Nama : Muhammad Arya Nadifa
NIM : 41721010028
Prodi : Design Interior
Desain Interior
Desain interior adalah suatu sistem perencanaan dan pengaturan ruang dan tata letak
di dalam suatu bangunan sehingga mampu memenuhi nilai kehidupan dan seni
(estetika) serta meningkatkan psikologi dan spiritual penggunanya.
Desain interior adalah suatu sistem penata ruang dalam yang berfungsi sebagai tempat
bernaung dari kondisi lingkungan dengan ciptaan suasana dan citra ruang yang
memenuhi persyaratan kenyamanan, keamanan, kepuasan kebutuhan fisik dan spiritual
penggunanya tanpa mengabaikan faktor estetika.
Komponen-komponen dalam Desain Interior
• Komponen Fisik (Tangible-bisa diraba ); meliputi dinding, lantai, plafon, sistem
pencahayaan, penghawaan, akustik, material, elemen-elemen interior, furniture,
dsb.
• Komponen Psikologis (Intangible – bisa dirasakan); meliputi warna, tekstur
material, efek pencahayaan, efek penghawaan, gaya, tema, dsb.
Permasalahan dalam desain
• Fungsional
Bahwa suatu desain harus fungsional.
• Informasi
Berisi data yang harus dilengkapi dalam pembuatan suatu karya.
• Nilai Visual
Nilai yang menyatakan bahwa desain tersebut indah, baik, bagus, buruk, dsb
menjadi kualitas visual suatu desain
Menilai kualitas Visual Desain Interior
• Suatu desain tidak harus indah secara visual. Tidak semua desain yang indah itu
baik. Namun yang terpenting adalah keterkaitan desain tersebut dengan tujuan
perancangan, sasaran perancangan, ide-ide, dsb yang tertuang dalam konsep
desain.
• Desain yang baik haruslah Kontekstual, ada kesinambungan antara
visualisasi dengan konsepnya.
Beberapa desain yang kontekstual
Ruang kelas Bauhaus, cenderung monoton namun simpel, terorganisasi baik,
kontekstual sesuai dengan konsep desain Modern.
Dari segi komposisi visual sangat monoton, namun karena sesuai dengan konsepnya
yang simpel, miskin ornamentasi, puristis, mudah dibuat (mewakili semangat
Modernisme pada saat itu) maka desain arsitektur ini dapat dikatakan Kontekstual.
Romo Mangun ingin agar kalangan menengah-bawah juga dapat merasakan keindahan
seni & desain yang dianggap sebagai barang mahal. Maka Ia merancang suatu “rumah
kampung” yang sederhana dengan hiasan elemen2 mural yang beraneka ragam.
Rumah yang sederhana dapat terlihat istimewa dan kontekstual sesuai konsepnya.
Karya Leonard Theosabrata.
Sekilas, dari segi bentuk dapat dikatakan “standar”, namun konsepnya sebagai kursi
yang ergonomis dan menunjang kesehatan dari bentuk, material, dan ukuran dapat
dikatakan konstekstual
• Secara garis besar, sebuah desain dapat dikatakan memenuhi kriteria
tercapainya tujuan jika:
• Desain memenuhi kriteria fungsi.
• Desain memenuhi kriteria produksi.
• Desain memenuhi kriteria operasional.
• Desain dapat digunakan.
• Desain harus memenuhi nilai etik yang berlaku pada masyarakat tertentu.
Desain interior merupakan kegiatan merencanakan, merancang dan menata ruang-
ruang interior dalam bangunan. Desain interior berfungsi untuk memenuhi kebutuhan
dasar akan sarana untuk bernaung dan berlindung, menentukan sekaligus mengatur
aktivitas, memelihara aspirasi dan mengekspresikan ide, tindakan serta penampilan,
perasaan dan kepribadian.
Dalam praktiknya, ada tujuh hal yang menjadi elemen dasar dalam desain interior, yang
meliputi ruang, garis, bentuk, pencahayaan, tekstur, dan pola.
Kunci dalam mendesain sebuah ruang yang estetis adalah menjaga agar keseluruhan
elemen bisa seimbang. Selain mempercantik penampilan sebuah ruangan,
mengharmoniskan ketujuh elemen juga dapat menambah fungsionalitas ke dalam
setiap ruang.
Seorang desainer interior akan menilai sebuah ruangan berdasarkan elemen-elemen
dasar desain interior ini. Elemen-elemen tersebut akan digunakan
untuk menyamarkan berbagai kekurangan dan menonjolkan berbagai kelebihan dari
ruangan tersebut.
Ruang
Ruang adalah sebuah bentuk tiga dimensi tanpa batas karena objek dan peristiwa
memiliki posisi dan arah relatif. Ruang juga dapat berdampak pada perilaku manusia
dan budaya, menjadi faktor penting dalam arsitektur, dan akan berdampak pada desain
bangunan dan struktur. Dalam dunia desain interior, kita memiliki peluang untuk
memaksimalkan tiga dimensi ruang, yaitu panjang, lebar, dan tinggi. Tiga dimensi ruang
ini bisa diisi atau dibiarkan kosong, tergantung pada apa yang ingin didapatkan jika
dilihat dari segi fungsionalitas.
Dalam dunia Desain Interior dikenal pula ruang positif dan negatif. Ruang positif adalah
ruang yang diisi barang-barang, sementara ruang negatif adalah ruang kosong (jarak
antar benda bisa juga disebut sebagai ruang negatif).
Kedua jenis ruang tersebut penting untuk diseimbangkan agar tidak
terkesan terlalu padat dan juga tidak terlalu polos.
Keseimbangan ini dipengaruhi oleh kebutuhan pengguna ruang dan fungsionalitas yang
dibutuhkannya. Selain itu perlu dipertimbangkan skala dan ukuran furnitur serta objek-
objek yang ada di dalam ruangan.
Furnitur dan objek-objek yang dimaksud dapat membuat ruangan terlihat lebih besar
atau lebih kecil. Misalnya,lemari pakaian yang tinggi bisa membuat ilusi ruangan terlihat
lebih tinggi. Apa pun konsep desain yang diinginkan, cara memanfaatkan dan
menyeimbangkan ruang yang tersedia bisa menjadi pembeda antara konsep desain
yang sesuai harapan dengan desain yang tidak diinginkan
Garis
Garis horizontal, vertikal, dan dinamis bisa membantu membentuk ruangan yang
mempengaruhi pandangan kita. Menciptakan garis menggunakan furnitur dan objek-
objek serta desain struktural di dalam ruangan dapat membentuk harmoni,
kesinambungan, dan kontras.
Garis-garis horizontal yang ada pada meja dan permukaan lainnya memberikan kesan
stabil, formal, dan efisien. Desainer interior menyorot garis-garis horizontal untuk
membuat ruangan terlihat lebih lebar atau panjang, dan mengarahkan pandangan pada
elemen penting pada ruangan. Namun, terlalu mengedepankan garis horizontal akan
membuat ruangan terlihat membosankan dan menjemukan. Yang terpenting adalah
tetap menjaga agar semua elemen seimbang.
Garis vertikal yang ada dalam ruang akan memberikan kesan bebas dan kokoh. Dalam
tingkatan fungsional, mengedepankan garis vertikal memberikan ilusi ruangan terlihat
lebih tinggi. Garis vertikal harus diterapkan dengan berbagai pertimbangan agar
harapan pengguna ruang terpenuhi.
Garis-garis dinamis merujuk pada garis diagonal, zigzag, atau lengkungan. Garis-garis
tersebut dapat dilihat pada beberapa elemen di dalam ruangan, seperti anak tangga,
dan memberikan energi serta pergerakan pada struktur ruangan.. Tetapi, terlalu banyak
garis dinamis pada sebuah ruangan juga bisa terasa mengganggu kehadiran garis
horizontal dan vertikal.
Bentuk
Dengan mengombinasikan berbagai bentuk geometris pada sebuah ruangan,
maka ruangan akan nyaman dipandang dan tidak membosankan. Ruangan dapat
terlihat memiliki kesan tersendiri.
Yang dimaksud dengan bentuk di sini adalah bentuk fisik dari segala sesuatu
yang ada di dalam ruangan yang memiliki tiga dimensi. Bentuk biasanya terdiri dari
bentuk geometris dan natural. Bentuk geometris biasanya terdapat pada garis-garis
yang menonjol dan sudut-sudut, serta terlihat seperti buatan manusia. Sebaliknya,
bentuk natural adalah bentuk-bentuk organik yang dibuat oleh alam sehingga
bentuknya lebih asimetris.
Hal lain yang harus dipertimbangkan dari bentuk adalah proporsi dan skala
ruangan yang dibandingkan dengan objek di dalamnya. Menambahkan benda-benda
dengan bentuk yang serupa akan mencipatakan harmoni dan keseimbangan,
sedangkan menambahkan terlalu banyak bentuk yang berbeda akan terasa
membingungkan.
Sebuah ruangan akan terlihat lebih nyaman jika bentuk yang dominan diduplikasikan
pada benda-benda kecil di dalam ruangan tersebut.
PENCAHAYAAN
Pencahayaan yang baik dapat membuat ruangan terasa lebih hangat dan hidup.
Pencahayaan alami pada desain dapat membawa suasana ruang luar ke dalam
ruangan.
Pencahayaan adalah aspek yang penting pada sebuah ruangan, baik natural
atau buatan. Dengan pencahayaan yang baik, elemen-elemen lain akan bisa
menunjukkan seluruh potensinya.
Pencahayaan bisa dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pencahayaan sesuai
fungsinya (task lighting), pencahayaan untuk aksen (accent lighting), dan pencahayaan
untuk menambah suasana (mood lighting).
Saat mempertimbangkan pencahayaan, sangat penting untuk
mempertimbangkan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan di ruangan tersebut, baik
kualitas maupun kuantitas. Contoh, ruangan kantor akan membutuhkan pencahayaan
yang terang sehingga para staf bisa melihat dengan jelas dan cekatan. Sebaliknya,
pencahayaan ruang tengah bisa diaplikasikan dengan lebih lembut, dengan memasang
peredup cahaya (dimmer) agar pencahayaan dalam ruangan dapat sesuai kebutuhan.
Cahaya alami juga harus selalu dipertimbangkan. Penempatan pintu, jendela, bahkan
cermin bisa membantu pencahayaan alami di dalam rumah.
Selain fungsional, pencahayaan bisa mengatur suasana di dalam ruangan
sekaligus menekankan warna, garis, dan tekstur.
Warna
Pada sebuah ruang yang menggunakan dominan warna putih dan netral, akan
membuat ruangan terlihat lebih luas. Jika ada element of surprise, sofa pada ruang
tersebut dengan warna kuning cerah, maka seluruh perhatian akan terpusat pada sofa
tersebut. Skema warna serupa diterapkan pada tanaman indoor, bingkai, dan aksen
pada meja.
Warna memiliki kemampuan untuk membangun suasana, menonjolkan fitur
ruangan, serta memberikan ilusi luas ruangan. Psikologi warna tidak boleh dipandang
sebelah mata dan bisa dimaksimalkan oleh para desainer. Warna bisa
memunculkan kenangan dan mengubah emosi dengan menstimulasi respons fisik dan
psikologis dari tubuh kita. Contohnya, warna hijau dan biru memunculkan kesan tenang
dan cocok digunakan di dalam kamar tidur, sementara warna merah dapat mendorong
nafsu makan sehingga lebih cocok digunakan di dapur.
Saat mempertimbangkan warna sebuah ruangan, pikirkan tentang aktivitas apa
yang akan dilakukan di dalam ruangan tersebut. Selanjutnya pertimbangkan
pencahayaan alami dan artifisial yang akan memengaruhi warna yang dipilih di saat
siang dan malam hari karena cahaya dapat memengaruhi persepsi warna.
Selanjutnya, pertimbangkan juga ukuran ruangan. Desainer interior akan memilih warna
yang lebih cerah di ruangan yang kecil untuk memberikan ilusi ruangan terlihat lebih
luas. Warna-warna tua bisa memberikan dimensi yang kuat untuk ruang yang luas.
Tekstur
Tekstur merujuk pada permukaan taktil pada sebuah objek. Elemen ini
cenderung sering terlupakan, tetapi sebenarnya bisa membawa dimensi yang unik pada
ruangan. Seperti halnya mencampurkan warna dan pola, desainer interior akan
menambahkan tekstur pada sebuah ruangan untuk memperdalam kesan yang
diberikan. Beberapa macam tekstur yang bisa dipadupadankan adalah glossy, kasar,
dan lembut. Tesktur dapat menambahkan detail dan fokus terhadap furnitur, aksesori,
dan kain yang ada di dalam ruangan sehingga lebih nyaman dipandang. Secara umum,
tekstur memberikan perasaan pada ruangan.
Tekstur memiliki dua bentuk – tekstur visual dan aktual. Tekstur visual merujuk
pada tekstur yang bisa dilihat oleh mata. Artinya, tekstur visual hanya bisa didapatkan
oleh seseorang dengan melihatnya. Efek ini biasanya ditemukan pada pola-pola yang
ada di ruangan. Tekstur aktual atau taktil bisa dilihat dan juga diraba dan memiliki
karakteristik tiga dimensi., misalnya cushion yang empuk dan berwarna-warni.
Tekstur memiliki peran pada setiap benda di dalam ruangan, sehingga akan lebih baik
jika kita dapat menyeimbangkan tekstur ruangan mulai dari lantai hingga atap.
Pola
Pola adalah desain dekoratif yang digunakan secara berulang. Pola juga dapat
disebut sebagai susunan dari sebuah desain yang sering ditemukan pada sebuah
objek. Motif garis horizontal akan memperluas kesan ruangan, sedangkan motif garis
vertikal akan meninggalkan kesan ruangan . Pola memiliki fungsi yang sama dengan
tekstur untuk menambah daya tarik ruangan. Pola diciptakan dari penggunaan desain
yang repetitif dan bisa ditemukan pada wallpaper, furnitur, karpet, dan kain. Pola
memiliki berbagai tipe seperti contohnya garis-garis, geometris, organik, motif,
dan print.
Pola-pola yang menarik, yang cocok untuk desain kamar anak biasanya dipilih untuk
menunjukkan keceriaan. Misalnya, menambahkan pola geometris dengan warna pastel
serta karpet dengan pola zigzag. Dengan menerapkan berbagai pola, kamar anak
terlihat lebih ceria dan mengusung gaya yang moderen.
Saat menambahkan pola, sebaiknya pertimbangkan ukuran dan gaya ruangan.. Terlalu
banyak menambahkan pola di ruangan yang kecil akan terkesan berlebihan. Pola juga
dapat menciptakan garis-garis vertikal dan horizontal yang dapat digunakan untuk
menambah kesan luas pada ruangan.
Pola-pola kompleks yang terdiri dari warna dan garis kontras cocok digunakan
pada dinding dan dapat membuat ruangan terlihat lebih hidup. Pola dengan ukuran
besar dapat terlihat menarik di ruangan yang luas dan bisa menjadi sesuatu yang dapat
menarik perhatian di dalam ruangan.
Pola juga dapat menggambarkan karakter. Ruangan dengan gaya tradisional,
biasanya ook dengan pola bunga dan organic. Untuk ruangan dengan gaya
kontemporer, pola geometris dan abstrak akan terasa lebih cocok. Kunci agar
penggunaan pola di dalam ruangan tetap seimbang dan dapat menambah nilai estetis
ruangan adalah menggunakan skema warna yang sama dan pola yang
dipadupadankan tidak lebih dari tiga pola.