Asuhan Keperawatan Apendisitis di Maluku
Asuhan Keperawatan Apendisitis di Maluku
Oleh :
Keterina Ngurmetan
P1911039
MENYETUJUI
Mengetahui Mengetahui
CI Intitusi CI Lahan Praktek
Mengetahui
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
i
KATA PENGANTAR
Penulis
ii
DAFTAR ISI
LEMBARAN JUDUL
LEMBARAN PENGESAHAN.......................................................i
KATA PENGANTAR....................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................1
A. LATAR BELAKANG...........................................................1
B. RUMUSAN MASALAH.......................................................2
C. TUJUAN.............................................................................3
D. MANFAAT..........................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................5
A. DEFENISI APPENDISITIS.................................................5
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ..............................13
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Apendisitis merupakan peradangan akibat infeksi pada usus
buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan
peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera
mungkin untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.
(Nurarif & Kusuma, 2015).
Angka kejadian apendisitis di Asia pada tahun 2004 menurut
World Health Organization (WHO) adalah 4,8% penduduk dari total
populasi. Sedangkan di Indonesia menurut Departemen Kesehatan
RI pada tahun 2006, angka kejadian apendisitis di Indonesia
menempati urutan tertinggi di antara kasus kegawat daruratan
abdomen lainnya dan menduduki urutan keempat setelah
dispepsia, gastritis, dan duodenitis dengan jumlah pasien rawat
inap sebanyak 28.040 orang.
Angka kejadian apendisitis akut di Indonesia mencapai
angka 591.819 dan mengalami peningkatan menjadi 596.132 kasus
apendisitis di tahun 2009. Dinas Kesehatan Jawa Barat
menyebutkan pada tahun 2013 jumlah kasus apendisitis di Jawa
Barat sebanyak 5.980 penderita, dan 177 penderita diantaranya
menyebabkan kematian. Berdasarkan data dari “medical record’ di
Ruang Bedah Melati IV RSUD Dr Soekardjo Tasikmalaya periode
Januari – Desember 2018 kasus apendisitis menempati urutan
kedua dengan 10 penyakit terbesar dengan jumlah 114 kasus
setelah hernia dengan 117 kasus
1
2
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diangkat
rumusan masalah.“Bagaimana ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN DIAGNOSA APENDISITIS PADA TN.H DI RUMAH
SAKIT KHUSUS DAERAH PROVINSI MALUKU’’ ?
3
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Memperoleh pengalaman nyata dan mampu melaksanakan
Asuhan Keperawatan Dengan Diagnosa APENDISITIS Pada
TN.H Di Rumah Sakit Khusus Daerah PROVINSI MALUKU.
2. Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian keperawatan pada Tn.H yang
mengalami Apendisitis.
2) Menetapkan diagnosis keperawatan pada Tn.H Apendisitis
3) Menyusun perencanaan keperawatan pada Tn.H Apendisitis
4) Melaksanakan tindakan keperawatan pada Tn.H
Apendisitis.
5) Melakukan evaluasi keperawatan pada Tn.H Apendisitis
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Untuk menambah sumber bacaan, wawasan, pengetahuan dan
informasi bagi tenaga kesehatan..
2. Praktis
a) Bagi Rumah Sakit Dapat memberikan informasi dan
gambaran tentang asuhan keperawatan Tn.H dengan
Apendisitis
b) Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah sarana bacaan
dan juga dijadikan sumber perbandingan dalam
melaksanakan pembelajaran baik di kampus maupun lahan
praktik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Defenisi
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis
dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.
Penyakit ini mengenai semua umur baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10
sampai 30 tahun (Mansjoer, 2000).
Menurut Smeltzer C. Suzanne (2001), apendisitis adalah
penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan
dari rongga abdomen dan merupakan penyebab paling umum
untuk bedah abdomen darurat.
Berdasarkan defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
apendisitis adalah kondisi dimana terjadi infeksi pada umbai
apendiks dan merupakan penyakit bedah abdomen yang paling
sering terjadi.
Menurut Sjamsuhidayat (2004), apendisitis terdiri dari lima
bagian antara lain :
1. Apendisitis akut
Adalah peradangan apendiks yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum pariental setempat sehingga menimbulkan rasa
sakit di abdomen kanan bawah.
2. Apendisitis infiltrat (Masa periapendikuler)
Apendisitis infiltrat atau masa periapendikuler terjadi bila
apendisitis ganggrenosa di tutupi pendinginan oleh omentum.
3. Apendisitis perforata
Ada fekalit didalam lumen, Umur (orang tua atau anak muda)
dan keterlambatan diagnosa merupakan faktor yang berperan
dalam terjadinya perforasi apendiks.
4
5
4. Apendisitis rekuren
Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali
sembuh spontan, namun apendiks tidak pernah kembali ke
bentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan parut.
Resikonya untuk terjadinya serangan lagi sekitar 50%.
5. Apendisitis kronis
Fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau
total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama di
mukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.
B. Etiologi
Penyebab penyakit apendisitis secara pasti belum diketahui.
Tetapi, terjadinya apendisitis ini umumnya karena bakteri. Selain
itu, terdapat banyak faktor pencetus terjadinya penyakit ini
diantaranya sumbatan lumen apendiks, hiperplasia jaringan limfe,
fekalit, tumor apendiks dan cacing askaris yang dapat
menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat
menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena
parasit seperti E. histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan
peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh
konstipasi terhadap timbulnya apendisitis juga merupakan faktor
pencetus terjadinya penyakit ini. Konstipasi akan menaikkan
tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional
apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Semuanya ini mempermudah timbulnya apendisitis akut
(Sjamsuhidayat, 2004).
6
C. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen
apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing,
striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau
neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang
diproduksi mukosa mengalami bendungan. Semakin lama mukus
tersebut semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan
tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan
menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis
bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis
akut lokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus
terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan
menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah
kanan bawah. Keadaan ini disebut apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark
dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut
dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu
pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses diatas
berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang
disebut infiltrate apendikularis. Peradangan pada apendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kerena
omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, maka dinding
apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya
tahan tubuh yang masih kurang sehingga memudahkan terjadinya
perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi
karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2000).
7
D. Manifestasi Klinik
Menurut Arief Mansjoer (2002), keluhan apendisitis biasanya
bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang
berhubungan dengan muntah. Dalam 2 – 12 jam nyeri akan beralih
ke kuadran kanan bawah yang akan menetap dan diperberat bila
berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise dan
demam yang tak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi
tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah.
Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan
abdomen yang menetap namun dalam beberapa jam nyeri
abdomen kanan bawah akan semakin progresif dan dengan
pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan
nyeri maksimal perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat
membantu menentukan lokasi nyeri.
Menurut Suzanne C Smeltzer dan Brenda G Bare (2002),
apendisitis akut sering tampil dengan gejala yang khas yang
didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan
tanda setempat. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai
oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
Pada apendiks yang terinflamasi, nyeri tekan dapat dirasakan
pada kuadran kanan bawah pada titik Mc.Burney yang berada
antara umbilikus dan spinalis iliaka superior anterior. Derajat nyeri
tekan, spasme otot dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak
tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila
apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri tekan terasa di
daerah lumbal. Bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini
dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada
defekasi menunjukkan ujung apendiks berada dekat rektum. Nyeri
pada saat berkemih menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat
dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada bagian
bawah otot rektus kanan dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul
8
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan pada pasien
yang diduga appendicitis akut adalah pemeriksaan darah
lengkap dan test protein reaktive (CRP). Pada pemeriksaan
9
F. Penatalaksanaan
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis
telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan serta pasien
diminta untuk membatasi aktivitas fisik sampai pembedahan
dilakukan. Analgetik dapat diberikan setelah diagnosa
ditegakkan. Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat
apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko
perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum
atau spinal, secara terbuka ataupun dengan cara laparoskopi yang
merupakan metode terbaru yang sangat efektif. Bila apendiktomi
terbuka, insisi Mc.Burney banyak dipilih oleh para ahli bedah. Pada
penderita yang diagnosisnya tidak jelas sebaiknya dilakukan
observasi dulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi bisa
dilakukan bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila
terdapat laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus
meragukan dapat segera menentukan akan dilakukan operasi atau
tidak (Smeltzer C. Suzanne, 2002).
Menurut Arief Mansjoer (2000), penatalaksanaan apendisitis
adalah sebagai berikut:
1. Tindakan medis
a) Observasi terhadap diagnosa
Dalam 8 – 12 jam pertama setelah timbul gejala dan tanda
apendisitis, sering tidak terdiagnosa, dalam hal ini sangat
penting dilakukan observasi yang cermat. Penderita
dibaringkan ditempat tidur dan tidak diberi apapun melalui
mulut. Bila diperlukan maka dapat diberikan cairan
aperviteral. Hindarkan pemberian narkotik jika
memungkinkan, tetapi obat sedatif seperti barbitural atau
penenang tidak karena merupakan kontra indikasi.
Pemeriksaan abdomen dan rektum, sel darah putih dan
hitung jenis di ulangi secara periodik. Perlu dilakukan foto
11
G. Komplikasi
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang
dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insidens
perforasi adalah 10% sampai 32%. Insidens lebih tinggi pada
anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah
awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7 oC atau
lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen
yang kontinyu (Smeltzer dan Barre, 2002).
H. Pencegahan
1. Diet tinggi serat akan sangat membantu melancarkan aliran
pergerakan makanan dalam saluran cerna sehingga tidak
tertumpuk lama dan mengeras.
2. Minum air putih minimal 8 gelas sehari dan tidak menunda
buang air besar juga akan membantu kelancaran pergerakan
saluran cerna secara keseluruhan.
13
I. Prognosis
Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan, tingkat
mortalitas dan morbiditas penyakit apendisitis sangat kecil.
Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan
mortalitas bila terjadi komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi
bila apendiks tidak diangkat. Terminologi apendisitis kronis
sebenarnya tidak ada (Mansjoer, 2000).
4. Pemeriksaan fisik
a) Inspeksi
Pada apendisitis akut sering ditemukan adanya
abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis
ini biasa ditemukan distensi abdomen.
b) Palpasi
Pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan
terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa
nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci
diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri
bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah,
ini disebut tanda Rovsing (Rovsing sign). Dan apabila
tekanan pada perut kiri dilepas maka juga akan terasa
sakit di perut kanan bawah, ini disebut tanda Blumberg
(Blumberg sign).
c) Pemeriksaan colok dubur
Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis untuk
menentukkan letak apendiks apabila letaknya sulit
diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini terasa
nyeri, maka kemungkinan apendiks yang meradang di
daerah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci
diagnosis apendisitis pelvika.
d) Uji psoas dan uji obturator
Pemeriksaan ini dilakukan juga untuk mengetahui letak
apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan
rangsangan otot psoas mayor lewat hiperekstensi sendi
panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila
apendiks yang meradang menempel pada m.psoas
mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan
nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan
gerakan fleksi dan andorotasi sendi panggul pada
15
6. Pemeriksaan Diagnostik
a) Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein
reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap
ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-20.000/ml
(leukositosis) dan neutrofil diatas 75%. Sedangkan
pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
b) Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan.
Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian
memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada
apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan
ditemukan bagian menyilang dengan apendikalit serta
perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi
serta pelebaran sekum.
B. Diagnosa
Menurut Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern dalam Buku
Saku Diagnosis Keperawatan NANDA NIC NOC (2011),
diagnosa keperawatan pre operatif pada penderita apendisitis
akut adalah sebagai berikut:
17
C. Penyimpangan KDM
D. Intervensi
Menurut Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern dalam Buku
Saku Diagnosis Keperawatan NANDA NIC NOC (2011),
intervensi yang biasa muncul pada penderita apendisitis akut
pre operatif adalah sebagai berikut:
1. Kekurangan volume cairan tubuh
Batasan Karakteristik
Subjektif
Haus
Objektif
a) Perubahan status mental
b) Penurunan turgor kulit dan lidah
c) Penurunan haluaran urine
d) Kulit dan membran mukosa kering
e) Hematokrit meningkat
f) Suhu tubuh meningkat
g) Kelemahan
h) Peningkatan frekuensi nadi, penurunan tekanan darah,
penurunan volume dan tekanan nadi.
Faktor yang berhubungan
a) Kehilangan volume cairan aktif
b) Asupan cairan yang tidak adekuat
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
a) Kekurangan volume cairan akan teratasi ditandai
dengan keseimbangan cairan, keseimbanagn
elektrolit dan asam basa, hidrasi yang adekuat, dan
status nutrisi: asupan makanan dan cairan adekuat.
b) Keseimbangan elektrolit dan asam basa akan
dicapai dibuktikan dengan :
1) Memiliki konsentrasi urine yang normal
2) Tidak mengalami haus abnormal
20
2. Hipertermi
Batasan Karakteristik
Objektif
a) Kulit merah
b) Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal
c) Frekuensi napas meningkat
d) Kejang atau konvulsi
e) Kulit teraba hangat
f) Takikardi
g) Takipneu
Faktor yang Berhubungan
a) Dehidrasi
b) Penyakit atau trauma
c) Ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk
berkeringat
d) Pakaian yang tidak tepat
e) Obat atau anastesia
f) Terpajan lingkungan yang panas (jangka panjang)
g) Aktivitas yang berlebihan
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
a) TTV dalam rentang normal
b) Pasien akan menunjukkan termoregulasi
c) Melaporkan tanda dan gejala dini hipertermia
d) Menjelaskan tindakan untuk mencegah atau
meminimalkan peningkatan suhu tubuh.
Intervensi NIC
a) Pantau TTV
b) Pantau hidrasi (misalnya turgor kulit, kelembapan
membran mukosa)
22
3. Nyeri akut
Batasan Karakteristik
Subjektif
Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan (nyeri)
dengan isyarat
Objektif
a) Posisi untuk menghindari nyeri
b) Perubahan tonus otot (dengan rentang dari lemas, tidak
bertenaga sampai kaku
c) Perubahan selera makan
d) Perilaku ekspresif (misalnya gelisah, merintih,
menangis, peka terhadap rangsang, dan menghela
napas panjang)
e) Wajah topeng (nyeri)
f) Perilaku menjaga atau sikap melindungi
23
0 Tidak nyeri
1 Seperti gatal, tersetrum / nyut-nyut
2 Seperti melilit atau terpukul
3 Seperti perih
4 Seperti keram
5 Seperti tertekan atau tergesek
6 Seperti terbakar atau ditusuk-tusuk
7–9 Sangat nyeri tetapi dapat dikontrol oleh klien
24
o) Medikasi
p) Gangguan muskuloskeletal
q) Gangguan neuromuskular
r) Nyeri
s) Program pembatasan pergerakan
t) Keengganan untuk memulai pergerakan
u) Gaya hidup yang kurang gerak atau disuse atau
melemah
v) Malnutrisi (umum atau selektif)
w) Gangguan sensori persepsi
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
Memperlihatkan mobilitas yang dibuktikan dengan
indikator:
a) Keseimbangan
b) Koordinasi
c) Performa posisi tubuh
d) Pergerakan sendi dan otot
e) Berjalan
f) Bergerak dengan mudah
Aktivitas Keperawatan
Tingkat 1
a) Kaji kebutuhan terhadap bantuan pelayanan
kesehatan di rumah dan kebutuhan terhadap
peralatan pengobatan yang tahan lama
b) Ajarkan pasien tentang dan pantau penggunaan alat
bantu mobilitas
c) Ajarkan dan bantu pasien dalam proses berpindah
(misalnya dari tempat tidur ke kursi)
d) Rujuk ke ahli terapi fisik untuk program latihan
e) Berikan penguatan positif selama aktivitas
27
Tingkat 3 dan 4
a) Tentukan tingkat motivasi pasien untuk
mempertahankan atau mengembalikan mobilitas sendi
dan otot
b) Gunakan ahli terapi fisik dan okupasi sebagai sumber
dalam perencanaan aktivitas perawatan pasien
c) Dukung pasien dan keluarga untuk memandang
keterbatasan dengan realistis
d) Berikan penguatan positif selama aktivitas
e) Berikan analgesik sebelum memulai latihan fisik
f) Susun rencana yang spesifik, seperti:
1) Tipe alat bantu
2) Posisi pasien
3) Cara memindahkan dan mengubah posisi pasien
4) Jumlah personel yang dibutuhkan untuk
memobilisasi pasien
5) Peralatan eliminasi yang diperlukan (misal, pispot,
urinal, dan pispot fraktur)
6) Jadwal aktivitas
Pengaturan posisi (NIC):
1) Pantau pemasangan alat traksi yang benar
2) Letakkan matras atau tempat tidur terapeutik dengan
benar
3) Atur posisi dengan kesejajaran tubuh yang benar
4) Letakkan pada posisi terapeutik
5) Ubah posisi pasien yang imobilisasi minimal setiap dua
jam berdasarkan jadwal spesifik
6) Letakkan tombol pengubah posisi tempat tidur dan
lampu pemanggil dalam jangkauan pasien
7) Dukung latihan ROM aktif atau pasif, jika diperlukan.
29
m) Menyesal
n) Perasaan takut
o) Ketidakpastian
p) Khawatir
Fisiologis
a) Wajah tegang
b) Insomnia
c) Peningkatan keringat
d) Peningkatan ketegangan
e) Terguncang
f) Gemetar atau tremor di tangan
g) Suara bergetar
Parasimpatis
a) Nyeri abdomen
b) Penurunan tekanan darah
c) Penurunan nadi
d) Diare
e) Pingsan
f) Keletihan
g) Mual
h) Gangguan tidur
i) Kesemutan pada ekstremitas
j) Sering berkemih
k) Berkemih tidak lampias
l) Urgensi berkemih
Simpatis
a) Anoreksia
b) Eksitasi kardiovaskuler
c) Diare
d) Mulut kering
e) Wajah kemerahan
33
f) Jantung berdebar-debar
g) Peningkatan tekanan darah
h) Peningkatan nadi
i) Peningkatan refleks
j) Peningkatan pernapasan
k) Dilatasi pupil
l) Kesulitan bernapas
m) Vasokontriksi superfisial
n) Kedutan otot
o) Kelemahan
Kognitif
a) Kesadaran terhadap gejala-gejala fisiologis
b) Blocking pikiran
c) Konfusi
d) Penurunan lapang pandang
e) Kesulitan untuk berkonsentrasi
f) Keterbatasan kemampuan untuk menyelesaikan
masalah
g) Keterbatasan kemampuan untuk belajar
h) Takut terhadap konsekuensi yang tidak spesifik
i) Fokus pada diri sendiri
j) Mudah lupa
k) Gangguan perhatian
l) Tenggelam dalam dunia sendiri
m) Melamun
n) Kecendruangan untuk menyalahkan orang lain
Faktor yang Berhubungan
a) Terpajan toksin
b) Hubungan keluarga/hereditas
c) Transmisi dan penularan interpersonal
d) Krisis situasi dan maturasi
34
e) Stres
f) Penyalahgunaan zat
g) Ancaman kematian
h) Ancaman atau perubahan pada status peran, fungsi
peran, lingkungan, status kesehatan, status ekonomi,
atau pola interaksi
i) Ancaman terhadap konsep diri
j) Konflik yang tidak disadari tentang nilai dan tujuan
hidup yang esensial
k) Kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
a) Ansietas berkurang
b) Kemampuan untuk fokus pada stimulus tertentu
c) Memiliki TTV dalam batas normal
d) Meneruskan aktivitas yang dibutuhkan meskipun
mengalami kecemasan
Intervensi NIC
a) Kaji tingkat ansietas pasien
Skala Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dalam
penilaian kecemasan (ansetas) terdiri dari 14 item,
meliputi:
1) Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran
sendiri, mudah tersinggung.
2) Merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah
terganggu dan lesu.
3) Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang
asing, bila tinggal sendiri dan takut pada binatang
besar.
4) Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun
pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi
buruk.
35