Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN GANGGUAN PERSONAL HYGIENE

LAPORAN PENDAHULUAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Pendahuluan pada


Praktek Klinik Dasar Semester VI.

OLEH :

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SEMARANG
2019
BAB I
KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat
penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan memengaruhi
kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh
nilai individu dan kebiasaan. Jika seseorang sakit, masalah kebersihan biasanya
kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah
kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus
dapat memengaruhi kesehatan secara umum.
Pemenuhan personal hygiene diperlukan untuk kenyamanan individu,
keamanan, dan kesehatan. Kebutuhan personal hygiene ini diperlukan baik
pada orang sehat maupu pada orang sakit. Praktik personal hygiene bertujuan
untuk peningkatan kesehatan dimana kulit merupakan garis tubuh pertama dari
pertahanan melawan infeksi Dengan implementasi tindakan hygiene pasien,
atau membantu anggota keluarga untuk melakukan tindakan itu maka akan
menambah tingkat kesembuhan pasien (Potter & Perry, 2010).
Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yang berarti personal yang
artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Jadi personal hygiene adalah
suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikis. Cara perawatan diri manusia untuk memelihara
kesehatan mereka disebut higiene perorangan. (Kasiati & Ni wayan, 2016)
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan personal hygiene atau
kebersihan diri adalah upaya seseorang dalam memelihara kebersihan dan
kesehatan untuk memperoleh kesejahteraan fisik dan psikologis.

B. JENIS-JENIS PERSONAL HYGIENE


Pemeliharaan personal hygiene berarti tindakan memelihara kebersihan dan
kesehatan diri seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikisnya. Seseorang
dikatakan memiliki personal hygiene baik apabila, orang tersebut dapat
menjaga kebersihan tubuhnya yang meliputi kebersihan kulit, gigi dan mulut,
rambut, mata, hidung, dan telinga, kaki dan kuku, genitalia, serta kebersihan
dan kerapihan pakaiannya. Menurut Potter dan Perry (2010) macam-macam
personal hygiene adalah :
1. Perawatan kulit
Kulit merupakan organ aktif yang berfungsi pelindung, sekresi,
ekskresi, pengatur temperatur, dan sensasi. Kulit memilki tiga lapisan utama
yaitu epidermis, dermis dan subkutan. Epidermis (lapisan luar) disusun
beberapa lapisan tipis dari sel yang mengalami tahapan berbeda dari
maturasi, melindungi jaringan yang berada di bawahnya terhadap
kehilangan cairan dan cedera mekanis maupun kimia serta mencegah
masuknya mikroorganisme yang memproduksi penyakit. Dermis,
merupakan lapisan kulit yang lebih tebal yang terdiri dari ikatan kolagen
dan serabut elastik untuk mendukung epidermis. Serabut saraf, pembuluh
darah, kelenjar keringat, kelenjar sebasea, dan folikel rambut bagian yang
melalui lapisan dermal. Kelenjar sebasea mengeluarkan sebum, minyak,
cairan odor, kedalam folikel rambut. Sebum meminyaki kulit dan rambut
untuk menjaga agar tetap lemas dan liat. Lapisan Subkutan terdiri dari
pembuluh darah, saraf, limfe, dan jaringan penyambung halus yang terisi
dengan sel-sel lemak. Jaringan lemak berfungsi sebagai insulator panas bagi
tubuh. (Setiabudhi, 2002)
Kulit berfungsi sebagai pertukaran oksigen, nutrisi, dan cairan dengan
pembuluh darah yang berada dibawahnya, mensintesa sel baru, dan
mengeliminasi sel mati, sel yang tidak berfungsi. Sirkulasi yang adekuat
penting untuk memelihara kehidupan sel. Kulit sering kali merefleksikan
perubahan pada kondisi fisik dengan perubahan pada warna, ketebalan,
tekstur, turgor, temperatur. Selama kulit masih utuh dan sehat, fungsi
fisiologisnya masih optimal. (Setiabudhi, 2002)

2. Mandi
Mandi adalah bagian perawatan hygiene total. Mandi dapat
dikategorikan sebagai pembersihan atau terapeutik. Mandi di tempat tidur
yang lengkap diperlukan bagi individu dengan ketergantungan total dan
memerlukan personal hygiene total. Keluasan mandi individu dan metode
yang digunakan untuk mandi berdasarkan pada kemampuan fisik individu
dan kebutuhan tingkat hygiene yang diperlukan. Individu yang bergantung
dalam kebutuhan hygienenya sebagian atau individu yang terbaring di
tempat tidur dengan kecukupan diri yang tidak mampu mencapai semua
bagian badan memperoleh mandi sebagian di tempat tidur. Pada lansia,
mandi biasanya dilakukan dua kali sehari atau lebih sesuai selera dengan air
dingin atau air hangat. (Setiabudhi, 2002)
Diusahakan agar satu kali mandi tidak dibawah pancuran atau
konsensional, tetapi merendam diri di bak mandi yang akan memberi
kenikmatan, relaksasi dan menambah tenaga serta kebugaran tubuh. Penting
juga membersihkan alat kelamin dan kulit antara dubur dan alat kelamin
(perineum). Gosokan dimulai dari sisi alat kelamin kea rah dubur. Bagi
wanita, puting payudara jangan lupa dibersihkan dan kemudian dikeringkan.
Setelah selesai mandi keringkan badan, termasuk rongga telinga, lipatan-
lipatan kulit dan celah-celah jari kaki untuk menghindarkan timbulnya
infeksi jamur, juga pada semua lipatanlipatan kulit lainnya
(Setiabudhi, 2002).

3. Perawatan Mulut Hygiene


Mulut membantu mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi,
dan bibir. Menggosok membersihkan gigi dari partikel-partikel makanan,
plak, dan bakteri, memasase gusi, dan mengurangi ketidaknyamanan yang
dihasilkan dari bau dan rasa yang tidak nyaman. Beberapa penyakit yang
muncul akibat perawatan gigi dan mulut yang buruk adalah karies, radang
gusi, dan sariawan. Hygiene mulut yang baik memberikan rasa sehat dan
selanjutnya menstimulasi nafsu makan. (Setiabudhi, 2002)
Golongan lansia sering mengalami tanggalnya gigi geligi. Salah satu
sebab adalah karena proses penuaan dan penyebab lain yang lebih sering
adalah kurang baiknya perawatan gigi dan mulut. Osteoporosis dan
periodontitis pada lansia menyebabkan akar gigi agak longgar dan dicelah-
celah ini sering tersangkut sisa makanan. Inilah penyebab terjadinya
peradangan. Karies timbul antara lain akibat fermentasi sisa makanan yang
menempel pada gigi oleh kuman yang lambat laun mengakibatkan lobang
pada enamel gigi dan bila tidak ditambal akan menyebabkan radang dan
kematian syaraf gigi karena infeksi. (Setiabudhi, 2002)
Setelah konsumsi makanan dan minuman yang bersifat asam, gigi perlu
dibersihkan yaitu kumur-kumur dengan air. Maka penting untuk menggosok
gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari dan sangatlah dianjurkan untuk
berkumur-kumur atau menggosok gigi setiap kali selepas makan
(Setiabudhi, 2002).

4. Perawatan mata, hidung dan telinga


Secara normal tidak ada perawatan khusus yang diperlukan untuk
membersihkan mata, hidung, dan telinga selama individu mandi. Secara
normal tidak ada perawatan khusus yang diperlukan untuk mata karena
secara terus-menerus dibersihkan oleh air mata, kelopak mata dan bulu mata
mencegah masuknya partikel asing kedalam mata. Normalnya, telinga tidak
terlalu memerlukan pembersihan. Namun, telinga yang serumen terlalu
banyak telinganya perlu dibersihlkan baik mandiri atau dibantu oleh
keluarga. Hygiene telinga mempunyai implikasi untuk ketajaman
pendengaran. Bila benda asing berkumpul pada kanal telinga luar, maka
akan mengganggu konduksi suara. Hidung berfungsi sebagai indera
penciuman, memantau temperatur dan kelembapan udara yang dihirup, serta
mencegah masuknya partikel asing ke dalam sistem pernapasan.
(Setiabudhi, 2002)

5. Perawatan rambut
Penampilan dan kesejahteraan seseorang seringkali tergantung dari cara
penampilan dan perasaan mengenai rambutnya. Penyakit atau
ketidakmampuan mencegah seseorang untuk memelihara perawatan rambut
sehari-hari. Menyikat, menyisir dan bershampo adalah cara-cara dasar
higienis perawatan rambut, distribusi pola rambut dapat menjadi indikator
status kesehatan umum, perubahan hormonal, stress emosional maupun
fisik, penuaan, infeksi dan penyakit tertentu atau obat obatan dapat
mempengaruhi karakteristik rambut. (Setiabudhi, 2002)
Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai
proteksi serta pengatur suhu, melalui rambut perubahan status kesehatan diri
dapat diidentifikasi. Kerontokan rambut sering terjadi pada lansia. Jumlah
rambut ratarata adalah lebih 100.000 helai, 80% bersifat aktif tumbuh dan
sisanya 20% berada dalam stadium tidak aktif. Rambut membutuhkan
perawatan yang baik dan teratur, terutama pada wanita. Agar tidak
mengalami banyak kerontokan, antara lain karena kurangnya sanitasi atau
adanya infeksi jamur yang lazim disebut ketombe. Rata-rata 50- 100 helai
rambut dapat rontok dalam masa sehari. Oleh itu rambut sebaik-baiknya
perlu dicuci dengan shampo yang mengandung anti ketombe yang cocok.
Cuci rambut sebaiknya dilakukan tiap 2 atau 3 hari dan minimal sekali
seminggu (Setiabudhi, 2002).

6. Perawatan kaki dan kuku


Kaki dan kuku seringkali memerlukan perhatian khusus untuk
mencegah infeksi, bau, dan cedera pada jaringan. Tetapi seringkali orang
tidak sadar akan masalah kaki dan kuku sampai terjadi nyeri atau
ketidaknyamanan. Menjaga kebersihan kuku penting dalam
mempertahankan personal hygiene karena berbagai kuman dapat masuk
kedalam tubuh melalui kuku. Oleh sebab itu, kuku seharusnya tetap dalam
keadaan sehat dan bersih. Perawatan dapat digabungkan selama mandi atau
pada waktu yang terpisah. Pada lansia, proses penuaan memberi perubahan
pada kuku yaitu pertumbuhan kuku menjadi lebih lambat, permukaan tidak
mengkilat tetapi menjadi bergaris dan mudah pecah karena agak keropos.
Warnanya bisa berubah menjadi kuning atau opaque. Kuku bisa menjadi
lembek terutama kuku kaki akan menjadi lebih tebal dan kaku serta sering
ujung kuku kiri dan kanan menusuk masuk ke jaringan disekitarnya (ungus
incarnates).
Pengguntingan dilakukan setelah kuku direndam dalam air hangat
selama 5-10 menit karena pemanasan membuat kuku menjadi lembek dan
mudah digunting (Setiabudhi, 2002).

7. Perawatan genetalia
Perawatan genitalia merupakan bagian dari mandi lengkap. Seseorang
yang paling butuh perawatan genitalia yang teliti adalah yang beresiko
terbesar memperoleh infeksi. Seseorang yang tidak mampu melakukan
perawatan diri dapat dibantu keluarga untuk melakukan personal hygiene.

C. ETIOLOGI
Menurut Tarwoto (2004), sikap seseorang melakukan personal hygiene
disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain :
1. Citra tubuh Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang
penampilan fisiknya. Personal hygiene yang baik akan mempengaruhi
terhadap peningkatan citra tubuh individu. Gambaran individu terhadap
dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya
perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya.
2. Praktik sosial Kebiasaan keluarga, jumlah orang di rumah, dan ketersediaan
air panas atau air mengalir hanya merupakan beberapa faktor yang
mempengaruhi perawatan personal hygiene. Praktik personal hygiene pada
lansia dapat berubah dikarenakan situasi kehidupan, misalnya jika mereka
tinggal dipanti jompo mereka tidak dapat mempunyai privasi dalam
lingkungannya yang baru. Privasi tersebut akan mereka dapatkan dalam
rumah mereka sendiri, karena mereka tidak mempunyai kemampuan fisik
untuk melakukan personal hygiene sendiri.
3. Status sosioekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti
sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo dan alat mandi yang semuanya
memerlukan uang untuk menyediakannya.
4. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena
pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Kendati demikian,
pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Seseorang harus termotivasi untuk
memelihara perawatan diri. Seringkali pembelajaran tentang penyakit atau
kondisi yang mendorong individu untuk meningkatkan personal hygiene.
Misalnya pada pasien penderita Diabetes Melitus selalu menjaga kebersihan
kakinya.
5. Budaya Kepercayaan kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi personal
hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik
perawatan diri yang berbeda. Disebagian masyarakat jika individu sakit
tertentu maka tidak boleh dimandikan. Menurut Coleman, 1973 dalam
Muhith (2003) bahwa gender merupakan sebuah atribut psikologis yang
membentuk sebuah kontinum dari sangat maskulin sampai sangat feminin.
Seorang lakilaki mungkin memiliki karakteristik-karakteristik feminin
tertentu sama seperti halnya perempuan memiliki sifat-sifat maskulin. Cara
berpikir gender semacam ini jauh lebih canggih dibandingkan dengan
pembagian dua arah yang memandang semua laki-laki maskulin dan semua
perempuan feminin, namun kelemahannya bahwa cara berpikir ini
mengasumsikan bahwa semua orang yang tinggi maskulinitasnya pastilah
juga rendah feminitasnya. Seseorang yang memiliki dua sifat maskulin dan
feminin semacam ini disebut “bersifat androgini”. Model gender semacam
ini menghasilkan ruang psikologis yang lebih kompleks yang orang dapat
memetakan identitas gender orang lain.
6. Kebiasaan seseorang Setiap individu mempunyai pilihan kapan untuk
mandi, bercukur dan melakukan perawatan rambut. Ada kebiasaan orang
yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti
penggunaan shampo, dan lain-lain.
7. Kondisi fisik Pada keadaan sakit, tentu kemampuan untuk merawat diri
berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
D. PATOFISIOLOGI
Keadaan individu mengalami kerusakan fungsi motorik atau fungsi kognitif,
yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk melakukan masing-masing
dari kelima aktivitas perawatan diri (makan, mandi atau higiene, berpakaian
atau berhias, toileting, instrumental). (Carpenito, 2007).

E. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Damaiyanti (2008) tanda dan gejala personal hygiene adalah sebagai
berikut:
1. Gangguan kebersihan diri, di tandai dengan rambut kotor, gigi kotor,
kulit berdaki dan bau, kuku panjang dan kotor.
2. Ketidak mampuan berhias/berdandan, ditandai dengan rambut
acakacakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada
pasien laki-laki tidak bercukur, pada pasien wanita tidak berdandan.
3. Ketidak mampuan makan secara mandiri, ditandai dengan
ketidakmampuan mengambil makan sendiri, makan berceceran, dan
makan tidak pada tempatnya.
4. Ketidak mampuan BAB/BAK secara mandiri, ditandai dengan
BAB/BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik
setelah BAK/BAB.

F. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN


Menurut Potter & Perry (2012), faktor- faktor yang mempengaruhi personal
hygiene antara lain:
1. Citra Tubuh
Penampilan umum seseorang dapat menggambarkan pentingnya hygiene
pada orang tersebut. Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang
tentang penampilan fisiknya (Potter & Perry, 2012). Gambaran individu
terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan dirimisalnya karena
ada perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap
kebersihannya (Tarwoto & Wartonah, 2006)
2. Praktik Sosial
Selama masa kanak-kanak, anak-anak mendapatkan praktik hygiene dari
orang tua mereka. Kebiasaan keluarga , jumlah orang dirumah, dan
ketersediaan air panas atau air mengalir merupakan beberapa faktor yang
mempengaruhi perawatan kebersihan (Potter & Perry, 2012). Anak-anak
yang selalu dimaja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan
terjadi perubahan pola personal hygiene. (Tarwoto & Wartonah, 2006)
3. Status Sosial Ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik
kebersihan yang digunakan (Potter & Perry, 2012). Personal hygiene
memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo,
alat-alat mandi yang semuaya memerlukan uang untuk menyediakannya.
(Tarwoto & Wartonah, 2006)
4. Pengetahuan
Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi
kesehatan mempengaruhi praktik hygiene, karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes
melitus ia harus selalu menjaga kebersiahan kakinya. (Tarwoto &
Wartonah, 2006)
5. Variabel Kebudayaan
Kepecayaan kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan
hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengkuti praktik
perawatan diri yang berbeda. Di sebagian masyarakat, apabila individu
sakit tertentu makan tidak boleh dimandikan (Tarwoto & Wartonah,
2006)
6. Kebiasaan Seseorang
Setiap individu mempunyaik pilihan kapan untuk mandi, bercukur dan
melakukan perawatan rambut. Ada kebiasaan orang yang menggunakan
produk tertentu dalam pearwatan diri, seperti penggunaan sabun, sampo
dll (Tarwoto & Wartonah, 2006)
7. Kondisi Fisik
Pada keadaan sakit, tentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan
perlu bantuan untuk melakukannya (Potter & Perry, 2012). Kondisi fisik
atau psikis, yaitu pada keadaan tertentu atau sakit kemampuan seseorang
untuk merawat diri akan berkurang dan peru bantuan untuk
melakukannya (Tarwoto & Wartonah, 2006)

G. PENATALAKSANAAN
Tindakan keperawatan dengan melakukan perawatan pada kulit yang
mengalami atau beresiko terjadi kerusakan jaringan lebih lanjut khususnya
pada daerah yang mengalami tekanan (tonjolan). Dengan tujuan mencegah
dan mengatasi terjadinya luka dekubitus akibat tekanan lama dan tidak hilang.
Tindakan keperawatan pada pasien dengan cara mencuci dan menyisir
rambut. Tujuannya adalah membersihkan kuman yang ada pada kulit kepala,
menambah rasa nyaman, membasmi kutu atau ketombe yang melekat pada
kulit dan memperlancar sistem peredaran darah di bawah kulit.
Tindakan keperawatan pada pasien dengan cara membersihkan dan
menyikat gigi dan mulut secara teratur. Tujuan perawatan ini mencegah
infeksi pada mulut akibat kerusakan pada daerah gigi dan mulut, membantu
menambah nafsu makan dan menjaga kebersihan gigi dan mulut. Tindakan
keperawatan pada pasien yang tidak mampu merawat kuku secara sendiri.
Tujuannya adalah menjaga kebersihan kuku dan mencegah timbulnya luka
atau infeksi akibat garukan dari kuku. ( Saryono dan Anggriyani, 2010 )

F. PENGKAJIAN
1. Data demografi
a. Data pasien meliputi : nama, jenis kelamin, agama, suku/bangsa,
pekerjaan, alamat, no. RM, diagnosa medik, tanggal MRS.
b. Data penanggung jawab meliputi : nama, umur, jenis kelamin,
agama, suku/bangsa, pekerjaan, alamat, hubungan dengan klien.
2. Riwayat keperawatan
a. Keluhan utama
b. Riwayat kesehatan sekarang
c. Riwayat kesehatan penyakit dahulu
d. Riwayat kesehatan keluarga
3. Perubahan pola fungsional
a. Pola oksigenasi : pola nafas, bersihan jalan nafas, keluhan sesak
nafas.
b. Pola nutrisi : asupan nutrisi, pola makan, kecukupan gizi.
c. Pola eliminasi : pola BAK dan BAB, konsistensi feses, warna urine,
volume output.
d. Pola aktivitas : meliputi gerakan (mobilisasi) pasien
e. Pola personal hygiene : meliputi kebiasaan menjaga kebersihan
tubuh dari penampilan yang baik serta melindungi kulit, kebiasaan
mandi, gosok gigi, membersihkan genitalia dll untuk menjaga
kesehatan.
4. Pemeriksaan umum
a. Kesadaran
b. TTV
5. Pemeriksaan Fisik
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2006), pemeriksaan fisik yang perlu
dilakukan pada masalahpersonal hygiene adalah:
a. Rambut
1) Keadaan kesuburan rambut
2) Keadaan rambut yang mudah rontok
3) Keadaan rambut yang kusam
b. Kepala
1) Botak atau alopesia
2) Ketombe
3) Berkutu
4) Adakah eritema
5) Kebersihan
c. Mata
1) Apakah sclera ikterika
2) Apakah konjugtiva pucat
3) Kebersihan mata
4) Apakah gatal atau mata merah
d. Hidung
1) Adakah pilek
2) Adakah alergi
3) Adakah perdarahan
4) Adakah perubahan penciuman
5) Kebersihan hidung
6) Bagaimana membrane mukosa
7) Adakah septum deviasi
e. Mulut
1) Keadaan mukosa mulut
2) Kelembapannya
3) Adakah lesi
4) Kebersihannya
f. Gigi
1) Adakah karang gigi
2) Kelengkapan gigi
3) Pertumbuhan gigi
4) Kebersihan
g. Kuku tangan dan kaki
1) Bentuknya bagaimana
2) Warnanya
3) Adakah lesi
h. Tubuh secara umum
1) Kebersihan
2) Normal
3) Postur tubuh

G. PATHWAY KEPERAWATAN

Penurunan tingkat kesadaran

Keterbatasan untuk menggerakan tubuh

Kelemahan sendi dan otot

Gangguan pemenuhan perawatan diri

Penurunan mutu personal hygiene

Resiko Kerusakan Gangguan Defisit


Integritas Kulit Membran Mukosa perawatan diri
Mulut
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut NANDA (2015), diagnosis keperawatan umum untuk klien
dengan masalah perawatan higiene adalah pada defisit perawatan diri. Lebih
lanjut, diagnosis tersebut terbagi menjadi empat (Kozier, 2004), yaitu: 1)
defisit perawatan diri: makan, 2) defisit perawatan diri: mandi/hygiene, 3)
defisit perawatan diri: berpakaian/berhias, dan 4) defisit perawatan diri:
eliminasi. Sedang masalah secara umum pada klien dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan kebersihan diri adalah sebagai berikut :
1. Risiko Kerusakan Integritas Kulit
Definisi: keadaan di mana kulit seorang tidak utuh.
Kemungkinan berhubungan dengan : bagian tubuh yang lama tertekan,
imobilisasi, terpapar zat kimia.
Kemungkinan data yang ditemukan : kerusakan jaringan kulit, gangren,
dekubitus, kelemahan fisik.
Kondisi klinis kemungkinan terjadi : stroke, fraktur femur, koma, trauma
medulla spinalis.
2. Gangguan Membrane Mukosa Mulut
Definisi: kondisi dimana mukosa mulut pasien mengalami luka.
Kemungkinan berhubungan dengan: trauma oral, pembatasan intake
cairan, pemberian kemoterapi dan radiasi pada kepala dan leher.
Kemungkinan data yang ditemukan: iritasi/luka pada mukosa mulut,
peradangan/infeksi, kesulitan dalam makan dan menelan, dan keadaan
mulut yang kotor.
Kondisi klinis kemungkinan terjadi : stroke, stomatitis, koma.
3. Defisit perawatan diri/kebersihan diri
Definisi: kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan
kebersihan untuk dirinya.
Kemungkinan berhubungan dengan: kelelahan fisik, penurunan
kesadaran.
Kemungkinan data yang ditemukan: badan kotor dan berbau, rambut
kotor, kuku panjang dan kotor, bau mulut dan kotor.
Kondisi klinis kemungkinan terjadi : stroke, fraktur, koma.

I. FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL


1. Risiko Kerusakan Integritas Kulit
Tujuan yang diharapkan :
a. Pola kebersihan diri pasien normal dan kulit utuh
b. Keadaan kulit, rambut kepala bersih
c. Klien bebas bau badan
d. Klien dapat mandiri dalam kebersihan diri sendiri

Intervensi Rasional

Kaji kembali pola kebutuhan Data dasar dalam melakukan


personal hygiene pasien intervensi
Kaji keadaan luka pasien Menentukan intervensi lebih lanjut
Jaga kulit agar tetap utuh dan Menghindari risiko infeksi kulit
kebersihan kulit pasien dengan cara
membantu mandi pasien
Jaga kebersihan tempat tidur, Mengurangi tekanan dan
selimut bersih dan kencang menghindari luka dekubitus
Lakukan perawatan luka dengan Penyembuhan luka
teknik steril sesuai program
Observasi tanda-tanda infeksi Mencegah infeksi secara dini
Lakukan pijat pada kulit dan Mencegah dekubitus
lakukan perubahan posisi setiap 2
jam
Ubah posisi secara teratur (minimal Tekanan lama lebih besar berisiko
setiap 2 jam) kerusakan kulit
Keringkan kulit, setelah itu gunakan Emolien menghaluskan dan
lotion setelah mandi mencegah kehilangan kelembaban
2. Gangguan Membrane Mukosa Mulut
Tujuan yang diharapkan :
a. Keadaan mukosa mulut, lidah dalam keadaan utuh, warna merah muda
b. Inflamasi tidak terjadi
c. Klien mengatakan rasa nyaman
d. Keadaan mulut bersih

Intervensi Rasional

Kaji kembali pola kebersihan mulut Data dasar dalam melakukan


intervensi
Lakukan kebersihan mulut sesudah Data dasar dalam melakukan
makan dan sebelum tidur intervensi
Gunakan sikat gigi yang lembut Mencegah pendarahan
Gunakan larutan garam/baking soda Larutan garam/soda membantu
dan kemudian bilas dengan air Melembabkan mukosa,
bersih meningkatkan granulasi, dan
menekan bakteri
Lakukan pendidikan kesehatan Mencegah gangguan mukosa
tentang kebersihan mulut
Laksanakan program terapi medis Membantu menyembuhkan
luka/infeksi

3. Defisit perawatan diri/kebersihan diri


Tujuan yang diharapkan :
a. Kebersihan diri sesuai pola
b. Keadaan badan, mulut, rambut, dan kuku bersih
c. Pasien merasa nyaman.

Intervensi Rasional

Kaji kembali pola kebersihan diri Data dasar dalam melakukan


intervensi
Bantu klien dalam membersihkan Mempertahankan rasa nyaman
badan, mulut, rambut, dan kuku
Lakukan pendidikan kesehatan : Meningkatkan pengetahuan dan
• Pentingnyakebersihandiri membuat klien lebih kooperatif
• Polakebersihandiri
• Cara kebersihan
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan .Jakarta: EGC.

Damaiyanti, Mukhripah dan Iskandar. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa.


Bandung : Refika Aditama.

Kozier, B. 2004. Fundamental of Nursing: Concept Process and Practice, Ethics


and Values, California, Addison Wesley.

Nanda. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10


editor T Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru. Jakarta: EGC

Potter, P.A & Perry A.G. 2012. Fundamental of Nursing. Jakarta : EGC

Saryono dan Anggriyani. 2010. Kebutuhan Dasar Manusia (KDM). Yogyakarta :

Nuha Medika.

Tarwoto & Wartonah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses

Keperawatan. Edisi Ke-3. Jakarta: Salemba Medika.

Wartonah, Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan.


Jakarta : Salemba Medika