang tua dan orang yang lebih tua dari kita.

Dalam dogma/kitab tak tertulis itu juga membungkisi hal tidak boleh kawin-mengawin antara
semarga besar, seperti dilarang keras saling kawin antara marga tanah sendiri, demikian juga
antara marga ular, marga kus-kus dan antara marga batu.

Hanya yang layak kawin-mengawin terjadi antar marga tadi, seperti marga kus-kus dengan
marga tanah, atau antar marga ular dengan marga batu. Tetapi, kecuali beda marga yang ada
hubungan darah dari nenek moyang (mee : wiyetumaa) pun tidak boleh saling kawin, contonya
seperti marga nawipa (marga tanah) dengan marga tekege (marga batu) atau dengan marga
yumai (marga ular).

II. Marga Nawipa

Marga (clan) Nawipa merupakan sebuah submarga dari Marga/kelompok Tanah (makituma) di
dalam suku mee Paniai, dan ras Trans New Guinea (Papua Asli) dalam rumpun Melanesia.
Nenek Moyang Marga Nawipa yang namanya terpopuler di kalangan suku mee adalah
“Wonaipai”. Wonaipai mempunyai 2 (dua) istri.

Istri pertamanya memperanakan 5 bersaudara, yaitu; keturunan anak pertama mendiami, tiga
kampung yaitu baguwo, dinubutu, dan nawipauwo, kemudian keturunan anak kedua mendiami
gakokotu dan wegou, lalu mereka yang keturunan dari anak ketiga mendiami, dinutouda
(iyobado), debamomaida, dan widimeidaa, sedangkan keturunan dari anak ke-empat mendiami
di kampung geida, ogeida dan makidimi, kemudian mereka yang keturunan dari anak bungsunya
mendiami di daerah pasir putih (kenepugi dan kopabaida).

Kemudian, keturunan dari adiknya “Wonaipai” adalah mereka yang tinggal di kampung Iteuwo,
Baguwo (poge) dan Ogeida sebagian. Keturunan dari istri Kedua dari “WONAIPAI” adalah
sebagian “Marga Muyapa” yang mendiami di kampung “Muyabado”.

a. Arti Marga Nawipa, di Paniai, Papua

Menurut asal kata “NAWIPA” terdiri dari dua kata, yaitu; “NAW & IPA”. NAW dari kata
“NAWI” diambil dari bahasa daerah Tolikara yang artinya “Tanah, Kampung, Bangsa”.
Sedangkan IPA dari kata “IPAA” diambil dari bahasa suku Mee, yang artinya “Kasih, Cinta”.
Jadi, NAWIIPAA atau NAWIPA artinya : “Marga Yang Mencintai Tanah, Kampung dan
Bangsanya” (Demi Nawipa).

Marga Nawipa juga adalah bagian dari “Marga Tanah” seperti yang saudara-saudara marga
tanah lainnya. Dari nenek moyang “Wonaipai” sudah tahu betul terkait hubungan antar marga,
yaitu seperti; marga muyapa, kadepa, kayame, ogetai, pigai, badi, bobi, dan yatipai. Marga
Nawipa juga tahu betul terkait hubungan antar marga besar tadi, seperti marga nawipa dilarang
keras saling kawin-mengawin antara marga tekege, yumai, poge degei serta semarga tanah
lainya.

b. Marga Nawipa Amoyepaa,

Nenek Moyang Nawipa Amoyepa bernama “Tounawude”, selama dia hidup menurut cerita dari
orang tua dia pernah “Makan Roti” yang dikasih dari 7 (tujuh) orang bidadari dari puncak
gunung waiyamo. Tounawude kawin istri pertamanya adalah Ugiyogouwo (seorang bidadari)
dan istri kedua marga nakapayagamo. Istri pertama memperanakan satu orang laki-laki bernama
“Anotakai”, sedangkan istri kedua memperanakan “Puteipai”.

“Anotakai” adalah keturunan marga Nawipa yang mendiami di kampung Kopabaida, duwanita,
kopamoti, yagewawita, dan kampung tegougida. Sedangkan keturunan “Puteipai” adalah marga
nawipa yang mendiami di kampung amopaugaida, tetobutu, madoupugida, dan pasir putih.

Menurut cerita dari orang tua di kampung, tiga kata bijak atau nasehat “TOUNAWUDE” yang
pernah sampaikan kepada kedua anaknya adalah sebagai berikut :

1. “Jikalau kamu melakukan hal jahat, pasti akan binasa, tetapi Jikalau kamu tidak
melakukan hal jahat pasti kamu akan dihormati dan dihargai oleh orang lain,”
(Koudanite ikai peuagiyo akowapaa koo, ikai peudaa akaitaa, kodeya ikaii peuagiyo
teakowapa ko meinoka maiya iboo kiyaikaitai),
2. “Suatu saat satu generasi dari kamu dua, akan membuat masalah besar dan saat itu
akan ada hujan besar turun dari langit” (kigena kakadeida, ikaiyaka woakebai taa
bagepaa, okeiyaka iboo mana miyakee, ibo edii peiyoo uwouye makiye abumaita),
3. “Kamu jangan kawin semarga dalam marga tanah maupun marga lain yang sudah
menjadi hubungan darah dengan kita,” (Ikaiwiyake kee wakakoo makituma ma oya tuma
inii wiyee bage makoo tee akabuke taii etitaa),

Tiga, kalimat bijak ini merupakan pondasi, untuk tidak boleh melakukan kejahatan dalam
kehidupan, untuk memperoleh kehidupan yang damai, aman dan bebas dari para musuh.

c. Pernyataan :

Saya dengan mempertegas sebagai bagian dari saling mengingatkan antara kita suku mee
khususnya dari “Marga Tanah”, dan lebih khusus kepada “Marga Nawipa” STOP melakukan
hal-hal sebagai berikut :

1. Jangan Jual Tanah,


2. Jangan Ambil Uang Darah,
3. Jangan Menjual Sesama Manusia,

Saudara bilamana kita mencoba dan melakukan tiga poin ini, maka suatu saat resiko atau
dampak yang akan kita atau generasi berikut peroleh adalah sangat mengkwatirkan. Apalagi kita
khusus marga Nawipa ini, semakin punah dari dusung atau kampung kita. Buktinya itu, setiap
kampung yang ada, saat ini ada rumah hanya maximal 4 atau 5 rumah rakyat.
_________________________________________________________

Penulis adalah Mahasiswa Papua Yang Sedang Kuliah Di Yogyakarta

Pustaka :

https://demimaki.wordpress.com/kabar-geosains/suku-mee-marga-makii-tanah-di-paniai-papua/