Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

PLASENTA AKRETA

Disusun Oleh :

NOVI ISNAINI HIDAYAH

1811040109

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2018

A. Pengertian
Plasenta akreta adalah tertahanya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi
waktu 30 menit setelah bayi lahir (Prawirohardjo,2007). Plasenta akreta adalah
implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium
(menembus desidua basalis). Plasenta akreta adalah plasenta yang melekat secara
abnormal pada uterus, dimana villi korionik berhubungan langsung dengan miometrium
tanpa desidua diantaranya. Desidua endometrium merupakan barier atau sawar untuk
mencegah invasi villi plasenta ke miometrium uterus. Pada plasenta akreta, tidak terdapat
desidua basalis atau perkembangan tidak sempurna dari lapisan fibrinoid.

B. Etiologi

Plasenta akreta berkaitan dengan tingginya kadar alpha-fetoprotein dan


ketidaknormalan kondisi di dalam lapisan rahim. Meskipun begitu, penyebab pasti
plasenta akreta belum diketahui secara pasti.Sebenarnya risiko seorang wanita terkena
plasenta akreta bisa terus meningkat tiap kali dirinya hamil, terlebih lagi jika berusia di
atas 35 tahun. Selain itu, kasus plasenta akreta juga banyak ditemukan pada wanita yang
sebelumnya melakukan operasi rahim, termasuk operasi caesar. Selain kondisi di atas,
risiko untuk terkena plasenta akreta juga tinggi apabila seorang wanita:
a. Memiliki posisi plasenta pada bagian bawah rahim ketika hamil.
b. Menderita plasenta previa (plasenta menutupi sebagian atau seluruh dinding rahim).
c. Menderita fibroid rahim submukosa (rahim tumbuh menonjol ke dalam rongga
rahim).
d. Memiliki jaringan parut atau kelainan pada endometrium (dinding rahim bagian
dalam).

C. Klasifikasi

Seberapa parah plasenta akreta adalah tergantung pada seberapa dalam vili korionik
telah ditembus (McCulloch, 2015). Kondisi ini dapat ditemukan sebagai(Strigth, 2004):
1. Plasenta akreta, yaitu vili korionik plasenta melekat pada lapisan permukaan
miometrium uterus.
2. Plasenta inkreta, yaitu vili korionik plasenta masuk jatuh ke dalam miometrium
uterus.
3. Plasenta perkreta, yaitu vili korionik plasenta menembus miometrium uterus dan
sering kali melekat ke struktur abdomen (misalnya, kandung kemih atau intestin).
Plasenta akreta dapat dibagi lagi mnjadi plasenta akreta total ( jika seluruh
permukaannya melekat dengan erat pada dinding rahim.), plasenta akreta parsialn (jika
hanya beberapa bagian dari permukaannya lebih erat berhubungan dengan dinding rahim
dari biasa), dan plasenta akreta fokal yang berdasarkan jumlah jaringan plasenta yang
terlibat dalam invasi ke miometrium.

D. Tanda dan Gejala

1. Plasenta gagal terlepas setelah 30 menit setelah bayi lahir


2. Perdarahan hebat bisa terjadi bergantung pada bagian plasenta yang terkena
3. Histerektomi cesarian
Pada kala III persalinan, plasenta belum lepas setelah 30 menit dan perdarahan
banyak. Plasenta akreta dapat menimbulkan terjadinya perdarahan obsterik yang masif,
sehingga dapat menimbulkan komplikasi seperti dissaminated intravascular
coagulopathy (DIC) yakni suatu kelaina yang jarang terjadi dan pada DIC terjadi
pembentukan bekuan darah yang sangat banyak dan dapat terjadi perdarahan di seluruh
tubuh yang kemudian bisa menyebabkan terjadinya syok, kegagalan organ dan kematian.
Memerlukan tindakan histerektomi, cedera operasi pada ureter, kandung kemih, dan
organ visera lainnya, adult respiratory distress syndrome, gagal ginjal, hingga kematian.
Jumlah darah yang hilang saat persalinan pada wanita dengan plasenta akreta rata-rata
3000 – 5000 ml. Dibeberapa senter, plasenta akreta menjadi penyebab utama
dilakukannya histerektomi cesarian.

D. Patofisiologi

Plasenta akreta diketahui terjadi karena tidak terdapat lapisan spongiosa dari desidua.
Benurschke dan Kaufmann menjelaskan bahwa kondisi ini adalah konsekuensi dari
kegagalan rekonstruksi endometrium atau desidua basalis setelah proses penyembuhan
luka insisi SC. Secara histologis biasanya tampak sebagai gambaran trofoblas yang
menginvasi miometrium tanpa keterlibatan desidua. Hal ini menjadi masalah saat proses
persalinan dimana plasenta tidak akan terlepas dan akan terjadi perdarahan masif.
E. Pathways

FAKTOR RESIKO:

1. Usia >35 tahun Jaringan desidua basalis dan


2. Sebelumnya pernah SC nitabuch
3. Posisi plasenta pada bagian bawah
rahimsaat hamil
4. Memiliki jaringan parut/ kelainan
Tidak terbentuk sempurna
endometrium

Resiko infeksi Plasenta tertekan Uterus kontraksi


Penetrasi plasenta Decidua neonetrial
menembus junction/miometrium

Nyeri akut
Desidua terkelupas
Kekurangan Pembuluh darah PLASENTA AKRETA
dan sisa di Hematoma pada
volume cairan plasenta
miometrium desidua basalis
Perdarahan
Kehilangan volume Kehilangan vaskular yang vagina
cairan aktif berlebihan
Kurang pengetahuan Resiko infeksi
Ansietas
F. Komplikasi dan Prognosis

Komplikasi plasenta akreta banyak dan mencakup kerusakan pada organ-


organ lokal, perdarahan pasca operasi, emboli air ketuban, DIC, transfusi
darah, sindrom gangguan pernapasan akut, tromboemboli pasca operasi,
morbiditas karena infeksi, kegagalan multi sistem organ, dan kematian. Selain
itu, . komplikasi yang bisa terjadi akibat plasenta akreta seperti keguguran dan
kelahiran prematur. Terlebih lagi jika pendarahan yang dialami terlihat parah,
dissaminated intravascular coagulopathy memerlukan tindakan histerektomi,
cedera operasi pada ureter, kandung kemih, dan organ visera lainnya, adult
respiratory distress syndrome, gagal ginjal, hingga kematian. Jumlah darah
yang hilang saat persalinan pada wanita dengan plasenta akreta rata-rata
3000– 5000ml. Dibeberapa senter, plasenta akreta menjadi penyebab utama
dilakukannya histerektomi cesarian.

Komplikasi dari plasenta akreta seperti emboli paru atau tersumbatnya


arteri paru-paru oleh gumpanan darah, infeksi, dan masalah pada kehamilan
berikutnya (meliputi plasenta akreta yang kambuh, kelahiran prematur, dan
keguguran) juga bisa terjadi apabila masih ada bagian plasenta yang melekat di
dinding rahim. Komplikasi genital, saluran kemih yang umum dan termasuk
cystotomy pada sekitar 15% kasus dan cidera ureter sekitar 2% kasus. Oleh
karena itu diagnosis prenatal yang akurat sangat penting untuk meminimalkan
risiko ini.

G. Pengobatan dan pelaksanaan

Tindakan yang dapat di lakukan pada pasien plasenta akreta yaitu dengan
melepaskan secara manual. Pada plasenta akreta yang parsialis dapat
dilepaskan secara manual tetapi plasenta akreta kompleks tidak boleh
dilepaskan secara manual karena usaha ini dapat menimbulkan perforasi
dinding rahim.
H. Penatalaksanaan keperawatan

Penatalaksanaan keparawatan yang dapat dilakukan antara lain :

1. Mengindentifikasi plasenta akreta pada klien .petugas harus waspasa


terhadap status risiki klien.
2. Membantu dengan terapi dan intervensi yang cepat. Untuk itu siapkan
D&C (dilatasi dan Kuretasi )atau histerektomi.
3. Memberi dukungan fisik dan emosional
4. Memberi penyuluhan klien dan keluarga
Plasenta akreta idealnya diterapi dengan histerektomi total perabdominal.
Sebagai tambahan, sebagai konsensus universal beranggapan bahwa plasenta
sebaiknya dibiarkan pada tempatnya, usaha untuk melepaskan plasenta sering
mengakibatkan perdarahan masif. Akan tetapi, dokter harus menyadari bahwa
plasenta akreta yang bersifat fokal dapat terjadi dan tidak membutuhkan
terapi yang agresif. Operasi plasenta akreta lebih baik dilakukan secara elektif
dengan persiapan yang baik dibandingkan dengan operasi darurat. Terminasi
kehamilandirencanakan pada usia kehamilan 36-37 minggu, setalah dilakukan
pemeriksaankematangan paru dengan amniosintesis.

Jika amniosintesis gagal menunjukkan paru-paru telah matang, jika pasien


stabil bisa dilakukan persalinan pada usia kehamilan 38 minggu, atau lebih
cepat, jika pasien perdarahan atau sudah dalam proses persalinan. Penelitian
yang membandingkan histerektomi peripartum yang emergensi dan elektif
menemukan bahwa wanita dengan histerektomi emergensi memiliki angka
perdarahan intraoperatif yang lebih tinggi, yang menyebabkan terjadinya
hipotensi intraoperatif, dan lebih membutuhkan transfusi dibandingkan
wanita yang melakukan histerektomi obstetrik elektif. Pencegahan komplikasi
idealnya membutuhkan pendekatan multi disipliner. Pasien sebaiknya
dikonsul sebelum operasi dan disediakan darah untuk persiapan transfusi.
Walaupun persalinan yang direncanakan merupakan pilihan terbaik,namun
harus dibuat perencanaan akan kemungkinana adanya persalinan emergensi
jika dibutuhkan. Hal yang penting bahwa persalinan dilakukan oleh dokter
kandungan yang berpengalaman dengan spesialis bedah lainnya seperti urolog, dan
spesialis onkologi ginekologi jika tersedia. Penting untuk meminimalkan
jumlah perdarahan dan yakin bahwa perdarahan yang terjadi diganti secara benar
dan adekuat karena perdarahan yang terjadi sering dalam jumlah yang banyak,
penggantian dengan packed red blood cells, beresiko menimbulkan
disseminated intravascular coagulopathy. Oleh karenanya faktor koagulasi
harus diberikan secara adekuat dan cepat. Transfusi darah segar dan penggunaan
sel darah yang disimpan sebelumnya dapat mengurangi kebutuhan transfusi dengan
menggunakan donor lainnya. Beberapa senter melakukan hemodilusi
normovolemik akut untuk mengurangi kebutuhan darah. Anastesi regional
menunjukkan lebih aman didalammanajemen plasenta akreta. Oklusi balon
kateter dan embolisasi oklusi balon kateter atau embolisasi pembuluh darah
pelvik menurunkan aliran darah ke rahim dan berpotensi mengurangi
perdarahan dan memungkinkan melakukan operasi lebih mudah, lebih
terkontrol, dan mengurangi perdarahan masif. Dua cara yang berbeda telah
dideskripsikan.
Cara pertama, preoperatif dilakukan pemasangan balon kateter untuk
menyumbat arteri iliaka interna.Kateter ini diinflasi setelah bayi lahir, dan
dikontrol selama opersi berlangsung dan dideflasikan setelah operasi selesai.
Cara lainnya kateter dengan atau tanpa balon diletakkan preoperasi pada
arteri iliaka interna, dan embolisasi pembuluh darah dilakukan setelah bayi
lahir dan sebelum dilakukannya histerektomi.

a. Penanganan tanpa Histerektomi


Histerektomi menyebabkan hilangnya fertilitas seseorang, dan
dihubungkan dengan morbiditas dan kemungkinan mortalitas, termasuk
cedera operasi, menyebabkan distorsi jaringan dan terkadang
membutuhkan transfusi darah. Untuk meminimalkan komplikasi ini dan
menjaga fertilitas seseorang, saat ini beberapa orang lebih senang untuk
mempertahankan unterus dan mencegah histerektomi. Umumnya pada
kasus ini, plasenta dibiarkan in situ dan tidak diambil pada saat dilepas.
Prosedur tambahan meliputi embolisasi pembuluh darah iliaka interna.
Terapi dengan methotreksat, reseksi segmen uterus yang terlibat,
penggunaan jahitan kompresi uterus, dan penjahitan plasental bed . Wanita
yang akan memilih penanganan konservatif harus diberi penjelasan secara
intensif bahwa hasil akhirnya tidak dapat diprediksi dan memiliki resiko
komplikasi yang cukup tinggi termasuk kematian. Hal ini memungkinkan
dimasa mendatang penanganan konservatif memegang peranan penting
didalam penanganan plasenta akreta. Akan tetapi, pada saat ini pilihan ini
tidak direkomendasikan sebagai terapi utama.
b. Terapi Methotreksat
Methotreksat, antagonis folat, telah direkomendasikan untuk
penanganan plasenta akreta. Methotreksat bekerja terutama dalam
memcegah secara cepat dalam pembelahan sel dan efektif mencegah
proliferasi trofoblas. Akan tetapi pada saat ini beberapa berpendapat bahwa
setelah bayi lahir, plasenta tidak lagi membelah dan pemberian
methotreksat tidak berguna.
c. Invasi ke Kandung kemih
Kandung kemih merupakan organ ekstrauterin yang paling
sering terinvasipada plasenta perkreta. Invasi pada kandung kemih
berhubungan denganpeningkatan morbiditas. Washecka dan Behling
melakukan metaanalisis pada 54 kasus plasenta perkreta dengan invasi ke
kandung kemih. Mereka menemukan gejala hematuria sebelum persalinan
hanya terjadi pada 17 kasus (31%). Walaupun sistoskopi telah dilakukan
pada 12 pasien, tetapi tidak membantu didalam menegakkan diagnosis.
Dalam 33% kasus, diagnosis telah ditegakkan prenatal denga
ultrasonografi atau MRI. Morbiditas maternal sangat tinggi, dengan 39
komplikasi urologik. Meliputi laserasi kandung kemih (26%), fistula
traktus urinarius (13%), gross hematuria (9%), ureteral transaction
(6%),dan mengecilnya kapasitas kandung kemih (4%). Parsial sistektomi
dilakukanpada 24 kasus (44%). Dimana terjadi tiga kematian ibu (5,6%)
dan 14 kematian bayi (25,9%). Penanganan pasien dengan invasi ke
kandung kemih membutuhkan perencanaan perioperative dan sebaiknya
melibatkan ahli uroginekologik, urolog,dan onkolog ginekologik.
Sistoskopi preoperative dan penempatan stent ureter dapat dijadikan alat
untuk mengidentifikasi ureter, sehingga mengurangi resiko kerusakan atau
cedera ureter. Invasi pada kandung kemih kadang membutuhkan reseksi
kandung kemih dan terkadang uretere. Sistostomi intensif dapat membantu
untuk mengidentifikasi seberapa jauh invasi ke kandung kemih dan lokasi
dari ureter.

I. FOKUS PENGKAJIAN

Kasus
Ny. Y berusia 37 tahun datang ke rumah sakit telah melahirkan anak keduanya
dengan jenis kelamin perempuan. Namun sampai sekarang, plasentanya masih
sulit dilepas walaupun telah dibantu oleh penolong persalinan. Berdasarkan hasil
dari pemeriksaan, didapatkan TD 130/90 mmHg, RR 20x/m, N 90x/m, S 37
derajat celcius. Selain itu, kontraksi uterus berkurang, klien juga kehilangan
banyak darah sekitar 420 cc, Hb turun (<7 g/dl), dan terjadi nyeri pada bagian
perut. Berdasarkan pengalaman klien sebelum melahirkan, ternyata klien jarang
berkonsultasi dan tidak melakukan USG dengan dokter kandungan sehingga tidak
pernah mengetahui kondisi janinnya sebelum lahir.
3.1 Pengkajian
a. Identitas
Nama : Ny.Y
Umur : 34 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Agama : Islam
Suku bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Status : Menikah
Pendidikan : SLTA
Alamat :-
Diagnosa medis : Plasenta Akreta
b. Keluhan Utama
Klien sebelum datang ke rumah sakit merasakan kontraksi. Setelah anaknya
lahir plasenta tidak ikut keluar. Ibu belum pernah USG sehingga tidak
mengetahui kondisi janinnya. Klien mengeluh nyeri di perut dan mengalami
pendarahan parah dikarenakan sempat di paksa keluar saat anaknya lahir.
c. Riwayat Penyakit dahulu
Klien tidak pernah memiliki riwayat SC sejak melahirkan anak pertamanya.
d. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga klien tidak mempunyai riwayat penyakit yang berat.
e. Riwayat Kehamilan
Tgl Usia Jenis Temp Kompli Peno Bayi Nifas
Lahir Keha- Persa- at kasi long
milan linan Persa- Ib Ba n PB/B Kea Loc- Lak-
Linan u yi o B/JK da- hea tasi
an
15- 40 Spon- Puske - - Bi- 1. -/350 Baik Nor- Lan-
07-07 mgu tan smas dan 0/pr mal car
(atrm)

f. Keadaan Kesehatan Lingkungan


Di lihat dari ingkungan , daerah sekitar tempat tinggal klien tidak begitu
peduli pada kondisi kesehatan lingkungan sehingga saat hamil pun ibu-ibu
hamil jarang tanggap seperti memeriksakan kandungan ke dokter kandungan.
g. Alat Bantu yang Digunakan
Klien tidak memakai alat bantu, baik gigi, kaca mata maupun pendengaran.

3.2 Pemeriksaan Fisik


A. Keadaan Umum
Pasien dalam keadaan lemah, pasien tidur dalam posisi supinasi, terpasang
infus RL tetesan 20 tetes/menit pada tangan kanan.
B. Tanda-tanda Vital
TD : 130/90 mmHg
Suhu : 370C,
Nadi : 90 x/menit
RR : 20 x/menit
C. Pernafasan
Bentuk dada : simestris
Napas : spontan
Pernapasan : vesikuler
Irama napas : reguler
D. Cardiovaskuler
TD : 130/90 mmHg
palpitasi : tidak ada
clubbing fingger : tidak ada
E. Persyarafan
Kesadaran Compomentis, GCS : 4 - 5 - 6
Kepala dan wajah : simetris
Mata : sklera putih
Conjungtiva : anemis
Pupil : isokor.
Leher : tidak ada kelainan.
F. Persepsi Sensori
Pendengaran : normal /dbn.
Penciuman : normal /dbn.
Pengecapan : normal /dbn.
Penglihatan : normal /dbn.
Perabaan : normal /dbn.
G. Pencernaan-Eliminasi
Mulut dan tenggorokan : mulut bersih
Abdomen : tidak ada kelainan.
Rektum tak ada kelainan, BAB 1 x/hari
Perkemihan
Produksi urine : normal (± 1500 ml)
Warna : kuning kecoklatan,
Bau : Khas
H. Tulang-Otot-Integumen
Kemampuan pergerakan menurun
Extrimitas atas dan bawah sebelah kiri tidak ada kelainan
Tulang belakang tidak ada kelainan.
Kulit : sawo matang
Akral : dingin
Turgor kulit : normal.
I. Sistem Endokrin
Tidak ada kelainan
J. Sosial/Interaksi
Hubungan dengan klien : baik
Dukungan keluarga : aktif
Dukungan kelompok/teman/masyarakat : aktif
Reaksi saat interaksi : kooperatif
K. Spiritual
Konsep tentang penguasa kehidupan :Allah
Sumber kekuatan/harapan di saat sakit : Allah
Ritual agama yang bermakna/berarti/diharapkan saat ini : Sholat
Keyakinan/kepercayaan bahwa Tuhan akan menolong dalam menghadapi
situasi sakit saat ini : Ya
Keyakinan/kepercayaa bahwa penyakit dapat disembuhkan : Ya
3.3 Analisa Data
NO DATA PENYEBAB MASALAH
1 DO Perdarahan pada Nyeri akut
TTV : pembuluh darah
- TD 130/90 mmHg plasenta
- N 90x/menit
- RR 20x/menit Hematoma pada
- S:370C desidua basalis
- Pasien tampak merintih
dan kondisi tampak Desidua terkelupas
menurun dan tersisa pada
- Pasien nampak lemah miometrium
- Skala nyeri 6 (sedang)
DS Plasenta tertekan
Pasien mengeluh nyeri
pada perut Uterus berkontraksi

Nyeri

2 DO Perdarahan Kekurangan volume


- TD 130/90 mmHg, pada vagina cairan
- nadi 90x/menit ,
- RR 20x/menit s:370C Kehilangan
- Hb <7 gr/dl
- Konjungtiva anemis vaskular yang
- Akral dingin berlebihan
- Klien nampak pucat
DS: klien mengatakan Kehilangan volume
mengalami perdarahan cairan aktif
pada vaginanya
Kekurangan
volume cairan

3. DS: Pasien mengatakan Adanya perdarahan Ansietas


cemas terhadap
kesehatannya Kurang pengeta
huan
DO:

-TD: 130/90 mmHg Ansietas

-pasien nampak gelisah


dan pucat

3.4 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi pada uterus
2. Defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan terus menerus
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan sisa plasenta yang tertinggal di
uterus
4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi dan pengetahuan yang
diperoleh.
3.5 Intervensi

Diagnosa
No Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
Nyeri akut Tujuan : 1. Jelaskan penyebab nyeri 1. Memberikan informasi mengenai
berhubungan Setelah dilakuka tindakan pada klien penyebab nyeri yang diderita akan
2. Ajarkan teknik relaksasi
dengan keperawatan selama 3x24 membaut klien menjadi lebih kooperatif
distraksi pernapasan
kontraksi uterus jam diharapkan klien dengan tindakan yang akan diberikan
3. Berikan posisi yang nyaman
2. Teknik relaksasi distraksi pernapasan
dapat beradaptasi dengan
(miring ke kiri atau ke
dapat mendorong klien untuk rileks dan
nyeri yang dialami dengan
kanan)
mengajarkan kepada klien cara
kriteria hasil : 4. Berikan teknik relaksasi
mengatasi dan mengontrol nyeri
1. Klien dapat melakukan massage pada perut dan
3. Posisi miring mencegah penekanan
tindakan untuk punggung
pada vena cava
5. Libatkan suami dan keluarga
mengurangi nyeri 4. Meningkatkan relaksasi dan
dalam tindakan
2. Klien kooperatif meningkatkan koping dan kontrol klien
pengontrolan nyeri
dengan tindakan yang terhadap nyeri
6. Kolaborasi dalam pemberian
5. Melibatkan suami dan keluarga dapat
diberikan
analgetik
memberikan dukungan mental kepada
klien
6. Analgetik dapat mengurangi nyeri yang
dirasakan klien dengan memblok
impuls nyeri
2. Resiko tinggi Tujuan : 1. Kaji kondisi status 1. Pengeluaran cairan pervaginal sebagai
defisit volume Setelah diberikan tindakan hemodinamika akibat abortus
2.
Ukur pengeluaran harian 2. Jumlah cairan ditentukan dari jumlah
cairan keperawatan selama 3x24
3.
Catat intake dan output
kebutuhan harian ditambah dengan
berhubungan jam diharapkan intake dan 4.
Observasi nadi dan TD
5.
Pantau nilai hasil jumlah cairan yang hilang pervaginal
dengan output cairan klien
3. Mengetahui penurunan sirkulasi
laboratorium Hb atau
perdarahan yang kembali adekuat dengan
terhadap destruksi sel darah merah
hematokrit
terus-menerus kriteria hasil: 4. Mengetahui tanda syok hipovolemik
6. Evaluasi status
5. Menghindari perdarahan spontan
a. TTV dalam keadaan
hemodinamika
karena proliferasi sel darah merah
normal Berikan sejumlah IV line
6. Penialaian dapat dilakukan melalui
b. Perdarahan berkurang sesuai indikasi
pemeriksaan fisik
sampai dengan berhenti Mempertahankan keseimbangan cairan
Kulit tidak pucat dan elektrolit dan transfuse mungkin
diperlukan pada perdarahan massif
3. Resiko tinggi Tujuan : 1. Kaji kondisi keluaran; 1. Perubahan yang terjadi pada keluaran
Setelah dilakukan
infeksi jumlah, warna, dan bau perlu dikaji setiap saat. Adanya bau
tindakan keperawatan 2. Terangkan pada klien
berhubungan yang tidak enak disertai dengan warna
selama 3x24 jam pentingnya perawatan vulva
dengan sisa yang gelap merupakan tanda infeksi
diharapkan tidak terjadi selama masa perdarahan 2. Infeksi dapat terjadi akibat kurangnya
plasenta yang
tertinggal di infeksi selama perawatan 3. Lakukan perawatan vulva kebersihan genital di bagian luar
4. Observasi suhu tubuh 3. Inkubasi kuman pada area genital yang
uterus perdarahan dengan kriteria
5. Pantau nilai laboratorium
relative cepat dapat menyebabkan
hasil :
jumlah leukosit dan darah
a. Tidak ada tanda-tanda infeksi
lengkap 4. Mengetahui infeksi lebih lanjut
infeksi
6. Berikan obat sesuai terapi 5. Penurunan sel darah putih akibat dari
b. Luka membaik
proses penyakit dapat menyebabkan
sistem kekebalan tubuh menurun
6. Pemberian antibiotika dapat mencegah
proses berkembang biaknya bakteri
4. Ansietas Tujuan : 1. Anjurkan klien untuk 1. Mengungkapkan perasaan tentang hal-
Setelah diberikan tindakan
berhubungan mengemukakan hal-hal yang hal yang dicemaskan dapat mengurangi
keperawatan selama 3x24
dengan kurang dicemaskan beban pikiran klien
jam klien diharapkan tidak 2. Beri penjelasan tentang 2. Mengurangi kecemasan klien mengenai
terpaparnya
cemas dan dapat mengerti kondisi janin kondisi janinnya
informasi klien
3. Beri penjelasan tentang 3. Mengurangi kecemasan klien mengenai
tentang keadaannya
tentang keadaan
kondisi klien kondisinya
dengan kriteria hasil :
patologi yang 4. Anjurkan keluarga untuk 4. Dukungan keluarga dapat memberikan
a. Klien melaporkan
dialami mendampingi dan member rasa aman kepada klien dan mengurangi
cemas berkurang
b. Klien tampak tenang dukungan kepada klien kecemasan klien
5. Anjurkan penggunaan 5. Memberikan perasaan rileks sehingga
dan tidak gelisah
teknik pernapasan dan dapat menurunkan kecemasan klien
latihan relaksasi
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Bari Saifuddin. Buku Acuan Nasional Kesehatan Maternal Dan Maternal. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2007
Constance,Sinclair. 2003. A Midwife’s Handbook. Jakarta:EGC

Mander,Rosemary. 2004. Nyeri Persalinan. Jakarta:EGC

Sarwono.2010. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka

Stright,Barbara R. 2005. Panduan Belajar Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir. Jakarta:EGC

Berkley, E.,M dan Abuhamad,A.,Z. 2013. Prenatal Diagnosis of Placenta AccretaIs


Sonography All We Need?. the American Institute of Ultrasound in Medicine
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23887942 [diakses pada tanggal 2 April 2019]
Chitra, Sivasankar . 2012. Perioperative management of undiagnosed placenta percreta: case
report and management strategies. International Journal of Women’s Health
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3469234/pdf/ijwh-4-451.pdf [diakses
pada tanggal 2 April 2019]
Committee opinion. 2012. Placenta Accreta. The American College of Obstetricans and
Gynecologists https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22914422 [diakses pada tanggal
2 April 2019]
Depkes RI, 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatanindonesia/profil-
kesehatan-indonesia-2008.pdf [diakses pada tanggal 2 April 2019]
Depkes RI, 2010. Profil Kesehatan Indonesia 2009. Jakarta
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-
indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2009.pdf [diakses pada tanggal 2 April 2019]
Stright,Barbara R. 2004. Panduan Belajar: Keperawatan Ibu-Bayi Baru lahir Edisi 3.
Jakarta: EGC
McCulloch, S. 2015. Placenta Accreta – Symptoms And Risk Factors
http://www.bellybelly.com.au/pregnancy/placenta-accreta/ [diakses pada tanggal 2 April
2019]
Society for Maternal-Fetal Medicine (Publication Committee ). 2010. Placenta Accreta.
American Journal of Obstetrics and Gynaecology. Washington DC.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21055510 [diakses pada tanggal 2 April 2019]