MULTIPLE INTELEGENCE:
Peran Sekolah Menciptakan Lingkungan Berbasis Multiple Intelegence
Erly Mauvizar, S,Psi., M.Pd.
PENDAHULUAN
Kecerdasan intelektual sering diartikan mencakup kecerdasan logika dan Bahasa saja, tapi
banyak kecerdasan yang mencakup lainnya, kecerdasan interpersonal, kinestetik, musical, visual-
spatial, naturalis dan intrapersonal. Kecerdasan yang berbeda-beda setiap peserta didik memiliki warna
yang unik. Setiap peserta individu memiliki keunggulan masing-masing.
Howard Gardner menyampaikan gagasan tentang Multiple Intelegence. Selama ini kecerdasan
hanya dinilai berdasarkan kemampuan mengerti ide yang kompleks, kemampuan beradaptasi dengan
lingkungan, kemampuan belajar dari pengalaman, kemampuan melaksanakan tugas dan berbagai
situasi, dan kemampuan mengatasi hambatan dengan pikirannya (Jane Arnold & M Carmen Fonseca 2004).
Teori Multiple Intelligence mulai dikenal pada tahun 1983, merupakan salah satu teori belajar
yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Gardner merupakan pakar pendidikan dan psikologi
berkebangsaan Amerika. Teori ini akan menjadi awal baru bagi dunia pendidikan dalam berkreasi dan
berinovasi. Implikasi pandangan Gardner bagi dunia pendidikan adalah munculnya sebuah pandangan
baru bahwa setiap anak adalah individu yang unik. Guru dan tenaga kependidikan harus melihat
berbagai variasi dalam belajar, di mana setiap variasi memberikan konsekuensi dalam cara pandang
dan evaluasi dari pendidik. (Amir Hamzah 2009).
Kecerdasan majemuk memberikan perspektif tentang beragamnya kecerdasan yang mungkin
dimiliki anak. Konsep kecerdasan yang dibawa Gardner berangkat dari pandangan penilaian
kecerdasan peserta didik tidak cuma berdasar skor standar saja. Lebih dari itu, kemampuan peserta
didik menyelesaikan masalah yang terjadi, kemampuan menghasilkan persoalan baru untuk
diselesaikan, kemampuan menciptakan sesuatu, atau memberikan penghargaan dalam budaya
seseorang.
Idealnya, peserta didik dinilai berdasarkan apa yang ia bisa kerjakan, bukan berdasar apa yang
tidak bisa ia kerjakan. Ini artinya, tidak ada peserta didik bodoh atau peserta didik pintar.
Selain Gardner yang sukses menulis sebuah buku berjudul, “Frames of Mind: The Theory of
Multiple Intelligences,” ada Thomas Armstrong yang menjelaskan lebih lanjut tentang kecerdasan
majemuk. Thomas Armstrong menyebutkan bahwa tiap anak dilahirkan dengan membawa potensi yang
memungkinkan mereka jadi cerdas. Sifat natural yang dimaksud Thomas Armstrong adalah rasa ingin
tahu, daya eksplorasi, vitalitas, spontanitas, dan fleksibilitas. Dengan berbagai sifat naturalnya itu,
maka tugas orang tua dan lingkungan adalah mempertahankan sifat yang mendasari kecerdasan tadi
untuk terus bertahan hingga dewasa.
Berdasarkan paradigma tersebut, maka pandangan yang dihasilkan adalah seorang anak pasti
menonjol di salah satu atau sejumlah kecerdasan.
Multiple Intelegence Dalam Pendidikan
Gardner menyebutkan bahwa kecerdasa merupakan suatu kumpulan kemampuan atau keterampilan
yang dapat ditumbuh kembangkan. Gardner juga menyebutkan ada tiga hal yang mengarahkan
kecerdasan yaitu:
1. Kecakapan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
2. Kecakapan untuk mengembangkan masalah untuk dipecahkan.
3. Kecakapan untuk membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang bermanfaat di dalam
kehidupan.
Selain itu Gardner juga menjabarkan ada 9 macam kecerdasan yang dimiliki anak
(Timmins 1996), (Holili 2018). Berikut ini penjelasan ringkas tentang masing-masing bagian
kecerdasan dalam teori Gardner:
1. Kecerdasan Verbal-Linguistik
Kecerdasan verbal-linguistik adalah kecerdasan bahasa secara efektif. Ciri-ciri kecerdasan ini
yaitu kemampuan dalam berbicara, bercerita, mengingat, dan mendapatkan informasi. Contoh
kecerdasan verbal -lingustik dapat kita lihat kemampuan anak dalam menulis, mengingat dan
menghafal nama-nama benda, mereka memiliki kosakata yang banyak dibandingkan anak
seusianya. Untuk menumbuhkan kemampuan kecerdasan verbal-lingustik, maka rangsangan
yang diberikan adalah dengan mengajak berbicara, bermain huruf, bermain peran,
mendengarkan lagu.
2. Kecerdasan Logis Matematis
Anak mampu menganalisi masalah secara logis, mampu membuat rumus, dan
menganalisannya. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan hitungan dangan angka-angka dan
memberi pendapat secara logis serta terpola. Kecerdasan ini dapat dilihat dari kemampuan anak
Menyusun puzzle, menerapkan geometris serta mampu mengonsep secara matematika
sederhana.
3. Kecerdasan Spasial-Visual
Kemampuan berimajinasi ada dalam kecerdasan ini, Ciri khas utama kecerdasan ini adalah
melakukan transformasi persepsi ruang secara visual ke dalam pikirannya. Kecerdasan Spasial-
Visual memiliki kepekaan yang cukup tinggi.
4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
Kecerdasan majemuk Kinestetik-jasmani sering juga dikenal sebagai kecerdasan gerak tubuh.
Anak dengan kecerdasan Kinestetik-jasmani punya kecenderungan memiliki kemampuan
kontrol dan koordinasi anggota tubuh di atas rata-rata.
5. Kecerdasan Musikal
Pengertian kecerdasan musikal berarti kemampuan berpikir atau mencerna musik, menyimak
pola-pola nada, mengenalinya, dan memanipulasinya. Memiliki bakat musik tinggi, memiliki
kepekaan terhadapa suara dan nada-nada musik.
6. Kecerdasan Intrapersonal
Pengertian kecerdasan majemuk Intrapersonal adalah kecerdasan anak untuk memahami dirinya
sendiri, menyadari keberadaan dirinya, dan berbagai kesadaran terkait introspeksi diri. Ciri khas
yang terlihat dari kecerdasan ini, mereka sangat bersifat pribadi, diantaranya menulis buku
harian, baik itu menulis ataupun bercerita tentang masalah dirinya. Untuk bisa merangsang dan
mempertahankan kecerdasan Intrapersonal, anak perlu mendapatkan attention, acceptance,
appreciation, dan affection. Dengan keempat rangsangan itu, anak akan memiliki motivasi,
percaya diri, dan kebanggaan diri.
7. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan ini sering dikatakan kecerdasan sosial, individu mampu melakukan kontak sosial,
melakukan pendekatan, memahami peran orang lain serta memiliki kemampuan komunikasi
yang baik. Ciri khas bahwa anak memiliki kemampuan interpersonal yang tinggi dapat diamati
dari kemampuan berhubungan dengan orang lain, memiliki kawan serta mampu merasakan apa
yang dirasakan oleh orang lain.
8. Kecerdasan Naturalis
kemampuan mengenali dan memahami lingkungan alam. Contoh kecerdasan naturalis adalah
tertarik mengoleksi kupu-kupu atau merawat tumbuhan. Kecerdasan naturalis memang tidak
berhubungan langsung dengan saraf. Akan tetapi punya kaitan langsung dengan area otak yang
peka pada sensori persepsi dan area otak yang berkaitan dengan kemampuan klasifikasi objek.
9. Kecerdasan Eksistensial (existential intelligence). Intelligence eksistensial lebih menyangkut
pada kepekaan dan kemampuan seseorang dalam menjawab persoalan-persoalan terdalam
mengenai eksistensi manusia. Orang yang mempunyai kecerdasan eksistensi mencoba
menyadari dan mencari jawaban yang terdalam. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa aku
ada? Mengapa aku mati? Apa makna hidup ini? Bagaimana manusia sampai ke tujuan hidup?
Pada dasarnya Multiple Intelegence dimiliki oleh setiap individu dan dapat ditingkatakan
melalui Pendidikan. Agar keinginan tercapai dalam meningkatkan Multiple Intelegence dalam
Pendidikan, Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, (Holili 2018) menyebutkan ada beberapa pilar yang
dapat dijadikan landasan, antara lain:
1. Pendidikan wajib memperhatikan keseluruhan kecerdasan intelektual. Oleh karena itu,
dalam proses pembelajaran guru tidak boleh terpaku hanya pada satu jenis kemampuan saja,
karena satu jenis kemampuan saja tidak cukup untuk menjawab persoalan-persoalan
manusia secara menyeluruh.
2. Pendidikan seharusnya individual. Setiap karakteristik yang dimiliki siswa harus mendapat
perhatian dalam proses pembelajaran. Mengajar hanya dengan materi, cara, dan waktu yang
sama bagi siswa yang memiliki kemampuan tertentu, tentunya tidak menguntungkan bagi
siswa lain yang memiliki kecerdasan yangberbeda.
3. Pendidikan harus dapat memotivasi siswa untuk menentukan tujuan dan program belajar.
Proses pembelajaran yang baik, menurut mereka adalah memberikan kebebasan kepada
siswa untuk menentukan sendiri cara belajarnya sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya, siswa diberi kebebasan untuk mengevaluasi sendiri hasil belajar mereka.
4. Sekolah memberikan fasilitas kepada siswa untuk mengembangkan kecerdasan majemuk
yang mereka miliki, misalnya siswa membutuhkan peralatan olahraga, seni, atau musik
untuk mengembangkan kecerdasan mereka, maka sekolah harus menyediakannya.
5. Evaluasi proses pembelajaran harus lebih kontekstual dan tidak hanya terbatas pada tes
tertulis. Evaluasi kontekstual lebih menekankan pada penilaian performa siswa dalam proses
belajar, apakah sesuai dengan kriteria yang diharapkan atau tidak.
6. Proses pembelajaran sebaiknya tidak dibatasi hanya dalam Gedung sekolah. Konsep
kecerdasan majemuk ini memungkinkan proses pembelajaran terjadi di luar gedung sekolah,
seperti melalui masyarakat, kegiatan ekstra, atau kontak dengan orang lain
Tahapan Belajar Berdasarkan Teori Multiple Intelegence
Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik
dalam belajar. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar
diharapkan bermotivasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi
seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.
Berbagai ilmu dari Gardner yang telah menemukan teori kecerdasan majemuk atau multiple
intelligence bahwa ada banyak kecerdasan yang dimiliki setiap orang. Teori ini juga menekankan
pentingnya “model” atau teladan yang sudah berhasil mengembangkan salah satu kecerdasan hingga
puncak
Tahapan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan teori Multple Intelegence Gardner,
menyebutkan kecerdasan merupakan kekuatan manusia untuk membuat masalah serta
mengampukannya. Sebagaimana opini yang berkembang bahwa setiap individu memiliki kecerdasan
yang berbeda, dengan demikian kecerdasan dapat ditingkatkan dengan mengevaluasi kecerdasan anak
dan merangkai proses pembelajaran berdasarkan tingkat kecerdasannya (Winarti, Yuanita, and Nur
2019).
Maka dapat dikatakan dengan adanya sistem kecerdasan majemuk Gardner, dimungkinkan
penjaringan dan penyaringan anak-anak berbakat, yang dikemudian hari diharapkan memberikan
kontribusi yang signifikan bagi keunggulan dan motivasi manusia. Selain itu Multiple Intelegence
dapat membantu guru untuk mengubah cara mengajar mereka, yaitu dapat melihat karakteristik siswa
yang memiliki keunikan masing-masing serta dapat disesuaikan dengan kecerdasan setiap siswa. Oleh
karena itu, guru sebagai seorang pendidik dapat memahami setiap kemampuan anak didiknya.
Dengan demikian guru dapat mengembangkan model dan metode mengajar mengembangkan
model mengajar dengan berbagai kecerdasan dan bukan hanya dengan kecerdasan yang menonjol pada
dirinya, mengajar sesuai dengan kecerdasan siswanya, dan menggunakan berbagai model yang cocok
dengan multiple intelegence dalam proses evaluasi.
Pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk secara umum dapat diartikan sebagai proses
pembelajaran yang memberi “ruang gerak” bagi setiap individu siswa untuk mengembangkan potensi
kecerdasannya. Siswa dituntut agar dapat belajar secara enjoy, tidak merasa terpaksa, dan memiliki
motivasi yang tinggi. Pada hakikatnya, pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk dapat juga
dimaknai sebagai pembelajaran yang membiarkan anak didik untuk selalu kreatif. Tentunya, kreativitas
yang dibangun adalah bentuk kreatifan yang dapat mendukung terhadap keberlangsungan proses
pembelajaran dengan menghasilkan target motivasi akademik yang membanggakan.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kecerdasan majemuk adalah adanya tanggung
jawab lembaga-lembaga pendidikan, dan kecerdikan seorang guru dalam memerhatikan bakat masing-
masing siswa (peserta didik). Di dalam maupun di luar sekolah, setiap siswa harus berhasil menemukan
paling tidak satu wilayah kemampuan yang sesuai dengan potensi kecerdasannya. Jika hal itu berhasil
ditemukan oleh siswa dengan bimbingan guru, maka akan menimbulkan kegembiraan dalam proses
pembelajaran, bahkan akan membangkitkan ketekunan dalam upaya-upaya penguasaan disiplin
keilmuan tertentu (suharsono 2002).
Saat ini, sebagian besar pendidik dan orang tua, serta masyarakat pada umumnya, cenderung
hanya menghargai orang yang memiliki kemampuan matematika dan kemampuan bahasa. Apalagi
kemampuan IQ untuk menentukan kemampuan siswa terus mendominasi pembelajaran sekolah pada
umumnya.
Peran Sekolah Menciptakan Lingkungan Berbasis Multiple Intelegence
Proses menemukan kecerdasan ini sangat bervariasi dan tidak akan pernah sama antara satu
orang dengan orang lainnya. Ambil contoh penulis terlaris dunia, J.K. Rowling mencapai puncaknya
pada usia 43 tahun dan terus meningkat. Dalam contoh yang lain Stevie wonder, seorang penyanyi
yang menemukan bakat nyanyinya di usia 10 tahun dan terus meningkat (M. Zakaria Hanafi 2019)
Dari contoh-contoh di atas dapat diartikan bahwa kecerdasan yang ditemukan sangat berbeda,
tidak pernah sama dengan yang lainnya. Maka dapat dikatakan bahwa peserta didik memiliki
kecerdasan tersendiri, dengan demikian kecerdasan tersebut harus ditemukan.
Lingkungan sangat mempengaruhi setiap tindakan pencarian kecerdasan. Lingkungan tersebut,
bisa orang tua, guru maupun sekolah. Sekolah merupakan salah satu yang akan membentuk kecerdasan
peserta didik. Sekolah merupakan salah satu tempat untuk mengembangkan diri untuk menciptakan
manusia yang cerdas, cakap dan kreatif., sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan
permasalahan yang dihadapinya. Namun suatu perkembangan dan kemajuan seseorang tidaklah cukup
hanya dengan mengandalkan kecerdasan intelektual yang mengandalkan kemampuan berlogika semata.
Sekolah merupakan tempat belajar. Belajar merupakan gejala yang kompleks yang muaranya
adalah perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tercermin dalam perilaku yang berubah.
Sekolah yang akan memberikan pengalaman yang baik bagi peserta didik.
Penerapan konsep Multiple Intelegences, bukan tidak mungkin diterapkan disekolah.
Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memberikan kesempatan yang luas untuk
mengembangkan konsep Multiple Intelegences di sekolah. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 Ayat (2) menyebutkan bahwa kurikulum semua
jenjang dam jenis Pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan
Pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.
Dari pasal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sekolah dapat mengembangkan potensi
peserta didik, artinya sekolah dapat mengembangkan kurikulum, sehingga memiliki peluang untuk
mengembangkan konsep Multiple Intelegences yang ada pada peserta didik.
Penerapan konsep Multiple Intelegence, tentunya membutuhkan penelitian atau observasi
kepada peserta didik. Tahap pertama yang dilakukan dengan melihat gaya belajar peserta didik serta
stimulus-stimulus dari sekolah. Dengan memahami gaya belajar, berarti peserta didik akan dapat
belajar untuk menciptakan lingkungannya. Guru membantu mencari cara menciptakan situasi belajar
yang baru untuk memenuhi tujuan siswa yang menjalani proses pembelajaran (Danim and Khairil
2011)
Kegiatan belajar yang bisa dikembangkan yaitu dengan kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat
pilihan. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salat satu kegiatan yang dilakukan di luar kelas, yang
bertujuan untuk meningkatkan bakat minat peserta didik. Dengan demikian sangat terbuka lebar bagi
peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki setiap peserta didik.
Selain itu sekolah juga dapat mengenali potensi kecerdasan anak dengan melakukan pendekatan
individual kepada anak yang berbakat. Pihak sekolah dapat melakukan karyawisata ke tempat-tempat
yang dapat memberi pengalaman dan pengetahuan baru.
Dalam hal mengembangkan kecerdasan peserta didik, selain pihak sekolah orang tua memliki
peranan yang penting. Dari sejak dini orang tua diharapkan sudah menemukan potensi yang ada pada
anak, sehingga orang tua dapat menyediakan lingkungan fisik yang membangun dan merangsang
pertumbuhan kercerdasan peserta didik.
Menurut Handy Susanto (Soefandi and Pramudya 2014), ada beberapa keuntungan yang dapat
diperoleh bila menerapkan Multiple Intelengences di dalam proses Pendidikan yang dilaksanakan:
1. Dapat menggunakan kerangka Multipel Inletengences dalam melaksanakan proses
pengajaran secara luas.
2. Memberi kesempatan bagi peserta didik untuk belajar sesuai dengan kebutuhan, minat dan
talentanya.
3. Peran serta orangtua dan masyarakat akan semakin meningkat dalam mendukung proses
belajar mengajar. Hal ini bisa terjadi karena setiap aktivitas siswa dalam proses belaja akan
melibatkan anggota masyarakat.
4. Peserta didik akan mampu menunjukkan dan “berbagi” tentang kelebihan yang dimilikinya.
Membangun kelebihan yang dimiliki akan memberi suatu motivasi untuk mejadikan peserta
didik sebagai seorang “spesialis”.
5. Peserta didik akan mendapat pengalaman belajar yang positif dan akan meningkatkan
kemampuan untuk mencari solusi dalam memecahkan persolan yang dihadapi,
Daftar Pustaka
Amir Hamzah. 2009. “Teori Multiple Intelegensi.” Tadris 4(2):251–61.
Danim, Sudarwan, and H. Khairil. 2011. Psikologi Pendidikan. 2nd ed. Bandung: Alfabeta.
Holili. 2018 . “Membangun Aktualisasi Pembelajaran Dengan Teori Kecerdasan Majemuk.” Al-Insyiroh 2(1):65–83.
Jane Arnold & M Carmen Fonseca. 2004. Multiple Intelligence Theory and Foreign Language Learning: A Brain-Based
Perspective.
M. Zakaria Hanafi. 2019. Implementasi Metode Sentra Dalam Pengembangan Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini.
1st ed. edited by Cinthia Morris Sartono. Yogjakarta: Deepublish.
Soefandi, Indra, and S. Ahmad Pramudya. 2014. Strategi Mengembangkan Potensi Kecerdasan Anak. edited by VMK
TIM. Jakarta: Bee Media Pustaka.
suharsono. 2002. Mencerdaskan Anak: Melejitkan Dimensi Moral, Intelektual Dan Sepiritual Dalam Memperkaya
Khasanah Batin Dan Motivasi Kreatif Anak (IQ, IE Dan IS). Depok: Inisiasi Press .
Timmins, Amy C. Brualdi. 1996. “Multiple Intelligences: Gardner’s Theory.” Practical Assessment, Research, and
Evaluation 5:10. doi: 10.7275/7251-ea02.
Winarti, Atiek, Leny Yuanita, and Moh Nur. 2019. “The Effectiveness of Multiple Intelligences Based Teaching
Strategy in Enhancing the Multiple Intelligences and Science Process Skills of Junior High School Students.”
Journal of Technology and Science Education 9(2):122–35. doi: 10.3926/jotse.404.
AUTHOR PROFILE
Erly Mauvizar lahir di Banda Aceh pada tanggal 14 April 1972.
Menyelesaikan Studi jenjang S1 di Universitas Medan Area Medan, Fakultas
Psikologi, Pendidikan S2 di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Prodi
Manajemen Pendidikan. Penulis merupakan dosen tetap di STIKes
Muhammadiyah Aceh. Penulis juga aktif sebagai pendamping UMKM yang
bernaung di Industri Pengembangan Usaha Mikro Kreatif tahun 2022. Penulis memiliki kemampuan
sebagai motivator pengembangan diri, digital marketing dan keuangan umkm. Menulis buku popular
serta artikel ilmiah.
Penulis dapat dijumpai instagram: @erlydjalil, WhatsApp +81360616200, email: erlycher@gmail.com