Konsumsi dalam Perspektif Islam
Konsumsi dalam Perspektif Islam
Teori konsumsi lahir karena adanya teori permintaan akan barang dan jasa. Sedangkan
permintaan akan barang dan jasa timbul karena adanya keinginan (want) dan kebutuhan (need)
oleh konsumen riil maupun konsumen potensial. Dalam ekonomi konvensial motor penggerak
kegiatan konsumsi adalah adanya keinginan. Dalam konsep Islam memiliki pandangan
berbeda tentang teori permintaan yang didasar atas keinginan tersebut. Keinginan identik dengan
sesuatu yang bersumber dari nafsu. Sedangkan kita ketahui bahwa nafsu manusia mempunyai
kecenderungan yang bersifat ambivalen, yaitu dua kecenderungan yang saling bertentangan,
kecenderungan yang baik dan kecenderungan yang tidak baik. Oleh karena itu teori permintaan
dalam ekonomi Islam didasar atas adanya kebutuhan (need).
Kita harus membedakan secara tegas antara keinginan dan kebutuhan ini. Kebtuhan lahir
dari suatu pemikiran atau identifikasi secara objektif atas berbagai sarana yang diperlukan untuk
mendapatkan suatu manfaat bagi kehidupan. Kebutuhan dituntun oleh rasionalitas normative dan
positif, yaitu rasionalitas ajaran Islam, sehingga bersifat terbatas dan terukur dalam kuantitas
dan kualitasnya. Jadi, seorang Muslim berkonsumsi dalam rangka untuk memenuhi
kebutuhannya sehingga memperoleh kemanfaatan yang setinggi-tingginya bagi kehidupannya.
Hal ini merupakan dasar dan tujuan dari syariah Islam sendiri, yaitu maslahat al ibad
(kesejahteraan hakiki bagi manusia), dan sekaligus sebagai cara untuk mendapat falah yang
maksimum.
Konsumsi berasal dari bahasa Inggris, yaitu to consume yang berarti memakai atau
menghabiskan, dan dari bahasa Belanda, consumptie, ialah suatu kegiatan yang bertujuan
mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Konsumen adalah setiap orang pemakai
barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,
keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan
Kelima kebutuhan ini semuanya penting untuk mendukung suatu perilaku kehidupan yang
Islami, karenya harus diupayakan untuk dipenuhi. Menurut Al Ghazali tujuan utama syariat
Islam adalah mendorong kesejahteraan manusia yang terletak kepada perlindungan yang
menjamin terlindungnya kelima kebutuhan ini akan memenuhi kepentingan umum dan
kehendaki. Untuk menjaga kontinuitas kehidupan, maka manusia harus memelihara
keturunannya (an nasl / posterity). Meskipun seorang Muslim meyakini bahwa horizon waktu
kehidupan tidak hanya menyangkup kehidupan dunia-melainkan hingga akhirat, tetapi
kelangsungan kehidupan dunia amatlah penting. Kita harus berorienasi jangka panjang dalam
merencanakan kehidupan dunia, tentu saja dengan tetap berfokus kepada kehidupan akhirat.
Oleh karenanya,
kelangsungan keturunan dan keberlanjutan dari generasi ke generasi harus diperhatikan. Ini
merupakan suatu kebutuhan yang amat penting bagi eksistensi manusia. Pada dasarnya konsumsi
dibangun atas dua hal, yaitu, kebutuhan (hajat) dan kegunaan atau kepuasan (manfaat). Secara
rasional, seseorang tidak akan pernah mengkonsumsi suatu barang manakala dia tidak
membutuhkannya sekaligus mendapatkan manfaat darinya. Dalam prespektif ekonomi Islam,
dua unsur ini mempunyai kaitan yang sangat erat (interdependensi) dengan konsumsi itu sendiri.
Kegiatan konsumsi dalam Islam diartikan sebagai penggunaan terhadap komoditas yang baik
dan jauh dari sesuatu yang diharamkan, maka, sudah barang tentu motivasi yang mendorong
"Manusia adalah makhluk yang tersusun dari berbagai unsur, baik ruh, akal, badan
maupun hati. Unsur-unsur ini mempunyai keterkaitan antar satu dengan yang lain. Misalnya,
kebutuhan manusia untuk makan, pada dasarnya bukanlah kebutuhan perut atau jasmani saja,
namun, selain akan memberikan pengaruh terhadap kuatnya jasmani, makan juga berdampak
pada unsur tubuh yang lain, misalnya, ruh, akal dan hati. Karena itu, Islam mensyaratkan setiap
makanan yang kita makan hendaknya mempunyai manfaat bagi seluruh unsur tubuh".
Ungkapan di atas hendaknya menjadi perhatian kita, bahwa tidak selamanya sesuatu yang
kita konsumsi dapat memenuhi kebutuhan hakiki dari seluruh unsur tubuh. Maksud hakiki di sini
adalah keterkaitan yang positif antara aktifitas konsumsi dengan aktifitas terstruktur dari unsur
tubuh itu sendiri. Apabila konsumsi mengakibatkan terjadinya disfungsi bahkan kerusakan pada
salah satu atau beberapa unsur tubuh, tentu itu bukanlah kebutuhan hakiki manusia. Karena itu,
Islam secara tegas mengharamkan minum-minuman keras, memakan anjing, dan sebagainya.
Selain itu, dalam kapasitasnya sebagai khalifah di muka bumi, manusia juga dibebani
kewajiban membangun dan menjaganya, yaitu, sebuah aktifitas berkelanjutan dan terus
berkembang yang menuntut pengembangan seluruh potensinya disertai keseimbangan
penggunaan sumber daya yang ada. Artinya, Islam memandang penting pengembangan potensi
manusia selama berada dalam batas penggunaan sumber daya secara wajar. Sehingga, kebutuhan
dalam prespektif Islam adalah, keinginan manusia menggunakan sumber daya yang tersedia,
guna mendorong pengembangan potensinya dengan tujuan membangun dan menjaga bumi dan
isinya.
Sebagaimana kebutuhan di atas, konsep manfaat ini juga tercetak bahkan menyatu dalam
konsumsi itu sendiri. Para ekonom menyebutnya sebagai perasaan rela yang diterima oleh
konsumen ketika mengkonsumsi suatu barang. Rela yang dimaksud di sini adalah kemampuan
Ada dua konsep penting yang perlu digaris bawahi dari pengertian rela di atas, yaitu
pendapatan dan harga. Kedua konsep ini saling mempunyai interdependensi antar satu dengan
yang lain, mengingat kemampuan seseorang untuk membeli suatu barang sangat tergantung pada
pemasukan yang dimilikinya. Kesesuaian di antara keduanya akan menciptakan kerelaan dan
berpengaruh terhadap penciptaan prilaku konsumsi itu sendiri. Konsumen yang rasional selalu
membelanjakan pendapatannya pada berbagai jenis barang dengan tingkat harga tertentu demi
mencapai batas kerelaan tertinggi.
Sekarang bagaimanakah Islam memandang manfaat, apakah sama dengan terminologi
yang dikemukakan oleh para ekonom pada umumnya ataukah berbeda? Beberapa ayat al-Qur’an
mengisyaratkan bahwa manfaat adalah antonim dari bahaya dan terwujudnya kemaslahatan.
Sedangkan dalam pengertian ekonominya, manfaat adalah nilai guna tertinggi pada sebuah
barang yang dikonsumsi oleh seorang konsumen pada suatu waktu. Bahkan lebih dari itu,
barang tersebut mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Jelas bahwa manfaat adalah
terminologi Islam yang mencakup kemaslahatan, faidah dan tercegahnya bahaya. Manfaat
bukan sekedar kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh anggota tubuh semata, namun lebih
dari itu, manfaat merupakan cermin dari terwujudnya kemaslahatan hakiki dan nilai guna
maksimal yang tidak berpotensi mendatangkan dampak negatif di kemudian hari.
“Ketika kami dalam bepergian berasama Nabi SAW, mendadak datang seseorang
berkendaraan, sambil menoleh ke kanan-ke kiri seolah-olah mengharapkan bantuan makanan,
maka bersabda Nabi SAW : “Siapa yang mempunyai kelebihan kendaraan harus dibantukan
pada yang tidak memmpunyai kendaraan. Dan siapa yang mempunyai kelebihan bekal harus
dibantukan pada orang yang tidak berbekal.” kemudian Rasulullah menyebut berbagai macam
jenis kekayaan hingga kita merasa seseorang tidak berhak memiliki sesuatu yang lebih dari
kebutuhan hajatnya”. (H.R. Muslim).
Perbedaan antara ilmu ekonomi modern dan ekonomi Islam dalam hal konsumsi terletak
pada cara pendekatannya dalam memenuhi kebutuhan seseorang. Islam tidak mengakui
kegemaran materialistis semata-mata dari pola konsumsi modern. Selanjutnya hal ini dapat
dikatakan bahwa semakin tinggi kita menaiki jenjang peradaban, semakin kita terkalahkan oleh
kebutuhan fisiologik karena faktor-faktor psikologis. Cita rasa seni, keangkuhan, dorongan-
dorongan untuk pamer semua faktor ini memainkan peran yang semakin dominan dalam
menentukan bentuk lahiriah konkret dari kebutuhan-kebutuhan fisiologik kita. Dalam suatu
Tujuan utama konsumsi seoarang Muslim adalah sebagai sarana penolong untuk
beribadah kepada Allah SWT. Sesungguhnya mengkonsusmsi sesuatu dengan niat untuk
meningkatkan stamina dalam ketaatan pengabdian kepada Allah SWT akan menjadikan
konsusmsi itu bernilai ibadah yang dengannya manusia mendapatkan pahala. Konsusmsi dalam
perspektif ekonomi konvensional dinilai sebagai tujuan terbesar dalam kehidupan dan segala
bentuk kegiatan ekonomi. Bahkan ukuran kebahagiaan seseorang diukur dengan tingkat
kemampummya dalam mengkonsusmsi. Konsep konsumen adalah raja sehingga dapat menjadi
arah bahwa aktifitas ekonomi khususnya produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen sesuai
dengan kadar relatifitas dari keinginan konsumen. Tujuan konsumsi dalam ajaran Islam antara
lain :
1). Untuk mengharap Ridha Allah SWT. Tercapainya kebaikan dan tuntutan jiwa yang mulia
harus direalisasikan untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT. Seorang Muslim ketika
dihadapkan dengan sumber syariat akan mengarahkan jiwanya pada urgensi pencapaian ketaatan
dan keridhaan Allah SWT. Kehidupan dunia merupakan jalan menuju keabadian akhirat yang
menjadi tujuan orang shaleh dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan.” (Qs. Al-Qashash:7)
2). Untuk mewujudkan kerjasama antar anggota masyarakat dan tersedianya jaminan sosial.
Takdir manusia didunia ini berbeda-beda, ada yang ditakdirkan menjadi kaya dan sebaliknya,
ada yang pada posisi pertengahan. Tidak pantas bagi seorang Muslim yang melihat kerabat,
tetangga, atau saudara Muslim yang kelaparan, sengsara, sedang ia tidak melakukan sesuatu
apapun untuk membantunya
Dalam konsumsi, seorang Muslim harus memperhatikan kebaikan (kehalalan) sesuatu yang
akan di konsumsinya. Para fuqaha' menjadikan memakan hal-hal yang baik ke dalam empat
titigkatan. Pertama, wajib, yaitu mengkonsumsi sesuatu yang dapat menghindarkan diri dari
kebinasaan dan tidak mengkonsusmsi kadar ini padahal mampu yang berdampak pada dosa.
Kedua, sunnah, yaitu mengkonsusmsi yang lebih dari kadar yang menghindarkan diri dari
kebinasaan dan menjadikan seoarang Muslim mampu shalat dengan berdiri dan mudah berpuasa.
Ketiga, mubah, yaitu sesuatu yang lebih dari yang sunnah sampai batas kenyang. Keempat,
konsusmsi yang melebihi batas kenyang, yang dalam hal ini terdapat dua pendapat, ada yang
mengatakan makruh yang satunya mengatakan haram.
Konsumsi bagi seorang Muslim hanya sekedar perantara untuk menambah kekuatan dalam
mentaati Allah SWT, yang ini memiliki indikasi positif dalam kehidupannya. Seorang Muslim
tidak akan merugikan dirinya di dunia dan akhirat, karena memberikan kesempatan pada dirinya
untuk mendapatkan dan memenuhi konsumsinya pada tingkat melampaui batas, membuatnya
sibuk mengejar dan menikmati kesenangan dunia sehingga melalaikan tugas utamanya dalam
kehidupan ini. "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawi (saja)
dan kamu telah bersenang-senang dengannya" (Al-Ahqaf: 20). Maksud rizki yang baik di sini
adalah melupakan syukur dan mengabaikan orang lain. Oleh sebab itu, konsumsi Islam harus
menjadikannya ingat kepada Yang Maha Memberi rizki, tidak boros, tidak kikir, tidak
memasukkan ke dalam mulutnya dari sesuatu yang haram dan tidak melakukan pekerjaan
haram untuk memenuhi konsumsinya.
Tujuan utama konsumsi seoarang Muslim adalah sebagai sarana penolong untuk beribadah
kepada Allah SWT. Sesungguhnya mengkonsusmsi sesuatu dengan niat untuk meningkatkan
stamina dalam ketaatan pengabdian kepada Allah akan menjadikan konsusmsi itu bernilai ibadah
yang dengannya manusia mendapatkan pahala. Konsusmsi dalam perspektif ekonomi
konvensional dinilai sebagai tujuan terbesar dalam kehidupan dan segala bentuk kegiatan
ekonomi. Bahkan ukuran kebahagiaan seseorang diukur dengan tingkat kemampuannya dalam
Selain berfungsi sebagai penopang kehidupan, konsumsi juga berfungsi sebagai salah satu
instrumen untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Amerika yang
selama ini dianggap sebagai kiblat perekonomian negara-negara di dunia, ternyata salah satu
penopangnya adalah tingkat konsumsi masyarakatnya yang sangat tinggi jauh melebihi
tabungannya. Rata-rata jumlah tabungan mereka hanya 2 persen dari total pendapatan,
(presentase ini adalah terendah di dunia), dan inilah yang dianggap membuat perekonomian
Amerika bergairah.
Namun, apakah dengan cara menggenjot pengeluaran saja Islam memaknai konsumsi.
" Kemaslahatan hakiki yang tercermin dalam sebuah aktifitas manusia, pada dasarnya hanya
bisa diketahui oleh Sang Pencipta-Nya saja. Manusia hanya mengetahui sebagian kecil tanpa
bisa memaknai keseluruhannya, apa yang tidak terlihat olehnya jauh lebih banyak dari yang
bisa dilihatnya, mereka juga lebih sering terburu-buru dalam mewujudkan kemaslahatan
dirinya. Sehingga, yang terjadi adalah kemafsadahan pada kemasalahatan semu yang
membungkusnya. Karena itu, Allah SWT menurunkan para Rasul guna memberikan peringatan
kepada seluruh umat manusia, agar senantiasa kembali kepada kemaslahatan secara sempurna
(agama)".
Dengan demikian, rasionalisasi konsumsi tidak cukup dimaknai dengan hukum maupun
teori saja, namun juga harus bersandar pada aturan-aturan mendasar yang terdapat dalam ajaran
Islam itu sendiri. Di bawah ini adalah beberapa karakteristik konsumsi dalam prespektif ekonomi
Islam, di antaranya adalah:
1) Konsumsi bukanlah aktifitas tanpa batas, melainkan juga terbatasi oleh sifat kehalalan dan
keharaman yang telah digariskan oleh syara'. Sebagaimana firman Allah SWT
2) Konsumen yang rasional (mustahlik al-aqlani) senantiasa membelanjakan pendapatan pada
berbagai jenis barang yang sesuai dengan kebutuhan jasmani maupun ruhaninya. Cara seperti ini
dapat mengantarkannya pada keseimbangan hidup yang memang menuntut keseimbangan kerja
dari seluruh potensi yang ada, mengingat, terdapat sisi lain di luar sisi ekonomi yang juga butuh
untuk berkembang.
3). Menjaga keseimbangan konsumsi dengan bergerak antara ambang batas bawah dan ambang
batas atas dari ruang gerak konsumsi yang diperbolehkan dalam ekonomi Islam (mustawa al-
kifayah). Mustawa kifayah adalah ukuran, batas maupun ruang gerak yang tersedia bagi
konsumen Muslim untuk menjalankan aktifitas konsumsi. Di bawah mustawa kifayah, seseorang
akan terjerembab pada kebakhilan, kekikiran, kelaparan hingga berujung pada kematian.
Sedangkan di atas mustawa al-kifayah seseorang akan terjerumus pada tingkat yang berlebih-
lebihan (mustawa israf, tabdzir dan taraf).
4). Memperhatikan prioritas konsumsi antara dlaruriyat, hajiyat dan takmiliyat. "Dlaruriyat adalah
komiditas yang mampu memenuhi kebutuhan paling mendasar konsumen Muslim, yaitu,
menjaga keberlangsungan agama (hifdz ad-din), jiwa (hifdz an-nafs), keturunan (hifdz an-nasl),
hak kepemilikan dan kekayaan (hifdz al-mal), serta akal pikiran (hifdz al-aql). Sedangkan hajiyat
adalah komoditas yang dapat menghilangkan kesulitan dan juga relatif berbeda antar satu orang
dengan lainnya, seperti luasnya tempat tinggal, baiknya kendaraan dan sebagainya. Sedangkan
takmiliyat adalah komoditi pelengkap yang dalam penggunaannya tidak boleh melebihi dua
prioritas konsumsi di atas.
Ialah kemaslahatan yang menjadi dasar tegaknya kehidupan asasi manusia baik yang
berkaitan dengan agama maupun dunia. Jika dia luput dari kehidupan manusia maka
mengakibatkan rusaknya tatanan kehidupan manusia tersebut. Maslahat dharuriyat ini
merupakan dasar asasi untuk terjaminnya kelangsungan hidup manusia. Jika ia rusak, maka akan
muncul fitnah dan bencana yang besar. Yang termasuk dalam lingkup marsalah dharuriyat ini
ada lima macam, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan agama, jiwa, akal, keturunan
dan harta. Umumnya ulama ushul fiqh sependapat tentang lima hal tersebut sebagai maslahat
yang paling asasi.
Secara umum, menghindari setiap perbuatan yang menggakibatkan tidak terpeliharanya salah
satu dari kelima hal pokok (maslahat) tersebut, tergolong dharury (prinsip). Syariat Islam sangat
menekankan pemeliharaan hal tersebut, sehingga demi mempertahankan nyawa (kehidupan)
dibolehkan makan barang terlarang (haram), bahkan diwajibkan sepanjang tidak merugikan
orang lain. Karena itu bagi orang dalam keadaan darurat yang khawatir akan mati kelaparan,
diwajibkan memakan bangkai, daging babi dan minum arak.
Ialah segala sesuatu yang oleh hukum syara’ tidak dimaksudkan untuk memelihara lima
hal pokok tadi, akan tetapi dimaksudkan untuk menghilangkan kesulitan, kesusahan, kesempitan
dan ihtiyath (berhati-hati) terhadap lima hal pokok tersebut. Dalam lapangan ibadah Islam,
mensyariatkan beberapa hukum rukhshah (keringganan) bilamana kenyataan mendapatkan
kesulitan dalam menjalankan perintah-perintah taklif. Misalnya, Islam memperbolehkan tidak
berpuasa dalam perjalankan dalam jarak tertentu dengan syarat diganti pada hari lain begitu pula
untuk orang yang sedang sakit. Kebolehan meng-qasar shalat adalah juga dalam rangka
memenuhi kebutuhan hajiyat ini. Didalam lapangan muamalat, ialah diperbolehkannya banyak
bentuk transaksi yang dibutuhkan manusia, seperti akad muzara’ah, salam, murabahab, dan
mudharabah.
Dilapangan ’uqubah (sanksi hukum), Islam mensyariatkan hukuman diyat (denda) bagi
pembunuhan tidak disengaja. Perlu ditegaskan bahwa termasuk dalam katagori hajjiyat adalah
memelihara kebebasan individu dan kebebasan beragama. sebab manusia membutuhkan kedua
kebebasan ini. Akan tetapi terkadang manusia menghadapi kesulitan. Termasuk hajjiyah dalam
keturunan, ialah diharamkan berpelukan. Sedang hajjiyat dalam hal harta, seperti diharamkan
ghasab dan merampas, keduanya tidak menyebabkan lenyapnya harta, karena masih mungkin
untuk diambil kembali, sebab keduanya dilakukan secara terang-terangan. Sedangkan hajjiyat
yang berkaitan dengan akal seperti diharamkannya meminum khamar walau hanya sedikit.
Ialah tingkat kebutuhan yang apabila tidak terpenuhi tidak mengancam eksistensi salah
satu dari kelima pokok diatas serta tidak pula menimbulkan kesulitan. Yang dimaksud dengan
maslahat jenis ini ialah sifatnya untuk memelihara kebagusan dan kebaikan budi pekerti serta
keindahan saja. Sekiranya kemaslahatan tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan tidaklah
menimbulkan kesulitan dan kegoncangan serta rusaknya tatanan kehidupan manusia. Dengan
kata lain kemaslahatan ini hanya mengacu pada keindahan saja. Sungguhpun demikian
kemaslahatan seperti ini dibutuhkan oleh manusia.
Diantara contoh tahsinat yang berkaitan dengan memelihara harta adalah diharamkan
menipu atau memalsukan barang. Perbuatan ini tidak menyentuh secara langsung harta itu
sendiri (eksistensinya), tetapi menyangkut kesempurnaannya. Sebab hal ini berlawanan
kepentingan dengan keingginan membelanjakan harta secara terang dan jelas, serta keinginan
memperoleh gambaran yang tepat tentang untung rugi. Jelaslah kiranya hal ini tidak membuat
cacat terhadap harta pokok (ashul mal), akan tetapi berbenturan dengan kepentingan orang lain
yang membelanjakan hartanya. Contoh tahsinat yang berkenaan denagan memelihara keturunan
adalah diharamkan seorang wanita keluar rumah dengan menggenakan perhiasan. Dalam firman
Allah: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa)
nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putera-puteri mereka, atau putera-puteri suami mereka, atau Saudara-
saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara
perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak
yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar
diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.
Larangan wanita memakai perhiasan diluar rumah ini termasuk kategori tahsinat, karena
memelihara kesempurnaan ashl nasl (pokok keturunan). Selain itu larangan tersebut sebagai
wujud dari kehormatan, kemuliaan, dan dapat menggangkat harkat wanita yang pada dewasa ini
diletakkan pada tempat yang rendah. Tahsinat dalam kaitan dengan memelihara agama
diantaranya adalah larangan terhadap dakwah yang menyimpang, yang tidak menyentuh pokok
keimanan (ashlul itiqad), dimana semakin genjarnya gerakan dakwah semacam ini malah
menimbulkan keraguan terhadap ajaran Islam. Demikian pula larangan mempelajari kitab-kitab
Islam tidak mengakui kegemaran materialistis semata-mata dan pola konsumsi modern.
Islam berusaha mengurangi kebutuhan material manusia yang luar biasa sekarang ini. Untuk
menghasilkan energi manusia selalu mengejar cita-cita spiritualnya. Selanjutnya perintah Islam
mengenai konsumsi dikendalikan oleh lima prinsip, yaitu:
Prinsip keadilan yang dimaksud adalah mengkonsumsi sesuatu yang halal (tidak haram)
dan baik (tidak membahayakan tubuh). Dan hal ini sesuai dengan surat Al- Baqarah :173
“Sesungguhnya Allah SWT hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan
binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi barang siapa dalam
keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui
batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”. (Al-Baqarah: 173)
Allah SWT mengharamkan darah, daging binatang yang telah mati sendiri dan daging
babi, karena berbahaya bagi tubuh. Allah SWT mengharamkan daging binatang yang ketika di
sembelih diserukan nama selain Allah SWT dengan maksud dipersembahkan sebagai kurban
untuk menyembah berhala dan persembahan bagi orang yang dianggap suci atau siapapun selain
Allah SWT karena berbahaya bagi moral dan spiritual karena hal-hal ini sama dengan
mempersekutukan Tuhan. Kelonggaran diberikan bagi orang yang terpaksa, dan bagi orang yang
suatu ketika tidak mempunyai makanan untuk dimakan. Ia boleh memakan makanan yang
terlarang itu sekedar yang dianggap perlu untuk kebutuhannya ketika itu saja.
Syariat yang kedua ini tercantum dalam kitab suci Al-Quran maupun Sunnah tentang
makanan. Harus baik atau cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga
merusak selera. Karena itu, tidak semua yang diperkenankan boleh dimakan dan diminum dalam
semua keadaan. Dari semua yang diperbolehkan makan dan minumlah yang bersih dan
bermanfaat. Makna kebersihan yang lain adalah membersihkan harta kita atau pendapatan kita
sebelum dikonsumsi dengan berzakat. Hal ini menjadi penting, karena jika kita memakan harta
kita sampai habis tanpa mengeluarkan zakatnya terlebih dahulu, maka hal ini sama artinya
dengan kita mencuri harta orang lain kemudian memakannya.
Prinsip ketiga ini mengatur perilaku manusia mengenai makan dan minum adalah sikap
tidak berlebihan yang berarti janganlah makan secara berlebihan.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah
Allah SWT halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah
SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(Al-Maidah: 87)
Arti penting ayat ini adalah kenyataan bahwa kurang makan dapat mempengaruhi
pembangunan jiwa dan tubuh, demikian pula bila perut diisi secara berlebihan tentu akan ada
pengaruhnya pada pencernaan (perut). Praktek mematangkan jenis makan tertentu, dengan tegas
tidak dibolehkan dalam Islam.
a). Membelanjakan harta untuk hal-hal yang diharamkan, seperti judi, minuman keras, dan
lain-lain.
b). Pengeluaran yang berlebih-lebihan untuk barang-barang yang halal, baik di dalam,
apalagi diluar batas kemampuan seseorang.
b). Jika seseorang tidak membelanjakan sesuatu apapun untuk tujuan- tujuan yang baik dan
amal.
Allah SWT dengan kemurahan hati-Nya menyediakan makanan dan minuman untuk
manusia. Maka sifat konsumsi manusia juga harus dilandasi dengan kemurahan hati. Maksudnya,
jika memang masih banyak orang yang kekurangan maka hendaklah kita sisihkan rezeki yang
ada pada kita kemudian kita berikan kepada mereka yang sangat membutuhkannya. Tindakan ini
sangat dimuliakan oleh Allah SWT , dimana Allah SWT menyediakan ganjaran yang besar,
menghapuskan dosanya, menghilangkan rasa ketakutan dan kesedihan dari orang yang berinfaq
tersebut.
Bukan hanya mengenai makanan dan minuman langsung tetapi dengan tujuan terakhirnya,
yakni untuk peningkatan atau kemajuan nilai-nilai moral dan spiritual. Seseorang Muslim
diajarkan untuk menyebut nama Allah SWT sebelum makan dan menyatakan terima kasih
kepada-Nya setelah makan. Dengan demikian ia akan merasakan kehadiran Ilahi pada waktu
memenuhi keinginan-keinginan fisiknya. Hal ini penting artinya karena Islam menghendaki
perpaduan nilai-nilai hidup material dan spiritual yang berbahagia. Konsumsi Islam senantiasa
memperhatikan halal-haram, komitmen dan konsekuen dengan kaidah-kaidah dan hukum-hukum
syariat yang mengatur konsumsi agar mencapai kemanfaatan konsumsi seoptimal mungkin dan
mencegah penyelewengan dari jalan kebenaran dan dampak mudharat baik bagi dirinya maupun
orang lain. Adapun kaidah/prinsip dasar konsumsi Islami adalah :
a). Prinsip syariah, yaitu menyangkut dasar syariat yang harus terpenuhi dalam melakukan
konsumsi di mana terdiri dari:
b). Prinsip kuantitas, yaitu sesuai dengan batas-batas kuantitas yang telah dijelaskan dalam
syariat Islam, di antaranya
c). Prinsip prioritas, di mana memperhatikan urutan kepentingan yang harus diprioritaskan agar
tidak terjadi kemudharatan, yaitu:
Primer, yaitu konsumsi dasar yang harus terpenuhi agar manusia dapat hidup dan
menegakkan kemaslahatan dirinya dunia dan agamanya serta orang terdekatnya, seperti
makanan pokok.
Sekunder, yaitu konsumsi untuk menambah atau meningkatkan tingkat kualitas hidup
yang lebih balk, misalnya konsumsi madu, susu dan sebagainya.
Tersier, yaitu untuk memenuhi konsumsi manusia yang jauh lebih membutuhkan.
e). Kaidah lingkungan, yaitu dalam mengkonsumsi harus sesuai dengan kondisi potensi daya
dukung sumber daya alam dan keberlanjutannya atau tidak merusak lingkungan.
f). Tidak meniru atau mengikuti perbuatan konsumsi yang tidak mencerminkan etika
konsusmsi Islami seperti suka menjamu dengan tujuan bersenang-senang atau memamerkan
kemewahan dan menghambur-hamburkan harta.
1) azas maslahat dan manfaat membawa maslahat dan manfaat bagi jasmani dan rohani dan
sejalan dengan nilai maqasid syariah. Termasuk dalam hal ini kaitan konsumsi dengan halal
dan thoyyib.
2) azas kemandirian : ada perencanaan, ada tabungan, mengutang adalah kehinaan. Nabi
SAW menyimpan sebagian pangan untuk kebutuhan keluarganya selama setahun. “ Ya Allah
jauhkanlah hamba dari kegundahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kebodohan dan
kebakhilan, beratnya utang, serta tekanan orang lain.
3) azas kesederhanaan : bersifat qanaah, tidak mubazir. “ Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Telah Allah SWT halalkan bagi kamu, dan
janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.”
Imam Shatibi menggunakan istilah 'maslahah', yang maknanya lebih luas dari sekadar
utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan
hukum syara' yang paling utama. Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan
barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di
muka bumi ini. Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs),
properti atau harta benda (al mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau
keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya
kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu, itulah yang disebut maslahah. Adapun sifat-
sifat maslahah sebagai berikut:
1) Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing
masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan
bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan
oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu. Misalnya, bila seseorang
mempertimbangkan bunga bank memberi maslahah bagi diri dan usahanya, namun syariah
telah menetapkan keharaman bunga bank, maka penilaian individu tersebut menjadi gugur.
2) Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini
sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal di mana seseorang
tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan
penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.
3) Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu
produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi. Dengan demikian seorang
individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan.
4) Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah .
Islam mewajibkan kepada pemilik harta agar menafkahkan sebagian hartanya untuk
kepentingan diri, keluarga, dan fi sabilillah. Islam mengharamkan sifat kikir. Di sisi lain, Islam
juga mengharamkan sikap boros dan menghamburkan harta. Inilah bentuk keseimbangan yang
diperintahkan dalam Al-Quran yang mencerminkan sikap keadilan dalm konsumsi. Seperti yang
diisyaratkan dalam QS. Al-Isra’: 29.
وال تجعل يدك مغلولة الى عنقك وال تبسطها ك ّل البسط فتقعد
ملوما محسورا
Artinya: dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada pundakmu dan janganlah
kamu terlalu mengulurkannya karena itu akan membuat kamu tercela dan menyesal.
Islam mendorong dan memberi kebebasan kepada individu agar membelanjakan hartanya
untuk membeli barang-barang yang baik dan halal dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Kebebasan itu diberikan dengan ketentuan tidak melanggar batas-batas yang suci serta tidak
mendatangkan bahaya terhadap keamanan dan kesejahteraan masyarakat dan negara. Senada
dengan hal ini Abu al-A’la al-Maududi menjelaskan, Islam menutup semua jalan bagi manusia
untuk membelanjakan harta yang mengakibatkan kerusakan akhlaq di tengah masyarakat, seperti
judi yang hanya memperturutkan hawa nafsu.
Menurut Islam, anugerah Allah SWT itu milik semua manusia dan suasana yang
menyebabkan sebagian diantara anugerah itu berada di antara orang-orang tertentu tidak berarti
bahwa mereka dapat memanfaatkan anugerah itu untuk mereka sendiri, sedangkan orang lain
tidak memiliki bagiannya sehingga banyak diantara anugerah yang diberikan Allah SWT kepada
umat manusia itu masih berhak mereka miliki, walaupun mereka tidak memperolehnya. Dalam
Al-Quran, Allah SWT mengutuk dan membatalkan argumen yang dikemukakan oleh orang kaya
yang kikir karena tidak ada kesediaan mereka memberikan bagian atau miliknya ini.
واذاقيل لهم انفقوا ممارزقكم هللا قال الذين كفروا انطعم من
لويشاء هللا اطعمه ان انتم االّ فى للذين امنوا مبين ضالل
Artinya: bila dikatakan kepada mereka, “belanjakanlah sebagian rezeki Allah yang diberikan-
Nya kepadamu”, orang-orang kafir itu berkata, “apakah kami harus memberi makan orang-
orang yang jika Allah menghendaki akan diberi-Nya makan? Sebenarnya kamu benar-benar
tersesat”. (QS. Yaasin: 47)
Salah satu ciri penting dalam Islam bahwa ia tidak hanya mengubah nilai-nilai dan
kebiasaan masyarakat tetapi juga menyajikan kerangka legislatif yang perlu untuk mendukung
dan memperkuat tujuan-tujuan ini dan menghindari penyalahgunaannya. Ciri khas Islam ini juga
memilki daya aplikatifnya terhadap orang yang terlibat dalam pemborosan atau tabzir. Dalam
hukum (fiqh) Islam, orang semacam itu seharusnya dikenai pembatasan-pembatasan dan, bila
dianggap perlu, dilepaskan, dan dibebaskan dari tugas mengurus harta miliknya sendiri. Dalam
pandangan syariah dia seharusnya diperlukan sebagai orang tidak mampu dan orang lain
seharusnya ditugaskan untuk mengurus hartanya selaku wakilnya.
Dalam perspektif Islam, kegiatan konsumsi dilakukan dalam rangka beribadah kepada
Allah SWT, sehingga senantiasa berada dalam hukum Allah SWT (syariah). Karena itu, orang
mukmin berusaha mencari kenikmatan dengan menaati perintah-NYA dan memuaskan dirinya
sendiri dengan barang-barang dan anugerah yang dicipta (Allah SWT) untuk umat manusia.
Adapun dalam pandangan kapitalis, konsumsi merupakan fungsi dan keinginan, nafsu, harga
barang, dan pendapatan, tanpa memedulikan dimensi spritual, kepentingan orang lain, dan
Pemanfaatan atas karunia Allah SWT tersebut harus dilakukan secara adil sesuai dengan
syariah, sehingga disamping mendapatkan keuntungan materiil, ia juga sekaligus merasakan
kepuasan spritual. Al-Quran secara tegas menekankan norma perilaku ini baik untuk hal-hal
yang bersifat materiil maupun spritual untuk menjamin adanya kehidupan yang berimbang antara
kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karenanya, dalam Islam konsumsi tidak hanya barang-barang
yang bersifat duniawi semata, namun juga untuk kepentingan di jalan Allah (fisabilillah).
Alam semesta merupakan milik Allah SWT, yang memiliki kemahakuasaan (kedaulatan)
sepenuhnya dan kesempurnaan atas makhluk-makhluknya. Manusia diberi kekuasaan untuk
mengambil keuntungan dan manfaat sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuannya atas
barang ciptaan Allah SWT. Atas segala karunia yang diberikan oleh Allah SWT, manusia dapat
berkehendak bebas, namun kebebasan ini tidaklah berarti bahwa manusia terlepas dari qadha dan
qadar yang merupakan hukum sebab akibat yang didasarkan pada pengetahuan dan kehendak
Allah SWT. Sehingga kebebasan dalam melakukan aktivitas haruslah tetap memiliki batasan
agar jangan sampai mendzalimi pihak lain. Hal inilah yang tidak dapat dilakukan dalam ekonomi
konvensional, sehingga yang terjadi kebebasan yang dapat mengakibatkan pihak lain menjadi
menderita.
Manusia merupakan khalifah atau pengemban amanah Allah SWT. Manusia diberi
kekuasaan untuk melaksanakan tugas kekhalifahan ini dan untuk mengambil keuntungan dan
manfaat sebanyak-banyaknya atas ciptaan Allah SWT. Dalam hal melakukan konsumsi, manusia
dapat berkehendak bebas tetapi akan mempertanggungjawabkan atas kebebasan tersebut baik
terhadap keseimbangan alam, masyarakat, diri sendiri maupun di akhirat kelak.
Pertanggungjawaban sebagai seorang Muslim buka hanya kepada Allah SWT namun juga
kepada lingkungan. Jika ekonomi konvensional, baru mengenla istilah corporate social
responsibility, maka ekonomi Islam telah mengenalnya sejak lama.
Dalam karangka acuan Islam, barang-barang yang dapat di konsumsi hanyalah barang-
barang yang menunjukkan nilai-nilai kebaikan, kesucian, keindahan, serta akan menimbulkan
kemaslahatan untuk umat baik secara materiil maupun spiritual. Sebaliknya, benda-benda yang
buruk, tidak suci (najis), tidak bernilai, tidak dapat digunakan dan juga tidak dapat dianggap
barang-barang konsumsi dalam Islam serta dapat menimbulkan kemudaratan apabila dikonsumsi
akan dilarang. Hal ini didukung oleh QS. Al-baqarah: 173
“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan
binatang yang (ketika disembelih) disebut selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan
terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
كلوا من طيّبت مارزقناكم وال تطغوا فيه فيح ّل عليكم غضبى ومن يحلل عليه
غضبى فقدهوى
Artinya: makanlah diantara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah
melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa
ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesunggunhya binasalah ia. (QS. Thaahaa: 81)
f. Sederhana
Islam sangat melarang perbuatan yang melampaui batas (israf), termasuk pemborosan
dan berlebih-lebihan (bermewah-mewah), yaitu membuang-buang harta dan menghambur-
hamburkannya tanpa faedah serta manfaat dan hanya memperturutkan nafsu semata. Allah SWT
akan sangat mengecam setiap perbuatan yang melampaui batas.
التح ّرموا طيّبت ما أح ّل هللا لكم وال تعتدوا يأيها الذين أمنوا
ّ المعتدين
ّان هللا ال يحب
Artinya: hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik, yang
telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-maidaah: 87)
Perbedaan yang terjadi dalam fungsi konsumsi seorang Muslim dengan non Muslim akan
berpengaruh pada fungsi lain seperti fungsi Tabunngan dan Investasi. Hal ini disebabkan karena
dalam fungsi konsumsi perilaku konsumen Muslim dipengaruhi adanya keharusan pembayaran
zakat dalam konsep pendapatan optimum serta adanya larangan pengambilan riba dalam
transaksi apapun termasuk konsumsi, investasi dan tabungan.
Demikian pula, seseorang akan mengalokasikan dari anggarannya untuk investasi, yaitu
menanamkannya pada sektor produktif. Secara sederhana, alokasi pendapatan seorang Muslim
akan dapat diformulasikan sebagai berikut:
Y−z=C+S+I
Dimana:
Y : pendapatan
Ct : konsumsi
S : tabungan
I : investasi
Z : zakat
Ajaran agama Islam sangat mendorong kegiatan menabung dan investasi. Rasulullah SAW
bersabda, “Kamu lebih baik meninggalkan anak keturunanmu kaya daripada miskin dan
bergantung kepada belas kasih orang lain” (HR. Bukhari-Muslim)
Alokasi anggaran (pendapatan) untuk konsumsi total berbanding terbalik (negatif) dengan
tabungan. Semakin tinggi konsumsi berarti semakin kecil tabungan dan sebaliknya semakin
besar tabungan akan menguragi tingkat konsumsi. Untuk mencapai tingkat kepuasan yang
optimal sesuai dengan tujuan maslahah, maka seorang Muslim akan mencari kombinasi yang
tepat antara tingkat konsumsi dan tingkat tabungan.
Berpijak pada asumsi bahwa harta yang digunakan untuk transaksi tabungan dianggap
sebagai harta yang menganggur. Keadaan yang mungkin terjadi dengan penerapan zakat dan
larangan riba terhadap fungsi konsumsi dan investai adalah sebagai berikut:
a) Penerapan zakat atas aset yang kurang atau bahkan tidak produktif berpengaruh pada
peningkatan konsumsi dan investasi.
b) Pelarangan atas riba akan berdampak bagi seorang pelaku ekonomi untuk
mengalokasikan anggarannya lebih kepada bentuk investasi dan bukan tabungan yang
mengandung bunga.
c) Dengan peningkatan konsumsi masing-masing individu akan menimbulkan kenaikan
konsumsi secara nasional.
Melihat paparan di atas sungguh merupakan suatu kondisi yang diharapkan oleh setiap
masyarakat dimana pertumbuhan ekonomi meningkat dengan adanya kesempatan kerja yang ada
serta menurunnya angka kemiskinan.
Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat Muslim :
1) Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan
seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. Mengutamakan
konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi untuk ibadah merupakan
future consumption (karena terdapat balasan surga di akhirat), sedangkan konsumsi duniawi
adalah present consumption.
2) Konsep sukses dalam kehidupan seorang Muslim diukur dengan moral agama Islam, dan
bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula
kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah SWT merupakan
kunci moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan
bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan.
3) Kedudukan harta merupakan anugrah Allah SWT dan bukan sesuatu yang dengan
sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). Harta merupakan alat untuk
mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar. Perilaku konsumen
adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk
membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka. Fokus
dari perilaku konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan
sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang.
Konsep inilah yang tidak kita dapati dalam ilmu perilaku konsumen konvensional. Selain
itu, yang tidak kita dapati pada kajian perilaku konsumsi dalam perspektif ilmu ekonomi
konvensional adalah adanya saluran penyeimbang dari saluran kebutuhan individual yang
disebut dengan saluran konsumsi sosial. Al-Quran mengajarkan umat Islam agar menyalurkan
sebagian hartanya dalam bentuk zakat, sedekah, dan infaq. Hal ini menegaskan bahwa umat
Islam merupakan mata rantai yang kokoh yang saling menguatkan bagi umat Islam lainnya.
LATIHAN
2. Apa yang menjadi dasar hukum dalam melaksanakan kegiatan konsumsi dengan konsep
Islami ?
5. Coba anda uraikan perbedaan secara spesifik kegiatan konsumsi konsep Islam dengan