Anda di halaman 1dari 8

Merdeka

Sandiwara adaptasi cerpen


Karya : Putu Wijaya
Adaptasi : Filesky

Tokoh :
1. AMAT
2. AMAT MERAH
3. AMAT PUTIH
4. BU AMAT
5. AMI
6. TETANGGA
7. PEMIMPIN MERAH
8. PEMIMPIN BIRU
9. PEMIMPIN KUNING
10. PEMIMPIN HIJAU
11. ORANG-ORANG

MUSIK PEMBUKA TERDENGAR LAGU “TANAH AIRKU” (cip.Ibu Sud), DISAMBUNG PIDATO
PROKLAMASI BUNG KARNO.
TERLIHAT ANAK-ANAK KECIL SEDANG ASYIK BERMAIN, PEMULUNG MENCARI BARANG
RONGSOKAN, ORANG PEMINTA-MINTA, KEKERASAN DI JALANAN, TRANSAKSI GELAP
OKNUM KORUPTOR, BERBAGAI KEKERASAN DAN PENINDASAN TERJADI.
PAK AMAT TERMENUNG DEPAN RUMAHNYA, IA MERENUNGKAN TENTANG ARTI
SEBUAH KEMERDEKAAN.
AMAT :
Apakah kemerdekaan sebuah kemenangan. Apakah kemenangan sebuah kebahagiaan. Kalau
ya, mengapa dalam kemerdekaan dan kemenangan, masih ada derita? Makin marak
kemiskinan? Bahkan bencana , permusuhan, kekacauan, kerancuan kebenaran, ketidakadilan
dan kejatuhan moral kian edhan-edhanan?
AMAT MERAH :
Terkenang pada peringatan hari kemerdekaan yang lalu. Memang sudah usang karena sudah
64 kali diulang-ulang dengan jawaban yang juga bulukan. Merdeka berarti tidak lagi disuapi,
dilindungi, dijaga dan diasuh oleh negara penjajah.
AMAT PUTIH :
Merdeka berarti harus cari makan dan bertahan hidup di atas kaki sendiri. Merdeka sama
dengan tidak lagi ditindas, tidak diinjak-injak, tidak lagi dikadali oleh sang penjajah di bawah
ancaman senjata, tetapi atas kemauan kita sendiri.
AMAT :
Dengan kemauan sendiri? Kemauan siapa? Siapa yang masih mau diinjak, ditindas, dikadali
hari gini?
AMAT MERAH :
Ya kalau sudah merdeka, berarti seluruh perbuatan adalah atas kehendak diri sendiri. Atas
pilihan yang bersangkutan. Tidak karena diperintah. Bukan akibat tekanan. Bahkan mana
mungkin akibat disuruh-suruh oleh orang lain. Pastilah itu kehendak sendiri yang sudah bebas
bersuara, lepas bertindak, yang sudah merdeka dalam merasa dan berpikir.
AMAT :
Jadi kemiskinan. Keterpurukan. Perpecahan. Gontok-gontokan dan kemerosotan moral yang
terjadi di sekitar kita sekarang itu, adalah kehendak sendiri? Gila!
AMAT PUTIH :
Habis kehendak siapa lagi, kan kamu sudah merdeka?!
AMAT :
Mana mungkin! Tidak ada orang yang ingin membuat dirinya miskin, terpuruk apalagi bejat
moral. Itu semua pemutar-balikkan fakta!
AMAT MERAH :
Terserah, kamu sudah merdeka jadi bebas untuk menuduh dan mencari kambing hitam! Kamu
juga boleh seenak perut kamu mengeluarkan apa saja dari mulutmu yang merdeka. Tapi ingat,
yang tidak benar walau pun keluar dari mulut yang merdeka tetap saja salah.
(AMAT MERAH DAN PUTIH KELUAR PANGGUNG).
AMAT:
(PAK AMAT MARAH DENGAN RENUNGANNYA SENDIRI)
Lalu apakah artinya kemerdekaan? Apa arti kemerdekaan? Apa artinya merdeka???!
(TIBA-TIBA ISTRINYA MUNCUL, DENGAN MEMBAWA KAIN YANG IA TENUN).
BU AMAT:
Kok ngomong sendiri, Pak?
AMAT:
Bukan ngomong sendiri, aku sedang berpikir.
BU AMAT:
Mikirin apa? Mau kawin lagi?
AMAT:
(TERTAWA) hahahaha… Boro-boro kawin lagi, yang satu saja nggak habis.
BU AMAT:
O jadi kalau kawin itu berarti menghabisi?!
AMAT:
Bukan begitu Bu!
BU AMAT:
Ya memang begitu! Kawin itu berarti menghabisi masa edan-edanan yang Bapak lakukan
waktu masih jomblo. Kawin itu berarti menghabisi “bertindak tanpa memakai perhitungan”,
bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain, bertindak yang merusak, seperti yang Bapak
lakukan waktu masih bujangan. Kawin itu memang menghabisi apa yang tidak perlu!
(AMI KELUAR MEMBAWA BUKU, BERJALAN SAMBIL MEMBACA)
AMAT:
(TERTEGUN).
Agustus sudah berlalu..Satu dua kali hujan mulai turun. Bendera-bendera merah-putih yang
berjajar di sepanjang jalan sudah lenyap. Memang ada juga beberapa pedagang yang masih
saja ngotot memasang. Umumnya penduduk sudah menyimpan kembali benderanya untuk
dikeluarkan lagi nanti tahun depan. Tetapi bendera merah-putih raksasa yang berkibar di rumah
orang kaya itu masih belum diturunkan.

AMAT :
Ini bukan tidak ada maksudnya, Mengapa dulu dia segan memasang, tetapi sekarang justru
bandel membiarkan bendera kepanasan dan kehujanan. Apakah kamu tidak perlu ke sana lagi
dan bertanya, Ami?”
AMI:
Saya sudah kapok, Pak. Kalau Bapak mau silakan saja tapi jangan bawa-bawa saya, bapak
kan yang ditokohkan dan menjadi panutan di desa ini, bapak saja yang bertanya kepada orang
kaya itu. Kami anak-anak muda tak tertarik lagi dengan sandiwara over actingnya itu.
AMAT:
Apa maksudmu dengan over acting?
AMI:
Mantan wakil rakyat itu dengan segala macam caranya sedang berusaha memikat perhatian
kita. Tak usah diladeni. Masih banyak orang yang lebih pintar dari dia yang perlu kita
perhatikan.
AMAT:
Siapa?
AMI:
Ya kami…
AMAT:
Kami siapa?
AMI:
Ami misalnya…
AMAT:
Karena kamu anak muda?
AMI:
Jelas!
AMAT:
Tapi apa kamu punya uang 5 milyar?
AMI:
(terbelalak).
PAK AMAT SEGERA BERPAKAIAN MENGENAKAN SEPATU DAN BAJU BATIK
AMI:
(Ami terpaksa bertanya).
Bapak mau ngapain?
AMAT:
Ke rumah orang kaya itu, Menanyakan mengapa dia tidak menurunkan bendera?
Tidak, lebih tepatnya. Menagih janjinya untuk menyumbang 5 milyar. Kalau gagal, baru
menanyakan mengapa dia tidak menyimpan bendera padahal sudah tahu sekarang kita hampir
memasuki musim hujan.
AMI:
Kenapa Bapak jadi ngurus sumbangan orang?
AMAT:
Sebab Bapak tidak mau dia menjadi terkenal hanya karena mengancam akan menyumbang 5
milyar. Kalau mau nyumbang, nyumbang saja seperak juga akan diterima baik. Jangan
menyebar kabar sabun menyumbang 5 milyar tapi tidak ada prakteknya. Itu kan membuat
semua orang mimpi.
AMI:
(Ami masih terus saja mendesak). Tapi pak…???
AMAT:
(pak Amat menutup percakapan). Nanti saja kalau Bapak sudah pulang dari rumah orang kaya
itu, kita lanjutkan debatnya, oke anak muda?
AMI:
(geleng-geleng kepala)
PAK AMAT BERGEGAS BERANGKAT.
AMI:
(BICARA KEPADA IBUNYA). Orang kaya itu pasti tidak akan sudi membuka dompetnya
dengan selembar rupiah pun. Apalagi 5 milyar. Orang kaya tidak akan mungkin berduit kalau
tidak pelit. Lihat saja nanti hasilnya pasti nol!
BU AMAT:
Biar saja Ami, daripada bapakmu ngerecokin di rumah, biar dia ke sana, siapa tahu beneran.
AMI:
Ibu jangan begitu. Meskipun sudah pensiun, tetapi Bapak itu masih sama bergunanya dengan
orang lain, asal jangan memposisikan dirinya sudah tua.
BU AMAT:
Tapi Bapakmu kan memang sudah tua.

AMI:
Memang, tapi keberadaan orang tua sama pentingnya dengan anak muda.
BU AMAT :
Ya itu dia. Makanya Bapakmu sekarang ke sana mengusut sumbangan 5 milyar itu. Kalau
kejadian kan kita semua untung. Sekolah berdiri dan kita dapat 10 persen.
AMI:
(terkejut). Sepuluh persen apa?
BU AMAT:
Lho kamu tidak tahu toh? Siapa saja yang berhasil mengumpulkan uang sumbangan untuk
melanjutkan pembangunan gedung sekolah kita, dapat bagian 10 persen dari sumbangan itu.
AMI:
(tertegun) Andaikan benar, tak usah sepuluh, satu persen dari 5 milyar saja kehidupan keluarga
Amat akan bersinar. (AMI MENDADAK BENGONG, BERHAYAL).
BU AMAT MASUK KE DALAM RUMAH
(LAMPU FADE OUT)
KETIKA PAK AMAT MASUK RUMAH, IA HERAN MELIHAT AMI TERGELETAK DI KURSI.

AMAT:
Bangun Ami, nanti kamu masuk angin.
AMI:
(TERKEJUT, TAPI KEMUDIAN LANGSUNG BERTANYA).
Bapak berhasil?
AMAT:
Ya.
AMI: (BERTERIAK) yessssssss!!!
AMAT:
Stttt jangan teriak sudah tengah malam ini.
AMI:
Jadi Bapak akan dapat sepuluh persen?
AMAT:
Ya.
AMI:
Sepuluh persen dari 5 milyar?
AMAT:
Tidak. Dia mengubah angkanya.
AMI:
Berapa. Sepuluh milyar?
AMAT:
Seratus ribu.
AMI:
Hhhaaaaaaaaaa… Berapa?
AMAT:
(lebih tegas) Seratus ribu!!!
AMI:
Lho kenapa?
AMAT:
Bapak bilang kepada dia baik-baik. Tidak usahlah menyumbang sebanyak itu. Malah nanti akan
menimbulkan persoalan dan pertengkaran kita di sini. Di mana-mana duit biasanya membuat
cekcok. Jadi Bapak bilang, daripada kawasan kita yang damai ini menjadi neraka yang penuh
dengan saling curiga-mencurigai, lebih baik jangan membuat persoalan. Sumbang yang wajar
saja, seratus ribu sudah cukup untuk memancing para warga lain menyumbang.
AMI:
(ternganga) Aduh, Bapak kenapa jadi bego begitu sih?
AMAT:
Karena Bapak tahu semua omongan 5 milyarnya itu hanya isapan jempol. Daripada dia terkenal
karena hisapan jempolnya itu, kan lebih baik dipaksa bertindak yang konkrit saja dengan
nyumbang seratus ribu. Itu untuk menutupi rasa malunya sudah keceplosan ngomong 5 milyar,
sampai-sampai dia tidak berani lagi tinggal di rumah karena takut ditagih. Itu sebabnya selama
ini dia menghilang bersama keluarganya, makanya benderanya tidak pernah diturunkan.
Sekarang beres, dia sudah nyumbang seratus ribu, ini duitnya. Dan benderanya sudah
diturunkan. Paham?

AMI:
(MENGGELENG KEPALA)
Tidak.
AMAT:
(terhenyak, Lalu menjatuhkan badannya ke kursi seperti nangka busuk)
Bapak juga tidak paham. Mengapa dia mau. Padahal Bapak hanya mengertak maksudku
supaya dia malu dan langsung nyumbang 5 milyar!
(BU AMAT KELUAR SAMBIL TERSENYUM)
BU AMAT:
Sudah jangan dipikirkan lagi. Orang politik kan banyak yang begitu, obral janji sana sini untuk
kepentingannya, namun giliran ditagih janjinya banyak yang tidak sesuai dengan mulutnya.
AMI:
Memang bangsat orang-orang pintar itu… politik digunakan untuk minterin rakyat, rakyat yang
selalu dikorbankan. Indonesia Negara kaya akan sumber daya alamnya, tapi apa yang
nyatanya terjadi, harga minyak tanah mahal karena langka, memang tanah Indonesia lebih
kaya akan gas alam daripada minyaknya, tapi itu semua percuma, harga gas LPG juga tetap
saja mahal, membuat oknum-oknum distributor melakukan manipulasi dengan mengurangi
takaran isi gas dan menyuntikkannya ke tabung gas yang lain demi meraup keuntungan,
akibatnya banyak tabung gas yang meledak karena banyak selang, regulator, dan tabung ilegal
yang beredar tanpa standar kualitas . Semua ini permasalahan ini karena kelangkaan energi,
Singkatnya Negara ini belum mampu memasok kebutuhan energi dalam negerinya sendiri.
Karena langka maka harganya jadi mahal, alasannya mereka mengalami kerugian dalam
proses produksi. Jelas saja harganya jadi mahal karena setelah menyedot hasil tambang,
bahan mentah yang didapat sebagian besar malah di ekspor, alasannya karena kita belum
mempunyai SDM dan teknologi yang memadai untuk mengelolanya sendiri, lalu setelah jadi
energi siap pakai, kita impor lagi. Ini gila… kita membeli barang yang asalnya dari milik kita, ini
hanya permainan orang-orang pinter saja, untuk kepentingan mereka.
(AMI NGAMBEK DAN MASUK KE RUMAH).
BU AMAT:
(menggeleng kepala karena Ami emosi)
Pak anakmu kok jadi pinter pidato ya???
AMAT:
(berlagak sok pahlawan) Itu kan karena aku yang mengajarinya berfikir kritis, Ami jadi lebih
suka belajar dan nonton berita, dari pada nonton sinetron dan infotainment.
BU AMAT:
(tersenyum)
Pak cepat pasang bendera ini! Tadi di televisi presiden menghimbau untuk memasang bendera
setengah tiang, untuk belasungkawa atas wafatnya tokoh bangsa.
(BU AMAT MENGULURKAN BENDERA MERAH-PUTIH YANG BARU DIBELINYA).
AMAT:
Lho, Ibu beli bendera lagi? Kan bendera yang kemaren masih ada?
ISTRI:
Yang kemarin Itu warnanya sudah belel!
AMAT:
Belel juga itu bendera kita. Bukan warnanya yang penting, tetapi artinya sebagai simbol!
ISTRI:
Sudah Bapak jangan ribut lagi. Pasang saja!
(PAK AMAT MEMPERHATIKAN BENDERA BARU ITU, LALU IA MENGHAMPIRI TIANG DI
DEPAN RUMAH UNTUK MENGIBARKAN BENDERA).
(DATANG SEORANG TETANGGA MENGHAMPIRI).
TETANGGA:
Wah benderanya baru ya pak Amat…
kalau bendera lama tidak dipakai lagi, biar saya kibarkan di rumah, kalau boleh.
AMAT:
(PAK AMAT CUMA MENGGELENGKAN KEPALA)
TETANGGA:
Kan tidak dipakai?
AMAT:
Ya, memang. Yang lama tetap akan saya simpan dengan baik walau tidak dipakai.
TETANGGA:
Makanya kalau tidak dipakai, daripada nganggur biar saya kibarkan saja.
AMAT:
(MENOLAK TEGAS)
Bendera itu memang tidak dipasang, tetapi dia tetap dikibarkan di dalam rumah kami.
TETANGGA:
(TERTAWA)
Hahahaha… Masak mengibarkan bendera dalam rumah. Ada-ada saja!
AMAT:
(TERSENYUM NYINDIR)
Kalau ngaku cinta Indonesia, benderanya jangan minta, tapi beli sendiri!
TETANGGA:
Aahhh… bilang saja pelit!
(BERGEGAS PERGI)
AMAT:
(KEMBALI MEMASANG BENDERANYA, SAMBIL MERENUNGI KEJADIAN YANG LALU).
Mengenang yang kemarin, Sungguh aneh suasana perayaan hari kemerdekaan yang ke-64
yang telah berlalu, karena ditandai oleh bukan hanya kibaran sang saka. Berbagai umbul-umbul
dengan kain warna-warni plus bendera-bendera partai berseliweran di mana-mana. Kadang di
beberapa kawasan bahkan bendera-bendera partai nampak lebih seru berkibar.Saya ingin
sekali mencabuti bendera-bendera itu, saya hanya ingin ada dua warna, merah dan putih.
Minimal satu minggu sebelum dan sesudah peringatan hari proklamasi. Kalau bisa bahkan
seharusnya sebulan penuh. Agustus harus dijadikan bulan berkibarnya hanya sang saka dwi
warna. Bendera-bendera lain, seperti bendera-bendera negeri sahabat, mesti tahu diri, mundur
dulu.
Mestinya kita semua lebih mengedepankan kepentingan bersama!
BU AMAT:
(berusaha meredam kemarahan suaminya).
Kita mesti sadar kepada situasi sekarang Pak, tak usah terlalu melebih-lebihkan semangat
perjuangan Bapak di masa lalu itu. Sekarang masa orang lebih memperjuangkan kepentingan
diri sendiri dan golongan. Kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita digilas!

AMAT:
Memang, aku juga tidak sungguh-sungguh mau membersihkan jalan-jalan itu dari bendera
partai. Karena walau pun kota diamuk oleh bendera-bendera partai menjadi lautan politik, tetapi
semangat kebangsaan di dalam jiwaku tidak akan pernah padam. Bahkan justru tambah
menggebu-gebu. Sekaranglah di saat orang sudah lupa pada kepentingan bersama, perasaan
berkorbanku untuk kebersamaan semakin berkobar. Jadi aku justru berterimakasih pada
bendera-bendera itu, karena membuat aku semakin cinta pada Tanah Air, sementara banyak
orang kian bejat!
BU AMAT:
(TERSENYUM, SAMBIL MASUK KE DALAM RUMAH)
AMAT :
(MERENUNG)
Apa dengan mengibarkan bendera, seseorang menjadi merdeka.
Atau karena merdeka orang boleh mengibarkan benderanya?

Anda mungkin juga menyukai