Anda di halaman 1dari 4

Kasus Kegagalan Konstruksi di Indonesia

aji pamungkas on Teknik Sipil, Teknologi Konstruksi On 1/19/2015 with No


comments

Menjadi engineer konstruksi yang profesional berarti harus mampu melakukan


perhitungan yang cermat terhadap segala aspek teknis maupun non-teknis yang
berhubungan dengan konstruksi yang sedang dibangun. Kecermatan ini didasarkan
pada kesadaran dan tanggung jawab bahwa sedikit saja kesalahan yang dilakukan
maka dampaknya akan sangat besar terhadap konstruksi yang sedang dikerjakan,
lebih jauh lagi dapat menyebabkan korban jiwa manusia.
Beberapa kasus kegagalan struktur yang pernah terjadi ada baiknya kita cermati agar
hal yang sama tidak terulang lagi. Yang perlu menjadi catatan adalah data yang saya
sajikan berikut ini merupakan hasil observasi pribadi jadi masih sangat mungkin
mengandung kesalahan.
1. Runtuhnya Rukan Cendrawasih, Samarinda (Juni 2014)
Bangunan rumah kantor (Rukan) tiga lantai yang terletak di kompleks Cendrawasih
Permai, Jl. Ahmad Yani, Kecamatan Sungai Pinang Kota Samarinda Kalimantan
Timur runtuh pada tanggal 3 Juni 2014 saat masih dalam proses pengerjaan yang
menyebabkan 12 pekerjanya tewas. Bangunan ini memiliki lebar 25 m dan panjang 100
m dengan biaya konstruksi senilai kurang lebih 15 Milyar rupiah.

Keruntuhan Bangunan
Dari observasi yang dilakukan penyebab keruntuhan bangunan ini sangatlah kompleks
diantaranya:
Pertama, Kegagalan pondasi. Hal ini didasarkan keterangan bahwa pengerjaan
pengerukan lahan sampai lantai 1 selesai dikerjakan hanya memerlukan waktu enam
bulan. Padahal kondisi tanah eksisting adalah rawa dan merupakan tanah lempung
sehingga memerlukan waktu lama untuk terkonsolidasi jika tanpa penanganan khusus
seperti vertical drain.

Kedua, Kegagalan Struktur Utama. Struktur utama yang dimaksud adalah balok-
kolom. Hal ini didasarkan fakta bahwa pekerja sempat diminta untuk mengecek kolom
yang retak di lantai 2. Meskipun tidak ada data detail mengenai dimensi dan lokasi
keretakan akan tetapi hal ini seharusnya telah menjadi indikasi awal bahwa ada
masalah dengan struktur yang sedang dibangun. Apalagi apabila didasarkan pada
filosofi desain struktur yang benar yaitu “strong column- weak beam” yang artinya
kolom tidak boleh mengalami kegagalan struktur terlebih dahulu daripada balok.
Kegagalan kolom ini sendiri diduga karena adanya deviasi antara perencanaan dan
pelaksanaan dimana kontraktor mengurangi dimensi kolom dan jumlah tulangan yang
dipakai.
Ketiga, Kesalahan sistem perancah pengecoran lantai. Penyebab awal keruntuha
adalah lantai 3 yang sedang dikerjakan secara tiba- tiba roboh. Selain karena kolom
yang mengalami kegagalan, maka sistem perancah yang dipakai juga patut dicurigai
tidak dirancang dengan benar. Dari dokumentasi yang ada terlihat bahwa sistem
perancah yang digunakan menggunakan scafolding besi dan beberapa menggunakan
kayu dolken. Bekisting dan sistem perancah seharusnya didesain secara detail baik
dalam desain maupun metode pemasangannya. Inspeksi harus dilakukan secara ketat
termasuk pengecekan terhadap kekuatan beton yang telah dicor yang akan menopang
perancah tersebut.

Perancah dolken patah


Keempat, organisasi proyek tidak benar. Proyek rukan ini diketahui tidak memiliki
konsultan perencana. Desain bangunan yang digunakan tidak diketahui darimana
dibuatnya. Pengawasan proyek ini pun hanya dilakukan oleh mandor dari pemborong.
Kelima, adanya pengalihan pekerjaan secara serampangan. Kontraktor proyek rukan ini
semula PT. Firma Abadi yang beralamat di Surabaya menyerahkan sepenuhnya pekerjaan
kepada perseorangan/ individu yang merupakan pemborong berinisial NI yang beralamat
di Samarinda yang kemudian menyerahkan lagi kepada mandor yang berinisial S.
Pengalihan pekerjaan ini meliputi keseluruhan pekerjaan dan sama sekali tidak ada
pengawasan dari Kontraktor utama.
2. Runtuhnya Jembatan Mahakam II, Tenggarong (November 2011)
Jembatan yang merupakan tipe Gantung (Suspension Bridge) ini memiliki panjang
total 710 m. Keruntuhan terjadi pada tanggal 26 November 2011 sekitar sepuluh tahun
setelah diresmikan.

Jembatan Tenggarong Runtuh


Identifikasi penyebab keruntuhan ini merupakan hasil investigasi yang dilakukan oleh
tim LPPM UGM pada tanggal 27 November 2011 (sehari setelah kejadian) yang
laporan lengkapnya dapat anda unduh disini.
Berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa jatuhnya truss
jembatan beserta hangernya terjadi akibat kegagalan konstruksi pada alat sambung
kabel penggantung vertikal (clamps and sadle) yang menghubungkan dengan kabel
utama.
Clamps and Sadle
Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan alat sambung ini mengalami
kegagalan diantaranya:

 Kurang baiknya perawatan jembatan yang menyebabkan konstruksi alat


penggantung kabel vertikal tidak berfungsi dengan baik dan tidak terdeteksi
kemungkinan adanya kerusakan dini.

 Kelelahan (fatigue) pada bahan konstruksi alat penggantung kabel vertikal


akibat kesalahan desain dalam pemilihan bahan atau sering terjadi kelebihan
beban rencana (over load) yang mempercepat proses terjadinya degradasi
kekuatan.

 Kualitas bahan konstruksi alat sambung kabel penggantung ke kabel utama


yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan standar perencanaan yang ditetapkan.

 Kesalahan prosedur dalam pelaksanaan perawatan konstruksi atau kesalahan


dalam menyusun standar operasional dan perawatan konstruksi yang
direncanakan.

 Kemungkinan terjadinya penyimpangan kaidah teknik sipil dalam perencanaan


karena seharusnya konstruksi alat penyambung harusnya lebih kuat daripada
kabel penggantung yang disambungkan dalam kabel utama.

 Kesalahan desain dalam menentukan jenis bahan/ material untuk alat


penyambung kabel penggantung vertikal yang dibuat dari besi tuang/ cor (cas
iron) atau kesalahan dalam menentukan jenis atau kapasitas kekuatan alat
tersebut.

3. Robohnya Jembatan Penghubung Gedung Perpustakan Daerah DKI (November


2014)
Bangunan jembatan penghubung ini menghubungkan gedung Badan Perpustakaan dan
Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta. Keruntuhan terjadi pada tanggal 3 November
2014.
Jembatan Penghubung runtuh
Keruntuhan terjadi diakibatkan sistem perancah yang mengalami kegagalan.
Scafolding yang digunakan merupakan scafolding besi dengan kondisi yang sudah
tidak layak pakai:

 Kondisi scafolding banyak yang sudah keropos dan ada beberapa yang sudah
bolong.

 Pemasangan scafolding tidak dilengkapi dengan bracing, sehingga scafolding


tidak stabil.

 Adanya perlemahan scafolding yang tidak dihitung seperti adanya jalan akses
untuk kendaraan dibawah struktur yang sedang dibangun.

Scafolding bengkok
Demikian contoh beberapa kasus kegagalan struktur yang pernah terjadi di Indonesia.
Sebenarnya masih ada beberapa contoh kasus lain akan tetapi belum sempat dibahas
pada kesempatan kali ini. Penulis berharap deretan kasus yang terjadi dapat menjadi
bahan pembelajaran bagi para engineer untuk dapat lebih cermat baik pada saat
desain maupun saat pengawasan pekerjaan di lapangan. Sehingga deretan kasus
kegagalan struktur diatas tidak bertambah panjang.