0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
254 tayangan12 halaman

Makalah Mku 9

Paragraf pertama membahas latar belakang bahwa modal merupakan faktor penting bagi perusahaan untuk melakukan kegiatan usahanya. Paragraf kedua membahas rumusan masalah yaitu tentang biaya modal dan analisis efek pengungkit. Paragraf ketiga membahas tujuan untuk mengetahui definisi biaya modal dan analisis efek pengungkit.

Diunggah oleh

Cintia Febrita
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
254 tayangan12 halaman

Makalah Mku 9

Paragraf pertama membahas latar belakang bahwa modal merupakan faktor penting bagi perusahaan untuk melakukan kegiatan usahanya. Paragraf kedua membahas rumusan masalah yaitu tentang biaya modal dan analisis efek pengungkit. Paragraf ketiga membahas tujuan untuk mengetahui definisi biaya modal dan analisis efek pengungkit.

Diunggah oleh

Cintia Febrita
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Modal merupakan suatu faktor penting yang dibutuhkan oleh setiap perusahaan dalam
melaksanakan kegiatan usahanya yaitu sebagai sumber pembelanjaan aktivitasnya yang akan
digunakan untuk operasi, pengembangan usaha dan investasi (Khireta, Suhadak dan
Handayani, 2014). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Atmaja (2008 : 115) “Modal
adalah dana yang digunakan untuk membiayai pengadaan aktiva dan operasi perusahaan.
Modal terdiri dari item-item yang ada disisi kanan suatu neraca, yaitu hutang, saham biasa,
saham preferen, dan laba ditahan”.

Biaya modal adalah sebagai biaya riil yang harus di keluarkan oleh perusahaan untuk
memperoleh dana baik yang berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa, maupun laba
ditahan yang digunakan untuk mendanai suatu investasi atau operasi perusahaan (Mardiyah,
2002) dalam (Ningsih dan Hartini, 2017).

Rasio Solvabilitas atau Rasio Pengungkit (Leverage Ratio) adalah rasio yang digunakan
untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaan
tersebut dilikuidasi. Leverage merupakan suatu rasio yang digunakan untuk menilai seberapa
besar aset perusahaan yang dibiayai dengan menggunakan hutang. Perusahaan yang lebih
banyak asetnya dibiayai dengan hutang cenderung akan melakukan tindakan menaikkan
jumlah laba yang diperoleh akibat tingginya beban bunga (Rice,2016).

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud biaya modal ?

2. Apa yang dimaksud dengan analisis dan implikasi efek pengungkit ?

1.3 TUJUAN MASALAH

1. Mengetahui yang dimaksud dengan biaya modal

2. Mengetahui yang dimaksud dengan analisis dan implikasi efek pengungkit

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 BIAYA MODAL

2.1.1 Biaya Modal Rata-rata Tertimbang

Biaya modal bisa diartikan sebagai tingkat keuntungan yang diharapkan atau tingkat
keuntungan yang disyaratkan. Jika kita melakukan analisis investasi, biaya modal akan
digunakan sebagai discount rate dalam analisis NPV atau IRR. Biaya modal tersebut pada
dasarnya merupakan biaya modal rata-rata tertimbang dari biaya modal individual (Mamduh
Hanafi, 2004 : 275). Di dalam buku manajemen keuangan (Mamduh Hanafi,2004) dijelaskan
langkah yang harus dilakukan dalam menghitung biaya modal rata-rata tertimbang yaitu
sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi sumber-sumber dana


2. Menghitung biaya modal individual (biaya modal untuk setiap sumber dana)
3. Menghitung proporsi dari masing-masing sumber dana
4. Menghitung rata-rata tertimbang dengan menggunakan proporsi dana sebagai
pembobot

1. Mengidentifikasi Sumber-Sumber Dana

Secara umum ada dua jenis sumber dana yang paling sering digunakan yaitu utang dan
saham. Utang bisa terdiri atas utang bank atau utang melalui obligasi. Saham bisa berupa
private placement (penempatan dana tidak melalui pasar modal), bisa juga dengan membeli
saham yang diperjualbelikan di pasar sekunder. Pendapatan saham berasal dari dividen dan
capital gain. Capital gain adalah selisih antara harga jual dengan harga beli (Mamduh Hanafi,
2004: 276).

2. Menghitung Biaya Modal Individual

1) Biaya Modal Utang

Biaya modal utang merupakan tingkat keuntungan yang disyaratkan yang berkaitan
dengan penggunaan utang. Karena bunga bisa dipakai sebagai pengurang pajak, biaya modal
utang dihitung net pajak. Utang dagang dan akrual tidak dimasukkan ke dalam perhitungan

2
biaya modal. Alasannya adalah karena untuk analisis penganggaran modal, utang dagang dan
sejenisnya dikurangkan dari aset lancar (Mamduh Hanafi, 2004: 276).

2) Biaya Modal Saham Preferen

Saham preferen mempunyai karakteristik gabungan antara utang dengan saham, karena
merupakan bentuk kepemilikan (saham), tetapi dividen yang dibayarkan mirip dengan bunga
karena bersifat tetap (pada umumnya) (Mamduh Hanafi, 2004 : 277). Biaya saham preferen
(kps) adalah :

𝐷𝑝𝑠
𝑘𝑝𝑠 =
𝑃

Di mana , kps = biaya saham preferen

Dps = dividen saham preferen

P = harga saham preferen

3) Biaya Modal Saham Biasa

Biaya modal saham lebih sulit dihitung karena melibatkan biaya kesempatan
(opportunity cost) yang tidak bisa diamati secara langsung (Mamduh Hanafi, 2004 : 278) .

 Discounted Cash Flow (Aliran Kas Yang Didiskontokan)

𝐷1
𝑘𝑠 = +𝑔
𝑃

Di mana, ks = biaya modal saham


D1 = dividen pada tahun pertama
P = harga saham saat ini
g = tingkat pertumbuhan

Biaya modal saham sama dengan dividend yield ditambah tingkat pertumbuhan. Untuk
menggunakan rumus di atas, beberapa parameter harus diestimasi, yaitu harga saham, dividen
yang dibayarkan, dan tingkat pertumbuhan (Mamduh Hanafi, 2004: 278).

3
 Pendekatan Bond-Yield

Pendekatan yield obligasi didasarkan pada argumen bahwa tingkat keuntungan yang
disyaratkan untuk investasi yang lebih berisiko akan lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat
keuntungan investasi yang lebih kecil risikonya. Saham mempunyai risiko yang lebih tinggi
dibandingkan obligasi. Jika terjadi kebangkrutan, pemegang saham mempunyai prioritas klaim
yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi. Hal tersebut berarti, kas dari likuidasi akan
diberikan ke pemegang utang. Jika masih ada kas sisa, baru pemegang saham akan memperoleh
bagiannya. Pendekatan yield obligasi bisa dituliskan sebagai berikut (Mamduh Hanafi,
2004:280).

𝑘𝑠 = 𝑦𝑖𝑒𝑙𝑑 𝑜𝑏𝑙𝑖𝑔𝑎𝑠𝑖 + 𝑝𝑟𝑒𝑚𝑖 𝑟𝑖𝑠𝑖𝑘𝑜

 Pendekatan CAPM (Capital Asset Pricing Model)

Model CAPM menggunakan argumen yang sama dengan pendekatan yield obligasi.
Menurut CAPM, tingkat keuntungan yang disyaratkan untuk saham sama dengan tingkat
keuntungan bebas risiko ditambah dengan premi risiko. Secara spesifik, model CAPM bisa
dituliskan sebagai berikut (Mamduh Hanafi, 2004: 281).

𝑘𝑠 = 𝑅f + 𝛽 (𝑅m − 𝑅f)

Di mana ks = tingkat keuntungan yang disyaratkan untuk saham

Rf = tingkat keuntungan bebas risiko

β = risiko sistematis

Rm = tingkat keuntungan pasar

Tingkat keuntungan bebas risiko adalah tingkat keuntungan dari aset yang mempunyai
risiko (kebangkrutan atau default dalam hal ini) yang bisa dikatakan nol (Mamduh Hanafi,
2004:281 ).

 Keputusan Biaya Modal Saham

Perhitungan biaya modal saham yang dihasilkan oleh ketiga metode di atas akan
menghasilkan angka yang berbeda-beda. Hal semacam ini merupakan hasil yang wajar. untuk

4
memutuskan berapa biaya modal saham yang seharusnya, pertimbangan kita (sebagai analis)
diperlukan (Mamduh Hanafi, 2004: 282).

3. Menghitung Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (WACC)

Langkah selanjutnya adalah menghitung proporsi sumber dana yang dipakai oleh
perusahaan. Idealnya, nilai pasar yang sebaiknya dipakai sebagai dasar perhitungan proporsi
sumber dana. Meskipun nilai pasar idealnya merupakan pilihan terbaik untuk menghitung
komposisi sumber dana, tetapi informasi tersebut tidak tersedia dengan mudah. Salah satu
alternatif adalah menggunakan nilai buku. Nilai buku bisa diambil dari neraca keuangan
perusahaan. Saham biasa masuk dalam kategori total modal saham (saham biasa + laba yang
ditahan + agio) (Mamduh Hanafi, 2004: 283).

4. Biaya Modal Saham Eksternal

Jika perusahaan menerbitkan saham baru, biaya emisi (flotation cost) akan muncul.
Biaya tersebut dipakai untuk membayar biaya yang berkaitan dengan penerbitan saham, seperti
biaya akuntan, mencetak saham, dan lainnya. Modal kas yang didiskontokan (discountend cash
flow) bisa mengakomodasi biaya emisi sebagai berikut (Mamduh Hanafi, 2004: 284).

𝐷1
𝑘𝑒 = +𝑔
𝑃(1 − 𝑓)

di mana, ke = biaya modal saham eksternal

D1 = dividen pada tahun pertama

P = harga saham saat ini

f = flotation cost

g = tingkat pertumbuhan

2.1.2 Biaya Modal Marginal Dan Biaya Modal Rata-rata

Biaya modal rata-rata berbeda dengan biaya modal marginal. Biaya modal marginal
merupakan biaya modal yang diperoleh sebagai akibat bertambahnya dan modal yang

5
diperoleh. Dalam perhitungan biaya modal, biaya modal marginal adalah biaya modal yang
relevan, karena biaya tersebut mencerminkan biaya di masa mendatang (yang akan diperoleh).
Biaya modal rata-rata mencerminkan informasi masa lampau, yang tidak relevan lagi. Tetapi
dalam praktek, biaya modal sering diestimasi berdasarkan laporan keuangan, yang berarti biaya
modal diestimasi dengan menggunakan data masa lampau. Biasanya alasan kepraktisan
menjadi pembenaran penggunaan data masa lampau (tidak mudah memperkirakan biaya modal
marginal dalam beberapa situasi) (mamduh hanafi, 2004: 285).

2.1.3 Lompatan Dalam Biaya Modal Rata-rata Tertimbang Dan Skedul Investasi

Jika biaya modal salah satu komponen berubah, maka akan ada lompatan dalam biaya
modal rata-rata tertimbang. Lompatan WACC bisa terjadi karena meningkatnya biaya modal
individual. Lompatan karena penggunaan utang yang baru bisa dihitung sebagai berikut
(Mamduh Hanafi, 2004: 286) .

𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑖


𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑛𝑎 =
𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔

Informasi lompatan dalam WACC bisa digabung dengan kesempatan investasi yang
ada (Mamduh Hanafi, 2004:287).

2.1.4 Pertimbangan Dinamis : Review Biaya Modal Secara Regular

Kondisi perusahaan dan lingkungannya berubah. Risiko dan kesempatan investasi


perusahaan berubah. Perubahan ini mengakibatkan perubahan komposisi struktur modal yang
baru dan juga perubahan tingkat keuntungan yang disyaratkan (biaya modal). Kondisi
lingkungan yang berubah juga mengakibatkan perubahan biaya modal, misal inflasi yang
berubah mengakibatkan kenaikan tingkat keuntungan yang disyaratkan secara umum.
Perubahan risiko (misal semakin tinggi, terjadi jika kondisi ekonomi memburuk)
mengakibatkan premi risiko meningkat (Mamduh Hanafi, 2004: 289).

Karena situasi berubah secara dinamis, perusahaan perlu mengevaluasi biaya modal
rata-rata tertimbangnya secara periodik. Tidak ada formula yang pasti. Perhitungan bisa
dilakukan setiap tahun, bisa juga setiap lima tahun. Tetapi hal yang jelas, jika kondisi
perusahaan dan lingkungan secara fundamental berubah, maka sudah saatnya menghitung
biaya modal rata-rat tertimbang kembali (Mamduh Hanafi, 2004: 289).

6
2.2 ANALISIS DAN IMPLIKASI EFEK PENGUNGKIT

Rasio Solvabilitas atau Rasio Pengungkit (Leverage Ratio) adalah rasio yang digunakan
untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaan
tersebut dilikuidasi. Persyaratan utang yang biasanya berdasarkan rasio yang menggunakan
angka akuntansi seperti laba. Oleh karena pelanggaran syarat utang menimbulkan biaya tinggi
bagi manajer, maka mereka cenderung melakukan manajemen laba (biasanya menjadi lebih
tinggi) untuk menghindari pelanggaran tersebut. (Rice,2016)

Menurut Munawir (2010:70) (Utami. Fahmi. R,2017), definisi dari rasio leverage
adalah: “rasio yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang. Rasio ini juga
menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (kreditur).” Menurut
Fahmi (2013 : 127), pengertian rasio leverage adalah: “mengukur seberapa besar perusahaan
dibiayai dengan utang. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan
karena akan masuk dalam kategori extreme leverage, yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat
utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Karena itu perusahaan
sebaiknya harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan darimana sumber yang
dapat dipakai untuk membayar utang.” (Utami. Fahmi. R,2017)

1. Tujuan dan Manfaat Rasio Leverage


Penggunaan rasio leverage yang baik akan memberikan banyak manfaat bagi
perusahaan guna menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, namun semua kebijakan
ini tergantung dari tujuan perusahaan secara keseluruhan.
Berikut adalah beberapa tujuan perusahaan menggunakan rasio leverage menurut
Kasmir (2013:153), diantaranya (Utami. Fahmi. R,2017):
1) Untuk mengetahui posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak lainnya
(kreditur).
2) Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang
bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga)
3) Untuk menilai keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap dan
modal.
4) Untuk menilai seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
5) Untuk menilai seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap pengelolaan
aktiva.

7
6) Untuk menilai atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri
yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.
7) Untuk menilai berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih, terdapat sekian
kalinya modal sendiri yang dimiliki.

Sementara itu, manfaat dari rasio leverage ini menurut Kasmir (2013:154) adalah
(Utami. Fahmi. R,2017):
1) Untuk menganalisis kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada
pihak lainnya.
2) Untuk menganalisis kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang
bersifat tetap (seperti angsuran pinjaman termasuk bunga).
3) Untuk menganalisis keseimbangan antara nilai aktiva khususnya aktiva tetap
dan modal.
4) Untuk menganalisis seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.
5) Untuk menganalisis seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap
pengelolaan aktiva.
6) Untuk menganalisis berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang
dijadikan jaminan utang jangka panjang.
7) Untuk menganalisis berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih, ada
terdapat sekian kalinya modal sendiri.

2. Pengukuran Rasio Leverage


Menurut Sartono (2010:120), Kasmir (2013:155) dan Fahmi (2013:127), secara umum
terdapat 5 (lima) jenis rasio leverage yang sering digunakan oleh perusahaan, diantaranya
(Utami. Fahmi. R,2017):
1) Debt to Total Asset Ratio (DAR)
Debt to Total Asset Rasio (DAR) yaitu rasio total kewajiban terhadap
total aktiva. Rasio ini juga disebut dengan Rasio Pengungkit (Leverage) yaitu
menilai batasan perusahaan dalam meminjam uang. Rasio ini menekankan
pentingnya pendanaan hutang dengan jalan menunjukkan persentase aktiva
perusahaan yang di dukung oleh hutang (Rice,2016).
Rasio ini juga menyediakan informasi tentang kemampuan perusahaan
dalam mengadaptasi kondisi pengurangan aktiva akibat kerugian tanpa
mengurangi pembayaran bunga pada kreditor. Nilai rasio yang tinggi
8
menunjukkan peningkatan dari risiko pada kreditor berupa ketidakmampuan
perusahaan dalam membayar semua kewajibannya dari pihak pemegang saham,
rasio yang tinggi akan mengakibatkan pembayaran bunga yang tinggi yang pada
akhirnya akan mengurangi pembayaran deviden. Untuk menilai rasio ini faktor
lain yang perlu dipertimbangkan adalah stabilitas laba perusahaan. Pada
perusahaan yang memiliki catatan laba yang stabil, peningkatan dalam hutang
lebih bisa ditoleransi dari pada perusahaan yang memiliki catatan laba yang
tidak stabil. (Rice,2016)
Semakin tinggi rasio tersebut semakin banyak uang kreditur yang
digunakan perusahaan untuk menghasilkan laba. Semakin tinggi rasio hutang
perusahaan maka semakin besar pengaruh keuangan perusahaan. Total hutang
di sini merupakan total hutang perusahaan baik hutang jangka pendek maupun
hutang jangka panjang perusahaan. (Rice,2016)
Debt ratio ini dapat diukur dengan rumus sebagai berikut :
Total Liabilitas
𝐷𝐴𝑅 =
Total Assets

2) Debt to Equity Ratio (DER)


Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan
ekuitas. DER ini ukuran yang dipakai dalam menganalisis laporan keuangan
untuk memperlihatkan besarnya jaminan yang tersedia untuk kreditur. Debt to
equity ratio ini dapat diukur dengan rumus sebagai berikut (Utami. Fahmi.
R,2017):
Total Liabilitas
𝐷𝐸𝑅 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆ℎ𝑎𝑟𝑒ℎ𝑙𝑑𝑒𝑟’𝑠 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

3) Time Interest Earned Ratio


Rasio ini disebut juga dengan rasio kelipatan. Time interest earned ratio
merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar
bunga, atau mengukur seberapa jauh laba dapat berkurang tanpa perusahaan
mengalami kesulitan keuangan. Time interest earned ratio ini dapat diukur
dengan rumus sebagai berikut (Utami. Fahmi. R,2017) :
𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑓𝑜𝑟𝑒 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝑎𝑛𝑑 𝑇𝑎𝑥
𝑇𝑖𝑚𝑒 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝑒𝑎𝑟𝑛𝑒𝑑 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝐸𝑥𝑝𝑒𝑛𝑠𝑒

9
4) Fixed Charge Coverage Ratio
Rasio ini disebut juga dengan rasio menutup beban tetap. Rasio ini
menyerupai Times interest earned ratio, hanya saja perbedaannya adalah rasio
ini dilakukan apabila perusahaan memperoleh utang jangka panjang atau
menyewa aktiva berdasarkan kontrak sewa (lease contract). Rasio Fixed charge
coverage ini mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan untuk menutup
beban tetapnya termasuk pembayaran deviden saham preferen, bunga, angsuran
pinjaman dan sewa. Fixed Charge Coverage ini dapat diukur dengan rumus
sebagai berikut (Utami. Fahmi. R,2017) :

EBIT + Beban Bunga + Kewajiban Sewa


FCC =
Beban Bunga + Kewajiban Sewa

5) Long-term Debt to Equity Ratio (LTDtER)


Rasio ini merupakan rasio utang jangka panjang dengan modal sendiri.
Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal
sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan cara
membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri yang
disediakan oleh perusahaan.Long term debt merupakan sumber dana pinjaman
yang bersumber dari utang jangka panjang, seperti obligasi dan sejenisnya.
LTDtER ini dapat diukur dengan rumus sebagai berikut (Utami. Fahmi. R,2017)
:
𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡
LTDtER =
𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

10
BAB III

SIMPULAN

3.1 KESIMPULAN

Biaya modal bisa diartikan sebagai tingkat keuntungan yang diharapkan atau tingkat
keuntungan yang disyaratkan. Jika kita melakukan analisis investasi, biaya modal akan
digunakan sebagai discount rate dalam analisis NPV atau IRR. Biaya modal tersebut pada
dasarnya merupakan biaya modal rata-rata tertimbang dari biaya modal individual (Mamduh
Hanafi, 2004 : 275). Di dalam buku manajemen keuangan (Mamduh Hanafi,2004) dijelaskan
langkah yang harus dilakukan dalam menghitung biaya modal rata-rata tertimbang yaitu
sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi sumber-sumber dana


2. Menghitung biaya modal individual (biaya modal untuk setiap sumber dana)
3. Menghitung proporsi dari masing-masing sumber dana
4. Menghitung rata-rata tertimbang dengan menggunakan proporsi dana sebagai
pembobot

Ada tiga jenis biaya modal yang sering digunakan yaitu biaya modal utang, biaya modal
saham preferen dan biaya modal saham biasa. dari ketiganya, menghitung biaya modal saham
biasa merupakan tugas yang paling sulit. biaya modal saham biasa bisa dicari dengan
menggunakan modal discounted cash flow, pendekatan bond-yield, dan CAPM (Mamduh
Hanafi,2004).

Rasio Solvabilitas atau Rasio Pengungkit (Leverage Ratio) adalah rasio yang digunakan
untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaan
tersebut dilikuidasi (Rice,2016). Menurut Munawir (2010:70), definisi dari rasio leverage
adalah: “rasio yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang. Rasio ini juga
menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (kreditur).” Menurut
Fahmi (2013 : 127), pengertian rasio leverage adalah: “mengukur seberapa besar perusahaan
dibiayai dengan utang. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan
karena akan masuk dalam kategori extreme leverage, yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat
utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Karena itu perusahaan

11
sebaiknya harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan darimana sumber yang
dapat dipakai untuk membayar utang.” (Utami. Fahmi. R,2017),

Menurut Sartono (2010:120), Kasmir (2013:155) dan Fahmi (2013:127), secara umum
terdapat 5 (lima) jenis rasio leverage yang sering digunakan oleh perusahaan, diantaranya ;
1)Debt to Total Asset Ratio (DAR); 2) Debt to Equity Ratio (DER); 3) Time Interest Earned
Ratio; 4) Fixed Charge Coverage Ratio dan 5) Long-term Debt to Equity Ratio (LTDtER)
(Utami. Fahmi. R,2017).

Debt to Asset Rasio (DAR) yaitu rasio total kewajiban terhadap total aktiva. Rasio ini
juga disebut dengan Rasio Pengungkit (Leverage) yaitu menilai batasan perusahaan dalam
meminjam uang. Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan hutang dengan jalan
menunjukkan persentase aktiva perusahaan yang di dukung oleh hutang. (Rice,2016)

12

Anda mungkin juga menyukai