Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan teknologi di bidang kesehatan yang ada pada saat ini memberi
kemudahan bagi para praktisi kesehatan untuk mendiagnosa penyakit serta
menentukan jenis pengobatan bagi pasien. Salah satu bentuk kemajuan tersebut adalah
penggunaan alat MRI (Magnetik Resonance Imaging) untuk melakukan pencitraan
diagnosa penyakit pasien.
Magnetik Resonance imaging merupakan teknik pemeriksaan yang
noninvasive dan menyediakan informasi gambaran anatomi dan psikologi. Sama
halnya dengan CT, MRI adalah modalitas cross-sectional imaging yang berbasis
komputer. Perinsip fisika dari MRI sangat berbeda dengan CT ataupun Radiografi
konvensional. Idak ada radiasi ionisasi yang digunakan dalam MRI, gambaran MRI
adalah interaksi dari lapangan magnet dan gelombang radio dengan soft tissue.
MRI Sebenarnya disebut sebagai nuclear magnetic resonance (NMR)
imaging, nuclear di sini mengindikasikan bahwa tidak ada baha radioaktif yang
digunakan dalam pembuatan sebuah image.(Merrill’s, 2012)

Pada pengolahan citra digital tidak dapat terhindarkan oleh noise atau derau
maka pada pengolahan citra dasar ini dapat dimengurangi noise atau derau tersebut
dengan cara filtering. Noise atau derau merupakan sinyal acak yang tidak diinginkan.
Setiap citra yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh alat penginderaan. Citra
cenderung mudah mengalami distorsi oleh derau dengan bermacam-macam tipe.
Penyebab noise atau derau diantaranya: Jika citra dipayar dari foto yang dibuat dari
filmmaka film tersebut yang menjadi sumber derau. Derau bisa disebabkan dari film
yang rusak atau karena pemayar itu sendiri. Jika citra didapat langsung dengan format
digital, mekanisme untuk pengumpulan data (misalnya detektor charge-coupled
device) yang menyebabkan timbulnya derau. Transmisi elektronik data citra bisa
menghasilkan derau. Kekurangfokusan kamera dan pergerakan relatifobjek terhadap
kamera.
Maka untuk mengurangi (reduksi) noise, salah satunya menggunakan filter.
Untuk mengukur kinerja dari filter digunakan nilai pengaruh noise terhadap suatu

1
sinyal (dalam hal ini citra adalah sinyal 2D) yang dinyatakan sebagai nilai SNR
(Signal to Noise Rasio).

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari MRI (Magnetik Resonance Imaging) ?
2. Apa definisi noise dan filtering?
3. Bagaimana cara mengaplikasikan nosie dan filter pada MRI?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi dari MRI (Magnetik Resonance Imaging).
2. Untuk mengetahui definisi noise dan filtering.
3. Untuk mengetahui cara mengaplikasijan noise dan filter pada MRI.

D. Manfaat Penulisan
Manfaat dibuatnya makalah ini adalah menambah pengetahuan penulis
maupun pembaca tentang Noise dan Filter pada MRI.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian MRI

MRI atau Magnetik Resonance Imaging adalah teknik yang menggunakan


medan magnet dan gelombang radio untuk menciptakan image dari organ dan
jaringan dalam tubuh. Kebanyakan mesin MRI memiliki ukuran yang besar, memiliki
magnet yang berbtntuk tabung. Saat kami berada dalam mesin MRI lapangan magnet
akan menstimulasi atom hidrogen dalam tubuh. Gelombang radio menyebabkan atom
tersebut menjadi sejajar untuk memproduksi sinyal yang lemah yang dighunakan
untuk membuat image crossectional MRI. (Mayo foundation for medical education
and resert 2016)

MRI juga didefinisikan sebagai teknik imaging yang menggunakan sifat


karakteristik dari protons saat proton tersebut di tempatkan pada lapangan magnet
yang kuat utnuk memproduksi image dari organ dan jaringan. Nukleus atom yang
terdiri dari neutron, proton, atau keduanya akan di transmisikan oleh pulsa
radiofrekuensi, menyebabkan atom tersebut terserap dan mengeluiarkan energy.
Energi ini ditransmisikan ke radiofrekuensi reciver dan kemudian ditransformasikan
menjadi sebuah imagr. ( medical dictionary, farflex, 2009)

Walaupun MRI adalah modalitas imaging yang aman bagi pasien karena tidak
menggunakan rsiasi dalam memprodiksi image, ada beberapa aspek yang harus di
pertimbangkan karena dapat mengancam keselamatan pasien (patient safety).
Lapangan magnet yang memiliki kekuatan yang tinggi dapat berinteraksi dengan
implanted device atau indwelling device yang tertanam dalam tubuh pasien.
Merupakan kerugian yang harus diperhatikan dalam penggunaan MRI, termasuk
gangguan pendengaran dan rasa panas. Walaupun MRI merupakan modalitas yang
aman dalam mendiagnosa injuri, tetapi kelalaian petugas atau human eror dapat
menyebabkan insiden yang berbahaya bagi pasien. (Watson Robert E, 2015)

Teknik pemeriksaannya adalah sebagai berikut: Pasien ditempatkan dalam


medan magnet, dan gelombang elektromagnetik pulsa diterapkan untuk
membangkitkan “objective nuclide” didalam tubuh. Nuclide yang dibangkitkan akan
kembali ke dalam energi semula dan akan melepaskan energi yang diserap sebagai
gelombang elektromagnet. Gelombang elektromagnet yang dilepas ini adalah sinyal

3
MR. Sinyal ini dideteksi dengan kumparan (coil) untuk membentuk suatu gambar
(image).

Yang perlu diperhatikan dengan memakai MR adalah nucleus (proton di


dalam tubuh). Nucleus mempunyai massa dan muatan positif serta berputar pada
sumbunya. Nucleus yang berputar ini dianggap sebagai suatu magnet batang kecil
(small bar magnet). Karena nucleus ditempatkan di dalam medan magnet statis, maka
akan berputar (precession). Ketika suatu pulsa RF yang mempunyai frekuensi sama
dengan kecepatan/frekuensi dari putaran diberikan, nucleus menyerap energi dari
pulsa (yang disebut gejala resonansi). Pulsa RF adalah gelombang elektromagneti dan
disebut pulsa RF (Radio Frequency) karena band frekuensinya. ketika pulsa RF
dimatikan, nucleus kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi yang
diserap (yang disebut relaxion). Dengan membuat nucleus memancarkan sinyal ketika
melepaskan energi yang diserap, suatu gambar (image) dihasilkan.

Pemeriksaan MRI bertujuan mengetahui karakteristik morpologik (lokasi,


ukuran, bentuk, perluasan dan lain-lain dari keadaan patologis. Tujuan tersebut dapat
diperoleh dengan menilai salah satu atau kombinasi gambar penampang tubuh axial,
sagital, koronal atau oblik tergantung pada letak organ dan kemungkinan patologinya.
(Mulyono, 2004)

B. Cara kerja pesawat MRI


Alat MRI berupa suatu tabung berbentuk bulat dari magnet yang besar.
Penderita berbaring di tempat tidur yang dapat digerakkan ke dalam (medan) magnet.

4
Magnet akan menciptakan medan magnetik yang kuat lewat penggabungan proton-
proton atom hidrogen dan dipaparkan pada gelombang radio. Ini akan menggerakkan
proton-proton dalam tubuh dan menghasilkan sinyal yang diterima akan diproses oleh
komputer guna menghasilkan gambaran struktur tubuh yang diperiksa.

Gambar 2.11 Prinsip kerja pesawat MRI


Untuk menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal sebagai alat
diagnostik, maka harus memperhitungkan hal-hal yang berkaitan dengan teknik
penggambaran MRI, antara lain :
1) Persiapan pasien serta teknik pemeriksaan pasien yang baik,
2) Kontras yang sesuai dengan tujuan pemeriksaanya,
3) Artefak pada gambar, dan cara mengatasinya,
4) Tindakan penyelamatan terhadap keadaan darurat.

C. Pengertian Pengolahan Citra Digital


Secara singkat Pengolahan Citra Digital yaitu suatu kegiatan mengolah citra
digital agar menjadi citra digital baru. Secara Detail Pengolahan Citra Digital yaitu
suatu kegiatan mengolah atau mengubah citra digital agar menjadi citra digital baru
supaya mudah untuk dianalisis, dilihat, dan dipahami sehingga kualitas citra menjadi
lebih baik, dan lebih informatif. Berikut adalah beberapa operasi pengolahan citra
digital:

a. Perbaikan kualitas citra (image enhancement)

5
Image enhancement bertujuan untuk memperbaiki kualitas citra dengan
cara memanipulasi parameter-parameter citra. Dengan operasi ini, ciri-ciri khusus
yg terdapat dalam citra lebih ditonjolkan. Contoh pengolahan citra dengan image
enhancement adalah perbaikan kontras gelap/terang, perbaikan tepian objek (edge
enhancement),penajaman (sharpening), pemberian warna semu (pseudocoloring),
penapisan derau (noise filtering)

Gambar 1. Contoh gambar yang telah dilakukan penajaman

6
Gambar 2. (a) Citra cameraman asli, (b) Citra cameraman kabur saat pengambilan
gambar kamera bergoyang, (c) Citra cameraman kabur krn pengaturan lensa tdk
fokus, (d) Citra cameraman setelah ditajamkan.

b. Pemugaran citra (image restoration)


Bertujuan menghilangkan/meminimumkan cacat pada citra. Tujuan hampir
sama dgn operasi perbaikan citra, bedanya, pada pemugaran citra penyebab
degradasi gambar diketahui. Contoh dari pemugaran citra adalah penghilangan
kesamaran (deblurring) dan penghilangan derau.

Gambar 3. Citra cameramen yang kabur di olah menggunakan pengolahan


deblurring menjadi citra yang tidak kabur.

c. Pemampatan image (image compression)


Tujuan dari pemampatan image adalah agar citra dpt direpresentasikan
lebih kompak shg memerlukan memori yg lebih sedikit, namun citra harus tetap
mempunyai kualitas gambar yg bagus .

7
Gambar 4. citra cameraman.bmp (192 KB) sebelum dimampatkan,menjadi citra
cameraman.jpg (11 KB) setelah dimampatkan

d. Segmentasi citra ( image segmentation)


Untuk memecah suatu citra ke dalam beberapa segmen dengan suatu
kriteria tertentu. Jenis operasi ini berkaitan erat dengan pengenalan pola.
e. Pengorakan citra (image analysis)
Bertujuan menghitung besaran kuantitatif dari citra untuk menghasilkan
deskripsinya. Mengekstraksi ciri-ciri tertentu yang membantu dalam identifikasi
objek. Proses segmentasi kadang diperlukan untuk melokalisasi objek yg
diinginkan dari sekelilingnya. Contoh dari pengolahan image analysis adalah
deteksi tepi, ekstrasi batas, dan ekstrasi daerah.

Gambar 5. Citra Rice yang kemudian dilakukan pengolahan citra deteksi tepi.

f. Rekonstruksi citra (image reconstruction)


Image reconstruction bertujuan membentuk ulang objek dari beberapa
citra hasil proyeksi. Byk digunakan dlm bidang medis. Misal bbrp foto rontgen
dgn sinar X digunakan utk membentuk ulang gambar organ tubuh.

D. Pengertian Noise dan Filtering


Noise memiliki pengertian yang banyak (tidak ada hanya dalam pencitraan).
Dalam pencitraan noise berarti variasi kecerahan atau informasi warna pada gambar.
noise bisa diproduksi oleh sensor dan sirkuit pemindai atau kamera digital. Noise juga
bisa berasal dari butiran fosfor film dan penyebab noise yang demikian tidak dapat

8
dihindari . image noise adalah Produk sampingan yang tidak diinginkan dari
pengambilan gambar yang menyebabkan informasi palsu dan tidak relevan. Arti asli
dari "noise" adalah "sinyal yang tidak diinginkan"; Fluktuasi sinyal yang tidak
diinginkan pada sinyal yang diterima Oleh radio AM menyebabkan audible acoustic
noise ("statis"). (Jayant s. Rohankar, 2013)
Berikut ini adalah beberapa jenis dari image noise:
a. Salt and paper
Seperti namanya noise jenis ini terlihat seperti garam dan lada hitam (salt
and paper). Pada citra akan nampak seperti titik-titik. Untuk citra RGB titik-titik
muncul dalam tiga warna yakni merah, hijau, dan biru. Sedangkan pada citra
grayscale, noise akan muncul dalam dua warna yaitu hitam dan putih. Noise ini
akan memberikan efek “on dan off “ pada pixel. Pada matlab kita akan mengatur
konstanta noise. Konstanta merupakan angka numeric non negatif dengan range
dari 0 sampai 1. Semakin besar konstanta noise dari citra maka citranya akan
semakin kabur, sebaliknya semakin kecil konstanta efek pada citra semakin tidak
terlihat. Nilai deafult untuk konstanta noise adlah 0,05.
b. Gaissian
Disebut juga gaussian white noise. Untuk menambahkan noise ini pada
matlab memerlukan input tambahan berupa rata-rata dan variasi. Rata-rata dan
variasi merupakan suatu konstanta real. Nilainya bisa positif maupun negatif.
Mekin besar rata-rata dan variasinya maka citra akan semakin kabur, sebaliknya
semakin kecil konstanta efek paada citra noise akan semakin tidak terlihat. Nilai
deafult adalah 0 untuk mean dan 0,01 untuk varience. Disebut white noise karena
pada saat nilai rata-rata dan variasinya besar maka citra seolah-olah hanya seperti
citra putih saja.
c. Poisson
Poisson noise bukan merupakan noise buatan. Poosson merupakan noise
yang ditambahkan pada citra langsung tanpa kita yang menambahkan parameter
apapun, sehingga efeknya pada citra pun tetap, berbeda dengan tipe noise yang
sudah dijelaskan sebalumnya. Pada matlab jika matriks citra adalah double
precision, maka nilai piksel inputnya dianggap sebagai mean dari distribusi
poisson dengan skala 10 ^ 12.
d. Speckle

9
Speckle merupakan noise ganda. Noise ini ditambahkan pada citra
menggunakan pera=samaan J=I=n*I, dimana n terdistribusi random seragam
dengan mean 0 dan varience V. V adalah konstanta non negative yang besarnya
dapat berubah ubah. Deafult nilai untuk V adalah 0,04. Makin besar nilai V maka
citra akan semakin kabur.
e. Loclvar
Pada matlab kita harus menggunakan dua parameter untuk menambahkan
noise ini pada citra. Dua parameter tersebut berupa vector yang ukuranya sama,
dan grafik kedua parameter tersebut menggambarkan relasi fungsional antara
varians noise dan intensitas citra. Vektor intensitas citra harus bernilai antara 0
sampai 1. Localvar merupakan gaussian noise dengan mean 0, dengan varience
noise adalah fungsi dari intensiitas citra yang nilainya berada dalam matriks citra.
Vektor intensitas citra tidak boleh bernilai sama karena citra akan nampak
sebagai layar putih ( gauissian white noise).

E. Pengaplikasian Noise dan Filter pada MRI


Noise pada citra adalah variasi nilai abu-abu yang acak, yang memberinya
tampilan berbintik-bintik. Resolusi spasial dan skala abu-abu dipengaruhi oleh adanya
noise. signal-to-noise Rasio (SNR) adalah ukuran noise yang ada pada citra. SNR
diberikan oleh sinyal rata-rata di area penting dibagi dengan standar deviasi yang
diukur dari background citra yang terdapat noise . SNR memiliki citra berkualitas
tinggi dimana fitur dapat dengan mudah dibedakan dari yang ada disekitarnya.

Gambar 1

Ilustrasi rasio signal-to-noise (SNR) untuk gambar yang dipengaruhi oleh


jumlah noise yang berbeda. (a) Citra ini memiliki sedikit noise dibanding citra
lainnya. SNR untuk lingkaran besar adalah sekitar 14. (b) Dalam citra yang terdapat
noise ini, SNR untuk lingkaran besar adalah sekitar 3. Perhatikan bahwa sinyal rata-
rata di lingkaran besar lebih rendah daripada yang (a), dan sinyal backgroundnya

10
memiliki rentang nilai yang lebih besar; Keduanya berkontribusi pada pengurangan
SNR.

Rasio kontras-to-noise (CNR) bisa menjadi ukuran yang lebih berguna


daripada SNR, karena memperhitungkan bagaimana diferensiasi jaringan dipengaruhi
oleh noise. CNR diberikan oleh selisih sinyal rata-rata di dua area penting dibagi
dengan standar deviasi yang diukur dari backgroung citra yang terdapat noise.

1. Rasio signal-to-noise (SNR) pada MRI

Sinyal yang digunakan untuk rekonstruksi citra MR selalu rusak oleh noise
yang disebabkan arus fluktuasi secara acak pada receiver coil dan objek yang
dicitrakan. Kualitas citra MR dapat sangat terdegradasi oleh noise, sehingga sulit
untuk membedakan antara struktur yang berbeda pada objek. Tiga parameter
terpenting yang menentukan kualitas gambar adalah resolusi spasial, kontras
gambar, dan rasio signal-to-noise (SNR ). SNR didefinisikan sebagai rasio
intensitas citra rata-rata di area penting yang dipilih (ROI) terhadap akar kuadrat
variasi noise:

SNR pada MRI bergantung pada sejumlah faktor termasuk kekuatan medan
magnet statis, tipe dan karakteristik r.f. coils, parameter pencitraan (misalnya,
Resolusi citra dan ukuran matriks), dan urutan pulsa yang dipilih. Diskusi berikut
berfokus pada hubungan antara parameter SNR dan pencitraan serta kekuatan
medan. Untuk diskusi tentang SNR dalam rangkaian pulsa yang berbeda dan SNR
ferformance dari r.f. coils.

11
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Pemanfaatan MRI untuk bagian dalam tubuh sangat efektif karena memiliki
kemampuan membuat citra potongan koronal, sagital, aksial tanpa banyak
manipulasi tubuh pasien dan diagnosa dapat ditegakan dengan lebih detail dan
akurat. Pesawat MRI menggunakan efek medan magnet dalam membuat citra
potongan tubuh, sehingga tidak menimbulkan efek radiasi pengion seperti
penggunaan pesawat sinar-x. Gambaran yang dihasilkan oleh pesawat MRI
tergantung pada ketepatan pemilihan parameternya. Pada pengolahan citra digital
adapun yang disebut dengan noise atau gambaran yang tidak diinginkan pada
gambaran, maka kita dapat menggunakan filtering untuk mengurangi noise pada
gambaran atau image.

B. Saran
Pada pengolahan citra digital, filter digunakan untuk menekan frekuensi
tinggi pada citra seperti pada memperhalus citra (smoothing), atau menekan
frekuensi rendah seperti pada memperjelas atau mendeteksi tepi pada citra. Yang
bertujuan membuat citra menjadi tampak lebih baik, atau tampak lebih jelas untuk
analisis.

12
DAFTAR REFRENSI

Bulpitt, Andrew and Berry, Elizabeth. Fundamentals of MRI: An Interactive Learning


Approach. CRC Press Taylor & Francis Group. London, 2008

Kuperman, Vadim. MAGNETIC RESONANCE IMAGING : Physical Principles and


Applications. Academic Press. London, 2000

Bushberg, J. T., The Essential Phisics of Medical Imaging, Second Edition, Lippincot
Williams & Wilkins, Philadelphia, 2002

http://en.wikipedia.org/wiki/Magnetic_resonance_imaging#Background_information
Rsmitraplumbon. 2010. MRI.(file:///E:/D/berita-24-mri.html)Admin. 2009.Magnetic
Resonance Imaging (MRI):9file:///E:/D/index:php.htm)

13