Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pendirian Pabrik

Monoetilen glikol (MEG) atau sering juga disebut etilen glikol (EG) merupakan

salah satu bahan kimia yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Secara komersial,

etilen glikol di Indonesia digunakan sebagai bahan baku industri polyester sebesar

97,34%, sedangkan sisanya sebesar 2,66 % digunakan sebagai bahan baku tambahan

pada pembuatan cat, cairan rem, solven, alkyn resin, tinta cetak, tinta ballpoint, foam

stabilizer, kosmetika dan bahan anti beku.

(CIC No. 371 - 1 Agustus 2003)

Saat ini, permintaan terhadap produk polyester di dalam negeri mengalami

peningkatan. Hal tersebut mengakibatkan permintaan terhadap etilen glikol mengalami

peningkatan juga. Menurut data dari Deperindag RI yang diolah oleh BPS, pada tahun

1996 impor EG tercatat sebesar 226.000 ton, pada tahun 2000 impor EG mencapai

351.000 ton dan pada tahun 2006 impor EG mencapai 396.000 ton. Ini menunjukkan

bahwa impor EG dari tahun ke tahun cenderung meningkat.

Sampai saat ini, kapasitas produksi EG di dalam negeri hanya sebesar 220.000

ton per tahun. Padahal permintaan pasar lokal baik oleh industri polyester maupun oleh

industri kimia lain berbahan baku EG mencapai 700.000 ton per tahun, akibatnya

kebutuhan EG tidak bisa dipenuhi oleh produsen dalam negeri. Untuk memenuhi

kekurangan tersebut, hingga kini Indonesia masih terus mengimpor EG dengan volume

yang cenderung meningkat.

1
Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan Etilen Glikol (EG) adalah Etilen

Oksida (EO) dan air. EO dapat diperoleh dengan impor dari luar negeri, sedangkan air

cukup tersedia di lingkungan sekitar.

Dilatarbelakangi oleh beberapa hal diatas, maka perlu didirikan pabrik Etilen

Glikol di Indonesia.

1.2. Kapasitas Perancangan


Kapasitas produksi pabrik akan mempengaruhi perhitungan teknis maupun

ekonomis dalam perancangan pabrik. Untuk menentukan kapasitas produksi perlu

mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Jumlah impor Etilen Glikol di Indonesia

2. Ketersediaan bahan baku

1.2.1. Impor Etilen Glikol di Indonesia

Berdasarkan data dari Deperindag RI yang diolah oleh BPS, menunjukkan

bahwa kebutuhan EG di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat.

Tabel 1.1. Perkembangan Konsumsi Etilen Glikol di Indonesia


(dlm ribuan ton)
Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Produksi 76 99 96 205 204 210 198 202 210 220 220
Import 226 252 284 329 351 279 431 256 345 356 396
Eksport 18 3 7 11 7 25 43 74 78 82 86
Kebutuhan 284 349 372 524 542 582 613 626 633 658 702

Gambar 1.1. Grafik Impor Etilen Glikol di Indonesia


2
Dari data di atas, dapat diprediksikan pada tahun 2011 jumlah import EG

mencapai 445.303 ton/tahun. Direncanakan pabrik ini akan memenuhi sekitar 70% dari

kebutuhan import tersebut yaitu 300.000 ton/tahun.

1.2.2. Ketersediaan Bahan Baku

Bahan baku merupakan faktor penting dalam kelangsungan produksi suatu

pabrik. Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan Etilen Glikol (EG) adalah Etilen

Oksida (EO) dan air. EO diperoleh dengan membeli dari Mitsubishi Petrochemicals

(Jepang), Nippon Shokubai (Jepang) dan Eastern Petrochemical Co.(Arab Saudi).

Kapasitas total ketiga pabrik tersebut dapat mencapai 50.000 ton/bulan, sehingga

mampu memenuhi kebutuhan bahan baku EO sebesar 30.000 ton/bulan. Sedangkan air

proses diperoleh dari air sungai yang sebelumnya telah diproses di unit utilitas agar

spesifikasinya sesuai.

Berdasarkan pada beberapa pertimbangan diatas, maka ditetapkan kapasitas

prarancangan pabrik etilen glikol yang akan didirikan pada tahun 2011 nanti sebesar

300.000 ton/tahun

1.3. Lokasi Pabrik

Lokasi pabrik merupakan salah satu faktor penting dalam proses pendirian

sebuah industri. Beberapa pertimbangan yang dijadikan dasar penentuan letak pabrik

antara lain adalah letak pabrik dengan sumber bahan baku maupun bahan penunjang,

transportasi, tenaga kerja, letak pabrik dengan pasar, kondisi sosial politik dan

kemungkinan pengembangan di masa yang akan datang.

3
Tabel 1.2 Alternatif Lokasi Pabrik

No Parameter Cilegon Purwakarta Cikampek


1 Ketersediaan Impor dari Arab Impor dari Arab Impor dari Arab
bahan baku Saudi dan Jepang Saudi dan Jepang Saudi dan Jepang
2 Letak Pasar Banten,Jawa Banten,Jawa Banten,Jawa
Barat,DKI Jakarta Barat,DKI Jakarta Barat,DKI Jakarta
dan Jawa Tengah dan Jawa Tengah dan Jawa Tengah
3 Sarana ± 21 KM dari ±75 KM dari ± 61 KM dari
Transportasi pelabuhan Merak, pelabuhan pelabuhan Tanjung
Banten Tanjung Priok Priok
4 Tenaga Mudah diperoleh Mudah diperoleh Mudah diperoleh
Kerja
5 Utilitas Air : Air : Air:
menggunakan air Menggunakan air Menggunakan air
sungai cibanten sungai Citarum sungai Citarum
Listrik: Listrik: Listrik:
PLN unit Suralaya PLN dan Diesel PLN dan Diesel
dan PLTU Generator Jet Generator Jet

Dengan melihat table diatas maka pabrik etilen glikol direncanakan akan

didirikan di Kawasan Industri Cilegon, tepatnya di Krakatau Industrial Estate Cilegon

(KIEC), Jalan Raya Anyer, Cilegon, Banten. Pemilihan ini dimaksudkan untuk

mendapatkan keuntungan baik secara teknis maupun ekonomis, berdasarkan

pertimbangan :

1.3.1. Faktor Primer

Faktor ini mempengaruhi secara langsung tujuan utama pabrik yang meliputi

produksi dan distribusi produk. Faktor utama ini meliputi :

4
1. Penyediaan Bahan Baku

Bahan baku merupakan kebutuhan utama bagi kelangsungan produksi suatu

pabrik sehingga penyediaan bahan baku sangat diprioritaskan. Bahan baku etilen

oksida direncanakan diperoleh dengan impor dari Jepang dan Arab Saudi,

sedangkan air proses diperoleh dari air bawah tanah yang sebelumnya telah

diproses di unit utilitas agar spesifikasinya sesuai. Dengan lokasi pabrik di

Kawasan Industri Cilegon yang dekat dengan pelabuhan Merak maka diharapkan

penyediaan bahan baku dapat tercukupi dengan lancar, karena bahan baku harus

diimpor dari luar negeri.

2. Letak Pasar

Lokasi pabrik perlu dibangun dekat dengan pasar agar produk dapat cepat

sampai ke konsumen dan untuk menghemat biaya distribusi. Pabrik yang

memanfaatkan produk EG sebagai bahan bakunya kebanyakan berada di Propinsi

Banten dan Jawa Barat, sedangkan sebagian kecil lainnya di DKI Jakarta dan

Propinsi Jawa Tengah. Hal ini dapat dilihat di tabel 1.3, 1.4, dan tabel 1.5.

Pabrik-pabrik yang memanfaatkan EG sebagai bahan bakunya antara lain

pabrik polyester staple fiber (PSF), polyester filament yarn (PFY), dan polyester

terephtalat resin (PET) untuk membuat plastik, terutama botol dan film. EG juga

digunakan sebagai bahan baku nylon filament yarn (NFY), nilon tirecord (NTC),

cooling agent dan anti freezer. Sementara produk samping Dietilen Glikol (DEG)

dimanfaatkan di industri unsaturated polyester resin (UPR), minyak rem, dan

industri solvent. Sedangkan produk samping Trietilen Glikol (TEG) dipakai untuk

pengeringan gas alam dan pembersih bahan kimia.

5
Tabel 1.3. Produsen Industri NFY di Indonesia tahun 2005
Industri Lokasi Propinsi
PT. Filamendo Tangerang Banten
PT. Shinta Nylon Utaman Bekasi Jawa Barat
PT. Indachi Purwakarta Jawa Barat

Tabel 1.4. Produsen industri PSF/PFY di Indonesia tahun 2005


Industri Lokasi Propinsi
PT. Polychem Indonesia Tangerang Banten
PT. Teijin Indonesia Fiber Co. Tangerang Banten
PT. Panasia Indosyntec Bandung Jawa Barat
PT. Sulindafin Tangerang Banten
PT. Indorama Synthetics Purwakarta Jawa Barat
PT. Tri Rempoa Solo Synthetic Jakarta Jakarta
PT. Indonesia Toray Synthetic Tangerang Banten
PT. Kukuh Manunggal Fiber Industries Tangerang Banten
PT. Polysindo Eka Perkasa Kerawang Jawa Barat
PT. Texmaco Taman Synthetic Semarang Jawa Tengah
PT. Vastex Prima Industries Bandung Jawa Barat
PT. Sungkyong Keris Tangerang Banten
PT. Kohap Indonesia Tangerang Banten
PT. Central Filamen Bandung Jawa Barat
PT. Polyfibre Industri Sumedang Jawa Barat

Tabel 1.5. Produsen Industri PET Resin di Indonesia tahun 2005

Industri Lokasi Propinsi


PT. Indorama Synthetics Purwakarta Jawa Barat
PT. Polypet Karya Persada Cilegon Banten
PT. Bakrie Kasei PET Cilegon Banten
PT. Petnesia Resindo Tangerang Banten
PT. Sungkyong Keris Tangerang Banten

(BPS Semarang, 2005)

Dengan melihat tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar industri

yang memanfaatkan EG sebagai bahan baku berada di Propinsi Banten dan Jawa

Barat.

3. Sarana Transportasi

Cilegon berada dalam jalur transportasi Merak - Jakarta, yang merupakan

pintu gerbang pulau Jawa dari Sumatera. Kawasan Industri KIEC ini juga telah

memiliki fasilitas jalan kelas satu, dengan demikian transportasi darat dari sumber

6
bahan baku, dan pasar tidak lagi menjadi masalah. Untuk sarana transportasi laut,

KIEC memiliki pelabuhan yang memadai. Posisi kawasan industri yang strategis

juga akan memudahkan transportasi laut, baik untuk kebutuhan pengiriman antar

pulau maupun untuk ekspor - impor.

4. Tenaga kerja

Tenaga kerja kasar dapat diperoleh di sekitar Cilegon. Sedangkan untuk

tingkat sarjana dapat diperoleh dengan mudah karena berada di dekat kota besar

dan dekat dengan pusat pendidikan. Dengan pembangunan pabrik ini diharapkan

dapat membuka lapangan kerja baru sehingga dapat mengurangi jumlah

pengangguran di Indonesia.

5. Utilitas

Kebutuhan sarana penunjang seperti listrik dapat dipenuhi dengan adanya

transmisi dari PLN unit Suralaya sebesar 3000 MW dan dengan cadangan

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dimiliki oleh Grup Krakatau Steel,

sedangkan air dapat diperoleh dari sumber air bawah tanah yang diolah sendiri oleh

pabrik.

1.3.2. Faktor Sekunder

Faktor sekunder adalah faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi tujuan

utama usaha pabrik didirikan di suatu tempat. Faktor ini antara lain :

1. Kondisi Tanah dan Daerah


Kondisi tanah relatif masih luas dengan struktur tanah yang kuat dan datar.

Sejak awal areal ini memang direncanakan sebagai kawasan industri, sehingga

7
tanah di sekitarnya cukup stabil. Dengan didukung iklim yang stabil sepanjang

tahun, tentunya pemilihan lokasi di tempat ini akan sangat menguntungkan.

2. Perluasan Area Pabrik


KIEC memiliki areal kosong seluas 3.300 hektar. Dengan areal yang luas ini,

maka masih memungkinkan untuk memperluas areal pabrik dimasa yang akan

datang jika diinginkan. (www.kiec.co.id)

3. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah, khususnya perhatian pemerintah daerah Banten

terhadap industri cukup baik. Hal ini ditandai dengan kebijaksanaan pengembangan

industri dalam hubungannya dengan pemerataan kesempatan kerja dan hasil-hasil

pembangunan yang berhasil menumbuhkan iklim investasi yang baik di Banten.

4. Sarana Penunjang Lain


KIEC sebagai kawasan industri telah memiliki fasilitas terpadu seperti

perumahan, rumah sakit, sarana olah raga dan rekreasi, sarana kesehatan, dan

sebagainya. Sehingga walaupun perusahaan nantinya harus membangun fasilitas-

fasilitas untuk karyawannya sendiri, namun beban perusahaan untuk membangun

sarana penunjang jauh lebih rendah dibanding membangun di kawasan tersendiri.

Selain itu jaringan telepon, drainase dan keamanan juga telah disediakan oleh pihak

pengelola KIEC.

1.4. Tinjauan Pustaka

1.4.1. Macam-macam Proses

Pembuatan Etilen Glikol (EG) secara komersial sampai akhir tahun 1981 hanya

ada dua proses. Proses tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Wurtz. Proses pertama

adalah hidrasi dari Etilen Oksida (EO) yang digunakan dari tahun 1968 sampai tahun

1981. Proses ini merupakan dasar dari semua proses pembuatan EG. Proses kedua
8
berdasarkan reaksi formaldehid karbon monoksida yang digunakan oleh du Pont dari

tahun 1938 sampai 1968.

Ada beberapa proses pembuatan EG antara lain :

1. Proses Formaldehid Du Pont

Pada pembuatan EG dengan proses ini, formaldehid direaksikan dengan


o
karbonmonoksida dan air pada suhu 200 C dan tekanan 700 atm untuk

menghasilkan asam glikolat dengan yield teoritis 90-95 %. Asam glikolat ini

direaksikan dengan methanol atau propanol menghasilkan hidroksil alkyl glikolat.

Hidroksil alkyl glikolat fase uap dihidrogenasi pada suhu 200 oC dan tekanan 30

atm dengan menggunakan katalis kromat akan menghasilkan EG dan alkohol. Bila

menggunakan proses hidrasi pada fasa cair maka tekanan operasi lebih tinggi, yaitu

sekitar 400 atm dengan katalisator magnesium-coper. Yield overall reaksi adalah

75 %.

Tahap-tahap reaksi formaldehid Du Pont sebagai berikut:

CH3OH CH2O + H2

CH2O + CO + H2O HOCH2COOH


CH2O + CO + CH3OH HOCH2COOH
HOCH2COOH + CH3OH HOCH2COOCH3 + H2O

HOCH2COOCH3 + 2H2 HOCH2CH2OH + CH3OH


(Mc. Ketta, 1984, vol.20th, p.238)

Kerugian :

 Proses yang terjadi di reaktor memerlukan suhu dan tekanan yang

tinggi sehingga proses menjadi mahal

 Yield yang dihasilkan rendah

 Biaya mahal dalam pembelian bahan baku dan katalisator

2. Proses Hidrasi Etilen Oksida (EO)


9
a. Proses hidrasi fase cair Etilen Oksida (EO)

Pada pembuatan Etilen Glikol (EG) dengan proses ini, EO dihidrasi dengan

air dalam reaktor pada suhu 190-200 oC dan tekanan 14-22 atm. Variabel yang

paling penting adalah perbandingan air dan EO. Pada proses ini terbentuk produk

samping Dietilen Glikol (DEG) dan Trietilen Glikol (TEG) yang dapat dikurangi

hasilnya dengan penambahan air berlebih. Proses ini dapat menggunakan katalis

maupun tidak.

Pada proses menggunakan katalis diperlukan katalis asam yang akan

memungkinkan untuk diproses pada suhu dan tekanan lebih rendah dari reaksi

tanpa katalis, tetapi larutan menjadi sangat korosif dan membutuhkan alat untuk

pemurnian produk dari asam. Sehingga dari tahun 1968 sudah tidak dipakai lagi

untuk produksi secara umum. Reaksi hidrasi tanpa katalis lebih dipercaya oleh

pabrik.

Reaksi yang terjadi pada pembuatan EG dengan proses hidrasi fase cair dari
EO adalah :
CH2OCH2 (l) + H2O(l) HOCH2CH2OH(l)
Etilen Glikol (EG)

CH2OCH2 (l) + HOCH2CH2OH(l) HO(CH2CH2O)2H(l)


Dietilen Glikol (DEG)

CH2OCH2 (l) + HO(CH2CH2O)2H(l) HO(CH2CH2O)3H(l)


Trietilen Glikol(TEG)

(Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.238)


Pada proses pembuatan EG baik menggunakan katalis maupun tidak,

pemisahannya menggunakan kolom distilasi pada tekanan atmosfer.

Kerugian :

Jika menggunakan katalis (H2SO4), akan menyulitkan proses pemurnian dan

pemisahan produk, disamping alat-alat yang digunakan harus tahan korosif

sehingga biaya operasi maupun investasi mahal.

10
Keuntungan :

 Produk EG yang dihasilkan mempunyai konversi yang tinggi

yaitu 99,8 %

 Mempunyai yield yang tinggi yaitu 99, 5 %

 Jika tidak mengunakan katalis maka proses pemurnian dan

pemisahan produk akan lebih mudah dan alat-alat yang digunakan lebih

murah dalam hal biaya operasi dan investasinya

 Jika menggunakan katalis, kondisi operasinya (suhu dan

tekanan) lebih rendah daripada tanpa katalis. (Mc. Ketta, 1984, Vol.20th,

p.238)

b. Proses hidrasi fase uap Etilen Oksida (EO)

Proses ini menggunakan katalis Alumina perak oksida.

Kerugian :

Hasilnya terlalu kecil, dari 20 % konversi menghasilkan yield 80 %

3. Hidrasi melalui Etilen Karbonat

Sebagai alternatif dari hidrasi secara langsung Etilen Oksida (EO), Etilen Glikol

(EG) dapat dibuat dari hidrasi EO melalui perantara Etilen Karbonat.

Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

CH2OCH2 + CO2 H2C-O

C=O
H2C-O

Etilen Oksida Etilen Karbonat

H2C-O

C=O +H2O HOCH2CH2OH + CO2


H2C-O
Etilen Karbonat Etilen Glikol

11
Pada tahap pertama proses ini, EO direaksikan dengan CO2 yang akan

membentuk etilen karbonat. EO ini dihidrasi dalam fase cair. EG yang terlarut

dipisahkan dari zat-zat lain yang akan direcycle ke reaksi hidrolisa.

Pada dasarnya proses hidrasi melalui etilen karbonat ini terbentuk produk

samping glikol berat, yaitu Dietilen Glikol (DEG) dan Trietilen Glikol (TEG)

dalam jumlah kecil sehingga air yang berlebih diperlukan lebih sedikit. Hal ini

akan mengakibatkan kebutuhan energi untuk pemurnnian EG lebih sederhana.

(Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.243)

Kerugian :

 Biaya pemurnian mahal

 Yield yang dihasilkan lebih rendah

Keuntungan :

Kebutuhan air lebih sedikit, sehingga kebutuhan energi pemurniannya lebih sedikit

daripada proses conventional.

4. Proses Oksiklorinasi Teijin

Pada proses oksiklorinasi dengan katalis Teijin akan menghasilkan Etilen

Glikol (EG). Proses ini belum dipakai secara komersial sampai sekarang. Proses

pembuatan Etilen Glikol (EG) ini dengan cara mereaksikan etilen dengan garam

talium TlCl3 di dalam air dan asam klorida atau bromide. Hasilnya berupa

klorohidrin, kemudian dihidrolisa untuk menghasilkan EG. Reaksi yang terjadi :

C2H4 + H2O + TlCl3 ClCH2CH2OH + TlCl + HCl

ClCH2CH2OH + H2O HOCH2CH2OH + HCl

Garam kalium yang terbentuk diregenerasi dengan menggunakan oksigen,

yang ditambah dengan tembaga (II) klor (CuCl2) yang akan menghasilkan TICI3.

12
Setelah proses hidrolisa dari klorohidrin menjadi EG dan proses pemurnian EG,

hasil akhirnya mencapai ± 75 %.

(Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.245)

5. Proses Asektosilasi Halcon

Proses asektosilasi adalah proses pembuatan Etilen Glikol (EG) dari etilen

dalam larutan asam asetat dengan menggunakan katalis tellurium dan senyawa

bromida. Reaksi ini terbagi menjadi 2 tahap yaitu pembentukan diasetat kemudian

pembentukan monoasetat.

Reaksi I :
Te
C2H4 + ½ O2 + 2CH3COOH HBr H3CCOOCH2CH2OOCCH3 + H2O
Asam asetat Diasetat

Pada proses oksidasi ini reaksi terjadi pada suhu 90-200 oC dan tekanan 20-30

atm. Di dalam campuran akan terbentuk monoasetet karena adanya proses hidrolisa

dari diasetat.

Reaksi II :

H3CCOOCH2CH2OOCCH3+H2O H3CCOOCH2CH2OH+CH3COOH
Diasetat Monoasetat

Cairan ini kemudian diambil dan diproses untuk memperoleh monoasetat dan

glikol, dan mengirim cairan tersebut untuk dioksidasi kembali. Pada tahap

selanjutnya diasetat/glikol asetat dihidrolisa menjadi EG dan asam asetat, dengan

reaksi sebagai berikut :

H3CCOOCH2CH2OHOOCCH3 + 2H2O HOCH2CH2OH + CH3COOH


Diasetat Etilen Glikol

Reaksi totalnya terjadi sebagai berikut :

13
C2H4 + ½ O2 + H2O HOCH2CH2OH
Etilen Etilen Glikol

Proses hidrasi ester yang diikuti dengan distilasi azeotrop dan proses

pemurnian produk akan menghasilkan poliester EG.

(Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.244)

6. Proses Union Carbide Syngas

Proses ini berbahan baku gas sintesis CO dan formaldehid. Tahun 1976 Union

Carbide mengumumkan produksi Etilen Glikol (EG) dari gas sintesis yang mulai

dikembangkan awal tahun 1980-an.

Reaksi ini menggunakan katalis rhodium dan tetrahidrofuran sebagai

solvennya, beroperasi pada suhu 190-230 oC dan tekanan tinggi 3400 atm.

Kerugian :

Katalis rhodium terbatas produksinya, sehingga harganya mahal.

(Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.245)

14
15
1.4.2. Kegunaan Produk

1. Produk utama

Etilen Glikol (EG) digunakan sebagai bahan baku polyester, yaitu polyester

staple fiber (PSF), polyester filament yarn (PFY) dan polyester terephtalat resin

(PET) untuk pembuatan plastik, terutama botol dan film. EG juga digunakan

sebagai bahan baku nylon filament yarn (NFY), nilon tirecord (NTC), cooling

agent dan anti freezer. EG yang mempunyai kandungan besi dan klorida bebas

tinggi digunakan sebagai kapasitor karena mempunyai tekanan uap rendah, tidak

korosif terhadap aluminium dan bersifat elektrik. (Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.249)

2. Produk samping

a. Dietilen Glikol (DEG)

Digunakan sebagai resin organic sintesis, pendingin refrigerator, industri

unsaturated polyester resin (UPR), minyak rem, industri solven, dan sebagai

bahan peledak. (Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.252)

b. Trietilen Glikol (TEG)

Digunakan sebagai pelarut karena mempunyai titik didih tinggi, sebagai

sterilisasi pada tekanan atmosfer, sebagai medium untuk heat transfer,

pengeringan gas alam dan pembersih bahan kimia.

(Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.255)

1.4.3. Sifat Fisika dan Kimia

1.4.3.1. Bahan Baku

1. Etilen Oksida (EO)

a. Sifat Fisis

 Fase : cair

 Warna : jernih

16
 Rumus molekul : CH2OCH2

 Berat molekul : 44,05

 Titik didih pada 760 mmHg : 10,4 oC

 Titik beku : -112,5 oC

 Tekanan uap pada 20 oC : 1095 mmHg

 Viskositas pada 10 oC : 0,28 cp

 Indeks bias nD : 1,3597

 Densitas pada 20 oC : 0,8697 g/ml

 Panas penguapan pada 10,4 oC : 6,1

kkal/gmol

b. Sifat Kimia

Beberapa reaksi kimia dari Etilen Oksida (EO) bila dilarutkan dalam

pelarut sebagai berikut :

 Dengan air
Reaksi EO dengan air akan menghasilkan Etilen Glikol (EG)

 Dengan alkohol
Reaksi EO dengan alkohol akan menghasilkan monoeter etilen glikol

kemudian bereaksi dengan produk tersebut menghasilkan Dietilen glikol

eter dan Trietilen glikol eter.

 Dengan ammonia

Reaksi EO dengan ammonia akan menghasilkan campuran mono-, di-, dan

tri-etanol amina. (Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.304)

2. Air

a. Sifat Fisis

 Fase : cair
17
 Warna : jernih

 Rumus molekul : H2O

 Berat molekul : 18,02

 Titik didih pada 760 mmHg : 100 oC

 Titik beku : 0 oC

 Temperatur kritis : 347,5 oC

 Tekanan kritis : 218 atm

 pH : 7-7,5

b. Sifat Kimia

 Digunakan sebagai pelarut yang banyak digunakan

dalam industri

 Merupakan reagen penghidrolisa pada reaksi hidrolisa

(Perry, 1984, 6th ed.)


1.4.3.2. Produk Utama

Etilen Glikol (EG)

a. Sifat Fisis

 Fase : cair

 Warna : jernih

 Rumus molekul :

HOCH2CH2OH

 Berat molekul : 62,07

 Titik didih pada 760 mmHg : 197,6 oC

 Titik beku : -13,0 oC

 Tekanan uap pada 20 oC : 0,06 mmHg

18
 Viskositas pada 10 oC : 19,83 cp

 Sp. Gr 20/20 oC : 1,1155

 Densitas pada 20 oC : 1,113 g/ml

 Panas penguapan pada 1 atm : 202 kkal/kg

 Panas pembakaran : -283,1 kkal/mol

 Tegangan permukaan pada 20 oC : 48,4 dyne/cm

b. Sifat Kimia

 Reaksi dengan asam organik menghasilkan mono- dan di- ester

 Reaksi dengan senyawa ester menghasilkan mono- atau di- eter karena

adanya gugus hidroksil.Reaksi EG dengan EO menghasilkan eter alcohol,

di-, tri-, tetra-, dan penta- EG. Esterfikasi EG eter dengan asam anhidrat

atau asam klorida menghasilkan EG eter-eter derivate.

 Oksidasi EG dengan asam nitrat atau dalam fase uap menggunakan

oksigen menghasilkan glyoxal.

(Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.246)

1.4.3.3. Produk Samping

1. Dietilen Glikol (DEG)

a. Sifat Fisis

 Fase : cair

 Warna : jernih

 Rumus molekul :

HO(CH2CH2O)2H

 Berat molekul : 106,12

 Titik didih pada 760 mmHg : 245,8 oC

19
 Titik beku : -6,5 oC

 Tekanan uap pada 20 oC : <0,01 mmHg

 Viskositas pada 10 oC : 36 cp

 Sp. Gr 20/20 oC : 1,1185

 Densitas pada 20 oC : 1,116 g/ml

 Panas penguapan pada 1 atm : 129 kkal/kg

b. Sifat Kimia

 Larut dalam alcohol, Etilen Glikol (EG), eter dan aseton

 Tidak larut dalam benzene, toluene, dan carbon tetraklorida

(Perry, 1984, 6th ed.)

2. Trietilen Glikol (TEG)

a. Sifat Fisis

 Fase : cair

 Warna : jernih

 Rumus molekul :

HO(CH2CH2O)3H

 Berat molekul : 150,17

 Titik didih pada 760 mmHg : 288 oC

 Titik beku : -4,3 oC

 Tekanan uap pada 20 oC : <0,01 mmHg

 Viskositas pada 10 oC : 49 cp

 Sp. Gr 20/20 oC : 1,1255

 Densitas pada 20 oC : 1,123 g/ml


20
 Panas penguapan pada 1 atm : 97 kkal/kg

b. Sifat Kimia

 Larut dalam eter

 Tidak larut dalam petroleum, toluene dan gasoline

 Trietilen Glikol (TEG) dapat dibuat langsung dengan mereaksikan Etilen

Glikol (EG) dengan Dietilen Glikol (DEG)

(Perry, 1984, 6th ed.)

1.4.4. Tinjauan Proses Secara Umum

Pembuatan Etilen Glikol dengan proses Scientific Design merupakan

proses hidrasi dari Etilen Oksida. Hidrasi merupakan penambahan satu atau

lebih molekul air ke dalam suatu molekul atau ion, sedang kebalikannya adalah

proses dehidrasi yaitu pengurangan atau pengambilan satu atau lebih molekul air

dari sebuah molekul air dari sebuah molekul atau ion.

Reaksi pembentukan Etilen Glikol dengan proses Scientific Design dapat

dijelaskan sebagai berikut :

Reaksi utama (hidrasi EO) :

CH2OCH2 (l) + H2O(l) HOCH2CH2OH(l)


Etilen Oksida Air Etilen Glikol (EG)

Kemudian EG akan bereaksi lebih lanjut dengan EO membentuk DEG dan

TEG. Kedua reaksi samping yang terjadi adalah :

CH2OCH2 (l) + CH2OHCH2OH (l) O(CH2CH2OH)2 (l)


Etilen Oksida Etilen Glikol Dietilen Glikol (DEG)

CH2OCH2 (l) + HO(CH2CH2O)2H(l) HO(CH2CH2O)3H(l)

21
Etilen Oksida Dietilen Glikol Trietilen Glikol (TEG)

Dengan proses Scientific Design dihasilkan konversi 99,8 % dan

selektivitas pembentukan Etilen Glikol sebesar 90,5 %.

Keuntungan proses ini dibanding dengan proses lain adalah dapat

dijalankan dengan atau tanpa katalis, konversinya tinggi yaitu 99,8 %, selain itu

yield nya juga tinggi yaitu 99,5 % . Apabila dengan katalis, suhu dan tekanan

operasi tidak terlalu tinggi, namun akan menyulitkan proses pemurnian dan

pemisahan produk, disamping alat-alat yang digunakan harus tahan korosif

sehingga biaya operasi maupun investasi mahal. Jika tidak mengunakan katalis

maka proses pemurnian dan pemisahan produk akan lebih mudah dan alat-alat

yang digunakan lebih murah dalam hal biaya operasi dan investasinya

(Mc. Ketta, 1984, Vol.20th, p.238)

22