REMATIK Rizka
REMATIK Rizka
S DENGAN
MASALAH REUMATOID ARTRITIS DI DESA
SINTONG MARNIPI KECAMATAN LAGUBOTI
KABUPATEN TOBA SAMOSIR
O
L
E
H
KELOMPOK 9
1.DIANA SIMAMORA
2.FRETTY B. MANURUNG
3.KRISNA M. SIMANJUNTAK
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan
Ridho-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul Asuhan
keperawatan pada pasien .Ny. M.S dengan penyakit Reumatoid Atritis diwilayah Desa
sintong marnipi Kecamatan Laguboti kabupaten Toba Samosir mulai tanggal 30 Oktober
2019..
Dalam penyusunan laporan ini penulis mendapatkan bantuan dan masukan dari
berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis
ingin menyampaikan rasa terima kasiih kepada:
1. Prof. Ingk. Tunggul Sirait selaku Ketua Yayasan TP Arjuna Pintubosi-Laguboti
2. Ibu Melva Manurung S.Kep.Ns .M.Kep.Selaku kaprodi D3 keperawatan STIKES
ARJUNA Laguboti
3. Erita saragi Skep M,K.M selaku koordinator
4. Keluarga Ny.M. S yang bersedia menjadi pasien kelolahan penulis
Penulis juga menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna
baik dari segi penulisan maupun isinya,maka dengan kerendahan hati penulis minta maaf dan
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan
laporan ini.
Akhir kata Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada seluruh pihak yang telah
membantu penulis dalam penyusunan laporan ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
memberikan anugerah-Nya kepada penulis. Sehingga laporan hasil kegiatan ini dapat
bermanfaat bagi semua.
Penulis
Kelompok 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B.Ruang Lingkup
Sehubungan dengan luasnya masalah yang akan dibahas dan adanya keterbatasan
waktu dan ilmu yang dimiliki oleh penulis maka penulis hanya membahas tentang asuhan
keperawatan Ny.M. S dengan penyakit Rheumatoid arthritis.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menerapkan asuhan keperawatan keluarga agar dapat meningkatkan
status kesehatan keluarga Ny M.S dengan Reumatoid Artritis
2. Tujuan Khusus
1. Mampu melaksanakan pengkajian pada Ny. M.S dengan Reumatoid Artritis
2. Mampu menerapkan rencana tindakan untuk memenuhi dan mengatasi
masalah kesehatan keluarga
3. Mampu mengimplementasikan rencana tindakan keperawatan yang nyata
sesuai dengan yang telah direncanakan.
4. Mampu menilai hasil ( mengevaluasi ) tindakan keperawatan yang dilakukan
5. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga.
D. Metode Penulisan
Metode yang dilakukan adalah :
1. Study Kasus
Penulis melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung kepada keluarga
Ny. M.S dengan Reumatoid Artritis
2. Observasi
Yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap individu beserta
lingkungan nya diman penulis langsung memberikan Asuhan Keperawatan
Keluarga
3. Wawancara
Yaitu dengan menggunakan Tanya jawab langsung dengan keluarga
4. Study Kepustakaan
Dengan mempelajari beberapa buku dengan keluarga termasuk bahan – bahan
perkuliahan agar laporan ini mempunyai ilmiah untuk dipresentasikan
E. Sistematika Penulisan
Penulisan laporan ini terdiri dari 5 bab yaitu :
BAB I : Pendahuluan meliputi Latar Belakang, Ruang Lingkup,
Tujuan Penulisan dan SisteMatika Penulisan
BABII : Tinjauan teoritis terdiri dari :
1. Tinjauan Teoritis Medis
2. Tinjauan Teoritis Keperawatan keluarga
BAB III : Tinjauan Kasus terdiri dari Pengkajian, Diagnosa
Keperawatan, Implementasi, Intervensi, Evaluasi
BAB IV : Pembahasan terdiri dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan,
Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi
BAB V : Penutup terdiri dari Kesimpulan dan Saran
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
II. Etiologi
Sampai sekarang ini masih belum diketahui, tetapi ada yang mengatakan karena hal-hal
dibawah ini. Yang kesemuanya belum merupakan bukti yang nyata.
1. Faktor Keturunan dan Lingkungan
Terjalin hubungan yang erat antara HLA-DW4 dengan arthritis reumatoid
seropositif. Hubungan ini menunjukkan bahwa penderita memiliki resiko 4 kali
lebih mudah terserang penyakit ini.
3. Adanya Infeksi
Infeksi dibagian persendian akibat bakteri, mikoplasma atau koloni jamur, dan virus
bisa meniumbulkan sakit yang terjadi secara mendadak. Biasanya disertai juga
dengan tanda-tanda peradangan seperti panas, nyeri, bengkak dan gangguan fungsi.
Infeksi dan peradangan merupakan gejala yang khas sebagai tanda timbulnya
arthritis reumatoid.
4. Munculnya Heat Shock Protein (HSP)
Heat shock protein merupakan sekelompok protein berukuran sedang yang muncul
sebagai bentuk respon tubuh yang sedang mengalami stres. Namun keberadaan
protein ini justru akan memicu terjadinya arthritis reumatoid.
6. Pengaruh Usia
Umur 35-45 tahun lebih rentan terhadap penyakit rematik jenis ini, meskipun secara
umum arthritis reumatoid terjadi pada kelompok umur 20-60 tahun.
7 .makanan
Wanita lebih sering menderita rematik jenis ini dibandingkan pria, perbandingannya 3 :
1. Keadaan ini berkaitan dengan peristiwa menopause yang tidak dialami pria.
V. Patofisiologi
Menurunnya autoimun.
Kartilago sebagai pelumas sendi
berkurang.
Kekuatan otot berkurang.
Perubahan struktur tulang.
Penurunan mekanisme proliferasi
tulang.
Pengaruh Negatif Dari Fungsi-
Fungsi Yang Terganggu:
Pembengkakan jaringan lunak
sendi.
Kerentanan peningkatan suhu
tubuh.
Peradangan pada sendi-sendi.
Berkurangnya respon adaptif
terhadap aktvitas yang berlebih.
Kelainan bentuk pada
sendi/kontraktur.
Menurunnya kekuatan otot.
Meningkatnya kerentanan
terhadap cidera.
Faktor Resiko:
Asam urat
Obesitas dan cidera
Konsumsi lemak berlebihan
Kebiasaan diet yang mengandung lemak
hewani.
Kurang beraktivitas
VI. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Patologi Anatomi
Terlihat adanya hipertropi dari villi pada sendi, penebalan jaringan sinovial,
adanya sebukan sel-sel radang mendadak dan menahun, jaringan fibrosit dan pusat-
pusat nekrosis. Semuanya menghasilkan pembengkakan sendi yang amat nyeri
dalam keadaan diam maupun bila digerakkan.
Pembentukan pannus yang cepat akan menerobos tulang rawan sendi, periost
sehingga pada akhirnya sendi tersebut dengan pannus yang berlapis-lapis, maka
lambat laun merupakan anyaman yang saling bertaut sehingga pada akhirnya timbul
ankilosis. Proses penerobosan ini akan berlangsung terus kedalam tulang sehingga
pada suatu saat tulang jadi rapuh dan hancur. Akibatnya timbul deformitas,
subluksasi bahkan destruksi yag hebat.
Akibat ini pula otot-otot disekitar sendi tidak digunakan lagi dan timbul “Disused
athropy”. Akhirnya penderita kan cacat, dan sendi-sendi besarnya juga akan
mengalami ankilosis.
2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Test faktor reuma (RF), biasanya positif pada 70-80% penderita RA terutama
bila Ranya masih aktif.
b. C-reactive protein; biasanya positif pada penderita RA sejenisnya.
c. Laju endap darah (LED) biasanya meninggi pada RA.
d. Sering dijumpai lekositosis.
e. Anemia akibat adanya inflamasi yang kronis. Disini pemberian Fe per-oral atau
suntikan tidak akan menolong.
f. Pada hitung jenis lekosit, polimorfonuklear persentasenya meninggi.
g. Kadar albumin serum turun dan globulin naik.
h. Pada pemeriksaan X-Ray semua sendi dapat terkena, tapi biasanya yang sering
metatarsofalangeal dan biasanya simetris. Disamping itu sendi sakroiliaka juga
sering terkena.
3. Pemeriksaan Radiologik
Didapati adanya tanda-tanda dekalsifikasi (sekurang-kurangnya) pada sendi yang
terkena.
VII. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita reumatoid arthritis dibagi atas :
1. Medikamentosa
2. Fisioterapi
3. Pembedahan
4. Psikoterapi
1. ) deformitas yang sudah terjadi.
Tujuan pengobatan pada reumatoid arthritis :
2. Mencegah deformitas.
3. Menghilangkan rasa sakit.
4. Mengusahakan agar dapat tetap bekerja dan hidup secara biasa baik dirumah
maupun di tempat kerja, terutama mengataasi keperluan-keperluan dirinya sehari-
hari.
Memperbaiki (mengoreksi)
PENGOBATAN PEMBEDAHAN
Bila berbagai cara pengobatan sudah dilakukan namun belum berhasil juga, dan alasan
untuk tindakan operatif cukup kuat, maka dilakukanlah pengobatan pembedahan. Jenis
pengobatan ini umumnya bersifat ortopedik.
PSIKOTERAPI
Biasanya diberikan psikoterapi superficial agar timbul semangat dan keuletan untuk
berobat dan dukungan pada mental penderita supaya dapat menghadapi diri dan
penyakitnya.
Penderita diberi penjelasan bahwa penderita akan tetap dapat melakukan tugas-tugas
sosial yang dihadapinya terutama untuk mancari nafkah, bila penderita berobat dengan
tekun. Dan yang penting tidak mengantungkan hidupnya pada orang lain (jadi beban,
terutama keluarga).
VIII. PENCEGAHAN
Karena sebagian besar kasus rematik merupakan akibat kerja, gaya hidup modern dan
pola makan yang kurang sehat, maka cara pencegahannya dilakukan dengan cara
menghindari hal-hal yang bersifat negatif tersebut.
Mengatur pola makan dengan seimbang (tidak berlebihan konsumsi lemak) agar tidak
kegemukan merupakan salah satu cara yang tepat mencegah arthritis.
Olahraga teratur, istirahat cukup dan minum air putih 10 gelas perhari sangat dianjurkan
untuk mendukung kelancaran metabolisme tubuh menghindari gejala rematik yang cukup
mengganggu kesehatan.
PENGKAJIAN
Data tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya (misalnya mata,
jantung, ginjal), tahapan (misalnya : eksaserbasi akut atau remisi) dan keberadaan bersama-
sama bentuk artritis lainnya.
a. Aktivitas/istirahat
Gejala: Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, kekakuan di pagi hari, biasanya
terjadi secara bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya
hidup, waktu senggang, pekerjaan, kelebihan.
Tanda: Malaise, keterbatasan rentang gerak, atrofi otot, kulit, kontraktur/kelainan
pada sendi dan otot.
b. Kardiovaskuler
Gejala: Fenomena Raynaud jari tangan/kaki (misalnya : pucat intermitten, sianosis,
kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal )
c. Integritas Ego
Gejala : faktor-faktor stres akut/kronis (misalnya : finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan, keputusan, dan ketidakberdayaan (situasi
ketidakmampuan). Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi,
(misalnya : ketergantungan pada orang lain)
d. Makanan dan cairan
Gejala : Ketidakmampuan untuk menghasilkan/mengkonsumsi makanan/cairan
adekuat : mual, anoreksia, kesulitan untuk mengunyah.
Tanda : Penurunan BB, kekerigan pada membran mukosa
e. Higiene
Gejala : berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi,
ketergantungan orang lain.
f. Neurosensori
Gejala : kebas, kesemutuan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
Tanda : pembengkakan pada sendi simetris
g. Nyeri kenyamanan
Gejala : fase akut dari nyeri (mungkin disertai oleh pembengkakan jaringan lunak
pada sendi). Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama di pagi hari).
h. Keamanan
Gejala : kulit mengkilat. Tegang, nodul subkutaneus, lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan
dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap.
Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
i. Interaksi sosial
Gejala : kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain, perubahan peran, isolasi.
j. Penyuluhan dan pembelajaran
Gejala : riwayat pada keluarga ( pada awitan remaja). Penggunaan makanan
kesehatan, vitanmin. Riwayat perikarditis, lesi katup, fibrosis pulmonal, pleuritis.
Analisa Data
-skala nyeri 6
DO:-
Kurang pengetahuan
mengenai penyakit,
prognosis,dan
kebutuhan
pengobatan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan I
Nyeri berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam memberi perwatan pada
keluarga ditandai dengan adanya klien mengatakan nyeri, ketidaknyamanan, dan merasakan
linu pada persendiaan , berfokus pada diri sendiri/penyempitan fokus, perilaku
distraksi/respon autonomik, perilaku yang bersifat hati-hati dan melindungi diri.,skala nyeri 6
Diagnosa Rencana
nyeri. menyentak
Anjurkan pasien mandi
air hangat pada waktu
bangun dan mengompres
sendi yang sakit
beberapa kali sehari
Anjurkan massage yang
lembut
Anjurkan mengkonsumsi
obat tradisional
Kolaborasi
Kolaborasi/rujuk
pasien mendapatkan
obat-obatan yang
sesuai petunjuk,
misalnya: asetil
salisilat, NSAID
Diagnosa keperawatan 2
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan keluaraga dalam memperi
keperawatan ditandai dengan Klien mengatakan sering merasa linu di perendian kakinya
sehingga kaku untuk berjalan
-klien mengatakan ketika bangun pagi kakinya merasa senut dan berat untuk berjalan
Diagnosa keperawatan 3
Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis,dan kebutuhan pengobatan berhubungan
ketidakmampuan keluarga dalam mngenal masalah kesehatan ditandai dengan pasien
meminta informasi, kesalahan konsep, tidak tepat mengikuti instruksi/terjadinya komplikasi
dapat dicegah ..
Kurang pengetahuan Tujuan:
Pasien akan menunjukkan
mengenai penyakit, NIC:
pemahaman tentang
prognosis,dan kebutuhan
kondisi, prognosis dan Mandiri
pengobatan berhubungan
kebutuhan pengobatan, Kaji pengetahuan klien
dengan ketidakmampuan
mengembangkan rencana tentang panyakit,
keluarga dalam mngenal
perawatan diri, prognosis dan harapan
masalah kesehatan ditandai
memodifikasi gaya hidup masa yang akan datang.
dengan pasien meminta
informasi, kesalahan konsep,
yang konsisten dengan Diskusikan kebiasaan
mobilitas/ pembatasan pasien dalam
tidak tepat mengikuti
aktivitas. penatalaksanaan proses
instruksi/terjadinya
komplikasi dapat dicegah . sakit melalui diet, obat-
NOC:Setelah dilakukan
tindakan keperawatan obatan, latihan dan
selama 1x24 jam maka istirahat
masalah kurang
pengetahuan teratasi dengan Bantu dalam
criteria hasil : merencanakan jadwal
Mengetahui tentang
aktivitas terintegrasi yang
bagaimana terjadi
realistis, istirahat,
rematik
manajemen stres
Tekankan pentingnya
melanjutkan manajemen
farmakologis
Rekomendasikan
penggunaan aspirin.
1.Pengkajian
3.Perencanaan
Perencanaan adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat
untuk dilaksanakan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan
yang diidentifikasi.
Intervensi yang dilakukan sesuai dengan diagnosa keperawatan pada
Ny. M. S yaitu :
1. Diagnosa 1.
Mandiri
1. Kaji keluhan nyeri, lokasi, intensitas (skala 1-10). Catat faktor-faktor yang
memperberat sakit
2. Ajarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di
kursi. Tingkatkan istirahat
3. Anjurkan pasien untuk sering merubah posisi dan hindari gerakan yang
menyentak
4. Anjurkan pasien mandi air hangat pada waktu bangun dan mengompres sendi
yang sakit beberapa kali sehari
5. Anjurkan massage yang lembut
6. Anjurkan mengkonsumsi obat tradisional
Kolaborasi
Pada tahap ini implementasi tidak ada masalah yang terlalu menonjol, adapun
upaya yang dilakukan untuk masalah yang ditemukan adalah :
a.Diagnosa I
1.mengKaji keluhan nyeri, lokasi, intensitas (skala 1-10). Catat faktor-faktor yang
memperberat sakit
1. mengAjarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk
di kursi. Tingkatkan istirahat
2. mengaAnjurkan pasien untuk sering merubah posisi dan hindari gerakan yang
menyentak
3. mengAnjurkan pasien mandi air hangat pada waktu bangun dan mengompres
sendi yang sakit beberapa kali sehari
4. mengAnjurkan massage yang lembut
5. mengAnjurkan mengkonsumsi obat tradisional
b. Diagnosa II
Setelah penulis menerapkan Asuhan Keperawatan Keluarga pada keluarga binaan Ny.
M. S dengan Rheumatoid arthritis diwilayah kerja Puskesmas laguboti desa Sintong marnipi
Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir. Penulis membuat kesimpulan dan saran
sebagai berikut :
A. Kesimpulan
Reumatoid arthritis adalah penyakit inflamasi sistemik kronik yang dikarakteristikkan
oleh kerusakan dan poliferasi membrane synovial yang menyebabkan kerusakan pada tulang,
sendi, ankilosis, dan deformitas.
Dalam melaksanakan praktek belajar lapangan di Sintong marnipi, maka penulis
menyimpulkan bahwa keluarga belum sepenuhnya memenuhi syarat kesehatan yang baik.
Dilihat dari perhatian pasien, pasien cukup antusias dalam mengikuti acara penyuluhan yang
diberi oleh penulis oleh karena itu komplikasi dapat dicegah sesegera mungkin dirawat.
B. Saran
Setelah membuat kesimpulan mengenai Asuhan Keperawatan kepada Ny. M. S
diwilayah desa Sintong marnipi Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samos ir penulis
menyarankan kepada keluarga yaitu :
1. Ny. M. S yang sakit hendaknya segera mendapat tindakan medis dari bidan
desa ataupun dari puskesmas
2. Ny. M. S hendaknya memperhatikan pola makan, hindari makanan
pantangan, dan istirahat yang cukup.
3. Puskesmas hendaknya meningkatkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat,
agar masyarakat mampu mengenal kesehatan yang dihadapinya.