Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Natur Indonesia 5(1): 95-101 (2002)

ISSN 1410-9379

ANALISIS PENURUNAN PONDASI DANGKAL


PADA TANAH LEMPUNG KASONGAN

Monita Olivia, Gunawan Wibisono

Jurusan Teknik Sipil, FT, Universitas Riau

Diterima 10-8-2002 Disetujui 25-9-2002

ABSTRACT

A settlement of shallow foundation on clay soil in Kasongan is investigated.


Laboratory experiments is carried out, firstly, to the Kasongan clay to
obtain several soil parameters that are used in settlement analysis.
Settlement is analysed with analytical solution and then with numerical
analysis. Both of the results show that settlement of Kasongan's clay is low
and acceptable for small building on clay.

Keywords: Kasongan, settlement, shallow foundation, clay

PENDAHULUAN (excessive settlement), terutama jika


Desa Kasongan (Kabupaten pondasi terletak di atas deposit
Bantul, Yogyakarta) terkenal dengan lempung yang kompresibel.
kerajinan gerabahnya. Kandungan Proses penurunan pondasi
lempung yang spesifik di daerah ini diakibatkan oleh terkompresinya
menjadikan berbagai jenis gerabah lapisan tanah di bawah pondasi akibat
yang dihasilkan berkualitas baik. beban struktur. Secara umum terdapat
Sebagai pusat kerajinan, daerah ini dua jenis penurunan, yaitu 1)
tentunya berpotensi untuk berkem- penurunan segera (ρi) yang
bang secara pesat. Semakin banyak dikontribusikan oleh sifat elastik
pertokoan dan perumahan dibangun. tanah dan terjadi segera setelah
Pertokoan (rumah toko) dan lapisan tanah menerima beban, dan 2)
rumah merupakan tipe bangunan kecil penurunan konsolidasi (ρc), yang
yang struktur pondasinya biasa terjadi akibat keluarnya sebagian
menggunakan pondasi dangkal karena kandungan air dari lapisan tanah
paling ekonomis. Salah satu kendala sehingga tanah menjadi lebih
pondasi jenis ini adalah rentan mampat. Penurunan konsolidasi ini
terhadap penurunan berlebih terjadi dalam rentang waktu yang
96 Jurnal Natur Indonesia 5(1): 95-101 (2002)

lebih lama dan jauh lebih besar perubahan tekanan air pori
dibanding penurunan segera. Jumlah (konsolidasi) dapat dihasilkan.
kedua jenis penurunan ini merupakan Dalam mendesain pondasi dang-
penurunan total (ρt) yang terjadi. kal di atas suatu lapisan lempung
Tanah jenis lempung memiliki kedua kompresibel dengan kondisi muka air
jenis penurunan ini. tanah yang dekat ke permukaan,
Secara analitis penurunan segera prediksi penurunan mutlak dilakukan,
dapat dihitung dengan persamaan disamping analisis kapasitas daya
berikut (Christian & Carrier 1978): dukung.
µ 1µ 0 q n B Adalah suatu hal yang menarik
ρi = (1) untuk mengkaji penurunan pondasi
E
dangkal di daerah Kasongan dengan
dimana µ1 dan µ0 adalah faktor
kandungan lempungnya yang di-
dimensi dan kedalaman pondasi, E
anggap spesifik tersebut. Hasil kajian
adalah modulus Young, B adalah
ini juga dapat dijadikan referensi bagi
lebar tapak dan qn adalah beban
penduduk setempat dalam mendesain
pondasi. Sedangkan penurunan
struktur pondasi bangunan.
konsolidasi (Bowles 1986) dapat
Penelitian dimulai dengan
dinyatakan dalam persamaan:
menyelidiki propertis lempung
H p '
ρ c = Cc log 2 (2) melalui serangkaian uji laboratorium.
1 + e0 p1'
Analisis penurunan dan daya dukung
dengan H merupakan tebal lapisan
diterapkan pada jenis pondasi
mampat yang ditinjau, p2' & p1'
menerus (strip footing) dengan tapak
adalah tegangan yang terjadi pada
yang fleksibel. Hasil perhitungan
lapisan tanah, Cc koefisien kom-
secara analitis diverifikasi dengan
presibilitas dan e0 adalah angka pori
analisis numerik menggunakan
asli.
perangkat lunak LUSAS.
Penurunan juga dapat dianalisis
secara numerik dengan menggunakan
metoda elemen hingga. Tegangan BAHAN DAN METODE
tanah dan tekanan air pori yang Sampel lempung tak terganggu
terjadi akibat pembebanan pondasi (undisturbed) diambil pada kedalam-
dimodelkan dengan suatu persamaan an 1,50-2,00 m dari permukaan tanah
konstitutif tertentu pada setiap mesh di lokasi perumahan Kasongan
elemen. Deformasi, baik yang Permai. Pengujian sondir pada
diakibatkan oleh sifat elastik tanah beberapa titik tertentu di lokasi
(undrained analysis) maupun akibat dilakukan untuk mendapatkan data
Penurunan Pondasi Dangkal Lempung Kasongan 97

tambahan sekaligus verifikasi keda- pemodelan hanya dibuat setengah


laman tanah keras. (half space). Pada tanah yang akan
Pekerjaan laboratorium meliputi mengalami konsolidasi (di bawah
pengujian kadar air tanah (wn), berat muka air tanah) definisi elemen yang
volume tanah, berat jenis tanah (Gs), dipakai adalah plain strain two phase.
batas-batas konsistensi (PL & LL), Variabel penelitian dalam ana-
analisis butiran (saringan dan lisis penurunan ini adalah pem-
sedimentasi), permeabilitas (k), dan bebanan (q), lebar tapak pondasi (B)
uji konsolidasi. Kekuatan tanah dan kedalaman pondasi (D). Hasil
diperiksa dengan melakukan peng- analisis numerik ditampilkan dalam
ujian kuat tekan bebas. grafik penurunan terhadap lebar tapak
Parameter hasil pengujian digu- pondasi.
nakan untuk menganalisis penurunan
pondasi baik secara analitis maupun HASIL DAN PEMBAHASAN
numerik.
Hasil Pengujian Laboratorium
Pada analisis numerik, model
konstitutif yang dipakai untuk Tabel 1 menunjukkan hasil pe-
mendefinisikan tanah adalah linier nelitian sifat fisik lempung Kasongan
elastik dengan kondisi tanah yang di laboratorium. Terlihat bahwa
isotropik. Sesuai dengan kasus yang kandungan lempung adalah sebesar
ditinjau yaitu strip footing, idealisasi 44% (sekitar 90% lolos saringan 200),
geometrik yang dipakai adalah plain sehingga dalam pemodelan tanah
strain. Oleh karena bentuk kasus yang dapat dianggap sebagai lempung
ditinjau adalah simetris, maka homogen. Indeks plastisitas lempung

Tabel 1. Hasil Penelitian Sifat Fisik Tanah Lempung Kasongan.

Sifat Fisik Tanah Lempung Hasil


Kadar air, w (%) 68,2
Berat volume tanah, γ (kN/m3) 18,2
Berat jenis tanah, Gs 2,69
Batas plastis, PL (%) 43,57
Batas cair, LL (%) 67,14
Indeks Plastisitas, IP (%) 23,57
Indeks kompresibilitas, Cc 0,35
Koefisien Permeabilitas, k (m/dt) 8,35 x 10-6
OCR 0.9
Fraksi lempung (%) 44%
Angka pori (e) 0,68
Porositas 1,84
98 Jurnal Natur Indonesia 5(1): 95-101 (2002)

adalah sekitar 23,5%, tergolong kedalaman sekitar 3,5 m. Uji CPT


lempung yang berplastisitas tinggi. (Cone Penetration Test) juga
Namun demikian belum dikategori- memperlihatkan adanya lapisan keras
kan sebagai lempung ekspansif pada kedalaman 3,5 m, dimana nilai
mengingat aktifitas (A) yang rendah, tanahanan konus yang didapat
sekitar 0,53. >200kg/cm2.
Nilai Over Consolidation Ratio
(OCR) adalah sekitar 0,9; meng- Pemodelan dan Penurunan Pondasi
indikasikan lempung terkonsolidasi Profil lapisan tanah dapat dilihat
normal. Deposit lempung terjadi pada Gambar 1. Muka air tanah
akibat sedimentasi material vulkanik. terletak 0,70 m dari permukaan tanah
Pengujian sifat mekanik dan deposit lempung berada sampai
menunjukkan bahwa lempung Kaso- kedalaman 3,50 m. Pondasi dangkal
ngan memiliki kuat tekan (qu) sebesar dapat dibangun pada kedalaman rata-
0,2778 kg/cm2 dari hasil pengujian rata 1m dari permukaan tanah.
kuat tekan bebas, dengan nilai Contoh pemodelan jaring
sensitivitas 1,1587. Dari Peck et al, elemen (mesh) diperlihatkan pada
(1953) dalam Hardiyatmo (1996) Gambar 2. Lapisan pasir padat
dengan hasil kuat tekan tersebut maka dianggap tidak kompresibel atau
lempung Kasongan termasuk dalam sedikit sekali akan terjadi deformasi
kategori lempung lunak dan sehingga dapat diabaikan. Lapisan
bersensitifitas rendah. lempung di atas muka air tanah
Dari hasil pemboran didapatkan digantikan dengan beban overburden,
kedalaman muka air tanah adalah dan pada batas muka air tanah ini
0,7m dari permukaan tanah, dan diberi kondisi batas dimana tekanan
terdapat lapisan pasir padat pada air pori adalah konstan.

3.5 m B Lempung

Pasir padat

Gambar 1 Profil tanah dan penempatan pondasi.


Penurunan Pondasi Dangkal Lempung Kasongan 99

Gambar 2. Contoh pemodelan jaring elemen untuk lebar tapak pondasi B = 2 m dan
kedalaman D = 1 m.

Dalam analisis, beban kolom untuk beberapa variasi lebar tapak


divariasikan mulai dari 60 kN dan beban diperlihatkan pada Gambar
(bangunan tingkat 1) sampai 240 kN. 3. Sedangkan berdasarkan analisis
Penentuan dimensi tapak untuk setiap numerik untuk variasi yang sama
pembebanan diverifikasi terhadap seperti di atas diperlihatkan pada
kapasitas daya dukung lempung. Gambar 4. Nilai penurunan diambil
Hasil perhitungan penurunan tepat di bawah titik tengah tapak
berdasarkan perhitungan analitis pondasi.

Lebar Tapak (B) vs Penurunan (ρ)


Cara Analitis
45
40
35
(mm)

30
25
Penurunan -

20
15
10
5
0
1.0 1.5 2.0
Lebar Tapak - B (m)

P=60 kN P=120 kN P=180 kN P=240 kN


P=60 kN P=120kN P=180kN P=240kN

Gambar 3. Penurunan Pondasi berdasarkan Cara Analitis ( : D=0,7m; ---: D=1m).


100 Jurnal Natur Indonesia 5(1): 95-101 (2002)

Lebar (B) vs Penurunan (ρ)


Analisis Numerik
45
40
35
(mm)

30
25
Penurunan -

20
15
10
5
0
1.0 1.5 2.0
Lebar Tapak - B (m)

P=60 kN P=120 kN P=180 kN P=240 kN


P=60kN P=120kN P=180kN P=240kN

Gambar 4. Penurunan Pondasi berdasarkan Analisis Numerik (: D = 0,7 m; ---:


D=1m).

Secara umum kedua analisis ini lazim digunakan oleh masyarakat


menunjukkan hasil yang tidak terlalu dalam membangun rumah, dapat
berbeda, dimana rentang perbedaan dengan aman digunakan.
untuk setiap kondisi pembebanan dan Penambahan kedalaman pondasi
dimensi tapak, berkisar antara 3-6 sebesar 0,3 m (di bawah muka air
mm. Perhitungan secara analitis tanah) akan mengurangi besar
memberikan hasil yang sedikit lebih penurunan, karena tebal lapisan
besar atau lebih konservatif untuk kompresibel berkurang. Berdasar
desain dibanding berdasarkan analisis analisis numerik perbedaan ini
numerik. semakin besar untuk pembebanan
Pada pembebanan ringan seperti yang tinggi dan lebar pondasi di atas
beban akibat bangunan bertingkat 1, 1,5 m. Sehingga untuk bangunan
lebar tapak di bawah 1m akan bertingkat 2 sampai 4, penempatan
memberikan prediksi penurunan yang tapak pondasi lebih dalam akan
masih di dalam batas toleransi. memberikan penurunan pondasi yang
Dengan demikian pondasi konvensio- lebih kecil. Namun demikian perlu
nal (pondasi menerus) yang selama diperhatikan karena pembuatan
Penurunan Pondasi Dangkal Lempung Kasongan 101

pondasi akan terkendala oleh air Secara umum pondasi menerus


tanah. (dangkal) seperti yang selama ini
Rentang penurunan antara 15 lazim digunakan sebagai pondasi
sampai 40 mm untuk pembebanan rumah, cukup aman ditinjau dari
antara 60kN sampai 240kN, masih penurunan yang dapat terjadi. Pada
dalam batas yang wajar dan dapat bangunan lebih tinggi, penggunaan
ditoleransi. Penurunan di atas 25 mm pondasi dangkal dengan dimensi yang
yang dapat terjadi pada bangunan sesuai akan memberikan prediksi
bertingkat 3 atau 4, dapat diterima penurunan yang masih dapat
jika merupakan penurunan yang ditoleransi.
seragam. Namun demikian jika profil
tanah tidak beraturan yang berakibat UCAPAN TERIMA KASIH
pada penurunan tidak seragam, Penulis menyampaikan terima kasih
pemakaian lebar tapak pondasi yang kepada Bapak Ir Sudarmadji MT dan
lebih besar disertai penempatan Bapak Ir Halim Hasmar MT di
pondasi lebih dalam, sangat perlu Jurusan Teknik Sipil UII yang telah
dipertimbangkan. Pemilihan jenis membimbing penulisan penelitian
pondasi lain seperti sumuran dapat tugas akhir ini.
pula dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
KESIMPULAN Christian, J.T. & Carrier, W.D. 1978.
Janbu, Bjerrum and Kjaernsli’s
Perhitungan secara analitis chart Reinterpreted. Canadian
maupun numerik terhadap penurunan Geotechnical Journal. 15: 123-128,
pondasi dangkal menunjukkan hasil and discussions, 15: 436-437.
Bowles, E.J. 1986. Sifat-sifat Fisis dan
yang mendekati, dimana cara analitis Geoteknis Tanah (Mekanika Ta-
sedikit memberikan hasil yang lebih nah). Jakarta: Erlangga.
Hardiyatmo, C.H. 1996. Mekanika
konservatif. Tanah. Jakarta: PT Gramedia Pus-
taka Utama.
102 Jurnal Natur Indonesia 5(1): 95-101 (2002)