0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan27 halaman

REMATIK Rizka

Asuhan keperawatan keluarga Ny. M.S dengan penyakit reumatoid artritis di Desa Sintong Marnipi membahas pengkajian, diagnosa, dan rencana intervensi keperawatan untuk meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidup pasien."
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan27 halaman

REMATIK Rizka

Asuhan keperawatan keluarga Ny. M.S dengan penyakit reumatoid artritis di Desa Sintong Marnipi membahas pengkajian, diagnosa, dan rencana intervensi keperawatan untuk meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidup pasien."
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA NY. M.

S DENGAN
MASALAH REUMATOID ARTRITIS DI DESA
SINTONG MARNIPI KECAMATAN LAGUBOTI
KABUPATEN TOBA SAMOSIR

O
L
E
H
KELOMPOK 9
1.DIANA SIMAMORA
2.FRETTY B. MANURUNG
3.KRISNA M. SIMANJUNTAK

STIKES ARJUNA PRODI D3 KEPERAWATAN


LAGUBOTI –TOBASA
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan
Ridho-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul Asuhan
keperawatan pada pasien .Ny. M.S dengan penyakit Reumatoid Atritis diwilayah Desa
sintong marnipi Kecamatan Laguboti kabupaten Toba Samosir mulai tanggal 30 Oktober
2019..
Dalam penyusunan laporan ini penulis mendapatkan bantuan dan masukan dari
berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis
ingin menyampaikan rasa terima kasiih kepada:
1. Prof. Ingk. Tunggul Sirait selaku Ketua Yayasan TP Arjuna Pintubosi-Laguboti
2. Ibu Melva Manurung S.Kep.Ns .M.Kep.Selaku kaprodi D3 keperawatan STIKES
ARJUNA Laguboti
3. Erita saragi Skep M,K.M selaku koordinator
4. Keluarga Ny.M. S yang bersedia menjadi pasien kelolahan penulis

Penulis juga menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna
baik dari segi penulisan maupun isinya,maka dengan kerendahan hati penulis minta maaf dan
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan
laporan ini.

Akhir kata Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada seluruh pihak yang telah
membantu penulis dalam penyusunan laporan ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
memberikan anugerah-Nya kepada penulis. Sehingga laporan hasil kegiatan ini dapat
bermanfaat bagi semua.

Penulis

Kelompok 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Reumatoid arthritis adalah penyakit inflamasi iskemik kronis yang dikarakteristikkan


oleh kerusakan dan poliverasi membran sinovial yang menyebabkan kerusakan pada tulang,
sendi, ankilosis, dan deformitas.
Berdasarkan data yang ditemukan sebagai salah satu wilayah kerjanya masih dijumpai
beberapa orang penderita Rheumatoid arthritis yang membutuhkan pelaksanaan yang optimal
guna mengurangi angka kesakitan yang dialami dan pemmbenahan yang lebih lagi terhadap
fasilitas kesehatan yang ada di Desa Sintong marnipi.
Sesuai dengan program stikes Arjuna prodi D3 keperawatan pada mata kuliah
Keperawatan keluarga yang memberi tugas kepada mahasiswa/i untuk melaksanakan praktek
lapangan yang mengaplikasikan teori yang didapat dari pendidikan dalam pemberian
pelayanan kesehatan dalam keluarga.
Dengan menerapkan pelayanan secara langsung, penulis menyadari semaksimal
mungkin menerapkan asuhan keperawatan keluarga Ny .M. S dengan penyakit Rheumatoid
arthritis .

B.Ruang Lingkup
Sehubungan dengan luasnya masalah yang akan dibahas dan adanya keterbatasan
waktu dan ilmu yang dimiliki oleh penulis maka penulis hanya membahas tentang asuhan
keperawatan Ny.M. S dengan penyakit Rheumatoid arthritis.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menerapkan asuhan keperawatan keluarga agar dapat meningkatkan
status kesehatan keluarga Ny M.S dengan Reumatoid Artritis
2. Tujuan Khusus
1. Mampu melaksanakan pengkajian pada Ny. M.S dengan Reumatoid Artritis
2. Mampu menerapkan rencana tindakan untuk memenuhi dan mengatasi
masalah kesehatan keluarga
3. Mampu mengimplementasikan rencana tindakan keperawatan yang nyata
sesuai dengan yang telah direncanakan.
4. Mampu menilai hasil ( mengevaluasi ) tindakan keperawatan yang dilakukan
5. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga.

D. Metode Penulisan
Metode yang dilakukan adalah :
1. Study Kasus
Penulis melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung kepada keluarga
Ny. M.S dengan Reumatoid Artritis
2. Observasi
Yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap individu beserta
lingkungan nya diman penulis langsung memberikan Asuhan Keperawatan
Keluarga
3. Wawancara
Yaitu dengan menggunakan Tanya jawab langsung dengan keluarga
4. Study Kepustakaan
Dengan mempelajari beberapa buku dengan keluarga termasuk bahan – bahan
perkuliahan agar laporan ini mempunyai ilmiah untuk dipresentasikan

E. Sistematika Penulisan
Penulisan laporan ini terdiri dari 5 bab yaitu :
BAB I : Pendahuluan meliputi Latar Belakang, Ruang Lingkup,
Tujuan Penulisan dan SisteMatika Penulisan
BABII : Tinjauan teoritis terdiri dari :
1. Tinjauan Teoritis Medis
2. Tinjauan Teoritis Keperawatan keluarga
BAB III : Tinjauan Kasus terdiri dari Pengkajian, Diagnosa
Keperawatan, Implementasi, Intervensi, Evaluasi
BAB IV : Pembahasan terdiri dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan,
Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi
BAB V : Penutup terdiri dari Kesimpulan dan Saran
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

1. TINJAUAN TEORITIS MEDIS


I. Defenisi
Reumatoid arthritis adalah penyakit inflamasi sistemik kronis yang dikarakteristikkan
oleh kerusakan dan proliferasi membran sinovial yang menyebabkan kerusakan pada tulang,
sendi, ankilosis dan deformitas. (Suzanne, CS, 2002).

II. Etiologi
Sampai sekarang ini masih belum diketahui, tetapi ada yang mengatakan karena hal-hal
dibawah ini. Yang kesemuanya belum merupakan bukti yang nyata.
1. Faktor Keturunan dan Lingkungan
Terjalin hubungan yang erat antara HLA-DW4 dengan arthritis reumatoid
seropositif. Hubungan ini menunjukkan bahwa penderita memiliki resiko 4 kali
lebih mudah terserang penyakit ini.

2. Pengaruh Hormon dan Seks

Perempuan dengan hormon estrogennya lebih berpeluang terserang arthritis


reumatoid dibandingkan dengan pria. Hormon estrogen sangat penting untuk
menjaga kepadatan tulang. Kekurangan hormon estrogen mengakibatkan lebih
banyak penghancuran tulang dari pada pembentukan tulang. Keadaan ini
mempercepat dan memperberat penyakit arthritis reumatoid.

3. Adanya Infeksi
Infeksi dibagian persendian akibat bakteri, mikoplasma atau koloni jamur, dan virus
bisa meniumbulkan sakit yang terjadi secara mendadak. Biasanya disertai juga
dengan tanda-tanda peradangan seperti panas, nyeri, bengkak dan gangguan fungsi.
Infeksi dan peradangan merupakan gejala yang khas sebagai tanda timbulnya
arthritis reumatoid.
4. Munculnya Heat Shock Protein (HSP)
Heat shock protein merupakan sekelompok protein berukuran sedang yang muncul
sebagai bentuk respon tubuh yang sedang mengalami stres. Namun keberadaan
protein ini justru akan memicu terjadinya arthritis reumatoid.

5. Adanya Radikal Bebas


Radikal bebas seperti superoksida dan lipid peroksidase akan merangsang
keluarnya prostaglandin. Adanya prostaglandin akan menimbulkan rasa nyeri,
peradangan, dan pembengkakan.

6. Pengaruh Usia
Umur 35-45 tahun lebih rentan terhadap penyakit rematik jenis ini, meskipun secara
umum arthritis reumatoid terjadi pada kelompok umur 20-60 tahun.

7 .makanan

III. Manifestasi Klinis


Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan. Namun ini tidak harus timbul
sekaligus pada saat yang bersamaan. Oleh karena memiliki gambaran klinis yang bervariasi.
Sebagai pedoman umum yang dipakai kriteria dari ARA (American Reumatism
Assosiation) untuk menegakkan diagnosis.
1. Adanya rasa kaku pada pagi hari (morning stiffnes) penderita merasa kaku dari mulai
bangun tidur sampai sekurang-kurangnya 2 jam, bahkan kadang-kadang sampai jam 11
siang rasa kaku tersebut mulai berkurang.
2. Pembengkakan jaringan lunak sendi (soft tissue swelling) bukan pembesaran tulang
(hyperostosis) belangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.
3. Nyeri pada sendi yang terkena bila digerakkan (joint tenderness on moving) sekurang-
kurangnya didapati pada satu sendi.
4. Nyeri pada sendi bila digerakkan (pada sendi terkena), sekurang-kurangnya pada
sebuah sendi yang lain.
5. Poli artritis yang simetris dan serentak (symmetrical poliartritis simultaneously).
Serentak disini diartikan jarak antara rasa sakit pada satu sendio disusul oleh sendi yang
lain harus kurang dari 6 minggu.
6. Didapati adanya nodulus Reumatikus subkutan.
7. Didapati adanya kelainan radiologik pada sendi yang terkena, sekurang-kurangnya
dengan klasifikasi.
8. Tes faktor rema positif (Rheuma factor test positif).
9. Pengendapan mucin yang kurang pekat (poor mucin positif).
Sering penderita mulai mengeluh rasa sakit dan pembengkakan pada sendi-sendi (jari
tangan) dimulai sendi metakarpofalangeal dan disertai dengan bengkak yang khas pada
pergelangan tangan bagian dorsal. Pikirkan kemungkinan Reumatoid terlebih dahulu lebih-
lebih bila simetris.
IV. Klasifikasi
Penderita arthritis reumatoid dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Penderita yang mengalami serangan arthritis reumatoid, tetapi selanjutnya dapat


sembuh secara sempurna.
2. Penderita yang mengalami serangan arthritis reumatoid sepanjang hidup, tetapi
sesekali diselingi kesembuhan yang sifatnya singkat.
3. Penderita yang mengalami serangan arthritis reumatoid secara progresif yaitu
disertai dengan penurunan fungsi sendi pada setiap kali terjadi serangan rematik.

Wanita lebih sering menderita rematik jenis ini dibandingkan pria, perbandingannya 3 :
1. Keadaan ini berkaitan dengan peristiwa menopause yang tidak dialami pria.

V. Patofisiologi

Perubahan berhubungan dengan usia:

 Menurunnya autoimun.
 Kartilago sebagai pelumas sendi
berkurang.
 Kekuatan otot berkurang.
 Perubahan struktur tulang.
 Penurunan mekanisme proliferasi
tulang.
Pengaruh Negatif Dari Fungsi-
Fungsi Yang Terganggu:
 Pembengkakan jaringan lunak
sendi.
 Kerentanan peningkatan suhu
tubuh.
 Peradangan pada sendi-sendi.
 Berkurangnya respon adaptif
terhadap aktvitas yang berlebih.
 Kelainan bentuk pada
sendi/kontraktur.
 Menurunnya kekuatan otot.
 Meningkatnya kerentanan
terhadap cidera.

Faktor Resiko:
 Asam urat
 Obesitas dan cidera
 Konsumsi lemak berlebihan
 Kebiasaan diet yang mengandung lemak
hewani.
 Kurang beraktivitas
VI. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Patologi Anatomi
Terlihat adanya hipertropi dari villi pada sendi, penebalan jaringan sinovial,
adanya sebukan sel-sel radang mendadak dan menahun, jaringan fibrosit dan pusat-
pusat nekrosis. Semuanya menghasilkan pembengkakan sendi yang amat nyeri
dalam keadaan diam maupun bila digerakkan.
Pembentukan pannus yang cepat akan menerobos tulang rawan sendi, periost
sehingga pada akhirnya sendi tersebut dengan pannus yang berlapis-lapis, maka
lambat laun merupakan anyaman yang saling bertaut sehingga pada akhirnya timbul
ankilosis. Proses penerobosan ini akan berlangsung terus kedalam tulang sehingga
pada suatu saat tulang jadi rapuh dan hancur. Akibatnya timbul deformitas,
subluksasi bahkan destruksi yag hebat.
Akibat ini pula otot-otot disekitar sendi tidak digunakan lagi dan timbul “Disused
athropy”. Akhirnya penderita kan cacat, dan sendi-sendi besarnya juga akan
mengalami ankilosis.

2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Test faktor reuma (RF), biasanya positif pada 70-80% penderita RA terutama
bila Ranya masih aktif.
b. C-reactive protein; biasanya positif pada penderita RA sejenisnya.
c. Laju endap darah (LED) biasanya meninggi pada RA.
d. Sering dijumpai lekositosis.
e. Anemia akibat adanya inflamasi yang kronis. Disini pemberian Fe per-oral atau
suntikan tidak akan menolong.
f. Pada hitung jenis lekosit, polimorfonuklear persentasenya meninggi.
g. Kadar albumin serum turun dan globulin naik.
h. Pada pemeriksaan X-Ray semua sendi dapat terkena, tapi biasanya yang sering
metatarsofalangeal dan biasanya simetris. Disamping itu sendi sakroiliaka juga
sering terkena.
3. Pemeriksaan Radiologik
Didapati adanya tanda-tanda dekalsifikasi (sekurang-kurangnya) pada sendi yang
terkena.

VII. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita reumatoid arthritis dibagi atas :

1. Medikamentosa
2. Fisioterapi
3. Pembedahan
4. Psikoterapi
1. ) deformitas yang sudah terjadi.
Tujuan pengobatan pada reumatoid arthritis :

2. Mencegah deformitas.
3. Menghilangkan rasa sakit.
4. Mengusahakan agar dapat tetap bekerja dan hidup secara biasa baik dirumah
maupun di tempat kerja, terutama mengataasi keperluan-keperluan dirinya sehari-
hari.
Memperbaiki (mengoreksi)

Pengobatan secara simtomatik


Tidak mempengaruhi perjalanan penyakit penderita, artinya hanya rasa sakitnya saja
yang dikurangi.
Pengobatan secara remitif
Obat ini lebih bermanfaat bagi penderita namun tergolong jenis obat yang lambat
kerjanya. Biasanya diperlukan waktu beberapa bulan pengobatan guna mencapai kadar
yang dikehendaki dalam darah agar mempunyai pengobatan.
PENGOBATAN FISIOTERAPI
Pengobatan ini memegang peranan yang tidak kalah pentingnya dengan pengobatan
medikamentosa. Disini pencegahan terhadap cacat yang lebih lanjut dan pencegahan
kecacatan dan bila sudah terjadi cacat, dicoba dilakukan rehabilitasi bila masih
memungkinkan. Sebaiknya dimulai fisioterapi segera setelah sendi mulai berkurang
sakitnya atau sudah minimal. Bila tidak juga berhasil, mungkin diperlukan
pertimbangan untuk tindakan operatif.

PENGOBATAN PEMBEDAHAN
Bila berbagai cara pengobatan sudah dilakukan namun belum berhasil juga, dan alasan
untuk tindakan operatif cukup kuat, maka dilakukanlah pengobatan pembedahan. Jenis
pengobatan ini umumnya bersifat ortopedik.

PSIKOTERAPI
Biasanya diberikan psikoterapi superficial agar timbul semangat dan keuletan untuk
berobat dan dukungan pada mental penderita supaya dapat menghadapi diri dan
penyakitnya.
Penderita diberi penjelasan bahwa penderita akan tetap dapat melakukan tugas-tugas
sosial yang dihadapinya terutama untuk mancari nafkah, bila penderita berobat dengan
tekun. Dan yang penting tidak mengantungkan hidupnya pada orang lain (jadi beban,
terutama keluarga).

VIII. PENCEGAHAN
Karena sebagian besar kasus rematik merupakan akibat kerja, gaya hidup modern dan
pola makan yang kurang sehat, maka cara pencegahannya dilakukan dengan cara
menghindari hal-hal yang bersifat negatif tersebut.
Mengatur pola makan dengan seimbang (tidak berlebihan konsumsi lemak) agar tidak
kegemukan merupakan salah satu cara yang tepat mencegah arthritis.
Olahraga teratur, istirahat cukup dan minum air putih 10 gelas perhari sangat dianjurkan
untuk mendukung kelancaran metabolisme tubuh menghindari gejala rematik yang cukup
mengganggu kesehatan.

A. TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
Data tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya (misalnya mata,
jantung, ginjal), tahapan (misalnya : eksaserbasi akut atau remisi) dan keberadaan bersama-
sama bentuk artritis lainnya.

a. Aktivitas/istirahat
 Gejala: Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, kekakuan di pagi hari, biasanya
terjadi secara bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya
hidup, waktu senggang, pekerjaan, kelebihan.
 Tanda: Malaise, keterbatasan rentang gerak, atrofi otot, kulit, kontraktur/kelainan
pada sendi dan otot.

b. Kardiovaskuler
 Gejala: Fenomena Raynaud jari tangan/kaki (misalnya : pucat intermitten, sianosis,
kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal )
c. Integritas Ego
 Gejala : faktor-faktor stres akut/kronis (misalnya : finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan, keputusan, dan ketidakberdayaan (situasi
ketidakmampuan). Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi,
(misalnya : ketergantungan pada orang lain)
d. Makanan dan cairan
 Gejala : Ketidakmampuan untuk menghasilkan/mengkonsumsi makanan/cairan
adekuat : mual, anoreksia, kesulitan untuk mengunyah.
 Tanda : Penurunan BB, kekerigan pada membran mukosa
e. Higiene
 Gejala : berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi,
ketergantungan orang lain.
f. Neurosensori
 Gejala : kebas, kesemutuan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
 Tanda : pembengkakan pada sendi simetris
g. Nyeri kenyamanan
 Gejala : fase akut dari nyeri (mungkin disertai oleh pembengkakan jaringan lunak
pada sendi). Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama di pagi hari).
h. Keamanan
 Gejala : kulit mengkilat. Tegang, nodul subkutaneus, lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan
dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap.
Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
i. Interaksi sosial
 Gejala : kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain, perubahan peran, isolasi.
j. Penyuluhan dan pembelajaran
 Gejala : riwayat pada keluarga ( pada awitan remaja). Penggunaan makanan
kesehatan, vitanmin. Riwayat perikarditis, lesi katup, fibrosis pulmonal, pleuritis.
Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1 DS:klien mengatakan Ketidakmampuan Nyeri


nyeri pada kaki , keluarga dalam
merawat anggota
-ketidaknyamanan, dan
yang sakit
merasa linu di persendian

DO: Terlihat Berfokus


pada diri
sendiri/penyempitan
fokus, perilaku
distraksi/respon
autonomik, perilaku yang
bersifat hati-hati dan
melindungi diri.

-skala nyeri 6

2 DS: Ketidakmampuan Hamabatan mobilitas


keluarga dalam fisik
Klien mengatakan sering
merasa linu di perendian
memberi

kakinya sehingga kaku keperawatan kepada


untuk berjalan anggota keluarga

-klien mengatakan ketika


bangun pagi kakinya
merasa senut dan berat
untuk berjalan

DO:-

Kurang pengetahuan
mengenai penyakit,
prognosis,dan
kebutuhan
pengobatan

DS: Klien mengatakan


tidak mengetahui tentang
penyakit ini

DO: Tampak bingung


saat ditanya .

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan I
Nyeri berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam memberi perwatan pada
keluarga ditandai dengan adanya klien mengatakan nyeri, ketidaknyamanan, dan merasakan
linu pada persendiaan , berfokus pada diri sendiri/penyempitan fokus, perilaku
distraksi/respon autonomik, perilaku yang bersifat hati-hati dan melindungi diri.,skala nyeri 6

-Rencana Keperawatan nyeri

Diagnosa Rencana

Keperawatan/Masalah Keperawatan/Tujuan Intervensi


Kolaborasi Keperawatan

Nyeri berhubungan Tujuan:


Nyeri hilang atau terkontrol
ketidakmampuan keluarga dalam NIC:
memberi keperawatan ditandai NOC:Setelah dilakukan Mandiri
tindakan keperawatan
selama 1x24 jam maka  Kaji
dengan adanya klien mengatakan keluhan nyeri,
nyeri, ketidaknyamanan,dan linumasalah nyeri teratasi lokasi, intensitas (skala
dengan criteria hasil :
pada persendian berfokus pada 1-10). Catat faktor-faktor
 Pasien terlihat rileks,
diri sendiri/penyempitan fokus, yang memperberat sakit
dapat tidur/istirahat dan
dalam  Ajarkan
perilaku distraksi/respon pasien
berpartisipasi
autonomik, perilaku yang bersifat mengambil posisi yang
aktivitas yang sesuai
hati-hati dan melindungi diri, nyaman pada waktu tidur
 Mengikuti program yang
Skla nyeri 6 atau duduk di kursi.
telah dianjurkan
 Menggabungkan Tingkatkan istirahat

keterampilan relaksasi  Anjurkan pasien untuk

dan aktivitas hiburan sering merubah posisi

dalam kontrol program dan hindari gerakan yang

nyeri. menyentak
 Anjurkan pasien mandi
air hangat pada waktu
bangun dan mengompres
sendi yang sakit
beberapa kali sehari
 Anjurkan massage yang
lembut

 Anjurkan mengkonsumsi
obat tradisional

Kolaborasi
Kolaborasi/rujuk
pasien mendapatkan
obat-obatan yang
sesuai petunjuk,
misalnya: asetil
salisilat, NSAID
Diagnosa keperawatan 2
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan keluaraga dalam memperi
keperawatan ditandai dengan Klien mengatakan sering merasa linu di perendian kakinya
sehingga kaku untuk berjalan

-klien mengatakan ketika bangun pagi kakinya merasa senut dan berat untuk berjalan

Hambatan mobilitas fisik Tujuan:


Hambatan mobilitas fisik
berhubungan dengan NIC:
dapat diminimalkan
ketidakmampuan keluaraga  Diskusiakan dengan klien
NOC:Setelah dilakukan
dalam memperi keperawatan tentang imobilisasi .
tindakan keperawatan
ditandai dengan Klien selama 1x24 jam maka  .berikan contoh
masalah mobilitasfisik
mengatakan sering merasa demonstrasi imobilisasi
teratasi dengan criteria hasil
linu di perendian kakinya : yang nyamn
sehingga kaku untuk berjalan  Mampu memotivasi diri
 Melakukan imobilisasi
-klien mengatakan ketika untuk melakukan
sesuai kemampuan
bangun pagi kakinya merasa mobilisasi sesuai
senut dan berat untuk kemampuan
berjalan

Diagnosa keperawatan 3
Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis,dan kebutuhan pengobatan berhubungan
ketidakmampuan keluarga dalam mngenal masalah kesehatan ditandai dengan pasien
meminta informasi, kesalahan konsep, tidak tepat mengikuti instruksi/terjadinya komplikasi
dapat dicegah ..
Kurang pengetahuan Tujuan:
Pasien akan menunjukkan
mengenai penyakit, NIC:
pemahaman tentang
prognosis,dan kebutuhan
kondisi, prognosis dan Mandiri
pengobatan berhubungan
kebutuhan pengobatan,  Kaji pengetahuan klien
dengan ketidakmampuan
mengembangkan rencana tentang panyakit,
keluarga dalam mngenal
perawatan diri, prognosis dan harapan
masalah kesehatan ditandai
memodifikasi gaya hidup masa yang akan datang.
dengan pasien meminta
informasi, kesalahan konsep,
yang konsisten dengan  Diskusikan kebiasaan
mobilitas/ pembatasan pasien dalam
tidak tepat mengikuti
aktivitas. penatalaksanaan proses
instruksi/terjadinya
komplikasi dapat dicegah . sakit melalui diet, obat-
NOC:Setelah dilakukan
tindakan keperawatan obatan, latihan dan
selama 1x24 jam maka istirahat
masalah kurang
pengetahuan teratasi dengan  Bantu dalam
criteria hasil : merencanakan jadwal
 Mengetahui tentang
aktivitas terintegrasi yang
bagaimana terjadi
realistis, istirahat,
rematik
manajemen stres
 Tekankan pentingnya
melanjutkan manajemen
farmakologis
 Rekomendasikan
penggunaan aspirin.

 Tinjau pentingnya diet


yang seimbang dengan
makan makanan yang
banyak mengandung
vitamin, protein dan zat
besi.
Anjurkan pasien obesitas
untuk menurunkan berat badan
dan berikan informasi
penurunan berat badan sesuai
kebutuhan
BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah menerapkan Asuhan keperawatan kepada Ny. M. S dengan masalah


Reumatoid arthritis diwilayah desa sintong marnipi penulis mencoba membuat pembahasan
yang dimulai dengan tahap Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Intervensi, Implementasi,
dan Evaluasi

1.Pengkajian

Dalam tahap pengkajian pada Ny. M. S terdapat hambatan yaitu sebagai


berikut :
 Keterbatasan waktu keluarga untuk berinteraksi dengan penulis
disebabkan oleh kesibukan dalam aktivitasnya
 Pada waktu pengumpulan data keluarga jarang dirumah.
2.Diagnosa Keperawatan

1.Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan oleh akumulasi cairan/proses inflamasi,


dekstruksi sendi ditandai dengan adanya klien mengatakan nyeri, ketidaknyamanan,
kelelahan, berfokus pada diri sendiri/penyempitan fokus, perilaku distraksi/respon
autonomik, perilaku yang bersifat hati-hati dan melindungi diri.

2. hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidak memberi kepereawatan terhadap


orang sakit.ditandai dengan Klien mengatakan sering merasa linu di perendian kakinya
sehingga kaku untuk berjalan
-klien mengatakan ketika bangun pagi kakinya merasa senut dan berat untuk berjalan

3. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis,dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan kurangnya informasi, kesalahan interpretasi, informasi ditandai dengan
pasien meminta informasi, kesalahan konsep, tidak tepat mengikuti instruksi/terjadinya
komplikasi dapat dicegah

3.Perencanaan
Perencanaan adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat
untuk dilaksanakan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan
yang diidentifikasi.
Intervensi yang dilakukan sesuai dengan diagnosa keperawatan pada
Ny. M. S yaitu :

1. Diagnosa 1.
Mandiri
1. Kaji keluhan nyeri, lokasi, intensitas (skala 1-10). Catat faktor-faktor yang
memperberat sakit
2. Ajarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di
kursi. Tingkatkan istirahat
3. Anjurkan pasien untuk sering merubah posisi dan hindari gerakan yang
menyentak
4. Anjurkan pasien mandi air hangat pada waktu bangun dan mengompres sendi
yang sakit beberapa kali sehari
5. Anjurkan massage yang lembut
6. Anjurkan mengkonsumsi obat tradisional
Kolaborasi

Kolaborasi/rujuk pasien mendapatkan obat-obatan yang sesuai


petunjuk, misalnya: asetil salisilat, NSAID
Diagnosa II
Diskusikan dengan klien tentang imobilisasi .

.berikan contoh demonstrasi imobilisasi yang nyamn

lakukan imobilisasi sesuai kemampuan

Kolaborasi :Anjurkan klien untuk menghindari makanan dengan berbumbu


menyengat, karbohidrat sederhana (gula, sirup), makanan berpengawet
(makanan kaleng, MSG), keju, coklat, sayur bayam
Diagnosa III
1.Kaji pengetahuan klien tentang panyakit, prognosis dan harapan masa yang akan
datang.
2.Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui diet, obat-
obatan, latihan dan istirahat
3.Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis, istirahat,
manajemen stres
4.Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakologis
5.Rekomendasikan penggunaan aspirin.
6.Tinjau pentingnya diet yang seimbang dengan makan makanan yang banyak
mengandung vitamin, protein dan zat besi.
Mandiri:Anjurkan pasien obesitas untuk menurunkan berat badan
dan berikan informasi penurunan berat badan sesuai kebutuhan
4.Implementasi

Pada tahap ini implementasi tidak ada masalah yang terlalu menonjol, adapun
upaya yang dilakukan untuk masalah yang ditemukan adalah :
a.Diagnosa I
1.mengKaji keluhan nyeri, lokasi, intensitas (skala 1-10). Catat faktor-faktor yang
memperberat sakit
1. mengAjarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk
di kursi. Tingkatkan istirahat
2. mengaAnjurkan pasien untuk sering merubah posisi dan hindari gerakan yang
menyentak
3. mengAnjurkan pasien mandi air hangat pada waktu bangun dan mengompres
sendi yang sakit beberapa kali sehari
4. mengAnjurkan massage yang lembut
5. mengAnjurkan mengkonsumsi obat tradisional
b. Diagnosa II

1.Modifikasikan lingkungan misalnya mengatur suhu ruangan, menciptakan lingbkungan


yang tenang, mematikan lampu yang tidak perlu.
2.MengAjarkan keluarga untuk memberikan tindakan kenyamanan seperti gosokan
punggung, pijatan ringan
3.meng.Ajarkan klien mengkonsumsi makanan yang mengandung magnesium, asam
amino triptophan, dan kalsium
4.mengAjarkan klien untuk menghindari minuman yang berkafein, berolkohol, dan
menghisap rokok pada saat menjelang tidur.
5.mengAnjurkan klien untuk mengkonsumsi karbohidrat kompleks seperti roti, krekles
c. .Diagnosa III
1.MengKaji pengetahuan klien tentang panyakit, prognosis dan harapan masa yang akan
datang.
2.Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui diet, obat-
obatan, latihan dan istirahat
3.memBantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis, istirahat,
manajemen stres
4.menekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakologis
5.meRekomendasikan penggunaan aspirin.
6.meninjau pentingnya diet yang seimbang dengan makan makanan yang banyak
mengandung vitamin, protein dan zat besi.
5.Evaluasi
Pada tahap evaluasi yaitu tahap akhir dari hasil yang sudah dilaksanakan oleh penulis
maka hasil yang diperoleh dari setiap masalah yaitu :
 Keluarga khususnya pasien dapat mengerti tentang penyakit rematoid arthritis
 Keluarga dapat mencegah timbulnya nyeri pada kaki
 Keluarga mengetahui penanganan pertama jika penyakit kambuh
 Keluarga mengerti tentang penyakitnya dan diet yang sesuai
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah penulis menerapkan Asuhan Keperawatan Keluarga pada keluarga binaan Ny.
M. S dengan Rheumatoid arthritis diwilayah kerja Puskesmas laguboti desa Sintong marnipi
Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir. Penulis membuat kesimpulan dan saran
sebagai berikut :

A. Kesimpulan
Reumatoid arthritis adalah penyakit inflamasi sistemik kronik yang dikarakteristikkan
oleh kerusakan dan poliferasi membrane synovial yang menyebabkan kerusakan pada tulang,
sendi, ankilosis, dan deformitas.
Dalam melaksanakan praktek belajar lapangan di Sintong marnipi, maka penulis
menyimpulkan bahwa keluarga belum sepenuhnya memenuhi syarat kesehatan yang baik.
Dilihat dari perhatian pasien, pasien cukup antusias dalam mengikuti acara penyuluhan yang
diberi oleh penulis oleh karena itu komplikasi dapat dicegah sesegera mungkin dirawat.

B. Saran
Setelah membuat kesimpulan mengenai Asuhan Keperawatan kepada Ny. M. S
diwilayah desa Sintong marnipi Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samos ir penulis
menyarankan kepada keluarga yaitu :
1. Ny. M. S yang sakit hendaknya segera mendapat tindakan medis dari bidan
desa ataupun dari puskesmas
2. Ny. M. S hendaknya memperhatikan pola makan, hindari makanan
pantangan, dan istirahat yang cukup.
3. Puskesmas hendaknya meningkatkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat,
agar masyarakat mampu mengenal kesehatan yang dihadapinya.

Anda mungkin juga menyukai