Anda di halaman 1dari 1

5.

Rancangan Sadjarwo

Berhubung dengan berlakunya kembali UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959), maka
rancangan Soenarjo yang masih memakai UUDS ditarik kembali dengan surat Presiden 23 Maret
1960 Nomor 1532/HK/1960.

Setelah disesuaikan dengan UUD 1945 dan Manifesto Politik Republik Indonesia (yaitu
Pidato Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1959), dalam bentuk yang lebih sempurna
dan lengkap diajukanlah Rancangan Undang-Undang Pokok Agraria yang baru oleh Mentri
Agraria Sadjarwo. “Rancangan Sadjarwo” tersebut disetujui oleh Kabinet –Inti dalam sidangnya
tanggal 22 Juli 1960 dan oleh Kabinet Pleno dalam sidangnya tanggal 1 Agustus 1960. Dengan
amanat Presiden tanggal 1 Agustus 1960 no. 2584/HK/60. Rancangan tersebut diajukan kepada
DPR Gotong Royong.

Dalam rangka menyesuaikan RUUPA tersebut dengan UUD 1945 baik pihak DPR
maupun kementrian Agraria masih selalu mengadakan hubungan dan minta saran dari UGM.
Untuk mengadakan tukar pikiran dan minta penjelasan mengenai RUUPA yang dibuat oleh
UGM, pada tanggal 29 Desember 1959 Mentri Agraria yang baru yaitu MR Sadjarwo beserta
stafnya yaitu Singgih Prapto Dihardjo, Mr Budiharsono, Mr Soemitro datang ke Yogya untuk
mengadakan pembicaraan dengan seksi Agraria UGM pada waktu itu dijabat oleh Prof Drs
Notonagoro, SH dan Drs Imam Soetinjo. Hasil penelitian ilmiah seksi Agraria UGM serta
konsep RUUPA-nya digunakan dalam menyusun UUPA.

Berbeda dengan Rancangan Soenarjo yang tidak tegas konsepsi yang melandasinya,
Rancanagan Sadjarwo secara tegas konsepsi yang melandasinya, Rancangan Sadjarwo, secara
tegas menggunakan Hukum Adat sebagai dasarnya.