Anda di halaman 1dari 130

TESIS

TANGGUNG JAWAB NOTARIS ATAS AKTA PERUBAHAN


ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA YANG
DIBUAT BERDASARKAN KEPUTUSAN DI LUAR RAPAT UMUM
PEMEGANG SAHAM

NOTARY RESPONSIBILITIES FOR AMENDMENT TO AMENDMENT TO


BUDGET AND BUDGET HOUSEHOLD MADE BASED ON DECISIONS
OUTSIDE OF THE GENERAL MEETING OF SHAREHOLDERS

Oleh:
RADESA RANDA HERITA MARWANTO, S.H.
NIM. 180720201024

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JEMBER

FAKULTAS HUKUM

MAGISTER KENOTARIATAN

2021

i
TESIS

TANGGUNG JAWAB NOTARIS ATAS AKTA PERUBAHAN


ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA YANG
DIBUAT BERDASARKAN KEPUTUSAN DI LUAR RAPAT UMUM
PEMEGANG SAHAM

NOTARY RESPONSIBILITIES FOR AMENDMENT TO AMENDMENT TO


BUDGET AND BUDGET HOUSEHOLD MADE BASED ON DECISIONS
OUTSIDE OF THE GENERAL MEETING OF SHAREHOLDERS

Oleh
RADESA RANDA HERITA MARWANTO, S.H.
NIM. 180720201024

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

UNIVERSITAS JEMBER

FAKULTAS HUKUM

MAGISTER KENOTARIATAN

2021

ii
TANGGUNG JAWAB NOTARIS ATAS AKTA PERUBAHAN
ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA YANG
DIBUAT BERDASARKAN KEPUTUSAN DI LUAR RAPAT UMUM
PEMEGANG SAHAM

NOTARY RESPONSIBILITIES FOR AMENDMENT TO AMENDMENT TO


BUDGET AND BUDGET HOUSEHOLD MADE BASED ON DECISIONS
OUTSIDE OF THE GENERAL MEETING OF SHAREHOLDERS

TESIS

Untuk memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi Magister Ilmu Hukum
Pada Program Pascasarjana Universitas Jember

Oleh:

RADESA RANDA HERITA MARWANTO, S.H.


NIM. 180720201024

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS HUKUM
MAGISTER HUKUM
2021

iii
PERSETUJUAN

TESIS INI TELAH DISETUJUI

TANGGAL....................

Oleh:
Dosen Pembimbing Utama

Dr. Ermanto Fahamsyah, S.H., M.H.


NIP. 197905142003121002

Dosen Pembimbing Anggota

Dr. A’an Efendi, S.H., M.H.


NIP. 198302032008121004

iv
PENGESAHAN

TANGGUNG JAWAB NOTARIS ATAS AKTA PERUBAHAN

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA YANG

DIBUAT BERDASARKAN KEPUTUSAN DI LUAR RAPAT UMUM

PEMEGANG SAHAM

Oleh:

RADESA RANDA HERITA MARWANTO, S.H.


NIM. 180720201024

Dosen Pembimbing Utama Dosen Pembimbing Anggota

Dr. Ermanto Fahamsyah, S.H., M.H. Dr. A’an Efendi, S.H., M.H.
NIP. 197905142003121002 NIP. 198302032008121004

Mengesahkan,
Program Studi Magister Hukum
Fakultas Hukum
Universitas Jember
Dekan,

Dr. Bayu Dwi Anggono, S.H.,M.H.

v
NIP. 198206232005011002
PENETAPAN PANITIA PENGUJI

Dipertahankan dihadapan Panitia Penguji pada:


Hari :
Tanggal :
Bulan :
Tahun :

Diterima oleh Panitia Penguji Fakultas Hukum Universitas Jember:

Ketua Sekretaris

Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H. Dr.Fanny Tanuwijaya, S.H., M.Hum


NIP. 197905142003121002 NIP. 196506031990022001

ANGGOTA PENGUJI:

Dr. Jayus, SH, M.Hum. : (....................................)


NIP. 195612061983031003

Dr. Ermanto Fahamsyah, S.H., M.H. : (....................................)


NIP. 197905142003121002

Dr. A’an Efendi, S.H., M.H. : (....................................)


NIP. 198302032008121004

vi
PERNYATAAN ORISINALITAS TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa:


Tesis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar
akademik (Magister Kenotariatan), baik di Universitas Jember maupun di
perguruan tinggi lain. Tesis ini merupakan hasil dari gagasan, ide, pemikiran, dan
penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan dari Tim
Pembimbing. Dalam Tesis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis
atau dipublikasikan orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah
ini dan disebutkan dalam sumber kutipan maupun daftar pustaka.
Apabila ternyata dalam naskah tesis ini dapat dibuktikan adanya unsur-
unsur jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi akademik maupun sanksi
lainnya yang berlaku di lingkungan Universitas Jember

Jember, 10 Februari 2021

Yang membuat pernyataan,

RADESA RANDA HERITA MARWANTO, S.H.


NIM. 180720201024

vii
UCAPAN TERIMAKASIH

Syukur Alhamdulillah, segala Puja dan Puji syukur Penulis panjatkan


kepada Allah S.W.T, atas segala Rahmat, Petunjuk, serta Hidayah yang telah
diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul: Tanggung
Jawab Notaris Atas Akta Perubahan Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah
Tangga Yang Dibuat Berdasarkan Keputusan Di Luar Rapat Umum Pemegang
Saham, penulisan tesis ini merupakan tugas akhir sebagai syarat untuk
menyelesaikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum
Universitas Jember serta mencapai gelar Magister Kenotariatan periode tahun
2020. Pada kesempatan ini mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang
telah banyak membantu dan memberikan dukungan dalam penulisan tesis ini,
antara lain:
1. Dr. Ermanto Fahamsyah, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Utama
penyusunan tesis serta selaku Kaprodi Magister Ilmu Hukum Universitas
Jember;
2. Dr. A’an Efendi, S.H., M.H., sebagai Dosen Pembimbing Anggota
penyusunan tesis
3. Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H. selaku ketua penguji tesis;
4. Dr.Fanny Tanuwijaya, S.H., M.Hum. selaku sekretaris penguji tesis;
5. Dr. Jayus, SH, M.Hum. selaku Dosen Penguji tesis;
6. Dr. Bayu Dwi Anggono, S.H.,M.H. selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Jember, Dr. Dyah Octorina Susanti, S.H., M.Hum, selaku
Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Jember, Echwan Iriyanto,
S.H.,M.H selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Jember, dan
Dr. Aries Harianto, S.H.,M.H, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum
Universitas Jember.
7. Bapak dan Ibu dosen, civitas akademika, serta seluruh karyawan Fakultas
Hukum Universitas Jember atas segala ilmu dan pengetahuan yang
diberikan;

viii
8. Orang tua saya, semua keluarga dan kerabat atas do’a dan dukungan yang
telah diberikan dengan setulus hati;
9. Teman-teman seperjuangan di Program Magister Kenotariatan Fakultas
Hukum Universitas Jember angkatan tahun 2018 yang tidak dapat saya
sebutkan satu persatu yang telah memberikan dukunngan dan bantuan baik
moril dan spirituil;
10. Semua pihak dan rekan-rekan yang tidak dapat disebutkan satu-persatu
yang telah memberikan bantuannya dalam penyusunan tesis hukum ini.

Menyadari sepenuhnya akan keterbatasan penulis baik dari segi


kemampuan dan keterbatasan bekal ilmu saat menulis tesis ini. Oleh karena itu,
senantiasa penulis akan menerima segala kritik dan saran dari semua. Akhirnya
penulis mengharapkan, mudah-mudahan tesis ini minimal dapat menambah
khasanah refrensi serta bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Jember, 10 Februari 2021

Penulis,

RADESA RANDA HERITA MARWANTO, S.H.


NIM. 180720201024

ix
MOTTO

“Setiap Orang Bertanggung Jawab atas Apa yang Telah Dilakukannya”.

“Tiap-Tiap Diri Bertanggung Jawab atas Apa yang Telah Diperbuatnya”.*

x
Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Semarang:
Kumudasmoro Grafindo. 1994. QS. Al-Mudatsir – surah 74 ayat 38 [QS. 74:41-56]
RINGKASAN
Hasil Keputusan dari RUPS dalam prakteknya, dituangkan dalam suatu
akta otentik, yang dibuat di hadapan notaris dan atau dibuat dalam bentuk
notulensi rapat, yang berupa akta di bawah tangan dan kemudian akta tersebut
dituangkan dalam bentuk akta otentik, yang dalam praktek dikenal dengan sebutan
Akta Pernyataan Keputusan Rapat. Notaris, adalah pejabat umum yang
mempunyai wewenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan,
perjanjian dan penetapan yang diperintahkan oleh peraturan umum atau diminta
oleh para pihak yang membuat akta. Notaris selaku pejabat umum dalam setiap
pelaksanaan tugasnya, tidak boleh keluar dari “rambu-rambu” yang telah diatur
oleh perangkat hukum yang berlaku. Keberlakuan keputusan di luar RUPS yang
merupakan perubahan anggaran dasar yang tidak dituangkan dalam akta notaris
menurut UUPT tidak dapat berlaku. Perubahan anggaran dasar yang cukup
diberitahukan kepada Menteri berlaku sejak tanggal diterbitkannya surat
penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar oleh Menteri. Mengacu
pada peraturan yang ada di UUPT tersebut Notaris harus teliti dalam pemeriksaan
RUPS untuk nantinya dituangkan ke dalam berita acara dan pada prakteknya
Notaris tidak boleh merupah sedikitpun isi dari Keputusan Sirkuler dan tidak
berpihak pada siapaun pada pemegang saham serta Notaris wajib memberikan
kajian terkait keputusan sirkuler yang dibuat, apabila ada perubahan dan itu tanpa
sepengetahuan dari pihak pemegang saham maka Notaris dapat dikenai sanksi
sesuai dengan Undang Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (selanjutnya
disingkat UUJN). Dalam menjalankan jabatannya pada Pasal 16 ayat (1) huruf a
UUJN 2014 dimana Notaris harus bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri,
tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan
hukum. Dalam konteks ini, tanggung jawab notaris dalam pembuatan akta
pernyataan keputusan rapat umum pemegang saham perseroan terbatas perlu
dikaji lebih lanjut. Dari uraian diatas penulis mendapatkan Putusan pengadilan
dimana dalam perkara tersebut mempermasalahkan suatu keputusan diluar RUPS
(keputusan Sirkuler) kasus pada PUTUSAN NO.193/PDT.G/2014/PN.JKT.SEL
yang dipermasalahkan mengenai keberlakuan keputusan diluar RUPS mengenai
perubahan anggaran dasar yang tidak dinyatakan ke dalam akta notaris dan kasus
pada PUTUSAN NO:581/PDT/2017/PT.BDG terkait keputusan sirkuler yang
kemudian dilakukan peralihan jual beli saham oleh PT. Paramindo dengan PT.
Cikondang Kancana Prima. perkara-perkara tersebut akan menjadi bahan lainnya
dalam penulisan tersis ini karena telah terjadi sengketa terkait keputusan sirkuler
pada perusahaan, dimana fokus penulis dalam penelitian ini sangat relevan dengan
contoh perkara diatas, karena ada batasan-batasan mengenai apa saja keputusan
perusahaan yang diperbolehkan tanpa mekanisme RUPS dan ada pula yang tidak
boleh diambil keputusan apabila tidak melalui mekanisme pengambilan keputusan
melalui RUPS.

xi
Metode yang akan digunakan dalam penulisan adalah penelitian hukum
normatif. Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan hukum,
pendekatan konseptual (Conceptual Approach), dan pendekatan komparatif.
Bahan sumber hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan sekunder.
Hasil kajian yang diperoleh bahwa: Pertama, Notaris tidak bertanggung
jawab atas Akta PKR yang dibuat olehnya karena isi akta PKR tersebut
berdasarkan pada risalah rapat di bawah tangan dan isi dari risalah rapat tersebut
menjadi tanggung jawab para peserta yang hadir dalam Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS). Notaris hanya bertanggung jawab terhadap bentuk dari akta PKR.
Kedua, keputusan di luar Rapat Umum Pemegang Saham yang berisi tentang
perubahan anggaran dasar perseroan. Setelah keputusan di luar Rapat Umum
Pemegang Saham ini dibuat, tidak dinyatakan ke dalam akta notaris dan juga tidak
dilaporkan kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Timbul
pertanyaan atas keberlakuan keputusan di luar Rapat Umum Pemegang Saham ini.
Penelitian kualitatif terhadap hukum normatif yang memakai tipe penelitian
deskriptif analitis ini dilakukan dengan studi dokumen atau bahan pustaka.
Menurut Undang-Undang yang mengatur mengenai perubahan anggaran dasar
perseroan terbatas, keputusan sirkuler tentang perubahan anggaran dasar yang
tidak dinyatakan ke dalam akta notaris tidak dapat berlaku. Ketiga, Fungsi dari
pembuatan akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham (PKPS) adalah untuk
melindungi Notaris dari potensi pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku
seperti penyertaan dokumen atau pernyataan tidak benar, dan lain sebagainya,
baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Seringnya terjadi beberapa
kasus terkait pemalsuan isi dari keputusan sirkuler, membuat notaris harus
berhati-hati dalam membuatkan akta PKPS. Akta Pernyataaan Keputusan
Pemegang Saham merupakan partij akta, yakni akta yang dibuat di hadapan
Notaris memuat uraian dari apa yang diterangkan atau diceritakan oleh para pihak
yang menghadap kepada notaris, dan merupakan kehendak dari para pemegang
saham yang dinyatakan dalam keputusan sirkuler. Bentuk konkrit dari bentuk
penerapan prinsip kehati-hatian yaitu ditandai dengan adanya negosiasi yang
dilakukan pada saat pra kontrak, adanya kewajiban notaris untuk menjelaskan dan
memberitahukan tentang fakta material dari objek perjanjian, dan adanya
kewajiban notaris untuk meneliti terlebih dahulu objek perjanjian dan klausula
perjanjian sebelum melakukan kesepakatan dan mengikatkan diri dalam perjanjian
antara kedua belah pihak.
Berdasarkan hasil penelitian, penulis menawarkan saran, antara lain:
Pertama, Demi tercapainya prinsip kehati-hatian notaris dalam mengenal para
penghadap, jika terdapat keraguan dan kesalahan atas dokumen-dokumen para
penghadap notaris sebaiknya menolak untuk membuat akta autentik, untuk
tercapainya prinsip kehati-hatian mengenal para penghadap dan tidak menjadi
sengketa dikemudian hari. Prinsip itikad baik juga berlaku dalam pembuatan akta
Pernyataan Keputusan Pemegang Saham (PKPS). Itikad baik tersebut tidak hanya
mengacu kepada itikad baik para pihak, tetapi harus pula mengacu kepada nilai-
nilai yang berkembang dalam masyarakat, sebab itikad baik merupakan bagian
dari masyarakat. Kedua, Peraturan mengenai keputusan di luar RUPS perlu
diperjelas lagi seperti tata cara pembuatan, syarat sahnya, pembatalan dan apa saja

xii
yang bisa diatur dalam keputusan di luar RUPS, agar pembuatan keputusan di luar
RUPS tidak hanya bergantung pada pasal 91 UUPT saja. Ketiga, Kepada para
pihak yang membuat surat tersebut, sebaiknya terlebih dahulu dijelaskan akibat-
akibat hukum dari akta tersebut. Mengingat dasar dari pembuatan akta pernyataan
keputusan rapat dari suatu perseroan terbatas tersebut, adalah suatu notulensi rapat
yang merupakan surat di bawah tangan, yang proses pembuatannya tidak dihadiri
oleh Notaris. Hal ini sangat berbeda dengan Berita Acara Rapat Umum Pemegang
Saham Perseroan Terbatas yang dibuat secara notaril, dimana notaris wajib
menghadiri dan mengikuti proses pelaksanaannya untuk kemudian dituangkan ke
dalam suatu akta otentik. Hal ini mengandung aspek kepastian dan perlindungan
hukum bagi para pihak, termasuk di dalamnya notaris

xiii
SUMMARY

In practice, the GMS is set forth in an authentic deed, drawn up before a


notary public and or in the form of meeting minutes, in the form of an underhand
deed and then the deed is written in the form of an authentic deed, which in
practice is known as the Deed of Meeting Decision Statement. Notary, is a public
official who has the authority to make authentic deeds regarding all actions,
agreements and stipulations ordered by general regulations or requested by the
parties making the deed. A notary as a general official in performing his / her
duties, may not come out of the "signs" that have been regulated by the applicable
legal instruments. The validity of decisions outside the GMS which are
amendments to the articles of association which are not stated in the notarial
deed according to the Company Law cannot be valid. Amendments to the articles
of association that are sufficient to be notified to the Minister take effect from the
date of the issuance of the letter of receipt of notification of amendments to the
articles of association by the Minister. Referring to the regulations in the
Company Law, the Notary must be careful in the examination of the GMS to later
be poured into the minutes and in practice the Notary may not share at all the
contents of the Circular Decree and does not take sides with the shareholders and
the Notary is obliged to provide a review regarding the circular decision made, if
there is a change and it is without the knowledge of the shareholder, the Notary
may be subject to sanctions in accordance with Law Number 2 of 2014
concerning Amendments to Law Number 30 of 2004 concerning the Position of
Notary (hereinafter abbreviated as UUJN). In carrying out his position in Article
16 paragraph (1) letter a UUJN 2014 where Notaries must act trustworthy,
honest, thorough, independent, impartial, and protect the interests of parties
involved in legal actions. In this context, the responsibility of the notary in
drawing up the deed of the decision of the general meeting of shareholders of the
limited liability company needs to be further studied. From the description above,
the writer gets a court decision where in the case there is a question of a decision
outside the GMS (circular decision) in the case of DECISION NO.193 / PDT.G /
2014 / PN.JKT.SEL which is in question regarding the enforceability of decisions
outside the GMS regarding changes to the articles of association not stated in the
notary deed and the case in PUTUSAN NO: 581 / PDT / 2017 / PT.BDG related
to a circular decision which was then carried out by PT. Paramindo with PT.
Cikondang Kancana Prima. These cases will become other material in this
remaining writing because there has been a dispute related to circular decisions
at the company, where the focus of the author in this study is very relevant to the
example of the case above, because there are limitations regarding what company
decisions are allowed without the GMS mechanism. and there are also those that

xiv
cannot be made decisions if they do not go through a decision-making mechanism
through the GMS.
The method used in writing is normative legal research. The approach to
the problem used is the legal approach, the conceptual approach (Conceptual
Approach), and the comparative approach. Legal source materials used are
primary and secondary legal materials.
The results of the study found that: First, the Notary is not responsible for
the PKR Deed made by him because the contents of the PKR deed are based on
the minutes of the meeting under hand and the contents of the minutes of the
meeting are the responsibility of the participants who attended the General
Meeting of Shareholders (GMS ). The notary is only responsible for the form of
the PKR deed. Second, decisions outside the General Meeting of Shareholders
which contain changes to the company's articles of association. After a decision
outside the General Meeting of Shareholders is made, it is not stated in the notary
deed nor is it reported to the Ministry of Law and Human Rights. Questions arise
regarding the validity of the decisions outside this General Meeting of
Shareholders. Qualitative research on normative law that uses this type of
analytical descriptive research is carried out by studying documents or library
materials. According to the law which regulates amendments to the articles of
association of a limited liability company, circular decisions regarding
amendments to the articles of association that are not stated in a notarial deed
cannot apply. . Third, the function of making a Shareholder Decision Deed
(PKPS) is to protect Notaries from potential violations of applicable regulations
such as submission of documents or false statements, etc., whether intentional or
unintentional. Often there are several cases related to falsification of the contents
of circular decisions, making notaries have to be careful in making PKPS deeds.
The Deed of Declaration of Shareholders' Decisions is partij deed, namely the
deed made before the Notary containing a description of what is explained or told
by the parties before the notary, and is the will of the shareholders stated in the
circular decision. The concrete form of the application of the precautionary
principle is marked by negotiations carried out during the pre-contract period,
the notary's obligation to explain and notify the material facts of the object of the
agreement, and the notary's obligation to examine the object of the agreement
and the clause of the agreement before committing to it. agreement and enter into
an agreement between the two parties.
Based on the results of the research, the authors offer suggestions, among
others: First, in order to achieve the principle of notary prudence in knowing the
parties, if there are doubts and errors on the documents, the notary appellants
should refuse to make an authentic deed, to achieve the precautionary principle
know the tappers and do not become a dispute in the future. The principle of good
faith also applies in the preparation of 81 deeds of Shareholder Decree (PKPS).
This good faith does not only refer to the good faith of the parties, but must also
refer to the values that develop in society, because good faith is part of society.
Second, the regulations regarding decisions outside the GMS need to be clarified
again, such as the procedure for making, legal requirements, cancellation and
anything that can be regulated in a decision outside the GMS, so that decision

xv
making outside the GMS does not only depend on Article 91 of the Company Law.
Third, to the parties making the letter, it is better if they first explain the legal
consequences of the deed. Considering that the basis of the deed of the meeting
decision statement of a limited liability company, is a meeting minutes which is an
underhand letter, the process of which is not attended by a notary public. This is
very different from the Minutes of the General Meeting of Shareholders of Limited
Liability Companies which are made notary, in which the notary is obliged to
attend and follow the implementation process to then be poured into an authentic
deed. This contains aspects of legal certainty and protection for the parties,
including notaries

xvi
Peraturan Perundang-Undangan:

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;


Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran
Negara republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756); dan
Undang Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 3, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5491). Undang-Undang Nomor 2
Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2004 Tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5491).

xvii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL................................................................................. i

HALAMAN SAMPUL DALAM................................................................. ii

HALAMAN PRASYARAT GELAR.......................................................... iii

HALAMAN PERSETUJUAN..................................................................... iv

HALAMAN PENGESAHAN...................................................................... v

HALAMAN PENETAPAN PANITIA PENGUJI..................................... vi

HALAMAN PERNYATAN ORISINALITAS TESIS.............................. vii

HALAMAN UCAPAN TERIMAKASIH................................................... viii

HALAMAN MOTTO................................................................................... x

HALAMAN RINGKASAN........................................................................ xi

HALAMAN SUMMARY.............................................................................. xiv

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN ........................................... xvii

DAFTAR ISI.................................................................................................xviii

BAB 1 : PENDAHULUAN.......................................................................... 1

1.1 Latar Belakang......................................................................................... 1

xviii
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................... 6

1.3 Tujuan Penelitian..................................................................................... 7

1.4 Manfaat Penelitan.................................................................................... 7

1.5 Kerangka Teoritis dan Konseptual .......................................................... 7

1.5.1 Asas Kepastian Hukum.................................................................. 7

1.5.2 Teori Pertanggung jawaban Hukum............................................... 9

1.5.3 Pengertian, Kewenangan, dan Kewajiban Notaris ........................ 11

1.5.3.1 Notaris ................................................................................... 11

1.5.3.2 Kewenangan dan Kewajiban Notaris .................................... 14

1.5.4 Akta Notaris Sebagai Akta Otentik ............................................... 19

1.5.5 Tinjauan Umum Mengenai Tanda Tangan .................................... 21

1.5.6 Konsep Dasar Mengenai Perseroan Terbatas ................................ 22

1.5.6.1 Perseroan Terbatas .............................................................. 22

1.5.6.2 Organ Perseroan Terbatas ................................................... 23

1.5.7 Rapat Umum Pemegang Saham .................................................... 24

1.5.7.1 Pengertian Rapat Umum Pemegang Saham.......................... 24

1.5.7.2 Jenis-Jenis Rapat Umum Pemegang Saham.......................... 25

1.5.7.3 Pelaksanaan dan Prosedur Rapat Umum Pemegang Saham

Berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas................. 26

1.5.7.4 Keputusan Pemegang Saham Diluar RUPS.......................... 27

1.5.7.5 Tata Cara Pembuatan Risalah Rapat Umum Pemegang

Saham..................................................................................... 28

1.5.7.6 Tinjauan Umum Kekuatan Pembuktian Akta

Pernyataan Keputusan Rapat (PKR).................................. 28

xix
1.6 Orisinalitas Penelitian............................................................................... 29

1.7 Metode Penelitian..................................................................................... 31

1.7.1 Tipe Penelitian............................................................................. 32

1.7.2 Pendekatan Masalah..................................................................... 32

1.7.3 Sumber Bahan Hukum................................................................. 33

1.7.4 Metode Pengumpulan Bahan Hukum.......................................... 34

1.7.5 Analisis Bahan Hukum................................................................ 35

1.7.6 Kerangka Alur Pikir .................................................................... 36

1.7.7 Sistematika Penulisan ................................................................. 39

BAB 2 : PEMBAHASAN............................................................................. 39

2.1 Bentuk Tanggung Jawab Notaris Atas Akta Perubahan Anggaran

Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga Yang Dibuat Diluar Rapat

Umum Pemegang Saham (RUPS)..........................................................

.............................................................................................................39

2.2 Akibat Hukum Atas Akta Perubahan Anggaran Dasar Dan Anggaran

Rumah Tangga Yang Dibuat Berdasarkan Keputusan Sirkuler Diluar

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)................................................

.............................................................................................................60

2.3 Pengaturan Kedepan Tentang Tanggung Jawab Notaris Atas Akta

Yang Dibuat Berdasarkan Keputusan Sirkuler Pemegang Saham.........

.............................................................................................................83

BAB 3 : PENUTUP....................................................................................... 99

3.1 Kesimpulan............................................................................................. 99

xx
3.2 Saran....................................................................................................... 99

DAFTAR PUSTAKA

xxi
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perseroan Terbatas (“PT”) merupakan badan usaha dengan


karakteristiknya yaitu terdapat pemisahan kekayaan pemilik dengan kekayaan
badan usaha, sehingga pemilik hanya bertanggung jawab sesuai jumlah uang atau
saham yang ditanamkannya dalam PT. Pengertian PT terdiri dari dua kata, yakni
“Perseroan” dan “Terbatas”. Perseroan merujuk kepada modal PT yang terdiri dari
sero-sero atau saham-saham. Terbatas merujuk kepada pemegang yang luas
tanggung jawabnya hanya sebatas pada nilai nominal semua saham yang
dimilikinya. Untuk menunjang pembangunan ekonomi nasional Indonesia di
bidang PT, yang dalam tatanan hukum Indonesia telah diatur dalam Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang telah dicabut dan
diganti dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas (selanjutnya disingkat dengan UUPT). Pengesahan UUPT merupakan
suatu tindakan pertama keluar dari lingkungan salah satu kodifikasi, yaitu:
Wetboek van Koophandel yang lazim dikenal dengan Kitab Undang-Undang
Hukum Dagang (KUHD). Ketentuan tentang Perseroan Terbatas yang diatur
dalam KUHD, sudah tidak lagi dapat mengikuti dan memenuhi kebutuhan
perkembangan perekonomian dunia usaha yang sangat pesat. * UUPT membahas
juga Rancangan Perubahannya di lembaga legislatif.
Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab
penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan
maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di
luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. Direksi memiliki tugas
utama menjalankan dan melaksanakan pengurusan (Beheer, Administration or

*
Kansil. Pokok-Pokok Hukum Perseroan Terbatas. (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
1996). hlm. 31.

1
2

Management) perseroan atau dapat dikatakan bahwa perseroan diurus, dikelola


dan dimanage oleh Direksi.† Selain sebagai pengurus dan pengelola suatu
perseroan, Direksi juga memiliki kapasitas untuk mewakili perseroan. Dewan
Komisaris menurut UUPT adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan
pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta
memberi nasihat kepada Direksi. Komisaris memiliki fungsi sebagai pengawas
kinerja jajaran Direksi perusahaan.‡ Komisaris bisa memeriksa pembukuan,
menegur Direksi, memberi petunjuk, bahkan bila perlu memberhentikan Direksi
dengan menyelenggarakan RUPS untuk mengambil keputusan apakah Direksi
akan diberhentikan atau tidak.
Pasal 1 ayat (4) UUPT, RUPS adalah organ perseroan yang mempunyai
wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam
batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar.
Walaupun dalam struktur PT RUPS mempunyai kekuasaan tertinggi, namun hal
tersebut bukan berarti bahwa RUPS mempunyai jenjang tertinggi di antara organ
PT tetapi sekedar memiliki kekuasaan tertinggi bila wewenang tersebut tidak
dilimpahkan kepada organ perseroan lain.§ Jadi, masing-masing organ perseroan
memiliki tugas dan wewenang yang berdiri sendiri.
Oleh karena itu, di antara semua organ-organ PT tersebut di atas, RUPS
merupakan organ yang sangat penting.** RUPS ini terbagi menjadi 2 jenis menurut
UUPT yaitu RUPS Tahunan yang dilaksanakan setiap tahun dan RUPS tahunan
wajib diadakan dalam jangka waktu paling lambat enam bulan setelah tahun buku
berakhir. RUPS lainnya atau biasa juga dikenal dengan RUPS luar biasa bertujuan
untuk membahas dan mengambil keputusan atau masalah-masalah yang timbul
mendadak dan memerlukan penanganan segera karena jika tidak dilaksanakan
segera maka akan menghambat operasional PT. RUPS lainnya ini dapat diadakan
setiap waktu berdasarkan kebutuhan untuk kepentingan PT.


Ibid. hlm 345.

Muhibbuthabar. Dinamika dan Implementasi Hukum Organisasi Perusahaan Dalam
Sistem Hukum Indonesia. (Asy-Syari‘ah Vol. 17 No. 3, 2015). hlm 241.
§
Mishardi Wilamarta. “Hak Pemegang Saham Minoritas dalam Rangka Good Corporate
Governance” (Tesis Magister Universitas Indonesia. Jakarta. 2002). hlm 54.
**
Ibid.
3

Kemudahan lainnya yang diberikan UUPT terkait pelaksanaan RUPS


adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 91 UUPT yaitu pemegang saham dapat
juga mengambil keputusan yang mengikat di luar RUPS dengan syarat semua
pemegang saham dengan hak suara menyetujui secara tertulis dengan
menandatangani usul yang bersangkutan. Dijelaskan dalam penjelasannya, yang
dimaksud dengan “pengambilan keputusan di luar RUPS” dalam praktik dikenal
dengan usul keputusan yang diedarkan (keputusan sirkuler/circular resolution).
Keputusan sirkuler adalah salah satu cara untuk merubah anggaran dasar
perseroan. Perubahan anggaran dasar adalah salah satu kewenangan RUPS
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 19 ayat (1) UUPT. Lalu, keputusan sirkuler
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 91 UUPT yang menyebutkan bahwa
pemegang saham dapat juga mengambil keputusan yang mengikat di luar RUPS
dengan syarat semua pemegang saham dengan hak suara menyetujui secara
tertulis dengan menandatangani usul yang bersangkutan. Jadi, perubahan
anggaran dasar selain dengan RUPS secara fisik, dapat juga diputuskan dengan
keputusan sirkuler.
Diatur dalam Bagian Kedua Paragraf 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang UUPT. Untuk mengubah anggaran dasar suatu perusahaan yang berbentuk
PT, Anda dapat mengadakan RUPS. Hal ini diatur di Pasal 19 UUPT. Jika RUPS
sudah dilaksanakan, disetujui, dan memenuhi persyaratan kuorum, persetujuan itu
akan dituangkan dalam berita acara rapat yang dibuat oleh notaris dan selanjutnya
dibuat dalam bentuk akta perubahan anggaran dasar oleh notaris.
Bila mengadakan RUPS secara fisik sulit untuk diselenggarakan misalnya
karena satu atau beberapa pemegang saham sedang berada di luar kota atau luar
negeri, maka untuk merubah anggaran dasar dapat dilakukan melalui penerbitan
sirkuler. Penggunaan sirkuler dimungkinkan dalam Pasal 21 ayat (5) UUPT. Jadi,
jika tidak ada berita acara rapat, maka Anda dapat membuat sirkuler yang harus
ditandatangani oleh seluruh pemegang saham PT. Keputusan Sirkuler itulah yang
kemudian dijadikan bentuk akta perubahan anggaran dasar oleh notaris. Namun
perlu Anda ketahui, untuk menuangkan sirkuler dalam bentuk akta harus
dilakukan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh hari) hari sejak
4

tanggal keputusan RUPS atau tanggal ditandatanganinya sirkuler dimaksud.


Lewat dari 30 hari maka sirkuler tersebut tidak berlaku lagi dan harus dibuatkan
yang baru.
Pasal 85 ayat (1) UUPT menyatakan bahwa pemegang saham baik sendiri
maupun diwakili berdasarkan surat kuasa berhak menghadiri RUPS dan
menggunakan hak suaranya sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya.
Kewenangan menghadiri RUPS dan menggunakan hak suara sesuai dengan
jumlah saham yang dimiliki tidak berlaku bagi pemegang saham dengan saham
tanpa hak suara. Berarti hanya pemegang saham yang memiliki saham dengan hak
suara yang dapat hadir dalam RUPS dan menggunakan hak suaranya. Pada saat
pemungutan suara, anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan karyawan
Perseroan yang bersangkutan dilarang untuk bertindak sebagai kuasa dari
pemegang saham yang memberikan kuasanya. Apabila ada pemegang saham yang
memberikan kuasa untuk hadir dalam suatu RUPS akan tetapi kemudian
pemegang saham tersebut hadir sendiri dalam RUPS maka surat kuasa yang telah
diberikan tidak berlaku untuk rapat tersebut. Ketua rapat akan menentukan siapa
yang berhak hadir dalam RUPS dengan memperhatikan ketentuan UUPT dan
anggaran dasar Perseroan.†† Dalam pemungutan suara, suara yang dikeluarkan
oleh pemegang saham berlaku untuk seluruh saham yang dimilikinya dan
pemegang saham tidak berhak memberikan kuasa kepadalebih dari seorang kuasa
untuk sebagian dari jumlah saham yang dimilikinya dengan suara yang berbeda.
Ini artinya UUPT melarang voting yang terbelah. Juga apabila pemegang saham
memberikan kuasanya untuk hadir dalam RUPS kepada anggota Direksi, anggota
Dewan Komisaris, dan karyawan Perseroan maka yang diberi kuasa tidak dapat
bertindak sebagai kuasa dari pemegang saham pada saat pemungutan suara.
RUPS dalam prakteknya, dituangkan dalam suatu akta otentik, yang dibuat
di hadapan notaris dan atau dibuat dalam bentuk notulensi rapat, yang berupa akta
di bawah tangan dan kemudian akta tersebut dituangkan dalam bentuk akta

††
Akibat Hukum Ketidaktelitian Notaris pada Pembuatan Akta Berita Acara Rapat
Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang Dibuat Oleh Notaris (Studi Kasus Putusan Majelis
Pengawas Wilayah Notaris DKI Jakarta Nomor 10/Pts/Mj.Pwn.Prov. Dkijakarta/X/2018). Master
of Notarial Law. Faculty of Law. Universitas Indonesia. 2018.
5

otentik, yang dalam praktek dikenal dengan sebutan Akta Pernyataan Keputusan
Rapat. Notaris, adalah pejabat umum yang mempunyai wewenang untuk membuat
akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang
diperintahkan oleh peraturan umum atau diminta oleh para pihak yang membuat
akta.‡‡ Notaris selaku pejabat umum dalam setiap pelaksanaan tugasnya, tidak
boleh keluar dari “rambu-rambu” yang telah diatur oleh perangkat hukum yang
berlaku. Keberlakuan keputusan di luar RUPS yang merupakan perubahan
anggaran dasar yang tidak dituangkan dalam akta notaris menurut UUPT tidak
dapat berlaku. Perubahan anggaran dasar yang cukup diberitahukan kepada
Menteri berlaku sejak tanggal diterbitkannya surat penerimaan pemberitahuan
perubahan anggaran dasar oleh Menteri.§§ Mengacu pada peraturan yang ada di
UUPT tersebut Notaris harus teliti dalam pemeriksaan RUPS untuk nantinya
dituangkan ke dalam berita acara dan pada prakteknya Notaris tidak boleh
merupah sedikitpun isi dari Keputusan Sirkuler dan tidak berpihak pada siapaun
pada pemegang saham serta Notaris wajib memberikan kajian terkait keputusan
sirkuler yang dibuat, apabila ada perubahan dan itu tanpa sepengetahuan dari
pihak pemegang saham maka Notaris dapat dikenai sanksi sesuai dengan Undang
Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor
30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disingkat UUJN). Dalam
menjalankan jabatannya pada Pasal 16 ayat (1) huruf a UUJN 2014 dimana
Notaris harus bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan
menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum. Dalam konteks
ini, tanggung jawab notaris dalam pembuatan akta pernyataan keputusan rapat
umum pemegang saham perseroan terbatas perlu dikaji lebih lanjut. Dari uraian
diatas penulis mendapatkan Putusan pengadilan dimana dalam perkara tersebut
mempermasalahkan suatu keputusan diluar RUPS (keputusan Sirkuler) kasus pada
PUTUSAN NO.193/PDT.G/2014/PN.JKT.SEL yang dipermasalahkan mengenai
keberlakuan keputusan diluar RUPS mengenai perubahan anggaran dasar yang
tidak dinyatakan ke dalam akta notaris dan kasus pada PUTUSAN
‡‡
Sudikno Mertokusumo. Arti Penemuan Hukum Bagi Notaris. Majalah Renvoi. Nomor
12. tanggal 3 Mei 2004. hlm 49.
§§
Ibid.
6

NO:581/PDT/2017/PT.BDG terkait keputusan sirkuler yang kemudian dilakukan


peralihan jual beli saham oleh PT. Paramindo dengan PT. Cikondang Kancana
Prima. perkara-perkara tersebut akan menjadi bahan lainnya dalam penulisan
tersis ini karena telah terjadi sengketa terkait keputusan sirkuler pada perusahaan,
dimana fokus penulis dalam penelitian ini sangat relevan dengan contoh perkara
diatas, karena ada batasan-batasan mengenai apa saja keputusan perusahaan yang
diperbolehkan tanpa mekanisme RUPS dan ada pula yang tidak boleh diambil
keputusan apabila tidak melalui mekanisme pengambilan keputusan melalui
RUPS.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis sangat tertarik
untuk meneliti bagaimana tanggung jawab notaris terhadap akta yang dibuat
diluar rapat umum pemegang saham (RUPS), apa akibat hukum atas akta yang
dibuat berdasarkan keputusan rapat sirkuler diluar rapat umum pemegang saham
(RUPS), serta bagaimana pengaturan kedepan untuk mengakomodir permasalahan
tersebut. Dengan melihat uraian diatas penulis sangat tertarik untuk mengkaji
lebih dalam lagi permasalahan diatas dengan penulisan tesis ini yang berjudul
“Tanggung Jawab Notaris Atas Akta Perubahan Anggaran Dasar Dan
Anggaran Rumah Tangga Yang Dibuat Berdasarkan Keputusan Di Luar
Rapat Umum Pemegang Saham”
.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apa bentuk tanggung jawab notaris atas akta perubahan anggaran dasar
dan anggaran rumah tangga yang dibuat diluar rapat umum pemegang
saham (RUPS) ?
2. Apa akibat hukum atas akta perubahan anggaran dasar dan anggaran
rumah tangga yang dibuat berdasarkan keputusan sirkuler diluar rapat
umum pemegang saham (RUPS) ?
3. Bagaimana pengaturan kedepan tentang tanggung jawab notaris atas akta
yang dibuat berdasarkan keputusan sirkuler pemegang saham?
7

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk memahami bentuk tanggung jawab notaris atas akta perubahan
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang dibuat diluar rapat umum
pemegang saham (RUPS).
2. Untuk memahami akibat hukum atas akta perubahan anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga yang dibuat oleh notaris diluar rapat umum
pemegang saham (RUPS)
3. Untuk menemukan pengaturan tanggung jawab notaris terhadap akta yang
dibuat berdasarkan keputusan sirkuler pemegang saham.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi
perkembangan Ilmu Hukum dalam memberikan kepastian hukum terhadap
keberlakuan keputusan di luar RUPS yang merupakan perubahan anggaran
dasar yang tidak dituangkan dalam akta notaris untuk bisa memperhatikan
peraturan yang terkait mengenai pengaturan RUPS yang berlaku di Indonesia.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat mengembangkan Ilmu Hukum khususnya Ilmu
Kenotariatan yang telah diperoleh selama kuliah, memberikan wawasan dan
ilmu pengetahuan tentang Tanggung Jawab Notaris kedepan terhadap Akta
yang dibuat berdasarkan Keputusan Sirkuler Pemegang Saham serta sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan.

1.5 Kerangka Teoritis dan Konseptual


1.5.1 Asas Kepastian Hukum
Kepastian hukum memiliki arti “ketentuan, ketetapan” sedangkan jika kata
kepastian itu digabungkan dengan kata hukum menjadi kepastian hukum,
mempunyai makna” perangkat hukum negara yang mampu menjamin hak dan
8

kewajiban setiap warga negara “.*** Kepastian hukum secara historis muncul sejak
ada gagasan pemisahan kekuasaan yang dinyatakan oleh montesquieu, yakni
bahwa dengan adanya pemisahan kekuasaan, maka tugas penciptaan undang-
undang itu berada ditangan pembentuk undang-undang itu sendiri, sedangkan
hakim (peradilan) hanya bertugas menyuarakan isi daripada undang-undang saja.
Argumen ini muncul karena adannya kesewenang-wenangan kaum monarki
dimana kepala kerajaan amat menentukan sistem hukum. Peradilan pada masa itu
hanya menjadi pelayanan monarki.††† pendapat dari Peter Mahmud Marzuki‡‡‡
menyatakan Bahwa kepastian hukum memiliki dua pengertian, yakni: pertama
adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa
yang boleh atau tidak boleh dilakukan dan kedua berupa keamanan hukum bagi
individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang
bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang oleh dibebankan atau
dilakukan oleh negara terhadap individu. Kepastian hukum bukan hanya berupa
Pasal-Pasal dalam undang-undang, melainkan juga adanya konsistensi dalam
putusan hakim antara putusan yang satu dengan putusan lainnya untuk kasus
serupa yang telah diputuskan.
Berbicara mengenai suatu kepastian, maka tidak terlepas dari suatu
keadaan yang pasti, secara prinsipil hukum yang ada haruslah mengandung unsur
sebuah kepastian. Pasti sebagai bentuk pedoman berperilaku bagi
masyarakat,untuk mencari suatu kepastian dalam konteks negara hukum, maka
kepastian itu didapatkan secara normatif, bukan sosiologis. §§§ Kepastian hukum
secara normatif adalah tatkala sesuatu diatur dalam hukum formal negara/hukum
positif yang memiliki tujuan agar segala sesuatu perbuatan yang diatur dalam
ketentuan formal/hukum positif tersebut memiliki daya pembuktian yang kuat dan
memberikan perlindungan hukum terhadap orang-orang yang melakukan

***
Anton M. Moeliono, dkk. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.
2008). hlm 1028.
†††
U Utrecht dan Moh. Saleh J Jindang. Pengantar Dalam Hukum Indonesia. (Jakarta.
Iktiar baru dan sinar harapan, 1989). hlm. 388.
‡‡‡
Peter Mahmud Marzuk. Pengantar Ilmu Hukum. (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group. 2008). hlm. 158.
§§§
Dominikus Rato. Filsafat Hukum Mencari dan Memahami Hukum. (Yogyakarta:
Laksbang Pressindo. 2010). hlm. 59.
9

perbuatan hukum yang telah diatur dalam hukum formal/hukum positif tersebut.
Lili Rasjidi,**** kepastian hukum merupakan Nilai kepastian hukum
merupakan nilai yang pada prinsipnya memberikan perlindungan hukum bagi
setiap warga negara dari kekuasaan yang bertindak sewenang-wenang, sehingga
hukum memberikan tanggung jawab pada negara untuk menjalankannya. Nilai itu
mempunyai relasi yang erat dengan instrumen hukum positif dan peranan negara
dalam mengaktualisasikannya dalam hukum positif. Dalam hal ini kepastian
hukum berkedudukan sebagai nilai yang harus ada dalam setiap hukum yang
dibuat dan diterapkan. Sehingga hukum itu dapat memberikan rasa keadilan dan
dapat mewujudkan adanya ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
Sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Lili Rasjidi karena
sejatinya kepastian hukum memiliki kedudukan sebagai nilai yang harus ada atau
wajib ada dalam setiap hukum yang dibuat dan diterapkan. Sehingga hukum itu
dapat memberikan rasa keadilan dan dapat mewujudkan adanya ketertiban dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Apabila hukum itu sendiri
masih belum memberikan rasa keadilan dan tidak dapat mewujudkan ketertiban
dan ketentraman dalam masyarakat, maka hukum perlu dilakukan perbaikan
sampai dengan dapat mengakomodir rasa keadilan didalam setiap warga negara.

1.5.2 Teori Pertanggung Jawaban Hukum


Hukum tanggung jawab adalah suatu akibat atas konsekuensi kebebasan
seorang tentang perbuatannya yang berkaitan dengan etika atau moral dalam
melakukan suatu perbuatan.†††† Titik Triwulan, pertanggung jawaban harus
mempunyai dasar, yaitu hal yang menyebabkan timbulnya hak hukum bagi
seorang untuk menuntut orang lain sekaligus berupa hal yang melahirkan
kewajiban hukum orang lain untuk memberi pertanggung jawabannya.‡‡‡‡

****
Lili Rasjidi. Filsafat Hukum Mazhab dan Refleksinya. (Bandung: Remaja Roesdakarya
Offset. 1994). hlm. 27.
††††
Soekidjo Notoatmojo. Etika dan Hukum Kesehatan. (Jakarta: Rineka Cipta 2010). hlm
13.
‡‡‡‡
Titik Triwulan dan Shinta Febrian. Perlindungan Hukum bagi Pasien. (Jakarta:
Prestasi Pustaka. 2010). hlm 48.
10

Hukum perdata, dasar pertanggung jawaban dibagi menjadi dua macam,


yaitu kesalahan dan risiko. Dengan demikian dikenal dengan pertanggung
jawaban atas dasar kesalahan (lilability without based on fault) dan
pertanggungjawaban tanpa kesalahan yang dikenal (lilability without fault) yang
dikenal dengan tanggung jawab risiko atau tanggung jawab mutlak (strick
liabiliy).§§§§ Prinsip dasar pertanggung jawaban atas dasar kesalahan mengandung
arti bahwa seseorang harus bertanggung jawab karena ia melakukan kesalahan
karena merugikan orang lain. Sebaliknya prinsip tanggung jawab risiko adalah
bahwa konsumen penggugat tidak diwajibkan lagi melainkan produsen tergugat
langsung bertanggung jawab sebagai risiko usahanya.

Abdulkadir Muhammad, dengan adanya beberpa teori tanggung jawab


dalam perbuatan melanggar hukum (Tort Liability) dibagi menjadi beberapa teori,
yaitu. Yang Pertama, Adanya Tanggung jawab yang harus dilakukan terkait
perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan sengaja (intertional tort
liability), dimana tergugat haruslah melakukan perbuatan sedemikian rupa
sehingga merugikan penggugat atau mengetahui bahwa apa yang dilakukan
tergugat akan mengakibatkan kerugian. Kemudian yang kedua, adanya Tanggung
jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan karena kelalaian
(Negligence Tort Lilability), didasari pada konsep kesalahan (Concept Of Fault)
yang berhubungan dengan moral dan hukum yang sudah bercampur baur
(Interminglend). Tanggung jawab mutlak akibat perbuatan melanggar hukum
tanpa mempersoalkan kesalahan (Stirck Liability), didasarkan pada perbuatannya
baik secara sengaja maupun tidak sengaja, artinya meskipun bukan kesalahannya
tetap bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat perbuatannya.*****

1.5.3 Pengertian, Kewenangan, dan Kewajiban Notaris


1.5.3.1 Notaris
Notaris adalah kepanjangan tangan Negara dimana ia menunaikan
sebagian tugas negara dibidang hukum perdata. Negara dalam rangka memberikan
§§§§
Ibid. hlm. 49.
*****
Abdulkadir Muhammad. Hukum Perusahaan Indonesia. (Bandung: Citra Aditya
Bakti. 2010). hlm. 503.
11

perlindungan hukum dalam bidang hukum privat kepada warga negara yang telah
melimpahkan sebagaian wewenangnya kepada Notaris untuk membuat akta
otentik. Oleh karena itu, ketika menjalankan tugasnya, Notaris wajib diposisikan
sebagai pejabat umum yang mengemban tugas.†††††
Kata Notaris berasal dari kata Notarius ialah nama yang pada zaman
Romawi, diberikan kepada orang-orang yang menjalankan pekerjaan menulis.
Nama Notarius ini lambat laun memiliki arti mereka yang mengadakan pencatatan
dengan tulisan cepat, seperti stenograaf sekarang.‡‡‡‡‡ Menurut Pasal 1 ayat 1
UUJN, menyebutkan bahwa Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk
membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.
Notaris sebagai pejabat umum,§§§§§ merupakan terjemahan dari istilah
Openbare Ambtenare yang terdapat dalam Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris
(PJN),****** dan Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHPerdata).††††††
Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris menyebutkan bahwa:
Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk
membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang
diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan
dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian
tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya,
semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga

†††††
Dody Radjasa Waluyo. Kewenangan Notaris Selaku Pejabat Umum. (Media Notariat
(Menor) Edisi Oktober-Desember. 2001). hlm 63.
‡‡‡‡‡
R.Soegono Notodisoerjo. Hukum Notariat Di Indonesia Suatu Penjelasan. (Jakarta:
Raja Grafindo Persada. 1993). hlm 13.
§§§§§
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dalam Putusan Nomor 009-014/PUU-
111/2005, tanggal 13 September 2005 mengistilahkan tentang Pejabat Umum sebagai Public
Official. Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor 009-014/PUU-
111/2005,. http://hukum.unsrat.ac.id/ mk/mk_9_14_2005.pdf, diakses pada tanggal 15 Februari
2021.
******
Istilah Openbare Ambtenaren yang terdapat dalam Art. 1 dalam Reglement op Het
Notaris Ambt in Indonesie (Stb. 1860:3), diterjemahkan menjadi Pejabat Umum oleh G. H. S.
Lumban Tobing didalam kata pengantar bukunya. Lihat G. H. S. Lumban Tobing, Peraturan
Jabatan Notaris, Cetakan V, (Jakarta: Gelora Aksara Pratama, 1999), hlm. v.
††††††
Istilah Openbare Ambtenaren yang terdapat dalam Pasal 1868 Burgerlijk Wetboek
(BW) diterjemahkan menjadi Pejabat Umum oleh R.Soebekti dan R.Tjitrosudibio. Lihat Indonesia,
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), Diterjemahkan oleh R. Soebekti dan
R. Tjitrosudibio, Cetakan XXV, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1995), hlm. 397.
12

ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.

Pasal 1868 KUHPerdata menyebutkan:


Suatu akta autentik ialah suatu akta yang di dalam bentuk yang ditentukan
oleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang berkuasa
untuk itu di tempat dimana akta dibuatnya.

Tugas Notaris adalah mengkonstatir hubungan hukum antara para pihak


dalam bentuk tertulis dan format tertentu, sehingga merupakan suatu akta otentik.
Ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum. Dengan
demikian Openbare Ambtenaren adalah pejabat yang mempunyai tugas bertalian
dengan kepentingan publik, sehingga tepat jika Openbare Ambtenaren diartikan
sebagai pejabat publik. Khususnya bertalian dengan Openbare Ambtenaren yang
diterjemahkan sebagai Pejabat Umum yang diartikan sebagai pejabat yang
diserahi tugas untuk membuat akta otentik yang melayani kepentingan publik, dan
kualifikasi seperti itu diberikan kepada Notaris.‡‡‡‡‡‡
Aturan hukum sebagaimana tersebut diatas yang mengatur keberadaan
Notaris tidak memberikan batasan atau definisi mengenai pejabat umum, karena
sekarang ini yang diberi kualifikasi sebagai Pejabat Umum bukan hanya Notaris
saja, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) juga diberi kualifikasi sebagai Pejabat
Umum, Pejabat Lelang. Pemberian kualifikasi sebagai Pejabat Umum kepada
pejabat lain selain Pejabat Umum, bertolak belakang dengan makna dari Pejabat
Umum itu sendiri, karena seperti PPAT hanya membuat akta-akta tertentu saja
yang berkaitan dengan pertanahan dengan jenis akta yang sudah ditentukan, dan
Pejabat Lelang hanya untuk lelang saja. §§§§§§ Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal
1868 KUH Perdata yang menyatakan bahwa akta otentik dibuat oleh atau di
hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu. Pegawai-pegawai
umum yang berkuasa tersebut diantaranya adalah PPAT, Pejabat Lelang, Pejabat
KUA, Pejabat Dinas Kependudukan dan termasuk Notaris yang berkuasa
mengeluarkan akta otentik sesuai kewenangannya masing-masing yang telah

‡‡‡‡‡‡
Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat
Publik, Cetakan 2, (Bandung: Refika Aditama, 2009), hlm. 27.
§§§§§§
Dody Radjasa Waluyo, Op.Cit. hlm. 63.
13

ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.*******


Pemberian kualifikasi Notaris sebagai Pejabat Umum berkaitan dengan
wewenang Notaris. Menurut Pasal 15 ayat (1) UUJN bahwa Notaris berwenang
membuat akta otentik, sepanjang pembuatan akta-akta tersebut tidak ditugaskan
atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain. Pemberian wewenang kepada
pejabat atau instansi lain, seperti Kantor Catatan Sipil, tidak berarti memberikan
kualifikasi sebagai Pejabat Umum tapi hanya menjalankan fungsi sebagai Pejabat
Umum saja ketika membuat akta-akta yang ditentukan oleh aturan hukum, dan
kedudukan mereka tetap dalam jabatannya seperti semula sebagai Pegawai
Negeri. Misalnya akta-akta, yang dibuat oleh Kantor Catatan Sipil juga termasuk
akta otentik. Kepala Kantor Catatan Sipil yang membuat dan menandatanganinya
tetap berkedudukan sebagai Pegawai Negeri.†††††††
Berdasarkan pengertian di atas, bahwa Notaris berwenang membuat akta
sepanjang dikehendaki oleh para pihak atau menurut aturan hukum wajib dibuat
dalam bentuk akta otentik. Pembuatan akta tersebut harus berdasarkan aturan
hukum yang berkaitan dengan prosedur pembuatan akta Notaris, sehingga
Jabatan Notaris sebagai Pejabat Umum tidak perlu lagi diberi sebutan lain yang
berkaitan dengan kewenangan Notaris: seperti Notaris sebagai Pembuat Akta
Koperasi berdasarkan Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah Republik Indonesia Nomor: 98/KEP/M.KUKM/IX/2004, tanggal 24
September 2004 tentang Notaris Sebagai Pejabat Pembuat Akta Koperasi,
kemudian Notaris sebagai Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW)
berdasarkan Pasal 37 ayat
(3) dan (4) Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2006 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Pemberian
sebutan lain kepada Notaris seperti tersebut di atas telah mencederai makna
Pejabat Umum. Seakan-akan Notaris akan mempunyai kewenangan tertentu jika
disebutkan dalam suatu aturan hukum dari instansi pemerintah.‡‡‡‡‡‡‡
Dalam Pasal 1 huruf a disebutkan bahwa “Notaris: de ambtenaar,”
*******
Ibid, hlm. 63.
†††††††
Habib Adjie, Op. Cit, hlm, 28-29.
14

Notaris tidak lagi disebut sebagai Openbaar Ambtenaar sebagaimana tercantum


dalam Pasal 1 Wet op het Notarisambt yang lama (diundangkan tanggal Juli
1842, Stb. 20). Tidak dirumuskan lagi Notaris sebagai Openbaar Ambtenaar,
sekarang ini tidak dipersoalkan apakah Notaris sebagai pejabat umum atau
bukan, dan perlu diperhatikan bahwa istilah Openbaar Ambtenaar dalam konteks
ini tidak bermakna umum, tetapi bermakna publik. Ambt pada dasarnya adalah
jabatan publik. Dengan demikian jabatan Notaris adalah jabatan publik tanpa
perlu atribut Openbaar.15 Penjelasan Pasal 1 huruf (a) tersebut di atas bahwa
penggunaan istilah Notaris sebagai Openbaar Ambtenaar sebagai
tautologie.§§§§§§§
Jika ketentuan dalam Wet op het Notarisambt tersebut di atas dijadikan
rujukan untuk memberikan pengertian yang sama terhadap ketentuan Pasal 1
angka 1 UUJN yang menyebutkan Notaris adalah Pejabat Umum yang
berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) dan (3) UUJN. Maka Pejabat Umum yang
dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 UUJN harus dibaca sebagai Pejabat Publik atau
Notaris sebagai Pejabat Publik yang berwenang untuk membuat akta otentik
sesuai Pasal 15 ayat (1) UUJN dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 ayat (2) dan (3) UUJN dan untuk melayani kepentingan
masyarakat.

1.5.3.2 Kewenangan dan Kewajiban Notaris


Notaris merupakan lembaga yang ada dalam masyarakat dan timbul karena
adanya kebutuhan anggota masyarakat yang melakukan suatu perbuatan hukum,
yang menghendaki adanya suatu alat bukti tertulis jika ada sengketa atau
permasalahan, agar dapat dijadikan bukti yang paling kuat dipengadilan. Untuk
alasan itulah, anggota masyarakat membutuhkan Notaris untuk membuat akta

‡‡‡‡‡‡‡
Habib Adjie, Penggerogotan Wewenang Notaris Sebagai Pejabat Umum, Renvoi.
Nomor 04. Tahun II, 3 September 2004, hlm. 32.
§§§§§§§
Philipuss M. Hadjon dan Tatiek Sri Djatmiati, Argumentasi Hukum, (Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2005), hlm. 80.
15

otentik.******** Contohnya adalah akta perjanjian jual beli, kredit, sewa menyewa,
perjanjian hibah, akta wasiat, akta kuasa, dan lain sebagainya.
Notaris kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud
untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis
yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang
dikehendaki oleh para pihak agar dituangkan dalam bentuk akta otentik untuk
dijadikan sebagai alat bukti yang berdasarkan peraturan perundang-undangan
bahwa tindakan hukum tertentu wajib dibuat dalam bentuk akta
otentik.††††††††Contohnya akta pendirian perseroan terbatas, maupun berita acara
rapat para pemegang saham dalam perseroan terbatas, akta pendirian Yayasan,
persekutuan komanditer (CV), dan lain sebagainya.
Menurut Herlien Budiono, dalam lalu lintas hubungan-hubungan hukum
privat, Notaris menikmati kewenangan eksklusif untuk membuat akta-akta
otentik. Terhadap akta otentik tersebut diberikan kekuatan bukti yang kuat dalam
perkara-perkara perdata, sehingga Notaris yang berwenang membuat akta-akta
otentik menempati kedudukan sangat penting dalam kehidupan hukum. Dalam
banyak hal Notaris berkedudukan sebagai penasehat terpercaya dari orang-orang
yang memerlukan bantuan hukum, dan bagi klien dapat berperan sebagai
penunjuk arah.‡‡‡‡‡‡‡‡
Perkembangan jabatan Notaris di dalam masyarakat modern tidaklah
mungkin diwujudkan sekedar selaku Notaris yang apatis, namun harus
menjalankan fungsi aktif dengan dilatarbelakangi kehendak agar para pihak
melaksanakan dan memenuhi kontrak sebagaimana sejak semula dimaksudkan
dan disepakati oleh para pihak. Van Mourik menyatakan bahwa “fungsi seorang

********
Liliana Tedjosaputro, Etika Profesi Notaris: Dalam Penegakan Hukum Pidana,
(Yogyakarta: Bigraf Publishing, 1995), hlm. 84.
††††††††
Secara substantif akta Notaris dapat berupa: (1) suatu keadaan, peristiwa, atau
perbuatan hukum yang dikehendaki oleh para pihak agar dituangkan dalam bentuk akta otentik
untuk dijadikan sebagai alat bukti, (2) berdasarkan peraturan perundang-undangan bahwa
tindakan hukum tertentu wajib dibuat dalam bentuk akta otentik. Lihat Habib Adji, Sekilas
Dunia Notaris dan PPAT Indonesia, Cetakan Pertama, (Bandung: Mandar Maju, 2009), hlm. 22.
‡‡‡‡‡‡‡‡
Herlien Budiono, Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perjanjian Indonesia,
Hukum Perjanjian Berlandaskan Asas-Asas Wigati Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti,
2006), hlm. 257.
16

Notaris dalam masyarakat modern tidaklah mungkin seperti yang tidak pernah
terwujudkan, yakni sekedar penulis pasif yang tidak memiliki kehendak sendiri
dan dalam kedudukan demikian membiarkan terjadinya pemerkosaan hukum serta
ketidakadilan.”§§§§§§§§ Pengembangan praktik Notariat dalam kehidupan di
Indonesia sudah selayaknya mengembangkan diri dan melakukan pendalaman,
khususnya berkenaan dengan hukum dan sekaligus ditujukan dalam upaya
mencegah timbulnya sengketa di antara para pihak yang terkait.*********
Notaris sangat berperan dalam persentuhan antara perundang-undangan
dan dunia hukum, sosial, dan ekonomi praktikal. Notaris sebagai pejabat umum
(openbaar ambtenaar) bertanggungjawab untuk membuat surat keterangan
tertulis yang dimaksudkan sebagai bukti dari perbuatan-perbuatan hukum.†††††††††
Tugas dan wewenang Notaris diatur dalam Pasal 1 angka 1 UUJN, yaitu
membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam
UUJN. Kewenangan lain sebagaimana dimaksud dalam UUJN merujuk kepada
Pasal 15 ayat (1), (2) dan ayat (3) UUJN. Kewenangan Notaris dalam Pasal 15
ayat (1) UUJN, yaitu:
“Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua
perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh
peraturan perundangundangan dan/ atau dikehendaki oleh yang
berkepentingan supaya dinyatakan dalam suatu akta otentik,
menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta,
memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu
sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak ditugaskan atau
dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan
oleh undang-undang.”

Notaris berwenang membuat akta sepanjang dikehendaki oleh para pihak


atau menurut aturan hukum yang wajib dibuat dalam bentuk akta otentik.
Selanjutnya kewenangan Notaris diatur juga didalam Pasal 15 ayat (2) UUJN.
Dalam Pasal 4 ayat (2) UUJN mengenai sumpah/janji Notaris ditegaskan”bahwa
saya akan merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam

§§§§§§§§
Van Mourik M. J. A, dalam Herlien Budiono, Ibid, hlm. 261.
*********
Ibid, hlm. 261-262.
†††††††††
Ibid, hlm. 261-256.
17

pelaksanaan jabatan saya”, dan Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN, bahwa Notaris
berkewajiban “merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan
segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan
sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain”. Secara umum
Notaris wajib merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam
pembuatan akta Notaris, kecuali diperintahkan oleh undang-undang bahwa
Notaris tidak wajib merahasiakan dan memberikan keterangan yang diperlukan
yang berkaitan dengan akta tersebut, dengan demikian batasannya hanya undang-
undang saja yang dapat memerintahkan Notaris untuk membuka rahasia isi akta
dan keterangan/pernyataan yang diketahui Notaris yang berkaitan dengan
pembuatan akta yang dimaksud.
Notaris merupakan pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik
mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh
peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang
berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal
pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta,
semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau
dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan undang- undang.
Wewenang utama Notaris adalah membuat akta otentik, tapi tidak semua
pembuatan akta otentik menjadi wewenang Notaris. Akta yang dibuat oleh pejabat
lain, bukan merupakan wewenang Notaris, seperti akta kelahiran, pernikahan, dan
perceraian dibuat oleh pejabat selain Notaris. Akta yang dibuat Notaris tersebut
hanya akan menjadi akta otentik, apabila Notaris mempunyai wewenang yang
meliputi empat (4) hal, yaitu:‡‡‡‡‡‡‡‡‡
a. Notaris harus berwenang sepanjang menyangkut akta yang dibuat itu;
Tidak semua pejabat umum dapat membuat semua akta, akan tetapi
seorang pejabat umum hanya dapat membuat akta-akta tertentu, yakni
yang ditugaskan atau dikecualikan kepadanya berdasarkan peraturan
perundang-undangan. Dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN menyatakan bahwa
kewenangan Notaris yaitu membuat akta otentik mengenai semua
perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan
‡‡‡‡‡‡‡‡‡
G. H. S. Lumban Tobing, Op. Cit, hlm. 49.
18

perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan


untuk dinyatakan dalam akta otentik.
b. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang untuk kepentingan
siapa akta itu dibuat;
Notaris tidak berwenang untuk membuat akta untuk kepentingan setiap
orang. Dalam Pasal 52 ayat (1) UUJN menyatakan bahwa Notaris tidak
diperkenankan membuat akta untuk diri sendiri, isteri/suami, atau orang
yang mempunyai hubungan keluarga dengan Notaris baik karena
perkawinan maupun hubungan darah dalam garis lurus ke bawah dan/atau
keatas tanpa pembatasan derajat, serta dalam garis kesamping sampai
dengan derajat ketiga, serta menjadi pihak untuk diri sendiri, maupun
dalam suatu kedudukan ataupun dengan perantara kuasa. Maksud dan
tujuan dari ketentuan ini ialah untuk mencegah terjadinya tindakan
memihak dan penyalahgunaan jabatan.
c. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat, dimana akta itu
dibuat; Bagi setiap Notaris ditentukan daerah hukumnya (daerah
jabatannya) dan hanya di dalam daerah yang ditentukan baginya ia
berwenang untuk membuat akta otentik. Dalam Pasal 18 UUJN
menyatakan bahwa Notaris mempunyai tempat kedudukan di daerah
kabupaten/kota. Wilayah jabatan Notaris meliputi seluruh wilayah propinsi
dari tempat kedudukannya. Akta yang dibuat diluar daerah jabatannya
adalah tidak sah.
d. Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan akta itu;
keadaan dimana Notaris tidak berwenang (onbevoegd) untuk membuat
akta otentik, yaitu:
- Sebelum Notaris mengangkat sumpah (Pasal 7 UUJN); (Notaris tidak
berwenang membuat akta otentik sebelum mengangkat sumpah di
hadapan pejabat yang berwenang yang ditunjuk untuk itu berdasarkan
UU).
- Selama Notaris diberhentikan sementara (skorsing); maka notaris yang
bersangkutan tidak berwenang membuat akta otentik sampai masa
skorsingnya berakhir.
- Selama Notaris cuti; (Notaris yang sedang cuti tidak berwenang membuat
akta otentik).
- Berdasarkan ketentuan Pasal 40 ayat (2) huruf e tentang saksi akta dan
Pasal 52 ayat (1) UUJN. (saksi dalam pembuatan akta otentik minimal
dua orang).

Berdasarkan wewenang yang ada pada Notaris sebagaimana tersebut


dalam Pasal 15 UUJN dan kekuatan pembuktian dari akta Notaris, maka ada 2
(dua) kesimpulan, yaitu:
1. Tugas jabatan Notaris adalah memformulasikan keinginan/tindakan para pihak
ke dalam akta otentik, dengan memperhatikan aturan hukum yang berlaku.
19

2. Akta Notaris sebagai akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian yang


sempurna, sehingga tidak perlu dibuktikan atau ditambah dengan alat bukti
lainnya, jika ada orang/pihak yang menilai atau menyatakan bahwa akta
tersebut tidak benar, maka orang/pihak yang menilai atau menyatakan tidak
benar tersebut wajib membuktikan penilaian atau pernyataannya sesuai aturan
hukum yang berlaku. Kekuatan pembuktian akta Notaris ini berhubungan
dengan sifat publik dari Jabatan Notaris. Sepanjang suatu akta Notaris tidak
dapat dibuktikan ketidak benarannya maka akta tersebut merupakan akta
otentik yang memuat keterangan yang sebenarnya dari para pihak dengan
didukung oleh dokumen-dokumen yang sah dan saksi-saksi yang dapat
dipertanggung jawabkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.§§§§§§§§§

1.5.4 Akta Notaris Sebagai Akta Otentik


Pasal 58 ayat (2) UUJN disebutkan bahwa Notaris wajib membuat Daftar
Akta dan mencatat semua akta yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris. Akta
yang dibuat oleh (door) Notaris dalam praktek Notaris disebut Akta Relaas atau
Akta Berita Acara yang berisi berupa uraian Notaris yang dilihat dan disaksikan
Notaris sendiri atas permintaan para pihak, agar tindakan dan perbuatan para
pihak yang dilakukan dituangkan ke dalam bentuk akta Notaris. Akta yang dibuat
dihadapan (ten overstaan) Notaris, dalam praktek Notaris disebut Akta Pihak
(Akta Partij), yang berisi uraian atau keterangan, pernyataan para pihak yang
diberikan atau yang diceritakan dihadapan Notaris. Para Pihak berkeinginan agar
uraian atau keterangannya dituangkan ke dalam bentuk akta Notaris.
Adapun larangan bagi Notaris diatur dalam Pasal 17 ayat (1) UUJN.
Berdasarkan Pasal 52 ayat (1) UUJN, “Notaris dilarang untuk membuat akta
dalam suatu keadaan tertentu seperti membuat akta untuk diri sendiri maupun
§§§§§§§§§
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3199 K/Pdt/1994, tanggal
27 Oktober 1994, menegaskan bahwa akta otentik menurut ketentuan ex Pasal 165 HIR Jo. Pasal
285 Rbg Jo. Pasal 1868 KUH Perdata merupkan bukti yang sempurna bagi kedua belah pihak dan
para ahli warisnya dan orang-orang yang mendapat hak darinya. Lihat M. Ali Boediarto,
Kompilasi Kaidah Hukum Putusan Mahkamah Agung, Hukum Acara Perdata Setengah Abad,
(Jakarta: Swa Justitia, 2005), hlm. 150.
20

keluarga sendiri”. Apabila seorang Notaris melanggar Pasal 52 ayat (1) tersebut
diatasberdasarkan Pasal 52 ayat (3) maka Notaris tersebut dikenakan sanksi
perdata yaitu dengan “membayar biaya, ganti rugi dan bunga kepada para
penghadap dan konsekuensinya adalah akta yang dibuat hanya memiliki kekuatan
pembuktian sebagai akta dibawah tangan”. Notaris dalam keadaan tertentu tidak
berwenang dalam membuat akta karena alasan-alasan yang berkaitan dengan
tugas jabatan Notaris, seperti:**********
1. Sebelum Notaris mengangkat sumpah (Pasal 4 UUJN).
2. Selama Notaris diberhentikan sementara dari jabatannya (Pasal 9 UUJN).
3. Diluar wilayah jabatannya (Pasal 17 huruf a dan Pasal 18 ayat (2) UUJN.
4. Selama Notaris cuti (Pasal 25 UUJN).
Terkait pembukian akta dimana pada Pasal 164 HR, Pasal 283 Tbg, dan
Pasal 1865 KUH Perdata, maka jelas bahwa bukti tulisan ditempatkan paling atas
dari seluruh alat-alat bukti yang disebut dalam Pasal-Pasal undang-undang
tersebut. Pada hakikatnya kekuatan pembuktian dari akta itu selalu dapat
dibedakan atas tiga, yaitu:††††††††††
1) Kekuatan pembuktian lahir (Uitendige Bewijskracth)
Yang dimaksud dengan kekuatan pembuktian lahir ialah kekuatan
pembuktian yang didasarkan atas keadaan lahir dari akta itu, maksudnya
bahwa suatu surat yang kelihatannya seperti akta, harus diperlakukan sebagai
akta, sampai dibuktikan sebaliknya.
2) Kekuatan pembuktian formil (Formil Bewijskracth)
Kekuatan pembuktian formal ini didasarkan atas benar tidaknya ada
pernyataan oleh yang bertanda tangan di bawah akta itu. Dalam akta otentik,
pejabat pembuat akta menyatakan dalam tulisan itu bahwa ada yang
dinyatakan dalam akta itu sebagaimana telah dicantumkan di
dalamnya.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
3) Kekuatan pembuktian materil (Materiele Bewijskracth)
**********
Habib Adjie. Sanksi Perdata dan Adminstrasi Terhadap Notaris Sebagai Pejabat
Publik. (Bandung: Refika Aditama. 2008). hlm 157. (selanjutnya disingkat Habib Adjie II)
††††††††††
Viktor M. Situmorang dan Cormentyna Sitanggang. Gross Akta dalam
Pembuktian dan Eksekusi. (Jakarta: Rineka Cipta. 1993). hlm 37-38.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Ibid. hlm 112.
21

Kekuatan pembuktian materil ini menyangkut pembuktian tentang materi


suatu akta, memberi kepastian tentang peristiwa bahwa pejabat dan para
pihak melakukan atau melaksanakan seperti apa yang diterangkan dalam akta
itu.§§§§§§§§§§ Akta pejabat sebagai akta otentik, tidak lain hanya membuktikan
apa yang disaksikan, yakni yang dilihat, didengar dan juga dilakukan sendiri
oleh pejabat itu dalam menjalankan jabatannya.

1.5.5 Tinjauan Umum Mengenai Tanda Tangan


Asril Sitompul, tanda tangan adalah data yang apabila tidak dipalsukan
dapat berfungsi untuk menyatakan orang yang tertera pada suatu dokumen setuju
dengan apa yang tercantum pada dokumen yang ditandatanganinya itu.***********
Semakin berkembangnya zaman, kini dikenal pula tanda tangan digital
(Digital Signature), yang mana fungsi dari tanda tangan yang dibuat secara
elektronik atau digital ini berfungsi sama dengan tanda tangan yang dibuat secara
nyata. Pengertian tanda tangan digital menurut UU ITE adalah tanda tangan yang
terdiri atas informasi elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan
informasi elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan
autentikasi sebagaimana diatur pada Pasal 11 ayat 1 UU ITE dan Dijelaskan lebih
lanjut di dalam Pasal 12 UU ITE, dikatakan bahwa setiap orang yang terlibat
dalam tanda tangan elektronik berkewajiban memberikan pengamanan atas tanda
tangan elektronik yang digunakannya.
Penggunaan tanda tangan digital memerlukan 2 (dua) proses, yaitu dari
pihak penandatangan serta dari pihak penerima. Secara rinci kedua proses tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pembentukan tanda tangan digital menggunakan nilai hash (nilai representasi
digital atau semacam sidik jari) yang dihasilkan dari dokumen serta kunci
privat (kunci publik yang digunakan dengan sistem kriptografi).
b. Verifikasi tanda tangan digital adalah proses pemeriksaan tanda tangan digital

§§§§§§§§§§
Ibid. hlm 113.
***********
Asril Sitompul. Hukum Internet Pengenalan Mengenai Masalah Hukum di
Cyberspace. (Bandung: Citra Aditya. 2001). hlm 42.
22

dengan mengacu pada pesan asli yang dikirimkan.††††††††††† Apabila hal-hal


tersebut telah terpenuhi, maka suatu tanda tangan digital juga dapat memenuhi
unsur yuridis seperti yang tertuang di dalam tanda tangan secara konvensional.

1.5.6 Konsep Dasar Mengenai Perseroan Terbatas


1.5.7.1 Perseroan Terbatas
Pasal 1 angka (1) UUPT, definisi Perseroan Terbatas yaitu:
“Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah
badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan
berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal
dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta
peraturan pelaksanaannya.”‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡

Soedjono Dirjosisworo, Perseroan Terbatas atau PT adalah badan hukum


yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal
dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dalam UUPT sebagaimana telah diubah dengan serta peraturan
pelaksanaannya.§§§§§§§§§§§ H.M.N. Purwosutjipto, Perseroan terbatas adalah
persekutuan berbentuk badan hukum. Badan hukum ini tidak disebut
“persekutuan”, tetapi “perseroan”, sebab modal badan hukum itu terdiri dari sero-
sero atau saham yang dimilikinya.************ Zaeni Asyhadie Perseroan Terbatas
adalah suatu bentuk usaha yang berbadan hukum, yang pada awalnya dikenal
dengan nama Naamloze Vennootschap (NV). Istilah “Terbatas” di dalam PT
tertuju pada tanggung jawab pemegang saham yang hanya terbatas pada nominal
dari semua saham yang dimilikinya.†††††††††††† Perseroan Terbatas adalah badan
hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan

†††††††††††
Edmon Makarim. Notaris & Transaksi Elektronik Kajian Hukum tentang
Cybernotary atau Electronic Notary. (Jakarta: Raja Grafindo. 2013). hlm 69.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas.
§§§§§§§§§§§
Soedjono Dirjosisworo. “HukumPerusahaan Mengenai Bentuk-bentuk
Perusahaan badan usaha) di Indonesia”. ( Bandung: Mandar Maju. 1997). hlm 48.
************
H.M.N. Purwosutjipto. “Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia. (Jakarta:
Djambatan. 1979. hlm 85.
††††††††††††
Zaeni Asyhadie. “Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia”.
(Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2005). hlm 41.
23

modal saham yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan
yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini disertakan serta peraturan
pelaksanaannya.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Maka dapat disimpulkan Perseoan Terbatas adalah
bentuk usaha yang berbadan hukum dan didirikan bersama oleh beberapa orang,
dengan modal tertentuyang terbagi atas saham-saham, yang para anggotanya
dapat memiliki satu atau lebih saham dan bertanggung jawab terbatas sampai
jumlah saham yang dimilikinya.

1.5.6.2 Organ Perseroan Terbatas


Organ Perseroan Terbatas, menurut UUPT, terdiri dari Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris dan Direksi. Ketiga organ tersebut
melakukan metabolisme tubuh didalam badan hukum PT, menjalankan roda
kegiatan PT ke arah visi misinya. Kegiatan organ-organ tersebut meliputi fungsi
pembuatan kebijakan, pelaksanaan, dan pengawasan.§§§§§§§§§§§§ Berikut akan
diuraikan secara umum mengenai organ-organ Perseroan tersebut:
a. Rapat Umum Pemegang Saham
Rapat Umum Pemegang Saham************* yang selanjutnya disebut
dengan RUPS, adalah forum tertinggi untuk pengambilan keputusan dalam
perseroan terbatas. Keputusan tersebut merupakan suatu dokumen bagi
perusahaan yang mempunyai nilai bukti yang kuat jika dicatat dalam RUPS
yang kemudian dituangkan kedalam akta notaris. Pasal 1 angka 4 UUPT,
RUPS adalah organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak
diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang
ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar. Jadi dapat
dikatakan bahwa RUPS merupakan rapat yang dilakukan oleh para
pemegang saham dalam kedudukan mereka sebagai pemilik Perseroan, yang

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
I.G. Rai Widjaya. “Hukum Perusahaan dan Undang-Undang dan Peraturan
Pelaksanaan di Bidang Usaha”. (Jakarta: KBI. 2000). hlm 127.
§§§§§§§§§§§§
M. Hadi Subhan. Hukum Kepailitan, Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan.
(Jakarta: Prenada Media Group. 2008). hlm 225.
*************
Mustakim. Kedudukan Risalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
sebagai akta otentik dalam kaitan dengan tanggung jawab notaris sebagai pejabat umum. Jurnal
ilmu hukum. Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Hlm. 160. Volume 18. Nomor 01. April
2016. ISSN : 2527-8428.
24

mana mempunyai wewenang yang tidak dimiliki oleh Direksi maupun


Dewan Komisaris.
b. Dewan Komisaris
Komisaris adalah organ perseroan yang melakukan pengawasan
secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta
memberikan nasihat kepada Direksi. Pengawasan dan pemberian nasihat ini
dilakukan untuk kepentingan perseroan.††††††††††††† Dewan Komisaris
berdasarkan Pasal 1 angka 6 UUPT adalah sebagai organ perseroan yang
bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai
dengan anggaran dasar serta memberikan nasihat kepada direksi.
c. Direksi
Direksi atau selalu disebut dengan pengurus perseroan adalah
seseorang yang menjadi perlengkapan perseroan dalam melakukan kegiatan
dan menjalankan kepengurusan perseroan sebaik-baiknya dengan tujuan
untuk mensukseskan perseroan.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Berdasarkan Pasal 1 angka 5
UUPT, Direksi adalah organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung
jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan,
sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik
di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran
dasar.

1.5.7 Rapat Umum Pemegang Saham


1.5.8.1 Pengertian Rapat Umum Pemegang Saham
Rapat Umum Pemegang Saham yang selanjutnya disebut dengan RUPS,
adalah forum tertinggi untuk pengambilan keputusan dalam perseroan terbatas.
Keputusan RUPS ini akan menjadi dokumen hukum bagi pemegang saham
maupun perseroan itu sendiri Keputusan tersebut mempunyai bukti yang kuat jika

†††††††††††††
Badriyah Rifai. Peran Komisaris Independen Dalam Mewujudkan Good
Corporate Governance di Perusahaan Publik. Jurnal Hukum. Universitas Hasanuddin Sulawesi
Selatan. hlm 400. Volume 16. Nomor 3. 2009. ISSN: 2527-502X.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Dedi Irawan. Pengelolaan Keuangan Negara Yang Dipisahkan Oleh Badan
Hukum. Jurnal Nestor Magister Ilmu Hukum. Universitas Tanjungpura. volume 3. Nomor 5.
2013. ISSN : 0216-2091.
25

dicatat dalam RUPS yang kemudian dituangkan kedalam akta notaris. §§§§§§§§§§§§§
Rapat Umum Pemegang Saham adalah rapat yang diselenggarakan oleh direksi
perseroan setiap tahun dan setiap waktu berdasarkan kepentingan perseroan,
ataupun atas permintaan pemegang saham sesuai dengan ketentuan Anggaran
Dasar**************. Kehendak pemegang saham secara bersama-sama dituangkan
dalam suatu keputusan yang dianggap sebagai kehendak perseroan, yang tak dapat
ditentang oleh siapapun dalam perseroan, kecuali jika keputusan itu bertentangan
dengan maksud dan tujuan perseroan.†††††††††††††† Selain RUPS dapat diadakan
rapat setiap kali bila dianggap perlu oleh pengurus, komisaris atau pemegang-
pemegang saham, Dalam Akta Pendirian dapat ditentukan secara bebas siapa-
siapa yang berhak memanggil RUPS. Jika hal ini tidak ditentukan dalam akta,
maka pada umumnya baik Pengurus maupun Komisaris berhak memanggil rapat
tersebut.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Pengertian Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menurut Pasal 1 angka
(4) UUPT adalah Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak
diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan
dalam UU ini dan/atau anggaran dasar.
1.5.7.2 Jenis-Jenis Rapat Umum Pemegang Saham
Ada dua macam RUPS sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 65 ayat
(1) UUPT, yaitu RUPS tahunan dan RUPS lainnya. RUPS tahunan diadakan
setiap tahun untuk membahas laporan tahunan yang diajukan Direksi. UU
menentukan paling lambat laporan tahunan diselenggarakan enam bulan sesudah
tahun buku. Dengan demikian RUPS tahunan dilakukan sebelum tanggal satu Juli
setiap tahunnya. Dalam RUPS ini diharapkan semua dokumen perseroan yang
berhubungan dengan laporan tahunan harus diajukan. Karena itu Direksi perlu
§§§§§§§§§§§§§
Mustakim. Kedudukan Risalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
sebagai akta otentik dalam kaitan dengan tanggung jawab notaris sebagai pejabat umum. Jurnal
ilmu hukum. Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Hlm. 160. Volume 18. Nomor 01. April
2016. ISSN : 2527-8428.
**************
I.G. Rai Widjaya(b). Hukum Perusahaan Dan Undang-Undang Dan
Peraturan Pelaksanaan Di Bidang Usaha. (Jakarta: Kesaint Blanc. 2005). hlm 257.
††††††††††††††
C.S.T. Kansil. Pokok-pokok Hukum Perseroan Terbatas Tahun 1995.
(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1996). hlm 66.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Gatot Supramono. Hukum Perseroan Terbatas Yang Baru. (Jakarta:
Djambatan. 2004). hlm 68.
26

mempersiapkan sebelum rapat dimulai, karena tugas tersebut dalam rangka


tersebut dalam rangka memberikan pertanggungjawaban Direksi.§§§§§§§§§§§§§§
Sebelum lahirnya UUPT dalam praktik dikenal adanya Rapat Umum Luar Biasa
Pemegang Saham yang diadakan kapan saja sesuai kebutuhan.
Penyelenggaraannya dapat dilakukan atas permintaan satu atau lebih
pemegang saham yang bersama-sama mewakili 1/10 bagian dari jumlah seluruh
saham dengan hak suara yang sah atau suatu jumlah lebih kecil yang telah
ditentukan dalam anggaran dasar perseroan (Pasal 66 ayat (2) UUPT). Adapun
caranya pemegang saham mengajukan permintaan kepada Direksi atau Komisaris
dengan surat tercatat disertai dengan alasannya. Jika disetujui, maka dalam RUPS
yang dibicarakan hanyalah masalah yang berkaitan dengan alasan yang tercantum
dalam permintaan tersebut.
1.5.7.3 Pelaksanaan dan Prosedur Rapat Umum Pemegang Saham
Berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas
Mengenai penyelenggaraan RUPS, Pasal 78 ayat (1) UUPT
mengklasifikasikannya dalam dua bentuk yaitu RUPS tahunan dan RUPS lainnya.
RUPS tahunan harus dilaksanakan dalam batas jangka waktu yang ditentukan oleh
undang-undang yakni paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun buku berakhir.
Sedangkan RUPS lainnya atau dalam praktik biasa disebut RUPS luar biasa dapat
dilaksanakan kapan saja sesuai dengan kepentingan atau kebutuhan Perseroan.
Direksi atau Dewan Komisaris tidak melakukan pemanggilan RUPS dalam jangka
waktu tersebut, pemegang saham yang meminta penyelenggaraan RUPS dapat
mengajukan permohonan kepada ketua pengadilan negeri yang daerah hukumnya
meliputi tempat kedudukan perseroan, untuk menetapkan pemberian izin kepada
pemohon melakukan sendiri pemanggilan RUPS tersebut. Ketua pengadilan
negeri setelah memanggil dan mendengar pemohon, Direksi dan/atau Dewan
Komisaris, menetapkan pemberian izin untuk menyelenggarakan RUPS apabila
pemohon secara sumir telah membuktikan bahwa persyaratan telah dipenuhi dan
pemohon mempunyai kepentingan yang wajar untuk diselenggarakannya RUPS.
Penetapan Ketua Pengadilan Negeri mengenai pemberian izin tersebut

§§§§§§§§§§§§§§
Gatot Supramono. Ibid., hlm 68-69.
27

bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap, artinya adalah bahwa
penetapan tersebut tidak dapat diajukan banding, kasasi, atau peninjauan kembali.
Ketua pengadilan negeri menolak permohonan dalam hal pemohon tidak dapat
membuktikan secara sumir bahwa persyaratan telah dipenuhi dan pemohon
mempunyai kepentingan yang wajar untuk diselenggarakannya RUPS. Dalam hal
penetapan ketua pengadilan negeri menolak permohonan, upaya hukum yang
dapat diajukan hanya kasasi.***************

1.5.7.4 Keputusan Pemegang Saham Diluar RUPS


Peraturan mengenai pelaksanaan RUPS ini telah memberikan banyak sekali
kemudahan-kemudahan dengan menyesuaikan perkembangan zaman. Dengan
teknologi internet yang telah berevolusi menjadi sedemikian rupa, Pasal 77 UUPT
memberikan pilihan kepada pemegang saham untuk melaksanakan RUPS media
telekonferensi, video konferensi, atau sarana media elektronik lainnya yang
memungkinkan semua peserta RUPS saling melihat dan mendengar secara langsung
serta berpartisipasi dalam rapat. RUPS tersebut dapat dilaksanakan dengan syarat
yang sama seperti pelaksanaan RUPS yang dilakukan seperti biasa.
Kemudahan lainnya yang diberikan UUPT terkait pelaksanaan RUPS adalah
sebagaimana diatur dalam Pasal 91 UUPT yaitu pemegang saham dapat juga
mengambil keputusan yang mengikat di luar RUPS dengan syarat semua pemegang
saham dengan hak suara menyetujui secara tertulis dengan menandatangani usul yang
bersangkutan. Dijelaskan dalam penjelasannya, yang dimaksud dengan “pengambilan
keputusan di luar RUPS” dalam praktik dikenal dengan usul keputusan yang
diedarkan (keputusan sirkuler/circular resolution). Pengambilan keputusan seperti
ini dilakukan tanpa diadakan RUPS secara fisik, tetapi keputusan diambil dengan cara
mengirimkan secara tertulis usul yang akan diputuskan kepada semua pemegang
saham dan usul tersebut disetujui secara tertulis oleh seluruh pemegang saham.
Keputusan yang mengikat adalah keputusan yang mempunyai kekuatan hukum yang
sama dengan keputusan RUPS. Dengan kata lain, keputusan sirkuler tersebut dapat
berisi tentang apa saja yang dapat diputuskan oleh RUPS yang dilaksanakan secara
fisik, yang salah satunya adalah perubahan anggaran dasar PT.

***************
Ibid. hlm 54.
28

1.5.7.5 Tata Cara Pembuatan Risalah Rapat Umum Pemegang Saham


Risalah RUPS ini diatur pada Pasal 90 UUPT yaitu:†††††††††††††††
a) Pembuatan risalah RUPS bersifat imperatif. Artinya setiap penyelenggaraan
RUPS wajib dibuat risalahnya.
b) Yang wajib menandatangani risalah RUPS adalah RUPS yang tidak dibuat
dalam akta notaris.
c) Sedangkan untuk RUPS yang dibuat dengan akta notaris tidak disyaratkan
ditandatangani.
Penyelenggaraan RUPS wajib dibuat risalah dan dibubuhi tanda langkah
ketua rapat dan paling sedikit 1 (satu) orang pemegang saham yang ditunjuk dari
dan oleh peserta RUPS. Selaku penyelenggara RUPS, Direksi mempunyai
kewajiban membuat risalah RUPS (Pasal 86 ayat (1) UUPT). Rekaman tulisan
tentang jalannya acara dan hasil rapat tersebut disimpan di kantor pusat perseroan
sebagai dokumen. Risalah itu merupakan dokumen penting bagi perseroan karena
memuat hasil RUPS yang wajib dilakukan Direksi. Setiap penyelenggaraan RUPS
wajib dibuat risalahnya, RUPS yang tidak dibuat risalahnya tidak sah dan
dianggap tidak pernah ada sehingga akibatnya hal-hal yang diputuskan dan
ditetapkan dalam RUPS tidak dapat dilaksanakan. Risalah RUPS yang kemudian
dituangkan dalam bentuk akta notaris itu dapat pula dilakukan dengan cara notaris
turut menghadiri kegiatan RUPS tersebut. Sehingga notaris dalam hal ini
menyaksikan dan mendengar sendiri proses berjalannya RUPS, sehingga pada
saat ia membuat akta, akta tersebut adalah termasuk akta otentik.

1.5.7.6 Tinjauan Umum Kekuatan Pembuktian Akta Pernyataan Keputusan


Rapat (PKR)
R. Subekti, yang dimaksud dengan membuktikan ialah meyakinkan hakim
tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu
persengketaan.”‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ dapat diketahui dari ketentuan Pasal 1867 Kitab
†††††††††††††††
M. Yahya Harahap. Hukum Perseroan Terbatas. (Jakarta: Sinar Grafika. Cet.
ke-3. 2011). hlm 339-340.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
R. Subekti. Hukum Pembuktia. (Jakarta : Pradnya Paramita. 1978). hal 7.
29

Undang-Undang Hukum Perdata§§§§§§§§§§§§§§§ yang menentukan bahwa ada dua


macam akta, yakni akta otentik dan akta di bawah tangan. Diantara surat-surat
atau tulisan-tulisan yang dinamakan akta, ada suatu golongan lagi yang
mempunyai suatu kekuatan pembuktian sempurna, yaitu akta otentik. Dapat
diketahui bahwa kekuatan pembuktian akta otentik adalah sebagai
berikut:****************
a. Merupakan bukti sempurna/lengkap bagi para pihak, ahli waris dan orang-
orang yang mendapatkan hak dari padanya.
Merupakan bukti bebas bagi pihak ketiga. Bukti bebas artinya kebenaran
dari isi akta diserahkan pada penilaian hakim, jika dibuktikan sebaliknya. Daya
pembuktian materiil pada akta di bawah tangan terjadi apabila akta di bawah
tangan diakui oleh orang yang diakui menurut Undang-Undang bagi yang
menandatangani, ahli warisnya serta orang yang mendapat hak dari mereka,
sehingga hal itu merupakan bukti sempurna seperti akta otentik.

1.6 Orisinalitas Penelitian


Originalitas merupakan kriteria utama dan kata kunci dari hasil karya
akademik. Karya akademik, khususnya skripsi, tesis, dan disertasi, harus
memperlihatkan bahwa karya itu orisinal. Untuk lebih memudahkan maka dari itu
penulis mengambil sampel dua penelitian terdahulu yang memiliki kesamaan
masalah dengan penelitian yang akan dilakukan penulis untuk dijadikan
perbandingan agar terlihat keoriginalitasan dari penulis.
Langkah dalam membuat orisinalitas penelitian atau originalitas penelitian
dan bahasa lokalnya adalah keaslian penelitian, dalam point orisinalitas penelitian
ini kita akan membandingkan tesis ini dengan tesis yang judulnya agak mirip
dengan yang penulis teliti, entah itu sama dalam subjeknya maupun objeknya,
yang jelas mirip-mirip, selain itu dengan adanya orisinalitas penelitian ini, penulis

§§§§§§§§§§§§§§§
Pasal 1867 KUHPerdata. berbunyi : “Pembuktian dengan tulisan dilakukan
dengan tulisan-tulisan otentik maupun dengan tulisantulisan di bawah tangan”. Pokok-Pokok
Hukum Perdata. Jakarta : Pradnya Paramita. 1979. hal 397.
****************
Th. Kussunaryatun. Hukum Acara Perdata (Pemeriksaan Perkara Perdata.,
Surakarta: Univesitas Sebelas Maret. 1999). hlm 59.
30

akan menggambarkan apa yang berbeda dari penelitian kita dengan penelitian
orang lain tersebut meskipun judulnya hampir sama.
Adapun penelitian sebelumnya yang ada kemiripan dengan penelitian

penulis adalah sebagai berikut:

1.Tabel Orisinalitas Penelitian

Nama /
Metode Hasil Unsur
Instansi/ Judul
Penelitian Penelitian Kebaruan
Tahun
1. Roita Tanggung Jawab Yuridis 1. Kewenangan 1.Keberlakuan
Asma, SH / Notaris dalam Normatif dan keputusan di
Penelitian Pembuatan Akta tanggung luar RUPS
Tesis Pernyataan jawab yang
Program Keputusan Rapat Notaris merupakan
Pascasarjana Perseroan dalam perubahan
Program Terbatas pembuatan anggaran
Studi Di Jakarta Timur akta dasar yang
Magister pernyataan tidak
Kenotariatan keputusan dituangkan
Universitas rapat umum dalam akta
Diponegoro pemegang notaris.
Semarang / saham 2.Pengaturan
2008 perseroan Tanggung
terbatas. Jawab Notaris
2. Akibat kedepan
hukum dari terhadap Akta
pembuatan yang dibuat
akta berdasarkan
pernyataan Keputusan
keputusan Sirkuler
rapat umum Pemegang
pemegang Saham
saham
perseroan
terbatas.

2. Yasin Peran dan Empiris 1. Prosedur 1.Keberlakuan


Tanaka / Tanggung jawab Pembuatan keputusan di
Penelitian Notaris Dalam dan luar RUPS
Tesis Keputusan Pelaksanaan yang
Program Pemegang RUPS merupakan
Magister Saham Diluar Sirkuler. perubahan
Kenotariatan Rapat Umum 2. Peran dan anggaran dasar
31

Fakultas Pemegang Tanggungja yang tidak


Hukum Saham (Rups) wab Notaris dituangkan
Universitas Berdasar dalam dalam akta
Sebelas Undang-Undang pelaksanaan notaris.
Maret Nomor 40 Tahun RUPS 2.Pengaturan
Surakarta / 2007 Tentang Sirkuler. Tanggung
2016 Perseroan Jawab Notaris
Terbatas kedepan
terhadap Akta
yang dibuat
berdasarkan
Keputusan
Sirkuler
Pemegang
Saham

Tanggung Jawab Notaris Atas Akta Perubahan Anggaran Dasar Dan


Anggaran Rumah Tangga Yang Dibuat Berdasarkan Keputusan Di Luar
Rapat Umum Pemegang Saham keaslian dijamin dan pembahasannya dan
kesimpulan tesis ini akan diperlakukan dari perspektif yang berbeda sesuai dengan
kata-kata dari masalah yang diangkat. Pertama, Apa bentuk tanggung jawab
notaris atas akta perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang
dibuat diluar rapat umum pemegang saham (RUPS). Kedua, Apa akibat hukum
atas akta perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang dibuat
berdasarkan keputusan sirkuler diluar rapat umum pemegang saham (RUPS).
Ketiga, Bagaimana pengaturan kedepan tentang tanggung jawab notaris atas akta
yang dibuat berdasarkan keputusan sirkuler pemegang saham. Ini
membedakannya dari penelitian sebelumnya dengan menawarkan unsur kebaruan
dalam pengaturan kedepan tentang tanggung jawab notaris atas akta yang dibuat
berdasarkan keputusan sirkuler pemegang saham.

1.7 Metode Penelitian


Tulisan yang baik harus menggunakan metode penulisan. Metode ini
sangat diperlukan dan sebagai pedoman untuk menganalisis data penelitian. Ciri
khas karya ilmiah hukum adalah memasukkan konformitas dan mengandung
32

kebenaran yang dapat dipahami.†††††††††††††††† Metode harus digunakan dalam


penelitian ilmiah. ‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Dalam arti tertentu, metode ini memiliki peran
penelitian, yang berarti bahwa para peneliti tidak bekerja secara sembarangan,
tetapi setiap langkah yang diambil harus jelas dan harus ada batasan tertentu untuk
menghindari penyesatan dan di luar kendali.

1.7.1 Tipe Penelitian


Tipe penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, yaitu penelitian
yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma
dalam hukum positif yang berlaku. Pengertian Penelitian tipe yuridis normatif
adalah penelitian yang bertujuan untuk memberikan eksposisi yang bersifat
sistematis mengenai aturan hokum yang mengatur bidang hukkum tertentu,
menganalisis hubungan antara aturan hukum yang satu dengan yang lain,
menjelaskan bagian-bagian yang sulit dipahami dari suatu aturan hukkum tertentu
pada masa mendatang.§§§§§§§§§§§§§§§§ Tipe penelitian yuridis normatif seperti
undang-undang, Peraturan-peraturan serta literatur yang berisi konsep-konsep
teoritis yang kemudian dihubungkan dengan permasalahan-permasalahan yang
dihadapi dan akan dibahas dalam tesis ini.

1.7.2 Pendekatan Masalah


Pendekatan Perundang-Undangan (Statute Approach) dilakukan dengan
menalaah seluruh undang-undang dan regulasi yang berkaitan dengan masalah
hukum untuk diperiksa.***************** Pendekatan undang-undang yang dilakukan
dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut
dengan isu hukum yang penulis teliti mengenai prinsip Kepastian Hukum
Tanggung Jawab Notaris dalam Pembuatan Akta Keputusan Sirkuler Pemegang

††††††††††††††††
Ronny Hanitijo Soemitro. Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri (Jakarta:
Rinneka Cipta. 1988). Hlm.10
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Johnny Ibrahim. Teori dan Metodelogi Penelitian Hukum Normatif. 2d ed
(Malang: Banyumedia Publishing. 2006). Hlm.294
§§§§§§§§§§§§§§§§
Dyah Ochtorina Susanti dan A’an Efendi. Penelitian Hukum. (Jakarta: Sinar
Grafika. 2013). hlm. 11.
*****************
Ibid. Hlm.133.
33

Saha dan Pengaturan Tanggung Jawab Notaris kedepan terhadap Akta yang dibuat
berdasarkan Keputusan Sirkuler Pemegang Saham.
Pendekatan Konseptual (conceptual approach), metode ini mengacu
tentang prinsip-prinsip hukum yang berasal dari pandangan atau yurisprudensi
para sarjana, dengan mempelajari pandangan dan doktrin yang terkandung dalam
yurisprudensi, para sarjana menemukan ide-ide yang melahirkan konsep-konsep
hukum, konsep-konsep hukum, dan prinsip-prinsip yang terkait dengan materi
pelajaran.††††††††††††††††† Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan
dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum. Dengan mempelajari
pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin penulis ingin menemukan ide-ide yang
melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum dan asas-asas
hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi. Pemahaman akan pandangan-
pandangan dan doktrin-doktrin tersebut merupakan sandaran penulis dalam
membangun argumentasi hukum dalam memecahkan isu yang dihadapi.
Pendekatan Kasus (Case Approach), metode pendekatan ini dilakukan
dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu
yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap. Kasus yang digunakan dalam penelitian tesis ini ialah
kasus pada PUTUSAN NO.193/PDT.G/2014/PN.JKT.SEL dan kasus pada
PUTUSAN NO:581/PDT/2017/PT.BDG. Kasus-kasus tersebut dipilih karena
telah terjadi sengketa terkait keputusan sirkuler pada perusahaan.

1.7.3 Sumber Bahan Hukum

Bahan Hukum adalah wadah yang digunakan untuk menyelesaikan


permasalahan hukum dan menentukan apa yang dibutuhkan untuk melakukan
penelitian hukum.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Sumber penelitian hukum dibedakan menjadi
sumber penelitian berupa bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder.§§§§§§§§§§§§§§§§§
1) Bahan Hukum Primer

†††††††††††††††††
Ibid. Hlm.135-136.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Ibid. Hlm.181
§§§§§§§§§§§§§§§§§
Ibid.
34

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang berwibawa, artinya


mempunyai kewenangan. Bahan hukum primer meliputi tindakan legislatif, berita
acara atau berita acara pembuatan undang-undang dan keputusan
hakim.****************** Bahan hukum utama dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (Lembaran
Negara republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4432)
3. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran
Negara republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4756);
4. Undang Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5491).
5. PUTUSAN NO.193/PDT.G/2014/PN.JKT.SEL
6. PUTUSAN NO:581/PDT/2017/PT.BDG.
2) Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum primer yang terdiri dari karya ilmiah maupun hasil penelitian
para ahli yang terkait dengan tanggung jawab dalam pelaksanaan perjanjian
pembangunan jalan.†††††††††††††††††† Bahan hukum sekunder meliputi buku-buku
hukum yang ditulis oleh para ahli hukum, kamus hukum, ensiklopedia hukum,
jurnal-jurnal hukum, disertasi hukum, tesis hukum, skripsi hukum, komentar
undang-undang dan komentar putusan pengadilan, dan lain sebagainya.

1.7.4 Metode Pengumpulan Bahan Hukum

Tesis ini menggunakan kumpulan bahan hukum, yaitu kumpulan bahan


pendidikan tentang topik hukum. Seperti buku-buku hukum, hukum terkait, artikel
******************
Ibid. hlm. 181.
††††††††††††††††††
` Dyah Ochtorina Susanti dan Aan Efendi. Penelitian Hukum (Legal Research).
(Jakarta: Sinar Grafika. 2014). Hlm 52.
35

dan jurnal tentang topik hukum dalam tesis ini. Dalam penelitian pada umumnya
dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari
bahan-bahan pustaka. Yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data
primer (atau data dasar), sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka
lazimnya dinamakan data sekunder. Data dalam penulisan ini adalah data
sekunder, yaitu bahan pustaka yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-
buku perpustakaan, peraturan perundang-undangan, karya ilmiah, artikel-artikel,
serta dokumen yang berkaitan dengan materi penelitian. Dan Penelusuran bahan
internet dengan cara memperoleh data baik literatur maupun akses internet,artikel
serta sumber-sumber lain yang berhubungan dengan penelitian ini. Oleh karena
itu, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan dengan cara membaca, menelaah,
mencatat membuat ulasan bahan-bahan pustaka yang ada kaitannya dengan
Tanggung Jawab Notaris dan terkait Keputusan Sirkuler.

1.7.5 Analisis Bahan Hukum


Analisis hukum terhadap undang-undang yang relevan dengan isu hukum
melibatkan tiga proses sebagai berikut:
1. Menetapkan apakah undang-undang berlaku secara keseluruhan untuk
isu atau isu hukum yang ada.
2. Membaca undang-undang dengan hati-hati dan mengidentifikasi elemen
yang dibutuhkan.
3. Membandingkan atau mencocokan elemen yang dibutuhkan terhadap isu
hukum dan menetapkan bagaimana undang-undang
diterapkan.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Diluar tiga proses diatas, terdapat dua pertimbangan dan pedoman yang
harus selalu diingat terkait dengan analisis hukum terhadap undang-undang yaitu
sejarah undang-undang dan kontruksi hukum. Dua hal ini penting ketika makna

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Dyah Ochtorina Susanti, A’an Efendi, dan Rahmadi Indra Tektona,,
Penelitian Hukum Doktrinal, (Yogyakarta: LaksBang Justitia, 2019), hlm. 89.
36

yang ada dalam undang-undang tidak jelas dan makna tersebut juga tidak
ditemukan dalam putusan pengadilan.§§§§§§§§§§§§§§§§§§

1.7.6 Kerangka Alur Pikir


Pentingnya kerangka konseptual dan dasar pemikiran atau kerangka
teoritis dalam penelitian hukum, dikemukakan juga oleh Herowati Poesoko,
bahwa pertanggung jawaban sistematika adalah sebuah uraian logis sistematis
susunan bab dan sub-bab untuk menjawab uraian terhadap suatu pembahasan
permasalahan yang dikemukakan isu hukum (legas issues) harus selaras dengan
tema sentral yang direfleksikan dalam suatu judul penelitian dan rumusan
permasalahannya.*******************
Kerangka konseptual penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara
konsep satu dengan konsep yang lainya dari masalah yang akan diteliti yaitu
terkait dengan tanggung jawab notaris atas akta yang dibuat berdasarkan
keputusan pemegang saham diluar rapat umum pemegang saham (rups). Kerangka
konseptual ini gunanya untuk menyelesaikan masalah yang dapat di teliti dalam
penelitian ini ialah terdapat ketidakjelasan mengenai ketentuan pelaksanaan
keputusan pemegang saham diluar rapat umum pemegang saham (rups) terkait
akta sirkuler.
Rumusan masalah dalam tesis ini yaitu Bagaiamana Tanggung Jawab
Notaris dalam Pembuatan Akta Keputusan Sirkuler Pemegang Saham? dan
Bagaimana Pengaturan Tanggung Jawab Notaris kedepan terhadap Akta yang
dibuat berdasarkan Keputusan Sirkuler Pemegang Saham? Untuk lebih jelas
menggambarkan kerangka konseptual penulis membuat bagan dibawah ini:

§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Ibid, hlm.90.
*******************
Herowati Poesoko. Modul Mata Kuliah: Metode Penulisan dan Penelitian
Hukum Pada Program Pascasarjana magister Kenotariatan. (Jember: Fakultas Hukum
Universitas Jember. 2014). hlm 28.
37

BAGAN ALUR PIKIR


TANGGUNG JAWAB NOTARIS ATAS2AKTA PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA YANG DIBUAT BERDASARKAN
KEPUTUSAN DI LUAR RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM

LEGAL ISSUE
Pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas
dalam Pasal 91 Tidak Mengatur Prosedur Maupun Mekanisme dari
Pelaksanaan dan Proses tentang Pengambilan Keputusan diluar Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS)

3
Apa bentuk tanggung Apa akibat hukum atas Bagaimana pengaturan
4 jawab notaris atas akta akta perubahan anggaran kedepan tentang
perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tanggung jawab notaris
5 dasar dan anggaran tangga yang dibuat atas akta yang dibuat
berdasarkan keputusan
6 rumah tangga yang sirkuler diluar rapat umum
berdasarkan keputusan
dibuat diluar rapat pemegang saham sirkuler pemegang
7umum pemegang saham (RUPS) ? saham ?
(RUPS) ?
8

9
- Pendekatan - Pendekatan - Pendekatan
10Perundang- Perundang- Perundang-
Undangan Undangan Undangan
11
- Pendekatan - Pendekatan - Pendekatan
Konseptual 12
Konseptual Konseptual
- Pendekatan Kasus - Pendekatan Kasus - Pendekatan Kasus
13

- Teori Kepastian - Teori Kepastian - Konsep Jabatan


Hukum Hukum14 Notaris
- Teori Pertanggung - Teori Pertanggung - Teori Kepastian
jawaban15hukum
jawaban Hukum Hukum
- Konsep Jabatan - Konsep Jabatan
Notaris Notaris Notaris16

KESIMPULAN DAN SARAN


38

1.7.7 Sistematika Penelitian


Penulisan tesis ini terdiri dari tiga bab yang disusun secara sistematis, yang
mana antar bab demi bab saling terkait sehingga menjadi suatu rangkaian yang
berkesinambungan. Untuk mengetahui isi dari penulisan tesis ini, dengan
demikian disusunlah sistematika penulisan tesis yang terdiri dari 3 (tiga) bab,
yaitu:
Bab I adalah Pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teoritis dan
konseptual, originalitas penelitian, dan metode penelitian.
Bab II adalah Pembahasan yang menguraikan tentang 1. bentuk tanggung
jawab notaris atas akta perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
yang dibuat diluar rapat umum pemegang saham (RUPS), 2. akibat hukum atas
akta perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang dibuat
berdasarkan keputusan sirkuler diluar rapat umum pemegang saham (RUPS), dan
3. pengaturan kedepan tentang tanggung jawab notaris atas akta yang dibuat
berdasarkan keputusan sirkuler pemegang saham.
Bab III adalah bab penutup yang berisikan kesimpulan dan saran dari
penelitian tesis ini.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Bentuk Tanggung Jawab Notaris Atas Akta Perubahan Anggaran Dasar
Dan Anggaran Rumah Tangga Yang Dibuat Diluar Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS)
Peranan notaris sangatlah penting dalam membantu menciptakan kepastian
dan pelindungan hukum bagi masyarakat, karena Notaris sebagai pejabat umum
berwenang untuk membuat akta otentik. Sejauh pembuatan akta otentik tersebut
tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. Kepastian dan perlindungan
hukum itu tampak melalui akta otentik yang dibuatnya sebagai alat bukti yang
sempurna di muka pengadilan. Alat bukti sempurna dikarenakan akta otentik
memiliki tiga kekuatan pembuktian yaitu kekuatan pembuktian lahiriah
(uitwendige bewijsracht), kekuatan pembuktian formal (formele bewijsracht) dan
kekuatan pembuktian material.††††††††††††††††††† Berkenaan dengan hal tersebut maka
notaris memiliki kewajiban yang harus dipenuhi dimana Kewajiban-kewajiban
Notaris yang berkaitan dengan kasus ini, antara lain berdasarkan:
1. Pasal 16 ayat (1) huruf a UUJN, dalam menjalankan jabatannya, Notaris
wajib bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan
menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum;
2. Kode Etik Notaris Kongres Luar Biasa Ikatan Notaris Indonesia, Banten
tertanggal 29-30 Mei 2015 khususnya Pasal 3 huruf d, seorang
Notarisdalam menjalankan jabatannya harus berperilaku jujur, mandiri,
tidak berpihak, amanah, seksama, penuh rasa tanggung jawab, berdasarkan
peraturan perundang-undangan dan isi sumpah jabatan Notaris.
Menurut hukum tanggung jawab adalah suatu akibat atas konsekuensi
kebebasan seorang tentang perbuatannya yang berkaitan dengan etika atau moral
dalam melakukan suatu perbuatan.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Selanjutnya menurut Titik

†††††††††††††††††††
G.H.S Lumban Tobing. Peraturan Jabatan Notaris (Notaris Reglement).
(Penerbit Jakarta: Erlangga. 1999). Hlm 55.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Soekidjo Notoatmojo. Etika dan Hukum Kesehatan. (Jakarta: Rineka Cipta.
2010). hlm. 13.

39
Triwulan pertanggungjawaban harus mempunyai dasar, yaitu hal yang
menyebabkan

40
41

timbulnya hak hukum bagi seorang untuk menuntut orang lain sekaligus berupa
hal yang melahirkan kewajiban hukum orang lain untuk memberi
pertanggungjawabannya.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§ Teori Tanggung Jawab Hukum Menurut
Abdulkadir Muhammad teori tanggung jawab dalam perbuatan melanggar hukum
(tort liability) dibagi menjadi beberapa teori, yaitu:********************
1. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan
sengaja (intertional tort liability), tergugat harus sudah melakukan perbuatan
sedemikian rupa sehingga merugikan penggugat atau mengetahui bahwa apa
yang dilakukan tergugat akan mengakibatkan kerugian.
2. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan karena
kelalaian (negligence tort lilability), didasarkan pada konsep kesalahan
(concept of fault) yang berkaitan dengan moral dan hukum yang sudah
bercampur baur (interminglend).
Tanggung jawab mutlak akibat perbuatan melanggar hukum tanpa
mempersoalkan kesalahan (stirck liability),didasarkan pada perbuatannya baik
secara sengaja maupun tidak sengaja, artinya meskipun bukan kesalahannya tetap
bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat perbuatannyaSelanjutnya
dinyatakan, setiap pelaksanaan kewajiban dan setiap penggunaan hak baik yang
dilakukan secara tidak memadai maupun yang dilakukan secara memadai pada
dasarnya tetap harus disertai dengan pertanggungjawaban, demikian pula dengan
pelaksanaan kekuasaan.†††††††††††††††††††† Tanggungjawab Notaris mempunyai
pengertian:‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
1. Notaris membuat akta dengan baik dan benar, artinya yang memenuhi
kehendak hukum dan permintaan pihak yang berkepentingan;
2. Akta Notaris tersebut bermutu, yaitu sesuai dengan aturan hukum dan
kehendak pihak yang berkepentingan dalam arti sebenarnya. Notaris juga

§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Titik Triwulan dan Shinta Febrian. Perlindungan Hukum bagi Pasien.
(Jakarta: Prestasi Pustaka. 2010). hlm 48.
********************
Abdulkadir Muhammad. Hukum Perusahaan Indonesia. (Citra Aditya
Bakti. 2010). hlm. 503.
††††††††††††††††††††
M. Luthfan Hadi Darus. Hukum Notariat dan Tanggung Jawab Jabatan
Notaris. cet. 1. (Yogyakarta: UII Press Yogyakarta. 2017). hlm. 48.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Freddy Harris dan Leny Helena. Notaris Indonesia. cet. 2. (Jakarta: PT.
Lintas Cetak Djaja. 2017). hlm. 65-66.
42

menjelaskan kepada para pihak yang berkepentingan kebenaran isi dan


prosedur akta yang dibuatnya itu;
3. Akta tersebut berdampak positif, yaitu siapa pun akar mengakui akta
Notaris tersebut mempunyai kekuatan bukti sempurna
Keputusan sirkuler merupakan salah satu mekanisme pengambilan
keputusan oleh Pemegang Saham selain melalui daripada RUPS Keputusan
sirkuler dijelaskan dalam Pasal 91 UUPT, namun mekanisme maupun prosedur
pelaksanaannya tidak diatur secara jelas dalam UUPT. Keputusan Sirkuler
dianggap merupakan suatu cara yang lebih sederhana dalam mengambil
keputusan. Keputusan sirkuler memberikan efisiensi waktu dan tempat sehingga
para Pemegang Saham lebih dimudahkan dalam mengambil keputusan tanpa
dibatasi oleh tempat dan waktu.
Mekanisme pembuatan keputusan sirkuler berawal dari adanya usulan baik
usulan yang berasal dari direksi ataupun dari pemegang saham. Dalam pasal 91
UUPT tidak dijelaskan dengan terperinci mengenai hal apa saja yang dapat
menjadi objek dari keputusan sirkuler. Sehingga mengakibatkan tidak adanya
batasan yang lengkap dan detail terkait hal-hal apa saja yang dapat menjadi
kewenangan Pemegang Saham yang tidak dapat dibuatkan keputusan sirkuler.
Pada dasarnya Keputusan Sirkuler ini diperuntukkan untuk menggantikan
keputusan yang lahir melalui RUPS Luar Biasa (RUPSLB). §§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Berdasarkan keadaan dan kebutuhan serta kepentingan yang mendesak, maka
sewaktu-waktu perseroan dapat meminta persetujuan Pemegang Saham melalui
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Namun, apabila RUPSLB
tidak dimungkinkan untuk diadakan, maka keputusan sirkuler dapat dibuat.
Keputusan sirkuler seharusnya diperuntukkan terhadap hal-hal yang bersifat
mendesak yang membutuhkan persetujuan RUPS dalam jangka waktu yang relatif
singkat, misalnya dalam hal perseroan mendapat pinjaman dari bank yang mana
menjadi jaminan atas agunannya adalah aset perseroan yang nilainya lebih dari

§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Yasin Tanaka. Peran Dan Tanggungjawab Notaris Dalam Keputusa
Pemegang Saham Diluar Rapat Umum Pemegang Saham (Rups) Berdasar Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. Jurnal Repertorium Volume IV No. 1
Januari-Juni 2017. Hlm 115.
43

50% (lima puluh persen) dari total keseluruhan aset perseroan. Maka mengacu
kepada ketentuan tersebut haruslah memerlukan persetujuan para pemegang
saham.
Dalam pembuatan keputusan sirkuler sebelumnya ada beberapa tahapan
yang harus dipersiapkan, yang diantaranya adalah:*********************
a. Mengumpulkan usulan-usulan dari para pemegang saham mengenai apa saja
yang dikehendaki oleh para Pemegang Saham;
b. Melakukan konfirmasi ulang kepada para Pemegang Saham mengenai hal-hal
yang dikehendaki;
c. Menghubungi Notaris untuk membuat keputusan sirkuler;
d. Menghadap ke Notaris untuk menuangkan keputusan sirkuler ke dalam akta
otentik
Pembuatan keputusan sirkuler dilakukan dengan mekanisme pengiriman
untuk memperoleh persetujuan dari para Pemegang Saham, maka hal tersebut
mengindikasikan bahwa keputusan sirkuler tidak dapat dibuat secara otentik.
Secara teknis mekanisme ini ditempuh karena sulitnya para Pemegang Saham
untuk berkumpul dalam satu waktu dan tempat untuk memberikan persetujuan
tertulis dihadapan notaris sebagai pejabat yang diberi kewenangan membuat akta
otentik.††††††††††††††††††††† Mekanisme yang dijalankan RUPS yang tidak
menghadirkan langsung Notaris untuk membuat Berita Acara Rapat, maka
diwajibkan untuk membuat risalah RUPS. Hal tersebut berlaku sama terhadap
keputusan Pemegang Saham yang diputuskan tanpa melalui rapat. Keputusan
sirkuler adalah risalah dari keputusan Pemegang Saham yang dibuat diluar rapat
tersebut, yang mempunyai kekuatan mengikat seperti RUPS. Dengan demikian
konsekuensi dari hal tersebut memberikan keputusan sirkuler untuk dapat
menggantikan RUPSLB. Pada dasarnya penuangan keputusan sirkuler ke dalam
akta otentik sama dengan penuangan risalah RUPS ke dalam akta Pernyataan
Keputusan Rapat (PKR), yaitu sebagai berikut:‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡

*********************
Ibid
†††††††††††††††††††††
Yasin Tanaka. Ibid. Hlm 116.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Ibid
44

a. Direksi yang ditunjuk menjadi kuasa datang menghadap ke Notaris dengan


membawa Keputusan Sirkuler yang akan dituangkan ke dalam akta otentik;
b. Pada saat Pemegang Saham tersebut datang ke Notaris, maka Notaris akan
meminta kelengkapan dokumen yang dibutuhkan dalam pembuatan akta yang
berasal dari keputusan sirkuler tersebut;
c. Setelah semua kelengkapan yang dibutuhkan dalam pembuatan akta otentik,
yang berasal dari keputusan sirkuler telah terpenuhi, maka Notaris akan
memformulasikan akta otentiknya sesuai dengan keputusan sirkuler yang ada.
Dalam hal ini notaris tidak boleh melakukan interpretasi atau penafsiran sendiri
terhadao keputusan sirkuler tesebut, jadi hanya cukuo menuangkan sesuai
dengan apa yang terdapat didalam keputusan sirkuler tersebut;
d. Apabila akta tersebut telah selesai dibuat, maka akta tersebut dibacakan oleh
Notaris dan ditandatangani oleh Pemegang Saham yang diberikan kuasa, saksi-
saksi dan Notaris.
Pemanggilan merupakan instrumen pelengkap pelaksanaan RUPS
konvensional sehingga keberadaannya dapat dikesampingkan dalam satu keadaan
tertentu. Apabila dikaji lebih dalam, pemanggilan mempunyai fungsi untuk
meindungi hak para pemegang saham perseroan. Hak pemegang saham harus
senantiasa dilindungi karena pemegang sahamlah yang sebenarnya berkedudukan
sebagai pemilik perseroan. Perlindungan ekstra diberikan oleh undang-undang
mengingat kemajuan zaman yang semakin mempermudah akses setiap orang
terhadap informasi dan kewenangan seseorang atau badan hukum dalam hal ini
pemegang saham.
Seiring dengan majunya teknologi, pelaksanaan RUPS pun dapat
dilakukan dengan lebih sederhana. Contohnya untuk pemanggilan dalam undang-
undang sudah dijelaskan bahwa pemanggilan harus dilaksanakan dengan surat
tercatat. Hal ini dilatarbelakangi oleh kepentingan pembuktian pelaksanaan
pemanggilan apakah telah dilaksanakan. Hal di atas jika dibenturkan dengan
kemajuan teknologi maka pemanggilan dapat dilaksanakan dengan email, pesan
singkat atau bahkan hanya lewat telpon. Namun penggunaan teknologi tersebut
45

tidak serta merta dapat diterapkan begitu saja, akan tetapi ada syarat yang
mengikuti.
Meskipun tidak ada pemanggilan secara resmi, apabila seluruh pemegang
saham telah hadir, maka dapat dipastikan bahwa hak pemegang saham untuk
mengetahui dan bersuara dalam memutuskan sesuatu telah terlindungi. Dalam
Pasal 82 Ayat 5 UUPT hanya mengatur bahwa dalam hal pemanggilan RUPS
tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada Ayat 1 dan 2, serta
Ayat 3 Pasal 82 tersebut, keputusan RUPS tetap sah selama seluruh pemegang
saham hadir dalam rapat dan menyetujui dengan suara bulat. Kata “Pemanggilan”
dalam kalimat: “dalam hal pemanggilan RUPS tidak sesuai” yang merupakan
redaksi dari Pasal 82 Ayat 5 UUPT secara jelas dan tegas menyatakan bahwa
meskipun seluruh pemegang saham hadir dan keputusan diambil dengan suara
bulat, Pasal 82 Ayat 5 UUPT tetap mensyaratkan adanya pemanggilan RUPS.
Pasal 82 Ayat 5 UUPT hanya mengatur bahwa dalam hal semua pemegang
saham hadir dan keputusan diambil dengan suara bulat, maka keputusan dianggap
sah, meskipun pelaksanaan pemanggilan menyimpang dari ketentuan Ayat 1
mengenai jangka waktu pemanggilan, Ayat 2 mengenai cara pemanggilan yaitu
dengan surat tercatat atau iklan, dan Ayat 3 mengenai waktu, tempat serta mata
acara rapat. Jadi Ayat 5 Pasal 82 UUPT tidak mengatur mengenai penyimpangan
terhadap keharusan pemanggilan RUPS yang termaktub dalam Pasal 79 Ayat 1,
Pasal 80 dan Pasal 81 UUPT, atau dengan kata lain Pasal 82 Ayat 5 UUPT sama
sekali tidak mengatur bahwa bila seluruh pemegang saham hadir dan keputusan
diambil dengan suata bulat, keputusan RUPS dapat dikatakan sah meskipun tidak
diadakan pemanggilan. Apabila aturan tersebut dibenturkan dengan aturan dalam
Pasal 76 Ayat 4 dan 5 UUPT yang berbunyi:
“(4) Jika dalam RUPS hadir dan/atau diwakili semua pemegang saham dan
semua pemegang saham menyetujui diadakan RUPS dengan agenda tertentu,
RUPS dapat diadakan dimanapun dengan memperhatikan ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) RUPS sebagaiman dimaksud pada
ayat (4) dapat mengambil keputusan jika keputusan tersebut disetujui dengan
suara bulat.”
46

Berdasarkan uraian pasal di atas penulis berpendapat bahwa pemanggilan


tidak lagi diperlukan manakala seluruh pemegang saham hadir. Sehingga
keputusan yang diambil dalam RUPS yang dicontohkan dalam kasus PT. Puhan
Indonesia juga memiliki kekuatan mengikat sama seperti RUPS yang didahului
dengan pemanggilan.
Rudy Prasetyo mengatakan bahwa aturan dalam UUPT yang menjelaskan
bahwa kata “manakala seluruh pemegang saham hadir” yang terdapat dalam Pasal
76 Ayat 4 UUPT merupakan Pasal yang dapat diartikan dengan asas kapan saja
dan di mana saja.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§ Pasal tersebut selain berlaku untuk mengapuskan
aturan dalam Pasal 79 Ayat 5 dan Pasal 82 Ayat 5 UUPT. Yang mengatur tentang
pelaksanaan RUPS harus didahului dengan pemanggilan. Juga dapat diterapkan
dalam pasal lain, yaitu Pasal 76 Ayat 1 UUPT tentang tempat pelaksanaan RUPS.
Seharusnya RUPS dilaksanakan di tempat kedudukan namun jika hadir semua
dapat dilakukan di manapun selama masih di wilayah negara Indonesia.
Berbeda dengan aturan dalam undang-undang yang mengatur bahwa
keputusan RUPS bersifat mengikat jika dihadiri dan disetujui oleh seluruh
pemegang saham. Dalam hal ini penulis memiliki pandangan tersendiri tentang
hal tersebut. Apabila seluruh pemegang saham menghadiri RUPS, maka syarat
sahnya suatu keputusan RUPS yang diambil tidak harus dengan persetujuan suara
bulat, akan tetapi mengikuti aturan kuorum RUPS. Alasan yang mendasari
pendapat penulis tersebut di atas adalah dengan hadirnya semua pemegang saham
maka seluruh pemegang saham telah diberikan kesempatan untuk tahu tentang hal
yang dibahas dalam RUPS dan juga telah diberikan kesempatan untuk
menentukan keputusan yang akan diambil berhubungan dengan masalah yang
dibahas.
Di dalam pasal 1867-1869 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(Burgerlijk Wetboek) secara jelas mengatur tentang pengerti Akta Otentik, yaitu:
“Pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan otentik atau
dengan tulisan di bawah tangan.”
“Suatu akta otentik adalah suatu akta yang dibuat dalam bentuk
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Rudhi Prasetyo. Hand Out Mata Kuliah Hukum Perusahaan pada
Fakultas Hukum. Program Magister Kenotariatan. Universitas Airlangga. Surabaya. 2011. Hlm.
15.
47

yang ditentukan undang-undang oleh atau di hadapan pejabat


umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat.”
“Suatu akta yang tidak dapat diperlakukan sebagai akta otentik,
baik karena tidak berwenang atau tidak cakapnya pejabat umum
yang bersangkutan maupun karena cacat dalam bentuknya,
mempunyai kekuatan sebagai tulisan di bawah tangan bila
ditandatangani oleh para pihak.”

Ada beberapa permasalahan hukum yang dihadapi para Notaris dalam


menggunakan sistem kerja elektronik yaitu soal bagaimana legalitas atau
kekuatan pembuktian dokumen elektronik yang merupakan produk Cyber
Notary.
Terdapat perbedaan pendapat dikalangan pakar hukum mengenai produk
Cyber Notary, apakah kekuatan pembuktian sama dengan alat bukti autentik atau
akta dibawah tangan. Arsyad Sanusi berpendapat : bahwa suatu dokumen
elektronik sekiranya dihasilkan oleh suatu sistem Informasi Elektronik yang
telah dilegalisasi atau dijamin oleh para profesional yang berwenang untuk itu,
maka hal itu termasuk dokumen autentik, dan jika sistem Informasi Elektronik
dapat tetap berjalan sebagaimana mestinya, sepanjang tidak dibuktikan oleh para
pihak, dokumen elektronik tersebut diterima layaknya sebagai akta atau
dokumen autentik, dan bukan akta di bawah tangan. Pendapat berbeda
dikemukan oleh Brian Prasetyo bahwa akta otentik untuk saat ini belum bisa
berbentuk elektronik. Kalau kedudukannya sama dengan akta dibawah tangan
boleh saja, sebab bentuk akta elektronik hanya merupakan kesepatakan para
pihak. Alasan Brian Prasetyo menyatakan bukan sebagai akta
otentik :**********************
1. Akta otentik bentuknya ditentukan oleh peraturan dan belum ada peraturan
yang menyatakan bahwa akta otentik boleh dalam bentuk elektronik.
2 Akta harus ditandatangani dan sampai saat ini belum ada peraturan yang
secara eksplisit dan bersifat lex specialis menyatakan bahwa Digital
Signature boleh digunakan untuk menandatangani akta otentik.
**********************
Sjaifurrachman, Aspek Pertanggungjawaban Notaris dalam pembuatan
Akta, Mandar Maju, Bandung, 2011, hlm 5.
48

3. Pembuatan akta dan penandatanganan harus dihadiri dan disaksikan oleh


Notaris dan para saksi dan sampai saat ini belum ada peraturan yang
menyatakan bahwa Notaris boleh menyaksikan panandatanganan melalui
misalnya teleconferensi.
Pandangan Brian Prasetyo sejalan dengan ketentuan ketentuan Pasal 5 ayat (4)
UU No. 11 Tahun 2008 bahwa ketentuan mengenai Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektonik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku
untuk:
1. Surat yang menurut UU harus dibuat dalam bentuk tertulis.
2. Surat beserta dokumennya yang menurut UU harus dibuat dalam bentuk
akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.

Alat bukti elektronik tidak berlaku terhadap surat-surat yang harus dibuat dalam
bentuk surat tertulis atau dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat pejabat
pembuat akta. Ketentuan tersebut mengandung arti bahwa alat bukti elektronik
dalam bentuk Dokumen Elektronik tidak berlaku dan tidak dapat dipersamakan
dengan suatu akta otentik /akta notaril yang bentuknya tertulis dan mempunyai
minuta akta (asli akta Notaris).
Alasan Notaris meragukan risalah RUPS melalui media elektronik juga
adalah belum adanya badan CA (Certificate Authority) yang dapat membantu
Notaris dalam hal sebagai pihak ketiga yang dipercaya menyediakan sertifikasi
elektronik yang juga memiliki wewenang sebagai lembaga resmi dalam
menyimpan alat-alat bukti dalam bentuk elektronik dan dalam pelaksanaan tanda
tangan digital.
Selain itu, alasan Notaris meragukannya adalah kurangnya kekuatan
hukum, apabila pemegang saham yang diberi kuasa untuk membuat akta risalah
rapat mengirimkan risalah dalam bentuk video RUPS, yang dimana Notaris juga
tidak dapat menentukan keaslian dari video tersebut, karena Notaris bukanlah
ahli telematika. Disini Notaris mengalami kesulitan dalam menentukan keaslian
video tersebut karena Notaris sendiri tidak hadir dalam RUPS tersebut.
Pengesahan Risalah Rapat Umum Pemegang Saham Melalui Media Elektronik
Hambatan yang dijumpai Notaris dalam pengesahan Risalah RUPS melalui
49

media elektronik terbagi atas 2 (dua), yaitu:


1. Hambatan Normatif
2. Hambatan secara Teknis
Notaris merupakan pejabat umum yang diangkat oleh negara untuk
melaksanakan sebagian wewenang dari kekuasaan negara khusus membuat alat
bukti tertulis dan otentik dalam bidang hukum perdata. Sebagaimana wewenang
yang diberikan kepada Notaris oleh negara merupakan wewenang atribusi yaitu
wewenang yang diberikan langsung oleh Undang-undang Jabatan Notaris, maka
jabatan Notaris bukanlah jabatan struktural dalam organisasi pemerintahan.
Berkaitan dengan diangkatnya Notaris sebagai pejabat umum, telah diatur
tersendiri tentang pengangkatan dan pemberhentian Notaris yang dilakukan oleh
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Hal tersebut telah tercantum dalam
Pasal 2 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014. Begitu juga mengenai persyaratan
untuk dapat diangkat menjadi Notaris, telah diatur dalam Pasal 3 Undang-undang
Nomor 2 Tahun 2014 yang berbunyi: Warga Negara Indonesia, Bertaqwa kepada
Tuhan yang Maha Esa, Berumur paling sedikit 27 tahun, Sehat jasmani dan
rohani yang dinyatakan dengan surat keterangan dokter dan psikiater, Berijasah
Sarjana Hukum dan lulusan jenjang strata dua kenotariatan, Telah menjalani
magang atau nyata-nyata telah bekerja pada kantor Notaris dalam waktu 24
bulan berturut-turut pada kantor Notaris atas prakarsa sendiriatau atas
rekomendasi organisasi Notaris setelah lulus strata dua kenotariatan, Tidak
berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat negara, advokat atau tidak sedang
memangku jabatan lain yang oleh undang-undang dilarang untuk dirangkap
dengan jabatan Notaris dan tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena
melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun
atau lebih.
Apabila semua syarat pengangkatan telah terpenuhi, seorang Notaris
sebelum menjalankan tugas jabatannya secara nyata harus mengucapkan janji 7
tugas/jabatannya di hadapan pejabat yang berwenang untuk itu, dalam hal ini
adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Sehubungan dengan
50

pengucapan sumpah/janji jabatan tersebut tidak dilaksanakan dalam waktu


maksimal 2 bulan maka pengangkatan sebagai pejabat Notaris dapat dibatalkan
oleh Menteri. Sehingga pengucapan sumpah/janji merupakan hal yang sangat
prinsipal bagi seseorang yang akan menjalankan tugas jabatannya sebagai
Notaris. Berkaitan dengan hal tersebut, akta yang dibuat Notaris memiliki
peranan dalam menciptakan kepastian hukum di dalam setiap hubungan hukum.
Selain akta Notaris bersifat otentik, akta tersebut juga dibuat sebagai alat bukti
yang sempurna dalam setiap permasalahan yang terkait dengan akta Notaris
tersebut. Kekuatan akta Notaris sebagai alat bukti terletak pada kekhasan
karakter pembuatnya, yaitu Notaris yang ditunjuk oleh undangundang sebagai
pejabat umum yang diberi wewenang untuk membuat akta. Arti Notaris itu
sendiri telah dijabarkan dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor
2 Tahun 2014 yang berbunyi: Notaris adalah pejabat umum yang memiliki
kewenangan untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya
sebagaimana yang diatur dalam undang-undang ini atau berdasarkan undang-
undang lainnya.
Berdasarkan kewenangan, kewajiban dan larangan yang harus dijalankan
oleh Notaris seperti yang telah disebutkan di atas, antara Pasal 15 ayat (3) dan
Pasal 16 ayat (1) huruf m Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 memiliki
konflik norma, di mana dalam pasal 15 ayat (3) memberikan kewenangan lain
kepada Notaris. Kewenangan lain tersebut disebutkan dalam penjelasan pasal 15
ayat (3) yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kewenangan lain yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan, antara lain, kewenangan
mensertifikasi transaksi yang dilakukan secara elektronik (Cyber Notary),
membuat Akta ikrar wakaf, dan hipotek pesawat terbang. Sedangkan dalam
Pasal 16 ayat (1) huruf m menyatakan bahwa Notaris harus membacakan akta di
hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi, atau
4 (empat) orang saksi khusus untuk pembuatan Akta wasiat di bawah tangan, dan
ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris.
Dewasa ini, Notaris dituntut untuk dapat menjadi Cyber Notary, karena
kebutuhan manusia yang semakin maju seiring semakin majuna teknologi yang
51

memungkinkan semua dilakukan secara online dan elektronik. Profesor


Hikmahanto Juwana menyatakan bahwa istilah Cyber Notary muncul pada tahun
1994 yang dikeluarkan oleh The Information Security Committee of the
American bar Association, komite ini menggambarkan bahwa ada suatu profesi
yang mirip dengan notary public, akan tetapi dokumen yang dibuat dan yang ada
pada profesi tersebut berbasis elektronik, hal mana profesi tersebut mempunyai
fungsi untuk meningkatkan kepercayaan terhadap dokumen yang dibuat tersebut.
Dalam lingkup ini, Cyber Notary mempunyai peran untuk mengotentifikasi
dokumen yang berbasis elektronik, yang mana dari otentifikasi dokumen tersebut
dapat di print out di manapun berada dan kapan saja. Cyber Notary juga
mempunyai peran untuk memberikan kepastian kepada pihak-pihak yang berada
di lain negara apakah di saat melakukan transaksi di suatu negara benar-benar
atas kesadaran sendiri dan tanpa ada paksaan maupun ancaman agar
menandatangani dokumen yang berbasis elektronik tersebut.
Dalam pasal ini menjelaskan bahwa Notaris dapat menjalankan fungsinya
sebagai Cyber Notary dengan mensertifikasi transaksi yang dilakukan secara
elektronik, tidak terkecuali akta relaas RUPS yang sudah dibenarkan menurut
pasal 77 UUPT. Kemudian, dalam pasal 16 ayat 1 (satu) huruf (m) menjelaskan:
“membacakan Akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2
(dua) orang saksi, atau 4 (empat) orang saksi khusus untuk pembuatan Akta
wasiat di bawah tangan, dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap,
saksi, dan Notaris;”

Faktanya, dalam mengumpulkan para pemegang saham di suatu tempat


dan waktu tertentu sering mengalami hambatan. Para pemegang yang pada
umumnya pelaku bisnis, memiliki aktivitas bisnis yang sangat padat, sehingga
seringkali menghambat penyelanggaraan RUPS secara fisik, atau bisa
juga misalnya karena halangan geografis dan jarak. Di sisi lain, RUPS terutama
RUPS tahunan harus diselenggarakan oleh Perseroan. Untuk menanggulangi hal
tersebut, Undang-Undang telah menentukan bahwa RUPS dapat dilaksanakan
tanpa perlu adanya rapat secara fisik melalui keputusan sirkuler (circular
resolution). Keputusan di luar RUPS yang disetujui oleh seluruh pemegang
52

saham, merupakan keputusan yang “mengikat”. Maksudnya keputusan tersebut


mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan keputusan RUPS yang
dilakukan secara fisik, dan konvensional.
Peranan Notaris sangat penting dalam membantu menciptakan kepastian
dan perlindungan hukum bagi masyarakat, karena Notaris sebagai pejabat umum
berwenang untuk membuat akta otentik, sejauh pembuatan akta otentik tersebut
tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. Kepastian dan perlindungan
hukum itu tampak melalui akta otentik yang dibuatnya sebagai alat bukti yang
sempurna di Pengadilan. Alat bukti sempurna karena akta otentik memiliki tiga
kekuatan pembuktian yaitu kekuatan pembuktian lahiriah (uitwendige
bewijsracht), kekuatan pembuktian formal (formele bewijskracht) dan kekuatan
pembutian material.†††††††††††††††††††††† Dalam pembuatan keputusan sirkuler, Notaris
tidak mempunyai peran lamgsung didalamnya, namun Notaris harus memberikan
nasihat hukum terkait akta yang akan dibuatnya. Maka Notaris harus memberikan
nasihat hukum. Hal tersebut menjadi kewajiban Notaris sebagaimana telah diatur
dalam Pasal 15 ayat (2) UUJN. Pemahaman hukum kepada para penghadap
tersebut tidak hanya mencakup sisi tekhnis dan dasar hukum pembuatnya saja,
melainkan juga harus diberikan pemahaman mengenai konsekuensi-konsekuensi
serta akibat hukum yang timbul atas penuangan keputusan sirkuler ke akta otentik
tesebut.
Tanggung jawab Notaris sebagai profesi lahir dari adanya kewajiban dan
kewenangan yang diberikan kepadanya. Kewajiban dan kewenangan secara sah
dan terikat mulai berlaku sejak Notaris mengucapkan sumpah jabatannya sebagai
Notaris.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Sumpah yang telah diucapkan tersebut haruslah dapat
menjadi fungsi kontrol atas segala tindakan Notaris dalam menjalankan
Jabatannya. Menurut perspektif hukum publik adanya kewenangan terhadap akta-
akta yang dibuat sejalan dengan prinsip umum yaitu tiada kewenangan tanpa
pertanggung jawaban. Para ahli umumnya berpendapat bahwa kalau terjadi

††††††††††††††††††††††
G.H.S Lumban Tobing. Peraturan Jabatan Notaris (Notaris Reglement).
(Jakarta: Erlangga. 2017). Hlm 55.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Abdul Ghofur. Lembaga Kenotariatan Indonesia: perspektif hukum dan
Etika. (Yogyakarta: UII Press. 2009). hlm 34.
53

pelanggaran Notaris selaku pejabat umum berhubungan dengan kebenaran


meteriil. pertanggung jawaban Notaris dibedakan menjadi 4 jenis, yang
diantaranya adalah sebagai berikut:§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
1. Tanggung jawab Notaris secara perdata.
Dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kebenaran materiil akta, dalam
konstruksi perbuatan melawan hukum. Wirjono Prodjodikoro mengatakan
bahwa pertanggung jawaban atas perbuatan seseorang biasanya praktis baru
ada arti apabila orang tersebut melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak
diperbolehkan oleh hukum dan sebagian besar perbuatan-perbuatan seperti ini
merupakan suatu perbuatan yang didalam KUHPerdata dinamakan perbuatan
melawan hukum.
2. Tanggung jawab Notaris secara pidana
Pidana dalam hal ini adalah perbuatan pidana yang dilakukan oleh seorang
Notaris dalam kapasitasnya sebagai pejabat umum yang berwenang membuat
akta. Bukan dalam konteks individu sebagai warga negara pada umumnya.
Unsur-unsur dalam perbuatan pidana meliputi:
a. Perbuatan manusia dimana perbuatan manusia tersebut ada yang aktif
(berbuat sesuatu)
b. Memenuhi rumusan peraturan perundang-undangan, artinya berlaku asas
legalitas Nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali (tidak ada
perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika perbuatan
tersebut tidak atau belum dinyatakan dalam undang-undang)
c. Bersifat melawan hukum Selain dua unsur diatas untuk dapat dikategorikan
sebagai suatu tindak pidana juga harus memenuhi unsur yang ketiga yaitu
unsur melawan hukum, unsur ini merupakan unsur yang mutlak dari tindak
pidana.
3. Tanggung Jawab Notari berdasarkan UUJN
Berdasarkan pasal 91 UUJN yang merupakan pasal penutup dengan tegas
mencabut dan menyatakan tidak berlakunya peraturan-peraturan yang

§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Nico. Tanggungjawab Notaris Selaku Pejabat Umum.(Yogyakarta:
Center For Documentaion and Studies of Business Law, 2003). hlm. 21.
54

terdahulu mengenai Jabatan Notaris, sehingga yang menjadi pedoman dalam


pelaksanaan Jabatan Notaris saat ini adalah UUJN. Tanggung jawab Notaris
dalam UUJN secara eksplisit disebutkan dalam pasal 65 UUJN yang
menyatakan bahwa Notaris (Notaris Pengganti, Notaris Pengganti Khusus dan
Pejabat smentara Notaris) bertanggung jawab atas setiap akta yang dibuatnya,
meskipun protokol notaris telah diserahkan kepada pihak penyimpan protokol
Notaris.
4. Tanggung jawab Notaris berdasarkan kode etik profesi
Terdapat korelasi yang sangat kuat antara UUJN dengan kode etik profesi.
Kode etik profesi mengatur Notaris secara internal dan UUJN secara eksternal.
Hal ini ditegaskan dalam pasal 4 UUJN tentang sumpah jabatan Notaris.
Notaris harus menjalankan jabatannya sesuai dengan kode etik Notaris, yang
mana dalam melaksanakan tugasnya Notaris diwajibkan:
a. Senantiasa menjunjung tinggi hukum dan asas negara serta bertindak sesuai
dengan makna sumpah jabatannya;
b. Mengutamakan pengabdiannya kepada kepentingan masyarakat dan negara
Kesalahan notaris dalam membuat akta sehingga menyebabkan pihak lain
mengalami kerugian dapat termasuk perbuatan melawan hukum karena kelalaian.
Adapun syarat perbuatan dikatakan perbuatan melawan hukum yaitu adanya
perbuatan-perbuatan yang melawan hukum. Harus ada kesalahan dan harus ada
hubungan sebab-akibat antara perbuatan dan kerugian. Sedangkan unsur dari
perbuatan melawan hukum ini meliputi adanya suatu perbuatan melawan hukum,
adanya kesalahan dan adanya kerugian yang ditimbulkan. *********************** Akibat
adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan Notaris dalam pembuatan akta
otentik menimbulkan adanya pertanggung jawaban yang harus dilakukan oleh
seorang Notaris. Dalam pertanggungjawaban seorang Notaris secara Perdata,
hakim dalam menangani perkara perdata melibatkan Notaris mencari suatu
kebenaran formil dari akta otentik yaitu kebenaran dari apa yang diperoleh
berdasarkan apa yang dikemukakan oleh para pihak. Kebenaran ini digali dari
fakta-fakta yang diajukan oleh para pihak. Kebenaran dalam ranah perdata sangat

***********************
Yasin Tanaka. Op.Cit. Hlm 118.
55

tergantung dari para pihak. Berbeda dengan ranah hukum pidana yang mencari
kebenaran materiil. Hakim yang tergantung kepada apa yang dikemukakan oleh
Jaksa Penuntut Umum maupun Penasihat Hukum terdakwa. Hakim bersifat aktif
mencari kebenaran yang menurut yang sebenarnya, bukan menurut apa yang
dikemukakan oleh jaksa penuntut umum maupun penasihat hukum terdakwa.
Apabila Notaris membuat akta sesuai dengan keterangan-keterangan dari
penghadap tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan keterangan tersebut yang
diberikan, maka Notaris tidak dapat dituntut secara pidana maupun perdata untuk
bertanggung jawab atas akta yang dibuatnya, karena akta tersebut dibuat
berdasarkan keterangan atau kehendak para penghadap. Tanggungjawab Notaris
secara perdata memiliki keterkaitan dengan adanya unsur
kerugian.††††††††††††††††††††††† Dalam hal akta yang dibuat oleh Notaris cacat hukum
ataupun mendatangkan kerugian bagi pihak lain, yang dalam hal ini bisa jadi
adalah klien atau penghadap dari Notaris yang meminta dibuatkan akta tersebut
maka Notaris harus bertanggung jawab dengan memberikan ganti kerugian.
Tuntutan terhadap Notaris dalam bentuk penggantian biaya, ganti rugi dan bunga
sebagai akibat akta Notaris mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta
dibawah tangan atau batal demi hukum, adalah didasarkan atas
adanya:‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
a. Hubungan hukum yang khas antara Notaris dengan para penghadap dengan
bentuk sebagai perbuatan melawan hukum;

b. Ketidakcermatan, ketidaktelitian dan ketidaktepatan dalam hal:

1. Teknik administratif membuat akta berdasarkan peraturan perundang-


undangan;

2. Penerapan berbagai aturan hukum yang tertuang dalam akta yang


bersangkutan untuk para penghadap, yang tidak didasarkan pada

†††††††††††††††††††††††
Sari Haryadi. Winanto Wiryomartani. dan Widodo Suryandono.
Akibat Hukum Ketidaktelitian Notaris pada Pembuatan Akta Berita Acara Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa yang Dibuat Oleh Notaris. Jurnal Master of Notarial Law. Faculty
of Law. Universitas Indonesia. 2019. hlm 16.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Habib Adjie. Sekilas Dunia Notaris dan PPAT Indonesia. (Bandung:
CV. Mandar Maju. 2009). hlm. 20.
56

kemampuan menguasai keilmuan bidang Notaris secara khusus dan hukum


pada umumnya.

Terkait tanggung jawab secara pidana terhadap kebenaran materiil akta


yang dibuat oleh Notaris, yang membedakannya dengan tanggung jawab secara
perdata adalah, “melawan hukum” dalam konteks hukum pidana dengan dalam
konteks hukum perdata adalah lebih dititikberatkan pada perbedaan sifat hukum
pidana yang bersifat publik dan hukum perdata yang bersifat privat. Segala hal
yang dilakukan oleh setiap individu yang merupakan bagian dalam suatu tatanan
masyarakat sosial, siapa dan di mana saja keberadaannya baik yang akan, sedang
maupun telah dilakukan tidak lepas dari tanggung jawab. Pada hal setiap yang
dikerjakan oleh seseorang, baik disengaja atau tanpa sengaja harus dapat
dimintakan pertanggungjawabannya, terlebih lagi yang berkaitan dengan etika
profesi dari profesi hukum. Didalam kaitannya dengan pertanggungjawaban
seorang notaris khususnya dalam rangka suatu pembuatan akta, perlu kiranya
ditinjau terlebih dahulu hubungan notaris dengan kliennya untuk mengetahui
kapan dan dalam hal mana terjadi suatu tuntutan terhadap seorang notaris karena
suatu perbuatan atau kelalaian. Tanggung jawab yang melekat pada notaris lahir
dari undang-undang. Sehubungan dengan kedudukan notaris sebagai pejabat
umum yang melaksanakan tugas publik. Artinya, memberikan pelayanan kepada
masyarakat umum dalam bidang hukum perdata dan notaris juga memberikan
nasehat hukum dan penjelasan mengenai undang-undang serta akibat hukum
kepada pihak-pihak yang akan membuat akta atau meminta bantuan pembuatan
suatu akta notaris. Oleh karena itu perlu dipahami oleh para notaris dengan
sebaik-baiknya dalam upaya peningkatan profesionalisme, ialah mengenai
tanggung jawab notaris. Hal ini sangat penting, karena adanya pemahaman yang
mendalam mengenai tanggung jawab diharapkan seorang notaris akan
menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
Menurut Hermien Hadiati Koeswadji tanggung jawab seorang notaris dapat
dilihat dari segi yuridis dan dari segi etis. Tanggung jawab dari segi yuridis dapat
dibagi dari segi hukum perdata dan hukum pidana. Masalah tanggung jawab dari
segi hukum perdata ini timbul, karena adanya perjanjian pekerjaan antara notaris
57

dan klien, seperti disebutkan dalam Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata yang secara khusus pelaksanaannya diatur dalam Pasal 1 angka 1 dan
Pasal 15 ayat (1) UUJN serta Pasal 1909 ayat 3 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata. Dalam kaitannya tanggung jawab pidana, pelanggaran secara formil
peraturan hukum pidana saja tidak cukup untuk dijadikan alasan menjatuhkan
pidana. Pelanggar tersebut juga harus dalam keadaan mampu bertanggung jawab
atau mempunyai kesalahan. Sedangkan tanggung jawab notaris dari segi etis
meliputi ketaatan terhadap sumpah jabatan notaris dan hal ini merupakan landasan
bagi Kode Etik Profesi. Perbuatan hukum yang tertuang dalam suatu akta notaris
merupakan perbuatan hukum yang dilakukan oleh pihak-pihak yang meminta
kepada notaris untuk menuangkan dalam akta perbuatan mereka tersebut, jadi
pihak-pihak yang ada dalam akta tersebut yang terikat dengan isi dari akta
tersebut. Jika terjadi sengketa di antara para pihak tersebut yang berkaitan dengan
pelaksanaan terhadap akta yang telah dibuat oleh notaris, maka notaris tidak
terlibat sama sekali dalam pelaksanaan kewajiban atau dalam hal menuntut suatu
hak, notaris berada di luar hukum pihak-pihak.
Notaris adalah pejabat umum, akan tetapi akta notaris berbeda dengan
keputusan Tata Usaha Negara yang bersifat konkrit, individual dan final,
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 3 butir 3 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1986 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Sehingga terhadap
akta notaris tidak dapat diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara apabila terjadi
sengketa. Seorang notaris dapat dimintai pertanggungjawaban atas akta yang
dibuatnya, yaitu pertanggungjawaban secara perdata dan pidana. Secara perdata,
apabila dalam pembuatan akta menimbulkan kerugian bagi para pihak yang
termuat di dalam akta maupun pihak ketiga yang berkepentingan dengan akta
tersebut. Secara pidana, apabila akta yang dibuatnya dinyatakan palsu atau
dinyatakan bahwa apa yang diterangkan dalam akta tersebut adalah tidak benar.
Namun dalam kasus tersebut perlu dipertanyakan apakah di dalam perbuatan yang
dapat dihukum itu notaris mempunyai peran serta, jika ada sampai seberapa jauh
keterlibatan notaris dalam hal tersebut.
58

Sanksi dalam UUJN itu sendiri berlaku dalam hal terjadinya pelanggaran-
pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal yang bersangkutan.
Namun demikian tidak berarti bahwa dalam hal terjadinya pelanggaran terhadap
ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal lainnya yang tidak memuat sanksi notaris
tidak akan dihukum karena pelanggaran itu. Pada hakekatnya seluruh pasal-pasal
yang ada dalam UUJN mengandung sanksi dengan adanya ketentuan dalam Pasal
84 dan Pasal 85 UUJN yang menyatakan bagi para pihak yang menderita kerugian
dapat untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi dan bunga kepada notaris dan
selanjutnya notaris yang bersangkutan dapat dikenai sanksi
berupa :§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
b. Teguran lisan ;
c. Teguran tertulis ;
d. Pemberhentian sementara:
e. Pemberhentian dengan hormat atau ;
f. Pemberhentian dengan tidak hormat.

Kerugian yang diderita itu harus sebagai akibat dari perbuatan atau
kelalaian notaris tersebut. Syarat lainnya, bahwa perbuatan atau kelalaian itu
disebabkan kesalahan yang dapat dipertanggung jawabkan kepada notaris dalam
arti yang luas, yaitu meliputi unsur kesengajaan dan kesalahan (dolus dan
culpa).************************ Kesengajaan (dolus) tidak begitu menimbulkan kesulitan,
karena pada hakekatnya seorang notaris yang benar-benar dengan sengaja,
direncanakan terlebih dahulu, artinya secara insyaf dan sadar merugikan kliennya
adalah merupakan sesuatu yang sangat jarang sekali terjadi. Sepanjang mengenai
kesalahan yang sebenarnya (culpa) di dalam hal ini harus dianut pendirian, bahwa
bukanlah keadaan subyektif dari notaris yang bersangkutan menentukan sampai
seberapa jauh tanggung jawabnya, akan tetapi harus berdasarkan suatu
pertimbangan obyektif. Artinya seorang notaris yang normal dan baik seharusnya
dapat mengetahui akibat yang tidak dikehendaki itu, jika notaris tersebut

§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.
(Jakarta: Mitra Darmawan. 2004. cet.1). Hlm. 85.
************************
Liliana Tedjosaputro. “Malpraktek Notaris dan Hukum Pidana”.
(Semarang: CV. Agung. 1991). hlm. 44.
59

mengetahui, maka dalam hal ini terdapat kesalahan dan jika tidak, maka notaris
yang bersangkutan tidak dapat dipersalahkan.
Apabila akta yang dibuat oleh notaris telah memenuhi ketentuan-ketentuan
tentang pembuatan akta, dimana syarat formalitas terpenuhi, isinya tidak
bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku, tidak bertentangan dengan
kesusilaan dan ketertiban umum serta dapat memenuhi rasa keadilan para pihak
atau mereka yang memperoleh hak daripadanya, maka notaris tidak dapat diminta
pertanggungjawabannya terhadap akta yang telah dibuatnya. Notaris hanya
bertanggung jawab terhadap bentuk akta yang dibuatnya. Apabila pengadilan
ternyata membatalkan suatu akta notaris, yang disebabkan karena ketidaksesuaian
bentuk akta yang dibuat oleh notaris, maka notaris dapat dimintai
pertanggungjawabannya. Kesalahan pembuatan akta ini dapat dianggap sebagai
suatu perbuatan melawan hukum, apabila dibatalkannya akta tersebut
menimbulkan kerugian bagi para pihak dalam akta ataupun pihak ketiga yang
berkepentingan. Kesalahan ini dapat disebabkan karena kelalaian atau kurang
hatihatinya notaris dalam membuat akta sehingga kesalahan ini menimbulkan
kerugian. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1366 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata, yang berbunyi :
“Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang
disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hati”

Adanya perkembangan hukum yang terjadi di masyarakat erat


hubungannya dengan perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh notaris setiap harinya.
Oleh karena itu para notaris wajib untuk selalu mengikuti perkembangan tersebut.
Daripadanya dituntut pula kecermatan dalam menyusun perjanjian-perjanjian
yang dikehendaki oleh para pihak yang meminta bantuannya. Dari notaris dituntut
sikap cermat dan hati-hati agar tugas yang dibebankan kepadanya berdasarkan
Pasal 1 angka 1 dan Pasal 15 ayat (1) UUJN benar-benar dapat dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu seorang notaris harus menguasai semua
bidang ilmu hukum, tidak hanya hukum perdata saja melainkan pula Hukum adat,
Hukum agraria dan sebagainya. Sehingga tugas dan tanggung jawab notaris
60

menjadi semakin luas seiring dengan situasi dan kondisi perkembangan yang ada
di masyarakat.
Dalam setiap tindakan hukum yang akan mempengaruhi setiap harta dan
kekayaan perusahaan perlu mendapatkan apa yang disebut dengan persetujuan
Pemegang Saham atau dalam bahasa bisnis sehari-hari sering disebut dengan
Shareholder Approval atau SH Approval. Berdasarkan Pasal 102 UUPT, pada
dasarnya Direksi wajib mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam hal:
1. Mengalihkan kekayaan Perseroan;
2. Menjadikan jaminan hutang kekayaan Perseroan yang merupakan lebih dari
50% (lima puluh persen) jumlah kekayaan bersih Perseroan dalam satu
transaksi atau lebih.

Sebagai sebuah badan hukum, PT mempunyai organ-organ yang memiliki


fungsi masing-masing. Organ perseroan tersebut terdiri dari Rapat Umum
Pemegang Saham, Direksi, dan Dewan Komisaris (Pasal 1 ayat (2) UUPT).
Ketiga organ perseroan inilah yang menjadikan PT dapat melakukan tindakan dan
perbuatan hukum dengan pihak lain. Rapat Umum Pemegang Saham adalah organ
perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau
Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang dan/atau
anggaran dasar (pasal 1 ayat (4) UUPT). RUPS adalah organ perseroan yang
mewakili kepentingan seluruh pemegang saham dalam PT tersebut.
Untuk akta notaris mengenai perubahan anggaran dasar suatu perseroan
terbatas, maka kebenaran atas perubahan anggaran dasar sepenuhnya menjadi
tanggung jawab notaris. Hal ini dapat dilihat dalam Keputusan Direktur Jenderal
Administrasi Hukum Umum Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia Nomor: C-01.Ht.01.04 Tahun 2003 tentang Tata Cara
Penyampaian Laporan Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Pasal
8, yang berbunyi :
“Kebenaran akta perubahan anggaran dasar perseroan terbatas yang
disampaikan baik melalui Sisminbakum maupun sistem manual
sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 sepenuhnya menjadi tanggung
jawab notaris”.
61

Sehubungan dengan Akta PKR mengenai perubahan anggaran dasar yang


dibuat oleh notaris berdasarkan risalah rapat yang dibuat di bawah tangan, maka
notaris tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas isi dari akta tersebut. Karena
notaris tidak menghadiri rapat umum pemegang saham yang diadakan untuk
mengubah anggaran dasar. Notaris hanya bertanggung jawab atas pernyataan dan
dokumen yang disampaikan oleh penghadap yang akan membuat akta PKR
dengan berdasarkan pada kuasa yang diberikan kepadanya. Seorang notaris
sebelum membuat Akta PKR harus memeriksa/meneliti identitas yang
dilampirkan, daftar hadir dari para pemegang saham atau kuasanya yang hadir
dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), isi risalah rapat yang dibuat di
bawah tangan dan bentuk atau keaslian tanda tangan para peserta rapat, meskipun
kebenaran dokumen dan tanda tangan tersebut menjadi tanggung jawab
penghadap sendiri.
Dengan demikian, dari apa yang telah dibahas di atas, dapat ditarik suatu
pengertian bahwa notaris tidak bertanggung jawab atas Akta PKR yang dibuat
olehnya karena isi akta PKR tersebut berdasarkan pada risalah rapat di bawah
tangan dan isi dari risalah rapat tersebut menjadi tanggung jawab para peserta
yang hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Notaris hanya
bertanggung jawab terhadap bentuk dari akta PKR.

2.2 Akibat Hukum Atas Akta Perubahan Anggaran Dasar Dan Anggaran
Rumah Tangga Yang Dibuat Berdasarkan Keputusan Sirkuler Diluar
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Perkembangan globalisasi semakin mengaitkan perekonomian Indonesia
dengan perekonomian dunia, sehingga perekonomian Indonesia tidak dapat
menutup diri terhadap pengaruh dan tuntutan globalisasi. Maka diperlukan
berbagai sarana penunjang antara lain tatanan hukum yang mendorong,
menggerakkan, dan mengendalikan berbagai kegiatan pembangunan di bidang
perekonomian nasional. Salah satu materi hukum yang diperlukan dalam
menunjang pembangunan ekonomi nasional Indonesia adalah ketentuan-ketentuan
di bidang Perseroan Terbatas yang dalam tatanan hukum Indonesia telah diatur
62

dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang


Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut dengan UU PT. Pengesahan UU PT
salah satu kodifikasi, yaitu: Wetboek van Koophandel yang lazim dikenal dengan
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD). Ketentuan tentang Perseroan
Terbatas yang diatur dalam KUHD, sudah tidak lagi dapat mengikuti dan
memenuhi kebutuhan perkembangan perekonomian dunia usaha yang sangat
pesat.
Perseroan Terbatas adalah persekutuan yang berbentuk badan hukum, di
mana badan hukum ini disebut dengan “Perseroan”. Istilah Perseroan pada
Perseroan Terbatas, menunjuk pada cara penentuan modal badan hukum yang
terdiri dari sero-sero atau saham-saham, sedangkan istilah Terbatas menunjuk
pada batas tanggung jawab para persero atau pemegang saham, yaitu hanya
terbatas pada jumlah nilai nominal dari semua saham-saham yang
dimiliki.†††††††††††††††††††††††† Berbeda dengan orang perseorangan (manusia),
Perseroan Terbatas walaupun merupakan subyek hukum mandiri, adalah suatu
artificial person, yang tidak dapat melakukan tugasnya sendiri. Oleh karena itu,
Perseroan memerlukan organ-organnya untuk menjalankan usahanya, mengurus
kekayaannya dan mewakili Perseroan di depan pengadilan maupun di luar
pengadilan. Berdasarkan Pasal 1 angka 2 UU PT menyatakan bahwa “organ
perseroan adalah Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi dan Dewan Komisaris”.
Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan yang dibuat di
bawah tangan dan kemudian dituangkan ke dalam akta otentik, akan membawa
akibat hukum, yaitu akta tersebut menjadi suatu akta otentik. Akta di bawah
tangan bagi Hakim merupakan "Bukti Bebas" (VRU Bewijs) karena akta di bawah
tangan ini baru mempunyai kekuatan bukti materil setelah dibuktikan kekuatan
formilnya. Sedang kekuatan pembuktian formilnya baru terjadi, bila pihak-pihak
yang bersangkutan mengakui akan kebenaran isi dan cara pembuatan akta itu.
Dengan demikian, akta di bawah tangan berlainan dengan akta otentik, sebab
bilamana satu akta di bawah tangan dinyatakan palsu, maka yang menggunakan

††††††††††††††††††††††††
C.S.T Kansil. Pokok-Pokok Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan. 2006). Hlm. 96.
63

akta di bawah tangan itu sebagai bukti haruslah membuktikan bahwa akta itu tidak
palsu. Namun demikian akta otentik maupun akta yang dibuat di bawah tangan
tetap merupakan suatu perjanjian, sebagaimana dimaksud dalam KUH Perdata,
sehingga dapat mengikat para pihak yang membuatnya sepanjang memenuhi
syarat sah suatu perjanjian.
Suatu perjanjian adalah sah apabila telah memenuhi syarat-syarat yang
telah ditentukan undang-undang, sehingga keberadaan perjanjian tersebut diakui
oleh hukum. Syarat sahnya perjanjian dapat kita lihat dalam Pasal 1320
KUHPerdata, yaitu :
a. Ada sepakat mereka yang mengikatkan dirinya,
b. Ada kecakapan untuk membuat suatu perikatan,
c. Ada sesuatu hal tertentu,
d. Ada sesuatu sebab yang halal.

Persetujuan itu harus bebas tidak ada paksaan, kekhilafan, atau penipuan.
Dikatakan tidak ada paksaan apabila orang yang melakukan perbuatan itu tidak
berada di bawah ancaman, baik kekerasan jasmani maupun dengan upaya yang
bersifat menakut- nakuti (Pasal 1324 KUHPerdata). Tidak ada kekhilafan apabila
salah satu pihak tidak khilaf tentang hal pokok yang diperjanjikan atau tentang
sifat-sifat penting barang yang menjadi objek perjanjian, atau mengenai orang
dengan siapa perjanjian itu diadakan (Pasal 1322 KUHPerdata). Tidak ada
penipuan apabila tidak ada tindakan menipu menurut undang-undang. yaitu
dengan sengaja melakukan tipu muslihat dengan memberikan keterangan palsu
atau tidak benar untuk membujuk pihak lawannya supaya menyetujui (Pasal 1328
KUHPerdata).
Orang yang membuat perjanjian harus cakap menurut hukum. Pada
dasarnya orang yang telah dewasa dan sehat pikirannya cakap untuk melakukan
perbuatan hukum. Dalam Pasal 1330 KUHPerdata disebutkan orang-orang yang
tidak cakap membuat perjanjian, yaitu :
1) Orang-orang yang belum dewasa;
2) Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan,
3) Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang-
undang dan pada umumnya semua orang kepada siapa Undang-undang
telah melarang membuat perjanjian- perjanjian tertentu.
64

Suatu hal tertentu yang diperjanjikan, artinya apa yang diperjanjikan hak-
haknya dan kewajiban-kewajiban kedua belah pihak jika timbul suatu
perselisihan. Barang yang dimaksudkan perjanjian disini adalah suatu barang yang
paling sedikit dapat ditentukan jenisnya. Perlu diperhatikan bahwa barang itu
harus merupakan objek perdagangan, artinya benda-benda diluar perdagangan
seperti badan milik tidak boleh menjadi objek perjanjian (Pasal 1332 dan Pasal
1333 KUHPerdata). Adapun mengenai apakah barang tersebut telah ada atau telah
berada ditangan debitur pada saat perjanjian dibuat tidak diharuskan oleh undang-
undang. Demikian juga mengenai jumlah barangnya pun tidak harus disebutkan
asalkan nanti dapat dihitung atau ditentukan.
Sebab yang halal, maksudnya adalah isi perjanjian itu sendiri yang
menggambarkan tujuan yang akan dicapai oleh para pihak. Pengertian sebab yang
halal dapat diketahui dalam Pasal 1337 KUHPerdata, yaitu : Suatu sebab adalah
terlarang apabila dilarang oleh undang-undang atau apabila berlawanan dengan
kesusilaan atau ketertiban umum. Jadi suatu sebab yang memenuhi tiga hal
tersebut adalah batal, kebatalan ini bersifat mutlak. Jika syarat subjektif yang
meliputi kesepakatan dan kecakapan tidak dipenuhi, maka perjanjian itu dapat
dibatalkan. Pihak yang dapat membatalkan perjanjian adalah salah satu pihak
yang tidak cakap atau pihak yang memberi sepakatnya secara tidak bebas. Jadi
perjanjian yang telah dibuat itu tetap mengikat selama tidak dibatalkan oleh hakim
atas permintaan pihak yang berhak minta pembatalan itu. Batas pembatalan itu
ditentukan oleh undang- undang selama masa 5 (lima) tahun (Pasal 1454
KUHPerdata). Jika syarat objektif, yaitu mengenai suatu hal tertentu dan suatu
sebab yang halal tidak dipenuhi, maka perjanjian batal demi hukum. Jadi tidak ada
dasar untuk menuntut pemenuhan perjanjian itu dimuka hakim karena sejak
semula dianggap tidak pernah ada perjanjian.
Isi suatu perjanjian dalam hukum perjanjian dikenal asas kebebasan
berkontrak, maksudnya adalah setiap orang bebas mengadakan suatu perjanjian
berupa apa saja, baik bentuknya, isinya dan pada siapa perjanjian itu ditujukan.
Asas ini dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang berbunyi :
65

"Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-undang bagi
mereka yang membuatnya".
Tujuan dari pasal di atas bahwa pada umumnya suatu perjanjian itu dapat
dibuat secara bebas untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, bebas untuk
mengadakan perjanjian dengan siapapun, bebas untuk menentukan bentuknya
maupun syarat-syarat, dan bebas untuk menentukan bentuknya, yaitu tertulis atau
tidak tertulis dan seterusnya.
Keputusan sirkuler adalah salah satu cara untuk merubah anggaran dasar
perseroan. Perubahan anggaran dasar adalah salah satu kewenangan RUPS
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 19 ayat (1) UUPT. Lalu, keputusan sirkuler
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 91 UUPT yang menyebutkan bahwa
pemegang saham dapat juga mengambil keputusan yang mengikat di luar RUPS
dengan syarat semua pemegang saham dengan hak suara menyetujui secara
tertulis dengan menandatangani usul yang bersangkutan. Jadi, perubahan
anggaran dasar selain dengan RUPS secara fisik, dapat juga diputuskan dengan
keputusan sirkuler.
UUPT mengatur tentang perubahan Anggaran Dasar Perseroan dan
membagi jenis perubahan Anggaran Dasar menjadi dua, yaitu perubahan
Anggaran Dasar yang perlu dimintakan persetujuan Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia dan perubahan Anggaran Dasar yang cukup diberitahukan saja
kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Peraturan mengenai keduanya
ini tidak hanya diatur dalam UUPT saja, namun diatur juga dalam Peraturan
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Diantaranya sebagai berikut:
a. Perubahan Anggaran Dasar yang Membutuhkan Persetujuan Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia
Perubahan Anggaran Dasar yang membutuhkan persetujuan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia diatur ketentuannya dalam pasal 21 ayat (1) dan
ayat (2) UUPT. Disebutkan dalam pasal 21 ayat (2) UUPT, perubahan-perubahan
yang harus dimintakan persetujuan kepada Menteri adalah sebagai berikut:
a. Nama Perseroan dan/atau tempat kedudukan Perseroan;
b. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan;
c. Jangka waktu berdirinya Perseroan;
66

d. Besarnya modal dasar;


e. Pengurangan modal ditempatkan dan disetor; dan/atau
f. Status Perseroan yang tertutup menjadi Perseroan Terbuka atau sebaliknya.

Perubahan tersebut untuk mendapat persetujuan Menteri Hukum dan Hak


Asasi Manusia harus dituangkan ke dalam Akta Notaris dan hanya akan berlaku
perubahannya jika telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia sesuai ketentuan dalam pasal 23 ayat (1) UUPT yang menyebutkan
bahwa perubahan anggaran dasar yang harus mendapat persetujuan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia mulai berlaku sejak tanggal diterbitkannya
Keputusannya mengenai persetujuan perubahan anggaran dasar.
b. Perubahan Anggaran Dasar yang Cukup Diberitahukan Kepada Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia
Perubahan anggaran dasar yang cukup diberitahukan kepada Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia diatur dalam pasal 21 ayat (3) yaitu yang
menentukan bahwa perubahan anggaran dasar selain yang diatur dalam pasal 21
ayat (2) tersebut hanya perlu diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia. Perubahan anggaran dasar ini hanya berlaku jika telah mendapat
persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia sesuai ketentuan dalam
pasal 23 ayat (2) UUPT yang menyebutkan bahwa perubahan anggaran dasar yang
cukup diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia mulai
berlaku sejak tanggal diterbitkannya surat penerimaan pemberitahuan perubahan
anggaran dasar oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Proses perubahan
anggaran dasar selain diatur dalam UUPT, juga diatur dalam Permenkumham
nomor 4 tahun 2014 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan
Hukum dan Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Serta Penyampaian
Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar dan Perubahan Data Perseroan
Terbatas dan juga perubahannya yaitu Permenkumham Nomor 1 tahun 2016 yang
mengatur sebagai “Pasal 21 UUPT yang mengatur ketentuan tentang perubahan
anggaran dasar:
1. Perubahan anggaran dasar tertentu harus mendapat persetujuan Menteri.
2. Perubahan anggaran dasar tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
67

a. Nama Perseroan dan/atau tempat kedudukan Perseroan;


b. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan;
c. Jangka waktu berdirinya Perseroan;
d. Besarnya modal dasar;
e. Pengurangan modal ditempatkan dan disetor; dan/atau status Perseroan
yang tertutup menjadi Perseroan Terbuka atau sebaliknya
3. Perubahan anggaran dasar selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) cukup
diberitahukan kepada Menteri.
4. Perubahan anggaran dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
dimuat atau dinyatakan dalam akta notaris dalam bahasa Indonesia.
5. Perubahan anggaran dasar yang tidak dimuat dalam akta berita acara rapat
yang dibuat notaris harus dinyatakan dalam akta notaris paling lambat 30
(tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS.
6. Perubahan anggaran dasar tidak boleh dinyatakan dalam akta notaris setelah
lewat batas waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (5).
7. Permohonan persetujuan perubahan anggaran dasar sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) diajukan kepada Menteri, paling lambat 30 (tiga puluh) hari
terhitung sejak tanggal akta notaris yang memuat perubahan anggaran dasar.
8. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) mutatis mutandis berlaku
bagi pemberitahuan perubahan anggaran dasar kepada Menteri.
9. Lewat batas waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (7)
permohonan persetujuan atau pemberitahuan perubahan anggaran dasar tidak
dapat diajukan atau disampaikan kepada Menteri.”
10. Tata cara perubahan anggaran dasar dalam Permenkumham nomor 4 tahun
2014 yang mengatur tentang tata cara pengajuan permohonan pengesahan
badan hukum dan persetujuan perubahan anggaran dasar serta penyampaian
pemberitahuan perubahan anggaran dasar diatur dalam pasal pasal 18, pasal
19 dan pasal 24 yaitu sebagai berikut:

“Pasal 18

1. Perubahan anggaran dasar tertentu harus mendapat persetujuan Menteri.


2. Perubahan anggaran dasar tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. Nama Perseroan dan/atau tempat kedudukan Perseroan;
b. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan;
c. Jangka waktu berdirinya Perseroan;
d. Besarnya modal dasar;
e. Pengurangan modal ditempatkan dan disetor; dan/atau
f. Status Perseroan yang tertutup menjadi Perseroan terbuka atau sebaliknya.
3. Perubahan anggaran dasar tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dimuat atau dinyatakan dalam akta Notaris dalam Bahasa Indonesia.
4. Perubahan anggaran dasar yang tidak dimuat dalam akta berita acara rapat
yang dibuat Notaris harus dinyatakan dalam akta Notaris dalam jangka waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS.
68

5. Perubahan anggaran dasar tidak boleh dinyatakan dalam akta Notaris setelah
lewat jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (4).
6. Permohonan persetujuan perubahan anggaran dasar tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diajukan kepada Menteri, dalam jangka waktu paling
lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal akta Notaris yang memuat
perubahan anggaran dasar.
7. Apabila jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) telah lewat, permohonan persetujuan perubahan anggaran dasar tidak
dapat diajukan kepada Menteri.”

“Pasal 19

“Perubahan anggaran dasar yang diputuskan di luar RUPS harus dinyatakan


dalam akta Notaris dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung
sejak tanggal persetujuan seluruh pemegang saham.” “Pasal 24 Perubahan
anggaran dasar Perseroan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 cukup
diberitahukan oleh Pemohon kepada Menteri.”

UUPT memberikan penjelasan tentang pemberitahuan perubahan data

perseroan yaitu dalam penjelasan pasal 29 huruf c yang menjelaskan bahwa

perubahan data perseroan antara lain tentang pemindahan hak atas saham,

penggantian anggota Direksi dan Dewan Komisaris dan pembubaran perseroan.

Selain itu, diatur juga dalam Permenkumham Nomor 4 Tahun 2014 tentang Tata

Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan Persetujuan

Perubahan Anggaran Dasar serta Penyampaian Pemberitahuan Perubahan

Anggaran Dasar dan Perubahan Data Perseroan Terbatas serta perubahannya yaitu

Permenkumham Nomor 1 Tahun 2016. Hal-hal yang merupakan perubahan data

perseroan diatur dalam pasal 27 ayat (3) Permenkumham No 4 Tahun 2016 yaitu

sebagai berikut:

a. Perubahan susunan pemegang saham karena pengalihan saham dan/atau


perubahan jumlah kepemilikan saham yang dimilikinya;
b. Perubahan nama pemegang saham karena pemegang saham ganti nama;
c. Perubahan susunan nama dan jabatan anggota direksi dan/atau dewan
komisaris;
d. Perubahan alamat lengkap Perseroan;
69

e. Pembubaran Perseroan atau berakhirnya Perseroan karena jangka waktu


berakhir;
f. Berakhirnya status badan hukum Perseroan setelah pertanggungjawaban
likuidator atau Kurator telah diterima oleh RUPS, Pengadilan, atau Hakim
Pengawas; dan
g. Penggabungan, peleburan, pengambilalihan, dan pemisahan yang tidak
disertai perubahan anggaran dasar.

Keberlakuan keputusan di luar RUPS yang merupakan perubahan


anggaran dasar yang tidak dituangkan dalam akta notaris menurut UUPT tidak
dapat berlaku. Perubahan anggaran dasar berlaku sejak tanggal diterbitkannya
surat Keputusan Menteri mengenai persetujuan perubahan anggaran dasar, jika
perubahan anggaran dasar merupakan perubahan yang memerlukan persetujuan
dari Menteri. Sedangkan perubahan anggaran dasar yang cukup diberitahukan
kepada Menteri berlaku sejak tanggal diterbitkannya surat penerimaan
pemberitahuan perubahan anggaran dasar oleh Menteri. Untuk mendapatkan surat
Keputusan Menteri mengenai persetujuan perubahan anggaran dasar dan surat
penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar oleh Menteri, perubahan
harus dimintakan persetujuannya dan/atau diberitahukan kepada menteri yang
diatur bahwa untuk melakukannya, perubahan anggaran dasar tersebut harus
dinyatakan ke dalam akta notaris.
Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan yang dibuat di
bawah tangan dan kemudian dituangkan ke dalam akta otentik akan membawa
akibat hukum, yaitu akta tersebut menjadi suatu akta otentik. Adapun yang
dimaksud dengan akta otentik menurut Pasal 1868 KUHPerdata,
adalah:‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
“Suatu akta yang di dalam bentuk yang ditetapkan oleh Undang-Undang,
dibuat oleh atau dihadapan Pegawai Umum yang berkuasa untuk itu, di
tempat di mana akta dibuatnya”.

Pegawai umum yang dimaksud disini ialah pegawaipegawai yang


dinyatakan dengan Undang-Undang mempunyai wewenang untuk membuat akta
otentik, misalnya Notaris, panitera juru sita, pegawai pencatat sipil,Hakim dan
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek)
diterjemahkan oleh Subekti dan R.Tjitrosudibio (Jakarta: Pradnya Paramita, 2008), Pasal 1886.
70

sebagainya. Jika akta tersebut dibuat oleh atau dihadapan Notaris, maka disebut
dengan akta Notaris yang sesuai dengan bunyi Pasal 1 ayat (7) UUJN bahwa “akta
otentik yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara
yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini”, sehingga akta Notaris merupakan
alat bukti yang sempurna.
Berkaitan dengan akta yang dibuat “oleh” Notaris dinamakan dengan “akta
relaas” atau “akta (ambetelijke akten)”, akta ini merupakan suatu akta yang
memuat "relaas" atau menguraikan secara otentik sesuatu tindakan yang
dilakukan atau suatu keadaan yang dilihat atau disaksikan oleh pembuat akta itu,
yaitu Notaris sendiri, didalam menjalankan jabatannya sebagai Notaris. Akta yang
dibuat sedemikian dan yang memuat uraian dari apa yang dilihat dan disaksikan
serta dialaminya itu. Termasuk di dalam akta “relaas” ini antara lain berita acara
rapat atau risalah para pemegang saham dalam Perseroan Terbatas. Akta pejabat
“relaas” menerangkan bahwa para pihak tidak diharuskan menandatangani akta
tersebut. Apabila dalam berita acara rapat para pemegang saham orang-orang
yang hadir telah meninggalkan rapat dan tidak sempat menadatangani akta
tersebut, maka notaris cukup memberi keterangan bahwa “para pihak yang hadir
telah meninggalkan rapat sebelum menandatangani akta itu dan dalam hal ini akta
itu tetap merupakan akta otentik”.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Akta autentik yang dibuat oleh Notaris tidak jarang yang dipermasalahkan
oleh salah satu pihak atau oleh pihak lain karena dianggap merugikan
kepentingannya, baik itu dengan pengingkaran akan isi akta, tandatangan maupun
kehadiran pihak di hadapan Notaris, bahkan adanya dugaan dalam akta autentik
tersebut ditemukan keterangan palsu. Perbuatan Notaris yang diduga telah
memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta autentik dapat dikenakan
sanksi pidana sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (selanjutnya disebut KUHP).************************* Hal ini dimungkinkan
dengan begitu banyaknya jenis akta autentik yang dapat dibuat oleh Notaris, dan

§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
G.H.S. Lumban Tobing. Peraturan Jabatan Notari. (Jakarta: Penerbit
Erlangga. 1999).hlm 55.
*************************
Sjaifurracman. Aspek Pertanggung Jawaban Notaris dalam
Pembuatan Akta. (Bandung: Mandar Maju. 2011). Hlm. 11.
71

atas dasar tersebut dibutuhkan suatu perlindungan hukum terhadap Notaris dalam
menjalankan jabatannya selaku Pejabat Umum
Risalah para pemegang saham juga diatur pada Pasal 90 UU PT yang
menyebutkan sebagai berikut :
(1) Setiap Penyelenggaraan RUPS, risalah RUPS wajib dibuat dan
ditandatangani oleh ketua rapat dan paling sedikit 1 (satu) orang pemegang
saham yang ditunjuk dari dan oleh peserta RUPS.
(2) Tanda tangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diisyaratkan apabila
risalah RUPS tersebut dibuat dengan akta Notaris.

Pada ayat (1) diatas adalah penandatanganan oleh ketua rapat dan paling
sedikit 1 (satu) orang pemegang saham yang ditunjuk dari dan oleh peserta RUPS
dimaksudkan untuk menjamin kepastian dan kebenaran isi risalah RUPS tersebut.
Menurut pasal 1, akta di bawah tangan bagi Hakim merupakan "Bukti Bebas"
(VRU Bewijs) karena akta di bawah tangan ini baru mempunyai kekuatan bukti
materil setelah dibuktikan kekuatan formilnya. Sedang kekuatan pembuktian
formilnya baru terjadi, bila pihak-pihak yang bersangkutan mengakui akan
kebenaran isi dan cara pembuatan akta itu. Hal ini juga dijelaskan pada pasal 1875
KUHPerdata yang berisi bahwa akta di bawah tangan juga memerlukan
pengakuan agar dapat dianggap sebagai bukti yang sempurna, isi dari pasal 1875
KUHPerdata adalah sebagai berikut :
“Suatu tulisan di bawah tangan yang diakui oleh orang terhadap siapa
tulisan itu hendak dipakai, atau yang dengan cara menurut undang-
undang dianggap sebagai diakui, memberikan terhadap orang-orang yang
menandatanganinya serta para ahli warisnya dan orang-orang yang
mendapat hak dari pada mereka, bukti yang sempurna seperti suatu akta
otentik, dan demikian pula berlakulah ketentuan pasal 1871
KUHPerdata."

Dengan demikian, akta di bawah tangan berlainan dengan akta otentik,


sebab bilamana satu akta di bawah tangan dinyatakan palsu, maka yang
menggunakan akta di bawah tangan itu sebagai bukti haruslah membuktikan
bahwa akta itu tidak palsu. Namun demikian akta otentik maupun akta yang
dibuat di bawah tangan tetap merupakan suatu perjanjian, sebagaimana dimaksud
dalam KUHPerdata, sehingga dapat mengikat para pihak yang membuatnya
sepanjang memenuhi syarat sah suatu perjanjian.
72

Suatu perjanjian adalah sah apabila telah memenuhi syarat-syarat yang


telah ditentukan undang-undang, sehingga keberadaan perjanjian tersebut diakui
oleh hukum. Syarat sahnya perjanjian dapat kita lihat dalam Pasal 1320
KUHPerdata, yaitu :
a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
c. Suatu hal tertentu.
d. Suatu sebab yang halal.

Dalam hal membuat Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang


Saham pada Perseroan Terbatas (PT) adalah :†††††††††††††††††††††††††
1. Menyerahkan asli dari Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan
Terbatas tersebut;
2. Direksi yang diberikan kuasa oleh RUPS untuk membuat Akta Pernyataan
Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan Terbatas, hadir
dihadapan Notaris dan menandatangani akta;
3. Direksi yang diberikan kuasa oleh RUPS untuk membuat Akta Pernyataan
Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan Terbatas menyerahkan:
- Salinan Akta Pendirian Perseroan Terbatas beserta perubahannya;
- Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI tentang pemberian status
badan hukum suatu Perseroan Terbatas;
- Foto Copy KTP Direksi dan Komisaris Perseroan Terbatas tersebut;
- Nomor Pokok wajib Pajak (NPWP) Perseroan;
- Surat Keterangan Domisili Perseroan;
- Surat-suar lainnya seperti: Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda
Daftar Perusahaan (TDP).
Isi dari Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham
Perseroan Terbatas, pada umumnya adalah tentang perubahan Anggaran Dasar
atau Hasil Rapat Tahunan Perseroan. Perubahan Anggaran Dasar sesuai dengan
pasal 21 UU PT antara lain :
a. Nama Perseroan dan/atau tempat kedudukan Perseroan;
†††††††††††††††††††††††††
Ella Agustin, M. Khoidin, Firman Floranta Adonara. Tanggung
Gugat Notaris Dalam Pembuatan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham.
(Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2013). hlm 3.
73

b. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan;


c. Jangka waktu berdirinya Perseroan;
d. Besarnya modal dasar;
e. Pengurangan modal ditempatkan dan disetor; dan/atau
f. Status Perseroan yang tertutup menjadi Perseroan Terbuka atau sebaliknya.

Pembuktian dalam suatu peristiwa-peristiwa di muka persidangan


dilakukan dengan menggunakan alat-alat bukti. Dengan alat-alat bukti yang telah
diajukan, memberikan dasar kepada hakim akan kebenaran peristiwa yang
didalilkan.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Pembuktian dalam hukum acara perdata mempunyai
arti yuridis, yaitu memberi dasar-dasar yang cukup kepada hakim yang memeriksa
perkara bersangkutan guna memberi kepastian tentang kebenaran peristiwa yang
diajukannya.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§ Membuktikan adalah suatu proses untuk
menetapkan kebenaran peristiwa secara pasti dalam persidangan, dengan sarana-
sarana yang disediakan oleh hukum. Hakim mempertimbangkan atau memberi
alasan-alasan logis mengapa suatu peristiwa dinyatakan sebagai benar. Tujuan
membuktikan secara yuridis adalah menemukan kebenaran peristiwa yang
disengketakan para pihak yang berperkara.************************** Suatu perkara
diajukan ke pengadilan tidak lain untuk mendapatkan penyelesaian dan
pemecahan secara adil sesuai dengan harapan dan keinginan para pencari keadilan
(justiciabellen). Suatu perkara supaya dapat diputus secara adil harus diketahui
duduk perkara secara jelas, yaitu mana peristiwa yang benar dan mana peristiwa
yang salah. Untuk menentukan mana peristiwa yang benar dan mana peristiwa
yang salah dapat dilakukan lewat proses pembuktian di persidangan.
Berdasarkan pada Pasal 164 HIR dan Pasal 284 Rbg alat alat bukti yang
sah terdiri dari bukti tulisan, bukti dengan saksi-saksi, persangkaan, pengakuan
dan sumpah. Hukum acara perdata, menghendaki alat bukti yang sah atau yang
diakui oleh hukum terdiri dari: bukti tulisan, bukti dengan saksi-saksi,

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Anshoruddin. Hukum Pembuktian Menurut Hukum Acara Islam dan
Hukum Positi. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004). hlm. 60.
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Sudikno Mertokusumo. Hukum Acara Perdata Indonesia.
(Yogyakarta: Liberty. 1998).hlm. 109.
**************************
Sri Wardah dan Bambang Sutiyoso. Hukum Acara Perdata dan
Perkembangannya di Indonesia. (Yogyakarta: Gama Media. 2007). hlm. 124.
74

persangkaanpersangkaan, pengakuan, sumpah.35 Alat bukti lainnya berupa


pemeriksaan setempat yang diatur dalam Pasal 253 HIR/ 180 Rbg dan keterangan
ahli yang diatur dalam 154 HIR/ 181 Rbg. Dari alat bukti yang disebutkan dalam
undangundang tersebut, hakim ada yang terikat adapula yang bebas untuk
melakukan penilaian dalam pembuktian. Akan tetapi, sebagian besar dari alat-alat
bukti tersebut hakim terikat kebebasannya dalam hal menilai alat bukti, yaitu
berupa Akta Autentik (Pasal 165 HIR/ 285 Rbg/ 1870 BW), pengakuan (Pasal 174
HIR/ 311 Rbg/ 1925 BW), sumpah pemutus atau decoir (Pasal 177 HIR/ 314 Rbg/
1936 BW), keterangan satu saksi (Pasal 169 HIR/ 306 Rbg/ 1905 BW), dan
persangkaan menurut undang-undang yang tidak dimungkinkan pembuktian
lawan (Pasal 1921 ayat (2) BW). †††††††††††††††††††††††††† Alat bukti tertulis dibagi
menjadi dua yaitu surat yang merupakan akta dan surat-surat lainnya yang bukan
akta. Akta dapat diartikan sebagai tulisan-tulisan yang memiliki nilai pembuktian,
atau sejak awal dibuat untuk pembuktian oleh pihak-pihak yang membuatnya.
Akta memiliki dua bentuk, yaitu akta autentik dan akta dibawah
tangan.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Menurut Pasal 1868 KUHPerdata akta autentik adalah
akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh
atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu ditempat mana akta itu
dibuatnya. Akta dibawah tangan menurut Pasal 1874 KUHPerdata adalah
tulisantulisan yang dibuat dalam bentuk yang tidak ditentukan oleh undang-
undang, ditandatangani oleh para pihak yang membuatnya tanpa perantara pejabat
umum yang berwenang. Perbedaan penting diantaranya adalah dalam nilai
pembuktiannya, akta autentik memiliki nilai pembuktian yang sempurna,
sedangkan akta dibawah tangan mimiliki nilai pembuktian sepanjang akta tersebut
diakui oleh para pihak yang membuatnya (yang bertandatangan didalam akta).
Suatu akta dapat dikatakan autentik dan memenuhi kekuatan pembuktian yang
sempurna apabila akta tersebut sah secara formalitas pada saat pembuatannya,
bentuknya, maupun materiil isi dari akta tersebut tidak menyebabkan suatu akta
kehilangan autentisitasnya. Dengan hilangnya sifat autentik dari suatu akta, maka
††††††††††††††††††††††††††
Bambang Sutiyoso. Aktualita Hukum dalam Era Reformas. (Jakarta:
Raja Grafindo Persada. 2004). hlm. 193.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Habib Adji. Op. Cit.. hlm. 48.
75

akta tersebut hanya mempunyai kekuatan pembuktian seperti akta di bawah


tangan.
Akta autentik apabila digunakan dimuka pengadilan, adalah cukup dan
hakim tidak diperkenankan untuk meminta tanda pembuktian lainnya yang
dinamakan vrije bewijsheorie, yang berarti bahwa kesaksian para saksi, misalnya
tidak mengikat hakim pada alat bukti itu, akan tetapi dengan akta autentik dimana
undang-undang mengikat Hakim pada alat bukti tersebut. Risalah RUPS dibawah
tangan yang dinyatakan dihadapan notaris merupakan keterangan penghadap
berdasarkan notulen atau berita acara rapat yang dibuat dibawah tangan. Risalah
RUPS dibawah tangan ini dibawa dihadapan notaris berdasarkan kuasa dari
RUPS, biasanya kuasa tersebut diberikan kepada Direksi, kuasa diberikan kepada
direksi untuk dan atas nama Perseroan yang mewakili forum RUPS. Risalah
tersebut merupakan hasil keputusan rapat yang telah disetujui dan ditanda tangani
oleh ketua rapat. Dengan adanya risalah rapat tanpa dihadiri oleh Notaris berarti
akan melahirkan akta para pihak (partij akten) Notaris kemudian membuat risalah
keputusan RUPS di bawah tangan tersebut menjadi Akta Pernyataan Keputusan
Rapat.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§ Akta Pernyataan Keputusan Rapat tersebut merupakan
akta autentik, karena telah memenuhi ketentuan Undang-undang sebagai akta
autentik meskipun isi dari akta tersebut merupakan risalah rapat yang dibuat
dibawah tangan. Pada dasarnya meskipun Akta Pernyataan Keputusan Rapat
berbentuk akta notarial, tetapi isi dari Akta tersebut tetap merupakan Risalah rapat
di bawah tangan.
Akta pernyataan keputusan rapat umum pemegang saham perseroan
terbatas, merupakan suatu akta Notariil yang dibutuhkan dalam dunia praktek.
Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi agar dapat membuat akta pernyataan
keputusan RUPS di Notaris, seperti notulen RUPS, salinan akta pendirian
perseroan terbatas, NPWP perseroan dan lain-lain. Hal ini untuk membuktikan
bahwa perseroan terbatas tersebut telah sah memiliki status sebagai badan hukum.
Penerapan syaratsyarat pembuatan akta pernyataan keputusan rapat umum

§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Tan Tong Kie. Studi Notariat, Serba-serbi Praktek Notaris Buku.
(Jakarta: Ichtiar baru Van Hoeve. 2000). Hlm. 268.
76

pemegang saham kepada Notaris harus diberlakuakan, untuk mencegah terjadinya


suatu kesalahan yang akan dilimpahkan kepada Notaris karena ketidakhati-
hatiannya.
Keberlakuan suatu keputusan di luar rapat umum pemegang saham yang
tidak dinyatakan ke dalam akta notaris dimana adanya suatu Studi Kasus :
1. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor
193/PDT.G/2014/PN.JKT.SEL:
Merujuk pada ringkasan tahap-tahap untuk mendapatkan surat keputusan
persetujuan dan surat penerimaan perubahan anggaran dasar oleh Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia tersebut di atas, disebutkan perubahan anggaran dasar
yang diputuskan di luar RUPS harus dinyatakan dalam akta Notaris dalam jangka
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan seluruh
pemegang saham. Karena dalam kasus ini tidak diketahui secara persis tanggal
Keputusan Sirkuler Maret 2009 tersebut, maka seharusnya Keputusan Sirkuler
Maret 2009 maksimal harus dituangkan dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat
sebelum berakhir bulan April 2009. Keputusan untuk merubah anggaran dasar
dalam Keputusan Sirkuler Maret 2009 sesuai dengan yang diatur dalam UUPT
dan Permenkumham nomor 4 tahun 2014 dan perubahannya yaitu
Permenkumham nomor 1 tahun 2016 tidak dapat dinyatakan dalam akta notaris
karena telah melewati jangka waktu 30 (tiga puluh) hari tersebut.
Selanjutnya, jika Keputusan Sirkuler Maret 2009 tersebut berhasil
dituangkan dalam akta notaris sebelum bulan April 2009 berakhir, permohonan
persetujuan perubahan anggaran dan pemberitahuan perubahan anggaran dasar
harus diajukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, dalam jangka
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal akta Notaris yang
memuat perubahan anggaran dasar yaitu paling lambat sebelum bulan Mei 2009
berakhir. Jika telah lewat jangka waktu 30 (tiga puluh) hari tersebut, permohonan
persetujuan dan/atau pemberitahuan perubahan anggaran dasar tidak dapat
diajukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Namun dikarenakan
Keputusan Sirkuler Maret 2009 tersebut tidak berhasil dinyatakan ke dalam akta
notaris, maka Keputusan Sirkuler Maret 2009 tersebut tidak dapat melanjutkan ke
77

tahap pengajuan permohonan persetujuan perubahan anggaran dasar maupun


pemberitahuan perubahan anggaran dasar kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia.
Oleh karena tahap-tahap yang diatur dalam UUPT dan Permenkumham
nomor 4 tahun 2014 dan perubahannya yaitu Permenkumham nomor 1 tahun 2016
tidak terpenuhi karena keputusan tentang perubahan anggaran dasar dan
perubahan data perseroan dalam Keputusan Sirkuler Maret 2009 tidak dinyatakan
ke dalam akta notaris, maka Perseroan tidak dapat mendapatkan surat keputusan
persetujuan dan surat penerimaan perubahan anggaran dasar oleh Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia. Hal ini mengakibatkan keputusan dalam Keputusan
Sirkuler Maret 2009 tersebut tidak dapat diberlakukan.
Dalam kasus ini, pada tahun 2014 yang telah lewat empat tahun sejak
dibuatnya Keputusan Sirkuler Maret 2009 tersebut, majelis hakim memutuskan
bahwa sirkuler tersebut dapat dituangkan ke dalam akta notariil. Majelis hakim
berpendapat bahwa Keputusan Sirkuler Maret 2009 tersebut walaupun tidak
dinyatakan ke dalam akta notaris dan tidak dilaporkan kepada kemenkumham, isi
dari Keputusan Sirkuler Maret 2009 tersebut berlaku kepada para pemegang
saham. Namun tidak berlaku kepada pihak ketiga. Jika Keputusan Sirkuler Maret
2009 tersebut dilaporkan kepada kemenkumham, isi dari Keputusan Sirkuler
Maret 2009 tersebut berlaku juga kepada pihak ketiga.
Bahwa memang apa yang telah dituangkan pada putusan hakim yang
membuat Keputusan Sirkuler Maret 2009 tetap berlaku kepada para pemegang
saham walaupun tidak dituangkan ke dalam akta notaris dan tidak dilaporkan
kepada Kemenkumham dalam kasus ini. Ditemukan fakta dalam persidangan
bahwa para pemegang saham yang membatalkan persetujuannya atas Keputusan
Sirkuler Maret 2009 adalah karena PT Duta Jakarta Sejahtera sebagai yang
membuat dan merancang perubahan anggaran dasar perseroan pada Keputusan
Sirkuler Maret 2009 merubah kuorum kehadiran RUPS dari 1/2 menjadi 2/3.
Kedua pemegang saham lainnya tersebut yaitu PT Intitacon Lestari dan Djajang
Tanuwidjaja tidak menyetujui perubahan ini karena merasa bahwa selama ini
78

kegiatan perseroan berjalan dengan lancar dengan kuorum kehadiran 1/2. Namun,
PT Duta Jakarta Sejahtera tidak setuju dengan hal ini.
PT Duta Jakarta Sejahtera merubah kuorum kehadiran RUPS dari 1/2
menjadi 2/3 karena ingin selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam
RUPS yang dilaksanakan oleh perseroan. Walaupun PT Duta Jakarta Sejahtera
tidak dapat disebut sebagai pemegang saham minoritas dimana ia memegang
39,525% saham dalam perseroan, kuorum kehadiran RUPS 1/2 itu dapat
merugikan PT Duta Jakarta Sejahtera. Sebagaimana diketahui juga, PT Intitacon
Lestari dan Djajang Tanuwidjaja merupakan pemegang saham yang terafiliasi
dimana Djajang Tanuwidjaja yang juga merupakan pemegang saham dalam
perseroan, ia juga merupakan Direktur PT Intitacon Lestari yang selalu mewakili
PT Intitacon Lestari dalam RUPS yang dilaksanakan perseroan.
Saham Djajang Tanuwidjaja dan PT Intitacon Lestari dalam perseroan jika
ditotal yaitu sejumlah 60,475% telah memenuhi persyaratan kuorum kehadiran
RUPS yang diatur dalam anggaran dasar sebelumnya yaitu 1/2 atau 50% total
saham yang dikeluarkan perseroan. Dalam hal ini, RUPS dapat dilaksanakan
dengan kehadiran Djajang Tanuwidjaja dan PT Intitacon Lestari saja tanpa
dihadiri PT Duta Jakarta Sejahtera dan RUPS dapat mengambil keputusan yang
sah pula asalkan telah dilakukan pemanggilan RUPS kepada seluruh pemegang
saham sesuai dengan yang diatur dalam perundang-undangan dan anggaran dasar
perseroan.
Putusan hakim yang menyatakan Keputusan Sirkuler Maret 2009 tetap sah
dan mengikat kepada pemegang saham, mengakibatkan berlakunya anggaran
dasar yang telah diubah dengan Keputusan Sirkuler Maret 2009 termasuk tentang
kuorum kehadiran RUPS 2/3. Putusan hakim yang membatalkan seluruh
keputusan yang diambil dalam RUPS yang tidak memenuhi persyaratan kuorum
kehadiran 2/3, beserta seluruh akta-akta notaris terkait RUPS tersebut
mengakibatkan keadaan perseroan dikembalikan seperti semula yaitu sebelum
Keputusan Sirkuler Maret 2009 dicabut secara sepihak oleh PT.
Putusan hakim ini telah dengan sedemikian mungkin menjaga kepentingan
PT Duta Jakarta Sejahtera sebagai pemegang saham yang merasa dirugikan atas
79

perbuatan kedua pemegang saham lainnya yang membatalkan Keputusan Sirkuler


Maret 2009 secara sepihak dan juga menjaga agar dikemudian hari PT Duta
Jakara Sejahtera tetap selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang
dilakukan dalam RUPS perseroan.
2. Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung Nomor
581/PDT/2017/PT.BDG:
Sengketa yang terjadi dalam proses pelaksanaan jual beli saham antara PT.
Cikondang dengan PT. Paramindo menyetujui untuk menjual dan mengalihkan
proyek-proyek pertambangan berdasarkan IUP Nomor 503/Tmb.839/PSDAP
kepada Penggugat melalui proses pembelian saham yang dijual berdasarkan
syarat-syarat dalam Sales Purchase Agreement (SPA) tanggal 1 Februari 2012 ;
hal mana selanjutnya apabila memperhatikan kepada Pernyataan Keputusan
Sirkuler Pemegang Saham PT. CKP dengan Akta Nomor 06 tanggal 27 Maret
2012 yang dibuat dihadapan Notaris Yulius Anwar, SH. Menyetujui perubahan
status perseroan dari suatu PT biasa menjadi PT. Penanaman Modal Asing atau
PT. PMA sebagai konsekwensi dari penjualan dan peralihan saham dari
pemegang saham kepada PT. Paramindo. Diketahui dalam hal Jual Beli Saham
antara PT. Paramindo dengan PT. Cikondang Kancana Prima banyak terdapat
kejanggalan-kejanggalan yang merugikan ini terbukti dengan tidak adanya
peralihan (levering) dalam Jual beli Saham antara PT. Paramindo dengan PT.
Cikondang Kancana Prima, Sdr. Mufti Habriansyah, S.H., melakukan transaksi
Jual Beli dengan PT. Cikondang Kancana Prima di mana PT. Paramindo telah
membeli sebesar 85 % (delapan puiuh lima persen) saham PT. Cikondang
Kancana Prima Semestinya harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah
dilakukannya yaitu melakukan pembelian Saham PT. Bahwa Pengugat telah
mengeluarkan uang ternyata mengkhianati penggugat dikarenakan PT. Paramindo
milik penggugat tidak di daftar di Kementrian Hukum dan HAM untuk
mendapatkan pengesahan di dimana ternyata PT. Makuta Rajni Pradipa dan PT.
Sinergi Pratama Mulya yang didaftarkan di kementrian hukum dan HAM. Yang
mendaftarkan kedua Perusahaan tersebut adalah Notaris Sri Rahayu, S.H. Notaris
di Kota Bandung dengan Akta Nomor 12, tanggai 21 Oktober 2015. Dalam pokok
80

perkara yang diajukan penggugat yakni SK Nomor AHU- 19263.AH.01.02 Tahun


2012 dan SP data Perseroan Nomor : AHU- AH.01.03-0973792 serta NPWP
Perseroan Nomor : 02.567.624.8-428.000 atas nama PT. Makuta Rajni Pradipa
dan PT. Sinergi Pratama Mulia tidak sah dan tidak mengikat secara hukum.
Putusan hakim yang menolak terkait permasalahan saham yang timbul dari
penggugat dengan adanya Keputusan Sirkuler tersebut ditolak. Memang
seharusnya pada kasus yang terjadi dalam hal Jual Beli Saham antara PT.
Paramindo dengan PT. Cikondang Kancana Prima karena secara prosedur hukum
sudah sangat sah dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang sudah
tertuang terkait permasalahan S.K AHU atas nama PT. Makuta Rajni Pradipa dan
PT. Sinergi Pratama Mulia
Dengan adanya kasus-kasus tersebut bahsa Keputusan di luar Rapat
Umum Pemegang Saham adalah pengambilan keputusan yang dilakukan tanpa
diadakan Rapat Umum Pemegang Saham secara fisik, tetapi keputusan diambil
dengan cara mengirimkan secara tertulis usul yang akan diputuskan kepada semua
pemegang saham dan usul tersebut disetujui secara tertulis oleh seluruh pemegang
saham. Keputusan di luar Rapat Umum Pemegang Saham ini merupakan suatu
kemudahan yang diberikan oleh Undang-Undang, namun kerap ditemukan
permasalahan pembuatan dan keberlakukan atas keputusan di luar Rapat Umum
Pemegang Saham ini. Salah satunya adalah suatu permasalahan terkait keputusan
di luar Rapat Umum Pemegang Saham yang berisi tentang perubahan anggaran
dasar perseroan. Setelah keputusan di luar Rapat Umum Pemegang Saham ini
dibuat, tidak dinyatakan ke dalam akta notaris dan juga tidak dilaporkan kepada
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Timbul pertanyaan atas
keberlakuan keputusan di luar Rapat Umum Pemegang Saham ini. Penelitian
kualitatif terhadap hukum normatif yang memakai tipe penelitian deskriptif
analitis ini dilakukan dengan studi dokumen atau bahan pustaka. Menurut
Undang-Undang yang mengatur mengenai perubahan anggaran dasar perseroan
terbatas, keputusan sirkuler tentang perubahan anggaran dasar yang tidak
dinyatakan ke dalam akta notaris tidak dapat berlaku. Pada prakteknya, dalam
pembuatan pernyataan keputusan sirkuler masih terjadi beberapa penggunaan data
81

atau dokumen yang tidak benar atau tidak sesuai. Beberapa hal yang
memungkinkan untuk dimasukan secara tidak benar tersebut yaitu terkait
kedudukan pemegang saham, tanda tangan persetujuan pemegang saham, dan lain
sebagainya. Hal ini sebagaimana contoh kasus yang terdapat dalam kasus-kasus
diatas.
Kasus seperti di atas menjelaskan bahwa masih adanya notaris yang tidak
teliti dalam membuat akta. Notaris hendaknya mengecek dengan teliti anggaran
dasar Perseroan Terbatas (PT) pada saat hendak membuat sebuah akta Pernyataan
Keputusan Pemegang Saham (PKPS) atas adanya keputusan sirkuler yang dibuat
oleh suatu perusahaan.12
Sebagai solusi untuk meminimalisir kasus-kasus seperti di atas, notaris
harus memiliki ilmu agama yang baik, berilmu berwawasan yang luas, memiliki
integritas dan profesional. Notaris harus mengetahui dengan jelas semua
perbuatan hukum yang diinginkan oleh para penghadap. Notaris harus memiliki
kemampuan dan ilmu dalam bidang hukum serta memperbaharui ilmu-ilmu
tersebut melalui seminar maupun pelatihan yang diadakan perkumpulan, ketika
notaris tidak memahami perbuatan hukum yang akan diinginkan para penghadap,
maka notaris tersebut tidak paham akan keilmuan yang harus dimilikinya. Apabila
notaris memiliki kemampuan dalam hal perbuatan hukum yang diinginkan para
penghadap, memperkecil risiko kerugian dan sengketa yang akan dialami para
penghadap atau Notaris sendiri.
Dalam ruang lingkup tugas pelaksanaan jabatan notaris, yaitu membuat
alat bukti yang diinginkan oleh para pihak untuk suatu tindakan hukum tertentu,
dan notaris membuat akta karena ada permintaan dari para pihak yang
menghadap, tanpa ada permintaan dari para pihak, notaris tidak akan membuat
akta apapun, dan notaris membuatkan akta yang dimaksud berdasarkan alat bukti
atau keterangan atau pernyataan para pihak yang dinyatakan atau diterangkan atau
diperlihatkan kepada atau di hadapan notaris, dan selanjutnya notaris
membingkainya secara lahiriah (kekuatan pembuktian keluar), formil dan materil
dalam bentuk akta notaris, dengan tetap berpijak pada aturan hukum atau tata cara
atau prosedur pembuatan akta dan aturan hukum yang berkaitan dengan tindakan
82

hukum yang bersangkutan yang dituangkan dalam akta. Peran notaris dalam hal
ini juga untuk memberikan nasihat hukum yang sesuai dengan permasalahan yang
ada.*************************** Apapun nasehat hukum yang diberikan kepada para pihak
dan kemudian dituangkan dalam akta yang bersangkutan tetap sebagai keinginan
atau keterangan para pihak yang bersangkutan, tidak atau bukan sebagai
keterangan atau pernyataan notaris.
Ketika para Penghadap sudah memenuhi semua syarat formil, maka itu
cukup menjadi dasar notaris untuk melakukan perbuatan hukum yang diinginkan
para penghadap. Notaris tidak dibebani untuk mencari kebenaran secara materil,
tetapi ketika ada keraguan dan keanehan dari dokumen-dokumen yang menjadi
syarat untuk pembuatan akta para penghadap, maka hendaknya notaris mencari
kebenaran secara materiil atas dokumen tersebut. Demi tercapainya prinsip kehati-
hatian Notaris dalam mengenal para penghadap. Jika terdapat keraguan dan
kesalahan atas dokumen-dokumen para penghadap Notaris sebaiknya menolak
untuk membuat akta autentik, untuk tercapainya prinsip kehati-hatian mengenal
para penghadap dan tidak menjadi sengketa dikemudian hari.†††††††††††††††††††††††††††
Dalam praktek, sering juga ditemukan adanya para pemegang saham yang
berada di luar negeri. Untuk para pemegang saham yang berada di luar negeri,
tentunya penandatangan dokumen tersebut harus mengikuti prosedur
penandatangan dokumen yang berlaku bagi dokumen-dokumen yang dibuat di
luar negeri yang hendak dipakai di Indonesia. Bagi Warga Negara Indonesia
(WNI) yang sedang berada di laur negeri maka penandatanganan tersebut
dilakukan dihadapan pejabat perwakilan RI di negara yang bersangkutan,
sedangkan bagi Warga Negara Asing (WNA) penandatanganan dilakukan di
hadapan atau dilegalisai oleh Notary Public dan kemudian tandatangan dari
Notary Public tersebut dilegalisai oleh Pejabat Perwakilan RI.26
Keberadaan akta autentik notaris akan memberikan jaminan kepastian
hukum bagi para pihak dan sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh. Seiring
***************************
Habib Adjie. Hukum Notaris Indonesia (Tafsir Tematik Terhadap
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris), Cetakan Kedua. (Bandung:
Refika Aditama. 2009). hlm. 22.
†††††††††††††††††††††††††††
Fikri Ariesta. “Prinsip Kehati-Hatian Notaris dalam Mengenal
Penghadap”. Tesis Magister Kenotariatan. (Yogyakarta: UII. 2018). hlm. 69.
83

dengan semakin berkembangnya zaman, masyarakat semakin menyadari perlunya


perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh para pihak dibuat secara autentik untuk
menjamin kepastian hukum dan sebagai alat bukti yang kuat dikemudian
hari.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa keberadaan
jabatan sebagai notaris sangat penting dan dibutuhkan masyarakat luas, mengingat
fungsi notaris adalah sebagai Pejabat Umum yang membuat alat bukti tertulis
berupa akta autentik.
Apabila secara nyata, bahwa dalam pembuatan akta terjadi beberapa
kesalahan maka notaris harus dengan segera memperbaikinya. Jika akta telah
ditandatangani, perubahan yang dapat dilakukan adalah pembetulan kesalahan
tulis dan/atau kesalahan ketik yang terdapat pada Minuta Akta yang telah
ditandatangani (perubahan yang tidak substansial).§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§ Dalam hal
dilakukan renvoi, perubahan sah jika diparaf atau diberi tanda pengesahan lain
oleh penghadap, saksi, dan Notaris.
Pembetulan akta yang dilakukan setelah akta ditandatangani, untuk
pembetulan ini dilakukan di hadapan penghadap, saksi, dan Notaris yang
dituangkan dalam berita acara dan memberikan catatan tentang hal tersebut pada
minuta akta asli dengan menyebutkan tanggal dan nomor akta berita acara
pembetulan.**************************** Salinan akta berita acara-nya wajib disampaikan
kepada para pihak. Jika notaris tidak melakukan ketentuan renvoi atau pembetulan
di atas, maka mengakibatkan akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian
sebagai akta di bawah tangan dan dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita
kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi, dan bunga kepada
Notaris.
Akta autentik yang dibuat oleh Notaris tidak jarang yang dipermasalahkan
oleh salah satu pihak atau oleh pihak lain karena dianggap merugikan
kepentingannya, baik itu dengan pengingkaran akan isi akta, tandatangan maupun
kehadiran pihak di hadapan Notaris, bahkan adanya dugaan dalam akta autentik

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Sjaifurracman. Aspek Pertanggung Jawaban Notaris dalam
Pembuatan Akta. (Bandung: Mandar Maju. 2011). Hlm. 11.
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Ibid.
****************************
Ibid.
84

tersebut ditemukan keterangan palsu. Perbuatan Notaris yang diduga telah


memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta autentik dapat dikenakan
sanksi pidana sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (selanjutnya disebut KUHP). Hal ini dimungkinkan dengan begitu
banyaknya jenis akta autentik yang dapat dibuat oleh Notaris, dan atas dasar
tersebut dibutuhkan suatu perlindungan hukum terhadap Notaris dalam
menjalankan jabatannya selaku Pejabat Umum.††††††††††††††††††††††††††††
Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya sangat penting untuk
melaksanakan prinsip kehati-hatian dalam proses pembuatan akta autentik,
mengingat seringnya terjadi permasalahan hukum terhadap akta autentik yang
dibuat notaris karena terdapat pihak-pihak yang melakukan kejahatan, seperti
memberikan dokumen dan keterangan tidak benar ke dalam akta yang dibuat
notaris. Sehingga untuk mencegah terjadinya kejahatan-kejahatan yang dapat
menjerumuskan notaris terlibat dalam permasalahan hukum, perlu diatur kembali
dalam Undang-Undang Jabatan Notaris tentang pedoman dan tuntunan notaris
untuk bertindak lebih cermat, teliti dan hati-hati dalam proses pembuatan akta
autentik.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Tidak dapat dipungkiri, bahwa pada zaman ini dalam kehidupan dan
transaksi sehari-hari, notaris telah diakui dan dihargai sebagai pihak yang layak
dipercaya oleh masyarakat. Notaris merupakan pejabat atau profesional hukum
yang disumpah untuk bertindak sesuai dengan hukum yang semestinya, sehingga
dapat dikatakan notaris sangat diperlukan untuk kepastian legalitas perbuatan
maupun utuk mencegah adanya perbuatan melawan hukum.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Notaris dan para pihak agar terhindar dari segala risiko baik berupa sanksi
maupun pembatalan akta autentik, maka dalam proses pembuatan akta autentik
dihadapan notaris, maka notaris dan para pihak harus melaksanakan prinsip
kehati- hatian dengan cara lebih teliti dan memiliki itikad baik dalam pembuatan

††††††††††††††††††††††††††††
Ibid.
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Ida Bagus Paramaningrat Manuaba, et.al., “Prinsip Kehati-Hatian
Notaris dalam Membuat Akta Autentik”. Tesis Magister Kenotariatan. (Denpasar: Udayana. 2018).
hlm. 1.
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Rudyanti Dorotea Tobing. Aspek-Aspek Hukum Bisnis,
Pengertian, Asas, Teori dan Praktik. (Yogyakarta: Lasbang Justia. 2012). Hlm. 6.
85

akta autentik serta mematuhi ketentuan hukum yang berlaku dan berlandaskan
pada moral dan etika.***************************** Notaris dalam menjalankan jabatannya
juga harus dapat menerapkan prinsip itikad baik. Itikad baik sudah harus ada sejak
fase pra kontrak dimana para pihak mulai melakukan negosiasi hingga mencapai
kesepakatan, dan fase pelaksanaan kontrak. Itikad baik seharusnya dimulai dari
itikad baik dalam fase pra kontrak kemudian dilanjutkan dengan itikad baik pada
saat pelaksanaan kontrak.
Itikad baik atau good faith dalam Black’s Law Dictionary disebutkan
sebagai suatu pernyataan dari pikiran yang mengadung kejujuran dalam
kepercayaan maupun tujuan, keterbukaan terhadap hak dan kewajiban
seseorang.††††††††††††††††††††††††††††† Prinsip itikad baik diprediksi secara lambat laun
akan dapat menggeser penggunaan prinsip kebebasan berkontrak dalam sebuah
perjanjian, hal ini bukan lagi hanya sekedar wacana, akan tetapi, sudah menjadi
kebutuhan praktek, dan pada saat ini telah diikuti oleh sebagaian negara-negara
yang menganut civil law system maupun yang common law system. Hal ini dapat
dibuktikan dengan diaturnya prinsip itikad baik, meskipun belum cukup memadai,
di dalam peraturan perundang-undangan negara yang menganut civil law system
maupun yang common law system tersebut, meskipun tidak semua negara
mengadopsi konsep itikad baik.

2.3 Pengaturan Kedepan Tentang Tanggung Jawab Notaris Atas Akta Yang
Dibuat Berdasarkan Keputusan Sirkuler Pemegang Saham
Indonesia adalah negara hukum yang memiliki corak yang khas yang
membedakannya dengan negara-negara lain. Sebagai negara hukum, Indonesia
memiliki karakter yang unik dalam melindungi hak-hak asasi manusia, yaitu lebih
mengutamakan keserasian hubungan antara pemerintah dan rakyat. Dalam
konteks ini, Philipus M. Hadjon mengungkapkan ciri khas Indonesia sebagai
negara hukum adalah melindungi hak-hak asasi manusia dengan mengedepankan

*****************************
Fikri Ariesta. Op.Cit. Hlm. 66.
†††††††††††††††††††††††††††††
Bryan A. Garner. Black’s Law Dictionary. (USA : West
Publishing Co. 1999). Hlm. 713.
86

asas kerukunan dalam hubungan antara pemerintah dan rakyat. Berdasarkan asas
ini akan berkembang elemen lain dari konsep negara hukum berdasarkan
Pancasila, yaitu terjalinnya hubungan fungsional dan proporsional antara
kekuasaankekuasaan negara, penyelesaian sengketa secara musyawarah
sedangkan peradilan merupakan sarana terakhir dan tentang hakhak asasi manusia
tidaklah hanya menekankan hak atau kewajiban, tetapi terjalinnya suatu
keseimbangan antara hak dan kewajiban.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Hal ini berbeda
dengan konsep rule of law dalam melindungi hak-hak asasi manusia yang lebih
mengedepankan prinsip equality before the law sedangkan konsep rechtstaat
dalam melindungi hak asasi manusia mengedepankan prinsip wetmattigheid, yaitu
pemerintah mendasarkan tindakan pada undang-undang.

Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk


membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang
di haruskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan
dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu akta autentik, menjamin kepastian
tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya,
semuanya sepanjang pembuatan akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga
ditugaskan atau di kecualikan kepada pejabat orang lain. Pasal 1 sesungguhnya
merupakan suatu copy (turunan) dari pasal sama dari Peraturan Jabatan Notaris
(De Wet op het Notarisambt in Nederland) dari tahun 1842 menentukan di dalam
Pasal 1-nya, bahwa “Para Notaris adalah pejabat-pejabat umum (Openbare
ambtenaren)...” dan di dalam Pasal 2-nya, bahwa para Notaris di angkat oleh Ratu
(Koningin). Di Indonesia oleh Menteri Kehakiman. §§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Sebagaimana tersebut dalam bab tersebut di atas, meskipun ada beberapa
perbedaan dalam redaksinya. Perbedaan redaksi ini tidak mempengaruhi isi dan
makna dari materi yang di atur dalam pasal 1 dari masing-masing Undang-
Undang itu.****************************** Jika Pasal ini kita bandingkan dengan Pasal 1
‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Philipus M. Hadjon. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di
Indonesia: Edisi Khusus. (Yogyakarta: Peradaban. 2007). hlm 20-21.
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Marthalena Pohan. Tanggung Gugat Advokat Dokter Dan Notaris.
(Surabaya: PT Bina Ilmu. 1985). hlm. 121.
******************************
R.Soegondo Notodisoerjo. Hukum Notariat Di Indonesia Suatu
Penjelasan. (Jakarta: CV. Rajawali. 1982). hlm. 41.
87

dari Undang-Undang Prancis tentang Notariat, ialah yang dikenal dengan nama:
“Loi organique du notariat” atau “Ventose Wet”, maka nyatalah pula bahwa Pasal
1 dari “De Wet op het Notarisambt” itu, diambil dari Pasal 1 Ventose wet tersebut
dan sesungguhnya merupakan terjemahan dari pasal itu yang berasal dari Prancis,
tetapi ada beberapa ketentuan yang menyimpang dari
padanya.†††††††††††††††††††††††††††††† Setiap menjalankan tugas jabatannya dalam
membuat suatu akta, seorang Notaris memiliki tanggung jawab terhadap akta yang
dibuatnya sebagai suatu realisasi keinginan para pihak dalam bentuk akta autentik.
Tanggung jawab notaris, berkaitan erat dengan tugas dan kewenangan serta
moralitas baik sebagai pribadi maupun selaku pejabat umum. Notaris mungkin
saja melakukan kesalahan atau kekhilafan dalam pembuatan akta. Apabila ini
terbukti, akta kehilangan otentisitasnya dan batal demi hukum atau dapat
dibatalkan. Dalam hal ini apabila menimbulkan kerugian bagi pihak yang
berkepentingan dengan akta tersebut, Notaris dapat dituntut secara pidana atau
pun digugat secara perdata. Sanksi yang dikenakan secara pidana adalah
menjatuhkan hukuman pidana dan sanksi secara perdata adalah memberikan ganti
rugi kepada pihak yang berkepentingan tersebut.

Notaris dalam membuat akta dapat di bedakan antara akta pihak-pihak


(partij akte) dengan akta pejabat (ambtelijke akte). Akta
pihak-pihak/penghadap/para penghadap atau partij akte adalah akta yang dibuat
oleh Notaris berdasarkan kehendak pihak – pihak/penghadap/para penghadap
yang datang menghadap Notaris untuk dibuatkan akta. Dalam hal demikian
Notaris hanya sebatas menuliskan kehendak para pihak tersebut. Contoh Partij
akte misal; akta Jual Beli, Tukar Menukar, Sewa Menyewa, PKR atas RUPS PT.
Yang dibuat oleh Notaris dalam PKR atas RUPS PT adalah sebatas/merupakan
kehendak dari penghadap (kuasa risalah RUPS di bawah tangan) untuk
dituangkan dalam PKR RUPS PT tersebut, maka tanggung jawab terhadap isi akta
adalah menjadi tanggung jawab penghadap dan Notaris tidak bertanggung jawab
terhadap isi akta yang dibuatnya.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Lain halnya dengan akta
Pejabat (ambtelijke akte) atau relas akta, karena yang dibuat oleh Notaris itu
††††††††††††††††††††††††††††††
Ibid. hlm. 41.
88

merupakan kesaksian atas segala sesuatu yang dilihat, dibaca, didengar,


dibicarakan dan atau mendasarkan atas data-data/dokumen yang disampaikan
kepada Notaris maka Notaris yang bersangkutanlah yang bertanggung jawab
terhadap isi akta tersebut, dalam hal Notaris membuat kesalahan. Sebagai contoh
ambtelijke akte adalah: akta undian, Berita Acara Rapat (RUPS), Pernyataan Hak
Mewaris.

Kalau akta yang dibuat adalah akta para pihak (partij akte) dimana
sebenarnya Notaris hanya menuangkan atau menformulasikan kehendak dari para
penghadap dalam akta Notaris sehingga dengan demikian sebenarnya isi akta
tersebut bukan kehendak Notaris tetapi penyidik sering berpendapat dan kemudian
menuduh Notaris bahwa Notaris telah menyuruh klien atau penghadap untuk
memasukan keterangan palsu ke dalam akta autentik (akta Notariil). Padahal
Notaris sama sekali tidak punya kapasitas/wewenang untuk menyuruh
klien/penghadap untuk melakukan apapun ketika menghadap Notaris. Lebih-lebih
kalau Notaris kemudian didakwa menyuruh klien atau penghadap untuk
memasukan keterangan palsu kedalam akta yang nota bene dibuat oleh Notaris itu
sendiri, apakah hal demikian bukan berarti Notaris telah melakukan bunuh diri,
karena patut diduga mendekati kepastian bahwa aktanya tersebut dikemudian hari
potensi bisa menyeret Notaris menjadi terdakwa dengan tuduhan telah
memasukan keterangan palsu ke dalam akta autentik atau memalsukan akta.
Mengenai ketentuan pidana tidak diatur di dalam UUJN namun tanggung jawab
Notaris secara pidana dikenakan apabila Notaris melakukan perbuatan
pidana.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§ UUJN hanya mengatur sanksi atas pelanggaran yang
dilakukan oleh Notaris terhadap UUJN sanksi tersebut dapat berupa akta yang di
buat oleh Notaris tidak memiliki kekuatan autentik atau hanya mempunyai
kekuatan akta di bawah tangan. Terhadap Notarisnya sendiri dapat diberikan
sanksi yang berupa teguran hingga pemberhentian dengan tidak hormat.

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Mulyoto. Kriminalisasi Notaris Dalam Pembuatan Akta Perseroan
Terbatas. (Yogyakarta: Cakrawala Media. 2010). hlm. 46.
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Abdul Ghofur Anshori. Lembaga Kenotariatan Indonesia
Perspektif Hukum Dan Etika. (Yogyakarta: UII Press. 2009). hlm. 25.
89

Kaitan ini tidak berarti Notaris steril (bersih) dari hukum atau tidak dapat
dihukum atau kebal terhadap hukum.******************************* Notaris bisa saja
dihukum pidana, jika dapat dibuktikan di pengadilan, bahwa secara sengaja atau
tidak disengaja Notaris bersama-sama dengan para pihak/penghadap untuk
membuat akta dengan maksud dan tujuan untuk menguntungkan pihak atau
penghadap tertentu saja atau merugikan penghadap yang lain-lain. Jika hal ini
terbukti, maka Notaris tersebut wajib dihukum. Oleh karena itu, hanya Notaris
yang tidak profesional dalam menjalankan tugas jabatannya, ketika membuat akta
untuk kepentingan pihak tertentu dengan maksud untuk merugikan pihak tertentu
atau untuk melakukan suatu tindakan yang melanggar hukum. Adanya tersangka
ataupun sanksi yang diberikan kepada Notaris menunjukkan bahwa Notaris bukan
sebagai subjek yang kebal terhadap hukum. Terhadap Notaris dapat dijatuhi
sanksi pidana jika memang terbukti melakukan suatu perbuatan tindak pidana,
seperti pemalsuan atau penggelapan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sudah
banyak terjadi akta yang dibuat oleh Notaris sebagai alat bukti autentik
dipersoalkan di Pengadilan atau notarisnya langsung dipanggil untuk dijadikan
saksi bahkan seorang Notaris digugat atau dituntut di muka pengadilan. Penyebab
permasalahan, dapat timbul secara langsung akibat kelalaian Notaris, namun juga
bisa timbul secara tidak langsung dalam hal dilakukan oleh orang lain (klien).
Notaris selain memberikan jaminan, ketertiban dan perlindungan hukum kepada
masyarakat pengguna jasa notaris, juga perlu mendapat pengawasan terhadap
pelaksanaan tugas notaris. Sisi lain dari pengawasan terhadap notaris adalah aspek
perlindungan hukum bagi notaris di dalam menjalankan tugas dan fungsi yang
oleh undang-undang diberikan dan dipercayakan kepadanya, sebagaimana
disebutkan dalam butir konsideran menimbang, yaitu notaris merupakan jabatan
tertentu yang menjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada masyarakat
yang perlu mendapatkan perlindungan dan jaminan demi tercapainya kepastian
hukum.
Segala hal yang dilakukan oleh setiap individu yang merupakan bagian
dalam suatu tatanan masyarakat sosial tidak akan lepas dari tanggung jawab.

*******************************
Habib Adjie. Op. Cit. hlm. 24.
90

Siapa pun dan dimana saja keberadaannya baik yang akan, sedang maupun telah
dilakukan tidak lepas dari suatu tanggung jawab. Pada dasarnya segala sesuatu
yang dikerjakan oleh seseroang baik dengan sengaja maupun tidak, harus dapat
dimintakan pertanggungjawaban terlebih lagi yang berkaitan dengan etika profesi
dari seorang profesional di bidang hukum. Tanggung jawab yang berat diletakkan
di atas bahu anggota profesi hukum, manakala menyangkut perlindungan nasib
seseorang. Hal ini tidak hanya menyangkut kepentingan pribadi, tetapi juga
kepentingan umum.
Tanggung jawab yang harus dibebankan kepada seorang profesi hukum
dalam menjalankan tugas dan jabatan profesinya tidaklah ringan. Oleh karena itu
terhadap tanggung jawab profesi hukum diperlukan ruang lingkup yang jelas, agar
segala perbuatan yang dilakukan karena jabatannya dapat
dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban atas perbuatan seseorang biasanya
praktis baru ada arti, apabila orang itu melakukan perbuatan yang tidak
diperbolehkan oleh hukum dan sebagian besar dari perbuatan-perbuatan seperti ini
merupakan suatu perbuatan yang di dalam KUHPerdata dinamakan dengan
perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad).†††††††††††††††††††††††††††††††
Onrechtmatige daad atau perbuatan melawan hukum diatur dalam KUHPerdata
Buku III Bab III tentang perikatan-perikatan yang dilahirkan demi undang-
undang, Pasal 1365 sampai dengan Pasal 1380. Adapun bunyi dari Pasal 1365
KUHPerdata adalah “Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian
kepada seorang lain mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan
kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”
Berdasarkan ketentuan di atas, dapat dikemukakan unsur-unsurnya yaitu
sebagai berikut :
1. Adanya suatu perbuatan;
2. Perbuatan tersebut melawan hukum;
3. Adanya kesalahan dari pihak pelaku;
4. Adanya kerugian bagi korban;

†††††††††††††††††††††††††††††††
R. Wirjono Prodjodikoro. Asas-asas Hukum Perdata. Cetakan 9.
(Bandung: Sumur.1983) hlm. 80.
91

5. Adanya hubungan kausal antara perbuatan dan kerugian.


Pasal ini tidak memberikan perumusan pengertian perbuatan melawan
hukum, tetapi hanya mengatur kapankah seseorang mengalami kerugian karena
perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh orang lain dan terhadap dirinya
akan dapat mengajukan tuntutan ganti kerugian kepada pihak yang menyebabkan
kerugian itu melalui pengadilan.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Perkataan perbuatan melawan hukum merupakan terjemahan langsung dari
kata onrechtmatige daad yang berasal dari bahasa Belanda, sedangkan terjemahan
resmi dalam bahasa Indonesia sampai saat ini belum ada. Beberapa sarjana ada
yang mempergunakan istilah “melanggar” dan ada yang mempergunakan
“melawan”. Wirjono Prodjodikoro menggunakan istilah “perbuatan melanggar
hukum” dengan mengatakan “istilah onrechtmatige daad dalam bahasa Belanda
lazimnya mempunyai arti sempit, yaitu arti yang dipakai dalam Pasal 1365
KUHPerdata dan yang hanya berhubungan dengan penafsiran dari pasal tersebut,
sedang kini istilah perbuatan Melanggar Hukum ditujukan kepada hukum yang
pada umumnya berlaku di Indonesia dan yang sebagian terbesar merupakan
Hukum Adat. Subekti§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§ juga menggunakan istilah Perbuatan
Melanggar Hukum. Istilah “Perbuatan Melawan Hukum” antara lain digunakan
oleh Mariam Darus Badrulzaman******************************** , selain itu perbuatan
melawan hukum
Menurut M.A. Moegni Djojodirdjo, yaitu :
bahwa istilah "melawan" melekat kedua sifat aktif dan pasif, kalau ia dengan
sengaja melakukan sesuatu perbuatan yang menimbulkan kerugian pada orang
lain, jadi sengaja melakukan gerakan, maka tampaklah dengan jelas sifat aktifnya
dari istilah "melawan" itu. Sebaliknya kalau ia dengan sengaja diam saja,
sedangkan ia sudah mengetahui bahwa ia harus melakukan sesuatu perbuatan
untuk tidak merugikan orang lain, atau dengan kata lain, apabila dengan sikap
pasif saja, bahwa apabila ia tidak mau melakukan keharusan sudah melanggar
sesuatu keharusan, sehingga menimbulkan kerugian terhadap orang lain, maka ia

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Munir Fuady. Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan
Kontemporer). (Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 2002). hlm. 10.
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Subekti dan Tjitrosudibio. Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata, Cet. 28,(Jakarta: PT Pradnya Paramita. 1961) hlm. 346.
********************************
Mariam Darus Badrulzaman. KUHPerdata – Buku III, Hukum
Perikatan dengan Penjelasan. (Bandung: Alumni. 1983. hlm. 146.
92

telah “melawan” tanpa harus menggerakkan badannya. Inilah sifat pasif dari
istilah “melawan”.††††††††††††††††††††††††††††††††

Berdasarkan pendapat di atas, apabila dikaitkan dengan profesi Notaris,


maka dapat dikatakan bahwa apabila Notaris di dalam menjalankan tugas
jabatannya dengan sengaja melakukan suatu perbuatan yang merugikan salah satu
atau kedua belah pihak yang menghadap di dalam pembuatan suatu akta dan hal
itu benar-benar dapat diketahui, bahwa sesuatu yang dilakukan oleh Notaris
misalnya bertentangan dengan undang-undang, maka Notaris dapat dimintakan
pertanggungjawaban berdasarkan Pasal 1365 KUHperdata. Begitu juga
sebaliknya, apabila Notaris yang tugasnya juga memberikan pelayanan kepada
masyarakat atau orang-orang yang membutuhkan jasanya dalam pengesahan atau
pembuatan suatu akta, kemudian di dalam akta itu terdapat suatu klausula yang
bertentangan misalnya dengan undangundang, sehingga menimbulkan kerugian
terhadap orang lain, sedangkan para pihak yang menghadap sama sekali tidak
mengetahuinya, maka dengan sikap pasif atau diam itu Notaris yang bersangkutan
dapat dikenakan Pasal 1365 KUHPerdata. Notaris yang melakukan perbuatan
melawan hukum dapat diajukan ke pengadilan, selanjutnya apabila perbuatan
melawan hukum tersebut dapat dibuktikan, maka Notaris wajib membayar ganti
kerugian kepada para pihak yang dirugikan.
Semua peraturan hukum sesungguhnya bertujuan ke arah keseimbangan
dari berbagai kepentingan tersebut, oleh karena peraturan-peraturan hukum hanya
hasil perbuatan manusia dan seorang manusia adalah bersifat tidak sempurna,
maka sudah tentu segala peraturan hukum itu mengandung sifat yang tidak
sempurna pula. Jika hal ini dikaitkan dengan profesi Notaris, maka pada dasarnya
Notaris dalam menjalankan tugas, jabatannya dapat saja melakukan suatu
kesalahan atau pelanggaran yang secara perdata hal ini dapat dimintakan suatu
pertanggungjawaban, meskipun hal tersebut berkaitan dengan kebenaran materil
dari akta dihadapannya.

††††††††††††††††††††††††††††††††
M.A. Moegni Djojodirdjo. Perbuatan Melawan Hukum.
(Jakarta. Pradnya Paramita. 1979). hlm. 13.
93

Notaris yang melakukan pelanggaran dalam pembuatan akta para pihak,


tidak dapat digugat berdasarkan wanprestasi, tetapi dapat digugat berdasarkan
perbuatan melawan hukum. Dikatakan juga bahwa dalam akta yang dibuat
dihadapannya, Notaris bukan salah satu atau pihak yang terikat dalam akta yang
dibuat itu, oleh karena akta tersebut merupakan akta dari pihak-pihak yang datang
menghadap. Meskipun terjadi kesalahan yang dilakukan oleh Notaris dalam
pembuatan akta, bukan berarti Notaris telah melakukan wanprestasi terhadap
client yang datang menghadap, karena pembuatan partij akten bukan atas
perjanjian antara para pihak dengan Notaris, melainkan kewajiban yang lahir dari
adanya perintah undang-undang terhadap Notaris tersebut. Terhadap kebenaran
materil dalam partij akten; jika terjadi kesalahan atau bertentangan dengan
sebenarnya tertuang dalam akta, Notaris tidak dapat dimintakan
pertanggungjawabannya secara hukum.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Hal tersebut dapat terjadi apabila Notaris yang bersangkutan telah
melakukan tugasnya dan mengetahui berdasarkan ilmu pengetahuan dan kehati-
hatian yang dimilikinya. Apabila Notaris melakukan suatu kesalahan atau
kelalaian dalam pembuatan akta tersebut, maka terhadap akta yang dibuat itu
dapat batal demi hukum atau dapat dimintakan pembatalan. Notaris dapat
dimintakan pertanggungjawaban secara perdata dan tuntutan itu adalah
berdasarkan perbuatan melawan hukum. Artinya walaupun Notaris hanya
mengkonstantir keinginan dari para pihak yang menghadap, bukan berarti Notaris
tidak pernah atau tidak mungkin melakukan perbuatan yang bertentangan
ketentuan-ketentuan hukum, karena dalam praktiknya hal tersebut juga banyak
terjadi. Segala sesuatu yang dilakukan oleh setiap orang yang menimbulkan
kerugian terhadap orang lain, dapat diperkarakan di pengadilan. Suatu perbuatan
melawan hukum yang dilakukan oleh Notaris yang menimbulkan kerugian kepada
Clientnya, dapat dijerat berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata dan adapun tujuan
dari Pasal 1365 KUHPerdata ini, sebenarnya adalah untuk mengernbalikan
penderita yang dirugikan pada keadaan semula, setidak-tidaknya pada keadaan
yang mungkin dapat dicapai sekiranya tidak terjadi perbuatan melawan hukum,

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
Ibid, hlm. 102.
94

maka akan diusahakan pengembalian secara nyata yang kiranya lebih sesuai
daripada pembayaran ganti kerugian dalam bentuk uang, karena pembayaran
dalam bentuk uang hanyalah nilai yang ekuivalen saja.
Notaris-Notaris sekarang mayoritas masih memutuskan untuk tidak
memilih Rapat Umum Pemegang Saham dengan media elektronik sebagai solusi
jalannya Rapat Umum Pemegang Saham yang dimana para pemegang saham
berada di lokasi yang berbeda-beda, seperti di luar kota ataupun di luar negeri,
karena para Notaris masih merasakan kurang aman dalam pelaksanaannya.
Adapun alternatif lain yang digunakan Notaris dalam pengambilan
keputusan RUPS selain RUPS yang sesuai dengan Pasal 76 Undang-Undang
nomor 40 tahun 2007 adalah berupa Circular Resolution (Rapat Sirkuler). Untuk
mengatisipasi tidak bisa dilakukannya RUPS secara langsung, maka para
pemegang saham dapat memilih opsi untuk mengambil keputusan secara sirkuler
(Circular Resolution). Namun perlu diperhatikan, bahwa dalam pelaksanaan rapat
sirkuler ini, seluruh pemegang saham harus menyetujui keputusan rapat, dan
menandatangani hasil keputusan secara “diedarkan”. Apabila terdapat satu saja
pemegang saham tidak setuju, maka rapat sirkuler ini tidak
berlaku.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Pada prinsipnya Rapat Umum Pemegang Saham dilakukan secara fisik,
yaitu dihadiri melalui tatap muka langsung oleh para pemegang saham di suatu
tempat tertentu pada waktu tertentu menurut Pasal 75 Undang-Undang Perseroan
Terbatas (UUPT), RUPS itu diadakan di tempat kedudukan Perseroan (atau di
tempat kegiatan utama perseroan). Khusus Perseroan Terbuka (Tbk), RUPS dapat
diadakan di tempat kedudukan bursa di mana saham perseroan dicatatkan. Tempat
terlaksananya RUPS harus terletak di wilayah Negara Republik Indonesia.
Faktanya, dalam mengumpulkan para pemegang saham di suatu tempat
dan waktu tertentu sering mengalami hambatan. Para pemegang yang pada

§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Dadang Sukandar, RUPS Sirkuler (Circular Resolution)
http://www.legalakses.com/rups-sirkuler-circular-resolution/ pada tanggal 21 Februari 2021
pukul 13.52 WIB
95

umumnya pelaku bisnis, memiliki aktivitas bisnis yang sangat padat, sehingga
seringkali menghambat penyelanggaraan RUPS secara fisik, atau bisa juga
misalnya karena halangan geografis dan jarak. Di sisi lain, RUPS terutama RUPS
tahunan harus diselenggarakan oleh Perseroan. Untuk menanggulangi hal tersebut,
Undang-Undang telah menentukan bahwa RUPS dapat dilaksanakan tanpa perlu
adanya rapat secara fisik melalui keputusan sirkuler (circular resolution).
Mengenai keputusan sirkuler, ditentukan dalam Pasal 91 Undang-Undang
nomor 40 tahun 2007. Menurut ketentuan tersebut, pemegang saham dapat
mengambil keputusan yang mengikat di luar RUPS (diluar rapat fisik) namun
masih memiliki kekuatan hukum yang sama dengan pelaksanaan RUPS biasa
secara fisik. Keputusan tersebut hanya dapat diambil dengan syarat semua
pemegang saham yang mempunyai hak suara menyetujuinya secara tertulis.
Dalam prakteknya, sebelum dilaksanakan pembuatan keputusan sirkuler,
para pemegang saham biasanya telah melakukan komunikasi intensif perihal apa
saja yang perlu diputuskan. Hasil komunikasi dan keputusan yang telah dibuat
kemudian dituangkan dalam “Keputusan Para Pemegang Saham“. Keputusan Para
Pemegang Saham tersebut kemudian wajib ditandatangani oleh para pemegang
saham. Dalam prakteknya, Keputusan Sirkuler Para Pemegang Saham itu
dilakukan dibawah tangan, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Akta
Pertanyaan Keputusan Rapat.*********************************
Persetujuan dari seluruh pemegang saham, merupakan syarat mutlak
keabsahan keputusan di luar RUPS. tidak boleh satu pemegang sahampun yang
tidak setuju. Jika terjadi hal yang seperti itu, mengakibatkan circulation
resolution tersebut tidak sah. (onwettig, unlawful) Keputusan di luar RUPS yang
disetujui oleh seluruh pemegang saham, merupakan keputusan yang “mengikat”.
Maksudnya keputusan tersebut mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan
keputusan RUPS yang dilakukan secara fisik, dan konvensional.
Dalam UUPT 1995, keputusan diluar RUPS diatur pada Pasal 78 ayat (1)
yang diberi sebutan keputusan RUPS diambil dengan cara lain dari rapat. Pada
Penjelasan Pasal ini dikatakan pengambilan keputusan RUPS dengan cara lain

*********************************
Ibid.
96

adalah keputusan yang diambil dengan cara mengirimkan secara tertulis usul yang
akan diputuskan kepada semua pemegang saham dan keputusan hanya sah apabila
semua pemegang saham menyetujui secara tertulis. Selanjutnya ditegaskan, cara
lain ini tidak berlaku bagi Perseruan yang mengeluarkan saham atas tunjuk.
Pada dasarnya ketentuan Pasal 78 ayat (1) UUPT 1995, tidak berbeda
dengan ketentuan Pasal 91 UUPT 2007. Adapun ketentuan cara lain itu tidak
berlaku bagi Perseroan yang mengeluarkan saham atas tunjuk, tidak perlu diatur
dalam Pasal 91 UUPT 2007. Sebab sesuai dengan ketentuan Pasal 48 ayat (1)
UUPT 2007, hanya memperbolehkan Perseroan mengeluarkan saham atas nama
pemiliknya, dan tidak diperkenankan mengeluarkan saham atas
tunjuk.†††††††††††††††††††††††††††††††††
Sebagai sebuah badan hukum, PT mempunyai organ-organ yang memiliki
fungsi masing-masing. Organ perseroan tersebut terdiri dari Rapat Umum
Pemegang Saham, Direksi, dan Dewan Komisaris (Pasal 1 ayat (2) UUPT).
Ketiga organ perseroan inilah yang menjadikan PT dapat melakukan tindakan dan
perbuatan hukum dengan pihak lain. Rapat Umum Pemegang Saham adalah organ
perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau
Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Undang-Undang dan/atau
anggaran dasar (pasal 1 ayat (4) UUPT). RUPS adalah organ perseroan yang
mewakili kepentingan seluruh pemegang saham dalam PT tersebut.
Pada korporasi dikenal adanya keputusan pemegang saham yang setingkat
atau sama dengan keputusan RUPS, tetapi tidak harus pemegang sahamnya hadir
dan bertemu, yang lazim dikenal dengan istilah Circular Resolution (kurang lebih
bermakna Keputusan Sirkuler). Circular Resolution ini dibentuk, karena perseroan
terbatas tidak mudah mengumpulkan pemegang saham dalam suatu tempat dan
waktu tertentu yang sama, sementara kewajiban melakukan RUPS, terutamanya
RUPS Tahunan, harus tetap diselenggarakan, sehingga untuk menanggulangi hal
ini, maka UUPT menentukan bahwa RUPS dapat dilakukan dengan tanpa harus
hadirnya pemegang saham secara fisik melalui Circular Resolution. Hasil dari
keputusan sirkuler merupakan akta di bawah tangan yang pada prakteknya biasa

†††††††††††††††††††††††††††††††††
M Yahya Harahap, Op Cit, hlm.92.
97

dituangkan ke dalam akta autentik. Keputusan sirkuler merupakan akta di bawah


tangan, sehingga keputusan sirkuler bukanlah kewenangan dari Notaris.
Kewenangan seorang Notaris lahir ketika Keputusan Sirkuler tersebut dituangkan
ke dalam akta autentik, hal tersebut sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 65
UUJN yang memuat ketentuan bahwa Notaris bertanggung jawab terhadap akta
yang dibuatnya. Pasal 91 UUPT telah menentukan bahwa pemegang saham dapat
juga mengambil keputusan yang mengikat di luar RUPS dengan syarat semua
pemegang saham yang memiliki hak suara menyetujui secara tertulis dengan
menandatangani usul yang bersangkutan.‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡ Keputusan para
pemegang saham di luar RUPS, dikenal dengan sebutan Keputusan Sirkuler
Pemegang Saham (Circular Resolution). Persetujuan dari seluruh pemegang
saham, merupakan syarat mutlak keabsahan keputusan di luar RUPS. Tidak boleh
satu pemegang saham pun yang tidak setuju. Jika terjadi hal yang seperti itu,
mengakibatkan circular resolution tersebut tidak sah. Akan tetapi, meskipun telah
ditentukan dalam Pasal 91 UUPT, mengenai mekanisme dan prosedur
pelaksanaannya tidak diatur secara jelas di dalam UUPT
Mekanisme pembuatan keputusan sirkuler berasal dari adanya usulan, baik
usulan yang berasal dari direksi maupun usulan yang berasal dari pemegang
saham. Dalam Pasal 91 UUPT juga tidak dijelaskan dengan rinci mengenai hal-
hal apa saja yang dapat menjadi obyek keputusan sirkuler, sehingga hal ini
menyebabkan tidak adanya batasan-batasan yang jelas dan detail mengenai hal-hal
apa saja yang bisa menjadi kewenangan pemegang saham yang tidak dapat dibuat
atau diputuskan melalui keputusan sirkuler. di sini butuh ketelitian dan wawasan,
serta pengalaman notaris dalam membuat suatu akta. Pada dasarnya keputusan
sirkuler dipergunakan untuk menggantikan keputusan yang lahir melalui RUPS,
baik pada RUPS Tahunan maupun RUPS Luar Biasa (RUPS LB). Pasal 21 ayat
(5) UUPT menjelaskan bahwa keputusan srikuler yang telah disepakati dan
ditandatangani oleh seluruh pemegang saham, harus dinyatakan dalam akta
notaris (akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham) paling lambat 30 (tiga

‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡
M. Yahya Harahap. Hukum Perseroan Terbatas. (Jakarta: Sinar
Grafika. 2016). Hlm. 341.
98

puluh) hari terhitung sejak keputusan sirkuler disepakati dan ditandatangani


seluruh pemegang saham.
Akta Pernyataaan Keputusan Pemegang Saham merupakan partij akta,
yakni akta yang dibuat di hadapan Notaris memuat uraian dari apa yang
diterangkan atau diceritakan oleh para pihak yang menghadap kepada notaris, dan
merupakan kehendak dari para pemegang saham yang dinyatakan dalam
keputusan sirkuler. Sehingga isi dari akta tersebut merupakan tanggung jawab
sepenuhnya dari para penghadap atau para pihak. Oleh karena itu, notaris tidak
bertanggung jawab secara pidana terhadap kebenaran materiil atas akta yang
dibuat dihadapannya kecuali dalam hal notaris tersebut terbukti telah melakukan
penipuan atau tindak pidana lainnya. Selain itu, noataris juga tidak bertanggung
jawab secara perdata terhadap kebenaran materiil dalam “partij akta” yang dibuat
di hadapannya kecuali notaris terbukti telah melakukan pelanggaran Fungsi dari
pembuatan akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham (PKPS) adalah untuk
melindungi Notaris dari kejahatan-kejahatan seperti penggunaan data atau
dokumen yang tidak benar, dan lain sebagainya, baik yang disengaja maupun
yang tidak disengaja. Seringnya terjadi beberapa kasus terkait pernyataan tidak
benar dari keputusan sirkuler, membuat notaris harus berhati-hati dalam
membuatkan akta akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham (PKPS).
Ruang lingkup tugas pelaksanaan jabatan notaris, yaitu membuat alat bukti
yang diinginkan oleh para pihak untuk suatu tindakan hukum tertentu, dan notaris
membuat akta karena ada permintaan dari para pihak yang menghadap, tanpa ada
permintaan dari para pihak, notaris tidak akan membuat akta apapun, dan notaris
membuatkan akta yang dimaksud berdasarkan alat bukti atau keterangan atau
pernyataan para pihak yang dinyatakan atau diterangkan atau diperlihatkan kepada
atau di hadapan notaris, dan selanjutnya notaris membingkainya secara lahiriah
(kekuatan pembuktian keluar), formil dan materil dalam bentuk akta notaris,
dengan tetap berpijak pada aturan hukum atau tata cara atau prosedur pembuatan
akta dan aturan hukum yang berkaitan dengan tindakan hukum yang bersangkutan
99

yang dituangkan dalam akta.§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§ Peran notaris dalam hal ini


juga untuk memberikan nasihat hukum yang sesuai dengan permasalahan yang
ada. Apapun nasehat hukum yang diberikan kepada para pihak dan kemudian
dituangkan dalam akta yang bersangkutan tetap sebagai keinginan atau keterangan
para pihak yang bersangkutan, tidak atau bukan sebagai keterangan atau
pernyataan notaris.
Para Penghadap sudah memenuhi semua syarat formil, maka itu cukup
menjadi dasar notaris untuk melakukan perbuatan hukum yang diinginkan para
penghadap. Notaris tidak dibebani untuk mencari kebenaran secara materil, tetapi
ketika ada keraguan dan keanehan dari dokumen-dokumen yang menjadi syarat
untuk pembuatan akta para penghadap, maka hendaknya notaris mencari
kebenaran secara materiil atas dokumen tersebut. Demi tercapainya prinsip
kehatihatian Notaris dalam mengenal para penghadap. **********************************
Jika terdapat keraguan dan kesalahan atas dokumen-dokumen para penghadap
Notaris sebaiknya menolak untuk membuat akta autentik, untuk tercapainya
prinsip kehati-hatian mengenal para penghadap dan tidak menjadi sengketa
dikemudian hari. Tidak dapat dipungkiri, bahwa pada zaman ini dalam kehidupan
dan transaksi sehari-hari, notaris telah diakui dan dihargai sebagai pihak yang
layak dipercaya oleh masyarakat.†††††††††††††††††††††††††††††††††† Notaris merupakan
pejabat atau profesional hukum yang disumpah untuk bertindak sesuai dengan
hukum yang semestinya, sehingga dapat dikatakan notaris sangat diperlukan
untuk kepastian legalitas perbuatan maupun utuk mencegah adanya perbuatan
melawan hukum.
Berdasarkan UUJN, dapat dilihat bahwa Notaris memiliki peran dan
fungsi yang penting dalam legalitas transaksi di Indonesia, bahkan notaris juga
dipahami sebagai pihak ketiga yang terpercaya. Jasa seorang notaris telah menjadi
kebutuhan masyarakat, tidak hanya dalam pembuatan akta, melainkan juga
§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§§
Habib Adjie. Hukum Notaris Indonesia (Tafsir Tematik
Terhadap Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris), Cetakan Kedua.
(Bandung: Refika Aditama. 2009). Hlm. 22
**********************************
Fikri Ariesta. “Prinsip Kehati-Hatian Notaris dalam Mengenal
Penghadap”. Tesis Magister Kenotariatan. (Yogyakarta: UII. 2018). Hlm. 69.
††††††††††††††††††††††††††††††††††
Rudyanti Dorotea Tobing. Aspek-Aspek Hukum Bisnis.
Pengertian, Asas, Teori dan Praktik. (Yogyakarta: Lasbang Justia. 2012). Hlm. 6.
100

sebagai saksi atau penengah dari transaksi yang dilakukan. Notaris dalam
menjalankan jabatannya sebagai seorang yang profesional berkewajiban untuk
bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga
kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum. Selain itu, sebagai salah
satu upaya lain yang dapat dilakukan notaris untuk menjaga keamanan diri
notaris, hendaknya notaris dalam menjalankan jabatannya selalu mengedapankan
prinsip kehati-hatian.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dalam bab pembahasan terhadap rumusan masalah
maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Bentuk Tanggung Jawab Notaris hanya terletak pada Akta PKR yang dibuat
olehnya karena isi akta PKR tersebut berdasarkan pada risalah rapat di bawah
tangan dan isi dari risalah rapat tersebut menjadi tanggung jawab para peserta
yang hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
2. Akibat Hukum terkait Keputusan di luar Rapat Umum Pemegang Saham
tentang perubahan anggaran dasar yang tidak dinyatakan ke dalam akta notaris
tidak sah. Karena keputusan di luar Rapat Umum Pemegang Saham ini dibuat
dan tidak dinyatakan ke dalam akta notaris serta tidak dilaporkan kepada
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
3. Pengaturan kedepan perlunya untuk mengubah terkait UUJN dimana perlu
ditekankan nantinya untuk mendapatkan jaminan, ketertiban dan perlindungan
hukum kepada masyarakat pengguna jasa notaris agar mendapat pengawasan
terhadap pelaksanaan tugas notaris terkait pembuatan Akta Notariil. Serta
penguatan kepada notaris yang menjalankan profesi dalam pelayanan hukum
kepada masyarakat yang perlu mendapatkan perlindungan dan jaminan demi
tercapainya kepastian hukum.

3.2 Saran
Bertitik tolak pada permasalahan yang ada dan dikaitkan dengan
kesimpulan di atas, dapat diberikan saran sebagai berikut:
1. Demi tercapainya prinsip kehati-hatian notaris dalam mengenal para
penghadap, jika terdapat keraguan dan kesalahan atas dokumen-dokumen para
penghadap notaris sebaiknya menolak untuk membuat akta autentik, untuk
tercapainya prinsip kehati-hatian mengenal para penghadap dan tidak menjadi

101
sengketa dikemudian hari. Serta perlunya jaminan, ketertiban dan perlindungan
hukum

102
103

kepada masyarakat pengguna jasa notaris untuk mendapat pengawasan


terhadap pelaksanaan tugas notaris terkait pembuatan Akta Notariil. Prinsip
itikad baik juga berlaku dalam pembuatan akta Pernyataan Keputusan
Pemegang Saham (PKPS). Itikad baik tersebut tidak hanya mengacu kepada
itikad baik para pihak, tetapi harus pula mengacu kepada nilai-nilai yang
berkembang dalam masyarakat, sebab itikad baik merupakan bagian dari
masyarakat
2. Peraturan mengenai keputusan di luar RUPS perlu diperjelas lagi seperti tata
cara pembuatan, syarat sahnya, pembatalan dan apa saja yang bisa diatur dalam
keputusan di luar RUPS, agar pembuatan keputusan di luar RUPS nantinya
tidak menimbulkan sengketa kedepannya dimana keputusan di luar RUPS
harus dicantumkan ke Akta Notariil.
3. Kepada para pihak antara Notaris dan juga Pihak Perusahaan yakni khususnya
RUPS yang membuat surat tersebut, sebaiknya terlebih dahulu dijelaskan
akibat-akibat hukum dari akta tersebut. Mengingat dasar dari pembuatan akta
pernyataan keputusan rapat dari suatu perseroan terbatas tersebut, adalah suatu
notulensi rapat yang merupakan surat di bawah tangan, yang proses
pembuatannya tidak dihadiri oleh Notaris. Hal ini sangat berbeda dengan
Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan Terbatas yang dibuat
secara notaril, dimana notaris wajib menghadiri dan mengikuti proses
pelaksanaannya untuk kemudian dituangkan ke dalam suatu akta otentik. Hal
ini mengandung aspek kepastian dan perlindungan hukum bagi para pihak,
termasuk di dalamnya notaris.
DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Abdul Ghofur. 2009. Lembaga Kenotariatan Indonesia: perspektif hukum dan


Etika, Yogyakarta: UII Press.
Abdulkadir Muhammad. 2002. Hukum Perusahaan Indonesia. Bandung: Citra
Aditya Bakti.
___________. 2010. Hukum Perusahaan Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Anshoruddin. 2004. Hukum Pembuktian Menurut Hukum Acara Islam dan
Hukum Positif. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Anton M. Moeliono. dkk. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Asril Sitompul. 2001. Hukum Internet Pengenalan Mengenai Masalah Hukum di
Cyberspace. Bandung: Citra Aditya.
Bambang Sutiyoso. 2004. Aktualita Hukum dalam Era Reformasi. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
C.S.T. Kansil. 1996. Pokok-pokok Hukum Perseroan Terbatas. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Dominikus Rato. 2010. Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami
Hukum. Yogyakarta. Laksbang Pressindo.
Dyah Ochtorina Susanti, A’an Efendi, Rahmadi Indra Tektona. 2019. Penelitian
Hukum Doktrinal, Yogyakarta: LaksBang Justitia.
Edmon Makarim. 2013. Notaris & Transaksi Elektronik Kajian Hukum tentang
Cybernotary atau Electronic Notary. Jakarta: Raja Grafindo.
Eny Kusdarini. 2011. Dasar-Dasar Hukum Administrasi Negara Dan Asas-Asas
Umum Pemerintahan Yang Baik. Yogyakarta. UNY Press.
Freddy Harris dan Leny Helena. 2017. Notaris Indonesia. cet. 2. Jakarta: PT.
Lintas Cetak Djaja.
Fikri Ariesta. 2018. Prinsip Kehati-Hatian Notaris dalam Mengenal Penghadap.
Tesis Magister Kenotariatan. Yogyakarta: UII.
Gatot Supramono. 2004. Hukum Perseroan Terbatas Yang Baru. Jakarta:
Djambatan.
G.H.S. Lumban Tobing. 1983. Peraturan Jabatan Notaris. cet Ke-3. Jakarta:
Erlangga.
_______________. 1999. Peraturan Jabatan Notaris. Jakarta: Penerbit Erlangga.
_______________. 2017. Peraturan Jabatan Notaris (Notaris Reglement).
Jakarta: Erlangga.
Gunawan Widjaja. 2003. Tanggung Jawab Direksi atas Kepailitan Perseroan
Terbata. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Habib Adjie. 2008. Sanksi Perdata dan Adminstrasi Terhadap Notaris Sebagai
Pejabat Publik. Bandung: Refika Aditama.
__________. 2009. Sekilas Dunia Notaris dan PPAT Indonesi. Bandung: CV.
Mandar Maju.
__________. 2009. Hukum Notaris Indonesia (Tafsir Tematik Terhadap Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris). Cetakan
Kedua. Bandung: Refika Aditama.
Herowati Poesoko. 2014. Modul Mata Kuliah: Metode Penulisan dan Penelitian
Hukum Pada Program Pascasarjana magister Kenotariata.
Jember: Fakultas Hukum Universitas Jember.
H.M.N. Purwosutjipto. 1979.Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia.
Jakarta: Djambatan.
I.G. Rai Widjaya. 2000. Hukum Perusahaan dan Undang-Undang dan Peraturan
Pelaksanaan di Bidang Usaha. Jakarta: KBI.
I.G. Rai Widjaya. 2005. Hukum Perusahaan Dan Undang-Undang Dan
Peraturan Pelaksanaan Di Bidang Usaha. Jakarta: Kesaint Blanc.
Irfan Fachruddin. 2004. Pengawasan Peradilan Administrasi terhadap Tindakan
Pemerintah. Bandung : Alumni.
Kussunaryatun.1999. Hukum Acara Perdata (Pemeriksaan Perkara Perdata).
Surakarta: Univesitas Sebelas Maret.
Liliana Tedjosaputro. 1991. Malpraktek Notaris dan Hukum Pidana. Semarang:
CV. Agung.
Lili Rasjidi. 1994. Filsafat Hukum Mazhab dan Refleksinya. Bandung: Remaja
Roesdakarya Offset.
M.A. Moegni Djojodirdjo. 1979. Perbuatan Melawan Hukum. Jakarta: Pradnya
Paramita.
Mariam Darus Badrulzaman. 1983. KUHPerdata – Buku III. Hukum Perikatan
dengan Penjelasan. Bandung: Alumni.
Miriam Budiardjo. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Marthalena Pohan. 1985. Tanggung Gugat Advokat Dokter Dan Notaris.
Surabaya: PT Bina Ilmu.
M. Hadi Subhan. 2008. Hukum Kepailitan, Prinsip, Norma dan Praktik di
Peradilan. Jakarta: Prenada Media Group.
M. Luthfan Hadi Darus. 2017. Hukum Notariat dan Tanggung Jawab Jabatan
Notaris. cet. 1. Yogyakarta: UII Press.
M Yahya Harahap. 2009. Hukum Perseroan Terbatas. Cet. 2 Jakarta: Sinar
Grafika.
________________. 2016. Hukum Perseroan Terbatas. Jakarta: Sinar Grafika.
Mulyoto. 2010. Kriminalisasi Notaris Dalam Pembuatan Akta Perseroan
Terbatas. Yogyakarta: Cakrawala Media.
Munir Fuady. 2002. Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan Kontemporer).
Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Nico. 2003. Tanggungjawab Notaris Selaku Pejabat Umum. Yogyakarta: Center
For Documentaion and Studies of Business Law.
Nur Basuki Winanrno. 2008. Penyalahgunaan Wewenang dan Tindak Pidana
Korupsi. Yogyakarta: laksbang mediatama.
Peter Mahmud Marzuki. 2008. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
_____________ 2011. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
_____________. 2016 Penelitian Hukum (Edisi Revisi). Jakarta : Prenada Media
Group.
Philipus M. Hadjon. 2007. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia: Edisi
Khusus. Yogyakarta. Peradaban.
R. Ali Rido. 1986. Hukum Dagang tentang Aspek-aspek Hukum dalam Asuransi
Udara, Asuransi Jiwa dan Perkembangan Perseroan Terbatas.
Bandung: Remadja Karya.
R. Wirjono Prodjodikoro. 1983. Asas-asas Hukum Perdata. Cetakan 9. Bandung:
Sumur.
R.Soegondo Notodisoerjo. 1982. Hukum Notariat Di Indonesia Suatu Penjelasan.
Jakarta: CV. Rajawali.
R.Soegono Notodisoerjo. 1993. Hukum Notariat Di Indonesia Suatu Penjelasan.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rudyanti Dorotea Tobing. 2012. Aspek-Aspek Hukum Bisnis, Pengertian, Asas,
Teori dan Praktik. Yogyakarta: Lasbang Justia.
R. Subekti. 1978. Hukum Pembuktian. Jakarta: Pradnya Paramita.
Setiawan. 1989. Kekuatan Hukum Akta Notaris Sebagai Alat Bukti. Jakarta: Varia
Peradilan.
Sjaifurracman. 2011. Aspek Pertanggung Jawaban Notaris dalam Pembuatan
Akta. Bandung: Mandar Maju.
Sri Wardah dan Bambang Sutiyoso. 2007. Hukum Acara Perdata dan
Perkembangannya di Indonesia. Yogyakarta: Gama Media.
Sudikno Mertokusumo. 1998. Hukum Acara Perdata Indonesia. Yogyakarta:
Liberty.
Soedjono Dirjosisworo. 1997. Hukum Perusahaan Mengenai Bentuk-bentuk
Perusahaan (badan usaha) di Indonesia. Bandung: Mandar Maju.
Soekidjo Notoatmojo. 2010. Etika dan Hukum Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Subekti dan Tjitrosudibio. 1961. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Cet. 28.
Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Suharjono. 1995. Sekilas Tinjauan Akta Menurut Hukum. Jakarta:Varia Peradilan.
Tan Tong Kie. 2000. Studi Notariat, Serba-serbi Praktek Notaris Buku I. Jakarta:
Ichtiar baru Van Hoeve.
Titik Triwulan dan Shinta Febrian. 2010. Perlindungan Hukum bagi Pasien.
Jakarta: Prestasi Pustaka.
Th. Kussunaryatun. 1999. Hukum Acara Perdata (Pemeriksaan Perkara Perdata).
Surakarta: Univesitas Sebelas Maret.
Tri Budiyono. 2011. Hukum Perusahaan. Salatiga: Griya Media.
U Utrecht dan Moh. Saleh J Jindang. 1989. Pengantar Dalam Hukum Indonesia.
Jakarta: Iktiar baru dan sinar harapan.
Viktor M. Situmorang dan Cormentyna Sitanggang. 1993. Gross Akta dalam
Pembuktian dan Eksekusi. Jakarta: Rineka Cipta.
Zaeni Asyhadie. 2005. Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Jurnal:
Badriyah Rifai. Peran Komisaris Independen Dalam Mewujudkan Good
Corporate Governance di Perusahaan Publik. Jurnal Hukum.
Universitas Hasanuddin Sulawesi Selatan. Volume 16. Nomor 3.
2009. ISSN: 2527-502X.
Dedi Irawan. Pengelolaan Keuangan Negara Yang Dipisahkan Oleh Badan
Hukum. Jurnal Nestor Magister Ilmu Hukum. Universitas
Tanjungpura. volume 3. Nomor 5. 2013. ISSN : 0216-2091.
Dody Radjasa Waluyo. Kewenangan Notaris Selaku Pejabat Umum. Media
Notariat (Menor) Edisi Oktober-Desember 2001.
Ella Agustin. M. Khoidin. Firman Floranta Adonara. Tanggung Gugat Notaris
Dalam Pembuatan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum
Pemegang Saham. Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2013
Muhibbuthabary. Dinamika dan Implementasi Hukum Organisasi Perusahaan
Dalam Sistem Hukum Indonesia. Asy-Syari‘ah Vol. 17 No. 3.
Desember 2015.
Mustakim. Kedudukan Risalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai
akta otentik dalam kaitan dengan tanggung jawab notaris sebagai
pejabat umum. Jurnal ilmu hukum. Fakultas Hukum Universitas
Syiah Kuala. Hlm. 160. Volume 18. Nomor 01. April 2016. ISSN :
2527-8428.
Makalah Seminar Nasional Tentang Kejahatan di Lingkungan Profesi yang
diadakan Oleh Program S2 Universitas Diponegoro. Semarang.
tanggal 13 Ferbruari 1992.
Mishardi Wilamarta. Hak Pemegang Saham Minoritas dalam Rangka Good
Corporate Governance. Tesis Magister Universitas Indonesia.
Jakarta. 2002.
Nindyo Pramono. 2007. Tanggung Jawab Dan Kewajiban Pengurus PT (Bank
Menurut UU Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
Buletin Hukum dan Kebanksentralan. 5(2).
Sari Haryadi, Winanto Wiryomartani, dan Widodo Suryandono. Akibat Hukum
Ketidaktelitian Notaris pada Pembuatan Akta Berita Acara Rapat
Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang Dibuat Oleh Notaris.
Jurnal Master of Notarial Law. Faculty of Law. Universitas
Indonesia. 2019.
Yasin Tanaka. Peran Dan Tanggungjawab Notaris Dalam Keputusa Pemegang
Saham Diluar Rapat Umum Pemegang Saham (Rups) Berdasar Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. Jurnal
Repertorium Volume IV No. 1 Januari-Juni 2017.

Anda mungkin juga menyukai