0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan44 halaman

Praktikum Sistem Produksi: Modul III

Ringkasan dokumen tersebut adalah: Jurnal praktikum sistem produksi modul III membahas pengumpulan data yang digunakan untuk perhitungan line balancing termasuk data produk, kapasitas terpakai, persentase agregasi unit, dan disagregasi family serta setiap produk.

Diunggah oleh

Cecep Nurdin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan44 halaman

Praktikum Sistem Produksi: Modul III

Ringkasan dokumen tersebut adalah: Jurnal praktikum sistem produksi modul III membahas pengumpulan data yang digunakan untuk perhitungan line balancing termasuk data produk, kapasitas terpakai, persentase agregasi unit, dan disagregasi family serta setiap produk.

Diunggah oleh

Cecep Nurdin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL

PRAKTIKUM SISTEM PRODUKSI


MODUL III
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah
Praktikum Sistem Produksi
Oleh:
Zian Zaky Ardhillah 1903010
Cecep Nurdin N 1903022
Asisten :

Heby Delfiana 1803025


Maulida Nurwahidah 1803036
Sely Waladiah 1803094
Rizal Ahmad Priatna 1803044

LABORATORIUM SISTEM PRODUKSI


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI GARUT

2021
I BAB I
PENGUMPULAN DATA
Pada Bab I ini akan menjelaskan mengenai alat dan bahan yang digunakan
pada saat praktikum sistem produksi modul II yaitu mengenai “Perencanaan
Produksi Agregat”, menjelaskan mengenai metodologi praktikum dan langkah
proses perhitungan data.

1.1 Alat Dan Bahan


Berikut adalah alat, bahan dan komponen yang digunakan dalam praktikum
modul III ini :

1.1.1 Alat

Berikut adalah alat-alat yang digunakan dalam praktikum:

a. Alat tulis;

b. Kalkulator;

c. Laptop yang terpasang Software Microsoft Excel

d. Lembar pengamatan

1.1.2 Bahan

Berikut adalah bahan yang digunakan dalam praktikum:


a. Data permitaan produk;
b. Peta proses operasi atau precedence diagram;

1.2 Metodologi Praktikum


Metodologi praktikum membahas tentang langkah-langkah yang dilakukan
sebelum praktikum mulai dari diagram alir dan deskripsinya.
1.2.1 Diagram Alir
START

Tes Lisan

PEMAPARAN
MATERI

TIDAK

PAHAM

YA

Line balancing

ANALISIS

FINISH

Gambar 1.1 Diagram Alir

1.2.2 Langkah-Langkah Praktikum


Berikut adalah langkah-langkah praktikum Modul III :

a. Start

Sebelum memulai praktikum praktikan mengumpulkan tugas pendahuluan


yang sudah ditugaskan terlebih dahulu.

b. Tes Lisan
Sebelum Ke pemaparan Materi Praktikan masuk perkelompok untuk tes
lisan pada tes lisan kali ini praktikan harus merifiew materi modul dua yang
didapatkan pada praktikum sebelumnya.

c. Pemaparan Materi

Pemaparan materi modul 3 tentang line balancing.

d. Line balancing

Dalam tahap ini tim praktikan menghitung data yang sudah dihitung
menggunakan metode peramalan pada modul sebelumnya, lalu dilanjutkan
dengan proses perhitungan line balancing dari metode pembebanan
berurut, metode wilayah dan metode bobot posisi.

e. Analisis

Pada tahap ini tim praktikan melakukan analisis setelah selesai membuat
perhitungan lalu dianalisis mulai dari metode pembebanan berurut, metode
wilayah dan metode bobot posisi.

f. Finish

Setelah selesai melakukan analisis tim praktikan merapikan kembali kelas


untuk yang telah digunakan praktikum

1.3 Pengumpulan Data


Pada Pengumpulan data ini membahas mengenai data yang digunakan untuk
melakukan perhitungan jadwal induk produksi, yaitu data MPS Produk, rencana
produksi serta hari kerja.
1.3.1 Data Kebutuhan Produksi
Berikut ini merupakan data kebutuhan produksi pada pembuatan produk
goodie bag inspeksi,trasportasi, delay dan operasi.
Tabel 1.1 kapasitas terpakai transportasi
Kapasitas Terpakai Transportasi Jumlah/
Rencana Kebutuhan Inventory
Periode RT OT SC
Agregat Produksi
13 14526 2352 0 16878 16878 3873
14 13945 3310 0 17255 17255 2666
15 14526 3107 0 17632 17632 3119
16 14526 3484 0 18010 18010 2741

17 13364 5024 0 18387 18387 704


Tabel Lanjutan 1.2 kapasitas terpakai transportasi
Kapasitas Terpakai Transportasi Jumlah/
Rencana Kebutuhan Inventory
Periode RT OT SC
Agregat Produksi
18 14526 4239 0 18765 18765 1986
19 13945 5303 0 19248 19248 673
20 14526 6226 0 20751 20751 0
21 13945 5976 0 19921 19921 0
22 14526 6226 0 20751 20751 0
23 13945 5976 0 19921 19921 0
24 13945 5976 0 19921 19921 0

1.3.2 Persentase Agregasi Unit


Berikut merupakan persentase agregasi setiap unit pembuatan produk
goodie bag inspeksi,trasportasi, delay dan operasi.
Tabel 1.3 Persentase Agregasi Unit
Presentase Agregasi Unit
Periode Operasi Transportasi Inspeksi Delay Jumlah
1 22% 25% 31% 22% 100%
2 23% 25% 31% 22% 100%
3 22% 25% 30% 23% 100%
4 22% 26% 30% 23% 100%
5 22% 27% 29% 22% 100%
6 21% 27% 29% 23% 100%
7 21% 27% 28% 23% 100%
8 20% 30% 27% 23% 100%
9 20% 29% 26% 25% 100%
10 20% 30% 26% 25% 100%
11 20% 30% 25% 25% 100%
12 20% 29% 25% 27% 100%

1.3.3 Disagregasi Family


Berikut merupakan Diagregasi Family dari pembuatan produk goodie bag
inspeksi,trasportasi, delay dan operasi.
Tabel 1.4 disagregasi family
Disagregasi Family
Periode Operasi Transportasi Inspeksi Delay Jumlah
13 3796 4181 5199 3702 16878
14 3889 4284 5309 3773 17255
15 3888 4435 5286 4023 17632
16 3909 4708 5321 4072 18010
17 3962 4993 5349 4084 18387
18 3984 5144 5398 4238 18765
19 4075 5265 5469 4439 19248
20 4140 6269 5545 4797 20751
21 4021 5822 5160 4917 19921
22 4138 6217 5296 5101 20751
23 3986 5913 5047 4975 19921
24 3909 5763 4945 5304 19921
Faktor Konversi 1,26 1,16 1,11 1,00

1.3.4 Diagregasi Setiap Produk


Berikut merupakan Diagregasi dari pembuatan produk goodie bag
inspeksi,trasportasi, delay dan operasi.
Tabel 1.5 Diagregasi Setiap Produk
Disagregasi Setiap Produk
Periode Operasi Transportasi Inspeksi Delay
13 4802 4850 5764 3702
14 4919 4970 5886 3773
15 4918 5145 5860 4023
16 4944 5462 5899 4072
17 5011 5792 5930 4084
18 5040 5967 5985 4238
19 5154 6107 6064 4439
20 5236 7273 6148 4797
21 5086 6755 5721 4917
22 5234 7212 5871 5101
23 5042 6860 5595 4975
24 4945 6686 5482 5304

1.3.5 Rencana/MPS Produk


Berikut merupakan rencana produksi produk ini biasa disebut dengan MPS
dari pembuatan produk goodie bag inspeksi,trasportasi, delay dan operasi.
Tabel 1.6 Rencana produk
MPS Produk
Periode Operasi Transportasi Inspeksi Delay
13 4802 4850 5764 3702
14 4919 4970 5886 3773
15 4918 5145 5860 4023
16 4944 5462 5899 4072
17 5011 5792 5930 4084
18 5040 5967 5985 4238
19 5154 6107 6064 4439
20 5236 7273 6148 4797
21 5086 6755 5721 4917
22 5234 7212 5871 5101
23 5042 6860 5595 4975
24 4945 6686 5482 5304
jumlah 60330 73078 70206 53425

1.3.6 Hari Kerja


Selain bill of material dan tabel rencana produksi, untuk membuat RCCP
dan jadwal induk produksi juga diperlukan data hari kerja selama 12 periode.
Berikut adalah tabel data hari kerja.
Tabel 1.5 Hari kerja
Priode Hari kerja
13 25
14 24
15 25
16 25
17 23
Tabel Lanjutan 1.5 Hari kerja
Priode Hari kerja
18 25
19 24
20 25
21 24
22 25
23 24
24 24
jumlah 293

1.3.7 Diagram Precedence


1. Diagram Precedence Inspeksi

Gambar 1.2 Diagram precedence inspeksi


2. Diagram Precedence Transportasi

Gambar 1.3 Diagram Precedence Transportasi


3. Precedence Diagram Delay

Gambar 1.4 Diagram Precedence Delay


4. Precedence Diagram operasi
Gambar 1.5 Diagram precedence Operasi

BAB II
PENGOLAHAN DATA
Pada BAB II menjelaskan pengolahan data pada modul III praktikum sistem
produksi mengenai perhitungan line balancing dengan menggunakan metode
bobot posisi, metode pembebanan berurut dan metode wilayah.
2.1 Lintasan Yang Diinginkan
Untuk menghitung waktu lintasan membutuhkan data waktu siklus dan data
jumlah permintaan. Berikut ini merupakan perhitungan waktu lintasan dengan
menggunakan formula dibawah ini:
hari kerja × jam kerja × menit ×detik
waktu lintasan=
jumlah permintaan
a. Inspeksi
293 ×7 × 60× 60
waktu lintasan=
60330
waktu lintasan=122
b. Transportasi
293 ×7 × 60× 60
waktu lintasan=
73078
waktu lintasan=101
c. Operasi
293 ×7 × 60× 60
waktu lintasan=
70206
waktu lintasan=105
d. Delay
293 ×7 × 60× 60
waktu lintasan=
53425
waktu lintasan=13 8
2.2 Metode Bobot Posisi
Dibawah ini merupakan perhitungan dari metode bobot posisi yang diilihat
dari precedence diagram yang telah di jumlahkan dari terbesar ke terkecil, berikut
merupakan perhitungan nya:

2.2.1 Operasi
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode bobot posisi untuk produk operasi:
a. MPS produk
Dimana untuk mps produk ini didapat pada praktikum Analisa
perancangan kerja untuk tabelnya adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 MPS produk
Periode MPS
13 4802
14 4919
15 4918
16 4944
17 5011
18 5040
19 5154
20 5236
21 5086
22 5234
23 5042
24 4945
jumlah 60330

Setelah ditemukan mps dari produk kemudian di hitung untuk mencari


lintas yang diinginkan dimana untuk rumus untuk mencari lintasan yang
diinginkan adalah ;
Lintasana yang dinginkan = jumlah hari kerja x jam kerja x satuan
menit x satuan detik
Limtasan yang di inginkan = 293 x 7 x 60 x 60 : 54223
Lintasan yang di inginkan = 136
b. Operasi pengikut
Untuk mencari pembebanan yang akan menghasilkan rata-rata yang
lebih besar.
Tabel 2.2 operasi pengikut
Operasi
Operas
Bobot WB Pengiku
i
t
1 383 20 2
2 363 18 3
3 345 26 4
4 319 86 5
5 233 86 6
6 147 15 7
7 132 14 8
8 118 11 9
9 107 55 10
10 52 52  
c. Hitung kapasitas dari stasiun kerja
Dimana untuk menghitung mencari stasiun kerja adalah
Jumlah = WB operasi 1 + WB operasi 2 + WB operasi 3 + WB
operasi 4 + WB operasi 5 = Jumlah = 20 + 18 + 26 + 86 + 86 = 236
Tabel 2.3 kapasitas stasiun kerja
Opera Jumla Efisien
Stasiun WB
si h si
1 20
1 2 18 64 52%
3 26
2 4 86 86 70%
5 86
3 6 15 115 94%
7 14
8 11
4 118 97%
9 55
10 52
Efisien
si       78%

d. Hitung efisiensi rata-rata stasiun kerja.


Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 130
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=97 %
Lintasan diinginkan 136
Efisiensi 1+ Efisiensi 2+ Efesiensi3
Rata−rata efisiensi=
n
52 %+70 % +94 %
Rata−rata efisiensi= =78 %
3
Berikut ini adalah tabel dari perhitungan efesiensi dari bobot posisi
yang telah di hitung dari stasiun 1 sampai dengan stasiun 3 sebagai
berikut:
Tabel 2.4 perhitungan nilai efisiensi
Stasiun Operasi WB Jumlah Efisiensi
1 20
1 2 18 64 52%
3 26
Tabel Lanjutan 2.5 perhitungan nilai efisiensi
Stasiun Operasi WB Jumlah Efisiensi
2 4 86 86 70%
5 86
3 6 15 115 94%
7 14
8 11
4 9 55 118 97%
10 52
Efisiensi       78%
Berikut ini adalah precedence diagram dari metode bobot posisi
Gambar 2.1 presedence metode posisi

2.2.2 Transportasi
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode bobot posisi untuk produk trasportasi::
a. MPS produk
Dimana untuk mps produk ini didapat pada praktikum Analisa
perancangan kerja untuk tabelnya adalah sebagai berikut:
Tabel 2.5 MPS produk
Hari
Periode MPS Kerja
13 4850 25
14 4970 24
15 5145 25
16 5462 25
17 5792 23
18 5967 25
19 6107 24
20 7273 25
21 6755 24
Tabel Lanjutan 2.6 MPS produk
Hari
Periode MPS Kerja
22 7212 25
23 6860 24
24 6686 24
jumlah 73078 293
Setelah ditemukan mps dari produk kemudian di hitung untuk mencari
lintas yang diinginkan dimana untuk rumus untuk mencari lintasan yang
diinginkan adalah ;
Lintasana yang dinginkan = jumlah hari kerja x jam kerja x satuan
menit x satuan detik
Limtasan yang di inginkan = 293 x 7 x 60 x 60 : 39637
Lintasan yang di inginkan = 186
b. Operasi pengikut
Tabel 2.6 operasi pengikut
Operasi
Operasi Bobot WB
Pengikut
1 396 33 2
2 296 31 3
3 265 15 4
4 250 33 5
5 220 18 6
6 202 49 7
7 153 16 8
8 137 14 9
9 123 19 10
10 104 30 11
11 74 16 12
12 58 58  
c. Hitung kapasitas dari stasiun kerja
Dimana untuk menghitung mencari stasiun kerja adalah
Jumlah = WB operasi 1 + WB operasi 2 + WB operasi 3 + WB
operasi 4 + WB operasi 5 + WB operasi 6 + WB operasi 7 =
Jumlah = 33 +31 + 15 + 33 + 18 + 49 + 16= 195
Tabel 2.7 kapasitas stasiun kerja

Stasiun Operasi WB Jumlah

1 1 33 79
2 31
3 15
4 33
2 5 18 100
6 49
Tabel Lanjutan 2.7 kapasitas stasiun kerja

Stasiun Operasi WB Jumlah

7 16
8 14
3 9 19 95
10 30
11 16
4 12 58 58

Dimana untuk menentukan stasiun kerja untuk jumlah tidak boleh


lebih dari kapasitas yang di inginkan.
d. Hitung efisiensi rata-rata stasiun kerja.
Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 195
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=99 %
Lintasan diinginkan 186
Efisiensi 1+ Efisiensi 2
Rata−rata efisiensi=
n
78 %+ 99 %
Rata−rata efisiensi= =127 %
2
Berikut ini adalah tabel dari perhitungan efesiensi dari bobot posisi
yang telah di hitung dari stasiun 1 sampai dengan stasiun 2 sebagai berikut:
Tabel 2.8 perhitungan nilai efisiensi

Stasiun Operasi WB Jumlah efesiensi

1 1 33 79 78%
2 31
3 15
4 33
2 5 18 100 99%
6 49
3 7 16 95 94%
Tabel Lanjutan 2.8 perhitungan nilai efisiensi

Stasiun Operasi WB Jumlah efesiensi

8 14
9 19
10 30
11 16
4 12 58 58 57%
Efisiensi 82%

Berikut ini adalah precedence diagram dari metode bobot posisi

Gambar 2. 2 presedence metode posisi


2.2.3 Inspeksi
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode bobot posisi untuk produk inspeksi::
a. MPS produk
Dimana untuk mps produk ini didapat pada praktikum Analisa
perancangan kerja untuk tabelnya adalah sebagai berikut:
Tabel 2.9 MPS produk
Periode MPS
13 5764
14 5886
15 5860
16 5899
17 5930
18 5985
19 6064
20 6148
21 5721

Tabel Lanjutan 2.9 MPS produk


Periode MPS
22 5871
23 5595
24 5482
jumlah 70206

Setelah ditemukan mps dari produk kemudian di hitung untuk mencari


lintas yang diinginkan dimana untuk rumus untuk mencari lintasan yang
diinginkan adalah ;
Lintasana yang dinginkan = jumlah hari kerja x jam kerja x satuan
menit x satuan detik
Limtasan yang di inginkan = 293 x 7 x 60 x 60 : 44890
Lintasan yang di inginkan = 164
b. Operasi pengikut
Untuk mencari pembebanan yang akan menghasilkan rata-rata yang
lebih besar.
Tabel 2.10 operasi pengikut
Operasi
Operas
Bobot WB Pengiku
i
t
1 336 30 2
2 306 19 3
3 287 26 4
4 261 17 5
5 244 17 6
6 227 51 7
7 176 51 8
8 125 91 9
9 34 34 10

c. Hitung kapasitas dari stasiun kerja


Dimana untuk menghitung mencari stasiun kerja adalah
Jumlah = WB operasi 1 + WB operasi 2 + WB operasi 3 + WB
operasi 4 =
Jumlah = 30 +19 + 26 + 17 = 92
Tabel 2.11 kapasitas stasiun kerja

Stasiun Operasi WB Jumlah

1 30
1 2 19 92
3 26
4 17
5 17
2 68
6 51
3 7 51 51
4 8 91 91
5 9 34 34

Dimana untuk menentukan stasiun kerja untuk jumlah tidak boleh


lebih dari kapasitas yang di inginkan, untuk hasil dari stasiun satu
adalah 164
d. Hitung efisiensi rata-rata stasiun kerja.
Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 92
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=64 %
Lintasan diinginkan 164
Efisiensi 1+ Efisiensi 2
Rata−rata efisiensi=
n
88 % +65 %+ 51%
Rata−rata efisiensi= =170 %
3
Berikut ini adalah tabel dari perhitungan efesiensi dari bobot posisi
yang telah di hitung dari stasiun 1 sampai dengan stasiun 2 sebagai berikut:

Tabel 2.12 perhitungan nilai efisiensi


Stasiun Operasi WB Jumlah efesiensi
1 30
2 19
1 92 88%
3 26
4 17
5 17
2 68 65%
6 51
3 7 51 51 49%
4 8 91 91 87%
5 9 34 34 32%
Efisiensi       64%

Berikut ini adalah precedence diagram dari metode bobot posisi

Gambar 2.3 presedence metode posisi


2.2.4 Delay
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode bobot posisi untuk produk delay::
a. MPS produk
Dimana untuk mps produk ini didapat pada praktikum Analisa
perancangan kerja untuk tabelnya adalah sebagai berikut:
Tabel 2.13 MPS produk
Periode MPS
13 3702
14 3773
15 4023
16 4072
17 4084
18 4238
Tabel Lanjutan 2.10 MPS produk
Periode MPS
19 4439
20 4797
21 4917
22 5101
23 4975
24 5304
jumlah 53425

Setelah ditemukan mps dari produk kemudian di hitung untuk mencari


lintas yang diinginkan dimana untuk rumus untuk mencari lintasan yang
diinginkan adalah ;
Lintasana yang dinginkan = jumlah hari kerja x jam kerja x satuan
menit x satuan detik : jumlah MPS
Limtasan yang di inginkan = 293 x 7 x 60 x 60 : 53425
Lintasan yang di inginkan = 138
b. Operasi pengikut
untuk mencari pembebanan yang akan menghasilkan rata-rata yang
lebih besar.
Tabel 2.14 operasi pengikut
Operasi
Operasi Bobot WB
Pengikut
1 303 10 2
2 293 34 3

Tabel Lanjutan 2.11 operasi pengikut


Operasi
Operasi Bobot WB
Pengikut
3 259 21 4

4 238 21 5
5 217 7 6
6 210 28 7
7 182 51 8
8 131 31 9
9 100 9 10
10 91 46 11
11 45 40 12
12 5 5  

c. Hitung kapasitas dari stasiun kerja


Dimana untuk menghitung mencari stasiun kerja adalah
Jumlah = WB operasi 1 + WB operasi 2 + WB operasi 3 + WB
operasi + WB operasi 4 + WB operasi 5 + WB operasi 6 + WB
operasi 7 + WB operasi 8 =
Jumlah = 10+ 34 + 21 + 21 + 7 + 28 + 51 + 31 = 244
Tabel 2.15 kapasitas stasiun kerja
Stasiun Operasi WB Jumlah
1 1 10 121
2 34
3 21

4 21
5 7
6 28
7 51
2 137
8 31

Tabel Lanjutan 2.12 kapasitas stasiun kerja


Stasiun Operasi WB Jumlah
9 9
10 46
11 40
3 45
12 5

Dimana untuk menentukan stasiun kerja untuk jumlah tidak boleh


lebih dari kapasitas yang di inginkan, untuk hasil dari stasiun satu
adalah 244
d. Hitung efisiensi rata-rata stasiun kerja.
Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 313
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=73 %
Lintasan diinginkan 164
Efisiensi 1+ Efisiensi 2+ Efesiensi3
Rata−rata efisiensi=
n
88 % +99 %+ 33 %
Rata−rata efisiensi= =98 %
3
Berikut ini adalah tabel dari perhitungan efesiensi dari bobot posisi
yang telah di hitung dari stasiun 1 sampai dengan stasiun 3 sebagai berikut:
Tabel 2.16 perhitungan nilai efisiensi
Stasiun Operasi WB Jumlah efesiensi
1 10
2 34
3 21
1 121 88%
4 21
5 7
6 28
7 51
2 8 31 137 99%
9 9
Tabel Lanjutan 2.13 perhitungan nilai efisiensi
Stasiun Operasi WB Jumlah efesiensi
10 46
11 40
3 45 33%
12 5
Efisiensi       73%

Berikut ini adalah precedence diagram dari metode bobot posisi

Gambar 2.4 presedence metode posisi

2.3 Metode Pembebanan Berurut


Dibawah ini merupakan perhitungan metode pembebanan berurut membuat
matrik pendahulu dan pengikut untuk setiap operasi kemudian memilih dari
matrik pendahulu yang semua nilainya 0 dan waktu siklusnya paling besar
selanjutnya perhatikan matrik pengikutnya, kemudian di 0 kan pada matrik
pendahulu operasi yang telah dipilih dan terkhir lanjutkan dan hitung efisiensinya.
2.3.1 Operasi
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode pembobotan berurut untuk produk operasi:
Tabel 2.17 Hasil perhitungan metode pembebanan berurut
2. METODE PEMBEBANAN BERURUT
Operasi WB Matriks Pendahulu Matriks Pengikut
1 20 0 0 0 2 0 0
2 18 1 0 0 3 0 0
3 26 2 0 0 4 0 0
4 86 3 0 0 5 0 0
5 86 4 0 0 6 0 0
6 15 5 0 0 7 0 0
7 14 6 0 0 8 0 0
8 11 7 0 0 9 0 0
9 55 8 0 0 10 0 0
10 52 9 0 0 0 0
Berikut merupakan perhitungan yang menunjukkan nilai efisiensi dari
metode pembebanan berurut:
Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun
kerja. Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada
setiap stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 130
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=97 %
Lintasan diinginkan 136
Efisiensi 1+ Efisiensi 2+ Efesiensi3
Rata−rata efisiensi=
n
52 %+70 % +94 %
Rata−rata efisiensi= =78 %
3
Tabel 2.18 Nilai efisiensi metode pembebanan berurut
Operas Jumla
Stasiun WB Efisiensi
i h
1 20
1 2 18 64 52%
3 26
2 4 86 86 70%
3 5 86 115 94%
6 15
7 14
8 11
4 9 55 118 97%
10 52
Efisiensi       78%

2.3.2 Transportasi
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode pembobotan berurut untuk produk transportasi:

Tabel 2.19 Hasil perhitungan metode pembebanan berurut


Operasi WB Matriks Pendahulu Matriks Pengikut
1 33 0 0 0 2 0 0
2 31 1 0 0 3 0 0
3 15 2 0 0 4 0 0
4 33 3 0 0 5 0 0
5 18 4 0 0 6 0 0
6 49 5 0 0 7 0 0
7 16 6 0 0 8 0 0
8 14 7 0 0 9 0 0
9 19 8 0 0 10 0 0
10 30 9 0 0 11 0 0
11 16 10 0 0 12 0 0
12 58 11 0 0 0 0 0

Berikut merupakan perhitungan yang menunjukkan nilai efisiensi dari


metode pembebanan berurut:
Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 195
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=99 %
Lintasan diinginkan 186
Efisiensi 1+ Efisiensi 2
Rata−rata efisiensi=
n
78 %+ 99 %
Rata−rata efisiensi= =127 %
2
Tabel 2.20 Nilai efisiensi metode pembebanan berurut
Jumla
Stasiun Operasi WB Efisiensi
h
1 33
1 2 31 79 78%
3 15
4 33
2 5 18 100 99%
6 49
7 16
8 14
3 9 19 95 94%
10 30
11 16
Tabel Lanjutan 2.14 Nilai efisiensi metode pembebanan berurut
Jumla
Stasiun Operasi WB Efisiensi
h
4 12 58 58 57%
Efisiensi 82%

2.3.3 Inspeksi
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode pembobotan berurut untuk produk inspeksi:
Tabel 2. 21 Hasil perhitungan metode pembebanan berurut
Operasi WB Matriks Pendahulu Matriks Pengikut
1 30 0 0 0 2 0 0
2 19 1 0 0 3 0 0
3 26 2 0 0 4 0 0
4 17 3 0 0 5 0 0
5 17 4 0 0 6 0 0
6 51 5 0 0 7 0 0
7 51 6 0 0 8 0 0
8 91 7 0 0 9 0 0
9 34 8 0 0 0 0 0
Perhitungan efisiensi
Berikut merupakan perhitungan yang menunjukkan nilai efisiensi dari
metode pembebanan berurut:
Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 92
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=64 %
Lintasan diinginkan 164
Efisiensi 1+ Efisiensi 2
Rata−rata efisiensi=
n
88 % +65 %+ 51%
Rata−rata efisiensi= =170 %
3

Tabel 2. 22 Nilai efisiensi metode pembebanan berurut


Stasiun Operasi WB Jumlah efesiensi
1 30
2 19
1 92 88%
3 26
4 17
5 17
2 68 65%
6 51
3 7 51 51 49%
4 8 91 91 87%
5 9 34 34 32%
Efisiensi       64%
Tabel 2.23 Hasil perhitungan metode pembebanan berurut
Operasi WB Matriks Pendahulu Matriks Pengikut
1 10 0 0 0 2 0 0
2 34 1 0 0 3 0 0
3 21 2 0 0 4 0 0
4 21 3 0 0 5 0 0
5 7 4 0 0 6 0 0
6 28 5 0 0 7 0 0
7 51 6 0 0 8 0 0
8 31 7 0 0 9 0 0
9 9 8 0 0 10 0 0
10 46 9 0 0 11 0 0
11 40 10 0 0 12 0 0
12 5 11 0 0 0 0 0
Mancari nilai efesiensi
Berikut merupakan perhitungan yang menunjukkan nilai efisiensi dari
metode pembebanan berurut:
Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 313
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=73 %
Lintasan diinginkan 164
Efisiensi 1+ Efisiensi 2+ Efesiensi3
Rata−rata efisiensi=
n
88 % +99 %+ 33 %
Rata−rata efisiensi= =98 %
3
Tabel 2.24 Nilai efisiensi metode pembebanan berurut
Jumla
Stasiun Operasi WB efesiensi
h
1 10
2 34
3 21
1 121 88%
4 21
5 7
6 28
2 7 51 137 99%
8 31
9 9
10 46
11 40
3 45 33%
12 5
Efisiensi       73%

2.4 Metode Wilayah


Dibawah ini merupakan perhitungan metode wilayah yaitu dengan cara
memindahkan operasi sebelah kiri ke sebelah kanan jangan sampai sejajar dengan
komponen lain kemudian membuat wilayah dari setiap komponen atau perakitan
dari sebelah kiri ke sebelah kanan selanjutnya di input ke dalam tabel matriks
sampai sesuai dengan precedence diagram dan terakhir masukkan ke work station,
jumlah waktu bakunya harus seimbang.
2.4.1 Operasi
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode wilayah untuk produk operasi:
Pembebanan stasiun kerja, putuskan apakah utilisasi waktu telah dapat
diterima. Jika tidak, periksa seluruh pekerjaan yang memiliki hubungan
keterkaitan dengan operasi yang telah dibebankan. Putuskan apakah
penalaran pekerjaan-pekerjaan tersebut akan meningkatkan utilisasi waktu
stasiun kerja, jika ya lakukan perubahan tersebut.
Berikut adalah gambar jaringan atau diagram precedence setelah
digambar ulang;

Gambar 2.5 Presedence diagram metode wilayah


Berikut adalah table 2.6 yang merupakan hasil dari perhitungan
metode wilayah:
Tabel 2. 25 Hasil perhitungan metode wilayah
Wilaya Operas Jumla
h i WB h
I 1 20  
II 2 18  
III 3 26  
IV 4 86  
V 5 86  
VI 6 15  
VII 7 14  
VIII 8 11  
IX 9 55  
X 10 52  

Berikut merupakan table 2.7 yang menunjukkan nilai efisiensi dari


metode wilayah:

Jumla
Work Operas Wakt h Efisiens
Stasiun i u Waktu i
1 20
1 2 18 64 52%
3 26
2 4 86 86 70%
5 86
3 6 15 115 94%
7 14
8 11
4 9 55 118 97%
10 52
Efisiensi       78%
Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 130
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=97 %
Lintasan diinginkan 136
Efisiensi 1+ Efisiensi 2+ Efesiensi3
Rata−rata efisiensi=
n
52 %+70 % +94 %
Rata−rata efisiensi= =78 %
3
Berikut ini adalah tabel efesiensi dari metode wilayah;
Tabel 2.26 Nilai efisiensi metode wilayah
Work Jumlah
Stasiun Operasi Waktu Waktu Efisiensi
1 20
1 2 18 64 52%
3 26
2 4 86 86 70%
5 86
3 6 15 115 94%
7 14

Tabel Lanjutan 2.26 Nilai efisiensi metode wilayah


Work Jumlah
Stasiun Operasi Waktu Waktu Efisiensi
8 11
4 9 55 118 97%
10 52
Efisiensi       78%

Proses pembuatan line balancing ini menggunakan beberapa


pendekatan atau beberapa metode. Berikut adalah metode bobot
posisi,metode pembebanan berurut dan metode pembebanan wilayah.
2.4.2 Transportasi
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode wilayah untuk produk transportasi:
a. Pembebanan stasiun kerja, putuskan apakah mutilisasi waktu telah
dapat diterima. Jika tidak, periksa seluruh pekerjaan yang memiliki
hubungan keterkaitan dengan operasi yang telah dibebankan. Putuskan
apakah penalaran pekerjaan-pekerjaan tersebut akan meningkatkan
utilisasi waktu stasiun kerja, jika ya lakukan perubahan tersebut.
Berikut adalah gambar jaringan atau diagram precedence setelah
digambar ulang;

Gambar 2.6 Presedence diagram metode wilayah


Berikut adalah table 2.14 yang merupakan hasil dari perhitungan
metode wilayah:

Tabel 2. 27 Hasil perhitungan metode wilayah


Wilayah Operasi WB Jumlah
I 1 33  
II 2 31  
III 3 15  
IV 4 33  
V 5 18  
VI 6 49  
VII 7 16  
VIII 8 14  
IX 9 19  
X 10 30  
XI 11 16  
XII 12 58  
b. Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 195
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=99 %
Lintasan diinginkan 186
Efisiensi 1+ Efisiensi 2
Rata−rata efisiensi=
n
78 %+ 99 %
Rata−rata efisiensi= =127 %
2
Berikut ini adalah tabel efesiensi dari metode wilayah;
Tabel 2.28 Nilai efisiensi metode wilayah
Work Stasiun Operasi Waktu Jumlah Waktu Efisiensi
1 33
1 2 31 79 78%
3 15
4 33
2 5 18 100 99%
6 49

Tabel Lanjutan 2.28 Nilai efisiensi metode wilayah


Work Stasiun Operasi Waktu Jumlah Waktu Efisiensi
7 16
8 14
3 9 19 95 94%
10 30
11 16
4 12 58 58 57%
Efisiensi 82%
Proses pembuatan line balancing ini menggunakan beberapa
pendekatan atau beberapa metode. Berikut adalah metode bobot
posisi,metode pembebanan berurut dan metode pembebanan wilayah.

2.4.3 Inspeksi
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode wilayah untuk produk inspeksi:
Pembebanan stasiun kerja, putuskan apakah mutilisasi waktu telah
dapat diterima. Jika tidak, periksa seluruh pekerjaan yang memiliki
hubungan keterkaitan dengan operasi yang telah dibebankan. Putuskan
apakah penalaran pekerjaan-pekerjaan tersebut akan meningkatkan utilisasi
waktu stasiun kerja, jika ya lakukan perubahan tersebut.
Berikut adalah gambar jaringan atau diagram precedence setelah
digambar ulang;

Gambar 2.2 Presedence diagram metode wilayah

Berikut adalah table 2.22 yang merupakan hasil dari perhitungan


metode wilayah:
Tabel 2. 29 Hasil perhitungan metode wilayah
Wilaya Operas Jumla
h i WB h
I 1 30  
II 2 19  
III 3 26  
IV 4 17  
V 5 17  
VI 6 51  
VII 7 51  
VIII 8 91  
IX 9 34  

Berikut merupakan table 2.23 yang menunjukkan nilai efisiensi dari


metode wilayah:
Table 2.30 nilai efisiensi dari metode wilayah
Operas
Stasiun WB Jumlah efesiensi
i
1 30
2 19
1 92 88%
3 26
4 17
5 17
2 68 65%
6 51
3 7 51 51 49%
4 8 91 91 87%
5 9 34 34 32%
Efisiensi       64%

Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.


Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 92
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=64 %
Lintasan diinginkan 164
Efisiensi 1+ Efisiensi 2
Rata−rata efisiensi=
n
88 % +65 %+ 51%
Rata−rata efisiensi= =170 %
3
Berikut ini adalah tabel efesiensi dari metode wilayah;
Tabel 2.31 Nilai efisiensi metode wilayah
Operas
Stasiun WB Jumlah efesiensi
i
1 30
2 19
1 92 88%
3 26
4 17
2 5 17 68 65%
6 51
3 7 51 51 49%
4 8 91 91 87%
5 9 34 34 32%
Efisiensi       64%

Proses pembuatan line balancing ini menggunakan beberapa


pendekatan atau beberapa metode. Berikut adalah metode bobot
posisi,metode pembebanan berurut dan metode pembebanan wilayah.
2.4.4 Delay
Berikut adalah prosedur untuk membuat line balancing dengan
metode wilayah untuk produk delay:
Pembebanan stasiun kerja, putuskan apakah mutilisasi waktu telah
dapat diterima. Jika tidak, periksa seluruh pekerjaan yang memiliki
hubungan keterkaitan dengan operasi yang telah dibebankan. Putuskan
apakah penalaran pekerjaan-pekerjaan tersebut akan meningkatkan utilisasi
waktu stasiun kerja, jika ya lakukan perubahan tersebut.
Berikut adalah gambar jaringan atau diagram precedence setelah digambar
ulang;

Gambar 2.7 Presedence diagram metode wilayah


Berikut adalah table 2.30 yang merupakan hasil dari perhitungan metode
wilayah:
Tabel 2. 32 Hasil perhitungan metode wilayah
Wilayah Operasi WB Jumlah
I 1 10  
II 2 34  
III 3 21  
IV 4 21  
V 5 7  
VI 6 28  
VII 7 51  
VIII 8 31  
IX 9 9  
X 10 46  
XI 11 40  
XII 12 5  

Berikut merupakan table 2.31 yang menunjukkan nilai efisiensi dari


metode wilayah:
Nilai efisiensi rata-rata didapatkan dari efisiensi setiap stasiun kerja.
Nilai efisiensi sendiri didapatkan dari jumlah waktu baku pada setiap
stasiun dibagi dengan waktu siklus.
Jumlah 313
Efisiensi= x 100 %= X 100 %=73 %
Lintasan diinginkan 164
Efisiensi 1+ Efisiensi 2+ Efesiensi3
Rata−rata efisiensi=
n
88 % +99 %+ 33 %
Rata−rata efisiensi= =98 %
3
Berikut ini adalah tabel efesiensi dari metode wilayah;
Tabel 2. 33 Nilai efisiensi metode wilayah
Work Operas Jumlah Efisiens
Stasiun i Waktu Waktu i
1 10
2 34
1 121 88%
3 21
4 21
5 7
6 28
7 51
8 31
2 137 99%
9 9
10 46
11 40
3 45 33%
12 5
Efisiensi       73%

Proses pembuatan line balancing ini menggunakan beberapa


pendekatan atau beberapa metode. Berikut adalah metode bobot
posisi,metode pembebanan berurut dan metode pembebanan wilayah.

BAB III
PEMBAHASAN DAN ANALISA DATA
Pada BAB III ini akan dijelaskan mengenai pembahasan dan analisis data
kesimpulan berdasarkan perhitungan line balancing produksi pada pengolahan
data di BAB II.
3.1. Pembahasan
Berikut ini merupakan pembahasan penggunaan line balancing dalam
pembuatan goodie bag menggunakan 3 metode yang digunakan;
3.1.1 Operasi
Pembuatan Line balancing pada proses produksi Goodie bag ini
menggunakan metode dengan nilai efisiensi yang paling besar. Berikut
adalah table 3.1 yang menunjukkan rekapitulasi nilai efisiensi dari ketiga
metode dari pembuatan goodie bag Operasi adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Rekapitulasi nilai efisiensi
Metode Nilai Efisiensi
Bobot Posisi 78 %
Pembebanan Berurt 78 %
Wilayah 78 %
Berdasarkan table diatas, dapat dilihat bahwa nilai efisiensi dari ketiga
metode tersebut sama. Maka, metode yang dipilih boleh yang mana saja.
Sebagai contoh, metode yang dipilih adalah metode wilayah.

3.1.2 Transportasi
Pembuatan Line balancing pada proses produksi Goodie bag ini
menggunakan metode dengan nilai efisiensi yang paling besar. Berikut
adalah rekapitulasi nilai efisiensi dari ketiga metode dari pembuatan goodie
bag Transportasi sebgai berikut:
Tabel 3. 2 Rekapitulasi nilai efisiensi
Metode Nilai Efisiensi
Bobot Posisi 82 %
Pembebanan Berurt 82 %
Wilayah 82 %

Tabel 3.3 Tabel Rekapitulasi nilai efisiensi


Metode Nilai Efisiensi
Bobot Posisi 64 %
Pembebanan Berurt 64 %
Wilayah 64 %
Pembuatan Line balancing pada proses produksi Goodie bag ini
menggunakan metode dengan nilai efisiensi yang paling besar. Berikut
adalah rekapitulasi nilai efisiensi dari ketiga metode dari pembuatan goodie
bag Delay adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4 Tabel Rekapitulasi nilai efisiensi
Metode Nilai Efisiensi

Bobot Posisi 73 %
Pembebanan Berurt 73 %
Wilayah 73 %
Berdasarkan table diatas, dapat dilihat bahwa nilai efisiensi dari ketiga
metode tersebut sama. Maka, metode yang dipilih boleh yang mana saja.

3.2. Analisis

Berikut ini merupakan analisis dari pembahasan yang telah dipaparkan


sebelumnya yang di dapatkan pada praktikum modul III ini tentang line balancing.

3.2.1 Operasi
Kita dapat menganalisis bahwa tingkat efisiensi setiap metode yang
dilakukan adalah sama yaitu 78%, maka kita akan memilih salah satu
metode sebagai pembahasan hasil. Berikut adalah table perhitungan metode
Wilayah :

Tabel 3.5 Hasil Trial error metode wilayah


Work Operas Jumlah Efisiens
Stasiun i Waktu Waktu i
1 20
1 2 18 64 52%
3 26
2 4 86 86 70%
5 86
3 6 15 115 94%
7 14
8 11
4 9 55 118 97%
10 52
Efisiensi       78%

Hasil perhitungan pada metode wilayah diketahui bahwa masing-


masing stasiun kerja dapat bekerja optimal rata rata 78%.. Berdasarkan hasil
ini, maka ilustrasi stasiun kerjanya ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 3. 1 diagram precedence wilayah

3.2.2 Transportasi
Pada produk transportasi dari ketiga metode perhitungan line
balancing, ketiga metode tersebut memiliki persamaan tingkat efisiensi yaitu
82%, maka dari itu kita dapat memilih salah satu metode dan dalam hal ini
kami memilih metode wilayah. Berikut perhitungannya:
Tabel 3.6 Hasil Trial error metode wilayah
Work Jumlah
Stasiun Operasi Waktu Waktu Efisiensi
1 33
1 2 31 79 78%
3 15
Tabel lanjutan 3.6 Hasil Trial error metode wilayah
Work Jumlah
Stasiun Operasi Waktu Waktu Efisiensi
4 33
2 5 18 100 99%
6 49
7 16
8 14
3 9 19 95 94%
10 30
11 16
4 12 58 58 57%
Efisiensi 82%
Hasil perhitungan pada metode wilayah diketahui bahwa masing-
masing stasiun kerja dapat bekerja optimal rata rata 82%.. Berdasarkan hasil
ini, maka ilustrasi stasiun kerjanya ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 3. 2 Diagram precedence wilayah transportasi

3.2.1 Inspeksi
Pada produk Inspeksi dari ketiga metode perhitungan line balancing,
ketiga metode tersebut memiliki persamaan tingkat efisiensi yaitu 64%,
maka dari itu kita dapat memilih salah satu metode dan dalam hal ini kami
memilih metode wilayah. Berikut perhitungannya:
Tabel 3.7 Hasil Trial error metode wilayah
Operas
Stasiun WB Jumlah efesiensi
i
1 30
2 19
1 92 88%
3 26
4 17
5 17
2 68 65%
6 51
3 7 51 51 49%

Operas
Stasiun WB Jumlah efesiensi
i
4 8 91 91 87%
5 9 34 34 32%
Efisiensi       64%
Hasil perhitungan pada metode wilayah diketahui bahwa masing-
masing stasiun kerja dapat bekerja optimal rata rata 64%.. Berdasarkan hasil
ini, maka ilustrasi stasiun kerjanya ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 3. 3 Diagram precedence metode wilayah inspeksi

3.2.2 Delay

Pada produk Delay dari ketiga metode perhitungan line balancing,


ketiga metode tersebut memiliki persamaan tingkat efisiensi yaitu 73%,
maka dari itu kita dapat memilih salah satu metode dan dalam hal ini kami
memilih metode wilayah. Berikut perhitungannya:
Tabel 3.8 Hasil Trial error metode wilayah
Work Operas Jumlah Efisiens
Stasiun i Waktu Waktu i
1 10
2 34
3 21
1 121 88%
4 21
5 7
6 28

Anda mungkin juga menyukai