MULTIPLE INTELLIGENCES
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu
mata kuliah Teori Pembelajaran dan Perkembangan Peserta Didik
Dosen Pengampu: Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si
Oleh:
Khoerul Anwar
NIM. 18204011047
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab. Hal ini tertuang pada Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal
3. Dalam pasal tersebut jelas disebutkan, bahwa tujuan pendidikan adalah
menciptakan siswa yang cakap dan mandiri. Kecakapan dan kemandirian ini tidak
muncul begitu saja, ada proses yang harus dilalui. Salah satu proses yang harus
dilalui adalah proses pendidikan. Pendidikan akan membantu seseorang dalam
mengembangkan kecakapan dan kemandiriannya
Realitanya dunia pendidikan masih menempatkan kualitas intelektualnya
(pengetahuan). Tingkat pengetahuan diukur melalui kecerdasan yang menonjolkan
kemampuan otak manusia yang indikatornya ditunjukkan dengan nilai seseorang
melalui data kuantitatif (nilai 8, 9, dan seterusnya) dan data kualitatif (nilai A,B,
dan seterusnya). Pola ini menekankan pada kemampuan logika matematis dan
bahasa. Sehingga ketika seseorang dikatakan cerdas apabila mereka memperoleh
hasil tes IQ dengan nilai tinggi. Padahal pada umumnya para siswa mempunyai
banyak cara yang unik dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan tidak
hanya berkenaan dengan perolehan skor tes IQ yang tinggi. Akibatnya, maka siswa
cerdas belum tentu akan mempunya akhlak baik yang sesuai dengan harapan bangsa
dan Negara. Dalam diri manusia tidak hanya ada kecerdasan IQ yang itu
berhubungan dengan angka-angka saja, tetapi terdapat kecerdasan yang lain
Teori kecerdasan ganda (multiple intelligences) memandang kecerdasan
tidak hanya berdasarkan kemampuan logika atau bahasa saja, namun memiliki
kecerdasan-kecerdasan lain yang selama ini tidak menjadi perhatian. Kecerdasan
tidak dilihat sebagai berhasil dengan baik mengerjakan tes atau mengingat sejumlah
tugas tertentu, namun sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan
1
menghasilkan sesuatu yang berharga dalam lingkungannya. Hal ini terjadi karena
seperti yang diungkapkan oleh Kuhn (1962) bahwa : (a)inteligensi bukanlah harga
mati atau secara statis terberi saat lahir; (b) inteligensi dapat dipelajari, diajarkan,
dan ditingkatkan; serta (c) inteligensi merupakan suatu fenomena yang bersifat
multidimensional dan dapat muncul dalam berbagai tingkat dalam otak/
pikiran/system kebutuhan kita. Dalam hal ini teori tentang multiple intelligences
yang dicetuskan oleh Howard Gardner menjadi salah satu rujukan dalam
membangun dan mengembangkan pembelajaran di kelas dengan memperhatikan
seluruh kecerdasan yang dimiliki oleh siswa.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Konsep Teori Multiple Intellegences ?
2. Bagaimana Aspek Multiple Intellegences ?
3. Bagaimana pembelajaran yang berbasis Multiple Intellegences ?
C. Tujuan Penulisan
1. Dapat mengetahui Konsep Teori Multiple Intellegences ?
2. Dapat mengetahui Aspek Multiple Intellegences ?
3. Dapat mengetahui pembelajaran yang berbasis Multiple Intellegences ?
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Teori Multiple Intelligences
Multiple Intelligences yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai
kecerdasan majemuk atau kecerdasan ganda dikembangkan oleh Howard Gardner,
ahli psikologi perkembangan dan guru besar pendidikan pada Graduate School of
Education, Harvard University, Amerika Serikat. Teorinya tentang Multiple
Intelligences dipublikasikan pada tahun 1993. Gardner mendefinisikan inteligensi
sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam
suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata.1
Sebelum muncul teori multiple intelligence, teori kecerdasan lebih cenderung
diartikan secara sempit. Kecerdasan seseorang lebih banyak ditentukan oleh
kemampuannya dalam menyelesaikan serangkaian tes IQ, kemudian tes itu diubah
menjadi angka standar kecerdasan. Gardner berhasil mendobrak dominasi teori dan
tes IQ yang sejak 1905 banyak digunakan oleh para pakar psikolog di dunia.2
Kecerdasan menurut Gardner diartikan sebagai suatu kemampuan, dengan
proses kelengkapannya, yang sanggup menangani kandungan masalah yang
spesifik di dunia. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa orang yang memiliki
jenis kecerdasan tertentu, kecerdasan musikal misalnya, akan menunjukkan
kemampuan tersebut dalam setiap aspek hidupnya. Dikatakan lebih lanjut bahwa
setiap orang memiliki delapan jenis kecerdasan dalam tingkat yang berbeda-beda.
Kedelapan jenis kecerdasan itu memiliki komponen inti dan ciri-ciri. Kehadiran
ciri-ciri pada individu menentukan kadar profil kecerdasannya. Dalam kehidupan
nyata, kecerdasan-kecerdasan itu hadir dan muncul bersama-sama atau berurutan
dalam suatu atau lebih aktivitas. Dalam kasus khusus, ditengarai adanya individu
savant, yakni orang yang memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi pada satu
jenis kecerdasan, namun rendah dalam kecerdasan yang lain.
1 Paul Suparno, Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah (Yogyakarta : Kanisius,
2004), hlm. 1
2 Chatib, Munif.. Sekolahnya Manusia, Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia,
(Bandung: Kaifa, 2013), hlm.132
3
B. Aspek Multiple Intelligences
Gardner menemukan setidaknya sembilan inteligensi yang dimiliki peserta didik,
yaitu :
1. Inteligensi linguistik (linguistic intelligence)
Adalah kemampuan untuk menggunakan dan mengolah katakata secara efektif
baik secara oral maupun tertulis. Anak yang memiliki intelegensi linguistik
tinggi akan berbahasa lancar, baik, dan lengkap, mudah mengembangkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan mudah belajar beberapa bahasa.
Kegiatan yang cocok bagi orang yang memiliki intelegensi linguistik antara lain;
pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan, pemain sandiwara, dan
orator.
2. Inteligensi matematis-logis (logical-mathematical intelligence)
Adalah kemampuan yang berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika
secara efektif. Anak yang memiliki intelegensi matematis-logis menonjol, dapat
dengan mudah melakukan tugas memikirkan sistem-sistem yang abstrak, seperti
matematika dan filsafat, mudah belajar berhitung, kalkulus, dan bermain dengan
angka. Bahkan ia dengan senang menggeluti simbol angka dalam buku
matematika daripada kalimat yang panjang-panjang.
3. Inteligensi ruang-visual (spatial intelligence)
Adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara tepat, seperti
dimiliki para pemburu, arsitek, navigator, dan dekorator. Juga kepekaan terhadap
keseimbangan, relasi, warna, garis, bentuk, dan ruang.
4. Inteligensi kinestetik-badani (bodily-kinesthetik intelligence)
Adalah kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk
mengekspresikan gagasan dan perasaan seperti ada pada aktor, atlet, penari,
pemahat, dan ahli bedah.
5. Inteligensi Musikal (musical intelligence)
Adalah kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati
bentu-bentuk musik dan suara. Termasuk kepekaan akan ritme, melodi, dan
intonasi, kemampuan memainkan alat musik, kemampuan menyanyi, mencipta
lagu, dan kemampuan menikmati lagu, musik, dan nyanyian.
6. Inteligensi interpersonal (interpersonal intelligence)
4
Adalah kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan,
intensi, motivasi, watak, temperamen orang lain. Kemampuan untuk menjalin
relasi dan komunikasi dengan berbagai orang. Seperti dipunyai oleh para
komunikator, fasilitator, dan penggerak massa.
7. Inteligensi intrapersonal (intrapersonal intelligence)
Adalah kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan
kemampuan untuk bertindak secara adaptatif berdasar pengenalan diri.
8. Inteligensi lingkungan/naturalis (naturalist intelligence)
Adalah kemampuan untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik.
Kemampuan untuk memahami dan menikmati alam, dan menggunakan
kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan
pengetahuan akan alam.
9. Inteligensi eksistensial (existencial intelligence).3
Adalah kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk
menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia.
D. Pembelajaran berbasis Multiple Intelligences
Menurut Gardner, kesembilan jenis inteligensi di atas terdapat dalam diri
setiap orang, hanya kadarnya tidak selalu sama. Untuk orang tertentu suatu
inteligensi lebih menonjol daripada inteligensi lain. Inteligensi bukanlah
kemampuan yang tetap tak berubah sepanjang hayat. Inteligensi dapat
dikembangkan dan ditingkatkan secara memadai sehingga dapat berfungsi bagi
pemiliknya. Di sinilah pendidik memiliki andil besar untuk membantu
perkembangan inteligensi peserta didik. Karena itu, guru perlu memahami teori
Multiple Intelligences agar pembelajaran di kelas berlangsung optimal. 4
Setiap anak memiliki kecerdasan dan kemampuan berbeda dalam memahami
sebuah mata pelajaran. Seorang pendidik tidaklah boleh memaksakan siswanya
untuk memahami setiap pelajaran dengan pemahaman yang sama dan sempurna
dengan satu takaran kecerdasan,sebab keadaan anak dalam satu kelas berbeda-beda.
Dengan segala macam keadaan siswa, kewajiban seorang pendidik adalah
3 Ibid., hlm. 19
4 Amir Hamzah, Teori Multiple Intelligences dan Implikasinya Terhadap Pengelolaan
Pembelajaran, Jurnal : Tadrîs. Volume 4. Nomor 2. 2009, hlm. 254-256
5
mengakui keberdaannya dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Seorang
pendidik harus mengakui dan harus menghargai bakat dan hasil karya siswa-
siswanya.5 Siswa akan lebih mudah memahami pelajaran jika materinya disajikan
sesuai dengan inteligensi yang menonjol dalam diri siswa. Misalnya, bila siswa
menonjol dalam inteligensi musikal, ia akan mudah memahami mata pelajaran
tertentu, misalnya biologi, jika dijelaskan dengan memasukkan unsur musik ke
dalamnya. Jika siswa menonjol dalam inteligensi visual, ia akan lebih mudah
menangkap pelajaran jika dijelaskan menggunakan bermacam-macam bentuk yang
dapat diamati. Oleh karena inteligensi siswa di kelas beragam, maka guru bidang
studi apapun perlu memasukkan dan mengolah materi yang akan diajarkan sesuai
dengan inteligensi siswa-siswa tersebut. Mereka perlu mengajar dengan model
bervariasi sehingga setiap siswa merasa dibantu secara tepat. Karena itu, akan
sangat baik jika sebelum mengajar, setiap guru mencoba mengenali inteligensi apa
saja yang dimiliki anak didiknya.
Biasanya guru, karena memiliki inteligensi tertentu yang menonjol,
cenderung menggunakan pendekatan yang sesuai dengan inteligensi tersebut secara
terus menerus. Guru yang menonjol dalam inteligensi linguistik akan senang
mengajar dengan menggunakan model inteligensi itu, seperti berceramah, bercerita
panjang lebar, dengan puisi, membaca, dan sebagainya. Guru yang inteligensi
matematis-logisnya menonjol akan lebih senang mengajar dengan menekankan
cara pendekatan matematis-logis; secara sistematis, dengan skema, bagan, rumus,
dan sebagainya. Guru tersebut jarang mengajar dengan menggunakan inteligensi
kinestetik-badani, interpersonal, ruang-visual, natural, atau lainnya, yang mungkin
lebih cocok untuk siswa. Akibatnya, siswa yang tidak memiliki inteligensi sama
dengan yang digunakan guru, kurang merasa terbantu secara baik dalam belajarnya.
Bahkan bisa jadi siswa tersebut merasa tidak diajar apapun, karena guru mengajar
dengan pendekatan yang cocok untuk dirinya sendiri.
Muncul pertanyaan, apakah guru yang kurang menonjol pada inteligensi
tertentu dapat mengembangkan strategi mengajar dengan inteligensi tersebut?.
Misalnya, guru yang menonjol dalam inteligensi linguistik, yang senang mengajar
5 Mulyasa, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung: Rosdakarya), hlm.46.
6
dengan bercerita, bisa mengembangkan strategi mengajar dengan inteligensi
matematis-logis, padahal ia tidak menonjol dalam inteligensi ini?. Menurut
Gardner, bisa. Secara umum seorang guru bisa mengembangkan strategi
pembelajaran dengan menggunakan inteligensi lain yang tidak dikuasainya.
Caranya, dengan berlatih terus menerus. Misalnya, guru yang inteligensi
musikalnya kurang, dapat mengajar dengan menggunakan lagu atau musik asal dia
berlatih terus menerus. Tentu kualitasnya tidak sebaik dengan guru yang inteligensi
musikalnya menonjol, namun cukup untuk mengajar siswa.
Dengan demikian, guru tidak boleh merasa tidak dapat berkembang lagi,
tetapi harus lebih yakin bahwa selalu dapat mengembangkan cara mengajar mereka.
Jika anak didik dapat dibantu mengembangkan inteligensi mereka, guru pun juga
dapat dikembangkan. Tentu butuh semangat dan upaya kuat.
Di samping berpengaruh terhadap strategi pembelajaran, teori Multiple
Intelligences juga berdampak pada rangkaian kegiatan pembelajaran lainnya,
seperti peralatan, pengaturan kelas, dan evaluasi. Karena harus menggunakan
strategi beragam sesuai inteligensi siswa, tentu perlu dilengkapi peralatan memadai
sesuai strategi yang dipakai. Demikian pula dengan pengaturan kelas, tidak bisa
hanya diatur dalam satu kedudukan yang tetap, berbaris dari depan ke belakang.
Kadang kelas perlu diatur melingkar, berkelompok-kelompok kecil, atau bisa jadi
kelas perlu dikosongkan dari kursi. Bahkan suatu ketika siswa, missalnya untuk
mengembangkan inteligensi naural, perlu diajak keluar ruangan melihat taman,
hutan, gunung, dan alam raya. Dalam hal evaluasipun juga perlu beragam sesuai
inteligensi para siswa. Sistem evaluasi yang hanya menggunakan tes tertulis
tidaklah cukup karena tidak mengungkapkan inteligensi siswa yang beragam.
Gardner mencontohkan, ada seorang siswa yang cerdas dalam menganalisis flora-
fauna, dan sangat kreatif menjelaskan kepada siswa lain. Namun dalam ujian,
dengan soal esai, siswa tersebut selalu gagal. Gurunya tidak mengerti penyebabnya.
Ternyata siswa tersebut menonjol dalam inteligensi linguistik dan natural, sehingga
ia membutuhkan cara evaluasi lain, mungkin dengan lisan atau diminta
mengekspresikan dengan cara lain.
Dalam penilaian multiple intelegence haruslah jujur dan adil sehingga suatu
jenis kecerdasan dapat dinilai dan dipertimbangkan langsung tidak melewati
7
kecerdasan lainnya. Gardner menyarankan agar guru memberi siswa obyek-obyek
kongret untuk dimanipulasi bagi semua ranah kecerdasan. Perangkat yang
digunakan adalah, diagnosis, pengamatan, check list, catatan singkat, portofolio,
refleksi.6
Dengan berkembangnya konsep multiple intelligences dan dengan
diterimanya teori tersebut dalam dunia pendidikan, maka mau tidak mau pendidik
perlu membantu tumbuh kembang anak dalam berbagai rencana, pelaksanaan, dan
evaluasi program yang memberi wadah bagi perkembangan semua jenis kecerdasan
mereka. Tugas ini menjadi sedemikian penting mengingat perkembangan dan
perwujudan semua jenis kecerdasan tersebut esensial bagi anak dalam mengatasi
permasalahan-permasalahan dalam kehidupan, dan memperoleh kehidupan itu
sendiri. 7
6 Ellison dalam Julia Jasmine, Panduan Praktis Mengajar Berbasis Multiple Intelegences,
Bandung:Nuansa, 2007, hlm. 191
7 Tadkiroatun Musfiroh, Multiple Intelligences dan Implikasinya Dalam Pendidikan, Jurnal:
Pusdi PAUD, Lemlit UNY), hlm. 7
8
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kecerdasan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang meliputi
pengetahuan, keterampilan dan keahlian untuk menyelesaikan masalahnya.Pada
hakikatnya setiap individu memiliki beberapa kecerdasan diantaranya kecerdasan
bahasa/linguistik, logis-matematis, visualspasial, kinestetik, interpersonal,
intrapersonal, musikal, dan naturalis.8 Tetapi kombinasi dan porsi kecerdasan yang
dimiliki tiap individu tidak sama tergantung pada bagaimana cara mengembangkan
segala kecerdasan yang telah ada.Dengan memahami bahwa tiap individu terlahir
dengan berbagai jenis kecerdasan, diharapkan para pendidik tidak hanya
menganggap bahwa siswa yang cerdas dan berprestasi hanyalah siswa yang cerdas
secara akademik. Karena ada berbagai potensi besar lainnya yang dimiliki siswa
selain kemampuan dibidang akademik saja. Kedelapan kecerdasan dapat beroperasi
dalam mendampingi secara independen satu sama lain. Berbekal teori kecerdasan
majemuk seorang guru secara tidak langsung dapat menguasai dan belajar berbagai
metode pembelajaran. Sehingga fungsi guru sebagai pendidik, pembimbing,
pelatih, penasehat, pembaharu, pendorong kreativitas, pembangkit, evaluator
sehingga anak didik dapat berhasil secara optimal
Dalam dunia pendidikan, teori Multiple Intelligences mulai diterima karena
dianggap lebih melayani semua kecerdasan yang dimiliki anak. Konsep Multiple
Intelligences menjadikan pendidik lebih arif melihat perbedaan, dan menjadikan
anak merasa lebih diterima dan dilayani. Konsep ini “menghapus” mitos anak
cerdas dan tidak cerdas, karena menurut konsep ini, semua anak hakikatnya cerdas.
Hanya saja konsep cerdas itu perlu diredefinisi dengan landasan baru.
8 Nurul Hidayati Rofiah, Menerapkan Multiple Intelligences dalam Pembelajaran di Sekolah
Dasar, Jurnal Dinamika Pendidikan Dasar Volume 8, No 1, Maret 2016: 68 - 79
9
DAFTAR PUSTAKA
Amir Hamzah, 2009, Teori Multiple Intelligences dan Implikasinya
Terhadap Pengelolaan Pembelajaran, Jurnal. Tadrîs. Volume 4.
Nomor 2.
Chatib, Munif. 2013. Sekolahnya Manusia, Sekolah Berbasis Multiple
Intelligences di Indonesia. Bandung: Kaifa
Ellison dalam Julia Jasmine, 2007, Panduan Praktis Mengajar Berbasis
Multiple Intelegences, Bandung: Nuansa.
Mulyasa, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif
dan Menyenangkan, Bandung: rosdakarya
Nurul Hidayati Rofiah, 2016, Menerapkan Multiple Intelligences dalam
Pembelajaran di Sekolah Dasar, Jurnal Dinamika Pendidikan Dasar
Volume 8, No 1, Maret 2016: 68 – 79
Suparno, Paul. Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah.
Yogyakarta : Kanisius, 2004.
Tadkiroatun Musfiroh, Multiple Intelligences dan Implikasinya Dalam
Pendidikan, Jurnal, Yogyakarta: Pusdi PAUD, Lemlit UNY
10