Anda di halaman 1dari 7

Trypanosoma merupakan protozoa dengan famili trypanosomatidae, dan tergolong ke dalam

haemoflagellata. Karena trypanosoma merupakan protozoa yang habitattnya berada di dalam


darah, khususnya plasma darah dan menggunakan flagellata sebagai alat geraknya.

Berbagai penyakit yang ditimbulkan pada ternak tergantung pada spesies trypanosoma yang
menyerang. Seperti yang paling sering terjadi adalah penyakit sura pada kuda yang disebabkan
oleh trypanosoma evansi.

Apabila tidak dilakukan penanganan secara tepat, maka kuda yang terserang dapat mengalami
kematian. Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai klasifikasi,
morfologi, spesies, predileksi (habitat), hospes (induk semang), dan siklus hidup dari
trypanosoma.
A. Klasifikasi
 Filum : Sarcomastigophora
 Subfilum : Mastigophora
 Kelas : Zoomastigophora
 Ordo : Kinetoplastorida
 Subordo : Trypanosomarina
 Famili : Trypanosomatidae
 Genus : Trypanosoma
 Spesies : • Trypanosoma brucei• Trypanosoma evansi• Trypanosoma equiperdum•
Trypanosoma lewisi• Trypanosoma cruzi
 Genus : Leishmania
 Spesies : Leishmania donovani

B. Morfologi Umum
Pada dasarnya, protozoa mengalami perkembangan yang membuat bentuk mereka berbeda pada
fase satu dengan fase lainnya. Namun, protozoa anggota famili trypanosomatidae memiliki
bentuk yang hampir sama ketika sudah mencapai fase dewasa, yaitu menyerupai daun kering
yang berlipat.
Gambar di atas adalah contoh dari Trypanosoma gambiense. Memiliki struktur tubuh yang terdiri
dari Kinetoplast, Nucleolus, Nucleus, Lisosom, Badan Golgi, Undulating Membrane,
Endoplasma, Ektoplasma, Pellicle, Flagella, Basal Granul (Blepharoplast), dan reserve food
granules (cadangan makanan).

Kinetoplast merupakan granula dengan ukuran kecil yang memiliki fungsi sebagai DNA
ekstranuklear. Selain itu, Trypanosoma gambiense juga memiliki satu flagella anterior yang
berfungsi sebagai alat gerak. Sebelumnya, terdapat lapisan kulit tipis yang disebut dengan
Pellicle.

Baca juga : " 8 Pakan Lovebird Sehat dan Bergizi "

C. Perkembangan Trypanosoma spp.


Siklus hidup protozoa famili Trypanosomatidae dapat dilihat pada gambar di atas. Dari mulai
belum tumbuh flagella, hingga memiliki flagella bebas yang panjang dan membran undulata di
sepanjang tubuhnya. Berikut adalah fase pertumbuhannya :

1. Amastigote

Stadium amastigote disebut juga dengan stadium Leismanial. Bentuknya bulat dan belum
memiliki flagella bebas (free flagellum). Karena flagella internanya mengalami degenarasi
menjadi benang fibril yang tipis dan kecil.
2. Paramastigote

Stadium paramastigote berbentuk lonjong namun masih melingkar sehingga tampak bentukan
bulat saja. Dengan inti sel yang sudah berpindah ke bagian posterior tubuh dan flagella anterior
yang mulai memanjang.

3. Promastigote

Pada stadium promastigote atau leptomonad, protozoa sudah berbentuk lonjong dengan flagella
anterior panjang yang keluar dari kinetoplast sebagai flagella bebas (free flagellum). Namun
pada fase ini, protozoa belum memiliki undulating membrane.

4. Epimastigote

Stadium epimastigote disebut juga dengan stadium chritidial. Pada stadium ini, protozoa
berbentuk memanjang dengan undulating membrane yang pendek dan flagella bebas yang
memanjang.

5. Trypomastigote

Stadium trypomastigote atau trypanosome berbentuk memanjang seperti pada fase epimastigote,
akan tetapi undulating membrane telah tumbuh sepanjang tubuh protozoa.

Baca juga : " Protozoa Tritrichomonas foetus Penyebab Bovine Trichomoniasis "

D. Spesies Trypanosoma
1. Trypanosoma brucei

T. brucei merupakan golongan famili trypanosomatidae yang menyebabkan penyakit Nagana.


Penyebabrannya di daerah Afrika dengan hospes atau induk semang berupa hewan ternak dan
hewan domestik.

Seperti Sapi, Kambing, Anjing, Kuda, dan Babi. Namun, di antara hewan tersebut antelop
merupakan hospes paling peka yang juga berperan sebgai markasnya.

Penyebaran yang dilakukan oleh T. brucei dalam tubuh inang berada dalam plasma darah, cairan
limfe, dan cairan cerebrospinal. Jika dilakukan percobaan pada mencit dan simpanse, maka
keduanya dapat terinfeksi. Akan tetapi tidak dapat menular ke manusia.

Dalam siklus hidupnya, T. brucei atau yang disebut juga dengan T. pecaudi memerlukan lalat
tsetse (Glossina sp.) sebagai hospes intermediet atau inang perantara. Lalat tsetse merupakan
lalat penghisap darah, di mana penghisapannya membuat kontak langsung antara kulit hewan
dan glandula salivaria yang dimilikinya.
Lalat akan menghisap hospes terinfeksi. Kemudian dalam tubuh lalat terjadi beberapa
pertumbuhan trypanosoma. Yaitu bentukan trypanosoma ketika pertama kali terhisap, berbentuk
trypomastigote dan bersarang di bagian posterior usus. Setelah itu, bermigrasi sampai glandula
salivaria melalui proventrikulus, osephagus, dan faring.

Trypanosoma akan bersarang pada glandula salivaria dalam bentuk epimastigote, kemudian
berkembang menjadi trypomastigote dan menggigit induk semang difinitive.

Perlu diketahui bahwa induk semang definitiv merupakan induk semang di mana protozoa dapat
melakukan siklus hidupnya dengan sempurna, termasuk perkembangbiakan secara seksual dan
aseksual.

Setelah lalat mengigit, trypanosoma dapat masuk ke dalam jaringan bawah kulit dan ikut
bersama sirkulasi darah.

Di dalam darah, tepatnya plasma darah trypanosoma melakukan pembelahan ganda longitudinal.
Setelah itu, trypanosoma melewati BBB (Blood Brain Barrier) memasuki cairan cerebrospinal
dan berhabitat di sana. Sehingga hospes definitive terinfeksi T. brucei.

2. Trypanosoma evansi

Trypanosoma evansi merupakan protozoa penyebab penyakit Trypanosomiasis atau yang dikenal
dengan penyakit Surra. Beberapa laporan menyebutkan bahwa kini trypanosoma dapat
menginfeksi manusia dan bersifat zoonosis. Seperti kasus atypical human trypanosomiasis pada
beberapa negara, seperti vietnam salah satunya. (Wardhana, 2018)

Trypanosoma evansi dapat menyerang ternak domestik seperti kuda, sapi, kambing, domba, dan
babi. Juga hewan eksotik dan hewan liar seperti gajah, rusa, dan tapir. Dengan predileksi plasma
darah dan limfe.

Dalam siklus hidupnya, perkembangan trypanosoma terjadi melalui ternak yang terinfeksi ke
ternak lainnya dengan bantuan vektor. Vektor yang berperan adalah lalat penghisap darah seperti
Tabanus, Stomoxys, Haematopota, dan Lyperosia. (Suwanti, 2012) Trypanosoma evansi hanya
melakukan perkembangan pada hospes definitive saja, sedangkan pada vektor tidak terjadi
perkembangan.

Oleh karena itu, vektor perkembangbiakkan Trypanosoma evansi disebut juga dengan vektor
mekanis, karena hanya bersifat menyalurkan saja, bukan sebagai hospes intermediet seperti yang
terjadi pada perkembangbiakkan Trypanosoma brucei.

Penyebaran Trypanosoma evansi terjadi pada fase infektif, yaitu fase trypomastigote.
Penularannya melalui gigitan lalat penghisap darah yang pada glandula salivarianya sudah
terdapat trypomastigote tersebut. Di dalam tubuh induk semang, trypanosoma berkembang
dengan melakukan pembelahan ganda longitudinal.

Baca juga : " Protozoa Trichomonas gallinae "


3. Trypanosoma equiperdum

Dourine adalah penyakit yang disebabkan oleh spesies Trypanosoma equiperdum. Penyakit ini
umumnya terjadi pada kuda yang ditularkan selama proses kopulasi (kawin).

Oleh karena itu, Trypanosoma equiperdum tidak memerlukan vektor untuk menginfeksi induk
semang. Untuk percobaan laboratorium, dapat dilakukan pada hewan coba mencit dan tikus,
karena keduanya merupakan hewan yang peka terhadap parasit ini.

4. Trypanosoma lewisi

Tikus merupakan hospes yang paling peka terhadap infeksi Trypanosoma lewisi. Parasit ini
menyebabakan terjadinya penyakit murine trypanosomiasi. Vektor yang bertindak dalam
penyebarannya adalah dari jenis kutu tikus Oriental Xenopsylla cheopis dan kutu tikus Utara
Nosopsyllus fasciatus.

Kutu akan menggigit tikus yang terinfeksi, kemudian menggigit tikus yang lain. (Durden,
2019) Meskipun murine termasuk penyakit infeksi sederhana pada tikus, namun sistem infektif
Trypanosoma lewisi tetap dijadikan sebagai topik penelitian untuk mengetahui infeksi berbahaya
yang dapat menyerang manusia.

5. Trypanosoma cruzi

Trypanosoma cruzi merupakan parasit penyebab penyakit Chagas pada manusia, di mana
penyebarannya meliputi kawasan Amerika, Afrika, hingga Meksiko. Parasit ini ditularkan
melalui vektor insekta Triatomine (Kissing Bugs), terutama melalui fesesnya.

Trypanosoma cruzi dapat masuk ke dalam sirkulasi darah manusia melalui luka yang diakibatkan
oleh gigitan serangga Triatomine. Karena serangga tersebut termasuk ke dalam serangga
penghisap darah.

Menurut laporan, penyakit Chagas yang disebabkan oleh Trypanosoma cruzi mengalami
outbreak (peningkatan) di kolombia selama tahun 1992-2009 yaitu sebnayak 11 outbreak dengan
angka kematian mencapai 16%. Sedangkan 5 tahun kemudian, yaitu pada tahun 2014 terdapat
outbreak yang serupa di Chili sebanyak dua outbreak.

E. Kesimpulan
Trypanosoma merupakan protozoa famili Trypanosomatidae yang merugikan, baik bagi hewan
ternak maupun bagi manusia. Untuk menghindari terjadinya infeksi parasit Trypanosoma, maka
peternak harus memperhatikan manajemen kandang dan pakan dengan baik.

Karena kebersihan pakan dan kandang sangat berpengaruh terhadap penyakit yang timbul pada
hewan ternak, termasuk kebersihan lingkungan sekitar peternakan. Karena parasit dapat tertular
melalui vektor yang merupakan perantara penularan penyakit dari satu induk semang ke induk
semang lainnya.

Begitu juga dengan manusia, Trypanosoma dapat menyebabkan berbagai penyakit. Oleh karena
itu, kebersihan lingkungan dan makanan juga harus diperhatikan dengan seksama, demi
mencegah terjadinya infeksi parasit Trypanosoma melalui vektor. Karena mencegah lebih baik
daripada mengobati.

Terima kasih telah membaca artikel mengenai Trypanosoma spp. Semoga artikel ini menjadi
tambahan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Daftar Pustaka :

 Durden, Lance A., Nancy C. Hinkle. 2019. Fleas (Siphonaptera). Medical and Veterinary
Entomology (Third Edition)
 Novita, Risqa. 2019. Kajian Potensi Tripanosomiasis sebagai Penyakit Zoonosis
Emerging di Indonesia. Jurnal Vektor Penyakit, Vol. 13 No. 1. 2019 : 21-32. Jakarta :
Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan,
Kementerian Kesehatan RI
 Sawitri, DH., April H Wardhana. 2018. Surra: Trypanosomiasis pada Ternak yang
Berpotensi sebagai Penyakit Zoonosis. WARTAZOA Vol. 28 No. 3 Th. 2018 Hlm. 129-
138. Bogor : Balai Besar Penelitian Veteriner
 Wardhana, April Hari. 2018. Gambaran Patologi Infeksi Trypanosoma Evansi pada
Mencit Pascapengobatan dengan Esktrak Ethanol Daun Kipahit (Tithonia diversifolia).
Jurnal Veteriner : Maret 2018 Vol. 19 No. 1 : 1-11

Anda mungkin juga menyukai