100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
571 tayangan170 halaman

Laporan Tugas Akhir PDF

Tugas akhir ini membahas perancangan Pusat Kebudayaan Minahasa di Tondano dengan tema Arsitektur Organik. Tujuannya untuk memenuhi syarat menyelesaikan studi S1 Arsitektur di Universitas Sam Ratulangi. Rangkuman utama dokumen ini meliputi latar belakang perancangan pusat kebudayaan, pengertian kebudayaan dan Minahasa, serta tujuan perancangan untuk menghasilkan gambar arsitektural pusat kebudayaan.

Diunggah oleh

Adrian Manoppo
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
571 tayangan170 halaman

Laporan Tugas Akhir PDF

Tugas akhir ini membahas perancangan Pusat Kebudayaan Minahasa di Tondano dengan tema Arsitektur Organik. Tujuannya untuk memenuhi syarat menyelesaikan studi S1 Arsitektur di Universitas Sam Ratulangi. Rangkuman utama dokumen ini meliputi latar belakang perancangan pusat kebudayaan, pengertian kebudayaan dan Minahasa, serta tujuan perancangan untuk menghasilkan gambar arsitektural pusat kebudayaan.

Diunggah oleh

Adrian Manoppo
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ABSTRAK

Penulisan Tugas Akhir yang berupa perancangan Pusat Kebudayaan


Minahasa di Tondano dengan tema Arsitektur Organik ini bertujuan sebagai salah
satu syarat dalam menyelesaikan jenjang pendidikan Strata-1, Jurusan Arsitektur,
Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi.
Kebudayaan merupakan warisan dari cara hidup, pola pikir serta hasil
pekerjaan tangan secara turun temurun dari masyarakat suatu daerah. Maka dari itu
Kebudayaan adalah hal yang harus dijaga dan dilestarikan serta dijunjung tinggi
daerahnya masing-masing. Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam
pembangunan nasional. Peranan pariwisata di Indonesia sangat dirasakan
manfaatnya, karena pembangunan dalam sektor pariwisata serta pendayagunaan
sumber potensi kepariwisataan menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan.
Minahasa merupakan suatu suku yang terletak di Sulawesi Utara yang telah ada dari
zaman purbakala. Tondano merupakan Ibukota dari Kab.Minahasa, Sulawesi Utara,
Indonesia.. Pusat Kebudayaan adalah sebuah wadah khusus dengan memadukan
fungsi komersil dan kebudayaan secara terintegrasi untuk wisatawan yang
bertujuan untuk berwisata serta mengenal lebih dalam tentang kebudayaan.
Arsitektur Organik merupakan sebuah konsep arsitektur yang diilhami dari alam.
Arsitektur Organik adalah sebuah istilah yang diaplikasikan pada bangunan atau
bagian dari bangunan yang terorganisir berdasarkan analogi biologi atau yang dapat
mengingatkan pada bentuk natural, baik itu meniru bentukan suatu organisme
ataupun suatu bentukan yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Hasil dari Tugas Akhir ini adalah : Mengkaji konsep-konsep aplikasi
Tematik Arsitektur Organik pada objek perancangan Pusat Kebudayaan Minahasa
di Tondano, Merancang objek Pusat Kebudayaan Minahasa di Tondano yang baik
secara arsitektural dan sesuai dengan latar belakang perancangan, Menghasilkan
produk berupa gambar-gambar arsitektural objek Pusat Kebudayaan Minahasa
berupa : Layout Plan, Site Plan, Denah-denah Bangunan, Tampak Bangunan,
Potongan bangunan, Tampak Tapak, Potongan Tapak, Perspektif, Spot Interior &
Eksterior, Potongan Aksnometri, Isometri Struktur, Layout Sistem Utilitas Tapak
dan Bangunan, Ornamentasi Bangunan, dan Detail Prinsip Struktur dan Utilitas.

Kata Kunci : Kebudayaan, , Pusat Kebudayaan, Minahasa, Tondano, Kabupaten


Minahasa, Sulawesi Utara, Organik Arsitektur.

i
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas segala berkat
kekuatan dan hikmat, serta cinta kasihNya, saya dapat menyelesaikan laporan
Tugas Akhir ini.

Adapun tujuan dari penulisan laporan Tugas Akhir dengan judul “Pusat
Kebudayaan Minahasa di Tondano” yang bertemakan “Arsitektur Organik”
ini dilakukan untuk memenuhi syarat menyelesaikan studi di Fakultas Teknik
Program Studi S1 Arsitektur Universitas Sam Ratulangi Manado.

Selama menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini, banyak rintangan yang


harus dihadapi oleh Penulis. Namun, karena bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu,
saya mengucapkan terima kasih kepada: pihak-pihak yang telah turut berkontribusi,
yaitu :

1. Prof. Dr. Ir. Fabian J. Manoppo, M. Agr., selaku Dekan Fakultas Teknik
Universitas Sam Ratulangi Manado.
2. Dr. Judy O. Waani, ST., MT., selaku Wakil Dekan I, Bidang Akademik
dan Kerjasama Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado.
3. Octavianus H. A Rogi, ST., M.Si., selaku Ketua Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado.
4. Frists O. P. Siregar, ST., M.Sc., selaku Ketua Program Studi Jurusan
Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado
5. Ir. Herry Kapugu, M.Ars, selaku dosen pembimbing I yang telah
membimbing saya dalam proses penyelesaian Tugas Akhir.
6. Amanda Sembel, ST., MT., M.Sc., selaku dosen pembimbing II yang juga
telah bersedia membimbing saya dalam proses penyelesaian Tugas Akhir.
7. Ir. Sonny Tilaar, M.Si ., selaku Ketua Komisi Penguji Tugas Akhir , terima
kasih atas setiap masukannya, juga kepada anggota Komisi Penguji Tugas
Akhir, Johansen C. Mandey, ST., M.Ars. dan Dwight M. Rondonuwu,
ST., MT terima kasih juga atas setiap masukan yang diberikan.

ii
8. Untuk Alm.Opa dan Oma Lan Tercinta yang selalu memberi dukungan dan
doa serta selalu percaya untuk Adrian bisa menyelesaikan Studi Sarjana.
9. Untuk Mama dan Papa, Kevin, Matthew juga semua keluarga besar tercinta
yang selalu membantu dan memberikan dukungan dan doa.
10. Teman – teman PELPRAP GPdI Elim Politeknik, Teman – teman EXPOSD
SMAN 9 BINSUS Manado, rekan-rekan sepelayanan UPK.Kr F.Teknik,
yang selalu senantiasa mendoakan, memberikan semangat, dan membantu
dalam penyelesaian Tugas Akhir.
11. Untuk para petarung, “ARCHPLANDABLES” (Arsitektur 2014), rekan-
rekan dan kakak-kakak STUDIO TA Periode IX yang telah berjuang
bersama-sama tahan banting menyelesaikan studi selama perkuliahan di
Kandang Ars Unsrat juga di Studio TA. Kalian semua luar biasa !
12. Sahabat-sahabat AG.House yang telah berjuang, menikmati masa-masa
kuliah dan trip rutin tiap liburan bersama-sama sejak Semester 1 hehe.
Ramond, Odan, Ped, Yogi, Grando, Sandro, Acl, Anes, Anggara, Allan,
Juan, Dennis, Jun, Brave, Kevin, Reza, Angga, Aleng, Christ, Richie.
Thankyou Guys for everything. That was a good time, back then. Hehehe
13. Semua Pihak yang telah membantu dalam pemberian data, baik berupa
informasi, dokumentasi, maupun literatur.

Saya berharap berkat melimpah dari Tuhan kiranya menyertai semua pihak,
baik yang sudah turut terlibat dalam menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.
Adapun saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penulisan Laporan Tugas Akhir ini, maka dari itu Penulis mengharapkan masukan
berupa kritik dan saran dari setiap pihak demi pengembangan lebih lanjut dari
laporan ini. Semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat diterima dan dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Manado, Juni 2019

Penulis,
Adrian Timothy Manoppo

iii
DAFTAR ISI

ABSTRAK ..................................................................................................... ........i


KATA PENGANTAR ................................................................................... .......ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. ......iv
DAFTAR TABEL ........................................................................................ .....viii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... ......ix
DAFTAR SKEMA ....................................................................................... .....xiii
I. PENDAHULUAN ...........................................................................................1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................1
1.2 Identifikasi Masalah .............................................................................3
1.3 Rumusan Masalah ................................................................................3
1.4 Maksud dan Tujuan ..............................................................................4
1.4.1 Maksud .......................................................................................4
1.4.2 Tujuan ..........................................................................................4
1.5 Lingkup Arsitektural .............................................................................4
1.6 Lingkup Arsitektural .............................................................................5
II. METODE PERANCANGAN .......................................................................6
2.1 Pendekatan Perancangan dan Kerangka Pikir .......................................6
2.1.1. Pendekatan Perancangan ...........................................................6
2.1.2. Kerangka Pikir ...........................................................................8
2.2. Proses dan Strategi Perancangan ........................................................9
2.2.1. Proses Perancangan ...................................................................9
2.2.2. Strategi Perancangan ..............................................................10
III. DESKRIPSI PROYEK OBJEK PERANCANGAN .................................10
3.1 Pengertian Objek Rancangan .............................................................11
3.1.1 Pengertian Secara Etimologi ..................................................11
3.1.2 Pengertian Kebudayaan Menurut Para Ahli ...........................12
3.2 Deskripsi Objektif ..............................................................................13
3.2.1 Kedalaman Makna Objek Rancangan ....................................13
3.2.1.1 Kebudayaan ...................................................................13
3.2.1.2 Minahasa........................................................................20

iv
3.2.2 Prospek dan Fisibilitas Proyek ...............................................37
3.2.2.1 Prospek ........................................................................37
3.2.2.2 Fisibilitas .....................................................................37
3.2.3 Program Dasar Fungsional .....................................................39
3.2.4 Lokasi, Tapak, dan Genius Loci ............................................47
3.3 Studi Kasus Objek Perancangan .........................................................56
3.3.1 Hilltop Gallery, Luamping, China ..........................................56
3.3.2 Heydar Aliyev Cultural Center, Baku, Azerbaijan .................61
IV. KAJIAN TEMA PERANCANGAN ...........................................................68
4.1 Asosiasi Logis Tema dan Objek ........................................................68
4.2 Kajian Tema Secara Teoritis ...............................................................71
4.2.1 Pengertian Arsitektur Organik ....................................................70
4.2.2 Sejarah Perkembangan Arsitektur Organik .................................73
4.2.3 Arsitektur Organik Frank Lloyd Wright .....................................90
4.3 Studi Pendalaman Tematik / Studi Kasus Arsitektur Organik Frank
Lloyd Wright (Fallingwater House)....................................................92
V. ANALISIS PERANCANGAN .....................................................................98
5.1 Program Ruang dan Fasilitas .............................................................98
5.1.1. Pola Hubungan Ruang ...............................................................98
5.1.2. Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang ....................................100
5.2 Analisa Tapak ..................................................................................113
5.2.1. Analisa Site Capability dan Delineasi Tapak ..........................113
5.2.2. Analisa Klimatologi Matahari .................................................114
5.2.3. Analisa Klimatologi Curah Hujan ...........................................116
5.2.4. Analisa Klimatologi Arah Angin .............................................117
5.2.5. Analisa Topografi ....................................................................119
5.2.6. Analisa Kebisingan ..................................................................121
5.2.7. Analisa Sirkulasi ......................................................................122
5.2.8. Analisa View ...........................................................................123
5.2.9. Analisis Zonasi ........................................................................124
5.2.10. Finalisasi Zoning ...................................................................126
VI. KONSEP UMUM PERANCANGAN .....................................................127

v
6.1. Konsep Aplikasi Tematik .................................................................127
6.2. Konsep Perancangan Tapak dan Ruang Luar ...................................131
6.2.1. Site Development ..................................................................131
6.2.2. Tata Letak Massa dan Ruang Luar Fungsional .....................133
6.2.3. Aksesibilitas dan Sirkulasi pada Tapak ................................133
6.2.4. Hierarki Ruang Luar ............................................................134
6.2.5. Tata Hijau Tapak ..................................................................135
6.2.6. Sistem Utilitas Tapak ............................................................136
6.3. Konsep Perancangan Bangunan ........................................................137
6.3.1. Gubahan Massa dan Pola Denah ...........................................137
6.3.2. Ruang Dalam Bangunan .......................................................138
6.3.3. Struktur Bangunan ...............................................................140
6.3.4. Sistem Utilitas Bangunan .....................................................143
VII. HASIL PERANCANGAN .......................................................................126
7.1 Layout Plan .......................................................................................144
7.2 Site Plan ............................................................................................144
7.3 Denah Bangunan ...............................................................................145
7.4 Potongan Bangunan ..........................................................................145
7.5 Tampak Bangunan ............................................................................146
7.6 Tampak Site ......................................................................................147
7.7 Potongan Tapak.................................................................................147
7.8 Perspektif ..........................................................................................148
7.9 Spot Interior ......................................................................................149
7.10 Spot Eksterior ....................................................................................150
7.11 Potongan Aksonometri ......................................................................152
7.12 Isometri Struktur ..............................................................................152
7.13 Ornamentasi .....................................................................................153
7.14 Utilitas Tapak ...................................................................................153
7.15 Utilitas Bangunan ..............................................................................154
7.16 Detail Prinsip Struktur .....................................................................155
7.17 Detail Prinsip Utilitas .......................................................................155

vi
VIII. PENUTUP .................................................................................................156
8.1 Kesimpulan .......................................................................................156
8.2 Saran ..... ............................................................................................156

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................157

LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL
No Halaman
3.1. Analisis Aktivitas Pengunjung Pusat Kebudayaan ......................................41
3.2. Analisis Pengguna Bangunan .......................................................................43
3.3. Tabel Lokasi Alternatif ................................................................................49
3.4 Kriteria Menurut Fungsi dan Arahan RTRW .............................................51
3.5 Penilaian Sumatif dari Hasil Analisis Kualitatif Genius Loci dan Kekayaan
Lansekap Budaya di Setiap Wilayah Minahasa .....................................................54
4.1 Ringkasan Perkembangan Arsitektur Organik ............................................88
5.1. Jumlah Wisatawan di Minahasa 2004-2016 ..............................................100
5.2. Kebutuhan Ruang dan Besaran ruang Pusat Kebudayaan .........................102
5.3. Kebutuhan Ruang dan Besaran ruang Guest House ..................................111
5.4. Total Luas Lantai .......................................................................................112
5.5. Sinar Matahari Daerah Minahasa ...............................................................114
5.6. Curah Hujan Deaerah Minahasa ................................................................116
5.7. Kecapatan Angin dan Tekanan Udara Daerah Minahasa ..........................117
6.1. Pembagian Koefisien Dasar Bangunan ......................................................131
6.2. Keterangan Blok Plan ................................................................................132
6.3. Keterangan Tabel Utilitas Tapak ...............................................................136
6.4. Keterangan Tabel Utilitas Bangunan .........................................................143

viii
DAFTAR GAMBAR
No Halaman
3.1 Lambang Minahasa, Dr. Sam Ratulangi, Kabasaran .................................... 21
3.2 Budaya Mapalus Minahasa ........................................................................... 22
3.3 Budaya Mapalus Minahasa ........................................................................... 22
3.4 Kubur Batu Waruga ...................................................................................... 28
3.5 Watu Pinawetengan Minahasa ...................................................................... 30
3.6 Rumah Adat Minahasa .................................................................................. 32
3.7 Tari Maengket(kiri), Tari Katrili(tengah), Tari Tumatenden(kanan)
............................................................................................................................... 35
3.8 Kain Batik Bentenan ..................................................................................... 36
3.9 Aliran Kegiatan Pengelola ............................................................................ 40
3.10 Aliran Kegiatan Pemakai ............................................................................. 40
3.11 Aliran Kegiatan Pemakai ............................................................................. 40
3.12 Aliran Kegiatan Servis ................................................................................. 40
3.13 Peta administrasi Kab. Minahasa ................................................................. 48
3.14 Tondano Selatan, Peleloan, Tapak ............................................................... 55
3.15 Hilltop Gallery.............................................................................................. 56
3.16 Hilltop Gallery ............................................................................................. 57
3.17 Hilltop Gallery ............................................................................................. 57
3.18 Hilltop Gallery ............................................................................................. 58
3.19 Hilltop Gallery ............................................................................................. 58
3.20 Hilltop Gallery ............................................................................................. 59
3.21 Hilltop Gallery Floor plan ............................................................................ 59
3.22 Hilltop Gallery Tampak ............................................................................... 60
3.23 Hilltop Gallery Plan ..................................................................................... 60
3.24 Heydar Aliyev Cultural Central ................................................................... 61
3.25 Heydar Aliyev Cultural Central ................................................................... 62

ix
3.25 Heydar Aliyev Cultural Central ................................................................... 62
3.27 Heydar Aliyev Cultural Central ................................................................... 63
3.28 Heydar Aliyev Cultural Central ................................................................... 64
3.29 Heydar Aliyev Cultural Central ................................................................... 64
3.30 Heydar Aliyev Cultural Central ................................................................... 65
3.31 Heydar Aliyev Cultural Central Plan ........................................................... 66
3.32 Heydar Aliyev Cultural Central Plan ........................................................... 66
3.33 Heydar Aliyev Cultural ................................................................................ 67
4.1 Bentuk alam dan proporsi yang dihasilkan .................................................. 74
4.2 Aplikasi golden rectangles pada bangunan Yunani Kuno ........................... 75
4.3 Gotheanum pertama, 1920, Dornach, Swiss ............................................... 76
4.4 Penelitian yang dilakukan oleh D’Arcy ...................................................... 77
4.5 Tassel House, oleh Victor Horta .................................................................. 79
4.6 Fasade Casa Mila (kiri) dan denah Casa Mila (kanan) ................................ 80
4.7 Park Guell, Barcelona .................................................................................. 80
4.8 Falling Water (kiri) dan Philip Johnson Wax Building (kanan) ................... 81
4.9 Einstein Tower di Potsdam-Berlin, Erich Mendlehson, 1912-22 ................. 82
4.10 TWA Terminal, Eero Saarimen (kiri) dan Sydney Opera House (kanan) ... 83
4.11 Berlin Philharmony, Hans Scharoun (kiri) dan Finlandiahall, Alvar Aalto
(kanan)................................................................................................................... 83
4.12 Siofok Lutheran Church 1986-1990............................................................. 83
4.13 Selfridge, Arsitektur biomorfik, Future System ........................................... 85
4.14 Tod’s Ometesando (kiri), Sendai Mediatheque (tengah), dan Hanamidori
Cultural Center (kanan) ......................................................................................... 86
4.15 Beijing National Stadium dan Beijing International Airport ........................ 87
4.16 Karya Pemenang Sayembara Evolo .............................................................. 88
4.17 Fallingwater .................................................................................................. 92
4.18 Fallingwater .................................................................................................. 93
4.19 Fallingwater 3rd Floor Plan............................................................................ 94

x
4.20 Fallingwater Interior, 4th Floor Plan ............................................................ 94
4.21 1st Floor Plan, Interior .................................................................................. 95
4.22 Fallingwater 2nd Floor Plan, Eksterior ....................................................... 96
4.23 Fallingwater Eksterior .................................................................................. 96
4.24 Fallingwater Layout Plan ............................................................................. 97
5.1 Pola Hubungan Ruang Makro ...................................................................... 99
5.2 Pola Hubungan Ruang Mikro......................................................................100
5.3. Site .............................................................................................................113
5.4. Delinasi Tapak ............................................................................................113
5.5 Data Tapak Klimatologi Matahari ..............................................................114
5.6 Output Zoning Perancangan Klimatologi Matahari ....................................115
5.7 Analisis Tapak Data Hujan .........................................................................116
5.8 Data Tapak Klimatologi Arah Angin ..........................................................117
5.9 Tanggapan Analisa Tapak Klimatologi Angin ...........................................118
5.10 Shading Device ..........................................................................................118
5.11 Data Eksisting Tapak .................................................................................119
5.12 Tanggapan Analisis Topografi Tapak ........................................................119
5.13 Jenis Dinding Penahan Tanah ....................................................................119
5.14 Penerapan Turap pada Tapak .....................................................................120
5.15 Data Kebisingan pada Tapak .....................................................................121
5.16 Data Akses Masuk Kedalam Tapak ...........................................................122
5.17 Data View Tapak........................................................................................123
5.18 Data Zonasi Tapak .....................................................................................123
5.19 Tanggapan Zonasi Tapak ............................................................................125
5.20 Konsep Akhir Zonasi .................................................................................126
6.1 Konsep Aplikasi Tematik. ...........................................................................127
6.2 Konsep Aplikasi Tematik. ...........................................................................128
6.3 Konsep Aplikasi Tematik. ...........................................................................129

xi
6.4. Konsep Aplikasi Tematik. ..........................................................................129
6.5. Konsep Aplikasi Tematik. ..........................................................................130
6.6. Konsep Analisa Tema ................................................................................130
6.7. Konsep Transformasi Zoning .....................................................................131
6.8. Konsep Blok Plan.......................................................................................132
6.9. Site Plan Konsep Tata Letak Massa ...........................................................133
6.10. Site Plan Konsep Sirkulasi dalam Tapak ...................................................133
6.11. Konsep Hirarki Ruang Luar .......................................................................134
6.12. Site Plan Konsep Tata Hijau Tapak ...........................................................135
6.13. Layout Plan Skema Sistem Utilitas Bangunan. .........................................136
6.14. Denah dan Pola Sirkulasi. ..........................................................................137
6.15. Konsep Sirkulasi Vertikal ..........................................................................138
6.16. Sirkulasi Vertikal .......................................................................................138
6.17. Skema Ruang Dalam/ Interior ....................................................................139
6.18. Isometri Struktur ........................................................................................140
6.19. Jenis-Jenis Dilatas Bangunan .....................................................................141
6.20. Rencana Struktur ........................................................................................142
6.21. Isometri Struktur dan Pondasi Telapak ......................................................142
6.22. Skema Denah Utilitas Bangunan ...............................................................143

xii
DAFTAR SKEMA
No Halaman
2.1. Kerangka Pikir .................................................................................................8
2.2. Proses Perancangan ..........................................................................................9

xiii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Budaya merupakan cara hidup yang dimiliki oleh sebuah kelompok dan
diturunkan dari generasi ke generasi. Budaya merupakan kebiasaan yang sudah ada
sejak lama. Kebiasaan tersebut terjadi secara turun temurun dan terus berlanjut
hingga sekarang. Sehingga budaya menjadi sejarah yang di dalamnya terdapat
banyak sekali pelajaran yang dapat diambil.
Budaya menjadi bagian penting bagi keberadaan suatu kelompok, karena
dapat menjadi identitas dari kelompok tersebut, terutama di Indonesia. Berbagai
etnik terdapat di Indonesia, di Indonesia terdapat 1.340 suku bangsa. Setiap etnik
memiliki perbedaaan dan keunikan masing-masing sesuai dengan ajaran nenek
moyang mereka. Salah satunya suku etnik Minahasa yang merupakan satu
kelompok etnik di nusantara yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat Minahasa
Minahasa merupakan salah satu etnis yang berdomisili di Sulawesi Utara,
Indonesia. Tahun 2001 Kabupaten Minahasa mulai dimekarkan yang kemudian
terbagi menjadi Kab.Minahasa, Kab.Minahasa Utara, Kab.Minahasa Selatan, Kota
Tomohon dan Kab.Minahasa Tenggara. Minahasa merupakan salah satu kabupaten
dengan 8 sub-etnik yaitu Tombulu(Tomohon), Tonsea (Minut), Toulour (Tondano),
Tountemboan (MInahasa Induk-Minsel), Tonsawang-Tombatu-Tondangow,
Pasan-Ratahan, Ponosokan, dan Bantik. Oleh karena hal itu, daerah minahasa layak
mendapat perhatian serta dukungan pemerintah, dapat dilihat dari semakin
banyaknya kelompok kesenian dan budaya, banyaknya festival dan seni budaya
yang diadakan, tersebarnya tim-tim kesenian dan budaya diluar dan didalam
Minahasa baik lokal maupun mancanegara. Hal ini dapat membuka peluang bagi
pelaku seni dan budaya (pelatih, pengamat, penyelenggara, peraga, pengusaha)
untuk mengembangkan potensi seni budaya serta memasarkan hasil/produk
kerajinan tradisional yang ada di Minahasa.
Banyak potensi-potensi budaya Minahasa yang kaya akan makna dan juga
pelajaran, namun segalah fasilitas yang ada di Minahasa saat ini belum cukup
memadai untuk mewadahi segala bentuk kegiatan pelestarian budaya Minahasa.

1
kebanyakan kegiatan seni dan juga budaya masih dilakukan di sebuah gedung
serbaguna. Tidak tersedianya wadah untuk menampung aktifitas pelestarian budaya
dan juga nilai-nilai seni dari budaya Minahasa inilah yang membuat pemahaman
terhadap nilai budaya pada masyarakat sudah mulai luntur.
Tak dipungkiri juga arus globalisasi yang semakin kuat dan pengaruh
budaya – budaya luar yang begitu cepat masuk ke tanah Minahasa membuat
keutuhan dan identitas diri kebudayaan Minahasa semakin luntur tiap harinya
terutama dampak nya pada generasi milenial ini yang semakin enggan untuk
mempertahankan dan menjunjung identitas diri mereka sebagai orang yang
berbudaya. Budaya asing yang masuk ke tanah Minahasa bisa dalam berbagai
bentuk. Terutama pada era teknologi seperti ini dimana keluar masuknya arus
informasi yang begitu cepat. Budaya asing dapat masuk melalui dunia digital
seperti internet, televisi, dan media sosial. Pada zaman sekarang kebanyakan
generasi milenial lebih memilih untuk tertarik dengan budaya-budaya luar tersebut
mulai dari mengikuti tren, budaya pop-kultur, bahkan sampai dengan cara berpikir.
Budaya asing tidak hanya masuk melalui dunia digital, juga masuk dalam bentuk
individualnya dimana turis-turis local dan manca negara yang semakin bertambah
banyak tiap tahunnya masuk ke tanah Minahasa.1 Ditambah dengan adanya
penerbangan langsung Manado-Cina pada Juli tahun 2016 membuka peluang
betambahnya jumlah turis yang datang ke Minahasa. Seperti halnya tujuan dari turis
yang berkunjung ke suatu tempat mereka datang untuk berwisata dan ingin
mengenal kebudayaan daerah tersebut yang merupakan identitas diri masyarakat di
daerah itu.
Berasal dari sinilah jika dilihat pada kondisi yang ada Budaya Minahasa
yang mengalami degradasi maka sebuah wadah yang dapat mempertahankan,
melestarikan dan menjaga nilai-nilai budaya adalah merupakan suatu kebutuhan
bagi masyarakat yang ada di minahasa. Hal ini merupkan kebutuhan yang harus
dipenuhi agar generasi – generasi berikutnya tidak kehilangan identitasnya di
tengah pengaruh globalisasi yang semakin cepat sebagai manusia yang berbudaya
bahkan juga untuk memperkenalkan Kebudayaan Minahasa ke pada dunia. Untuk

1
BPS Sulut Statistik Wisatawan Mancanegara Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2016 ( Manado :
2016) 9

2
itu perlu adanya sebuah objek yang dapat menjadi wadah untuk menampung setiap
aktivitas, mengembangkan kebudayaan, melestarikan kebudayaan serta
memperkenalkan kebudayaan sebagai identitas diri daerah maka muncullah sebuah
gagasan perancangan Pusat Kebudayaan Minahasa.

1.2 Identifikasi Masalah


• Arus globalisasi yang semakin kuat dan pengaruh masuknya budaya-
budaya asing ke tanah Minahasa membuat Budaya Minahasa
semakin lama semakin luntur dan kurangnya kecintaan terhadap
budaya oleh dari generasi – generasi milenial.
• Semakin bertambahnya jumlah wisatawan local dan mancanegara
yang ingin mengenal Kebudayaan daerah Minahasa
• Wadah kesenian dan kebudayaan yang telah ada sebelumnya belum
mampu untuk melestarikan dan mengembangkan kegiatan seni dan
budaya karena kurangnya rasa kepeduliaan disebabkan oleh
terbatasnya informasi serta promosi baik dari institusi yang
bersangkutan maupun dari pihak pemerintah setempat.
1.3 Rumusan Masalah
• Bagaimana menghadirkan sebuah objek kebudayaan yang menarik
dan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap budaya untuk generasi
– generasi di tengah arus globalisasi ?
• Bagaimana menghadirkan sebuah objek kebudayaan yang dapat
menampilkan suatu identitas diri dari suatu daerah yang dalam ini
kebudayaan Minahasa pada Wisatawan yang ingin mempelajari
kebudayaan Minahasa.
• Bagaimana menghadirkan suatu objek kebudayaan yang dapat
menjadi wadah sentralisasi Kebudayaan Minahasa untuk
melestarikan hasil-hasil kebudayaan dan kesenian, menampung
aktifitas – aktifitas kebudayaan, dan mengembangkannya.

3
1.4 Maksud dan Tujuan
1.4.1 Maksud
• Menganalisis segala bentuk kebudayaan Minahasa dalam bentuk
ruang dan bangunan dengan menggunakan pendekatan Arsitektur
Organik.
• Merancang bangunan Pusat Kebudayaan Minahasa yang berfungsi
sebagai sarana Rekreasi, Aktivitas, Edukasi budaya, Wisata dan
pelestarian Segala bentuk dari kebudayaan Minahasa.
1.4.2 Tujuan
• Merancang sebuah wadah yang berfungsi untuk melestarikan
Kebudayaan Minahasa, menampung segala bentuk aktivitas
kebudayaan Minahasa dan menambah kecintaan Masyarakat Lokal
akan kebudayaan Minahasa, dengan persyaratan arsitektural dan
memenuhi konsep pendekatan Arsitektur Organik.
• Merancang sebuah wadah yang berfungsi untuk menjadi Destinasi
wisata dan sarana untuk memperkenalkan Kebudayaan Minahasa
pada Dunia dengan persyaratan arsitektural dan memenuhi konsep
pendekatan Arsitektur Organik.
1.5 Lingkup Arsitektural
Pendekatan perancangan arsitektural pada dasarnya merupakan pendekatan
teknis yang didasarkan pada berbagai premis dalam bidang ilmu arsitektur, yang
secara khusus memberikan perhatian pada persoalan rancangan suatu lingkungan
binaan yang berupa gubahan bentuk dan ruang yang kontekstual dalam upaya
pemenuhan beragam fungsi tertentu. Pendekatan teknis ini akan menempatkan
objek perencanaan sebagai suatu lingkungan binaan yang merupakan suatu wujud
rancangan arsitektural berupa gubahan bentuk dan ruang, baik ruang dalam
(interior) maupun ruang luar (eksterior) yang memiliki kontekstualitas fungsional
(guna) serta identitas (citra) tertentu.

Pada perancangan ini lingkup arsitektural meliputi Pusat Kebudayaan atas


dasar letak dan fasilitasnya, dengan pendekatan Organic Architecture dimana
menekankan konsep struktur pada bangunan yang mengadaptasi lingkungan
sekitarnya menciptakan kesan bahwa bangunan itu sendiri sebagai sebuah satu

4
organisme. Menekankan permainan pada konsep antara indoor dan outdoor guna
menciptakan pengalaman ruang terbaik.

1.6 Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Membahas latar belakang, rumusan masalah, gagasan, tujuan dan sasaran


perancangan, lingkup arsitektural, skala pelayanan dan batasan proyek, pendekatan
perancangan, kerangka pikir, metode pembahasan, dan sistematika penulisan.

BAB II : DESKRIPSI OBJEK PERANCANGAN

Pada bab ini berisikan tentang tinjaunan atau analisis secara mendalam tentang
kawasan Pusat Kebudayaan Minahasa dan Resort yang akan dihadirkan.

BAB III : KAJIAN TEMA PERANCANGAN

Bab ini berisikan kajian mengenai pembahasan Arsitektur Organik secara teoritis
seperti deskripsi dan perkembangan serta identifikasi aspek-aspek yang muncul
dalam Arsitektur Organik, secara studi literatur dan studi kasus. Pembahasan ini
pun menjelaskan asosiasi antara tema dengan objek dan lokasi.

BAB IV : ANALISIS PERANCANGAN

Bab ini berisi mengenai menganalisis lokasi dan tapak, analisis tapak dari lokasi
yang sudah ditentukan dan pemilihan tapak pada lokasi. serta bentukan pada ruang,
struktur, dan massa terhadap objek perancangan.

BAB V : KONSEP UMUM PERANCANGAN

Menjelaskan sistematika Kriteria Perancangan dan Konsep Perancangan

BAB VI : GAGASAN AWAL PERANCANGAN

Membahas tentang kriteria kualitas perancangan dan proses perancangan, mulai


mengacu pada konsep-konsep awal perancangan, serta terkandung unsur
desain/ide-ide yang menggambarkan awal desain.

5
BAB II
METODE PERANCANGAN

2.1 Pendekatan Perancangan Dan Kerangka Pikir


2.1.1 Pendekatan Perancangan
• Pendekatan melalui tipologi objek
Perancangan dengan pendekata tipologi dibedakan atas dua tahap
kegiatan yaitu tahap pengidentifikasain tipe tipologi dan tahap
pengolahan tiopologi, dengan menggunakan studi literatur dean
studi komparasi terhadap objek sejenis yaitu Resort Pusat
Kebudayaan.
• Pendekatan melalui kajian tapak dan lingkungannya
Dalam pendekatan ini perlu dilakukan analisis pemilihan lokasi apak
dan analisis tapak terpilih yang akan digunakan beserta lingkungan
sekitar
• Pendekatan Tematik
Pendekatan tema yang diambil adalah Organic Architecture, sebagai
suatu metode dan acuan untuk memunculkan suatu wujud
arsitektural dalam perancangan Pusat Kebudayaan Minahasa yang
diharapkan deapat menjadi inovasi dalam menghadirkan suatu
bangunan kultur yang berbeda dengan bangunan – bangunan kultur
lainnya.

• Metode yang dilakukan untuk memperoleh pendekatan perancangan


di atas adalah:
Metode pengumpulan data yaitu studi yang dilakukan yaitu dengan
metode deskriptif. Pengambilan data yang dilakukan adalah
o Kajian Literarur
Tahap ini mengawali sebuah proses berpikiur m,engenai
sebuah objek yuang akan dirancang yang dilandasi oleh
informasi seputar tema yang diangkat. Metode ini
dairaahkan untuk menelusuri teori-teori yang mendukung
penghadiran objek rancangan. Kajian informasi ini baik

6
terhadap yang terbentuk referensi teoritis maupun yang
berrbentuk jaian literatur juga digunakan untuk mencermati
permasalahan pda objek rancangan melalui studi banding
preseden objek dimana proses ini diarahkan untuk
memperoleh imaging tema.
o Survey
Merupakan cara yang ditempuh untuk pengamatan dan
pendokumentasian berbagai karakteristik tapak dan
lingkungan yang mendukung kehadiran objek rancangan.
o Analisis
Analisis dikaji sesuai metode desain dimana analisis
diharapkan mampu melahirkan berbagai alternative yang
mendekatkan pada image objek yang ideal, pengkajian aspek
bentuk ruang, fungsi, tapak, strukutr, dan utilitas yang
langsung mengkaji konsep – konsep utama desain
berdasarkan input data data yang ada untuk mendapatkan
menejemen dan alternative solusi, tetapi tetap terbuka untuk
kemungkinan kajian terjadi siklus yang berulang-ulang.
o Eksplorasi Desain
Dalam proses desain, perancangan sedapat mungkin
merangkul semua alternative solusi kedalam transformasi
dengan membawa serta muatan teoritis yang berkenan
dengan tema, penulusuran arsitektural ini dilaksanakan
dengan berbagai alternative medium seperti studi model
makt, teknis sketsa maupun studi dengan CAD dan sketchup.

7
2.1.2 Kerangka Pikir
Kerangka pikir adalah suatu model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah riset.
Dalam hal ini secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variable independen
dan dependen.

Skema 2.1. Kerangka Pikir


Sumber : Adrian Manoppo, 2019

8
2.2 Proses Perancangan Dan Strategi Perancangan
2.2.1. Proses Perancangan

ORGANIC ARCHITECTURE

Skema 2.2. Proses Perancangan


Sumber : Adrian Manoppo, 2019

9
2.2.2 Strategi Perancangan
Strategi perancangan dalam merancang objek “Pusat Kebudayaan
di Tondano “ dengan Pendekatan Organic Architecture, yang menerapkan konsep
bangunan menyatu dengan alam sekitarnya.

10
BAB III

DESKRIPSI OBJEK RANCANGAN

3.1 Pengertian Objek Rancangan


3.1.1 Pengertian Secara Etimologi
Pengertian objek rancangan yang dipilih adalah Pusat Kebudayaan
Minahasa dan yang diartikan secara etimologi sebagai berikut :
➢ Pusat Kebudayaan
o Budaya :
▪ Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Budaya
merupakan suatu adat istiadat, atau sesuatu yang sudah
menjadi kebiasaan yang sangat sukar untuk dirubah.
▪ Menurut Wikipedia, budaya adalah suatu cara hidup yang
berkembang, dan dimiliki Bersama oleh sebuah kelompok
orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
o Pusat : inti dari sesuatu yang tersebar
o Pusat kebudayaan : sebuah wadah yang menjadi pusat sebuah
kebudayaan tertentu
➢ Minahasa :
o Nama kabupaten di Sulawesi Utara
o Nama suku di provinsi Sulawesi Utara
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata Pusat merupakan
tempat yang letaknya di bagian tengah, pangkal yang menjadi pimpinan
(Depdikbud, III, 2002). Suatu betuk kesatuan organisasi yang merupakan
induk dari suatu rangkaian aktivitas dengan suatu tujuan. Kata kebudayaan
berasal dari kata budh dalam bahasa Sanskerta yang berarti akal, kemudian
menjadi kata budhi (tunggal) atau budhaya (majemuk), sehingga
kebudayaan diartikan sebagai hasil pemikiran atau akal manusia. Dalam
bahasa Inggris, kebudayaan adalah culture, berasal dari kata culere (bahasa
Yunani) yang berarti mengerjakan tanah. Kata cultuur, dalam bahasa
Belanda masih mengandung pengertian pengerjaan tanah dan sekaligus

11
juga berarti kebudayaan seperti kata culture dalam bahasa inggris.
Sedangkan arti kata Kebudayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (
KBBI) adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia
seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.3
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa “Pusat
Kebudayaan Minahasa” adalah sebuah wadah sentralisasi kebudayaan
Minahasa yang dimana dia menampung segala bentuk hasil- hasil
kebudayaan dan hasil kesenian yang sudah diwariskan secara turun
temurun.
3.1.2 Pengertian Kebudayaan Menurut Para Ahli
a. Ki Hajar Dewantara

Kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara berarti buah budi manusia


adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan
zaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia
untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan
penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya
bersifat tertib dan damai.

b. Sutan Takdir Alisyahbana


Kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir, sehingga menurutnya
pola kebudayaan itu sangat luas sebab semua laku dan perbuatan tercakup di
dalamnya dan dapat diungkapkan pada basis dan cara berpikir, termasuk di
dalamnya perasaan karena perasaan juga merupakan maksud dari pikiran.
c. Koentjaraningrat
Kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus
dibiasakan dengan belajar serta keseluruhan dari budi pekertinya.

d. A. L. Kroeber dan C. Kluckhohn


A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn mengatakan bahwa kebudayaan adalah
manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas – luasnya4.
e. C. A. van Peursen

3
Kamus Besar Bahasa Indonesia
4
Culture, a Critical Review of Concepts and Definitions (1952)

12
C.A. van Peursen mengatakan bahwa dewasa ini kebudayaan diartikan
sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan kehidupan setiap kelompok
orang. Berlainan dengan hewan, manusia tidak dapat hidup begitu saja di tengah
alam. Oleh karena itu, untuk dapat hidup, manusia harus mengubah segala
sesuatu yang telah disediakan oleh alam. Misalnya, beras agar dapat dimakan harus
diubah dulu menjadi nasi.
Dikutip oleh Prof. Harsojo bahwa kebudayaan adalah satu keseluruhan
yang kompleks, yang terkandung di dalamnya pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan kemampuan yang lain serta
kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota dari suatu
masyarakat5. kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari
dan hasil-hasil dari tingkah laku, yang unsur-unsur pembentuknya didukung dan
diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.6
Maka dapat disimpulkan Pusat Kebudayaan adalah tempat yang
merupakan pusat/inti seluruh aktivitas secara kompleks, yang di dalamnya
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan
kemampuan-kemampuan yang lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh
manusia sebagai anggota dari suatu masyarakat.

3.2 Deskripsi Objektif


3.2.1 Kedalaman Makna Objek Rancangan

A. Kebudayaan

i. Unsur-unsur Kebudayaan
Unsur kebudayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti suatu
kebudayaan yang dapat digunakan sebagai satuan analisis tertentu. Dengan
adanya unsur tersebut, kebudayaan di sini lebih mengandung makna totalitas
daripada sekedar penjumlahan unsur – unsur yang terdapat di dalamnya. Oleh
karena itu, dikenal adanya unsur– unsur universal yang melahirkan kebudayaan
universal ( cultursl universal ), Menurut C. Kluckhohn ada tujuh unsur
kebudayaan universal, yaitu :7

5
"Primitive Cultur" E.B.Taylor
6
R. Linton (1947) dalam bukunya "The cultural background of personality"
7
Kluckhon, Universal Categories of Culture

13
1. Sistem religi dan upacara keagamanan.
2. Sistem organisasi kemasyarakatan.
3. Sistem pengetahuan.
4. Sistem mata pencaharian hidup.
5. Sistem teknologi dan peralatan
6. Bahasa.
7. Kesenian.
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur
kebudayaan, antara lain sebagai berikut :
a. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur
pokok, yaitu :
1. Alat – alat teknologi.
2. Sistem ekonomi.
3. Keluarga.
4. Kekuasaan Politik
b. Bronislaw Malinowski mengatakan 4 unsur pokok yang meliputi :
1. Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama
antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri
dengan alam sekelilingnya.
2. Organisasi ekonomi.
3. Alat – alat dan lembaga atau petugas – petugas untuk
pendidikan ( keluarga adalah lembaga pendidikan utama ).
c. Abdulkadir Muhammad (1987), menyebutkan tiga unsur budaya dalam
diri manusia, yaitu:
1. Unsur cipta (budi), berkenaan dengan akal (rasio), yang
menimbulkan ilmu dan teknologi (science and technology). Dengan
akal itu manusia menilai mana yang benar dan mana yang tidak benar
menurut kenyataan yang diterima oleh akal (nilai kebenaran atau nilai
kenyataan).
2. Unsur rasa (Estetika), yang menimbulkan kesenian, dengan rasa
itu manusia menilai mana yang indah dan mana yang tidak indah
(nilai keindahan).

14
3. Unsur karsa (etika), yang menimbulkan kebaikan, dengan karsa
itu manusia menilai mana yang baik dan mana yang tidak baik (nilai
kebaikan atau nilai moral).

ii. Wujud Kebudayaan


Koentjaraningrat dalam karyanya Kebudayaan, Mentalitas dan
Pembangunan menyebutkan bahwa paling sedikit ada tiga wujud kebudayaan,
yaitu:
1. Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma,
peraturan, dan sebagainya.
2. Sebagai suatu kompleks aktivitas kelakukan berpola dari manusia
dalam masyarkat.
3. Sebagai benda – benda hasil karya manusia.

Menurut J. J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga,


yakni: Gagasan, Aktivitas, dan Artefak.
1. Gagasan ( wujud ideal )
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk
kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan
sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba dan disentuh. Wujud
kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga
masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu
dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada
dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat
tersebut.
2. Aktivitas ( tindakan )
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola
dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan
sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang
saling berinteraksi. Mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia
lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati
dan disokumentasikan.

15
3. Artefak ( karya )
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dan aktivitas,
perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-
benda atau hal-hal yang paling dapat diraba, dilihat dan didokumentasikan.
Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

iii. Sifat- sifat kebudayaan


Secara umum, akan dikemukakan tujuh sifat kebudayaan yaitu :
1. Kebudayaan beraneka ragam
Keanekaragaman kebudayaan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain
kerena manusia tidak memiliki struktur anatomi secara khusus pada
tubuhnya sehingga harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Oleh
kerena itu, kebudayaan yang diciptakan pun disesuaikan dengan
kebuhtuhan hidupnya. Selain itu, keanekaragaman juga disebabkan oleh
perbedaan kadar atau bobot dalam kontak budaya satu bangsa dengan
bangsa lain. Sehingga pakian, rumah, dan makan bangsa Indonesia di
daerah tropis jauh berbeda dengan yang diperlukan oleh bangsa Eskimo
di daerah kutub.
2. Kebudayaan dapat diteruskan secara sosial dengan pelajaran
Penerusan kebudayaan dapat dilakukan secra horizontal dan vertikal.
Penerusan secara horizontal dilakukan terhadap satu generasi dan bisanya
secara lisan, sedangkan penerusan vertikal dilakukan antar generasi dengan
jalan melalui tulisan (literatur). Dengan daya ingat yang tinggi, manusia
mampu menyimpan pengalaman sendiri maupun yang diperoleh dari orang
lain.

3. Kebudayaan dijabarkan dalam komponen-komponen biologi,


psikologi, dan sosiologi.
Biologi, psikologi, dan sosiologi merupakan tiga komponen yang
membentuk pribadi manusia. Secra biologis, manusia memiliki sifat-sifat
yang diturunkan oleh orang tuanya (hereditas) yang diperoleh
sewaktudalam kandungan, sebagai kodrat pertama (primary nature ).
Bersamaan dengan itu, manusia juga memiliki sifat-sifat psiologi yang

16
sebagai diperolehnya dari orang tuanya sebagai dasar atau pembawan.
Setelah seorang bayi dilahirkan dan berkembang menjadi anak dalam alam
kedua (secondary nature), terbentukalah pribadinya oleh lingkungan,
khusunya melalui pendidikan. Manusia sebagai unsur masyarakat dalam
lingkungan ikut serta dalam pembentukan kebudyaan.
4. Kebudayaan mempunyai struktur
Curtural universial yang dikemukakan, unsur-unsurnya dapat dibagi
dalam bagian-bagian kecil yang disebut traits complex, lalu terbagi dala
trait, dan terbagi dalam items. Misalnya, sistim ekonomi dapat dibagi
antra lain menjadi bertani. Untuk bertani diperlukan bajak dan cangkul.
Kedua alat tersebut dapat dipisahkan lagi menjadi unsur yang terkecil.
Begitu pula dalam kegiatan nasional terdiri atas kebudayaan suku-bangsa
yang merupakan subkultur yang dapat dibagi lagi menurut daerah,
agama, adat istiadat, dan sebagainya.
5. Kebudayan mempunyai nilai
Nilai kebudayaan (cultural value) adalah relatf, bergantung pada siapa
yang memberikan nilai, dan alat pengukur apa yang dipergunakan. Bangsa
Timur misalnya, cenderung mempergunakan ukuran rohani sebagai alat
penilaiannya, sedangkan bangsa Barat dengan ukuran materi.
6. Kebudayaan mempunyai sifat statis dan dinamis
Kebudayaan dan masyarakat sebenarnya tidak mungkin statis 100 %, sebab
jika hal itu terjadi sebaiknya dikatakan mati saja. Kebudayan dikatakan
statis apabila suatu kebudayaan sangat sedikit perubahan dalam tempo yang
lama. Sebaliknya, apabila kebudayaan cepat berubah dalam tempo singkat
dikatakan kebudayaan itu dinamis.

7. Kebudayaan dapat dibagi dalam bermacam-macam bidang atau aspek


Ada kebudayaan yang sifatnya rohani dan ada yang sifatnya
kebendaan (spritural and material culture), ada kebudayaan darat dan
kebudayan maritim (terra and aqua culture), dan ada kebudayaan
menurut daerah (kebudayaan suatu suku bangsa atau subsuku bangsa, areal
cuture). Semuanya bergantung pada siapa yang mau membedakan dan

17
untuk apa dilakukan. Masing-masing masalah pada pokok dalam skema
tersebut dapat dijabarkan, misalnya soal manusia dan waktu.

iv. Macam-macam kebudayaan


Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal,
maupun kebudayaan asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia
merdeka pada tahun 1945.
a. Kebudayaan Nasional.
Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.11 tahun 1998 yakni :
"Kebudayaan nasional yang berdasarkan pancasila adalah
perwujudan cipta,karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan
keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan
harkat dan martabat bangsa, serta diarahkan untuk memberikan
wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap
kehidupan bangsa. Dengan demikian pembangunan nasional merupakan
pembangunan yang berbudaya.” 8
Disebut juga pada pasal selanjutnya bahwa kebudayaan
nasional juga mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa, tampaklah
bahwakebudayaan nasional yang dirumuskan oleh pemerintah
berorientasi pada pembangunan nasional yang dilandasi oleh semangat
pancasila. Budaya Nasional Indonesia sulit untuk didefinisikan ke dalam
satu jenis, kerena pada dasarnya Negara Indonesia memiliki banyak
keberagam dalam suku, sehingga secara otomatis memiliki beragam jenis
budaya khas daerah. Setiap daerah memiliki identitas budaya masing-
masing. Hal ini lebih mengarahkan kepada Budaya Tradisional Indonesia.
b. Kebudayaan Lokal
Budaya lokal sering disebut juga sebagai kebudayaan daerah.
Menurut Parsudi Suparlan ada 3 macam kebudayaan dalam Indonesia yang
majemuk, yaitu:

8
TAP MPR No.11 tahun 1998

18
• Kebudayaan nasional Indonesia yang berlandasan Pancasila dan
UUD 1945.
• Kebudayaan suku bangsa, terwujud pada kebudayaan suku bangsa
dan menjadi unsur pendukung bagi lestarinya kebudayaan suku bangsa
tersebut.
• Kebudayaan umum lokal yang berfungsi dalam pergaulan umum
(ekonomi, politik, sosial, dan emosional) yang berlaku dalam lokal-lokal di
daerah.
Budaya Tradisional setiap daerah Indonesia diturunkan oleh nenek
moyang masing-masing. Budaya tersebut memiliki keunikan masing-
masing yang dapat dilihat lasung wujud kebudayaan itu sendiri. Berikut ini
adalah elemen Budaya Tradisional Indonesia secara umum :

1. Tarian
2. Ritual
3. Omamen
4. Motif Kain
5. Alat Musik
6. Cerita Rakyat
7. Musik dan Lagu
8. Data makanan
9. Seni Pertunjukan
10. Produk Arsitektur
11. Pakaian Tradisional
12. Permainan Tradisional
13. Senjata dan Alat Perang
14. Naskah Kuno dan Prasasti

19
B. Minahasa
i. Letak Geografis
Minahasa yang berada di Propinsi Sulawesi Utara yang beribukota Manado
dan mempunyai luas daerah kurang lebih 6.000km2 terletak antara 0-5 derajat
Lintang Utara, dan 120-128 derajat Bujur Timur, adapun perbatasannya antara lain:
• Sebelah barat : Propinsi Gorontalo
• Sebelah Utara : Kepulauan Filipina
• Sebelah Timur : Propinsi Maluku
• Sebelah Selatan : Propinsi Maluku
Secara topografis sebagian besar Minahasa merupakan daerah pegunungan sampai
berbukit dan sebagian daerah dataran dan daerah pantai.
Nenek moyang orang Minahasa ditandai dengan adanya migrasi orang-
orang Mongol pada tahun 1000 BC, melalui Taiwan dan Filipina. Kemudian pada
abad ke-17 ketika bangsa Spanyol terusir dari Maluku dikejar oleh orang-orang
Portugis, dan lari ke Filipina, meninggalkan jejaknya pada keturunan orang
Minahasa. Orang Minahasa memiliki kulit yang ‘merah jambu’, yang merupakan
campuran kuning dari orang-orang Mongol dan kemerah-merahan dari orang-orang
Eropa, terutama Spanyol, Portugis dan Belanda.
Penduduk Minahasa dapat dibagi ke dalam delapan kelompok subetnik, yaitu:
• Tounsea
• Toumbulu
• Tountembuan
• Toulour
• Tounsawang
• Pasan Ratahan
• Ponosukan Belang, dan
• Bantik
Minahasa berasal dari kata ‘Minaesa’ yang berarti persatuan. Orang Minahasa
memiliki kejuangan identitas sehingga masyarakat ini tidak merasa terjajah.
Kompeni VOC melakukan pendekatan dengan masyarakat Minahasa bukan dengan
tekanan militer, bahkan terbentuk pakta keamanan bersama antara Dewan Wali

20
Pakasaan dengan Belanda. Hal ini ditandatangani pada perjanjian 10 Januari 1679,
yang secara implisit Belanda mengakui eksistensi masyarakat Manahasa, dan
mempunyai kedudukan sama tinggi dengan Belanda. Sehingga pada waktu
penjajahan Belanda, Tanah Minahasa dijuluki sebagai ‘De Twaalfde Provintie van
Nederland’.

ii. Sistem Budaya


Lambang Minahasa
Lambang Minahasa berupa perisai bergambar burung hantu. Burung ini
menjadi simbol kebijaksanaan atau kearifan, dengan matanya yang tajam yang
dapat berputar 360 derajat. Mereka menyebutnya ‘Burung Manguni’. Bulu sayap
Manguni sebanyak tujuh belas helai, melambangkan tanggal hari kemerdekaan
Republik Indonesia. Bulu ekor Manguni lima helai melambangkan Pancasila. Di
bagian dada Manguni terdapat gambar pohon kelapa, sebagai komoditi utama
Minahasa.

Gambar 3.1 Lambang Minahasa, Dr. Sam Ratulangi, Kabasaran


Sumber : www.google.com

Motto / Slogan: ‘I Yayat Uu santi’ yang berarti ‘Siap dan bertekad bekerja
keras demi pembangunan’ . Yang dijawab: ‘Uhuuy’!!. Arti harfiahnya adalah
‘Angkatlah dan acung-acungkanlah pedangmu!’, Yang dijawab “Tentu itu!!”.
Untuk masa kini artinya: orang Minahasa melengkapi diri dengan segala
kearifan, hikmat, keterampilan ilmu pengetahuan dan teknologi serta cekatan.

Falsafah Hidup
Moto keturunan Minahasa adalah: “Si tou timou tumou tou”, artinya
‘Manusia hidup untuk menghidupkan manusia’ Tou: manusia; timou: hidup ;

21
tumou: mengembangkan , merawat, dan mengajar.
“Si Tou Timou Toua”: Pemimpin harus dapat menerapkan pola kepemimpinan
sayang menyayangi, baik hati dan saling mengingat kepada sesama manusia.
Premis budaya egalitarian tersebut menunjukkan pula sisi lainnya, yaitu resiprositas
yang berwujud gagasan persatuan (maesa-esa’an), ikatan batin (magenang-
genangan, mailek-ilekan) dan kerjasama (masawang-sawangan).
Penggunaan bahasa
Malayu Manado membentuk suatu ciri atau identitas etnik.

iii. Sistem Sosial


Mapalus adalah bentuk kerjasama yang tumbuh dalam masyarakat di
Minahasa untuk saling membantu dan tolong menolong menghadapi hidup, baik
perseorangan maupun kelompok. Setiap kelompok mapalus dipimpin oleh seorang
ketua, dahulu disebut tu’a im palus. Bentuk mapalus dikenal dalam beberapa aspek
kegiatan masyarakat seperti
Kegiatan sosial, antara lain:
• Mendu impero’ongan, suatu kegiatan kerja bakti kampung atau lingkungan
• Berantang, adalah kegiatan membantu keluarga yang terkena kedukaan
• Sumakey, adalah kegiatan bersama dalam acara syukuran
• Kegiatan ekonomi dan keuangan antara lain:
• Ma’endo, usaha bersama menggarap kebun dan perbaikan rumah
• Pa’anda, yaitu aktivitas keuangan dalam bentuk arisan
Kerukunan yang mencakup wilayah kecamatan atau wilayah distrik disebut
pakasaan atau walak.

Gambar 3.2 Budaya Mapalus Minahasa


Sumber : www.waraneytoundanow.blogspot.com

iv. Unsur Kebudayaan yang Universal


Bahasa

22
Terdapat delapan bahasa daerah yang dipergunakan oleh delapan etnis
seperti Tounsea, Toumbulu, Tountembuan, Toulour, Tounsawang, Pasan Ratahan,
Ponosukan Belang, dan Bantik. Selain Bahasa Indonesia, ada yang menggunakan
bahasa Belanda, khususnya para orangtua yang menguasai bahasa Belanda.
Bahasa Malayu Manado adalah bahasa umum yang dipergunakan dalam
komunikasi antara sub-sub etnik Minahasa maupun antara mereka dengan
penduduk dari suku lainnya terutama di kota orang menggunakan bahasa Malayu
Manado sebagai bahasa ibu.

v. Sistem Organisasi Sosial


Sistem Pemerintahan
Pemimpin Minahasa jaman dahulu terdiri dari dua golongan, yakni Walian
dan Tona’as. Walian berasal dari kata ‘wali’ yang artinya mengantar jalan bersama
dan memberi perlindungan. Golongan ini mengatur upacara agama asli Minahasa
hingga disebut golongan Pendeta. Mereka ahli membaca tanda-tanda alam dan
benda langit, menghitung posisi bulan dan matahari dengan patokan gunung,
mengamati munculnya bintang-bintang tertentu seperti ‘Kateluan’ (bintang tiga),
‘Tetepi’ (meteor) untuk menentukan musim menanam, silsilah, menghafal cerita
leluhur Minahasa, ahli membuat kerajinan peralatan rumahtangga seperti menenun
kain, menganyam tikar, keranjang, sendok kayu, dan gayung air. Golongan kedua
adalah golongan Tona’as yang mempunyai kata asal ‘Ta’as’. Kata ini diambil dari
nama pohon yang besar dan tumbuh lurus ke atas, dikaitkan dengan segala sesuatu
yang berhubungan dengan kayu-kayuan seperti hutan
Sejak dahulu di Minahasa tidak terdapat kerajaan atau tidak mengangkat raja
sebagai kepala pemerintahan. Yang ada adalah:
Walian: pemimpin agama serta dukun
• Tona’as: orang keras, ahli bidang pertanian, kewanuaan, mereka yang
dipilih menjadi kepala walak
• Teterusan: penglima perang
• Potuasan: penasehat
Kepala pemerintahan adalah kepala keluarga yang gelarnya adalah Paedon
Pati’an yang sekarang kita kenal dengan sebutan Hukum Tua. Kata ini berasal dari

23
Ukung Tua yang berarti Orang Tua yang melindungi.
Sistem Kemasyarakatan
• Awu dan Taranak
• Keluarga batih (rumah tangga) disebut Awu.
Bangsal
Dari perkawinan terbentuklah keluarga besar yang meliputi beberapa
bangsal. Kompleks bangsal penduduk yang berhubungan kekeluargaan dinamakan
Taranak. Pimpinan Taranak dipegang oleh Aman dari keluarga cikal bakal yang
disebut Tu’ur. Tugas utama Tu’ur melestarikan ketentuan adat.
Taranak, Roong / Wanua, Walak
Perkawinan antar anggota Taranak membentuk kompleks yang semakin
luas. Akibatnya terciptalah kompleks bangsal dalam satu kesatuan yang disebut
Ro’ong atau Wanua. Wilayah hukum Wanua meliputi kompleks bangsal itu sendiri
dan wilayah pertanian dan perburuan sekitarnya. Pemimpin Ro’ong atau Wanua
disebut Ukung. Ro’ong atau Wanua dibagi dalam beberapa bagian yang disebut
Lukar.
Paesa in Deken
Paesa in Deken berarti tempat mempersatukan pendapat. Di Minahasa tidak
pernah ada pewarisan kedudukan, bila seorang Tu’ur meninggal dunia, para
anggota Taranak, baik wanita maupun pria yang sudah dewasa akan mengadakan
musyawarah untuk memilih pemimpin baru. Dalam pemilihan, yang menjadi
sorotan adalah kualitas. Kriteria kualitas itu ada tiga (Pa’eren Telu), yaitu:
• Nagasan: Mempunyai otak, dia mempunyai keahlian mengurus Taranak
atau Ro’ong
• Niatean: Mempunyai hati, yaitu mempunyai keberanian, ketekunan,
keuletan menghadapi segala persoalan, sanggup merasakan yang dirasakan
anggota lain.
• Mawai: Mempunyai kekuatan dan dapat diandalkan
Kawanua
Kawanua, diartikan sebagai penduduk negeri atau wanua yang bersatu atau
‘Mina-Esa’ (Orang Minahasa). Pengertian utama dari kata Wanua lebih mengarah

24
pada wilayah adat dari Pakasa’an (kesatuan sub-etnis) yang mengaku turunan Toar
dan Lumimu’ut. Turunan melalui perkawinan dengan orang luar, Sepanyol,
Belanda, Ambon, Gorontalo, Jawa, Sumatra, dan lain-lain. Orang Minahasa boleh
mendirikan Wanua di luar Minahasa. Jadi kawanua dapat diartikan sebagai Teman
Satu Negeri, satu Ro’ong, satu kampung.
c) Organisasi Sosial
Sistem kependudukan dalam pemukiman dan pedesaan. Pola
perkampungan di Minahasa memiliki ciri sebagai berikut:
Wanua, yaitu sebutan bagi desa anak, desa, maupun kelompok desa
Pola tinggal masyarakat bersifat menetap
Kelompok rumahnya mempunyai bentuk memanjang mengikuti jalan raya
Bentuk rumah menggambarkan status seseorang dalam masyarakat
Jalan raya adalah urat nadi desa
d) Sistem Kekerabatan
Orang Minahasa bebas untuk menentukan jodohnya sendiri, namun dikenal
juga penentuan jodoh atas kemauan orangtua. Dalam perkawinan ada adat
eksogami yang mewajibkan orang kawin di luar family. Sesudah menikah mereka
tinggal menurut aturan neolokal (tumampas), namun adat ini tidak diharuskan.
Rumah tangga (sanga awu, atau dapur) baru dapat tinggal dalam lingkungan
kekerabatan pihak suami maupun pihak isteri sampai mereka mempunyai rumah
sendiri.

vi. Sistem Ekonomi


Minahasa terkenal akan hasil perkebunannya, terutama kelapa, cengkeh,
kopi, pala, coklat, panili, jahe putih, dan jambu mete. Enau merupakan sumber nira
sebagai bahan minuman terkenal di Minahasa, yaitu saguer, di samping bahan untuk
gula merah. Terdapat perikanan laut dan perikanan darat. Pengembangan perikanan
laut berpusat di Aertembaga, terutama penangkapan dan pengolahan cakalang.
Binatang yang umum dimakan antara lain: babi hutan, tikus hutan (ekor
putih) dan kalong. Yang jarang dimakan karena sudah langka adalah: rusa, anoa,
babirusa, monyet, ular piton, biawak, ayam hutan, cuscus, telur burung laleo, dan
berbagai jenis unggas lainnya. Binatang yang tidak terdapat di daerah lain adalah:

25
Tangkasii (Tarcius spectrum, Kera Mini), Burung Maleo, Burung Taong, anoa, babi
rusa, dan ikan purba Raja Laut (Coelacant). Minahasa kaya akan bahan tambang,
antara lain: tembaga, emas, perak, nikel, titanium, mangan, pasir besi, dan kaolin.
Jenis kayu yang berharga, antara lain: eboni (kayu hitam), kayu besi, kayu
linggua, kayu cempaka, rotan dan dammar.

vii. Sistem TeknologiPeralatan teknologi tradisional, berupa:


- Alat-alat produksi, termasuk produksi makanan
- Alat-alat transportasi
- Peralatan perang:
• senjata: pedang yang melebar di bagian ujungnya dan disebut santi
• baju perang dari kulit sapi atau anoa yang disebut wa’teng
• topi dengan hiasan bulu dan paruh burung enggang
• perisai kayu yang disebut kelung
• wadah berupa peti kayu
• alat-alat menyalakan api
- teknologi pembuatan pakaian berupa cidako dan beberapa bentuk motif hias kain
tenun yang dinamakan motif tolai (ekor ikan), yang melingkar seperti ujung
tanaman merambat atau taring babi rusa
- perumahan (rumah panjang yang disebut Wale Wangko)

viii. Sistem Religi


Unsur-unsur kepercayaan pribumi merupakan peninggalan sistem religi
sebelum berkembangnya agama Nasrani mau pun Islam. Unsur ini mencakup
konsep dunia gaib, makhluk dan kekuatan adikodrati (yang dianggap ‘baik’ dan
jahat’ serta manipulasinya, dewa tertinggi, jiwa manusia, benda berkekuatan gaib,
tempat keramat, orang berkekuatan gaib, dan dunia akhirat).
Unsur religi pribumi terdapat dalam berbagai upacara adat yang
berhubungan dengan peristiwa lingkaran hidup individu, seperti kelahiran,
perkawinan, kematian, maupun pemberian kekuatan gaib. Unsur ini tampak dalam
wujud kedukunan (sistem medis makatana) yang sampai sekarang masih hidup.
Dalam mitologi orang Minahasa dahulu mengenal banyak dewa. Dewa oleh
penduduk disebut empung atau opo, dan untuk dewa yang tertinggi disebut Opo

26
Wailan Wangko. Dewa yang penting sesudah dewa tertinggi adalah Karema. Opo
Wailan Wangko dianggap sebagai pencipta seluruh alam dengan isinya. Karema
yang mewujudkan diri sebagai manusia adalah penunjuk jalan bagi Lumimu’ut
(wanita sebagai manusia pertama) untuk mendapatkan keturunan seorang pria yang
kemudian dinamakan To’ar, yang juga dianggap sebagai pembawa adat, khususnya
cara-cara pertanian, yaitu sebagai cultural hero (dewa pembawa adat).
Roh leluhur juga disebut opo, atau sering disebut datu yang pada masa
hidupnya adalah orang yang dianggap sakti (bisa kepala walak dan komunitas desa,
tona’as). Mereka dalam hidupnya juga memiliki keahlian dan prestasi. Roh leluhur
suka menolong manusia yang dianggap sebagai cucu mereka (puyun) apabila
mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan. Konsepsi makhluk halus lainnya
seperti hantu adalah penunggu, lulu, puntianak, dan pok-pok. Untuk menghadapi
gangguan maklhuk halus peranan opo-opo diperlukan. Konsepsi jiwa dan roh ini
disebut katotouan. Unsur kejiwaan dalam kehidupan manusia adalah gegenang
(ingatan), pemendam (perasaan), dan keteter (kekuatan). Gegenang adalah unsur
utama dalam jiwa.
Unsur kejiwaan dalam kehidupan manusia adalah gegenang (ingatan),
pemendam (perasaan), dan keteter (kekuatan). Gegenang adalah unsur utama dalam
jiwa. Upacara keagamaan pribumi masih banyak dilakukan pada malam hari, bisa
di rumah, tempat keramat, seperti kuburan opo-opo, batu besar dan di bawah pohon
besar, di Watu Pinawetengan, tempat di mana secara mitologis paling keramat di
Minahasa.
Agama resmi orang Minahasa adalah Protestan, Katholik, dan Islam.
Komponen pribumi terpadu bersama komponen Kristen di luar upacara formal
gerejani, seperti dalam upacara life circles dan dalam kehiduan sehari-hari.

ix. Batu-batu Megalit


Secara garis besar benda megalit yang ditemukan di Minahasa dapat
dibedakan menjadi beberapa megalit, yaitu: peti kubur, menhir, lumpang batu, batu
bergores, altar batu, batu dakon, arca batu atau arca menhir.
Peti kubur batu di Minahasa disebut dalam bahasa daerah waruga. Benda
ini merupakan tinggalan megalit yang sangat dominan di Minahasa.
Jenis megalit yang lain adalah menhir, yang dalam bahasa daerah disebut

27
watu tumotowa, berfungsi sebagai tanda pendirian suatu daerah atau desa. Pada
umumnya menhir dari daerah ini sangat sederhana dan tidak dikerjakan secara
intensif, bahkan banyak yang tidak dikerjakan sama sekali sehingga bentuknya
sama dengan bentuk alamiahnya.
Lumpang batu adalah jenis megalit lainnya yang ditemukan di Manahasa
bagian Selatan, demikian pula dengan batu bergores, yang meskipun tak banyak
temuannya, tetapi merupakan tinggalan yang cukup penting.
Jenis-jenis megalit yang lain adalah
• altar batu,
• batu dakon, dan
• arca batu atau arca menhir.
Waruga
Salah satu sisa megalit yang begitu terkenal di Minahasa adalah waruga
(peti kubur batu). Dalam bahasa Minahasa Kuna kata waruga berasal dari dua kata:
wale dan maruga.
Wale artinya rumah; dan
maruga artinya badan yang hancur lebur menjadi debu.

Gambar 3.4 Kubur Batu Waruga


Sumber: www.cagarbudaya.kemdikbud.go.id
Peti kubur batu ini terdiri atas dua bagian: badan dan tutup. Tiap bagian
terbuat dari sebuah batu utuh (monolith). Umumnya berbentuk kotak segi empat
(kubus) untuk bagian badannya, hanya sedikit yang berbentuk segi delapan atau
bulat. Posisi mayat di dalam batu ini dalam keadaan jongkok, sesuai posisi bayi
dalam rahim. Yang laki-laki tangannya dalam posisi kunci tangan, dan yang
perempuan kepal tangan. Posisi mayat tersebut terkait dengan filosofi manusia
mengawali kehidupan dengan posisi jongkok dan semestinya mengakhiri hidup

28
dengan posisi yang sama. Filosofi ini dikenal dalam bahasa lokal adalah whom.
Setiap waruga biasanya dipakai hanya untuk satu famili. Ada juga waruga yang
dipersiapkan untuk mayat yang berasal dari satu kesamaan profesi sebelum
meninggal.
Waktu dikubur, barang-barang kesayangan mereka disertakan juga sebagai
bekal kubur. Kebanyakan waruga dihiasi berupa motif manusia, motif tumbuhan
yang distilir (sulur-suluran), motif geometri (garis-garis, segi tiga, dan lain-lain),
dan motif binatang. Hiasan yang cukup menarik dari waruga ini adalah manusia
kangkang dan manusia yang sedang melahirkan.
Di antara waruga ada yang ukurannya cukup besar, yaitu tinggi wadah 1,5
meter, lebar wadah 1 meter, tinggi tutup 1,45 m, sehingga keseluruhan mencapai 3
m. Jumlah waruga di Minahasa sebanyak 1335 buah.
Waruga adalah kuburan atau makam tua yang berlokasi di Minahasa.
Makam ini yang terbuat dari batu yang dipahat dan dibentuk seperti rumah telah
ada sejak tahun 1600-an. Pada jaman itu masing-masing keluarga memiliki makam
sendiri yang terbuat dari batu. Jumlah waruga yang ada di lokasi pemakaman
hingga kini sebanyak 104 dotu atau marga. Beberapa dotu yang masih bisa
diketahui adalah Wenas, Karamoy, Kalalo, Tangkudung, Rorimpandey, Mantiri,
dan Kojongiang.
Watu Tumotowa
Dalam bahasa setempat menhir disebut sebagai watu tumotowa, yaitu batu
tegak berbentuk tugu untuk menandai pembangunan sebuah desa. Kabanyakan
menhir di daerah ini bentuknya sederhana sesuai dengan aslinya (alamiah) dan tidak
berhiasan. Watu tumotowa yang diketemukan di Minahasa kebanyakan berukuran
kecil, tingginya 20-50- cm, diameter 15-30 cm. Namun ada pula menhir yang cukup
besar yang diketemuka di Desa Lelema di Kecamatan Tumpaan, yang berukuran
tinggi sekitar 200 cm dan lebar antara 20-40 cm. Watu tumotowa ini ada 61 buah.
Lesung Batu
Kebanyakan ditemukan di Minahasa bagian Selatan, berupa batu tunggal
(monolith), bentuknya bermacam-macam. Salah satu lesung batu yang menarik
adalah menyerupai dandang (wadah untuk menanak nasi), yaitu tinggi dan cekung
dengan ukuran tinggi 55 – 50 cm, diameter badan (bagian cekungnya) 40 cm,

29
diameter tepian 60 cm, diameter mulut lubang 20 cm, dan kedalaman lubang 30 cm.
Ada yang menyerupai tifa (gendang dari Indonesia bagian Timur), ada yang
berbentuk bundar seperti bola dengan lubang di bagian atasnya. Lesung yang
berbentuk seperti itu biasanya berukuran lebih kecil dari pada lesung yang
berbentuk dandang atau tifa, ada yang berbentuk silinder yang berukuran seperti
lesung yang berbentuk dandang. Semuanya ada 32 buah.
Watu Pinawetengan
Pada bagian batu tersebut terdapat goresan-goresan berbagai motif yang
dibuat oleh tangan manusia. Goresan-goresan itu ada yang berbentuk gambar
manusia, menyerupai kemaluan laki-laki dan perempuan, dan motif garis-garis serta
motif yang tak jelas maksudnya. Para ahli menduga, goresan-goresan ini
merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan komunitas pendukung
budaya megalit. Watu Pinawetengan telah sejak lama menjadi tempat permohonan
orang, seperti kesembuhan dari penyakit dan perlindungan dari marabahaya.
Dengan melakukan ritual ibadah yang dipandu seorang tona’as (mediator spiritual),
sebagian orang percaya doa mereka akan cepat dikabulkan. Arie Ratumbanua – juru
kunci Watu Pinawetengan – menegaskan, masyarakat yang datang ke batu itu
bukan bertujuan menyembah batu, melainkan menjadikan batu itu sebagai tempat
atau sarana ibadah. Masyarakat percaya di sinilah tempat bermusyawarah para
pemimpin dan pemuka masyarakat Minahasa asli keturunan Toar-Lumimu’ut
(nenek moyang masyarakat Minahasa) pada masa lalu, dalam rangka membagi
daerah menjadi enam kelompok etnis.

Gambar 3.5 Watu Pinawetengan Minahasa


Sumber : www.wikipedia.com

Altar Batu, Batu Dakon, dan Arca Menhir

30
Altar batu ialah batu yang berbentuk segi empat atau bulat bahkan sering
tidak beraturan, yang memiliki bagian datar, terutama pada bagian permukaan
(bagian atasnya) sehingga berbentuk seperti meja. Jenis megalit ini dipakai sebagai
sarana untuk melakukan peribadatan oleh masyarakat yang memiliki kepercayaan
pada roh-roh leluhur. Sampai saat ini ada sembilan altar batu yang telah ditemukan
di Minahasa.
Batu dakon juga merupakan alat upacara untuk memohon pertolongan
kepada roh nenek moyang agar memperoleh hasil panen yang baik serta
mengharapkan kesuburan tanah. Batu dakon ini terbuat dari bongkahan batu yang
diberi lubang–lubang seperti halnya pada alat permainan dakon. Di Minahasa batu
dakon hanya diketemukan sebanyak enam buah saja.
Arca menhir dibuat dari batu tunggal berbentuk seperti batu tegak (menhir),
namun pada bagian atasnya dibentuk menyerupai manusia, dengan bagian kepala
dan muka serta bagian badan, sedangkan kakinya tidak digambarkan. Arca menhir
dimasudkan sebagai penggambaran leluhur yang dikultuskan. Benda ini biasanya
juga merupakan sarana untuk melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang.
Arca menhir di Minahasa yang berhasil ditemukan sebanyak dua buah.
Mula-mula Suku Minahasa jika mengubur orang sebelum ditanam
dibungkus dengan daun woka (sejenis janur). Lambat laun diganti dengan wadah
rongga pohon kayu atau nibung, lalu di tanam. Baru sekitar abad IX Suku Minahasa
mulai menggunakan waruga. Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari
pemerintah Belanda menguburkan orang yang meninggal dalam waruga.
Saat ini waruga tersebut dikumpulkan di desa Sawangan, Minahasa, yang
terletak antara Tondano dengan Airmadidi. Sekarang waruga merupakan salah satu
tujuan wisata sejarah di Sulawesi Utara.

x. Kesenian
a. Rumah Adat
Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua
tangga di depan rumah. Unsur khas rumah panggung adalah lantai rumah berada di
atas tiang setinggi dua setengah meter, berjumlah 16 atau 18. Tiangnya dibuat dari
kayu maupun dari batu kapur. Susunan rumah terdiri atas :

31
• emperan (setup),
• ruang tamu (leloangan),
• ruang tengah (pores) dan
• kamar-kamar.

Gambar 3.6 Rumah Adat Minahasa


Sumber: www.indonesianall.com
Di bagian belakang terdapat balai-balai yang berfungsi sebagai tempat
menyimpan alat dapur dan alat makan, serta tempat mencuci. Bagian atas rumah
(loteng, soldor) untuk menyimpan hasil panen. Bagian bawah rumah (kolong)
digunakan untuk gudang tempat menyimpan papan, balok, kayu, alat pertanian,
gerobak, hewan rumah seperti anjing.
Orang kaya membuat rumah dengan bahan yang mahal, misalnya seng untuk
atap, kaca untuk isi jendela, kayu yang dipakai adalah jenis kayu yang baik seperti
cempaka, wasian, bahkan lingua yang terkenal sebagai kayu terbaik.

b. Pakaian Adat
Pada jaman dahulu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju
sejenis kebaya, disebut wuyang (pakaian kulit kayu), memakai gaun yang disebut
pasalongan rinegetan yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan. Kaum pria
memakai baju karai, baju tanpa lengan dan bentuknya lurus, berwarna hitam terbuat
dari ijuk. Selain baju karai, ada juga bentuk baju berlengan panjang, memakai kerah
dan saku disebut baju baniang. Celana yang dipakai masih sederhana berbentuk
celana pendek atau panjang.

32
Selanjutnya busana Minahasa mendapat pengaruh dari bangsa Eropa dan
Cina. Busana wanita yang mendapat pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri dari baju
kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Sedangkan pengaruh Cina
adalah kebaya berwarna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan
bunga-bungaan. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang
(baniang) yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang.
Bahan baju ini terbuat dari kain blacu berwarna putih. Pada busana pria pengaruh
Cina tidak tampak.
Busana Tona’as Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah
tinggi, potongan baju lurus, berkancing tanpa saku. Warna baju hitam dengan
hiasan bunga padi pada leher baju, ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian
depan yang terbelah. Semua motif berwarna kuning keemasan. Sebagai
kelengkapan baju dipakai topi berwana merah dihiasi dengan motif bunga padi
warna kuning keemasan pula.
Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju
Tona’as Wangko. Warna putih dengan hiasan corak bunga padi, dilengkapi topi
porong nimiles, terbuat dari lilitan dua kain berwana merah hitam dan kuning emas,
melambangkan penyatuan langit dan bumi, alam dunia dan alam baka. Busana
Walian Wangko wanita kebaya panjang tanpa kerah dan kancing, berwarna putih
dan ungu dengan hiasan bunga terompet, kain sarong batik warna gelap dan topi
mahkota (kronci), selempang warna kuning dan merah, selop, kalung leher dan
sanggul.
c. Upacara Perkawinan
Upacara Perkawinan antara lain :
Acara ‘Posanan’ (Pingitan) yang dahulu dilakukan sebulan sebelum
pernikahan sekarang hanya sehari, pada saat ‘Malam Gagaren’ atau malam muda-
mudi.
Acara mandi di pancuran tidak dilakukan lagi, diganti mandi adat ‘Lumelea’
(menginjak batu) dan ‘Bacoho’ karena dilakukan di kamar mandi di rumah calon
pengantin.
d. Alat Musik
➢ Kolintang, Instrumen ini semuanya terbuat dari kayu dan disebut

33
mawenang.
➢ Musik Bambu, Pemain sebanyak kurang lebih 40 orang. Jenisnya adalah:
o Musik Bambu Melulu: seluruh instrumen terbuat dari bambu
o Musik Bambu Klarinet: sebagian terbuat dari bambu, sebagian dari
bia (kerang)
o Musik Bambu Seng: beberapa instrumen terbuat dari bambu
➢ Musik Bia: instrumen terbuat dari bia.
e. Tarian Adat
➢ Tari Maengket;
Maengket dari kata dasar engket yang artinya mengangkat tumit turun naik
Fungsinya sebagai rangkaian upacara petik padi. Penarinya membentuk lingkaran
dengan langkah-langkah yang lambat, disebut Maengket Katuanan. Ada tiga
macam Tari Maengket yaitu:
o Tari Maowey Kamberu, bagaimana masyarakat berdoa atas hasil panen
o Marambak adalah pengucapan syukur atas selesainya ramah baru
o Lalayaan mengekspresikan kegembiraan masyarakat
o
➢ Tari Tumentenden;
Dari Legenda Tumentenden yang menceritakan seorang pemuda yang menikahi
seorang dari sembilan bidadari yang turun untuk mandi pada suatu danau.
➢ Tari Kabasaran (Tari Cakalele);
Merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa yang diangkat dari kata
‘wasal’ yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam
menjadi lebih garang dalam bertarung. Tarian ini diiringi oleh tambur dan gong
kecil. Alat musik pukul seperti gong, tambur atau kolintang disebut ‘pa’wasalen’
dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan
dua ayam jantan yang sedang bertarung. Kata Kawasalan kemudian berkembang
menjadi Kabasaran yang merupakan gabungan dua kata ‘Kawasul ni Sarian’ yang
berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan sarian adalah pemimpin
perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Tarian perang yang
ditampilkan untuk menjemput tamu atau ditampilkan pada perayaan khusus.
Pada jaman dahulu para penari Kabasaran hanya menjadi penari pada upacara-

34
upacara adat. Dalam kehidupan sehari-hari mereka adalah petani. Bila Minahasa
dalam keadaan perang, maka penari Kabasaran menjadi Waranei (prajurit). Tiap
penari Kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari
leluhurnya, karena penari Kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini
umumnya terdiri atas tiga babak, yaitu:
▪ Cakalele: berasal dari kata saka (berlaga), dan lele (melompat- lompat)
▪ Kumoyak: berasal dari kata koyak, mengayunkan pedang atau tombak turun
naik
▪ Lalaya’an: bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang.
➢ Tari Lens;
Menceritakan bagaimana seorang pemuda menggunakan gerakan yang manis
untuk menarik perhatian gadis.
➢ Tari Katrili:
dibawa oleh Bangsa Sepanyol pada waktu mereka datang untuk membeli hasil
bumi di Tanah Minahasa. Karena mendapatkan hasil yang banyak, meraka lalu
menari-nari. Lama kelamaan mereka mengundang rakyat Minahasa yang akan
menjual hasil bumi mereka untuk menari bersama sambil mengikuti irama musik
dan aba-aba. Tari Katrili termasuk tarian modern.
f. Lagu daerah;
• ina Ni Keke,
• Oh Minahasa

Gambar 3.7 Tari Maengket(kiri), Tari Katrili(tengah), Tari Tumatenden(kanan)


Sumber: www.indonesiakaya.com
g. Wisata Kuliner
➢ Makanan
▪ Bubur Manado
▪ Ayam Rica – Rica
▪ Biakolobi

35
➢ Minuman
▪ Saguer; Saguer adalah nira, yaitu cairan putih yang keluar dari mayang
pohon enau.
▪ Cap Tikus; Cap Tikus adalah jenis cairan beralkohol rata-rata 40 % yang
dihasilkan melalui penyulingan saguer.
h. Tenun Ikat;
Digunakan dalam upacara-upacara adat dan sebagai cinderamata.

Gambar 3.8 Kain Batik Bentenan


Sumber: www.bentenanmanado.com
i. Bordir;
berupa krawangan, pada kebaya, taplak meja, dan lain-lain.
j. Upacara Adat
Monondeaga;
Upacara datangnya haid pertama. Daun telinga dilubangi dan dipasangi anting,
kemudian gigi diratakan sebagai pelengkap kecantikan.
Mupuk Im Bete;
Upacara ucapan syukur dengan membawa hasil ladang untuk didoakan
k. Pariwisata
Tempat-tempat pariwisata antara lain:
▪ Makam Kyai Modjo
▪ Makam Tuanku Imam Bonjol
▪ Monumen Dr. Sam Ratulangi
▪ Wisata laut di Bunaken
Catatan
❖ Nenek moyang orang Minahasa selain penduduk pribumi juga yang datang
dari Mongol dan dari Eropa, terutama Spanyol, Portugis dan Belanda.
❖ Burung manguni sebagai simbol daerah Minahasa melambangkan

36
kebajikan dan kearifan. Falsafah orang Minahasa ‘Manusia hidup untuk
menghidupi manusia’.
❖ Tidak ada bentuk kerajaan; dalam sistem sosialnya terdapat mapalus.
❖ Sebelum abad ketujuh Masehi masyarakatnya menganut faham matriarkhat,
baru sesudah abad ketujuh Masehi mereka menganut faham patriarkhat.
❖ Sistem kemasyarakatannya mulai dari Awu yang meluas sampai Kawanua.
❖ Tanahnya subur sehingga hasil pertaniannya melimpah, juga hasil laut dan
didukung oleh sistem teknologi yang sesuai.
❖ Sistem religinya ada yang masih asli ditandai dengan peninggalan
megalitiknya, lalu masuk agama Nasrani dan Islam.
❖ Keseniannya mulai yang tradisional, sampai yang dipengaruhi kebudayaan
Cina dan Eropa. 9
3.2.2 Prospek dan Fisibilitas Proyek

3.2.2.1 Prospek
Melalui pendalaman objek diatas, maka yang menjadi prospek objek rancangan
adalah:
❖ Menjadikan Pusat Kebudayaan Minahasa sebagai tempat yang
mewadahi kegiatan seni dan budaya dan dapat menjadi tempat
berkumpul, berkomunikasi dan bertukar pikiran dan bertukar
informasi
❖ Menjadikan Pusat Kebudayaan Minahasa sebagai sarana yang
menunjang dalam perkembangan seni dan budaya Minahasa
❖ Menjadikan Pusat Kebudayaan Minahasa sebagai pusat
perkembangan dan pemeliharaan budaya Minahasa.
❖ Menjadikan Pusat Kebudayaan Minahasa Sebagai Destinasi Wisata
budaya di daerah Minahasa dan danau Tondano.

3.2.2.2 Fisibiltas
Dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2013-2017 dan Peraturan Daerah nomor
24 Tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2010-2025

9
Buku BAHAN AJAR BUDAYA NUSANTARA, Oktober 2011, Dr. Woro Aryandini, SS, MSi dan ti

37
kabupaten Minahasa menetapkan daerahnya sebagai salah satu daerah tujuan wisata
di Sulawesi Utara. Adapun arah kebijakan pengembangan pariwisata di daerah
Minahasa adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan pendapatan masyarakat melalui kepariwisataan.
b. Pengembangan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber penerimaan
pendapatan daerah meliputi: perencanaan berlanjutnya pembangunan
Benteng Moraya yang akan dijadikan tempat wisata budaya kuliner,
pembangunan jembatan 300 meter di Danau Tondano, dan juga
pengembangan wisata di puncak Urongo dan Pantai Mahembang.
Perencanaan selanjutnya meliputi area pantai di bagian Timur Kabupaten
Minahasa yang juga telah di senangi oleh masyarakat yang ada seperti pantai
Tumpaan, pantai parentek, pantai kora-kora, pantai kolongan, dan lainnya.
c. Peningkatan kemampuan anggota masyarakat untuk dapat memperoleh
manfaat yang besar bagi kegiatan pariwisata.
d. Terwujudnya masyarakat sadar wisata melalui sapta pesona, sehingga
tercipta suasana yang mendukung dan menunjang semakin berkembangnya
usaha dan kegiatan kepariwisataan
Untuk menunjang kebijakan pemerintah maka dari situla perlu Perancangan
Pusat Kebudayaan Minahasa yang berfungsi sebagai tempat pemeliharaan dan
pelestarian seni dan budaya Minahasa dan dapat mengali potensi minat dan bakat
masyarakat dibidang seni dan budaya Minahasa, sehingga mampu menghasilkan
masyarakat yang peduli akan Budaya dan potensi seni yang tinggi. Dengan
demikian kualitas masyarakat semakin meningkat dan dapat menghasilkan penerus
yang dapat membangun Minahasa yang kental akan budaya Minahasa dan dapat
melestarikan budaya Minahasa dan memperkenalkan keunikan budaya Minahasa
ke daerah lain.10

10
Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Tahun 2013-2017 dan Peraturan Daerah nomor 24 Tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Tahun 2010-2025 kabupaten Minahasa

38
3.2.3 Program Dasar Fungsional

1. Pelaku kegiatan dan Aktivitas


Pelaku kegiatan pada Pusat Kebudayaan Minahasa terdiri dari tiga kelompok
yaitu:
1. Kelompok pelaku pengelola dan servis
• Pimpinan / Kepala Badan Pengelola
Bertugas mengkordinasi jalannya kegiatan dalam bangunan pusat
kebudayaan, serta membuat keputusan akhir atas seluruh kegiatan
yang telah dilakukan dengan kebijakan-kebijakan dari lembaga.
• Pembantu pimpinan / sekertaris
Bertanggung jawab dalam membantu tugas pimpinan, atas seluruh
kegiatan operasional dan juga sub bagian tata usaha. Sub bagian tata
usaha antara lain:
a. Urusan umum
b. Urusan keuangan
c. Urusan kepegawaian
• Seksi-seksi dan unit-unit
Bertugas dalam bidang masing-masing, seperti :
a. Seksi seni budaya : sub seksi kegiatan, sub seksi sarana
b. Seksi pengetahuan dan keterampilan : sub seksi kegiatan, sub
seksi sarana
c. Unit pengelola Pusat Kebudayaan. Unit pelaksana teknis
badan pengelola.
2. Kelompok pelaku kegiatan
Kelompok masyarakat dengan minat dan bakat dalam kesenian dan
kebudayaan dan keterampilan
3. Kelompok pelaku pengunjung / pononton
Pengunjung adalah orang yang berkunjung pada Pusat Kebudayaan
Minahasa untuk menikmati pemeran budaya dan kesenian atau
melakukan aktivitas bersosialisasi.
Aliran kegiatan pengelola

39
Datang Entrance Hall Kantor
(Rg.Pengelola)

Parkir Pengelola
Pulang

Gambar 3.9 Skema Aliran Kegiatan Pengelola


Sumber : Analisa Penulis

Aliran kegiatan pemakai

Datang Entrance Hall Fasilitas Ruang

Parkir Pemakai Pulang

Gambar 3.10 Skema Aliran Kegiatan Pemakai

Datang Entrance Hall Rg. Kegiatan

Parkir Pengunjung Pengelola Pulang

Gambar 3.11 Skema Aliran Kegiatan Pemakai


Sumber : Analisa Penulis

Servis Parkir Servis Side Bangunan


Entrance
Gambar 3.12 Skema Aliran Kegiatan Servis
Sumber : Analisa Penulis

2. Analisis Aktivitas
Analisis Aktivitas ini didapatkan berdasarkan kajian dari Kebudayaan Minahasa
yang untuk mendapati hal-hal apa saja yang akan menjadi fungsi serta konten dari
objek perancagan ini. Yang nantinya akan menghasilkan sebuah program ruang
objrk perancangan Analisis aktivitas pada Pusat Kebudayaan Minahasa

40
diklasifikasikan berdasarkan jenis dan fungsi, adapun klasifikasinya dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 3.1 Analisis Aktivitas
Klasifikasi Jenis
Sifat Aktivitas Perilaku Aktivitas Ruang
Fungsi Aktivitas
Tempat belajar
seni dan
• Rutin
budaya
(Seminggu 2 Latihan gerakan tari, Kelas dan
Primer Minahasa
kali teater, bermain alat Outdoor,
(Edukasi) -Tari
pertemuan) musik dan membatik Sanggar
-Teater
• Privat
-Musik
- Membatik
• Rutin
(seminggu
sekali) Menampilkan dan
(Entertainme Pertunjukan • Jika ada menonton seni
nt) seni budaya Event-event budaya yang Multipurpose
tertentu ditampilkan Hall
• Publik/semi- (Amphiteater)
publik
Melihat dan
Memamerkan • Rutin (setiap
mendokumentasikan
(Eksebisi) karya seni hari) Galeri seni
karya seni budaya
budaya • Publik
yang di pamerkan
• Rutin 1x
setahun / jika Berbincang dan Auditorium
Seminar
(Edukasi) ada event diskusi mengenai (Paesa im
budaya
tertentu budaya Deken room)
• Semi-Publik
Pembelajaran Mempelajari musik
• Rutin Ruang
(Edukasi) kolintang, kolintang, dan
• Publik Workshop
batik dan hasil menenun batik

41
– hasil
kesenian lain.
Tempat
Membaca,
membaca dan
Sekunder • Rutin meminjam, dan
meminjam Perpustakaan
(Edukasi) • Publik mencari buku yang
buku
diinginkan
Kebudayaan
Menjual
• Rutin Menjual, memilih
(Komersil) pernak-pernik Toko
• Publik barang dan membeli
budaya
Tempat Memasak , Kantin/food
• Rutin
(Komersil) makanan khas menyediakan Court, café,
• Publik
Minahasa makanan lounge
Duduk, mengelola,
Mengelola
• Rutin dan mengawasi Kantor
Penunjang bangunan/ged
• Privat aktivitas dalam pengelola
ung
gedung
Menyimpan
barang
• Rutin Mengangkat dan Ruang
Serta
(Konservasi) • Private meletakkan barang Konservasi
melestarikan
barang
Memarkir kendaraan
Memarkirkan • Rutin
ditempat yang telah Parkir
kendaraan • Publik
disediakan
• Rutin Mencari informasi
Lobby Lobby
• Publik dan menunggu
• Tidak rutin Duduk, dan
Bersantai Lounge
• Publik bersantai
Utilitas dan • Rutin Memeriksa system
ME
ME • Privat utilitas
Membersihkan • Rutin Bab, BAK bersih-
Toilet
diri • Publik bersih
(Sumber: Penulis, 2019)

42
3. Analisis Pengguna
Analisis pengguna merupakan bagian dari analisis fungsi yang menjabarkan tentang
jumlah pengguna dalam setiap ruang dan rentang waktu pengguna selamaberada
dalam ruang tersebut, Analisa pengguna sangat dibutuhkan untuk mencari besaran
masing-masing ruang. Adapun penjelasannya dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 3.2 Analisis Pengguna
Jumlah Rentang waktu
Jenis Aktivitas Jenis pengguna
pengguna pengguna
Tempat belajar
seni dan budaya
Minahasa
Pelajar/ umum,
- Tari
pengunjung, 20 org/ kelas 45-2 jam
- Teater
pengajar
- Musik
- Bahasa
-Membatik
Pertunjukan seni Pengunjung,
800 org 1-3 jam
budaya pemain seni
Memamerkan
Pengunjung 800 org 30 menit-1 jam
karya seni budaya
Budayawan,
Seminar budaya 100-500 org 1-3 jam
wisatawan
Pembuatan Batik Masyarakat 5-10 orang 1 bulan
Tempat membaca
dan meminjam Pengunjung, Menyesuaikan
1-100 org
buku budaya pengelola pengunjung
Minahasa
Menjual pernak- Penjaga took,
4-5/ org 10 jam
pernik budaya pengunjung
Pengelola tempat
Tempat makanan
makan, 100 org 30 mentit-I jam
khas Minahasa
pengunjung

43
Mengelola
Pengelola 12 org 10 jam
bangunan/gedung
Pengelola,
Ibadah 10-50 org 1-2 jam
pengunjung
Menyimpan
Cleaning service 10 orang
barang
Kapasitas bus 5-
10 bus
Memarkirkan Pengelola, Kapasitas mobil
5-10 menit
kendaraan pengunjung 300 mobil
Kapasitas motor
1000 motor
Pengunjung,
Lobby
pengelola
Menyesuaikan
Bersantai Pengunjung 1-5 org
pengunjung
Utilitas dan ME Teknisi ME 1-5 org Menyesuaikan
Membersihkan Pengunjung,
1-5 org 10-15 menit
diri pengelola

4. Program Fungsi
• Eksebisi
o Aktivitas :
▪ Menampilkan Karya-karya seni budaya maupun
replica barang-barang peninggalan sejarah
o Pengguna : Pengunjung
o Sifat Ruang : Publik
• Edukasi
o Aktivitas :
▪ Mengadakan proses pembelajaran kebudayaan
Minahasa, kegiatan yang mengasah keterampilan dan
kreatifitas.

44
▪ Mempelajari kebudayaan Minahasa
▪ Mengadakan Diskusi mengenai hal-hal terkait
kebudayaan
▪ Mengadakan diskusi mengenai hal terkait sejarah
▪ Mengadakan seminar hal terkait budaya
▪ Melakukan studi kepustakaan meupun mencari
hiburan untuk membaca
▪ Melakukan pencarian informasi yang terkait dengan
budaya dan wilayah Minahasa

o Pengguna :
▪ Akademisi, budayawan, sejarawan, pengunjung,
o Sifat Ruang :
▪ Semi-Publik
• Entertaintment
o Aktivitas :
▪ Kegiatan pertunjukkan teatrikal maupun musical
▪ Kegiatan pertunjukkan festival atau perlombaan di
luar ruangan
▪ Mengadakan Kegiatan pertemuan, pelatihan, atau
karang taruna.
o Pengguna : Seniman, Pengunjung
o Sifat Ruang :Publik
• Konservasi
o Aktivitas :
▪ Kegiatan administrasi dan manajemen yang
berlangsung pada objek
▪ Tempat menyimpan perlengkapan ataupun peralatan
yang berhubungan dengan objek bangunan maupun
aktifitas
o Pengguna : Pengelola
o Sifat Ruang : Publik

45
• Rekreasi
o Aktivitas
▪ Kegiatan duduk santai di luar ruangan
▪ Menikmati jajaran kuliner Minahasa di luar ruangan
▪ Mengambil gambar pada spot-spot foto
o Pengguna : Pengunjung
o Sifat Ruang : Publik
• Komersil
o Aktivitas :
▪ Kegiatan Jual beli pernak Pernik Kebudayaan
▪ Kegiatan Jual beli makanan dan makanan Restoran
o Pengguna : Pengunjung, Pengelola
o Sifat Ruang : Publik
• Pengelola :
o Aktivitas :
▪ Melakukan Pemasangan, perbaikan, dan pengawasan
pada system utilitas
▪ Melakukan kegiatan menunggu mencari informasi
maupun registrasi
▪ Melakukan pengawasan kawasan maupun keluar
masuk pengunjung
▪ Membuang dan mengolah limbah sebelum di buang
ke pembuangan air
o Pengguna
o Sifat Ruang
• Akomodasi :
o Aktivitas
▪ Sebagai penunjang pengunjung pusat kebudayaan
yang akan menginap
▪ Berupa guest house
o Pengguna : Pengunjung
o Sifat Ruang : Private

46
3.2.4 Lokasi, Tapak, dan Genius Loci

1. Lokasi Secara Makro


Kabupaten Minahasa adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi
Utara, Indonesia11. Ibu kota kabupaten ini terletak di Tondano. Kabupaten ini
memiliki luas wilayah 1.025,85 km². Pada 25 Februari 2003 Kabupaten Minahasa
dimekarkan menjadi Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota
Tomohon berdasarkan UU No.10/2003. Pada tanggal 18
Desember 2003 Kabupaten Minahasa dimekarkan lagi menjadi Kabupaten
Minahasa dan Kabupaten Minahasa Utara berdasarkan UU No. 33/2003. Lokasi
Kabupaten Minahasa secara geografis terletak berada pada °17'18.22" Lintang
Utara - 124°54'48.84" Bujur Timur. Luas Kab.Minahasa sekitar 1.025,85 km2.
Dengan Populasi, total penduduk 490.771 Jiwa (2015) dan 478,4 jiwa/Km2.12
Batas-batas Wilayah Kabupaten Minahasa.
• Sebelah Utara dengan = Kota Manado
• Sebelah Timur dengan = Kab. Minahasa Utara
• Sebelah Selatan dengan = Kab. Minahasa Tenggara
• Sebelah Barat dengan = Laut Sulawesi dan Kabupaten Minahasa
Selatan
Kabupaten Minahasa terbagi ke dalam 25 wilayah kecamatan.
Eris, Kakas, Kakas Barat, Kawangkoan, Kawangkoan Barat, Kawangkoan
Utara, Kombi, Langowan Barat, Langowan Selatan, Langowan Timur,
Langowan Utara, Lembean Timur, Mandolang, Pineleng, Remboken, Sonder,
Tombariri, Tombariri Timur, Tombulu, Tompaso, Tompaso Barat, Tondano
Barat, Tondano Selatan, Tondano Timur, Tondano Utara

11
UU No.10/2003. Pada tanggal 18 Desember 2003 Kabupaten Minahasa
12
Wikipedia

47
Gambar 3.13 Peta administrasi Kab. Minahasa

Sumber: RTRW Kab.Minahasa

2. Lokasi Secara Mikro


Pemilihan tapak didasarkan pada maksud pada tujuan perancangan yaitu
untuk bangunan yang akan difungsikan sebagai Pusat Kebudayaan Minahasa dan.
Tapak yang dipilih adalah berdasarkan pada RTRW kota Manado dengan
peruntukan lahan sebagai Kawasan wisata. Tapak yang dipilih adalah tapak yang
mampu mewadahi maksud dan tujuan objek, selain itu juga memiliki tingkat
aktifitas yang sangat tinggi.
Tondano merupakan ibu kota kabpaten Minahasa. Tondano merupakan
suatu tempat yang dikenal baik oleh warga Sulawesi Utara selain sebagai lokasi
wisata, Pendidikan, pusat pemerintahan Minahasa, dll. Beberapa lokasi wisata di
Tondano, makam Sam Ratulangi dan pemandian air panas. Selain itu, terdapat juga
wisata kuliner khas nike goreng, milu bakar, tinorangsak, dll. Kebudayaan yang
dikental juga merupakan ciri khas Tondano. Terlihat walaupun banyak pertokoan
modern dibuka, namun rumah-rumah disana tetap tidak mengesampingkannya.
Secara letak geografisnya, Tondano memiliki keuntungan yaitu terletak ditengah
Minahasa dan merupakan pusat pemerintahan sehingga selain mempermudah
pembangunan oleh pemerintah, daerah ini mudah dijangkau dari segala arah. Oleh
Karenanya Tondano dirasa Lokasi yang cocok untuk dibangunnya “Pusat
Kebudayaan Minahasa. di Tondano.”

48
2.4.3 Alternatif Lokasi

Tabel 3.3 Tabel Lokasi Alternatif

Site Alternatif Luas Potensi Keadaan Tapak Bangunan


Kebudayaan
Alternatif 1 memiliki
Tondano Utara 37ha topografi yang Kelas Lereng 1
baik. rata-rata >40%

Berada di Curah Hujan


daratan yang 1900-3000mm
tinggi

Ketinggian
tempat rata-rata
250-500m

Alternatif 2
Tondano Timur 36 Memiliki situs Kelas Lereng 1
ha budaya sejarah rata-rata >40%

Curah Hujan
2500-3500

Ketinggian
tempat rata-rata
750-100

49
Alternaif 3 Kelas Lereng
Tondano Selatan 70 Memilik situs rata-rata 0-8% 5
ha budaya sejarah
Curah Hujan
Memiliki 1400-3500mm
potensi view
yang baik Ketinggian
menghadap tempat rata-rata
danau 250-500m

Kawasan
peruntukan
pariwisata dan
kebudayaan

Sumber: RTRW Kab.Minahasa

Kajian Pemilhan Lokasi

INDIKATOR KRITERIA LOKASI

Potensi site

Meiliki potensi Geografi yang mampu menjadi ikon pariwisata di site tersebut

• Potensi view maupun potensi alamiah site


• Aksesibilitas
• Memilik Kondisi Kontur yang baik dan menarik
• Hidrologi dan Drainase

Peruntukan

Ketersediaan lahan

Mempunyai ketersediaan lahan untuk mewadahi perkembangan Pusat Kebudayaan

Ketersediaan jaringan utilitas

50
Di Sekitar Lokasi tersedia jaringan listrik, jaringan air bersih, jaringan pembuangan
air kotor/limbah, dsb.

Parameter Penilaian Lokasi

4 = SANGAT SESUAI

3 = SESUAI

2 = CUKUP SESUAI

1 = TIDAK SESUAI

Tabel 3.4 Kriteria menurut fungsi dan arahan RTRW

Kriteria Bobot Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3


Tondano Utara Tondano Timur Tondano Selatan

Potensi Site 20% 3 20%x4=0,6 3 20%x3=0,6 4 20%x3=0,8

Peruntukan
lahan 20% 3 20%x3=0,6 4 20%x4=0,8 4 20%x4=0,8
Ketersediaan
lahan 10% 3 10%x3=0,3 3 10%x3=0,3 3 10%x3=0,3

Ketersediaan
Jaringan 5% 4 5%x2=0,2 4 5%x4=0,2 4 5%x4=0,2
Utilitas
(Sumber: Penulis, 2019)

Tabel 3.4 Kriteria menurut Tema Perancangan


Bobot Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3
Tondano Utara Tondano Timur Tondano Selatan
Kelas 20% 2 20%x4=0,4 2 20%x4=0,4 4 20%x4=0,8
Lereng Rata-
rata

Curah Hujan 10% 4


10%x4=0,4 2 10%x2=0,2 4 10%x4=0,4

51
Topografi 10% 4 10%x4=0,4 3 10%x3=0,3 4 10%x4=0,4

Akumulasi 100% 3 2.85 3,9


(Sumber: Penulis, 2019)
Berdasarkan Skoring yang ada lokasi terpilih untuk objek perancangan terdapat di
Kec.Tondano Selatan.

3. Genius Loci Minahasa


Genius Loci adalah merujuk pada sebuah Roh dan Perasaan khusus yang
mendiami suatu tempat, Genius Loci terbentuk dari perpaduan antara interaksi,
Manusia, Kebudayaan, dan Alamnya. Dalam perancangan objek Pusat Kebudayaan
Minahasa ini akan di bahas mendalam Genius Loci dari Minahasa itu sendiri.
Sehingga mendapatkan tempat yang tepat untuk menjadi Tapak dari Perancangan
Objek Pusat Kebudayaan Minahasa.

a. Pengertian Genius Loci


Untuk mengumpulkan berbagai interpretasi yang berbeda dari Genius Loci,
peneliti mulai dengan mengeksplorasi definisi terkandung dalam dokumen
leksikon. Dalam Kamus Online Merriam-Webster (2010), genius loci adalah genius
atau pemimpin keilahian suatu tempat, karenanya, roh yang melingkupi suatu
tempat, yang juga diterjemahkan sebagai pelindung 'roh tempat' dan 'suasana
khusus tempat' (Wikipedia Encyclopedia, 2012). Konotasi ini menyiratkan
penggunaan kontemporer. Dalam mitologi Romawi, Genius loci dikaitkan dengan
roh pelindung tempat dan sering digambarkan secara simbolis sebagai ular Genius
loci dalam konteks lingkungan dapat dipahami sebagai 'energi lingkungan' (Vogler
et al., 2006, hlm. 2). Energi lingkungan yang tak terlihat adalah bagian intrinsik dari
sistem pendukung kehidupan di Indonesia suasana habitat, dan khususnya habitat
manusia. 13

Tinggal dalam interpretasi ini berkonotasi "ruang dan tempat" yang


memiliki karakteristik tertentu. Orang-orang melihat karakteristik lingkungan
mereka sebagai semacam 'citra lingkungan' yang menyediakan mereka dengan
orientasi dan rasa aman. Norberg-Schulz berpendapat bahwa "semua budaya

13
Cynthia Wuisang, 2012, Defining Genius Loci and Qualifying Cultural Landscape Minahasa

52
memiliki mengembangkan sistem orientasi, yang memfasilitasi pengembangan
citra lingkungan yang baik " (1980, hlm. 19). Dengan demikian, 'orientasi' dan
'identifikasi' membangun semacam hubungan yang bermakna antara orang dan
tempat dan ruang yang mereka huni. Ulasan tulisan Norberg-Schulz menunjukkan
struktur tempat, yang menjadi titik awal untuk membedakan antara yang alami
fenomena dan fenomena buatan manusia atau, dalam arti nyata, antara lanskap dan

penyelesaian. Hanya melalui ‘karakter antariksa’ yang dapat dipegang oleh genius
loci. Lansekap, sebagai bagian dari tempat alami, terdiri dari 'struktur' dan 'makna'
yang melahirkan mitologi sebagai kosmologi dan kosmogoni.

b. Teori Genius Loci

Konsep Genius Loci dalam literatur antropologis terhambat oleh


kelangkaan referensi tentangnya. Namun, para Pelajar a di seluruh dunia telah
terlibat dalam pencarian intens untuk sifat sebenarnya dari Genius Loci. Penelitian
yang dilakukan pada Umeda di New Guinea (Gell, 1995), Sammanist di Lansekap
Mongolia (Humphrey, 1995), dan Hammar di Ethiopia Selatan (Lydall & Strecker
1979) adalah contoh yang ditemukan dalam literatur antropologi saat ini yang
mendekati konsep lokus jenius di bidang fonologi, suara, dan linguistik. Dalam
semua budaya, ruang sebagai tempat tinggal tempat, seperti di rumah, pemukiman
atau kota dan / atau lanskap mungkin memiliki mitologi yang mendalam berarti.
Place juga memiliki asosiasi keagamaan, yang masih relevan saat ini (Eliade, 1961
di Volger & Aturo, 2006). Arsitektur, lanskap, dan lingkungan alami memainkan
peran penting dalam menciptakan tempat dan karena itu pentingnya genius loci
terungkap.14

c. Genius Loci di Minahasa

Tabel 3.5 Penilaian Sumatif dari Hasil Analisis Kualitatif Genius Loci dan
Kekayaan Lansekap Budaya di Setiap Wilayah Minahasa

14
Cynthia Wuisang, 2012, Defining Genius Loci and Qualifying Cultural Landscape Minahasa

53
(Sumber : Chyntia Wuisang, 2012, Genius Loci and Cultral Landscape Minahasa)

54
Dari Tabel diatas didapatkan berbagai kajian Genius Loci dari berbagai daerah di
Minahasa. Dan berdasarkan Sense Of Place dari berbagai daerah di Minahasa ini,
dan yang masuk diantara Kec. Tondano Selatan, terpilih daerah desa Peleloan
sebagai lokasi untuk tapak objek perancangan Pusat Kebudayaan Minahasa. Desa
Peleloan terletak di tepi danau Tondano, lokasi ini dirasa tepat karena juga memiliki
karakteristik sesuai dengan pendekatan teman Arsitektur Organik dan memiliki
potensi destinasi wisata yang sesuai dengan latar belakang Perancangan.

Gambar 3.14 Tondano Selatan, Peleloan, Tapak


(Sumber: Google Earth, 2019)

55
3.3 Studi Kasus Objek Perancangan
Studi Kasus Objek Perancangan berfungsi untuk mempelajari Tipologi
dari Objek Perancangan dan mendapakatkan kajian tentang Analisa Program
Ruang.
3.3.1 Hilltop Gallery, Luamping, China

Gambar 3.15 Hilltop Gallery


Sumber: Archdaily.com

• Architects : dEEP Architects


• Location : Luanping, Chengde, China
• Principal Architect : Daode Li
• Design Team : Yiying Wu, Yuan Zhou, Ding Kuai,
Xinyuan Zhang, Jing Zhou, Wenmo Liu
• Executive Architect : BIAD
• Interior Design : dEEP Architects
• Area : 2600.0 m2
• Project Year : 2018
• Photographs : Baiqiang Cao / ZERO
• Structural Engineer : BIAD Complex Structure Research
Institute
• Contractor : Kingsway Engineering Co. Ltd.
• Lighting Consultant : Beijing Sign Lighting Industry Group
• Landscape Consultant : ECOLAND
• Client : Providence Enterprises Investment
Holdings

56
Hilltop Gallery terletak di Yanshan Mountains yang berbatasan dengan Beijing
dan Chengde, di mana ada pemandangan sempurna ke tembok Besar Jinshanling.
Dengan luas bangunan 1500㎡ dan luas lantai 2600㎡, gedung ini tidak hanya
berfungsi sebagai galeri seni dan tempat untuk proyek-proyek budaya yang terkait,
tetapi juga area resepsi, makan dan pameran untuk proyek Phonenix Valley.

Gambar 3.16 Hilltop Gallery


Sumber: Archdaily.com
Situs galeri berada di pelana di puncak gunung. Kami berharap untuk
menggunakan medan alam untuk merayakan gagasan bahwa bangunan
tumbuh sesuai dengan gunung. "Miring bukit dan mengambil keuntungan dari

tren" adalah prinsip yang diikuti dalam proyek ini. Konsep "势" (potensi) itu

sendiri juga merupakan filsafat Timur tradisional. Ini adalah pemikiran yang
dihadapi oleh orang Cina kuno dalam konstruksi di alam.

Gambar 3.17 Hilltop Gallery


Sumber: Archdaily.com
Pintu masuk yang sedikit miring memperkenalkan pengunjung ke ruang
pameran utama museum di Lantai Dasar, di mana ia menawarkan pemandangan tak
terhalang ke lanskap pegunungan yang menakjubkan di kejauhan dan pohon pinus
yang beristirahat dengan elegan di depan, membuat seluruh ruang terus terendam
di alam. Mengikuti undulasi atap, Anda akan menemukan ruang pameran tinggi

57
yang terletak di tingkat bawah bangunan. Dua lantai utama yang menghadiahkan
karya seni umum diselingi oleh tangga melingkar, dan aula yang melayani instalasi
seni skala super dibuat dari ruang tiga ketinggian.

Gambar 3.18 Hilltop Gallery


Sumber: Archdaily.com
Ke Timur dari lantai bawah di mana ia secara fisik diperpanjang ke gunung
adalah ruang audio-visual interaktif dan teater, yang tidak memerlukan banyak
pencahayaan. Ke Utara adalah kafe dengan platform teras luar yang mencari alam.
Kecuali untuk lift, tangga spiral raksasa menembus seluruh bangunan dapat
membawa pengunjung langsung ke lantai atas, yang berfungsi sebagai area
resepsionis untuk pengunjung VIP, serta ruang minum teh dan area istirahat dan
akan. Ruangnya fleksibel untuk berbagai kebutuhan fungsional.

Gambar 3.19 Hilltop Gallery


Sumber: Archdaily.com
Ke Barat adalah kotak beton yang berfungsi sebagai koneksi ke bagian
dalam dan luar. Orang dapat mendekati puncak melalui trotoar bambu di atap atau
bahkan tiba di platform luar ruangan Timur dengan memanjat ke atas atap. Kotak
melelehkan batas-batas ruang dari seluruh area atap

58
Gambar 3.20 Hilltop Gallery Floor plan
Sumber: Archdaily.com
Proses pendakian dan perjalanan, dikombinasikan dengan atap genteng
hiperbolik yang bergelombang, seperti jalan berliku menuju tempat tersembunyi di
taman tradisional Cina. Pada saat yang sama, itu bergema dengan proses tur
Tembok Besar Jinshanling secara tidak sengaja. Ada hubungan alami antara bagian
atas dan bawah, interior dan eksterior, dan ruang dari seluruh Hilltop Gallery, di
mana semua batas ruang menjadi buram.

Gambar 3.21 Hilltop Gallery Floor plan


Sumber: Archdaily.com

Bentuk atap tidak hanya mempertimbangkan ruang fungsional internal dan


pemikiran estetika, tetapi juga telah mengalami analisis air hujan dan angin
eksperimen terowongan. Hasil optimal telah diperoleh melalui pembahasan model
digital dan kinerja struktural dari model fisik. Dalam tahap konstruksi yang
sebenarnya, penerapan teknologi digital telah memungkinkan penentuan posisi
yang tepat dan konstruksi struktur dan bentuk bangunan yang kompleks. Jelas,
selain dukungan digital berteknologi tinggi, itu juga cukup penting untuk
menggunakan pekerjaan manual paling primitif, seperti peletakan lempengan
bambu di trotoar atap dan terakota tradisional di atas atap.

59
Gambar 3.22 Hilltop Gallery Tampak
Sumber: Archdaily.com

Gambar 3.23 Hilltop Gallery Plan


Sumber: Archdaily.com

60
3.3.2 Heydar Aliyev Cultural Center Baku, Azerbaijan

Gambar 3.24 Heydar Aliyev Cultural Central


Sumber: Archdaily.com

Architects : Zaha Hadid Architects

Location : Baku, Azerbaijan

Design : Zaha Hadid, Patrik Schumacher

Project Designer : Saffet Kaya Bekiroglu

Client : The Republic of Azerbaijan

Area : 101801.0 m2

Project Year : 2013

Photographs : Iwan Baan , Hufton+Crow , Helene


Binet

Manufacturers : Mikodam, Lindner


Group, Penetron, Zumtobel,

Sebagai bagian dari Uni Soviet, urbanisme dan arsitektur Baku, ibu
kota Azerbaijan di pantai Barat Laut Kaspia, sangat dipengaruhi oleh
perencanaan era itu. Sejak kemerdekaannya pada tahun 1991, Azerbaijan
telah banyak berinvestasi dalam modernisasi dan pengembangan
infrastruktur dan arsitektur Baku, yang berangkat dari warisan modernisme
Soviet normatifnya.

61
Gambar 3.25 Heydar Aliyev Cultural Central
Sumber: Archdaily.com

Zaha Hadid Architects ditunjuk sebagai arsitek desain dari Haidar


Aliyev Center setelah kompetisi pada tahun 2007. Pusat itu, yang dirancang
untuk menjadi bangunan utama bagi program budaya bangsa, terputus dari
arsitektur Soviet yang kaku dan seringkali monumental yang begitu lazim
di Baku, bercita-cita untuk mengekspresikan kepekaan budaya Azeri dan
optimisme suatu bangsa yang melihat ke masa depan.

Gambar 3.26 Heydar Aliyev Cultural Central


Sumber: Archdaily.com

Konsep desain

Desain Heydar Aliyev Center membentuk hubungan yang terus


menerus dan lancar antara plaza sekitarnya dan interior gedung. Alun-alun,
sebagai permukaan tanah; dapat diakses oleh semua sebagai bagian dari
kain kota Baku, naik untuk menyelimuti ruang interior publik yang sama
dan menentukan urutan ruang acara yang didedikasikan untuk perayaan
kolektif budaya Azeri kontemporer dan tradisional. Formasi yang rumit
seperti undulasi, bifurkasi, lipatan, dan infleksi memodifikasi permukaan
plaza ini menjadi lanskap arsitektur yang melakukan banyak fungsi:
menyambut, merangkul, dan mengarahkan pengunjung melalui berbagai

62
tingkat interior. Dengan gerakan ini, bangunan mengaburkan diferensiasi
konvensional antara objek arsitektur dan lansekap kota, selubung bangunan
dan plaza kota, figur dan tanah, interior dan eksterior.

Gambar 3.27 Heydar Aliyev Cultural Central


Sumber: Archdaily.com

Fluiditas dalam arsitektur bukanlah hal baru di wilayah ini. Dalam


arsitektur Islam historis, baris, kisi, atau urutan kolom mengalir ke tak
terhingga seperti pohon di hutan, membangun ruang non-hirarkis. Pola
kaligrafi dan hias terus-menerus mengalir dari karpet ke dinding, dinding ke
langit-langit, langit-langit ke kubah, membangun hubungan tanpa batas dan
memburamkan perbedaan antara elemen arsitektur dan tanah yang mereka
tempati. Tujuan kami adalah untuk berhubungan dengan pemahaman
historis arsitektur, bukan melalui penggunaan mimikri atau kepatuhan yang
terbatas terhadap ikonografi masa lalu, tetapi dengan mengembangkan
interpretasi kontemporer yang kuat, yang mencerminkan pemahaman yang
lebih bernuansa. Menanggapi penurunan tipis topografi yang sebelumnya
membelah situs menjadi dua, proyek ini memperkenalkan lansekap
bertingkat yang tepat yang membentuk koneksi alternatif dan rute antara
plaza publik, bangunan, dan parkir bawah tanah. Solusi ini menghindari
penggalian dan penimbunan limbah tambahan, dan berhasil mengubah
kerugian awal situs menjadi fitur desain utama.

63
Gambar 3.28 Heydar Aliyev Cultural Central
Sumber: Archdaily.com

Geometri, struktur, materialitas

Salah satu elemen yang paling penting namun menantang dari proyek ini
adalah pengembangan arsitektur kulit bangunan. Ambisi kami untuk
mencapai suatu permukaan begitu kontinu sehingga tampak homogen,
membutuhkan berbagai fungsi yang berbeda, logika konstruksi dan sistem
teknis harus disatukan dan diintegrasikan ke dalam amplop bangunan.
Komputasi canggih memungkinkan kontrol dan komunikasi kontinu
kompleksitas ini di antara banyak peserta proyek.

Gambar 3.29 Heydar Aliyev Cultural Central


Sumber: Archdaily.com

Pusat Haidar Aliyev pada prinsipnya terdiri dari dua sistem kerja
sama: struktur beton yang dipadukan dengan sistem kerangka ruang. Untuk
mencapai ruang bebas kolom berskala besar yang memungkinkan
pengunjung mengalami fluiditas interior, elemen struktur vertikal diserap
oleh amplop dan sistem dinding tirai. Geometri permukaan khusus
memupuk solusi struktural yang tidak konvensional, seperti pengenalan
'kolom boot' melengkung untuk mencapai kulit terbalik dari permukaan
tanah ke Barat bangunan, dan 'pas' peniruan balok kantilever yang
mendukung membangun amplop ke Timur situs.

64
Sistem rangka ruang memungkinkan konstruksi struktur bentuk
bebas dan menghemat waktu yang signifikan selama proses konstruksi,
sementara substruktur dikembangkan untuk menggabungkan hubungan
yang fleksibel antara kisi-kisi kaku kerangka ruang dan lapisan eksterior
pelapis bebas yang terbentuk. Jahitan ini berasal dari proses rasionalisasi
geometri kompleks, penggunaan, dan estetika proyek. Glass Fiber
Reinforced Concrete (GFRC) dan Glass Fiber Reinforced Polyester (GFRP)
dipilih sebagai material cladding yang ideal, karena mereka memungkinkan
plastisitas yang kuat dari desain bangunan saat merespon tuntutan
fungsional yang sangat berbeda yang terkait dengan berbagai situasi: plaza,
transisi zona dan amplop.

Gambar 3.30 Heydar Aliyev Cultural Central


Sumber: Archdaily.com

Dalam komposisi arsitektural ini, jika permukaannya adalah musik,


maka lapisan di antara panel adalah ritme. Sejumlah penelitian dilakukan
pada geometri permukaan untuk merasionalisasi panel sambil
mempertahankan kesinambungan di seluruh bangunan dan lansekap.
Lapisannya mempromosikan pemahaman yang lebih besar tentang skala
proyek. Mereka menekankan transformasi berkelanjutan dan gerak tersirat
geometri fluida, menawarkan solusi pragmatis untuk masalah konstruksi
praktis seperti manufaktur, penanganan, transportasi dan perakitan; dan
menjawab masalah teknis seperti menampung gerakan karena lendutan,
beban eksternal, perubahan suhu, aktivitas seismik dan pemuatan angin.

Untuk menekankan hubungan berkelanjutan antara eksterior dan


interior bangunan, pencahayaan dari Haidar Aliyev Center telah
dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. Strategi desain pencahayaan

65
membedakan pembacaan siang dan malam bangunan. Pada siang hari,
volume bangunan memantulkan cahaya, secara konstan mengubah tampilan
Center sesuai dengan waktu dan perspektif penayangan. Penggunaan kaca
semi-reflektif memberikan sekilas menggoda dalam, membangkitkan rasa
ingin tahu tanpa mengungkapkan lintasan fluida ruang di dalamnya. Pada
malam hari, karakter ini berangsur-angsur berubah dengan cara
pencahayaan yang mencuci dari interior ke permukaan luar,
membentangkan komposisi formal untuk mengungkapkan isinya dan
mempertahankan fluiditas antara interior dan eksterior.

Gambar 3.31 Heydar Aliyev Cultural Central Plan


Sumber: Archdaily.com

Gambar 3.32 Heydar Aliyev Cultural Central Plan


Sumber: Archdaily.com

66
Gambar 3.33 Heydar Aliyev Cultural Central
Sumber: Archdaily.com

67
BAB IV
KAJIAN TEMA PERANCANGAN

Alam merupakan sumber yang tiada habisnya dijadikan bahan pembelajaran


untuk kehidupan manusia. Arsitektur selalu berkaitan dengan alam. Manusia
semenjak dahulu kala telah mempelajari alam dan menerapkannya dalam arsitektur
mereka. Kita mengenal Arsitektur Organik sebagai Arsitektur yang berangkat dari
alam sebagai konsep dan pembentukan geometri dalam perancangannya. Untuk
mengenal arsitektur Organik Lebih mendalam, pada bab ini penulis menjabarkan
definisi arsitektur organik dan menguraikan bagaimana konsep tentang bentuk –
bentuk alam dan biologi dapat diterapkan dalam arsitektur. Bab ini juga membahas
mengenai perkembangan arsitektur organik berdasarkan kurun waktu, arsitektur
organik yang diterapkan beberapa arsitek dan karya-karya arsitektur organik
ternama di berbagai penjuru dunia. Kesimpulan bab ini diharapkan dapat
menghasilkan suatu ringkasan mengenai definisi serta evolusi arsitektur organik
dari masa ke masa.

4.1 Asosiasi Logis Tema dan Objek


Arsitektur Organik adalah sebuah filosofi arsitektur yang mempromosikan
keharmonisan antara tempat tinggal manusia dan alam melalui desain pendekatan
sehingga simpatik dan terintegrasi dengan baik dengan situsnya bahwa bangunan,
perabotan, dan sekitarnya menjadi bagian dari komposisi, bersatu saling terkait.
Arsitektur Organik merupakan sebuah konsep arsitektur yang diilhami dari
alam. Terdapat dua pengertian Arsitektur Organik menurut Fleming, Honour &
Pevsner. Pertama, Arsitektur Organik menurut mereka adalah sebuah istilah yang
diaplikasikan pada bangunan atau bagian dari bangunan yang terorganisir
berdasarkan analogi biologi atau yang dapat mengingatkan pada bentuk natural.
Misalnya arsitektur yang menggunakan bentuk-bentuk biomorfik. Pengertian
kedua, Arsitektur Organik menurutnya adalah sebuah istilah yang digunakan oleh
Frank Lloyd Wright, Hugo Haring, dan arsitek lainnya untuk arsitektur yang secara
visual dan lingkungan saling harmonis, terintegrasi dengan tapak, dan

68
merefleksikan kepedulian arsitek terhadap proses dan bentuk alam yang
diproduksinya. (Rasikha, 2009)
Terdapat beberapa konsep dasar Arsitektur Organik menurut Pearson
(2002) yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Building as nature
Bangunan Arsitektur Organik bersifat alami, di mana alam menjadi pokok
dan inspirasi dari Arsitektur Organik. Bentuk bangunan Arsitektur Organik
terinspirasi dari ketidaklurusan organisme biologis.
b. Continuous present
Arsitektur Organik merupakan sebuah desain yang terus berlanjut.
Arsitektur Organik tidak pernah berhenti dan selalu dalam keadaan dinamis
namun tetap membawa unsur keaslian dalam sebuah desain.
c. Form follows flow
Keunikan bentuk bangunan Arsitektur Organik juga dikarenakan Arsitektur
Organik merupakan arsitektur form follow flow (bentuk mengikuti energi).
Bentuk bangunan dengan Arsitektur Organik mengikuti aliran energi dari
alam, menyesuaikan alam sekitarnya secara dinamis, bukan melawan alam.
Alam dalam hal ini dapat berupa angin, cahaya dan panas matahari, arus air,
energi bumi dan lainnya.
d. Of the people
Selain energi dari alam, desain Arsitektur Organik juga dipengaruhi oleh
hubungan dengan pemakai bangunan. Desain Arsitektur Organik
dipengaruhi oleh aktifitas-aktifitas yang diwadahi pada bangunan, tujuan
bangunan, kebutuhan pengguna, kenyamanan penggunanya dan
keinginankeinginan penggunanya. Steadman (2008) mengatakan bahwa
salah satu ide yang melekat pada Arsitektur Organik adalah pada metode
komposisi yang bekerja dari dalam ke luar, yakni dari program kebutuhan
penghuni dan harapan mengenai penampilan luar bangunan.
e. Of the hill
Frank Lloyd Wright menyebutkan bahwa suatu bangunan dengan site lebih
baik berhubungan secara ‘of the hill’ dibandingkan dengan ‘on the hill’. Of

69
the hill di sini memiliki arti bahwa bangunan merupakan bagian dari site,
bukan sekedar bangunan yang ditempatkan di atas sebuah site.
f. Of the materials
Asitektur organik juga dapat diekspresikan melalui material yang digunakan.
Menurut Steadman dalam Rasikha (2009) ada kecenderungan penggunaan
material tertentu dalam Arsitektur Organik. Material yang dipilih antara lain
material alami, material lokal dan material yang dapat memproduksi bentuk
bebas. Tsui dalam Rasikha (2009) menjabarkan beberapa kategori material
untuk arsitektur yang perancangannya berbasis alam, yaitu menggunakan
material yang dapat memiliki beberapa fungsi sekaligus (sebagai interior dan
eksterior), penggunaan material daur ulang dalam konstruksi, dan jika
mungkin, gunakan material bangunan yang tidak beracun dan desainnya
dapat mengurangi polusi dalam bangunan.
g. Youthful and unexpected
Arsitektur Organik biasanya memiliki karakter yang inkonvensional, profokatif,
terlihat muda, menarik dan mengandung keceriaan anak-anak. Tsui dalam Rasikha
(2009) mengatakan, unsur-unsur yang dapat ditemukan pada bangunan organik
antara lain adalah: perubahan, pergerakan fisik dari komponen-komponen
bangunan, kontinuitas struktur dan tampak, ruang yang terbuka dan beragam, denah
dengan grid yang tidak seragam, serta fluktuasi pada level lantai.
Dari Ke 7 konsep tersebut sangat berkaitan erat dengan objek perancangan
Pusat Kebudayaan Minahasa yang dimana suatu bentukan arsitekur terbentuk dari
alam. Yang diharapakan bahwa bentukan objek nantinya terinspirasi dari
lingkungan sekitarnya dan merepresentasikan dari segala aspek alam sekitarnya
termasuk dengan kebudayaan lingkungan itu sendiri.
Jika Dikaitkan dengan Genius Loci, Tema Arsitektur Organik merupakan
tema yang sangat tepat diterapkan pada Objek Pusat Kebudayaan sehingga Tema
Organik diharapkan dapat memperkuat karakter dari Lokasi, Kebudayaan, Sense
of Place, dan Makna Objek Pusat Kebudayaan itu sendiri.

70
4.2 Kajian Tema Secara Teoritis
Arsitektur itu serupa dengan alam itu sendiri, suatu fenomena biogenetic
dan bukan arketipe-arketipe yang kristalin. Kreasi-kreasi tektonik melumpuhkan
perkembangan sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat menciptakan lagi
membrane-membtran organic yang kompleks. ( Ruang dalam Arsitektur, Cornelis
van de ven, hal 208-209)
4.2.1 Definisi Arsitektur Organik
Fleming, Honour & Pevsner (1999) dalam Penguin Dictionary of
Architecture, mendeskripsikan bahwa ada dua pengertian arsitektur organik.
Pertama, arsitektur organik menurut mereka adalah sebuah istilah yang
diaplikasikan pada bangunan atau bagian dari bangunan yang terorganisir
berdasarkan analogi biologi atau yang dapat meningatkan pada bentuk natural
makhluk hidup. Misalnya Arsitektur yang menggunakan bentuk – bentuk bimorfik.
Pengertian kedua, arsitektur organik menurutnya adalah sebuah istilah yang
digunakan oleh Frank Lloyd Wright, Hugo Haring, dan arsitek lainnya untuk
arsitektur yang secara visual dan lingkungan saling harmonis, terintegrasi dengan
tapak, dan merefleksikan kepedulian arsitek terhadap proses dan bentuk alam yang
diproduksinya.

Johnson (1991) dalam bukunya The Theory OF Architecture menulis :


Arsitektur Organik merupakan arsitektur yang dilihat bagaikan atau seperti alam
dalam hal kemiripannya dengan organisme baik dari segi harmoni, karakter, dan
kesatuan, atau karena wujud dan strukturnya berasal dari bentuk – bentuk alam dan
berpadu dengan alam, atau meniru proses-proses atau hasil keluaran alam dalam
hal ini dapat mengatur sesuatu, bereaksi dengan gaya –gaya lingkungan, gaya
gravitasi, mengalami proses yang disebut bertumbuh, berbunga, dan berbiji,
kemudian pada akhirnya mengalami kematian dan dapat memulai segalanya
kembali.

Arsitektur Organik terinspirasi dan ketidaklurusan organisme biologis.


Bentuk – bentuk organisme tidak ada yang lurus di alam ini. Arsitektur Organik
dapat terlihat puitis, radikal, istimewa dan peduli akan lingkungan. Oleh karena itu,
arsitektur organik terlihat unik. Arsitektur organik membubuhkan harmoni antara
tempat, manusia, dan material. Dari segi bentuk, arsitektur menekankan pada

71
keindahan dan harmoni pada bentuk bebas yang mengalir dengan bentuk – bentuk
eskpresif yang berpengaruh apada eskpresi manusia ( Pearson, 2009)

Menurut Ganguly (2008) dalam artikelnya yang berjudul What is Organic


in Architecture, mendefinisikan arsitektur organik merupakan hasil dari pereasaan
akan kehidupan, seperti integritas, kebebasan, persaudaraan, harmoni, keindahan,
kegimbaraan dan cinta. Arsitektur Organik adalah filosofi arsitektur yang
menunjang harmoni antara lingkungan hidup manusia dan dunia alam melalui
pendekatan desain. Arsitektur organik terintegrasi dengan baik dengan tapakdan
memiliki sebuah kesatuan, komposisi yang saling berkaitan, berisi bangunan –
bangunan dan lingkungan sekitarnya. Arsitektur Organik mendeskripsikan ekspresi
individualitas serta mengeksplorasi kebutuhan kita agar selalu terhubung dengan
alam. Arsitektur Organik merupakan sebuah interpretasi prinsip-prinsip alam yang
dijadikan bentuk. Arsitektur Organik biasanya Puitis, Radikal, Aneh, dan secara
lingkungan dapat dikenali, banyak segi, fleksibel dan mengejutkan. Arsitektur
Organik mengharmonisasikan antara ruang luar dan ruang dalam.

Istilah arsitektur organik terlihat dalam berbagai keragaman pendekatan dan


ekspresi arsitektural yang dikembangkan di berbagai tempat di awal abad ke – 20.
Pelopor-pelopor arsitektur organik antara lain Frank Lloyd Wright, Antoni Gaudi
dan Rudolf Steiner, menggambarkan inspirasi prinsip-prinsip organik dengan
caranya masing-masing. Seringkali kesan organik yang dimunculkan
mengantarkan pada bentuk – bentuk bebas dan ekspresif. Bukan berarti sebagai
imitasi terhadap alam, tetapi lebih dimaksudkan untuk mendukung manusia sebagai
makhluk yang hidup dan kreatif (What is Organic Architecture, n.d ).

Dalam arsitektur organik, arsitektur tidak hanya dilihat sebagai ekspresi


budaya dan social, tetapi juga dilihat sebagai sesuatu yang mempengaruhi
kehidupan dalam dan luar dari manusia. Dalam pengertian ini, manusia dilihat
sebagai sesuatu yang memiliki fisik, psikologi, dan spiritual, terhubungi oleh
lingkungannya. Di kala arsitektur secara garis besar didominasi oleh ekonomi,
teknik dan peraturan-peraturan, arsitektur organik berjuang untuk pendekatan
menyeluruh yang juga terdiri dari aspek ekologis, budaya dan aspek spiritual (What
is Organic Architecture, n.d )

72
Frank Lloyd Wright ( 1869 – 1959 ) yang disebut sebagai bapak arsitektur
organik, menulis essai pertama tentang subyek ini sekitar tahun 1910. Frank Lloyd
Wright mendeskripsikan apa yang ia maksud dengan arsitektur Organik dalam
essainya yang berjudul In the Cause of Architecture pada tahun 1914, “… by
organic architecture I mean an architecture that develops from within outward in
harmony with the conditions of its being as distinguished from one that is applied
from without” ( Collins, 1998, p. 152).

Arsitektur Organik, istilah ini diciptakan oleh Frank Lloyd Wright (1867-1959),
meskipun tidak pernah diartikulasikan dengan baik namun dia menuliskan.
Arsitektur Organik juga diterjemahkan ke dalam sifat semua unsur termasuk
dari proses desain Frank Lloyd Wright. Bahan, motif, dan prinsip-prinsip dasar
memesan terus berulang di bangunan secara keseluiruhan. Ide arsitektur organic
tidak hanya merujuk pada bangunan. “hubungan harfiah ke lingkungan alam”
adalah memikirkan hati-hati seolah itu sebuah organisme yang bersatu. Geometri
seluruh bangunan Wright membangun suasana dan tema sentral. Pada dasarnya
arsitektur organic juga desain literal pada seluruh aspek bangunan : dari jendela,
lantai, kursi masing-masing dimaksudkan untuk mengisi ruang. Semuanya
berhubungan satu sama lain, yang mencerminkan sistem symbiosis alam.
Arsitek dan perencana David Pearson mengusulkan daftar aturan terhadap
desain arsitektur organic. Aturan ini dikenal sebagai piagam Gaia untuk arsitektur
dan desain organic. Yaitu ; biarkan desain :
• Terinspirasi oleh alam dan dapat berkelanjutan, sehat, melestarikan,
dan beragam
• Terungkap seperti organisme dari dalam
• Bersifat berkelanjutan
• Menggikuti arus dan menjadi fleksibel dan mudah beradaptasi
• Memenuhi kebutuhan sosial, fisik, dan spiritual.
• “tumbuh dari situsnya sendiri” dan menjadi unik
• Memilik konsep elemen kejutan
• Mengungkapkan irama music dan kekuatan tari.

73
4.2.2 Sejarah Perkembangan Arsitektur Organik

Arsitektur organik merupakan istilah yang diluncurkan pertama kali di awal


abad ke-20. Konsep arsitektur yang berangkat dari alam sendiri sudah digunakan
semenjak zaman primitif. Pada bagian ini penulis mengkategorikan dan
mendeskripsikan sejarah perkembangan arsitektur organik berdasarkan kerangka
waktu. Kategori pertama berisi sekilas perkembangan arsitektur dengan konsep
alam yang dimulai semenjak awal peradaban manusia hingga masa sebelum Art
Nouveau. Kategori kedua merupakan perkembangan arsitektur organik di masa
arsitektur modern, tepatnya perkembangan di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-
20, yang diawali oleh gerakan Art Nouveau. Sedangkan kategori terakhir
merupakan perkembangan arsitektur organik di masa postmodern hingga masa kini.

4.2.2.1 Perkembangan Arsitektur Organik Awal


Penggunaan konsep alam dalam arsitektur sudah berlangsung semenjak
awal peradaban manusia. Arsitektur vernakular primitif menggunakan material
lokal dan sederhana, dengan struktur dan bentuk yang berasal dari alam. Peradaban
Yunani Kuno mempelajari bentuk-bentuk alam dan tubuh manusia, dan
mengabstraksikannya sebagai kaidah geometri. Mereka menggunakan bentuk
lingkaran, elips, segitiga, dan kotak untuk memperoleh proporsi tertentu pada
bangunan yang mereka buat.

Gambar 4.1 Bentuk alam dan proporsi yang dihasilkan

Sumber : Donald in Mathmagic Land. Walt Disney tahun 1959

Kaidah proporsi yang dipelajari dari alam tersebut, memiliki kaitan dengan
ilmu matematika. Perhitungan spiral logaritmik pada bentuk keong misalnya, dapat
menghasilkan kotak-kotak yang disebut dengan golden rectangles. Rasio antara
panjang dan lebarnya dikenal dengan golden section. Konsep golden section dan

74
golden rectangles ini dipakai sebagai aturan estetika arsitektur Yunani pada kala
itu. Konsep tersebut diterapkan mulai dari elemen bangunan hingga pada patung
yang mereka buat.

Gambar 4.2 Aplikasi golden rectangles pada bangunan Yunani Kuno

Sumber: Donald in Mathmagic Land, Walt Disney 1959

Vitruvius mempercayai bahwa tubuh manusia merupakan ekspresi kesatuan


(unity) yang paling ideal. Gambar homo quadratus dengan tangan dan kaki yang
dibentangkan, merupakan gambaran proporsi ideal dengan bentuk geometri yang
dianggap paling sempurna, kotak dan lingkaran. Ide proporsi ideal diterapkan pada
arsitektur Romawi, Byzantin dan arsitektur Islam. Ide klasik tentang kaidah
proporsi ini kembali dikembangkan pada masa Renaissance. Kaidah proporsi
tersebut pada arsitektur menggunakan sistem rasio matematika (Pearson, 2009).

4.2.2.2 Perkembangan Arsitektur Organik di Masa Arsitektur Modern

Perkembangan arsitektur berikutnya terjadi ketika terdapat suatu keinginan


untuk bebas dari aturan klasik. Prinsip-prinsip arsitektur baru diusulkan oleh
Ruskin, Pugin, dan Viollet-le-Duc. Mereka terinspirasi dari bentukbentuk alam dan
proses alami, dan mengusulkan tradisi-tradisi bangunan abad pertengahan seperti
hirarki antara fungsi dan bentuk, ekspresi struktural, kejujuran material, keahlian
dan ketrampilan, warna dan ornamen (Pearson, 2009).

Perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang biologi cukup memberi


pengaruh terhadap arsitektur. Kemajuan pesat dalam bidang biologi diawali sekitar
tahun 1750. Pada saat itu muncul ide atau tulisan-tulisan mengenai klasifikasi
tumbuhan, dan akibat klasifikasi tanaman, muncullah istilah ‘organik’. Istilah
‘organik’ pertama kali diperkenalkan oleh Xavier Bichat di tahun 1800. Istilah

75
‘organik’ dimaknai sebagai “kehidupan yang berakar pada titik tertentu”, bukan
“kehidupan yang bergerak”. Lamarck pada tahun 1800 memperkenalkan istilah
‘biology’, yang berarti ilmu kehidupan. Dan pada saat bersamaan, Johann
Wolfgang von Goethe memperkenalkan istiah ‘morphology’, atau ilmu tentang
bentuk (Collins, 1998).

Goethe (1749-1832) mempelajari morfologi dan metamorfosis tumbuhan


dan hewan. Teori-teori Goethe memiliki pengaruh yang cukup mendalam pada
filosofi spiritual Rudolf Steiner. Rudolf Steiner (1861-1925) memperkenalkan
prinsip ‘metamorfosis’ pada arsitektur berdasarkan studi yang dilakukan Goethe.
Prinsip ini memungkinkan dia untuk mengekspresikan proses perkembangan yang
melekat pada alam, budaya serta kesadaran manusia. Steiner sendiri mendesain
sekitar 13 bangunan, kebanyakan karyanya memiliki ciri khas unik, dengan gaya
organik dan ekspresif. Arsitekturnya disebut sebagai arsitektur anthroposofik.
Contoh bangunan karya Steiner yang disebut dengan Gotheanum, bahkan dianggap
bernyawa (Ven, 1995).

Gambar 4.3 Gothenaum pertama, 1920, Donach, Swiss.

Sumber: Wikipedia

Ernst Haeckel (1834-1919) merupakan seorang ahli biologi, seorang


profesor dalam ilmu zoologi. Dua belas tahun dalam hidupnya ia mempelajari
makhluk bersel satu dan protozoa. Ia menemukan bahwa bentuk-bentuk organik
merupakan bentuk yang kompleks dan memiliki kesimetrisan. Hasil penemuannya
terhadap bentuk-bentuk organism sangat mempengaruhi Art Nouveau, khususnya
dalam seni dekoratif yang mengambil bentuk-bentuk organik.

76
D’Arcy Thompson (1860-1948) mempelajari bentuk-bentuk organik
melalui penjelasan dari ilmu matematika dan fisika. Ia dapat menunjukkan bentuk-
bentuk dan struktur-struktur dari alam, dengan kompleksitasnya, kekayaan,
kerumitan, dan keindahan, tersusun dalam merespon keinginan organisme agar
dapat bertahan hidup.

Gambar 4.4 Penelitian yang dilakukan oleh D’Arcy Thompson

Sumber: On Growth and Form

D’Arcy Thompson percaya bahwa bentuk dan pertumbuhan suatu


organisme bukanlah sesuatu yang tidak dapat terdefinisikan. Fenomena bentuk dan
pertumbuhan dituliskan dalam sebuah ekspresi matematika dengan fakta bahwa
force (gaya) sangat mempengaruhi bentuk dan tumbuhnya suatu organisme. Ia
menggunakan sistem grid untuk menjelaskan gejala bentuk yang terjadi pada
beberapa organisme. Beberapa contoh penelitiannya mengungkap bahwa ada
organisme beda spesies terlihat mirip, memiliki kesamaan struktur tubuh, namun
proporsi sistem koordinat pada tubuhnya berbeda akibat transformasi (Thompson,
1961).

Sepuluh tahun terakhir di abad-19 tidak hanya berdiri sebagai saksi dari
kesuksesan arsitektur bergaya floral, tetapi juga berperan menandai pembukaan
jalan kepada rasionalisme dan gaya organik. Gaya organik atau biomorfik sangat
kental terlihat dalam gaya arsitektur Art Nouveau (Francastel, 2000).

Istilah Art Nouveau datang dari toko S. Bing di Paris yang dibuka pada
tahun 1895, kemudian juga dari jurnal Jerman pada tahun 1896, muncul istilah
Jugendstil. Karakteristik yang muncul pada Art Nouveau adalah karakter bentuk
asimetris seperti api yang menyala-nyala, dan penolakan terhadap hubungan
apapun dengan masa lampau. Para perancang Art Nouveau memilih alam sebagai

77
inspirasinya karena mereka membutuhkan bentuk-bentuk baru untuk
mengekspresikan sesuatu yang dapat tumbuh, bukan buatan manusia, sesuatu yang
organik namun bukan bentuk-bentuk kristal. Karakter Art Nouveau antara lain
menghindari garis lurus, menghindari masa lalu, dan sangat personal (Pevsner,
1995).

Art Nouveau memiliki kesamaan karakteristik yang utama dengan arsitektur


organik, yakni penolakan terhadap garis lurus. Hanya saja, arsitektur Art Nouveau
lebih menekankan pada gaya floral, atau inspirasinya lebih banyak datang dari
tumbuh-tumbuhan. Art Nouveau merupakan sebuah fantasi biomorfik dengan tiga
pusat utama: Brussel, Paris dan Nancy, serta Barcelona (Trachtenberg & Hyman,
1986).

Gaya arsitektur pada masa tertentu juga dapat ditandai dengan penggunaan
material. Abad ke-19 ditandai dengan konfrontasi antara gaya arsitektur tradisional
dengan teknologi baru. Hubungan antara seni dan teknologi dipengaruhi oleh
kepercayaan yaitu teknologi akan membuka jalan menuju era arsitektur baru.
Tujuannya adalah untuk membawa estetika ke dalam harmoni struktur. Teknologi
yang digunakan masa ini diperlihatkan dengan penggunaan material seperti besi
atau baja. Penggunaan material besi tidak hanya dijadikan sebagai material
struktural, namun juga dijadikan elemen dekoratif (Duncan, 1994).

Harmoni antara struktur dan estetika dari ornamentasi dapat dilihat dari
contoh bangunan karya Victor Horta pada tahun 1892-93, yakni rumah pribadi
untuk Emile Tassel (Tassel House). Desainnya membuat kejutan bagi setiap orang.
Dengan desain rumah Tassel ini, Horta telah membawaArt Nouveau yang dianggap
sebagai seni dekoratif dua dimensi ke dalam skala yang lebih besar, yakni ke dalam
seni terapan tiga dimensi, arsitektur. Contoh bangunan ini merupakan sebuah
pembuktian bahwa gaya Art Nouveau yang mulanya berawal dari skala kecil, yakni
desain grafis seperti logo cap perusahaan, lukisan, desain tekstil, dan benda seni
tiga dimensi seperti vas, patung, ke dalam skala besar yaitu arsitektur (Pevsner,
1995).

78
Gambar 4.5 Tassel House, Victor Horta

Sumber: http://i2i2 .photobucket.com

Contoh lain karya arsitektur Art Nouveau yaitu Paris subway system (metro)
yang dibuat oleh Hector Guimard pada tahun 1900. Paris metro juga menunjukkan
penggunaan material besi dengan bentuk organik. Jika desain organik Horta
memiliki karakteristik seperti sulur tumbuhan, desain organik Guimard lebih luas,
dapat berbentuk seperti tumbuhan, hewan, seperti tulang atau serangga
(Trachtenberg & Hyman, 1986).

Lebih dari satu sekolah arsitektur menyatakan bahwa arsitektur Art


Nouveau sebenarnya tidak pernah ada. Argumennya adalah, bahwa Art Nouveau
tidak lebih dari sekedar fashion dekoratif, yang bertahan paling tidak hanya 10
tahun lamanya (Pevsner, 1995). Namun pertentangan tersebut tak dapat bertahan.
Karena sangat berharga jika melihat karyakarya Gaudi yang sedang memuncak
pada saat itu. Selama hidupnya, Gaudi mempelajari sudut dan kurva alam dan
memasukkannya ke dalam desain. Daripada bergantung pada bentuk-bentuk
geometrik, ia meniru bagaimana cara manusia berdiri. Bentuk hiperbola dan
parabola yang ia pinjam dari alam dengan mudahnya diperkuat dari balok-balok
baja sehingga desainnya dapat menyerupai elemen-elemen lingkungan (Wikipedia,
2009).

Salah satu contoh bangunan biomorfik Gaudi yang terkenal adalah Casa
Mila. Fasadnya memiliki bentuk meliuk-liuk seperti ombak. Tidak hanya fasadnya
saja yang memiliki ekspresi biomorfik, namun denahnya juga memperlihatkan
kesan pertumbuhan organik. Hal ini terlihat dari denahnya yang seakan-akan seperti
sebuah sel organisme yang memiliki inti.

79
Gambar 4.6 Fasade Casa Mila (kiri) dan denah Casa Mila (kanan)

Sumber: Architecture; From Art Nouveau to Deconstructivism.

Karya Gaudi lainnya yang memiliki karakteristik biomorfik adalah Park


Guell di Barcelona. Garis-garis lengkung mendominasi desain tamannya ini,
sehingga karyanya terlihat plastis. bahkan ia membuat patung-patung yang
menyerupai makhluk hidup, seperti patung reptilia.

Gambar 4.7 Park Guell, Barcelona

Sumber: Wikipedia

Art Nouveau menunjukkan bahwa definisi organik pada era ini berkisar
tidak hanya tentang keindahan bentuk-bentuk alam, tetapi bagaimana material dan
struktur dapat dibuat seekspresif mungkin. Ornamentasi dan struktur menjadi
sebuah hubungan yang sangat erat.

Karya arsitektur Louis Sullivan (1856-1924) juga terkenal dengan


ornamentasi denagn bentuk-bentuk organik. Sullivan merupakan salah satu pelopor
yang mengenalkan konsep ‘arsitektur organik’. Dengan mempelajari alam lebih
dekat, ia menyatakan bahwa bentuk selalu mengikuti fungsi (form follow function)
dan ia membuat prinsip ini sebagai sebuah panduan untuk desain-desain
arsitekturnya (What is Organic Architecture, n.d.).

Frank Lloyd Wright sendiri menganggap bahwa bangunan merupakan


bagian dari alam, bangunan terkesan seolah-olah muncul dari alam atau tapak di

80
mana bangunan tersebut berdiri. Wright tidak menyukai simetri yang statis, ia lebih
menyukai kedinamisan alam yang tidak beraturan. Jadi, arsitektur organik menurut
Frank Lloyd Wright lebih menekankan pada harmonisasi antara alam dengan
bangunan, arsitektur yang tumbuh dari dalam keluar serta kedinamisan yang
dihasilkan oleh ketidakteraturan.

Gambar 4.8 Falling Water (kiri) dan Philip Johnson Wax Building (kanan)

Sumber: www.wrighthouse.com (kiri) dan www.greatbuildings.com


(kanan)

Hugo Häring, seorang arsitek ekspresionis yang berusaha mencari karakter


organik, membedakan dua tampilan pada bentuk: purpose (guna) dan expression
(ungkapan). Haring mendefinisikan dua macam tatanan (order): tatanan geometrik
dan tatanan organik. Baginya, ekspresi dari tatanan organik mendekati tuntutan-
tuntutan fungsional. Tatanan organik mempresentasikan pemenuhan hidup itu
sendiri, penampilan aktual dari arsitektur (Ven, 1995, p. 210).]

Arsitektur organik bagi Aalto diterapkan dalam berbagai hal, misalnya


integrasi dengan topografi tapak, integrasi dengan material untuk harmonisasi
interior dan eksterior, penggunaan material yang tepat, material lokal disesuaikan
dengan iklim di daerah tapak bangunan, dan sebagainya. Aalto pun menggunakan
metafora untuk beberapa bangunannya (Antoinades, 1990). Bentuk-bentuk
melengkung pada arsitektur Aalto berhubungan dengan pencariannya tentang
bentuk-bentuk anthropomorfik dan bentuk yang terinspirasi dari fenomena alam.
Arsitektur yang dekat dengan alam menurutnya lebih dari sekedar penggunaan
material dan topografi lokal, alam diartikan sebagai sumber ‘hukum’ atau sebagai
‘model untuk arsitektur’ (Curtis, 1996). Dapat dikatakan bahwa arsitektur organik

81
yang diterapkan Aalto lebih mengarah kepada harmonisasi dengan tapak dan
penggunaan material lokal.

Arsitektur organik tampaknya mulai memudar setelah perang dunia kedua.


Bentuk-bentuk organik diyakini kurang praktis dan ekonomis, sehingga
menyebabkan penolakan terhadap gaya organik pada bangunan. Oleh karena itu
muncullah International Style dengan bentuk-bentuk kotak, seragam, yang dinilai
lebih ekonomis. Kebosanan akan bentuk-bentuk kotak, memunculkan gerakan
ekspresionisme. Gaya ekspresionisme sendiri memiliki karakter seperti Art
Nouveau, yakni mengadopsi material, inovasi bentuk, dan massing yang tidak
biasa, kadang diinspirasi oleh bentuk-bentuk biomorfik alam, kadang dari
kemungkinan teknikal yang ditawarkan oleh produksi massa batu bata, baja, dan
khususnya kaca. Contoh karya arsitektur ekspresionisme adalah Einstein Tower
oleh Erich Mendelhson.

Gambar 4.9 Einstein Tower di Potsdam-Berlin, Erich Mendlehson, 1912-


22

Sumber: Wikipedia

Arsitektur Art Nouveau, Gaudi dan ekspresionisme merupakan tiga macam


gaya organik yang hampir bersamaan waktunya. Ketiga gaya tersebut
mencerminkan semangat organik dengan fantasi bentuk biomorfik (Trachtenberg
& Hyman, 1986).

82
4.2.2.3 Perkembangan Arsitektur Organik di Masa Arsitektur Post-
Modern

Di era tahun 1950-60an, arsitektur organik mengalami kebangkitannya


kembali. Kebangkitan ini ditandai oleh beberapa pencetus pergeraka modern yang
mentransformasikan karakter geometris kaku menjad karakter yang lebih hidup dan
lebih organik. Misalnya Le Corbusier, dengan kejutannya, dan perkembangan lebih
lanjut oleh Alvar Aalto dan Hans Scharoun (What is Organic Architecture, n.d.).
Contoh-contoh bangunan organik pada masa ini yaitu Notre-Dame-du-Haut atau
gereja Ronchamp (1950-1955) oleh Le Corbusier, TWA Terminal (1952-1962)
oleh Eero Saarinen, Sydney Opera House (1957-1973) oleh Jorn Utzon,
Philaharmonie (1956-1963) oleh Hans Scharoun, dan Finlandiahall (1962- 1975)
oleh Alvar Aalto.

Gambar 4.10 TWA Terminal, Eero Saarimen (kiri) dan Sydney Opera
House (kanan)
Sumber: www.sydney.com.au, www.flickr.com

Gambar 4.11 Berlin Philharmony, Hans Scharoun (kiri) dan Finlandiahall,


Alvar Aalto (kanan)
Sumber: www.pushpullbar.com (kiri) dan www.moma.org (kanan)
Imre Makovecz yang berasal dari Hungaria, menciptakan arsitektur organik
yang memadukan berbagai aspek dalam karya-karyanya. Ia memadukan arsitektur
National Romanticism tahun 1900 dengan arsitektur dongeng rakyat (folk
architecture), bangunan hijau bawah tanah, dan metafora anthropomorphic dan

83
zoomorphic. Ekspresi organik yang ia gunakan yaitu dengan simbolisme. Bentuk
wajah, elang, bibir, mata, kulit, tulang belakang, dan otot terlihat menonjol pada
karya-karyanya. Ia punmembuka jalan dengan tatabahasa baru dalam arsitektur
organik dengan cara sedikit memutar bentuk-bentuk struktur dan
menyelesaikannya. dengan bidang-bidang datar yang saling overlapping.
Makovecz melihat tradisi organik dalam istilah ekologis dan kosmik (Jenks, 1997).

Gambar 4.12 Siofok Lutheran Church 1986-1990

Sumber: http://www.zenth.dk

Charles Jenks (2002), seorang tokoh yang memperkenalkan istilah


postmodern dalam dunia arsitektur, menjelaskan bahwa ada sebuah paradigma baru
pada arsitektur yang memiliki pendekatan metafora alam pada perancangannya.
Dalam bukunya, The New Paradigm in Architecture, ia melihat bahwa
kecenderungan image arsitektur High-Tech semakin mengarah kepada hal-hal
berbau organik. Contoh arsitek dan hasil karyanya yang tergolong ke dalam
organitech antara lain Norman Foster dengan bangunannya Swiss Re Headquarters
dan Waterloo Station yang keduanya berlokasi di London, Nicholas Grimshaw
dengan bangunannya The Eden Project dengan bentuk yang menyerupai
gelembung, serta Santiago Calatrava dengan bangunannya City of Arts and
Sciences di Valencia. Contoh-contoh bangunan organitech paling spektakular yaitu
bangunan yang pernah dibuat oleh Santiago Calatrava, seorang arsitek sekaligus
insinyur dan seorang pengikut contoh karya Antonio Gaudi (Jenks, 2002).

Istilah lain yang terkait dengan arsitektur organik baru adalah arsitektur
bionik. Arsitektur bionik merupakan sebuah pergerakan untuk desain dan
konstruksi pada bangunan-bangunan ekspresif yang susunan dan garisgarisnya
merepresentasikan bentuk-bentuk alam. Pergerakan ini mulai matang di awal abad

84
ke-21. Arsitektur bionik menempatkan dirinya sebagai bentuk perlawanan pada
desain-desain ‘lurus’ dengan cara menggunakan bentuk dan permukaan
melengkung, mengingatkan pada struktur-struktur biologi dan matematika fraktal
(Wikipedia, 2009).

Arsitek-arsitek yang menerapkan arsitektur bionik hampir sama dengan


arsitek-arsitek organitech. Mereka di antaranya adalah: Greg Lynn, Bates Smart,
Nicholas Grimshaw, Santiago Calatrava, Norman Foster, Ken Yeang, Daniel
Libeskind, dan Jan Kaplicky. Jan Kaplicky, salah satunya, merupakan pendiri
Future System, sebuah biro arsitek dengan desaindesain arsitektur organiknya yang
radikal. Ia menggunakan alam sebagai model dalam berbagai level, misalnya
mempelajari sarang rayap dengan dua kulit dan ventilasi alami, atau struktur alam
yang ringan pada sarang laba-laba dengan kekuatan lebih besar. Menurutnya
bentuk-bentuk organik memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi, khususnya pada
penggunaan material (Edwards, 2001).

Gambar 4.13 Selfridge, Arsitektur biomorfik, Future System

Sumber: http://forgemind.net

It is not hard to believe that the current revolution will open the doors to a
hybrid territory, an intermediate dimension between real and virtual, a matter
halfway between organic and inorganic, a code of information that blends the
genetic and digital. This is the postorganic horizon that the key of the body has
pointed us towards as the far-reaching convergence between the living landscape
of the body and the built-up landscape of architecture (Palumbo, 2000, p. 83).

Kutipan di atas menghasilkan istilah ketiga yang berhubungan dengan


arsitektur organik kontemporer, yaitu istilah arsitektur postorganic. Postorganic

85
adalah suatu pertemuan baru antara tubuh dan arsitektur melalui teknologi
elektronik. Jadi, tidak hanya penggunaan teknologi bangunan seperti struktur dan
material baru yang mendefinisikan arsitektur organitech atau arsitektur bionik,
tetapi juga penggunaan teknologi digital dan elektronik dapat membentuk makna
baru pada arsitektur organik.

Kemunculan arsitektur organik baru tidak hanya melanda dunia Barat, tetapi
juga di Asia. Negara-negara kuat di Asia kini berlomba-lomba memperlihatkan
kebanggaan nasional mereka melalui wadah arsitektur. Toyo Ito dengan karya-
karyanya di Jepang berhasil menciptakan kreasi baru yang terinspirasi dari alam.
Karya-karyanya antara lain Tod’s Ometesando, Sendai Mediatheque, dan
Hanamidori Cultural Center (kerjasama dengan Atelier Bow-wow). Tod’s
Ometesando merupakan sebuah toko pakaian merk desainer dari Italia, dengan
struktur bangunan yang menyerupai bentuk pohon Zelkova, yang terbuat dari beton
bertulang. Sedangkan pada bangunan Sendai Mediatheque dan Hanamidori
Cultural Center, terdapat kesamaan pada bentuk strukturnya, yakni dengan
penggunaan kolom yang terdiri dari tabung-tabung besi. Bentuk strukturnya
terinspirasi dari tanaman air yang tumbuh di dalam akuarium.

Gambar 4.14 Tod’s Ometesando (kiri), Sendai Mediatheque (tengah), dan


Hanamidori Cultural Center (kanan)

Sumber: decoracaioninterior info (kiri) www.east-asia-architecture.org


(tengah) dan www.archdaily.com (kanan)

Perkembangan arsitektur organik dengan teknologi tinggi, atau organitech


di Asia menurut penulis mencapai puncaknya pada bangunan-bangunan pendukung
pergelaran Olimpiade Beijing 2008. Bandara internasional Beijing, karya Foster
and Partners, memiliki pola segitiga pada atap yang konon terinspirasi dari kulit
naga, hewan suci kepercayaan masyarakat China. Stadion Olimpiade Beijing

86
merepresentasikan generasi baru dari arena olahraga. Dirancang oleh Herzog dan
De Meuron, stadion ini terinspirasi dari bentuk mangkok tradisional khas China,
namun ada yang berpendapat bahwa inspirasinya berasal dari bentuk sarang
burung. Fasad dan strukturnya menjadi satu; bangunan ini mengintegrasikan fasad,
tangga, struktur mangkok, dan atap. Fasad yang tidak sepenuhnya tertutup
memberikan ventilasi alami, yang menjadi aspek penting dalam perancangan
stadion yang berkelanjutan (Buck, 2006).

Gambar 4.15 Beijing National Stadium dan Beijing International Airport

Sumber: Asia Now! Architecture in Asia

Apa selanjutnya? Perkembangan arsitektur organik tidak akan berhenti


sampai detik ini. Penulis memprediksi bahwa di masa depan, arsitektur organik
memiliki kecenderungan untuk terus berkembang, mengarah kepada arsitektur
organik dengan bentuk biomorfik yang lebih berani dan didasari oleh pentingnya
mendesain berbasis ekologi. Pernyataan ini didasari oleh berbagai sumber, dan
penulis melihat ada suatu kecenderungan ke arah tersebut. Salah satu sumber yang
dipercaya penulis sebagai sebuah kecenderungan bentuk biomorfik di masa depan
yakni dari sebuah kompetisi perancangan bangunan tinggi yang diadakan oleh
Evolo Architecture (www.evolo-arch.com). Berikut ini merupakan beberapa
contoh karya kontestan yang berhasil memenangkan sayembara tersebut.

87
Gambar 4.16 Karya Pemenang Sayembara Evolo

Sumber : www.evolvo-arch.com

4.2.2.4 Ringkasan Perkembangan Arsitektur Organik

Aplikasi ide-ide organik dari masa ke masa mengalami perubahan,


walaupun perubahannya lebih dikarenakan oleh perkembangan teknologi. Penulis
melihat sedikitnya ada lima kategori yang menjadi pengaplikasian ide organik
dalam perkembangan arsitektur organik. Pengaplikasian ide organik tersebut antara
lain melalui ekspresi bentuk, penggunaan ornamen, sistem struktur, eksplorasi
material, dan sebagainya.

Pada tabel di halaman berikut dapat terlihat perubahan yang terjadi pada
arsitektur organik dari masa ke masa. Di era awal abad ke-20, penggunaan ornamen
sebagai wujud aplikasi ide organik sangat kental. Namun ide ornamen tersebut
hilang di era-era berikutnya. Yang makin berkembang adalah penggunaan bentuk
biomorfik pada wujud bangunan, eksplorasi material dan struktur sebagai
pendukung arsitektur organik. Sejarah juga mengungkap bahwa semakin mengarah
ke era saat ini, tanggung jawab terhadap lingkungan pun semakin menjadi pusat
perhatian.

88
Tabel 4.1 Ringakasan Perkambangan Arsitektur Organik

89
4.2.3 Arsitektur Organik Frank Lloyd Wright

Frank Lloyd Wright memperkenalkan arsitektur organik pada bangunan


arsitekturalnya di abad 19, menggunakan konsep baru tersebut pada dunia
arsitektur. sementara penggunaan umunya mengacu pada sesuatu yang memiliki
karakteristik dari hewan atau tumbuhan. Ia memodifikasi dari slogan milik Sullivan
form follows function menjadi Form and function should be one yang berarti bahwa
bentuk dan fungsi harus menjadi satu kesatuan, menggunakan alam sebagai
inspirasi terbaik, melainkan bukan sebagai imitasi semata.

Prinsip dasar Arsitektur Organik menurut Frank Lloyd Wright :


• Bentuk organik bukan berarti bentuk yang mengimitasi dari alam
tetapi sebuah pengertian dasar yang abstrak dari prinsip-prinsip
alam.
• Arsitektur Organik adalah ekspresi kehidupan dari semangat hidup
manusia. Penekanan desain Arsitektur Organik
• Arsitektur Organik adalah arsitektur kebebasan sebagai batas ideal
dari demokrasi.

Filosofi Frank Lloyd Wright


• Bentuk dan Fungsi adalah satu
• Ornamen yang terpadu bukan hanya seagai penempelan melainkan
structural yang konstruksional
• Bangunan yang baik harus mempunyai hubungan dengan
lingkungan.
• Atap dari bidang diciptakan sebagai pelindung serta menghargai
manusia di dalamnya, sehingga tidak merasa dicampakkan alam.

Beeberapa pengaruh dalam karya Frank Lloyd Wright :


• The Earth Line / Horisontalisme
Style mendekati tanah, suatu hal yang memberikan mendekat pada
bumi/tanah. Rumah-rumah ini dibuat sedemikan dengan

90
menggunakan aksen horizontal dari bangunan dimana garis tersebut
sejajar dengan bumi.
• Interprentasi Bidang
• Pada arah keluar ditemukan ekspresi interpenetrasi bidang-bidang
dan masa yang terkomposisi dengan gaya kubisme, dan pada arah ke
dalam terdapat realitas dari Room within space to be lived in, yang
tidak hanya ditemukan dalam ekspresi volumetric yang mengarah
keluar, melainkan juga mengalir melalui berbagai sel spatial sebagai
gerak yang menerus. Ruang Internal dan eksternal saling merasuk
satu sama lain sebagai konsep dari dimensi ketiga yaitu kedalaman.
• The Destruction of a box
Menghilangkan kesan kotak dari bangunan, menghilangkan sistem
kolom konvensional yaitu dengan menghilangkan kolom-kolom
pada sudut bangunan , dan menggantikan dengan dinding penyangga
dan kantilever.
• Continuity Space
Merupakan konsep ruang yang mengalir sebagai citarasa plasitisitas
yang dikembangkan sebagai estetika baru. Ruang-ruang yang
mengalir bebas tanpa terkekang dinding-dinding kaku sesuai dengan
prinsip-prinsip plastisitas yang fleksibel.
• Room within space to be lived in
Merupakan filosofi dari Lao Tzu yang banyak diterjemahkan Wright
dalam desain. Realitas bangunan tidak hanya terdiri dari 4 dinding
dalam atap melainkan dalam ruang dalam dan ruang yang didiami.
Realitas ini disebut kedalaman sebagai satu-satunya elemen hakiki
yang dapat membawa manusia menuju kehidupan.
• Pola hirarki
Tampak pada penyusunan bentuk massa yang memberikan pusat-
pusat sebagai tanda perubahan sumbu, dan memiliki komposisi yang
dominan sebagai core bangunan, biasanya pusat merupakan ruang-
ruang yang bersifat penting.
• Unitarian

91
Suatu kesatuan dalam atau dari semua benda dan menciptakan
bangunan yang mengekspresikan seluruh rasa kesatuan.

Kesimpulan :

• Arsitektur Organik merupakan arsitektur humanis,


memperhatikan manusia didalmnya dan merupakan suatu
shelter yang melingkupi dan melindungai manusia dan
aktivitasnya

• Bentuk Organis bukan merupakan imitasi dari alam, harus


berdasar atas ruang yaitu kesatuan ruang antara ruang dalam
dan ruang luar.

• Harus mampu berhubungan dengan alam. bungan dengan


alam.

• Ornament pada struktur bukan hanya penempelan melainkan


studi konstruksional.

4.3 Studi Pendalaman Tematik


Preseden Arsitektur Organik, Falling Water House (Frank Lloyd Wright)

Gambar 4.17 Fallingwater

Sumber: www.archdaily.com

Salah contoh arsitektur organik yang paling terkenal adalah Fallingwater


House, sebuah rumah kediaman yang dirancang oleh Frank Lloyd Wright untuk
keluarga Kauffman yang bertempat tinggal di Pennsylvania. Wright memiliki

92
banyak pilihan untuk mengalokasikan rumah di lahan tersebut, tapi ia memilih
untuk meletakkan rumah tersebut tepat di atas air terjun dekat dengan anak sungai,
di sebuah petak yang cukup curam dengan suara air terjun. Garis horizontal dan
vertical memiliki karakter yang kuat dalam karya tersebut.

Memasuki pada kawasan falling water, kesan sederhana didapati pada pintu
masuk utama yang hanya ditandai dengan sebuah tiang batu, yang dilanjutkan
dengan bangunan pengelola museum yang didominasi oleh bahan kayu, jalan
setapak dan berujung pada falling water yang berdiri pada bantaran sungai berbatu
dengan sebuah air terjun kecil di bagian depannya. Falling water terletak pada
hamparan hutan Oak dan maple.

Konsep bahan pada falling water sendiri diambil dari Quarry yang berada
di sekitar lokasi dengan pemilihan struktur yang didominasi oleh overhanged/
cantilever yang terbuat dari beton bertulang , hal tersebut dapat dilihat pada Gambar
4.2 . Selain itu, konsep bahan juga dapat terlihat pada penggunaan bahan perabot
pada bangunan yang terlihat pada Gambar 4.3 dan Gambar 4.4 , dimana perabot
pada bangunan falling water tersebut didominasi oleh bahan kayu dan batu alami

Gambar 4.18 Fallingwater

Sumber: www.archdaily.com

Deskripsi teks disediakan oleh arsitek. Di Mill Run, Pennsylvania di Bear Run
Nature Reserve di mana aliran mengalir pada 1.298 kaki di atas permukaan laut dan
tiba-tiba pecah hingga 30 kaki, Frank Lloyd Wright merancang sebuah rumah luar
biasa yang dikenal sebagai Fallingwater yang mendefinisikan kembali hubungan
antara manusia, arsitektur, dan alam. Rumah itu dibangun sebagai rumah akhir
pekan untuk para pemilik, Tuan Edgar Kaufmann, istrinya, dan putra mereka, yang

93
ia jalin persahabatan melalui putra mereka yang belajar di sekolah Wright, the
TaliesinFellowship.
Air terjun telah menjadi retret keluarga selama lima belas tahun dan ketika mereka
menugaskan Wright untuk merancang rumah mereka membayangkan satu di
seberang air terjun, sehingga mereka bisa memilikinya dalam pandangan mereka.
Sebagai gantinya, Wright mengintegrasikan desain rumah dengan air terjun itu
sendiri, menempatkannya tepat di atasnya untuk menjadikannya bagian dari
kehidupan keluarga Kaufmanns.

Gambar 4.19 Fallingwater 3rd Floor Plan

Sumber: www.archdaily.com

Kekaguman Wright untuk arsitektur Jepang sangat penting dalam inspirasinya


untuk rumah ini, bersama dengan sebagian besar karyanya. Sama seperti dalam
arsitektur Jepang, Wright ingin menciptakan keharmonisan antara manusia dan
alam, dan integrasi rumahnya dengan air terjun berhasil melakukannya.

Gambar 4.20 Fallingwater Interior, 4th Floor Plan

Sumber: www.archdaily.com

94
Wright memutar desain rumah di sekitar perapian, perapian rumah yang dia anggap
sebagai tempat berkumpulnya keluarga. Di sini sebuah batu memotong perapian,
secara fisik membawa air terjun ke dalam rumah. Dia juga memperhatikan konsep

ini dengan memperluas cerobong asap secara dramatis untuk menjadikannya titik
tertinggi di bagian luar rumah.

Gambar 4.21 1st Floor Plan, Interior

Sumber: www.archdaily.com

Fallingwater terdiri dari dua bagian: Rumah utama klien yang dibangun antara
1936-1938, dan ruang tamu yang selesai pada tahun 1939. Rumah asli berisi kamar-
kamar sederhana yang dilengkapi oleh Wright sendiri, dengan ruang tamu terbuka
dan dapur kecil di lantai pertama, dan tiga kamar tidur kecil yang terletak di lantai
dua. Lantai ketiga adalah lokasi ruang belajar dan kamar tidur Edgar Jr, putra
Kaufmann. Semua kamar berhubungan dengan lingkungan alami rumah, dan ruang
tamu bahkan memiliki langkah-langkah yang mengarah langsung ke air di
bawahnya.
Sirkulasi melalui rumah terdiri dari lorong-lorong gelap dan sempit, dimaksudkan
dengan cara ini sehingga orang mengalami perasaan kompresi jika dibandingkan
dengan ekspansi yang semakin dekat dengan alam. Langit-langit kamar rendah,
hanya mencapai 6'4 "di beberapa tempat, untuk mengarahkan mata secara
horizontal untuk melihat keluar. Keindahan ruang ini ditemukan dalam ekstensi
mereka terhadap alam, dilakukan dengan teras kantilever panjang. Menembak
keluar pada serangkaian sudut kanan, teras menambahkan elemen pahatan ke
rumah-rumah selain dari fungsinya.

95
Teras-teras membentuk kekuatan horizontal yang kompleks dan utama dengan
tonjolan-tonjolan mereka yang membebaskan ruang dengan pesawat-pesawat
mereka yang sejajar dengan tanah. Untuk mendukung mereka, Wright bekerja
dengan insinyur Mendel Glickman dan William Wesley Peters. Solusi mereka ada
dimaterial.

Gambar 4.22 Fallingwater 2nd Floor Plan, Eksterior

Sumber: www.archdaily.com

Rumah itu mengambil "bentuk batu yang pasti" yang terkait dengan situs, dan untuk
teras mereka memutuskan pada struktur beton bertulang. Ini adalah pertama kalinya
Wright bekerja dengan beton untuk rumah tinggal dan meskipun pada awalnya ia
tidak memiliki banyak minat pada material, itu memiliki fleksibilitas untuk
dilemparkan ke dalam bentuk apa pun, dan ketika diperkuat dengan baja itu
mendapatkan kekuatan tarik yang luar biasa.

Gambar 4.23 Fallingwater Eksterior

Sumber: www.archdaily.com

96
Bagian luar Fallingwater menegakkan pola horizontal yang kuat dengan batu bata
dan teras panjang. Jendela pada fasad juga memiliki kondisi khusus di mana mereka
membuka di sudut-sudut, memecahkan kotak rumah dan membukanya ke luar
ruangan yang luas.

Kesempurnaan detail ini menyempurnakan rumah itu sendiri, dan meskipun rumah
cenderung memiliki masalah struktural yang membutuhkan pemeliharaan terus
menerus karena lokasinya, tidak ada keraguan bahwa Fallingwater, yang sekarang
menjadi Landmark Bersejarah Nasional, adalah sebuah karya jenius. Dari
kantilevernya yang berani hingga detail jendela sudutnya dan suara air terjun yang
konstan, Fallingwater adalah kejadian fisik dan spiritual manusia dan arsitektur
yang selaras dengan alam.

Gambar 4.24 Fallingwater Layout Plan

Sumber: www.archdaily.com

97
BAB V

ANALISIS PERANCANGAN

5.1 Program Ruang dan Fasilitas


5.1.1 Pola Hubungan Ruang
Pola Hubungan Ruang dari data analisa aktivitas pengguna, jumlah
kapasitas pengguna program dasar fungsional yang dikaji pada Bab 3 Berikut Pola
Hubungan Secara Mikro setiap Fungsi-nya.

98
Gambar 5.1 Pola Hubungan Ruang
(Sumber: Penulis, 2019)

99
5.1.2 Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang
Pendekatan penentuan jumlah Jumlah Kapasitas Bangunan
Kapasitas jumlah pengunjung diperoleh melalui data Badan Pusat Statistik
Minahasa.

Jumlah Wisatawan di Minahasa 2004-2016

Tabel 5.1 Jumlah Wisatawan di Minahasa 2004-2016

Wisatawan
Jumlah
Mancanegara Domestik

2004 1 677 164 808 166 485

2005 1 994 635 000 636 994

2006 2 030 192 417 194 447

2007 4 250 344 600 348 850

2008 4 889 354 100 358 989

2009 6 532 375 150 381 682

2010 5 011 363 010 368 021

2011 5 020 355 100 360 120

2012 5 597 390 610 396 207

2013 6 299 449 202 455 501

2014 7 461 475 781 483 242

2015 18 182 654 156 672 338

2016 32 125 808 000 840 125

Sumber : BPS Minahasa

PN 2016 = 840 125

PO 2004 = 166 485

PM 2025 = PO + (N + M) / N (PN +PO)

Keterangan

PN = Jumlah wisatawan pada tahun N

100
PO = Jumlah wisatawan pada tahun awal

PM = Jumlah wisatawan pada tahun yang diestimasikan

M = Selisih tahun yang dicari dengan tahun awal

N = Selisih tahun dari 2 sensus yang diketahui

PM 2025 = 166 485 + (12 + 21) /12 ( 840 125 + 166485)

= 1.746.862jiwa

PM 2025 = 1.746.862jiwa: 365 hari/ 1 tahun

PM 2025 = 4785 jiwa / hari

Diasumsikan presentase wisatawan yang akan datang ke Tondano, Minahasa adalah


40 % maka :

= 4785jiwa x 40 % = 1914 orang / hari

Dan diasumsikan pengunjung yang akan datang pada satu waktu yaitu 30%
sehingga kapasitas nya : 1914 x 30% = 574 orang ditambah dengan staf dan para
pengrajin dan budayawan diasumsikan menjadi 650 orang.

Jumlah Guest House yang dibutuhkan dari 575 pengunjung

Diasumsikan pengunjung yang akan menginap sebanyak 20%

575 x 20% = 120 orang

Diasumsikan 1 Rumah dihuni oleh 6 orang Kebutuhan Rumah = 120/6 = 20 Guest


House

Tabel 5.2 Kebutuhan Ruang dan Besaran ruang Pusat Kebudayaan

101
EKSEBISI
Nama Rg. Kapasitas Kebutuhan Ruang Ukuran Sifat Sumber
Ruang Ruang
1 Lobby 200 orang ((1.6 m2 – 20 x 1.6 = 32 m2 176 + 264 + Publik AS
penjaga (20)) (0.8 m2 – 0.8 x 180 = 144 m2 10 = 450 m2
pengunjung (180)) 176 m2 x 150 %
Furniture = 10 m2 sirkulasi = 264 m2

2 Rg. 5 orang (1.6 m2 – 5 x 1.6 = 8 m2 8 + 3.2 + 8.38 Semi – AS


Informasi penjaga (8)) 8 m2 x 40 % sirkulasi = 19.58 m2 Privat
Furniture = Meja = 3.2m2
(2x1x2 = 4 m2), Kursi
(0.6x0.8x0.6 = 2.88
m2), Lemari (3x0.5x1
=1.5 m2) = 8.38 m2
3 Rg 300 orang ((3.2 m2 – 10 x 1.6 = 160 m2 1120 + 448 + Publik AS
Pameran penjaga (10) (1.6 m2 – 300 x 3.2 = 960 m2 73.2 = 1641.2
Tetap pengunjung (290)) 1120 m2 x 40 % m2
Furniture = Display 1 sirkulasi = 448 m2
(1x1x20 = 20 m2),
Display 2 (1x2x16 =
3.2 m2), Display 3
(2x3x10 = 50 m2) =
73.2 m2
4 Rg 150 orang 150 x 1.6 = 240 m2 240 + 96 + Publik AS
Pameran (1.6 m2 – orang) 240 m2 x 40 % 41.6 = 377.6
Temporer Furniture = Display 1 sirkulasi = 96 m2 m2
(1x1x10 = 10 m2),
Display 2 (1x2x8 = 1.6
m2), Display 3 (2x3x5
= 30 m2) = 41.6 m2
5 Rg 20 orang 20 x 0.8 = 16 m2 16 + 6.4 + Privat DA
Cleanning (0.8 m2 – orang) 16 m2 x 40 % 7.96 = 30.36
Service Furniture = Meja sirkulasi = 6.4 m2 m2
(2x2x1 = 4 m2) , Kursi
(0.3x0.4x8 = 0.96 m2),
Kamar Ganti (1x1.5x2
= 3 m2) = 7.96 m2

102
6 Rg 6 orang (2 m2 – 6 x 2 = 12 m2 12 + 4.8 + 6 = Service DA
Mekanikal petugas (6)) 12 m2 x 40 % 22.8 m2
Furniture = 6 m2 sirkulasi = 4.8 m2

7 Pos 4 orang (Standar 3,2 4 x 3.2 = 12.8 12.8 + 2.56 = Semi – DA


Keamanan m2/orang) 12.8 x 20 % sirkulasi 15.4 m2 Privat
= 2.56 m2

8 Loket Perhitungan Kapasitas 3 x 20 % sirkulasi = 3 + 0.6 = 3.6 Semi – AS


Museum = 600 orang 0.6 m2 3.6 x 4 = 14.4 Privat
Terbagi dalam 3 m2
kelompok = 200 orang
1 Loket melayani 50
orang = 4 Loket
Standar 3 m2
9 Rg Antrian 1 Loket 1 baris antrian Standar gerak (touch 50 x 0.28 x 4 Public AS
= 4 baris, 50 zone area) 0,28 m2 / = 56 m2
orang/baris orang

10 Lavatory 20 orang; 10 pria, 10 WC pria = (2x1.8) + WC pria 5.48 Service DA


wanita; 1 WC = 1.8 (2x0.54) + (2x0.4) = + 2.192 = ;
m2, 1 wastafel = 0.54 5.48 m2 7.672 m2;
m2, 1 urinoir = 0.4 m2 5.48 m2 x 40 % WC wanita
sirkulasi = 2.192 m2; 4.68 + 6.552
WC wanita = (2x1.8) = 11.232 m2
+ (2x0.54) = 4.68 m2
4.68 m2 x 40 %
sirkulasi = 6.552 m2
11 Gudang 5 orang (0.8 m2 / 5 x 0.8 = 4m2 4 + 1.2 + 2 = Service DA
Peralatan orang) 4 m2 x 30 % sirkulasi 7.2m2
Kebersihan Furniture = Peralatan = 1.2 m2
Kebersihan (2 m2)
12 Gudang 4 orang (2.4 m2 / 4 x 2.4 = 9.6 m2 9.6 + 2.88 + Service DA
Barang orang) 9.6 m2 x 30 % 72 = 84.48
Bekas Furniture = Kursi sirkulasi = 2.88 m2 m2
(Terpakai) (0.6x0.8x150 = 72 m2)
Total Kebutuhan Ruang Eksebisi = 2.737.924 m2

103
KOMERSIL
Nama Rg Kapasitas Kebutuhan Gerak Ukuran Sifat Sumber
Ruang Ruang
1 Cafe/ 50 orang (1.6 m2 / orang) 50 x 1.6 m2 = 80 m2 80 + 16 = Public AS
Bistro 80 m2 x 20 % 96 m2
sirkulasi = 16 m2

2 Gift Shop 50 orang (1.6 m2 / orang) 50 x 1.6 m2 = 80 m2 106,8 m2 Public AS


Ruang administrasi 3 x 3 80 m2 x 20 %
= 9 m2 sirkulasi = 16 m2

3 Restaurant 262 orang 570 m2 Public DA

4 Lavatory 20 orang 15.53 x 10 % 15.53 + Service DA


5 toilet = 5 x 1.5 x 1.9 = sirkulasi = 1.553 m2 1.553 =
14.25 m2 17.1 m2
4 urinal = 4 x 0.5 x 0.4 =
0.8 m2
2 wastafel = 2 x 0.4 x 0.6
= 0.48 m2
Total Kebutuhan Ruang Komersil = 789.9 m2

EDUKASI
Nama Rg Kapasitas Kebutuhan Gerak Ukuran Sifat Sumber
Ruang Ruang
1 Rg Baca 100 orang 100 x 2.3 m2 = 230 m2 230 + 92 = DA
Perpustakaan (2.3 m2 / orang) 230 m2 x 40 % sirkulasi 322 m2
= 92 m2
2 Rg Koleksi 5000 buku (152 5000 x 15 m2 = 75 m2 75 + 22.5 = Semi – DA
Perpustakaan m2 / 1000 vol) 75 m2 x 30 % sirkulasi 97.5 m2 Privat
= 22.5 m2
3 Rg Restorasi 10 % dari total 10 % x (322 + 97.5) = 10% x Privat DA
luas perpustakaan 419.5 =
41.95 m2
4 Rg Internet dan 20 orang / 20 unit 20 x 2.3 m2 = 46 m2 46 + 18.4 = Semi – DA
Audiovisual computer (2.3 m2 46 m2 x 40 % sirkulasi 64.4 m2 Public
/ orang) = 18.4 m2
5 Rg Mekanikal 25 % dari Rg 64.4 m2 x 25 % = 16.1 16.1 + 4.8 Service DA
internet dan m2 = 20.9 m2
audiovisual 16.1 x 30 % sirkulasi =
4.8 m2

104
6 Entrance Hall 30 orang; 1 m2 / 30 x 1 m2 = 30 m2 30 + 9 = 39 Public AS
orang 30 m2 x 30 % sirkulasi m2
= 9 m2
7 Rg Katalog, 6 orang; Rg Kerja 6 x 4 m2 = 24 m2 24 + 7.2 = Public DA
Penitipan / orang = 4 m2 24 m2 x 30 % sirkulasi 31.2 m2
Barang dan = 7.2 m2
Counter
8 Rg.Staf 8 orang (1,6 m2 8 x 1.6 = 12.8 12.8 + 5.12 Privat DA
Edukasi – penjaga (8)) 12.8 m2 x 40 % +8=
Furniture = 8 sirkulasi = 5.12 m2 25.92 m2
m2
9 Gudang Alat 20 % dari total 20 % x (64.4 m2 + 403 93.48 + Service DA
Rg kelas dan m2) 28.044 =
studio & Rg = 93.48 m2 121.5 m2
Internet dan 93.48 m2 x 30 %
Audivisual sirkulasi = 28.044 m2
1 Lavatory 20 orang; 10 WC pria = (2 x 1.8 ) WC pria = Service; DA
0 pria, 10 wanita; + (2 x 0.54) + (2 x 0.4) 5.48 +
1 WC = 1.8 m2, = 5.48 m2 2.192 =
1 wastafel = 0.54 5.48 m2 x 40 % 7.672 m2
m2, 1 urinoir = sirkulasi = 2.192 m2; WC
0.4 m2 WC wanita = (2 x 1.8) wanita =
+ (2 x 0.54) = 4.68 m2 4.68 +
4.68 m2 x 40 % 6.552 =
sirkulasi = 6.552 m2 11.232 m2

1 Rg. 25 % dari ruang 25 % x 97.5 m2 = 24.375 + Privat DA


1 Dokumentasi koleksi 24.375 m2 7.3125 =
dan Arsip perpustakaan 24.375 m2 x 30 % 31.7 m2
Khusus sirkulasi = 7.3125 m2
1 Rg Kelas dan 3 unit, 3 x (12 x 8) = 288 m2 288 + Semi – AS
2 Studio 1 unit kelas = (12 288 x 40 % sirkulasi 115.2 = Privat;
Workshop m x 8 m) = 115.2 m2 403.2 m2
(3 jenis kelas :
Dewasa,
Remaja &
Anak – anak)
Total Kebutuhan Zona Edukasi = 1218.174 m2
Sumber : Adrian Manoppo 2019

105
KONSERVASI
Nama Rg. Kapasitas Kebutuhan Gerak Ukuran Sifat Sumber
Ruang Ruang

1 Rg 30 orang (1.6 m2 – 10 x 1.6 = 16 m2 32 + 12.8 + Semi - DA


Penyimpanan penjaga (10)) (0.8 m2 100 = Public
0.8 x 20 = 16 m2
Koleksi – pengunjung (20)) 144.8 m2
furniture = 100 m2 32 m2 x 40 %
sirkulasi = 12.8 m2

2 Rg 5 orang (1.6 m2 – 5 x 1.6 = 8 m2 8 + 3.2 + Public DA


Penerimaan penjaga (8)) furniture 10 = 21.2
8 m2 x 40 %
Koleksi = 10 m2 m2
sirkulasi = 3.2m2

3 Rg Pengelola 4 orang (1.6 m2 – 4 x 1.6 = 6.4 m2 6.4 + 2.56 Privat DAD


Koleksi penjaga (4)) furniture + 8 = 16.96
6.4 m2 x 40 %
= 8 m2 m2
sirkulasi = 2.56 m2

4 Rg Restorasi 6 orang (2 m2 – 6 x 2 = 12 m2 12 + 4.8 + Semi - A


petugas (6)) furniture 10 = 26.8 Privat
12 m2 x 40 %
= 10 m2 m2
sirkulasi = 4.8 m2

5 Lab. 4 orang (2 m2 – 4 x 2 = 8 m2 8 + 3.2 + Privat AS


Konservasi petugas (6)) furniture 10 = 21.2
8 m2 x 40 %
= 10 m2 m2
sirkulasi = 3,2 m2

6 Lab. 6 orang (2 m2 – 6 x 2 = 12 m2 12 + 4.8 + Semi - DA


Inspeksi petugas (6)) furniture 6 = 22.8 Privat
12 m2 x 40 %
= 6 m2 m2
sirkulasi = 4.8 m2

7 Lift Barang 1 Ton Ukuran Service DA


luar lift (1
core) = 3.6
x 3 = 10.8
m2

106
8 Gudang Furniture = 16 m2 16 m2 x 80 % 16 + 12.8 = Service
Peralatan sirkulasi = 12.8 m2 28.8 m2

9 Loading 4 mobil (1 mobil = 30 30 m2 x 4 Service


Dock m2(sekaligus = 120 m2
sirkulasi))

Total Kebutuhan Ruang Konservasi = 413.36 m2


Sumber : Adrian Manoppo 2019

REKREASI
Nama Rg. Kapasitas Kebutuhan Ukuran Sifat Sum
Gerak Ruang Ruang ber
1 Sanggar 2 meja gambar 16.58 x 40 % 16.58 Semi - AS
Alat Musik 2 x 2.5 m2 = 5 m2 sirkulasi = + 6.632 = Public
Kolintang 1 meja diskusi 6.632 m2 23.2 m2
1,7 x 2 m2 = 3.4 m2
6 kursi 0.6 x 0.8 = 2.88 m2
1 meja kerja
0.76 x 1.7 m2 = 1.3 m2
1 almari = 4 m2
2 Tempat 4 x 4 m2 Semi - AS
Pengrajin Kain = 16 m2 Public
Batik Bentenan
3 Pameran Kain 1 almari = 4 m2 6.74 x 20 % 6.74 + Semi - AS
Bentenan 1 meja kerja 0.76 x 1.7 m2 = sirkulasi = 1.348 = Public
1,3 m2 1.348 m2 8.1 m2
3 kursi 0.6 x 0.8 m2 = 1.44 m2
4 Lavatory 20 orang 15.53 x 10 % 15.53 + Service DA
5 toilet = 5 x 1.5 x 1.9 = 14.25 sirkulasi = 1.553 =
m2 1.553 m2 17.1 m2
4 urinal = 4 x 0.5 x 0.4 = 0.8
m2
2 wastafel = 2 x 0.4 x 0.6 =
0.48 m2

107
5 Mini Tmpt Duduk = 30 orang= 150 212 x 20 % 212 + Public AS
Amphitheater : m2 sirkulasi = 42.4 =
1 Tempat Rg Ganti = 6 orang = 20 m2 42.4 m2 254.4 m2
Duduk Panggung = 15 orang = 24 m2
1 Rg Ganti Rg Teknisi = 4 orang = 6 m2
1 Panggung Toilet = 1 orang = 12 m2
1 Rg Teknisi
4 Toilet
6 Taman Festival Hall = 66 orang = 73,92 m2 540.42 x 20 540.42 + Public AS
Kuliner Khas Pasar Jajanan = 2 Stand & Area % sirkulasi = 108.084
Minahasa Makan = 16 m2 108.084 m2 =
: Pasar Demo = 54 m2 648.504
- Hall - 1 Area Demo = 6 m2 m2
- Pasar Jajanan - 1 Tempat Duduk = 20 orang =
- Pasar Demo 48m2
- Pasar Dhahar Pasar Dhahar = 346 m2
- Lavatory - Stand = ( 8 Dapur
- Area Bermain Masak = 80 m2 + 8
Anak Stand Makanan
Lesehan/Meja Pesan =
40 m2 + 8 Loading
Dock = 20 m2 ) =140
m2
- Area Tunggu Pesan
Bawa = 8 orang =12
m2
- Area Makan = ( 2
Lesehan @10 orang/Rg
= 60 m2 + 5 Bale-bale
@4 orang/Rg = 20 m2
+ 4 Meja Kursi Indoor
@4 orang/Rg = 24 m2
+ 5 Meja Kursi
Outdoor @2 orang/Rg
= 30 m2 )

108
- Gudang Makanan = 40
m2
- Dapur Cuci = 20 m2
Lavatory = ( 2 WC Pria + 3
Urinoir + 2 WC Wanita ) = 10,5
m2
Area Bermain Anak = 40 m2

Total Kebutuhan Ruang Rekreasi = 967.3 m2


Sumber : Adrian Manoppo 2019

PENGELOLA
Nama Rg Kapasitas Kebutuhan Luas Sifat Sum
Gerak total Ruang ber

1 R. Kurator 1 set meja kerja 2 m² Sirkulasi 25,3 m2 Privat DA/


/ Kepala 40% AS
1 meja diskusi 3,4 m²
Museum
4 kursi 􀃆 0,6x0,8x4 = 1,92 m²

1 set meja-kursi tamu 􀃆 3,4x2 =


6,8 m²

1 set almari 4 m²

2 R. General 1 set meja kerja 2 m² Sirkulasi 19,3 m2 Privat DA


Manager 40%
2 kursi tamu􀃆 0,96

1 set meja-kursi tamu 􀃆 3,4x2 =


6,8 m²

1 set almari 4 m

3 Rg. 1 set meja kerja 2 m² Sirkulasi 9,7 m2 Privat DA


Manager 40%
2 kursi tamu􀃆 0,96 m²

1 set almari 4 m²

109
4 Ruang Staf Kapasitas 20 orang Sirkulasi 115, 2 Privat DA
Administra 20% m2
Standar 4,8 m²/orang
tif

5 Ruang Staf Kapasitas 5 orang Sirkulasi 28,8 m2 Privat DA


Kurator 20%
Standar 4,8 m²/org

6 Ruang Kapasitas 25 orang 50 m2 privat DA


Rapat

7 Restroom Kapasitas 25 orang 29 m2 Semi DA


privat
Standar kebutuhan 1,16 m²/org

8 Lavatory Kapasitas 20 orang Sirkulasi 17,1 m2 Service DA


10%
5 toilet 􀃆 5 x 1,5 x 1,9 = 14,25 m²

4 urinal 􀃆 4 x 0,5x 0,4 = 0,8 m²

2 wastafel 􀃆 2 x 0,4 x 0,6 = 0,48


Total Kebutuhan Ruang pengelola = 294.4 m2


Sumber : Adrian Manoppo 2019

110
Tabel 5.3 Kebutuhan Ruang dan Besaran ruang Pusat Kebudayaan

AKOMODASI (GUEST HOUSE)


Kamar Tidur
- King Size Bed 2m x 2m 1 unit 4m² x 1 = 4m²
- Lemari 0,6m x 1,5m 1 uni 0,9m² x 1 = 0,9m²
- Meja rias + kursi 0,75m x 1,5m 1 uni 1,125m² x 1 = 1,125m²
Jumlah = 6,025m²
Flow Area 100% = 6,025m²
Total = 12,05m² x 3 = 36.15 m2
- Wine Room 4m x 1m 1 unit 4m² x 1 = 4m²
Lavatory
- Kloset duduk 0,65m x 0,55m 1 unit 0,36m² x 1 = 0,36m²
- Shower 0,9m x 0,9m 1 unit 0,81m² x 1 = 0,81m²
- Bathtub 0,925m x 1,925m 1 unit 1.78m² x 1 = 1,78m²
- Wastafel 0,4m x 0,6m 1 unit 0,24m² x 1 = 0,24m²
Jumlah = 3,19m²
Flow Area 100% = 3,19m²
Total = 6,38m² x 3 = 35.88m² = 36m²
Living Room
- Sofa Double 1,8m x 0,8m 2 unit 1,44m² x 2 = 2,8m²
- Sofa Single 0,9m x 0,75m 2 unit 0,675m² x 2 = 1,35m²
- 1 meja kaca 1,2m x 0,6m 1 unit 0,72m²x 1 = 0,72m²
Jumlah = 4,87m²
Flow Area 100% = 4,87m²
Total = 4,87m²
Dining Room
- 1 set meja makan 2m x 1,95m 1 unit 3,9m² x 1 = 3,9m²
(6 orang)
- Mini bar (2 orang) 0,4m x 1,8m 1 unit 0,72m² x 1 = 0,72m²
Jumlah =4,62m²

111
Flow Area 100% = 4,62m²
Total = 9,24m²
Kitchen
- Kitchen set 1 deret 0,6m x 3m 1 unit 1,8m² x 1 = 1,8m²
- wastafel cuci 0,6m x 1m 1 unit 0,6m² x 1 = 0,6m²
piring
- kulkas 0,4m x 0,6m 1 unit 0,24m² x 1 = 0,24m²
Jumlah = 2,64m²
Flow Area 100% = 2,64m²
Total = 5,28m
Balkon Tempat 1m x 5m 1 unit 5m² x 1 = 5m²
Bersantai
Total Luas Lantai 1 Unit Guest House : 96,5m²
7 Unit Guest House : 96,5m² x 7 = 675.5m²
Sumber : Adrian Manoppo 2019

Tabel 5.4 Total Luas Lantai

EKSEBISI 2.737 m2
KOMERSIL 789 m2
KONSERVASI 413 m2
EDUKASI 1.218 m2
REKREASI 967 m2
ADMINISTRASI & OFFICE 294 m2
AKOMODASI (Guest House) 675.5 m2

TOTAL LUAS LANTAI PUSAT KEBWUDAYAAN 7.093,5 m2

Sumber : Adrian Manoppo 2019

112
5.2 Analisis Tapak
5.2.1 Analisis Site Capability dan Delinasi Tapak

D A

C B

Gambar 5.3 Site


Sumber: Google Earth

Desa Paleloan,Kec,Tondano Selatan, Kab. Minahasa, Prov. Sulawesi Utara


Aturan Tata Bangunan Kabupaten Minahasa Untuk Bangunan Pariwisata Dan
Kebudayaan
KETERANGAN
• KDB : 40 % KDB
KLB
: KOEFISIEN DASAR BANGUNAN
: KOEFISIEN LUAS BANGUNAN
• KLB : 120 % KDH : KOEFISIEN DAERAH HIJAU
• KDH : 50 % KB : KETINGGIAN BANGUNAN
GSB : GARIS SEMPADAN BANGUNAN
• KB : 3 LT. GSJ : GARIS SEMPADAN JALAN
• GSB :5M TLS : TOTAL LUAS SITE
TLSNE : TOTAL LUAS SITE NON EFEKTIF
• GSJ : ½ lebar jalan + 1m1
TLSE : TOTAL LUAS SITE EFEKTIF
LSB : LUAS SEMPADAN BANGUNAN
LSJ : LUAS SEMPADAN JALAN
SITE CAPABILITY LLD : LUAS LANTAI DASAR
TLL : TOTAL LUAS LANTAI
• TLS : 24.010 m2
• LLDMAX : 9.604 m2
• TLLMAX : 28.812 m2
• TLL Program : 7.093,5 m2
• Ketinggian Bangunan : 3 Lantai (maksimal)
Batas A : Tondano Barat
Batas B : Danau Tondano
Batas C : Kec.Remboken
Batas D : Perkebunan milik warga

1
RTRW Minahasa

113
5.2.2 Analisis Klimatologi Matahari
Arah orientasi matahari tidak menentu, pada bulan – bulan tertentu arah
pergerakan matahari akan bergeser beberapa derajat. Presentase pencahayaan
matahari akan bergeser beberapa derajat. Presentase pencahayaan matahari akan
mempengaruhi pencahayaan pada site.

Matahari pukul
10.00 – 12.00

Matahari pukul
06.00- 10.00

Matahari pukul
12.00 – 17.00

Gambar 5.5 Data Tapak Klimatologi Matahari


Sumber: Google Earth
Keterangan :

• Lintasan matahari pada objek perancangan akan dominan menyinari barat


site pada pukul 10.00 WITA – 16.00 WITA.
Tabel 5.5 Sinar Matahari
Bulan Penyinaran Matahari
Januari 55
Februari 71
Maret 69
April 55
Mei 51
Juni 44

114
Juli 46
Agustus 79
September 44
Oktober 42
November 54
Desember 39
Sumber : BPS Minahasa

Tanggapan Perancangan :

• Sinar matahari yang baik pada pagi hari pukul 06.00 – 09.00. area ini cocok
dijadikan tempat Ruang terbuka.
• Pada bagian barat yang terkena sinar matahari negative (12.00 – 17.00 )
cocok di letakkan massa bangunan yang tidak perlu membutuhkan sinar
matahari langsung.
• Orientasi masa bangunan yang baik sejajar dengan lintasan matahari
• Penanaman vegetasi bertajuk lebar sebagai peneduh dan berfungsi untuk
menyaring sinar matahari yang berlebih tidak masuk kedalam ruangan.
Lebih memperbesar area RTH untuk mereduksi radiasi sinar matahari.

Private
Semi
publik
Publik
Orientasi Massa
bangunnan

Gambar 5.6 Output Zoning Perancangan Klimatologi Matahari


Sumber: Analisa Penulis

115
5.2.3 Analisis Klimatologi Curah Hujan

Tabel 5.6 Curah Huujan


Bulan Curah Hari Hujan
Hujan menurut
(mm³) Bulan Private Semi - Publik
Januari 149.0 19
Februari 75.0 9
Maret 43.0 24
April 252.6 23
Mei 253.9 22 Publik
Juni 216.6 21
Juli 223.5 7
Agustus 133.0 21
September 310.0 28
Oktober 368.4 22 Daerah yang cocok
November 275.0 26 untuk resapan air
Desember 153.0 9
Sumber : BPS Minahasa

Gambar 5.7 Analisis Tapak Data Hujan


Sumber: Analisa,Penulis

Keterangan :

• Pengaruh hujan terhadap kondisi bangunan, dapat mempengaruhi aktivitas


pengguna, oleh karena itu diperlukan solusi dalam mengantisipasi pengaruh
hujan pada bangunan.
Tanggapan Perancangan :

• Akan dibuat penampungan air hujan, berupa Rain water Harvesting.


Yang dapat diolah menjadi sumber air bersih.
• Selain itu Rain water Harvesting juga akan digunakan untuk
penyiraman tanaman pada rooftop garden , dan metode penyiraman
rumput pada taman.
• Pemilihan material bangunan yang tahan air sehingga pada saat
curah hujan sedang tinggi bangunan dapat terlindungi dari air hujan.
• Menempatkan area resapan air pada daerah site yang berkontur
rendah

116
5.2.4 Analisis Klimatologi Arah Angin

Gambar 5.8 Data Tapak Klimatologi Arah Angin


Sumber: Survey Penulis
Data Kecepatan Angin / Bulan dari tahun 2004 – 2014

Tabel 5.7 Kecepatan angin, Tekanan Udara


Angin Rata-Rata
No Bulan Arah ( dari ) Kecepatan Bulan Tekanan
( Knot ) Udara ( mb )
1 Januari Barat – Utara 2.4 Januari 942.6
2 Februari Barat laut - Timur laut 79.8 Februari 942.8
3 Maret Utara – Timur 1.5 Maret 941.9
4 April Utara – Timur 0.8 April 939.8
5 Mei Timur – Selatan 2.2 Mei 941.5
6 Juni Tenggara - Barat daya 3.0 Juni 941.1
7 Juli Tenggara - Barat daya 4.5 Juli 941.0
8 Agustus Tenggara - Barat daya 2.4 Agustus 941.2
9 September Tenggara - Barat daya 2.4 September 940.8
10 Oktober Tenggara - Barat daya 2.7 Oktober 940.5
11 November Barat daya - Barat laut 4.1 November 940.0
12 Desember Barat – Utara 2.4 Desember 942.6
Sumber : BMKG Minahasa, BPS Minahasa

Rata – rata kecepatan arah angin adalah 0,5 – 10 knot.

117
Dilihat dari data dari Badan Pusat Statistik Minahasa, Tekanan Udara pada
kawasan tersebut cenderung tinggi. Dimana tekanan udara yang lebih tinggi dari
biasanya, maka kemungkinan cuaca cerah. Ini karena angin bertiup dari daerah
tersebut.

Tanggapan Perancangan :

• Menata massa bangunan sehingga dapat mempercepat aliran udara.


• Adanya sistem ventilasi silang pada fungsi – fungsi yang cenderung
memiliki banyak bukaan.
• Penggunaan vegetasi untuk menyaring udara.
• Menata arah bukaan pada bangunan Pusat kebudayaan dengan arah yang
berlawanan dari kecepatan angin terkuat
• Penggunaan Shading Device pada fasade Bangunan.
Penggunaan Vegetasi Untuk Private
Menyaring udara

Publik
Semi-
Publik

Orientasi Bangunan berbentuk


aerodinamis mengikuti arah
angin.

Penggunaan Vegetasi Untuk Menyaring udara

Gambar 5.9 Tanggapan Analisa Tapak Klimatologi Angin


Sumber: Analisa Penulis

Gambar 5.10 Shading Device


Sumber: Rancangan Penulis

118
5.2.5 Analisis Topografi

Analisa Topografi Digunakan untuk Menganalisis Keadaan Slope pada


tapak dan Menentukan penempatan Bangunan dengan menyesuaikan dengan
keadaan Slope yang ada. Analisis Topografi juga untuk menentukan penerapan
yang tepat untuk penanganan kondisi lereng pada Site.

Gambar 5.11 Data Eksisting Tapak


Sumber: Analisa,Survey Penulis
Analisa Garis Kontur Eksisiting site. Ketinggian diantara Setiap Garis
Kontur adalah 2m Ketinggian puncak Site berada pada ketinggian 36mdpl.

Tanggapan Perancangan :

• Dilakukan Cut and Fill pada tapak untuk penempatan massa Bangunan
• Tidak teralalu banyak Proses Cut&Fill pada tapak, Karena diharapkan untuk
menerapkan Konsep tematik “Form Follows Flow” dimana nanti nya objek
bangunan terlihat terbangun selaras dengan alam sekitarnya. Dan mengikuti
energi Alam Eksisting.
Fill Cut

Gambar 5.12 Tanggapan Analisis Topografi Tapak


Sumber: Analisa Penulis

119
Gambar 5.13 Jenis Dinding Penahan Tanah
Sumber: www.jamesthoengsal.blogspot.com
Penggunaan Shoring Wall pada daerah Slope yang mengalami Split Level
Bangunan.

Penggunaan Turap. Turap adalah dinding vertical yang relative tipis yang
berfungsi untuk menahan tanah juga untuk menahan masuknya air ke dalam lubang
galian. Ada beberapa bagian site salah satunya pada daerah parkir menggunakan
Turap sebagai dindung penahan tanah yang berlereng.

Turap

Gambar 5.14 Penerapan Turap pada Tapak


Sumber: Analisa Penulis, www.google.com

120
5.2.6 Analisis Kebisingan

Kebisingan dikategorikan dengan suara yang mengganggu, mengalihkan


perhatian, atau berbahaya bagi kegiatan.

Sumber dari suatu kebisingan pengendalian bising lingkungan dapat


diklasifikasikan dalam kelompok ( 1) Bising Interior, berasal dari manusia, alat-alat
rumah tangga, atau mesin-mesin gedung. Dinding -dinding pemisah, lantai, pintu,
dan jendela harus mengadakan perlindungan yang cukup terhadap sumber
kebisingan . ( 2 ) Bising Outdoor, berasal dari lalu-lintas, transportasi, industri, alat
– alat mekanis, dalam kajian ini Kebisingan berasal dari suara kegiatan di danau
Tondano dan dari arah pegungan Lokasi objek perancangan terdapat beberapa
sumber dari luar site yaitu sebagai berikut.

Gambar 5.15 Data Kebisingan pada Tapak

Sumber: Google Earth

Tanggapan perancangan

• Sumber kebisingan berasal dari arah danau, suara pohon di pegunungan dan
suara kendaraan pada jalan kolektor.
• Dilihat dari pemilihan lokasi, sebenarnya lokasi tidak terlalu memerlukan
tanggapan secara mendetail terhadap sumber kebisingan karena asal
kebisingan terbesar berasal dari arah jalan raya

121
• Menanggapi Kebisingan Tapak, tidak terlalu banyak tanggapan yang ada
untuk perancangan bangunan karena justru suara alami dari tapak
diharapkan untuk didapatkan sampai kedalam bangunan. Karena objek
Kebudayaan ini sendiri bukanlah bangunan yang menuntut kenyamanan
privat dalam bangunannya dalam hal kebisingan.
• Oleh karena itu untuk menanggapi kebisingan itu sendiri, hanya akan
menempatkan area private jauh dari sumber kebisingan. Sumber suara
danau Tondano juga memiliki nilai tambah untuk bukaan seperti Restoran
yang menambah kesan natural kepada pengunjung Area Wisata.
5.2.7 Analisis Sirkulasi

Gambar 5.16 Data Akses Masuk Kedalam Tapak

Sumber: Google Earth, survey Penulis

Tanggapan Perancangan :

• Satu-satunya Akses keluar masuk ke site pada bagian selatan site strateginya
jalan akan dibuat lebar dan memiliki 2 arah
• Sirkulasi untuk pejalan kaki disediakan khusus di dalam site yang akan di
bahas dalam Konsep Perancangan

122
5.2.8 Analisis View

A B
A

d
C

Gambar 5.17 Data View Tapak


Sumber: Google Earth, Survey penulis

Batas A ( Barat ) : Ke arah lahan kosong semak belukar

Batas B ( Utara ) : Ke arah lahan kosong pekebunan

Batas C ( Selatan ) : Ke arah lahan kosong pekebunan

Batas D ( Timur ) : View ke Danau Tondano

Potensi view yang menarik berada di arah Timur dan selatan, dimana bisa
menyaksiakan danau Tondano

Tanggapan :

bukaan akan berada pada arah view yang mengarah langsung ke danau Tonadano.
Serta bangunan pusat kebuayaan pada main building akan diarahkan ke arah timur
untuk memanfaatkan potensi view, lepas danau Tondano

123
5.2.9 Analisis Zonasi
a. Analisis Zoning Berdasarkan Lingkungan
Data Tapak :
• Lokasi site berada di bukit tepi danau Tondano. Di sebelah jalan raya.
• Site ini cocok untuk tempat perencanaan pembangunan Pusat Kebudayaan
Minahasa karena memiliki potensi wisata danau tondano, dan memiliki
lokasi yang strategis.
• Tapak site yang dipilih adalah area yang tidak terlalu dekat berdekatan
dengan pemukiman warga sehingga mendapatkan kesan privasi yang lebih
baik
Tanggapan Rancangan :
• Area Pusat Kubadayaan akan di letakkan di Selatan site untuk agar mudah
diakses karena langsung berhadapan dengan jalan keluar masuk site

Akses masuk ke atas bukit

Gambar 5.18 Data Zonasi Tapak

Sumber: Google Earth, Analisa Penulis

124
b. Analisis Tapak Berdasarkan Zoning Kegiatan
Data Tapak :
• Kegiatan terdiri dari kegiatan penerima, kegiatan utama, kegiatan
penunjang, kegiatan pengelola, dan kegiatan pelayanan.

Gambar 5.19 Tanggapan Zonasi Tapak

Sumber: Analisa Penulis

Tanggapan Perancangan :

• Private area adalah area dimana office, Penunjang office, Staff room, dan
massa Guest House ditempatkan.
• Semi Publik area adalah area massa kelompok kegiatan penunjang seperti
Function room, Meeting Room, serta Front Office.
• Publik area adalah Kelompok kegiatan penerima, dan bangunan utama pusat
Kebudayaan

125
5.2.10 Finalisasi Zoning
Setelah dilakukan beberapa Analisa Tapak, didapati berbagai macam
zonasi dari masing-masing Analisa. Semua zonasi di overlay dan di gabung
menjadi satu sehingga menghasilkan Finalisasi peletakkan zonasi tapak dimana
nantinya finalisasi zonasi ini akan dimasukkan ke dalam aturan KDB dan
disesuaikan dengan konsep program ruang sehingga meenjadi Konsep Blok Plan
pada Konsep Umum perancangan

Analisa Overlay Zoning tanggapan dari Analisa Tapak

Vegetasi Parkir Service

Private

Publik
Semi - Publik

Vegetasi

Daerah Resapan air

Gambar 5.20 Konsep Akhir Zonasi


Sumber: Analisa Penuli

126
BAB VI
KONSEP UMUM PERANCANGAN

Proses Perancangan dimana proses transformasi bentuk massa bangunan,


berdasarkan penggabungan antara konsep zoning dengan Site Development dan
Aplikasi tema pada objek rancangan. Pada Bab ini Terbagi menjadi 3 Bagian untuk
mendeskripsikan konsep dari objek perancgan, yaitu : Konsep Aplikasi Tematik,
Konsep Perancangan Tapak dan Ruang Luar, dan Konsep Perancangan Bangunan.

6.1 Konsep Aplikasi Tematik


Kriteria yang paling penting dalam perencanaan Pusat kebudayaan Minahasa
dan Resort ini adalah keterkaitannya dengan tema perancangan yaitu Arsitektur
Organik. Maka dari itu prinsip – prinsip desain yang akan dipakai adalah terkait
dengan tema :

a. Building as Nature

Gambar 6.1 Konsep Aplikasi Tematik

Sumber: Rancangan Penulis

Bangunan Arsitektur Organik bersifat alami, Konsep ini menyatakan bahwa Alam
adalah inspirasi dari Bangunan. Konsep ini diterapkan dengan permainan nuansa
bangunan itu sendiri yang terinspirasi dari Alam. Pada nuansa bangunan memiliki
tone colour yang merupakan warna-warna asli Alam. Warna Dominan Hijau,
memilik kesan sebuah bentang alam yang luas, dan warna asli rerumputan yang
merupakan pelapis dominan bentang alam darat. Cokelat untuk warna atap, sebagai
Nuansa Kayu dan pepohonan, yang tumbuh di atas bentang rerumputan, Warna
Terakota pada bagian bangunan outoor di bagian terendah tapak sebagai symbol
untuk menyatakan tanah/bumi pada bentang alam yang secara alami tampak

127
mencuat ke luar lapisan rumput. Dan terakhir Merupakan Warna Dasar Putih dan
Hitam sebagai symbol pewarnaan dominan dari batuan alam.

b. Continuous Present

Arsitektur Organik merupakan sebuah desain yang terus berlanjut. Arsitektur


Organik tidak pernah berhenti dan selalu dalam keadaan dinamis namun tetap
membawa unsur keaslian dalam sebuah desain.

c. Form Follows Flow

Keunikan bentuk bangunan Arsitektur Organik juga dikarenakan Arsitektur


Organik merupakan arsitektur form follow flow (bentuk mengikuti energi). Bentuk
bangunan dengan Arsitektur Organik mengikuti aliran energi dari alam,
menyesuaikan alam sekitarnya secara dinamis, bukan melawan alam. Alam dalam
hal ini dapat berupa angin, cahaya dan panas matahari, arus air, energi bumi dan
lainnya. Dengan Konsep Split Level Dan permainan perbedaan Tinggi bangunan
memperlihatkan Seolah bangunan memiliki Kontur yang sama dengan area bukit
berlereng di sekitarnya. Dalam hal ini bangunan menjadi menyatu dengan alamnya
karena mengalir mengikuti kondisi tapak yang ada dan tidak memperlihatkan
Sebuah bentukan yang contrast dengan keadaan sekitarnya

Gambar 6.2 Konsep Aplikasi Tematik

Sumber : Rancangan Penulis

d. Of the People

Selain energi dari alam, desain Arsitektur Organik juga dipengaruhi oleh hubungan
dengan pemakai bangunan. Desain Arsitektur Organik dipengaruhi oleh aktifitas-
aktifitas yang diwadahi pada bangunan, tujuan bangunan, kebutuhan pengguna,
kenyamanan penggunanya dan keinginan keinginan penggunanya. Salah satu ide
yang melekat pada Arsitektur Organik adalah pada metode komposisi yang bekerja
dari dalam ke luar, yakni dari program kebutuhan penghuni dan harapan mengenai

128
penampilan luar bangunan. Penerapan Konsep tema ini pada Objek Rancangan
adalah dengan menerapkan bukaan-bukaan pada area-area tertentu. Contohnya
pada area Amphiteater menggunakan kaca dan bukaan sehingga menimbulkan
kesan menyatu dan tidak terpisah antara ruang luar dan ruang dalam. Juga pada area
Restoran yang bersifat semi-outdoor pada bagian lantai dasar bangunan. Dan juga
pada area Pameran di lantai 3 yang merupakan area tertutup, tetapi menggunakan
Kaca untuk pemandangan langsung kearah danau Tondano, sehingga menciptakan
kesan bahwa antara ruang dalam dan ruang luar adalah satu kesatuan.

Gambar 6.3 Konsep Aplikasi Tematik

Sumber: Rancangan Penulis

e. Of the Hill

Frank Lloyd Wright menyebutkan bahwa suatu bangunan dengan site lebih baik
berhubungan secara ‘of the hill’ dibandingkan dengan ‘on the hill’. Of the hill di
sini memiliki arti bahwa bangunan merupakan bagian dari site, bukan sekedar
bangunan yang ditempatkan di atas sebuah site. Objek Pusat Kebudayaan ini
menjadi sebuah Objek yang melambangkan dari sebuah Genius Loci daerah
Palelo’an itu sendiri yang berarti tempat untuk melihat pemandangan,

Gambar 6.4 Konsep Aplikasi Tematik

Sumber: Rancangan Penulis

129
f. Of the Materials

Asitektur organik juga dapat diekspresikan melalui material yang digunakan. ada
kecenderungan penggunaan material tertentu dalam Arsitektur Organik. Material
yang dipilih antara lain material alami, material lokal dan material yang dapat
memproduksi bentuk bebas. Tsui dalam Rasikha (2009) menjabarkan beberapa
kategori material untuk arsitektur yang perancangannya berbasis alam, yaitu
menggunakan material yang dapat memiliki beberapa fungsi sekaligus (sebagai
interior dan eksterior), penggunaan material daur ulang dalam konstruksi, dan jika
mungkin, gunakan material bangunan yang tidak beracun dan desainnya dapat
mengurangi polusi dalam bangunan. Penggunaan Material Kayu local pada area-
area yang memilik bukaan dimana kayu berfungsi sebagai shading device. Dan
sebagian besar bahan material pada area akitfitas Outdoor.

Gambar 6.5 Konsep Aplikasi Tematik

Sumber: Analisa Penulis

g. Youthful and Unexpected

Pada dasarnya arsitektur organik juga desain literal pada seluruh aspek
bangunan : dari jendela, lantai, kursi masing-masing dimaksudkan untuk mengisi
ruang. Semuanya berhubungan satu sama lain, yang mencerminkan sistem
symbiosis alam. Penerapan Konsep ini pada penggunaan Kaca dan Skylight
Sebagai Pencahayaan alami siang hari. Penerapan konsep terdapat pada area
Perpustakaan.

Gambar 6.6 Konsep Analisa Tema

130
6.2 Konsep Perancangan Tapak dan Ruang Luar
6.2.1 Site Development
Site Development digunakan untuk membagi Sub-KDB setiap Kelompok
fungsi ruang sehingga dapat menentukan jumlah lantai yang bervariasi yang
nantinya akan menentukan bentukan massa.

Tabel 6.1 Pembagian Koefisien Dasar Bangunan

o KDB PUSAT KEBUDAYAAN : 26%: 6265.19

NAMA RUANG TLL SUB-KDB LUAS KDB LANTAI


EKSEBISI 2737,924 7.4% 1782,22 2
KONSERVASI 413,36 1.7% 405,05 1
EDUKASI 1218,174 5.39% 1296,16 2
REKREASI 967,3 4.04% 972,12 1
KOMERSIL 789,9 3.37% 810,1 2
PENGELOLA 294,4 1.34% 324,04 2
AKOMODASI 675 2.81 675.5 1
TOTAL 7.093,5 m2 26% 6265.19
Sumber: Analisa Penulis
Transformasi Zoning Berdasarkan Analisa Tapak menjadi Blokplan

Finalisasi Zoning yang didapat berdasarkan Analisa Tapak


berfungsi untuk menentukan Blok Plan dengan cara Menggunakan sistem Grid untuk memdudahkan
menggabungkan antara analisas besaran ruang tiap fungsi menentukan luasan yang tepat untuk masing-masing
dengan Luasan KDB yang akan digunakan fungsi berdasarkan konsep pembagian luasan SUB-
KDB pada table sebelumnya

Setelah didapat Blokplan dilakukan Proses Cut & Fill pada


kontur site. Dengan cara mengolah dan mendesain garis kontur Bentukan dasar objek yang didapat dari peletakkan
site menyesuaikan dengan Blok Plan yang didapat. Desain masing-masing fungsi pada Grid ditransformasikan
Kontur ini beracu pada desain untuk konsep Split Level sebagai menjadi bentukan objek yang akan menjadi dasar
penerapan konsep Tematik. Konsep Blok Plan.

Gambar 6.7 Konsep Transformasi Zoning

131
6.2.3 Konsep Blok Plan

Konsep Blok Plan dan peletakkan setiap fungsi yang telah didapat akan
menjadi dasar untuk perancangan Konsep Layout Objek Perancangan

10 9 11 8
1

2 7

4 6

Gambar 6.8 Konsep Blok Plan


Sumber: Analisa Penulis

Tabel 6.2 Keterangan Blok Plan

1 PARKIR RUANG EKESEBISI


2 EKSEBISI
3 ENTERTAINMENT (AMPHITEATER)
4 REKREASI DAN KOMERSIL
5 PARKIR TEMPAT WISATA
6 AREA WISATA KULINER
7 RTH ( SIRKULASI RUANG LUAR) DAN SANGGAR TARI OUTDOOR
8 AREA GUEST HOUSE
9 PARKIR ZONA EDUKASI DAN GUEST HOUSE
10 KANTOR PENGELOLA DAN KONSERVASI
11 ZONA EDUKASI DAN SANGGAR
Sumber: Analisis Penulis

132
6.2.2 Tata Letak Massa dan Ruang Luar Fungsional

No. Keterangan
1 Ruang Penerima
2 Parkir Ruang Eksebisi
dan Amphiteater
3 Parkir Pengelola dan
Area Edukasi
4 Parkir Guest House
5 Parkir Tempat wisata
6 Amphiteater
7 Taman Wisata Kuliner
8 Area Guest House
9 Lobby / Area Gallery
10 Area Pengelola &
Gambar 6.9 Site Plan Konsep Tata Letak Massa Servis
11 Area Gallery & Gift
Sumber: Rancangan Penulis Shop
12 Café / Restoran
13 Area Edukasi
14 Sanggar Tari Outdoor

6.2.3 Aksesibilitas dan Sirkulasi pada Tapak


No. Keterangan
Sirkulasi Pengunjung
Pameran dan
Amphiteater
Sirkulasi Pengunjung
Tempat Wisata dan
Rekreasi
Sirkulasi Pengunjung
Guest House dan
Pengguna Ruang
Edukasi
Sirkulasi Pengelola
dan Servis
Akses Masuk dari
jalan Kedalam Site

Gambar 6.10 Site Plan Konsep Sirkulasi dalam Tapak


Sumber: Rancangan Penulis

133
6.2.4 Hirarki Ruang Luar
Pada Perancangan objek Pusat Kebudayaan ini dengan menggunakan tema
Arsitektur Organik, Pengolahan desain Ruang Terbuka Hijau menjadi salah satu
konsep Tematik. Pada objek Pusat Kebudayaan ini banyak menggunakan Ruang
Terbuka hijau sebagai tempat aktifitas-akitifitas outdoor.

Amphiteater Taman Wisata Kuliner Sanggar Tari Outdoor

Spot View Danau Tondano Area Drop-off Jalan Setapak Guest House

Gambar 6.11 Konsep Hirarki Ruang Luar


Sumber: Rancangan Penulis

134
6.2.5 Konsep Tata Hijau Tapak
Vegetasi merupakan elemen penting pada Konsep Perancangan Arsitektur
Organik. Pada Bagian ini akan menjelaskan fungsi dari berbagai alasan penempatan
dan pemilihan jenis tanaman dalam site baik yang merupakan vegetasi Eksisting
maupun Vegetasi Buatan.

1,2.Tanaman Tinggi di sekitar Jalan 6. Tanaman bamboo sebagai pemisah 7. Pepohonan diantara Guest House
utama untuk mereduksi Silau antara bangunan Utama dengan Area untuk Memberi kesan Privat antar
Cahaya Matahari pada jalan Guest House. (Memberi kesan Privat Guest House.
Pada area Guest House )

3. Pohon sebagai peneduh dari Sinar 5.Tanaman Bebungaan Bougenville Sebagai


4. Tanaman Tinggi, Di sekitar Area
matahari untuk Area tribun Penghias pada tempat Melihat View.
parkir sebagai peneduh dari sinar
amphiteater Sekaligus Menjadi Spot Foto
matahari

Gambar 6.12 Site Plan Konsep Tata Hijau Tapak


Sumber: Rancangan Penulis

135
6.2.6 Sistem Utilitas Tapak
Sistem Utilitas adalah suatu kelengkapan fasilitas bangunan yang
digunkan untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan,
keselamatan, kemudahan komunikasi dan mobilitas pada bangunan. Pada bagian
ini akan menjelaskan konsep Utilitas secara makro pada objek perancangan.
Fasilitas secara makro yang akan di bahas yaitu mencakup, Fasilitas listrik,
Fasilitas sanitasi dan drainase tapak,.

Gambar 6.13 Layout Plan Skema Sistem Utilitas Bangunan

Sumber: Rancangan Penulis


Tabel 6.3 Keterangan Tabel Utilitas Tapak
Fasilitas Utilitas Konsep Penerapan
Fasilitas Listrik - Penunjang utama kelistrikan di dalam tapak adalah menggunakan listrik dari
PLN yang dialirkan dari tiang listrik sepanjang jalan langowan- tondano
menuju ke gardu listrik dalam site. Yang nantinya dari gardu site listrik akan
dialirkan ke seluruh bangunan.

Fasilitas Sanitasi Dan - Pengolahan Sanitasi pada tapak menggunakan Septic tank yang berfungsi
Drainase sebagai penampungan limbah bangunan.

- Pengolahan Drainase Pada Bangunan menggunakan Saluran Drainase Pada


sekitar Bangunan dan Area-Area Berlereng. (Skema Jalur Drainase bias dilihat
pada gambar Layout Utilitas Tapak.

136
6.3 Konsep Perancangan Bangunan
6.3.1 Gubahan Massa dan Pola Denah
Pada Bagian ini akan menjelaskan tentang pola denah dan pola sirkulasi
Bangunan. Dengan banguna terbagi menjadi 8 Fungsi Utama, setiap masing –
masing Fungsi memilik Pola Sirkulasi nya masing – masing beserta Entrance dan
outnya. Pola sirkulasi ini mengacu pada analisis Pola Hubungan Ruang pada Bab
V Analisa Perancangan. Untuk Konsep Pola denah dan sirkulasi dalam bangunan
akan dijelaskan melalui Gambar.

No. Keterangan
Sirkulasi Pengunjung Pameran
Sirkulasi Staff Kantor dan Karyawan
Sirkulasi Kurator
Sirkulasi Pengunjung Tempat Wisata
LANTAI 1 Sirkulasi Pengunjung Edukasi dan
Pengajar Kebudayaan
LANTAI GROUND

LANTAI LOWER GROUND

Gambar 6.14 Denah dan Pola Sirkulasi

137
Gambar 6.15 Konsep Sirkulasi Vertikal

Sumber: Rancangan Penulis

Pola Sirkulasi Vertikal Bangunan. Ada empat Titik Sirkulasi bangunan, yang
pertama melalui tangga pada tengah-tengah Zona Eksebisi, ke dua dengan
menggunakan Ramp pada zona rekreasi dan juga berfungsi sebagai sirkulasi benda
besar. Ada tangga untuk sirkulasi zona edukasi, yang menghubungkan antara ruang
belajar dan perpustakaan. Dan terakhir ada tangga untuk sirkulasi yang
menghubungkan kantor pengelola dan ruangan staff.

Tangga Putar Penghubung antar ruang Pameran Utama Ramp Penghubung Lantai 2 & 1. Berfungsi juga untuk barang

Tangga penghubung Area Edukasi. Antara Rung kelas dan perpustakaan


Gambar 6.16
Tangga penghubung Antar Kantor Pengelola dan Service

Sirkulasi
Vertikal

138
6.3.2 Ruang Dalam Bangunan

Ruang Pameran Ruang Gallery Ruang Pameran

Ruang Baca

Perpustakaan

Ruang Pameran

Paesa Im Deken Room

Restoran

Tempat Membatik dan Gift Shop

Gambar 6.17 Skema Ruang Dalam/ Interior

139
6.3.3 Struktur Bangunan
Struktur adalah bagian-bagian yang membentuk bangunan
seperti pondasi, sloof, dinding, kolom, ring, kuda-kuda, dan atap. Pada
prinsipnya, elemen struktur berfungsi untuk mendukung keberadaan elemen
nonstruktur yang meliputi elemen tampak, interior, dan detail arsitektur
sehingga membentuk satu kesatuan. Setiap bagian struktur bangunan tersebut
juga mempunyai fungsi dan peranannya masing-masing.

Kegunaan lain dari struktur bangunan yaitu meneruskan beban


bangunan dari bagian bangunan atas menuju bagian bangunan bawah, lalu
menyebarkannya ke tanah. Perancangan struktur harus memastikan bahwa
bagian-bagian sistem struktur ini sanggup mengizinkan atau menanggung gaya
gravitasi dan beban bangunan, kemudian menyokong dan menyalurkannya ke
tanah dengan aman.

A. Jenis Struktur Bangunan


Berdasarkan Hasil Konsep Rancangan, Jenis Struktur yang dipakai pada
bangunan adalah struktur rangka kaku.
Struktur rangka kaku adalah struktur yang terdiri atas elemen-elemen linier,
umumnya balok dan kolom, yang saling dihubungkan pada ujung-ujungnya
oleh joint yang dapat mencegah rotasi relatif diantara elemen struktur yang
dihubungkannya.
Kekakuan struktural terletak pada sambungan kaku ( rigid connection).

Gambar 6.18 Isometri Struktur


B. Dilatasi Pada Bangunan
Dilatasi adalah sebuah sambungan / garis pada sebuah bangunan yang
karena sesuatu hal memiliki sistem struktur berbeda. Dilatasi baik digunakan pada

140
pertemuan antara bangunan yang rendah dengan yang tinggi, antara bangunan
induk dengan bangunan sayap, dan bagian bangunan lain yang mempunyai
kelemahan geometris.
Di samping itu, bangunan yang sangat panjang tidak dapat menahan
deformasi akibat penurunan fondasi, gempa, muai susut, karena akumulasi gaya
yang sangat besar pada dimensi bangunan yang panjang, dan menyebabkan
timbulnya retakan atau keruntuhan structural. Oleh karenanya, suatu bangunan
yang besar perlu dibagi menjadi beberapa bangunan yang lebih kecil, di mana tiap
bangunan dapat bereaksi secara kompak dan kaku dalam menghadapi pergerakan
bangunan yang terjadi.

Gambar 6.19 Jenis-Jenis Dilatas Bangunan


Sumber: Rancangan Penulis
Pada objek perancangan karena panjang bangunan sudah melebihi 30 meter
maka digunakan Dilatasi Bangunan. Dan dilatasi yang digunakan pada bangunan
adalah dengan menggunakan Balok Kantilever dan dengan menggunakan Dua
Kolom. Alasan menggunakan Balok Kantilever dan Dua Kolom dikarenakan ingin
mempertahankan jarak bentang antar kolom, dan menysuaikan dengan sebisa
mungkin tidak menganggu desain konsep Ruang dalam. \

141
Dilatasi dengan Balok Kantilever Dilatasi dengan dua kolom

>30 Meter

Gambar 6.20 Rencana Struktur


Sumber: Rancangan Penulis
Dilatasi dengan menggunakan Balok Kantilever
Dilatasi yang dipakai untuk perancangan adalah struktur balok kantilever.
Bentang balok kantilever maksimal 1/3 dari bentang balok induk. Pada lokasi
dilatasi bentang kolom dirubah ( diperkecil ) menjadi 2/3 bentang kolom yang lain.
Dilatasi dengan menggunakan Dua Kolom
Dilatasi dengan 2 kolom biasanya digunakan untuk bangunan yang
bentuknya memanjang ( linier ). Dengan adanya dilatasi maka jarak kolom akan
menjadi pendek.
C. Pondasi
Berdasarkan hasil perancangan, Struktur Pondasi yang digunakan adalah
Pondasi Tapak. Karena pondasi tapak cocok untuk digunakan pada keadaan tapak
yang memiliki kedalam tanah keras 2-3 Meter dan bangunan yang memiliki 1 – 4
lantai.

Gambar 6.21 Isometri Struktur dan Pondasi Telapak

142
Pondasi tapak (Pad foundation) mengacu pada pondasi yang ditujukan
untuk mempertahankan beban terpusat dari beban titik seperti kolom
struktur.

6.3.4 Sistem Utilitas Bangunan

Perancangan bangunan harus selalu memperhatikan dan menyertakan


fasilitas utilitas yang dikoordinasikan dengan perancangan yang lain, seperti
perancangan arsitektur, perancangan struktur perancangan interior dan perancangan
lainnya.

Gambar 6.22 Skema Denah Utilitas Bangunan


Sumber: Rancangan Penulis
Skema Jalur Air bersih dan Listrik. Terhubung pada ruang ME pada lantai 1
Tabel 6.4 Keterangan Tabel Utilitas Bangunan
Fasilitas Utilitas Konsep Penerapan
Sistem
Telekomunikasi
dan Internet

ODP Indihome Router untuk memancarkan sinyal Gadget pengguna


Sistem Telekomunikasi dan Internet pada bangunan menggunakan fasilitas INDIHOME.

Sistem
Penghawaan
Bangunan

Sistem penghawaan pada bangunan berbeda beda tiap fungsinya. Memakai penghawaan
alami pada bagian rekreasi dan restoran dan perpustakaan dan memakai penghawaan
buatan (AC) pada ruangan khusus seperti, ruangan seminar, dan ruang Pameran.
Sumber: Perancangan, Analisa Penulis

143
BAB VII
HASIL PERANCANGAN
7.1 LAYOUT PLAN

7.2 SITE PLAN

144
7.3 DENAH BANGUNAN

7.4 POTONGAN BANGUNAN

145
7.5 TAMPAK BANGUNAN

146
7.6 TAMPAK SITE

7.7 POTONGAN TAPAK

147
7.8 PERSPEKTIF

148
7.9 SPOT INTERIOR

149
7.10 SPOT EKSTERIOR

150
151
7.11 POTONGAN AKSONOMETRI

7.12 ISOMETRI STRUKTUR

152
7.13 ORNAMENTASI

7.14 UTILITAS TAPAK

153
7.15 UTILITAS BANGUNAN

154
7.16 DETAIL PRINSIP STRUKTUR

7.17 DETAIL PRINSIP UTILITAS

155
BAB VIII

PENUTUP

8.1 Kesimpulan

Objek Pusat Kebudayaan Minahasa dengan Konsep Arsitektur Organik ini


merpuakan sebuah wadah untuk menjadi objek pariwisata, serta menjadi wadah
untuk melestarikan kebudayaan minahasa untuk generasi-generasi berikutnya.

Melalui Tema "Arsitektur Organik” yang diterapkan dalam perancangan Pusat


Kebudayaan Minahasa di Tondano ini akan menghasilkan desain baru di wilayah
Sulawesi Utara. Dengan menggunakan tema Arsitektur Organik diharapkan Genus
Loci dari daerah Minahasa terutama daerah Pale’loan dapat menjadi sebuah Objek
Arsitektural yang dapat menumbuhkan rasa kecintaan terhadap Kebudayaan
Minahasa bagi penduduk lokal serta wisatawan asing yang ingin mendalami tentang
kebudayaan Minahasa.

8.2 Saran

Perancangan bangunan Organik ini diharapkan juga mampu menghadirkan


konsep rancangan – rancangan bangunan Organik lainnya pada masa yang akan
datang sehingga menimbulkan kesadaran manusia bahwa untuk lebih menghargai
lingkungannya. Karena Arsitektur dan Alam merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan.

Selain itu dalam penyelesaian laporan dan desain tugas akhir ini, saya selaku
penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam pengambilan maupun pengolahan
data, bahkan hingga proses analisa serta penyusunan konsep. Namun harapan
penulis, laporan tugas akhir ini dapat diterima sebagai penerapan ilmu dari penulis
setelah menempuh proses perkuliahan di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur
Universitas Sam Ratulangi Manado, serta dijadikan sebagai bahan acuan maupun
literatur pada periode yang akan datang berkaitan dengan arsitektur.

156
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Woro Aryandini, SS, MSi dan tim BAHAN AJAR BUDAYA
NUSANTARA, 2011
David Pearson 2001 New Organic Architecture, The Breaking Wave, London:
Gaia Books.
Ching, F.D.K. 2008.Arsitektur, Bentuk,Ruang, dan Tatanan. Jakarta : Erlangga

Badan Pusat Statistik Minahasa. 2017. Kabupaten Minahasa Dalam Dalam


Angka 2017 . BPS Kabupaten Minahasa . Minahasa

Frank Lloyd Wright, An Organic Architecture : The Architecture of


Democracy, 2017
CEV Wuisang Defining Genius Loci and Cultural Landscape of Minahasa
Ethnic Community in North Sulawesi Indonesia, 2014
RTRW Minahasa
Edward White, Analisis Tapak, 1985
Neufert, Ernst. 1986, Architect Data 1st,2nd,3rd edition.
Dwi Tanggoro, 2004, Utilitas Bangunan, Universitas Indonesia
Skripsi, Manado, Universitas Sam Ratulangi Manado, Fakultas Teknik Jurusan
Arsitektur
Rustam Hakim, (2014). Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap, Jakarta, Bumi
Aksara.
Walker D.Theodore, (2002). Rancangan Tapak dan Pembuatan Detil Konstruksi,
Jakarta.
Republik Indonesia, (2009). UU No.10 Tahun 2009, Tentang Kepariwistaan. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai