Anda di halaman 1dari 12

2.

1 Penelitian Lapangan

Dalam penelitian lapangan biasanya digunakan berbagai teknik dan cara seperti pemetaan
geologi dan geologi teknik, pengunkapan batuan, pemboran inti & pengunkapan inti pemboran,
pengukuran geofisis, pengambilan contoh untuk penelitian di laboratorium, percobaan di
lapangan, galian-galian percobaan. Data yang dikumpulkan dalam batuan antara lain berat jenis,
porositas, permeabilitas, elastisitas, gaya tekan dan lain-lain.

Peristilahan material bangunan sering terjadi masalah, oleh karena itu sebagai konsultan
bidang geologi teknik harus memahami istilah-istilah atau batasan-batasan yang benar menurut
bidang teknik sipil. Dalam dunia keteknikaan tanah digambarkan sebagi kumpulan alamiah
butiran mineral yang dapat dipisahkan dengan mekanika dengan mudah, misalny agitasi air,
sedangkan batuan merupakan kumpulan alamiah butiran mineral yang dihubungkan dengan
tenaga kohesif kuat dan tetap

Dalam pembangunan bangunan Teknik Sipil, seorang ahli geologi harus dapat
memberikan analisa geologi mengenai suatu tempat. Ini sangat penting karena mengingat
bangunan yang akan dibangun pada suatu daerah harus memperhitungkan faktor daya dukung
tanah, ataupun aspek geologis lainnya (daerah gempa, daerah patahan, dan sebagainya). Secara
umum seorang ahli geologi dalam suatu proyek Teknik Sipil hendaknya dapat :
1. Menerangkan dengan tepat situasi teknik geologis
2. Menentukan sejauh mana bawah-tanah (underground) akan bereaksi terhadap suatu
bangunan.

Untuk dapat melakukan hal tersebut dibutuhkan adanya suatu Penyelidikan Geologi
Teknik. Dalam standar internasional (British) kita mengenal kode etik mengenai investigasi
lapangan, yakni BS 5930 : 1981 dimana di dalamnya berisi definisi serta aturan investigasi
lapangan (tujuan, cakupan, prosedur pengerjaan dan metode yang digunakan).
2.2 Tahapan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk menentukan seekonomis mungkin dari sebuah proyek,
sehingga dapat meramalkan kondisi geologi bawah permukaan, berdasarkan data -data geologi
permukaan dan disertai laporan secara umum dan lengkap, luas perihal percobaan di lapangan.
Tahapan penelitian bidang pekerjaan geologi teknik yang umum adalah sebagai berikut:

1. Studi awal/pendahuluan
 Interpretai peta geologi regional
 Interpretasi peta topografi
 Interpretasi foto udara.
2. Pengumpulan data lapangan:
 Pemetaan skala kecil (1 : 2.000); 1 : 10.000) atau disesuaikan dengan luas
rencana bangunan konstruksi
 Peta geologi teknik (mencakup pula kondisi air tanah).
3. Penyelidikan detil:
 Penyelidikan geofisika membantu penentuan sifat2 fisik batuan / tanah
 Pendugaan lapisan bawah permukaan penyebaran
 Pemboran dan pengambilan contoh batuan/tanah
 Analisis laboratorium, perhitungan, sintesa
 Kompilasi dengan rencana pembangunan konstruksi, laporan.

Kualitas hasil penelitian lapangan ditentukan oleh penggunaan alat secara optimal berbagai
teknik penelitian dalam lingkup anggaran biaya yang tersedia untuk kegiatan penelitian tersebut.
Metode penelitian lapangan yang memberikan informasi data permukaan adalah berupa peta
geologi, geomorfologi, foto udara dan informasi bawah permukaan dari interpretasi struktur
geologi (dip batuan, posisi stratigrafi, umur dll), pengukuran geofisis maupun pemboran.

2.3 Metode Penelitian

Lingkup pekerjaan ini dapat dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu:

 Perencanaan
 Pekerjaan Lapangan
 Pekerjaan Laboratorium
 Analisis dan evaluasi data
 Penyusunan laporan

1. Perencanaan

Kelancaran suatu kegiatan, sebagian besar ditentukan selama tahap perencanaan. Tahap
perncanaan ini perencanaan sebelum ke lapangan dan perencanan selama di lapangan.

1.1. Perencanaan sebelum ke lapangan

Perncanaan ini meliputi hal-hal yang sangat mendasar sebelum tim berangkat ke lapangan, yang
menyangkut:

masalah administrasi, konsolidasi personalian tim, kesiapan transportasi dan peralatan lapangan,
serta keperluan-keperluan lain untuk pekerjaan pujian di lapangan

Pengumpulan data lapangan yang telah ada atau laporan dari penyelidik terdahulu.

Penyiapan peta dasar baik peta topografi maupun foto udara dengan skala yang disesuaikan
dengan maksud dan tujuan pemetaan/penyelidikan.

1.2. Perencanaan selama di lapangan

Merupakan perencanaan yang dilakukan di base camp sebelum melakukan


pemetaan/penyelidikan geologi teknik. Sebaiknya sebelum kegiatan dilakukan, terlebih dahulu
dilakukan penyelidikan pendahuluan (reconnaise) dengan maksud untuk mengenal medan,
situasi daerah dan kebiasaan-kebiasaan penduduk yang berada di daerah pemetaan/penyelidikan.

Dari hasil penyelidikan pendahuluan baru direncanakan kegiatan selanjutnya secara lebih terarah,
yaitu dengan membuat rencana lintasan.

2. Pekerjaan Lapangan

2.1.Pemetaan Geologi Teknik

a. Morfologi dan kemiringan lereng

Meliputi kondisi bentang alam beserta unsur-unsur geomorfologi lainnya, penafsiran


genesa morfologi dan perkembangan geomorfologi yang mungkin akan terjadi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan bentuk lembah, pola aliran sungai, sudut
lereng, pola gawir dan bentuk-bentuk bukit. Morfologi atau bentang alam seperti tampak pada
saat sekarang ini merupakan hasil kerja dari sistem alam, yaitu proses-prosesdalam bumi
(geologi, volkanisme) dan proses-proses luar (air permukaan, gelombang, longsoran, tanaman,
binatang termasuk manusia).
Morfologi sangat penting dalam hubungannya dengan pelaksanaan pembangunan, yaitu
untuk mengetahui karakteristik bentang alamnya seperti kemiringan lereng dalam kaitannya
dengan jangkauan optimum sudut lereng untuk keperluan kesampaian lokasi dan operasional
kendaraan pengangkut bahan bangunan, sampah dan tataguna lahan pada saat ini.

b. Satuan Tanah dan batuan

Satuan tanah dan batuan memberikan informasi mengenai susunan atau urutan stratigrafi
dari tanah dan batuan secara vertikal maupun horisontal. Untuk itu perlu dilakukan pemerian
sifat fisik dan keteknikan tanah/batuan yang dapat diamati langsung di lapangan secara
megaskopis.

Penyusunan satuan geologi teknik dilakukan dengancara pengelompokan tanah dan


batuan yang mempunyai sifat fisik dan keteknkan yang sama atau mendekati sama.

c. Struktur Geologi

Meliputi pemerian jurus dan kemiringan lapisan batuan, kekar, rekahan, sesar, lipatan dan
ketidak selarasan. Data ini sangat penting dalam pekerjaan pembangunan infrastruktur guna
menghindari atau memecahkan permasalahan yang dapat terjadi.

Intensitas kekar atau retakan, tingkat kehqncuran batuan yang diakibatkan oleh adanya
sesar terutama bila dijumpai sesar aktif maupun perselingan lapisan batuan yang miring adalah
merupakan zona lemah yang dapat menimbulkan permasalahan, misalnya longsoran.

d. Keairan

Pengamatan yang perlu dilakukan meliputi kedalaman muka air tanah bebas, sifat
korosifitas air tanah dan munculnya mata air atau rembesan yang dapat mempengaruhi
perencanaan konstruksi pondasi bangunan. Apabila dianggap perlu diambil contoh air tanahnya
untuk diuji di laboratorium, guna mengetahui tingkat korosivitasnya.

e. Bahaya Geologi

Meliputi pengamatan dan penilaian tentang ada tidaknya bahaya yang mungkin dapat
terjadi sebagai akibat dari faktor geologi. Identifikasi bahaya geologi sangat erat kaitannya
dengan pembangunan infrastruktur, karena dikhawatirkan akan menjadi kendala atau hambatan
selama pembangunan maupun pasca pembangunan, antara laian struktur sesar aktif, gerakan
tanah/batuan, banjir bandang, ambblesan tanah/batuan, bahaya kegunung apian, erosi dan abrasi,
kegempaan, Tsunami, dan lempung mengembang.

2.2. Penyelidikan Geofisika


Metoda geofisika dimaksudkan untuk mengetahui secara garis besar gambaran keadaan
geologi bawah permukaan, yaitu : satuan-satuan tanah/batuan; batas-batas satuan tanah/batuan
baik secara horizontal maupun vertical, dan gejala-gejala geologi seperti patahan, daerah rekahan,
kandungan air tanah dan lain-lain.

Penggunaan penyelidikan geofisika ini banyak mengandung keuntungan-keuntungan,


antara lain:

1. Mendapatkan gambaran keadaan bawah permukaan di daerah yang luas dalam waktu
yang pendek.
2. Memudahkan membuat intrepetasi penampang geologi
3. Memperkecil jumlah titik-titik pengeboran, karena akan mempermudah korelasi antara
titik-titik pengeboran.
4. Membuat lebih effisien dan memperkecil biaya penyelidikan
5. Metoda geofisika yang telah dikembangkan untuk maksud keteknikan, antara lain:
Metoda seismik, geolistrik dan metoda electromagnetic subsurfaca profiling/Radar
(Radio Detecting and Ranging) Sounding.
 Metoda Seismik

Metoda ini umumnya dilakukan mulai dari studi pendahuluan hingga studi kelayakan. Pada
studi pendahuluan metoda ini dilakukan untuk mengetahui kondisi perlapisan tanah dan batuan
serta struktur geologi yang akan dibangun secara makro, sehingga dalam studi kelakyakan akan
dapat dilakukan dengan baik orientasi pekerjaan yang akan dilakukan, seperti:

1. Penentuan lokasi dan jumlah bor inti yang akan dilaksanakan


2. Penentuan jumlah contoh yang akan diambil
3. Pembuatan penempang geologi teknik/geoteknik khususnya dalam pembuatan korelasi
stratigrafi antar titik bor
4. Penentuan ketelitian penyelidikan terutama pada daerah-daerah yang diperkirakan
mempunyai potensi struktur geologi yang membahayakan
5. Penentuan lokasi-lokasi struktur bangunan
 Metoda Geolistrik

Dalam metoda ini arus listrik dialirkan di tanah melalui elektroda-elektroda dan perbedaan
potensial diukur diantara dua buah elektroda. Perbedaan dalam tahanan jenis kemudian dapat
diukur baik vertikal maupun lateral dengan menukar susunan elektroda.

Metoda ini memberikan data stratigrafi, cadangan kuari, kedalaman muka airtanah maupun
kedudukan lapisan pembawa air tanah, pola retakan dan indikasi bidang longsor.

 Metoda Electromagnetic Subsurfaca Profiling/Radar.

Metoda ini merupakan cara yang paling cepat untuk membuat penempang bawah
permukaan. Metoda ini akan mendeteksi kondisi bawah permukaan dengan cara memancarkan
spectrum/gelombang electromagnetis ke formasi tanah/batuan yang kemudian akan diterima oleh
alat receiver yang diseret dibelakang alat pemancarnya (transmitter). Dari hasil pengujian
diperoleh profil intasan dan dapat langsung diinterpretasikan di lapangan.

Kenampakan yang dapat dengan mudah dideteksi, antara lain: Jenis dan perlapisan
tanah/batuan, adanya ruang kosong (lubang) di bawah tanah, sisa-sisa pondasi, ketebalan lapisan
aspal.

2.3 Pengujian keteknikan tanah dan batuan

Pengujian lapangan terhadap sifat fisik dan mekanik tanah maupun batuan seperti
konsistensi, kepadatan dan plastisitas tanah, kekerasan dan kekompakan batuan dicatat pada
kolom diskripsi tanah dan batuan pada setiap penampang pengeboran inti (teknik) dan
pengeboran tangan.

2.4 Pengambilan contoh tanah dan batuan

Pengambilan contoh tanah dan batuan dilakukan untuk pengujian laboratorium mekanika
tanah dan batuan (Lab. Mektanbat), yaitu berupa Contoh tanah tak terganggu (undisturbed
samples) dan contoh tanah terganggu (disturbed samples).

 Contoh tanah tak terganggu (undisturbed samples)

Contoh tanah tidak terganggu adalah suatu contoh yang masih menunjukan sifat-sifat aslinya,
artinya contoh-contoh ini tidak mengalami perubahan dalam struktur, kadar air (water content),
atau susunan kimia. Namun demikian contoh yang benar-benar asli tidaklah mungkin untuk
diperoleh, akan tetapi dengan teknik pelaksanaan sebagaimana mestinya dan cara pengamatan
yang tepat, maka kerusakan-kerusakan terhadap contoh bisa dibatasi sekecil mungkin. Contoh
tanah tidak terganggu dapat diambil memakai tabung contoh (tube sample), core barrels, atau
mengambilnya secara langsung dengan tangan, sebagai contoh dalam bentuk bomgkah-bongkah
(block samples).

 contoh tanah terganggu (disturbed samples).

Contoh tanah terganggu diambil tanpa adanya usaha yang dilakukan untuk melindungi struktur
asli dari tanah tersebut. Contoh tanah terganggu ini dapat dipakai untuk segala penyelidikan yang
tidak memerlukan contoh asli (undisturbe samples), seperti ukuran butir, batas-batas atterberg,
pemadatan, berat jenis dan sebagainya.

Untuk contoh batuan dapat berupa pengambilan batu setempat (hand spacement) pada
batuan utuh (intact rock) dan pengambilan batu yang terdapat bidang ketidak sinambungan
(discontinuity) pada massa batuan (rock mass) apabila banyak dijumpai retakan, rekahan (heavy
broken rocks).

2.5 Pemetaan sebaran bahan bangunan


Untuk identifikasi lokasi-lokasi yang berpotensi sebagai sumber bahan bangunan. Secara
kasar (megaskopis) harus dilakukan diskripsi terhadap sifat fisik dan keteknikan bahan bangunan
guna mengetahui perkiraan kualitas bahan bangunan serta taksiran besarnya cadangan. Apabila
memungkinkan dilakukan pengukuran dan pembuatan beberapa penampang guna
memperkirakan volume (kuantitas) cadangan.

2.6 Pengeboran tangan

Pekerjaan ini dimaksudkan untuk mengetahui ketebalan lapisan tanah, urutan jenis
lapisan tanah bawah permukaan dan konsistensi serta kepadatan relatif tanah. Kedalaman
maksimum 10 m atau dihentikan setelah mencapai lapisan bawah permukaan yang keras.
Pekerjaan pengeboran tangan dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan hasilnya disajikan pada
penampang bor/log pemboran tangan.

2.7 Pengeboran teknik / inti

Dalam pekerjaan pemetaan untuk keperluan suatu proyek vital / strategis diharuskan
melakukan pekerjaan pengeboran teknik / inti. Pekerjaan ini dimaksudkan untuk mengetahui
ketebalan lapisan tanah dan batuan, urutan jenis lapisan batuan bawah permukaan dan
konsistensi serta kepadatan relatif tanah, kekerasan dan kepadatan batuan. Kedalaman
maksimum 60 m, pengujian N-SPT dan pengambilan contoh tidak terganggu (undisturbed
samples) setiap interval 1,5 hingga 2 meter.

Pengeboran teknik / inti akan dilakukan sesuai kebutuhan dan hasilnya disajikan pada
penampang bor atau log pengeboran teknik dan diusahakan dibuat korelasi penampang bor untuk
mengetahui kondisi bawah permukaan dapat diwujudkan dalam diagram pagar.

2.8 Pengujian SPT (Standar Penetration Test)

Pengujian dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan atau perlawanan tanah/batuan


terhadap penetrasi tabung SPT atau tabung baja sehingga akan diperoleh jumlah pukulan untuk
memasukan tabung SPT tersebut sedalam 30 cm ke dalam tanah yang masih belum terganggu
atau diperoleh nilai SPT (N).

Dengan melihat pada nilai SPT akan dapat diperkirakan kondisi batas tanah dan lapisan
keras serta dapat dikorelasikan dengan sifat-sifat maupun variasi tanah yang diuji. Hasil
pengujian akan berguna dalam perencanaan letak dan jenis pondasi.

2.9 Pekerjaan sondir

Pekerjaan ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras, menentukan
lapisan-lapisan tanah berdasarkan tahanan ujung konus dan daya lekat tanah berbutir halus, tidak
boleh digunakan pada daerah aluvium yang mengandung kmponen berangkal dan kerakal,
karena hasilnya akan memberikan indikasi lapisan tanah keras yang salah.
Alat sondir yang digunakan pada pelaksanaan pekerjaan lapangan ini adalah alat sondir
hidrolik atau mekanik (manual) dengan kapasitas maksimum 2,5 ton 5 ton maupun 10 ton yang
dilengkapi dengan ujung penetrometer / sondir bikonus (friction sleeve).

Pembacaan dilakukan pada setiap penekanan pipa sedalam 20 cm, pekerjaan sondir
dihentikan apabila pembacaan pada manometer berturut-turut menunjukkan harga > 150 kg/cm2.
Alat sondir terangkat apabila pembacaan manometer belum menunjukkan angka maksimum,
maka alat sondir perlu diberi pemberat yang diletakan pada baja kanal jangkar.

Hasil yang diperoleh adalah nilai sondir (qc) atau perlawanan penetrasi konus dan jumlah
hambatan pelekat (JHP). Grafikmyang dibuat adalah perlawanan penetrasi konus (qc) pada tiap
kedalaman dan jumlah hambatan pelekatsecara komulatif.

Namun demikian ada beberapa kelemahan atau kekurangan dalam uji sondir, yaitu:

1. Tidak didapatkannya sample tanah


2. Kedalaman penetrasi terbatas
3. Tidak dapat menembus kerikil atau lapisan pasir yang padat

4.2.10 Pengujian langsung di lapangan (in situ test)

Pengujian langsung di lapangan antara lain: pocket penetrometer test, uji geser baling,
permeabilitas. Sedangkan pada batu dapat dilakukan pengujian beban titik (point load test),
kekerasan batuan dengan (Schmidt Hammer Test) atau menggunakan palu geologi.

a. Pocket Penetrometer Test

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan tanah, yaitu dengan cara
menekan atau menusukan alat penetrometer kedalam tanah, maka akan didapat besaran
kekuatan tanah dalam satuan kg/cm2.

b. Uji Geser Baling

Pengujian ini dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan geser tanah lempung,


umumnya pada tanah lempung lunak dengan hasil yang diperoleh merupakan nilai
kekuatan geser dalam kondisi tidak terdrainase.

c. Uji Permeabilitas tanah

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui koefisien permeabilitas tanah (k)


langsung di lapangan dengan media lubang bor. Metoda pengujian ada beberapa cara,
antara lain:

1. Pengujian Constan Head


2. Pengujian Falling Head
3. Pengujian Packer
4. Pengujian Lugeon

d. Point Load Test

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui/mengukur kekuatan batuan dengan


dengan bentuk tidak beraturan atau beraturan.

e. Hammer Test

Pengujian untuk mengukur kekerasan batuan di lapangan. Hasil dari pengujian


tersebut, dimasukan dalam grafik kurva akan memberikan nilai kuat tekan batuan.

2.11 Pendugaan Dinamis (dengan alat DCP)

Pendugaan dinamis atau dikenal dengan DCP (Dynamic Cone Penetrometer


dikembangkan oleh TRRL (Transport and Road Research Laboratory).

Umunya alat ini digunakan pada perencanaan jalan raya dan konstruksi berupa timbunan
(embankment) dengan maksud dan tujuan sebagai berikut:

 Untuk mengetahui ketebalan lapisan dangkal dari tanah lunak atau kedalaman sampai
batuan.
 Untuk pengukuran (dengan cepat) sifat-sifat struktur jalan yang sudah ada (existing)
dengan konstruksi lapisan perkerasan jalan raya yang materialnya lepas (tak terikat)
 Untuk menentukan daya dukung tanah dangkal secara cepat, pada perencanaan jalan,
baik jalan raya maupun jalan inspeksi (pada tanggul saluran irigasi).

Alat ini dapat mengukur sedalam 80 cm secara menerus atau maksimum 120 cm, dimana
batas-batas lapisan perkerasan yang mempunyai kekuatan berbeda sudah diidentifikasi dan
ketebalan lapisan telah diketahui.

3. Pekerjaan Laboratorium

Pekerjaan laboratorium merupakan kelanjutan dari pekerjaan lapangan. Pekerjaan ini


dimaksudkan untuk memperoleh parameter sifat keteknikan tanah dan batuan guna menunjang
dalam melakukan analisis geologi teknik berdasarkan standard ASTM.

Jenis pengujian untuk contoh tanah meliputi:

 Pengujian Basic Properties terdiri dari:

a. Kadar air (Wn) ASTM. D.2217-71

b. Berat Jenis (Gs) ASTM.D.854-72

c. Berat Isi /density (γ) ASTM.D.4718


 Pengujian Index Properties terdiri dari:

a. Atterberg Limit ( LL, PL, PI ) ASTM. D.4318

b. Analisa besar butir ASTM.D 422-72

 Pengujian Engineering Properties terdiri dari :

a. Triaxial Test ( UU & CU ) ASTM.D 2850

b. Konsolidasi ASTM D

Jenis pengujian untuk contoh batuan,

 Pengujian mekanika batuan

Untuk menentukan kepadatan, kekerasan , kekuatannya dengan cara :

1. Supersoni waves
2. Triaxial Compressive Strenght ASTM. D.2664-67
3. Density, Poison’s Ratio, Modulus of elasticity ASTM 19 D.2845 – 69
4. Unconfined compressive strenght
 Pengujian untuk bahan agregat :
1. Relative density dan water absorption ASTM C. 128
2. Analisa petrografi
3. Particle size distribution ASTM 14
4. Flakiness index ASTM 14
5. Elongation index ASTM 14
6. Relative density and absorption ASTM 14
7. Bulk density ASTM 14

4. Analisis dan Evaluasi Data

Analisis dan evaluasi data dimaksudkan untuk mempelajari dan mencari hubungan dari
pengaruh faktor morfologi, geologi, struktur geologi, keairan, tata lahan dan aktivitas manusia
terhadap pengelompokkan geologi teknik serta pembuatan penilaian geologi teknik, mencakup:

a. Mengklasifikasikan kemiringan lereng berdasarkan bentuk topografi daerah


pemetaan/penyelidikan;
b. Mencari hubungan sudut lereng/morfologi terhadap masalah geologi teknik daerah
pemetaan/penyelidikan;
c. Mencari hubungan dan pengaruh sifat fisik dan mekanik tanah/batuan terhadap masalah
geologi teknik;
d. Mencari hubungan kejadian bahaya geologi dengan kondisi geologi teknik daerah
pemetaan/penyelidikan;
e. Menganalisis pengaruh struktur geologi terhadap masalah geologi teknik;
f. Analisis daya dukung dan perosokan tanah;
g. Analisis kemantapan lereng terhadap sifat fisik dan mekanik tanah/batuan;
h. Penentuan satuan geologi teknik;
i. Penyusunan satuan geologi teknik dilakukan dengan cara pengelompokan tanah/batuan
yang mempunyai jenis yang sama atau mendekati sama dari Formasi batuan
j. Tanah pelapukan berketebalan lebih dari 1 (satu) meter dipetakan sebagai tanah
sedangkan kurang dari 1 (satu) meter dipetakan sebagai batuan;
k. Hasil dari pengamatan lpangan baik berupa pengamatan tanah batuan, penyondiran,
pengeboran tangan, masalah geodinamika (bahaya beraspek geologi) ditambah dengan
data sekunder yang didapat perlu dituangkan dalam peta geologi teknik.
l. Penggambaran peta dan penampang geologi teknik.

5. Penyusunan Laporan

Penulisan laporan yang baik dan lengkap merupakan bagian yang paling penting dalam
suatu pemetaan/penyelidikan geologi teknik. Pada dasarnya kegunaan suatu laporan meliputi
penguraian secara tepat apa-apa yang telah dipetakan/diselidiki dan memadukan serta
menerangkan hubungan geologi teknik dengan permasalahan yang ada. Keterangan dan
kesimpulan laporan harus didasarkan atas kenyataan yang ada di lapangan.

Laporan pemetaan/penyelikan geologi teknik memuat berbagai informasi dan permasalahan


yang melatar belakangi dilakukan pemetaan serta uraian hasil analisis dan evaluasi geologi
teknik.
ANONIM, 1980., Pedoman Penyelidikan Geologi Teknik dan Mekanikan tanah, Departemen
Pekerjaan Umum

KARL TERZAGHI DAN RALPH B.PECK, 1987, Mekanika Tanah Dalam Praktek Rekayasa,
Alih Bahas Ir. Bagus Wicaksono dan Ir. Benny Krisna, Penerbit Erlangga

NOOR ENDAH DAN INDRASURYA B. MOCHTAR, 1993, Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip


Rekayasa Geoteknik), Penerbit Erlangga, Jakarta.

PAULUS, P.R., 1997, Uji Sondir, Interpretasi dan Aplikasinya untuk Perancangan Pondasi,
Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

WESLEY, L.D., 1976, Mekanika Tanah dan Batuan, Penerbit Pekerjaan Umum, Cetakan ke VI

Anda mungkin juga menyukai