0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan10 halaman

Peran Keluarga dalam Meningkatkan Harga Diri

Dokumen tersebut merangkum tentang satuan acara penyuluhan mengenai harga diri rendah. Penyuluhan ini akan membahas pengertian, gejala, penyebab, dan cara meningkatkan harga diri serta peran keluarga dalam menangani pasien dengan harga diri rendah."
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan10 halaman

Peran Keluarga dalam Meningkatkan Harga Diri

Dokumen tersebut merangkum tentang satuan acara penyuluhan mengenai harga diri rendah. Penyuluhan ini akan membahas pengertian, gejala, penyebab, dan cara meningkatkan harga diri serta peran keluarga dalam menangani pasien dengan harga diri rendah."
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN

“HARGA DIRI RENDAH”

Untuk memenuhi tugas Keperawatan Jiwa

Oleh :
Kevin Elton Messakh
Nim : PO 5303211211584

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KUPANG

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

2021 - 2022
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Hari/tanggal : Selasa, 02 November 2021

Pokok Bahasan : Peran serta keluarga pada klien dengan harga diri
rendah

Pukul : 09.00-09.30 WIB

Sasaran : Keluarga Pasien harga diri rendah di Kelurahan


Merdeka Rt 07

Alokasi Waktu : 30 menit

Tempat : Rumah Klien

1. Tujuan Umum
Pada akhir proses penyuluhan, peserta penyuluhan dapat mengetahui
tentang peran serta keluarga pada klien dengan harga diri rendah.

2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan keluarga pasien harga diri rendah
dapat :
1) Menjelaskan tentang pengertian harga diri rendah.
2) Menjelaskan tentang tanda dan gejala harga diri rendah.
3) Menjelaskan tentang penyebab harga diri rendah.
4) Menjelaskan tentang cara meningkatkan harga diri.
5) Menjelaskan tentang peran keluarga dalam meningkatkan harga diri.
3. Materi
1) Pengertian harga diri rendah.
2) Tanda dan gejala harga diri rendah.
3) Penyebab harga diri rendah.
4) Cara meningkatkan harga diri.
5) Peran keluarga dalam meningkatkan harga diri.

6) Metode
1) Ceramah
2) Diskusi / tanya jawab

7) Media
1) Leaflet

8) Jadwal Pelaksanaan
KEGIATAN KEGIATAN
NO TAHAP WAKTU
PENYULUHAN PESERTA
1 Pembukaan 5 menit  Mengucapkan  Menjawab salam
salam dan
 Memperkenalkan mendengarkan
diri
 Menjelaskan tujuan
dari penyuluhan
 Melakukan kontrak
waktu
 Menyebutkan
materi penyuluhan
yang akan diberikan
2 Pelaksanaan 15 menit  Menjelaskan  Mendengarkan
tentang dan
pengertianharga memperhatikan
diri rendah.  Bertanya tentang
 Menjelaskan materi yang
tentang tanda dan kurang jelas
gejala harga diri
rendah.
 Menjelaskan
tentang penyebab
harga diri rendah.
 Menjelaskan
tentang cara
meningkatkan
harga diri.
 Menjelaskan
tentang peran
keluarga dalam
meningkatkan
harga diri.
3 Evaluasi 5 menit  Menanyakan pada  Menjawab dan
keluarga pasien menjelaskan
tentang materi yang pertanyaan
diberikan dan
reinforcement
kepada keluarga
pasien bila dapat
menjawab dan
menjelaskan
kembali pertanyaan
/ materi.
4 Penutup 5 menit  Mengucapkan  Menjawab salam
terima kasih
 Mengucapkan
salam
9) Pengorganisasian

Pembimbing : Maria W. Bhoki, SST.,M.Kes


Fasilitator : Hadi Mandala
Moderator : Sr, Helena Heret
Penyaji : Kevin Elton Messakh

10) Evaluasi
1) Evaluasi Struktur
a. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di rumah keluarga klien RT
07 , Rw 03 kelurahan Merdeka .
b. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.

2) Evaluasi Proses
a. Keluarga memperhatikan terhadap materi penyuluhan.
b. Keluarga bertanya tentang materi penyuluhan.
c. Keluarga mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara
benar.
3) Evaluasi Hasil
a. Keluarga dapat menjawab pertanyaan yang diajukan tentang harga diri
rendah.
MATERI PENYULUHAN

HARGA DIRI RENDAH

1. Pengertian
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga,tidak berarti dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau
kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena
tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri. ( Yosep,2009)
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri sendiri atau
kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung
diekspresikan. ( Towsend,2008)

2. Tanda dan Gejala


Sedangkan menurut Stuart (2006) tanda- tanda klien dengan harga diri rendah
yaitu :
a. Perasaan malu pada diri sendiri
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri misalnya menyalahkan dan mengejek diri
sendiri.
c. Merendahkan martabat misalnya, saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya
memang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
d. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri, klien tak mau bertemu orang
lain, lebih suka menyendiri.
e. Percaya diri kurang, klien sukar mengambil keputusan yang suram mungkin
memilih alternatif tindakan.
f. Mencederai diri dan akibat HDR disertai dengan harapan yang suram mungin
klien ingin mengakhiri kehidupan.
g. Produktivitas menurun.
h. Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan.
i. Pandangan hidup yang pesimis.
j. Penyalahgunaan obat.
k. Depersonalisasi adalah perasaan tidak realita dan asing terhadap diri sendiri
yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan, serta tidak dapat
meredakan dirinya dengan orang lain.

3. Penyebab
Berbagai faktor menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri seseorang.
Dalam tinjuan life span history klien. Penyebab terjadinya harga diri rendah
adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberi pujian atas
keberhasilannya. Saat individu mencapai masa remaja keberadaannya kurang
dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal
sering gagal di sekolah, pekerjaan atau pergaulan. Harga diri rendah muncul saat
lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya
( Yosep,2009).
Menurut Stuart & Sundeen (2006), faktor-faktor yang mengakibatkan harga
diri rendah kronik meliputi faktor predisposisi dan faktor presipitasi sebagai
berikut :
a. Faktor predisposisi
1) Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang
tua, harapan orang tua yang tidak realistik, kegagalan yang
berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang tidak realistis.
2) Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah stereotipe
peran gender, tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya.
3) Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi
ketidakpercayaan orangtua, tekanan dari kelompok sebaya, dan
perubahan struktur sosial. (Stuart & Sundeen, 2006).
b. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah biasanya adalah
kehilangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk
tubuh,kegagalan atau produktivitas yang menurun. Secara umum,
gangguan konsep diri harga diri rendah ini dapat terjadi secara
emosional atau kronik. Secara situasional karena trauma yang muncul
secara tiba-tiba, misalnya harus dioperasi,kecelakaan,perkosaan atau
dipenjara, termasuk dirawat dirumah sakit bisa menyebabkan harga
diri rendah disebabkan karena penyakit fisik atau pemasangan alat
bantu yang membuat klien sebelum sakit atau sebelum dirawat klien
sudah memiliki pikiran negatif dan meningkat saat dirawat
( Yosep,2009)
Harga diri rendah sering disebabkan karena adanya koping
individu yang tidak efektif akibat adanya kurang umpan balik positif,
kurangnya system pendukung kemunduran perkembangan ego,
pengulangan umpan balik yang negatif, disfungsi system keluarga
serta terfiksasi pada tahap perkembangan awal (Townsend,2008)
a. Penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relistis.
b. Dikucilkan dari teman/ masyarakat.
c. Harapan atau cita-cita yang tidak realistis tidak sesuai dengan
kemampuan diri.
d. Trauma yang tiba-tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai
suami, putus sekolah, putus hubugan kerja,sering mengalami
kegagalan dalam usaha dll.

4. Cara Meningkatkan Harga Diri


a. Ungkapkan pikiran dan perasaan kepada orang lain seperti keluarga, teman
untuk membantu mengatasinya
b. Menggali potensi diri yang dapat dikembangkan untuk mencapai kesuksesan
c. Buat rencana kegiatan yang realistis untuk mencegah resiko kegagalan
d. Yakinkan diri bahwa kegagalan yang pernah dialami adalah kesuksesan yang
tertunda
e. Lakukan kegiatan yang telah direncanakan dengan tekun
f. Jika mengalami masalah selama melakukan kembali kegiatan, mintalah
bantuan orang lain khususnya keluarga

5. Peran keluarga dalam meningkatkan harga diri


a. Tingkatkan kesadaran diri pasien dengan menjalalin hubungan yang baik,
memberikan dan membimbing melakukan peker-jaan yang sesuai dengan
kemampuan pasien.
b. Menggali kelebihan pasien dengan mendorong pasien mengungkapkan
pikiran dan perasaannnya, mengidentifikasi kemampuan positif yang dimiliki
pasien.
c. Mengevaluasi diri pasien dengan memotivasi pasien menungkapkan upaya
yang biasa dilakukan bila menghadapi masalah, dengarkan setiap keluhan
pasien dan bantu memcari alternative pemecahan yang lebih baik.
d. Bantu pasien menetapkan tujuan yang realistis dengan berdiskusi dengan
pasien tentang berbagai rencana kegiatan yang akan dilakukan, utamakan
pekerjaan yang sesuai dan mampu diselesaikan dengan baik.
e. Buatkan jadual kegiatan harian pasien dan berikan pujian jika dapat
melakukan dengan baik.
f. Bila pasien mengalami kegagalan selama melakukan berbagai pekerjaan
jangan menyalahkan tetapi bimbing untuk melaku-kannya dengan baik.
g. Secara bertahap bantu pasien melakukan kegiatan bersama orang
lain/masyarakat.
h. Fasilitasi dan pantau penggunaan obat.
DAFTAR PUSTAKA

Danz, 2012. SAP Harga Diri Rendah. http://danz1309.blogspot.com/p/askep-jiwa-


hdr.htmldiunduh tanggal 22 Januari 2019, Jam 10.45

Herman, 2013. Laporan Pendahuluan Harga Diri Rendah.


http://hermankampus.blogspot.com/2013/04/laporan-pendahuluan-harga-diri-
rendah.html. diunduh tanggal 22 Januari 2019, Jam 11.23

Herdman. (2011). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.


Iskandar, M. D. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.
Keliat. (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa : edisi 2. Jakarta: EGC.
Keliat, C. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Yogyakarta: EGC.
Sundeen, S. &. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Townsend. (2008). Nursing Diagnosis in Psuchiatric Nursing a Pocket Guide for
Care Plan Construction. jakarta: EGC.
Sari, Kartika. (2015).Panduan Lengkap Praktik Klinik Keperawatan Jiwa. Jakarta:
CV.Trans Info Media

Anda mungkin juga menyukai