Anda di halaman 1dari 27

A.

KONSULTAN PENGAWAS DAN TUGAS-


TUGASNYA

1. Pengertian Konsultan Pengawas Proyek

Konsultan pengawas adalah orang perseorangan yang diberi kuasa


secara hukum untuk mengawasi/ meliputi secara penuh atau terbatas, seluruh
tahapan konstruksi sesuai dengan bestek. Pelaksanaan pekerjaan dan syarat-syarat
teknik yang ada.

Konsultan pengawas konstruksi berfungsi melaksanakan pengawasan


pada tahap konstruksi. Konsultan pengawas konstruksi mulai bertugas sejak
ditetapkan berdasarkan surat perintah kerja pengawasan sampai dengan
penyerahan kedua pekerjan oleh pemborong. Komsultan pengawas konstruksi
dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab secara kontraktual kepada
pemimpin proyek/bagian proyek.

a. Hak dan kewajiban konsultan pengawas adalah :

1. Menyelesaikan pelaksanaan pekerjaan dalam waktu yang telah ditetapkan.


2. Membimbing dan mengadakan pengawasan secara periodik dalam
pelaksanaan pekerjaan.
3. Melakukan perhitungan prestasi pekerjaan.
4. Mengkoordinasi dan mengendalikan kegiatan konstruksi serta aliran
informasi antar berbagai bidang agar pelaksanaan pekerjaan berjalan
lancar.
5. Menghindari kesalahan yang mungkin terjadi sedini mungkin serta
menghindari pembengkakan biaya.
6. Mengatasi dan memecahkan persoalan yang timbul di lapangan agar
dicapai hasil akhir yang sesuai dengan yang diharapkan dengan kualitas,
kuantitas serta waktu pelaksanaan yang telah ditetapkan.
7. Menerima atau menolak material/peralatan yang didatangkan kontraktor.
8. Menghentikan sementara bila terjadi penyimpangan dari peraturan yang
berlaku.
9. Menyusun laporan kemajuan pekerjaan.
10. Menyiapkan dan menghitung adanya kemungkinan tambah atau
berkurangnya pekerjaan.

b. Kegiatan pengawasan kontruksi terdiri dari :

1. Memeriksa dan mempelajari dokumen untuk pelaksanaan kontruksi yang


akan dijadikan dasar dalam pengawasan pekerjaan di lapangan;
2. Mengawasi pemakaian bahan, peralatan dan metode pelaksanaan, serta
mengawasi ketepatan waktu, dan biaya pekerjaan kontruksi;
3. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan kontruksi dari segi kualitas, kuantitas
dan laju pencapaian volume/realisasi fisik;
4. Mengumpulkan data dan informasi di lapangan untuk memecahkan
persoalan yang terjadi selama pekerjaan konstruksi;
5. Menyelenggarakan rapat-rapat lapangan secaraberkala, membuat laporan
mingguan dan bulananpekerjaan pengawasan, dengan masukan hasilrapat-
rapat lapangan, laporan harian, mingguandan bulanan pekerjaan konstruksi
yang dibuat olehpelaksana konstruksi;
6. Meneliti gambar-gambar untuk pelaksanaan (shopdrawings) yang diajukan
oleh pelaksana konstruksi;
7. Meneliti gambar-gambar yang sesuai denganpelaksanaan di lapangan (As-
Built Drawings)sebelum serah terima ;
8. Menyusun daftar cacat/kerusakan sebelum serahterima I, mengawasi
perbaikannya pada masapemeliharaan, dan menyusun laporan
akhirpekerjaan pengawasan;
9. Menyusun berita acara persetujuan kemajuanpekerjaan, berita acara
pemeliharaan pekerjaan,dan serah terima pertama dan kedua
pelaksanaankonstruksi sebagai kelengkapan untuk pembayaranangsuran
pekerjaan konstruksi;
10. Bersama-sama penyedia jasa perencanaanmenyusun petunjuk
pemeliharaan dan penggunaanbangunan gedung;
11. Membantu pengelola kegiatan dalam menyusunDokumen Pendaftaran;
12. Membantu pengelola kegiatan dalam penyiapan kelengkapan dokumen
Sertifikat Laik Fungsi (SLF)dari Pemerintah Kabupaten/Kota setempat.

c. Adapun tugas dan tanggung jawab konsultan pengawas :

1. Menolak penilaian estetis hasil pekerjaan pelaksana;


2. Mengembalikan seluruh tugas yang dibebankan karena perimbangan
dalam dirinya akibat yang muncul diluar kekuasaan kedua belah pihak dan
juga dari pemberi tugas;
3. Menerima honorium atas jasa sesuai dengan kontrak.

2. Uraian Tugas Operasional Konsultan Pengawas

Konsultan pengawas harus membuat uraian kegiatan secara terinci yang


sesuai dengan setiap bagian pekerjaan pengawasan pelaksanaan yang dihadapi di
lapangan, yang secara garis besar adalah sebagai berikut :

a. Pekerjaan Persiapan

1. Menyusun program kerja, alokasi tenaga dan konsepsi pekerjaan


pengawasan.
2. Memeriksa Time Schedule/Bar Chart, S-Curve, dan Net Work Planning
yang diajukan oleh kontraktor pelaksana untuk selanjutnya diteruskan
kepada pengelola proyek untuk mendapatkan persetujuan.

b. Uraian Tugas Pekerjaan Teknis Pengawasan Lapangan.


1. Melaksanakan pekerjaan pengawasan secara umum, pengawasan
lapangan, koordinasi dan inspeksi kegiatan–kegiatan pembangunan agar
pelaksanaan teknis maupun administrasi teknis yang dilakukan dapat
secara terus menerus sampai dengan pekerjaan diserahkan untuk kedua
kalinya.
2. Mengawasi kebenaran ukuran, kualitas dan kuantitas dari bahan atau
komponen bangunan, peralatan dan perlengkapan selama pekerjaan
pelaksanaan di lapangan atau ditempat kerja lainnya.
3. Mengawasi kemajuan pelaksanaan dan mengambil tindakan yang tepat
dan cepat, agar batas waktu pelaksanaan minimal sesuai dengan jadwal
yang ditetapkan.
4. Memberikan masukkan pendapat teknis tentang penambahan atau
pengurangan biaya dan waktu pekerjaan serta berpengaruh pada ketentuan
kontrak, untuk mendapatkan persetujuan dari Pengguna Jasa.
5. Memberikan petunjuk, perintah sejauh tidak mengenai pengurangan dan
penambahan biaya dan waktu pekerjaan serta tidak menyimpang dari
kontrak, dapat langsung disampaikan kepada pemborong, dengan
pemberitahuan tertulis kepada Pengelola Proyek.
6. Memberikan bantuan dan petunjuk kepada Pemborong dalam
mengusahakan perijinan sehubungan dengan pelaksanaan pembangunan.

c. Konsultasi.

1. Melakukan konsultasi ke Pengguna Jasa untuk membahas segala masalah


dan persoalan yang timbul selama masa pembangunan.
2. Mengadakan rapat lapangan secara berkala, sedikitnya dua kali dalam
sebulan, dengan Pengguna Jasa, perencana dan pemborong dengan tujuan
untuk membicarakan masalah dan persoalan yang timbul dalam
pelaksanaan, untuk kemudian membuat risalah rapat dan mengirimkan
kepada semua Pihak yang bersangkutan, serta sudah diterima paling
lambat 1 minggu kemudian.
3. Mengadakan rapat diluar jadwal rutin tersebut apabila dianggap
mendesak.

d. Laporan.

1. Memberikan Laporan dan pendapat teknis administrasi dan teknis kepada


Pengguna Jasa, mengenai volume, prosentase dan nilai bobot bagian-
bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana.
2. Melaporkan kemajuan pekerjaan yang nyata dilaksanakan dan
dibandingkan dengan jadwal yang telah disetujui.
3. Melaporkan bahan-bahan bangunan yang dipakai, jumlah tenaga kerja dan
alat yang digunakan.
4. Memeriksa gambar-gambar kerja tambahan yang dibuat oleh pemborong
terutama yang mengakibatkan tambah atau berkurangnya pekerjaan, yang
dibuat oleh Pemborong (Shop Drawing).

e. Dokumen.

1. Menerima dan menyiapkan berita Acara sehubungan dengan penyelesaian


pekerjaan di lapangan, serta untuk keperluan pembayaran angsuran.
2. Memeriksa dan menyiapkan daftar volume dan nilai pekerjaan, serta
penambahan atau pengurangan pekerjaan guna keperluan pembayaran.
3. Mempersiapkan formulir, laporan harian, mingguan dan bulanan, Berita
Acara kemajuan Pekerjaan, Penyerahan Pertama dan Kedua serta formulir-
formulir lainnya yang diperlukan untuk kebutuhan dokumen
pembangunan, serta keperluan pendaftaran sebagai bangunan gedung
negara.
B. Masalah Yang Dihadapi Dunia Konstruksi

1. Permasalahan Dunia Konstruksi Berkaitan Erat dengan Sering


Ketergantungan Pengaruh Biaya, Mutu dan Waktu

Sebagaimana diketahui bahwa dalam pelaksanaan manajemen konstruksi


didasari dari proses proyek itu sendiri, yang mempunyai awal dan akhir serta
tujuan menyelesaikan proyek tersebut alam bentuk bangunan fisik secara efisien
dan efektif. Untuk itu, diperlukan pengetahuan yang salah satunya menyangkut
aspek teknik pelaksanaan manajemen konstruksi itu sendiri dalam
penyelenggaraannya. Beberapa ruang lingkup pekerjaan yang menjadi aspek
teknik dapat dilihat dibawah ini :

- Perencanaan (planning)

- Penjadwalan (scheduling)

- Pengendalian (controling)

Hal ini untuk mencapai tujuan proyek yaitu menghasilkan bangunan fisik
yang mempunyai variabel biaya-mutu-waktu yang optimal. Sebagaimana
diketahui secara tradisional bahwa ketiga variabel tersebut saling berkaitan dan
saling mempengaruhi, yang umumnya dikenal sebagai Biaya – Mutu – Waktu.

Ketiga variabel tersebut berkaitan dan saling mempengaruhi. Sebagai


misal MUTU : kualitas mutu berkaitan dengan BIAYA yang dikeluarkan, besar
kecilnya biaya secara umum menunjukkan tinggi rendahnya mutu untuk suatu
pekerjaan yang sama dengan spesifikasi yang sama pula. Demikian pula dengan
WAKTU pelaksanaan, tinggi rendahnya MUTU secara tidak langsung berkaitan
dengan lama waktu pelaksanaan, mutu yang tinggi membutuhkan kehati-hatian
dan pengawasan mutu yang lebih intensif, sehingga jelas akan memakan waktu
yang lebih daripada waktu yang normal. Dari WAKTU yang lebih lama ini
otomatis, paling tidak dari segi biaya tidak langsung, akan kembali menambah
BIAYA pelaksanaan. Bentuk saling ketergantungan ini memberikan beberapa
kebutuhan akan teknik untuk menajemen proses konstruksi seperti tersebut di
atas. Atas dasar tersebut, pada modul ini akan dibahas beberapa teori / teknik
dalam lingkup pelaksanaan manajemen proyek konstruksi, yang meliputi :

1. Tahap Perencanaan

• Penyusunan Work Breakdown Structure (WBS)

• Penyusunan Organization Analysis Table (OAT)

• Memperkirakan durasi dari WBS, OAT, Analisa Harga Satuan dan


Ketersediaan Sumber Daya Manusia.

2. Tahap Penjadwalan
• Diagram Jaringan 1 (Activity on Arrow)

• Diagram Jaringan 2 (Pengantar Activity on Node)

• Metode Lintasan Kritis (CPM)

• Aliran Kas (Cash Flow)

3. Tahap Pengendalian

• Monitoring 1 : Kurva – S

• Monitoring 2 : Integrasi Biaya – Waktu (Earned Value)

• Percepatan Waktu dengan Biaya Optimal (Least Cost Analysis).

2. Permasalahan Dunia Konstruksi Berkaitan dengan Koordinasi dan


Pengaturan Manajemen

Manajemen proyek dapat didefinisikan sebagai suatu proses dari


perencanaan, pengaturan, kepemimpinan, dan pengendalian dari suatu proyek oleh
para anggotanya dengan memanfaatkan sumber daya seoptimal mungkin untuk
mencapai sasaran yang telah ditentukan. Tujuan/sasaran Manajemen Proyek
adalah mengelola fungsi manajemen atau mengatur pelaksanaan pembangunan
sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil optimal sesuai dengan persyaratan
(spesification) untk keperluan pencapaian tujuan ini, perlu diperhatikan pula
mengenai mutu bangunan, biaya yang digunakan dan waktu pelaksanaan Dalam
rangka pencapaian hasil ini selalu diusahakan pelaksanaan pengawasan mutu (
Quality Control ) , pengawasan biaya ( Cost Control ) dan pengawasan waktu
pelaksanaan ( Time Control ). Pengelolaan aspek-aspek tersebut dengan benar
merupakan kunci keberhasilan dalam penyelenggaraan suatu proyek.

Dengan adanya manajemen proyek maka akan terlihat batasan mengenai


tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari pihak-pihak yang terlibat dalam
proyek baik langsung maupun tidak langsung, sehingga tidak akan terjadi adanya
tugas dan tangung jawab yang dilakukan secara bersamaan (overlapping).

Apabila fungsi-fungsi manajemen proyek dapat direalisasikan dengan jelas


dan terstruktur, maka tujuan akhir dari sebuah proyek akan mudah terwujud,
yaitu:

1. Tepat Waktu

2. Tepat Kuantitas

3.Tepat Kualitas

4. Tepat Biaya sesuai dengan biaya rencana

5. Tidak adanya gejolak sosial dengan masyarakat sekitar

6. Tercapainya K3 dengan baik

Pelaksanaan proyek memerlukan koordinasi dan kerjasama antar


organisasi secara solid dan terstruktur. Dan hal inilah yang menjadi kunci pokok
agar tujuan akhir proyek dapat selesai sesuai dengan schedule yang telah
direncanakan.
Beberapa unsur organisasi yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda.
Adapun pihak-pihak tersebut antara lain:

1.Pemilik proyek (owner)/investor yang juga merupakan konsultan manajemen

konstruksi

2. Knsultan perencana arsitektur, landscape, dan quantity surveyor.

3. Kontraktor pelaksana utama yang membawahi:

• Konsultan perencana struktur

• Sub kontraktor spesialis

4.Kontraktor pondasi

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, ke-4 pihak tersebut harus


mempunyai hubungan kerja yang jelas, dan dapat bersifat ikatan kontrak,
perintah, maupun garis koordinasi.

C. KAPAN KONSULTAN PENGAWAS MULAI


TERLIBAT

Pekerjaan proyek konstruksi dimulai dengan tahap awal proyek yaitu


tahap perencanaan dan perancangan, kemudian dilanjutkan dengan tahap konstruk
siyaitu tahap pelaksanaan pembangunan fisik, berikutnya adalah tahap operasional
atau tahap penggunaan dan pemeliharaan.

Pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek konstruksi dari tahap awal
proyek (tahap perencanaan dan perancangan) hingga masa konstruksi
(pelaksanaan pembangunan fisik) ada tiga pihak yaitu:

1. Pemilik proyek (owner)

2. Pihak perencana (designer)


3. Pihak kontraktor (aannemer), (Ervianto, 2005)

Pihak/badan yang disebut konsultan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu


konsultan perencana dan konsultan pengawas. Konsultan perencana dapat
dipisahkan menjadi dua, yaitu konsultan perencana dan konsultan pengawas
(Manajemen Konstruksi).

Berikut ini adalah bagan Tahap Kegiatan dalam Proyek Konstruksi:

2.2 Konsultan Manajemen Konstruksi (Pengawas)

Menghadapi perkembangan dunia konstruksi yang semakin pesat maka


pelayanan dalam bidang jasa konsultansi mulai mendapat perhatian yang besar.
Manajemen dalam suatu proyek konstruksi bukan saja hanya bertujuan agar
pelaksanaan pembangunan dapat berjalan lancar atau sesuai dengan rencana tetapi
juga bertujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Tercapainya kualitas yang sesuai dengan perencanaansangat ditentukan


oleh pelaksanaan manajemen dilapangan dan pelaksanaan manajemen dipengaruhi
oleh hubungankerja sama antara pihak-pihak yang terlibat, oleh karena itu dalam
pelaksanaan manajemen konstruksi dilapangan dibutuhkan konsultan yang
bertindak secara profesional.

“Dengan menerapkan sistem manajemen konstruksi kesenjangan persepsi


diantara unsur-unsur manajemen dapat dijembatani dan dihubungkan sehingga
keseluruhannya memiliki satu kerangka konsep yang sama mengenai kriteria
keberhasilan proyek konstruksi yang dilaksanakan. Semua bentuk tujuan, sasaran
dan strategi proyek dinyatakan secara jelas dan terperinci sehingga dapat dipakai
untuk mewujudkan dasar kesepakatan segenap unsur. Sistem manajemen
konstruksi hendaknya dapat memberikan kesamaan bahasa sekaligus memadukan
tertib teknis dan sosial yang dapat diterapkan disetiap jenjang manajemen dengan
cara-cara sederhana, jelas dan sistematis.

(Dipohusodo, 1996).”
Penggunaan konsultan manajemen konstruksi diterapkan pada proyek-
proyek yang dalam pelaksanaan melibatkan beberapa kontraktor dan bahkan lebih
dari satu konsultan perencana. Dalam hal ini konsultan manajemen konstruksi
bertugas selaku pengendali dan koordinator dalam keseluruhan sistem rekayasa
sejak persiapan, perencanaan sampai pelaksanaan konstruksi berakhir. Dalam hal
ini boleh dikatakan bahwa konsultan manajemen konstruksi merupakan lembaga
yang memberi jasa untuk bertanggung jawab atas pengelolaan proyek konstruksi
secara keseluruhan.

Berikut ini definisi-definisi mengenai manajemen konstruksi ditinjau dari


sudut pelaku yaitu konsultan manajemen konstruksi (Sulaksono, 1995)

a. Konsultan manajemen konstruksi adalah suatu perusahaan yang bertindak


sebagai “kapten” dari suatu tim. Manajemen konstruksi yang memberi
perencanaan (bukandesain), pengarahan dan rekomendasinya dalam
menentukan arah serta kebijaksnaan pelaksanaan proyek.

b. Konsultan manajemen konstruksi adalah suatu badan yang berfungsi


membantu peneglola proyek (pemilik) dalam melaksanakan konsultansi
pada tahap perencanaan dan pengendalian pada tahap konstruksi baik
ditingkat program maupun operasional.

c. Konsultan manajemen konstruksi adalah suatu badan multi disiplin


profesional, tangguh dan independen yang bekerja untuk pemilik proyek
dari awal perencanaan sama dengan arsitek guna mencapai hasil yang
optimal dalam aspek waktu, biaya serta kualitas seperti yang sudah
ditetapkan sebelumnya.
Menurut Kep. Dirjen. Cipta Karya Nomor. 295/KPTJ/CK/1997 tentang
Pedoman Teknis Bangunan Grdung Negara, konsultan manajemen
konstruksi bertugas sejak tahap perencanaan sampai serah terima
pekerjaan konstruksi fisik dan berfungsi melaksanakan pengendalian pada
tahap perencanaan dan tahap konstruksi, baik ditingkat program mamupun
ditingkat operasional. Konsultan manajemen konstruksi melaksanakan
tugas dan bertanggung jawab secara kontraktual kepada pemimpin proyek.
Apabila di daerah tempat dilaksanakan proyek tidak terdapat perusahaan
yang memenuhi persyaratan dan bersedia melakukan tugas konsultan
manajemen konstruksi maka dapat ditunjuk perusahaan yang memenuhi
persyaratan dan bersedia dari daerah lain atau provinsi lain yang
berdekatan.

D. PROSES PEMBAYARAN/GAJI KONSULTAN


PENGAWAS

Suatu kontrak dengan penyedia konsultan pengawas selama lima bulan,


padahal pekerjaan kontruksi yang diawasi kemungkinan bisa selesai kurang dari
5 bulan, misal 4 bulan atau juga bisa telambat melebihi 5 bulan.

Skema pembayaran biaya pengawasan dapat dibayarkan sbb:

a. secara bulanan atau

b. tahapan tertentu yang didasarkan pada pencapaian prestasi/kemajuan


pekerjaan konstruksi fisik di lapangan, atau

c. penyelesaian tugas dan kewajiban pengawasan.

Bila pilihan skema kontraknya :

Huruf a, yaitu secara bulanan maka dibuat dalam kontrak harga satuan.
Secara satuan kalau misal selesai 4 bulan berarti hanya dibayar 4 bulan saja.
Demikian juga kalau 6 bulan, hanya bisa dibayar enam bulan.
Huruf b yaitu tahapan tertentu yang didasarkan pada pencapaian
prestasi/kemajuan pekerjaan konstruksi fisik di lapangan, yang artinya termin
dipengaruhi oleh capaian/progres kemajuan fisik yang diawasi,

Huruf c. penyelesaian tugas dan kewajiban pengawasan.

Konsultan dibayar sesuai ketentuan yang disebut dalam kontrak, belum


tentu dipengaruhi oleh capaian fisik.

Memperhatikan pertanyaannya, maka penulis cenderung memilih huruf b,


konsultan pengawas akan dibayar sesuai kemajuan fisik yang diawasi, yang
diharapkan konsultan pengawas ikut mendorong lebih cepat selesainya pekerjaan
konstruksi.

Namun dalam hal kenyataan pekerjaan konstruksi masih banyak yang


terlambat maka pilihan b, tidak menguntungkan bagi penyedia konsultan
pengawas. Pilihan win win solution adalah kontrak harga satuan dalam bulanan.

Rujukan. Permen PU 45 tahun 2007


Dalam penyusunan HPS, satuan orang-bulan sebagai sarana untuk
menghitung nilai total HPS berdasarkan standar biaya dan perkiraan waktu
penyelesaian pekerjaan.

Dalam surat penawaran Penyedia, satuan orang-bulan diperlukan agar


Penyedia bisa menyajikan harga satuan masing-masing tenaga ahli. Dengan
disajikannya harga satuan masing-masing tenaga ahli, maka Pokja ULP dapat
melakukan klarifikasi kewajaran harga penawaran.

Adapun mengenai cara pembayarannya, Peraturan Menteri PU Nomor 45


tahun 2007 memberikan 3 (tiga) pilihan cara pembayaran biaya pengawasan,
yaitu:

Secara bulanan;

Tahapan tertentu yang didasarkan pada pencapaian prestasi fisik; atau

Penyelesaian tugas dan kewajiban pengawasan.

Pembayaran biaya pengawasan secara bulanan dilakukan dengan cara


mengalikan harga satuan dengan lamanya konsutan melakukan pengawasan.
Apabila pekerjaan fisik selesai lebih cepat, maka konsultan hanya berhak
mendapat pembayaran sampai dengan saat selesainya pekerjaan fisik, dalam arti
lebih rendah dibandingkan rencana. Sebaliknya, apabila pekerjaan konstruksi fisik
mengalami keterlambatan, maka konsultan berhak mendapat tambahan
pembayaran biaya pengawasan.

Pembayaran biaya pengawasan berdasarkan tahapan tertentu yang


didasarkan pada pencapaian prestasi fisik artinya jumlah pembayaran konsultan
pengawas tergantung pada penyelesaian pekerjaan kontraktor pelaksana. Apabila
kontraktor pelaksana dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari rencana,
konsultan pengawas tetap berhak mendapatkan pembayaran sesuai Kontrak.
Namun sebaliknya apabila kontraktor pelaksana terlambat melaksanakan
pekerjaan, maka konsultan pengawas wajib melanjutkan pekerjaan sampai dengan
selesainya seluruh pekerjaan kontraktor pelaksana.
Pembayaran biaya pengawasan berdasarkan penyelesaian tugas dan
kewajiban pengawasan artinya adalah tugas konsultan pengawas dianggap sebagai
sebuah satuan output tertentu yang harus tercapai tanpa tergantung pada pekerjaan
pihak lain. Apabila biaya pengawasan dibayarkan dengan metode ini, maka biaya
pengawasan tidak bisa dibayarkan secara bulanan. Biaya pengawasan hanya bisa
dibayarkan apabila tugas pengawasan selesai dilaksanakan, baik lebih cepat, tepat
waktu maupun terlambat. Karena pencapaian output pengawasan sepenuhnya
tanggungjawab konsultan pengawas, maka apabila output itu terlambat dicapai,
kepada pengawas dikenakan sanksi denda keterlambatan.

Menyadari bahwa banyak PPK yang masih belum sempurna dalam


menyusun Rancangan Kontrak, maka penggunaan cara pembayaran tersebut di
atas adalah sebagai berikut:

Untuk paket yang belum dilakukan pemilihan, maka Pokja ULP/Pejabat


Pengadaan harus memastikan bahwa PPK telah memilih salah satu cara
pembayaran dan menuangkannya dalam Rancangan Kontrak. Apapun pilihan
PPK adalah sah, pilihan terbaik tergantung pada karakteristik pekerjaan dan nilai
pengawasan yang bersangkutan.

Untuk paket yang terlanjur Kontrak, PPK terlebih dahulu perlu


mensimulasikan 3 metode tersebut berdasarkan kondisi riil di lapangan, kemudian
melakukan pembayaran dengan metode yang paling menguntungkan bagi negara.
E. ITEM YANG HARUS DISERAHKAN SAAT
AKAN DIBAYAR (PENAGIHAN)
1. Ketentuan Umum

Pembayaran dilakukan atas dasar prestasi pekerjaan yang penilaiannya


dilakukan dengan Sertifikat Bulanan atau sistem Termin, sebagaimana tertuang
dalam dokumen kontrak.

Pembayaran dilakukan dalam mata uang rupiah atau mata uang lain sesuai
nilai atau harga yang dicantumkan dalam perjanjian kontrak.

Pembayaran prestasi hasil pekerjaan yang disepakati, akan diproses oleh


pengguna barang/jasa apabila penyedia barang/jasa (kontraktor) telah mengajukan
tagihan disertai laporan kemajuan hasil pekerjaan.

Pengguna barang/jasa dalam kurun waktu 7 (tujuh) hari harus sudah


mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) untuk pembayaran prestasi
kerja.

Pembayaran bulanan/termin harus memperhitungkan pemotongan


kewajiban kontraktor antara lain :

 Angsuran uang muka


 nilai uang yang ditahan (retention of money)/jaminan pemeliharaan,
 denda (jika ada)
 pajak.

Untuk kontrak yang mempunyai sub kontrak, permintaan pembayaran


kepada pengguna barang/jasa harus dilengkapi bukti pembayaran kepada seluruh
subkontraktor sesuai dengan perkembangan (progres) pekerjaannya.

Sistem pembayaran prestasi hasil pekerjaan sesuai ketentuan dokumen


kontrak (angsuran/termijn atau bulanan/monthly certificate).

a. Sistem sertifikat angsuran


1) Setelah kemajuan hasil pekerjaan mencapai nilai prosentase tertentu
sesuai dengan ketentuan dokumen kontrak, penyedia jasa
mengajukan laporan kemajuan hasil pekerjaan kepada direksi teknis
dengan lampiran data pendukung.
2) Kemajuan hasil pekerjaan tersebut harus sudah mendapat penetapan
dari direksi teknis selambat-lambatnya 5 (lima) hari setelah
diterimanya laporan kemajuan hasil pekerjaan tersebut berikut
kelengkapan data pendukungnya.
b. Sistem sertifikat bulanan

1) Pada setiap tanggal 25 bulan yang bersangkutan, penyedia jasa


mengajukan sertifikat bulanan kepada direksi teknis dengan lampiran
data pendukung (penentuan tanggal pengajuan sertifikat bulanan
dibahas/disepakati dalam pre construction meeting).
2) Direksi teknis harus menetapkan selambat-lambatnya 5 (lima) hari
setelah diterimanya sertifikat bulanan tersebut berikut kelengkapan
data pendukungnya.
3) Pembayaran prestasi hasil pekerjaan hanya dapat dilakukan senilai
pekerjaan yang telah terpasang, tidak termasuk bahan-bahan, alat-
alat yang ada di lapangan.
4) Bila terjadi ketidaksesuaian dalam perhitungan prestasi hasil
pekerjaan, tidak akan menjadi alasan untuk menunda pembayaran.
Pengguna jasa dapat meminta penyedia jasa untuk menyampaikan
perhitungan prestasi sementara dengan mengesampingkan hal-hal
yang sedang menjadi perselisihan dan besarnya tagihan yang dapat
disetujui untuk dibayar setinggi-tingginya sebesar 80% (delapan
puluh persen) dari jumlah nilai tagihan.
5) Pembayaran terakhir sebesar 100% (seratus persen) dari nilai
kontrak hanya dilakukan setelah pekerjaan selesai 100% (seratus
persen) dan penyedia jasa harus menyerahkan jaminan pemeliharaan
sebesar 5% (lima persen) dari nilai kontrak setelah berita acara
penyerahan pertama diterbitkan.

Bentuk pelaporan yang akan diserahkan sebagaimana yang


tercantum dalam dokumen kontrak adalah.

1. Laporan Bulanan
a. Latar belakang pelaksanaan pekerjaan
b. Uraian pekerjaan
c. Jadwal pelaksanaan kegiatan konsultan dll.

Laporan di buat 4 (empat) Buku

II. Laporan Akhir


a. Hasil rangkuman pelaksanaan pekerjaan
b. Kesimpulan dan saran.
Laporan d buat 4 (empat) Buku

F. KUALIFIKASI DOKUMEN (SKT, SKA)

1. SERTIFIKAT KEAHLIAN ( SKA)

SKA atau Sertifikat Keahlian adalah sertifikat yang diterbitkan LPJK dan
diberikan kepada tenaga ahli konstruksi yang telah memenuhi persyaratan
kompeteni berdasarkan disiplin keilmuan, kefungsian dan/ atau keahlian tertentu.

Kualifikasi tenaga ahli Jasa Konstruksi adalah:

1. Ahli Muda

2. Ahli Madya
3. Ahli Utama

Tenaga ahli yang sudah memiliki SKA dengan kualifikasi Muda dapat
ditingkatkan/ up-grade menjadi Ahli Madya, dan tenaga Ahli Madya dapat
ditingkatkan/ up-grade menjadi Ahli Utama.

a. SKA sebagai persyaratan sertifikasi

Salah satu persyaratan utama untuk mengajukan permohonan Sertifikasi


dan Registrasi Badan Usaha bidang Jasa Konstruksi adalah memiliki tenaga ahli
bersertifikat keahlian ( SKA) untuk ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Teknik
( PJT) atau Penanggung Jawab Bidang ( PJB) .

SKA untuk tenaga ahli perusahaan Jasa Pelaksana Konstruksi (


Kontraktor)

Setiap perusahaan jasa pelaksana konstruksi yang ingin mengajukan


permohonan Sertifikasi dan Registrasi Badan Usaha khususnya golongan
Menengah dan Besar ( M1, M2, B1, B2) harus memiliki tenaga ahli bersertifikat
keahlian ( SKA) sebagai persyaratan untuk dapat ditetapkan sebagai Penanggung
Jawab Teknik ( PJT) dan Penanggung Jawab Bidang ( PJB) .

SKA untuk tenaga ahli perusahaan Jasa Perencana dan Jasa Pengawas
Konstruksi ( konsultan)

Setiap perusahaan jasa perencana konstruksi dan jasa pengawas konstruksi


yang ingin mengajukan permohonan Sertifikasi dan Registrasi Badan Usaha baik
untuk golongan Kecil, Menengah atau Besar ( M1, M2, B1, B2) harus memiliki
tenaga ahli bersertifikat keahlian ( SKA) sebagai persyaratan untuk dapat
ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Teknik ( PJT) dan Penanggung Jawab
Bidang ( PJB) .
PERSYARATAN PERMOHONAN SERTIFIKAT KEAHLIAN ( SKA)

AHLI MUDA :

1. Mengisi formulir yang disediakan

2. Print warna/ fotocopy KTP 1 lembar ( KTP harus jelas & tidak boleh
buram)

3. Print warna/ fotocopy Ijazah yang dilegalisir cap basah ( Universitas/


Notaris) pendidikan min D3/ S1 & S2/ S3

4. Print warna/ fotocopy NPWP pribadi ( NPWP harus jelas & tidak boleh
buram)

5. Jika perpanjangan harus mengembalikan SKA lama yang asli/ surat


keterangan hilang dari kepolisian jika sudah hilang

6. Pas foto terbaru ukuran 3×4 sebanyak 5 lembar menghadap ke depan


dengan pakaian rapih ( bukan kaos)

7. Curiculum Vitae / pengalaman kerja min. 3 tahun dari 3 tahun terakhir


yang pernah dikerjakan dan ditandatangani dengan tinta warna biru (
menyebutkan tahun proyek, nama jabatan dalam proyek & proyek yang pernah
dikerjakan harus disesuaikan dengan sub bidang yang diambil)

8. Tahun kelulusan sarjana minimal 3 tahun

9. Membuat surat pernyataan kebenaran data& permohonan (


menggunakan materei Rp 6.000, -)

10. Melampirkan sertifikat pelatihan, sertifikat seminar luar negeri


maupun dalam negeri ( jika ada) .

11. Menyelesaikan administrasi

12. Melampirkan No.HP/ telepon. Kantor, telepon rumah dan alamat email
( dari tenaga ahli yang bersangkutan/ pemohon)
13. Melampirkan Uraian kerja satu proyek terakhir

14. Melampirkan Surat referensi kerja dari perusahaan dan dinas terkait
minimal 2 surat.

AHLI MADYA :

1. Mengisi formulir yang disediakan

2. Print warna/ fotocopy KTP 1 lembar ( KTP harus jelas & tidak boleh
buram)

3. Print warna/ fotocopy ijazah yang dilegalisir cap basah ( Universitas/


Notaris) pendidikan min D3/ S1 & S2/ S3

4. Print warna/ fotocopy NPWP pribadi ( NPWP harus jelas & tidak boleh
buram)

5. Jika perpanjangan harus mengembalikan ska lama yang asli/ surat


keterangan hilang dari kepolisian jika sudah hilang

6. Pas foto terbaru ukuran 3×4 sebanyak 5 lembar menghadap ke depan


dengan pakaian rapih ( bukan kaos)

7. Curiculum Vitae / pengalaman kerja min. 5 tahun dari 5 tahun terakhir


yang pernah dikerjakan dan ditanda tanganin dengan tinta warna biru (
menyebutkan tahun proyek, nama jabatan dalam proyek & proyek yang pernah
dikerjakan harus disesuaikan dengan sub bidang yang diambil)

8. Tahun kelulusan sarjana minimal 5 tahun

9. Membuat surat pernyataan kebenaran data & permohonan (


menggunakan materei Rp 6.000, -)

10. Melampirkan sertifikat pelatihan, sertifikat seminar luar negeri


maupun dalam negeri ( jika ada)
11. Membuat surat pernyataan dari perusahaan yang menyatakan bahwa
yang bersangkutan adalah benar karyawan di perusahaan tersebut ( menggunakan
materai, stempel perusahaan dan tanda tangan Direktur)

12. Melampirkan print warna foto-foto proyek yang pernah dikerjakan (


jika ada)

13. Menyelesaikan administrasi

14. Mengikuti wawancara

15. Menyerahkan karya tulis setelah wawancara ( menyerahkan hard copy


& soft copy)

16. Melampirkan no.hp/ telepon. kantor, telepon rumah dan alamat email (
dari tenaga ahli yang bersangkutan/ pemohon)

17. Melampirkan uraian kerja dari proyek terakhir

18. Melampirkan referensi kerja dari perusahaan dan dinas terkait minimal
3 surat.

AHLI UTAMA :

1. Mengisi formulir yang disediakan

2. Print warna/ fotocopy KTP 1 lembar ( KTP harus jelas & tidak boleh
buram)

3. Print warna/ fotocopy ijazah yang dilegalisir cap basah ( Universitas/


Notaris) pendidikan min S1 & S2/ S3

4. Print warna/ fotocopy NPWP pribadi ( NPWP harus jelas & tidak boleh
buram)

5. Jika perpanjangan harus mengembalikan SKA lama yang asli/ surat


keterangan hilang dari kepolisian jika sudah hilang
6. Pas foto terbaru ukuran 3×4 sebanyak 5 lembar menghadap ke depan
dengan pakaian rapih ( bukan kaos)

7. Curiculum Vitae / pengalaman kerja min. 10 tahun dari 10 tahun


terakhir yang pernah dikerjakan dan ditanda tanganin dengan tinta warna biru (
menyebutkan tahun proyek, nama jabatan dalam proyek & proyek yang pernah
dikerjakan harus disesuaikan dengan sub bidang yang diambil)

8. Tahun kelulusan sarjana minimal 10 tahun

9. Membuat surat pernyataan kebenaran data & permohonan (


menggunakan materei Rp 6.000, -)

10. Melampirkan sertifikat pelatihan, sertifikat seminar luar negeri


maupun dalam negeri ( jika ada)

11. Membuat surat pernyataan dari perusahaan yang menyatakan bahwa


yang bersangkutan adalah benar karyawan di perusahaan tersebut ( menggunakan
materei, stempel perusahaan dan tandatangan Direktur)

12. Melampirkan print warna foto-foto proyek yang pernah dikerjakan (


jika ada)

13. Menyelesaikan administrasi

14. Melampirkan No.HP/ telepon. kantor, telepon rumah dan alamat email
( dari tenaga ahli yang bersangkutan/ pemohon)

15. Melampirkan uraian kerja dari proyek terakhir secara lengkap dan
detail

16. Melampirkan referensi kerja dari perusahaan dan dinas terkait minimal
7 surat.
2. SERTIFIKAT KETERAMPILAN KERJA ( SKTK)

SKTK atau Sertifikat Keterampilan adalah sertifikat yang diterbitkan


LPJK dan diberikan kepada tenaga terampil konstruksi yang telah memenuhi
persyaratan kompetensi berdasarkan disiplin keilmuan, kefungsian dan/ atau
keterampilan tertentu.

Kualifikasi tenaga terampil konstruksi

1. Kelas 1

2. Kelas 2

3. Kelas 3

SKTK sebagai persyaratan sertifikasi dan registrasi usaha jasa pelaksana


konstruksi ( kontraktor)

Setiap perusahaan jasa pelaksana konstruksi yang ingin mengajukan


permohonan sertifikasi dan registrasi badan usaha dan mendapatkan Sertifikat
Badan Usaha ( SBU) untuk golongan Kecil ( K1, K2, K3) harus memiliki tenaga
kerja bersertifikat keterampilan ( SKTK) sebagai persyaratan untuk dapat
ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Teknik ( PJT) .

SKTK tersebut dikeluarkan diajukan melalui asosiasi profesi jasa


konstruksi atau instansi lain yang telah diakreditasi LPJK

PERSYARATAN PERMOHONAN SERTIFIKASI KETERAMPILAN (


SKTK)

PERMOHONAN SERTIFIKASI

Persyaratan Uji :

I. Standar dasar pendidikan :


1. Tenaga Terampil Tingkat 1 ( tertinggi) / Teknisi Senior

• Pendidikan tertinggi Diploma 3 ( D3) teknik dengan pengalaman kerja 1


( satu) tahun sesuai bidangnya.

• Pendidikan minimal sekolah menengah kejurusan teknik atau sekolah


lanjutan atas / sederajat dengan pengalaman kerja 3 ( tiga) tahun sesuai bidangnya.

• Memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibuktikan dengan


pengalaman kerja, dan melampirkan surat keterangan pengalaman kerja.

• Mengikuti seluruh prosedur kegiatan penyelenggaraan sertifikasi.

2. Tenaga Terampil Tingkat 2 / Teknisi Yunior

• Pendidikan minimal SLTP atau sederajat dengan pengalaman kerja 5(


lima) tahun sesuai bidangnya.

• Memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibuktikan dengan


pengalaman kerja, dan melampirkan surat keterangan pengalaman kerja.

• Mengikuti seluruh prosedur kegiatan penyelenggaraan sertifikasi.

3. Tenaga Terampil Tingkat 3 ( terendah) / Tenaga Terampil

• Pendidkan minimal Sekolah Dasar ( SD) dengan pengalaman kerja 5 (


lima) tahun.

• Memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibuktikan dengan


pengalaman kerja.

• Mengikuti seluruh prosedur kegiatan penyelenggaraan sertifikasi.


II. Mengajukan data administrasi Sertifikasi :

Tenaga Terampil Tingkat I ( tertinggi) / Teknisi Senior, Tenaga Terampil


Tingkat II/ Teknisi Yunior, Tenaga Terampil Tingkat III/ Tenaga Terampil data
sebagai berikut :

Pengisian Formulir.

a. Fotocopy Ijazah yang dilegalisasi oleh lembaga pendidikan yang


menerbitkan ijazah, kantor pos, notaris atau Asosiasi Profesi/ Institusi Diklat
penerima permohonan dengan

ketentuan latar belakang pendidikan pemohon harus sesuai dengan


kompetensi yang

dimohonkan.

b. Daftar Pengalaman Kerja yang sesuai dengan klasifikasi/ subklasifikasi


kompetensi

kerja Pemohon yang terstruktur dengan menggunakan formulir


sebagaimana pada

Lampiran 2 yang ditandatangani oleh pemohon dengan tinta warna biru


dan tidak boleh

menggunakan scan.

c. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk ( KTP) Pemohon yang masih berlaku.

d. Surat Pernyataan dari Pemohon yang menyatakan bahwa seluruh data


dalam dokumen

yang disampaikan adalah benar .

e. Melampirkan Pas foto terbaru ukuran 3×4 sebanyak 5 lembar


menghadap ke depan dengan pakaian rapih ( bukan kaos) .
f. Dalam menyampaikan data KTP dan Ijasah untuk tanggal, bulan, dan
tahun kelahiran tidak sama, maka data yang dianggap benar adalah tanggal, bulan
dan tahun yang tertera pada Ijasah.