Nama kelompok
1. Fais ahnaf abdillah 3201417025
2. Zulqurnain Rizki Al Fajar 3201417039
3. Valdino khosyik marsa 3201417030
4. Nanda Akbar Riani 3201417002
5. Alfiah Nugraeni 3201417031
KONSEP DAN MODEL PENGEMBANGAN DESAIN INSTRUKSIONAL
A. Pendahuluan
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dewasa ini tak pelak menuntut adanya usaha yang
ekstra keras dalam menemukan “teknologi” yang tepat guna memperbaiki proses pembelajaran
dan memfasilitasi peserta didik dalam belajar. Pendidik sebagai penangung jawab utama dalam
perbaikan proses pembelajaran dan fasilitator peserta didik dalam belajar dituntut untuk memiliki
kemampuan yang lebih agar tujuan pembelajaran yang di laksanakan dapat tercapai dengan sebaik-
baiknya. Pembelajaran adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan terkendali agar orang
lain belajar atau terjadi perubahan yang relatif menetap pada diri orang lain. Usaha ini dapat
dilakukan oleh individu atau kelompok yang memiliki kemampuan dan kompetensi dalam
merancang atau mengembangkan sumber belajar. Pembelajaran tidak harus dilakukan oleh
seorang teknolog pendidikan atau suatu tim yang terdiri dari ahli media dan ahli materi ajar
tertentu. Belajar adalah proses alami yang menyebabkan perubahan apa yang kita ketahui, apa
yang bisa kita lakukan, dan bagaimana kita berperilaku. Namun, salah satu fungsi dari suatu sistem
pendidikan adalah untuk memfasilitasi pembelajaran yang dalam rangka mencapai tujuan
instruksi.
Mengajar adalah proses yang dilakukan guru dalam mengadakan interaksi dengan pseserta didik,
dengan penekanan pada berbagai macam kegiatan. Seorang pendidik yang memiliki pengetahuan
tentang prinsip-prinsip desain instruksi memiliki visi yang lebih luas tentang apa yang dibutuhkan
untuk membantu peserta didik belajar.
Instruksi lebih mungkin menjadi efektif jika direncanakan untuk melibatkan para siswa dalam
kegiatan yang memfasilitasi pembelajaran. Dengan menggunakan prinsip-prinsip desain instruksi,
guru dapat memilih, atau merencanakan dan mengembangkan kegiatan terbaik untuk membantu
siswa belajar.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep Desain Instruksional?
2. Bagaimana model desain Instruksional?
C. Pembahasan
1. Konsep MPI
Pendekatan System
Kegiatan Instruksional dipandang sebagai suatu system. Istilah system merujuk pada benda,
peristiwa, kejadian, atau cara yang terorganisir yang terdiri bagian-bagian yang lebih kecil dan
seluruh bagian tersebut secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan
tertentu. Selanjutnya pendekatan system yaitu suatu suatu urutan pemecahan masalah dengan
urutan langkah masalah dipahami terlebih dahulu, mempertimbangkan berbagai solusi alternative,
dan memilih solusi terbaik. Demikian pula dengan Tunas mengemukakan pandangannya tentang
pendekatan system sebagai suatu pendekatan pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis
dan menyeluruh (sistemik). Dalam hal ini yang dimaksud dengan sistemik adalah suatu analisis
dan evaluasi yang memperhatikan seluruh faktor yang berhubungan dengan masalah itu termasuk
keterkaitan antar faktor yang bersangkutan.
Penggunaan pendekatan system dalam teknologi instruksional hingga kini berkembang terus.
Selain komponen pengajar, peserta didik, fasilitas, kegiatan instruksional juga terdiri dari
subsistem diantaranya adalah tujuan instruksional, tes, strategi instruksional, bahan instruksional,
dan evaluasi. Oleh karena kompleksnya yang terkait dalam kegiatan instruksional, maka untuk
memecahkan masalah perlu menguji setiap komponen tersebut melalui analisis system.
Teori Yang Mendasari Desain Instruksional
Istilah pengembangan sistem instruksional (instructional systems development) dan disain
instruksional (instructional design) sering dianggap sama, atau setidak-tidaknya tidak dibedakan
secara tegas dalam penggunaannya, meskipun menurut arti katanya ada perbedaan antara “disain”
dan “pengembangan”. Kata “disain” berarti “membuat sketsa atau pola atau outline atau rencana
pendahuluan”. Sedang “mengembangkan” berarti “membuat tumbuh secara teratur untuk
menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif, dan sebagainya.”
Pengembangan sistem struksional adalah suatu proses secara sistematis dan logis untuk
mempelajari problem-problem pengajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitasnya,
dan praktis bisa dilaksanakan (Ely, 1979, p.4). Sistem instruksional adalah semua materi pelajarari
dan metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam
keadaan senyatanya (Baker; 1971, p: 16). Sedangkan Briggs mengemukakan bahwa desain
instruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan
teknik mengajar dan materi pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Termasuk di
dalamnya adalah pengem-bangan paket pelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi, dan kegiatan
mengevaluasi hasil belajar (Briggs, 1979, p. 20). Lebih lanjut dikatakan bahwa disain sistem
instruksional ialah pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan pengembangan sarana
serta alat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan instruksional. Semua komponen sistem ini (tujuan,
materi, media, alat, evaluasi) dalam hubungannya satu sama lain dipandang sebagai kesatuan yang
teratur sistematis. Komponen-komponen tersebut terlebih dulu diuji coba efektifitasnya sebelum
disebarluaskan penggunaannya.
Desain Instruksional adalah suatu proses sistematis, efektif, dan efisien dalam menciptakan system
instruksional untuk memecahkan masalah belajar atau peningkatan kinerja peserta didik melalui
serangkaian kegiatan pengidentifikasian masalah, pengembangan, dan pengevaluasian. Berapa
istilah juga berkaitan erat dengan desain instruksional antara lain learning, menurut Robert M.
Gagne bahwa belajar merupakan hasil, bukan proses. Hasil tersebut bekenaan dengan perubahan
pada kapabilitas manusia yang secara tetap terjadi sepanjang periode tertentu dan bukan karena
kebetulan sebagai akibat dari proses perkembangan diri.
Hamrenus dalam Suparman menyatakan bahwa desain instruksional merupakan proses sistematik
untuk memungkinkan tujuan umum dicapai melalui proses belajar yang efektif. Proses yang
sistematik itu dimulai dengan tujuan umum. Pendapat lain menyatakan bahwa tujuan akhir dari
desain instruksional adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sedangkan Rothwel dan
Kazamas mengemukan bahwa desain instruksional tidak sekadar menciptakan instrument atau alat
tetapi terkait dengan konsep lebih luas tentang bagaimana menganalisa masalah kinerja manusia
secara sistematik, pengidentifikasian akar penyebab masalah-masalah tersebut, pertimbangan
berbagai solusi yang sesuai dengan akar permasalahan itu, dan pelaksanaan pemecahan masalah
dengan cara-cara yang di rancang untuk meminimalisir akibat yang tidak diharapkan dari tindakan
perbaikan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas mengarah pada satu tujuan yang sama yakni mencari suatu
solusi dari beberapa permasalah dalam rangka menciptakan satu tindakan perbaikan pembelajaran
yang dilakukan secara sistematis, efektif, efisien yang diawali dari menganalisis tujuan
pembelajaran dan di akhiri dengan evaluasi.
2. Model Pengembangan Desain Instruksional.
Ada banyak Model desain instruksional yang berkembang dalam dunia pendidikan dewasa ini,
misalnya SAFE (System Approach For Education), Michigan State University Instructional
Systems Development Model, Project MINERVA Instructional System Design, Teaching
Research System, Banathy Instructional Development System, , Dick & Carey model, Kemp
model , Three Phase Design Model, The 4CID Model, ARCS Model, dan banyak lagi model
instruksional lainnya. Perkembangannya juga beragam sesuai dengan kondisi dan tujuan desain
instruksional tersebut diperuntukkan, yang jelas bahwa setiap model dimaksudkan untuk
menghasilkan suatu system instruksional yang efektif dan efisien dalam memfasilitasi pencapaian
tujuan instruksional. Pada dasarnya model instruksional yang ditawarkan memiliki prosedur yang
hamper samaantara satu dengan yang lain, atau bahkan mengkombinasikan dari berbagai model
yang sudah ada untuk kemudian diaplikasikan kedalam lingkungan pembelajaran yang kita hadapi.
Prosedur atau proses yang ditempuh oleh para pengembang sistem instruksional bisa meliputi dua
cara:
Dengan pendekatan secara empiris: Proses ini dilaksanakan tanpa menggunakan dasar-
dasar teori secara sistematis. Di sini paket atau bahan pengajaran disusun berdasar
pengalaman si pengembang, siswa disuruh mempelajari lalu hasilnya diamati. Bila
hasilnya tak sesuai dengan apa yang diharapkan, materi pengajaran tersebut direvisi
dan pekerjaan penyusunan paket (materi) pengajaran diulang. Pendekatan semacam ini
mempunyai beberapa kelemahan. (a). Setiap pengembang harus mulai dari awal untuk
mencari atau menemukan semua langkah dan dasar yang diperlukan untuk
mengembangkan suatu materi pengajaran. (b). Berulang kalinya pembuatan materi
(paket) pengajaran baru. Hal ini berarti menghendaki berulang kali uji coba, dan ini
berarti kurang efisien.
Dengan mengikuti atau membuat suatu model (paradigm approach). Menurut
pendekatan ini, hasil belajar yang diharapkan, bisa diklasifikasikan sesuai dengan tipe-
tipe tertentu. Untuk, tiap tipe tujuan khusus (objective) dapat dipilihkan cara-cara
tertentu untuk mencapainya, kondisi tertentu untuk mengamati responsi siswa bisa
diciptakan, dan perubahan-perubahan bilamana perlu bisa diadakan. Di dalam
penyusunan disain instruksional, diadakan langkah-langkah secara sistematis, sehingga
uji coba secara empiris terhadap suatu program dapat mendorong untuk adanya
informasi mengenai efektifitas suatu program, yang sekaligus bisa untuk menguji
model tersebut.
Atwi Suparman (2012) mengemukakan analisis hasil perbandingan dari beberapa model
instruksional terdiri dari tiga tahap yakni: tahap definisi, tahap analisis dan pengembangan system,
dan tahap evaluasi. Lebih lanjut dikemukakan bahwa perbedaan antara model yang satu dengan
model yang lain antara lain terletak pada: sasaran/tingkat penggunaanya (Institusi atau mata
pelajaran), Penggunaan istilah pada setiap tahapan, Jumlah tahapan atau langkahnya, kelengkapan
konsep dan prinsip yang digunakan. Berdasarkan analisis di atas Atwi Suparman mengembangkan
Model Pengembangan Desain Instruksional (MPI).
Desain instruksional masa depan yang dikembangkan oleh Atwi Suparman diharapkan dapat
mengatasi kendala-kendala pembelajaran dan dapat digunakan baik untuk pembelajaran tatap
muka maupun pendidikan jarak jauh. Dengan berlandaskan teori belajar dan pembelajaran (aliran
psikologi: humanisme, behaviorisme, kignitivisme, konstruktivisme, dan cybernetisme), prinsip-
prinsip pembelajaran, dan pendekatan system.
Model Pengembangan Instruksional (MPI) terdiri dari 3 tahap yakni:
1. Definisi, langkah-langkahnya adalah:
a. Mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan menulis tujuan instrksional umum.
b. Melakukan analisis instruksional
c. Mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal peserta didik
2. Analisis dan pengembangan prototype sistem, langkah-langkahnya adalah:
a. Menulis tujuan instruksional umum
b. Menulis alat penilaian hasil belajar
c. Menyusun Strategi Instruksional
d. Mengembangkan bahan instruksional
3. Melaksanakan evaluasi formatif, langkah-langkahnya adalah:
a. Penelaahan oleh pakar dan revisi
b. Evaluasi oleh 1-3 peserta didik dan revisi
c. Uji coba dalam skala terbatas dan revisi
d. Uji coba lapangan dengan melibatkan semua komponen dalam system sesungguhnya.
Gambar: Model Pengembangan Instruksional (MPI)
3. . Penutup
Pendidik sebagai penangung jawab utama dalam perbaikan proses pembelajaran dan fasilitator
peserta didik dalam belajar dituntut untuk memiliki kemampuan yang lebih agar tujuan
pembelajaran yang di laksanakan dapat tercapai dengan sebaik-baiknya. Pembelajaran tidak harus
dilakukan oleh seorang teknolog pendidikan atau suatu tim yang terdiri dari ahli media dan ahli
materi ajar tertentu. Belajar adalah proses alami yang menyebabkan perubahan apa yang kita
ketahui, apa yang bisa kita lakukan, dan bagaimana kita berperilaku. Namun, salah satu fungsi dari
suatu sistem pendidikan adalah untuk memfasilitasi pembelajaran yang dalam rangka mencapai
tujuan instruksi.
Penggunaan pendekatan system dalam teknologi instruksional hingga kini berkembang terus.
Selain komponen pengajar, peserta didik, fasilitas, kegiatan instruksional juga terdiri dari
subsistem diantaranya adalah tujuan instruksional, tes, strategi instruksional, bahan instruksional,
dan evaluasi. Oleh karena kompleksnya yang terkait dalam kegiatan instruksional, maka untuk
memecahkan masalah perlu menguji setiap komponen tersebut melalui analisis system.
Model desain instruksional yang berkembang dalam dunia pendidikan dewasa ini, misalnya SAFE
(System Approach For Education), Michigan State University Instructional Systems Development
Model, Project MINERVA Instructional System Design, Teaching Research System, Banathy
Instructional Development System, , Dick & Carey model, Kemp model , Three Phase Design
Model, The 4CID Model, ARCS Model, dan banyak lagi model instruksional lainnya. Persoalan
model mana yang tepat yang akan di gunakan sangat bergantung pada pendidik itu sendiri dengan
pertimbangan kesesuaian dengan kondisi tertentu pula. Setiap model dimaksudkan untuk
menghasilkan suatu system instruksional yang efektif dan efisien dalam memfasilitasi pencapain
tujuan belajar, yang pada akhirnya bahwa untuk menciptakan pembelajaran yang sukses, yakni
dapat membantu peserta didik mencapai kompetensi yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Atwi Suparman, Desain Instruksional Moderen: Panduan Para Pengajar & Inovator
Pendidikan, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2012.
Dahar, R. Wilis, Teori-Teori Belajar & Pembelajaran, Penerbit Erlangga, Jakarta 2011.
Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan,Prenada Media Group, Jakarta, 2004,
h. 545.
Gagne, R.M., Wager, W.W., Golas K.C., and Keller, J.M., Principles of Instruction Design, 5th,
Thomson-Wadsworth, 2005.
M. Atwi Suparman, Desain Instruksional Moderen, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2012, h.82
Raymond McLeod Jr. & George P. Schell, Management Information System
9th, Terjemahan Hery Yuliyanto, Indeks, Jakarta, 2004, h.182.
M. Atwi Suparman, (Op. Cit. h. 86)