Praktikum Antenatal Care Keperawatan
Praktikum Antenatal Care Keperawatan
MATERNITAS 1
1
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
VISI, MISI DAN TUJUAN PENDIDIKAN PRODI
VISI
Menjadi Program Studi Yang Unggul Dalam Bidang Promosi Kesehatan Kardiovaskular Dengan
Pendekatan Metode Ilmiah Dan Berlandaskan Nilai Islami Pada Tahun 2028
MISI
1. Menyelenggarakan Pendidikan Yang Islami Dibidang Promosi Kesehatan
Kardiovaskular Dengan Pendekatan Metode Ilmiah
2. Mengembangkan Penelitian Dibidang Promosi Kesehatan Kardiovaskular
3. Menyelenggarakan Pengabdian Masyarakat Dibidang Promosi Kesehatan
Kardiovaskular
4. Menerapkan Nilai-Nilai Islami Dalam Upaya Promosi Kesehatan
Kardiovaskular
TUJUAN
2
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
MODUL 1
1. Capaian Pembelajaran
Mampu melakukan pemeriksaan fisik head to too pada ibu hamil secara sistematis.
2. Kemampuan akhir yang diharapkan
2.1 Mampu melakukan komunikasi terapeutik
2.2 Mampu melakukan pemeriksaan fisik secara umum
2.3 Mampu menghitung usia kehamilan dan taksiran partus
2.4 Mampu melakukan pemeriksaan leopold
2.5 Mampu mendengarkan dan menghitung DJJ dalam satu menit
2.6 Mampu melakukan pemeriksaan reflex patella
2.7 Mampu mendokumnetasikan hasil pemeriksaan pada buku KIA
3. Konsep Teori antenatal care
3.1 Definisi
Menurut Henderson (2006), kunjungan antenatal care adalah kontak ibu hamil
dengan pemberi perawatan/asuhan dalam hal mengkaji kesehatan dan
kesejahteraan bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi
informasi bagi ibu dan petugas kesehatan
3.2 Tujuan
Tujuan dari anamnesa adalah untuk mendeteksis komplikasi dan menyiapkan
untuk persalinan dengan mempelajari keadaan kehamilan ibu sekarang,
kehamilan dan kelahiran terdahulu, kesehatan secara umum dan kondisi sosio-
ekonomi. Ketika melakukan anamnesa diperlukan juga keterampilan
berkomunikasi yang baik dan membina hubungan untuk meningkatkan
kepercayaan klien pada bidan, sehingga ibu dengan sukarela akan menceritakan
segala sesuatu yang dialaminya.
3
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
3.2 Jadwal pemeriksaan ANC
Dalam masa kehamilan ibu harus memeriksakan kehamilan ke tenaga kesehatan
paling sedikit 4 kali :
1. Trismester I : 1 kali
2. Trismester II : 1 kali
3. Trismester III : 2 kali
Rumus ini dapat dipakai hanya bila haid ibu teratur dengan siklus 28 hari,
Rumus ini tidak bisa digunakan apabila:
1. Ibu mempunyai riwayat haid yang tidak teratur atau tidak haid
(amenoirhoe)
2. Ibu sudah hamil saat masih menyusui dan belum pernah haid lagi sesudah
melahirkan.
3. Ibu hamil setelah berhenti mengkonsumsi pil KB dan belum haid lagi Kalau
salah satu dari situasi di atas terjadi, perkiraan tanggal persalinan dilakukan
secara klinis: (misalnya : dengan melihat besarnya uterus) atau dengan
menggunakan ultrasound)
Contoh Kasus :
1. HPHT Tanggal 7 Bulan Mei Tahun 2013
HPL = Tahun 2013(+1) ;bulan 5(-3); tanggal 7(+7)
= Tahun 2014 ; bulan 2 ; tanggal 14
= 14 Februari 2014
4
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
2. HPHT Tanggal 28 Bulan Februari Tahun 2013
(Ket : 1 tahun = 12 bulan)
2013 12+2 28
+1 -3 +7
2013 11 35
Karena jumlah hari dalam 1 bulan berkisar 30 hari maka :
jumlah hari (-30) jumlah bulan (+1)
HPL = Tanggal 5 Bulan 12 Tahun 2013
Contoh:
HPHT Tanggal 28 Bulan Februari Tahun 2013 dengan siklus 35 hari, maka:
HPL = Tanggal 5 Bulan 12 Tahun 2013
Tanggal 5 +( 35-28 hari) ; Bulan 12 ; Tahun 2013
Tanggal 12 : Bulan 12 ; Tahun 2013
HPHT Tanggal 28 Bulan Februari Tahun 2013 dengan siklus 21 hari, maka:
HPL = Tanggal 5 Bulan 12 Tahun 2013
Tanggal 5 +( 28-21 hari) ; Bulan 12 ; Tahun 2013
Tanggal(5-7) + 30 hari : Bulan 12 – 1 : Tahun 2013
Tanggal 28 Bulan 11 Tahun 2013
3.4 Menghitung usia kehamilan
Umur Kehamilan Tinggi Fundus Uteri
12 minggu 1/3 di atas simpisis
16 minggu ½ simpisis-pusat
20 minggu 2/3 di atas simpisis
24 minggu Setinggi pusat
28 minggu 1/3 di atas pusat
34 minggu ½ pusat-prosessus xifoideus
36 minggu Setinggi prosessus xifoideus
5
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
40 minggu 2 jari di bawah prosessus xifoideus
Gambar tinggi fundus uteri
4. Pelaksanaan Praktikum
4.1 Kesadaran : kesadaran ibu
4.2 Tanda-tanda vital e. BB sebelum hamil : …….. Kg
a. T/D : …….. mmHg f. Berat badan saat ini : …….. Kg
b. Nadi : …….. x / mnt g. LILA : .............. cm
c. Suhu : …….. ° C
d. Respirasi : …….. x / mnt
a. Kepala: f. Telinga:
I: bentuk kepala, kebersihan kulit I: kebersihan telinga, cairan yang
kepala, keluar dari telinga
P: tidak ada benjolan P: pembengkakan pada tulang
mastoid
Tanyakan pada ibu adalah ada suara
berdenging atau tidak
b. Mata: e. Muka:
I: Konjungtiva: anemis/ananemis I: Adakah kloasma gravidarum
Skelera : ikterik/anikterik
Reaksi pupil : mosis/midriasis
c. Hidung: g. Leher:
I:ada pilek/tidak, ada I: Ada hyperpigmentasi/tidak,
epistaksis/tidak P: Ada pembesaran kelenjar
P: ada nyeri atau tidak. tiroid/tidak, yaitu dengan
menyuruh ibu menelan ludah dan
6
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
d. Mulut: palpasi lehernya Ada pembesaran
I: Keadaan bibir ada stomatitis, gigi vena jugularis / tidak
berlubang, pembengkakan tonsil
4.2.2 Dada
a. Ketiak: c. dada
P:Ada pembesaran kelenjar I: Pengembangan dada simetris /tidak
limfe/tidak (Raba dengan 3 jari P: ada masa atau tidak
dibawah dan 2 jari keatas) P: perkusi suara paru resonan /tidak
A: auskultasi seluruh lapang paru dan
jantung
b. Mamae:
I: kesimetrisan, kebersihan , bentuk
nipple menonjol/tidak
P: ada masa /tidak,
4.2.2 Abdomen
Sebelum pemeriksaan anjurkan pasien untuk BAK terlebih dahulu
a. Leopold I :
Tujuan : untuk menentukan tuanya
kehamilan dan bagian apa yang
terdapat dalam fundus uteri
Cara :
- kaki pasien sedikit ditekuk
- Pemeriksa berdiri sebelah kanan klien
dan menghadap ke klien
- Rahim dibawa ketengah
- Tingginya dibawa ketengah
- Tentukan bagian apa dari anak yang
terdapat dalam fundus uteri
- Tekan fundus, ukur dari bagian keras
ketemu keras (symphisis)
7
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
b. Leopold 2 :
Tujuan : untuk menentukan dimana
letak punggung anak dan dimana letak
bagian-bagian kecil
c. Leopold 3 :
Tujuan : menentukan apa yang terdapat
dibagian bawah
Caranya:
- Tangan kanan memegang bagian
bawah
- Tangan kiri menekan undus
- Bagian bawah anak masih dapat
digoyang / tidak
- Bila belum convergen tidak perlu
Loepold IV.
d. Leopld 4 :
Tujuan : untuk menetukan apakan
bagian /presentasi bagian bawah sudah
masuk PAP
Caranya:
- Berapa masuknya bagian bawah
kedalam PAP
- Tangan konvergen ( ) : hanya bagian
kecil dari kepala yang turun PAP
- Tangan sejajar ( ) separuh kepala
masuk PAP
- Tangan divergen ( ) bagian terbesar
kepala masuk PAP
- Tidak dilakukan kalau kepala atau
bagian terbawah masih tinggi.
e. Dengarkan DJJ
- Cari punctum maximum
- Kalau sudah jelas → dengarkan
- Bandingkan dengan nadi ibu yaitu
dengan meminta tangan ibu
untuk dipegang jika iramanya sama
sengan nadi ibu berarti bukan
DJJ
- Hitung DJJ dalam 1 menit
- Normal > 120 – 160 x/mnt
- Bila < 120 / > 160 x/mnt fetal distress
8
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
4.2.3 Ekstremitas
I: Ada varises/edema
P: Jika ada edema kaji pitting
edema
P: Pemeriksaan reflex patella
4.2.4 Genetalia
I: Kebersihan vagina, adanya keputihan (tanyakan apakah gatal/tidak),
adanya
9
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
6. Instrument penilaian
FORMAT
PEMERIKSAAN FISIK ANTENATAL
10
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
7. Latihan
Lakukan pemeriksaan fisik pada ibu hamil di lingkungan anda, lalu
dokumentasikan hasilnya menggunaan format dokuemtasi yang telah ada.
8. Referensi
Kementrian Kesehatan RI. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Kemenetrian
Kesehatan
11
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
MODUL II
1. Capaian Pembelajaran
Mampu melakukan asuhan persalinan normal secara sistematis
2. Kemampuan akhir yang diharapkan
2.1 Melakukan pemeriksaan dalam
2.2 Melakukan pertolongan persalinan (kala 2)
2.3 Melakukan pelepasan plasenta (kala 3)
2.4 Melakukan
3. Konsep Teori
Asuhan keperawatan intranatal care dimulai sejak kala 1 sampai dengan kala 3. Kala 1
adalah fase pembukaan serviks. Kala 1 dibagi menjadi dua fase yaitu fase laten dan
fase aktif. Fase laten adalah pembukaan serviks kurang dari 4 cm. fase aktif yaitu
membukaan serviks dari 4 cm sampai 10 cm atau pembukaan lengkap. Kala 1
dilakukan pendokumentasian persalinan menggunakan partograf (liat modul partograf)
3.1 Tanda dan gejala kala dua
Kala dua atau fase intranatal ditandai dengan tanda-tanda sebagai berikut:
a. Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
b. Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rectum atau vaginanya
c. Perineum menonjol
d. Vulva-vagina dan sfingter ani membuka
e. Meningkatnya pengeluatan lender bercampur darah.
Tanda pasti kala dua ditentukan melalui pemeriksaan dalam yang hasilnya:
a. Pembukaan serviks lengkap atau
b. Terlihat bagian kepala janin melalui introitus vagina
12
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
4. Pelaksanaan Praktikum
4.1 Pengkajian
Anamnese :
a. Status emosi : senang/cemas
b. Sejak kapan mulai sakit perut, jarak setiap rasa sakit/kontraksi, peningkatan
frekuensi, lamanya.
c. Apakah sudah mengeluarkan lendir campur darah, darah, cairan.
d. Bagaimana gerak janin
Pemeriksaan Fisik :
a. Apakah tampak sakit, kesadarannya, tampak pucat (anemis)
b. Pemeriksaan vital sign
c. Pemeriksaan Leopold
d. Pemeriksaan denyut janin : jumlah 120-140 per menit dan keteraturannya
e. Pemeriksaan Dalam
4.2 Pemeriksaan Dalam
4.2.1 Persiapan alat : Selimut mandi, kapas sublimat, ait DDT dalam kom,
bengkok, apron, masker, sarung tangan steril, larutan klorin dalam wadah
4.2.2 Persetujuan tindaka medik
Menjelaskan pada ibu apa yang akan dikerjakan dan memberitahukan
kemungkinan ketidaknyamanan serta memberikan kesempatan untuk
mengajukan pertanyaan
4.2.3 Tindakan
a. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta mengeringkannya
dengan handuk bersih
b. Meminta ibu untuk berkemih dan membasuh regio genetalia dengan
sabun dan air bersih
c. Meminta ibu berbaring di tempat tidur
d. Menutupi badan ibu dengan selimut atau kain
e. Mengatur posisi ibu dorsal recumbent
f. Mengunakan sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan
13
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
g. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari
depan ke belakang dengan kapas atau kassa yang sudah dibasahi air DTT.
Jika mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,
membersihkan dengan seksama dengan cara menyeka dari depan ke
belakang. Membuang kapas atau kassa yang sudah terkontaminasi dalam
wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi
(meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam larutan
dekontaminasi)
h. Memeriksa genitalia luar ;
Inspeksi : Perdarahan, Cairan amnion ; warna, bau, jumlah, Mekoneum ;
kental atau encer, Bagian yang menumbung, Lendir darah, Perlukaan,
Massa, Varices, Edema, Haemoroid.
Jika ada perdarahan pervaginam, jangan lakukan pemeriksaan dalam
i. Dengan hati-hati pisahkan labia dengan jari manis dan ibu jari tangan kiri
pemeriksa. Masukkan jari telunjuk tangan kanan pemeriksa dengan hati-
hati diikuti oleh jari tengah. Setelah kedua jari tangan berada dalam
vagina, tangan kiri pemeriksa diletakkan di fundus ibu. Pada saat kedua
jari berada di dalam vagina, jangan mengeluarkannyasebelum
pemeriksaan selesai. Jika ketuban belum pecah, jangan lakukan
amniotomi.
j. Nilai vagina. Luka parut lama di vagina bisa memberikan indikasi luka
atau episiotomi sebelumnya, hal ini mungkin menjadi informasi penting
pada saat kelahiran bayi.
k. Nilai pembukaan dan penipisan serviks
l. Pastikan tali pusat umbilikus dan/atau bagian-bagian kecil (tangan atau
kaki bayi) tidak teraba pada saat melakukan pemeriksaan pervaginam
m. Nilai penurunan kepala janin dan tentukan apakah kepala sudah masuk ke
dalam panggul. Bandingkan penurunan kepala dengan temuan-temuan
dari pemeriksaan abdomen untuk menentukan kemajuan persalinan
n. Jika kepala sudah dapat dipalpasi, raba fontanela dan sutura sagitali untuk
menentukan penyusupan tulang kepala dan/atau tumpang tindihnya, dan
apakan kepala janin sesuai dengan diameter jalan lahir.
14
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
o. Setelah pemeriksaan lengkap, keluarkan kedua jari pemeriksa dengan
hati-hati, sambil meminta ibu untuk menarik nafas panjang.
p. Mendekontaminasikan sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan
yang masih memakai sarung tangan kotor dedalam larutan klorin 0,5%
dan kemudian melepaskan dalam keadaan terbalik serta merendamnya di
dalam larutan tersebut selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti
diatas)
q. Merapihkan ibu kembali dan membantu ibu mengambil posisi yang
nyaman
r. Memberitahu ibu dan keluarganya tentang hasil pemeriksaan.
s. Mencatat /mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan pada status ibu.
15
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
j. Perlengkapan perlindungan pribadi : masker, kaca mata, alas kaki
tertutup
k. Perlak
l. Lenec
m. Tensimeter
n. Larutan klorin 0,5 % dalam tempatnya
o. Air DTT dalam tempatnya
p. 3 buah tempat sampah : basah, kering, tempat benda tajam
q. Kantung plastik atau pendil
r. Kain ibu
s. Pembalut
t. Gurita
u. Waslap
v. Mematahkan ampul oksitosin 10 U, dan menempatkan tabung suntik
steril sekali pakai di dalam partus set.
4.3.3 Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih
4.3.4 Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku. Mencuci kedua
tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan
tangan dengan haduk satu kali pakai / pribadi yang bersih.
4.3.5 Memakai sarung tangan DTT. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat
tinggi atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
4.3.6 Menghisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai
sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkannya
kembali di partus set/ wadah desinfeksi tingkat tinggi atau steril tampa
mengkontaminasi tabung suntik.
4.3.7 Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari
depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kassa yang sudah
dibasahi air desinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum atau anus
terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkannya dengan seksama dengan
cara menyeka dari depan ke belakang. Membuang kapas atau kassa yang
terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika
16
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di
dalam larutan dekontaminasi)
4.3.8 Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk
memastikan bahwa pembukaan sudah lengkap. Bila selaput ketuban belum
pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi
4.3.9 Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang
masih memakai sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% dan
kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya di
larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti di
atas).
4.3.10 Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi uterus berakhir
untuk memastikan DJJ dalam batas normal (100 – 180 x/mnt). Mengambil
tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal. Mendokumentasikan hasil-hasil
pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan
lainnya pada partograf
4.3.11 Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.
Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai dengan
keinginannya.
a. Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin
sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan mendokumentasikan
temuan-temuan.
b. Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat
mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
4.3.12 Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran.
(Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ibu
merasa nyaman)
4.3.13 Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk
meneran :
a. Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan untuk
meneran
17
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
b. Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran
c. Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (tidak
meminta ibu berbaring terlentang)
d. Menganjurkan ibu untuk istirahat di antara kontraksi
e. Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada
ibu
f. Menganjurkan asupan cairan per oral
g. Menilai denyut jantung janin setiap lima menit
h. Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera
dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60
menit (1 jam) untuk ibu multipara, merujuk segera
Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran
a. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi
yang nyaman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60 menit, anjurkan
ibu untuk mulai meneran pada puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan
beristirahat di antara kontraksi
b. Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera
setelah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan segera
4.3.14 Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, meletakkan
handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
Sediakan tempat untuk mengantisipasi terjadinya komplikasi persalinan
(asfiksia), sebelah bawah kaki ibu tempat yang datar alas keras. Beralaskan
2 kain dan 1 handuk. Dengan lampu sorot 60 watt (jarak 60 cm dari tubuh
bayi)
4.3.15 Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu
4.3.16 Membuka partus set
4.3.17 Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan
4.3.18 Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi
perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang
lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat
18
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan
ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernafas cepat saat kepala lahir
a. Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut dan
hidung bayi setelah kepala lahir menggunakan penghisap lendir
DeLee disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau bola karet penghisap
yang baru dan bersih
4.3.19 Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau
kassa yang bersih
4.3.20 Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu
terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi :
a. Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian
atas kepala bayi.
b. Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di dua
tempat, dan memotongnya.
4.3.21 Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan
4.3.22 Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di
masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat
kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan ke
arah luar hingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian
dengan lembut menarik ke arah atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu
posterior
4.3.23 Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi
yang berda di bagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu
dan lengan posterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku
dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah
untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterio
(bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat
keduanya lahir.
4.3.24 Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas
(anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat
19
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
punggung dan kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dan dengan hati-
hati membantu kelahiran kaki.
20
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
Peregangan Tali Pusat Terkendali
4.5.4 Memindahkan klem pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva
4.5.5 Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas
tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi
kontraksi dan menstabilkan uterus. Memegang tali pusat dan klem dengan
tangan yang lain.
4.5.6 Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan perenganganke
arah bawah pada tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang
berlawanan arah pada bagian bawah uterus dengan cara menekan uterus ke
arah atas dan belakang (dorso-kranial) dengan hati-hati untuk membantu
mencegah terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40
detik, menghentikan peragangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi
berikut mulai.
Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga
untuk melakukan rangsangan puting susu
Mengeluarkan Plasenta
4.5.7 Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali
pusat ke arah bawah dan kemudian ke atas, mengikuti kurve jalan lahir
sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus.
a. Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak
sekitar 5-10 cm dari vulva
b. Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan peregangan tali pusat
selama 15 menit :
▪ Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM
▪ Menilai kandung kemih dan mengkateterisasi kandung kemih
dengan menggunakan teknik aseptik jika perlu
▪ Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan
▪ Mengulangi peregangan tali pusat selama 15 menit berikutnya
▪ Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak
kelahiran bayi
21
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
4.5.8 Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta
dengan menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan
dan dengan hati-hati memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin.
Dengan lembut dan perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut.
▪ Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan disinfeksi
tingkat tinggi atau steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu
dengan seksama. Menggunakan jari-jari tangan atau klem atau
forseps disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepasakan
selaput yang tertinggal
4.5.9 Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus,
meletakkan telapak tangan kanan di fundus dan melakukan masase dengan
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus
menjadi keras ).
Menilai Perdarahan
4.5.10 Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin
dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan
utuh. Meletakkan plasenta di dalam kantung plastik atau tempat khusus.
Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selama 15 detik
mengambil tindakan yang sesuai
4.5.11 Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera
menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif
Melakukan Prosedur Pasca Persalinan
4.5.12 Menilai ulang uterus dan memastikan berkontraksi dengan baik.
Mengevaluasi perdarahan pervaginam
4.5.13 Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5%, membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut
dengan air didensinfeksi tingkat tinggi dan mengeringkannya dengan kain
yang bersih dan kering
4.5.14 Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau
mengikatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati di sekeliling
tali pusat sekitar 1 cm dari pusat
22
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
4.5.15 Mengikat satu lagi simpul mati di bagian tali pusat yang berseberangan
dengan simpul mati yang pertama
4.5.16 Melepaskan klem bedah dan meletakkannya di dalam larutan klorin 0,5%.
4.5.17 Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memastikan
handuk atau kainnya bersih dan kering
4.5.18 Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI
4.6 Evaluasi
4.6.1 Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam :
a. 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan
b. Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan
c. Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan
d. Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melaksanakan perawatan
yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri
e. Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan, lakukan penjahitan
dengan anestesia lokal dan mengunakan teknik yang sesuai.
4.6.2 Mengajarkan ibu / keluarga bagaimana melakukan masase uterus dan
memeriksa kontraksi uterus
4.6.3 Mengevaluasi kehilangan darah
4.6.4 Memeriksa tekanan darah, nadi dan kandung kemih setiap 15 menit selama
satu jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua
pascapersalinan.
a. Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam
pertama pascapersalinan
b. Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal
4.6.5 Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk
didekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah
didekontaminasi
4.6.6 Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah
yang sesuai
23
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
4.6.7 Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Membersihkan cairan
ketuban, lendir dan darah. Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan
kering
4.6.8 Memastikan ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan
keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkannya
4.6.9 Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan
larutan klorin 0,5%, dan membilasnya dengan air bersih
4.6.10 Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%,
membalikkan bagian dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit
4.6.11 Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir
4.7 Dokumentasi
4.7.1 Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang)
24
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
5. Instrumen penilaian
INSTRUMEN EVALUASI
INTRANATAL CARE
NILAI
No ASPEK YANG DINILAI
0 1 2
Pra interaksi
Persiapan alat
Set partus
- 1 bh. Kateter urine logam
- 1bh. Duk untuk bayi
- 2 bh: tali untuk mengikat tali pusat
- 1 bh: gunting tali pusat
- 2 bh: klem arteri
- 1 bh: penghisap lender
1 - Kassa steril secukupnya
- 1 bh: tempat bethadin
- 2 bh: lidi kapas
- 1 bh: duk untuk persalinan
- 1 bh: setengah kocher
- 1 bh: gunting episiotomy
- Minimal 2 sarung tangan steril kanan dan 1 kiri
- Kapas seblimat dalam tempat secukupnya
- Cairan DTT
Persiapan lain:
Set hecting
Dalam bak steril persiapan alat sebagai berikut:
- 1 nalpuder
- 1 pinset sirurgis
- 1 jarum otot/jarum kulit dan benang catgut
- 1 depper besar
- 1 gunting hecting
Obat-obatan
- Lidonest/lidocain dalam ampul dan spuit steril ukuran 5 cc
- Bethadin dalam botol
- Obat-obatan uterotonika (1 syntosinon, 1 metergin, 1 spuit 2,5
cc, kapas alcohol dalam tempatnya)
25
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
Alat-alat yang tidak steril:
Alat-alat untuk pemeriksaan tanda-tanda vital (sfignomanometer,
stetoskop, thermometer, reflex hammer)
- 1 buah stetoskop janin/laenec
- 1 buah meteran
- 1 buah pispot
- 1 buah tempat plasenta
- 1 buah bengkok
2 Tindakan
3 Cuci Tangan
4 Baca Basmalah
5 Melakukan Palpasi Leopold
Lakukan pemeriksaan dalam
6
- Menyebutkan hasil pemeriksaan dalam dengan sistematis
7 Mendengarkan bunyi jantung janin
8 Pengawasan his
11 Melakukan amniotomi
-Tangan kanan tetap di dalam, tangan kiri mengambil ½ kocher,
melakukan pemecahan ketuban
- Tangan kiri menutup vulva mencegah semburan air ketuban,
tangan kanan melebarkan robekan dan memeriksa nila ada
bagian janin yang ikut keluar
13 Memasang duk
14 Menolong persalinan
- Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi
- Melakukan episiotomy
- Tangan kiri menahan kepala bayi untuk mencegah
hiperdefleksi
- Tangan kanan menahan perineum
- Melap muka bayi, hidung , mulut
- Meraba leher untuk mengetahui lilitan tali pusat
26
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
- Memindahkan tangan secara biparietal
- Melahirkan bahu depan dan belakang
- Menarik bayi kearah atas dengan posisi talik susur
- Meletakkan bayi diatas perut ibu
- Mengeringkan badan bayi
- Bila tidak menangis, lakukan suction
- Memotong talipusat
6. Latihan
Parktikum secara mandiri di laboratorium
7. Daftar Pustaka
Jaringan Nasional Pelatihan Klinik –Kesehatan Reproduksi. (2011). Asuhan Persalinan
Normal. Jakarta: Kemekes RI
Lowdermilk, Deitra, Leonard., Perry, Shannon, E., Cashion, Kitty. (2013)
Keperawatan Maternitas. Alih bahasa Sidartha, F., Tania, A. Mosby: elseiver
27
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
MODUL III
PARTOGRAF
1. Capaian Pembelajaran
Mampu melakukan pendokumentasian kemajuan persalinan dengan benar
2. Kemampuan akhir yang diharapkan
2.1 Mampu mendokumentasian denyut jantung janin pada format partograf dengan
benar
2.2 Mampu mendokumentasian denyut jantung janin pada format partograf dengan
benar
2.3 Mampu mendokumentasikan pembukaan dengan benar
2.4 Mampu mendokumentasikan his/kontraksi dengan benar
3. Konsep Teori
3.1 Definisi
Partograf adalah catatan grafik mengenai kemajuan persalinan untuk memantau
keadaan ibu dan janin, untuk menentukan adanya persalinan abnormal yang
menjadi petunjuk untuk tindakan bedah kebidanan dan menemukan disproporsi
kepala panggul (CPD) jauh sebelum persalinan menjadi macet.
3.2 Tujuan
3.2.1 Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai
pembukaan serviks dengan pemeriksaan dalam.
3.2.2 Memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam
mengambil keputusan klinik.
3.2.3 Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal sehingga dapat
mendeteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama
3.2.4 Mencatat kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin, mencatat asuhan yang
diberikan selama persalinan dan kelahiran.
3.2.5 Memberikan informasi untuk identifikasi dini penyulit persalinan serta
informasi mengambil keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu.
28
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
Penggunaan partograf baru ini mulai digunakan hanya pada pembukaan serviks 4
sentimeter (fase aktif) pada ibu yang sedang bersalin tanpa memandang apakah
persalinan itu normal atau dengan komplikasi (Saifuddin, 2002)
b. Warna dan adanya air ketuban, penilaian air ketuban setiap kali melakukan
pemeriksaan dalam, dan nilai warna air ketuban jika selaput ketuban pecah. Mencatat
temuan-temuan ke dalam kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ, menggunakan
lambang-lambang seperti berikut: (a) U jika ketuban utuh atau belum pecah; (b) J jika
ketuban sudah pecah dan air ketuban jemih; (c) M jika ketuban sudah pecah dan air
ketuban bercampur mekonium; (d) D jika ketuban sudah pecah dan air ketuban
bercampur darah; (e) K jika ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban atau
"kering"
29
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
c. Molase atau penyusupan tulang-tulang kepala janin, menggunakan lambang-lambang
berikut ini: (a) 0 jika tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat
dipalpasi; (b) 1 jika tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan; (c) 2 jika
tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih dapat dipisahkan; (d) 3
jika tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan. Hasil
pemeriksaan dicatat pada kotak yang sesuai di bawah lajur air ketuban.
b. Pencatatan penurunan bagian terbawah atau presentasi janin, setiap kali melakukan
pemeriksaan dalam atau setiap 4 jam, atau lebih sering jika ada tanda-tanda penyulit.
Kata-kata "turunnya kepala" dan garis tidak terputus dari 0-5, tertera di sisi yang
sama dengan angka pembukaan serviks. Berikan tanda "--" pada garis waktu yang
sesuai. Hubungkan tanda " " dari setiap pemeriksaan dengan garis tidak terputus.
c. Garis waspada dan garis bertindak, garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4
cm. dan berakhir pada titik dimana pembukaan lengkap, diharapkan terjadi laju
pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan selama fase aktif persalinan harus dimulai di
garis waspada.
30
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
3.4.4 Pencatatan jam dan waktu, meliputi:
a. Waktu mulainya fase aktif persalinan, di bagian bawah pembukaan serviks dan
penurunan, tertera kotak-kotak yang diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan
waktu satu jam sejak dimulainya fase aktif persalinan.
b. Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan, dibawah lajur kotak untuk waktu mulainya
fase aktif, tertera kctak-kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan
dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak
waktu tiga puluh menit pada lajur kotak di atasnya ataii lajur kontraksi di bawahnya.
Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catat pembukaan serviks di garis waspada.
Kemudian catat waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai. Bidan
mencatat kontraksi uterus pada bawah lajur waktu yaitu ada lima lajur kotak dengan
tulisan "kontraksi per 10 menit" di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak
menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi daiam 10
menit dan lamanya kontraksi dalam satuan detik. Nyatakan jumlah kontraksi yang
terjadi dalam waktu 10 menit menggunakan simbol: a). ░ bila kontraksi lamanya
kurang dari 20 menit; b) bila kontraksi lamanya 20 menit sampai dengan 40 menit; c)
▓ bila kontraksi lamanya lebih dari 40 menit.
Obat yang diberikan dalam kotak yang sesuai dengan kolom waktu. Untuk setiap
pemberian oksitosin drip, harus mendokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit
oksitoksin yang diberikan per volume cairan (IV) dan dalam satuan tetesan per
menit (atas kolaborasi dokter), catat semua pemberian obat-obatan tambahan
dan/atau cairan IV.
a. Observasi TTV. ( TD setiap 4 jam, N stiap 30 menit dan suhu setuap 2 jam )
b. Ajurkan ibu untuk berkemih setiap 2 jam
31
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
4. Instrumen partograf
32
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
33
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
5. Latihan
Kasus I
Ibu M, G1 P0 A0 , 21 tahun datang ke IGD Kebidanan diantar oleh keluarga pada tanggal 22
Oktober 2016 Pukul15.00. Ibu M mengatakan bahwa ia sudah merasakan kontraksi sejak
pukul 07.00 WIB
Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik sebagai berikut:
• Kehamilan cukup bulan, presentasi kepala dengan penurunan 4/5, kontraksi uterus tiga
kali dalam10menit, setiapkontraksiberlangsung 18 detik dan DJJ 130 x/menit
• Pembukaan serviks 3 cm, tidak ada penyusupan dan selaput ketuban utuh
• Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80, temperature tubuh 36,8o C.
• Ibu berkemih 200 ml sebelum dilakukan pemeriksaan dalam,hasil pemeriksaan urine
tidak mendeteksi adanya protein dan aseton dalam urine.
2. Bidan tria menuliskan tanggal, waktu, semua temuan dan asuhannya yang diberikan
pada catatan kemajuan persalinan. Bidan tria melanjutkan pemantauan DJJ,Nadi dan
kontraksi uterus ibu Maryam setiap jam. DJJ, Nadi dan kontraksi tetap normal.petugas
kesehatan mengukur jumlah produksi urine ibu Tria setiap kali berkemih.Semua
temuan dan hasil pemeriksaan dicatatkan dalam lembar kemajuan persalinan. Bidan
Tria juga terus memberikan dukungan dan semangat untuk ibu Maryam dalam
menjalani persalinan dan mempersiapkan kelahiran bayinya.
Pada pukul 19.00,Ibu Maryam masuk kedalam fase aktif dan bidan Tria mulai
mencatatkan temuannya pada partograf. Pembukaan serviks dicantumkan pada garis
waspada dan semua temuan lainnya digaris waktu yang sesuai. Bidan Tria
mulaimenilai DJJ, kontraksi uterus dan nadi ibu Maryam setiap30 menit dan
temperature tubuhnya setiap 2 jam. Semua temuan dicatat di partograf dengan tepat:
34
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
a. Pukul 19.30 DJJ 140 x/menit, Kontraksi 4 kali dalam10 menit selama 45 detik Nadi
80 x/menit
b. Pukul 20.00 DJJ 144 x/menit, Kontraksi 4 kali dalam10 menit selama 45 detik Nadi
88 x/menit
c. Pukul 20.30 DJJ 140 x/menit, Kontraksi 4 kali dalam10 menit selama 45 detik Nadi
90 x/menit
d. Pukul 21.00 DJJ 134 x/menit, Kontraksi 4 kali dalam10 menit selama 45 detik Nadi
97 x/menit
e. Temperatur 36,8 o C
f. Pukul 21.30 DJJ 128 x/menit, Kontraksi 4 kali dalam10 menit selama 45 detik Nadi
88 x/menit
g. Pukul 22.00 DJJ 130 x/menit, Kontraksi 5 kali dalam10 menit selama 45 detik Nadi
88 x/menit
h. Pukul 22.30 DJJ 132 x/menit, Kontraksi 5 kali dalam10 menit selama 45 detik Nadi
90 x/menit
i. Urin 80 cc
4. Pada pukul 23.00, dokter melakukan pemeriksaan abdomen dan dalam. Hasilnya DJJ
130 X/menit, 5 kontraksi dalam 10 menit, lamanya lebih dari 45 detik, penurunan
kepala 1/5, pembukaan serviks 10cm, tidak ada penyusupan kepala janin, selaput
ketuban pecah sebelum pemeriksaan (pukul 22.50) dan cairan ketuban jernih. Tekanan
darah 120/70 mmHg, temperature tubuh 37 o C dan nadi 80 x/menit
5. Pukul 23.30, seorang bayi perempuan lahir spontan, berat badan 3000 gr dan panjang
48 cm, bayi menangis spontan. Dilakukan penatalaksanaan aktif kala III dan plasenta
lahir 5 menit setelah bayi lahir. Tidak dilakukan episiotomi dan tidak terjadi leserasi.
Perkiraan kehilangan darah kurang lebih 150 ml.
6. Selama 15 menit pertama kala empat dan 15 menit berikutnya pada jam pertama
setelah plasenta lahir, catatan bidan Ita menunjukkan semuanya berjalan normal
23.50 : TD 120/70 mmHg, Nadi 80, Suhu tubuh 37.2 o C , tinggi Fundus 3 jari bawah
pusat, Tonus uterus baik (keras), kandung kemih kosong, jumlah darah
pervaginam masih dalam batas normal
00.05 : TD 120/70 mmHg, Nadi 76, tinggi Fundus 3 jari bawah pusat, Tonus uterus
baik(keras), kandung kemih kosong, jumlah darah pervaginam masih dalam
batas normal
35
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
00.20 : TD 120/70 mmHg, Nadi 76, tinggi Fundus 3 jari bawah pusat, Tonus uterus
baik(keras), kandung kemih kosong, jumlah darah pervaginam masih dalam
batas normal
00.35 : TD 120/70 mmHg, Nadi 76, tinggi Fundus 3 jari bawah pusat, Tonus uterus
baik(keras), kandung kemih kosong, jumlah darah pervaginam masih dalam
batas normal
7. Temuan selama 1 Jam kedua (setiap 30 menit ) kala Empat sebagai berikut:
01.05 : TD 110/70 mmHg, Nadi 80, Suhu tubuh 37 o C , tinggi Fundus 2 jari bawah
pusat, Tonus uterus baik (keras), ibu Maryam berkemih dan pengeluaran urine
250 cc, jumlah darah pervaginam masih dalam batas normal
01.35 : TD 120/70 mmHg, Nadi 80, tinggi Fundus 2 jari bawah pusat, Tonus uterus baik
(keras), kandung kemih kosong, sedikit perdarahan per vaginam
6. Daftar Pustaka
Jaringan Nasional Pelatihan Klinik –Kesehatan Reproduksi. (2011). Asuhan Persalinan
Normal. Jakarta: Kemekes RI
36
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
MODUL IV
PEMERIKSAAN FISIK POSTPARTUM (NIFAS)
1. Capaian Pembelajaran
Mampu melakukan pemeriksaan post natal dengan benar
2. Kemampuan akhir yang diharapkan
2.1 Mengetahui pengeluaran ASI
2.2 Menegetahui involusi uteri
2.3 Mengetahui
2.4 Megetahui adanya tanda homan
3. Konsep Teori
3.1 Definisi
Puerperium berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata puer artinya anak, dan
parere artinya melahirkan. Dari kata tersebut maka definisi puerperium atau post natal
adalah masa pemulihan alat reproduksi yang dimulai sejak persalinan selesai sampai
40 hari atau 6 minggu (Reeder, 2011).
37
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
3.3 Lochea
Lochea adalah sekret yang berasal dari dalam rahim terutama luka bekas implantasi
plasenta yang keluar melalui vagina. Lochea merupakan pembersihan uterus setelah
melahirkan yang secara mikroskopik terdiri dari eritrosit, jaringan desidua, sel-sel
epitel dan bakteri yang dikeluarkan pada awal masa nifas
38
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
3.7 Pemeriksaan head to too
Sebelum melakukan pengkajian pastikan kandung kemih dalam kondisi kosong
e. Kepala: f. Telinga:
I: bentuk kepala, kebersihan kulit I: kebersihan telinga, cairan yang
kepala, keluar dari telinga
P: tidak ada benjolan P: pembengkakan pada tulang
mastoid
Tanyakan pada ibu adalah ada suara
berdenging atau tidak
f. Mata: e. Muka:
I: Konjungtiva: anemis/ananemis I: Adakah kloasma gravidarum
Skelera : ikterik/anikterik
Reaksi pupil : mosis/midriasis
g. Hidung: g. Leher:
I:ada pilek/tidak, ada I: Ada hyperpigmentasi/tidak,
epistaksis/tidak P: Ada pembesaran kelenjar
P: ada nyeri atau tidak. tiroid/tidak, yaitu dengan
menyuruh ibu menelan ludah dan
palpasi lehernya Ada pembesaran
h. Mulut: vena jugularis / tidak
I: Keadaan bibir ada stomatitis, gigi
berlubang, pembengkakan tonsil
4.2.2 Dada
a. Ketiak: c. dada
P:Ada pembesaran kelenjar I: Pengembangan dada simetris /tidak
limfe/tidak (Raba dengan 3 jari P: ada masa atau tidak
dibawah dan 2 jari keatas) P: perkusi suara paru resonan /tidak
A: auskultasi seluruh lapang paru dan
jantung
b. Mamae:
I: kesimetrisan, kebersihan , bentuk
nipple menonjol/tidak
P: ada masa /tidak, cek pengeluaran
ASI (Kolostrum +/-)
39
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
3.7.2 Abdomen
Sebelum pemeriksaan anjurkan pasien untuk BAK terlebih dahulu
3.7.3 Ekstremitas
I: Ada varises/edema
P: Jika ada edema kaji pitting edema
Cek homan sign
3.7.4 Genetalia
I: Kebersihan vagina, adanya keputihan (tanyakan apakah gatal/tidak),
adanya, kaji tanda-tanda REEDA, kaji karakteristik lochea
40
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
4. Instrumen penilaian
INSTRUMEN EVALUASI
PEMERIKSAAN FISIK POST NATAL
5. Latihan
Lakukan pemeriksaan fisik secara mandiri pada satu ibu post partum.
41
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan
6. Daftar pustaka
Lowdermilk, Deitra, Leonard., Perry, Shannon, E., Cashion, Kitty. (2013)
Keperawatan Maternitas. Alih bahasa Sidartha, F., Tania, A. Mosby: elseiver
42
Modul Sistem Reproduksi-Prodi Keperawatan