0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
211 tayangan29 halaman

Konsumsi dalam Perspektif Islam

1. Konsumsi dalam Islam didasarkan pada kebutuhan, bukan keinginan. Kebutuhan terbatas dan terukur, sedangkan keinginan bersifat ambivalen. 2. Ada 5 kebutuhan dasar menurut Islam: keimanan, kehidupan, harta, ilmu, dan keturunan. Konsumsi bertujuan memenuhi kebutuhan secara proporsional. 3. Sumber hukum konsumsi Islam berasal dari Al-Quran, hadis, ijtihad ulama

Diunggah oleh

Saidinnafri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
211 tayangan29 halaman

Konsumsi dalam Perspektif Islam

1. Konsumsi dalam Islam didasarkan pada kebutuhan, bukan keinginan. Kebutuhan terbatas dan terukur, sedangkan keinginan bersifat ambivalen. 2. Ada 5 kebutuhan dasar menurut Islam: keimanan, kehidupan, harta, ilmu, dan keturunan. Konsumsi bertujuan memenuhi kebutuhan secara proporsional. 3. Sumber hukum konsumsi Islam berasal dari Al-Quran, hadis, ijtihad ulama

Diunggah oleh

Saidinnafri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 3

KOMSUMSI DALAM ISLAM

A.    Konsep Kebutuhan dan Keinginan

Teori konsumsi lahir karena adanya teori permintaan akan barang dan jasa. Sedangkan
permintaan akan barang dan jasa timbul karena adanya keinginan (want) dan kebutuhan (need)
oleh konsumen riil maupun konsumen potensial. Dalam ekonomi konvensial motor penggerak
kegiatan konsumsi adalah adanya keinginan. Dalam konsep Islam memiliki pandangan
berbeda tentang teori permintaan yang didasar atas keinginan tersebut. Keinginan identik dengan
sesuatu yang bersumber dari nafsu. Sedangkan kita ketahui bahwa nafsu manusia mempunyai
kecenderungan yang bersifat ambivalen, yaitu dua kecenderungan yang saling bertentangan,
kecenderungan yang baik dan kecenderungan yang tidak baik. Oleh karena itu teori permintaan
dalam ekonomi Islam didasar atas adanya kebutuhan (need).

Kita harus membedakan secara tegas antara keinginan dan kebutuhan ini. Kebtuhan lahir
dari suatu pemikiran atau identifikasi secara objektif atas berbagai sarana yang diperlukan untuk
mendapatkan suatu manfaat bagi kehidupan. Kebutuhan dituntun oleh rasionalitas normative dan
positif, yaitu rasionalitas ajaran Islam, sehingga bersifat terbatas dan terukur dalam kuantitas
dan kualitasnya. Jadi, seorang Muslim berkonsumsi dalam rangka untuk memenuhi
kebutuhannya sehingga memperoleh kemanfaatan yang setinggi-tingginya bagi kehidupannya.
Hal ini merupakan dasar dan tujuan dari syariah Islam sendiri, yaitu maslahat al ibad
(kesejahteraan hakiki bagi manusia), dan sekaligus sebagai cara untuk mendapat falah yang
maksimum.

Konsumsi berasal dari bahasa Inggris, yaitu to consume yang berarti memakai atau
menghabiskan, dan dari bahasa Belanda, consumptie, ialah suatu kegiatan yang bertujuan
mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Konsumen adalah setiap orang pemakai
barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,
keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Jika tujuan

Konsumsi Dalam Islam 32


pembelian produk tersebut untuk dijual kembali , maka dia disebut pengecer atau distributor.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya Konsumsi adalah Pemakaian
sumber daya yang ada untuk mendapatkan kepuasan atau utility. Dan konsumen adalah orang
yang melakukan kegiatan konsumsi.

Al Shatibi, yang mengutip pendapat Al Ghazali, menyebutkan 5 kebutuhan dasar yang


sangat bermanfaat bagi keidupan manusia, yaitu:

a).      Kebenaran (faith, ad dien)


b).      Kehidupan (life, an nas)
c).      Harta material (property, al mal)
d).      Ilmu pengetahuan (science, al aql, al ‘ilmu)
e).      Kelangsungan keturunan (postery, an nasl)

Kelima kebutuhan ini semuanya penting untuk mendukung suatu perilaku kehidupan yang
Islami, karenya harus diupayakan untuk dipenuhi. Menurut Al Ghazali tujuan utama syariat
Islam adalah mendorong kesejahteraan manusia yang terletak kepada perlindungan yang
menjamin terlindungnya kelima kebutuhan ini akan memenuhi kepentingan umum dan
kehendaki. Untuk menjaga kontinuitas kehidupan, maka manusia harus memelihara
keturunannya (an nasl / posterity). Meskipun seorang Muslim meyakini bahwa horizon waktu
kehidupan tidak hanya menyangkup kehidupan dunia-melainkan hingga akhirat, tetapi
kelangsungan kehidupan dunia amatlah penting. Kita harus berorienasi jangka panjang dalam
merencanakan kehidupan dunia, tentu saja dengan tetap berfokus kepada kehidupan akhirat.
Oleh karenanya,

kelangsungan keturunan dan keberlanjutan dari generasi ke generasi harus diperhatikan. Ini
merupakan suatu kebutuhan yang amat penting bagi eksistensi manusia. Pada dasarnya konsumsi
dibangun atas dua hal, yaitu, kebutuhan (hajat) dan kegunaan atau kepuasan (manfaat). Secara
rasional, seseorang tidak akan pernah mengkonsumsi suatu barang manakala dia tidak
membutuhkannya sekaligus mendapatkan manfaat darinya. Dalam prespektif ekonomi Islam,
dua unsur ini mempunyai kaitan yang sangat erat (interdependensi) dengan konsumsi itu sendiri.
Kegiatan konsumsi dalam Islam diartikan sebagai penggunaan terhadap komoditas yang baik
dan jauh dari sesuatu yang diharamkan, maka, sudah barang tentu motivasi yang mendorong

Konsumsi Dalam Islam 33


seseorang untuk melakukan aktifitas konsumsi juga harus sesuai dengan prinsip konsumsi itu
sendiri. Artinya, karakteristik dari kebutuhan dan manfaat secara tegas juga diatur dalam
ekonomi Islam.

1).      Kebutuhan (Hajat)

"Manusia adalah makhluk yang tersusun dari berbagai unsur, baik ruh, akal, badan
maupun hati. Unsur-unsur ini mempunyai keterkaitan antar satu dengan yang lain. Misalnya,
kebutuhan manusia untuk makan, pada dasarnya bukanlah kebutuhan perut atau jasmani saja,
namun, selain akan memberikan pengaruh terhadap kuatnya jasmani, makan juga berdampak
pada unsur tubuh yang lain, misalnya, ruh, akal dan hati. Karena itu, Islam mensyaratkan setiap
makanan yang kita makan hendaknya mempunyai manfaat bagi seluruh unsur tubuh".

Ungkapan di atas hendaknya menjadi perhatian kita, bahwa tidak selamanya sesuatu yang
kita konsumsi dapat memenuhi kebutuhan hakiki dari seluruh unsur tubuh. Maksud hakiki di sini
adalah keterkaitan yang positif antara aktifitas konsumsi dengan aktifitas terstruktur dari unsur
tubuh itu sendiri. Apabila konsumsi mengakibatkan terjadinya disfungsi bahkan kerusakan pada
salah satu atau beberapa unsur tubuh, tentu itu bukanlah kebutuhan hakiki manusia. Karena itu,
Islam secara tegas mengharamkan minum-minuman keras, memakan anjing, dan sebagainya.

Selain itu, dalam kapasitasnya sebagai khalifah di muka bumi, manusia juga dibebani
kewajiban membangun dan menjaganya, yaitu, sebuah aktifitas berkelanjutan dan terus
berkembang yang menuntut pengembangan seluruh potensinya disertai keseimbangan
penggunaan sumber daya yang ada. Artinya, Islam memandang penting pengembangan potensi
manusia selama berada dalam batas penggunaan sumber daya secara wajar. Sehingga, kebutuhan
dalam prespektif Islam adalah, keinginan manusia menggunakan sumber daya yang tersedia,
guna mendorong pengembangan potensinya dengan tujuan membangun dan menjaga bumi dan
isinya.

2)      Kegunaan atau Kepuasan (manfaat)

            Sebagaimana kebutuhan di atas, konsep manfaat ini juga tercetak bahkan menyatu dalam
konsumsi itu sendiri. Para ekonom menyebutnya sebagai perasaan rela yang diterima oleh
konsumen ketika mengkonsumsi suatu barang. Rela yang dimaksud di sini adalah kemampuan

Konsumsi Dalam Islam 34


seorang konsumen untuk membelanjakan pendapatannya pada berbagai jenis barang dengan
tingkat harga yang berbeda.

            Ada dua konsep penting yang perlu digaris bawahi dari pengertian rela di atas, yaitu
pendapatan dan harga. Kedua konsep ini saling mempunyai interdependensi antar satu dengan
yang lain, mengingat kemampuan seseorang untuk membeli suatu barang sangat tergantung pada
pemasukan yang dimilikinya. Kesesuaian di antara keduanya akan menciptakan kerelaan dan
berpengaruh terhadap penciptaan prilaku konsumsi itu sendiri. Konsumen yang rasional selalu
membelanjakan pendapatannya pada berbagai jenis barang dengan tingkat harga tertentu demi
mencapai batas kerelaan tertinggi.

            Sekarang bagaimanakah Islam memandang manfaat, apakah sama dengan terminologi
yang dikemukakan oleh para ekonom pada umumnya ataukah berbeda? Beberapa ayat al-Qur’an
mengisyaratkan bahwa manfaat adalah antonim dari bahaya dan terwujudnya kemaslahatan.
Sedangkan dalam pengertian ekonominya, manfaat adalah nilai guna tertinggi pada sebuah
barang yang dikonsumsi oleh seorang konsumen pada suatu waktu. Bahkan lebih dari itu,
barang tersebut mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Jelas bahwa manfaat adalah
terminologi Islam yang mencakup kemaslahatan, faidah dan tercegahnya bahaya. Manfaat
bukan sekedar kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh anggota tubuh semata, namun lebih
dari itu, manfaat merupakan cermin dari terwujudnya kemaslahatan hakiki dan nilai guna
maksimal yang tidak berpotensi mendatangkan dampak negatif di kemudian hari.

B.    Dasar Hukum Prilaku Konsumsi / Konsumen.

1).          Sumber yang Berasal dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul

Sumber yang ada dalam Al-Quran

‫ين‬ ْ ‫س ِرفُوا إِنَّهُ الَيُ ِح ُّب ا ْل ُم‬


َ ِ‫س ِرف‬ ْ ‫َو ُكلُوا َوا‬
ْ ُ‫ش َربُوا َوالَت‬
Artinya : Makan dan minumlah, namun janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah SWT
itu tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Konsumsi Dalam Islam 35


Sumber yang berasal dari Sunnah Rasul, yang artinya : Abu Said Al-Chodry r.a berkata :

“Ketika kami dalam bepergian berasama Nabi SAW, mendadak datang seseorang
berkendaraan, sambil menoleh ke kanan-ke kiri seolah-olah mengharapkan bantuan makanan,
maka bersabda Nabi SAW : “Siapa yang mempunyai kelebihan kendaraan harus dibantukan
pada yang tidak memmpunyai kendaraan. Dan siapa yang mempunyai kelebihan bekal harus
dibantukan pada orang yang tidak berbekal.” kemudian Rasulullah menyebut berbagai macam
jenis kekayaan hingga kita merasa seseorang tidak berhak memiliki sesuatu yang lebih dari
kebutuhan hajatnya”. (H.R. Muslim).

2).            Ijtihad Para Ahli Fiqh

Ijitihad berarti meneruskan setiap usaha untuk menentukan sedikit banyaknya


kemungkinan suatu persoalan syari’at. Mannan menyatakan bahwa sumber hukum ekonomi
Islam (termasuk di dalamnya terdapat dasar hukum tentang prilaku konsumen yakni konsumsi)
yaitu; Al-Quran, as-Sunnah, ijma’, serta qiyas dan ijtihad. Konsumsi adalah permintaan
sedangkan produksi adalah penyediaan/penawaran. Kebutuhan konsumen, yang kini dan yang
telah diperhitungkan sebelumya, merupakan insentif pokok bagi kegiatan-kegiatan ekonominya
sendiri. Mereka mungkin tidak hanya menyerap pendapatannya, tetapi juga memberi insentif
untuk meningkatkannya. Hal ini berarti bahwa pembicaraan mengenai konsumsi adalah penting.
dan hanya para ahli ekonomi yang mempertunjukkan kemampuannya untuk memahami  dan
menjelaskan prinsip produksi maupun konsumsi, mereka dapat dianggap kompeten untuk
mengembangkan hukum-hukum nilai dan distribusi atau hampir setiap cabang lain dari subyek
tersebut.

Perbedaan antara ilmu ekonomi modern dan ekonomi Islam dalam hal konsumsi terletak
pada cara pendekatannya dalam memenuhi kebutuhan seseorang. Islam tidak mengakui
kegemaran materialistis semata-mata dari pola konsumsi modern. Selanjutnya hal ini dapat
dikatakan bahwa semakin tinggi kita menaiki jenjang  peradaban, semakin kita terkalahkan oleh
kebutuhan fisiologik karena faktor-faktor psikologis. Cita rasa seni, keangkuhan, dorongan-
dorongan untuk pamer semua faktor ini memainkan peran yang semakin dominan dalam
menentukan bentuk lahiriah konkret dari kebutuhan-kebutuhan fisiologik kita. Dalam suatu

Konsumsi Dalam Islam 36


masyarakat primitif, konsomsi sangat sederhana, karena kebutuhannya sangat sederhana. Tetapi
peradaban modern telah menghancurkan kesederhanaan manis akan kebutuhan-kabutuhan ini.

C.    Tujuan Konsumsi Islami

Tujuan utama konsumsi seoarang Muslim adalah sebagai sarana penolong untuk
beribadah kepada Allah SWT. Sesungguhnya mengkonsusmsi sesuatu dengan niat untuk
meningkatkan stamina dalam ketaatan pengabdian kepada Allah SWT akan menjadikan
konsusmsi itu bernilai ibadah yang dengannya manusia mendapatkan pahala. Konsusmsi dalam
perspektif ekonomi konvensional dinilai sebagai tujuan terbesar dalam kehidupan dan segala
bentuk kegiatan ekonomi. Bahkan ukuran kebahagiaan seseorang diukur dengan tingkat
kemampummya dalam mengkonsusmsi. Konsep konsumen adalah raja sehingga dapat menjadi
arah bahwa aktifitas ekonomi khususnya produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen sesuai
dengan kadar relatifitas dari keinginan konsumen. Tujuan konsumsi dalam ajaran Islam antara
lain :

1).      Untuk mengharap Ridha Allah SWT. Tercapainya kebaikan dan tuntutan jiwa yang mulia
harus direalisasikan untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT. Seorang Muslim ketika
dihadapkan dengan sumber syariat akan mengarahkan jiwanya pada urgensi pencapaian ketaatan
dan keridhaan Allah SWT. Kehidupan dunia merupakan jalan menuju keabadian akhirat yang
menjadi tujuan orang shaleh dalam setiap aktivitasnya. Sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan.” (Qs. Al-Qashash:7)

2).      Untuk mewujudkan kerjasama antar anggota masyarakat dan tersedianya jaminan sosial.
Takdir manusia didunia ini berbeda-beda, ada yang ditakdirkan menjadi kaya dan sebaliknya,
ada yang pada posisi pertengahan. Tidak pantas bagi seorang Muslim yang melihat kerabat,
tetangga, atau saudara Muslim yang kelaparan, sengsara, sedang ia tidak melakukan sesuatu
apapun untuk membantunya

Konsumsi Dalam Islam 37


3).      Untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab individu terhadap kemakmuran diri, keluarga
dan masyarakat sebagai bagian aktivitas dan dinamisasi ekonomi. Islam telah memberi
kewajiban adanya pemberian nafkah terhadap beberapa kelompok masyarakat yang termasuk
dalam kategori saudara dan yang digolongkan sebagai saudara.

Dalam konsumsi, seorang Muslim harus memperhatikan kebaikan (kehalalan) sesuatu yang
akan di konsumsinya. Para fuqaha' menjadikan memakan hal-hal yang baik ke dalam empat
titigkatan. Pertama, wajib, yaitu mengkonsumsi sesuatu yang dapat menghindarkan diri dari
kebinasaan dan tidak mengkonsusmsi kadar ini padahal mampu yang berdampak pada dosa.
Kedua, sunnah, yaitu mengkonsusmsi yang lebih dari kadar yang menghindarkan diri dari
kebinasaan dan menjadikan seoarang Muslim mampu shalat dengan berdiri dan mudah berpuasa.
Ketiga, mubah, yaitu sesuatu yang lebih dari yang sunnah sampai batas kenyang. Keempat,
konsusmsi yang melebihi batas kenyang, yang dalam hal ini terdapat dua pendapat, ada yang
mengatakan makruh yang satunya mengatakan haram.

Konsumsi bagi seorang Muslim hanya sekedar perantara untuk menambah kekuatan dalam
mentaati Allah SWT, yang ini memiliki indikasi positif dalam kehidupannya. Seorang Muslim
tidak akan merugikan dirinya di dunia dan akhirat, karena memberikan kesempatan pada dirinya
untuk mendapatkan dan memenuhi konsumsinya pada tingkat melampaui batas, membuatnya
sibuk mengejar dan menikmati kesenangan dunia sehingga melalaikan tugas utamanya dalam
kehidupan ini. "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawi (saja)
dan kamu telah bersenang-senang dengannya" (Al-Ahqaf: 20). Maksud rizki yang baik di sini
adalah melupakan syukur dan mengabaikan orang lain. Oleh sebab itu, konsumsi Islam harus
menjadikannya ingat kepada Yang Maha Memberi rizki, tidak boros, tidak kikir, tidak
memasukkan ke dalam mulutnya dari sesuatu yang haram dan tidak melakukan pekerjaan
haram untuk memenuhi konsumsinya.

Tujuan utama konsumsi seoarang Muslim adalah sebagai sarana penolong untuk beribadah
kepada Allah SWT. Sesungguhnya mengkonsusmsi sesuatu dengan niat untuk meningkatkan
stamina dalam ketaatan pengabdian kepada Allah akan menjadikan konsusmsi itu bernilai ibadah
yang dengannya manusia mendapatkan pahala. Konsusmsi dalam perspektif ekonomi
konvensional dinilai sebagai tujuan terbesar dalam kehidupan dan segala bentuk kegiatan
ekonomi. Bahkan ukuran kebahagiaan seseorang diukur dengan tingkat kemampuannya dalam

Konsumsi Dalam Islam 38


mengkonsusmsi. Konsumsi Islam akan menjauhkan seseorang dari sifat egois, sehingga
seoarang Muslim akan menafkahkan hartanya untuk kerabat terdekat (sebaik-baik infak), fakir
miskin dan orang-orang yang mumbutuhkan dalam rangka mendekatkan diri kepada
penciptanya.

D.               Karakteristik Konsumen Dalam Ekonomi Islam

Selain berfungsi sebagai penopang kehidupan, konsumsi juga berfungsi sebagai salah satu
instrumen untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Amerika yang
selama ini dianggap sebagai kiblat perekonomian negara-negara di dunia, ternyata salah satu
penopangnya adalah tingkat konsumsi masyarakatnya yang sangat tinggi jauh melebihi
tabungannya. Rata-rata jumlah tabungan mereka hanya 2 persen dari total pendapatan,
(presentase ini adalah terendah di dunia), dan inilah yang dianggap membuat perekonomian
Amerika bergairah.

    Namun, apakah dengan cara menggenjot pengeluaran saja Islam memaknai konsumsi.
" Kemaslahatan hakiki yang tercermin dalam sebuah aktifitas manusia, pada dasarnya hanya
bisa diketahui oleh Sang Pencipta-Nya saja. Manusia hanya mengetahui sebagian kecil tanpa
bisa memaknai keseluruhannya, apa yang tidak terlihat olehnya jauh lebih banyak dari yang
bisa dilihatnya, mereka juga lebih sering terburu-buru dalam mewujudkan kemaslahatan
dirinya. Sehingga, yang terjadi adalah kemafsadahan pada kemasalahatan semu yang
membungkusnya. Karena itu, Allah SWT menurunkan para Rasul guna memberikan peringatan
kepada seluruh umat manusia, agar senantiasa kembali kepada kemaslahatan secara sempurna
(agama)".

  Dengan demikian, rasionalisasi konsumsi tidak cukup dimaknai dengan hukum maupun
teori saja, namun juga harus bersandar pada aturan-aturan mendasar yang terdapat dalam ajaran
Islam itu sendiri. Di bawah ini adalah beberapa karakteristik konsumsi dalam prespektif ekonomi
Islam, di antaranya adalah:

1)      Konsumsi bukanlah aktifitas tanpa batas, melainkan juga terbatasi oleh sifat kehalalan dan
keharaman yang telah digariskan oleh syara'. Sebagaimana firman Allah SWT

Konsumsi Dalam Islam 39


‫ ُدوا‬Hَ‫ َّل هَّللا ُ لَ ُك ْم َواَل تَ ْعت‬H‫ا أَ َح‬HH‫ت َم‬
ِ ‫ين آَ َمنُوا اَل تُ َح ِّر ُموا طَيِّبَا‬َ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذ‬
‫ين‬َ ‫إِ َّن هَّللا َ اَل ي ُِحبُّ ْال ُم ْعتَ ِد‬
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah
Allah SWT halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah
SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas".

2)      Konsumen yang rasional (mustahlik al-aqlani) senantiasa membelanjakan pendapatan pada
berbagai jenis barang yang sesuai dengan kebutuhan jasmani maupun ruhaninya. Cara seperti ini
dapat mengantarkannya pada keseimbangan hidup yang memang menuntut keseimbangan kerja
dari seluruh potensi yang ada, mengingat, terdapat sisi lain di luar sisi ekonomi yang juga butuh
untuk berkembang.

3).   Menjaga keseimbangan konsumsi dengan bergerak antara ambang batas bawah dan ambang
batas atas dari ruang gerak konsumsi yang diperbolehkan dalam ekonomi Islam (mustawa al-
kifayah). Mustawa kifayah adalah ukuran, batas maupun ruang gerak yang tersedia bagi
konsumen Muslim untuk menjalankan aktifitas konsumsi. Di bawah mustawa kifayah, seseorang
akan terjerembab pada kebakhilan, kekikiran, kelaparan hingga berujung pada kematian.
Sedangkan di atas mustawa al-kifayah seseorang akan terjerumus pada tingkat yang berlebih-
lebihan (mustawa israf, tabdzir dan taraf).

4).   Memperhatikan prioritas konsumsi antara dlaruriyat, hajiyat dan takmiliyat. "Dlaruriyat adalah
komiditas yang mampu memenuhi kebutuhan paling mendasar konsumen Muslim, yaitu,
menjaga keberlangsungan agama (hifdz ad-din), jiwa (hifdz an-nafs), keturunan (hifdz an-nasl),
hak kepemilikan dan kekayaan (hifdz al-mal), serta akal pikiran (hifdz al-aql). Sedangkan hajiyat
adalah komoditas yang dapat menghilangkan kesulitan dan juga relatif berbeda antar satu orang
dengan lainnya, seperti luasnya tempat tinggal, baiknya kendaraan dan sebagainya. Sedangkan
takmiliyat adalah komoditi pelengkap yang dalam penggunaannya tidak boleh melebihi dua
prioritas konsumsi di atas.

Konsumsi Dalam Islam 40


Penjelasan lain mengenai Dharuriyah, Hajiyah dan Tahsiniyah. Para pakar maqasid
telah memetakan maqasid syariah menjadi beberapa bagian :

1) Kebutuhan Dharuriyat (Primer)

Ialah kemaslahatan yang menjadi dasar tegaknya kehidupan asasi manusia baik yang
berkaitan dengan agama maupun dunia. Jika dia luput dari kehidupan manusia maka
mengakibatkan rusaknya tatanan kehidupan manusia tersebut. Maslahat dharuriyat ini
merupakan dasar asasi untuk terjaminnya kelangsungan hidup manusia. Jika ia rusak, maka akan
muncul fitnah dan bencana yang besar. Yang termasuk dalam lingkup marsalah dharuriyat ini
ada lima macam, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan agama, jiwa, akal, keturunan
dan harta. Umumnya ulama ushul fiqh sependapat tentang lima hal tersebut sebagai maslahat
yang paling asasi.

”Memelihara kelima hal tersebut termasuk kedalam tingkatan dharuriyat. Ia merupakan


tingkatan maslahat yang paling kuat. Diantara contoh-contoh nya, syara’ menetapkan hukuman
mati atas orang kafir yang berbuat menyesatkan orang lain dan menghukum penganut bid’ah
yang mengajak orang lain kepada bid’ahnya, karena hal demikian mengganggu kehidupan
masyarakat dalam mengikuti kebenaran agamanya; memasyarakatkan hukuman qishas,. karena
dengan adanya ancaman hukuman ini dapat terpelihara jiwa manusia; mewajibkan hukuman
had atas peminum khamar, karena dengan demikian dapat memelihara akal yang menjadi sendi
taklif; mewajibkan had zina, karena dengan hal itu dapat memelihara nasab (keturunan);
mewajibkan mendera pembongkar kuburan dan pencuri, karena dengan demikian dapat
memelihara harta yang menjadi sumber kehidupan dimana mereka sangat memerlukannya.”

Secara umum, menghindari setiap perbuatan yang menggakibatkan tidak terpeliharanya salah
satu dari kelima hal pokok (maslahat) tersebut, tergolong dharury (prinsip). Syariat Islam sangat
menekankan pemeliharaan hal tersebut, sehingga demi mempertahankan nyawa (kehidupan)
dibolehkan makan barang terlarang (haram), bahkan diwajibkan sepanjang tidak merugikan
orang lain. Karena itu bagi orang dalam keadaan darurat yang khawatir akan mati kelaparan,
diwajibkan memakan bangkai, daging babi dan minum arak.

Konsumsi Dalam Islam 41


2)      Kebutuhan hajjiyat (Sekunder)

Ialah segala sesuatu yang oleh hukum syara’ tidak dimaksudkan untuk memelihara lima
hal pokok tadi, akan tetapi dimaksudkan untuk menghilangkan kesulitan, kesusahan, kesempitan
dan ihtiyath (berhati-hati) terhadap lima hal pokok tersebut. Dalam lapangan ibadah Islam,
mensyariatkan beberapa hukum rukhshah (keringganan) bilamana kenyataan mendapatkan
kesulitan dalam menjalankan perintah-perintah taklif. Misalnya, Islam memperbolehkan tidak
berpuasa dalam perjalankan dalam jarak tertentu dengan syarat diganti pada hari lain begitu pula
untuk orang yang sedang sakit. Kebolehan meng-qasar shalat adalah juga dalam rangka
memenuhi kebutuhan hajiyat ini. Didalam lapangan muamalat, ialah diperbolehkannya banyak
bentuk transaksi yang dibutuhkan manusia, seperti akad muzara’ah, salam, murabahab, dan
mudharabah.

Dilapangan ’uqubah (sanksi hukum), Islam mensyariatkan hukuman diyat (denda) bagi
pembunuhan tidak disengaja. Perlu ditegaskan bahwa termasuk dalam katagori hajjiyat adalah
memelihara kebebasan individu dan kebebasan beragama. sebab manusia membutuhkan kedua
kebebasan ini. Akan tetapi terkadang manusia menghadapi kesulitan. Termasuk hajjiyah dalam
keturunan, ialah diharamkan berpelukan. Sedang hajjiyat dalam hal harta, seperti diharamkan
ghasab dan merampas, keduanya tidak menyebabkan lenyapnya harta, karena masih mungkin
untuk diambil kembali, sebab keduanya dilakukan secara terang-terangan. Sedangkan hajjiyat
yang berkaitan dengan akal seperti diharamkannya meminum khamar walau hanya sedikit.

3) Kebutuhan Tahsiniyat (Tersier) atau Kamaliyat (Pelengkap)

Ialah tingkat kebutuhan yang apabila tidak terpenuhi tidak mengancam eksistensi salah
satu dari kelima pokok diatas serta tidak pula menimbulkan kesulitan. Yang dimaksud dengan
maslahat jenis ini ialah sifatnya untuk memelihara kebagusan dan kebaikan budi pekerti serta
keindahan saja. Sekiranya kemaslahatan tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan tidaklah
menimbulkan kesulitan dan kegoncangan serta rusaknya tatanan kehidupan manusia. Dengan
kata lain kemaslahatan ini hanya mengacu pada keindahan saja. Sungguhpun demikian
kemaslahatan seperti ini dibutuhkan oleh manusia.

Dalam lapangan ibadah disyariatkan hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan


tahsiniyat seperti Islam menganjurkan berhias ketika hendak kemesjid, dan menganjurkan

Konsumsi Dalam Islam 42


banyak ibadah sunnah. Dalam lapangan muamalat Islam melarang boros, kikir, menaikan
harga, monopoli dan lain-lain. Dalam lapangan ’uqubah Islam memgharamkan membunuh
anak-anak dan wanita dalam peperangan, serta melarang melakukan muslah (menyiksa mayit
dalam peperangan)

Diantara contoh tahsinat yang berkaitan dengan memelihara harta adalah diharamkan
menipu atau memalsukan barang. Perbuatan ini tidak menyentuh secara langsung harta itu
sendiri (eksistensinya), tetapi menyangkut kesempurnaannya. Sebab hal ini berlawanan
kepentingan dengan keingginan membelanjakan harta secara terang dan jelas, serta keinginan
memperoleh gambaran yang tepat tentang untung rugi. Jelaslah kiranya hal ini tidak membuat
cacat terhadap harta pokok (ashul mal), akan tetapi berbenturan dengan kepentingan orang lain
yang membelanjakan hartanya. Contoh tahsinat yang berkenaan denagan memelihara keturunan
adalah diharamkan seorang wanita keluar rumah dengan menggenakan perhiasan. Dalam firman
Allah: Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa)
nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putera-puteri mereka, atau putera-puteri suami mereka, atau Saudara-
saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara
perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak
yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar
diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah,
Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.

Larangan wanita memakai perhiasan diluar rumah ini termasuk kategori tahsinat, karena
memelihara kesempurnaan ashl nasl (pokok keturunan). Selain itu larangan tersebut sebagai
wujud dari kehormatan, kemuliaan, dan dapat menggangkat harkat wanita yang pada dewasa ini
diletakkan pada tempat yang rendah. Tahsinat dalam kaitan dengan memelihara agama
diantaranya adalah larangan terhadap dakwah yang menyimpang, yang tidak menyentuh pokok
keimanan (ashlul itiqad), dimana semakin genjarnya gerakan dakwah semacam ini malah
menimbulkan keraguan terhadap ajaran Islam. Demikian pula larangan mempelajari kitab-kitab

Konsumsi Dalam Islam 43


yang sumber-sumber ajaran agama lain bagi orang yang tidak mampu melakukan studi
perbandingan secara rasional dan mendalam diantara kebenaran-kebenaran agama. Sedangkan
tahsinat yang berkaitan dengan memelihara akal, contohnya seperti melarang kafir dzimmy
meminum dan menjual khamar ditengah masyarakat Muslim, walaupun minuman keras tersebut
dijual khusus untuk kalangan kafir dzimmi sendiri.

E.           Prinsip Dasar Konsumsi dalam Islam

Islam tidak mengakui kegemaran materialistis semata-mata dan pola konsumsi modern.
Islam berusaha mengurangi kebutuhan material manusia yang luar biasa sekarang ini. Untuk
menghasilkan energi manusia selalu mengejar cita-cita spiritualnya. Selanjutnya perintah Islam
mengenai konsumsi dikendalikan oleh lima prinsip, yaitu:

1.                        Prinsip Keadilan.

Prinsip keadilan yang dimaksud adalah mengkonsumsi sesuatu yang halal (tidak haram)
dan baik (tidak membahayakan tubuh). Dan hal ini sesuai dengan surat Al- Baqarah :173

“Sesungguhnya Allah SWT hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan
binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi barang siapa dalam
keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui
batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”. (Al-Baqarah: 173)

Allah SWT mengharamkan darah, daging binatang yang telah mati sendiri dan daging
babi, karena berbahaya bagi tubuh. Allah SWT mengharamkan daging binatang yang ketika di
sembelih diserukan nama selain Allah SWT dengan maksud dipersembahkan sebagai kurban
untuk menyembah berhala dan persembahan bagi orang yang dianggap suci atau siapapun selain
Allah SWT karena berbahaya bagi moral dan spiritual karena hal-hal ini sama dengan
mempersekutukan Tuhan. Kelonggaran diberikan bagi orang yang terpaksa, dan bagi orang yang
suatu ketika tidak mempunyai makanan untuk dimakan. Ia boleh memakan makanan yang
terlarang itu sekedar yang dianggap perlu untuk kebutuhannya ketika itu saja.

Konsumsi Dalam Islam 44


2.                        Prinsip Kebersihan

Syariat yang kedua ini tercantum dalam kitab suci Al-Quran maupun Sunnah tentang
makanan. Harus baik atau cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga
merusak selera. Karena itu, tidak semua yang diperkenankan boleh dimakan dan diminum dalam
semua keadaan. Dari semua yang diperbolehkan makan dan minumlah yang bersih dan
bermanfaat. Makna kebersihan yang lain adalah membersihkan harta kita atau pendapatan kita
sebelum dikonsumsi dengan berzakat. Hal ini menjadi penting, karena jika kita memakan harta
kita sampai habis tanpa mengeluarkan zakatnya terlebih dahulu, maka hal ini sama artinya
dengan kita mencuri harta orang lain kemudian memakannya.

3.            Prinsip Kesederhanaan.

Prinsip ketiga ini mengatur perilaku manusia mengenai makan dan minum adalah sikap
tidak berlebihan yang berarti janganlah makan secara berlebihan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah
Allah SWT halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah
SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(Al-Maidah: 87)

Arti penting ayat ini adalah kenyataan bahwa kurang makan dapat mempengaruhi
pembangunan jiwa dan tubuh, demikian pula bila perut diisi secara berlebihan tentu akan ada
pengaruhnya pada pencernaan (perut). Praktek mematangkan jenis makan tertentu, dengan tegas
tidak dibolehkan dalam Islam.

Menurut Afzalur Rahman, pemborosan paling tidak mengandung tiga arti:

a).          Membelanjakan harta untuk hal-hal yang diharamkan, seperti judi, minuman keras, dan
lain-lain.

b).           Pengeluaran yang berlebih-lebihan untuk barang-barang yang halal, baik di dalam,
apalagi diluar batas kemampuan seseorang.

c).             Pengeluaran untuk amal shaleh, tapi diniatkan untuk pamer.

Kesederhanaan juga bermakna tidak kikir. Kekikiran mengandung dua arti:

Konsumsi Dalam Islam 45


a).         Jika seseorang tidak mengeluarkan hartanya untuk diri dan keluarganya sesuai dengan
kemampuannya.

b).         Jika seseorang tidak membelanjakan sesuatu apapun untuk tujuan- tujuan yang baik dan
amal.

4.                        Prinsip Kemurahan hati.

Allah SWT dengan kemurahan hati-Nya menyediakan makanan dan minuman untuk
manusia. Maka sifat konsumsi manusia juga harus dilandasi dengan kemurahan hati. Maksudnya,
jika memang masih banyak orang yang kekurangan maka hendaklah kita sisihkan rezeki yang
ada pada kita kemudian kita berikan kepada mereka yang sangat membutuhkannya. Tindakan ini
sangat dimuliakan oleh Allah SWT , dimana Allah SWT menyediakan ganjaran yang besar,
menghapuskan dosanya, menghilangkan rasa ketakutan dan kesedihan dari orang yang berinfaq
tersebut.

Misalnya:Jika pendapatan perbulan adalah Rp 10 juta, dan kebutuhan minimum sebesar


Rp 8 juta, maka sisanya Rp 2 juta mestinya diinvestasikan untuk akhirat (diinfaqkan).
Pengeluaran yang Rp 8 juta ini harus dibelanjakan untuk barang-barang yang maslahat (berguna)
dengan memaksimumkan kemaslahatan pengeluaran tadi.

5.                      Prinsip Moralitas.

Bukan hanya mengenai makanan dan minuman langsung tetapi dengan tujuan terakhirnya,
yakni untuk peningkatan atau kemajuan nilai-nilai moral dan spiritual. Seseorang Muslim
diajarkan untuk menyebut nama Allah SWT sebelum makan dan menyatakan terima kasih
kepada-Nya setelah makan. Dengan demikian ia akan merasakan kehadiran Ilahi pada waktu
memenuhi keinginan-keinginan fisiknya. Hal ini penting artinya karena Islam menghendaki
perpaduan nilai-nilai hidup material dan spiritual yang berbahagia. Konsumsi Islam senantiasa
memperhatikan halal-haram, komitmen dan konsekuen dengan kaidah-kaidah dan hukum-hukum
syariat yang mengatur konsumsi agar mencapai kemanfaatan konsumsi seoptimal mungkin dan
mencegah penyelewengan dari jalan kebenaran dan dampak mudharat baik bagi dirinya maupun
orang lain. Adapun kaidah/prinsip dasar konsumsi Islami adalah :

a).      Prinsip syariah, yaitu menyangkut dasar syariat yang harus terpenuhi dalam melakukan
konsumsi di mana terdiri dari:

Konsumsi Dalam Islam 46


 Prinsip akidah, yaitu hakikat konsumsi adalah sebagai sarana untuk ketaatan/beribadah
sebagai perwujudan keya.kinan manusia sebagai makhluk yang mendapati beban
khalifah dan amanah di bumi yang nantinya diminta pertanggungjawaban oleh
penciptanya.
 Prinsip ilmu, yaitu seorang ketika akan mengkonsumsi harus tahu ilmu tentang barang
yang akan dikonsumsi dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya apakah merupakan
sesuatu yang halal atau haram baik ditinjau dari zat, proses, maupun tujuannya.
 Prinsip amaliah, sebagai konsekuensi akidah dan ilmu yang telah diketahui tentang
konsumsi Islami tersebut. Seseorang ketika sudah berakidah yang lurus dan berilmu,
maka dia akan mengkonsumsi hanya yang halal serta menjauhi yang halal atau syubhat.

b).      Prinsip kuantitas, yaitu sesuai dengan batas-batas kuantitas yang telah dijelaskan dalam
syariat Islam, di antaranya

 Sederhana, yaitu mengkonsumsi yang sifatnya tengah-tengah antara menghamburkan


harta dengan pelit, tidak bermewah-mewah, tidak mubadzir, hemat.
 Sesuai antara pemasukan dan pengeluaran, artinya dalam mengkonsumsi harus
disesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya, bukan besar pasak daripada tiang.
 Menabung dan investasi, artinya tidak semua kekayaan digunakan untuk konsumsi tapi
juga disimpan untuk kepentingan pengembangan kekayaan itu sendiri.

c).      Prinsip prioritas, di mana memperhatikan urutan kepentingan yang harus diprioritaskan agar
tidak terjadi kemudharatan, yaitu:

 Primer, yaitu konsumsi dasar yang harus terpenuhi agar manusia dapat hidup dan
menegakkan kemaslahatan dirinya dunia dan agamanya serta orang terdekatnya, seperti
makanan pokok.
 Sekunder, yaitu konsumsi untuk menambah atau meningkatkan tingkat kualitas hidup
yang lebih balk, misalnya konsumsi madu, susu dan sebagainya.
 Tersier, yaitu untuk memenuhi konsumsi manusia yang jauh lebih membutuhkan.

Konsumsi Dalam Islam 47


d).      Prinsip sosial, yaitu memperhatikan lingkungan sosial di sekitarnya sehingga tercipta
keharmonisan hidup dalam masyarakat, di antaranya:

 Kepentingan umat, yaitu saling menanggung dan menolong.


 Keteladanan, yaitu memberikan contoh yang baik dalam berkonsumsi apalagi jika dia
adalah seorang tokoh atau pejabat yang banyak mendapat sorotan di masyarakatnya.
 Tidak membahayakan orang lain yaitu dalam mengkonsumsi justru tidak merugikan dan
memberikan madharat ke orang lain seperti merokok.

e).      Kaidah lingkungan, yaitu dalam mengkonsumsi harus sesuai dengan kondisi potensi daya
dukung sumber daya alam dan keberlanjutannya atau tidak merusak lingkungan.

f).      Tidak meniru atau mengikuti perbuatan konsumsi yang tidak mencerminkan etika
konsusmsi Islami seperti suka menjamu dengan tujuan bersenang-senang atau memamerkan
kemewahan dan menghambur-hamburkan harta.

F. Empat Pedoman Syariah dalam Berkonsumsi

1)      azas maslahat dan manfaat membawa maslahat dan manfaat bagi jasmani dan rohani dan
sejalan dengan nilai maqasid syariah. Termasuk dalam hal ini kaitan konsumsi dengan halal
dan thoyyib.

2)      azas kemandirian : ada perencanaan, ada tabungan, mengutang adalah kehinaan. Nabi
SAW menyimpan sebagian pangan untuk kebutuhan keluarganya selama setahun. “ Ya Allah
jauhkanlah hamba dari kegundahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kebodohan dan
kebakhilan, beratnya utang, serta tekanan orang lain.

3)      azas kesederhanaan : bersifat qanaah, tidak mubazir. “ Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Telah Allah SWT halalkan bagi kamu, dan
janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.”

Konsumsi Dalam Islam 48


4)      azas Sosial : anjuran berinfaq . “ dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka
nafkahkan. Katakanlah, ‘ apa yang lebih dari keperluan (al-afwu). Demikianlah Allah SWT
menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu berpikir.            

G.             Konsep Maslahah Dalam Prilaku Konsumen Islami

Imam Shatibi menggunakan istilah 'maslahah', yang maknanya lebih luas dari sekadar
utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Maslahah merupakan tujuan
hukum syara' yang paling utama. Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan
barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di
muka bumi ini. Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs),
properti atau harta benda (al mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau
keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya
kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu, itulah yang disebut maslahah. Adapun sifat-
sifat maslahah sebagai berikut:

1) Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing
masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan
bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan
oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu. Misalnya, bila seseorang
mempertimbangkan bunga bank memberi maslahah bagi diri dan usahanya, namun syariah
telah menetapkan keharaman bunga bank, maka penilaian individu tersebut menjadi gugur.
2) Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini
sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal di mana seseorang
tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan
penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.
3) Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu
produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi. Dengan demikian seorang
individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan.
4) Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah .

Konsumsi Dalam Islam 49


5) Bagaimana memilih di dalam maslahah jenis pertama: berapa bagian pendapatannya yang
akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia (dalam rangka mencapai
'kepuasan' di akhirat) dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat. Pada tingkat pendapatan
tertentu, konsumen Islam, karena memiliki alokasi untuk hal-hal yang menyangkut akhirat,
akan mengkonsumsi barang lebih sedikit daripada non-Muslim. Hal yang membatasinya
adalah konsep maslahah tersebut di atas. Tidak semua barang/jasa yang memberikan
kepuasan/utility mengandung maslahah di dalamnya, sehingga tidak semua barang/jasa
dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. Dalam membandingkan konsep 'kepuasan'
dengan 'pemenuhan kebutuhan' (yang terkandung di dalamnya maslahah), kita perlu
membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum syara' yakni antara daruriyyah,
tahsiniyyah dan hajiyyah.

H. Norma dan Etika dalam Konsumsi

Nilai-nilai Islam yang harus diaplikasikan dalam konsumsi adalah:

1.        Seimbang dalam Konsumsi

Islam mewajibkan kepada pemilik harta agar menafkahkan sebagian hartanya untuk
kepentingan diri, keluarga, dan fi sabilillah. Islam mengharamkan sifat kikir. Di sisi lain, Islam
juga mengharamkan sikap boros dan menghamburkan harta. Inilah bentuk keseimbangan yang
diperintahkan dalam Al-Quran yang mencerminkan sikap keadilan dalm konsumsi. Seperti yang
diisyaratkan dalam QS. Al-Isra’: 29.

‫وال تجعل يدك مغلولة الى عنقك وال تبسطها ك ّل البسط فتقعد‬
‫ملوما محسورا‬
Artinya: dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada pundakmu dan janganlah
kamu terlalu mengulurkannya karena itu akan membuat kamu tercela dan menyesal.

Konsumsi Dalam Islam 50


2.        Membelanjakan Harta pada Bentuk yang Dihalalkan dan dengan Cara yang Baik

Islam mendorong dan memberi kebebasan kepada individu agar membelanjakan hartanya
untuk membeli barang-barang yang baik dan halal dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Kebebasan itu diberikan dengan ketentuan tidak melanggar batas-batas yang suci serta tidak
mendatangkan bahaya terhadap keamanan dan kesejahteraan masyarakat dan negara. Senada
dengan hal ini Abu al-A’la al-Maududi menjelaskan, Islam menutup semua jalan bagi manusia
untuk membelanjakan harta yang mengakibatkan kerusakan akhlaq di tengah masyarakat, seperti
judi yang hanya memperturutkan hawa nafsu.

Dalam QS. Al-Maidah ayat 88 ditegaskan:

‫ واتّقواهللا الذى انتم به مؤمنون‬،‫وكلوا م ّما رزقكم هللا حالال طيّبا‬


Artinya: dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan
kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Menurut Islam, anugerah Allah SWT itu milik semua manusia dan suasana yang
menyebabkan sebagian diantara anugerah itu berada di antara orang-orang tertentu tidak berarti
bahwa mereka dapat memanfaatkan anugerah itu untuk mereka sendiri, sedangkan orang lain
tidak memiliki bagiannya sehingga banyak diantara anugerah yang diberikan Allah SWT kepada
umat manusia itu masih berhak mereka miliki, walaupun mereka tidak memperolehnya. Dalam
Al-Quran, Allah SWT mengutuk dan membatalkan argumen yang dikemukakan oleh orang kaya
yang kikir karena tidak ada kesediaan mereka memberikan bagian atau miliknya ini.

‫واذاقيل لهم انفقوا ممارزقكم هللا قال الذين كفروا انطعم من‬
‫لويشاء هللا اطعمه ان انتم االّ فى للذين امنوا مبين ضالل‬
Artinya: bila dikatakan kepada mereka, “belanjakanlah sebagian rezeki Allah yang diberikan-
Nya kepadamu”, orang-orang kafir itu berkata, “apakah kami harus memberi makan orang-
orang yang jika Allah menghendaki akan diberi-Nya makan? Sebenarnya kamu benar-benar
tersesat”. (QS. Yaasin: 47)

Konsumsi Dalam Islam 51


Setiap orang mukmin berusa mencari kenikmatan dengan cara mematuhi perintah-NYA
dan memuaskan dirinya sendiri dengan barang-barang dan anugerah yang diciptakan
(Allah SWT) untuk umat manusia demi kemaslahatan umat. Konsumsi berlebih-lebihan, yang
merupakan ciri khas masyarakat yang tidak mengenal tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut
dengan Israf (pemborosan) atau tabzir (menghambur-hamburkan harta tanpa bunga). Tabzir
berarti menggunakan harta dengan cara yang salah, yakni, menuju tujuan yang terlarang seperti
penyuapan, hal-hal yang melanggar hukum atau dengan cara yang tanpa aturan. Pemborosan
berarti penggunaan harta secara berlebihan untuk hal-hal yang melanggar hukum dalam hal
seperti makanan, pakaian, tempat tinggal atau bahkan sedekah. Ajaran Islam menganjurkan pola
konsumsi dan menggunakan harta secara wajar dan berimbang, yakni pola yang terletak diantara
kekikiran dan pemborosan. Konsumsi di atas dan melampaui tingkat muderat (wajar) dianggap
israf dan tidak disenangi Islam.

Salah satu ciri penting dalam Islam bahwa ia tidak hanya mengubah nilai-nilai dan
kebiasaan masyarakat tetapi juga menyajikan kerangka legislatif yang perlu untuk mendukung
dan memperkuat tujuan-tujuan ini dan menghindari penyalahgunaannya. Ciri khas Islam ini juga
memilki daya aplikatifnya terhadap orang yang terlibat dalam pemborosan atau tabzir. Dalam
hukum (fiqh) Islam, orang semacam itu seharusnya dikenai pembatasan-pembatasan dan, bila
dianggap perlu, dilepaskan, dan dibebaskan dari tugas mengurus harta miliknya sendiri. Dalam
pandangan syariah dia seharusnya diperlukan sebagai orang tidak mampu dan orang lain
seharusnya ditugaskan untuk mengurus hartanya selaku wakilnya.

Etika Islam dalam hal konsumsi sebagai berikut:

a).     Tauhid (unity/kesatuan)

Dalam perspektif Islam, kegiatan konsumsi dilakukan dalam rangka beribadah kepada
Allah SWT, sehingga senantiasa berada dalam hukum Allah SWT (syariah). Karena itu, orang
mukmin berusaha mencari kenikmatan dengan menaati perintah-NYA dan memuaskan dirinya
sendiri dengan barang-barang dan anugerah yang dicipta (Allah SWT) untuk umat manusia.
Adapun dalam pandangan kapitalis, konsumsi merupakan fungsi dan keinginan, nafsu, harga
barang, dan pendapatan, tanpa memedulikan dimensi spritual, kepentingan orang lain, dan

Konsumsi Dalam Islam 52


tanggung jawab atas segala perilakunya, sehingga pada ekonomi konvensional manusia diartikan
sebagai individu yang memiliki sifat homo economicus.

b).     Adil (equilibrium/keadilan)

Islam memperbolehkan manusia untuk menikmati berbagai karunia kehidupan dunia


yang disediakan Allah SWT.

‫يايهاالناّس كلوا م ّما فى االرض حالال طيّبا وال تتّبعوا خطوات‬


‫ال ّشيطان انّه لكم عد ّو مبين‬
Artinya: hai sekalia manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan: karena sesungguhnya setan itu ialah
musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-baqarah: 168)

‫قل من حرّم زينت هللا التى اخرج لعباده والطّيّبات من الرّزق‬


‫يوم ال خالصة ال ّدنيافى الحيات قل هى للذين امنوا‬
‫نفصّل االيات لقوم يعلمون قيامة كذالك‬
Artinya: katakanlah: “siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah
dikeluarkan-Nya untuk hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang
baik?” katakanlah: “semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam
kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah kami menjelaskan
ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al-a’raaf: 32)

Pemanfaatan atas karunia Allah SWT tersebut harus dilakukan secara adil sesuai dengan
syariah, sehingga disamping mendapatkan keuntungan materiil, ia juga sekaligus merasakan
kepuasan spritual. Al-Quran secara tegas menekankan norma perilaku ini baik untuk hal-hal
yang bersifat materiil maupun spritual untuk menjamin adanya kehidupan yang berimbang antara
kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karenanya, dalam Islam konsumsi tidak hanya barang-barang
yang bersifat duniawi semata, namun juga untuk kepentingan di jalan Allah (fisabilillah).

Konsumsi Dalam Islam 53


ّ ‫رفيها ففسقوا فيها فح‬
‫ق واذا اردنا ان نهلك قرية أمرنا مت‬

‫عليهاالقول فد ّمرناها تدميرا‬


Artinya: dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan
kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan
(ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS. Al-israa: 16)

c).      Free Will (kehendak bebas)

Alam semesta merupakan milik Allah SWT, yang memiliki kemahakuasaan (kedaulatan)
sepenuhnya dan kesempurnaan atas makhluk-makhluknya. Manusia diberi kekuasaan untuk
mengambil keuntungan dan manfaat sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuannya atas
barang ciptaan Allah SWT. Atas segala karunia yang diberikan oleh Allah SWT, manusia dapat
berkehendak bebas, namun kebebasan ini tidaklah berarti bahwa manusia terlepas dari qadha dan
qadar yang merupakan hukum sebab akibat yang didasarkan pada pengetahuan dan kehendak
Allah SWT. Sehingga kebebasan dalam melakukan aktivitas haruslah tetap memiliki batasan
agar jangan sampai mendzalimi pihak lain. Hal inilah yang tidak dapat dilakukan dalam ekonomi
konvensional, sehingga yang terjadi kebebasan yang dapat mengakibatkan pihak lain menjadi
menderita.

d.     Amanah (Responsibility/Pertanggungjawaban)

Manusia merupakan khalifah atau pengemban amanah Allah SWT. Manusia diberi
kekuasaan untuk melaksanakan tugas kekhalifahan ini dan untuk mengambil keuntungan dan
manfaat sebanyak-banyaknya atas ciptaan Allah SWT. Dalam hal melakukan konsumsi, manusia
dapat berkehendak bebas tetapi akan mempertanggungjawabkan atas kebebasan tersebut baik
terhadap keseimbangan alam, masyarakat, diri sendiri maupun di akhirat kelak.
Pertanggungjawaban sebagai seorang Muslim buka hanya kepada Allah SWT namun juga
kepada lingkungan. Jika ekonomi konvensional, baru mengenla istilah corporate social
responsibility, maka ekonomi Islam telah mengenalnya sejak lama.

Konsumsi Dalam Islam 54


e.     Halal

Dalam karangka acuan Islam, barang-barang yang dapat di konsumsi hanyalah barang-
barang yang menunjukkan nilai-nilai kebaikan, kesucian, keindahan, serta akan menimbulkan
kemaslahatan untuk umat baik secara materiil maupun spiritual. Sebaliknya, benda-benda yang
buruk, tidak suci (najis), tidak bernilai, tidak dapat digunakan dan juga tidak dapat dianggap
barang-barang konsumsi dalam Islam serta dapat menimbulkan kemudaratan apabila dikonsumsi
akan dilarang. Hal ini didukung oleh QS. Al-baqarah: 173

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan
binatang yang (ketika disembelih) disebut selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan
terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

‫كلوا من طيّبت مارزقناكم وال تطغوا فيه فيح ّل عليكم غضبى ومن يحلل عليه‬
‫غضبى فقدهوى‬
Artinya: makanlah diantara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah
melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa
ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesunggunhya binasalah ia. (QS. Thaahaa: 81)

f.      Sederhana

Islam sangat melarang perbuatan yang melampaui batas (israf), termasuk pemborosan
dan berlebih-lebihan (bermewah-mewah), yaitu membuang-buang harta dan menghambur-
hamburkannya tanpa faedah serta manfaat dan hanya memperturutkan nafsu semata. Allah SWT
akan sangat mengecam setiap perbuatan yang melampaui batas.

‫يبنى ءادم خذوا زينتكم عند ك ّل مسجد وكلوا وشربوا وال‬


‫لمسرفين تسرفوا انّه ال يحبّ ا‬
Konsumsi Dalam Islam 55
Artinya: hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan
dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-a’raaf: 31)

‫التح ّرموا طيّبت ما أح ّل هللا لكم وال تعتدوا يأيها الذين أمنوا‬
ّ ‫المعتدين‬
ّ‫ان هللا ال يحب‬
Artinya: hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik, yang
telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-maidaah: 87)

ّ ‫وءات ذا القربى حقّه والمسكين وابن السبيل وال‬


ّ ،‫تبذر تبذيرا‬
‫ان‬
ّ
‫المبذرين كانوا اخوان ال ّشيطين وكان ال ّشيطان لربّه كفورا‬
Artinya: dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya, kepada orang miskin dan
orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara
boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu merupakan saudara-saudara setan dan setan itu
sangat ingkar kepada tuhannya. (QS. Al-israa: 26-27)

I.     Hubungan Konsumsi, Investasi, dan Tabungan

1.            Konsumsi dan Pendapatan

Perbedaan yang terjadi dalam fungsi konsumsi seorang Muslim dengan non Muslim akan
berpengaruh pada fungsi lain seperti fungsi Tabunngan dan Investasi. Hal ini disebabkan karena
dalam fungsi konsumsi perilaku konsumen Muslim dipengaruhi adanya keharusan pembayaran
zakat dalam konsep pendapatan optimum serta adanya larangan pengambilan riba dalam
transaksi apapun termasuk konsumsi, investasi dan tabungan.

Konsumsi Dalam Islam 56


Pendapatan yang siap dibelanjakan seorang Muslim akan berbeda dengan bukan Muslim,
sebab terdapat zakat. Pendapatan seseorang yang telah memenuhi syarat akan dikenakan zakat
sebesar 2,5%. Seseorang biasanya akan menabung sebagian dari pendapatannya dengan beragam
motif, antara lain:

a).    Untuk berjaga-jaga terhadap ketidakpastian masa depan

b).    Untuk persiapan pembelian suatu barang konsumsi dimasa depan

c).    Untuk mengakumulasikan kekayaan

Demikian pula, seseorang akan mengalokasikan dari anggarannya untuk investasi, yaitu
menanamkannya pada sektor produktif. Secara sederhana, alokasi pendapatan seorang Muslim
akan dapat diformulasikan sebagai berikut:

Y−z=C+S+I

Dimana:

Y    : pendapatan
Ct   : konsumsi
S     : tabungan
I      : investasi
Z     : zakat
Ajaran agama Islam sangat mendorong kegiatan menabung dan investasi. Rasulullah SAW
bersabda, “Kamu lebih baik meninggalkan anak keturunanmu kaya daripada miskin dan
bergantung kepada belas kasih orang lain” (HR. Bukhari-Muslim)

2.            Konsumsi dan Tabungan

Alokasi anggaran (pendapatan) untuk konsumsi total berbanding terbalik (negatif) dengan
tabungan. Semakin tinggi konsumsi berarti semakin kecil tabungan dan sebaliknya semakin
besar tabungan akan menguragi tingkat konsumsi. Untuk mencapai tingkat kepuasan yang
optimal sesuai dengan tujuan maslahah, maka seorang Muslim akan mencari kombinasi yang
tepat antara tingkat konsumsi dan tingkat tabungan.

Konsumsi Dalam Islam 57


Zakat dikenakan atas total pendapatan atau harta yang menganggur (idle capacity) yang
kurang atau tidak produktif bagi seorang muzakky. Hal ini berdampak pada peningkatan nilai
konsumsi dan penurunan nilai tabungan. Pelarangan praktek riba dalam setiap transaksi ekonomi
juga akan berdampak pada berkurangnya jumlah konsumsi yang dibiayai oleh bunga tapi hanya
bersifat sementara karena dialihkan kebentuk konsumsi lain. Penerapan zakat bagi mustahiq akan
berdampak pada peningkatan pendapatan dari perolehan zakat, sehingga peningkatan ini akan
mempengaruhi pula pada peningkatan konsumsi mereka, dan bahkan dapat dikatakan
meningkatkan tabungan mereka. Manusia mempunyai kecenderungan untuk menghindar dari
zakat. Sehingga ada beberapa pilihan bagi seseorang yang mempunyai tingkat pendapatan
tertentu untuk mengambil tindakan.

3.            Konsumsi dan Investasi

Berpijak pada asumsi bahwa harta yang digunakan untuk transaksi tabungan dianggap
sebagai harta yang menganggur. Keadaan yang mungkin terjadi dengan penerapan zakat dan
larangan riba terhadap fungsi konsumsi dan investai adalah sebagai berikut:

a) Penerapan zakat atas aset yang kurang atau bahkan tidak produktif berpengaruh pada
peningkatan konsumsi dan investasi.
b) Pelarangan atas riba akan berdampak bagi seorang pelaku ekonomi untuk
mengalokasikan anggarannya lebih kepada bentuk investasi dan bukan tabungan yang
mengandung bunga.
c) Dengan peningkatan konsumsi masing-masing individu akan menimbulkan kenaikan
konsumsi secara nasional.

Melihat paparan di atas sungguh merupakan suatu kondisi yang diharapkan oleh setiap
masyarakat dimana pertumbuhan ekonomi meningkat dengan adanya kesempatan kerja yang ada
serta menurunnya angka kemiskinan.

Konsumsi Dalam Islam 58


J.    perilaku konsumen Muslim.

Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih di


antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumberdaya (resources) yang
dimilikinya.Teori perilaku konsumen Muslim yang dibangun berdasarkan syariah Islam,
memiliki perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. Perbedaan ini menyangkut nilai
dasar yang menjadi fondasi teori, motif dan tujuan konsumsi, hingga teknik pilihan dan alokasi
anggaran untuk berkonsumsi.

Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat Muslim :

1) Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan
seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. Mengutamakan
konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi untuk ibadah merupakan
future consumption (karena terdapat balasan surga di akhirat), sedangkan konsumsi duniawi
adalah present consumption.
2) Konsep sukses dalam kehidupan seorang Muslim diukur dengan moral agama Islam, dan
bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula
kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah SWT merupakan
kunci moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan
bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan.
3) Kedudukan harta merupakan anugrah Allah SWT dan bukan sesuatu yang dengan
sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). Harta merupakan alat untuk
mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar. Perilaku konsumen
adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk
membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka. Fokus
dari perilaku konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk menggunakan
sumber daya mereka yang telah tersedia untuk mengkonsumsi suatu barang.

Konsumsi Dalam Islam 59


K. Perbedaan Perilaku Konsumen Muslim Dengan Perilaku Konsumen Konvensional

Konsumen Muslim memiliki keunggulan bahwa mereka dalam memenuhi kebutuhannya


tidak sekadar memenuhi kebutuhan individual (materi), tetapi juga memenuhi kebutuhan sosial
(spiritual). Konsumen Muslim ketika mendapatkan penghasilan rutinnya, baik mingguan,
bulanan, atau tahunan, ia tidak berpikir pendapatan yang sudah diraihnya itu harus dihabiskan
untuk dirinya sendiri, tetapi karena kesadarannya bahwa ia hidup untuk mencari ridha Allah
SWT, sebagian pendapatannya dibelanjakan di jalan Allah SWT (fi sabilillah). Dalam Islam,
perilaku seorang konsumen Muslim harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Allah (hablu
mina Allah) dan manusia (hablu mina an-nas).

Konsep inilah yang tidak kita dapati dalam ilmu perilaku konsumen konvensional. Selain
itu, yang tidak kita dapati pada kajian perilaku konsumsi dalam perspektif ilmu ekonomi
konvensional adalah adanya saluran penyeimbang dari saluran kebutuhan individual yang
disebut dengan saluran konsumsi sosial. Al-Quran mengajarkan umat Islam agar menyalurkan
sebagian hartanya dalam bentuk zakat, sedekah, dan infaq. Hal ini menegaskan bahwa umat
Islam merupakan mata rantai yang kokoh yang saling menguatkan bagi umat Islam lainnya.

LATIHAN

1.Jelaskan pengertian konsep konsumsi dalam ekonomi Islam ?

2. Apa yang menjadi dasar hukum dalam melaksanakan kegiatan konsumsi dengan konsep

Islami ?

3. Sebutkan dan jelaskan tujuan dan prinsip konsumsi dalam Islam ?

4. Bagaimana karakteristik prilaku konsumen dalam konsep ekonomi Islam ?

5. Coba anda uraikan perbedaan secara spesifik kegiatan konsumsi konsep Islam dengan

konvensional dan buatlah tabel perbandingannya ?

Konsumsi Dalam Islam 60

Anda mungkin juga menyukai