Tabel Kontingensi merupakan tabel yang digunakan untuk mengukur
hubungan (asosiasi) antara dua variabel kategorik dimana tabel tersebut
merangkum frekuensi bersama dari observasi pada setiap kategori
variabel. Misalkan n sampel diklasifikasikan secara silang berdasarkan
dua atribut dalam suatu tabel berukuran I x J, I merupakan kategori dari
variabel X dan J merupakan kategori dari variabel Y. Sell pada tabel
mewakili kemungkinan IJ muncul.
Bentuk sederhana dari tabel kontongensi adalah tabel kontingesi 2 x 2
dengan format:
Sekumpulan data yang terdiri atas dua faktor atau dua variabel, faktor
yang satu terdiri atas b kategori dan lainnya terdiri atas k kategori, maka
dapat dibuat suatu tabel kontingensi berukuran b x k dengan b
menyatakan baris dan k menyatakan kolom. Bentuk yang sering dipakai
dapat dilihat berikut ini.
BANYAK MURID SEKOLAH DI DAERAH AMBULU
MENURUT TINGKAT SEKOLAH DAN JENIS KELAMIN
TAHUN 2006
Tingkat Sekolah
JENIS
SD SMP SMA JUMLAH
KELAMIN
Laki – laki 4756 2795 1459 9012
Perempuan 4032 2116 1256 7404
Jumlah 8790 4911 2715 16416
Catatan : Data karangan
Daftar kontingensi diatas adalah merupakan tabel kontingensi 2 x 3
karena terdiri atas 2 baris dan 3 kolom.
Model lain, misalnya tabel kontingensi 4 x 4, dapat dilihat pada tabel
berikut.
HASIL UJIAN MATEMATIKA DAN FISIKA
UNTUK 100 SISWA SMA
NILAI
MATEMATIKA
50 - 60 - 70 - 80 -
JUMLAH
59 69 79 89
NILAI
STATISTIKA
60 – 69 12 7 10 2 31
70 – 79 8 10 5 7 30
80 – 89 10 8 3 3 24
90 – 99 5 3 12 2 22
JUMLAH 35 28 30 14 107
Ctatatan : Data karangan
Hipotesis yang diajukan adalah
H0 : Tidak ada hubungan antara variabel 1 dan variabel 2 atau variabel 1 dan variabel 2 saling
bebas (independen)
H1: Tidak ada hubungan antara variabel 1 dan variabel 2 atau variabel 1 dan variabel 2 saling
bebas (independen)
Tolak hipotesis nol(H0) jika nilai statistik uji diatas lebih besar dari nilai kritis distribusi chi-square
dengan derajat bebas (2-1)(2-1)=1 pada tingkat signifikansi alpha (α) tertentu yang berarti
terdapat hubungan antara variabel 1 dengan variabel 2.
Hipotesis nol(H0) ditolak jika nilai statistik uji diatas lebih besar dari nilai kritis distribusi chi-square
dengan derajat bebas (I-1)(J-1) pada tingkat signifikansi alpha (α) tertentu yang berarti terdapat
hubungan antara variabel 1 dengan variabel 2.
Contoh: Pada liga bola basket professional selama 1980 – 1982, yaitu ketika Larry Bird dari
Boston Celtics melakukan lemparan bebas (pada basket lemparan bebas adalah 2 kali lemparan).
Catatan lemparan bebas Larry Birds adalah 5 kali dia gagal memasukkan keduanya, 251 kali dia
berhasil memasukkan keduanya, 34 kali dia berhasil hanya pada lemparan pertama, dan 48 kali
dia berhasil hanya pada lemparan kedua. Apakah masuk akal bahwa lemparan bebas tersebut
adalah independen ?
Jawab:
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi bagaimana bentuk tabel yang akan
dibuat. Tabel Kontingensi untuk kasus di atas sebagai berikut
Karena yang ingin dilihat apakah masuk akal mengatakan bahwa lemparan bebas yang dilakukan
tersebut saling independen maka pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Uji Statistik (perhitungan) :
Terlebih dahulu hitung frekuensi harapan untuk masing-masing sel pada tabel kontingensi.
Uji dengan menggunakan Chi-Square seperti yang diatas hanya bisa digunakan jika tidak lebih 20
% frekuensi harapan dari sel yang ada pada tabel kurang dari 5 dan tidak boleh ada satupun dari
sel memiliki frekuensi harapan kurang dari 1. Apabila persyaratan diatas tidak bisa terpenuhi,
maka kita dapat memperbesar nilai frekuensi harapannya dengan jalan menggabungkan baris atau
kolom yang saling berdampingan. Penggabungan yang dilakukan harus secara wajar dan memiliki
makna. Namun hal ini tidak dapat diterapkan untuk table kontingensi 2×2, sebagai alternatifnya
kita bisa menggunkan Uji Fisher yang memang dikhususkan untuk jumlah sampel yang kecil.
Peniliti biasanya dapat menghindari masalah ini dengan merancang sebelumnya untuk
mengumpulkan sejumlah kasus yang cukup besar sehubungan dengan banyak klasifikasi yang
ingin digunakan dalam penelitiannya.