100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan41 halaman

Juknis Silantor

Dokumen ini membahas perlunya pengembangan sistem surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit yang mudah digunakan agar dapat menghasilkan data dan informasi yang akurat untuk pengambilan keputusan pencegahan dan pengendalian penyakit secara efektif dan tepat sasaran. Sistem ini dibutuhkan karena surveilans saat ini belum optimal dan hasilnya sulit dilaporkan secara cepat.

Diunggah oleh

Theresia Saragih
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
3K tayangan41 halaman

Juknis Silantor

Dokumen ini membahas perlunya pengembangan sistem surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit yang mudah digunakan agar dapat menghasilkan data dan informasi yang akurat untuk pengambilan keputusan pencegahan dan pengendalian penyakit secara efektif dan tepat sasaran. Sistem ini dibutuhkan karena surveilans saat ini belum optimal dan hasilnya sulit dilaporkan secara cepat.

Diunggah oleh

Theresia Saragih
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KATA PENGANTAR

Penyakit tular vektor dan zoonotik, seperti demam berdarah, malaria, filaria,
chikungunya, pes, leptospirosis dan lain-lain, masih menjadi permasalahan
kesehatan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena tingginya populasi vektor dan
binatang pembawa penyakit di Indonesia. Sebagai upaya pencegahan penyakit-
penyakit tersebut maka dilaksanakan pengendalian vektor dan binatang
pembawa penyakit. Pengendalian ini akan terarah dan tepat sasaran apabila
didahului dengan surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit yang cepat
dan akurat, yang menghasilkan data dan informasi sebagai dasar pengambilan
keputusan.
Kondisi saat ini, surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit masih
belum dikerjakan secara optimal dan belum terintegrasi, sehingga data dan
informasi vektor dan binatang pembawa penyakit tidak tersedia dengan baik
akibatnya pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit belum dilakukan
secara efektif dan tepat sasaran. Hal ini disebabkan karena belum adanya
metode/ sistem surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit yang mudah
dipahami dan mudah dikerjakan oleh tenaga kesehatan baik di daerah (mulai dari
Puskesmas, Dinkes Kabupaten/ Kota dan Dinkes Provinsi) maupun di pusat
(Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalia Penyakit) dan Unit Pelaksana
Teknis (UPT) nya.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dikembangkan sistem surveilans
vektor dan binatang pembawa penyakit yang mudah dilaksanakan/ dikerjakan
dan cepat dianalisis untuk menghasilkan data dan informasi dalam rangka
pengambilan keputusan untuk pengendalian vektor dan binatang pembawa
penyakit yang efektif, efisien dan tepat sasaran, Sistem Surveilans Vektor dan
Binatang Pembawa Penyakit (SILANTOR) menuju Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ ) yang Smart yang
berbasis elektronik.
Buku Petunjuk Teknis (Juknis) ini digunakan untuk mempermudah
pelaksanaan pencatatan dan pelaporan, serta analisis data surveilans vektor dan
binatang pembawa penyakit yang berbasis elektronik. Dalam Juknis ini disertai
contoh-contoh input, analisis dan output aplikasi untuk mempermudah
pemakaian software SILANTOR.
Direktur P2PTVZ,

dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid


NIP 197208312000032001
DAFTAR ISI
Hal
BAB I PENDAHULUAN …………………. 1
1.1 Latar Belakang …………………. 1
1.2 Tujuan …………………. 3
1.3 Manfaat …………………. 4
1.4 Ruang Lingkup …………………. 6

BAB II KONSEP SURVEILANS …………………. 7


2.1 Surveilans Kesehatan …………………. 7
2.1.1 Kegiatan Surveilans Kesehatan …………………. 7
2.1.2 Bentuk Penyelenggaraan Surveilans …………………. 9
Kesehatan
2.2 Surveilans Vektor …………………. 12
2.2.1 Surveilans nyamuk Anopheles …………………. 13
2.2.2 Surveilans Nyamuk Aedes …………………. 15
2.2.3 Surveilans Nyamuk Culex …………………. 17
2.2.4 Surveilans Nyamuk Mansonia …………………. 19
2.2.5 Surveilans Pinjal …………………. 20
2.2.6 Surveilans Lalat …………………. 21
2.2.7 Surveilans Kecoa …………………. 22
2.2.8 Surveilans Tikus …………………. 23
2.2.9 Surveilans Keong …………………. 24

BAB III PELAKSANAAN SURVEILANS …………………. 25


VEKTOR DAN BINATANG
PEMBAWA PENYAKIT BERBASIS
WEBSITE DAN ANDROID
3.1 Surveilans Vektor di Pukesmas …………………. 26
3.1.1 Input Data Vektor di Puskesmas …………………. 26
3.1.2 Analisis Data Vektor di Puskesmas …………………. 26
3.1.3 Output Data Vektor di Puskesmas …………………. 27
3.2 Surveilans Vektor dan Binatang …………………. 27
Pembawa Penyakit di B/BTKLPP dan
KKP
3.2.1 Input Data di B/BTKLPP dan KKP …………………. 27
3.2.2 Analisis Data di B/BTKLPP dan KKP …………………. 30
3.2.3 Output data di B/BTKLPP dan KKP …………………. 35
3.3 Analisis dan Pengambilan Kebijakan …………………. 35
di Tingkat Kabupaten/ Kota
3.4 Analisis dan Pengambilan Kebijakan …………………. 35
di Tingkat Provinsi
3.5 Analisis dan Pengambilan Kebijakan …………………. 36
di Tingkat Nasional

BAB IV MONITORING DAN EVALUASI …………………. 37

Kepustakaan
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara topis dengan suhu, kelembaban dan


curah hujan yang relatif tinggi, merupakan tepat yang ideal bagi
perkembangan serangga, termasuk vektor (serangga penular
penyakit). Kondisi ini didukung dengan luasnya wilayah Indonesia
dengan tipe ekologi yang sangat mempermudah pertumbuhan dan
perkembangan vektor. Hasil surveilans vektor mendapatkan
kepadatan nyamuk Anopheles di atas 0,025 per orang per malam,
Aedes di atas 0,025 per orang per jam dan Culex di atas 1 per orang
per jam (Subdit VBP2, 2018). Kepadatan tersebut masih sangat tinggi,
di atas angka baku mutu yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri
Kesehatan (Permenkes) nomor 50 tahun 2017 tentang Standar Baku
Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan untuk
Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dan Pengendaliannya.

Peraturan Permenkes nomor 64 tahun 2015 tentang Organisasi


dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Sub Direktorat Vektor dan
Binatang Pembawa Penyakit mempunyai tugas dan fungsi, antara lain
(1) penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang pencegahan dan
pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, (2) penyiapan
bahan pelaksanaan kebijakan di bidang pencegahan dan
pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, (3) penyiapan
bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
pencegahan dan pengendalian vektor dan binatang pembawa
penyakit, (4) penyiapan bahan bimbingan teknis dan supervisi di
bidang pencegahan dan pengendalian vektor dan binatang pembawa
penyakit, dan (5) pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang
pencegahan dan pengendalian vektor dan binatang pembawa
penyakit. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 66 tahun

1
2014 tentang Kesehatan Lingkungan, bahwa pengamatan/ surveilans
vektor dan binatang pembawa penyakit merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dalam rangka pengendalian vektor dan binatang
pembawa penyakit yang efektif, efisien dan tepat sasaran.

Dalam rangka pengendalian vektor dan binatang pembawa


penyakit yang efektif, efisien dan tepat sasaran maka diperlukan
surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit. Menurut
Permenkes nomor 45 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan
Surveilans Kesehatan, yang dimaksud surveilans kesehatan adalah
kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus menerus terhadap
data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan
dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan
penularan penyakit atau masalah kesehatan untuk memperoleh dan
memberikan informasi guna mengarahkan tindakan pengendalian dan
penanggulangan secara efektif dan efisien.

Merujuk pada PP nomor 66 tahun 2014, Permenkes nomor 50


tahun 2017, Permenkes nomor 64 tahun 2015 dan Permenkes nomor
45 tahun 2014 di atas, bahwa surveilans vektor dan binatang
pembawa penyakit merupakan bagian penting yang harus dikerjakan
dalam rangka kewaspadaan dini terhadap peningkatan populasi
vektor dan adanya potensi penularan penyakit. Karena surveilans
akan memberikan informasi yang akurat dalam rangka pencegahan
dan pengendalian yang efektif, efisien dan tepat sasaran.

Kondisi saat ini, surveilans vektor dan binatang pembawa


penyakit masih belum dikerjakan secara optimal dan belum
terintegrasi, sehingga data dan informasi vektor dan binatang
pembawa penyakit tidak tersedia dengan baik akibatnya pengendalian
vektor dan binatang pembawa penyakit belum dilakukan secara efektif
dan tepat sasaran. Surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit
jarang dilakukan oleh Dinkes Kabupaten/ Kota dan Dinkes Provinsi.
Jika ada Dinkes yang melaksanakan surveilans vektor dan binatang

2
pembawa penyakit, hasilnya jarang dilaporkan ke pusat (Direktorat
P2PTVZ), kalaupun dilaporkan waktu pelaporanya paling cepat tiga
bulan. Hal ini disebabkan karena belum adanya metode/ sistem
surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit yang mudah
dipahami dan mudah dikerjakan oleh tenaga kesehatan baik di daerah
(mulai dari Puskesmas, Dinkes Kabupaten/ Kota dan Dinkes Provinsi)
maupun di pusat (Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Tular Vektor dan Zoonotik Direktorat Jenderal Pencegahan dan
Pengendalia Penyakit) dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) nya.

Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dikembangkan sistem


surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit yang mudah
dilaksanakan/ dikerjakan dan cepat dianalisis untuk menghasilkan
data dan informasi dalam rangka pengambilan keputusan untuk
pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit yang efektif,
efisien dan tepat sasaran, yaitu Pengembangan Sitem Surveilans
Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit (Silantor) di Indonesia
(Gambar 1).

- Kepadatan vektor dan - Mebuat Juknis sistem - Terlaksanya surveilans vektor


Solusi Mengatasi Masalah

Kondisi yang diinginkan


Kondisi saat ini

binatang pembawa penyakit di surveilans vektor dan binatang dan binatang pembawa
Indonesia sangat tinggi pembawa penyakit di penyakit yang terintegrasi,
- Belum optimalnya dan Indonesia mulai dari Puskesmas, Dinkes
integrasinya surveilans vektor - Membuat software surveilans Kabupaten/ Kota, Dinkes
dan binatang pembawa vektor dan binatang pembawa Provinsi dan pusat (Dit P2PTVZ)
penyakit di Indonesia penyakit - Tersedianya data dan
- Belum adanya sistem - Pelaksanaan surveilans vektor informasi vektor dan binatang
surveilans vektor dan binatang dan binatang pembawa pembawa penyakit secara
pembawa penyakit di penyakit di Indonesia berbasis cepat dan akurat, sebagai dasar
Indonesia. website dan android. pengambilan keputusan yang
tepat dalam rangka
- Monitoring dan evaluasi pengendalian vektor dan
pelaksanaan sistem surveilans penyakit tular vektor
vektor dan binatang pembawa
penyakit di Indonesia.

Gambar 1.1
Gambaran Kondisi Saat Ini, dan Pencapaian Kondisi yang
Diharapkan melalui Silantor

1.2. Tujuan

Tujuan penyusunan petunjuk teknis (Juknis) sistem surveilans vektor


dan binatang pembawa penyakit dibedakan menjadi tujuan umum dan
tujuan khusus

3
1.2.1. Tujuan Umum

Adanya petunjuk teknis sebagai acuan dalam penyelenggaraan


surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit di Indonesia.

1.2.2. Tujuan Khusus


1. Sebagai dasar bagi tenaga entomolog kesehatan (Entokes) dan
tenaga kesehatan lainnya dalam melaksanakan surveilans vektor
dan binatang pembawa penyakit.
2. Memberikan pengetahuan/ pemahaman yang sama bagi tenaga
Entokes dan tenaga kesehatan lainnya di Indonesia dalam
melaksanakan surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit.
3. Meningkatkan pengetahuan/ pengetahuan bagi tenaga Entokes
dan tenaga kesehatan lainnya di Indonesia dalam melaksanakan
surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit.
4. Terlaksana surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit
dengan baik dan benar.
5. Terlaksananya pengendalian vektor yang efektif, efisien dan tepat
sasaran.

1.3. Manfaat
Manfaat pentunjuk teknis surveilans surveilans vektor dan binatang
pembawa penyakit di Indonesia, tidak hanya bermafaat untuk
kebutuhan internal Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Tular Vektor dan Zoonotik (Dit. P2PTVZ), tetapi juga akan bermanfaat
instansi eksternal di luar Dit. P2PTVZ seperti Dinkes Provinsi, Dinkes
Kabupaten/ Kota, B/BTKLPP, KKP, Puskesmas dan masyarakat.

1.3.1. Mafaat bagi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular


Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ)

4
1. Mendukung tugas pokok dan fungsi pencegahan dan pengendalian
penyakit tular vektor dan zoonotik.
2. Memperkuat sistem surveilans dan pengendalian vektor dan
binatang pembawa penyakit di Indonesia
3. Mempermudah dan mempercepat pengambilan keputusan di tingkat
nasional dalam rangka pengendalian vektor dan penyakit tular vektor
di Indonesia.

1.3.2. Manfaat bagi Dinkes Provinsi dan Dinkes Kabupaten/ Kota


1. Mempermudah pelaksanaan, analisis dan pelaporan surveilans
vektor dan binatang pembawa penyakit di tingkat Provinsi dan
Kabupaten/ Kota.
2. Mempermudah pengambilan kebijakan dalam rangka pengendalian
vektor dan penyakit tular vektor di tingkat Provinsi dan Kabupaten/
Kota.

1.3.3. Manfaat bagi Puskesmas


1. Menjadi panduan surveilans vektor dan binatang pembawa
penyakit di lapangan.
2. Mempermudah pelaksanaan, analisis dan pelaporan surveilans
vektor dan binatang pembawa penyakit di lapangan.

1.3.3. Manfaat bagi B/BTKLPP dan KKP


1. Menjadi panduan surveilans vektor dan binatang pembawa
penyakit di lapangan.
2. Mempermudah pelaksanaan, analisis dan pelaporan surveilans
vektor dan binatang pembawa penyakit di wilayah kerja B/BTKLPP
dan KKP.

1.3.4. Manfaat bagi Masyarakat

5
1. Melindungi masyarakat dari gigitan vektor dan binatang pembawa
penyakit.
2. Melindungi masyarakat dari penyebaran penyakit tular vektor dan
zoonotik.
3. Dapat meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat
dalam pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit.

1.4. Ruang Lingkup

Sebagaimana tujuan yang ingin dicapai, maka ruang lingkup sistem


surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit di Indonesia, antara
lain:

1. Menyusun petunjuk teknis sistem surveilans vektor dan binatang


pembawa penyakit di Indonesia.
2. Membuat software sistem surveilans vektor dan binatang pembawa
penyakit (e-SILANTOR) di Indonesia.
3. Melakukan uji coba sistem surveilans vektor dan binatang
pembawa penyakit (e-SILANTOR) berbasis website dan android.
4. Sosialisasi sistem surveilans vektor dan binatang pembawa
penyakit kepada Dinkes Povinsi, Balai/ Balai Besar Teknik
Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (B/BTKLPP),
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).
5. Pelatihan sistem surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit
kepada petugas surveilans/ pengendali vektor dan binatang
pembawa penyakit di Dinkes Provinsi, Dinkes Kabupaten/ Kota,
B/BTKLPP, KKP dan Puskesmas.
6. Pelaksanaan kegiatan surveilans vektor dan binatang pembawa
penyakit yang berkelanjutan, dimulai dari Puskesmas, Dinkes
Kabupaten/ Kota dan Provinsi, B/BTKLPP dan KKP hingga ke pusat
(Direktorat P2PTVZ Kemenkes).
7. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan sistem surveilans vektor dan
binatang pembawa penyakit di Indonesia.

6
BAB II
KONSEP SURVEILANS

2.1. Surveilans Kesehatan

Surveilans Kesehatan didefinisikan sebagai kegiatan pengamatan


yang sistematis dan terus menerus terhadap data dan informasi
tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan dan kondisi yang
mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau
masalah kesehatan untuk memperoleh dan memberikan informasi
guna mengarahkan tindakan penanggulangan secara efektif dan
efisien. Surveilans Kesehatan diselenggarakan agar dapat melakukan
tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, dan diseminasi
kepada pihak-pihak terkait yang membutuhkan. Surveilans Kesehatan
mengedepankan kegiatan analisis atau kajian epidemiologi serta
pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya
kegiatan pengumpulan data dan pengolahan data. Penyelenggaraan
Surveilans Kesehatan harus mampu memberikan gambaran
epidemiologi antara lain komponen pejamu, agen penyakit, dan
lingkungan yang tepat berdasarkan dimensi waktu, tempat dan orang.
Karakteristik pejamu, agen penyakit, dan lingkungan mempunyai
peranan dalam menentukan cara pencegahan dan penanggulangan
jika terjadi gangguan keseimbangan yang menyebabkan sakit.

2.1.1. Kegiatan Surveilans Kesehatan


Menurut Permenkes nomor 45 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan
Surveilans Kesehatan, kegiatan surveilans kesehatan meliputi : 1)
pengumpulan data, 2) pengolahan data, 3) analisis data, dan 3)
desiminasi informasi.
2.1.1.1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara aktif dan pasif. Jenis


data Surveilans Kesehatan dapat berupa data kesakitan, kematian,

7
dan faktor risiko. Pengumpulan data dapat diperoleh dari berbagai
sumber antara lain individu, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, unit
statistik dan demografi, dan sebagainya. Metode pengumpulan
data dapat dilakukan melalui wawancara, pengamatan,
pengukuran, dan pemeriksaan terhadap sasaran. Dalam
melaksanakan kegiatan pengumpulan data, diperlukan instrumen
sebagai alat bantu. Instrumen dibuat sesuai dengan tujuan
surveilans yang akan dilakukan dan memuat semua variabel data
yang diperlukan.

2.1.1.2. Pengolahan Data

Sebelum data diolah dilakukan pembersihan koreksi dan cek ulang,


selanjutnya data diolah dengan cara perekaman data, validasi,
pengkodean, alih bentuk (transform) dan pengelompokan
berdasarkan variabel tempat, waktu, dan orang. Hasil pengolahan
dapat berbentuk tabel, grafik, dan peta menurut variabel golongan
umur, jenis kelamin, tempat dan waktu, atau berdasarkan faktor
risiko tertentu. Setiap variabel tersebut disajikan dalam bentuk
ukuran epidemiologi yang tepat (rate, rasio dan proporsi).
Pengolahan data yang baik akan memberikan informasi spesifik
suatu penyakit dan atau masalah kesehatan. Selanjutnya adalah
penyajian hasil olahan data dalam bentuk yang informatif, dan
menarik. Hal ini akan membantu pengguna data untuk memahami
keadaan yang disajikan.

2.1.1.3. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode epidemiologi


deskriptif dan/atau analitik untuk menghasilkan informasi yang
sesuai dengan tujuan surveilans yang ditetapkan. Analisis dengan
metode epidemiologi deskriptif dilakukan untuk mendapat
gambaran tentang distribusi penyakit atau masalah kesehatan
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya menurut waktu, tempat
dan orang. Sedangkan analisis dengan metode epidemiologi

8
analitik dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variable yang
dapat mempengaruhi peningkatan kejadian kesakitan atau
masalah kesehatan. Untuk mempermudah melakukan analisis
dengan metode epidemiologi analitik dapat menggunakan alat
bantu statistik. Hasil analisis akan memberikan arah dalam
menentukan besaran masalah, kecenderungan suatu keadaan,
sebab akibat suatu kejadian, dan penarikan kesimpulan. Penarikan
kesimpulan hasil analisis harus didukung dengan teori dan kajian
ilmiah yang sudah ada.

2.1.1.4. Diseminasi Informasi

Diseminasi informasi dapat disampaikan dalam bentuk buletin,


surat edaran, laporan berkala, forum pertemuan, termasuk
publikasi ilmiah. Diseminasi informasi dilakukan dengan
memanfaatkan sarana teknologi informasi yang mudah diakses.
Diseminasi informasi dapat juga dilakukan apabila petugas
surveilans secara aktif terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan
dan monitoring evaluasi program kesehatan, dengan
menyampaikan hasil analisis.

2.1.2. Bentuk Penyelenggaraan surveilans Kesehatan

Menurut Permenkes nomor 45 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan


Surveilans Kesehatan, berntuk penyelenggaran surveilans kesehatan
terdiri dari : 1) surveilans berbasis indikator, dan 2) surveilans berbasis
kejadian.

2.1.2.1. Surveilans Berbasis Indikator

Surveilans berbasis indikator dilakukan untuk memperoleh


gambaran penyakit, faktor risiko dan masalah kesehatan dan/atau
masalah yang berdampak terhadap kesehatan yang menjadi
indikator program dengan menggunakan sumber data yang
terstruktur. Contoh data terstruktur antara lain: a) laporan bulanan
penderita demam berdarah, b) laporan bulanan malaria, c) laporan

9
bulanan filarias, dan lain-lain. Data tersebut dimanfaatkan dalam
rangka kewaspadaan dini penyakit atau masalah kesehatan. Hasil
analisis dimaksudkan untuk memperoleh gambaran penyakit atau
masalah kesehatan dan/atau masalah yang berdampak terhadap
kesehatan seperti: situasi dan kecenderungan, perbandingan
dengan periode sebelumnya, dan perbandingan antar
wilayah/daerah/kawasan. Kegiatan surveilans ini biasanya
digunakan untuk menetukan arah program/intervensi, serta
pemantauan dan evaluasi terhadap program/intervensi.
Pelaksanaan surveilans berbasis indikator dilakukan mulai dari
puskesmas sampai pusat, sesuai dengan periode waktu tertentu
(harian, mingguan, bulanan dan tahunan). Pelaksanaan surveilans
berbasis indikator di puskesmas, dilakukan untuk menganalisis
pola penyakit, faktor risiko, pengelolaan sarana pendukung seperti
kebutuhan vaksin, obat, bahan dan alat kesehatan, persiapan dan
kesiapan menghadapi kejadian luar biasa beserta
penanggulangannya.

Pelaksanaan surveilans berbasis indikator di kabupaten/kota,


dilakukan berdasarkan hasil analisis dari kegiatan di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan, kawasan tertentu, berbagai data dan
informasi yang bersumber dari lintas sektor, hasil kajian, untuk
menganalisis pola penyakit, faktor risiko, masalah kesehatan
maupun masalah lain yang berdampak terhadap kesehatan dalam
rangka pengelolaan program skala kabupaten/kota maupun
kebijakan teknis operasional yang dibutuhkan. Pelaksanaan
surveilans berbasis indikator di provinsi, dilakukan berdasarkan
hasil analisis dari kegiatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan,
analisis situasi dan kecenderungan lintas kabupaten/kota, kawasan
tertentu/khusus serta berbagai data dan informasi yang bersumber
dari lintas sektor, hasil kajian, untuk menganalisis pola penyakit,
faktor risiko, masalah kesehatan maupun masalah lain yang
berdampak terhadap kesehatan dalam rangka pengelolaan

10
program skala provinsi maupun kebijakan teknis operasional yang
dibutuhkan. Pelaksanaan surveilans berbasis indikator di pusat,
dilakukan berdasarkan hasil analisis situasi dan kecenderungan
lintas provinsi, kawasan tertentu/khusus serta berbagai data dan
informasi yang bersumber dari lintas sektor, hasil kajian, untuk
menganalisis pola penyakit, faktor risiko, masalah kesehatan
maupun masalah lain yang berdampak terhadap kesehatan dalam
rangka pengelolaan program skala nasional maupun kebijakan
teknis yang dibutuhkan.

2.1.2.2. Surveilans Berbasis Kejadian

Surveilans berbasis kejadian dilakukan untuk menangkap dan


memberikan informasi secara cepat tentang suatu penyakit, faktor
risiko, dan masalah kesehatan, dengan menggunakan sumber data
selain data yang terstruktur. Surveilans berbasis kejadian dilakukan
untuk menangkap masalah kesehatan yang tidak tertangkap
melalui surveilans berbasis indikator. Sebagai contoh, beberapa
kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dan malaria diketahui
dari media massa. Pelaksanaan surveilans berbasis kejadian
dilakukan secara terus menerus (rutin) seperti halnya surveilans
berbasis indikator, dimulai dari puskesmas sampai pusat. Sumber
laporan didapat dari sektor kesehatan (instansi/sarana kesehatan,
organisasi profesi kesehatan, asosiasi kesehatan, dan lain-lain),
dan di luar sektor kesehatan (instansi pemerintah non kesehatan,
kelompok masyarakat, media, jejaring sosial dan lain-lain).

Kegiatan surveilans berbasis kejadian di Puskesmas,


kabupaten/kota, dan provinsi dilakukan melalui kegiatan verifikasi
terhadap rumor terkait kesehatan atau berdampak terhadap
kesehatan di wilayah kerjanya guna melakukan langkah intervensi
bila diperlukan. Kegiatan surveilans berbasis kejadian di pusat
dilakukan untuk verifikasi terhadap rumor terkait kesehatan atau
berdampak terhadap kesehatan yang berasal dari dalam negeri

11
maupun dari luar negeri yang berdampak secara nasional maupun
internasional, guna mengambil langkah intervensi bila diperlukan.
Penyelenggaraan surveilans berbasis indikator dan berbasis
kejadian diaplikasikan antara lain dalam bentuk PWS (Pemantauan
Wilayah Setempat) yang didukung dengan pencarian rumor
masalah kesehatan. Setiap unit penyelenggaraan Surveilans
Kesehatan melakukan Pemantauan Wilayah Setempat dengan
merekam data, menganalisa perubahan kejadian penyakit dan atau
masalah kesehatan menurut variable waktu, tempat dan orang
(surveilans berbasis indikator). Selanjutnya disusun dalam bentuk
tabel dan grafik pemantauan wilayah setempat untuk menentukan
kondisi wilayah yang rentan KLB. Bila dalam pengamatan
ditemukan indikasi yang mengarah ke KLB, maka dilakukan respon
yang sesuai termasuk penyelidikan epidemiologi. Selain itu
dilakukan juga pencarian rumor masalah kesehatan secara aktif
dan pasif (surveilans berbasis kejadian) untuk meningkatkan
ketajaman hasil PWS. Contoh aplikasi lain adalah operasionalisasi
Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Dalam SKDR
dilakukan pengamatan gejala penyakit yang mengarah ke suatu
penyakit potensial KLB secara mingguan dengan format tertentu
(surveilans berbasis indikator). Bila dalam pengamatan mingguan
ditemukan sinyal peningkatan jumlah gejala penyakit yang
mengarah ke suatu penyakit potensial KLB, dilakukan respon untuk
memverifikasi kebenaran kejadian peningkatan dan respon lain
yang diperlukan termasuk penyelidikan epidemiologi (surveilans
berbasis kejadian).

2.2. Surveilans Vektor


Surveilans vektor adalah pengamatan dan analisis kepadatan vektor
dan binatang pembawa penyakit secara terus menerus untuk
menghasilkan data dan informasi dalam rangka pengambilan
keputusan untuk pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit

12
yang efektif, efisien dan tepat sasaran, serta untuk kesiapsiagaan
adanya penularan penyakit tular vektor dan zoonotik. Sebagaimana
Permenkes nomor 50 tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu
Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan untuk Vektor dan
Binatang Pembawa Penyakit dan Pengendaliannya, surveilans vektor
dan binatang pembawa penyakit paling sedikit terdiri atas surveilans
nyamuk Anopheles, surveilans nyamuk Aedes, surveilans nyamuk
Culex, surveilans nyamuk Mansonia, surveilans pinjal, surveilans lalat,
surveilans kecoa, surveilans tikus dan surveilans keong Oncomelania.

2.2.1. Surveilans nyamuk Anopheles


Surveilans nyamuk Anopheles terdiri dari dua kegiatan, yaitu
surveilans kepadatan nyamuk Anopheles dan surveilans indeks habitat
larva Anopheles.

2.2.1.1. Kepadatan Nyamuk Anopheles


Kepadatan nyamuk Anopheles dianalisis berdasarkan angka man
bitting rate (MBR). MBR adalah angka gigitan nyamuk per orang
per malam, dihitung dengan cara jumlah nyamuk (spesies tertentu)
yang tertangkap dalam satu malam (12 jam) dibagi dengan jumlah
penangkap (kolektor) dikali dengan waktu (jam) penangkapan.
Angka baku mutu MBR adalah < 0,025.

MBR
Jumlah nyamuk 𝐴𝑛𝑜𝑝ℎ𝑒𝑙𝑒𝑠 yang tertangkap (spesies tertentu)
=
Jumlah penangkap x waktu penangkapan (dalam jam)

Contoh, penangkapan nyamuk malam hari dilakukan oleh lima


orang kolektor, dengan metode nyamuk hinggap di badan (human
landing collection) selama 12 jam (jam 18.00-06.00), yang mana
setiap jam menangkap 40 menit, mendapatkan 10 Anopheles
sundaicus, dua Anopheles subpictus dan satu Anopheles

13
indefinitus. Maka MBR Anopheles sundaicus dihitung sebagai
berikut.
Diketahui:
- Jumlah nyamuk Anopheles sundaicus yang didapatkan
sebanyak 10
- Jumlah penangkap sebanyak 5 orang
- Waktu penangkapan dalam satu jam selama 40 menit,
sehingga dalam satu malam (12 jam) sebanyak 8 jam (8/12).

10
MBR = = 2,99
5 x 8/12

Artinya kepadatan Anopheles sundaicus perorang perjam sebesar


2,99, masih di atas angka baku mutu (0,025), dengan kata lain di
daerah tersebut masih mepunyai potensi penularan malaria, karena
kepadatan nyamuk Anopheles masih diatas angka baku mutu
(0,025).

2.2.1.2. Indeks Habitat Anopheles


Indeks habitat Anopheles (IH_An) adalah persentase habitat
perkembangbiakan yang positif larva Anopheles, dihitung dengan
cara jumlah habitat yang positif larva Anopheles dibagi dengan
jumlah seluruh habitat yang diamati dikalikan dengan 100%. Angka
baku mutu IH_An adalah < 1%.

Jumlah habitat yang positif larva 𝐴𝑛𝑜𝑝ℎ𝑒𝑙𝑒𝑠


IH_An = x 100%
Jumlah seluruh habitat yang diperiksa

Contoh, pengamatan dilakukan terhadap 30 habitat


perkembangbiakan nyamuk Anopheles spp., setelah dilakukan
pencidukan didapatkan 5 habitat positif larva Anopheles spp. dan 6
habitat positif larva Culex spp. Maka indeks habitat larva Anopheles
dihitung sebagai berikut.
Diketahui:

14
- Jumlah seluruh habitat diamati sebanyak 30 buah
- Jumlah habitat positif larva Anopheles spp. sebanyak 5 buah

5
IH_An = 30 x 100% = 16,7%

Hasil perhitungan menunjukkan IH-An sebesar 16,7%, masih di


atas angka baku mutu (1%), dengan kata lain di daerah tersebut
masih mepunyai potensi penularan malaria, karena karena IH_An
masih diatas angka baku mutu (1%).

2.2.2. Surveilans Nyamuk Aedes


Surveilans nyamuk Aedes terdiri dari surveilans kepadatan nyamuk
Aedes dan surveilans angka bebas jentik

2.2.2.1. Kepadatan Nyamuk Aedes

Kepadatan nyamuk Aedes dianalisis berdasarkan angka istirahat


(resting rate/RR) adalah angka kepadatan nyamuk istirahat
(resting) per jam, dihitung dengan cara jumlah nyamuk Aedes spp.
yang tertangkap dalam satu hari (12 jam) dibagi dengan jumlah
penangkap (kolektor) dikali lama penangkapan (jam) dikali dengan
waktu penangkapan (menit) dalam tiap jamnya. Angka baku mutu
RR adalah < 0,025.

Jumlah nyamuk 𝐴𝑒𝑑𝑒𝑠 𝑠𝑝𝑝. yang tertangkap


RR =
Jumlah penangkap x lama penangkapan (dalam jam)𝑥 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝𝑎𝑛 (𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

Contoh, penangkapan nyamuk istirahat siang hari dilakukan oleh


lima orang kolektor, dengan menggunakan aspirator selama 12 jam
(jam 06.00-18.00), yang mana setiap jam menangkap 40 menit,
mendapatkan lima nyamuk Aedes spp. dan lima nyamuk Culex spp.
Maka angka istirahat per jam dihitung sebagai berikut.

Diketahui:

15
- Jumlah nyamuk Aedes yang didapatkan sebanyak 5
- Jumlah penangkap sebanyak 5 orang
- Lama penangkapan 12 jam
- Waktu penangkapan dalam satu jam selama 40 menit (40/60).

5
RR = = 24
5 x 12 x 40/60

Hasil perhitungan menunjukkan RR sebesar 24, masih di atas


angka baku mutu (0,025), dengan kata lain di daerah tersebut
masih mepunyai potensi penularan demam berdarah dan
chikungunya, karena RR masih diatas angka baku mutu (0,025).

2.2.2.2. Angka Bebas Jentik


Angka bebas jentik (ABJ) adalah persentase rumah atau bangunan
yang bebas jentik, dihitung dengan cara jumlah rumah atau
bangunan yang tidak ditemukan jentik dibagi dengan jumlah
seluruh rumah atau bangunan yang diperiksa dikali 100%. Yang
dimaksud dengan bangunan antara lain perkantoran, pabrik, rumah
susun, dan tempat fasilitas umum yang dihitung berdasarkan
satuan ruang bangunan/unit pengelolanya. Angka baku mutu ABJ
≥ 95%.

Jumlah 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑗𝑒𝑛𝑡𝑖𝑘


ABJ = 𝑥100%
Jumlah seluruh rumah atau bangunan yang diperiksa

Contoh, pengamatan dilakukan terhadap 100 rumah dan


bangunan, 4 rumah dan bangunan di antaranya positif jentik Aedes
spp. Maka ABJ dihitung sebagai berikut.
Diketahui:
- Jumlah seluruh rumah/ bangunan yang diperiksa sebanyak
100 buah.

16
- Jumlah rumah/ bangunan yang potifif jentik 4 Aedes spp.,
berarti rumah/ bangunan yang tidak ditemukan jentik
sebabanyak 96 rumah (100-4).
96
ABJ = 𝑥 100% = 96%
100

Hasil perhitungan tersebut menunjukan ABJ sebesar 96%, sudah


berada di atas angka baku mutu (95%), dengan kata lain di daerah
tersebut dinyatakan relatif aman terhadap potensi penularan
demam berdarah dan chikungunya, karena ABJ sudah di atas
angka baku mutu (95%).

2.2.3. Surveilans Nyamuk Culex


Surveilans nyamuk Culex terdiri atas surveilans kepadatan nyamuk
Culex dan surveilans indeks habitat nyamuk Culex.

2.2.3.1. Kepadatan Nyamuk Culex


Kepadatan nyamuk Culex dianalisis berdasarkan angka Man Hour
Density (MHD_Cx) .MHD_Cx adalah angka nyamuk yang hinggap
per orang per jam, dihitung dengan cara jumlah nyamuk Culex yang
tertangkap dibagi dengan jumlah penangkap (kolektor) dikali
dengan lama penangkapan (jam) dikali dengan waktu
penangkapan (menit). Angka baku mutu MHD Cx adalah < 1.

Jumlah nyamuk 𝐶𝑢𝑙𝑒𝑥 yang tertangkap


MHD_Cx =
Jumlah penangkap x lama penangkapan (dalam jam)𝑥 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝𝑎𝑛 (𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

Contoh, penangkapan nyamuk malam hari dilakukan oleh lima


orang kolektor, dengan metode nyamuk hinggap di badan (human
landing collection) selama 6 jam (jam 18.00-12.00), yang mana
setiap jam menangkap 40 menit, mendapatkan 10 Culex spp. dan
8 Mansonia spp. Maka MHD_Cx dapat dihitung sebagai berikut.
Diketahui:

17
- Jumlah nyamuk Culex spp. yang didapatkan sebanyak 10
- Jumlah penangkap sebanyak 5 orang
- Lama penangkapan 6 jam
- Waktu penangkapan dalam satu jam selama 40 menit (40/60).

10
MHD_Cx = = 0,496
5 x 6 𝑥 40/60

Hasil perhitungan tersebut menunjukan MHD_Cx sebesar 0,496,


sudah di bawah angka baku mutu (1), dengan kata lain di daerah
tersebut sudah relatif aman terhadap penularan Japanese
encephalitis dan filariasis, karena karena MHD_Cx sudah dibawah
angka baku mutu (1).

2.2.3.2. Indeks Habitat Culex


Indeks habitat Culex (IH_Cx) adalah persentase habitat
perkembangbiakan yang positif larva Culex, dihitung dengan cara
jumlah habitat yang positif larva Culex dibagi dengan jumlah
seluruh habitat yang diamati dikalikan dengan 100%. Angka baku
mutu IH_Cx adalah < 5%.

Jumlah habitat yang positif larva 𝐶𝑢𝑙𝑒𝑥


IH_Cx = x 100%
Jumlah seluruh habitat yang diperiksa

Contoh, pengamatan dilakukan terhadap 150 habitat


perkembangbiakan nyamuk Culex, setelah dilakukan pengamatan
didapatkan 16 habitat positif larva Culex. Maka IH_Cx dapat
dihitung sebagai berikut.
Diketahui:
- Jumlah seluruh habitat diamati sebanyak 150 buah
- Jumlah habitat positif larva Culex sebanyak 16 buah

18
16
IH_Cx = 150 x 100% = 10,7%

Hasil perhitungan menunjukkan IH_Cx sebesar 10,7%, masih di


atas angka baku mutu (5%), dengan kata lain di daerah tersebut
masih mepunyai potensi penularan filariasis dan Japanese
encephalitis, karena karena IH_Cx masih diatas angka baku mutu
(5%).

2.2.4. Surveilans Nyamuk Mansonia


Surveilans nyamuk Mansonia dihitung berdasarkan angka Man Hour
Density (MHD_Man). MHD_Man adalah angka nyamuk yang hinggap
per orang per jam, dihitung dengan cara jumlah nyamuk Mansonia
yang tertangkap dibagi dengan jumlah penangkap (kolektor) dikali
dengan lama penangkapan (jam) dikali dengan waktu penangkapan
(menit). Angka baku mutu MHD_Man adalah < 5.

Jumlah nyamuk 𝑀𝑎𝑛𝑠𝑜𝑛𝑖𝑎 yang tertangkap


MHD_Man =
Jumlah penangkap x lama penangkapan (dalam jam)𝑥 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝𝑎𝑛 (𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

Contoh, penangkapan nyamuk malam hari dilakukan oleh lima


orang kolektor, dengan metode nyamuk hinggap di badan (human
landing collection) selama 6 jam (jam 18.00-12.00), yang mana
setiap jam menangkap 40 menit, mendapatkan 10 Culex spp. dan
8 Mansonia spp. Maka MHD_Man dapat dihitung sebagai berikut.
Diketahui:
- Jumlah nyamuk Mansonia yang didapatkan sebanyak
8
- Jumlah penangkap sebanyak 5 orang
- Lama penangkapan 6 jam
- Waktu penangkapan dalam satu jam selama 40 menit
(40/60).

19
8
MHD_Man = = 0,398
5 x 6 𝑥 40/60
Hasil perhitungan tersebut menunjukan MHD_Man sebesar 0,398,
sudah dibawah angka baku mutu (5), dengan kata lain di daerah
tersebut sudah relatif aman terhadap penularan filariasis, karena
karena MHD_Man masih di bawah angka baku mutu (5).

2.2.5. Surveilans Pinjal


Surveilans pinjal terdiri atas surveilans pinjal khusus dan surveilans
pinjal umum.

2.2.5.1. Indeks Pinjal Khusus


Indeks pinjal khusus (IPK) adalah jumlah pinjal Xenopsylla cheopis
yang tertangkap dibagi dengan jumlah tikus yang tertangkap dan
diperiksa. Angka baku mutu IPK adalah < 1.

Jumlah pinjal 𝑋𝑒𝑛𝑜𝑝𝑠𝑦𝑙𝑙𝑎 𝑐ℎ𝑒𝑜𝑝𝑠𝑖𝑠 yang tertangkap


IPK =
Jumlah tikus yang tertangkap dan diperiksa

Contoh, hasil penangkapan tikus mendapatkan 50 tikus, setelah


dilakukan penyisiran didapatkan 40 pinjal Xenopsylla cheopis dan
30 pinjal jenis lainnya. Indeks pinjal Xenopsylla cheopis dihitung
sebagai berikut.
Diketahui:
- Jumlah pinjal Xenopsylla cheopis yang didapatkan sebanyak
40 pinjal
- Jumlah tikus yang diperiksa sebanyak 50 ekor

40
IPK = = 0,8
50

Hasil perhitungan tersebut menunjukan IPK sebesar 0,8, sudah


dibawah angka baku mutu (1), dengan kata lain di daerah tersebut

20
sudah relatif aman terhadap penularan pes dan leptospirosis,
karena karena IPK sudah di bawah angka baku mutu (1).

2.2.5.2. Indeks Pinjal Umum


Indeks pinjal umum (IPU) adalah jumlah seluruh pinjal yang
tertangkap dibagi dengan jumlah tikus yang tertangkap dan
diperiksa. Angka baku mutu IPU adalah < 2.

Jumlah seluruh pinjal yang tertangkap


IPU =
Jumlah tikus yang tertangkap dan diperiksa

Contoh, hasil penangkapan tikus mendapatkan 50 tikus, setelah


dilakukan penyisiran didapatkan 40 pinjal Xenopsylla cheopis dan
30 pinjal jenis lainnya. Indeks pinjal Xenopsylla cheopis dihitung
sebagai berikut.
Diketahui:
- Jumlah seluruh pinjal yang tertangkap sebanyak 70 pinjal
(40+30).
- Jumlah tikus yang diperiksa sebanyak 50 ekor

70
IPU = = 1,4
50

Hasil perhitungan tersebut menunjukan IPU sebesar 1,4, sudah


dibawah angka baku mutu (2), dengan kata lain di daerah tersebut
sudah relatif aman terhadap penularan pes dan leptospirosis,
karena karena IPK sudah di bawah angka baku mutu (2).

2.2.6. Surveilans Lalat


Surveians lalat dianalisis berdasarkan indeks populasi lalat (IPL). IPL
adalah angka rata-rata populasi lalat pada suatu lokasi yang diukur
dengan menggunakan flygrill. Pengukuran dilakukan pada tempat-
tempat populasi lalat tinggi, misalnya tempat penampungan sampah

21
dan dapur. Flygrill diletakan pada 10 titik pengamatan. Indeks populasi
lalat dihitung dengan cara melakukan pengamatan jumlah lalat yang
hinggap pada flygrill selama 30 detik. Dari 10 kali pengamatan diambil
5 (lima) nilai tertinggi, lalu kelima nilai tersebut dirata-ratakan. Angka
baku mutu IPL adalah < 2.
Contoh, pengamatan lalat pada rumah makan, Flygrill diletakkan di
dapur. Pada 30 detik pengamatan pertama, kedua, hingga kesepuluh
didapatkan data sebagai berikut: 2, 2, 4, 3, 2, 0, 1,1, 2, 1. Lima angka
tertinggi adalah 4, 3, 2, 2, 2, yang dirataratakan sehingga
mendapatkan indeks populasi lalat sebesar 2,6.
Hasil perhitungan tersebut menunjukan IPL sebesar 2,6, masih di atas
angka baku mutu (< 2), dengan kata lain di daerah tersebut/ rumah
makan tersebut mempunyai potensi penularan diare dan penyakit
sistem pencernaan lainnya, karena karena IPL masih di atas angka
baku mutu (< 2).

2.2.7. Surveilans Kecoa

Surveilans kecoa dianalisis berdasarkan indeks populasi kecoa


(IPKe). IPKe adalah angka rata-rata populasi kecoa, yang dihitung
berdasarkan jumlah kecoa tertangkap per perangkap per malam
menggunakan perangkap lem (sticky trap). Angka baku mutu IPKe
adalah < 2.

Jumlah kecoa yang tertangkap


IPKe =
Jumlah perangkap

Contoh, penangkapan kecoa menggunakan 4 buah perangkap sticky


trap pada malam hari, dua buah dipasang di dapur dan masingmasing
satu buah dipasang di dua kamar mandi. Hasilnya mendapatkan 6
ekor kecoa. Maka indeks populasi kecoa dihitung sebagai berikut.
Diketahui:

- Jumlah kecoa yang didapat sebanyak 6 ekor.


- Jumlah perangkap sebanyak 4 buah.

22
6
IPKe = = 1,5
4
Hasil perhitungan tersebut menunjukan IPKe sebesar 1,5, masih
dibawah angka baku mutu (< 2), dengan kata lain di daerah tersebut/
rumah makan tersebut relatif aman terhadap penularan diare dan
penyakit sistem pencernaan lainnya, karena karena IPKe sudah
dibawah angka baku mutu (2).

2.2.8. Surveilans Tikus

Surveilans tikus dinalisis berdasarkan angka Success Trap (ST). ST


adalah persentase tikus yang tertangkap oleh perangkap, dihitung
dengan cara jumlah tikus yang didapat dibagi dengan jumlah
perangkap dikalikan 100%. Angka baku mutu ST adalah < 1%.

Jumlah tikus yang didapat


ST = 𝑥 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝
Contoh, pemasangan 50 perangkap tikus yang dilakukan selama 4
hari mendapatkan 5 tikus. Maka success trap dihitung sebagai berikut.
Diketahui :
- Jumlah tikus yang didapatkan 5 ekor.
- Jumlah perangkap yang selama 4 hari sebanyak 50 buah.

5
ST = 𝑥 100% = 10%
50

Hasil perhitungan tersebut menunjukan ST sebesar 10%, di atas


angka baku mutu (< 1%), dengan kata lain di daerah tersebut
mempunyai potensi erhadap penularan penyakit diare dan penyakit
sistem pencernaan lainnya, karena karena ST di atas angka baku
mutu (< 1).

23
2.2.9. Surveilans Keong
Surveilans keong dianalisis berdasarkan Indeks Habitat Keong
Oncomelania hupensis lindoensis (IH_Ke), IH_Ke adalah jumlah
keong Oncomelania hupensis lindoensis dalam 10 meter persegi
habitat, dihitung dengan cara jumlah keong Oncomelania hupensis
lindoensis yang didapat dalam 10 meter persegi. Angka baku mutu
KH_Ke adalah 0.

Jumlah keong 𝑂𝑐𝑜𝑚𝑒𝑙𝑎𝑛𝑖𝑎 ℎ𝑢𝑝𝑒𝑛𝑠𝑖𝑠 𝑙𝑖𝑑𝑜𝑒𝑛𝑠𝑖𝑠 yang didapat


IH_Ke = 𝑥 10
𝑙𝑢𝑎𝑠 ℎ𝑎𝑏𝑖𝑡𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑠𝑢𝑟𝑣𝑒𝑖 (𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚2)

Contoh, survei dilakukan pada 1.000 m2 habitat keong mendapatkan


15 keong Oncomelania hupensis lindoensis. Indeks habitat dihitung
sebagai berikut.
Diketahui:
- Jumlah keong Oncomelania hupensis lindoensis 15 ekor.
- Luas habitat 1.000 meter persegi.

15
IH_Ke = 𝑥 10 = 0,15
1.000

Hasil perhitungan tersebut menunjukan IH_Ke sebesar 1,5, di atas


angka baku mutu (0), dengan kata lain di daerah tersebut mempunyai
potensi erhadap penularan Schistosomiasis, karena karena IH_Ke di
atas angka baku mutu (0).

24
BAB III

PELAKSANAAN SURVEILANS VEKTOR DAN BINATANG PEMBAWA


PENYAKIT BERBASIS WEBSITE DAN ANDROID

Secara garis besar sistem surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit
meliputi input data vektor dan binatang pembawa penyakit berasal dari
Puskesmas, B/BTKLPP dan KKP, selajutnya data dianalsis dan dipetakan di
tingkat Puskesmas dan wilayah kerja B/BTKLPP dan KKP. Data dari semua
Puskesmas, B/BTKLPP dan KKP masuk ke Dinkes Kabupaten/ Kota untuk
dianalisis dan dipetakan pada tingkat kabupaten/ kota. Selanjutnya data semua
Puskesmas, B/BTKLPP, KKP dan Dinkes Kabupaten/ Kota masuk ke Dinkes
Provinsi untuk dianalisis dan dipetakan pada tingkat provinsi. Pada akhirnya
semua data Puskesmas, B/BTKLPP, KKP, kabupaten/ kota dan provinsi masuk
ke Kementerian Kesehatan (Direktorat P2PTVZ) untuk dianalisis dan dipetakan
pada tingkat nasional (Gambar 3.1).

Gambar 3.1
Sistem Surveilans Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit di
Indonesia

25
3.1. Surveilans Vektor di Pukesmas
3.1.1. Input Data Vektor di Puskesmas
Input data tingkat Puskesmas adalah data hasil surveilans vektor petugas
Pukesmas. Puskesmas melakukan surveilans secara rutin, sebulan
sekali, berupa surveilans kepadatan jentik (ABJ) Aedes dan/ atau
surveilans kepadatan jentik Anopheles.
Input data kepadatan jentik Aedes meliputi :
1. Jumlah rumah/ bangunan yang diamati
2. Jumlah rumah/ bangunan yang positif jentik Aedes

Input data indeks habitat Anopheles meliputi :


1. Jumlah habitat yang diamati
2. Jumlah habitat yang positif jentik/ larva Anopheles

3.1.2. Analisis Data Vektor di Puskesmas


Analisis data hasil surveilans vektor di Puskesmas, analisis data
kepadatan jentik Aedes dan analisis data kepadatan jentik Anopheles.

Analisis data kepadatan jentik Aedes berdasarkan angka bebas jentik


(ABJ). ABJ adalah persentase rumah atau bangunan yang bebas jentik,
dihitung dengan cara jumlah rumah atau bangunan yang tidak ditemukan
jentik dibagi dengan jumlah seluruh rumah atau bangunan yang diperiksa
dikali 100%. Yang dimaksud dengan bangunan antara lain perkantoran,
pabrik, rumah susun, dan tempat fasilitas umum yang dihitung
berdasarkan satuan ruang bangunan/unit pengelolanya. Angka baku mutu
ABJ ≥ 95%.

Jumlah 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑗𝑒𝑛𝑡𝑖𝑘


ABJ = 𝑥100%
Jumlah seluruh rumah atau bangunan yang diperiksa

Perhitungan ABJ dilakukan secara otomatif menggunakan sistem yang


ada di soft ware. Hasil perhitungan ABJ di lapangan dibandingkan dengan
angka baku mutu ABJ sebesar ≥ 95%. Apabila ABJ lapangan lebih besar
dari ABJ baku mutu maka kondisi lingkungan relatif aman terhadap

26
penularan penyakit. Sebaliknya, apabila ABJ lapangan lebih kecil dari ABJ
baku mutu berarti kondisi lingkungan mempunyai potensi untuk
penyebaran penyakit tular vektor demam berdarah dan demam
chikungunya.

Analisis data kepadatan jentik Anopheles berdasarkan Indeks habitat


Anopheles (IH_An). IH_An adalah persentase habitat perkembangbiakan
yang positif larva Anopheles, dihitung dengan cara jumlah habitat yang
positif larva Anopheles dibagi dengan jumlah seluruh habitat yang diamati
dikalikan dengan 100%. Angka baku mutu IH_An adalah < 1%.

Jumlah habitat yang positif larva 𝐴𝑛𝑜𝑝ℎ𝑒𝑙𝑒𝑠


IH_An = x 100%
Jumlah seluruh habitat yang diperiksa

Perhitungan IH_An dilakukan secara otomatif menggunakan sistem yang


ada di soft ware. Hasil perhitungan IH_An di lapangan dibandingkan
dengan angka baku mutu IH_An yaitu < 1%. Apabila IH_An lapangan lebih
besar dari IH_An baku mutu maka kondisi lingkungan mempunyai potensi
penular malaria. Sebaliknya, apabila IH_An lapangan lebih kecil dari
IH_An baku mutu berarti kondisi lingkungan relatif aman terhadap
penularan malaria.

3.1.3. Output Data Vektor di Puskesmas


Output data vektor tingkat Puskesmas dapat dicetak/ prin out dari
software, berupa angka ABJ dan/ atau indeks habitat. Hasilnya dapat
menjadi dasar diskusi dalam pengambilan keputusan di tingkat
Puskesmas/ Kecamatan.

3.2. Surveilans Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit di B/BTKLPP dan


KKP
3.2.1. Input Data di B/BTKLPP dan KKP
Input data hasil surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit yang
dilakukan oleh B/BTKLPP dan KKP, dapat berisikan input data kepadatan

27
nyamuk Anopheles, input data kepadatan jentik Anopheles, input data
kepadatan nyamuk Aedes, input data kepadatan jentik Aedes, input data
kepadatan nyamuk Culex, input data kepadatan jentik Culex, input data
kepadatan nyamuk Mansonia, input data kepadatan pinjal, input data
kepadatan lalat, input data kepadatan kecoa, data input kepadatan tikus
dan input data kepadatan keong Oncomelania.

Input data kepadatan nyamuk Anopheles terdiri dari :


1. Jumlah nyamuk Anopheles (spesies tertentu yang tertangkap)
2. Jumlah penangkap
3. Lama penangkapan (dalam jam)

Input data kepadatan jentik Anopheles terdiri dari :

1. Jumlah habitat yang diamati


2. Jumlah habitat yang positif jentik Anopheles

Input data kepadatan nyamuk Aedes terdiri dari :

1. Jumlah nyamuk Aedes yang tertangkap


2. Jumlah penangkap
3. Lama jam penangkapan
4. Lama waktu penangkapan pada setiap jam nya

Input kepadatan jetik Aedes terdiri dari :

1. Jumlah rumah/ bangunan yang diamati


2. Jumlah rumah/ bangunan yang positif jentik Aedes

Input kepadatan nyamuk Culex terdiri dari :

1. Jumlah nyamuk Culex yang tertangkap


2. Jumlah penangkap
3. Lama jam penangkapan
4. Lama waktu penangkapan pada setiap jam nya

Input kepadatan jentik Culex terdiri dari :

28
1. Jumlah habitat yang diamati
2. Jumlah habitat yang positif jentik Culex

Input kepadatan nyamuk Mansonia terdiri dari :

1. Jumlah nyamuk Mansonia yang tertangkap


2. Jumlah penangkap
3. Lama jam penangkapan
4. Lama waktu penangkapan pada setiap jam nya

Input kepadatan pinjal terdiri dari :

1. Jumlah pinjal Xenopsylla cheopis yang tertangkap


2. Jumlah seluruh pinjal yang tertangkap
3. Jumlah tikus yang tertangkap dan diperiksa

Input kepadatan lalat terdiri dari :

1. Jumlah lalat yang tertangkap


2. Jumlah flygrill yang digunakan

Input kepadatan kecoa terdiri dari :

1. Jumlah kecoa yang tertangkap


2. Jumlah perangkap sticky trap yang digunakan

Input kepadatan tikus terdiri dari :

1. Jumlah tikus yang tertangkap


2. Jumlah perangkap yang digunakan

Input kepadatan keong terdiri dari :

1. Jumlah keong Oncomelania hupensis lindoensis yang tertangkap


2. Luas habitat yang disurvei

29
3.2.2. Analisis Data di B/BTKLPP dan KKP

Analisis data kepadatan nyamuk Anopheles dianalisis berdasarkan angka


man bitting rate (MBR). MBR adalah angka gigitan nyamuk per orang per
malam, dihitung dengan cara jumlah nyamuk (spesies tertentu) yang
tertangkap dalam satu malam (12 jam) dibagi dengan jumlah penangkap
(kolektor) dikali dengan waktu (jam) penangkapan.

Angka baku mutu MBR adalah < 0,025, apabila MBR lapangan lebih besar
dari 0,025 maka lingkungan tersebut masih mepunyai potensi penularan
malaria. Sebaliknya apabila MBR lapangan lebih kecil dari 0,025 maka
wilayah tersebut relatif aman dari penularan malaria.

Jumlah nyamuk 𝐴𝑛𝑜𝑝ℎ𝑒𝑙𝑒𝑠 yang tertangkap (spesies tertentu)


MBR =
Jumlah penangkap x waktu penangkapan (dalam jam)

Analisis kepadatan jentik Anopheles berdasarkan indeks habitat


Anopheles (IH_An). IH_An adalah persentase habitat perkembangbiakan
yang positif larva Anopheles, dihitung dengan cara jumlah habitat yang
positif larva Anopheles dibagi dengan jumlah seluruh habitat yang diamati
dikalikan dengan 100%.

Angka baku mutu IH_An adalah < 1%, apabila IH_An lapangan lebih besar
dari 1% maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi penularan
malaria. Sebaliknya apabila IH_An lapangan lebih kecil dari 1% maka
lingkungan tersebut relatif aman terhadap penularan malaria.

Jumlah habitat yang positif larva 𝐴𝑛𝑜𝑝ℎ𝑒𝑙𝑒𝑠


IH_An = x 100%
Jumlah seluruh habitat yang diperiksa

Kepadatan nyamuk Aedes dianalisis berdasarkan angka istirahat (resting


rate/RR) adalah angka kepadatan nyamuk istirahat (resting) per jam,
dihitung dengan cara jumlah nyamuk Aedes spp. yang tertangkap dalam

30
satu hari (12 jam) dibagi dengan jumlah penangkap (kolektor) dikali lama
penangkapan (jam) dikali dengan waktu penangkapan (menit) dalam tiap
jamnya.

Angka baku mutu RR adalah < 0,025, apabila angka RR lapangan lebih
besar dari 0,025 maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi
penularan demam berdarah dan demam chikungunya. Sebaliknya apabila
angka RR lapangan lebih kecil dari 0,025 maka lingkungan tersebut relatif
aman terhadap penularan demam berdarah dan chikungunya.

Jumlah nyamuk 𝐴𝑒𝑑𝑒𝑠 𝑠𝑝𝑝. yang tertangkap


RR =
Jumlah penangkap x lama penangkapan (dalam jam)𝑥 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝𝑎𝑛 (𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

Kepadatan jentik Aedes dianalisis berdasarkan angka bebas jentik (ABJ).


ABJ adalah persentase rumah atau bangunan yang bebas jentik, dihitung
dengan cara jumlah rumah atau bangunan yang tidak ditemukan jentik
dibagi dengan jumlah seluruh rumah atau bangunan yang diperiksa dikali
100%. Yang dimaksud dengan bangunan antara lain perkantoran, pabrik,
rumah susun, dan tempat fasilitas umum yang dihitung berdasarkan
satuan ruang bangunan/unit pengelolanya.

Angka baku mutu ABJ ≥ 95%, apabila ABJ lapangan lebih kecil dari 95%
maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi penularan demam
berdarah dan demam chikungunya. Sebaliknya apabila ABJ lapangan
lebih besar dari 95% maka lingkungan tersebut relatif aman terhadap
penularan demam berdarah dan chikungunya.

Jumlah 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑗𝑒𝑛𝑡𝑖𝑘


ABJ = 𝑥 100%
Jumlah seluruh rumah atau bangunan yang diperiksa

Analisis kepadatan nyamuk Culex berdasarkan angka Man Hour Density


(MHD_Cx). MHD_Cx adalah angka nyamuk yang hinggap per orang per
jam, dihitung dengan cara jumlah nyamuk Culex yang tertangkap dibagi

31
dengan jumlah penangkap (kolektor) dikali dengan lama penangkapan
(jam) dikali dengan waktu penangkapan (menit).
Angka baku mutu MHD_Cx adalah < 1, apabila MHD_Cx lapangan lebih
besar dari 1 maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi
penularan filariasis dan Japanese encephalitis. Sebaliknya apabila
MHD_Cx lapangan lebih kecil dari 1 maka lingkungan tersebut relatif aman
terhadap penularan filariasis dan Japanese encephalitis.

Jumlah nyamuk 𝐶𝑢𝑙𝑒𝑥 yang tertangkap


MHD_Cx =
Jumlah penangkap x lama penangkapan (dalam jam)𝑥 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝𝑎𝑛 (𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

Analisis kepadatan jentik Culex berdassarkan indeks habitat Culex


(IH_Cx). IH_Cx adalah persentase habitat perkembangbiakan yang positif
larva Culex, dihitung dengan cara jumlah habitat yang positif larva Culex
dibagi dengan jumlah seluruh habitat yang diamati dikalikan dengan
100%.
Angka baku mutu IH_Cx adalah < 5%, apabila IH_Cx lapangan lebih
besar dari 5% maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi
penularan filariasis dan Japanese encephalitis. Sebaliknya apabila IH_Cx
lapangan lebih kecil dari 5% maka lingkungan tersebut relatif aman
terhadap penularan filariasis dan Japanese encephalitis.

Jumlah habitat yang positif larva 𝐶𝑢𝑙𝑒𝑥


IH_Cx = 𝑥 100%
Jumlah seluruh habitat yang diperiksa

Analisis kepadatan nyamuk Mansonia berdasarkan angka Man Hour


Density (MHD_Man). MHD_Man adalah angka nyamuk yang hinggap per
orang per jam, dihitung dengan cara jumlah nyamuk Mansonia yang
tertangkap dibagi dengan jumlah penangkap (kolektor) dikali dengan lama
penangkapan (jam) dikali dengan waktu penangkapan (menit).
Angka baku mutu MHD_Man adalah < 5, apabila MHD_Man lapangan
lebih besar dari 5 maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi

32
penularan filariasis. Sebaliknya apabila MHD_Man lapangan lebih kecil
dari 5 maka lingkungan tersebut relatif aman terhadap penularan filariasis.

Jumlah nyamuk 𝑀𝑎𝑛𝑠𝑜𝑛𝑖𝑎 yang tertangkap


MHD_Man =
Jumlah penangkap x lama penangkapan (dalam jam)𝑥 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝𝑎𝑛 (𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡)

Analisid kepadatan pinjal dihitung berdasarkan Indeks pinjal khusus (IPK)


adalah jumlah pinjal Xenopsylla cheopis yang tertangkap dibagi dengan
jumlah tikus yang tertangkap dan diperiksa dan Indeks pinjal umum (IPU)
adalah jumlah seluruh pinjal yang tertangkap dibagi dengan jumlah tikus
yang tertangkap dan diperiksa.
Angka baku mutu IPK adalah < 1 dan IPU adalah < 2, apabila IPK
lapangan lebih besar dari 1 dan/ atau IPU lapangan lebih besar dari 2
maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi penularan penyakit
pes. Sebaliknya apabila IPK lapangan lebih kecil dari 1 dan/ atau IPU lebih
kecil dari 2 maka lingkungan tersebut relatif aman terhadap penularan
penyakit pes.

Jumlah pinjal 𝑋𝑒𝑛𝑜𝑝𝑠𝑦𝑙𝑙𝑎 𝑐ℎ𝑒𝑜𝑝𝑠𝑖𝑠 yang tertangkap


IPK =
Jumlah tikus yang tertangkap dan diperiksa

Jumlah seluruh pinjal yang tertangkap


IPU =
Jumlah tikus yang tertangkap dan diperiksa

Analisis kepadatan lalat berdasarkan indeks populasi lalat (IPL). IPL


adalah angka rata-rata populasi lalat pada suatu lokasi yang diukur
dengan menggunakan flygrill. Pengukuran dilakukan pada tempat-tempat
populasi lalat tinggi, misalnya tempat penampungan sampah dan dapur.
Flygrill diletakan pada 10 titik pengamatan. Indeks populasi lalat dihitung
dengan cara melakukan pengamatan jumlah lalat yang hinggap pada
flygrill selama 30 detik. Dari 10 kali pengamatan diambil 5 (lima) nilai
tertinggi, lalu kelima nilai tersebut dirata-ratakan.
Angka baku mutu IPL adalah < 2, apabila IPL lapangan lebih besar dari 2
maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi penularan penyakit

33
saluran pencernaan. Sebaliknya apabila IPL lapangan lebih kecil dari 2
maka lingkungan tersebut relatif aman terhadap penularan penyakit
saluran pencernaan yang disebabkan oleh lalat.

Analisis kepadatan kecoa berdasarkan indeks populasi kecoa (IPKe).


IPKe adalah angka rata-rata populasi kecoa, yang dihitung berdasarkan
jumlah kecoa tertangkap per perangkap per malam menggunakan
perangkap lem (sticky trap).

Angka baku mutu IPKe adalah < 2, apabila IPKe lapangan lebih besar dari
2 maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi penularan
penyakit saluran pencernaan. Sebaliknya apabila IPKe lapangan lebih
kecil dari 2 maka lingkungan tersebut relatif aman terhadap penularan
penyakit saluran pencernaan yang disebabkan oleh kecoa.
Jumlah kecoa yang tertangkap
IPKe =
Jumlah perangkap

Analisis kepadatan tikus berdasarkan Success Trap (ST). ST adalah


persentase tikus yang tertangkap oleh perangkap, dihitung dengan cara
jumlah tikus yang didapat dibagi dengan jumlah perangkap dikalikan
100%.

Angka baku mutu ST adalah < 1%, apabila ST lapangan lebih besar dari
1% maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi penularan
leptospirosis dan pes. Sebaliknya apabila ST lapangan lebih kecil dari 1%
maka lingkungan tersebut relatif aman terhadap penularan leptospirosis
dan pes.
Jumlah tikus yang didapat
ST = 𝑥 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝
Analisis kepadatan keong berdasarkan Indeks Habitat Keong
Oncomelania hupensis lindoensis (IH_Ke). IH_Ke adalah jumlah keong
Oncomelania hupensis lindoensis dalam 10 meter persegi habitat, dihitung
dengan cara jumlah keong Oncomelania hupensis lindoensis yang didapat
dalam 10 meter persegi.

34
Angka baku mutu IH_Ke adalah 0, apabila IH_Ke lapangan lebih besar
dari 0 maka kondisi lingkungan tersebut mempunyai potensi penularan
Scistosomiasis. Sebaliknya apabila IH_KE lapangan 0 maka lingkungan
tersebut relatif aman terhadap penularan Scistosomiasis.

Jumlah keong 𝑂𝑐𝑜𝑚𝑒𝑙𝑎𝑛𝑖𝑎 ℎ𝑢𝑝𝑒𝑛𝑠𝑖𝑠 𝑙𝑖𝑑𝑜𝑒𝑛𝑠𝑖𝑠 yang didapat


IH_Ke = 𝑥 10
𝑙𝑢𝑎𝑠 ℎ𝑎𝑏𝑖𝑡𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑠𝑢𝑟𝑣𝑒𝑖 (𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚2)

3.2.3. Output data di B/BTKLPP dan KKP


Output data vektor dan binatang pembawa penyakit di wilayah kerja
B/BTKLPP dan KKP dapat dicetak/ prin out dari software. Hasilnya dapat
menjadi dasar diskusi dalam pengambilan keputusan di wilayah kerja
B/BTKLPP dan KKP, dalam rangka pengendalian vektor dan
pengendalian penyakit tular vektor.

3.3. Analisis dan Pengambilan Kebijakan di Tingkat Kabupaten/ Kota


Hasil input data vektor dan binatang pembawa penyakit di Puskesmas,
B/BTKLPP dan KKP dapat dapat dianalisis pada skala kabupaten/ kota
dalam rangka pengambilan kebijakan di tingkat kabupaten/ kota. Output
hasil analisis dapat dicetak/ prin out melalui software. Pengendalian vektor
dan binatang perlu dilakukan apabila hasil analisis dan output data di
lapangan menunjukkan nilai melebihi standar baku yang ada.

3.4. Analisis dan Pengambilan Kebijakan di Tingkat Provinsi


Hasil input data vektor dan binatang pembawa penyakit di Puskesmas,
B/BTKLPP dan KKP dapat dapat dianalisis pada skala provinsi dalam
rangka pengambilan kebijakan di tingkat provinsi. Output hasil analisis
dapat dicetak/ prin out melalui software. Pengendalian vektor dan
binatang perlu dilakukan apabila hasil analisis dan output data di lapangan
menunjukkan nilai melebihi standar baku yang ada.

35
3.5. Analisis dan Pengambilan Kebijakan di Tingkat Nasional
Hasil input data vektor dan binatang pembawa penyakit di Puskesmas,
B/BTKLPP dan KKP dapat dapat dianalisis pada skala nasional dalam
rangka pengambilan kebijakan di tingkat nasional. Output hasil analisis
dapat dicetak/ prin out melalui software. Pengendalian vektor dan
binatang perlu dilakukan apabila hasil analisis dan output di lapangan
menunjukkan nilai melebihi standar baku yang ada. Analisis data dan
pengendalian di tingkat nasional berdasarkan pertimbangan Komisi Ahli
Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit.

36
BAB IV

MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit dilaksanakan


secara berkala untuk mendapatkan informasi atau mengukur indikator kinerja
kegiatan. Monitoring dilaksanakan sebagai bagian dalam pelaksanaan surveilans
yang sedang berjalan. Disamping itu monitoring akan mengawal agar tahapan
pencapaian tujuan kegiatan sesuai target yang telah ditetapkan. Bila dalam
pelaksanaan monitoring ditemukan hal yang tidak sesuai rencana, maka dapat
dilakukan koreksi dan perbaikan pada waktu yang tepat. Evaluasi dilaksanakan
untuk mengukur hasil dari surveilans vektor dan binatang pembawa penyakit
yang telah dilaksanakan dalam perode waktu tertentu. Disebabkan banyaknya
aspek yang berpengaruh dalam pencapaian suatu hasil, maka evaluasi objektif
harus dapat digambarkan dalam menilai suatu pencapaian program. Peran dan
kontribusi surveilans terhadap suatu perubahan dan hasil program kesehatan
harus dapat dinilai dan digambarkan dalam proses evaluasi.

37
KEPUSTAKAAN

Kementerian Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 50 tahun 2017


tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan
Kesehatan untuk Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit dan
Pengendaliannya.
Kementerian Kesehatan. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 64 tahun
2015 tentang Orgaisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.
Kementerian Kesehatan. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 45 tahun
2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan.
Kementerian Kesehatan. 2014. Peraturan Pemerintah nomor 66 tahun 2014
tentang Kesehatan Lingkungan.
Subdit Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit. Hasil Survei Vektor di Jawa dan
Kalimantan Tahun 2017.

38

Anda mungkin juga menyukai