0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
347 tayangan27 halaman

Initial Assessment

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai penilaian awal (initial assessment) dan triase pasien trauma. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan bahwa (1) penilaian awal pasien trauma meliputi penilaian keamanan, respons, dan jalan napas pasien, (2) sistem triase digunakan untuk mengklasifikasikan pasien berdasarkan tingkat keparahan cedera, dan (3) tag berwarna digunakan untuk menandai prioritas penanganan pasien.

Diunggah oleh

Syahna Apriliani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
347 tayangan27 halaman

Initial Assessment

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai penilaian awal (initial assessment) dan triase pasien trauma. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan bahwa (1) penilaian awal pasien trauma meliputi penilaian keamanan, respons, dan jalan napas pasien, (2) sistem triase digunakan untuk mengklasifikasikan pasien berdasarkan tingkat keparahan cedera, dan (3) tag berwarna digunakan untuk menandai prioritas penanganan pasien.

Diunggah oleh

Syahna Apriliani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

 

INITIAL ASSESSMENT
TBM FKUI, TBMM Panacea, TBM Vertex

Dalam menangani setiap korban, hal pertama yang harus dilakukan oleh penolong
adalah patient assessment. Tujuan patient assessment antara lain memastikan kondisi
tempat kejadian aman (tidak membahayakan nyawa penolong, korban, dan orang-orang
di sekitarnya). Selain itu, patient assessment penting dilakukan untuk menentukan
pertolongan pertama yang diperlukan oleh korban.

1. PERSIAPAN INITIAL ASSESSMENT


Persiapan bagi pasien terdiri atas dua fase, yakni fase pra rumah sakit dan fase
rumah sakit. Fase pra rumah sakit dikoordinasikan seluruhna oleh tenaga klinisi pada
rumah sakit tersebut, sedangkan fase rumah sakit meliputi persiapan cepat untuk
melakukan resusitasi terhadap pasien
1.1. Fase Pra Rumah Sakit
Sistem pra rumah sakit dilaksanakan dalam rangka komunikasi dan
persiapan oleh rumah sakit yang akan merawat pasien sebelum tim paramedic
melakukan transportasi ke rumah sakit tersebut. Koordinasi antara keduanya
menjadi kunci utama. Hal ini membentuk mobilisasi dari tim paramedis dan
segala sumber daya yang dibutuhkan oleh instalasi gawat darurat saat ketibaan
pasien di rumah sakit.
Hal yang penting dilakukan pada fase ini adalah imobilisasi tubuh pasien,
perawatan jalur napas (airway), control perdarahan dan syok, dan transportasi
secepatnya pada fasilitas kesehatan yang sesuai dan terdekat. Segala tindakan
dilakukan dalam periode sesingkat-singkatnya berdasarkan konsep Skema Triase
Lapangan.
Upaya penyediaan informasi akurat sangat diperlukan pada triase
perawatan di fase rumah sakit, meliputi: waktu kejadian, etiologi/penyebab

 
 

kejadian, dan riwayat pasien. Mekanisme terjadinya luka dapat menjadi gambaran
derajat keparahan luka dan prioritas evaluasi luka/ masalah.

1.2. Fase Rumah Sakit


Area resusitasi bagi pasien trauma sudah harus tersedia pada saat kedatangan
pasien. Peralatan perawatan jalur napas (seperti ETT, Laryngoscope, dll) sudah
terorganisir, siap dipakai, dan diletakkan pada lokasi yang mudah dijangkau. Cairan
kristaloid intravena hangat telah dipersiapkan untuk infus, begitu juga peralatan
monitoring. Protokol pendukug lain perlu dipersiapkan seperti tenaga ahli dari
laboratorium dan radiologi.
Selain itu, Review secara periodic selama perawatan pasien selama peningkatan
kualitas pasien menjadi komponen penting pada program fase rumah sakit tersebut.
Semua tenaga medis yang berkontak langsung dengan pasien membutuhkan
perangkat pengamanan diri yang terstandarisasi untuk mencegah penyakit
infeksius menular.

 
 

 
 

2. TRIASE
2.1. Definisi
Sistem Triase adalah upaya pemilahan prioritas pasien berdasarkan
urgensi dilakukannya tatalaksana dan pertimbangan sumber daya yang tersedia
untuk tatalaksana tersebut. Hal ini didasarkan pada prioritas ABC (Airway dengan
proteksi cervical spine, Breathing, Circulation dengan control perdarahan).
Dalam triase perlu dilakukan pencatatan usia, tanda vital, mekanisme
cedera, urutan kejadian, dan perjalanan penyakit pada fase pra Rumah Sakit.
Peningkatan pelayanan kesehatan diperlukan pada kasus ketidakstabilan tanda
vital, kelainan jantung paru, cedera multiple, usia lanjut, dan cedera neurologis
berat yang diderita sebelumnya. Apabila terjadi peningkatan atau perburukan,
dilakukan retriase.

2.2. Klasifikasi Insiden Sistem Triase


Sistem triase juga meliputi pemilahan pasien di lapangan untuk penentuan
mobilisasi ke fasilitas kesehatan. Sistem ini menjadi tanggung jawab dari personal
di fase pra rumah sakit. Situasi triase terklasifikasi menjadi:
• Multiple Casualties
Insiden meliputi lebih dari satu pasien yang jumlah dan keparahannya tidak
melebihi kepabilitas penyedia tatalaksana kesehatan. Pada kondisi ini, pasien
dengan masalah kesehatan yang mengancam jiwa dan gangguan multi sistem
organ menjadi prioritas utama
• Mass Casualties
Pada insiden masal ini, jumlah pasien dan keparahan masalah kesehatan
melebihi kapabilitas penyedia tatalaksana kesehatan. Dalam situasi ini, pasien
dengan kemungkinan bertahan hidup (survival rate) terbesar dan memerlukan
sumber daya (waktu, peralatan, sumber daya manusia, dan suplai lain)
terkecil menjadi prioritas utama.

 
 

2.3. Prinsip Triase


Berikut adalah prinsip -prinsip sistem triase, antara lain:
• Derajat keparahan/ ancaman jiwa
Prioritas lebih diberikan kepada pasien dengan gangguan sirkulasi dan
neurologis ketimbang pasien dengan ancaman gangguan jalan napas.
• Derajat keparahan cedera
Sebagai contoh, prioritas lebih diberikan kepada pasien dengan fraktur terbuka
disertai perdarahan ketimbang pasien dengan fraktur tertutup salah satu tulang.
• Kemungkinan bertahan hidup
Prioritas utama tidak selalu diberikan kepada pasien dengan cedera hebat,
namun juga memerlukan pertimbangan kemungkinan bertahan hidup pasien
tersebut.
• Sumber daya
Pasien dengan kebutuhan yang melebihi kapabilitas tersedianya sumber daya
mendapatkan prioritas lebih rendah hingga terpenuhinya kebutuhan sumber
daya.
• Faktor waktu, jarak, dan lingkungan
Prioritas lebih dberikan kepada cedera yang dapat ditangani dalam waktu singkat
walaupun cedera tersebut tergolong ringan dan memiliki ancaman jiwa minimal.
Faktor jarak dan lingkungan menuju fasilitas kesehatan definitif menjadi bahan
pertimbangan untuk efisiensi waktu.

2.4. Tag Warna


Tag triase dalam bentuk label berwarna disertai form data pasien digunakan oleh
petugas triase sebagai upaya identifikasi, pencatatan kondisi, dan penentuan
tindakan medis bagi pasien. Berikut adalah penjelasan prioritas dan klasifikasi tag
berdasarkan warna:
• Prioritas nol (Hitam)
Pasien meninggal atau mengalami cedera fatal yang jelas tidak mungkin untuk
diresusitasi. Terapi paliatif dan anti nyeri dapat diberikan bagi pasien ini.
• Prioritas pertama (Merah)

 
 

Pasien mengalami cedera berat sehingga memerlukan penilaian, transportasi,


dan penanganan medis secepatnya (maksimal 60 menit) untuk mempertahankan
hidup. Kasus yang tercakup adalah gangguan ABC akibat gagal pernapasan,
cedera kepala, luka bakar derajat tinggi, perdarahan dan syok berat.
• Prioritas kedua (Kuning)
Pasien dengan cedera kurang berat dan dapat dipastikan tidak mengalami
ancaman jiwa dalam periode waktu dekat (beberapa jam), sehingga pertolongan
dapat ditunda. Pasien mengalami cedera dengan jenis cakupan luas: akibat fratur
mayor tanpa syok, cedera abdomen tanpa syok, cedera dada tanpa gangguan
respirasi, cedera kepala.
• Prioritas ketiga (Hijau)
Meliputi pasien dengan cedera ringan dan tidak membutuhkan penanganan
segera, namun pertolongan pertama sederhana disertai penilaian ulang berkala.
Diperkirakan tidak akan terjadi perburukan dalam hitungan hari. Kasus yang
tercakup antara lain: gawat darurat psikologis, cedera maksilo-fasial tanpa
hambatan jalan napas, cedera jaringan lunak, fraktur dan dislokasi ekstremitas.

 
 

Algoritma TRIASE START untuk dewasa

 
 

3. PRIMARY SURVEY
Pemeriksaan dan prioritas tatalaksana pasien ditentukan berdasarkan derajat cedera,
tanda vital, dan mekanisme terjadinya cedera pada pasien. Pada pasien cedera berat,
urutan prioritas tatalaksana dilakukan berdasarkan penilaian keseluruhan. Tanda vital
diperiksa secara cepat dan efisien. Manejemen pasien terdiri atas survey primer cepat,
resusitasi fungsi vital, survey sekunder, dan inisisasi terapi definitive. Selama
pemeriksaan primer, kondisi mengancam jiwa diidentifikasi dalam urutan prioritas
berdasarkan efeknya terhadap fisiologi pasien. Prioritas urutan berdasarkan derajat
mengancam jiwa yang terbesar untuk ditangani terlebih dahulu.
3.1. Safety
Sebelum menolong korban, penolong harus memastikan bahwa dirinya dan
korban berada di tempat yang aman. Kemudian penolong harus menilai kondisi
korban, yaitu:
• Warna kulit: pucat, normal
• Berkeringat: normal, berlebih
• Kondisi sekitar

3.2. Responses
Kemudian penolong memeriksa respon korban. Respon korban dibagi menjadi 4
tingkat, yaitu :
• Alert : korban sadar dan bisa diajak berkomunikasi
• Responsive to verbal: korban membuka mata setelah diberi rangsangan suara
• Responsive to pain: korban membuka mata setelah diberi rangsangan nyeri,
misal dengan ditekan taju pedang
• Unresponsive: korban tidak membuka mata meskipun diberi rangsangan suara
maupun nyeri

 
 

3.3. Airway
• Pemeriksaan jalan napas.
Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan
napas oleh benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu,
kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari
tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda
keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan.
Mulut dapat dibuka dengan teknik cross finger, dimana ibu jari diletakkan
berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban.

Gambar 1.1. Bentuk jari seperti kait dan keluarkan bendanya

• Membuka jalan napas.


Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa
pada korban tidak sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan
epiglotis akan menutup faring dan laring, inilah salah satu penyebab
sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan
dengan cara tengadah kepala topang dagu (Head tild - chin lift) dan
manuver pendorongan mandibula (jaw thrust). Teknik membuka jalan

 
 

napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas, kesehatan


adalah tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan
harus dapat melakukan manuver lainnya.

Gambar 1.2. Head tild - chin lift

Gambar 1.3. Jaw thrust pada pasien kecurigaan fraktur cervikal

 
 

INGAT!
Selama memeriksa dan memperbaiki airway, harus diperhatikan bahwa
tidak boleh dilakukan ekstensi, fleksi atau rotasi pada leher bila dicurigai
adanya kelainan vertebra servikalis. Jika ada, maka harus dipakai alat
imobilisasi

Gambar 1.4. Penolong menstabilkan kepala dan leher penderita, pelindung leher
terpasang

3.4. Breathing
Terdiri dari 2 tahap :
• Memastikan korban/pasien tidak bernapas.
Dengan cara melihat pergerakan naik turunnva dada, mendengar bunyi
napas dan merasakan hembusan napas korban/pasien. Untuk itu penolong harus
mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban/pasien, sambil tetap
mempertahankan jalan napas tetap terbuka. Prosedur ini dilakukan tidak boleh
melebihi 10 detik.

• Memberikan bantuan napas.


Jika korban/pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukkan
melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang

 
 

dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2


kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5 - 2
detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 7000 - 1000 ml (10 ml/kg)
atau sampai dada korban/pasien terlihat mengembang serta mendengar dan
merasakan udara yang keluar pada ekspirasi . Penolong harus menarik napas
dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang
cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16 - 17%. Penolong
juga harus memperhatikan respon dari korban/pasien setelah diberikan bantuan
napas.
Cara memberikan bantuan pernapasan :
1. Mulut ke mulut
Pemakaian alat pelindung dan masker tetap merupakan pilihan utama.
Keputusan untuk melakukan pernapasan buatan dari mulut ke mulut bersifat
personal. Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara
yang tepat dan efektif untuk memberikan udara ke paru-paru korban/pasien.
Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke mulut, penolong harus
mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat
menutup seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat
mengghembuskan napas dan juga penolong harus menutup lubang hidung
korban/pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar
kembali dari hidung.
Volume udara yang diberikan pada kebanyakkan orang dewasa adalah 700
- 1000 ml (10 ml/kg). Volume udara yang berlebihan dan laju inpirasi yang
terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi
distensi lambung. Selain itu terdapat bahaya bagi penolong yaitu penyebaran
penyakit, kontaminasi bahan kimia dan muntah penderita.

 
 

Gambar 1.5. Mulut ke mulut

Gambar 1.6. Memberikan pernapasan buatan melalui masker

 
 

2 . Mulut ke hidung
Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak
memungkinkan, misalnya pada trismus atau dimana mulut korban mengalami
luka yang berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung, penolong harus
menutup mulut korban/pasien.

3. Mulut ke Stoma
Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang
menghubungkan trakhea langsung ke kulit. Bila pasien mengalami kesulitan
pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari mulut ke stoma.

3.5. Circulation
Terdiri atas 3 penemuan klinis
1. Tingkat kesadaran
Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang yang akan
mengakibatkan penurunan kesadaran.
2. Warna kulit
Warna kulit dapat memberikan diagnosis hipovolemia. Pasien trauma
dengan warna kulit kemerahan terutama pada wajah dan ekstrimitas jarang
dalam keadaan hipovolemia. Sebaliknya, jika wajah pucat keabu-abuan dan
kulit ekstrimitas pucat merupakan tanda hipovolemia.
3. Nadi
Periksalah pada nadi yang besar seperti a.femoralis atau a.karotis. Nadi
yang tidak cepat, teratur dan kuat menandakan normo-volemia, biasanya nadi
yang tidak teratur merupakan tanda gangguan jantung dan tidak ditemukan
pulsasi pada arteri besar yang merupakan pertanda diperlukannya resusitasi
segera untuk memperbaiki volume dan cardiac output.
Cara pemeriksaan a.carotis dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis
di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk
dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea,
kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1 - 2 cm

 
 

raba dengan lembut selama 5 - 10 detik. Jika teraba denyutan nadi, penolong
harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver
tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban/pasien. Jika
tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan
jalan napas

RJP (Resusitasi Jantung Paru)


Jika tidak teraba nadi dalam 10 detik, mulai lakukan kompresi dada.

Gambar 1.6. Pemeriksaan arteri carotis

3.6. Disability
Penilaian meliputi tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, tanda-
tanda lateralisasi dan tingkat cedera spinal. Penurunan kesadaran dapat
disebabkan oleh trauma langsung pada otak atau penurunan oksigenasi ke otak,
jika terjadi penurunan harus dilakukan reevaluasi terhadap keadaan oksigenasi,
ventilasi dan perfusi. Penolong menentukan nilai prioritas kesadaran korban
dengan :

 
 

• Derajat AVPU pemeriksaan primer


a. Alert : korban sadar tanpa diberi rangsang apapun
b. Voice responsive : korban bisa sadar setelah diberi rangsang
suara
c. Pain responsive: korban harus dicek patensi pernafasannya dan
dalam recovery position, intubasi bisa dilakukan jika perlu
d. Unresponsive: korban harus dicek patensi pernafasannya dan
dalam recovery position, intubasi bisa dilakukan jika perlu
• Skala Glasgow Coma Scale (GCS) ! pemeriksaan sekunder
GCS (Glasgow Coma Scale) adalah sistem skoring yang
sederhana dan dapat menilai derajat/tingkat kesadaran penderita dengan
kriteria yang secara kuantitatif dan terpisah yaitu respon membuka mata
(E), respon motorik terbaik (M), dan respon verbal terbaik (V).

Score Respon Motorik Respon Verbal Bukaan Mata


1 Tidak ada Tidak ada Tidak ada
2 Postur tubuh ekstensi jika Bergumam tidak Terbuka jika
diberi rangsang nyeri jelas diberi rangsang
nyeri
3 Postur tubuh fleksi jika Berbicara Terbuka jika
diberi rangsang nyeri dengan kata-kata diberi rangsang
yang tidak suara keras
sesuai (perintah verbal)
4 Menarik alat gerak jika Bisa diajak Terbuka secara
diberi rangsang nyeri berbicara tetapi spontan
jawaban tidak
sesuai
5 Mendorong atau bisa Bisa diajak -
melokalisasi jika diberi berbicara dan
rangsang nyeri menjawab

 
 

dengan sesuai
6 Mengikuti perintah verbal - -
dengan baik

Derajat kesadaran :
• Compos mentis (sadar) : 14-15 ! kesadaran normal, sadar sepenuhnya,
dapat menjawab pertanyaan tentang keadaan sekeliling
• Apatis : 13-12 ! keadaan segan untuk berhubungan dengan lingkungan
sekitar, acuh tak acuh
• Somnolen (obtundasi, letargi) : 11-10 ! kesadaran menurun, respon
psikomotor lambat, mudah tertidur tetapi mudah dibangunkan jika
dirangsang dan mudah jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban
verbal
• Delirium : 9-7 ! keadaan gelisah, disorientasi, memberontak, berteriak-
teriak, berhalusinasi, kadang berkhayal
• Stupor (soporo coma) : 4-6 ! keadaan seperti tidur terlelap, tetapi ada
respon terhadap nyeri
• Coma (comatose) : 3 ! tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon
terhadap rangsang apapun, tidak ada respon kornea, reflek muntah, dan
reflek pupil (bisa ada bisa tidak ada)

Derajat cedera kepala berdasarkan GCS:


• GCS : 14-15 = CKR (cedera kepala ringan)
• GCS :9-13 = CKS (cedera kepala sedang)
• GCS : 3-8 = CKB (cedera kepala berat)

 
 

3.7. Exposure
Seluruh pakaian pasien dibuka dengan cara mengguntingnya untuk
memfasilitasi pemeriksaan dan evaluasi keseluruhan pasien. Setelah dibukanya
pakaian pasien, perlu penghangatan tubuh pasien untuk menghindari terjadinya
hipotermia. Penghangatan dicapai dengan cara menyelimuti tubuh pasien dengan
selimut hangat, administrasi cairan intravena yang telah dihangatkan, dan menjaga
suhu lingkungan (contohnya ruangan tatalaksana) tetap cukup hangat.

4. SECONDARY SURVEY
Survey sekunder meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik lanjutan yang dilakukan
setelah survey primer (ABCDE), dimana masalah yang berbahaya dan mengancam
kehidupan pasien telah teratasi. Survey sekunder dilakukan dengan mengevaluasi pasien
dari ujung kepala hingga ujung kaki, serta meninjau ulang tanda vital pasien.
4.1. Anamnesis
Anamnesis yang lengkap penting dalam mengases mekanisme kecelakaan pada
pasien. Anamnesis dilakukan terhadap pasien langsung (bila memungkinkan) atau
terhadap personil lain yang mengantarkan pasien. Singkatan AMPLE menjadi
pedoman untuk anamnesis, yaitu: Allergies, Medications currently used, Past
illnesses/pregnancy, Past meal, Events/environment related to the injury.

4.2. Pemeriksaan Fisik Kepala


Survey sekunder dimulai dengan mengevaluasi dan mengidentifikasi adanya
trauma pada sistem saraf atau trauma signifikan lainnya, yaitu dengan menelusuri
laserasi, kontusio, atau tanda fraktur. Trauma kepala sering kali disertai edema di
sekitar mata. Hal lain yang perlu diperiksa pada mata yaitu: tajam pengelihatan,
ukuran pupil, perdarahan pada konjungtiva atau fundus, luka tusuk, lensa kontak
(harus dilepas), dislokasi lensa, atau malposisi okular.
Pemeriksaan wajah meliputi palpasi struktur tulang, mencari tanda oklusi,
menilai rongga mulut dan jaringan lunak.
 

4.3. Pemeriksaan Fisik Leher


Pasien dengan trauma kepala atau wajah dianggap mengalami cedera servikal
juga, sehingga pada kondisi demikian dilakukan fiksasi leher. Sebagai catatan, cedera
servikal tidak selalu disertai defisit neurologis. Cedera servikal dapat ditegakkan
dengan pemeriksaan radiologi (CT scan) dan dapat pula ditemukan secara klinis.
Pemeriksaan leher lengkap meliputi inspeksi, palpasi, dan auskultasi a.carotis.
Kelainan yang mungkin ditemukan, yaitu nyeri pada servikal, emfisema subkutis,
deviasi trakea, dan fraktur laring.

4.4. Pemeriksaan Fisik Toraks


Pemeriksaan toraks depan dan belakang dilakukan dengan inspeksi, palpasi,
dan auskultasi. Kelainan yang dapat ditemukan seperti pneumothorax, flail chest, dan
fraktur pada struktur toraks. Manifestasi klinis pada cedera toraks di antaranya adalah
nyeri, dyspnea, dan hipoksia. Tanda lain seperti kontusio, hematoma, nyeri tekan, dan
peningkatan JVP juga perlu dievaluasi.
Pada pasien dengan tension pneumothorax perlu dilakukan dekompresi segera.
Tension pneumothorax ditandai dengan berkurangnya suara napas, perkusi hipersonor,
dan syok.

4.5. Pemeriksaan Fisik Abdomen


Pemeriksaan abdomen meliputi inspeksi dan palpasi. Pada inspeksi, dapat
ditemukan memar, penetrasi, atau benda asing. Pemeriksaan palpasi dilakukan untuk
menemukan tanda inflamasi (bengkak, nyeri) atau tanda pemadatan. Kelainan tersebut
dapat terjadi secara lokal pada satu atau lebih region abdomen.

4.6. Pemeriksaan Fisik Regio Genital, Perineum dan Rektum


Cedera pada struktur ini dapat ditandai dengan inkontinesia urin, hematoma,
laserasi, dan perdarahan uretra. Khususnya pada pria, dapat ditemukan priapismus
akibat cedera spinal. Pemeriksaan vagina dilakukan pada pasien perempuan dengan
risiko tinggi cedera vagina, misalnya pada wanita yang mengalami fraktur pelvis.
 

4.7. Pemeriksaan Fisik Sistem Muskuloskeletal


Pemeriksaan dilakukan dengan look, feel, move pada ekstremitas atau struktur
terkait untuk menemukan tanda deformitas, bengkak, perdarahan, dan timbulnya
perubahan warna. Fungsi motorik dan sensorik juga menjadi poin penting untuk
dinilai

4.8. Pemeriksaan Fisik Sistem Saraf


Pemeriksaan neurologis bertujuan untuk menentukan status mental pasien, atau
ada tanda kelainan seperti pusing, sakit kepala, sinkop, fasikulasi atau kelumpuhan
pada otot.

5. EVAKUASI DAN TRANSPORTASI


5.1. Prinsip
Evakuasi merupakan perpindahan korban ke tempat yang lebih aman dan
memiliki fasilitas yang memadai, untuk menghindari cedera lebih lanjut,
menyelamatkan jiwa, dan membantu proses penyembuhan. Tiga aspek yang perlu
diperhatikan pada evakuasi, yaitu: safety, mobility, dan medical condition.
• Safety
Dalam melakukan transportasi keamanan lingkungan, korban, dan diri sendiri selalu
jadi perhatian pertama. Keamanan didapatkan dengan mempersiapkan Alat
Pelindung Diri yang memadai, peralatan yang akan digunakan, hingga kekuatan kita
sendiri. Jangan lupa juga tentang keselamatan korban dan orang-orang sekitar.
• Mobility
Pada saat melakukan evakuasi, penolong harus mengetahui jarak, waktu, rute, hingga
rintangan menuju lokasi yang dituju. Penolong dan alat yang digunakan harus
memadai untuk melakukan perpindahan.
• Medical Condition
Ketika akan mengevakuasi, pastikan ABC korban sudah dalam keadaan baik,
perdarahan sudah ditangani, fraktur sudah diimobilisasi. Singkat kata, lakukan
evakuasi ketika keadaan pasien sudah stabil. Akan tetapi, poin ini juga
dipertimbangkan dengan apa yang terjadi pada lingkungan. Evakuasi segera pada
pasien dapat dilakukan pada kondisi khusus seperti gempa bumi, kebakaran, mobil
 

terbakar, ledakan, gedung runtuh, paparan bahan kimia berbahaya, dll, yang mungkin
menimbulkan bencana susulan.
Prinsip pengangkatan korban pada saat evakuasi, yakni: memahami kemampuan diri
sendiri dan teknik, meminta bantuan orang lain jika memungkinkan, mengangkat
dengan kekuatan terutama berasal dari paha, dan tahapan perpindahan serta reposisi
dalam kondisi terkontrol dan dibawah satu komando.

5.2. Klasifikasi
Teknik evakuasi dan transportasi korban dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah
penolong
• Teknik Evakuasi dengan Penolong 1 Orang
1. Ankle Drag
Metode ini sebenarnya yang paling dihindari karena
memiliki risiko cukup besar. Boleh dilakukan jika
permukaan rata dan tidak ada barang-barang di sekitar
daerah transpor. Perhatikan posisi tangan dan kepala
korban, jangan sampai keduanya rawan menabrak sesuatu.

2. Shoulder Drag
- Lebih dipilih daripada ankle drag karena pada
tekniknya sekaligus dengan memfiksasi kepala
korban
- Membawa pasien dengan metode ini akan kebih
menguras energi karena terjadi perubahan posisi
penolong (jongkok, bungkuk, setengah berdiri)
terus menerus.

3. Blanket Pull
- Dilakukan dengan cara menyeret korban. Tidak harus
menggunakan selimut, bisa dengan barang lain yang
menutupi bagian tepi tubuh korban.
- Punggung penolong harus tetap lurus
 

4. Fireman Drag
- Teknik ini menjadi preferensi ketika
mengevakuasi pada daerah sempit, pendek, kecil,
dan kebakaran.
- Dilakukan dengan memfiksasi lengan korban

5. Craddle Lift
- Kekuatan penolong mutlak harus lebih dari kekuatan korban.
- Teknik: Tangan penolong berada di punggung dan bawah
lutut

 
6. Pack-strap Carry
- Teknik: penolong berjalan agak bunguk. Tangan korban
disilang, lengan korban sedekat mungkin dengan dada
penolong
- Metode ini dapat digunakan untuk mengangkat korban jarak
jauh, tetapi harus melihat proposisi tubuhnya dimana
penolong harus lebih tinggi dari korban.

7. Firefighter Carry

- Dapat dilakukan jika korban tidak memiliki cedera vertebra.


- Teknik yang paling dipilih untuk evakuasi jarak jauh. Satu
tangan yang bebas dapat lebih leluasa sehingga bisa digunakan
untuk membuka pintu, menggeser barang, meminta jalan, dll.
- Teknik: Tangan penolong mengikat tungkai korban, korban
ditumpu di satu bahu
 

• Teknik Evakuasi dengan Penolong 2 Orang


1. Person drag/human crutch
- Bisa dilakukan pada korban yang sadar atau tidak sadar.
- Perpindahannya dilakukan dalam satu komando, misal:
“luar, dalam, luar, dalam, dst”
- Teknik: memegang pinggang korban untuk membantu
mengangkat, kemudian kaki korban ditempatkan di atas
kaki penolong

2. Two Handed Seat


- Metode ini bisa digunakan baik oleh
pasien yang sadar maupun tidak, dan
untuk menempuh jarak yang jauh
- Teknik: Posisi tangan menggenggam
pergelangan tangan penolong lainnya,
memfiksasi korban di ikat
pinggangnya/bagian pinggang

3. Four Handed Seat


- Metode ini hanya bisa digunakan oleh pasien sadar karena dia harus
berpegangan pada penolong agar stabil. Biasanya,
digunakan pada jarak dekat.
- Teknik: Posisi tangan menggenggam pergelangan
tangan penolong lainnya. Punggung korban dan
penolong diusahakan tetap lurus
 

4. Chair Carry
- Berbeda dengan sebelumnya, metode ini
menggunakan kursi yang kokoh. Dapat dilakukan
ketika mengevakuasi naik-turun tangga, dan dalam
jarak jauh
- Pastikan korban tidak mengalami cedera servikal
atau cedera punggung

5. Extremity Lift
- Pastikan korban tidak mengalami cedera servikal atau
tungkai.
- Teknik: posisikan tubuh korban sedekat mungkin
dengan tubuh kita, fiksasi tangan korban dengan cara
menyilangkan
- Teknik ini biasanya digunakan untuk transportasi jarak
dekat.

• Teknik Evakuasi dengan Penolong 3 Orang


1. Hammock Carry
- Pada metode ini, penolong berada di kedua sisi korban
(bisa lebih dari 3 orang).
- Penolong terkuat berada di sisi yang paling sedikit jumlah
penolongnya atau pada abdomen korban (beban tubuh
terbanyak)
- ada yang melakukan fiksasi kepala pada korban, serta
komando ada di penolong di kepala.
- Tangan penolong di celah anatomis korban dan saling
bersilangan
 

2. Log roll (ke tandu dan perpindahan biasa)


Semua penolong berada di satu sisi yang sama. Masukkan tangan ke bawah tubuh
korban melalui celah anatomis dengan keadaan saling menyilang. Pengangkatan
korban dilakukan bertahap, biasanya angkat dulu ke paha, lalu miringkan 90o dengan
posisi seperti dipeluk penolong. Baru penolong berdiri dan bisa berpindah.
 

DAFTAR PUSTAKA

American College of Emergency Physicians. 2014. First Aid Manual 5ed. New York :
Dorling Kindersley Limited.
American College of Surgeons. 2012. Advanced Trauma Life Support (ATLS) : Student
Course Manual 9ed. Chicago: American College of Surgeons.
Amirjamshidi A, Abouzari M, Rashidi A. 2007. Glasgow Coma Scale on admission is
correlated with postoperative Glasgow Outcome Scale in chronic subdural hematoma.
Journal of Clinical Neuroscience. 2007;14(12):1240-1241.

Bhalla M, Frey J, Rider C, Nord M, Hegerhorst M. Simple Triage Algorithm and Rapid
Treatment and Sort, Assess, Lifesaving, Interventions, Treatment, and Transportation
mass casualty triage methods for sensitivity, specificity, and predictive values. 1st
ed.

Emergency Care And Transportation Of The Sick And Injured. 2006. American Academy
of Orthopaedic

Faqih Ruhyanudin. Pemeriksaan Neurologis.


http://faqudin.staff.umm.ac.id/files/2011/09/PEMERIKSAAN-NEUROLOGIS.pdf.
diakses pada Selasa, 22 Maret 2016 pada pukul 01.13 WIB.
Guidelines 2015 for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care. 1st
ed. Dallas, TX: American Heart Association; 2015.

th
Hoyt DB, Rotondo MF. 2012. Advanced Trauma Life Support Student Course Manual. 9
Edition. Chicago: American College of Surgeons Committee on Trauma;

Seri PPGD. 2006. Penanggulangan Penderita Gawat Darurat / General Emergency Life
Support (GELS). Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) Cetakan
Ketiga. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI.

Steven M. Thygerson, dkk. 2011. First Aid, CPR, and AED Essentials. America : Jones &
Bartlett Publishers. Hal : 110. Thygerson AL, Thygerson SM, Gulli B, Piazza G. First
 

Aid, CPR, and AED Advanced. 6th Ed. Ontario : Jones & Barrtlett Learning;
2012.

Anda mungkin juga menyukai