TUGAS SEJARAH INDONESIA
PERKEMBANGAN KOLONIALISME DAN
IMPERIALISME DI EROPA
KELOMPOK 1:
Gladys Shafa Maudina (11)
Marthadita Nisa Ariella (14)
Muhammad Lukman Hakim (16)
Nabila Velda V.J.S. (17)
R.Alvaro Pardhana (23)
Syaifullah Amin (32)
SMA NEGERI 3 SEMARANG
I. PENDAHULUAN
Kolonialisme dan imperialisme ditumbuhkembangkan bangsa-bangsa Eropa di seluruh
dunia, termasuk di Nusantara. Sejak terjadinya Perang Salib dan jatuhnya konstantinopel ke
tangan Turki Usmani (Turki Ottoman) pada tahun 1453 yang mengakibatkan ditutupnya jalur
perdagangan Asia - Eropa lewat laut tengah, bangsa Eropa setelah mencapai kemajuan
dibidang teknologi terutama teknologi pelayaran, mulai mencari dan membuka jalur
perdagangan baru. Negara-negara Eropa yang memiliki andil dalam membentuk dan
mengembangkan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia adalah Portugis, Belanda,
Prancis dan Inggris.Meskipun dalam masa Kolonialisme dan imperialisme barat di
Indonesia menimbulkan banyak penderitaan pada indonesia, namun juga memberikan
dampak positif pada Bidang politik, Bidang ekonomi, Bidang social, Bidang budaya. Juga
menumbuhkan rasa juang yang tinggi sehingga menciptakan pahlawan-pahlawan yang kini
kita kenal
II. PERMASALAHAN
1. Bagaimana Latar belakang kedatangan bangsa barat/Eropa ke Indeonesia?
2. Apa pengaruh Kolonialisme dan Imperialisme pada Indonesia?
3. Bagaimana perebutan politik hegemoni bangsa Eropa?
4. Apa strategi perlawanan bangsa Eropa?
III. PEMECAHAN MASALAH
Kolonialisme dan imperialisme ditumbuhkembangkan bangsa-bangsa Eropa di seluruh
dunia, termasuk di Nusantara. Sejak terjadinya Perang Salib dan jatuhnya konstantinopel ke
tangan Turki Usmani (Turki Ottoman) pada tahun 1453 yang mengakibatkan ditutupnya jalur
perdagangan Asia - Eropa lewat laut tengah, bangsa Eropa setelah mencapai kemajuan
dibidang teknologi terutama teknologi pelayaran, mulai mencari dan membuka jalur
perdagangan baru. Negara-negara Eropa yang memiliki andil dalam membentuk dan
mengembangkan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia adalah Portugis, Belanda,
Prancis dan Inggris.
Meskipun dalam masa Kolonialisme dan imperialisme barat di Indonesia menimbulkan
banyak penderitaan pada indonesia, namun juga memberikan dampak positif pada Bidang
politik, Bidang ekonomi, Bidang social, Bidang budaya. Juga menumbuhkan rasa juang yang
tinggi sehingga menciptakan pahlawan-pahlawan yang kini kita kenal
Faktor Pendorong:
Adanya semangat penaklukan (reconquista) terhadap orang - orang yang beragama
islam.
Jatuhnya Kontantinople, ibu kota Imperium ke tangan Dinasti Usmani Turki.
Adanya keinginan mengetahui lebih jauh mengenai rahasia alam semesta, keadaan
geografi, dan bangsa - bangsa yang tinggal di belahan bumi lain.
Adanya keinginan untuk mendapatkan rempah - rempah.
Kisah penjelajahan Marcopolo ( 1254-1324), seorang pedagang dari Venesia, Italia ke
Cina yang dituang dalam buku Book of Various Experience.
Ingin memperoleh keuntungan / kekayaan yang sebanyak - banyaknya.
Adanya teori Copernicus dan Galileo Galilei.
Ambisi 3G ( Gold, Glory dan Gospel ).
Kolonialisme dan Imperialisme juga disebabkan oleh para bangsa Eropa yang melakukan
penjelajahan diantaranya bangsa Portugis,
Inggris, Perancis, Belanda dan Spanyol yang
pernah menjajah di Indonesia. Berikut tokoh
- tokoh penjelajahan bangsa Eropa.
Bangsa-bangsa barat melalui
penjlajahan samudra, berhasil mencapai
Indonesia. Bangsa apa sajakah yang berhasil
mendarat di Indonesia ? Bangsas barat yang
berhasil mendarat di indonesia antara lain
bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Kedatangan bangsa-bangsa eropa di
indonesia pada awalnya melalui persekutuan dagan. Persekutuan dagang bangsa eropa
berusaha menguasai pedagangan rempah-rempah di Indonesia melalui praktik monpoli.
1. Bangsa Portugis
Melalui penjelajahan samudra, bangsa Portugis berhasil mencapai India (Calcuta) tahun
1498 dann berhasil mendirikan kantor dagangnya di Goa (1509). Tahun 1551, Portugis
berhasil menguasai malaka, selanjutnya Portugis mengadakan hubungan dagang dengan
Maluku yang merupakan daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia.
Tahun 1512, Alfonso de Albuquerque mengurumkan beberapa buah kapal ke Maluku.
Awalnya masyarakat Maluku menyambut baik dan saling berebut menanamkan pangaruh
kepada Portugis agar dapat membeli rempah-rempah dan membantu masyarakat Maluku
menghadapi musuh-musuhnya.
Pada saat itu, kesultanan Ternate di Maluku diperintah oleh Kaicil Darus. Sultan ternate
itu meminta bantuan Portugis untuk mendirikan benteng di Ternate dengan tujuan agar
ternate terhindar dari kemungkinan serangan dari daerah lain. Tahun 1522 Portugis
mengabulkan pemintaan Sultan Ternate dengan mendirikan benteng Saint jhon. Pendirian
benteng tersebut ternyata harus dibayar mahal oleh Ternate karena Portugis menuntut
imbalan berupa hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Ternate. Sultan ternate
terpaksa harus menandatangani perjanjian monopoli pendagangan dengan Portugis.
Perjanjian monopoli pendagangan rempah-rempah tersebut ternyata menimbulkan
kesengsaraan. Rakyat tidak dapat menjual rempah-rmpah secara bebas, rakyat ternate harus
menjual rempah-rempah kepada Portugis. Hal itu merugikan rayat
Oleh karena itu tejadi permusuhan antara rakyat ternate dan Portugis. Selain
mengadakan monopoli pendagangan rempah-rempah di maluku, portugis juga aktif
menyebarkan agama katolik dengan tokohnya Franciscus Xaverius.
2. Bangsa Spanyol
Tahun 1521 bangsa spanyol berhasil untuk pertama kali mendara di Tidore (Maluku)
kemundian siggah di Bacan dan Jailolo. Mereka tergabung dlam ekspedisi megelhaens-del
cano. Kedatangan bangsa spanyol di sambut baik oleh masyarakat setepat karena pada saat
itu rakyat Maluku sedang bersengketa dengan Portugis.
Kedadatang spanyol di Maluku merupakan
keberhasilan bangsa spanyol dalam mencapai
daerah yang di idam-idamkan, yaitu daerah
penghasil rempah-rempah. Orang-oran g
spanyol senang berdagan di malukusehingga
jumlahnya semakin banyak. Bagi portugis
kehadiran spanyol merupakan pelanggaran atas
hak monopolinya. Akibatnya timbul persaingan
antara Portugis dan Spanyol. Persaingan tersebut sejalan dengan pertentangan antara sultan
Ternate dan Sultan tidore. Sultan ternate bersekutu dengan portugis, sendangkan sultan tidore
bersekutu dengan Spanyol. Puncaknya Portugis dan Spanyol menempuh jalan perundingan
yang di laksanakan di Saragosa (Spanyol) tahun 1529.
Perundigan itu menghasilkan kesepakatan yang disebut dengan Pejanjian Saragosa yang
berisi :
1. Spanyol harus meninggalkan maluku dan melakukan perdagangan di Filipina
2. Portugis tetap melakukan kegiatan perdagangan di Kep Maluku.
Dengan perjanjian teresebut, Spanyol segera melinggalkan Maluku, bangsa portugis
berusaha keras menguasai pedangangan rempah-rempah di Maluku dengan praktik monopoli
3. Bangsa Belanda
Sebelum datang ke Indonesia untuk membeli
rempah-rempah, para pedagang Belanda membeli
rempah-rempah hasil kekayaan alam indonesia di
Lisabon (ibukota Portugis) Pada masa itu, Belanda masih dalam penjajahan Spanyol. Tahun
1585 Belanda tidak lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon karena Portugis di kuasai
oleh bangsa Spanyol. Putusnya pendagangan rempah-rempah dari Lisabon karena Portugis di
kuasai oleh bangsa Spanyol banyak menderita kerugian, Sejak saat itu bangsa Belanda meulai
mengadakan penjelajahan samudra untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah, yaitu
Indonesia. Bulan April 1595 Belanda memulai pelayaranya menuju nusantara dengan empat
buah kapal dibawah pimpinan Cornelis de houtman dan De Keyzer, Pelayaran bangsa
Belanda ke Indonesia melaui jalur palayaran Portugis, Pelayaran de houtman memasuki
wilayah Nusantara melalui selat sunda.
4. Inggris
Pada tahun 1580 terjadi permusuhan antara Portugis-Spanyol dengan Belanda-Inggris.
Pada tahun 1600 para pelaut dagang Inggris tiba di India dan mendirikan persekutuan dagang
yang disebut dengan East Indische Compagnie ( EIC )
Pengaruh Impetialisme dan Kolonialisme terhadap bangsa Indonesia
1. Di bidang politik :
Pamong praja yang dulu berdasarkan garis keturunan diubah menjadi sistem
kepegawaian
Jawa menjadi pusat pemerintahan dan membaginya menjadi wilayah perfektuf
Hukum yang dulu menggunakan hukum adat diubah menggunakan sistem hukum
barat modern
Kebijakan yang diambil raja dicampuri Belanda
2. Di bidang sosial :
Pembentukan status sosial dimana yang tertingi adalah Eropa lalu Asia dan Timur
Jauh yang terakhir kaum Pribumi
Struktur penguasa lokal lenyap
3. Di bidang ekonomi :
Belanda membuka tambang minyak bumi di Tarakan Kaltim
Belanda membangun rel kereta api untuk memperlancar arus perdagagngan
Liberialisme ekonomi
4. Di bidang budaya :
Westernisasi menyebar lewat jalur pendidikan dan pemerintahan
Birokrat menggunakan bahasa belanda sebagai simbol status mereka
Masuknya agama katholik dan protestan
5. Perkembangan pendidikan
Sebelum masuknya kolonialisme Barat ke Indonesia, sistem pendidikan Indonesia masih
bersifat tradisional yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir kalangan elite tertentu dalam
masyarakat. Pusat-pusat pendidikan juga sangat terbatas, hanya di lingkungan keraton dan
tempat-tempat penyebaran agama, misalnya pondok pesantren.Penerapan kebijakan politik
etis pada paruh kedua abad ke-19 mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk
memberikan perhatian dalam bidang pendidikan. Pendirian sekolah untuk kaum pribumi pada
awalnya dimaksudkan untuk mendidik calon-calon birokrat pemerintah dari bangsa Indonesia
sendiri.
Jenjang pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan, yaitu:
a. Tingkat Rendah (Sekolah Rakyat setingkat Sekolah Dasar), yang diperbolehkan
masuk sekolah rakyat minimal berasal dari anak kepala desa
b. Sekolah Menengah
Sekolah Menengah Pertama/ Meer Uitgebreid Lagere School Onderwijs (MULO), sama
dengan SMP
Sekolah Menengah Atas/ Algemeen Metddelbare School (AMS) sama dengan SMA
Hoogere Burger School (HBS) adalah sekolah yang menyatukan MULO dan AMS
c. Tingkat Pendidikan Tinggi
Sekolah Teknik Tinggi Bandung (STB)/ Technische Hoogere School (THS)
Sekolah Kedokteran/ School tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta
Sekolah Tinggi Hukum/ Rechts Hoogere School (RHS) di Batavia (Jakarta)
Anak-anak Indonesia yang diperbolehkan menuntut pendidikan tinggi akhirnya
tampil sebagai pelopor dan pemimpin pergerakan nasionak Indonesia yang ditandai dengan
berdirinya Budi Utomo sebagai organisasi pergerakan nasional
6. Bidang ideologi dan agama
Dalam bidang agama, pemerintah kolonial sangat membatasi kegiatan keagamaan.
Kepentingan masyarakat muslim Indonesia untuk menunaikan ibadah haji sangat dibatasi
karena dianggap sebagai cikal bakal munculnya tokoh-tokoh muslim yang radikal.
Snouck Hurgronje menyatakan bahwa Islam di Indonesia dibagi menjadi dua yaitu Islam
politik dan Islam religius. Menurut Snouck Hurgronje pemerintah Belanda harus mengubah
arah kebijakannya dan bersikap netral terhadap kehidupan keagamaan dan memberikan
kesempatan yang cukup bagi kepentingan rohani bangsa Indonesia.
Perebutan politik hegemoni bangsa Eropa:
Hegemoni berasal bahasa Yunani, egemonia yang berarti penguasa atau pemimpin.
Secara ringkas, pengertian hegemoni adalah bentuk penguasaan terhadap kelompok tertentu
dengan menggunakan kepemimpinan intelektual dan moral secara konsensus. Artinya,
kelompok-kelompok yang terhegemoni menyepakati nilai-nilai ideologis penguasa
Nah bagaimana perebutan politik hegemoni bangsa Eropa?
1. Perlawanan terhadap Bangsa Portugis di Maluku
Pada akhir 1512 Albuquerque mengirim ekspedisi ke daerah Maluku dan
seanteronya,antara lain ke kepulauan Aru, Ambon, dan Banda.Ekspedisi kedua menuju
Ternate dan Tidore, dimana orang-orang Portugis diterima oleh para sultan dengan
ramah.Ekspedisi ketiga baru dilakukan pada tahun 1518.Diantara kerajaan-kerajaan di
Maluku yang menonjol ialah Ternate, Tidore, Jilolo, dan Bacan.Bangsa spanyol diterima
dengan baiak oleh Sultan Almansur, terutama karena merasa dikemudiankan oleh Portugis
yang terlebih dulu singgah di Ternate.Kehadiran bangsa spanyol di Tidore diprotes oleh
Portugis oleh karena merupakan pelanggaran perjanjian Todesillas pada tahun 1494.
Pertikaian antara bangsa Spanyol dan Portugis sungguh memperlemah kedudukan
mereka.Salah satu ilustrasi seperti perebutan benteng yang dibangun bangsa Spanyol tahun
1527 di Tidore merupakan contoh dari situasi konflik yang kronis.Pada tahun 1530
terungkapkan komplotan untuk membinasakan bangsa Portugis.Janda Sultan Bajangullah dan
Tawures, keduanya wali dari Pangeran Ayalo, bekerja sama untuk menumpas Bangsa
Portugis.Setelah Tawures tertangkap, permaisuri sultan tersebut melarikan diri ke
Tidore.Ayalo dipenjara dan seorang bernama Kaisyil Hatu diangkat sebagai raja.Ini
menyebabkan rakyat Ternate merasa tidak puas.Pada tanggal 27 Mei 1531 para pemberontak
melancarkan serangan dan membunuh panglima Portugis.
2. Penetrasi VOC di Maluku,Banda,dan Ambon
Sebagai daerah yang menjadi pangkal rute perdagangan rempah-rempah yang memiliki
monopoli alamiah pelbagai hasil rempah-rempah itu, VOC segera berusaha meletakkan
basisnya di wilayah itu dengan mengadakan kontrak dengan penguasa setempat,
mendirikan factory dan loji atau benteng.Pada tahun 1603 mengadakan "perjanjian abadi"
dengan Hitu, antara lain untuk saling membantu dalam menghadapi musuh, yaitu bangsa
Portugis.Yang menarik ialah bahwa VOC belum menuntut monopoli pembelian rempah-
rempah.Hubungan antara VOC dan rakyat Hitu, seperti di nyatakan dalam perjanjian yang
diperbaharui pada tahun 1609, memberi kedudukan bangsa Hitu sebagai sekutu dan bukan
sebagai bawahan.Kapitan Hitu Tepil diakui sebagai penguasa wilayah. Pada tahun 1607 VOC
juga telah membuat perjanjian dengan Ternate yang secara formal memegang hegemoni di
Seram Barat, termasuk Luhu, Kambelo, Lusidi, Hitu dan Maluku Selatan pada
umumnya.Dalam kontrak itu VOC berhasil memproleh monopoli dalam perdagangan
cengkeh.
3. Masa Pergolakan, Perpecahan, Pemberontakan dan Perang (1670-1800)
Dengan meninggalnya tokoh-tokoh kuat kerajaan-kerajaan mulailah periode penuh
konflik intern, perebutan tahta, pemberontakan, kesemuanya mengakibatkan krisis politik
yang membawa desintegrasi serta kemerosotan kerajaan pada satu pihak, dan penetrasi VOC
yang semakin dalam pihak lain. Sehubungan dengan itu muncullah pola baru dalam
pergolakan politik di dalam sejarah Indonesia ialah bahwa politik VOC menunjukkan
kecenderungan untuk beraliansi dengan pihak-pihak yang berjuang tidak dengan nada-atas
religius, suatu hal yang wajar oleh karena pihak lawannya memakai ideologi religius dan
bertalian erat dengan itu semangat anti-kafir atauNeerlandophobia.
Strategi perlawanan Indonesia terhadap bangsa Eropa
A. Perlawanan Rakyat Menentang Kolonialisme Barat
I. Perlawanan Terhadap Portugis
a. Perlawanan Demak
Setelah berhasil menguasai Malaka, Portugis mendominasi perdagangan di wilayah
tersebut sehingga merugikan jaringan pedagang Islam di Indonesia. Untuk melawan
dominasi tersebut maka Raden Patah mengirim pasukan untuk menyerang Portugis di
bawah pimpinan putranya Adipati Unus pada tahun 1513. Penyerangan ini mengalami
kegagalan karena faktor jarak yang terlalu jauh dan juga kalah dalam persenjataan dan
strategi perang. Ketika Portugis menguasai pelabuhan Sunda Kelapa, Demak melakukan
penyerangan kembali pada tahun 1527 di bawah pimpinan Fatahillah, Serangan ini berhasil
dengan gemilang, sehingga Portugis harus menunggalkan Sunda Kelapa yang namanya
kemudian diganti menjadi Jayakarta.
b. Perlawanan Ternate
Perlawanan Ternate didorong oleh tindakan bangsa Portugis yang sewenang-wenang
dan merugikan rakyat. Perlawanan Ternate dipimpin oleh Sultan Hairun, Portugis sempat
kewalahan sehingga kemudian menggunakan siasat licik dengan mengajak Sultan Hairun
berunding namun kemudian dibunuh. Peristiwa ini membuat marah rakyat Ternate yang
kemudian mengadakan serangan terhadap Portugis di bawah pimpinan Sultan Baabullah
putra Sultan Hairun. Portugis mengalami kekalahan dan terpaksa melarikan diri menyingkir
ke Timor Leste.
c. Perlawanan Aceh
Untuk melawan dominasi Portugis di Malaka, Kesultanan Aceh meminta bantuan dari
Turki dan India. Dengan bantuan dari Turki maupun kerajaan-kerajaan lainnya, Aceh
mengadakan penyerangan terhadap Portugis di Malaka pada tahun 1568 di bawah pimpinan
Sultan Alaudin Riayat Syah, namun penyerangan tersebut mengalami kegagalan.
Penyerangan terhadap Portugis dilakukan kembali pada masa Sultan Iskandar Muda
memerintah. Pada tahun 1629, Aceh menggempur Portugis di Malaka dengan sejumlah kapal
yang melibatkan 19.000 prajurit. Pertempuran sengit tak terelakkan yang kemudian berakhir
dengan kekalahan di pihak Aceh.
2. Perlawanan Terhadap VOC
a. Perlawanan Mataram
Pada masa kekuasaan Sultan Agung Hanyokro Kusumo, Mataram dua kali menyerang
kedudukan VOC di Batavia. Serangan pertama dilakukan pada tahun 1628. Pasukan
Mataram dipimpin Tumenggung Baurekso tiba di Batavia tanggal 22 Agustus 1628,
kemudian disusul pasukan Tumenggung Sura Agul-Agul, yang dibantu dua
bersaudara.Dipati Mandurorejo dan Upasanta. Serangan pertama mengalami
kegagalan yang disebabkan beberapa faktor yaitu : kurangnya perbekalan, kalah
dalam persenjataandan kurang teliti dalam memperhitungkan medan
pertempuran.Serangan kedua, pasukan Mataram dipimpin Adipati Juminah, K.A.
Puger, dan K.A. Purbaya. Serangan dimulai tanggal 1 Agustus dan berakhir 1
Oktober 1629.Serangan kedua inipun gagal,karena lumbung padi persediaan makanan
banyak yang dibakar oleh VOC
b. Perlawanan Kesultanan Gowa ( Makassar )
Dalam lalu lintas perdagangan,Gowa menjadi bandar utama jalur perdagangan antara
Malaka dan Maluku. Sebelum rempah-rempah dari Maluku dibawa sampai ke Malaka,
maka singgah dahulu di Gowa, begitu juga sebaliknya. Dengan posisi yang sangat
strategis tersebut VOC tentu saja ingin menguasai Makasar. Menghadapi.
perkembangan yang semakin genting itu, maka raja Gowa, Sultan Hasanuddin
mempersiapkan pasukan dengan segala perlengkapan untuk menghadapi VOC.
Sementara itu VOC menjalin hubungan dengan raja Bone yang bernama Aru Palaka.
Meletuslah perang antara VOC dengan Gowa pada 7 Juli 1667. Tentara VOC
dipimpin Spelman yang dibantu oleh Aru Palaka menggempur Gowa. Karena kalah
dalam
persenjataan, Benteng pertahanan tentara Gowa di Barombang dapat diduduki oleh
pasukan Aru Palaka. Perang diakhiri dengan ditandatanganinya perjanjian Bongaya
yang isinya sebagai berikut :
a. Gowa harus mengakui hak monopoli VOC
b. Semua orang Barat, kecuali Belanda harus meninggalkan wilayah Gowa.
c. Gowa harus membayar biaya perang.
d. Di Makasar dibangun benteng-benteng VOC
b. Perlawanan Banten
VOC ingin memperoleh monopoli atas perdagangan lada di Banten, namun ditentang
oleh raja Banten Sultan Ageng Tirtayasa sehingga pecah pertempuran pada tahun 1656
yang diakhiri dengan perdamaian tahun 1659. Untuk mengalahkan Banten VOC
menerapkan siasat adu domba dengan memanfaatkan konflik internal dalam tubuh
kerajaan Banten. VOC membantu putra Sultan Ageng yang bernama Sultan Haji,
sehingga karena kalah dalam persenjataan Sultan Ageng mengalami kekalahan dan
akhirnya ditangkap. Perlawanan dilanjutkan oleh Ratu Bagus Boang dan Kyai Tapa.
3. Perlawanan Terhadap Pemerintah Kolonial Hindia Belanda
Memasuki abad ke-19, berbagai perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda terjadi
hampir di sebagian besar wilayah Kepulauan Indonesia. Secara umum perlawanan pada abad
ini dibedakan dalam dua bentuk, yaitu :
Perlawanan bersenjata oleh kerajaan atau elite lokal.
Perlawanan yang melibatkan rakyat biasa berupa gerakan sosial melawan keadaan atau
peraturan yang tidak adil, gerakan ratu adil yang didasari ideologi mesianistis dan gerakan
sekte keagamaan.
A. Perlawanan Oleh Kerajaan atau Elite Lokal
1. Perang Paderi ( 1803 – 1837 )
Diawali munculnya Gerakan Paderi yang bertujuan ingin memurnikan ajaran Islam di
Minangkabau, Sumatera Barat yang mendapat perlawanan dari golongan adat. Tokoh kaum
Paderi antara lain : Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Pasaman, Tuanku Nan Renceh dan Tuanku
Nan Cerdik.
Secara garis besar dibagi dalam 3 periode perang :
1). Periode 1803 – 1821
Tahap ini murni perang saudara antara Kaum Paderi dan Kaum Adat karena
mempertahankan keyakinan masing-masing.Dalam perkembangannya kaum
Adat terdesak sehingga akhirnya meminta bantuan kepada Belanda.
2). Periode 1821 – 1832
Kaum Paderi menghadapi dua musuh sekaligus yaitu kaum Adat dan Belanda,
Dalam periode ini Belanda mengalami kesulitan karena kekuatannya sedang
dipusatkan di Pulau Jawa untuk menumpas perlawanan Diponegoro, sehingga
mereka menawarkan perdamaian yang ditandai terjadinya Perjanjian Masang.
Setelah perlawanan Diponegoro berakhir, Belanda kembali ke Minangkabau
dengan pasukan yang lebih kuat di bawah pimpinan Letkol Elout dan Mayor
Michiels untuk menggempur kaum Paderi.
3). Periode 1832 -1837
Kaum Adat menyadari kesalahannya kemudian bersatu dengan kaum Paderi
melawan Belanda. Namun karena persenjataan pasukan Belanda lebih lengkap
dan kuat akhirnya satu persatu wilayah kaum Paderi dapat diduduki dan
puncaknya Benteng Bonjol dapat direbut Belanda yang memaksa Tuanku
Imam Bonjol dan pasukannya menyerah kemudian ditangkap dan diasingkan.
2. Perlawanan Pattimura ( 1817 )
Perlawanan dilatarbelakangi berkuasanya kembali Belanda di Maluku setelah diserahkan
oleh Inggris sesuai hasil Konvensi London. Belanda kembali memberlakukan sistem
penyerahan wajib ( verplichte leverentie ) dan kerja paksa (rodi) yang menyebabkan
kesengsaraan rakyat Maluku. Adapun tokoh perlawanan antara lain : Thomas Matulessi atau
Pattimura, Anthony Rheebok, Lukas Latumahina, Christina Marta Tiahahu, dll. Perlawanan
meletus ditandai dengan penyerbuan Benteng Duurstede di Saparua pada tanggal 15 Mei
1817, yang berhasil membunuh residen Van den Berg beserta seluruh pasukannya. Belanda
mengirimkan pasukan bantuan dari Ambon yang akhirnya berhasil menguasai kembali
Benteng Duurstede dan mendesak pasukan Pattimura sehingga satu persatu pimpinan
pasukannya tertangkap termasuk Pattimura sendiri yang akhirnya dihukum gantung.
3. Perlawanan Diponegoro ( 1825 – 1830 )
1). Sebab-Sebab Umum :
· Wilayah Mataram semakin sempit dan terpecah menjadi kerajaan kecil.
Belanda ikut campur tangan dalam urusan intern kesultanan, misalnya soalpergantian raja dan
birokrasi kerajaan. Timbulnya kekecewaan di kalangan para ulama, karena masuknya budaya
barat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam Hak para bangsawan dan pegawai kerajaan
dikurangi. Penderitaan rakyat akibat adanya kerja paksa dan dibebani berbagai pajak
2). Sebab Khusus :
· Pemasangan patok oleh Belanda untuk pembangunan jalan yang melintasi tanah
dan makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa ijin.
IV. PENUTUP
Kesimpulan:
Penjelajahan Samudera yang dilakukan oleh bangsa Eropa tidak dapat dilepaskan dari
berbagai peristiwa dan berbagai faktor yang mendorongnya. Antara lain Gerakan Renaisans
dan Humanisme yang terjadi di Eropa pada abad-15 yang memicu tumbuhnya berbagai
kemajuan dalam pengetahuan dan teknologi, berlangsungnya Perang Salib (1096 – 1291) dan
jatuhnya kota Konstantinopel (Byzantium) pada tahun 1453 ke tangan Turki Usmani. Selain
itu faktor politis dan ekonomi yang mempengaruhi situasi perdagangan di Laut Tengah juga
mendorong terjadinya perubahan jalur perdagangan dari barat ke timur
Dimana di Eropa sendiri pada tahun 1450 sampai 1650 menemui masa penemuan (Age
of Discovery) dan masa perluasan kekuasaan (Age of Expansion). Ketika itu bangsa-bangsa
Eropa sudah dapat mengembangka ilmu pengetahuan di bidang geografi dan teknologi.
Memang mereka tertinggal oleh bangsa Romawi dan bangsa Islam selama berabad-abad
lamanya. Namun rupanya, bangsa-bangsa Eropa memiliki keinginan yang kuat untuk
mengejar ketertinggalan itu. Mereka berlomba-lomba mengarungi samudra, padahal mereka
belum yakin apakah dunia ini bulat seperti bola atau datar seperti meja. Mereka pun ingin
berekspansi, membangun wilayah-wilayah pendudukan atau koloni-koloni. Inilah awal
kolonialisme Eropa Akhir abad ke-15, atau sebagai penanda awal pejelajahan samudra yang
dipelopori oleh bangsa Portugis dan Spanyol.
Untuk menghindari persaingan antara Portugis dan Spanyol, maka pada tanggal 7 Juni
1494 lahirlah Perjanjian Tordesillas. Paus membagi daerah kekuasaan di dunia non-Kristiani
menjadi dua bagian dengan batas garis demarkasi/khayal yang membentang dari kutub Utara
ke kutub Selatan. Daerah sebelah Timur garis khayal adalah jalur/kekuasaan Portugis,
sedangkan daerah sebelah Barat garis khayal adalah jalur Spanyol.
Dimana Faktor Pendorong Penjelajahan Samudra dan Penemuan Derah baru Yakni
adanya Perkembangan Ilmu Pengetahuan, faktor Ekonomi, Politik,dan Idealisme walaupun
pada tahap perkembangannya memberikan dampak positif dan negatif.
Sumber:
http://underpapers.blogspot.co.id/2017/03/makalah-kolonialisme-dan-
imperialisme.html
http://www.bantubelajar.com/2014/12/latar-belakang-munculnya-
kolonialisme.html
http://narudha.blogspot.co.id/2015/07/pengaruh-kolonialisme-dan-
imperialisme.html
http://bit.ly/gadgets_cheap
http://fosilcolection.blogspot.co.id/2013/10/perlawanan-rakyat-terhadap-
kolonialisme.html