Anda di halaman 1dari 65

Disusun Oleh:

1. Nur Fadhilahturrokhmah 131711133020


2. Santi Oktavia 131711133021
3. Indah Noer Aini 131711133058
4. Iga Rahma Azhari 131711133113
5. Nurhikmah Inge Dwi Lestari 131711133117
6. Nia Ramadhani 131711133154
7. Salsabilla Raisya Nugrahanti 131711133155

PORTOFOLIO
KOMUNITAS II
Kelompok 4
A3

TM 1-7
Proses Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas (pengkajian-analisa data- TM 1
diagnosis) 12/08/2019

PROSES ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS


(PENGKAJIAN, ANALISIS DATA, DIAGNOSIS)

A. Pengkajian
Pengkajian adalah merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan
sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan
yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga, atau kelompok yang menyangkut
permasalahan pada fisiologis, psikologis, sosial, ekonomi, maupun spiritual dapat
ditentukan. Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pengkajian adalah Windshield
Survey.
Komponen Windshield Survey:
ELEMEN DESKRIPSI
Perumahan dan  Bangunan
lingkungan (daerah) Mayoritas bangunan adalah bangunan permanen terbuat dari tembok
(156 orang).

 Arsitektur
Hampir sama antara satu rumah dengan yang lain. Lantai yang terbuat
dari tegel 169 rumah, yang terbuat dari semen 46 rumah dan yang
terbuat dari tanah 9 orang. Rata-rata di setiap rumah terdapat jendela
dengan pencahayaan yang baik yaitu 167 rumah.

 Keunikan lingkungan
Banyak tanah kosong di sekitar rumah yang dimanfaatkan untuk
membuang sampah terutama halaman belakang rumah.

Lingkungan terbuka  Luas


Luas wilayah RW III  100 Ha dengan kepadatan rata-rata 9-10 rumah
/ 100 m.

 Kualitas
Lahan terbuka digunakan untuk membuang hasil pembakaran sampah
dan sampah basah.
Batas  Batas wilayah
Barat : Kelurahan Sumur Welut, Timur : RW II, Utara : Perumahan
Pondok Manggala, Selatan : RW IV
Tingkat sosial  Tingkat Sosial ekonomi
ekonomi Tingkat sosial ekonomi masyarakat RW III sebagian besar tingkat
menengah dengan mata pekerjaan sebagai pegawai swasta (pegawai
pabrik, kuli bangunan, tukang batu).
Proses Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas (pengkajian-analisa data- TM 1
diagnosis) 12/08/2019

Kebiasaan  Dewasa-tua
Pada pagi dan sore hari sebagian warga bekerja. Dan pada malam hari
warga mempunyai kegiatan rutin mengadakan pengajian di rumah
secara bergilir (tiap minggu atau tiap bulan sekali). Pada 1 bulan 2 kali
sekali ibu-ibu rumah tangga mengadakan arisan (tergantung masing-
masing RT). Dan setiap bulan sekali diadakan arisan RW dan PKK.

 Anak-anak
Pada pagi mayoritas pergi ke sekolah, siang hari bermain dengan teman
sebaya dan sore hari mayoritas mengikuti kegiatan keagamaan dengan
mengaji di TPA dan bermain sepak bola
Transportasi  Transportasi menggunakan kendaraan pribadi (motor, sepeda, mobil)
selain itu juga menggunakan mobil angkutan umum, ataupun jalan
kaki.
 Situasi jalan beraspal, paving dan sepanjang waktu keadaan jalan
ramai.
Fasilitas umum  Kesehatan
Terdapat dokter praktik umum dan Puskesmas Pembantu..

 Sekolah
Di wilayah Kelurahan Balas Klumprik khususnya RW III tidak terdapat
bangunan sekolah

 Agama
Masjid : 1

 Ekonomi
Banyak terdapat home industry, antara lain daur ulang sampah (kardus),
krupuk, konveksi (tempat HP) dan isi ulang air.

 Pelayanan umum
Tidak ada tempat pelayanan umum, seperti kantor Pos, Bank, dan lain-
lain di wilayah RW III

Pusat belanja  Terdapat banyak toko yang menjual kebutuhan sehari – hari.

Suku bangsa  Mayoritas penduduk dari suku Jawa.


Agama  Mayoritas beragama Islam
Kesehatan dan  Penyakit terbanyak yang terjadi di masyarakat selama 6 bulan terakhir
morbiditas adalah batuk pilek yaitu 67 KK Sedangkan pada usila 7 penyakit yang
terbanyak adalah rheumatik yaitu 12 orang, hipertensi 6 orang, katarak
5 orang, Diabetes Mellitus 4 orang, penyakit jantung 1 orang dan TBC
1 orang.
Sarana Penunjang  Rata-rata warga mempunyai televisi dan radio, sebagian kecil
mempunyai telepon.
Proses Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas (pengkajian-analisa data- TM 1
diagnosis) 12/08/2019

 Media cetak yang dibaca oleh sebagian besar masyarakat adalah Jawa
Pos dan Surya.
 Sudah ada sumber air bersih yaitu PDAM, tetapi air tersebut tidak
digunakan sepenuhnya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari karena
masih ada sumber air bersih lainnya yaitu air sumur.
 Sumber penerangan menggunakan PLN.

B. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data dan menghubungkan
data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga dapat diketahui kesenjangan
atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

 Jenis Data
1. Data Subyektif
Yaitu data yang diperoleh dari keluhan atau masalah yang dirasakan oleh
individu, keluarga, kelompok, dan komunitas yang diungkapkan secara langsung
melalui lisan
2. Data Obyektif
Yaitu data yang diperoleh melalui suatu pemeriksaan, pengamatan dan
pengukuran
 Sumber Data
1. Data Primer
Data yang dikumpulkan oleh pengkaji dalam hal ini mahasiswa atau perawat
kesehatan masyarakat dari individu, keluarga, kelompok dan komunitas
berdasarkan hasil pemeriksaan atau pengkajian.
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari sumber lain yang dapat dipercaya, misalnya:
kelurahan, Puskesmas, atau Medical Record.

3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosa
keperawatan akan memberikan gambaran tentang masalah dan status kesehatan
masyarakat yang nyata (aktual), resiko / resiko tinggi, dan potensial.
Proses Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas (pengkajian-analisa data- TM 1
diagnosis) 12/08/2019

 Aktual
Dimana karakteristiknya adalah adanya data mayor (utama) sehingga
masalah cukup valid untuk diangkat.
 Resiko dan Resiko tinggi
Dimana karakteristiknya adalah adanya factor-faktor dikomunitas yang
beresiko.
 Potensial
Menggambarkan keadaan sehat dikomunitas. Diagnosa ini perlu diangkat
dengan tujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan kondisi komunitas yang
sudah sehat tersebut dengan kegiatan promotif dan preventif.
Proses Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas (Intervensi-Implementasi- TM 2
Evaluasi-Dokumentasi) 19/08/2019

_MATERI_

PROSES PERAWATAN CHN (Komunitas sebagai Pendekatan Mitra)

Keperawatan Komunitas Perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat


dengan dukungan peran serta masyarakat secara aktif, mengutamakan promotif, preventif
tanpa mengabaikan kuratif & rehabilitatif pada kliennya melalui proses keperawatan untuk
meningkatkan derajat kesehatan dan mandiri dalam upaya kesehatannya. (Depkes, 2006)

TUJUAN PROSES KEPERAWATAN KOMUNITAS

a) Masyarakat memahami konsep sehat-sakit.

b) Meningkatkan kemampuan masy utk melaksanakan upaya keperawatan dasar dalam


rangka mengatasi masalah kesehatan.

c) Terlayaninya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan asuhan


keperawatan.

d) Terlayaninya kelompok khusus yang memerlukan binaan dan askep dasar.

e) Terlayaninya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindak lanjut dan askep di


rumah.

PENGKAJIAN

Langkah penting pertama dalam proses perencanaan kesehatan:


1. Untuk mengidentifikasi status kesehatan suatu komunitas.
2. Untuk memberikan garis dasar untuk mengevaluasi intervensi yang direncanakan dan
potensial.
3. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memengaruhi status kesehatan (baik
positif maupun negatif).
4. Untuk mengidentifikasi sumber daya masyarakat.
5. Untuk mengidentifikasi populasi berisiko.

A. Sumber data
 Data Primer
Windshield Survey, Musyawarah Masyarakat Desa, wawancara dengan keynote, door
to door assessing (dengan format pengkajian).
Proses Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas (Intervensi-Implementasi- TM 2
Evaluasi-Dokumentasi) 19/08/2019

 Data Sekunder
Data statistik, data depkes yang telah diterbitkan, catatan dalam pertemuan, hasil
survey kesehatan, dan catatan kesehatan.

DIAGNOSIS
Masalah khusus atau risiko kesehatan di masyarakat (kelompok atau populasi tertentu
yang dipengaruhi oleh risiko masalah).
Example:
Resiko… (masalah) Di antara… (komunitas target).
Garis pertahanan komunitas sebagai respons terhadap pemicu stres:
1. Garis pertahanan normal.
Mewakili kesehatan masyarakat. mis: rendahnya insiden dan prevalensi penyakit,
rendahnya angka kematian bayi dan morbiditas, dll.
2. Garis pertahanan fleksibel (zona penyangga).
Mewakili tingkat kesehatan dinamis yang dihasilkan dari respons sementara terhadap
stresor. mis: bencana banjir (bank makanan local)
3. Garis perlawanan.
Mekanisme internal yang bertindak untuk mempertahankan diri dari penetrasi inti
komunitas oleh pemicu stres. mis: mencegah imunisasi polio

INTERVENSI PERENCANAAN

1. Menentukan prioritas
2. Menetapkan sasaran dan tujuan
 Tujuan Jangka Panjang  Masalah
 Tujuan Jangka Pendek  Etiologi

Implementasi

a) Pencegahan Utama.
Tujuan: memperkuat garis pertahanan
mis: imunisasi
b) Pencegahan Sekunder.
Proses Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas (Intervensi-Implementasi- TM 2
Evaluasi-Dokumentasi) 19/08/2019

Tujuan: mendukung garis pertahanan dan perlawanan untuk meminimalkan


tingkat reaksi terhadap stresor.
mis: SARARI, mamografi.
c) Pencegahan Tersier.
Tujuan: mencegah disekuilibrium tambahan dan meningkatkan keseimbangan.
mis: Sekolah-terapis kejut-siswa-api sekolah
3. Menetapkan strategi intervensi
 Merencanakan:
a. What to do
b. When to do it
c. Where will do it
d. How to do it (Metode dan media)
e. Who will do it and how much (PJ)
 Memperhatikan:
a. Program dan organisasi yang ada
b. Situasi
c. Sumber daya: Internal & Eksternal
d. Program yang lalu
 Memperhatikan:
a. Aktivitas untuk tiap tujuan yang telah ditetapkan
b. Tetapkan jawaban pertanyaan di atas
4. Rencana Evaluasi
Tindakan yang dilakukan utk mencapai objective
a. Rangkaian aktivitas.
b. Tujuan belajar.
c. Sumber daya/narasumber.
d. Identifikasi hambatan.
5. Waktu dan tempat
Proses Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas (Intervensi-Implementasi- TM 2
Evaluasi-Dokumentasi) 19/08/2019

IMPLEMENTASI
Strategi:
a. Kemitraan
b. Memberdayakan komunitas
c. Layanan lanjutan
d. Promosi kesehatan
e. Proses kelompok

IMPLEMENTASI
Strategi:
f. Kemitraan
g. Memberdayakan komunitas
h. Layanan lanjutan
i. Promosi kesehatan
j. Proses kelompok

EVALUASI
 Memiliki beberapa komponen yaitu :
a. Relevansi
b. Kemajuan
c. Cost Efisiensi
d. Cost Efektif
k. Impact

 Tingkat Evaluasi
1. Staff
a. Apakah objektif tercapai
b. Apakah instrumen berguna
c. Apakah strategi atau aktivitas berguna
2. Kader
a. Apakah mereka belajar melalui proyek
b. Masukan/pelajaran yang berguna
c. Di mana dapat dipakai
Proses Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas (Intervensi-Implementasi- TM 2
Evaluasi-Dokumentasi) 19/08/2019

3. Masyarakat
a. Untung apa, apa mereka belajar penyebab masalah
b. Apakah mereka berpartisipasi
c. Apakah mereka akan berpartisipasi in the future
Determinan Sosial Dalam Kesehatan Dan Implikasinya Pada Asuhan TM 3
Keperawatan Komunitas 26/08/2019

_TUGAS_

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Sosial Determinants of Health (SDOH)!


Sosial Determinants of Health adalah faktor-faktor penentu secara sosial di
dalam masyarakat yang mempengaruhi status kesehatan seorang individu, kelompok
hingga masyarakat. Pada prinsipnya determinan sosial adalah sejumlah variable yang
tergolong dalam faktor sosial seperti: budaya, politik, ekonomi, pendidikan, kondisi
geograsif, faktor biologi dan perilaku yang dapat mempengaruhi status kesehatan
seseorang.

2. Jelaskan bagaimana Sosial Determinants of Health (SDOH) dapat


mempengaruhi derajat kesehatan seseorang! Berikan contohnya!
Sosial Determinants of Health dapat mempengaruhi derajat atau status
kesehatan seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga dapat
menjadi tolak ukur status kesehatan masyarakat. Kesenjangan sosial dan ekonomi
dalam masyarakat sangatlah menentukan status kesehatan seseorang. Masyarakat
dengan status sosial ekonomi yang rendah, biasanya sangat rentan dan beresiko tinggi
terhadap suatu penyakit, serta memiliki harapan hidup yang tergolong rendah. Dapat
dikatakan bahwa ketimpangan sosial inilah yang akan mempengaruhi derajat
kesehatan seseorang. Tidak hanya status ekonomi sosialnya saja, tetapi ada juga
tingkat pendidikan dan budaya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin
tinggi pula pengetahuan mereka tentang kesehatan/bagaimana cara hidup sehat.
Determinan sosial kesehatan merupakan proses yang membentuk perilaku di
dalam masyarakat. Perilaku seseorang inilah yang akan menentukan bagaimana status
kesehatannya dirinya. Sehingga fokus pemberian intervensi keperawatan tidak hanya
diberikan pada orang yang bermasalah saja, tetapi juga pada semua individu,
masyarakat sekitar, petugas kesehatan dan pengambil kebijakan dengan pendekatan
edukasi, advokasi dan mediasi.
Salah satu contoh determinan sosial kesehatan yang ada di Indonesia adalah
pada kasus angka kematian bayi yang semakin meningkat. Faktor-faktor yang
mempengaruhi angkat kematian bayi adalah: ayah dan ibu tidak bekerja
(pengangguran, status ekonomi rendah), jarak kelahiran anak terlalu dekat
(disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah, dan ada juga faktor budaya), angka
Determinan Sosial Dalam Kesehatan Dan Implikasinya Pada Asuhan TM 3
Keperawatan Komunitas 26/08/2019

kematian bayi laki-laki lebih tinggi, kelahiran BBLR (pemenuhan nutrisi yang tidak
adekuat), ibu yang mempunyai riwayat komplikasi persalinan seperti ketuban pecah
dini, hipertensi, anemia dll dan yang terakhir, mereka yang tidak mendapat perawatan
postpartum (pasca persalinan).

3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan:


a. Sosial Selection
Status kesehatan seseorang mempengaruhi status ekonomi seseorang. Karena
individu yang sehat dapat melakukan pekerjaan secara optimal/maksimal sehingga
mampu mengubah atau meningkatkan status ekonominya. Sebaliknya jika seorang
individu mempunyai masalah kesehatan, maka ia tidak akan mampu melakukan
suatu pekerjaan atau aktivitas lainnya, sehingga ia tidak akan mampu
menghasilkan penghasilan/gaji untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya.
b. Social Cauzation
Kelompok sosial ekonomi/pendidikan yang rendah memiliki resiko lebih tinggi
medapatkan masalah kesehatan dan masalah sosial. Seseorang yang status
ekonominya rendah cenderung memiliki perilaku atau kebiasaan hidup tidak
sehat, tinggal di lingkungan yang cukup kumuh, dan tidak mendapatkan informasi
kesehatan yang maksimal. Hal tersebutlah yang menyebabkan seorang dengan
status ekonomi rendah cenderung memiliki resiko terkena masalah kesehatan yang
bermacam-macam.
c. Life Course Perspective
Kehidupan seseorang yang sekarang dipengaruhi oleh kehidupannya pada masa
lampau (sebelum kehidupan saat ini). Contohnya adalah kebiasaan-kebiasaan
hidup tidak sehat di masa lalunya akan mempengaruhi status kesehatannya saat
ini, yaitu kebiasaan merokok akan mengakibatkan permasalah kesehatan seperti
kanker paru-paru dll.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM 4
Komunitas (Kelompok Kesehatan Ibu dan Anak) 02/09/2019

_MATERI_
ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS
PADA KELOMPOK IBU

1. Konsep Keperawatan Kesehatan Komunitas


Keperawatan kesehatan komunitas disusun atas tiga komponen yaitu
keperawatan, kesehatan, dan komunitas dengan pengertian yang luas. Azrul Azwar
(2000) mendefinisikan keperawatan sebagai ilmu yang mempelajari penyimpangan
atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dapat mempengaruhi suatu
unit yang terdapat dalam sistem hayati tubuh manusia, baik secara individu, keluarga,
ataupun asyarakat dan ekosistem. Semantara kesehatan adalah ilmu yang mempelajari
masalah kesehatan manusia mulai dari tingkat individu sampai tingkat ekosistem serta
perbaikan fungsi setiap unit dalam sistem hayati tubuh manusia dari tingkat sub
sampai tingkat sistem tubuh, dan komunitas adalah sekelompok manusia yang
intensitas berhubungan dengan manusia yang lain lebih tinggi dan saling
ketergantunga untuk memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa yang menunjang
kehidupan sehari-hari.

2. Angka Kematian Ibu


Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat proses reproduktif per
100.000 kelahiran hidup. Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil
atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa
memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang
disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-
sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh, dll (Budi Utomo,1985). Secara garis besar
terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi tingginya AKI (Angka Kematian
Ibu), diantaranya sebagai berikut:
a. Terbatasnya pelayanan kesehatan ibu meliputi tenaga kesehatan, sarana dan
prasarana serta belum optimalnya keterlibatan swasta.
b. Kualitas tenaga kesehatan yang masih terbatas dalam pelaksanaan kegiatan:
antenatal care, pertolongan persalinan, penanganan komplikasi kebidanan
serta program Keluarga Berencana (pemakaian alat kontrasepsi).
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM 4
Komunitas (Kelompok Kesehatan Ibu dan Anak) 02/09/2019

c. Belum adanya sistem pelayanan kesehatan yang sesuai untuk daerah terpencil
yang dikarenakan: belum adanya regulasi untuk memberikan kewenanan untuk
tindakan medis khusus, terbatasnya tenaga kesehatan, terbatasnya sarana
(dana) untuk transportasi (kunjungan & rujukan).
d. Kurangnya dana operasional untuk pelayanan kesehatan ibu terutama di daerah
terpencil.
e. Belum optimalnya perencanaan terpadu lintas sektor & lintas program guna
percepatan penurunan angka kematian ibu.
f. Bias gender dalam keluarga dan masyarakat yang tidak memberikan perhatian
pada kesehatan ibu hamil dan bersalin menyebabkan 3 terlambat yaitu:
terlambat mengambil keputusan, terlambat mencapai tempat pelayanan
kesehatan dan terlambat mendapat pertolongan tindakan segera.
g. Kurangnya pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam mencari informasi
tentang kesehatan ibu, keterbatasan perempuan mengambil keputusan untuk
kepentingan kesehatan dirinya, dikarenakan pendidikan yang rendah, perilaku
diskriminatif di keluarga dan masyarakat.
h. Faktor sosial ekonomi, perempuan dipaksa menikah dini karena tekanan
ekonomi di keluarga, ketika hamil dan bersalin kemampuan keluarga
membayar biaya persalinan rendah, masih dipercayanya dukun dalam
menolong persalinan karena faktor biaya yang murah.
i. Kematian ibu akibat proses persalinan barangkali dianggap “normal” di
masyarakat padahal kondisi tersebut “kritis”dengan tingkat anomali kian
menumpuk dalam dimensi sangat kompleks.
j. Suami menganggap melahirkan sudah merupakan kewajiban dan
tanggungjawab seorang istri.

3. Peran Perawat dalam Kesehatan Komunitas Ibu


Hubungan ibu dan anak merupakan suatu hubungan yang erat. Ibu merupakan
orang tua dan tempat pertama dimana anak mendapatkan pengasuh dan pendidikan.
Apabila ibu memahami dan ingin melaksanakan tugas serta tanggung jawab dalam
mendidik dan mengajaga anak dengan baik, maka lahir generasi yang baik, generasi
yang unggul dan tumbuh menjadi seorang yang berbudi luhur, bertanggung jawab,
dan berbakti kepada orang tua. Ibu dan anak merupakan individu-individu yang
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM 4
Komunitas (Kelompok Kesehatan Ibu dan Anak) 02/09/2019

dijadikan satu kelompok karena memilihi persamaan karakter yang disebut dengan
agregat ibu. Permasalahan utama di Indonesia yang saat ini masih dihadapi berkaitan
dengan kesehatan ibu di Indonesia adalah masih tingginya angka kematian ibu yang
berhubungan dengan persalinan. Apabila ibu hamil mengalami suatu
permasalahan/komplikasi akan mempengaruhi kondisi bayi/anak pula.

Dengan hal ini, terdapat tiga pesan kunci oleh Departemen Kesehatan RI:

 Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terampil


 Setiap komplikasi kehamilan dan persalinan mendapat penanganan yang
adekuat
 Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan
kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan kompliksi yang adekuat.

Selain dukungan keluarga, peran perawat komunitas dalam komunitas ini


sangat penting, dapat melalui suatu edukasi, mediasi, advokasi kepada masyarakat
khususnya untuk pada kelompok ibu, dan untuk menurunkan AKI perlu dilakukan
deteksi dini faktor risiko dan potensi komplikasi obstetrik terutama komplikasi
kehamilan dan persalinan agar dapat dilakukan upaya pencegahan secara optimal.
Untuk itu perlu dilakukan peningkatkan kualitas pelayanan antenatal dan postnatal
diantaranya dengan meningkatkan kualitas tenaga kesehatan dengan pembekalan
keterampilan teknis dan nonteknis, dan melakukan serangkaian kegiatan keperawatan
(sebagai perawat) dengan menggunakan asuhan keperawatan melalui pengkajian,
penetapan diagnosa keperawatan, rencana keperawatan,implementasi dan evaluasi
keperawatan , yang mana kemadirian tersebut sepenuhnya tanggung jawab perawat
guna ikut meningkatkan status kesehatan ibu dan menurunkan angka kematian ibu.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM 4
Komunitas (Kelompok Kesehatan Ibu dan Anak) 02/09/2019

ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN


PADA KELOMPOK KHUSUS BAYI DAN ANAK

1. Keperawatan Komunitas pada Kelompok Khusus Bayi dan Anak


Anak merupakan kelompok risiko yaitu suatu kondisi yang dihubungkan dengan
peningkatan kemungkinan adanya kejadian penyakit. Hal ini tidak berarti bahwa jika
faktor risiko tersebut ada pasti akan menyeababkan penyakit, tetapi dapat berakibat
potensial terjadinya sakit atau kondisi yang membahayakan kesehatan secara optimal
dari populasi. Bayi dan anak merupakan populasi risiko Karena beberapa hal, yaitu:

 Anak banyak menghabiskan waktu di luar rumah


 Aktivitas fisik anak yang semakin hari semakin meningkat
 Usia kanak-kanak adalah usia dimana seseorang sedang dalam proses mencari jati
dirinya
 Masih membutuhkan peran orang tua untuk membantu memenuhi kebutuhan

2. Masalah Kesehatan pada Kelompok Bayi dan Anak di Indonesia


Bayi dan anak-anak adalah kelompok yang rentan terhadap berbagai penyakit
karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbangun sempurna. Pada usia ini, anak
rawan dengan berbagai gangguan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Berikut
masalah kesehatan pada kelompok bati dan anak di Indonesia:

a. Stunting
b. Gizi kurang dan Gizi buruk
c. Diare
d. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)
e. Campak
f. Varisella
g. Cacingan
h. Demam Berdarah Dengue (DBD)

3. Peran Perawat Komunitas pada Agregat Anak


Berdasrakan pernyataan dari American Nurses Association (2004) yang
mendefinisikan keperawatan kesehatan komunitas sebagai tindakan untuk
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM 4
Komunitas (Kelompok Kesehatan Ibu dan Anak) 02/09/2019

meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dari populasi dengan mengintegrasikan


keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan keperawatan dan kesehatan
masyarakat. Perawat kesehatan komunitas merupakan praktik promotif dan proteksi
kesehatan populasi menggunakan pengetahuan keperawatan, sosial dan ilmu kesehatan
masyarakat (American Public Health Association, 1996)
Fungsi keperawatan komunitas (Mubarak, 2006):

1. Memberikan pedoman danbimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi kesehatan


masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah klien melalui asuhan
keperawatan
2. Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal untuk masyarakat sesuai dengan
kebutuhannya
3. Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah,
komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran serta masyarakat
4. Sebagai mediator masyarakat untuk mengungkapkan pendapatnya tentang
permasalahan atau kebutuhannya.

Dalam menjalankan fungsinya, perawat komunitas dapat bertindak sebagai


(Widyanto, 2014):

a. Pemberi Asuhan Keperawatan (Care provider)


b. Peran Sebagai Pendidik (Educator)
c. Peran sebagai konselor (Counselor)
d. Peran sebagai panutan (Role Mode)
e. Peran sebagai pembela (Advocate)
f. Peran sebagai manajer kasus (Case Manager)
g. Peran sebagai kolaborator
h. Peran sebagai penemu kasus (Case Finder)
i. Perawat kesehatan masyarakat sekolah
j. Perawatan kesehatan di rumah.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

_MATERI_
ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS

PADA KELOMPOK USIA SEKOLAH

Anak usia sekolah adalah anak-anak yang dianggap sudah mulai mampu
bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan orangtua
mereka, teman sebaya dan orang lain. Usia sekolah merupakan masa anak
memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri pada
kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan tertentu (Wong, et al., 2009).
Periode anak usia sekolah di negara-negara industri dimulai saat anak mulai
masuk sekolah dasar sekitar usia 6 tahun sampai pubertas yaitu usia 12 tahun yang
merupakan tanda akhir masa kanak-kanak menengah (Potter & Perry, 2005).

Perkembangan Anak Usia Sekolah Perkembangan anak usia sekolah


dibagi menjadi perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial (Potter & Perry,
2009). Kecepatan pertumbuhan pada usia sekolah awal bersifat perlahan dan
konsisten sebelum terjadinya lonjakan pertumbuhan pada usia remaja,
perkembangan kognitif memberikan kemampuan untuk berpikir secara logis
tentang waktu dan lokasi dan untuk memahami hubungan antara benda dan
pikiran, sedangkan perkembangan psikososial meliputi (1) hubungan dengan
orang tua, saudara kandung, dan kelompok, (2) ketakutan, (3) pola koping, (4)
moral, dan (5) konsep diri.

Ada beberapa bentuk perilaku penyimpangan pada anak, diantaranya


penimpangan primer, sekunder, individu, kelompok, situasional, dan sistematik.
Penyimpangan primer merupakan penyimpangan yang bersifat temporer atau
sementara,sedangkan penyimpangan sekunder merupakan penyimpangan yang
dilakukan oleh seorang anak secara khas. Penyimpangan jenis ini disebabkan oleh
pengaruh bermacam-macam situasi yang sedang terjadi

Secara epidemiologis penyebaran penyakit berbasis lingkungan di


kalangan anak sekolah di Indonesia masih tinggi. Kasus infeksi seperti diare,
ISPA, masalah gigi dan mulut, DBD, cacingan. Penyebab masalah kesehatan ini
adalha faktor ekonomi dari orang tua, faktor pendidikan, dan faktor lingkungan.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

Kesehatan anak pada usia sekolah dapat dilakukan dengan meningkatkan


kondisi kesehatan di lingkungan sekolah, hal ini berhubungan dengan hampir
seluruh waktu yang dihabiskan oleh anak usia sekolah dihabiskan di lingkungan
sekolah. Untuk meningkatkan kondisi kesehatan anak usia sekolah di lingkungan
sekolah dapat dilakukan dengan berbagai program seperti melakukan aktivitas
fisik ( peregangan di sekolah), sarapan dengan menu sehat, menerapkan cuci
tangan dengan sabun di lingkungan rumah dan sekolah.

Salah satu wadah untuk mengembangkan promosi PHBS anak usia


sekolah adalah layanan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Menurut Effendy
(2008), peranan perawat dalam Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) antara lain yaitu:
a) Sebagai pelaksana asuhan keperawatan di sekolah
b) Mengkaji masalah kesehatan dan keperawatan peserta didik dengan
melakukan pengumpulan data, analisa data, dan perumusan
masalah dan prioritas masalah
c) Menyusun perencanaan kegiatan UKS bersama TPUKS
d) Melaksanakan kegiatan UKS sesuai dengan rencana kegiatan yang
disusun
e) Penilaian dan pemantauan hasil kegiatan UKS
f) Pencacatan dan pelaporan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan

Masalah kesehatan pada anak yang paling banyak adalah karies gigi
karena kebiasaan anak yang suka makan atau jajan sembarangan merupakan salah
satu faktor pencetusnya, oleh karena itu penyebab masalah kesehatan yang ada
pada anak usia sekolah harus dipantau oleh tenaga kesehatan, terutama orang tua.
Orang tua harus mempunyai self awareness terhadap kesehatan anaknya, sehingga
dapat meningkatkan kesehatan pada anak.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

TUGAS MATA KULIAH KEPERAWTAN KOMUNITAS 2

“Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di


Komunitas: Kelompok Usia Remaja”

Dosen Pengampu:

Eka Mishbahatul Mar’ah Has, S. Kep., Ns., M. Kep.

Disusun oleh:

Kelompok 4 (A3)

1. Nur Fadhilahturrokhmah (131711133020)


2. Santi Oktavia (131711133021)
3. Indah Noer Aini (131711133058)
4. Iga Rahma Azhari (131711133113)
5. Nurhikmah Inge Dwi Lestari (131711133117)
6. Nia Ramadhani (131711133154)
7. Salsabilla Raisya Nugrahanti (131711133155)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, penulis mengucapkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Kesehatan
Komunitas Pada Kelompok Khusus di Komunitas: Kelompok Usia Remaja”

Dalam penyusunan makalah ini penulis melibatkan bantuan dari berbagai


pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Untuk itu penulis
menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini. Tanpa bantuan semua pihak mungkin penulis akan sulit
dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, penulis meminta maaf apabila dalam menyusun
makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu dengan hati terbuka penulis menerima segala saran
dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah ini.

Penulis berharap semoga makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan


Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di Komunitas: Kelompok
Usia Remaja” dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi pembaca
maupun penulis.

Surabaya, 09 September 2019

Penulis
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang .............................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3
1.3. Tujuan ........................................................................................................... 3
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1. Definisi Remaja ............................................................................................ 4
2.2. Pertumbuhan Pada Remaja ........................................................................... 4
2.3. Perkembangan Pada Remaja ....................................................................... 5
2.4. Masalah yang Lazim Terjadi Pada Remaja .................................................. 7
2.5. Penyebab Masalah Kesehatan Pada Remaja ................................................ 8
2.6. Konsep Remaja Sehat ................................................................................... 9
2.7. Program Pemerintah untuk Remaja ............................................................ 10
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN
3.1. Kasus .......................................................................................................... 13
3.2. Asuhan Keperawatan .................................................................................. 13
BAB 4 PENUTUP

4.1.
Kesimpulan.............................................................................................................3
6

4.2.
Saran.......................................................................................................................36

DAFTAR PUSTAKA
..................................................................................................... 37
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Remaja merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yang
memiliki karakteristik yang berbeda bila dibandingkan dengan tahap
perkembangan lainnya, karena pada tahap ini seseorang mengalami peralihan
dari masa anak-anak ke dewasa. Masa remaja adalah masa dimana terjadinya
krisis identitas atau pencarian identitas diri. Karakteristik psikososial remaja
yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini sering menimbulkan
masalah pada diri remaja. Transisi dari masa anak-anak dimana selain
meningkatnya kesadaran diri (selfconsciousness) terjadi juga perubahan secara
fisik, kognitif, sosial, maupun emosional pada remaja sehingga remaja
cenderung mengalami perubahan emosi ke arah yang negatif menjadi mudah
marah, tersinggung bahkan agresif. Perubahan-perubahan karakteristik pada
masa remaja tersebut, ditambah dengan faktor-faktor eksternal seperti
kemiskinan, pola asuh yang tidak efektif dan gangguan mental pada orang tua
diprediksi sebagai penyebab timbulnya masalah-masalah remaja (Pianta, 2005
dalam Santrock, 2007).
Permasalahan yang dialami oleh remaja umumnya dikarenakan
adanya krisis identitas tanpa adanya faktor pendukung dan sumber informasi
yang jelas dalam memberikan ketersediaan layanan pada kelompok remaja
(BKKBN, 2009). Permasalahan kesehatan yang berisiko mengancam
kesejahteraan remaja antara lain merokok, konsumsi alkohol, konsumsi obat,
depresi atau risiko bunuh diri, emosi, masalah fisik, problem sekolah dan
perilaku seksual (Stanhope & Lancaster, 2004).
Menurut survei kesehatan reproduksi remaja Indonesia (SKRRI) tahun
2007, persentase perempuan dan lelaki yang tidak menikah, berusia 15-19
tahun merupakan : Perokok aktif hingga saat ini: Perempuan: 0,7%;
sedangkan lelaki: 47,0%. Mantan peminum alkohol: Perempuan: 1,7%; dan
lelaki: 15,6%. Peminum alkohol aktif: perempuan: 3,7%; lelaki: 15,5 %.
Lelaki pengguna obat dengan cara dihisap: 2,3%; dihirup: 0,3 %; ditelan 1
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

,3%. Perempuan pertama kali pacaran pada usia <12 tahun: 5,5%; pada usia
12-14 tahun: 22,6%; usia 15-17 tahun: 39,5%; usia 18-19 tahun: 3,2%.
Melakukan petting pada saat pacaran: 6,5%. Lelaki pertama kali pacaran pada
usia <12 tahun: 5,0%; usia 12-14 ytahun: 18,6%; usia 15-17 tahun: 36,9%;
usia 18-19 tahun: 3,2%. Melakukan petting saat pacaran: 19,2%. Pengalaman
seksual pada perempuan: 1,3%; lelaki: 3,7%. Lelaki yang memiliki
pengalaman seks untuk pertama kali pada usia: <15 tahun: 1,0%; usia 16
tahun : 0,8%; usia 17 tahun: 1,2%; usia 18 tahun: 0,5%; usia 19 tahun: 0,1% (
IDAI, 2013).
Tingginya perilaku berisiko pada remaja yang ditunjukkan oleh data
di atas merupakan hasil akhir dari sifat khas remaja, pengetahuan remaja
tentang kesehatan, nilai moral yang dianut, serta ada tidaknya kondisi
lingkungan yang turut memengaruhi. Sebagai contoh bagaimana hamil diusia
terlalu muda akan menyebabkan kehamilan dan persalinan dengan komplikasi,
bayi yang dilahirkan dengan komplikasi, atau mengakibatkan KTD yang dapat
menimbulkan kejadian aborsi yang menyebabkan kematian. Demikian halnya
dengan penyalahgunaan napza yang dapat mengakibatkan terjadinya infeksi
HIV yang selanjutnya menjadi AIDS dan akhirnya mengakibatkan kematian.
Secara tidak langsung masalah kesehatan remaja tersebut turut menghambat
laju pembangunan manusia (human development) di Indonesia, dan
pencapaian pembangunan (IDAI, 2013).
Penanganan masalah remaja dilakukan melalui kerjasama multi-
sektoral dan multidimensional, dengan intervensi pada aspek preventif,
promotif, kuratif dan rehabilitatif yang komprehensif. Program kesehatan
remaja sudah mulai diperkenalkan di puskesmas sejak satu dekade yang lalu.
Selama lebih dari 10 tahun, program ini lebih banyak bergerak dalam
pemberian informasi, berupa penyuluhan dan diskusi dengan remaja tentang
masalah kesehatan melalui wadah usaha kesehatan sekolah (UKS), karang
taruna, atau organisasi pemuda, dan kader remaja lainnya yang dibentuk oleh
puskesmas (IDAI, 2013).
Beberapa tahun terakhir mulai dilaksanakan beberapa model
pelayanan kesehatan remaja yang memenuhi kebutuhan dan hak remaja di
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

beberapa propinsi, dan diperkenalkan dengan sebutan Pelayanan Kesehatan


Peduli Remaja atau disingkat PKPR. Sebutan ini merupakan terjemahan dari
istilah Adolescent Friendly Health Services (AFHS), yang sebelumnya dikenal
dengan Youth Friendly Health Services (YFHS). Pelayanan kesehatan remaja
sesuai permasalahannya, lebih intensif kepada aspek promotif dan preventif
dengan cara peduli remaja. Memberi layanan pada remaja dengan model
PKPR ini merupakan salah satu strategi yang penting dalam mengupayakan
kesehatan yang optimal bagi remaja kita. Pelayanan kesehatan peduli remaja
diselenggarakan di puskesmas, rumah sakit, dan tempattempat umum lainnya
di mana remaja berkumpul (IDAI, 2013).

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, rumusan masalah yang terbentuk adalah :
1. Bagaimana konsep kesehatan remaja?
2. Bagaimana asuhan kesehatan komunitas pada kelompok remaja?
3. Bagaimana proses asuhan kesehatan komunitas pada kelompok remaja?

1.3 Tujuan

Dari rumusan masalah diatas, tujuan penulisan makalah ini adalah:

1. Menjelaskan konsep kesehatan remaja.


2. Menjelaskan asuhan kesehatan komunitas pada kelompok remaja.
3. Menyusun asuhan kesehatan komunitas pada kelompok remaja.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Remaja


Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia,
menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa (Santrock, 2003).
Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa
Latin adolescare yang berarti “tubu ata tumbuh untuk mencapai
kematangan”. Bangsa priitif dan orang-orang purbakala memandang masa
puber dan masa remaja tak berbeda dengan periode lain dalam rentang
kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan
reproduksi (Ali & Astori, 2006).
Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya
perubahan fisik, emosi, dan psikis. Masa remaja, yakni usia 10-19 tahun,
adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan
peralihan sering disebut masa pubertas (Widyastuti, Rahmawati,
Purnamaningrum; 2009).

2.2 Pertumbuhan Pada Remaja


Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada
materiil sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan
kuantitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada
menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari
sempit menjadi luas, dan sebagainya. Ini tidak berarti, bahwa pertumbuhan itu
hanya berlaku pada hal-hal yang bersifat kuantitatif, karena tidak selamanya
materiil itu kuantitaif.
Remaja mengalami pertumbuhan dramatis fisik dan pengembangan
selama masa pubertas, dan pada masa tersebut remaja membutuhkan asupan
gizi yang banyak seperti meningkatnya kebutuhan akan energi, protein,
vitamin dan mineral. Pada masa pubertas remaja akan mengalami perubahan
yang signifikan pada fisiknya, yang ditandai dengan bertransformasinya fisik
pada anak menjadi dewasa. Pada masa pubertas terjadi banyak perubahan
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

pada pematangan seksual, peningkatan tinggi dan berat badan dan perubahan
komposisi tubuh. Pertumbuhan fisik remaja antara pria dan wanita sangatlah
berbeda perbedaan ini bisa karena faktor usia maupun faktor asupan gizi dari
setiap anak. Pertumbuhan pada masing-masing individu dalam segi proses
terdapat hal umum yang sama, tetapi dalam dalam hal khusus belum tentu
sama.
Dalam pertumbuhan meliputi pertumbuhan kelenjar, pertumbuhan
badan pada umumnya, pertumbuhan sistem saraf, dan pertumbuhan seksual.
Pertumbuhan terjadi secara pesat sejak lahir sampai umur 10 tahun, dan pada
umur 12 tahun kecepatannya menurun sampaiumur 20 tahun. Pertumbuhan
badan terjadi secara pesat pada tahun pertama, kemudian pada tahun kedua
tumbuh konstan hingga umur 20 tahun. Pertumbuhan sistem saraf
kecepatannya tetap. Pertumbuhan seksual terjadi secara mencolok mulai pada
masa pubertas. Pada anak laki-laki, pubertas umumnya dimulai pada umur 12
atau 13 tahun, sedangkan pada anak perempuan lebih awal yaitu sejak
menstruasi yang pertama pada sekitar umur 10 sampai 16 tahun, hingga rata-
rata menjelang umur 12 tahun. Pada masa pubertas ini mulailah tumbuh
rambut-rambut khusus pada tubuh, baik laki-laki maupun perempuan. Pada
laki-laki mulai terjadi perubahan suara yang menjadi lebih besar, badan
semakin tegap, sedangkan pada perempuan mulai mengalami menstruasi,
payudara dan kelenjar susu mulai berkembang. Pertumbuhan seksual yang
secara pesat dimulai dari masa pubertas berlangsung terus secara pesat hingga
umur 20 tahun. Mengenai pertumbuhan yang berhubungan dengan tinggi dan
berat badan, hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan internal
(misalnya makanan, gizi, perangai, dan lain-lain), kondisi lingkungan
eksternal (misalnya suhu udara, aktivitas sosial, dan lain-lain).

2.3 Perkembangan Pada Remaja


Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak
bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan
pada segi materi, melainkan pada segi fungsional. Perkembangan dapat
diartikan sebagai perubahan kualitatif dari fungsi-fungsi. Perubahan suatu
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

fungsi adalah disebabkan oleh adanya proses pertumbuhan materi yang


memungkinkan adanya fungsi itu, dan disamping itu disebabkan oleh
perubahan tingkah laku hasil belajar. Perkembangan fisik pada masa remaja
diawali dengan masa pubertas, adalh masa kematangan fisik yang sangat
cepat, yang meliputi aspek hormonal dan perubahan fisik. Perubahan fisik
pada remaja pria meliputi:
 Membesarnya ukuran penis dan testis
 Tumbuhnya rambut disekitar kemaluan, ketiak, dan wajah
 Perubahan suara menjadi membesar
 Terjadinya ejakulasi pertama, biasanya melalui manstrubasi/onani atau
“wet dream” (mimpi basah).
Sementara perubahan fisik pada remaja wanita ditandai dengan,
 Menstruasi
 Mulai terlihat adanya pembesarnya pada payudara
 Tumbuhnya rambut kemaluan disekitar ketiak, dan kelamin
 Membesar atau melebarnya ukuran pinggul.
Aspek hormonal yang mempengaruhi perkembangan fisik remaja
adalah kelenjar endoktrin (endoctrine glands), yang melibatkan interaksi
antara kelenjar hypothalamus ( sebuah srtuktur dalam porsi otak yang paling
tinggi yang memonitor makan, minum, seks), kelenjar pituitary (kelenjar
endoktrin yang penting untuk mengontrol pertumbuhan dan regulasi kelenjar
lainnya), dan gonads (kelenjar seks yaitu testus pada pria dan ovaries pada
wanita).
Menurut Zigler dan Sevenson (dalam Desmita, 2008) secara garis
besar perubahan fisik pada masa remaja dapat dikelompokkan dalam dua
kategori yaitu perubahanperubahan yang berhubungan dengan pertumbuhan
fisik dan perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan
karakteristik seksual. Beberapa dimensi perkembangan fisik pada masa
remaja akan diuraikan dalam ulasan berikut:
1. Perubahan tinggi dan berat badan
Tinggi rata-rata anak laki-laki dan perempuan pada usia 12 tahun
adalah sekitar 59 atau 60 inci (± 150cm). Pada usia 18 tahun, tinggi
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

rata-rata remaja laki-laki adalah 69 inci, secangkan tinggi rata-rata


remaja perempuan hanya 64 inci. Untuk anak perempuan tingkat
pertumbuhan tertinggi terjadi pada usia sekitar 11 atau 12 tahun dan 13
dan 14 tahun untuk anak laki-laki.
2. Perubahan proporsi tubuh
Pertambahan tinggi dan berat badan berhubungan juga dengan
proporsi tubuh. Misalnya bagian-bagian tubuh tertentu yang dulunya
kecil saat masa anak-anak, pada masa remaja berubah menjadi besar.
Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada pertumbuhan tangan dan kaki,
yang kadang tidak proporsional.
3. Kematangan seksual
Kematangan seksual terjadi dengan pesat pada awal masa remaja.
Periode ini disebut masa pubertas. Kematangan seksual sebagai suatu
rangkaian perubahan fisik pada masa remaja ditandai dengan
perubahan ciri-ciri seks primer (primary sex characteristics) dan ciri-
ciri seks sekunder (secondary sex characteristics).

2.4 Masalah Kesehatan yang Lazim Terjadi Pada Remaja


Berikut ini beberapa masalah kesehatan yang lazim terjadi pada
remaja (Chaitani, 2015):
1. Gangguan gizi: Kelebihan atau kekurangan nutrisi menjadi masalah
penting bagi pertumbuhan remaja, dan prevalensi anemia remaja putri usia
10-14 tahun sebesar 57,1%.
2. Peningkatan penyalahgunaan Napza: dimulai dengan kebiaasaan merokok
pada usia dini yaitu usia 10-14 tahun, dan diperkirakan yang menjadi
perokok terbesar adalah pada usia 15-19 tahun sebesar 59,1%.
3. Peningkatan IMS dan HIV/AIDS: proporsi infeksi HIV (1996-2001)
terbanyak diderita pada kelompok usia 20-29 tahun sebesar 29.8%.
4. Kehamilan remaja, Kehamilan Tidak Diinginkan, dan Abortus: survey
pada tahun 2002 di Jakarta menyatakan siswa SMA 8,9% dan siswi SMA
5,3% pernah melakukan hubungan seks.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

5. Kecelakaan: penyebab kematian utama usia 10-24 tahun adalah


kecelakaan.
6. Kenakalan remaja: tawuran, coret-coret dan kebut-kebutan.
7. Kekerasan pada perempuan seperti penjualan wanita dan kekerasan
domestic (rumah tangga).
8. Kesehatan mental: setiap tahun ada 100.000-200.000 remaja bunuh diri
(WHO, 1998).
9. Kriminalitas pada usia remaja: sebagai contohnya adalah kasus pencurian,
pemerkosaan, kejadian tawuran dan lain sebagainya (BPSI, 2010).

2.5 Penyebab Masalah Kesehatan Pada Remaja


Bisa dilihat dari masalah-masalah yang sering dialami oleh remaja
diatas, ternyata masih banyak masalah remaja yang perlu diatasi dengan segera,
agar tidak beresiko lanjut menjadi masalah yang lebih parah. Musbikin, 2013
menyebutkan berikut ini penyebab mengapa masalah tersebut dapat terjadi
yaitu:
1. Kurangnya pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku remaja
terhadap kesehatannya.
2. Kurangnya kepedulian orang tua, masyarakat, serta pemerintah dalam
mengatasi masalah remaja.
3. Belum optimalnya pelayanan kesehatan pada kelompok remaja.
4. Kurang maksimalnya pendidikan moral dan agama. Salah satu sebab
perilaku menyimpang pada remaja adalah kurang tertanamnya jiwa agama
dalam hari setiap orang dan aturan-aturan agama tidak dijalankan dengan
baik.
5. Dinamikan keluarga: dinamika keluarga yang tidak sehat dapat
mengakibatkan perilaku menyimpang pada seorang remaja. Misalnya
dinamika keluarga yang tidak sehat adalah penganiayaan pada anak.
6. Faktor lingkungan: lingkungan dan kehidupan sosial yang tidak
menguntungkan akan menjadi penyebab utama, misalnya seperti
kemiskinan dan pemenuhan nutrisi yang buruk.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

7. Budaya keluarga: perilaku orang tua yang tidak baik akan selamanya
dicontoh oleh anak dan remaja.
8. Imitasi: perilaku menyimpang (kenakalan) kadang timbul karena terlalu
sering membaca buku-buku bacaan, gambar-gambar, dan film-film yang
identik dengan pelanggaran norma.
9. Arus globalisasi: cepatnya arus globalisasi terutama pada kemajuan
teknologi dalam kehidupan masyarakat, mengakibatkan berbagai informasi
yang terjadi di berbagai belahan dunia akan cepat diketahui oleh anak-
anak dan remaja.
10. Peubahan-perubahan fisik dan psikis yang sangat cepat menimbulkan
kegelisahan internal, mislnya timbul rasa tertekan, dorongan untuk
mendapatkan kebebasan, goncangan emosional, rasa ingin tahu yang
besar, adanya fantasi yang berlebihan, ikatan kelompok ang kuat dan
adanya krisis identitas.

2.6 Konsep Remaja Sehat


Kesehatan pada usia remaja merupakan salah satu aspek penting
dalam siklus kehidupan individu. Pada masa ini merupakan masa dimana
individu mulai belajar dan mempunyai kemampuan fungsional dan kesehatan.
Secara kesehatan, masa ini merupakan periode penting untuk kesehatan
reproduksi dan pembentukan awal perilaku hidup sehat.
Sehat adalah keadaan sejahtera seutuhnya baik secara fisis, jiwa
maupun sosial, bukan hanya terbebas dari penyakit atau kecacatan. Remaja
merupakan kelompok masyarakat yang hampir selalu diasumsikan dalam
keadaan sehat. Padahal banyak remaja yang meninggal sebelum waktunya
akibat kecelakaan, percobaan bunuh diri, kekerasan, kehamilan yang
mengalami komplikasi dan penyakit lainnya yang sebenarnya bisa dicegah
atau diobati.
Berdasarkan dari data statistik jumlah remaja di Indonesia sangat
besar. Disamping itu, remaja juga mempunyai permasalahan yang kompleks
saat remaja sedang mengalami masa transisi. Masalah umum yang terjadi
pada remaja sebagian besar adalah bentuk perilaku ataupun kebiasaan yang
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

menyimpang baik secara kesehatan, moral maupun sosial. Bentuk perilaku-


perilaku penyimpangan dapat kita sebut sebagai kenakalan remaja. Perilaku-
perilaku yang menyimpang tersebut dapat berpengaruh serta berdampak
negatif terhadap kesehatan remaja.
Banyak juga penyakit serius akibat perilaku negatif yang dimulai
sejak masa remaja contohnya merokok, penyakit menular seksual,
penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
(NAPZA), Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency
Syndrome (HIV-AIDS), kurang gizi, dan kurang berolahraga. Hal ini akan
mencetuskan penyakit atau kematian usia muda pada remaja (IDAI, 2013).

2.7 Program Pemerintah Untuk Remaja


Beberapa tahun terakhir mulai dilaksanakan beberapa model
pelayanan kesehatan remaja yang memenuhi kebutuhan, hak dan selera
remaja di beberapa propinsi, dan diperkenalkan dengan sebutan Pelayanan
Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Sebutan ini merupakan terjemahan dari
istilah Adolescent Friendly Health Services (AFHS), yang sebelumnya
dikenal dengan Youth Friendly Health Services (YFHS).
Pelayanan kesehatan remaja sesuai permasalahannya, lebih intensif
kepada aspek promotif dan preventif dengan cara peduli remaja. Memberi
layanan pada remaja dengan model PKPR ini merupakan salah satu strategi
yang penting dalam mengupayakan kesehatan yang optimal bagi remaja.
Pelayanan kesehatan peduli remaja diselenggarakan di puskesmas, rumah
sakit, dan tempat-tempat umum lainnya di mana remaja berkumpul. Selain
memberikan layanan pencegahan (preventive), pengobatan (kuratif), promosi
dan rehabilitasi, jenis kegiatan yang dilakukan Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja (PKPR) antara lain:
1. Pemberian informasi dan edukasi
 Dilaksanakan di dalam gedung atau di luar gedung secara perorangan
atau kelompok
 Diberikan oleh guru, pendidik sebaya yang terlatih mengunakan
materi dari puskesmas
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

 Menggunakan metode ceramah tanya jawab, FGD (focus group


discussion), diskusi interaktif yang dilengkapi dengan alat bantu
media cetak atau elektronik.
 Menggunakan bahasa yang sesuai dengan sasaran.
2. Pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang dan rujukannya.
3. Konseling
Konseling adalah Suatu hubungan saling membantu antara dua
orang: konselor dan klien (dalam situasi saling tatap muka) memutuskan
bekerja sama dalam upaya membantu klien menolong dirinya sendiri
untuk menyelesaikan masalah-masalah tertentu dalam hidupnya, lebih
dapat mengerti dirinya, lebih dapat menyesuaikan dirinya. Konseling
adalah suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan seseorang kepada
orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan perasaan
yang terlibat didalamnya dengan didasari saling menghormati dan saling
menghargai. Ciri-ciri dari konseling itu sendiri adalah:
 Interaksi dinamis yang bersifat langsung dan timbal balik
 Menghargai kemampuan dan potensi yang ada pada klien
 Berorientasi pada pemecahan masalah, mendorong perubahan prilaku
dan pemenuhan kebutuhan klien
 Bersifat pribadi namun profesional
4. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)
PKHS merupakan kemampuan psikologis seseorang untuk
memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah dalam kehidupan sehari-hari
secara efektif. PKHS dapat diberikan secara berkelompok dimana saja
disekolah, puskesmas, rumah singgah, sanggar, dan lain-lain. Kompetensi
psikososial (PKHS) memiliki 10 aspek yaitu:
 Pengambilan keputusan
 Pemecahan masalah
 Berfikir kreatif dan kritis
 Komunikasi efektif
 Hubungan interpersonal
 Kesadaran diri
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

 Empati
 Mengendalikan emosi
 Mengatasi stress

5. Pelatihan pendidik sebaya dan konselor sebaya


Keuntungan melatih remaja menjadi kader kesehatan remaja
(pendidik sebaya) yaitu pendidik sebaya akan berperan sebagai agen
perubah sebayanya untuk berprilaku sehat, sebagai agen promotor
keberadaan PKPR, dan sebagai kelompok yang siap membantu dalam
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi PKPR. Pendidik sebaya dapat
diberikan pelatihan tambahan untuk memperdalam keterampilan
interpersonal relationship dan konseling sehingga dapat berperan sebagai
konselor remaja.
Secara umum, semua keluhan yang dapat ditangani oleh
Puskesmas di tingkat pelayanan dasar dapat dilayani di PKRP. Termasuk
di dalamnya adalah Layanan Kesehatan Reproduksi dan Seksual. Sebagai
contoh, beberapa layanan yang dilayani PKPR adalah:
 Pemeriksaan kehamilan bagi remaja
 Konseling semua masalah kesehatan reproduksi dan seksual
 Konsultasi mengenai masalah kejiwaan
 HIV&AIDS
 Infeksi Menular Seksual (IMS)
 Anemia.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

BAB 3
TINJAUAN KASUS
3.1 Kasus
Keadaan pada kelompok remaja cukup kondusif, dan kegiatan yang
dilaksanakan dalam sehari-hari pun berjalan seperti yang telah ditentukan.
Pada kelurahan Kerjan ini telah berdiri beberapa Remaja di RW 1 berjumlah
4 orang, di RW 2 berjumlah 31 orang, di RW 3 berjumlah 12 orang, di RW 4
berjumlah 41 orang, dan di RW 6 berjumlah 49 orang dikelurahan Kerjan.
Kelurahan Kerjan berada pada km 1,7 arah kota, dengan luas wilayah: 3,32
km2. Namun pada kalangan remaja di daerah kelurahan K terdapat kebiasaan
dalam mengkonsumsi atau menyalahgunakan dextro untuk mabuk (fly) dan
mereka menggakui tengah melakukan “nyimeng” selain itu remaja ini juga
mengkonsumsi alkohol dan merokok pada kehidupan sehari-hari. Tujuan
perawatan pada kelompok remaja adalah untuk meningkatkan kemampuan
memperbaiki gaya hidup dalam menaikkan status kesehatan. Selain itu
kelompok remaja akan mempercayai bahwa dengan mengontrol gaya hidup
akan menghasilkan halyang positif dan akan meningkatkan kualitas hidupnya.

3.2 Asuhan Keperawatan Komunitas


1. Pengkajian
Elemen Deskripsi
Sejarah Kelurahan Kerjan berdiri dan kemudian dibentuk RW 1,2,3,4 dan
6 sejak tahun 1960an. Pada kelurahan ini terdapat beberapa
remaja di RW 1 yang berjumlah 4 orang, di RW 2 berjumlah 31
INTI KOMUNITAS

orang, di RW 3 berjumlah 12 orang, di RW 4 berjumlah 41


orang, dan di RW 6 berjumlah 49 orang dikelurahan Kerjan.
Demografi  Lingkungan terbuka: dari masing-masing RW sebagian besar
memiliki satu lahan kosong yang biasanya digunakan untuk
tempat kumpul warga.
 Batas wiliyah:
Barat : Jalan Semolowaru Timur
Utara : Jalan Semolowaru Indah RW XI
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

Timur : Perum Puri Galaxy


Selatan : Jalan Semampir Selatan
Kelompok etnis Sebagian besar warga di RW 1,2,3,4, dan 6 adalah orang jawa
asli (92%) dan hanya sebagian kecil yang bersuku bangsa
Madura (8%).
Nilai dan Sebagian besar warga di RW 1,2,3,4, dan 6 adalah menganut
keyakinan
agama islam. Berdasarkan winshield survey dan data dari
monografi didapatkan ketersediaan mushola untuk tempat
beribadah di setiap RT tersebut. Sehingga semua kegiatan
keagamaan dilaksanakan di mushola-mushola RT.
Lingkungan Fisik  Letak wilayah: Kelurahan Kerjan berada pada km 1,7 arah
kota.
 Luas Wilayah : 3,32 km2
 Bangunan: bangunan di RW 1,2,3,4, dan 6 terbuat dari
tembok (permanen) dan sebagian besar status kepemilikan
adalah milik sendiri. Namun ada beberapa rumah yang masih
kos, sewa, dan kontrak dan tersebar disemua RT.
 Arsitektur: bentuk rumah di wilayah RW 1,2,3,4 dan 6 hampir
sama antara 1 rumah dengan yang lain. Semua rumah
lantainya terbuat dari keramik, terdapat jendela, dan
SUB SISTEM

penerangan disetiap rumah cukup. Sedangkan untuk jarak


rumah satu dengan yang lain berdekatan dan hanya beberapa
rumah yang dibatasi dengan lahan kosong.
 Halaman: seluruh rumah di RW 1,2,3,4, dan 6 memiliki
halaman yang tidak begitu luas, halaman tersebut digunakan
sebagai teras rumah dengan beberapa tanaman seperti pohon
dan bunga. Selain itu beberapa rumah menggunakan halaman
depan untuk parkir kendaraan pribadi seperti mobil dan
sepeda motor.
 Sumber air: sumber air bersih warga RW 1,2,3,4, dan 6
bersumber dari PAM dan untuk air minum serta memasak
warga menggunakan air isi ulang.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

 Pembuangan limbah cair atau sampah: saluran pembuangan


limbah cair di RW 1 melalui got sepanjang jalanan RW
dengan aliran lancar dan tidak pernah terjadi luapan air got.
Sedangkan untuk pembuangan sampah dikumpulkan di
tempat sampah yang ada didepan masing-masing rumah dan
akan diangkut oleh petugas setiap 2-3 hari sekali.
 Peliharaan: sebagian warga memiliki binatang peliharaan
berupa burung yang diplihara didalam sangkar burung.
Sangkar burung dikeluarkan setiap pagi dan dikeluarkan
kedalam rumah setiap harinya. Selain itu terdapat satu rumah
yang memiliki 30 kucing sebgai hewan peliharaan.
 Jamban: seluruh warga RW 1,2,3,4, dan 6 memiliki kamar
mandi dan jamban milik sendiri dengan kondisi yang bersih.
Sebagian menggunakan jamban jongkok dan ada beberapa
yang menggunakan jamban duduk.
 Fasilitas umum: Sekolah: terdapat 2 sekolah yang terdapat di
wilayah RW 1 yaitu SD Suka Makmur dan SMP Bina
Bangsa.
 Toko atau Warung atau Pusat belanja: Terdapat beberapa toko
klontong yang tersebar rata di masing-masing RT dibawah
naungan RW 3. Ada warung bakso dan beberapa usaha
laundry yang terletak di RW 3.
Pelayanan  Kelurahan Kerjan memiliki kegiatan posyandu balita dan
Kesehatan dan
lansia yang masih aktif dan berpusat di Balai RW masing-
Sosial
masing. Tidak ada kegiatan kesehatan yang dilakukan pada
kelompok remaja di kelurahan ini.
 Penyakit terbanyak yang terjadi di masyarakat selama 6 bulan
terakhir adalah batuk pilek dan juga demam.
 Sebagian besar warga RW 1,2,3,4, dan 6 bila sakit
mempunyai kebiasaan langsung ke Puskesmas maupun
Rumah Sakit terdekat dan beberapa ada yang memilih untuk
mengobati dulu dengan membeli obat bebas.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

 Tingkat Sosial: sebagian warga di RW 1,2,3,4, dan 6


memiliki kegiatan sosial berupa PKK. PKK dilaksanakan
setiap bulan sekali di setiap RT dan dilakukan pula PKK RW.
Sedangkan untuk kegiatan kerja bakti dilakukan situasional.
 Sebagian remaja sekitar 50% di RW 1,2,3,4, dan 6 sering
mengonsumsi alkohol, merokok, dan menyalahgunakan
dextro untuk mabuk (fly). Mereka mengonsumsi alcohol dan
rokok saat kumpul setelah melakukan aksi kebut-kebutan di
jalan raya. Terdapat sekitar 54 remaja yang mengonsumsi hal
tersebut, dan sekitar 11 remaja tidak mau karena takut
dimarahin oleh orang tuanya.

Ekonomi Sebagian besar warga RW 1,2,3,4, dan 6 memiliki pekerjaan


sebagai pegawai swasta dan beberapa pegawai negeri sipil.

Keamanan dan  Pada setiap RW mempunyai pos ronda dan setiap hari rutin
Transportasi
dilakukan ronda keliling.
 Sebagian warga menggunakan kendaraan pribadi seperti
mobil, motor, dan ada sebagian yang masih menggunakan
sepeda
 Sekitar 109 (80% ) remaja mengendarai sepeda motor dan
sekitar 60% remaja di wilayah tersebut menggunakan waktu
luangnya untuk kumpul-kumpul bersama teman sesama geng
motor untuk melakukan aksi kebut-kebutan di jalan raya.
Presentase alasan remaja di kelurahan Kerjan melakukan aksi
kebut-kebutan di jalan raya:
Alasan Jumlah Presentase
Mengisi waktu luang 30 45.7%
Agar terlihat keren 25 38,2%
Iku-ikutan saja 10 16,1%
Jumlah 65
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

Pemerintahan dan Dalam mengatasi suatu perselisihan biasanya ditengahi oleh


Politik
ketua RT dan RW. Tokoh Masyarakat yang paling disegani
adalah Ustadz dan Kyai.

Komunikasi  Komunikasi: warga telah memiliki televisi, radio, dan


menggunakan telepon (Handphone) serta beberapa masih
menggunakan selebaran seperti koran dan tabloid.
 Informasi: Warga mendapatkan informasi melalui undangan,
pemberitahuan keliling dan dibeberapa RT sudah
memanfaatkan papan pengumuman untuk media
menyebarkan informasi.
Pendidikan Mayoritas pendidikan warga kelurahan Kerjan adalah SMA dan
ada sebagian sudah lulus sarjana. Remaja (12-18 tahun) di
kelurahan Kerjan masih sekolah di tingkat SMP dan SMA,
sedangkan remaja usia 19-20 tahun di kelurahan ini tidak
melanjutkan kuliah dan hanya menganggur saja.
Rekreasi Dikelurahan Kerjan tidak memiliki lapangan, sehingga remaja
tidak memiliki tempat untuk melakukan aktivitas olahraga seperti
sepak bola. Sehingga aktivitas yang dilakukan saat libur adalah
berkumpul untuk mengonsumsi alcohol, dextro dan merokok.
Kegiatan yang sering dilakukan pada remaja di kelurahan ini
adalah aksi kebut-kebutan di jalan raya.
Penduduk  Sasaran Primer (Anak Usia Remaja)
Aksi kebut-kebutan yang dilakukan oleh remaja di keluran
kerjan ini sudah ada sejak dahulu, sehingga remaja-remaja
disini meneruskan aksi kebut-kebutan tersebut dengan alasan
PERSEPSI

untuk mengisi waktu luangnya. Remaja yang mengonsumsi


alcohol dan merokok mengatakan bahwa hal tersebut sudah
biasa dilakukan karena mereka tidak mempunyai kegiatan
penting lainnya.
 Sasaran Sekunder (Orang Tua)
Persepsi orang tua terhadap masalah kesehatan pada remaja di
kelurahan Kerjen adalah mereka mengatakan bahwa hal
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

tersebut sudah menjadi kebiasaan mereka, dan orang tua tidak


berani melarang karena mereka para orang tua juga
melakukan hal yang sama sewaktu remaja.
 Sasaran Tersier (Kepala Desa dan Ketua RW)
Kepala desa dan ketua RW setempat mengatakan bahwa
sudah tidak bisa lagi menegur remaja-remaja disini untuk
tidak melakukan aksi kebut-kebutan dan mengonsumsi
alcohol. Karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan di
kelurahan tersebut.
Penyurvei Setelah dilakukan pengamatan selama 4 hari berturut-turut di
kelurahan Kerjan, pengamat mendapatkan bahwa kebiasan yang
dilakukan oleh remaja merupakan kegiatan yang sudah dilakukan
sejak dahulu. Mereka melakukan kebiasaan tersebut untuk
mengisi waktu luangnya, karena tidak ada lapangan atau halaman
yang lebar untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti
bermain sepak bola atau yang lainnya. Di kelurahan Kerjan juga
tidak ada kegiatan kesehatan yang diperuntukkan kepada remaja.

Pengkajian dengan FGD


 Pertemuan FGD dilakukan pada tanggal 4 Agustus 2019 dibalai
kelurahan Kerjan pada pukul 09.00 WIB dengan dihadiri oleh
kepala kelurahan kerjan serta remaja dikelurahan kerjan dengan
pembahasan mengenai dampak penggunaan obat terlarang, rokok
dan alkohol serta kebiasaan kebut-kebutan di jalan raya serta
melakukan hubungan sex di luar nikah.
 Fase Terminasi
Pembukaan oleh mahasiwa sebagai MC dan membacakan susunan
acara, yang selanjutnya dengan sesi diskusi.
 Fase Kerja
Pembahasan tentang kesehatan remaja selama 30 menit, lalu
dilanjutkan sesi diskusi. Pada sesi diskusi didapatkan hasil bahwa
remaja di kelurahan Kerjan ini melakukan aksi kebut-kebutan
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

dengan alasan untuk mengisi waktu luangnya. Mereka mengatakan


bahwa orang tuanya dulu juga melakukan hal yang sama. Para
remaja di kelurahan Kerjan tidak mengetahui dampak apa saja
yang akan dialami jika mereka melakukan kebiasaan kebut-kebutan
dan mengonsumsi alcohol. Orang tua mereka juga tidak melarang
karena ayahnya juga pernah melakukan hal tersebut. Sekitar 40%
dari remaja di desa Kerjan tidak mau ikut-ikutan karena mereka
tidak mempunyai motor, tidak mempunyai uang untuk beli rokok,
dan takut dimarahin oleh orang tuanya. Hampir 90% remaja di
kelurahan ini tidak pernah melakukan kegiatan olahraga sama
sekali karena tidak ada lapangan dan halaman yang lebar.

Pengkajian wawancara
Dari hasil wawancara didaptakan bahwa kalangan remaja di daerah
kelurahan W terdapat kebiasaan dalam mengkonsumsi atau
menyalahgunakan dextro untuk mabuk (fly) dan mereka menggakui
tengah melakukan “nyimeng” selain itu remaja ini juga mengkonsumsi
alcohol dan merokok pada kehidupan sehari-hari.

Masalah Kesehatan Remaja


a. 40% remaja mengkonsumsi/menyalahgunakan dextro untuk mabuk
(fly).
b. 60% remaja memiliki kebiasaan merokok.
c. 90% remaja jarang melakukan olahraga.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

2. Aalisis Data
No. Data Subyektif Data Obyektif Masalah Kesehatan
1.  3 dari 10 remaja mengaku  Dari hasil kuisioner Perilaku kesehatan yang
pernah mengkonsumsi/ didapatkan data bahwa cenderung beresiko
menyalahgunakan dextro sebanyak 70% remaja
untuk mabuk (fly). memiliki kebiasaan
 3 orang remaja tersebut merokok
mengungkakaan bahwa di  90% remaja jarang
kelurahan K terdapat melakukan kegiatan
sekitar 40% orang remaja olahraga
yang menyalahgunakan  Tidak terdapat sarana
dextro kegiatan olahraga atau
 Beberapa remaja lain perkumpulan remaja di
mengatakan sering kelurahan K.
menemukan sekumpulan  Hasil wawancara dengan
remaja yang memang kepala kelurahan K belum
sedang “Nyimeng” atau ada organisasi atau wadah
nge-dextro ataupun perkumpulan remaja
mengkonsumsi jenis  Sebanyak 3 orang remaja
narkoba lain. diduga menderita penyakit
 Sebanyak 5 orang remaja menular seksual (PMS)
mengaku pernah  Sebanyak 80% remaja
melakukan hubungan memiliki kendaraan
seksual pra nikah. bermotor
2.  3 orang remaja tersebut  Sebanyak 80% remaja Resiko perilaku
mengungkapkaan bahwa memiliki kendaraan kekerasan terhadap
di kelurahan K terdapat bermotor. orang lain
sekitar 40% orang remaja  Sebanyak 60% remaja
yang menyalahgunakan melakukan aksi kebut-
dextro kebutan di jalan raya.
 Beberapa remaja lain  Sebanyak 40% remaja
mengatakan sering mengonsumsi alcohol dan
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

menemukan sekumpulan dextro.


remaja yang memang
sedang “Nyimeng” atau
nge-dextro ataupun
mengkonsumsi jenis
narkoba lain
 60% remaja di wilayah
kelurahan K
menggunakan waktu
luangnya untuk kumpul-
kumpul dengan temannya
sesama geng motor dan
melakukan aksi kebut-
kebutan di jalan raya.
3.  3 dari 10 remaja mengaku  Dari hasil kuisioner Ketidakefektifan
pernah mengkonsumsi/ didapatkan data bahwa Pemeliharaan
menyalahgunakan dextro sebanyak 60% remaja Kesehatan
untuk mabuk (fly). memiliki kebiasaan
 3 orang remaja tersebut merokok
mengungkapkaan bahwa  90% remaja jarang
di kelurahan K terdapat melakukan kegiatan
sekitar 40% orang remaja olahraga
yang menyalahgunakan  Remaja tidak menhetahui
dextro. bahaya dan resiko
 Belum ada sosialisasi mengkonsumsi alhohol
tentang mengkonsumsi/ dan dextro untuk mabuk
menyalahgunakan dextro (fly).
untuk mabuk (fly).
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus TM 5
di Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

3. Diagnosa Keperawatan Komunitas


1. Domain 1 : (Promosi Keperawatan)
Kelas 2 : (Manajemen Kesehatan)
Kode : 00188 - Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko
2. Domain 11 : (Keamanan dan Perlindungan)
Kelas 3 : (Perilaku Kekerasan)
Kode : 00138 - Resiko Perilaku Kekerasan Terhadap
Orang Lain
3. Domain 1 : (Promosi Keperawatan)
Kelas 2 : (Manajemen Kesehatan)
Kode : 00099 - Ketidakefektifan Pemeliharan Kesehatn

Skala Prioritas Diagnosa Keperawatan


No Masalah Perhatian Poin Tingkat Kemungki Jumlah
Keperawatan masyarakat prevalensi bahaya nan untuk
1 : rendah dikelola
2 : sedang
3 : tinggi
4 : sangat tinggi
1. Perilaku kesehatan 2 3 3 3 54
cenderung beresiko
2. Resiko perilaku 2 2 3 3 36
kekerasan terhadap
orang lain
3. Ketidak efektifan 2 2 2 3 24
Pemeliharaan
Kesehatan
4. Intervensi Keperawatan
Metode & Sumber
Dx Keperawatan NOC NIC Waktu Tempat PJ
Media Dana
Kode Dx. Kep Kode Kriteria Hasil Kode Intervensi Mhs Warga
00188 Perilaku 1812  Primer 5510  Primer Metode: 09.00 Balai Santi Ibu Iuran
kesehatan Kontrol Pendidikan Kesehatan FGD dan WIB Keluarahan Kades Mahasiswa
Penyalahgunaan Zat 1. Identifikasi faktor Ceramah
cenderung 1. Efek kesehatan
internal atau Media:
beresiko pada yang merugikan
eksternal yang dapat PPT dan
kelompok akibat
meningkatkan Laeflet
remaja RW peyalahgunaan zat
motivasi untuk
1,2,3,4,6 di pengetahuan
berperilaku sehat.
kelurahan K banyak.
2. Tekankan manfaat
2. Manfaat
kesehatan positif
menghilangkan
yang langsung atau
penggunaan zat
manfaat jangka
terlarang
pendek yang bisa
pengetahuan
diterima oleh
banyak.
perilaku gaya hidup
3. Strategi mengelola
penggunaan zat positif daripada
terlarang menekankan pada
pengetahuan manfaat jangka
banyak. panjang atau efek
negative dari
ketidakpatuhan.
3. Ajarkan strategi yang
dapat digunakan
untuk menolak
perilaku yang tidak
sehat atau berisiko
daripada memberikan
saran untuk
menghindari atau
mengubah perilaku.
1904  Sekunder 4510  Sekunder
Kontrol Risiko: Perawatan
Penggunaan Obat Penggunaan Zat
Terlarang Terlarang
1. Mengidentifikasi 1. Instruksikan klien
faktor risiko mengenai efek
penyalahgunaan penggunaan zat
obat-obatan sering terlarang (misalnya,
menunjukkan. secara fisik,
2. Mengenali psikologis, dan
kemampuan untuk sosial).
mengubah 2. Diskusikan
perilaku sering pentingnya agar tdk
menunjukkan. menggunakan zat
3. Mengikuti kontrol terlarang, identifikasi
strategi yang tujuan perawatan
sesuai dalam yang paling ideal
penyalahgunaan (misalnya, sama
obat-obatan sering sekali tidak
menunjukkan. menggunakan,
ketenangan hari demi
hari atau penggunaan
zat terlarang dalam
kondisi sedang).
3. Berikan terapi
sebagaimana
diindikasikan
(misalnya, terapi
kognisi, terapi
motivasi, konseling,
dukungan keluarga,
terapi keluarga,
maupun pendekatan
dengan cara
memberikan pujian
pada remaja di
komunitas).
1908  Tersier 5430  Tersier
Deteksi Risiko Dukungan Kelompok
1. Kaji tingkatan dan
1. Mengidentifikasi
kesesuaian sistem
kemungkinan
pendukung yang
risiko kesehatan
sering telah ada.
menunjukkan. 2. Manfaatkan
2. Memonitor kelompok pendukung
perubahan status selama masa transisi
kesehatan sering untuk membantu
menunjukkan. pasien beradaptasi
3. Mendapatkan dengan kondisinya.
informasi terkait 3. Tentukan tujuan dan
perubahan gaya fungsi dari
hidup untuk kelompok
kesehatan sering pendukung.
menunjukkan.
00138 Resiko perilaku 1811  Primer 6487  Primer Metode: 15.00 Halaman Dhila Semua Iuran
Aktivitas yang Manajemen
kekerasan Pengajaran WIB Balai Ketua Mahasiswa
Disarankan Lingkungan:
terhadap orang 1. Aktivitas yang Pencegahan Kekerasan aktivitas Kelurahan RW
1. Singkirkan senjata
lain pada disarankan adalah sehat
potensial dari (senam
kelompok memperbanyak
lingkungan.
remaja RW pengetahuan. dan
1,2,3,4,6 di 2. Batasi penggunaan olahrga
2. Tujuan yang
kelurahan K. realistis dari sesuatu yang sepak
aktivitas yang potensial menjadi bola)
disarankan dari senjata bagi pasien.
memperbanyak 3. Monitor pasien Media:
pengetahuan. selama penggunaan Sepak
3. Strategi untuk barang yang Bola dan
meningkatkan potensial digunakan Speaker
aktivitas yang menjadi senjata.
disarankan secara
bertahap.
1632  Sekunder 4350  Sekunder
Perilaku Patuh: Manajemen Perilaku
Aktivitas yang 1. Konsultasikan
Disarankan
dengan keluarga
1. Membahas tentang
dalam rangka
aktivitas dengan
mendapatkan
rekomendasi
informasi mengenai
professional
kondisi kognisi
kesehatan.
dasar pasien.
2. Menggunakan
strategi untuk 2. Tingkatkan aktivitas
meningkatkan fisik, dengan cara
keamanan sering yang tepat
menunjukkan 3. Berikan pasien
3. Menggunakan buku tanggung jawab
harian untuk terhadap perilaku
memantau remaja.
kemajian dalam
aktivitas fisik yang
ditentukan sering
menunjukkan
1908  Tersier 6610  Tersier
Deteksi Risiko Identifikasi Risiko
1. Mengenali tanda 1. Identifikasi risiko
dan gejala yang biologis, lingkungan
mengindikasikan dan perilaku serta
risiko sering hubungan timbal
menunjukkan. balik.
2. Menggunakan 2. Gunakan rancangan
fasilitas kesehatan tujuan yang saling
yang sesuai menguntungkan
kebutuhan sering dengan tepat.
menunjukkan. 3. Implementasikan
3. Mendapatkan aktivitas-aktivitas
informasi terkait pengurangan risiko.
perubahan gaya
hidup untuk
kesehatan sering
menunjukkan.
00099 Ketidakefektifan 1805  Primer 5510  Primer Metode: 11.00 Balai Nia Kepala Iuran
Pengetahuan: Pendidikan kesehatan FGD dan
Pemeliharaan WIB Kelurahan Desa Mahasiswa
Perilaku kesehatan 1. Identifikasi sumber Ceramah
Kesehatan 1. Praktek gizi yang Media:
daya, misal: uang
kelompok sehat PPT dan
dan tingkat social
remaja RW 2. Menjelaskan Laeflet
yang diperlukan
1,2,3,4,6 di manfaat olahraga
untuk melaksanakan
kelurahan K. teratur.
program.
3. Strategi untuk
2. Tekankan manfaat
mengurangi resiko
cedera karena kesehatan positif
cedera kecelakaan. yang langsung atau
4. Efek kesehatan jangka pendek yang
yang merugikan bisa diterima oleh
akibat penggunaan remaja.
alcohol. 3. Kembangkan materi
pendidikan tertulis
yang tersedia dan
sesuai dengan
sasaran.
4. Tekankan pola
makan yang sehat,
tidur, berolahraga
bagi remaja.

1602  Sekunder 5604  Sekunder


Perilaku promosi Pengajaran: kelompok
kesehatan 1. Sediakan
1. Menggunakan
lingkungan yang
perilaku yang kondusif untuk
menghindari belajar.
resiko. 2. Libatkan keluarga
2. Menjaga atau orang terdekat
hubungan social. remaja.
3. Melakukan 3. Adaptasikan metode
perilaku kesehatan pendidikan terhadap
rutin. kebutuhan atau
karakteristik.
pembelajaran grup
4. Dokumentasikan
perkembangan
remaja pada catatan
medis permanen.

1701  Tersier 5430  Tersier


Kepercayaan Dukungan Kelompok
mengenai kesehatan : 1. Manfaatkan
merasakan
kelompok
kemampuan
melakukan pendukung selama
1. Persepsi bahwa
masa transisi untuk
perilaku kesehatan
membantu remaja
tidak rumit.
beradaptasi.
2. Persepsi bahwa
2. Ciptakan suasana
perilaku kesehatan
yang menyenangkan
membutuhkan
3. Dorong agar setiap
upaya yang masuk
peserta dapat
akal.
menyampaikan
3. Keyakinan yang
pikiran dan
berkaitan dengan
pengetahuannya.
pengalaman masa
4. Dorong agar setiap
lalu terkait dengan
peserta
perilaku
menyampaikan
kesehatan.
manfaat yang dapat
4. Kepercayaan
diambil dari
terhadap
kelompok ini.
kemampuan untuk
melakukan
perilaku
kesehatan.

5. Implementasi Keperawatan Komunitas


Rencana Evaluasi
No MK Komunitas Sasaran Tujuan Strategi Hari/Tgl Tempat
Kegiatan Kriteria Standart
1. Perilaku Remaja dan Setelah dilakukan Penyuluhan 1. Memberi Kamis/12 Balai Verbal dan 1. Tidak ada
kesehatan anggota tindakan keperawatan mengenai bahaya edukasi pada September Kelurahan Psikomotor lagi remaja
cenderung keluarga selama 5 hari, penggunaan obat- remaja 2019 Remaja yang
beresiko remaja diharapkan remaja obatan dan alcohol mengenai mengerti mengonsum
kelurahan pada kelurahan serta dampak bahaya dan dapat si alcohol
Kerjan Kerjan perilaku sex pada penggunaan memahami dan obat-
Jangka pendek: pra nikah obat-obatan apa yang obatan
Kelompok remaja dan alcohol telah terlarang.
pada kelurahan serta perilaku diberikan
Kerjan mengetahui sex pada pra oleh 2. Tidak ada

pengetahuan nikah. pemateri yang

mengenai dampak serta melakukan


perilaku beresiko. menerapkan aksi kebut-
Jangka Panjang: apa saja kebutan
Kelompok remaja yang tidak
3. Tidak ada
kelurahan Kerjan boleh
lagi yang
tidak mengalami dilakukan
melakukan
kecelakaan dan dan apa
hubungan
masalah kesehatan yang telah
sex diluar
yang serius. disarankan.
nikah.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM5
Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Permasalahan yang dialami oleh remaja umumnya dikarenakan adanya krisis
identitas tanpa adanya faktor pendukung dan sumber informasi yang jelas dalam
memberikan ketersediaan layanan pada kelompok remaja. Permasalahan kesehatan yang
berisiko mengancam kesejahteraan remaja antara lain merokok, konsumsi alkohol,
konsumsi obat, depresi atau risiko bunuh diri, emosi, masalah fisik, problem sekolah dan
perilaku seksual. Dengan dilakukannya winshield survey tenaga kesehatan dapat
menentukan intervensi yang tepat untuk mengurangi jumlah permasalahan kesehatan
yang berisiko mengancam kesejahteraan remaja di suatu daerah.

4.2 Saran
1. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan agar tenaga kesehatan senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik
dengan menyediakan fasilitas atau sarana dan prasarana yang memadai serta
memberikan edukasi terutama kepada remaja agar jumlah permasalahan kesehatan
yang berisiko mengancam kesejahteraan remaja berkurang.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan institusi mampu meningkatkan mutu pendidikan sehingga menghasilkan
perawat yang profesional dan inovatif, terutama dalam memberikan asuhan
keperawatan pada lingkup komunitas remaja.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM5
Komunitas (Kelompok Usia Sekolah dan Remaja) 09/09/2019

DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. & Asrori, M. 2006. Psikologi Remaja, Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi
Aksara.

Badan Pusat Statistik Indonesia. 2010. Profil Kriminalitas Remaja 2010. Jakarta: Katalog
BPS.

BKKBN. 2009. Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja). Jakarta: Direktorat
remaja dan perlindungan hak-hak reproduksi.

BKKBN. 2012. Laporan Situasi Kependudukan Dunia Tahun 2012. Jakarta.

Chairani, R. 2015. Modul Keperawatan Komunitas I: Asuhan Keperawatan Pada Kelompok


Khusus Remaja. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Penelitian Tenaga Kesehatan.

Dalyono, M. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Fauzi, Muhammad. 2015. Penanganan Perilaku Menyimpang Siswa Melalui Program


Bimbingan dan Konseling di SMP Plus Al-Islamiyah Pondok Aren Kota
Tangerang Selatan. Diakses melalui repository.uinjkt.ac.id.

Hurlock, E. B 1998. Development Psychology: A Life Span Approach. 5th Ed. London:
McGraw Hill Inc.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2013. Kesehatan Remaja di Indonesia. Jakarta Pusat.

Iqbal, Muhammad. 2014. Penanggulangan Perilaku Menyimpang (Studi Kasus SMA Negeri
1 Pomalaa Kab, Kolaka Sulawesi Tenggara). Diakses melalui journal.uin
alauddin.ac.id

Musbikin, M. 2013. Mengatasi Kenakalan Siswa Remaja. Riau: Zanafa.

Santrock and John W. Adolescence. 2003. Perkembangan Remaja. Edisi Keenam. Jakarta:
Erlangga.

Stanhope, M., & Lancaster, J. 2004. Community Health Nursing. 4th Ed. St Louis: Missouri
& Mosby Co.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM6
Komunitas (Kelompok Kesehatan Lingkungan dan Usia Lansia) 16/09/2019

_MATERI_
ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS PADA KELOMPOK
KHUSUS DI KOMUNITAS: KELOMPOK KESEHATAN LINGKUNGAN

Kesehatan lingkungan menurut WHO (World Health Organization) adalah suatu


keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin
keadaan sehat dari manusia. Menurut Ghandi 2010, ruang lingkup kesehatan lingkungan
meliputi penyediaan air minum, pengelolaan air buangan dan pengendalian pencemaran,
pembuangan sampah padat, pengendalian vektor, pencegahan/pengendalian pencemaran
tanah oleh ekskreta manusia, higiene makanan,dll. Di Indonesia sendii ruang lingkup kesling
diterangkan dalam Pasal 22 ayat 3 UU No 23 Tahun 1992, bahwa lingkup kesling ada 8 yaitu
penyehatan air dan udara, pengamanan limbah padat/sampah, pengamanan limbah cair ,
pengamanan limbah gas, pengamanan radiasi, pengamanan kebisingan, pengamanan vektor
penyakit, penyehatan dan pengamanan lainnya, sepeti keadaan pasca bencana
Kriteria lingkungan sehat dapat dilihat dari empat aspek, yaitu keadaan air,
udara,tanah, dan suara. Lingkungan sehat menurut UU No 36 Tahun 2009 merupakan
lingkungan yang bebas dari unsur-unsur yang menimbulkan gangguan kesehatan. Sasaran
kesehatan lingkungan menurut Pasal 22 ayat 2 UU 23/1992 adalah tempat umum, lingkungan
pemukiman, lingkungan kerja, angkutan umum, lingkungan lainnya. Penyebab dari
permasalahan kesehatan lingkungan di Indonesia adalah pertumbuhan dan kepadatan
penduduk, keanekaragaman sosial budaya dan adat istiadat, serta belum memadainya
pelaksanaan fungsi manajemen.
Adanya permasalahan kesehatan lingkungan, maka dibentuklah beberapa program
untuk mengatasinya, seperti rumah sehat dan penyediaan air bersih. Rumah sehat memiliki
kriteria, antara lain dapat memenuhi kebutuhan fisiologis, biologis, menghindari kecelakaan,
dan penularan penyakit.
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM6
Komunitas (Kelompok Kesehatan Lingkungan dan Usia Lansia) 16/09/2019

ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS KELOMPOK KHUSUS DI


KOMUNITAS: KELOMPOK KERJA USIA LANSIA

Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang yang telah
memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah
memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan lansia ini
akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan. Teori penuaan
menurut Lilik (2011) dapat dibedakan menjadi 2 yaitu, teori biologi dan penuaan

Kebutuhan hidup orang lanjut usia antara lain kebutuhan akan makanan bergizi
seibang, pemeriksaan kesehatan secara rutin, perumahan yang sehat dan kondisi rumah yang
tentram dan aman, kebutuhan-kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan semua orang
dalam segala usia, sehingga mereka mempunyai banyak teman yang dapat diajak
berkomunikasi, membagi pengalaman, memberikan pengarahan untuk kehidupan yang baik.

Perubahan yang terjadi pada lansia adalah perubahan fisik, tetapi juga kognitif,
perasaan, sosial dan seksual (Azizah, 2011). Perubahan fisik lansia dapat dilihat dari bebrapa
sistem tubuh, seperti sistem pendengaran yang mulai terganggu, sistem integumen pada
lansia mulai kendur atau tidak elastis, sistem muskuloskeletal mengalami perubaha yaitu
kolagen menjadi tidak teratur, kartilago rentan terhadap gesekan,berkurangnya kepadatan
tulang. Perubahan kognitif pada lansia seperti memori, IQ, kemampuan belajar, kemampuan
pemahaman, pemecahan masalah, dan kinerja yang semakin berkurang.

Peran perawat dalam keperawatan gerontologi adalah memberikan asuhan


keperawatan, malaksanakan advokasi dan bekerja untuk memaksimalkan kemampuan atau
kemandirian lanjuy usia, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan, mencegah dan
meminimalkan kecacatan dan menunjang proses kematian yang bermartabat. Perawat
gerontologi dalam prakteknya menggunakan managemen kasus, pendidikan, konsultasi,
penelitian dan administrasi. Perawatan lansia dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan,
seperti pendekatan fisik, psikis, dan sosial

Peran pemerintah untuk mensejahterakan lansia adalah dengan memberikan


penghormatan dan penghargaan kepada lanjut usia dengan;
1. Pelayanan keagamaan dan mental spiritual
2. Pelayanan kesehatan
Asuhan Keperawatan Kesehatan Komunitas Pada Kelompok Khusus di TM6
Komunitas (Kelompok Kesehatan Lingkungan dan Usia Lansia) 16/09/2019

3. Pelayanan kesempatan kerja


4. Pelayanan pendidikan dan pelatihan
5. Kemudahan dalam penggunaan fasilitas, sarana, dan prasarana umum
6. Kemudahan dalam layanan dan bantuan hukum
7. Perlindungan sosial
8. Bantuan sosial
Dalam rangka mengawal pelaksanaan peningkatan kesejahteraan lansia khususnya
dari sisi masyarakat, maka pemerintah melalui Keppres Nomor 52 Tahun 2004 membentuk
Komisi Nasional Lanjut Usia (Komnas Lansia ). Komnas ini terdiri atas unsur pemerintah
dan juga masyarakat. Maksud utama dari pembentukan Komnas ini adalah untuk menunjang
partisipasi masyarakat sehingga akan bisa terjadi community based sehingga partisipasi akan
tumbuh dalam masyarakat, dari masyarakat dan dilakukan oleh masyarakat dan dievaluasi
oleh masyarakat sendiri.
Asuhan Keperawatan Komunitas Dalam Bencana (Definisi, Jenis Bencana, Fase TM 7
Bencana, Asuhan Keperawatan Komunitas, Peran Perawat Kommunitas) 23/09/2019

_VIDEO_
Link Video Tugas Komunitas TM 7: https://youtu.be/kQTW4B-Jrbs