0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan21 halaman

Asuhan Keperawatan Anak dengan Febris Thrombositopeni

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai asuhan keperawatan pada anak bernama AN.R yang dirawat di RS Muhammadiyah Selogiri Wonogiri dengan diagnosis febris trombositopeni. Ringkasannya adalah dokumen tersebut membahas konsep keperawatan anak, riwayat kehamilan, imunisasi, hospitalisasi, bermain, dan tumbuh kembang anak usia 11 tahun.

Diunggah oleh

abiezy syahdilla
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
165 tayangan21 halaman

Asuhan Keperawatan Anak dengan Febris Thrombositopeni

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai asuhan keperawatan pada anak bernama AN.R yang dirawat di RS Muhammadiyah Selogiri Wonogiri dengan diagnosis febris trombositopeni. Ringkasannya adalah dokumen tersebut membahas konsep keperawatan anak, riwayat kehamilan, imunisasi, hospitalisasi, bermain, dan tumbuh kembang anak usia 11 tahun.

Diunggah oleh

abiezy syahdilla
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK


PADA AN.R DENGAN OBSERVASI FEBRIS THROMBOSITOPENI
DI RS MUHAMMADIYAH SELOGIRI WONOGIRI

Disusun Oleh :
Resta Helmalia Putri
20021

AKADEMI KEPERAWATAN
GIRI SATRIA HUSADA WONOGIRI
2022
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP KEPERAWATAN ANAK


1. DEFINISI KEPERAWATAN ANAK
Dalam keperawatan anak,yang menjadi individu (klien) adalah anak yang
diartikan sebagai seseorang yang usianya kurang dari 18 (delapan belas) tahun
dalam masa tumbuh kembang, dengan kebutuhan khusus yaitu kebutuhan fisik,
psikologis, sosial dan rohani. Dalam proses berkembang, anak memiliki ciri fisik,
kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial. Ciri fisik pada semua anak
tidak mungkin pertumbuhan fisiknya sama, demikian pula pada perkembangan
kognitif adakalanya cepat atau lambat. Perkembangan konsep diri sudah ada sejak
bayi akan tetapi belum terbentuk sempurna dan akan mengalami perkembangan
seiring bertambahnya usia anak. pola koping juga sudah terbentuk sejak bayi
dimana bayi akan menangis saat lapar. Perilaku sosial anak juga mengalami
perkembangan yang terbentuk mulai bayi seperti anak mau diajak oranglain.
Sedangkan tanggapan emosi terhadap penyakit bervariasi tergantung pada usia dan
penolong tugas perkembangan anak, seperti pada bayi saat perpisahan dengan
orangtua maka responnya akan menangis, berteriak, menarik diri dan menyerah
pada situasi yaitu diam (Fadilillah, 2014).

2. RIWAYAT KEHAMILAN
Ibu hamil adalah seorang wanita yang sedang mengandung yang dimulai dari
konsepsi sampai lahirnya janin. Kehamilan adalah waktu transisi, yaitu masa antara
kehidupan sebelum memiliki anak yang sekarang berada dalam kandungan dan
kehidupan nanti setelah anak itu lahir (Ratnawati, 2020).
Kehamilan merupakan penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan
dengan nidasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan
normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 9 bulan menurut kalender
internasional. Maka, dapat disimpulkan bahwa kehamilan merupakan bertemunya
sel telur dan sperma di dalam atau diluar Rahim dan berakhir dengan keluarnya bayi
dan plasenta melalui jalan lahir (Yulaikhah, 2019).

3. RIWAYAT IMUNISASI
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2020 mengubah konsep dasar menjadi
latihan rutin lengkap. Imunisasi rutin lengkap itu terdiri dari teknik dasar dan
lanjutan. Imunisasi dasar saja tidak cukup, diperlukan untuk mempertahankan
tingkat kekebalan yang optimal.
Imunisasi diberikan disesuaikan dengan usia anak. Untuk ilmu dasar lengkap,
bayi kurang dari 24 jam diberikan kerja Hepatitis B (HB-0), usia 1 bulan diberikan
(BCG dan Polio 1), usia 2 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2), usia 3
bulan diberikan (DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3), usia 4 bulan diberikan (DPT-HB-Hib
3, Polio 4 dan IPV atau Polio suntik), dan usia 9 bulan diberikan (Campak atau
MR).
Untuk lanjutan, bayi bawah dua tahun (Baduta) usia 18 bulan diberikan latihan
(DPT-HB-Hib dan Campak/MR), kelas 1 SD/madrasah/sederajat diberikan (DT
dan Campak/MR), kelas 2 dan 5 SD/ madrasah/sederajat diberikan (Td).
Vaksin Hepatitis B (HB) diberikan untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang
dapat menyebabkan pengerasan hati yang gagal pada fungsi hati dan kanker
hati. Imunisasi BCG diberikan guna mencegah penyakit tuberkulosis.
Imunisasi Polio tetes diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4
bulan untuk mencegah lumpuh layu. Imunisasi polio suntik pun diberikan 1 kali
pada usia 4 bulan agar kekebalan yang terbentuk semakin sempurna.
Imunisasi Campak diberikan untuk mencegah penyakit campak yang dapat
mengakibatkan penyakit paru berat (pneumonia), diare, atau menyerang otak.
Imunisasi MR diberikan untuk mencegah penyakit campak sekaligus rubella.
Rubella pada anak merupakan penyakit ringan, namun apabila menular ke ibu
hamil, terutama pada periode awal kehamilannya, dapat mengakibatkan gangguan
pada bayi yang dilahirkan cacat bawaan, seperti tuli, katarak, dan gangguan jantung
bawaan.
Vaksin DPT-HB-HIB diberikan guna mencegah 6 penyakit, yakni Difteri,
Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia (radang paru) dan Meningitis
(radang melindungi otak) yang disebabkan infeksi kuman Hib.

4. KONSEP HOSPITALISASI
Hospitalisasi merupakan suatu keadaan krisis pada anak saat sakit dan dirawat
di rumah sakit. Keadaan ini terjadi karena anak berusaha untuk beradaptasi dengan
lingkungan asing dan baru yaitu rumah sakit, sehingga kondisi tersebut menjadi
faktor stresor bagi anak dan keluarganya (Kristiyanasari, 2014).
Hospitalisasi adalah suatu keadaan tertentu atau darurat yang mengharuskan
seorang anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi perawatan sampai
pemulangannya ke rumah (Supartini, 2014).

5. KONSEP BERMAIN
Dunia anak adalah dunia bermain anak biasanya cenderung lebih banyak
menghabiskan waktunya melalui bermain hal ini dapat kita amati dalam kehidupan
sehari-hari bahwa waktu yang digunakan untuk bermain oleh anak lebih banyak
dibandingakan dengan belajarnya maka dari itu dengan memahami hal diatas maka
kita perlu menstimulus atau memberikan pembelajaran bagi anak melalui bermain
kerana belajar pada anak usia dini adalah bermain dan bermain pada anak usia dini
adalah belajar. Bermain bagi anak tidak hanya memberikan kepuasan terhadap anak
akan tetapi bermain dapat pula membangun karakter dan membentuk sikap dan
kepribadian anak Docket dan Fleer berpendapat bahwa bermain merupakan
kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan
yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. (Nehru, 2011) Sejalan dengan
teori tersebut Susanto mengemukakan bahwa bermain dapat membentuk sikap
mental dan nilai-nilai kepribadian anak diantaranya :
1. Dengan bermain itu anak belajar menyadari keteraturan, peraturan dan berlatih
menjalankan komitmentyang dibangun dalam permainan tersebut
2. Anak belajar menyelesaikan masalah dalam kesulitan terendah sampai yang
tertinggi.
3. Anak berlatih sabar menunggu giliran setelah temannya menyelesaikan
permainnanya.
4. Anak berlatih bersaing dan membentuk motivasi dan harapan hari esok akan
ada peluang memenangkan permainan.
5. Anak-anak sejak dini belajar menghadapi resiko kekalahan yang dihadapi dari
permainan. (Susanto ahmad, 2011)
Bermain merupakan kebutuhan anak yang sangat penting, dengan bermain anak
akan membangun pengetahuannya tentang apa yang ada di sekitarnya, dan
membangun kreatifitasnya baik dengan menggunakan suatu benda atau alat
permainan maupun tidak. Ada tiga teori bermain modern yang memberikan tekanan
pada konsekuensi bermain pada anak dan sebagai acuan dan menunjang main anak
dalam tahapan perkembangan anak

6. KONSEP TUMBUH KEMBANG ANAK USIA 11 TAHUN


a. ANTROPOMETRI
▪ Berat badan normal: 36 kg
▪ Tinggi badan normal: 144 cm
▪ Lingkar kepala normal: 43–46 cm
▪ Lingkar dada normal: 22,3 cm
▪ Lingkar lengan normal: 82 cm

b. PSIKOSOSIAL
- Tahap Merasa Mampu (Industry vs. Inferiority)
Tahap perkembangan psikososial anak selanjutnya adalah saat anak
mulai masuk usia sekolah: 6 – 11 tahun. Dalam rentang usia ini, anak-anak
mulai berinteraksi dengan temannya di sekolah dan mulai menjalani
kegiatan belajar yang lebih formal. Anak mulai mengembangkan rasa
bangga, mampu memahami/melakukan, dan mencapai prestasi dengan
kemampuan mereka.
Dalam tahap ini, anak-anak membutuhkan apresiasi, dukungan dan
dorongan untuk mengembangkan rasa mampu (kompetensi). Sebaliknya,
tantangan anak pada fase ini adalah merasa rendah diri (inferior) karena
tidak mampu dan tidak mendapatkan dukungan/apresiasi yang
dibutuhkannya.
c. PSIKOSEKSUAL
- Menurut freud Fase Latent (6 – 12 tahun)
Aktivitas seksual manusia pada fase ini cenderung tidak nampak. Hal ini
terjadi karena individu sedang disibukkan dengan pencarian prestasi.

d. KOGNITIF
Perkembangan kognitif pada usia 11 tahun seperti:
- Sudah bisa memahami konsep abstrak.
- Mampu berpikir ke depan, meski sering kali masih berpikir untuk jangka
pendek.
- Paham bahwa ada konsekuensi yang mungkin dialaminya di masa depan
atas perbuatannya saat ini.
- Kemungkinan lebih peduli terhadap dirinya sendiri dibandingkan terhadap
orang lain

e. MOTORIK KASAR DAN MOTORIK HALUS


- Usia 11–12 Tahun (Kelas 6 SD)
Perkembangan motorik anak SD kelas 6 bisa dikatakan sudah sempurna
dan menyeluruh. Di usia ini, mungkin akan melihat anak mulai lebih banyak
makan, bicara, dan beraktivitas fisik untuk menyalurkan energi dan
staminanya yang semakin tinggi.
Secara fisik, mulai tampak perubahan jelas antara anak laki-laki dan
perempuan. Anak juga sudah bisa melakukan tugas rumah tangga yang
lebih rumit, seperti memasak hidangan sederhana, mencuci piring,
membersihkan mobil atau jendela, membersihkan kamar mandi juga
mencuci dan melipat baju sendiri.

f. BAHASA
Pada usia ini, anak remaja seharusnya sudah memiliki kosakata yang
cukup kaya. Bahkan, ia sudah mulai lebih ekspresif dengan menggunakan
bahasa tubuh dan ekspresi wajah.
Selain itu, mungkin sudah tahu cara membedakan bicara formal dan
informal. Sebagai contoh, anak sudah bisa menggunakan bahasa formal saat
berbicara dengan guru atau orang dewasa lainnya. Sementara itu, ia bisa lebih
santai saat berbicara dengan saudara atau teman sebayanya.

B. KONSEP MEDIS
1. DEFINISI
Demam atau febris merupakan suatu kondisi dimana suhu tubuh mengalami
peningkatan di atas normal. Seseorang dapat dikatakan demam jika suhu tubuhnya
mencapai lebih dari 37,5 C. demam merupakan penyakit yang paling sering muncul
pada penyakit anak-anak. Sebagian besar demam pada anak di sebabkan oleh
infeksi, peradangan dan gangguan metabolic. Hal ini menyebabkan perubahan pada
pusat panas (termoregulasi) di hipotalamus. Jika demam tidak segera diatasi dapat
menimbulkan efek yang berbahaya pada anak yaitu dapat menyebabkan dehidrasi,
kejang demam sampai kematian. (Sodikin, 2012).
Demam pada anak dibutuhkan perlakuan dan penanganan tersendiri yang
berbeda bila dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini dikarenakan, apabila
tindakan dalam mengatasi demam tidak tepat dan lambat maka akan mengakibatkan
pertumbuhan dan perkembangan anak terganggu. Demam dapat membahayakan
keselamatan anak, jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat akan menimbulkan
komplikasi lain seperti, hipertermi, kejang dan penurunan kesadaran. Demam yang
mencapai suhu 41°C angka kematiannya mencapai 17%, dan pada suhu 43°C akan
koma dengan kematian 70%, dan pada suhu 45°C akan meninggal dalam beberapa
jam (Wardiyah, 2015).
Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain adalah (Nurarif, 2015):
a) Demam septic
Suhu badan berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada malam
hari dan turun kembali ketingkat di atas normal pada pagi hari. Sering disertai
keluhan mengigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ke
tingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
b) Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu
badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua
derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
c) Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam
dalamsatu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut
tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam
disebut kuartana.
d) Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada
tingkat demam yang etrus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
e) Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh
beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh
kenaikan suhu seperti semula.
Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu
misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan
demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas seperti:
abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak
dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. (Nurarif & Kusuma,
2013)
Menurut beberapa definisi tentang febris di atas, dapat disimpulkan bahwa
febris adalah peningkatan abnormal suhu badan minimal 380C sebagai akibat dari
perubahan pada pusat termoregulasi yang terletak dalam hipotalamus anterior.
2. TANDA DAN GEJALA
Menurut Nurarif & Kusuma, 2013 tanda dan gejala terjadinya febris adalah:
1. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8 C-40C)
2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernapasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan

3. ETIOLOGI
Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya suatu molekul kecil di
dalam tubuh kita yang disebut dengan Pirogen, yaitu zat pencetus panas. Biasanya
penyebab demam sudah bisa diketahui dalam waktu satu atau dua hari dengan
pemeriksaan medis yang terarah.
Demam sering disebabkan karena infeksi. Penyebab demam selain infeksi juga
dapat disebabkan oleh keadaan toksemia,keganasan atau reaksi terhadap pemakaian
obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya perdarahan otak,
koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam
diperlukan antara lain: ketelitian pengambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan
pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit evaluasi pemeriksaan
laboratorium, serta penunjang lain secara tepat dan holistic (Nurarif, 2015)
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam dapat
berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolic
maupun penyakit lain. Demam dapat disebabkan karena kelainan dalam otak sendiri
atau zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhuu, penyakit-penyakit
bakteri, tumor otak atau dehidrasi (Guyton dalam Thobroni, 2015).
Sedangkan menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal dalam
Thobroni (2015) bahwa etiologic febris, diantaranya:
1. Suhu lingkungan
2. Adanta infeksi
3. Pneumonia
4. Malaria
5. Otitis media
6. Imunisasi

4. PATOFISIOLOGI
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah
menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membrane yang terdiri dari permukaan
dalam yaitu lipid dan permukaan luar yaitu ionic. Dalam keadaan normal,
memberan sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion Kalium (K+) dan sangat
sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) serta elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl-
). Akibatnya, konsentrasi ion K+ dalam neuron tinggi dan konsentrasi ion Na+
rendah, sedangkan diluar sel neuron berlaku sebaliknya. Karena perbedaan jenis
dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial
membrane yang disebut sebagai potensial membrane ini, diperlukan energi dan
bantuan enzim Na-K-ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan
potensial membrane ini dapat diubah oleh:
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstra seluler
2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran
listrik dari sekitarnya
3. Perubahan patofisiologi dari membrane neuron itu sendiri karena penyakit atau
keturunan

Pada keadaan demam, kenaikan 1℃ akan meningkatkan metabolisme basal 10-


15 % dan kebutuhan oksiegen akan meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3
tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan orang dewasa
yang hanya mencapai 15%. Oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh dapat mengubah
keseimbangan dari membrane sel neuoron dan dalam waktu yang singkat terjadi
difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membrane sel yang
mengakibatkan lepasnya aliran listrik. Lepasnya aliran listrik ini sedemikian
besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh bagian sel maupun membrane sel di
sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” sehingga terjadilah kejang. Ambang
kejang tiap anak berbeda. Pada anak dengan ambang rendah, kejang dapat terjadi
pada suhu 38℃, sedang anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada
suhu 40℃ atau lebih.
5. PATHWAY

Agen infeksius
mediator inflamasi Dehidrasi

Monosit/makrofag Tubuh kehilangan


cairan

Sitokin pirogen
Penurunan cairan
intrasel

Mempengaruhi
hipotalamus anterior
Demam

Peningkatan Meningkatnya Ph berkurang Peningkatan suhu


evaporasi metabolic tubuh tubuh

Anoreksia
Diare Hipertermi
Kelemahan

Intake makanan
Intoleransi aktivitas berkurang

Defisit nutrisi

Gangguan rasa
nyaman

Gelisah Tidak bisa tidur

Kurang Gangguan pola


pengetahuan tidur

Ansietas
Sumber : Yahya, 2018
6. KOMPLIKASI
Menurut Nurarif (2015) komplikasi dari demam adalah:
1. Dehidrasi : demam naik penguapan cairan tubuh
2. Kejang demam : jarang sekali terjadi (1 dari 30 anak demam). Sering terjadi
pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Serangan dalam 24 jam pertama demam
dan umumnya sebentar, tidak berulang. Kejang demam ini juga tidak
membahayakan otak.

7. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut Kania dalam Wardiyah, (2016) penanganan terhadap demam dapat
dilakukan dengan tindakan farmakologis, tindakan non farmakologis maupun
kombinasi keduanya. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani
demam pada anak :
a. Tindakan farmakologis
Tindakan farmakologis yang dapat dilakukan yaitu memberikan antipiretik
berupa:
1) Paracetamol
Paracetamol atau acetaminophen merupakan obat pilihan pertama untuk
menurunkan suhu tubuh. Dosis yang diberikan antara 10-15 mg/Kg BB akan
menurunkan demam dalam waktu 30 menit dengan puncak pada 2 jam
setelah pemberian. Demam dapat muncul kembali dalam waktu 3-4 jam.
Paracetamol dapat diberikan kembali dengan jarak 4-6 jam dari dosis
sebelumnya. Penurunan suhu yang diharapkan 1,2 – 1,4
2) Ibuprofen
Ibuprofen merupakan obat penurun demam yang juga memiliki efek
antiperadangan. Ibuprofen merupakan pilihan kedua pada demam, bila
alergi terhadap parasetamol. Ibuprofen dapat diberikan ulang dengan jarak
antara 6-8 jam dari dosis sebelumnya. Untuk penurun panas dapat dicapai
dengan dosis 5mg/Kg BB. Ibuprofen bekerja maksimal dalam waktu 1jam
dan berlangsung 3-4 jam. Efek penurun demam lebih cepat dari
parasetamol. Ibuprofen memiliki efek samping yaitu mual, muntah, nyeri
perut, diare, perdarahan saluran cerna, rewel, sakit kepala, gaduh, dan
gelisah. Pada dosis berlebih dapat menyebabkan kejang bahkan koma serta
gagal ginjal.

b. Tindakan non farmakologis


Tindakan non farmakologis terhadap penurunan panas yang dapat
dilakukan seperti (Nurarif, 2015):
1) Memberikan minuman yang banyak
2) Tempatkan dalam ruangan bersuhu normal
3) Menggunakan pakaian yang tidak tebal
4) Memberikan kompres.
Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan
cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh
yang memerlukan. Kompres meupakan metode untuk menurunkan suhu tubuh
(Ayu, 2015). Ada 2 jenis kompres yaitu kompres hangat dan kompres dingin.
Pada penelitian ini Peneliti menerapkan penggunaan kompres hangat.

C. KONSEP KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
Meliputi: nama, tempat/tanggal lahir, umur, jenis kelamin, nama orang
tua, pekerjaan orang tua, alamat, suku, bangsa, agama.
b. Keluhan utama
Klien yang biasanya menderita febris mengeluh suhu tubuh panas >37,5
°C, berkeringat, mual/muntah.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Pada umumnya didapatkan peningkatan suhu tubuh diatas >37,5°C,
gejala febris yang biasanya yang kan timbul menggigil, mual/muntah,
berkeringat, nafsu makan berkurang, gelisah, nyeri otot dan sendi.
d. Riwayat kesehatan dulu
Pengkajian yang ditanyakan apabila klien pernah mengalami penyakit
sebelumnya.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit yang pernah di derita oleh keluarga baik itu penyakit keturunan
ataupun penyakit menular, ataupun penyakit yang sama.
f. Genogram
Petunjuk anggota keluarga klien
g. Riwayat kehamilan dan kelahiran
Meliputi: prenatal, natal, postnatal, serta data pemberian imunisasi pada
anak.
h. Riwayat sosial
Pengkajian terhadap perkembangan dan keadaan sosial klien.
Kebutuhan dasar
1) Makanan dan minuman
Biasa klien dengan febris mengalami nafsu makan, dan susah untuk makan
sehingga kekurangan asupan nutrisi.
2) Pola tidur
Biasa klien dengan febris mengalami susah untuk tidur karena klien merasa
gelisah dan berkeringat.
3) Mandi
4) Eliminasi
Eliminasi klien febris biasanya susah untuk buang air besar dan juga bisa
mengakibatkan terjadi konsitensi bab menjadi cair.
i. Pemeriksaan fisik
1) Kesadaran
Biasanya kesadaran klien dengan febria 15-13, berat badan serta tinggi
badan
2) Tanda-tanda vital
Biasa klien dengan febris suhunya >37,5°C, nadi > 80x i
Head to toe
a) Kepala dan leher
Bentuk, kebersihan, ada bekas trauma atau tidak
b) Kulit, rambut, kuku
Turgor kulit (baik-buruk), tidak ada gangguan/kelainan
c) Mata
Umumnya mulai terlihat cekung atau tidak
d) Telinga, hidung, tenggorokan dan mulut
Bentuk, kebersihan, fungsi indranta adanya gangguan atau tidak,
biasanya pada klien dengan febris mukosa bibir klien akan kering dan
pucat
e) Thorak dan abdomen
Biasa pernafasan cepat dan dalam, abdomen biasanya nyeri dan ada
peningkatan bising usus bising usus normal pada bayi 3-5 x
f) Sistem respirasi
Umumnya fungsi pernafasan lebih cepat dan dalam
g) Sistem kardiovaskuler
Pada kasus ini biasanya denyut pada nadinya meningkat
h) Sistem musculoskeletal
Terjadi gangguan apa tidak
i) Sistem pernafasan
Pada kasus ini tidak terdapat nafas yang tertinggal/gerakan nafas dan
biasanya kesadarannya gelisah, apatis atau koma
j) Pemeriksaan tingkat perkembangan
(1) Kemandirian dan bergaul
Aktivitas sosial klien
(2) Motorik halus
Gerakan yang menggunakan otot halus atau sebagian anggota tubuh
tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan
berlatih. Misalnya: memindahkan benda dari tangan satu ke yang
lain, mencoret-coret, menggunting
(3) Motorik kasar
Gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian
besar atau seluruh anggota tubuh yang di pengaruhi oleh
kemantangan fisik anak contohnya kemampuan duduk, menendang,
berlari, naik turun tangga (Lerner & Hultch, 1984)
(4) Kognitif dan Bahasa
Kemampuan klien untuk berbicara dan berhitung
j. Data penunjang
Biasanya dilakukan pemeriksaan labor urine, feces, darah, dan biasanya
leokosit nya > 10.000 (meningkat), sedangkan Hb, Ht meberhunurun
k. Data pengobatan
Biasanya diberikan obat antipiretik untuk mengurangi suhu tubuh klien,
seperti ibuprofen, paracetamol (Yahya, 2018).

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN, TUJUAN DAN KRITERIA HASIL DAN


INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Hipertemi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme (D.0130)
b. Deficit nutrisi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme
(D.0019)
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan (D.0056)
d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan (D.0055)
e. Ansietas berhubungan dengan disfungsi system keluarga (D.0080)
f. Diare berhubungan dengan perubuhan air dan makanan (D.0020)
NO DIAGNOSA STANDAR STANDAR RASIONAL
KEPERAWATAN LUARAN INTERVENSI
KEPERAWATAN KEPERAWATAN
INDONESIA INDONESIA (SIKI)
(SLKI)
1. Hipertemi Termoregulasi Manajemen Hipertermia Mengidentifikasi
berhubungan L.14134 (L.15506) dan mengelola
dengan peningkatan Tujuan : Setelah Observasi: kelebihan volume
laju metabolisme dilakukan tindakan a. Identifikasi penyebab cairan intravaskuler
(D.0130) keperawatan 3x24 Hipertermia dan ekstraseluler
jam, diharapkan: b. Monitor suhu tubuh serta mencegah
1. Pucat c. Monitor kadar terjadinya
menurun (5) elektrolit komplikasi
d. Monitor komplikasi
2. Kulit merah e. Akibat Hipertermia
menurun (5)

3. Menggigil Terapeutik:
menurun (5) a. Longgarkan atau
lepaskan pakaian
4. Takikardia ketat
menurun (5) b. Berikan cairan oral

5. Suhu
Edukasi:
membaik (5)
a. Anjurkan tirah baring
6. Suhu kulit
membaik (5) Kolaborasi:
a. Kolaborasi pemberian
cairan dan eleltrolit
2. Deficit nutrisi Status nutrisi Pemantauan Nutrisi a. Keadekuatan
berhubungan L.03030 (I.03123) asupan nutrisi
dengan peningkatan untuk
kebutuhan Tujuan: Setelah Observasi: memenuhi
metabolisme dilakukan tindakan a. Identifikasi faktor kebutuhan
(D.0019) keperawatan 3x24 yang mempengaruhi metabolism
jam, diharapkan: asupan gizi b. Mengumpulkan
1. Pola makanan b. Identifikasi dan
yang dihabiskan perubahan BB menganalisis
meningkat (5) c. Identifikasi kelainan data yang
pada kulit berkaitan
2. Sariawan d. Identifikasi kelainan dengan asupan
menurun (5) pada rambut dan status gizi
3. Perasaan cepat e. Identifikasi pola
kenyang makan
menurun (5) f. Identifikasi kelainan
4. Nafsu makan pada kuku
meningkat (5) g. Identifikasi
5. Bising usus kemampuan menelan
membaik (5) h. Identifikasi kelainan
6. Membran pada rongga mulut
mukosa i. Identifikasi kelainan
membaik (5) eliminasi
j. Monitor mual muntah
k. Monitor asupan oral
l. Monitor warna
konjungtiva
m. Monitor hasil
laboratorium

Terapeutik:
a. Timbang BB
b. Ukur antroprometri
komposisi tubuh
c. Hitung perubahan BB
d. Atur interval waktu
pemantauan sesuai
dengan kondisi pasien
e. Dokumentasikan hasil
pemantauan

Edukasi:
a. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
b. Informasikan hasil
pemantauan
3. Intoleransi aktivitas Toleransi aktivitas Pemantauan tanda vital Mengumpulkan dan
berhubungan (L.05047) (I.02060) menganalis data
dengan kelemahan hasil pengukuran
(D.0056) Tujuan: Setelah Observasi: fungsi vital
dilakukan tindakan a. Monitor nadi kardiovaskuler,
keperawatan 3x24 (frekuensi, kekuatan, pernafasan dan suhu
jam, diharapkan: irama) tubuh
1. Frekuensi b. Monitor pernapasan
nadi membaik (frekuensi,
(5) kedalaman)
2. Kemudahan c. Monitor suhu tubuh
dalam d. Monitor oksimetri
melakukan nadi
aktivitas e. Identifikasi penyebab
sehari-hari perubahan tanda vital
meningkat (5)
3. Perasaan Terapeutik:
lemah a. Atur interval
menurun (5) pemantauan sesuai
4. Frekuensi kondisi pasien
napas b. Dokumentasi hasil
membaik (5) pemantauan

Edukasi:
a. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
b. Informasikan hasil
pemantuan, jika perlu

4. Gangguan pola Status Kenyamanan Teknik menenangkan Teknik relaksasi


tidur berhubungan (L.08064) (I.08248) dengan
dengan hambatan pembentukan
lingkungan Tujuan : Setelah Observasi: imajinasi individu
(D.0055) dilakukan tindakan a. Identifikasi dengan
keperawatan 3x24 masalah yang menggunakan
jam, diharapkan: dihadapi semua indera
1. Kesejahteraan melalui pemrosesan
fisik Terapeutik: kognitif untuk
membaik (5) a. Buat kontrak mengurangi stress
2. Perawatan dengan pasien
sesuai b. Ciptakan ruangan
kebutuhan yang nyaman dan
meningkat (5) tenang
3. Keluhan tidak
nyaman Edukasi:
menurun (5) a. Anjurkan
4. Gelisah mendengarkan
menurun (5) music, video
animasi, yang
5. Keluhan lembut atau music
kedinginan yang disukai
menurun (5) b. Anjurkan
6. Pola melakukan teknik
eleminasi menenangkan
membaik (5) hingga perasaan
7. Pola tidur menjadi tenang
membaik (5)

5. Ansietas Tingkat ansietas Reduksi ansietas Meminimalkan


berhubungan (L.09093) (I.09314) kondisi individu dan
dengan disfungsi pengalaman
system keluarga Tujuan : Setelah Observasi: subjektif terhadap
(D.0080) dilakukan tindakan a. Identifikasi saat objek yang tidak
keperawatan 3x24 tingkat ansieras jelas dan spesifik
jam, diharapkan: berubah akibat atsipaso
1. Kontak mata b. Identifikasi bahaya yang
membaik (5) kemampuan memungkinkan
2. Pola tidur mengambil inndividu
membaik (5) keputusan melakukan tindakan
3. Pucat c. Memonitor tanda- untuk menghadapi
menurun (5) tanda ansietas ancaman
4. Perilaku
gelisah Terapeutik:
menurun (5) a. Ciptakan suasana
5. Tremor terapeutik untuk
menurun (5) menumbuhkan
kepercayaan
b. Pahami situasi
yang membuat
ansietas
c. Gunakan
pendekatan yang
tenang dan
meyakinkan
d. Dengarkan dengan
penuh perhatian

Edukasi:
a. Jelaskan prosedur,
termask sensasi
yang dialami
b. Anjurkan keluarga
untuk tetap
Bersama pasien
c. Latih kegiatan
pengalihan untuk
mengurangi
ketegangan
d. Latih teknik
relaksasi

Kolaborasi:
a. Kolaborasi
pemberian obat
antiansietas, jika
perlu
6. Diare berhubungan Eleminasi fekal Pemberian obat (I.02062) Menyiapkan,
dengan perubuhan (L.04033) memberi dan
air dan makanan Observasi: mengevaluasi
(D.0020) Tujuan : Setelah a. Identifikasi keefektifan agen
dilakukan tindakan kemungkinan farmakologis yang
keperawatan 3x24 alergi, interaksi di programkan
jam, diharapkan: dan kontra indikasi
1. Nyeri obat
abdomen b. Monitor tanda vital
menurun (5) dan nilai
2. Konsistensi laboratorium
feces sebelum pemberian
membaik (5) obat
3. Frekuensi
defekasi Terapeutik:
membaik (5) a. Perhatikan
4. Distensi prosedur
abdomen pemberian obat
menurun (5) b. Lakikan prinsip 6
benar
c. Buang obat yang
tidak
terpakai/kadaluarsa
d. Dokumentasikan
pemberian obat dan
respon terhadap
obat
Edukasi:
1. Jelaskan jenis obat,
alasan pemberian
2. Tindakan yang
diharapkan dan
efek samping
3. Jelaskan factor
yang dapar
meningkatkan dan
menurunkan
efektifitas obat
3. Implementasi Keperawatan
Menururt Mufidaturrohmah (2017) Implementasi merupakan tindakan yang
sudah direncanakan dalam rencana perawatan. Tindakan keperawatan mencakup
tindakan mandiri (independen) dan tindakan kolaborasi. Tindakan mandiri
merupakan aktivitas perawat yang didasarkan pada kesimpulan atau keputusan
sendiri dan bukan merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan lain.

4. Evaluasi Keperawatan
Fase terakhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan
keperawatan yang diberikan. Hal yang dievaluasi adalah keakuratan, kelengkapan
dan kualitas data, teratasi atau tidaknya masalah klien, pencapaian tujuan serta
ketepatan intervensi keperawatan. Tujuan evaluasi adalah untuk memberikan
umpan baik rencana keperawatan, menilai dan meningkatkan mutu pelayanan
keperawatan melalui perbandingan pelayanan keperawatan yang diberikan serta
hailnya dengan standar yang telah ditentukan terlebih dahulu. ada dua komponen
untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu (Nursalam, 2011) :
a. Evaluasi proses atau format : fokus tipe evaluasi adalah aktivitas proses
keperawatan dan hasil kualitas pelayanan tindakan keperawatan dan hasil
kualitas pelayanan tindakan keperawatan. Sistem penulisan pada tahap ini bisa
menggunakan sistem “SOAP”.
1) Subjek
Menggambarkan pendokumentasian hanya pengumpulan data klien
melalui anamnese.
2) Objek
Menggambarkan pendokumentasian hasli analisa dan fisik pasien, hasil
lab, dan test diagnostic lain yang dirumuskan dalam data fokus dan untuk
mendukung assessment.
3) Assessment
Masalah atau diagnosa yang ditegakkan berdasarkan data atau informasi
subjektif maupun objektif yang dikumpulkan atau disimpulakan. Karena
keadaan pasien terus berubah dan selalu ada informasi baru baik subjektif
maupun objektif, dan sering diungkapkan secara terpisah-pisah, maka
proses pengkajian adalah suatu prose yang dinamik. Sering menganalisa
adalah sesuatu yang penting dalam mengikuti perkembangan pasien dan
menjamin suatu perubahan baru cepat diketahui dan dapat diikuti sehingga
dapat diambil tindakan yang tepat.
4) Planning
Membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang. Untuk
mengusahakan tercapainya kondisi pasien yang sebaik mungkin atau
menjaga mempertahankan kesejahteraannya. proses ini termasuk kriteria
tujuan tertentu dari kebutuhan pasien yang harus dicapai dalam batas waktu
tertentu.
b. Evaluasi hasil (sumatif) : fokus evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau
status kesehatan pasien pada akhir tindakan keperawatan. Adapun metode
pelaksanaan evaluasi sumatif terdiri dari interview akhir pelayanan, pertemuan
akhir pelayanan, dan pertanyaan kepada pasien dan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Huda Nurarif, Amin & Kusuma, Hardhi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & Nanda-NIC NOC. Jakarta: MediAction
Julia Klaartje Kadang, SpA (2000). Metode Tepat Mengatasi Demam. www. Google. Com
diakses tanggal 12 Januari 2015.
Mukhtar Latif dkk, Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini, Teori dan Aplikasi, (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2013), h.81
Nehru, “Mengembangkan Kecerdasan Sosial Anak Usia Dini Melalui Permainan Tradisional”
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Vol. 5, (Jakarta, 2011), h. 134
PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Susanto ahmad. Perkembangan anak usia dini.(Jakarta:prenamedia group 2011),h 4-5

https://id.scribd.com/document/538846787/1-LAPORAN-PENDAHULUAN-FEBRIS
https://id.scribd.com/document/360389177/Lp-Obs-Febris
https://123dok.com/document/zp12ee0z-lp-febris.html
https://id.scribd.com/document/411924374/ASKEP-FEBRIS
https://123dok.com/document/ydmk6rey-askep-anak-febris-miftakhu.html
https://rumahinspirasi.com/8-tahap-perkembangan-psikososial-manusia/
https://www.orami.co.id/magazine/amp/perkembangan-motorik

Anda mungkin juga menyukai