Anda di halaman 1dari 1

Ulkus Diabetik merupakan komplikasi kronik Diabetes Melitus ( DM ) adalah penyakit Klasifikasi ulkus diabetikum

dari diabetes mellitus sebagai sebab utama WOC DIABETES MELITUS metabolik yang kebanyakan herediter, demam tanda –
1. Derajat 0 : Tidak ada lesi
terbuka, kulit masih utuh
morbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita
dengan kemungkinan disertai
diabetes. Kadar LDL yang tinggi mempunyai Obesistas Pola makanan salah Kurang berat badan Hereditas tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau kelainan bentuk kaki seperti “
peranan yang penting dalam penyebab ulkus claw,callus”.
tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai
diabetikum, melalui pembentukan 2. Derajat I : Ulkus superfisial
plakatherosklerosis pada dinding pembuluh akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, terbatas pada kulit.
darah (Arif M, 2000) 3. Derajat II : Ulkus dalam
Etiologi Ulkus Diabetik: gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat menembus tendon dan tulang.
Jumlah reseptor insulin menurun
Faktor endogen : 4. Derajat III : Abses dalam,
yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme dengan atau tanpa
a. Genetik, metabolik
Insulin yang ada lemak dan protein osteomielitis.
Komplikasi : b. Angiopati diabetik 5. Derajat IV : Gangren jari kaki
a.Komplikasi Akut : Ulkus Diabetikum, c. Neuropati diabetik atau bagian distal kaki dengan
Amputasi, Nekrosis Permanen, Cacat Faktor eksogen : atau tanpa selulitis.
b.Komplikasi Kronis : Ketoasidosis, neuropati, a. Trauma Defisiensi insulin 6. Derajat V : Gangren seluruh
b. Infeksi (absolute dan relatif) kaki atau sebagian tungkai.
angiopati, rentan infeksi, kaki diabetic
c. Obat

Gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak


Kriteria Diagnosa DM:
Manifestasi Klinik 1. < 140 mg/dl Normal
- Poliuri, polidipsi, polipagi 2. 140 - < 200mg/dl Toleransi
- Letih, lemah glukosa terganggu
Ambilan glukosa Katabolisme Protein meningkat Lipofisis meningkat
- ↓ BB, mual, muntah 3. > 200mg/dl Diabetes ( Sudoyo
- Mempengaruhi aktivitas jangka panjang Aru dkk, 2009).
Hiperglikemi Asam amino Kehilangan nitrogen Asam lemak bebas↑
Menurut WHO :
1. Glukosa plasma sewaktu > 200mg/dl
Glikogenesis Gliserol meningkat Ketoagenesis (11,1mmol/l)
2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl
(7,8mmol/l)
Kehilangan cairan 3. 2 jam post prandial > 200mg/dl
Glukosa darah Glukosa sel ↓ Glukosoria Ketoanemia
Penatalaksanaan :
Penebalan membran Nutrisel ↓ Diaresis osmotik Hipotensi Ketoasidosis 1. Obat hiperglikemik oral (OHO).
2. Insulin
dasar vaskuler 3. Terapi Kombinasi : Pemberian
Sel lapar Poliuria polidipsi Shock OHO maupun insulin selalu
Ketonuria Pernapasan kusmuli dimulai dengan dosis rendah, untuk
kemudian dinaikkan secara
bertahap sesuai dengan respon
kadar glukosa darah
Disfungsi endotel Disfungsi endotel Oksigen keotak 4. Antibiotik : bagi penderita ulkus
Pola nafas Tidak efektif diabetikum untuk mencegah
mikrovaskuler makrovaskuler kerusakan jaringan lebih parah
Kematian dengan mengurangi resiko
Mikro angiopati amputasi.
5. Analgesic
Aterosklerosis 6. Debridement
Neiropati Retinopati Netropati 7. Nekrotomi
NOC 8. Amputasi : Amputasi dilakukan
perifer 1. Tanda-tanda vital tetap bila luka sudah menyebar menjadi
stabil Oklusi jaringan nekrosis pada area kaki.
Katarak GFR 2. Warna kulit dan suhu
Kondisi syaraf Gangguan keseimbangan dalam batas normal
cairan & elektrolit 3. Balance cairan seimbang PJK Mikroangiospati Peny pemb darah otak
kortek crebri GGK 4. Turgor kulit elastis dan NOC
membrane mukosa  Respiratory status: Ventilation
MCI Penyakit pemb darah kapiler Stroke  Respiratory status: Airway patency
NIC
Pain management Ulkus NOC
Nyeri NIC NIC
 Lakukan pengkajian nyeri secara 1. Kaji status volume cairan (TD, suhu, bunyi jantung)  Immune Status Oxygen Therapy
komprehensif termasuk lokasi, tiap 1 jam  Knowledge : Infection control  Bersihkan mulut,hidung dan sekret trakea
karakteristrik, durasi, frekuensi,  Pertahankan jalan napas yang paten
2. Kaji turgor kulit dan membrane mukosa mulut  Risk control
kualitas, dan faktor presipitasi.  Atur peralatan oksigenasi
setiap 8 jam NIC
NOC  Observasi reaksi nonverbal dari Resiko Infeksi  Monitor aliran oksigen
3. Ukur asupan dan haluaran setiap 1 sampai 4 jam.  Pertahankan teknik isolasi  Pertahankan posisi pasien
 Pain level ketidaknyamanan Catat dan laporkan perubahan yang signifikan  Batasi pengunjung bila perlu  Observasi adanya tanda hipoventilas
 Pain control  Ajarkan tentang teknik non termasuk urine.  Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan  Monitor adanya kecemasan pasien terhadap
 Comfort level farmakologi 4. Berikan cairan IV sesuai instruksi. oksigenasi
 Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
 Berikan analgetik untuk mengurangi 5. Kaji semua data laboratorium, laporkan nilai keperawtan
nyeri elektrolit abnormal  Berikan terapi antibiotik bila perlu
 Monitor penerimaan pasien tentang 6. Berikan beta adrenergik sesuai instruksi
manajemen nyeri.