LP ASKEP
POST DATE
A. PENGERTIAN KEHAMILAN
Kehamilan adalah masa dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin lamanya
adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir
(Saifudin, 2006).
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri mulai sejak
konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan (Manuaba, 2008).
Kehamilan merupakan proses yang diawali dengan adanya pembuahan
(konsepsi), masa pembentukan bayi dalam rahim, dan diakhiri oleh lahirnya sang bayi
(Monika, 2009).
B. Etiologi
Tidak timbulnya his karena kurangnya air ketuban, insufisiensi plasenta dan
kerentanan akan stres. Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron,
peningkatan oksitosin tubuh dan reseptor terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin
sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan lewat waktu terjadi sebaliknya, otot rahim
tidak sensitif terhadap rangsangan karena ketegangan psikologis atau kelainan pada
rahim.
C. Permasalahan Kehamilan Lewat Waktu
Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan
nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia sampai kematian
adalam rahim. Makin menurunnya sirkulasi darah menuju sirkulasi plasenta dapat
mengakibatkan :
1. Pertumbuhan janin makin lambat
2. terjadi perubahan metabolisme janin
3. Air ketuban berkurang dan makin kental
4. Sebagian janin bertambah berat, serhingga memerlukan tindakan persalinan
5. Berkurangnya nutrisi dan O2 ke janin yang menimbulkan asfiksia dan setiap saat
dapat meninggal di rahim.
6. Saat persalinan janin lebih mudah mengalami asfiksia.
(Menurut Manuaba dalam Buku Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk
Pendidikan Bidan, 1998)
D. Tanda Bayi Post Matur
Tanda postterm dapat di bagi dalam 3 stadium (Sarwono Prawirohardjo) :
1. Stadium I
Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering,
rapuh dan mudah mengelupas.
2. Stadium II
Gejala di atas disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit
3. Stadium III
Terdapat pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat
1. Tanda bayi Postmatur (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998)
2. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram)
3. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur
4. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang
5. Verniks kaseosa di bidan kurang
6. Kuku-kuku panjang
7. Rambut kepala agak tebal
8. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel
E. Pengaruh Terhadap ibu dan Janin Terhadap ibuØ Persalinan post matur dapat
menyebabkan distosia karena :
a. Aksi uterus tidak terkoordinir.
b. Janin besar.
c. Moulding kepala besar Maka akan sering dijumpai partus lama, kesalahan letak,
inersia uteri, distosia bahu dan perdarahan post partum.
Terhadap janinØ Jumlah kematian janin/ bayi pada kehamilan 42 minggu 3x lebih
bear dari kehamilan 40 minggu, karena post maturitas pada janin bervariasi, berat
badan janin bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang, sesudah kehamilan 42
minggu ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan.
F. Pemeriksaan Penunjang
a. USG untuk menilai usia kehamilan, digohidramnion dan derajat maturitas plasenta.
b. Penilaian warna air ketuban dengan amnioskopi atau amniotomi (tes tanpa tekanan
dinilai apakah reaktif atau tidak dan tes tekanan oksitosin).
c. Pemeriksaan sitologi vagina dengan indeks kanopiknotik > 20%.
G. Penatalaksanaan
Bila keadaan bayi baik :
a. Tunda pengakhiran kehamilan selama 1 minggu dengan menilai gerakan janin dan
tes tanpa tekanan 3 hari kemudian. Bisa hasil positif segera lakukan SC.
b. Induksi persalinan.
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
a. Pada bayi :
8.1.1 Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 berhubungan dengan asfiksia berat/ringan,
pernafasan tidak teratur, pernafasan cuping hidung, cyanosis, ada lendir pada hidung dan mulut.
8.1.1.1 NOC :
Kebutuhan O2 bayi terpenuhi
Kriteria:
8.1.1.1.1 Pernafasan normal 40-60 kali permenit.
8.1.1.1.2 Pernafasan teratur.
8.1.1.1.3 Tidak cyanosis.
8.1.1.1.4 Wajah dan seluruh tubuh
8.1.1.1.5 Berwarna kemerahan (pink variable).
8.1.1.1.6 Gas darah normal (PH = 7,35 – 7,4, PCO2 = 35 mm Hg, PO2 = 50 – 90 mmHg)
8.1.1.2 NIC
8.1.1.2.1 Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher sedikit
tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas bahu bayi sehingga bahu
terangkat 2-3 cm
8.1.1.2.2 Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.
8.1.1.2.3 Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam
8.1.1.2.4 Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan kadar gas
darah arteri.
8.1.2 Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan Keadaan umum
lemah, reflek menghisap lemah, masih terdapat retensi pada sonde.
8.1.2.1 NOC
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria
8.1.2.1.1 Bayi dapat minum pespeen / personde dengan baik.
8.1.2.1.2 Berat badan tidak turun lebih dari 10%.
8.1.2.1.3 Retensi tidak ada.
8.1.2.2 NIC
8.1.2.2.1 Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi.
8.1.2.2.2 Monitor turgor dan mukosa mulut.
8.1.2.2.3 Monitor intake dan out put.
8.1.2.2.4 Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan.
8.1.2.2.5 Lakukan control berat badan setiap hari.
8.1.3 Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan suhu tubuh diatas normal, tali pusat
layu, ada tanda-tanda infeksi, abnormal kadar leukosit, kulit kuning, riwayat persalinan dengan
ketuban mekonical.
8.1.3.1 NOC
Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi)
Kriteria :
8.1.3.1.1 Tidak ada tanda-tanda infeksi.
8.1.3.1.2 Tidak ada gangguan fungsi tubuh.
8.1.3.2 NIC
8.1.3.2.1 Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan keperawatan.
8.1.3.2.2 Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
8.1.3.2.3 Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi).
8.1.3.2.4 Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2
8.1.3.2.5 Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
8.1.3.2.6 Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala cardinal.
8.1.3.2.7 Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
8.1.3.2.8 Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.
8.1.3.2.9 Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan DL, CRP.
8.1.4 Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan bayi berhubungan dengan Bayi
dirawat di dalam inkubator di ruang intensif, belum ada kontak antara ibu dan bayi.
8.1.4.1 NOC
Terjadinya hubungan batin antara bayi dan ibu
Kriteria:
8.1.4.1.1 Ibu dapat segera menggendong dan meneteki bayi.
8.1.4.1.2 Bayi segera pulang dan ibu dapat merawat bayinya sendiri.
8.1.4.2 NIC
8.1.4.2.1 Jelaskan para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang.
8.1.4.2.2 Bantu orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya.
8.1.4.2.3 Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit.
8.1.4.2.4 Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas).
8.1.4.2.5 Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi
memungkinkan.
8.2 Pada ibu :
8.2.1 Ansietas berhubungan dengan partus macet.
8.2.1.1 NOC
berkurangnya rasa cemas dan mampu mempertahankan koping yang positif
Kriteria :
8.2.1.1.1 Klien merasa tenang dan optimis dengan persalinannya.
8.2.1.1.2 Klien dapat menggunakan teknik relaksasi distraksi atau napas dalam dengan
efektif.
8.2.1.1.3 Menggungkapkan pemahaman situasi individu dan kemungkinan hasil akhir.
8.2.1.1.4 Klien tampak rileks, tanda-tanda vital dalam batas normal TD : 120/80 mmHg,
RR : 18-24 x/menit, Nadi: 80-100 x/menit
8.2.1.2 NIC
8.2.1.2.1 Jelaskan prosedur intervensi keperawatan dan tindakan. Pertahankan komunikasi
terbuka, diskusikan dengan klien kemungkinan efek samping dan hasil, pertahankan sikap
optimis.
8.2.1.2.2 Orientasikan klien dengan pasangan pada lingkungan persalinan.
8.2.1.2.3 Anjurkan tehnik relaksasi seperti teknik distraksi atau napas dalam
8.2.1.2.4 Anjurkan penggungkapan rasa takut atau masalah.
8.2.2 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan jalan lahir kontak terlalu lama dengan
ekstrauteri.
8.2.2.1 NOC
bebas dari tanda-tanda infeksi
Kriteria :
8.2.2.1.1 Suhu tubuh normal 36,5-370C.
8.2.2.1.2 Kontaminasi dapat diminimalkan.
8.2.2.1.3 Cairan amniotic jernih, hampir tidak berwarna dan berbau.
8.2.2.1.4 Pada pemeriksaan laboratorium jumlah leukosit dalam batas normal yaitu 5000-
10000 mm3.
8.2.2.2 NIC
8.2.2.2.1 Pantau tanda-tanda vital.
8.2.2.2.2 Tekankan pentingnya cuci tangan yang baik dan tepat.
8.2.2.2.3 Gunakan teknik aseptik selama melakukan pemeriksaan vagina (VT).
8.2.2.2.4 Pantau tanda-tanda vital dan nilai leukosit.
8.2.2.2.5 Pantau dan gambarkan karakteristik dari cairan amniotic.
Daftar Pustaka
Mochtar, Rustam.1998, Sinopsis Obstetri. Jakarta.EGC
Varney, Helen Dkk.2007, Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4 vo1. Jakarta.EGC
Cunningham, Gary, dkk. 2006. Obstetri William ed.21. Jakarta: EGC
Referensi lainnya :
http://haekalzainalhasan.blogspot.com/2011/03/asuhan-keperawatan-bayi-dengan-post.html
http://www.agung-skep-ns.co.cc/2010/03/askep-pre-post-matur-kehamilan.html
LAPORAN PENDAHULUAN
KEHAMILAN LEWAT WAKTU ( POSTDATE )
a. Konsep Dasar
1. Definisi
Diagnosa usia kehamilan lebih dari 42 minggu di dapatkan dari perhitungan usia
kehamilan,seperti rumus Naegele atau dengan tinggi fundus uteri serial ( Kapita Selekta
Kedokteran Jilid I edisi III.2008)
Kehamilan lewat waktu atau post date adalah kehamilan yang berlangsung sampai
42 minggu (294 hari) atau lebih dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut Naegele
dengan siklus rata – rata 28 hari ( Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo.2008)
Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melebihi 42 minggu belum terjadi
persalinan (Bagus Gde Manuaba.2008)
Kehamilan Post Matur adalah kehamilan yang berlangsung lebih lama dari 42
minggu dihitung berdasarkan rumus Naegle dengan siklus haid rata-rata 28 hari (Rustam
Mochtar. Sinopsis Obstetri. 1998).
2. Etiologi
Seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan, sampai saat ini sebab
terjadinya kehamilan post term belum jelas. Beberapa teori diajukan antara lain sebagai
berikut:
a. Pengaruh Progesteron
b. Teori Oksitosin
c. Teori Kortisol/ ACTH janin
d. Saraf Uterus
e. Heriditer
(Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo,2008)
f. Kurangnya air ketuban
g. Insufisiensi plasenta.
( Kapita Selekta Kedokteran Jilid I Edisi III, 2008)
3. Patofisiologi
Fungsi plasenta mencapai puncaknya ada kehamilan 38 minggu dan kemudian
mulai menurun terutama setelah 42 minggu. Hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan
estriol dan plasental laktogen. Rendahnya fungsi plasenta berkaitan dengan peningkatan
kejadian gawat janin dengan resiko 3 kali. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah
plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 akibat tidak timbul
his sehingga pemasakan nutrisi dan O2 menurun menuju janin di samping adanya
spasme arteri spiralis menyebabkan janin resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim.
Makin menurun sirkulasi darah menuju sirkulasi plasenta dapat mengakibatkan
pertumbuhan janin makin lambat dan penurunan berat disebut dismatur, sebagian janin
bertambah besar sehingga memerlukan tindakan operasi persalinan, terjadi perubahan
metabolisme janin, jumlah air ketuban berkurang dan makin kental menyebabkan
perubahan abnormal jantung janin, (Wiknjosastro, H. 2009, Manuaba, G.B.I,2011 &
Mochtar R, 2009)
4. Manifestasi Klinis
a. Keadaan klinis yang dapat ditemukan jarang ialah gerakan janin yang jarang, yaitu
secara subyektif kurang dari 7 kali per 30 menit atau secara obyektif dengan KTG
kurang dari 10 kali per 30 menit.
b. Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu yang terbagi menjadi :
1. Stadium I, kulit kehilangan vernik kaseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit
kering, rapuh dan mudah mengelupas.
2. Stadium II, seperti stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) di kulit.
3. Stadium III, seperti stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan
tali pusat.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. USG untuk menilai usia kehamilan, oligihidraminon, derajat maturitas plasenta.
b. KTG untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin
c. 42Penilaian warna ait ketuban dengan amnioskopi atau amniotomi (tes tanpa
tekanantes tanpa tekanandinilai apakah reaktif atau tidak dengan tes tekanan oksitosin
d. Pemeriksaan sitologi vagina dengan indeks kariopiknotik > 20 %
( Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid I )
6. Penatalaksanaan
a. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-
baiknya.
b. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiense plasenta, persalinan spontan dapat
ditunggu dengan pengawasan ketat
c. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang
boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.
d. Bila riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim, terdapat
hipertensi, pre-eklampsia, kehamilan ini adalah anak pertama karena infertilitas, pada
kehamilan > 40-42 minggu. Maka ibu dirawat di rumah sakit
e. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada :
1. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang
2. Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau
3. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia,
hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.
(Menurut Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Jilid I)
DAFTAR PUSTAKA
1. Doenges, M.E. 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
2. Mansjoer, Arif. 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta : Media Aesculapius
3. Prawirohardjo, S. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
4. Anonim, 2005. Kumpulan Asuhan Keperawatan Maternitas. Diakses
padawww.google.com tanggal 2 Desember 2010
5. Istyandari, 2003. Asuhan Keperawatan pada Pre dan Post Op Secsio Cesarea. Diakses
pada www.ilmukeperawatan.com tanggal 2 Desember 2010