0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
149 tayangan65 halaman

Proposal Heriyanto

Proposal penelitian ini membahas pengembangan keripik barokah pada skala industri rumah tangga di Kecamatan Unaaha, Kabupaten Konawe dengan menggunakan metode Interpretative Structural Modelling (ISM). Metode ini akan digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan keripik barokah dan hubungan antar faktor tersebut.

Diunggah oleh

Nuraisya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
149 tayangan65 halaman

Proposal Heriyanto

Proposal penelitian ini membahas pengembangan keripik barokah pada skala industri rumah tangga di Kecamatan Unaaha, Kabupaten Konawe dengan menggunakan metode Interpretative Structural Modelling (ISM). Metode ini akan digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan keripik barokah dan hubungan antar faktor tersebut.

Diunggah oleh

Nuraisya
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

APLIKASI INTERPRETATIVE STRUCTURAL MODELLING (ISM)


DALAM PENGEMBANGAN KERIPIK BAROKAH PADA SKALA
INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KECAMATAN UNAAHA
KABUPATEN KONAWE

Oleh:
HERIYANTO
NIM. Q1A1 18 140

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2021
APLIKASI INTERPRETATIVE STRUCTURAL MODELLING (ISM)
DALAM PENGEMBANGAN KERIPIK BAROKAH PADA SKALA
INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KECAMATAN UNAAHA
KABUPATEN KONAWE
Proposal

diajukan kepada Fakultas Pertanian


untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan
studi pada Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan

Oleh:
HERIYANTO
NIM. Q1A1 18 140

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2021
PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA PROPOSAL

PENELITIAN INI ADALAH KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM

PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI PROPOSAL PENELITIAN DI PERGURUAN

TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. APABILA DIKEMUDIAN HARI

TERBUKTI ATAU DAPAT DIBUKTIKAN BAHWA PROPOSAL

PENELITIAN INI MERUPAKAN HASIL PLAGIAT, MAKA SAYA

BERSEDIA MENERIMA SANKSI SESUAI PERATURAN YANG BERLAKU.

Kendari, Desember 2021

Materai
Rp. 10.000

HERIYANTO
NIM. Q1A1 18 140

iii
HALAMAN PENGESAHAN

Judu penelitian : Aplikasi Interpetative Structural Modelling (ISM) Dalam


Pengembangan Keripik Barokah Pada Skala Industri Rumah
Tangga di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe
Nama : Heriyanto
NIM : Q1A1 18 140
Program Studi : Teknologi Pangan
Konsentrasi : Manajemen Industri Pertanian
Jurusan : Ilmu dan Teknologi Pangan

Menyetujui;

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Sarinah, SP., M.Si Dr. Rosmawaty, SP., M.Si


NIP. 19701006 200210 2 001 NIP.19721202 200912 2 001

Mengetahui,
Ketua Jurusan/ Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan

Nur Asyik, SP., M. Si


NIP.19731115 2008 12 1 002

iv
UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah subhana

wata’ala, atas rahmat, ridho dan hidayahnya sehingga penulis dapat

menyelesaikan penyusunan hasil penelitian ini. Sholawat serta salam semoga

tetap dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad salallahu alaihi

wasalam, kepada keluarganya dan para sahabatnya yang telah membawa kita

pada kedamaian dan rahmat bagi semesta alam. Penelitian ini berjudul “Aplikasi

Interpretative Structural Modelling (ISM) Dalam Pengembangan Keripik Braokah

Pada Sakala Industri Rumah Tangga di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe ”

yang disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan studi pada

jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan.

Terwujudnya hasil penelitian ini tidak terlepas dari berbagai pihak yang

telah mendorong dan membimbing penulis, baik dari segi moral maupun materi

hingga terselesaikan hasil penelitian ini. Sehingga dari pada itu, pada kesempatan

ini dari hati yang paling dalam penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua

orang tua penulis, kepada Ayahanda Alm. H. Muh Hadiri dan Ibunda Rostina

yang telah melahirkan saya, atas perhatian, doa, dukungan moral dan materi yang

diberikan selama ini. Ucapan terima kasih juga penulis haturkan Kepada Ibu Dr.

Sarinah, SP., M.Si sebagai Pembimbing I dan Ibu Dr. Rosmawaty, SP., M.Si

v
sebagai pembimbing II yang telah banyak memberikan pengarahan sejak

perencanaan penelitian ini hingga menyusun hasil ini.

Ucapan terima kasih juga penilis tunjukan:

1. Bapak Prof. Dr. Muhammad Zamrun F., S.Si., M.Si., M.Sc selaku Rektor

Universitas Halu Oleo yang telah menerima penulis di Universitas Halu Oleo

(UHO).

2. Bapak Prof. Dr. Ir. R Marzuki Iswandi, M. Si selaku Dekan Fakultas Pertanian

Universitas Halu Oleo, beserta Wakil Dekan I Bapak Prof. Dr. Ir. H. Andi

Khaeruni R., M.Si Wakil Dekan II Bapak Dr. Awwaluddin Hamzah, S.P.,M.Si

dan Wakil Dekan III Bapak Dr. La Ode Alwi, S.P., M.P yang telah

memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk mengikuti

pendidikan di UHO..

3. Bapak Nur Asyik, SP., M.Si selaku Ketua Jurusan/Program Studi Ilmu dan

Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo dan Sekretaris Jurusan Ibu Mariani

L., S.P., M.Sc yang telah membimbing penulis selama mengikuti pendidikan.

4. Pembimbing Akademik yang sudah memberikan nasehat, bimbingan dan

dukungan dari semester awal hingga akhir semester.

5. Seluruh Dosen dan Staf lingkup Jurusan/Program Studi Ilmu dan Teknologi

Pangan, Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo yang mendukung penulis

dalam masa pendidikan.

6. Dewan penguji yang senantiasa mengarahkan penulis dalam penyusunan hasil

penelitian ini.

vi
7. Pegawai administrasi Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian

atas urusan Administrasi yang mendukung penulis dalam masa pendidikan.

8. Pemerintah daerah di lokasi penelitian.

9. Orang tua penulis Ayahanda Alm. Ridwan Lesmana dan Ibunda Nurdianti yang

telah melahirkan, membesarkan dan memberikan dukungan baik secara

mental dan finansial selama masa studi penulis.

10. Rekan-rekan Mahasiswa Jurusan Ilmu Teknologi pangan khususnya angkatan

ITP 2018 konsentrasi Manjemen Industri Pertanian yang tidak bisa penulis

sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu selama masa studi penulis.

11.Serta pihak-pihak lain yang bersangkutan dan memberi informasi dalam hasil

penelitian ini, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Penulis sangat berharap proposal penelitian ini dapat bermanfaat dalam

pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) terutama dalam

pengembangan Jurusan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pangan dimasa yang

akan datang. Semoga Allah subhana wata’ala senantiasa memberikan kepada

yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah membantu.

Kendari, Maret 2022

Penulis

vii
KATA PENGANTAR

Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas berkah,

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian

ini. Salam dan salawat kepada Rasulullah Muhammad SAW yang menjadi teladan

dalam menghantarkan kita selalu menuntut ilmu untuk bekal akhirat dan duniawi.

Proposal penelitian ini berjudul “Aplikasi Interpretative Structural Modelling

(ISM) Dalam Pengembangan Keripik Braokah Pada Sakala Industri Rumah

Tangga di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe”. Penyusunan hasil penelitian

ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak berupa saran, pembimbing, dan

bantuan dalam bentuk lain, maka penulis menyampaikan terima kasih kepada

semua pihak yang telah membantu menyelesaikan hasil penelitian ini. Penulis

mengucapkan banyak terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya

kepada ibu Dr. Sarinah, SP., M.Si sebagai Pembimbing I dan Ibu Dr. Rosmawaty,

SP., M.Si sebagai pembimbing II yang telah banyak membantu baik secara moral

maupun bimbingan, saran, kritik, nasehat, serta permohonan maaf atas segala

kesalahan penulis baik yang disengaja maupun tidak disengaja mulai awal

bimbingan sampai akhir bimbingan.

Kendari, Maret 2022

Penulis

viii
RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Heriyanto lahir di Asinua Provinsi sulawesi

Tenggara pada tanggal 11 April 2000. Penulis merupakan

anak ke 3 (tiga) dari 3 (tiga) bersaudara dari pasangan Bapak

Alm. H. Muh Hadiri dan Ibu Alm Rostina. Penulis besar dan

bersekolah di Kabupaten Konawe. Penulis menempuh

pendidikan formal di SDN 1 ASINUA pada tahun 2006 dan berhasil lulus pada

tahun tahun 2012. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMPN 1

UNAAHA dan lulus pada tahun 2015. Selanjutnya penulis melanjutkan

pendidikan di SMAN 1 UNAAHA dan berhasil lulus pada tahun 2018. Pada

tahun 2018, penulis diterima menjadi Mahasiswa jurusan Ilmu dan Teknologi

Pangan, Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo melalui jalur SMPTN.

Selama menempuh pendidikan di Universitas Halu Oleo penulis aktif di

organisasi Forum Insan Seni Pertanian (FISTA). Pada tahun 2022 penulis

melakukan penelitian dengan judul “Aplikasi Interpretative Structrural Modelling

(ISM) Dalam Pengembangan Keripik Barokah Pada Skala Industri Rumah

Tangga di Kecamatan Unaaha di Kabupaten Konawe” sebagai salah satu syarat

untuk memperoleh gelar sarjana pada jenjang S1 di jurusan Ilmu dan Teknologi

Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Halu Oleo.

ix
ABSTRAK

HERIYANTO (Q1A1 18 140). Aplikasi Interpetative Structural Modelling


(ISM) Dalam Pengembangan Keripik Barokah Pada Skala Industri Rumah
Tangga di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe. Di bawah bimbingan
SARINAH sebagai Pembimbing I dan ROSMAWATY sebagai Pembimbing II.

x
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL.................................................................................i
HALAMAN JUDUL....................................................................................ii
HALAMAN PERNYATAAN.....................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN......................................................................iv
UCAPAN TERIMA KASIH.......................................................................v
KATA PENGANTAR..................................................................................viii
RIWAYAT HIDUP......................................................................................x
ABSTRAK....................................................................................................xi
ABSTRACT...................................................................................................xii
DAFTAR ISI.................................................................................................xv
DAFTAR TABEL........................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR....................................................................................xvii
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................xvii

I.PENDAHULUAN......................................................................................1

1.1. Latar Belakang........................................................................................1


1.2. Rumusan Masalah...................................................................................5
1.3. Tujuan Penelitian....................................................................................5
1.4. Manfaat Penelitian..................................................................................6

II. TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................7


2.1. Deskripsi Teori.........................................................................................7
2.1.1. Keripik .............................................................................................7
2.1.2. Pengembangan Produk ....................................................................9
2.1.3. Metode Interpretative structural Modelling....................................10
2.2. Penelitian Terdahulu ..............................................................................17
2.3. Kerangka Pikir........................................................................................19

III. METODE PENELITIAN.....................................................................22


3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian..................................................................22
3.2. Bahan dan Alat........................................................................................22
3.3. Jenis Penelitian........................................................................................22
3.4. Subjek dan Objek ...................................................................................23
3.4.1. Subjek..............................................................................................23
3.4.2. Objek...............................................................................................23
3.5. Metode Pengumpulan Data.....................................................................23
3.5.1. Observasi...........................................................................................23
3.5.2. Wawancara........................................................................................24
3.5.3. Kuesioner..........................................................................................24
3.5.4. Dokumentasi.....................................................................................24

xi
3.6. Metode Analisis Data..............................................................................25
3.6.1.Analisis Deskriptif.............................................................................25
3.6.2. Interpretative Structural Modelling (ISM).......................................26

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................30

xii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1.1. Produktivitas Kakao di Selawesi Tenggara......................................3


2.1. Simbol-simbol dalam Causal Loop Diagram (CLD).......................17
3.1. Analisis Kebutuhan Agroindustri Kakao..........................................38
3.2. Formulasi Permasalahan Agroindustri Kakao..................................39

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Metodologi persiapan model ISM.....................................................11


2. Kerangka Pemikiran Penelitian..........................................................21
3. Tahapan Interpretative Structural Modelling (ISM).........................26

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Peta Lokasi Peneltian..............................................................................49


2. Kuesioner................................................................................................50

xv
1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara agraris yang sebagian besar penduduknya

bermata pencaharian sebagai petani. Sektor pertanian merupakan ujung tombak

bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembangunan

nasional dalam mencukupi kebutuhan pangan. Keberhasilan pembangunan di

sektor ini diharapkan dapat menjamin ketahanan pangan yang berakar pada

keragaman sumberdaya bahan pangan, kelembagaan, dan budaya lokal (Djalil,

2015).

Keripik merupakan makanan ringan atau camilan berupa irisan tipis yang

sangat populer di kalangan masyarakat karena sifatnya yang renyah, gurih, tidak

terlalu mengenyangkan dan tersedia dalam aneka rasa seperti asin, pedas dan

manis. Keripik memiliki sifat yang kering, sehingga lebih awet dan mudah

disajikan kapan pun, berbagai jenis keripik bisa dikonsumsi dengan cara yang

berbeda yaitu diantaranya keripik buah, sayur dan umbi. Keripik buah merupakan

camilan sehat yang terbuat dari bahan alami berupa buah-buahan segar. Kehadiran

keripik buah menjadi salah satu langkah untuk menciptakan produk kreasi yang

baru.( Sriyono, 2012).

Usaha Kecil Menengah (UKM) memiliki perananan penting dalam

perekonomian di Indonesia. UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam

jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99,6 persen dalam

penyerapan tenaga kerja. Salah satu bidang industri kecil yang paling pesat

perkembangannya adalah industri di bidang pangan (Soleh, 2018).


2

Industri Kecil dan Menengah (IKM) merupakan kekuatan strategis dan

penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. IKM memiliki peran penting

dalam penyediaan lapangan kerja, memberikan kontribusi signifikan terhadap

pertumbuhan ekonomi dan memeratakan pendapatan. Selain itu IKM juga

dianggap sebagai katup pengaman perekonomian nasional. Terbukti pada saat

periode krisis di Indonesia yang dimulai sejak tahun 1997, industri manufaktur

hanya tumbuh 5,3% bahkan mengalami kontraksi sebesar -11,4% pada tahun

1998. Pada masa itu industri besar mengalami penurunan jumlah yang signifikan,

sebaliknya industri kecil yang sebagian besar merupakan sektor non formal

malah mengalami peningkatan. Menurut Hamid 2005, pada saat krisis jumlah

Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Koperasi justru bertambah dari 99,8%

menjadi 99,9% dari pelaku usaha di Indonesia. Sumbangan terhadap PDB juga

naik dari 39,8% menjadi 59,36%. Menyadari betapa pentingnya peran IKM,

hampir semua pemerintah di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia

selalu berupaya menumbuh kembangkan IKM. Seperti dikatakan oleh Kuncoro

2007, bahwa pengembangan industri kecil adalah cara yang dinilai paling besar

peranannya dalam pengembangan industri manufaktur. Pengembangan industri

berskala kecil merupakan persemaian bagi pengembangan industri yang lebih

lanjut (Sandrina et al, 2015).

UKM (Usaha Kecil Menengah) sangat berperan penting dalam penggerak

perekonomian, walaupun UKM hanya memiliki tenaga kerja, asset, dan omzet

yang tergolong kecil, namun dengan jumlah yang besar membuat UKM ini

menjadi penunjang bagi perekonomian. Pentingnya UKM disadari begitu besar


3

ketika melihat ketahanan ekonomi UKM yang begitu besar saat ini (Purwidianti

dan Rahayu, 2017). Meski kontribusinya kuat, UKM tetap ada rentan terhadap

perubahan suasana ekonomi (Thamrin et al., 2017). Menurut Badan Pusat

Statistik (BPS) jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia

tahun 2020 mencapai 64 juta. Angka tersebut mencapai 99,9 persen dari

keseluruhan usaha yang beroperasi di Indonesia.

Perkembangan industri keripik buah menuntut pelaku usaha untuk terus

meningkatkan daya saing dari produk yang dihasilkannya di pasaran yang

kompetitif. Produksi industri pengolahan keripik buahh saat ini sebagian besar

masih tergantung pada permintaan pasar. Banyaknya UKM yang bergerak dalam

bidang yang sama dan memproduksi produk yang sama, mengharuskan UKM

dapat bersaing agar usaha yang dijalankan bertahan lama (Novia et al, 2021).

Salah satu industri rumah tangga yang memproduksi keripik adalah UKM

“Barokah” yang berlokasi di Tobeu Unaaha. Pada proses pengolahannya yang

dimulai dari penerimaan bahan baku, proses produksi dan produk akhir.

Pengembangan produk adalah salah satu faktor yang penting dalam proses daur

hidup produk di suatu industri (Jerrard et al., 2008). Perkembangan teknologi

yang semakin pesat mengharuskan suatu industri untuk dapat melakukan

perbaikan dan peningkatan nilai tambah produk agar produk yang dihasilkan

dapat diterima oleh pasar. Dalam proses pengembangan produk, terdapat empat

tahapan siklus hidup produk (perkenalan, pertumbuhan, kedewasaan, penurunan)

sepanjang masa hidup produk tersebut. Pengembangan produk yang dilakukan

oleh industri harus dapat mengikuti perkembangan pasar dan menyesuaikan


4

dengan kebutuhan konsumen sehingga dapat meminimalisir kegagalan produk

(Klintong et al., 2012). Selain itu, dengan melakukan kajian terhadap siklus hidup

produk memungkinkan suatu industri untuk melakukan inovasi dalam

memperkenalkan rancangan atau pengembangan produknya (Santoso, 2016)

Interpretative Structural Modeling (ISM) itu sendiri merupakan sebuah

proses pembelajaran interaktif yang menafsirkan bahwa keputusan kelompok

memutuskan apakah dan bagaimana item yang terkait secara structural

berdasarkan hubungan yang spesifik dan struktur keseluruhan digambarkan dalam

sebuah grafik. (Rasdan et al, 2013) memaparkan bahwa pendekatan ISM diawali

dengan identifikasi elemen yang sesuai dengan masalah atau isunya hingga

akhirnya dilakukan pembagian elemen-elemen dan ekstrasi struktur model. ISM

dapat digunakan untuk mengembangkan beberapa jenis struktur termasuk

pengaruh struktur (misalnya mendukung atau memperburuk), struktur prioritas

(lebih penting dari ‘atau’ akan dipelajari terlebih dahulu) dan kategori dari setiap

gagasan atau ide (misalnya mempunyai kategori yang sama atau sama dengan)

(Heumasse, 2014).

Berdasarkan pemaparan diatas, maka penelitian ini nantinya akan melihat

bagaimana aplikasi Interpretative Structural Modelling (ISM) dalam

pengembangan keripik “Barokah” dengan menggunakan pendekatan

Interpretative Structural Modeling (ISM) untuk memodelkan secara terstruktur.


5

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka permasalahan

yang dirumuskan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

1. Faktor-faktor apa saja yang mepengaruhi pengembangan keripik yang

menjadi prioritas (faktor kunci) dan faktor pendukung di UKM “Barokah” ?

2. Apa saja solusi yang disarankan dengan diketahuinya faktor kunci dalam

pengembangkan keripik di UKM “Barokah” ?

1.3. Tujuan Penelitian

Sesuai dangan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah

diuraikan sebelumnya, penelitian ini memiliki tujuan :

1. Untuk mengetahui faktor yang mepengaruhi pengembangan keripik yang

menjadi prioritas (faktor kunci) dan faktor pendukung di UKM “Barokah”.

2. Untuk mengetahui solusi disarankan dengan diketahuinya faktor kunci dalam

pengembangkan keripik di UKM “Barokah”.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi berbagai pihak, yaitu :

1. Bagi penulis, untuk menerapakan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh

penulis dimasa perkuliahan, serta sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Teknologi Pertanian di Universitas Halu Oleo.


6

2. Bagi lembaga pemerintahan, hasil penelitian ini sebagai bahan masukan dan

informasi yang terkait dengan kebijakan pengembangan Usaha Kecil

Menengah berbasis pertanian.

3. Bagi pemilik usaha, hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan untuk menentukan strategi yang tepat dalam pengembangan

usaha.

4. Bagi pihak lain, memberikan informasi sebagai referensi bagi pembaca

maupun peneliti dalam dalam melakukan penelitian dengan topik

permasalahan yang berkaitan dengan penelitian yang serupa.


7

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keripik

Keripik adalah sejenis makanan ringan berupa irisan tipis dari umbi-

umbian, buah-buahan, atau sayuran yang digoreng di dalam minyak nabati. Untuk

menghasilkan rasa yang gurih dan renyah biasanya dicampur dengan adonan

tepung yang diberi bumbu rempah tertentu. Adonan tepung ini akan melapisi buah

atau sayur atau umbi-umbian yang digoreng sehingga selain menghasilkan tekstur

yang crispy juga menghasilkan rasa dan aroma khas.

Hasil olahan bahan pangan seperti buah, sayur, dan umbi-umbian menjadi

keripik merupakan suatu penanganan produk yang semakin berkembang di

masyarakat, khususnya bagi negara-negara maju yang masyarakatnya cenderung

memiliki pola hidup sehat. Mereka cenderung memilih makanan yang

mengandung serat yang banyak dan praktis sehingga camilan sehat seperti keripik

dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Umumnya, banyak jenis keripik di masyarakat yang dianggap sebagai

kerupuk. Hal tersebut disebabkan oleh kebiasaannya masyarakat menyebut produk

olahan jenis keripik sebagai kerupuk. Perbedaan yang sangat mendasar dari kedua

jenis produk pangan ini adalah bahan pengisi berpati yang dicampur dengan bahan

baku dan cara pengolahan bahan bakunya. Pada proses atau cara pengolahan

keripik, bahan baku tidak dihancurkan dan dicampur dengan bahan pengisi

berpati, melainkan bahan baku hanya diiris tipis atau dipotong kemudian langsung

digoreng tanpa proses pengeringan atau diberi adonan tepung yang tipis menutupi
8

permukaan bahan sebelum digoreng. Perbedaan yang sangat mendasar ini ditandai

pula dengan produk akhir dari keripik maupun kerupuk (Jamaluddin, 2018).

Keripik pisang adalah produk makanan ringan yang dibuat dari irisan buah

pisang dan digoreng, dengan atau tanpa bahan tambahan makanan yang diizinkan

(SNI 01-4315-1996). Buah pisang yang akan dibuat menjadi keripik dipilih yang

matang, dipilih jenis pisang olahan seperti pisang kepok, tanduk, nangka, kapas

dan jenis pisang olahan lainnya. Manfaat pengolahan pisang menjadi keripik

pisang adalah untuk memberikan nilai tambah dan memperpanjang kemanfaatan

buah pisang, selain itu keripik pisang juga memiliki nilai gizi yang cukup tinggi

sehingga baik untuk dijadikan camilan (Haryanto et al, 2013). Keirpik ubi adalah

sejenis makanan ringan berupa irisan tipis dari umbi-umbian yang mengandung

pati. Biasanya kripik singkong melalui tahap penggorengan, tetapi ada pula yang

hanya melalui penjemuran, atau pengeringan. Keripik singkong dapat berasa

domianan, asin, pedas, manis, gurih, atau paduan dari semuanya (Valentina,

2009).

2.2. Pengembangan Produk

Era persaingan industri yang semakin kompetitif menuntut setiap pelaku

usaha untuk secara cermat melakukan berbagai upaya produktif, salah satunya

melakukan pengembangan produk (Machyudi, 2009). Jumlah pesaing yang makin

meningkat dan adanya perubahan selera pasar yang tinggi menuntut perusahaan

agar dapat melakukan inovasi produk secara kreatif.

Pengembangan produk merupakan salah satu faktor yang penting dalam

proses daur hidup produk di suatu industri. Perkembangan teknologi yang


9

semakin pesat mengharuskan suatu industri untuk dapat melakukan perbaikan dan

peningkatan nilai tambah produk agar produk yang dihasilkan dapat diterima oleh

pasar. Dalam proses pengembangan produk, terdapat empat tahapan siklus hidup

produk (perkenalan, pertumbuhan, kedewasaan, penurunan) sepanjang masa hidup

produk tersebut. Pengembangan produk yang dilakukan oleh industri harus dapat

mengikuti perkembangan pasar dan menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen

(consumer need) sehingga dapat meminimalkan kegagalan produk.

Pengembangan produk harus lebih baik agar dapat meningkatkan keunggulan,

aliran kas, volume penjualan dari perusahaan. Apabila pengembangan produk

tidak dapat memenuhi selera dan keinginan konsumen, maka bisa menjadi

persoalan serius bagi perusahaan karena konsumen tidak akan membelinya

(Santoso, 2016).

2.3. Metode Interpretative Structural Modelling (ISM)

Interpretive Structural Modeling (ISM) pertama kali dikenalkan oleh J.

Warfield pada tahun 1975 yang digunakan sebagai analisa system kompleksitas

yang cukup tinggi dan saling berinteraksi (Mohammed et al, 2008). Metodologi

ISM adalah sebuah proses pembelajaran yang interaktif dimana sekumpulan dari

elemen-elemen disusun dalam model system yang komprehensif. (Phohl et al,

2011) ISM merupakan suatu teknik dalam permodelan deskriptif yang merupakan

alat strukturisasi suatu hubungan.

ISM digunakan untuk menganalisis elemen-elemen system dan

memecahkannya dalam bentuk grafik dari hubungan langsung antar elemen dan
10

tingkat hierarki. Dimana elemennya merupakan tujuan kebijakan, target, faktor

penilaian yang memiliki hubungan langsung antar elemen.

1. Identifikasi elemen-elemen yang relavan untuk isu atau masalah

2. Penetapan hubungan kontekstual antar elemen-elemen


yang teridentifikasi

3.Pengembangan interaksi SSIM

4. pengembangan reachability matrix

6. penyusunan driver power dan 5. transformasi matrix reachability


dependence untuk setiap elemen ke bentuk triangular bawah

8. persiapan matriks driver 7. persiapan diagraph dari


power dan dependence matriks triangular bawah

10. klasifikasi elemen-elemen ke 9. persiapan model


dalam empat seksi yaitu:
autonomous, dependent, linkage,
dan independent

11. penetapan aksi hierarkis yang diambil


untuk memecahkan isu atau masalah

Gambar 2.1 Metodologi persiapan model ISM


Sumber : Darmawan, 2017

Langkah-langkah menggunakan model ISM sebagai berikut:

a. Identifikasi elemen dan sub elemen melalui brainstorming, dll


11

Elemen system dilakukan identifikasi dan didaftar yang diperoleh dari

penelitian, brainstorming.

b. Perumusan hubungan Konstektual

Merupakan sebuah hubungan kontekstual antar elemen yang dibangun

berdasarkan pendekatan.

c. Perumusan Matrik Interaksi Tunggal Terstruktur SSIM (Stuctural Self

Interaction Matrix) melalui survey pakar. Berdasarkan data perumusan hubungan

dimasukan kedalam SSIM dengan melakukan konversi angka menjadi huruf yang

menyatakan hubungan kategori berdasarkan system VAXO, yaitu:

- V jika Eij = 1 dan Eji = 0; adanya variabel i mencapai / memicu adanya variabel j,

tidak sebaliknya.

- A jika Eij = 0 dan Eji = 1; adanya variabel i dicapai / dipicu dengan adanya

variable j, tidak sebaliknya

- X jika Eij = 1 dan Eji = 1; variabel i dan variabel j saling memicu untuk tercapai

(hubungan interelasi), dapat sebaliknya.

- O jika Eij = 0 dan Eji = 0; variabel i dan variabel j tidak berhubungan atau

berkaitan. Nilai 1 yang berari terdapat hubungan kontektual antar eleman ke- i dan

elemen ke- j, sedangkan Eij = 0 berarti tidak ada hubungan kontektual antara

elemen ke-i dengan elemen ke-j

d. Melakukan perubahan matrik SSIM (Stuctural Self Interaction Matrix) menjadi

Matrik Reachability (Reachability Matrix / RM) dan kemudian menjadi matrik

biner.
12

Berdasarkan tabel SSIM dibuatlah tabel RM dengan mengubah V, A, X

dan O menjadi bilangan 1 dan 0. Matriks tersebut kemudian dikoreksi menjadi

matrik tertutup yang memenuhi aturan transtivity. Klasifikasi sub elemen

mengacu pada hasil olahan RM yang telah memenuhi aturan transtivitas dan

didapatkan nilai Driver-Power (DP) dan nilai Dependence (D) untuk menentukan

klasifikasi sub elemen. Aturan-aturan konversi:

- Jika hubungan Ei terhadap Ej = V dalam SSIM, maka elemen E ij = 1 dan Eji = 0

dalam RM

- Jika hubungan Ei terhadap Ej = A dalam SSIM, maka elemen E ij = 0 dan Eji =1

dalam RM

- Jika hubungan Ei terhadap Ej = X dalam SSIM, maka elemen Eij = 1 dan Eji = 1

dalam RM

- Jika hubungan Ei terhadap Ej = 0 dalam SSIM, maka elemen E ij = 0 dan Eji = 1

dalam RM

Nilai RM awal dilakukan modifikasi untuk menunjukan seluruh direct dan

indirect reachability yaitu Eij = 1 dan Ejk = 1 maka Eik =1

e. Klasifikasi elemen dalam level berjenjang

Tujuan klasifikasi yaitu dua perangkat diasosiasikan dengan elemen E i dari

System Reachability Set (Ri).Dimana sebuah set dari seluruh elemen yang dicapai

dari elemen Ei dan Antecendent Set (Ai) yang merupakan sebuah set dari seluruh

elemen dimana elemen Ei dapat dicapai. Interasi pertama seluruh elemen Ri = Ai

merupakan elemen level 1. Pada interaksi berikutnya elemen diidentifikasi seperti

elemen baru diseleksi untuk level berikutnya dengan menggunakan aturan yang
13

sama dan selanjutnya seluruh elemen system dikelompokan ke dalam level-level

yang berbeda.

f. Matrik Canonical: pengelompokan elemen-elemen dalam level yang sama.

Matrik ini dilakukan dengan menurutkan RM sesuai dengan hasil

penyekatan RM, dimana urutan kolom dimulai dari elemen pertama pada level.

g. Menyusun matrik diagram: dengan konsep directional graph dan sebuah grafik

dari elemen-elemen yang saling berhubngan dalam suatu level hirarki.

h. ISM (Interpretive Structural Modeling), dilakukan dengan pemindahan seluruh

jumlah elemen dengan deskripsi elemen actual. ISM memberikan gambaran yang

jelas mengenai elemen elemen system dan alur berikutnya.

Metodologi dan Teknik ISM dibagi menjadi penyusunan hirarki dan

klasifikasi sub elemen dengan prinsip dasarnya dari struktur didalam suatu system

yang memberikan nilai manfaat dalam pengambilan keputusan. Teknik ISM

memberikan basis analisis yang memberikan informasi sangat berguna dalam

formulasi kebijakan dalam perencanaan strategis (Eriyanto, 2003)

Menurut (Saxena, 1992) program dapat dibagi menjadi Sembilan elemen,

yaitu:

a. Sektor masyarakat yang terpengaruh

b. Kebutuhan dari program

c. Kendala utama

d. Perubahan yang dimungkinkan

e. Tujuan dari program

f. Tolak ukur dalam mencapai tujuan


14

g. Aktivitas yang diperlukan dalam perencanaan

h. Ukuran aktivitas yang digunakan untuk mengevaluasi hasil dari setiap aktivitas

i. Lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program

Penyusunan elemen dilakukan melalui proses pengelompokan yang tepat,

dimana jenis elemen yang ditetapkan yaitu:

a. Pernyataan atas tujuan

b. Usulan

c. Parameter

d. Tolak ukur suatu system

e. Nilai

f. Permasalahan, peluang dan penyebab

g. Aktivitas

Dari setiap elemen yang dikaji dijabarkan menjadi sejumlah sub elemen

untuk ditetapkan hubungan konstektual antara sub elemen yang terkandung

adanya suatu pengarahan (direction) dalam terminology sub ordinat untuk melihat

perbandingan berpasangan, seperti “ apakah tujuan A lebih penting dari tujuan B”

dengan melakukan penggambaran keterkaitan antar sub elemen atau tidaknya

hubungan konstektual pada matriks perbandingan berpasangan menggunakan

symbol V, A, X, O.

Klasifikasi sub elemen mengacu dari hasil olahan RM yang memenuhi

aturan transitivitas yaitu didapatkan nilai Driver Power (SP) dan nilai Dependence

(D) untuk menentukan klasifikasi sub elemen. Klasifikasi sub elemen dibagi

menjadi 4
15

bagian, yaitu:

a. Sektor 1 : weak driver – weak dependent variabel ( autonomous)

Sub elemen yang masuk dalam sektor 1 ini tidak memiliki keterkaitan

dengan system sehingga memungkinkan sedikit hubungan. Sub elemen yang

masuk dalam sektor ini jika nilai DP = 0,5 X dan nilai D = 0,5 X adalah jumlah

sub elemen.

b. Sektor 2: weak driver – strongly dependent variabel ( dependent )

Sub elemen yang termasuk dalam sektor 2 adalah elemen yang tidak

bebas yaitu jika nilai DP = 0,5 X dan nilai D > 0,5 X adalah jumlah sub elemen.

c. Sektor 3: Strong driver – strongly dependent variabel (linkage)

Sub elemen yang termasuk dalam sektor 3 harus dilakukan pengkajian

secara hati-hati karena hubungan antar sub elemen tidak stabil dan memberikan

dampak antar sub elemen. Sub elemen yang masuk didalam sektor ini jika nilai

DP > 0,5 X dan nilai D > 0,5 X adalah jumlah elemen.

d. Sektor 4: strong driver – weak dependent variable (independent)

Sub elemen yang termasuk dalam sektor 4 merupakan bagian sisa dari

system jika nilai DP > 0,5 X dan nilai D < 0,5 X adalah jumlah sub elemen.

2.4. Penelitian Terdahulu

Heumasse et al (2014) dengan judul “Desain Kebijakan Pulau Harapan

Dalam Pengembangan Wisata Bahari Dengan Menggunakan Interpretative

Structural Modelling”. Metode analisis yang digunakan adalah Interpretative


16

Structural Modelling (ISM). Analisis ISM bertujuan untuk mengkaji alternatif-

alternatif yang dapat dipilih dalam pengembangan wisata bahari Pulau Harapan

Kesimpulan yang didapatkan yaitu desain kebijakan Pulau Harapan dalam

pengembangan wisata bahari dengan menggunakan Interpretative Structural

Modeling adalah elemen lembaga yang membuat sebuah program, agar program

tersebut mampu meminimalisir elemen kendala sehingga pengaruh dari sektor

masyarakat mencapai tujuan program yang dapat meningkatkan pengembangan

wisata bahari Pulau Harapan.

Widiyati et al (2009) dengan judul “Analisis Faktor Penting Dalam

Pengelolaan Perikanan Budidaya Di Keramba Jaring Apung Berkelanjutan

Dengan Metode Interpretative Structural Modelling (ISM) Di Waduk Cirata,

Jawa Barat”. Metode analisis yang digunakan adalah Interpretative Sructural

Modelling analisis ini bertujuan untuk menganalisis faktor penting yang

berpengaruh dalam pengelolaan perikanan budidaya di keramba jaring apung

secara berkelanjutan. Hasil penelitian terdapat 3 faktor penting yang

mempengaruhi keberhasilan dalam pengelolaan perikanan budidaya di keramba

jaring apung secara berkelanjutan. Tiga faktor penting tersebut adalah faktor

tujuan program, kebutuhan progam dan lembaga yang berperan.

Idrastuti dan Dahniar (2019) dengan judul “Analisis Faktor Kendala

Inovasi Ikan Terbang Asap (Hirundichthys Oxycephalus) Pada UKM Di

Kabupaten Majene” Metode analisis yang digunakan adalah (Interpretative

Structural Modelling) yang bertujuan untuk menganalisis elemen kendala inovasi

ikan terbang asap pada UKM di Kabupaten Majene, kemudian menentukan faktor
17

kunci atau elemen kunci dari kendala yang dihadapi dalam masalah inovasi ikan

terbang asap. Kesimpulan yang didapatkan menunjukkan 12 faktor kendala

inovasi ikan terbang asap yaitu kurangnya kompetensi SDM (7), dan kurangnya

pemahaman manajemen usaha (10), adanya sistem nilai dan budaya (P8),

Teknologi yang dianut oleh pelaku UKM (P5) merupakan faktor kunci dalam

elemen kendala berada pada sektor IV (Independent).

Rizal et al (2019) dengan judul “Model Pengelolaan Optimal Pangkalan

Pendaratan Ikan Meulaboh Aceh Barat Berbasis Interpretative Structural

Modeling (ISM)”. Metode analisis yang digunakan adalah (Interpretative

Structural Modelling) yang bertujuan untuk untuk menentukan elemen kunci dari

pengelolaan PPI yang optimal di Barsela Aceh. Kesimpulan yang didapatkan

Status berkelanjutan KUB menunjukkan bahwa menurut aspek lembaga, dan

kebijakan dikategorikan kurang berkelanjutan. Atribut yang berpengaruh pada

aspek lembaga adalah: kualitas sumber daya manusia, intensitas pembinaan,

efektif PPTK dan tingkat pemanfaatan akses informasi. Serta aspek kebijakan:

peraturan sanksi bagi KUB fiktif, sinkronisasi program pemberdayaan nelayan

dan aturan sanksi KUB yang melanggar .

Sianipar (2012) dengan judul “Penerapan Intrepretative Structural

Modeling (ISM) Dalam Penentuan Elemen Pelaku Dalam Pengembangan

Kelembagaan Sistem Bagi Hasil Petani Kopi dan Agroindustri Kopi”. Metode

analisis yang digunakan adalah (Interpretative Structural Modelling) analisis ini

bertujuan untuk untuk mendapatkan pelaku-pelaku kunci dalam pengembangan

kelembagaan sistem bagi hasil antara petani kopi dan agroindustri kopi.
18

Kesimpulan yang didapatkan adalah lembaga yang berperan kunci untuk

mendorong keberhasilan sistem manajemen bagi hasil dari hasil ISM adalah

fasilitator dan agroindustri. Pelaku lain yang juga mempunyai daya dorong tinggi

untuk mendorong berjalannya sistem bagi hasil berturut-turut adalah pedagang

pengumpul, lembaga keuangan dan bank, eksportir dan pemerintah daerah.

Kelima elemen pelaku ini berada pada sektor independent sehingga mempunya

daya dorong besar terhadap sistem walaupun tidak tergantung pada sistem. Pelaku

yang tergantung pada sistem adalah petani, pemerintah pusat, kelompok tani,

perguruan tinggi dan lembaga litbang. Keempat pelaku yang berada pada sektor

ketergantungan ini akan terlibat dalam sistem bagi hasil bila pelaku lainnya telah

berpartisipasi dalam mendorong berjalannya sistem bagi hasil.

2.3. Kerangka Pikir

Tahapan penelitian dimulai dengan melakukan survei pada UKM

“Barokah”. survei ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan yang akan

diangkat jadi topik penelitian. Survei ini dilakukan untuk mengetahui kondisi

sebenarnya pada UKM “Barokah” sehingga dapat digunakan dalam perumusan

masalah. Permasalahan yang terdapat pada UKM “Barokah” terdiri dari beberapa

faktor. Studi literatur dilakukan untuk mencari referensi-referensi dan teori yang

mendukung penelitian. Dalam mengidentifikasi permasalahan menggunakan

metode Interpretative Structural Modelling (ISM) untuk menentukan faktor-

faktor yang mempengaruhi pengembangan kripik, menentukan hubungan relasi

kontekstual dalam hal ini diolah dengan menggunakan software ISM professional

V.2.0 dalam program membuat SSIM dengan melakukan konversi V, A, X, O.


19

Kemudian dilanjutkan membuat reachability matrix berdasarkan hasil konversi V,

A, X, O serta membentuk level partionnya untuk mengurutkan elemen yang

sesuai dengan level yang dihasilkan. Kemudian dalam model ISM untuk

memeriksa conceptual inconsistency dan membuat modifikasi yang diperlukan

dalam memenuhi pengembangan UKM ‘Barokah” di Kelurahan Tobeu

Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe. Kerangka pemikiran penelitian ini dapat

dilihat pada Gambar 2.

UKM Barokah

Identifikasi permasalahan

Aplikasi Interpretative Structural


Modelling (ISM) dalam pengembangan
UKM ‘Barokah”

Pengidentifikasian elemen dan sub-elemen dengan


metode Interpretative Sructural Modelling (ISM)
20

Analisis pengembangan keripik


barokah dengan metode Interpretative
Structural Modelling (ISM):
1.pelaku
2. kendala
3.kebutuhan
4.tujuan

Analisis dan hasil pengembangan

Model ISM

Hasil Interpretative Structural Modelling


(ISM) dalam pengembangan UKM
‘Barokah”

Gambar 2.2 Kerangka pemikiran penelitian


21

III. METODE PENELITIAN


3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-oktober 2021 di UKM

Barokah, alamat Jl. Bunga Mawar, Kelurahan Tobeu, Kecamatan Unaaha,

Kabupaten Konawe. Pemilihan dilakukan dengan sengaja (purposive) dengan

mempertimbangkan bahwa UKM “Barokah” merupakan salah satu unit usaha

yang menghasilkan makanan ringan berupa keripik di wilayah Konawe, dan

berencana untuk meningkatkan usahanya.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kusioner, perangkat keras

komputer serta berbagai perangkat lunak yang compatible salah satunya dengan

menggunakan bantuan Software ISM Run . Bahan yang digunakan adalah data

primer yang diperoleh dari hasil wawancara dan data sekunder dari hasil telaah

pustaka dan penulusuran data pada instansi terkait.

3.3. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian survei (survey research) yaitu suatu

penyelidikan yang dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala yang ada

dan mencari keterangan secara faktual untuk mendapatkan kebenaran. Sumber

data penelitian ini adalah data primer yaitu dilakukan dengan teknik wawancara

dan melakukan observasi lapangan. Dalam hal ini, peneliti melakukan wawancara

(interview) dengan para pakar tentang apliksi pengembangan keripik. Sedangkan

data sekunder adalah studi literatur berupa pengumpulan jurnal, artikel, peneitian
22

terdahulu maupun tulisan lainnya yang mendukung pengolahan data pada

penelitian ini.

3.4 Subjek dan Objek

3.4.1. Subjek

Subjek penelitian adalah pihak-pihak yang teribat dalam penelitian. Dalam

hal ini mereka yang bertindak sebagai pemberi informasi yang berhubungan

dengan penelitian yang dilakukan (Wiyandani, 2008). Subjek penelitian ini adalah

para pakar dengan metode Interpretative Structural Modelling (ISM) yang

ditentukan menggunakan purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel

dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2010). Dengan memperhatikan

pengetahuan responden tentang UKM “Barokah”.

3.4.2. Objek

Objek penelitian ini adalah sesuatu yang menjadi pokok pembicaraan

dalam penelitian (Wiyandani, 2008). Objek penelitian ini adalah UKM

“Barokah”.

3.5. Populasi dan Sampel

pada penelitian ini dilakukan pada UMKM Barokah yang terletak di daerah

unaaha. Penelitian ini di lakukan pada stakeholder pelaku dalam penelitian

sebagai pakar/para ahli.

3.6. Variable dan Definisi Operasional


23

pada penelitian ini variabel yang digunakan yaitu faktor yang

memepengaruhi pengembangan keripik Barokah.dimana faktor tersebut menjadi

elemen dan sub elemen yang yang diberikan pembobotan berdasarkan pakar untuk

membuat struktur dan matrik pada permasalahan diatas.

3.7. Metode Pengumpulan Data

3.7.1. Observasi

Menurut Nasution (2005) observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan.

Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia

kenyataan yang diperoleh dari observasi. Menurut Fatoni (2011) observasi adalah

teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui sesuatu pengamatan, dengan

disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran.

Observasi ini dilakukan di UKM Barokah Kelurahan Tobeu Kecamatan Unaaha

Kabupaten Konawe.

3.7.2. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik yang tepat dugunakan untuk

mengumpulkan data penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa

wawancara (interview) adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara

pewawancara (interviewer) dan sumber informasi atau orang yang diwawancarai

(interview) melalui komunikasi langsung (Yusuf, 2014).

3.7.3. Kuesioner
24

Pengambilan data dengan kuesioner dilaksanakan dengan memberikan

daftar pertanyaan kepada objek penelitian yang bertujuan untuk menggali

informasi tentang topik yang dikaji. Menurut Iskandar (2008) kuesioner

merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu pasti variabel

yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden.

3.7.4. Dokumentasi

Menurut Suharsimi dalam Sena (2011) metode dokumentasi adalah surat

kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Data yang berupa

seperti dokumen dapat dipakai untuk menggali sebuah informasi yang terjadi

pada masa yang sudah berlalu. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoritik untuk

memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekedar barang yang tidak

bermakna. Dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan fakta-fakta yang terjadi

pada UKM Barokah di Kelurahan Tobeu Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe.

3.8. Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara analisis

kulitatif dan kuantitatif. Metode pengolahan data kualitatif ini menggunakan

analisis deskriptif dan metode pengolahan data kuantitatif menggunakan metode

Interpretative Structural Modelling (ISM).


25

3.8.1. Analisis Deskriptif

Data dan informasi yang telah diperoleh dalam tahap pengumpulan data

akan diolah terlebih dahulu. Tujuan dari pengolahan data adalah

menyerderhanakan seluruh data yang terkumpul dari hasil pengisian kuesioner,

menyajikan dalam dalam susunan yang rapi dan baik untuk kemudian dianalisis.

Data yang sudah diperoleh akan dianalisis secara dekriptif (Prastowo, 2016).

Metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk meneliti

status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondsi, sautu sistem pemikiran,

ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang (Prastowo, 2016). Metode

analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui dan mendeksripsikan aplikasi

Interpretative Structural Modelling (ISM) dalam pengembangan keripik

“Barokah” pada skala industri rumah tangga di Kecamatan Unaaha Kabupaten

Konawe.

3.8.2. Interpretative Sructural Modelling (ISM)

Berdasarkan beberapa faktor pengembangan yang ada di penelitian ini

nantinya dilanjutkan dengan melihat hubungan dengan bantuan model

Interpretative Structural Modeling model ISM digunakan sebagai tool untuk

melihat pengembangan keripik yang dilakukan

3.8.2.1. Strukturisasi Permasalahan

Dalam menstrukturkan permasalahan-permasalahan yang masih dihadapi

oleh UMKM Barokah dengan menggunakan metode interpretative structrural

modelling (ISM). Metode ISM merupakan metode deskriptif yang merupakan alat
26

strukturisasi untuk suatu hubungan langsung. Langjah identifikasi permasalahan

dengan dengan metode ISM dibagi menjadi 7 tahap yaitua:

1. Identifikasi elemen-elemen

Elemen-elemen sistem dan sub elemen sistem didentifikasi dan didaftar.

Kegiatan pada tahap ini dapat dilakukan melalui pengamatan, penelitian,

brainstorming dan studi literatur.

2. Penetapan hubungan kontekstual antar elemen

Menetapkan hubungan kontekstual antar elemen atau sub elemen

ditetapkan sesuai dengan tujuan permodelan. Hubungan kontekstual antar elemen

ini menggunakan simbol V, A, X, dan O, dimana:

a. Simbol V untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah

ditetapkan antara elemen Ei terhadap elemen Ej, tetapi tidak sebaliknya.

b. Simbol A untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah

ditetapkan antara elemen Ej terhadap elemen Ei, tetapi tidak sebaliknya.

c. Simbol X untuk menyatakan adanya hubungan kontekstual yang telah

ditetapkan secara timbal balik antara elemen Ei terhadap elemen Ej.

d. Simbol O untuk menyatakan tidak adanya hubungan kontekstual yang telah

ditetapkan antara elemen Ei terhadap elemen Ej.

3. Pembentukan Structural Self Interaction Matrix (SSIM)

Hubungan kontekstual tersebut disusun dalam suatu matriks yang disebut

dengan matriks Structural Self Interaction Matrix (SSIM). Matriks ini merupakan

hasil presepsi responden atau pakar terhadapa hubungan kontekstual antar elemen.
27

4. Pebentukan Reachability Matrix (RM)

Setelah SSIM terbentuk, kemudian tabel Reachability Matrix (RM) yaitu dengan

mengkonversi simbol V, A, X, dan O menjadi bilangan biner 1 dan 0. Aturan

konversi dari SSIM menjadi RM adalah:

a. Jika simbol dalam SSIM adalah V, maka nilai E ij = 1 dan nilai Eij = 0

dalam RM.

b. Jika simbol dalam SSIM adalah A, maka nilai E ij = 0 dan nilai Eij = 1

dalam RM.

c. Jika simbol dalam SSIM adalah X, maka nilai E ij = 1 dan nilai Eij = 1

dalam RM.

d. Jika simbol dalam SSIM adalah O, maka nilai E ij = 0 dan nilai Eij = 0

dalam RM.

Matriks RM awal perlu dimodifikasi untuk menunjukan direct dan indirect

reachability, yaitu kondisi dimata jika Eij = 1 Ejk = 1, maka Eik = 1. Eij adalah

hubungan kontekstual antara elemen Ei terhadap elemen Ej.

5. Pembuatan level partitioning

Elemen-elemen diklasifikasikan kedalam level yang berbeda dari struktur ISM

yang akan dibentuk. Berdasarkan hal tersebut, dua perangkat diasosiasikan dengan

setiap elemen dalam sistem, yaitu:

a. Reachability set (Ri) yang merupakan set elemen-elemen yang dapat

dicapai oleh elemen Ei.

b. Atecendent set (Ai) yang merupakan set elemen-elemen dimana elemen E i

dapat dicapai.
28

6. Membuat diagram ISM

dari matriks RM yang telah dimodifikasi didapat nilai driver power (DP) dan nilai

Dependence (D). Berdasarkan kedua nilai tersebut, elemen-elemen dapat

diklasifikasikan kedalam 4 sektor, yaitu

Identifikasi variabel

Establishing
contextual
relationship (Xi,j)
between relationship
variabels (I,j)

Membuat Structural
Self Interaction
Matrix (SSIM)

Mebuat Reachibility
Matrix

Membuat transitivity

Level Partion

Model ISM

Gambar 3.3 Tahapan Interpretative Structural Modelling (ISM)

Sumber: Ghafiqie, 2011


29

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Tinjauan perusahaan

UMKM Barokah merupakan salah satu UMKM yang berada di kota

unaaha yang bergerak di bidang keripik. UMKM ini berkembang sejak tahun

2004 hingga sekarang. UMKM Barokah memproduksi beberapa jenis keripik

antara lain keripik pisang, keripik singkong, dan keripik makaroni. Namun untuk

produk keripik singkong yang dikenal oleh masyarakat sekitar dibuktikan dengan

penjualan produk tersebut yang banyak diminati.

Selama perkembangnnya, UMKM Barokah dalam proses pemasarannya

berupa penjualan yang masih menggunakan cara sederhana yaitu memprioritaskan

pemesanan dari pelanggan serta menyimpan pada supermarket yang berada di

wilayah kota unaaha.

4.2. Pengumpulan Data

4.2.1. Identifikasi Elemen

Penentuan elemen dapat dilakukan melalui pengamatan secara langsung,

kemudian dilakukan proses wawancara dengan pihak UMKM. Adapun proses

identifikasi elemen merupakan tahapan yang dilakukan untuk mengetahui elemen-

elemen yang dianggap penting. Terdapat 4 elemen dengan keseluruhan sub

elemen 25 serta pertanyaan mengenai keterkaitan pengembangan kerioik Barokah.

hasil identifikasi elemen berdasarkan wawancara terhadap UMKM dapat dilihat

pada tabel 4.1 sampai 4.5.


30

Tabel 4.1 Identifikasi Pelaku

No Elemen pelaku
1 Petani
2 Pedagang
3 Konsumen
4 Indsutri terkait
5 Dinas koperasi dan UMKM
6 Lembaga keuangan
7 Dinas perindustrian dan perdagangan

Tabel 4.2 Identifikasi Kendala

Elemen kendala
No
1 Lemahnya sistem kelembagaan
2 Lemahnya industri terkait dalam mengakses modal pada lembaga
keuangan
3 Lemahnya jaringan dan kerja sama yang saling mendukung di antara
pengusaha
4 Kurang adanya dukungan pemerintah dalam pengembangan
5 Rendahnya pendidikan dan keterampilan

Tabel 4.3 Identifikasi Kebutuhan

No Elemen kebutuhan
1 Pembinaan pelaku usaha
2 Jaminan permodalan
3 Dukungan pemerintah
4 Jaminan kualitas
5 Jaminan kuantitas
6 Ketersediaan alat
31

Tabel 4.4 Identifikasi Tujuan

Elemen tujuan
1 Meningkatkan pangsa pasar
2 Memperluas lapangan kerja
3 Meningkatkan keterampilan SDM
4 Meningkatkan pendapatan petani
5 Meningkatkan mutu keripik
6 Meningkatkan diversifikasi produk
7 Meningkatkan pendapatan daerah

4.2.2. Hasil Analisis Metode Interperetative Structural Modelling (ISM)

Pada bagian ini setelah pakar mengisi kuesioner maka peneliti melakukan

konversi jawaban dari kuesioner VAXO kedalam table hasil kuesioner yang

selanjutnya dilakukan pembuatan matrik Structural Self Interaction Matrix.

Tahapan tersebut dilakukan dengan bantuan software ISM Run Berikut ini tabel

analisis kuesioner menggunakan Interpretative Structural Modelling berdasarkan

pakar:

4.2.2.1.

Tabel 4.5 Structrural Self Interaction Matrix (SSIM) awal elemen pelaku

7 6 5 4 3 2 1
1 V O O X V X
2 V O V X X
3 O V O X
4 X X X
5 X X
6 X
7
32

Tabel 4.6 Structrural Self Interaction Matrix (SSIM) awal elemen kendala

5 4 3 2 1
1 X X X X
2 X X X
3 X X
4 X
5

Tabel 4.7 Structrural Self Interaction Matrix (SSIM) awal elemen kebutuhan

6 5 4 3 2 1
1 X X X V X
2 X X X X
3 X X V
4 A V
5 X

Tabel 4.8 Structrural Self Interaction Matrix (SSIM) awal elemen tujuan

7 6 5 4 3 2 1
1 V X X V A X
2 X X A X X
3 X X V X
4 X X X
5 X X
6 X
7

Berdasarkan tabel 5 diatas dapat diketahui bahwa hasil SSIM ini

merupakan olahan dari pakar yang telah dikonversi menggunakan software ISM.

Tabel 4.9 Reachability Matrix (RM) elemen pelaku

1 2 3 4 5 6 7
1 1 1 1 1 0 0 1
2 1 1 1 1 1 0 1
3 0 1 1 1 0 1 0
4 1 1 1 1 1 1 1
5 0 0 0 1 1 1 1
6 0 0 0 1 1 1 1
7 0 0 0 1 1 1 1
33

Tabel 4.10 Reachability Matrix (RM) elemen kendala

1 2 3 4 5
1 1 1 1 1 1
2 1 1 1 1 1
3 1 1 1 1 1
4 1 1 1 1 1
5 1 1 1 1 1

Tabel 4.11 Reachability Matrix (RM) elemen kebutuhan

1 2 3 4 5 6
1 1 1 1 1 1 1
2 1 1 1 1 1 1
3 0 1 1 1 1 1
4 1 1 0 1 1 0
5 1 1 1 0 1 1
6 1 1 1 1 1 1

Tabel 4.12 Reachability Matrix (RM) elemen tujuan

1 2 3 4 5 6 7
1 1 1 0 1 1 1 1
2 1 1 1 1 0 1 1
3 1 1 1 1 1 1 1
4 0 1 1 1 1 1 1
5 1 1 0 1 1 1 1
6 1 1 1 1 1 1 1
7 0 1 1 1 1 1 1

Berdasarkan tabel 6 reachability matrix (RM) awal merupakan hasil

perubahan symbol VAXO yang terdapat pada tabel SSIM sebelumnya diubah

menjadi matrik biner. Tahapan setelah menjadi matrik biner dilakukan penyekatan

transvity untuk mengetahui kelengkapan causal loop agar dapat diketahui ranking,

level, driver power setiap sub elemen. Berikut merupakan hasil RMM yang telah

ditransivity:
34

Tahapan setelah membuat reachability matrix awal dilanjutkan RM final

untuk membuat driver power dan urutan rangkingnya berdasarkan nilai driver

power tertinggi. Berikut ini merupakan final dari reachability final

Tabel 4.13. Reachability Matrix final elemen pelaku

1 2 3 4 5 6 7 DP R
1 1 1 1 1 1 1 1 7 1
2 1 1 1 1 1 1 1 7 1
3 1 1 1 1 1 1 1 7 1
4 1 1 1 1 1 1 1 7 1
5 1 1 1 1 1 1 1 7 1
6 1 1 1 1 1 1 1 7 1
7 1 1 1 1 1 1 1 7 1
D 7 7 7 7 7 7 7
L 1 1 1 1 1 1 1

Tabel 4.14. Reachability Matrix final elemen kendala

1 2 3 4 5 DP R
1 1 1 1 1 1 5 1
2 1 1 1 1 1 5 1
3 1 1 1 1 1 5 1
4 1 1 1 1 1 5 1
5 1 1 1 1 1 5 1
D 5 5 5 5 5
L 1 1 1 1 1

Tabel 4.15. Reachability Matrix Final elemen kebutuhan

1 2 3 4 5 6 DP R
1 1 1 1 1 1 1 6 1
2 1 1 1 1 1 1 6 1
3 1 1 1 1 1 1 6 1
4 1 1 1 1 1 1 6 1
5 1 1 1 1 1 1 6 1
6 1 1 1 1 1 1 6 1
D 6 6 6 6 6 6
L 1 1 1 1 1 1
35

Tabel 4.16. Reachability Matrix Final elemen tujuan

1 2 3 4 5 6 7 DP R
1 1 1 1 1 1 1 1 7 1
2 1 1 1 1 1 1 1 7 1
3 1 1 1 1 1 1 1 7 1
4 1 1 1 1 1 1 1 7 1
5 1 1 1 1 1 1 1 7 1
6 1 1 1 1 1 1 1 7 1
7 1 1 1 1 1 1 1 7 1
D 7 7 7 7 7 7 7
L 1 1 1 1 1 1 1

.
36

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan pengolahan data dan analisa pembahasan dari bab

sebelumnya maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut:


37

DAFTAR PUSTAK

Agung, T. C. W., Kusrini N., dan Gafur S. 2018. Analisis Faktor Yang
Mempengaruhi Pasokan Minyak Goreng Bekas Rumah Makan
Menggunakan. Jurnal Social Economic Of Agriculture. 7(2): 116-128.

Agustin A., Azmi N., Armis., dan Asril. 2021. Analisis Pengembangan Usaha
Nenas Sakinah Berdasarkan Aspek Keuangan Konvensional dan Syariah
(Hamdi’s Method). Jurnal Tabarru’ : Islamic Banking And Finance.
4(1): 219 – 230.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: PT Rineka Cipta.

Darmawan D. P. 2017. Pengambilan Keputusan Terstruktur Dengan Interpretative


Structural Modelling. Penerbit Almatera

Eriyanto. 2003. Ilmu Sistem Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen.


Guna Widya.

Ghozali, I. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS.


Semarang. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Haryanto D., Nawansih O., dan Nurainy F. 2013. Penyusunan Draft Standard
Operating Procedure (SOP) Pengolahan Keripik Pisang (Studi Kasus Di
Salah Satu Industri Rumah Tangga Keripik Pisang Bandar Lampung).
Jurnal Teknologi Industri Dan Hasil Pertanian. 18(2): 132-143.

Heumasse N., Anwar S., dan Puspita N. 2014. Desain Kebijakan Pulau Harapan
Dalam Pengembangan Wisata Bahari Dengan Menggunakan
Interpretative Structural Modeling. Journal Of Tourism Destination And
Attraction. 2(2): 59-68.

Idarstuti dan Dahniar. 2019. Analisis Faktor Kendala Inovasi Ikan Terbang
Asap (Hirundichthys Oxycephalus) Pada UKM Di Kabupaten Majene.
Journal Of Agritech Science. 3(2): 134-139.

Ilhami, R. S., & Rimantho, D. 2017. Penilaian Kinerja Karyawan dengan Metode
AHP dan Rating Scale. Jurnal Optimasi Sistem Industri, 150-157.

Irnawati R., Simbolon D., Wiryawan B., Murdiyanto B., dan Nurani T W. 2013.
Teknik Interpretative Structural Modelling (ISM) Untuk Strategi
Implementasi Model Pengelolaan Perikanan Tangkap Di Taman
38

Nasional Karimunjawa. Jurnal Ilmu Pertanian Dan Perikanan. 2(1): 75-


86.
Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif Dan
Kualitatif). Jakarta: GP Press.
Jamalludin. 2018. Pengolahan Aneka Kerupuk dan Keripik Bahan Pangan.
Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar

Jerrard Rn, Barnes N, dan Reid A. Design, Risk And New Product Development
In Five Small Creative Companies. Int J Design. 2(1): 2130.

Kholil., Eriyanto., Sutjahyo S H., dan Soekarto S H. 2008. Penegembangan Model


Kelembagaan Pengelola Sampah Kota Dengan Metode ISM
(Interpretative Structutral Modelling) Studi Kasus Di Jakarta Selatan.
Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi Dan Ekologi Manusia.
02(01): 31-48.

Klintong N, Vadhanasindhu P, dan Thawesaengskulthai N. 2012. Artificial


Intelligence And Successful Factors For Selecting Product Inovation
Development. 3th Int. Conf. On Intel. Sys Modelling And Simulation.
397-402.

Maflahah I. 2010. Model Sistem Kelembagaan Pengembangan Industri Talas.


Agrointek.. 4(2): 87-99.

Mirah A D. 2014. Penetapan Elemen Kunci Pengembangan Agroindustri


Peternakan Dengan Interpretative Structural Modeling (ISM). Jurnal
Zootek. 34(2): 130 – 138.

Mohammed, I., Shanker, R., & Banwet, D. 2008. Creating flex-lean-agle value
chain by outsourcing. bussiness process management journal, Vol. 14
No. 3 PP. 338-389.

Nasution M. N. 2005. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management)


Edisi Kedua. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Novia C., Saiful., dan Utomo D. 2021. Analisis Swot Peningkatan Daya Saing
Pada UKM Keripik Nangka Di Kabupaten Malang. Media Informasi Dan
Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian. 12(1): 61-69.

Pandhi R. 2018. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Usaha


Untuk Peningkatan Pendapatan Menurut Etika Bisnis Islam (Studi Kasus
Pada Rumah Makan Bayu Berkah Bahari Di Kota Depok). Jurnal
Ekonomi Islam. 10(1): 15-30.
39

Phohl, H., Gallus, P., & Thomass, D. 2011. Interpretive Stuctural modeling of
supply chain risks. international journal of physical distribution and
logistic management, Vol. 4 No. 9 PP. 839-859.

Prastowo, Andi. 2016. Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan


Penelitian. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Purwidianti, W., & Rahayu, T. S. M. (2017). Pengaruh Faktor Internal dan


Eksternal Terhadap Kinerja Usaha Industri Kecil dan Menengah Di
Purwokerto Utara. Zkinerja, 19(2), 151-161.

Rasdan, R., Eriyatna, Affandi, M., & Machfud. 2013. Analisis struktur program
penguatan bisnis pemula bagi wirausaha pemuda menggunakan
Interpretive Structural Modeling. Jurnal aplikasi manajeen, Vol. 11 No.
4 Hal. 525-536.

Ritabulan Dan Hiola S. 2018. Faktor Kunci Pengembangan Bioetanol Aren Di


Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo. Journal Of Forestry Research.
1(1): 45-57.

Rizal M., Ernani L., dan Muaniggar R. 2019. Model Pengelolaan Optimal
Pangkalan Pendaratan Ikan Meulaboh Aceh Barat Berbasis Interpretative
Structural Modeling (ISM). Journal Of Aceh Aquatic Science. 3(1): 58-
75.

Rusydiana A S. 2018. Aplikasi Interpretive Structural Modeling Untuk Strategi


Pengembangan Wakaf Tunai Di Indonesia. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis
Islam. 4(1): 1-17.

Sandriana N., Hakim A., dan Saleh C. 2015. Strategi Pengembangan Produk
Unggulan Daerah Berbasis Klaster Di Kota Malang. 5(1): 89-100.

Santoso I. 2016. Integrasi Analisis Product Life Cycle dan Metode AHP-Topsis
Dalam Perumusan Strategi Pengembangan Produk. Jurnal Teknologi
Industri Pertanian. 26 (2):227-235.

Saxena, J. J. 1992. Hierarchy Classification of Program Plan Element using ISM.


Practice. 5(6) : 651-670.

Sena, T. F. (2011) Variabel Antiseden Organization Citizenship Behavior (OCB),


JDM Jurnal Dinamika Manajemen), 2(1).
Sianipar M. 2012. Penerapan Intrepretative Structural Modeling (ISM) Dalam
Penentuan Elemen Pelaku Dalam Pengembangan Kelembagaan Sistem
Bagi Hasil Petani Kopi dan Agroindustri Kopi. Agrointek. 6(1): 8-15.
40

Soleh M. 2018. Strategi Pengembangan Industri Pangan Skala Kecil Di


Kabupaten Sleman Dengan Pendekatan Teknometrik dan Metode
Analytical Hierarchy Process (AHP). Intuisi Teknologi Dan Seni. ISSN
1978-2497.

Widiyati A., Djokosetiayanto D., Bengen D., Kholil M., dan Arifin Z. 2009.
Analisis Faktor Penting Dalam Pengelolaan Perikanan Budidaya Di
Keramba Jaring Apung Berkelanjutan Dengan Metode Interpretative
Structural Modeling ( ISM) Di Waduk Cirata, Jawa Barat. J.Ris
Akuakultur. 4(2): 277-290.

Yusuf , A. M. (2014). Kuantitatif, Kualitatif, & Penelitian Gabungan. Jakarta:


Kencana.
41

Data peneliti :
Nama : Heriyanto
Lembaga peneliti : Universitas Halu Oleo
Judul penelitian : Aplikasi Interpretative Structural Modelling (ISM) Dalam
Pengembangan Keripik Barokah Pada Skala Industri
Rumah Tangga di kecamatan Unaah Kabupaten Konawe

KUESIONER WAWANCARA PAKAR

Aplikasi Interpretative Structural Modelling (ISM) Dalam


Pengembangan Keripik Barokah Pada Skala Industri Rumah
Tangga di Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe

Data Wawancara Pakar


Hari/tanggal :
Nama pakar :
Jabatan :
Institusi :

Paraf :

 Petunjuk umum

Kuesioner ini merupakan salah satu metode pendekatan ISM dalam


pengembangan keripik barokah. teknik ISM menggunakan pendekatan pakar
dalam pengumpulan data, yang meliputi; Elemen Pelaku, Elemen Kendala,
Elemen Kebutuhan, dan Elemen Tujuan.
42

 Panduan Pengisian

1. Simbol berikut (V, A, X, O) merupakan simbol penilaian terhadap variabel dan


atribut yang di maksudkan.

V Elemen-i lebih berpengaruh/mempengaruhi.....elemen-j


A Elemen-j lebih berpengaruh/mempengruhi....elemen-i
X Kedua elemen i-j sama-sama berpengaruh/saling mempengaruhi
O Kedua elemen i-j sama-sama tidak berepengaruh/mempengaruhi

2. Isi kolom tersebut dengan memberikan tanda variabel (V-A-X-O) yang telah
disediakan berdasarkan penilaian yang diberikan; misalnya

Pelaku petani pedagang konsumen


petani V X
.... O
....

 Kajian Elemen

a. Elemen Pelaku

1 Petani
2 Pedagang
3 Konsumen
4 Indsutri terkait
5 Dinas koperasi dan UMKM
6 Lembaga keuangan
7 Dinas perindustrian dan perdagangan

b. Elemen Kendala

Lemahnya sistem kelembagaan


1
2 Lemahnya industri terkait dalam mengakses modal pada lembaga
keuangan
3 Lemahnya jaringan dan kerja sama yang saling mendukung di antara
pengusaha
4 Kurang adanya dukungan pemerintah dalam pengembangan
5 Rendahnya pendidikan dan keterampilan
43

c. Elemen Kebutuhan

1 Pembinaan pelaku usaha


2 Jaminan permodalan
3 Dukungan pemerintah
4 Jaminan kualitas
5 Jaminan kuantitas
6 Ketersediaan alat

d. Elemen Tujuan

Meningkatkan pangsa pasar


1
2 Memperluas lapangan kerja
3 Meningkatkan keterampilan SDM
4 Meningkatkan pendapatan petani
5 Meningkatkan mutu keripik
6 Meningkatkan diversifikasi produk
7 Meningkatkan pendapatan daerah

Keterangan:
 Elemen Pelaku
kebutuhan pelaku dalam pengembangan UMKM keripik Barokah dapat
diartikan sebagai aktor-aktor yang terlibat dalam upaya mengembangkan
keripik Barokah.
 Petani: berperan dalam menyediakan bahan pangan
 Pedagang: memberikan informasi yang valid mengenai pesaing, harga,
produk baru untuk produsen dan juga konsumen dengan tujuan agar
penawaran dan permintaan tetap stabil.
 Konsumen: aliran suatu produk biasanya menandakan disinilah produk
dipakai atau digunakan.
 Industri terkait: industri yang secara langsung berkaitan dengan dengan
usaha tersebut.
 Dinas koperasi dan UMKM: memberikan bantuan penanaman modal pada
usaha tersebut.
 Lembaga keuangan: menghimpun dana dalam bentuk simpanan dan
menyalurkan dalam bentuk pinjaman.
44

 Dinas perindsutrian dan perdagangan: berperan sebagai salah satu


pendorong industri kecil menengah untuk lebih maju dan berkembang.

 Elemen kendala
Elemen kendala pengembangan yang terjadi pada UMKM Barokah.
 Lemahnya sistem kelembagaan: data kuantitas UMKM dapat terpantau
dengan baik jika para pelaku UMKM melakukan pengurusan izin usaha,
pelaku UMKM kuarng memahami prosedur dan persyaratan perizinan
usaha yang berakibat lemahnya kelembagaan usaha.
 Lemahnya industri terkait dalam mengakses modal pada lembaga
keuangan: modal pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya sulit
diperoleh, karena persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta
oleh bank tidak dapat dipenuhi.
 lemahnya jaringan dan kerja sama yang saling mendukung di antara
pengusaha: dalam hal ini mempunyai jaringan usaha yang sangat terbatas
dan kurangnya kerja sama di antara pengusaha oleh karena produk yang
dihasilkan jumlahnya sangat terbatas dan mempunyia kualitas yang kurang
kompetitif.
 Kurang adanya dukungan pemerintah dalam pengembangan: pemerintah
kurang memperhatikan keberadaan UMKM Barokah di Kecamatan
Unaaha Kabupaten Konawe, sementara UMKM Barokah memiliki
peranan dalam pendapatan daerah.
 Rendahnya pendidikan dan keterampilan: pendidikan yang dimiliki oleh
pemilik UMKM relatif kurang tinggi dan profesionalisme, kemampuan
teknikal serta manajerial yang rendah.
 Elemen kebutuhan
Elemen kebutuhan diperlukan untuk mendukung pengembangan UMKM
Barokah.
 pembinaan pelaku usaha: upaya yang dilakukan oleh pemerintah, dunia
usaha dan masyarakat melalui pemberian bimbingan dan penyuluhan
untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kecil agar
menjadi usaha yang tangguh dan mandiri serta dapat berkembang menjadi
usaha menengah.
 Jaminan permodalan: adanya lembaga keuangan seperti bank, koperasi
dalam penyaluran bantuan kredit permodalan.
 Dukungan pemerintah: upaya yang dilakukan pemerintah dengan dengan
melakukan pendekatan secara personal pada UMKM. Bantuan juga
45

diberikan oleh pemerintah secara berkala dengan harapan dapat


meningkatkan kualitas usaha.
 Jaminan kualitas: dengan memastikan standar kualitas dipenuhi oleh setiap
komponen dari produk atau layanan yang disediakan oleh perusahaan
untuk memberikan jaminan kualitas sesuai standar.

 Jaminan kuantitas: banyaknya komoditas produksi yang dihasilkan dari


proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan dalam kurun waktu
tertentu.
 Ketersediaan alat: keterbatasan teknologi yang digunakan pada suatu
proses produksi, teknologi yang digunakan dalam proses produksi keripik
seabagin masih menggunakan tenaga manusia tapi dalam proses
pemotongan sudah mengunakan mesin.
 Elemen tujuan
Sejumlah sub elemen dari elemen tujuan adalah sebagai berikut.
 Meningkatkan pangsa pasar: memenuhi kebutuhan konsumen secara
efektif sehingga perusahaan menyediakan kebutuhan konsumen dengan
produk dan harga yang tepat dapat meningkatkan pangsa pasar.
 Memperluas lapangan kerja: kebijaksanaan yang harus ditempuh oleh
pemerintah, sebagai upaya mengatasi pengangguran.
 Meningkatkan keterampilan SDM: dengan meningkatkan kualitas para
pekerja melalui program pendidikan dan pelatihan agar menciptakan
sebuah produk yang berkualitas dan mampu memajukan perusahaan.
 Meningkatkan pendapatan petani: sektor industri mempunyai peranan
yang sangat penting dalam mendukung dan mencapai tujuan pembangunan
nasional, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
 Meningkatkan mutu keripik: apabila beberapa sifat bahan atau produk
tersebut dinilai baik oleh konsumen, maka mutu bahan/produk
dikategorikan baik pula.
 Meningkatkan diversifikasi produk: untuk meningkatkan perolehan laba.
Dengan diproduksinya banyak produk sekaligus dalam satu waktu,
perusahaan bisa meningkatkan potensi terjadinya lebih banyak penjualan.
 Meningkatkan pendapatan daerah: UMKM memiliki peranan yang sangat
penting dalam pembangunan perekonomian daerah. Dilihat dari besarnya
peluang pekerjaan yang disediakan oleh UMKM bagi masyarakat
46
1

 Lembar Pertanyaan

1. Menurut bapak/ibu untuk pengembangan keripik barokah, bagaimana keterkaitan antar pelaku?

Pelaku petani pedagang konsumen Industri Dinas Lembaga Dinas


terkait koperasi keuangan perindustrian
dan
perdagangan
Petani
Pedagagang
Konsumen
Industri terkait
Dinas koperasi
Lembaga
keuangan
Dinas
perindustrian dan
perdagangan
2

2. Menurut bapak/ibu untuk pengembangan keripik barokah bagaimana keterkaitan antar kendala?

Kedala Lemahnya sistem Lemahnya industri Belum Kurang adanya Rendahnya


kelembagaan terkait dalam terbentuknya dukungan pendidikan dan
mengakses modal jaringan dan kerja pemerintah dalam keterampilan
pada lembaga sama yang saling pengembangan
keuangan mendukung
diantara pengusaha
Lemahnya sistem
kelembagaan
Lemahnya industri terkait
dalam mengakses modal
pada lembaga keuangan
Belum terbentuknya
jaringan dan kerja sama
yang saling mendukung
diantara pengusaha
Kurang adanya dukungan
pemerintah dalam
pengembangan
Rendahnya pendidikan
dan keterampilan
3

3. Menurut bapak/ibu untuk pengembangan keripik barokah bagaimana keterkaitan antar kebutuhan?

Kebutuhan Peminaan Jaminan Dukungan Jaminan Jaminan Ketersediaan


pelaku permodalan pemerintah kualitas kunatitas alat
usaha
Pembinaan pelaku usaha
Jaminan permodalan
Dukungan pemerintah
Jaminan kualitas
Jaminan kuantitas
Ketersediaan alat
4

4. Menurut bapak/ibu untuk pengembangan keripik barokah bagaimana keterkaitan antar tujuan?

Tujuan Meningkatkan Memperluas Meningktakan Meningkatkan Meningkatkan Meningkatka Meningkatkan


pangsa pasar lapangan keterampilan pendapatan mutu keripik n diversifikasi pendapatan
kerja SDM petani produk daerah

Meningkatkan
pangsa pasar
Memperluas
lapangan kerja
Meningktakan
keterampilan
SDM
Meningkatkan
pendapatan
petani
Meningkatkan
mutu keripik
Meningkatkan
diversifikasi
produk
Meningkatkan
pendapatan
daerah

Anda mungkin juga menyukai