Anda di halaman 1dari 67

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Tegangan Transmisi dan Rugi-Rugi Daya

Tegangan transmisi yang diterapkan sudah


mencapai 500 kV dan 1000 kV. Perkembangankearah
yang lebih tinggi, akan menimbulkan persoalan baru.
Batasan untuk menyatakan SUTET, SUTT, SUTM,
SUTR berbeda setiap negara dan biasanya tegantung
pada kemajuan teknik ketenagalistrikan masing-masing
negara. Faktor untuk menentukan tingginya tegangan
transmisi yang digunakan, tergantung pada besarnya
daya yang disalurkan dari pusat pembangkit ke beban
dan jarak yang ditempuh untuk memindahkan daya
tersebut secara ekonomis.
Tabel I.1 : Perkembangan tegangan transmisi dalam
ketenagalistrikan

Tahun Negara Tegangan (kV)


1882 Miesbach – Munchen 1,5 – 2 DC
1892 Lauften-Frankfurt 15 – 30 AC
1911 Lauchhmmer – 110 AC
Riessa
1922 Jerman 220 AC
1955 UAS,AEP 345 AC
1959 Canada 600 AC
1960 Uni Sovyet 500 AC
1966 USA,BPA 800 DC
1970 1000 AC

Di Indonesia :
- Bandung – Jakarta : 150 kV AC
- Sigura-gura : 275 kV AC
- Interkoneksi Jawa – Bali : 500 kV AC
- Interkoneksi Sumbar – Riau : 150 kV AC
Dengan semakin tingginya tegangan transmisi, maka
efisiensi penyaluran daya akan semakin buruk.

Rugi-rugi daya di transmisi :

∆Pt = 3 I2 R (1.1)

dimana :
I = Arus pada tiap phasa transmisi (A)
R = Tahanan kawat transmisi perphasa (Ohm)

atau dapat juga ditulis dengan

(𝐏)𝟐 .𝐑
∆𝐏𝐭 = (1.2)
(𝐕𝐑 )𝟐 𝐜𝐨𝐬 𝟐 𝛗
dimana :
P = Daya beban pada ujung penerima transmisi (Watt)
VR = Tegangan phasa ke pahasa diujung penerimaan
transmisi (Volt)
Cos φ = Tegangan phasa ke phasa diujung penerimaan
transmisi (Volt).
Solusi :

𝑷 = √𝟑 𝑽𝑹 𝑰 𝐜𝐨𝐬 𝝋

𝑷
𝑰=
√𝟑 𝑽𝑹 𝐜𝐨𝐬 𝝋

∆Pt = 3 I2 R
𝟐
𝐏
∆𝐏𝐭 = 𝟑 [ ] 𝐑
√𝟑 𝐕𝐑 𝐜𝐨𝐬𝛗

Maka

(𝐏)𝟐 .𝐑
∆𝐏𝐭 = terbukti
(𝐕𝐑 )𝟐 𝐜𝐨𝐬 𝟐 𝛗
1.2. Masalah Pemakaian Tegangan Tinggi Pada Transmisi

1. Menimbulkan korona pada kawat transmisi :

- Menimbulkan rugi-rugi daya (Watt), kerugian dalam


rupiah.

- Menimbulkan gangguan pada saluran komunikasi dan


masalah sosial politik.

2. Menuntut isolasi peralatan di transmisi dan gardu induk


untuk mampu memikul tegangan transmisi tersebut.

- Pemakaian bahan/material isolasi semakin banyak,


menuntut rupiah semakin banyak untuk investasi.

3. Saat switching di transmisi menimbulkan tegangan lebih


yang meminta perhatian yang serius. (proses switching =
gejala transient).

- Isolasi peralatan harus mampu memikul tegangan lebih


tersebut, pemakaian bahan isolasi semakin banyak, harga
peralatan semakin tinggi, investasi semakin tinggi.
4. Menara transmisi harus semakin tinggi untuk
menjamin keselamatan makhluk hidup disekitar
transmisi.

- Konstruksi menara harus lebih kokoh, biaya konstruksi


semakin tinggi.

-Kemungkinan disambar petir semakin tinggi (besar),


timbul tegangan lebih akibat sambaran petir di transmisi,
peralatan harus dilengkapi dengan peralatan pelindung
terhadap bahaya yang ditimbulkan tegangan lebih tersebut,
biaya semakin tinggi.
1.3. Pemilihan Tegangan Transmisi

Pemakainan tegangan menuntut penambahan investasi


tinggi pada transmisi, oleh karena itu keuntungan yang
diperoleh dari penurunan rugi-rugi daya (∆𝐏𝐭 ) berlawanan
dengan kenaikan investasi.

Dalam penyaluran daya dengan tegangan tinggi P =


daya dan L = panjang saluran = konstan. Tegangan tinggi
yang akan digunakan untuk menyalurkan daya sebesar P
pada jarak L tergantung pada biaya variable dan biaya
tetap.

1. Biaya variable : biaya rugi-rugi (joule) akibat


mengalirnya arus dalam konduktor. Jika tegangan
naik rugi-rugi jolue, daya variable (PV) akan turun.

Pada sistem 3 phasa :

∆Pt = 3 I2 R (1.3)

Dimana

𝑷
𝑰=
√𝟑 𝑽𝑹 𝐜𝐨𝐬 𝝋
atau

𝐏 𝟐 .𝐑
∆𝐏𝐯 = (1.4)
𝐕 𝟐 𝐜𝐨𝐬 𝟐 𝛗

Jika
𝒍
𝑹 = 𝝆𝑨 (1.5)

Substitusikan persamaan (1.5) ke (1.4), diperoleh :

𝑷𝟐 .𝝆.𝑳 𝟏
𝑷𝒗 = (1.6)
𝑨 𝒄𝒐𝒔𝟐 𝝋 𝑽𝟐

𝑷 𝟐 .𝝆.𝑳
Jadi, Pv ~ 1/V2 dan = konstan
𝑨 𝒄𝒐𝒔𝟐 𝝋

Pv akan turun jika V naik

dan

𝒍 𝑰
Pv= I2R = I2𝝆 =I 𝝆𝑳
𝑨 𝑨

maka

Pv= I∆V (1.7)


Dimana

𝑰
∆𝑽 = 𝝆𝑳
𝑨

Jadi ∆𝑽 konstan
𝑷 𝟏
𝑷𝒗 = 𝑰∆𝑽 = . ∆𝑽 = . 𝑷. ∆𝑽 (1.8)
𝑽 𝑽

Dimana

𝑷. ∆𝑽 = 𝒌𝒐𝒏𝒔𝒕𝒂𝒏
𝟏
Biaya jenis = kv~ 𝑷𝒗 = 𝑽

Jadi biaya rugi-rugi akan turun jika tegangan dinaikkan

2. Biaya tetap : biaya akibat pemakaian bahan-bahan/


peralatan untuk tegangan tinggi.
a. Biaya konduktor (k1) berbanding lurus dengan
luas penampang konduktor (A).
𝒍
𝑹 = 𝝆 𝑨dan

𝝆𝑳 ∆𝑽
𝑨= dan 𝑹 =
𝑹 𝑰
maka

𝝆𝑳𝑷 𝟏
𝑨= .𝑰 = (1.9)
∆𝑽 𝑽

dimana

𝝆𝑳𝑷
= 𝒌𝒐𝒏𝒔𝒕𝒂𝒏
∆𝑽
𝟏
Jadi k1 ~ A ~ 𝑽

b. Biaya isolasi dan menara (k2)

Semakin tingg tegangan transmisi, maka semakin tinggi


biaya isolator dan biaya menara, k2 ~ V.

k (Rp)

kT= k1 + k2 + kv
k2

kv
k1
V (kV)
V optimum

Gambar1.1. Kurva biaya transmisi berdasarkan tegangan


Sistem transmisi yang optimum (ekonomis) dapat
diperoleh dengan memperhatikan 3 parameter utama :

1. Daya yang disalurkan, P (MW)


2. Besarnya tegangan transmisi, V (kV)
3. Jarak yang ditempuh / salurkan, L (km)

 Hubungan antara V dengan P :


Vopt (kV) = 20 √𝑷 (𝑴𝑾)

 Hubungan antara V dengan L :


Vopt (kV) = L (km)

 Hubungan antara V, P dan L :

𝑷
Vopt (kV) = 𝟓, 𝟓 √𝟎, 𝟔𝟐𝑳 + (1.10)
𝟏𝟓𝟎
Tabel 1.2. Pemakaian tegangan transmisi

V (kV) P(MW) L(km)


110 30 100 - 200
220 125 200 - 400
400 600 400 - 800
500 1000 1000 – 1200
735 2000 >1200

1.4. Studi Peralatan Tegangan Tinggi

Enjiner/sarjana teknik elektro dalam bidang


peralatan tegangan tinggi harus bergelut dengan
masalah :
1. Bagaimana mengurangi efek korona
a. Mengurangi pengaruhnya terhadap saluran
komunikasi.
b. Menguragi rugi-rigu daya korona.
2. Bagaimana supaya biaya yang dikeluarkan membeli
bahan isolasi serendah-rendahnya.
3. Bagaimana cara mengurangi besaran tegangan lebih
yang timbul pada saat switching.
4. Bagaimana metode perlindungan terhadap bahaya
tegangan lebih yang semurah-murahnya.
5. Bagaimana mengamankan dan mendayagunakan
investasi besar yang ditamamkan dari pemakaian
tegangan tinggi tersebut.

Untuk menanggulangi permasalahan diatas, dicarikan


beberapa solusi/alternatif antara lain :

1. Bagaimana mengurangi efek korona ?


Fenomena korona
Faktor-faktor yang mempengaruhi dan mengendalikan
faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut.
2. Bagaimana mengurangi harga isolator atau mencegah
memperoleh isolator yang harganya mahal.
a. Biaya produksi disederhanakan.
b. Mencari bahan isolasi baru yang lebih ekonomis.
c. Mengurangi pemakaian isolasi.

Mencari bahan isolasi baru, menuntut penelitian sifat


mekanis dan listrik, membutuhkan :
a. Pengetahuan tentang sifat-sifat listrik dan mekanis
dari bahan-bahan isolasi.
b. Laboratorium peralatan tegangan tinggi dan
laboratorium mekanik.

Mengurangi pemakaian bahan isolasi, dilakukan


dengan mengurangi beban elektrisnya (kuat medan E).
Hal ini dapat diperoleh dengan jalan menata kembali
distribusi medan listrik pada bahan isolasi dengan
memerlukan keterampilan menghitung medan listrik.
3. Mengurangi tegangan lebih switching, menuntut
adanya pengetahuan tentang :
a. Fenomena terjadinya tegangan lebih tersebut.
b. Faktor-faktor yang menimbulkan terjadinya
tegangan lebih.
c. Design, agar tegangan lebih saat switching sekecil
mungkin.
4. Metode perlindungan yang aman dan ekonomis
menuntut adanyapengetahuan tentang :
a. Jenis-jenis alat pelindung.
b. Cara kerja dan karakteristik alat pelindung.
c. Sifat dari peralatan (sistem) yang dilindungi.
5. Mengamankan dan mendayagunakan investasi yaitu
menjamin penjualan energi yang kontinu, supaya
modal cepat kembali dan sistem harus andal.

 Komponen sistem harus andal perlu dilakukan :


a. Pengujian mutu sebelum peralatan dipasang.
b. Pengujian rutin terhadap setiap peralatan.
 Sistem dilengkapi dengan alat proteksi yang baik.
BAB 2. KORONA

2.1 Ionisasi dan Emisi

Ionisasi :
a. Tumbukan
b. Termal
c. Foton

Emisi :
a. Foto elektrik
b. Dampak ion positif
c. Termionik
d. Medan listrik

2.2 Teori Pelepasan Muatan Pada Isolasi Gas

A E K
+ - + +
e
+ F e+ -
e1 +F e
e
+

Gambar 2.1. Elektron pada isolasi gas


e = Elektron bebas hasil radiasi sinar ultraviolet

A E K
+ + + e+ -
e1 F
+F e
+

Gambar 2.2. Ionisasi tumbukan pada electron gas

Bila energi kin etis e1 ≥ energi ikat elektron gas, terjadi


ionisasi tumbukan.
F

e1 ̅ = 𝒒 . 𝑬 = 𝒎. 𝒂
𝑭 (2.1)

F1

e1

(hasil ionisasi)

𝐹̅

(ion + hasil ionisasi tumbukan )


Pergerakan ion dalam gas :
Setelah tumbukan v=0, tiap ion akan kehilangan
kecepatannya. Pergerakan ion yang disebabkan oleh muatan
listrik relatif lemah dibandingkan pergerakan ion akibat
termis.

Percepatan ion dalan arah kuat medan listrik :

̅
𝒒𝑰.𝑬
𝒈= (2.2)
𝒎𝑰

Dimana
qI = Muatan ion
mI = Massa ion
̅ = Kuat medan listrik
𝑬
Kecepatan rata-rata ion dalam arah kuat medan listrik :

𝟏
̅̅̅
𝑽𝒆 = 𝒈. 𝒕𝒎 (2.3)
𝟐

Dimana :
𝝀
𝒕𝒎 = = Waktu tempuh ion dalam 2 tumbukan (2.4)
𝑽𝒎

A= Panjang lintasan dari molekul


Vm = Kecepatan molekul
Atau

̅̅̅ ̅
𝑽𝒆 = 𝒃 𝑰. 𝑬 (2.5)

Bi = Pergerakan ion dalam gas

2.3. Peristiwa Terjadinya Korona

Bila dua kawat sejajar yang penampangnya kecil diberi


tegangan bolak balik, maka korona akan terjadi. Bila
tegangan dinaikkan secara bertahap, kawat akan kelihatan
bercahaya, mengeluarkan suara mendesis (hissing) dan
berbau ozone (O3). Warna cahayanya adalah ungu (violet)
muda, jika tegangan dinaikkan terus, akan kelihatan dengan
jelas terutama pada bagian yang kasar, runcing dan kotor.
Cahaya bertambah terang dan mengakibatkan terjadi busur
api/ percikan api.
Dalam keadaan udara lembab, korona menghasilkan
asam nitrogen, yang menyebabkan kawat menjadi berkarat.
Apabila diterapkan pada tegangan searah, pada kawat
positifkorona tampak dalam bentuk cahaya yang seragam
(uniform) pada permukaan kawat, sedangkan pada kawat
negatifnya hanya terdapat pada tempat-tempat tertentu
saja.
Korona terjadi karena adanyaionisasi udara, yaitu
adanya kehilangan elektron-elektron dari mulekul udara.
Dengan lepasnya eletron dan ion disekitar medan listrik, maka
elektron-elektron ini mengalami gaya yang mempercepat
gerakannya, sehingga tumbukan (tabrakan) dengan molekul
lain. Akibatnya timbul ion-ion dan elektron-elektron baru,
sehingga proses ini berjalan terus menerus samapi berlipat
ganda pada gradient tegangan yang tinggi.

Kawat transmisi

̅̅̅
𝐸1 ̅̅̅
𝐸2 +
+
e1 e2

bumi

Gambar 2.3. Analog proses terjadinya korona

Kuat medan listrik disekitar ujung jarum lebih besar dari


kuat medan listrik disekitar elektroda pelat.
̅̅̅̅̅ ̅𝟏
𝑭𝒆𝟏 = 𝒒𝟏 𝑬

̅̅̅̅
𝐅𝐞𝟐 = 𝐪𝟐 𝐄̅𝟐

̅̅̅̅
𝑬𝟐 ≥ ̅̅̅̅
𝑬𝟏 → 𝑭𝒆𝟐 ≥ 𝑭𝒆𝟏
Pada korona tidak ada arus dari kawat transmisi ke
bumi. Terjadinya korona pada kawat transmisi analog
dengan terjadinya korona pada susunan elktroda jarum –
pelat.

2.4. Tegangan Kritis Korona

Tegangan kawat dinaikkan sedikit demi sedikit, sampai


mulai terjadi korona. Harga tegangan saat mulai terjadi
korona disebut : tegangan kritis korona.
Pada kawat transmisi :

a) Tegangan kritis korona untuk udara kering/baik :

𝑽𝒌𝒌 = 𝟐𝟏, 𝟏 𝒎𝒐. 𝒓. 𝜹 𝐥𝐧 𝑫⁄𝒓(kVrms thd netral ) (2.6)

b) Tegangan kritis korona untuk cuaca basah/lembab


:𝑽𝒌𝒌 = 𝟏𝟔, 𝟗 𝒎𝒐. 𝒓. 𝜹 𝐥𝐧 𝑫⁄𝒓 (kVrms thd netral ) (2.7)

Dimana
𝟎,𝟑𝟗𝟐.𝒃
𝜹= = 𝑭𝒂𝒌𝒕𝒐𝒓 𝒌𝒐𝒓𝒆𝒌𝒔𝒊 (2.8)
𝟐𝟕𝟑+𝑻

mo = faktor permukaan kawat, yaitu :


1,0= Untuk permukaan kawat halus
0,93 – 0,9 = Untuk permukaan kawat kasar
0,87 – 0,93= Untuk permukaan kawat berlilit ( stranded ) 7
0,80 – 0,87= Untuk permukaan kawat berlilit ( stranded)
19,37,61
b = Tekanan barometer udara (mmHg)
r = Jari-jari kawat (cm)
D = Jarak antar kawat (cm)
T = Temperatur disekitar kawat (oC)

2.5 Rugi-Rugi Daya Korona


Menurut Peek, rugi-rugi daya korona konduktor transmisi
adalah :

𝟐𝟒𝟒 𝒌𝑾
𝑷𝒌 = (𝒇 + 𝟐𝟓)√𝒓⁄𝑫 (𝑽 − 𝑽𝒌𝒌 )𝟐 𝟏𝟎−𝟓 → 𝟏 𝒌𝒂𝒘𝒂𝒕 (2.9)
𝜹 𝒌𝒎

Dimana

V = Tegangan kawat phasa ke netral (kV)


Vkk = Tegangan krisis korona phasa ke netral (kV)
f = Frekuensi (Hz)
Batasan dari persamaan (2.9) adalah :

1. Batas frekuensi antara 25 Hz samapi 120 Hz


2. Radius penghantar harus lebih besar dari 0,25 cm
3. Perbandingan V/Vkk harus lebih besar dari 1,8
4. Persamaan 2.9 ini berlaku untuk keadaan udara baik dan
kelembaban tidak boleh terlalu rendah.

Persamaan Peek, hanya berlaku pada rugi-rugi daya


korona yang tinggi dan pada rugi-rugi daya korona yang
rendah persamaan (2.9), tidak berlaku jika perbandingan
V/Vkk< 1,8, maka berlaku persamaan Peterson :

𝟐𝟏.𝟏𝟎−𝟔 .𝒇.𝑽𝟐
𝑷𝒌 = 𝒙𝑨 𝒌𝑾⁄𝒑𝒉𝒂𝒔𝒂 /𝒌𝒎 (2.10)
(𝐥𝐨𝐠𝑫⁄𝒓)𝟐

Diamana :

A = faktor yang berubah menurut ratio V/Vkk , yaitu :

Tabel 2.1.

𝑽⁄ 0,6 0,8 1,0 1,2 1,4 1,6 1,8 2,0


𝑽𝒌𝒌
A 0,012 0,018 0,05 0,08 0,30 1,0 3,50 6,0
2.6. Dampak Korona Pada Saluran Komunikasi

Korona membuat terjadinya distorsi pada saluran


komunikasi. Efek ini disebut Radio Interference (RI).
Penelitian yang telah dilakukan, memberikan informasi
sebagai berikut :
1. RI dipengaruhi oleh permukaan dan jari-jari kawat
transmisi
2. RI >> bila permukaan makin halus dan r >>
3. RI berbanding terbalik dengan frekuensi, sehingga
pengaruhnya terhadap TV, radar, radio, sangat sedikit.

Dalam perencanaan transmisi harus diperhatikan luar


rangkain frekuensi yang dipengaruhi korona yang terjadi
pada transmisi tersebut.
Untuk itu perencanan perlu infoirmasi :

1. Intensitas sinyal sepanjang route transmisi.


2. Pengaruh cuaca terhadap RI
3. Kegunaan dari komunikasi yang ada
4. Jenis dan jumlah pesawat penerima disekitar jalur
transmisi
5. Perpindahan RI terhadap rangkain tegangan rendah
2.7 Menguragi Efek Korona

1. Memperbesar diameter kawat


2. Mengunakan penghantar berkas ( bundle)
3. Kondisi permukaan konduktor
4. Pemanasan konduktor akibat arus beban

R S T
R S T
R

Gamabar 2.4. Konfigurasi kawat berkas

Kuat medan listrik dipermukaan kawat

R S T

S D

R S T
𝑽
̅̅̅̅
𝑬𝒎 = (2.11)
𝒓 𝒍𝒏𝑫⁄𝒓

𝑽(𝟏+𝟐𝒓/𝒔)
̅𝒎 =
𝑬 (2.12)
𝟐𝒓𝒍 𝐥𝐧 𝑫/√𝒓.𝒔

Tegangan awal visual korona pada kuat medan tembus


udara = 30 kV/cm.

𝟎.𝟑𝟎𝟏
𝑽𝒌𝒌 = 𝟑𝟎. 𝒎𝒐. 𝒓. 𝜹 (𝟏 + ) 𝐥𝐧 𝑫⁄𝒓 (kV) (2.13)
√𝜹.𝒓
BAB III
DIELEKTRIKUM
Dielektrikum adalah bahan isolator, jika diberi medan
listrik akan menimbulkan polarisasi.

3.1. Sifat Listrik Bahan Dielektrik


1. Kekuatan dielektrikum
2. Konduktansi
3. Rugi-rugi dielektrik
4. Tahanan isolasi
5. Partial discharge

3.2. Kekuatan Dielektrikum


Flashover : udara gagal melaksanakan fungis sebagai
isolator
Sparkover : isolasi padat gagal melaksanakan fungsi
sebagai isolator

Peristiwa kegagalan suatu isolator melaksanakan


fungsinya disebut breakdown dan tegangan yang
menyebabkan ini disebut tegangan breakdown (tegangan
tembus).
Kekuatan dielektrik adalah kuat medan maksimum
yang dapat dipikul oleh dielektrik tersebut. Bila kuat medan
yang dipikul lebih besar dari kekuatan dielektrik, maka
dielektrik tersebut akan breakdown.
Breakdown terjadi bila,
ED > EC
ED = Kuat medan yang dipikul isolator
EC = Kekuatan dielektrik isolator

3.3. Konduktansi

Keterangan :
1 = Arus Pengisian
2 = Arus absorpsi
3 = Arus konduktansi

𝑽
𝒊𝒌 =
𝑹𝒊𝒔𝒐𝒍𝒂𝒔𝒊

3.4. Rugi-rugi dielektrik

Dielektrik ideal adalah tanpa rugi-rugi daya dan


perilakunya dalam medan listrik dapat digambarkan
dengan suatu konstantadielektrik nyata, ε = εo. εr
𝑽
𝑰𝑹 = , 𝑰𝒄 = 𝝎 𝑪𝒆 𝑽 (3.1)
𝑹𝒆

𝑰 = √(𝑰𝑹 )𝟐 + (𝑰𝒄 )𝟐 (3.2)


Rugi-rugi daya pada isolasi disebut juga rugi-rugi
dielektrik, yaitu :

𝑷𝑫 = 𝑽. 𝑰. 𝑪𝒐𝒔 𝝋 = 𝑽. 𝑰. 𝑺𝒊𝒏 𝜹 (3.3)

𝑰𝑹⁄ 𝑰𝑪⁄
𝑪𝒐𝒔 𝝋 = 𝑰 , 𝑪𝒐𝒔 𝜹 = 𝑰 (3.4)

𝑰𝑪 𝝎 𝑪𝒆 𝑽
𝑰= = (3.5)
𝑪𝒐𝒔 𝜹 𝑪𝒐𝒔 𝜹

Maka

𝑷𝑫 = 𝝎 𝑪𝒆 𝑽𝟐 𝐭𝐚𝐧 𝜹 (3.6)

3.5. Tahanan Isolasi

Tahanan isolasi bergantung pada :


1. Tegangan yang diberikan (AC, DC, Impuls)
2. Polaritas tegangan
3. Lamanya tegangan diberikan
4. Temperatur
5. Kelembaban
6. Arus absorpsi
7. Bentuk bahan isolasi
3.6. Partial Discharge (Pelepasan Muatan Sebagian)

Karena kesalahan prediksi ada kalanya bahan islasi padat


mengandung rongga-rongga udara. Tegangan menyebabkan
rongga udara tersebut breakdown tetapi isolasi tetap utuh
(tidak mengalami breakdown).
Partial discharge terjadi pada medan yang sangat tidak
homogen, dimana pada sebagian daerah tegangan tembus
telah terjadi sedangkan pada bagian daerah lain kekuatan
isolasinya masih bertahan.
Nilai C1 berhubungan dengan kapasitansi rongga odara

𝒅𝑽𝟏 𝑪𝟏 𝒅𝑽
= . (3.7)
𝒅𝒕 𝑪𝟏 +𝑪𝟐 𝒅𝒕

Setelah C1 tembus melalui VBC, C1 kosong (∆q1), tinggal C2.


C2 juga tembus melalui VBD (∆q2), maka yang dapat diukur,
seolah-olah terjadi partial discharge yaitu :
∆𝐪𝐬 = ∆𝐪𝟐 = 𝐕𝐁𝐃 . 𝐂𝟐 (3.8)

Keadaan sebenarnya,

𝒒 = 𝒒𝟏 + 𝒒𝟐 = 𝑪𝟏 . 𝑽𝑩𝑫 + 𝑪𝟐 . 𝑽𝑩𝑫
= (𝑪𝟏 + 𝑪𝟐 )𝑽𝟐
∆𝒒𝒔
𝑽𝟐 = (3.9)
𝑪𝟐
𝐂𝟏 + 𝐂𝟐
atau𝒒 = ∆𝐪𝐬 . 𝐂𝟐
+ ∆𝐪𝐬
BAB IV

PEMBANGKIT TEGANGAN TINGGI BOLAK BALIK

4.1. Tujuan Pembangkitan


1. Untuk pengujian yang memerlukan tegangan tinggi
bolak-balik
a. Pengujian rugi-rugi dielektrik
b. Pengujian korona
c. Pengujian kekuatan dielektrik
d. Pengujian ketahanan peralatan terhadap tegangan
tinggi tersebut
2. Untuk pembangkitan tegangan tinggi searah
3. Untuk pembangkitan tegangan tinggi impuls

4.2. Rangkain Dasar Trafo Tegangan Tinggi

Gambar 4.1. Rangkaian trafo penguji


Gambar 4.2. Rangkaian trafo penguji dilengkapi dengan
pengatur tegangan

Trafo tegangan tinggi umumnya mempunyai power rating


yang rendah dan mempunyai perbandingan ratio yang
tinggi dibandingkan dengan trafo daya.
Pada trafo untuk membakitkan tegangan tinggi untuk
pengujian, biasanya salah satu ujung dari gulungan tinggi
ditanahkan.

4.3. Distribusi Tegangan Pada Isoalsi Kumparan Trafo


Penguji

4.4. Trafo Kaskade

E = Gulungan eksitasi

K = Gulungan kopling

H = Gulungan tegangan tinggi


Gulungan E dari trafo terasa di supply oleh gulungan K
dari trafo di bawahnya. Setiap trafo, kecuali yang paling
atas mempunyai tiga gulungan. Gulungan K dan E pada
trafo terendah, harus mensupply daya lebih besar dari
trafo diatasnya, karena itu kumparan trafo harus
didesign secara berurutan.
Besarnya daya yang harus dipikul masing-masing trafo,
digambarkan sebagai fungsi dari P. Trafo penguji dengan
hubungan kaskade telah dapat mencapai tegangan lebih
dari 2.000 kV.

4.5. Konstruksi Trafo Penguji


A.Ditinjau dari isolasi

Bagian yang aktif (inti dan gulungan) dibungkus oleh kotak


metal untuk pendinginan sendiri.
Kerugiannya : untuk tegangan kerja yang tinggi diperlukan
ruangan yang lebih besar dan bushing yang lebih tinggi.
Pada trafoi penguji dengan selubung isolasi,
mempunyai isolasi minyak lebih banyak, sehingga
mempunyai temperatur time constant lebih besar jika ada
overloading. Pelepasan panas keluar melalui dinding sangat
kecil. Keuntungannya, tidak perlu bushing.
B. Ditinjau dari gulungannya

1. Trafo Poly layer polyline wound disc winding ( ≥


100 kV)
Gulungan primernya dililitkan pada inti trafo,
sedangkan gulungan sekundernya dililitkan diluar
gulungan primernya ; sehingga kedua gulungan
merupakan konsentris.
Disini distribusi tegangannya tidak linier. Untuk
menghindari hal tersebut, dipasang perisai statis
(static shield) yang fungsinya merubah medan
listrik yang terjadi sehingga dicapai distribusi
potrensial yang dikehendaki.

2. Trafo gulungan Fortesque ( ≥100 kV)


Untuk tafo pengujian diatas 100 kV diusahakan
agar dapat dicapai cara mengisolasi yang ekonomis
dan gradien tegangan yang seragam. Gulungan
primer didekat inti. Diluarnya secara konsentris,
dililitkan ke gulungan 1,2,3 dan 4 yaitu gulungan-
gulungan yang terendah tegangannya. Gulungan
yang lebih tinggi tegangannya yaitu gulungan 5,6
sampai 18, dililitkan makin lama makin jauh
(terpisah) dari intinya.

Untuk mendapatkan gradien potensial yang


seragam, dipasangkan beban penghantar (timah)
pada tabung isolasi yang terletak diantara
gulungan primer dan sekunder.
Gambar 4.3. Trafo gulungan Fortesque
3. Trafo gulungan Fischer
Hampir semua trafo penguji menggunakan
gulungan Fischer. Gulungan primer (tegangan
rendah) dililitkan dekat inti, sedangkan gulungan
sekunder dililitkan berturut-turut diluarnya,
sehingga lilitan yang mempunyai tegangan
tertinggi terletak terjauh dari inti.

Gambar 4.4. Trafo gulungan Fischer


4.6. Rangkain ekivalen trafo penguji
CT = Kapasitansi trafo
Cb = Kapasitansi bahan yang diuji

Re<< Xe → Re diabaikan
Ce = CT // Cb (4.1)
a = N1/N2 (4.2)

Impedansi hubung singkat :


Ze = Re +jXe (4.3)
𝒍 𝒍
𝑹= 𝝆 → 𝑹~𝝆 → 𝑹~𝒍
𝑨 𝑨

𝑺
𝑳~𝑵𝟐 → 𝑳 = 𝝁 𝑵𝟐 (𝒅) (4.4)

Dimana :
s = Penampang (m2)

d = Panjang konduktor (m)

N = Jumlah lilitan
Kenaikan Re << kenaikan L
𝑽𝟏⁄
𝑽𝟏 𝒂
= 𝑰𝟐 𝒁𝒆 → 𝑰𝟐 = 𝟏 (4.5)
𝒂 𝒋𝝎𝑳𝒆 + ⁄𝒋𝝎𝑪
𝑬

𝟏
𝑽𝟐 = 𝑰𝟐 (𝒋𝝎𝑪 ) (4.6)
𝒆

𝑽𝟏⁄ 𝑽𝟏⁄
𝒂 𝒂
𝑽𝟐 = 𝟐 = 𝟐 (4.7)
−𝝎 𝑳𝒆 𝑪𝒆 + 𝟏 𝟏−𝝎 𝑳𝒆 𝑪𝒆

Jika

k = 𝝎𝟐 𝑳𝒆 𝑪𝒆

maka
𝑽𝟏⁄
𝒂
𝑽𝟐 = (4.8)
𝟏−𝒌

Nilai k selalu lebih kecil dari satu

Keterangan 𝝎𝟐 𝑳𝒆 𝑪𝒆 →

ω = Tertentu
𝑳𝒆 = Bergantung pada jumlah belitan V2 yang didinginkan,
sehingga Le tertentu
𝑪𝒆 = Dapat dikendalikan, bergantung pada isolasi
4.7. Rangkain Impedansi Hubung Singkat Trafo
Kaskade
Secara umum trafo kaskade terdiri dari tiga belitan
dengan potensial yang saling tidak bergantungan.
Jika arus magnetisasi diabaikan, maka untuk setiap
tingkat berlaku bahawa jumlah ampere-lilit seluruh belitan
sama dengan nol.

NE . IE –NH . IH – NK . IK = 0 (4.9)

Metode perhitungan dicontohkan dengan kaskade tiga


tingkat dengan rugi-rugi diabaikan,

ZE = jXE , ZH = jXH , ZK = jXK, (4.10)

Perbandingan jumlah lilitan diasumsukan sama untuk


semua tingkat :

NE/NH = NK/NH (4.11)


Reaktansi hubung singkat total (Xres) diperoleh :

𝑰𝟐 𝑯𝑿𝒓𝒆𝒔 = ∑𝟑𝒗=𝟏(𝑰𝟐𝑬𝑽 𝑿𝑬𝑽 + 𝑰𝟐𝑲𝑽 𝑿𝑲𝑽 + 𝑰𝟐𝑯𝑽 𝑿𝑯𝑽 ) (4.12)

Dari persaman diatas diperoleh:

Xres = XH1 + XH2+ XH3 + XK2 + XK3 + 4(XK1 + XK4) + 9 XE1


(4.13)

Persamaan umum untuk n-tingkat :

𝑿𝒓𝒆𝒔 = ∑𝒏𝒗=𝟏[𝑿𝑯𝑽 + 𝑽𝟐 {𝑿𝑬 (𝒏 + 𝟏 − 𝒗)} + 𝑿𝑲 (𝒏 − 𝒗)]


(4.14)

4.8. Karakteristik Trafo Penguji


1. Perbandingan lilitan N2/N1>> trafo daya
2. Kapasitas kVA << kapasitas power transformer
3. Satu fasa, kecuali untuk keperluan khusus 3 phasa
4. Salah satu ujung lilitan diketanahkan
5. Perencanaan isolasi hanya diperhitungkan sampai
tegangan uji maksimum (tidak diharapkan menerima
over voltage)
6. Konstruksi sedemikin sehingga gradien tegangan
(dv/dt) seragam dan osilasi tegangan dalam dapat
diabaikan dalam lilitannya. (Rangkain penguji
mempunyai frekuensi osilasi tertentu).
Tidak perlu pendingin, karena waktu pemakaian
relatif singkat.

4.9. Trafo Gulungan Tesla


Gulungan Tesla : untuk pembangkitan tegangan
tinggi bolak balik frekuensi tinggi

Kegunaannya : untuk mengetahui ada tidaknya


keretakan atau kekosongan udara pada bahan isolasi.
Trafo gulungan tesla termasuk ke dalam rangkain
resonansi. Rangkain ini terdiri atas rangkain osilasi
primer dan sekunder yang dikopel secara mekanik.
Partikel (peluahan) kapasitor primer (C1) melalui sela
bola (F) akan membangkitkan osilasi dengan frekuensi
berkisar 104 Hz sampai 105 Hz. Trafo gulungan Tesla
dapat membangkitkan tegangan lebih dari 1 MV,
tergantung pada data rangkaian yang digunakan dan
perbandingan lilitan primer dan sekunder.
BAB V
PEMBANGKIT TEGANGAN TINGGI SEARAH

5.1. Tujuan
1. Pengujian isolasi yang kapasitansinya besar
Misalanya :
- Kapasitor
- Kabel
2. Penelitian pelepasan muatan
3. Penelitian sifat-sifat dielektrik
4. Pengguanan untuk peralatan-peralatan :
a. Sinar X (rontgen)
b. Pengisap debu
c. Penyemprot cat
d. Pelapisan serbuk
e. Peleburan, dll

5.2. Dioda Tegangan Tinggi

Arus diantarkan oleh elektron yang diemisikan melalui


termionik katoda dan dipercepat ke arah anoda dengan
medan listrik yang timbul.
Anoda semikonduktor menggunakan bahan Selenium,
Germanium dan Silikon dengan susunan sebagai berikut :
Tabel 5.1. Bahan dioda semikonduktor

Bahan
No Selenium Germanium Silikon
semikonduktor
Tegangan inverse
1 30-50 V 150-300 V 1-2 kV
puncak per elemen
Loading capacity
2 dari tiap lapisan 0,1-0,5 50-150 50-150
(A/cm2)

Biasanya pemakaian di labor, bahan selenium lebih baik,


karena :

a. Besar arus hanya beberapa ratus milliAmper.


b. Kapasitansi yang tinggi dari lapisan depection, sehingga
dapat digunakan pada multi element stack dengan
tegangan inverse puncak samapai dengan 600 kV tanpa
kapasitor perata.
Tabel 5.2. Perbandingan antara high vacuum rectifier dengan
semiconductor reftifier

No High vacuum rectifier Semiconductor rectifier


1 Memerlukan waktu Tidak memerlukan
pemanasan filamen waktu pemanasan
2 Arus reverse = 0 Arus reverse ≠ 0
3 Umurnya lebih lama Umurnya singkat
4 Harga lebih murah Harga murah

5.3. Penyearah ½ Gelombang


Dari gambar 5.3(b), tanpa kapasitor perata C, akan
memberikan tegangan searah dengan karakteristik :
Vmax = V(t)
𝟏
𝑽𝒅𝒄𝒓𝒂𝒕𝒂−𝒓𝒂𝒕𝒂 = 𝝅 𝑽𝒎𝒂𝒙 (5.1)

𝟏
𝑽𝒓𝒎𝒔 = 𝑽𝒎𝒂𝒙 (5.2)
√𝟐

Tegangan puncak balik (peak reverse voltage) melalui


penyearah Vd = V(t),
karena td = ½ T
Dari gambar 5.3(c), dengan kapasitor perata C,
diperoleh :
Vmax = V(t)
Vdcrata-rata = Vmin + δV

Atau

Vdcrata-rata = V(t) – δV (5.3)

Pada dioda, semakin rata tegangan, semakin pendek td,


Vd ≈ 2 V(t), sedangkan tegangan puncak balik Vd ≈ 2
V(t).
Dari gambar 5.3 (c), dengan mudah diperoleh ripple
factor :
td<< T = 1/f perubahan pelepasan
muatan pada kapasitor
δV<< Vdcrata-rata
td = Waktu lamanya dioda konduksi (pengisian
kapasitor)
Dari perubahan muatan pada kapasitor perata selama
perioda blocking akan diperoleh :
𝐓
𝟏
𝟐𝛅𝐕 ≈ ∫ 𝐢𝐝 𝐝𝐭
𝐂
𝟎

𝟐𝛅𝐕 ≈ 𝐓. 𝐢𝐝
𝟏
𝛅𝐕 ≈ 𝐈𝐝 𝟐𝐟𝐂 (5.4)

Pada penyearah gelombang penuh, interval waktu dari


pemuatan dan δV diperkecil menjadi separuhnya:
𝟏 𝟏
𝛅𝐕 ≈ 𝟐 𝐈𝐝 𝟐𝐟𝐂 (5.5)

Cara mengurangi ripple :


1. Menaikkan harga kapasitor C
2. Menaikkan frekuensi
3. Menambah jumlah phasa

Di labor, f biasa naik sampai 10 kHz, δV hanya


beberapa % adalah normal dengan filter multistage
(bertingkat) dan elektronic ripple compensation δV dalam
orde 10-5 bisa diperoleh.
nV1

V
V

Vdcrata-rata

Gambar 5.1. Lengkungan kurva disebabkan tahanan


dioda yang non linear.

∆V = Perubahan tegangan kapasitor saat dioda blocking

nV1 = Drop tegangan pada n buah diode

5.4. Rangkaian Pengali Tegangan

Rangkaian ini hanya mampu menyulang arus yang


sangat kecil sehingga tidak sesuai dengan penggunaan arus
kuat, misalnya transmisi daya arus searah.
1. Rangkain Villard

C discharge samapai harga puncak VT, sehingga terjadi


kenaikan tegangan pada terminal output tegangan tinggi
terhadapa trafo.
Pada beban nol :

Vdcrata-rata = Vt = Vmaks (5.6)

Vd = 2VT (5.7)

Peralatan pada tegangan output V(t) tidak mungkin


dilakukan.

2. Rangkaian pengganda (pelipat dua) Greinacher


Rangkaian ini merupakan perluasan dari rangkaian
Villard dengan penambahan dioda (D2), sehingga
memungkinkan pemasangan kapasitor perata (C2).
Untuk kondisi tanpa beban berlaku persamaan :

Vdcrata-rata = 2VT (5.8)


Vd1 = Vd2 = 2VT (5.9)
3. Rangkaian Zimmermann – Wittka
Merupakan rangkaian Villard yang dihubungkan
secara bertahap/berlawanan, maka menghasilkan
tegangan searahyang tidak rata pada terminal output
dengan nilai puncak sebaesar tiga kali nilai tegangan
trafo dan tegangan DC rata-rata pada kondisi beban
nol = 2 VT.

4. Rangkaian Kaskade Greinacher

Metoda ini merupak cara yang penting untuk


membangkitkan tegangan searah yang sangat tinggi.
Rangkain ini sebagai peluasan dari rangkain pengganda
Greinacher.
Rangkain ini sudah bisa dibuat sampai dengan kapasitas 5
MW dengan arus sebesar 10 milliAmper.

Pada gambar (5.8), suatu rangkain kaskade Grainacher


dengan tiga tingkat. Untuk mendapatkan jatuh tegangan
yang lebih merata, maka harus dipilih :

 C0 = 2 C1
 C2 = Kapasitor perata
 Dibuat simetris, agar Δv nya lebih kecil (halus)
BAB VI

PEMBANGKIT TEGANGAN TINGGI IMPULS

6.1. Kegunaan Tegangan Tinggi Impuls

1. Untuk pengujian peralatan tegangan tinggi


2. Untuk menyelidiki mekanisme breakdown bahan
elektrik
3. Simulasi dari tegangan luar (petir) dan tegangan lebih
dalam (switching)
Cara pembangkitan :

1. Generator impuls RLC

2. Generator impuls RC

3. Generator Marx

Pembangkitan tegangan tinggi impuls, pada


umumnya dengan pelepasan muatan dari kapasitor
melalui sela bola (starting gap) yang bertindak
sebagai switch dan mengalir ke rangkaian yang
terdiri dari tahanan dan kapasitor.
6.2. Bentuk Tegangan Impuls

Tegangan impuls yang dibangkitkan merupakan


simulasi dari tegangan lebih yang mungkin dialami
peralatan sistem kelistrikan.
Bentuk –bentuk tegangan impuls :
1. Tegangan impuls segi empat (tegangan impuls tiruan
dengan tegangan lebih kilat)
2. Tegangan impuls bentuk tajam (tegangan impuls tiruan
dengan lebih interval)
3. Tegangan impuls double exponential (tegangan impuls
terpotong).
Tegangan impuls terpotong ini sudah merupakan
standar. Jika tejadi breakdown selama waktu impuls
disebut tegangan impuls terpotong.
Dalam praktek sering dijumpai osilasi puncak tegangan
impuls

Gambar 6.1. Gelombang tegangan impuls


• Menurut standar Jepang, lamanya muka gelombang
antara tegangan naik dari 10% sampai 90% : Tf x Tt =
1 x 40 s .
• Standar Amerika Serikat : Tf x Tt = 1.5 x 40 s .
• Menurut standar Jerman dan Inggris : Tf x Tt = 1 x 50
s .
• Muka gelombang : bagian dari gelombang yang dimulai
dari titik nol (nominal) sampai titik puncak. (menurut
IEC ditentukan dari titik nominal perpotongan antara
sumbu waktu dengan garis lurus yang
menghubungkan 30% dan 90% dari tegangan puncak).
• Ekor gelombang : bagian dari puncak gelombang
sampai turun 50% dari titik puncak.
• Bentuk gelombang dinyatakan sebagai :(Tf x Tt) s.
[IEC:  (1.2 x 50) s ].
6.3. Starting Gap ( Sela Mula )

Gambar 6.2. Starting gap


• Gambar diatas menggambarkan sela mulai yang
mempunyai sela jarum ditengahnya
• Apabila sebuah pulsa sampai pada jarum, maka medan
pada sela utama berubah, sehingga terjadi percikan api
pada tegangan yang lebih rendah daripada tegangan
yang seharusnya.
• Guna tabung gelas untuk mempercepat terjadinya
korona.
• Tegangan yang diperlukan untuk memulai percikan
adalah 5-10 kV.

Dalam praktek pengujian diinginkan agar tegangan


impuls sampai pada objek yang diuji tepat pada saat yang
diinginkan. Untuk itu diperlukan starting gap yang terletak
pada bagian yang rendah tegangannya. Dalam gambar 6.2,
suatu starting gap mempunyai sela jarum ditengahnya.
Dalam sela ini, elektroda tegangan tinggi adalah bola.
Elektroda tanahnya adalah sebuah setengah bola yang
mempunyai lubangsilindris dimana dimasukkan sebuah
jarum logam (baja). Sebuah tabung gelas diselubungkan
pada jarum yang dilapisi dengan logam. Apabila pulsa
sampai pada jarum, maka medan listrik pada sela utama
beubah, sehingga terjadi percikan api pada tegangan yang
lebih rendah dari tegangan seharusnya. Tegangan pulsa
yang diperlukan untuk mulainyap ercikan api kira-kira 5
samapi 10 kV.
6.4. Generator Impuls RLC

Rp >> peristiwa terjadi pada waktu yang sangat


singkat. Jadi saat sela mulai bekerja sumber tegangan tinggi
DC dapat diabaikan.

Gambar 6.3. Generator impuls RLC

6.4.1 Prinsip kerja

• Kapasitor C diberi muatan dari sebuah sumber DC


melalui tahanan pemuat r.
• Percikan api (spark over) antara sela api G terjadi pada
waktu tegangan pemuat V mencapai suatu harga
tertentu.
• Pada waktu itu muatan pada C dilepaskan (discharges)
melalui tahanan seri Rs, induktansi L, dan tahanan R0.
• Dengan demikian tegangan impuls terjadi diantara
terminal tahanan Ro.
Tahanan Rs bertindak sebagai tahanan peredam
(damping resistor) untuk menghindari osilasi frekuensi
tinggi.Ro dipakai untuk mengatur bentuk ekor
gelombang. L bersama Ro dipakai mengatur muka
gelombang.

6.4.2. Analisa Rangkai Generator Impuls RLC

• Maka didapatkan penyelesaian umum :


• Dimana A1 dan A2 adalah konstanta integral yang
dapat ditentukan dari kondisi permulaan  pada saat
t=0 maka akan didapat :
– L di/dt=V di
L V
dt
i0 di V

dt L
i  A1e 1t  A2e  2t A1 ( 1 )e 1t  A2 (  2 )e  2t 
V
L
0  A1e 1 (20)  A2e  2 ( 0) V
R  R   1  A1 ( 1 )e 1 ( 0 )  A2 (  2 )e  2 ( 0 ) 
1  0  A1  A2    L
2L  2 L   LC   1 A1  (  2 ) A2 
V
A  A 2 L
R 1  R2   1 
2        1 A1  (  2 )(  A1 ) 
V
2L  2 L   LC  L
V
 R   1  R  A1  2 A11 
2 2
R  1R
1   2           L
2L  2 L   LC  2 L  2 L   LC V 
A1 ( 1   2 ) 
R R R L
1   2    V 1 V 1
2L 2L L A1  
R L ( 1   2 ) L ( 2  1 )
L
1   2
V 1
A1 
L ( 2  1 )
V 1
A1 
R ( 2  1 )
( 2  1 )
V ( 2  1 )
A1 
R ( 2  1 )

V 1 V ( 2  1 )
A1   A2  
L ( 2  1 ) R ( 2  1 )
karena :
i  A1e 1t  A2 e  2t
maka :
V ( 2  1 ) 1t V ( 2  1 )  2t
i e  e
R ( 2  1 ) R ( 2  1 )
V ( 2  1 )
i (e 1t  e  2t )
R ( 2  1 )

Tegangan impuls

v  iRo
V   2  1  1t
v 
R   2  1 
 
 e  e  2t Ro

 Ro 
 ( 2  1 ) 
v V 
R
 2  1

 e 1t  e  2t 
jika
 2  1
A Ro
R
maka

v V
A
 2  1

e 1t  e  2t 
jika
A
K V
 2  1
maka

v  K e 1t  e  2t 
maka
A   1 Ro
K V  2 V
 2  1  2  1 R

1 dan 2 adalah positip dan riil

Gambar 6.4.
Analisa persamaan impuls RLC

• Dalam praktek harga yang harus ditentukan adalah


panjangnya:

– Muka gelombang

– Ekor gelombang

• Maka yang harus dicari adalah harga :

– 1 dan 2
– L dan R
– L dan C
– R dan C
• Untuk menentukan 1 dan 2 diperlukan 2 persamaan:

– Yang menyatakanTf adalah titik maksimum, yaitu


pada waktu dv/dt=0.
V  K (e 1t  e  2t )
karena
dv
0
dt
maka
V  K (e 1t  e  2t )
dv
 K ( 1e 1t   2 e  2t )
dt
0  K ( 1e 1t   2 e  2t )
1e  t   2 e  t
1 2

ln( 1e  t )  ln(  2 e  t )


1 2

ln( 1 )  ( 1T f )  ln(  2 )  (  2T f )


 1T f   2T f  ln(  2 )  ln( 1 )
 1 
 T f (1   2 )  ln 
  
 2 
1  2 
Tf   ln 
  
(1   2 )  1 

Yang menyatakan bahwa tegangan impulsnya


menurun menjadi setengahnya pada waktu Tt :

 T  T
(e 1Tt  e  2Tt )  1 (e 1 f  e 2 f )
2
• Secara teoritis, 1 dan 2 dapat dicari dari 2 persamaan
diatas bila Tf dan Tt diketahui.
• Oleh karena penyelesaiannya agak sulit maka
digunakan penyederhanaan berikut :

 2  1 1k
1 
ln 2 1
1 
ln 2  2
1 
ln 2
1  2 1 1  2 1 1  2 1
Tt  T f e 1 e 1 e
2 2
 1k  1  2 
maka  ln 2  ln 2  ln 2
1  2 1 1  2 1 1  2 1
1Tt  2Tt e 1 e 1 e
e  e 2 2
karena jika
Tt 2
k 
Tf 1
jadi maka
 T  T
(e 1Tt  e  2Tt )  1 (e 1 f  e 2 f ) 
 1k 
ln 2 
1 
ln 2 
2 
ln 2
2 e 1  2 1
1 e 1  2 1
1 e 1  2 1
 kT  T
(e 1 f  0)  1 e 1 f  1 e 2 f
 T 2 2
2 2 1
k
1 2
1  1  1 
 ln 2  ln 2  ln 2
1  2 1 1  2 1 1  2 1
  
1 1 1 1 1 1
e 1 e 1 e
2 2
k 1 
ln  ln  1 
ln 
1  1 
e 1 e 1 e
2 2

• Dari persamaan tersebut dapat ditatrik sebuah


lengkung yang menghubungkan k dengan 
• Jadi untuk tiap bentuk gelombang dimana Tf dan Tt
diberikan maka k dan  dapat dihitung
Gambar 6.6. Kurva konstanta k dengan 

1    
2    
1   2           2
1   2            2
1    1
Tf  ln 
     ln 
2   2
1
  ln 
2T f
dan
2  
  
2  
        
      
 (   1)     
 (   1)   (   1)
 1
  
 1
• Jadi bila Tf dan Tt diketahui maka k dapat dihitung.
• Dari gambar dapat diukur ln , sehingga  dapat
dihitung.
• Setelah itu  dapat dicari.
• Sehingga 1 dan 2 dapat ditentukan.
• Apabila ketelitian yang lebih tinggi dikehendaki, maka
dipakai cara analitis sebagai berikut :

e 1Tt  e  2Tt
1kT f  2 kT f
e  e
 (   ) kT f  (   ) kT f
e  e

 T  T
(e 1Tt  e  2Tt )  1 (e 1 f  e 2 f )
2
karena
e  2Tt  0
maka
 T  T
e 1Tt  1 (e 1 f  e 2 f )
2
 (   ) kT f  (   ) T f  (   ) T f
e  1 (e e )
2
dibagi
 (   )T f
e
maka
 (   ) kT f  (   )T f  (   ) T f  (   )T f  (   ) T f  (   ) T f
e  1 (e e )
2
 (   )( k 1)T f  2T f
e  1 (1  e )
2
1

 (   )( k  1)T f  ln  1  e f 
2
2T 


 2T f
1 1 e 
(   )  ln 



( k  1)T f  2 
1  2 
(   )  ln   2T f 
( k  1)T f 1 e 
jika
 2T f
2T f  4  e  0.01832
1 0.693
(   )  ln 2 
( k  1)T f ( k  1)T f

• Kesalahan kira-kira 2%.


• Dengan trial and error maka  dan  dapat dicari.
• Dan dengan cara yang sama pula 1 dan 2 dapat
ditentukan.
Tabel 6.1. Harga untuk beberapa macam bentuk gelombang

Bentuk   2 - 2 LC RC
Gelombang

1 x 40 2.768 2.75 0.1 21.7 54.5

1 x 50 3.044 3.029 0.0862 11.6 70.6

1.5 x 40 1.766 1.757 0.0642 15.6 55.4


2 1
 1   2  
R  R 
 
1   2  2
  LC
2L  2 L  LC
 1   2    
1
L

 C  2  2 
R
 1
L
2L
2

C   2
2

 R  1 1
     2 dan
 2 L  LC LC R
lalu  
2L
1 2
  2 R   2L 
LC 
C  2  2 
1
2 2 
LC

6.5. Cara Mengukur Tegangan Impuls Dengan Menggunakan Sela


Bola

• Sela bola sering digunakan untuk mengukur tegangan impuls


• Sela bola harus selalu ditera dengan tegangan percik 50%
(disingkat 50% sparkover) dari sela bola standar.
• Sela bola standar adalah sela bola yang memenuhi syarat
standar mengenai :
– Kwalitas
– Jarak sela
– Ukuran bola
• Dalam keadaan udara tertentu, sela bola selalu mempunyai
tegangan percik tertentu pula.
Itulah sebabnya sela bola dapat dipakai sebagai alat ukur.

Untuk menetapkan 50% spark over dapat ditentukan dengan 2 cara


:
– Interpolasi
– Cara naik dan turun (up-and-down method), lebih umum
digunakan. Prosesnya yaitu:
• Cara naik dan turun (up-and-down method). Mula-mula
tegangan puncak dari percikan minimum diterapkan
pada sela.
• Apabila percikan terjadi, maka tegangan di turunkan
setingkat (besar tingkatan ditentukan dari pengalaman)
• Tegangan ini diterapkan lagi, kalau masih ada percikan
tegangan diturunkan lagi. Apabila tidak tegangan
dinaikkan
• Prosedur ini diulang sampai 30 – 50 kali.

6.6. Efisiensi Tegangan Impuls

• Karena ada jatuh tegangan (voltage drop) maka tegangan


impuls yang sampai ke spesimen yang diuji akan lebih rendah

• Maka dapat didefinisikan effesiensi tegangan :

Vmax
V 
V
• Effesiensi tegangan ini sering disebut juga sebagai “utilization
ratio”.

Untuk sirkit RLC :

 2
 
 2  1 Ro   2  2 1
 1 
    2 1

V      2 
 2  1 R  1   1  
 
khusus
T f  Tt  1 40
maka
Ro
V  0.972
Ro  Rs
6.7. Generator impuls Marx

Gambar 6.7 Rangkaian Marx


Circuit Marx adalah gelombang dorongan untuk
membentuk rangkaian eksternal terhubung ke unit
kapasitor.

Rangkaian Max mengubah sirkuit yang ditampilkan, di


mana resistor R1 dan R2 digabungkan dalam unit. R1 dibagi
n menjadi beberapa bagian sama dengan R1/n dan
dimasukkan ke dalam seri dengan celah G juga menghemat
ruang dan biaya berkurang. Namun, dalam kasus
waveshape harus bervariasi secara luas, variasi menjadi
sulit, manfaat tambahan yang diperoleh dengan
menyebarkan R1 dan R2 dalam unit ini adalah bahwa
kontrol resistor yang lebih kecil dalam ukuran dan efisiensi
(Vo / nV) tinggi.

Skematik sirkuit diagram Marx :


Biasanya resistor Rs dipilih untuk membatasi pengisian
pengisian sekitar 5-10 mA, dan generator kapasitansi C
dipilih seperti bahwa produk CR adalah sekitar 10-an
sebentar. Gap jarak dipilih sedemikian sehingga tegangan
rincian kesenjangan G lebih besar bahwa pengisian
tegangan V. Jadi, semua dibebankan kapasitansi dengan
tegangan V di sekitar satu menit. Ketika generator impuls
akan rendah, kesenjangan G dibuat untuk memicu lebih
dalam hubungannya dengan beberapa cara eksternal. Jadi,
semua kapasitor C dapat dihubungkan secara seri dan
kapasitansi beban atau debit ke dalam spesimen. Waktu
debit CR1 konstan (untuk tahap n) akan sangat sangat kecil
(microsecond), dibandingkan dengan waktu pengisian
konstan CR akan beberapa detik. Oleh karena itu, debit
tidak terjadi melalui resistor pengisian Rs.