0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan42 halaman

Asuhan Keperawatan Apendisitis di Maluku

Asuhan keperawatan dengan diagnosa apendisitis pada TN. H di rumah sakit khusus provinsi Maluku membahas tentang: 1. Latar belakang angka kejadian apendisitis di Indonesia 2. Rumusan masalah asuhan keperawatan pasien post operasi apendektomi 3. Tujuan umum dan khusus mengenai asuhan keperawatan pasien

Diunggah oleh

Iren uhnana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan42 halaman

Asuhan Keperawatan Apendisitis di Maluku

Asuhan keperawatan dengan diagnosa apendisitis pada TN. H di rumah sakit khusus provinsi Maluku membahas tentang: 1. Latar belakang angka kejadian apendisitis di Indonesia 2. Rumusan masalah asuhan keperawatan pasien post operasi apendektomi 3. Tujuan umum dan khusus mengenai asuhan keperawatan pasien

Diunggah oleh

Iren uhnana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA


APENDISITIS PADA TN. H DI RUMAH SAKIT KHUSUS
DAERAH PROVINSI MALUKU

Oleh :

Keterina Ngurmetan

P1911039

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PASAPUA AMBON


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN
2023
LEMBARAN PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA APENDISITIS PADA


TN. H DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROVINSI MALUKU.
Di susun oleh : KETERINA NGURMETAN
Nim : P.1911039
Program Studi : S1 Keperawatan
Ruangan : VIP

Ambon, April 2023

MENYETUJUI

Mengetahui Mengetahui
CI Intitusi CI Lahan Praktek

Sakina Makatita, S.Kep.,Ns.,M.Epid Yohana Sarira, S.Kep.,Ns


NIDN: 1218129101

Mengetahui
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

Harianti Fajar, S.Kep.,Ns.,M.Kes


NIDN : 1225079001

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala


rahmat-Nya sehingga Asuhan Keperawatan ini dapat tersusun sampai
dengan selesai.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada bapak
dosen yang telah memberikan tugas ini bagi kami, kiranya tugas ini dapat
memambah ilmu pengetahuan kami sebagai mahasiswa. Kami sangat
berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar
makalah ini bisa pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak
kekurangan dalam penyusunan Asuhan Keperawatan ini karena
keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Kami. Untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan Asuhan Keperawatan ini.

Ambon, April 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBARAN JUDUL

LEMBARAN PENGESAHAN.......................................................i

KATA PENGANTAR....................................................................ii

DAFTAR ISI..................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN................................................................1
A. LATAR BELAKANG...........................................................1
B. RUMUSAN MASALAH.......................................................2
C. TUJUAN.............................................................................3
D. MANFAAT..........................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................5
A. DEFENISI APPENDISITIS.................................................5
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ..............................13
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Apendisitis merupakan peradangan akibat infeksi pada usus
buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan
peradangan akut sehingga memerlukan tindakan bedah segera
mungkin untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.
(Nurarif & Kusuma, 2015).
Angka kejadian apendisitis di Asia pada tahun 2004 menurut
World Health Organization (WHO) adalah 4,8% penduduk dari total
populasi. Sedangkan di Indonesia menurut Departemen Kesehatan
RI pada tahun 2006, angka kejadian apendisitis di Indonesia
menempati urutan tertinggi di antara kasus kegawat daruratan
abdomen lainnya dan menduduki urutan keempat setelah
dispepsia, gastritis, dan duodenitis dengan jumlah pasien rawat
inap sebanyak 28.040 orang.
Angka kejadian apendisitis akut di Indonesia mencapai
angka 591.819 dan mengalami peningkatan menjadi 596.132 kasus
apendisitis di tahun 2009. Dinas Kesehatan Jawa Barat
menyebutkan pada tahun 2013 jumlah kasus apendisitis di Jawa
Barat sebanyak 5.980 penderita, dan 177 penderita diantaranya
menyebabkan kematian. Berdasarkan data dari “medical record’ di
Ruang Bedah Melati IV RSUD Dr Soekardjo Tasikmalaya periode
Januari – Desember 2018 kasus apendisitis menempati urutan
kedua dengan 10 penyakit terbesar dengan jumlah 114 kasus
setelah hernia dengan 117 kasus

1
2

Apendektomi adalah pembedahan untuk mengangkat


apendiks yang dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan
resiko perforasi (Hariyanto & Sulistyowati, 2015). Masalah
keperawatan yang muncul pada pasien post operatif apendektomi
menurut (Muttaqin dan Sari, 2013) berdasarkan Nanda1 2018
adalah nyeri akut, defisien pengetahuan, ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh, risiko infeksi area pembedahan,
hipertermia, dan ansietas.
Nyeri setelah pembedahan merupakan hal yang biasa terjadi
pada banyak klien yang pernah mengalami pembedahan. Nyeri
setelah pembedahan bila tidak ditangani secara benar akan
menjadi nyeri kronis yang merupakan permasalahan besar dan sulit
ditangani, selain itu nyeri setelah pembedahan yang tidak
mendapatkan penanganan dengan tepat juga dapat mengakibatkan
gangguan kebutuhan dasar (Garimelia and Cellini, 2013). Salah
satu tindakan non farmakologis untuk mengurangi nyeri adalah
relaksasi benson merupakan relaksasi menggunakan teknik
pernapasan yang biasa digunakan di rumah sakit pada klien yang
sedang mengalami nyeri atau mengalami kecemasan. Dan, pada
relaksasi Benson ada penambahan unsur keyakinan dalam bentuk
kata-kata yang merupakan rasa cemas atau nyeri yang sedang
pasien alami. Kelebihan dari latihan teknik relaksasi dibandingkan
teknik lainnnya adalah lebih mudah dilakukan dan tidak ada efek
samping apapun (Solehati & Kosasih, 2015).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diangkat
rumusan masalah.“Bagaimana ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN DIAGNOSA APENDISITIS PADA TN.H DI RUMAH
SAKIT KHUSUS DAERAH PROVINSI MALUKU’’ ?
3

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Memperoleh pengalaman nyata dan mampu melaksanakan
Asuhan Keperawatan Dengan Diagnosa APENDISITIS Pada
TN.H Di Rumah Sakit Khusus Daerah PROVINSI MALUKU.
2. Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian keperawatan pada Tn.H yang
mengalami Apendisitis.
2) Menetapkan diagnosis keperawatan pada Tn.H Apendisitis
3) Menyusun perencanaan keperawatan pada Tn.H Apendisitis
4) Melaksanakan tindakan keperawatan pada Tn.H
Apendisitis.
5) Melakukan evaluasi keperawatan pada Tn.H Apendisitis

D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Untuk menambah sumber bacaan, wawasan, pengetahuan dan
informasi bagi tenaga kesehatan..
2. Praktis
a) Bagi Rumah Sakit Dapat memberikan informasi dan
gambaran tentang asuhan keperawatan Tn.H dengan
Apendisitis
b) Bagi Institusi Pendidikan Dapat menambah sarana bacaan
dan juga dijadikan sumber perbandingan dalam
melaksanakan pembelajaran baik di kampus maupun lahan
praktik
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Defenisi
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis
dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.
Penyakit ini mengenai semua umur baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10
sampai 30 tahun (Mansjoer, 2000).
Menurut Smeltzer C. Suzanne (2001), apendisitis adalah
penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan
dari rongga abdomen dan merupakan penyebab paling umum
untuk bedah abdomen darurat.
Berdasarkan defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
apendisitis adalah kondisi dimana terjadi infeksi pada umbai
apendiks dan merupakan penyakit bedah abdomen yang paling
sering terjadi.
Menurut Sjamsuhidayat (2004), apendisitis terdiri dari lima
bagian antara lain  :
1. Apendisitis akut
Adalah peradangan apendiks yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum pariental setempat sehingga menimbulkan rasa
sakit di abdomen kanan bawah.
2. Apendisitis infiltrat (Masa periapendikuler)
Apendisitis infiltrat atau masa periapendikuler terjadi bila
apendisitis ganggrenosa  di tutupi pendinginan oleh omentum.
3. Apendisitis perforata
Ada fekalit didalam lumen, Umur (orang tua atau anak muda)
dan keterlambatan  diagnosa merupakan faktor yang berperan 
dalam terjadinya perforasi apendiks.

4
5

4. Apendisitis rekuren
Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali
sembuh spontan, namun apendiks tidak pernah kembali ke
bentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan parut.
Resikonya untuk terjadinya serangan lagi sekitar 50%.
5. Apendisitis kronis
Fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau
total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama di
mukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.

B. Etiologi
Penyebab penyakit apendisitis secara pasti belum diketahui.
Tetapi, terjadinya apendisitis ini umumnya karena bakteri. Selain
itu, terdapat banyak faktor pencetus terjadinya penyakit ini
diantaranya sumbatan lumen apendiks, hiperplasia jaringan limfe,
fekalit, tumor apendiks dan cacing askaris yang dapat
menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat
menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena
parasit seperti E. histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan
peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh
konstipasi terhadap timbulnya apendisitis juga merupakan faktor
pencetus terjadinya penyakit ini. Konstipasi akan menaikkan
tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional
apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Semuanya ini mempermudah timbulnya apendisitis akut
(Sjamsuhidayat, 2004).
6

C. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen
apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing,
striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau
neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang
diproduksi mukosa mengalami bendungan. Semakin lama mukus
tersebut semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks
mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan
tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan
menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis
bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis
akut lokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus
terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan
menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah
kanan bawah. Keadaan ini disebut apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark
dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut
dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu
pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses diatas
berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang
disebut infiltrate apendikularis. Peradangan pada apendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kerena
omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, maka dinding
apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya
tahan tubuh yang masih kurang sehingga memudahkan terjadinya
perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi
karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2000).
7

D. Manifestasi Klinik
Menurut Arief Mansjoer (2002), keluhan apendisitis biasanya
bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang
berhubungan dengan muntah. Dalam 2 – 12 jam nyeri akan beralih
ke kuadran kanan bawah yang akan menetap dan diperberat bila
berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise dan
demam yang tak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi
tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah.
Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan
abdomen yang menetap namun dalam beberapa jam nyeri
abdomen kanan bawah akan semakin progresif dan dengan
pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan
nyeri maksimal perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat
membantu menentukan lokasi nyeri.
Menurut Suzanne C Smeltzer dan Brenda G Bare (2002),
apendisitis akut sering tampil dengan gejala yang khas yang
didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan
tanda setempat. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai
oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
Pada apendiks yang terinflamasi, nyeri tekan dapat dirasakan
pada kuadran kanan bawah pada titik Mc.Burney yang berada
antara umbilikus dan spinalis iliaka superior anterior. Derajat nyeri
tekan, spasme otot dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak
tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila
apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri tekan terasa di
daerah lumbal. Bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini
dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada
defekasi menunjukkan ujung apendiks berada dekat rektum. Nyeri
pada saat berkemih menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat
dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada bagian
bawah otot rektus kanan dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul
8

dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara


paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan
bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi menyebar.
Distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi pasien
memburuk. Pada pasien lansia, tanda dan gejala apendisitis dapat
sangat bervariasi. Tanda-tanda tersebut dapat sangat meragukan,
menunjukkan obstruksi usus atau proses penyakit lainnya. Pasien
mungkin tidak mengalami gejala sampai ia mengalami ruptur
apendiks. Insidens perforasi pada apendiks lebih tinggi pada lansia
karena banyak dari pasien-pasien ini mencari bantuan perawatan
kesehatan tidak secepat pasien-pasien yang lebih muda.
Menurut Diane C. Baughman dan JiAnn C. Hackley (2000),
manifestasi klinis apendisitis adalah sebagai berikut:
1. Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya disertai dengan
demam derajat rendah, mual, dan seringkali muntah
2. Pada titik Mc Burney terdapat nyeri tekan setempat karena
tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rektus kanan
3. Nyeri alih mungkin saja ada; letak apendiks mengakibatkan
sejumlah nueri tekan, spasme otot, dan konstipasi serta diare
kambuhan
4. Tanda Rovsing (dapat diketahui dengan mempalpasi kuadran
kanan bawah , yang menyebabkan nyeri kuadran kiri bawah)
5. Jika terjadi ruptur apendiks, maka nyeri akan menjadi lebih
menyebar; terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik dan
kondisi memburuk.

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan pada pasien
yang diduga appendicitis akut adalah pemeriksaan darah
lengkap dan test protein reaktive (CRP). Pada pemeriksaan
9

darah lengkap sebagian besar pasien biasanya ditemukan


jumlah leukosit di atas 10.000 dan neutrofil diatas 75 %.
Sedangkan pada pemeriksaan CRP ditemukan jumlah serum
yang mulai meningkat pada 6-12 jam setelah inflamasi jaringan.
2. Pemeriksaan urine
Untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam
urin. pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan
diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal
yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan
appendisitis.
3. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi yang biasa dilakukan pada pasien yang
diduga appendicitis akut antara lain adalah Ultrasonografi, CT-
scan. Pada pemeriksaan ultrasonogarafi ditemukan bagian
memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks.
Sedang pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang
menyilang dengan apendicalith serta perluasan dari appendiks
yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran dari saekum.
4. Pemeriksaan USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan
pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai
adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan
diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan
sebagainya.
5. Abdominal X-Ray
Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab
appendisitis. pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-
anak.
10

F. Penatalaksanaan
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis
telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan serta pasien
diminta untuk membatasi aktivitas fisik sampai pembedahan
dilakukan. Analgetik dapat diberikan setelah diagnosa
ditegakkan. Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat
apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko
perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum
atau spinal, secara terbuka ataupun dengan cara laparoskopi yang
merupakan metode terbaru yang sangat efektif. Bila apendiktomi
terbuka, insisi Mc.Burney banyak dipilih oleh para ahli bedah. Pada
penderita yang diagnosisnya tidak jelas sebaiknya dilakukan
observasi dulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi bisa
dilakukan bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila
terdapat laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus
meragukan dapat segera menentukan akan dilakukan operasi atau
tidak (Smeltzer C. Suzanne, 2002).
Menurut Arief Mansjoer (2000), penatalaksanaan apendisitis
adalah sebagai berikut:
1. Tindakan medis
a) Observasi terhadap diagnosa
Dalam 8 – 12 jam pertama setelah timbul gejala dan tanda
apendisitis, sering tidak terdiagnosa, dalam hal ini sangat
penting dilakukan observasi yang cermat. Penderita
dibaringkan ditempat tidur dan tidak diberi apapun melalui
mulut.  Bila diperlukan maka dapat diberikan cairan
aperviteral. Hindarkan pemberian narkotik jika
memungkinkan, tetapi obat sedatif seperti barbitural atau
penenang tidak karena merupakan kontra indikasi.
Pemeriksaan abdomen dan rektum, sel darah putih dan
hitung jenis di ulangi secara periodik. Perlu dilakukan foto
11

abdomen dan thorak posisi tegak pada semua kasus


apendisitis, diagnosa dapat jadi jelas dari tanda lokalisasi
kuadran kanan bawah dalam waktu 24 jam setelah timbul
gejala.
b) Intubasi
Dimasukkan pipa naso gastrik preoperatif jika terjadi
peritonitis atau toksitas yang menandakan bahwa ileus
pasca operatif yang sangat menggangu. Pada penderita ini
dilakukan aspirasi kubah lambung jika diperlukan. Penderita
dibawa kekamar operasi dengan pipa tetap terpasang.
c) Antibiotik
Pemberian antibiotik preoperatif dianjurkan pada reaksi
sistematik dengan toksitas yang berat dan demam yang
tinggi.
2. Terapi bedah
Pada apendisitis tanpa komplikasi, apendiktomi dilakukan
segera setelah terkontrol ketidakseimbangan cairan dalam
tubuh dan gangguan sistematik lainnya. Biasanya hanya
diperlukan sedikit persiapan. Pembedahan yang direncanakan
secara dini baik mempunyai  praksi mortalitas 1 % secara
primer  angka morbiditas dan mortalitas penyakit ini tampaknya
disebabkan oleh komplikasi ganggren dan perforasi yang terjadi
akibat yang tertunda.
3. Terapi pasca operasi
Perlu dilakukan obstruksi tanda-tanda vital untuk mengetahui
terjadinya perdarahan didalam, syok hipertermia, atau
gangguan  pernapasan angket sonde lambung bila pasien telah
sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.
Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien dikatakan baik
bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien
dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada
12

perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi


usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai  15
ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. 
Keesokan harinya diberikan makan saring, dan hari berikutnya
diberikan makanan lunak. Satu hari pasca operasi pasien
dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30
menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk  diluar
kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien
diperbolehkan pulang. 

G. Komplikasi
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang
dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insidens
perforasi adalah 10% sampai 32%. Insidens lebih tinggi pada
anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah
awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7 oC atau
lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen
yang kontinyu (Smeltzer dan Barre, 2002).

H. Pencegahan
1. Diet tinggi serat akan sangat membantu melancarkan aliran
pergerakan makanan dalam saluran cerna sehingga tidak
tertumpuk lama dan mengeras.
2. Minum air putih minimal 8 gelas sehari dan tidak menunda
buang air besar juga akan membantu kelancaran pergerakan
saluran cerna secara keseluruhan.
13

I. Prognosis
Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan, tingkat
mortalitas dan morbiditas penyakit apendisitis sangat kecil.
Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan
mortalitas bila terjadi komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi
bila apendiks tidak diangkat. Terminologi apendisitis kronis
sebenarnya tidak ada (Mansjoer, 2000).

J. Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Biodata
Identitas klien : nama, umur, jenis kelamin, status
perkawinan, agama, suku/ bangsa, pendidikan, pekerjaan,
alamat dan nomor register.
2. Lingkungan
Dengan adanya lingkungan yang bersih, maka daya tahan
tubuh penderita akan lebih baik daripada tinggal di
lingkungan yang kotor.
3. Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Nyeri pada daerah kuadran kanan bawah, nyeri sekitar
umbilikus.
b) Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat operasi sebelumnya pada kolon.
c) Riwayat kesehatan sekarang
Sejak kapan keluhan dirasakan, berapa lama
keluhan terjadi, bagaimana sifat dan hebatnya
keluhan, dimana keluhan timbul, keadaan apa yang
memperberat dan memperingan.
14

4. Pemeriksaan fisik
a) Inspeksi
Pada apendisitis akut sering ditemukan adanya
abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis
ini biasa ditemukan distensi abdomen.
b) Palpasi
Pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan
terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa
nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci
diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri
bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah,
ini disebut tanda Rovsing (Rovsing sign). Dan apabila
tekanan pada perut kiri dilepas maka juga akan terasa
sakit di perut kanan bawah, ini disebut tanda Blumberg
(Blumberg sign).
c) Pemeriksaan colok dubur
Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis untuk
menentukkan letak apendiks apabila letaknya sulit
diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini terasa
nyeri, maka kemungkinan apendiks yang meradang di
daerah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci
diagnosis apendisitis pelvika.
d) Uji psoas dan uji obturator
Pemeriksaan ini dilakukan juga untuk mengetahui letak
apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan
rangsangan otot psoas mayor lewat hiperekstensi sendi
panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila
apendiks yang meradang menempel pada m.psoas
mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan
nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan
gerakan fleksi dan andorotasi sendi panggul pada
15

posisi terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak


dengan m.obturator internus yang merupakan dinding
panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan
nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis
pelvika.

5. Perubahan pola fungsi


Data yang diperoleh dalam kasus apendisitis menurut
Doenges (2000) adalah sebagai berikut :
a) Aktivitas / istirahat
Gejala : Malaise
b) Sirkulasi
Tanda : Takikardi
c) Eliminasi
Gejala : Konstipasi pada awitan awal. Diare (kadang-
kadang)
Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan/ nyeri lepas,
kekakuan. Penurunan atau tidak ada bising usus
d) Makanan / cairan
Gejala : Anoreksia, mual/muntah
e) Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan
umbilikus yang meningkat berat dan terlokalisasi
pada titik Mc.Burney (setengah jarak antara
umbilikus dan tulang ileum kanan), meningkat
karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam (nyeri
berhenti tiba-tiba diduga perforasi atau infark
pada apendiks). Keluhan berbagai rasa nyeri/ gejala tak
jelas (berhubungan dengan lokasi apendiks, contoh :
retrosekal atau sebelah ureter)
16

Tanda : Perilaku berhati-hati; berbaring ke samping atau


telentang dengan lutut ditekuk. Meningkatnya nyeri
pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki
kanan/ posisi duduk tegak. Nyeri lepas pada sisi kiri
diduga inflamasi peritoneal
f) Pernapasan
Tanda : Takipnea, pernapasan dangkal
g) Keamanan
Tanda : Demam (biasanya rendah).

6. Pemeriksaan Diagnostik
a) Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein
reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap
ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-20.000/ml
(leukositosis) dan neutrofil diatas 75%. Sedangkan
pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
b) Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan.
Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian
memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada
apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan
ditemukan bagian menyilang dengan apendikalit serta
perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi
serta pelebaran sekum.
B. Diagnosa
Menurut Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern dalam Buku
Saku Diagnosis Keperawatan NANDA NIC NOC (2011),
diagnosa keperawatan pre operatif pada penderita apendisitis
akut adalah sebagai berikut:
17

1. Kekurangan volume cairan tubuh


2. Hipertermi
3. Nyeri akut
4. Hambatan mobilitas fisik
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
6. Ansietas
18

C. Penyimpangan KDM

Fekalit, benda asing, jaringan parut, tumor apendiks


dan cacing askaris

Obstruksi lumen apendiks

Ketidakseimbangan produksi Migrasi bakteri dari


& ekskresi mucus colon ke apendiks

Peningkatan intra lumen

Terhambatnya aliran Obstruksi vena


Arteri
limfe
terganggu
Edema &
Edema dan ulserasi peningkatan tekanan
intral umen
Terjadi infark
pada usus Nyeri epigastrium
Peradangan dinding
apendiks
Nekrosis Nyeri akut
apendiks

Hambatan Peradangan Mual dan Mekanisme


Gangren mobilitas fisik meluas ke muntah kompensasi tubuh
peritonium
Apendiks Absorbsi Peningkatan
gangrenosa makanan tidak leukosit dan
Rencana
pembedahan adekuat, suhu tubuh
pengeluaran
cairan aktif
Ansietas Hipertermi

Kekurangan Nutrisi kurang


volume cairan dari kebutuhan
tubuh tubuh
19

D. Intervensi
Menurut Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern dalam Buku
Saku Diagnosis Keperawatan NANDA NIC NOC (2011),
intervensi yang biasa muncul pada penderita apendisitis akut
pre operatif adalah sebagai berikut:
1. Kekurangan volume cairan tubuh
Batasan Karakteristik
Subjektif
Haus
Objektif
a) Perubahan status mental
b) Penurunan turgor kulit dan lidah
c) Penurunan haluaran urine
d) Kulit dan membran mukosa kering
e) Hematokrit meningkat
f) Suhu tubuh meningkat
g) Kelemahan
h) Peningkatan frekuensi nadi, penurunan tekanan darah,
penurunan volume dan tekanan nadi.
Faktor yang berhubungan
a) Kehilangan volume cairan aktif
b) Asupan cairan yang tidak adekuat
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
a) Kekurangan volume cairan akan teratasi ditandai
dengan keseimbangan cairan, keseimbanagn
elektrolit dan asam basa, hidrasi yang adekuat, dan
status nutrisi: asupan makanan dan cairan adekuat.
b) Keseimbangan elektrolit dan asam basa akan
dicapai dibuktikan dengan :
1) Memiliki konsentrasi urine yang normal
2) Tidak mengalami haus abnormal
20

3) Memiliki asupan cairan oral dan atau intravena


yang adekuat
4) Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran
yang seimbang dalam 24 jam.
5) Menamilkan hidrasi yang baik (membran
mukosa lembap, mampu berkeringat.
Intervensi NIC
a) Pantau warna, jumlah, dan frekuensi kehilangan
cairan
b) Observasi khususnya terhadap kehilangan
cairan yang tinggi elektrolit, misalnya diare
c) Pantau hasil laboratorium yang relevan dengan
keseimbangan cairan (misalnya kadar
hematokrit, BUN, albumin, protein total,
osmolalitas serum, dan berat jenis urine).
d) Pantau status hidrasi misalnya kelembapan
membran mukosa, keadekuatan nadi, dan
tekanan darah ortostatik.
e) Kaji orientasi terhadap orang, tempat dan waktu
f) Mengumpulkan dan menganalisis data pasien
untuk mengatur keseimbangan cairan
g) Memberikan dan memantau cairan dan obat
intravena
h) Membantu dan menyediakan asupan makanan
dan cairan dalam diet seimbang
i) Timbang berat badan setiap hari dan pantau
kecendrungannya
j) Tentukan jumlah cairan yang masuk dalm 24
jam, hitung asupan yang diinginkan sepanjang
sif siang, soreh, dan malam
k) Anjurkan melakukan higiene oral secara sering
21

l) Kolaborasi pemberian terapi IV sesuai program.

2. Hipertermi
Batasan Karakteristik
Objektif
a) Kulit merah
b) Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal
c) Frekuensi napas meningkat
d) Kejang atau konvulsi
e) Kulit teraba hangat
f) Takikardi
g) Takipneu
Faktor yang Berhubungan
a) Dehidrasi
b) Penyakit atau trauma
c) Ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk
berkeringat
d) Pakaian yang tidak tepat
e) Obat atau anastesia
f) Terpajan lingkungan yang panas (jangka panjang)
g) Aktivitas yang berlebihan
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
a) TTV dalam rentang normal
b) Pasien akan menunjukkan termoregulasi
c) Melaporkan tanda dan gejala dini hipertermia
d) Menjelaskan tindakan untuk mencegah atau
meminimalkan peningkatan suhu tubuh.
Intervensi NIC
a) Pantau TTV
b) Pantau hidrasi (misalnya turgor kulit, kelembapan
membran mukosa)
22

c) Kaji ketepatan jenis pakaian yang digunakan, sesuai


dengan suhu lingkungan
d) Regulasi suhu
NIC:
a) Pantau suhu minimal setiap dua jam, sesuai
kebutuhan
b) Pantau warna kulit dan suhu
c) Anjurkan asupan cairan oral, sedikitnya 2 liter per hari
d) Ajarkan pasien/keluarga dalam mengukur suhu untuk
mencegah dan mengenali secara dini hipertermia
(misalnya sengatan panas, keletihan akibat panas)
e) Lepaskan pakaian yang berlebihan dan tutupi pasien
dengan selimut saja
f) Berikan kompres hangat untuk mengatasi demam
g) Kolaborasi pemberian obat antipiretik.

3. Nyeri akut
Batasan Karakteristik
Subjektif
Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan (nyeri)
dengan isyarat
Objektif
a) Posisi untuk menghindari nyeri
b) Perubahan tonus otot (dengan rentang dari lemas, tidak
bertenaga sampai kaku
c) Perubahan selera makan
d) Perilaku ekspresif (misalnya gelisah, merintih,
menangis, peka terhadap rangsang, dan menghela
napas panjang)
e) Wajah topeng (nyeri)
f) Perilaku menjaga atau sikap melindungi
23

g) Bukti nyeri yang dapat diamati


h) Berfokus pada diri sendiri
i) Gangguan tidur (mata terlihat kuyu, gerakan tidak
teratur, atau tidak menentu dan menyeringai)
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
a) Memperlihatkan Pengendalian Nyeri, yang dibuktikan
oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5: tidak
pernah, jarang, kadang-kadang, sering atau selalu ):
1) Mengenali awitan nyeri
2) Menggunakan tindakan pencegahan
3) Melaporkan nyeri dapat dikendalikan
b) Melaporkan Tingkat Nyeri, yang dibuktikan oleh
indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5: sangat berat,
berat, sedang, ringan atau tidak ada):
1) Ekspresi nyeri pada wajah
2) Gelisah atau ketegangan otot
3) Durasi episode nyeri
4) Merintih dan menangis
5) Gelisah
SKALA NYERI
Nilai Skala Nyeri

0 Tidak nyeri
1 Seperti gatal, tersetrum / nyut-nyut
2 Seperti melilit atau terpukul
3 Seperti perih
4 Seperti keram
5 Seperti tertekan atau tergesek
6 Seperti terbakar atau ditusuk-tusuk
7–9 Sangat nyeri tetapi dapat dikontrol oleh klien
24

dengan aktivitas yang biasa dilakukan.


10 Sangat nyeri dan tidak dapat dikontrol oleh
klien.
Keterangan : 1 – 3    (Nyeri ringan)
4 – 6    (Nyeri sedang)
7 – 9    (Nyeri berat)
10        (Sangat nyeri)
Intervensi NIC
a) Kaji tingkat nyeri dengan menggunakan skala 0-10
b) Kaji dampak agama, budaya, kepercayaan, dan lingkungan
terhadap nyeri dan respon pasien
c) Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, imajinasi tebimbing, terapi
musik, terapi bermain, distraksi, kompres hangat atau dingin
sebelum, setelah, dan jika memungkinkan , selama aktivitas
yang menimbulkan nyeri, sebelum nyeri terjadi atau meningkat,
dan bersama penggunaan tindakan peredaan nyeri yang lain.
d) Lakukan perubahan posisi, massase [punggung dan relaksasi
e) Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan yang
menyangkutn aktivitas keperawatan
f) Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas, bukan pada
nyeri dan rasa tidak nyaman dengan melakukan pengalihan
melalui TV, radion, dan interaksi dengan pengunjung
g) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi

4. Hambatan mobilitas fisik


Batasan Karakteristik
Objektif
a) Penurunan waktu reaksi
b) Kesulitan membolak-balik tubuh
c) Dispnea saat beraktivitas
25

d) Perubahan cara berjalan (misalnya, penurunan aktivitas


dan kecepatan berjalan, kesulitan utnuk memulai
berjalan, langkah kecil, berjalan dengan menyeret kaki,
pada saat berjalan badan mengayun ke samping)
e) Pergerakan menyentak
f) Keterbatasan kemampuan untuk melakukan
keterampilan motorik kasar
g) Keterbatasan kemampuan untuk melakukan
keterampilan motorik halus
h) Keterbatasan rentang pergerakan sendi
i) Tremor yang diinduksi oleh pergerakan
j) Ketidakstabilan postur tubuh (saat melakukan rutinitas
aktivitas kehidupan sehari-hari)
k) Melambatnya pergerakan
l) Gerakan tidak teratur atau tidak terkoordinasi.
Faktor yang Berhubungan
a) Perubahan metabolisme sel
b) Indeks massa tubuh di atas persentil ke-75 sesuai usia
c) Gangguan kognitif
d) Kepercayaan budaya terkait aktivitas sesuai usia
e) Penurunan kekuatan, kendali, atau massa otot
f) Keadaan alam perasaan depresi atau ansietas
g) Keterlambatan perkembangan
h) Ketidaknyamanan
i) Intoleransi aktivitas dan penuruna kekuatan dan
ketahanan
j) Kaku sendi atau kontraktur
k) Defesiensi pengetahuan tentang nilai aktivitas fisik
l) Kurang dukungan lingkungan fisik atau sosial
m) Keterbatasan ketahanan kardiovaskular
n) Hilangnya integritas struktur tulang
26

o) Medikasi
p) Gangguan muskuloskeletal
q) Gangguan neuromuskular
r) Nyeri
s) Program pembatasan pergerakan
t) Keengganan untuk memulai pergerakan
u) Gaya hidup yang kurang gerak atau disuse atau
melemah
v) Malnutrisi (umum atau selektif)
w) Gangguan sensori persepsi
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
Memperlihatkan mobilitas yang dibuktikan dengan
indikator:
a) Keseimbangan
b) Koordinasi
c) Performa posisi tubuh
d) Pergerakan sendi dan otot
e) Berjalan
f) Bergerak dengan mudah
Aktivitas Keperawatan
Tingkat 1
a) Kaji kebutuhan terhadap bantuan pelayanan
kesehatan di rumah dan kebutuhan terhadap
peralatan pengobatan yang tahan lama
b) Ajarkan pasien tentang dan pantau penggunaan alat
bantu mobilitas
c) Ajarkan dan bantu pasien dalam proses berpindah
(misalnya dari tempat tidur ke kursi)
d) Rujuk ke ahli terapi fisik untuk program latihan
e) Berikan penguatan positif selama aktivitas
27

f) Bantu pasien untuk menggunakan alas kaki antiselip


yang mendukung untuk berjalan
g) Pengaturan posisi (NIC):
1) Ajarkan pasien bagaimana menggunakan postur
dan mekanika tubuh yang benar saat melakukan
aktivitas
2) Pantau ketepatan pemasangan traksi
Tingkat 2
a) Kaji kebutuhan belajar pasien
b) Kaji kebutuhan terhadap bantuan pelayanan
kesehatan dari lembaga kesehatan di rumah dan alat
kesehatan yang tahan lama
c) Ajarkan dan dukungpasien dalam latihan ROM aktif
atau pasif untuk mempertahankan atau meningkatkan
kekuatan dan ketahanan otot
d) Instruksikan dan dukung pasien untuk menggunakan
trapeze atau pemberat untuk meningkatkan serta
memperthanakan kekuatan ekstremitas atas
e) Ajarkan teknik ambulasi dan berpindah yang aman
f) Instruksikan pasien untuk menyangga berat
badannya
g) Instruksikan pasien untuk memperhatikan kesejajaran
tubuh yang benar
h) Gunakan ahli terapi fisik dan okupasi sebagai suatu
sumber untuk mengembangkan perencanaan dan
mempertahankan atau meningkatkan mobilitas
i) Berikan penguatan positif selama aktivitas
j) Awasi seluruh upaya mobilitas dan bantu pasien, jika
diperlukan
k) Gunakan sabuk penyokong saat memberikan
bantuan ambulasi atau perpindahan.
28

Tingkat 3 dan 4
a) Tentukan tingkat motivasi pasien untuk
mempertahankan atau mengembalikan mobilitas sendi
dan otot
b) Gunakan ahli terapi fisik dan okupasi sebagai sumber
dalam perencanaan aktivitas perawatan pasien
c) Dukung pasien dan keluarga untuk memandang
keterbatasan dengan realistis
d) Berikan penguatan positif selama aktivitas
e) Berikan analgesik sebelum memulai latihan fisik
f) Susun rencana yang spesifik, seperti:
1) Tipe alat bantu
2) Posisi pasien
3) Cara memindahkan dan mengubah posisi pasien
4) Jumlah personel yang dibutuhkan untuk
memobilisasi pasien
5) Peralatan eliminasi yang diperlukan (misal, pispot,
urinal, dan pispot fraktur)
6) Jadwal aktivitas
Pengaturan posisi (NIC):
1) Pantau pemasangan alat traksi yang benar
2) Letakkan matras atau tempat tidur terapeutik dengan
benar
3) Atur posisi dengan kesejajaran tubuh yang benar
4) Letakkan pada posisi terapeutik
5) Ubah posisi pasien yang imobilisasi minimal setiap dua
jam berdasarkan jadwal spesifik
6) Letakkan tombol pengubah posisi tempat tidur dan
lampu pemanggil dalam jangkauan pasien
7) Dukung latihan ROM aktif atau pasif, jika diperlukan.
29

5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


Batasan Karakteristik
Subjektif
a) Kram abdomen
b) Nyeri abdomen
c) Menolak makan
d) Persepsi ketidakmampuan untuk mencerna makanan
e) Melaporkan perubahan sensasi rasa
f) Merasa cepat kenyang setelah mengomsumsi makanan
Objektif
a) Diare atau steatore
b) Bising usus hiperaktif
c) Kurangnya minat terhadap makanan
d) Membran mukosa pucat
e) Tonus otot buruk
f) Menolak untuk makan
g) Kelemahan otot untuk menelan atau mengunya
Faktor yang Berhubungan
a) Kesulitan mengunyah atau menelan
b) Intoleransi makanan
c) Faktor ekonomi
d) Kebutuhan metabolik tinggi
e) Kurang pengetahuan dasar tentang nutrisi
f) Hilang nafsu makan
g) Mual dan muntah
h) Pengabaian oleh orang tua
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
a) Selera makan: Keinginan untuk makan ketika dalam
keadaan sakit atau sedang menjalani pengobatan
b) Memperlihatkan status gizi yang adekuat
30

c) Mengungkapkan tekad untuk mematuhi diet


d) Mempertahankan massa tubuh dan berat badan
dalam batas normal
e) Melaporkan tingkat ekergi yang adekuat.
Tujuan dan Kriteria Hasil menurut Wilkinson (2007)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan
ebutuhan nutrisi pasien terpenuhi dengan kriteria hasil:
asupan makanan dan cairan adekuat, zat gizi terpenuhi,
asupan cairan oral atau IV dapat terpenuhi dengan baik,
serta mencapai berat badan ideal
Intervensi NIC
a) Kaji faktor pencetus mual dan muntah
b) Catat warna, jumlah, dan frekuensi muntah
c) Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan
makan
d) Manajemen nutrisi NIC:
1) Ketahui makanan kesukaan pasien
2) Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi
3) Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan
asupan
4) Timbang pasien pada interval yang tepat
e) Ajarkan orang tua dan anak tentang makanan yang
bergizi dan tidak mahal
f) Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi
dan bagaimana memenuhinya
g) Berikan makanan dalam porsi sedikit tetapi sering
dengan makanan yang bervariasi
h) Membantu pasien untuk makan
31

i) Kolaborasi pemberian obat antiemetik dan atau


analgesik sebelum makan atau sesuai dengan jadwal
yang dianjurkan.
6. Ansietas
Batasana Karakteristik
Perilaku
a) Penurunan produktivitas
b) Mengekspresikan kekhawatiran akibat perubahan
dalam peristiwa hidup
c) Gerakan yang tidak relevan (misalnya mengeret kaki,
gerakan lengan)
d) Gelisah
e) Memandang sekilas
f) Insomnia
g) Kontak mata buruk
h) Resah
i) Menyelidik dan tidak waspada
Afektif
a) Gelisah
b) Kesedihan yang mendalam
c) Distres
d) Ketakutan
e) Perasaan tidak adekuat
f) Fokus pada diri sendiri
g) Peningkatan kekhawatiran
h) Iritabilitas
i) Gugup
j) Gembira berlebihan
k) Nyeri dan peningkatan ketidakberdayaan yang
persisten
l) Marah
32

m) Menyesal
n) Perasaan takut
o) Ketidakpastian
p) Khawatir
Fisiologis
a) Wajah tegang
b) Insomnia
c) Peningkatan keringat
d) Peningkatan ketegangan
e) Terguncang
f) Gemetar atau tremor di tangan
g) Suara bergetar
Parasimpatis
a) Nyeri abdomen
b) Penurunan tekanan darah
c) Penurunan nadi
d) Diare
e) Pingsan
f) Keletihan
g) Mual
h) Gangguan tidur
i) Kesemutan pada ekstremitas
j) Sering berkemih
k) Berkemih tidak lampias
l) Urgensi berkemih
Simpatis
a) Anoreksia
b) Eksitasi kardiovaskuler
c) Diare
d) Mulut kering
e) Wajah kemerahan
33

f) Jantung berdebar-debar
g) Peningkatan tekanan darah
h) Peningkatan nadi
i) Peningkatan refleks
j) Peningkatan pernapasan
k) Dilatasi pupil
l) Kesulitan bernapas
m) Vasokontriksi superfisial
n) Kedutan otot
o) Kelemahan
Kognitif
a) Kesadaran terhadap gejala-gejala fisiologis
b) Blocking pikiran
c) Konfusi
d) Penurunan lapang pandang
e) Kesulitan untuk berkonsentrasi
f) Keterbatasan kemampuan untuk menyelesaikan
masalah
g) Keterbatasan kemampuan untuk belajar
h) Takut terhadap konsekuensi yang tidak spesifik
i) Fokus pada diri sendiri
j) Mudah lupa
k) Gangguan perhatian
l) Tenggelam dalam dunia sendiri
m) Melamun
n) Kecendruangan untuk menyalahkan orang lain
Faktor yang Berhubungan
a) Terpajan toksin
b) Hubungan keluarga/hereditas
c) Transmisi dan penularan interpersonal
d) Krisis situasi dan maturasi
34

e) Stres
f) Penyalahgunaan zat
g) Ancaman kematian
h) Ancaman atau perubahan pada status peran, fungsi
peran, lingkungan, status kesehatan, status ekonomi,
atau pola interaksi
i) Ancaman terhadap konsep diri
j) Konflik yang tidak disadari tentang nilai dan tujuan
hidup yang esensial
k) Kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tujuan dan Kriteria Hasil NOC
a) Ansietas berkurang
b) Kemampuan untuk fokus pada stimulus tertentu
c) Memiliki TTV dalam batas normal
d) Meneruskan aktivitas yang dibutuhkan meskipun
mengalami kecemasan
Intervensi NIC
a) Kaji tingkat ansietas pasien
Skala Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dalam
penilaian kecemasan (ansetas) terdiri dari 14 item,
meliputi:
1) Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran
sendiri, mudah tersinggung.
2) Merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah
terganggu dan lesu.
3) Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang
asing, bila tinggal sendiri dan takut pada binatang
besar.
4) Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun
pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi
buruk.
35

5) Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat,


mudah lupa dan sulit konsentrasi.
6) Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya
kesenangan pada hoby, sedih, perasaan tidak
menyenangkan sepanjang hari.
7) Gejala somatik : nyeri pada otot-otot dan kaku,
gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot.
8) Gejala sensorik : perasaan ditusuk-tusuk,
penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta
merasa lemah.
9) Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada,
denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang
sekejap.
10)Gejala pernapasan : rasa tertekan di dada,
perasaan tercekik, sering menarik napas panjang
dan merasa napas pendek.
11)Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi,
berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri
lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan
panas di perut.
12)Gejala urogenital : sering keneing, tidak dapat
menahan keneing, aminorea, ereksi lemah atau
impotensi.
13)Gejala vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat,
muka merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit
kepala.
14)Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari
gemetar, mengkerutkan dahi atau kening, muka
tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek
dan cepat.
36

Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan


nilai dengan kategori:
0 = tidak ada gejala sama sekali
1 = Ringan / Satu dari gejala yang ada
2 = Sedang / separuh dari gejala yang ada
3 = berat / lebih dari ½ gejala yang ada
4 = sangat berat / semua gejala ada
Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah
nilai skor dan item 1-14 dengan hasil:
1) Skor < 14 = tidak ada kecemasan.
2) Skor 14 - 20 = kecemasan ringan.
3) Skor 21 – 27 = kecemasan sedang.
4) Skor 28 – 41 = kecemasan berat.
5) Skor 42 – 56 = panik.
a) Gali bersama pasien tentang teknik yang berhasil dan
tidak berhasil menurunkan ansietas di masa lalu
b) Berikan informasi tentnag gejala ansietas
c) Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan
secara verbal pikiran dan aperasaan untuk
mengeksternalisasikan ansietas
d) Yakinakan kembali pasien melalui sentuhan, dan sikap
empatik secara verbal dan nonverbal secara bergantian
e) Dorong pasien untuk mengekspresikan kemarahan dan
iritasi serta izinkan pasien untuk menangis
f) Bermain dengan anak atau bawa anak ke tempat
bermain anak di rumah sakit dan libatkan anak dalam
permainan
g) Kolaborasi pemberian obat untuk menurunkan ansietas.
37
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C dan Hackley, JiAnn C. 2000. Keperawatan Medikal


Bedah: Buku Saku untuk Brunner dan Suddarth. Jakarta:
EGC.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC.
_____________2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC.
Sjamsuhidajat, R dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:
EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Medikal
Bedah Edisi 8 Volume 2, Alih Bahasa Kuncara, H.Y, dkk.
Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith M dan Ahern, Nancy R. 2011. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria
Hasil Noc. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai