MODUL METOPEL
KESEHATAN
MASYARAKAT
OLEH EVARINA SEMBIRING, SST, M.KES
BAB 1 PENELITIAN KUANTITATIF
1.1 PENGERTIAN PENELITIAN KUANTITATIF
Penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang
menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai
apa yang ingin diketahui. (Kasiram (2008: 149) dalam bukunya Metodologi
Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif).
a. Menurut Sugiyono
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan
pada filsafat post positivisme. Metode ini digunakan untuk meneliti pada kondisi
obyek yang alamiah, (sebagai lawannya eksperimen) di mana peneliti adalah
sebagai instrumen kunci. Pengambilan sampel sumber data dilakukan secara
purposive dan snowball, teknik pengumpulan dengan tri-anggulasi (gabungan),
analisis data bersifat induktif atau kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih
menekankan arti dari pada generalisasi.
Metode penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan
terhadap filsafat positivisme. Metode ini digunakan dalam meneliti terhadap
sampel dan populasi penelitian, teknik pengambilan sampel umumnya dilakukan
dengan acak atau random sampling. Sedangkan pengumpulan data dilakukan
dengan cara memanfaatkan instrumen penelitian yang dipakai. Analisis data yang
digunakan bersifat kuantitatif atau bisa diukur dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang ditetapkan sebelumnya.
b. Menurut Saryono
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk menyelidiki,
menggambarkan, menjelaskan, menemukan kualitas atau keistimewaan dari
pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui
pendekatan kuantitatif.
c. Menurut Strauss dan Corbin
Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-
penemuan yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur-prosedur
statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran).
1.2 KARAKERISTIK PENELITIAN KUANTITATIF
Karakteristik penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut (Nana Sudjana dan
Ibrahim, 2001: 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002 : 11; Johnson, 2005; dan Kasiram
2008: 149-150) :
a. Menggunakan pola berpikir deduktif (rasional – empiris atau top-down),
yang berusaha memahami suatu fenomena dengan cara menggunakan konsep-
konsep yang umum untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang bersifat khusus.
b. Logika yang dipakai adalah logika positivistik dan menghundari hal-hal
yang bersifat subjektif.
c. Proses penelitian mengikuti prosedur yang telah direncanakan.
d. Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk menyususun ilmu
nomotetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hokum-hukum dari
generalisasinya.
e. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, dan sumber data yang
dibutuhkan, serta alat pengumpul data yang dipakai sesuai dengan apa yang telah
direncanakan sebelumnya.
f. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran dengan mengguna-kan
alat yang objektif dan baku.
g. Melibatkan penghitungan angka atau kuantifikasi data.
h. Peneliti menempatkan diri secara terpisah dengan objek penelitian, dalam
arti dirinya tidak terlibat secara emosional dengan subjek penelitian.
i. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul.
j. Dalam analisis data, peneliti dituntut memahami teknik-teknik statistik.
k. Hasil penelitian berupa generalisasi dan prediksi, lepas dari konteks waktu
dan situasi.
l. Penelitian jenis kuantitatif disebut juga penelitian ilmiah
1.3 PROSEDUR PENELITIAN KUANTITATIF
Penelitian ini dalam pelaksanaannya berdasarkan prosedur yang telah
direncanakan sebelumnya. Adapun prosedur penelitian kuantitatif terdiri dari
tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut :
a. Identifikasi permasalahan
b. Studi literatur.
c. Pengembangan kerangka konsep
d. Identifikasi dan definisi variabel, hipotesis, dan pertanyaan penelitian.
e. Pengembangan disain penelitian.
f. Teknik sampling
g. Pengumpulan dan kuantifikasi data.
1.4 METODE PENELITIAN KUANTITATIF
Metode yang dipergunakan dalam penelitian kuantitatif, khususnya kuantitatif
analitik adalah metode deduktif. Dalam metoda ini teori ilmiah yang telah
diterima kebenarannya dijadikan acuan dalam mencari kebenaran selanjutnya.
Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial, dan
Politik (2000: 6) menyatakan bahwa pada dasarnya metoda ilmiah merupakan
cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan :
a) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat
konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun;
b) menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran
tersebut; dan
c) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji
kebenaran pernyataannya secara faktual.
Selanjutnya Jujun menyatakan bahwa kerangka berpikir ilmiah yang
berintikan proses logico-hypothetico-verifikatif ini pada dasarnya terdiri dari
langkah-langkah sebagai berikut (Suriasumantri, 2005 : 127-128) :
a) Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris
yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di
dalamnya
b) Penyusunan kerangka berpikir dalam penyusunan hipotesis yang
merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat
antara berbagai faktor yang saling mengait dan membentuk konstelasi
permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-
premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor
empiris yang relevan dengan permasalahan.
c) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan
terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari
dari kerangka berpikir yang dikembangkan
d) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang
relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat
fakta-fakta yang mendukung hipoteisis tersebut atau tidak
e) Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah hipotesis yang
diajukan itu ditolak atau diterima.
1.5 JENIS METODE PENELITIAN
Menurut beberapa ahli dalam penelitian kuantitatif terdapat beberapa metode
atau jenis penelitian yang digunakan, diantaranya sebagai berikut :
1. Metode Deskriptif
Menurut Whitne (1960), metode deskriptif merupakan suatu pencarian
fakta menggunakan interprestasi yang tepat. Dalam penelitian ini mempelajari
tentang masalah-masalah yang ada didalam masyarakat dan juga tata cara yang
digunakan dalam masyarakat serta dalam situasi-situasi tertentu. Penelitian
deskriptif merupakan jenis metode yang menggambarkan suatu objek dan subjek
yang sedang diteliti tanpa adanya rekayasa. Termasuk mengenai hubungan
tentang kegiatan, pandangan, sikap dan proses-proses yang berpengaruh dalam
suatu fenomena yang terjadi.
2. Metode Komparatif
Metode komparatif sering dilakukan pada jenis penelitian yang mengarag
pada perbedaan variabel dalam suatu aspke yang diteliti. Dalam penelitian ini
tidak terjadi sebuah manipulasi dari peneliti, hingga datanya benar-benar akurat.
Penelitian ini dilakukan sealami mungkin dengan melakukan pengumpulan
data dengan suatu perintah. Dan hasilnya dapat dianalisa secara statistik untuk
mencari suatu perbedaan variabel yang sedang diteliti.
3. Metode Korelasi
Merupakan metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk
menggambarkan dua atau lebih fakta dan juga sifat-sifat objek yang sedang
diteliti. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan antar persamaan dengan
perbedaan atau fakta berdasarkan kerangka pemikiran yang sudah ada shingga
hasilnya dapat terlihat jelas.
4. Metode Survei
Menurut Zikmund (1997), metode survei merupakan metode dalam
penelitian yang informasinya dikumpulkan dari beberapa sampel.
Menurut Gay dan Diel (1992), metode survei adalah metode yang
penggunaanya sebgai kategori umum dalam penelitian yang langsung
menggunakan kuesioner dan wawancara.
Menurut Bailey (1982), metode survei adalah suatu metode penelitian
yang mempunyai teknik pengambilan keputusan beruppa data pertanyaan secara
tertulis maupun lisan.
5. Metode Ex Post Facto
Metode ini merupakan metode yang sering digunakan untuk penelitian
yang sedang meneliti hubungan antara sebab dan akibat yang dapat dimanipulasi
oleh peneliti. Adanya hubungan seba dan akibat berdasarkan atas kajian teoritis,
jika suatu variabel tertentu dapat mengakbitakan variabel tertentu lainya.
1.6 METODE TRUE EXPERIMENT
Dinamankan sebagai Metode True Experiment karena kita dapat mengontrol
semua variabel luar yang ada, dan dapat mempengaruhi jalannya suaru
eksperimen. Ciri utama dari Metode True Experiment yaitu sampel yang
digunakan untuk melakukan eksperimen yaitu dapat diambil secara acak dari
populasi tertentu.
1.7 METODE QUASI EXPERIMENT
Desain dan rancangan dalam Metode Quasi Experiment mempunyai
kelompok kontrol yang dapat membantu proses penelitian, akan tetapi tidak
berfungsi sepenuhnya karena untuk mengontrol variabel-variabel luar yang masih
mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.
1.8 METODE SUBJEK TUNGGAL
Dalam Metode Subjek Tunggal sering disebut dengan “single subject
experimental” yaitu eksperimen ini biasa dilakukan terhadap subjek dengan
jumlah tunggal saja
1.9 PERBEDAAN PENELITIAN KUALITATIF DENGAN KUANTITATIF
Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif dapat dilihat dari beberapa segi.
Perlu kamu ketahui bahwa kedua metode atau pendekatan penelitian tersebut tidak
selamanya saling bertentangan satu sama lain. Ada juga beberapa hal juga
memiliki kesamaan atau kemiripan.
a. Desain Penelitian
• Kualitatif bersifat umum, fleksibel, dan dinamis. Penelitian kualitatif sendiri
dapat berkembang selama proses penelitian berlangsung.
• Kuantitatif memiliki sifat yang khusus, terperinci, dan statis. Alur dari
penelitian kuantatif sendiri sudah direncanakan sejak awal dan tidak dapat diubah
lagi.
b. Analisis Data
• Kualitatif dapat dianalisis selama proses penelitian berlangsung
• Kuantitatif dapat dianalisis pada tahap akhir sebelum laporan.
c. Istilah Subjek Penelitian
• Kualitatif memiliki subjek penelitian yang biasa disebut dengan narasumber
• Kuantitatif memiliki subjek penelitian yang biasa disebut dengan responden.
d. Cara Memandang Fakta
• Kualitatif: Penelitian kualitatif memandang "Fakta/Kebenaran" tergantung
pada cara peneliti menginterpretasikan data. Hal ini dikarenakan ada hal-hal
kompleks yang tidak bisa sekedar dijelaskan oleh angka, seperti perasaan
manusia. Penelitian kuantitatif berangkat dari data yang kemudian dijelaskan oleh
teori-teori yang dianggap relevan, untuk menghasilkan suatu teori yang
menguatkan teori yang sudah ada
• Kuantitatif: Penelitian kuantitatif memandang "Fakta/Kebenaran" berada
pada objek penelitian di luar sana. Peneliti harus netral dan tidak memihak.
Apapun yang ditemukan di lapangan, itulah fakta. Penelitian kuantitatif berangkat
dari teori menuju data.
e. Pengumpulan Data
• Kualitatif : Penelitian kualitatif lebih berfokus pada sesuatu yang tidak bisa
diukur oleh hitam putih kebenaran, sehingga pada penelitian kualitatif peneliti
mengorek data sedalam-dalamnya atas hal-hal tertentu. Sehingga, kualitas
penelitian kualitatif tidak terlalu ditentukan oleh banyaknya narasumber yang
terlibat, tetapi seberapa dalam peneliti menggali informasi spesifik dari
narasumber yang dipilih
• Kuantitatif : Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
serangkaian instrumen penelitian berupa tes/kuesioner. Data yang terkumpul
kemudian dikonversikan menggunakan kategori/kriteria yang sudah ditetapkan
sebelumnya. Kualitas penelitian kuantitatif ditentukan oleh banyaknya responden
penelitian yang terlibat.
f. Representasi Data
• Kualitatif: Hasil penelitian kualitatif berupa interpretasi peneliti akan sebuah
fenomena, sehingga laporan penelitian akan lebih banyak mengandung deskripsi
• Kuantitatif: Hasil penelitian kuantitatif dipresentasikan dalam bentuk hasil
penghitungan matematis. Hasil penghitungan dianggap sebagai fakta yang sudah
terkonfirmasi. Keabsahan penelitian kuantitatif sangat ditentukan oleh validitas
dan reliabilitas instrumen yang digunakan.
g. Implikasi Hasil Riset
• Kualitatif: Hasil penelitan kualitatif memiliki implikasi yang terbatas pada
situasi-situasi tertentu. Sehingga, hasil penelitian kualitatif tidak bisa
digeneralisasi dalam setting berbeda
• Kuantitatif: Hasil penelitian kuantitatif berupa fakta/teori yang berlaku
secara umum (generalized). Kapanpun dan di manapun, fakta itu berlaku.
h. Macam Metode
• Kualitatif: Fenomenologi, etnografi, studi kasus, historis, grounded theory.
• Kuantitatif: Eksperimen, survey, korelasi, regresi, analisis jalur, expost
facto.
i. Tujuan Penelitian
• Kualitatif: Memperoleh pemahaman mendalam, mengembangkan teori,
mendeskripikan realitas dan kompleksitas sosial.
• Kuantitatif: Menjelaskan hubungan antar variabel, menguji teori, melakukan
generalisasi fenomena sosial yang diteliti.
j. Jenis Data
Kualitatif : Deskriptif dan eksploratif
Kuantitatif : Numerik dan statistic
BAB 2
LANGKAH LANGKAH PENELITIAN (METODE ILMIAH)
2.1 PENGERTIAN METODE ILMIAH
Metode ilmiah atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method
adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan
terkontrol. Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari
sebuah asumsi, atau simpulan, bukan pula berdasarkan data atau fakta khusus.
Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata.
Tahapan pertama suatu metode ilmiah adalah merumuskan masalah apa yang
sedang dihadapi dan sedang dicari pemecahannya. Rumusanmasalah ini akan
menuntun proses selanjutnya dalam penelitian seperti membuat kerangka berpikir
dan penentuan desain penelitian.
Pada Metode Ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis
Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara sistematis dengan
bertahap, tidak zig-zag. Proses berpikir yang sistematis ini dimulai dengan
kesadaran akan adanya masalah hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam
metode ilmiah, proses berpikir dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah
secara sistematis dan berurutan.
Metode ilmiah didasarkan pada data empiris
Setiap metode ilmiah selalu disandarkan pada data empiris. maksudnya
adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya atau jawabannya
itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil pengukuran secara objektif.
Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan salah satu kriteria penting dalam
metode ilmiah. Apabila sebuah masalah dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris,
maka itu bukanlah sebuah bentuk metode ilmiah.
Pada metode ilmiah, proses berpikir dilakukan secara terkontrol
Di saat melaksanakan metode ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara
terkontrol. Maksudnya terkontrol disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu
dilakukan secara sadar dan terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin
membuktikan kebenarannya dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang
berpikir ilmiah tidak melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi,
akan tetapi dilakukan secara sadar dan terkontrol.
2.2 LANGKAH LANGKAH METODE ILMIAH
Untuk mendapatkan gambaran tentang langkah langkah metode ilmiah dapat
diamati bagian di bawah ini :
Gambar 1.4 Langkah Langkah Metode Ilmiah (Penelitian Kuantitatif)
Langkah Langkah Metode Ilmiah Dapat Dibagi Menjadi 6 Tahapan, yaitu :
1. Mengidentikasi, Memilih dan merumuskan Masalah
a. Mengidentifikasi Masalah
1) Mengidentifikasi masalah adalah mencari masalah yang paling relevan
dan menarik untuk diteliti.
2) Masalah dapat dicari melalui “Pancaindera”, yaitu pengamatan,
pendengaran, penglihatan, perasaan, dan penciuman.
3) Permasalahan ada kalau ada kesenjangan (gap) antara das sollen dan
das sein , yaitu ada perbedaan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada
dalam kenyataan, antara apa yang diperlukan dengan apa yang tersedia, antara
harapan dan kenyataan. Masalah berkaitan dengan suatu kondisi yang
mengancam, mengganggu, menghambat, menyulitkan, yang menunjukkan adanya
kesenjangan antara harapan dan kenyataan. “A problem as any situation where
a gap exist between the actual and the desire d ideal state (Sekaran, 1992).
b. Sumber Masalah
Masalah dapat diperoleh dari sumber-sumber sebagai berikut:
1) Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan penelitian
2) Seminar, diskusi dan lain-lain pertemuan ilmiah
3) Pernyataan pemegang otoritas
4) Pengamatan sepintas
5) Pengalaman pribadi
6) Perasaan intuitif.
c. Memilih Masalah/Pembatasan
Dalam mengidentifikasi masalah biasanya dijumpai lebih dari satu masalah,
dan tidak semua masalah dapat/layak diteliti. Oleh sebab itu perlu diadakan
pemilihan/pembatasan masalah.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih masalah:
a) Masalah tersebut layak atau tidaknya untuk diteliti, tergantung pada
Ada/tidaknya sumbangan terhadap teori dan ada/tidaknya teori yang relevan
dengan itu, Ada/tidaknya kegunaan untuk pemecahan masalah-masalah praktis.
b) Managebility, yaitu cukup dana, cukup waktu, cukup alat, cukup bekal
kemampuan teoritis, dan cukup penguasaan metode yang diperlukan.
d. Merumuskan Masalah
Setelah masalah diidentifkasi dan dipilih/dibatasi, selanjutnya masalah tersebut
hendaknya:
1) Dirumuskan dalam kalimat tanya (?) yang padat dan jelas.
2) Memberikan petunjuk tentang kemungkinan pengumpulan data guna menjawab
pertanyaan dalam rumusan tersebut.
2. Penyusunan Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran adalah konstruksi berfikir yang bersifat logis dengan
argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil
disusun. Menurut Rusidi (1993), kerangka berfikir berarti menduduk-perkarakan
masalah dalam kerangka teoritis (theoritical framework) atau disebut juga proses
deduktif.
Untuk menyusun kerangka pemikiran, perhatikanlah hal-hal berkut ini :
a. Cari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang relevan untuk
dijadikan landasan teoritis dalam penelitian. Teori- teori dan konsep-konsep
tersebut berasal dari acuan umum yaitu dari kepustakaan seperti buku teks,
ensiklopedia, monografh dan sejeneisnya. Sedangkan generalisasi dapat ditarik
dari laporan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan masalah yang diteliti.
Kriteria sumber bacaan adalah prinsip kemutakhiran (recency) dan relevansi.
Menurut Rusidi (1993), tahap penguraian teori yang menjadi titik tolak berfikir
untuk menjawab masalah kepada konsep-konsep yang mengabstraksikan
fenomena, disebut tahap conceptioning.
b. Dari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi tersebut, lakukan perincian
analisis melalui penalaran deduktif. Sedangkan dari hasil-hasil penelitian yang
terdahulu dilakukan pemaduan (sistesis) dan generalisasi melalui penalaran
induktif. Proses deduksi dan induksi itu dilakukan secara iteratif, sehingga
dihasilkan jawaban yang paling mungkin terhadap masalah. Jawaban inilah yang
dijadikan hipotesis penelitian.
3. Perumusan Hipotesis
a. Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang
jawabannya harus diuji.
b. Hipotesis dirangkum atau diturunkan dari kerangka pemikiran/kesimpulan
teoritis.
c. Ada dua jenis hipotesis :
1) Hipotesis Deskriptif, yaitu hipotesis yang menunjukan
pemaknaan suatu konsep dari suatu teori.
2) Hipotesis verivikatif, yaitu hipotesis yang mengubungkan atau
mempertautan dua veriabel atau lebih untuk diuji.
a. Hipotesis verifikatif hendaknya menyatakan
pertauatandua variabel atau lebih.
b. Hipoteis dinyatakan dalam kalimat deklaratif/pernyataan yang jelas, padat
dan spesifik.
c. Harus teruji/dapat diuji.
4. Menguji Hipotesis Secara Empirik
a. Menguji dengan alat statistik inverensial dan statistik deskriftif, untuk
membuktikan apakah teori-teori tersebut teruji secara meyakinkan (significant)
atau tidak berdasarkan hasil uji fakta-fakta secara empirik (Penelitian Kuantitatif).
b. Menguji dengan tanpa statistis untuk mencari pemaknaan (Penelitian
Kualitatif).
5. Melakukan Pembahasan
Dalam membahas hasil penelitian maka harus selalu diingat bahwa tujuan kita
adalah membandingkan kesimpulan yang ditarik dari data yang telah dikumpulkan
dengan hipotesis yang diajukan. Secara sistematik dan terarah, maka data yang
telah dikumpulkan tersebut dideskripsikan, dibandingkan dan dievaluasi yang
keseluruhannya diarahkan kepada sebuah penarikan kesimpulan, apakah data
tersebut mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan.
6. Menarik Kesimpulan
Langkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah
kegiatan menarik kesimpulan. Kesimpulan harus bersesuaian dengan masalah
yang telah diajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk
kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Kesimpulan penelitian ini merupakan
sintesis dari keseluruhan aspek penelitian.
BAB 3
PERMASALAHAN PENELITIAN
3.1 PENGERTIAN MASALAH PENELITIAN
Sumber-sumber masalah penelitian dapat dimulai dengan ditemukannya
kesenjangan antara hal yang diinginkan dengan yang didapatkan
dilapangan/lingkungan, kesenjangan antara Das Sollen (seharusnya) dan Das Sein
(kenyataan), kesenjangan antara Harapan dan Kenyataan, kesenjangan antara
Fakta dan Harapan dan kesenjangan antara apa yang diperlukan dengan apa yang
tersedia. adalah merupakan bagian dari pemecahan masalah. Masalah Penelitian
itu? Menurut Notoatmodjo (2002) Masalah Penelitian secara umum dapat
diartikan sebagi “Suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan apa
yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi
dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta antara harapan dan kenyataan”.
Selanjutnya Notoatmodjo (2002) juga menyebutkan bahwa pada hakikatnya
Masalah Penelitian Kesehatan adalah “Segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari
jawabannya, atau segala bentuk rintangan dan hambatan atau kesulitan yang
muncul”. Dengan demikian adanya masalah penelitian oleh karena adanya
"Rational Gap" antara yang diharapkan dan kenyataan.
3.2 LATAR BELAKANG MASALAH
Penelitian Ilmiah selalu akan didahului dengan uraian tentang Latar Belakang
Masalah. Uraian tentang Latar Belakang Masalah tersebut merupakan alur bagi
proses lahirnya suatu masalah penelitian secara formal. Melalui Latar Belakang
Masalah, pengalaman tentang permasalahan penelitian yang sedang dihadapi
dapat menjadilebih utuh. Suatu Rumusan Latar Belakang Masalah yang baik, pada
umumnya mampu mengungkapkan 4 Hal, yaitu:
1) Mengungkapkan Isu-isu (Isseus)
Dalam latar belakang masalah perlu dikemukakan isu-isu yang aktual
mengingat bahwa isu-isu itu merupakan hal yang mengganjal tentang sesuatu
hingga memerlukan penyelesaian. Isu-isu tersebut dapat berupa gejala, fenomena,
atau bahkan komentar yang sedang ramai atau hangat saat ini. Isu dapat berperan
sebagai masalah pokok yang segera memerlukan penyelesaian. Perlu diingat
bahwa isu jelas sangat berbeda dengan gosip. Hal lain yang juga perlu diingat
bahwa sepanjang pernyataan tentang masalah masih bisa dibantah, maka tidak
bisa dikatakan sebagai isu. (Sangaji & Sopiah, 2010)
2) Mengungkapkan Fakta-fakta (Exiting Information)
Latar belakang masalah bisa juga menguraikan fakta-fakta yang
memperkuat isu. Maksudnya, ada keyakinan bahwa isu yang diangkat tidaklah
dibuat-buat, melainkan nyata adanya. Fakta-fakta yang dimaksud umumnya
tentang Data berupa angka-angka, maupun data-data kualitatif. Sumber data
ataupun fakta tersebut seharusnya disebutkan, misalnya dari suatu media massa,
jurnal, laporan sebuah instansi, atau hasil penelitian sebelumnya. Peneliti
hendaknya memperhatikan pula kualitas dan keaktual-an fakta-fakta yang
dikemukakan tersebut.
3) Menguraikan Kebutuhan Penelitian (Need)
Selanjutnya peneliti sebaiknya juga menguraikan kebutuhan penelitian,
yaitu memberikan argumentasi atau justifikasi untuk apa masalah dipecahkan
melalui penelitiannya. Suatu penelitian akan memiliki nilai lebih apabila hasilnya
dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau kepentingan
yang lain.
4) Memiliki Tingkat Kesukaran beujjrkaitan dengan Pemecahan Masalahnya
(Difficulty)
Maksudnya adalah selain menarik, penelitian yang mengangkat atau
meneliti masalah tersebut masih langka atau jarang. Jadi, jika masalah tersebut
diteliti, maka akan menjadi bahan masukan atau informasi yang berharga bagi
siapa pun yang terkait dengan masalah yang akan diteliti tersebut.
3.3 Syarat Masalah Penelitian
Penelitian akan berjalan dengan baik apabila peneliti mampu memahami
masalah penelitian dengan baik. Masalah penelitian dapat dikembangkan dari
berbagai sumber, diantaranya adalah : 1. Kepustakaan. 2. Bahan diskusi temu
ilmiah, hasil seminar, simposium atau lokakarya. 3. Pengalaman dan Observasi
Lapangan. 4. Pendapat pakar yang masih bersifat spekulatif.
Permasalahan yang akan diangkat sebagai topik penelitian, menurut Hulley &
Cummings dalam Siswanto, dkk (2013) harus memenuhi persyaratan atau kriteria
“FINER”( yaitu: Feasible, Interisting, Novel, Ethical, Relevan, ), maksudnya :
1. Feasible : tersedia cukup subjek penelitian, dana, waktu, alat dan keahlian.
2.Interisting : masalah yang akan diangkat untuk topik penelitian hendaknya
yang aktual sehingga menarik untuk diteliti.
3. Novel : masalah dapat membantah atau mengkonfirmasi penemuan atau
penelitian terdahulu, melengkapi atau mengembangkan hasilpenelitian
sebelumnya, atau menemukan sesuatu yang baru.
4. Ethical: masalah penelitian hendaknya tidak bertentangan dengan Etika.
5. Relevan: masalah penelitian sebaiknya disesuaikan juga dengan perkembangan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), ditujukan untuk meningkatkan atau
mengembangkan keilmuan dan penelitian yang berkelanjutan.
3.4 MERUMUSKAN MASALAH PENELITIAN
Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap
penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan
penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-
sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Rumusan Masalah atau
PROBLEM FORMULATION atau RESEARCH PROBLEM adalah “Suatu
rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya
sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang
saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai
penyebab maupun sebagai akibat”. Sehingga Rumusan Masalah merupakan
formulasi dari pertanyaan penelitian, yang artinya merupakan kesimpulan
pertanyaan yang terkandung dalam pertanyaan penelitian. Dengan demikian
Perumusan Masalah merupakan jawaban atas pertanyaan: apa masalah penelitian
itu ? (Danim, S. 2003). Untuk itu harus pula dibedakan antara Perumusan Masalah
dengan Pertanyaan Penelitian. Untuk Pertanyaan Penelitian lebih mengacu pada
Tujuan Khusus dan segi-segi tehnis pengumpulan data.
Rumusan Masalah umumnya dalam bentuk pertanyaan, dan jarang sekali
dalam bentuk pernyataan, walaupun dalam bentuk pernyataan pun banyak ahli
yang tidak mempermasalahkan. Tapi Tuckman (1972) dalam Danim,S. (2003)
menganjurkan agar Rumusan Masalah hendaknya dalam bentuk Pertanyaan.
Dimana sebuah Pertanyaan itu mempunyai 2 (Dua) ciri utama yaitu :
a) Memuat Kata Tanya dan
b) Diakhiri Dengan Tanda Tanya. Dalam bahasa penelitian, kata tanya yang
dipakai sebaiknya "kata tanya baku".
Sebagai contoh perbedaan kata tanya tidak baku dan kata tanya baku:
TIDAK BAKU BAKU
Apa, Apakah
Bagaimana Bagaimanakah,
, Sejauh mana Sejauh manakah,
Adakah, Adakah,
Yang mana Yang manakah
Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam
kegiatan penelitian, sampai-sampai memunculkan suatu anggapan yang
menyatakan bahwa ‘kegiatan melakukan perumusan masalah, merupakan kegiatan
separuh dari penelitian itu sendiri’.
Selanjutnya sifat Perumusan Masalah penelitian dapat dibedakan menjadi 2
(Dua) Sifat, yaitu :
a. Perumusan Masalah Deskriptif, apabila tidak menghubungkan antar
fenomena atau variabel.
b. Perumusan Masalah Eksplanatoris, apabila rumusannya menunjukkan adanya
hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena/ variabel. Rumusan
masalah penelitian bisa dibuat oleh seorang peneliti melalui beberapa
kemungkinan latar belakang yang dibuat :
1. Setelah menyadari adanya suatu permasalahan kehidupan yang sedang
dihadapi manusia atau masyarakatnya. Masalah kehidupan yang sedang
hangat dibicarakan dalam buku ini disebut "topik masalah" Topik
masalah inilah yang menyadarkan seorang pemikir untuk berperan
memecahkan sejumlah rumusan masalah penelitian yang terkait dengan
topik masalah itu tadi.
2. Setelah menyadari potensi permasalahan di masa datang setidaknya
menurut pandangan dan pertimbangan teoritis dari suatu bidang
keilmuan. Potensi permasalahan itu perlu diantisipasi pemecahannya.
Sehubungan dengan itu diperlukan penelitian terhadap butir-butir
permasalahan yang secara khusus telah dirumuskan. Dari suatu topik
masalah penelitian dapat dirumuskan satu atau lebih butir masalah
penelitian.
Ada 5 (Lima) Tipe Topik Masalah Penelitian yang dapat digarap oleh seorang
peneliti, yaitu :
Tipe 1 Keperluan mendeteksi penyebab terjadinya suatu
fenomena yang merugikan atau menguntungkan agar
gejala dan akibat lanjutannya dapat di atasi atau dipacu.
Tipe 2 Keperluan Memperbaiki kesalahan yang tengah berjalan
agar kelemahan-kelemahan yang ada dapat di atasi
Tipe 3 Keperluan meramalkan akibat positif dan negatif dari suatu
kebijaksanaan baru, langkah dini dapat diarahkan untuk
menaikkan yang positif dan menihilkan yang negatif
Tipe 4 Keperluan mengkuantitatifkan strategi kebijakan yang
masih Konseptional sehingga dapat menjadi operasional
Tipe 5 Keperluan membuat pendekatan baru atau alternative guna
meningkatkan ketelitian pengukuran mengenai cara
pengukuran yang telah dirumuskan oleh teori lain atau
peneliti sebelumnya
Untuk itu dalam merumuskan masalah harus memenuhi Syarat-Syarat atau
Kriteria sebagai berikut :
1. Rumusan masalah harus jelas, padat dan dapat dipahami oleh orang lain
2. Rumusan masalah harus mengandung unsur data yang mendukung
pemecahan masalah penelitian
3. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat kesimpulan
sementara (Hipotesis)
4. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian
5. Suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat
kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif,
maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang
menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di dalam kehidupan
manusia.
6. Bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan
teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan memberikan
sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teoriteori baru maupun
sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada.
7. Dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual,
sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula,
dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi
kehidupan manusia
3.5 KEGUNAAN ATAU FUNGSI RUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut :
1) Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau
dengan kata lain
berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat
dilakukan.
2) Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian.
Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang
dan berubah setelah peneliti sampai dilapangan.
3) Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan
oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan
oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana
yangtidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan
masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang
relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan
penelitiannya
4) Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti
menjadi mudah dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan
sampel penelitian
3.6 VARIASI PENEMPATAN RUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa
variasi, antara lain :
1) Ada yang menempatkannya di bagian sistematika peneliti,
2) Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan
latar belakang penelitian.
3) Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian.
Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak
terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang
bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu
dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari
kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun,
hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah
yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya
kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan
3.7 BENTUK-BENTUK PERMASALAHAN PENELITIAN
Apabila dilihat dari Bentuknya, maka Masalah Penelitian terdiri dari beberapa
bentuk, yaitu :
1) Permasalahan Deskriptif
Adalah suatu permasalahan yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap
keberadaan variable mandiri, baik satu variable atau lebih. Jadi tidak bersifat
membandingkan dan mencari hubungan.
Contoh: Seberapa tinggi efektifitas penyuluhan terhadap peningkatan pengetahuan
responden?
2) Permasalahan Komparatif
Adalah suatu permasalahan penelitian yang bersifat membandingkan
keberadaan satu variable atau lebih pada dua atau lebih sample yang berbeda.
Contoh: Adakah perbedaan kualitas pengukuran tekanan darah antara lengan
kanan dan lengan kiri ?
3) Permasalahan Asosiatif
Adalah suatu pertanyaan penelitian yang bersifat hubungan antara dua
variablel atau lebih, yang terdiri atas:
a. Hubungan Simetris, adalah hubungan antara dua variabel atau lebih
yang kebetulan munculnya bersama, bukan hubungan kausal maupun
interaktif.
Contoh: Adakah hubungan antara kebiasaan olah raga dengan prestasi
ujian?
b. Hubungan Kausal, adalah hubungan yang bersifat sebab akibat.
Contoh: Adakah pengaruh Placebo terhadap penurunan nyeri Arthritis
pada lansia?
c. Hubungan Interaktif/ Resiprocal/ Timbal balik, adalah hubungan yang
saling mempengaruhi.
3.8 TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian adalah suatu indikasi ke arah mana atau data (informasi)
apa yang akan dicari melalui penelitian itu? Tujuan penelitian dirumuskan dalam
bentuk pernyataan yang konkret dapat diamati (observable) dan dapat diukur
(measurable).
Misal :
a. Memperoleh informasi (data) tentang jumlah pemeriksaan ibu-ibu hamil di
kecamatan
X selama kehamilan.
b. Memperoleh informasi tentang hubungan antara frekuensi pemeriksaan
kehamilan
dengan BBL (berat badan bayi lahir).
c. Memperoleh informasi kinerja metoda pemeriksaan X dibandingkan dengan
metoda
pemeriksaan rujukannya
d. Mengidentifikasi jenis kesalahan yang paling sering muncul pada tahap
pemeriksaan parameter X
Biasanya tujuan penelitian dibedakan atas 2 yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan khusus pada hakekatnya adalah penjabaran dari tujuan umum. Dan contoh
nya adalah
sebagai berikut :
Tujuan Umum :
Untuk mengetahui gambaran aktivitas enzim GGT pada tenaga laboratorium
kimia di PT. Kimia
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui rata-rata dan kisaran aktivitas enzim GGT pada tenaga
laboratorium kimia di PT Kimia pada setiap kelompok lama kerja
2. Untuk mengetahui apakah terdapat keterkaitan antara lama kerja dengan
aktivitas enzim GGT pada tenaga laboratorium kimia di PT Kimia
Contoh lainnya :
Tujuan Umum :
Diketahuinya hubungan antara kualitas fisik sarana air bersih yang digunakan
dengan
terjadinya diare di wilayah Kota Jakarta Pusat.
Tujuan Khusus :
a. Diketahuinya jenis sarana air bersih yang digunakan oleh masyarakat Jakarta
Pusat.
b. Diketahuinya kondisi / kualitas fisik sarana air bersih tersebut.
c. Diketahuinya hubungan antara kualitas fisik sarana air bersih dengan kualitas
airnya.
d. Diketahuinya hubungan antara kualitas fisik sarana air bersih dengan kejadian
diare.
Apabila tujuan umum suatu penelitian tidak dapat atau tidak perlu
dispesifikasikan lagi maka tidak perlu adanya tujuan umum dan tujuan khusus,
cukup dibuat “Tujuan Penelitian” saja.
3.9 MANFAAT PENELITIAN
Yang dimaksud dengan manfaat penelitian adalah kegunaan hasil penelitian
nanti baik bagi kepentingan pengembangan program maupun kepentingan ilmu
pengetahuan. Oleh sebab itu, dalam manfaat penelitian harus diuraikan secara
terinci manfaat atau apa gunanya hasil penelitian nanti. Dengan kata lain, data
(informasi) yang akan diperoleh dari penelitian tersebut akan dimanfaatkan untuk
apa dalam rangka pengembangan program kesehatan. Dari segi ilmu, data atau
informasi yang diperoleh dari penelitian tersebut mempunyai kontribusi apa bagi
pengembangan ilmu pengetahuan.
Contoh :
a. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk masukan dalam rangka
meningkatkan upaya-upaya pencegahan diare khususnya di wilayah Kota Jakarta
Pusat.
b. Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan
masyarakat khususnya di bidang sanitasi lingkungan (untuk ilmu).
BAB 4
TINJAUAN PUSTAKA
4.1 PENGERTIAN TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka atau tinjauan literatur adalah ringkasan komprehensif dari
penelitian sebelumnya tentang suatu topik. Literatur dapat bersumber dari artikel
ilmiah, buku, dan sumber-sumber lain yang relevan dengan bidang penelitian
tertentu. Tinjauan tersebut harus menyebutkan, menjelaskan, merangkum,
mengevaluasi secara objektif, dan memperjelas penelitian sebelumnya.
Pengertian Tinjauan Pustaka Menurut Para Ahli
Adapun definisi tinjauan pustaka menurut para ahli, antara lain adalah sebagai
berikut ;
Castetter dan Heisler
Tinjauan pustaka merupakan sebuah saran yang mencangkup pada bagian-
bagian penelitian, seperti pendahualuan, pembahasan, dan kesimpulan. Harus ada
pada tinjauan pustaka. Tinjauan pusata ini sangat penting bagi segala bentuk
penelitian ilmiah.
Leedy
Tinjauan pustaka merupakan uraian yang harus berisi tentang ungkapan-
ungkapan peneliti sebelumnya yang serupa dengan penelitian yang akan
dilakukan. Dalam penjelasan ini lebih di dasari pada langkah-langkah penelitian
pengembangan.
Gandas
Tinjauan pustaka merupakan bab yang membahas tentang tinjauan mengenai
teori-teori terhadap judul tulisan atau makalah yang ingin peneliti lakukan. Dalam
hal ini serupa bahwa tinjuan pusata adalah fungsi hipotesis dalam penelitian.
Eki Meliansyah
Tinjauan pustaka dapat didefinisikan sebagi sebuah kegiatan yang meliputi
mencari, membaca dan menelaah laporan-laporan penelitian dan bahan pustaka
yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan pada sebelumnya di atas
rencana penelitian.
4.2 FUNGSI TINJAUAN PUSTAKA
Fungsi tinjauan pustaka antara lain untuk mengetahui sejarah masalah
penelitian, membantu memilih prosedur penyelesaiaan masalah penelitian,
memahami latar belakang teori masalah penelitian, mengetahui manfaat penelitian
sebelumnya, menghindari terjadinya duplikasi penelitian, dan memberikan
pembenaran alasan pemilihan masalah penelitian, yang akan dijelaskan secara
rinci di bawah ini :
Tinjauan pustaka merupakan bagian yang sangat penting dari sebuah KTI, skripsi,
tesis atau disertasi dengan fungsi sebagai berikut :
1. Mengkaji penelitian yang pernah dilakukan terhadap masalah tersebut
Pengkajian kronologis atas penelitian-penelitian yang pernah dilakukan terkait
permasalahan, sehingga dapat membantu memberi gambaran tentang apa yang
telah dilakukan oleh peneliti-peneliti lain dalam permasalahan tersebut. Gambaran
manfaat terutama tentang pendekatan yang dipakai, hasil yang didapat, dan dapat
menunjukkan adanya celah kosong (gap) dalam literatur yang perlu diisi melalui
penelitian.
2. Mengkaji kelebihan dan kekurangan hasil penelitian terdahulu
Kegunaan tinjauan pustaka adalah untuk membuktikan bahwa penelitian yang
diusulkan belum pernah atau pernah dilakukan sebelumnya, tetapi hasilnya
bertentangan atau masih mengandung kekurangan dalam beberapa hal dan perlu
dilengkapi. Evaluasi yang tajam terhadap kelebihan dan kelemahan penelitian
tersebut akan berguna terutama dalam memahami tingkat kepercayaan (level of
significance) Tinjauan pustaka berguna untuk dapat menyakinkan bahwa tidak
terjadi duplikasi dan membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan berbeda
dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
3. Menunjang pembatasan dan perumusan permasalahan
Identifikasi dan pengkajian pustaka yang meluas, tajam, komprehensif dan
sistematik, pada akhirnya harus diakhiri dengan suatu kesimpulan yang memuat
identifikasi, pembatasan dan perumusan permasalahan yang memerlukan
penelitian.
4. Mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan
Salah satu karakteristik penelitian adalah kegiatan yang dilakukan haruslah
berada pada konteks ilmu pengetahuan atau teori yang ada. Pengkajian pustaka,
dalam hal ini, akan berguna bagi pendalaman pengetahuan seutuhnya (unified
explanation) tentang teori atau bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
permasalahan. Pengenalan teori-teori yang tercakup dalam bidang atau area
permasalahan diperlukan untuk merumuskan landasan teori sebagai dasar
pembuatan kerangka konsep dan perumusan hipotesa penelitian.
5. Membantu menentukan desain penelitian
Dalam merancang rancangan atau desain penelitian, banyak untungnya untuk
mengkaji prosedur-prosedur (atau pendekatan) yang pernah dipakai oleh peneliti-
peneliti terdahulu dalam meneliti permasalahan yang hampir serupa. Pengkajian
meliputi kelebihan dan kelemahan prosedur-prosedur yang dipakai dalam
menjawab permasalahan. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan prosedur
prosedur tersebut, kemudian dapat dipilih, diadakan penyesuaian, dan dirancang
suatu prosedur yang cocok untuk penelitian yang dihadapi
6. Membantu pemilihan prosedur pengumpulan data
Dalam menentukan prosedur pengumpulan data, perlu mengkaji prosedur-
prosedur (atau pendekatan) yang pernah dipakai oleh penelitian terdahulu dalam
upaya mendapatkan data yang valid dan mudah dilakukan.
Amirin (2002) memaparkan bahwa tinjauan pustaka juga digunakan untuk
menyeleksi masalah-masalah yang akan diangkat menjadi topik penelitian serta
untuk menjelaskan kedudukan masalah dalam tempatnya yang lebih luas.
Konstruksi teoritik yang ada dalam tinjauan pustaka akan memberikan landasan
bagi penelitian. Sehingga sumbangan tinjauan pustaka pada penelitian dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a. Konstruksi Teoritik sebagai Dasar
Penelitian apapun tidak akan terlepas dari kerangka
teori. Penelitian tidaklah berarti tanpa teori sama sekali. Paling tidak sebagai
pegangan atau pedoman untuk memberikan asumsi atau postulat, prinsip, teori
konsep praposisi dan definisi operasional.
b. Konstruksi Teoritik sebagai Tolak Ukur. Penelitian tindakan berupaya untuk
meningkatkan kinerja pembelajaran atau proses kegiatan pembelajaran sehingga
perlu sarana untuk mengontrol baik tidaknya prosedur yang digunakan. Kerangka
teori dapat membantu sebagai ukuran patokan (standar atau tolak ukur) yang
dimaksud.
c. Konstruksi Teoritik sebagai Sumber Hipotesa
Hipotesa pada umumnya dimunculkan dari tinjauan teori. Teori-teori yang
diragukan akan dicoba dan diuji kembali sehingga terbentuklah hipotesa. Dasar
rasional mengapa harus diuji kembali karena pembuktian secara teoritis harus
diimbangi dengan pembuktian secara empiris.
4.3 PERAN TINJAUAN PUSTAKA
Melalui tinjauan pustaka, peneliti dapat memiliki pemahaman yang luas dan
dalam tentang masalah penelitian yang diteliti. Selanjutnya peran tinjauan pustaka
menurut beberapa sumber antara lain :
a. Mengetahui batas-batas cakupan permasalahan penelitian
b. Dapat menempatkan pertanyaan penelitian dari perspektif yang jelas dan
komprehensif
c. Dapat membatasi pertanyaan penelitian yang diajukan dan menentukan
konsep studi yang berkaitan erat dengan permasalahan.
d. Dapat mengetahui dan menilai hasil-hasil penelitian yang sejenis yang bisa
sama maupun kontradiktif antara penelitian satu dengan penelitian lainnya.
e. Dapat menentukan metode penelitian yang tepat untuk memecahkan
masalah penelitian.
f. Mencegah dan mengurangi replikasi yang kurang bermanfaat dengan
penelitian sebelumnya.
g. Dapat lebih yakin dalam menginterpretasikan hasil penelitian yang hendak
dilakukannya.
4.4 MACAM-MACAM SUMBER TINJAUAN PUSTAKA
Adapun sumber-sumber yang dapat digunakan dalam menyusun tinjauan
pustaka adalah referensi ilmiah yang mempunyai ISBN untuk buku, ISSN untuk
jurnal dan sedapat mungkin dari jurnal ilmiah yang berbobot. Sumber-sumber
referensi ilmiah yang dapat digunakan dalam penelitian kesehatan antara lain :
Jurnal Penelitian : Jurnal penelitian yang dimaksud adalah jurnal ilmiah yang
telah memiliki ISSN, terakreditasi baik jurnal lokal, nasional maupun
internasional. Akan lebih bagus lagi jika jurnal yang di ambil sebagai referensi
adalah jurnal yang sudah terindeks SCOPUS. Sebagai contoh jurnal ilmiah dapat
diakses melalui Proquest, EBSCO, WHO, Cochrane dan lain sebagainya. Di
Indonesia Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEK DIKTI)
telah memfasilitasi seluruh civitas akademika baik di PTN maupun PTS untuk
dapat mengakses jurnal ilmiah yang bagus dengan berlangganan portal jurnal
seperti EBSCO, Proquest dll. Password jurnal tersebut data diperoleh dengan
menghubungi pustakawan di perguruan tinggi masing-masing. Penelitian yang
berkualitas jika menggunakan sumber pustaka dari jurnal ilmiah sebesar 80% dari
seluruh referensi yang ada.
Buku Ajar : Buku ajar yang telah dipublikasi oleh penerbit baik dari dalam
maupun luar negeri. Buku yang sudah dipublikasi akan memiliki nomor ISBN.
Sedapat mungkin gunakan buku yang ditulis oleh author yang kompeten di
bidangnya, baik sebagai pendidik maupun praktisi kesehatan. Untuk melihat
kualitas buku ajar tersebut, lihat bagian referensi yang digunakan. Jika
menggunakan referensi yang up to date dan dapat dipertangungjawabkan, buku
ajar tersebut adalah buku yang layak digunakan dan dapat menjadi koleksi
peneliti.
Artikel dari Internet : artikel dari internet yang layak dijadikan sumber pustaka
adalah artikel yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun institusi pendidikan.
Peneliti harus mencantumkan URL / alamat situs tersebut sebagai syarat penulisan
referensi ilmiah. Contohnya artikel elektronik dari WHO, Kemenkes, Harvard
University, Universitas Indonesia, dan lain sebagainya.
Narasumber : Menggunakan sumber pustaka dari narasumber dapat digunakan
jika sumber lainnya tidak ada atau waktu penerbitannya sudah lebih dari 10 tahun.
Sebagai bukti harus dicantumkan kapan dan dimana topik tersebut dibicarakan
seperti seminar, workshop dan pertemuan ilmiah lainnya. Untuk studi kualitatif,
dapat dilampirkan bukti berupa transkrip dari rekaman yang di rekam saat
narasumber tersebut berbicara pada acara tersebut dilaksanakan. Narasumber yang
dimaksud adalah narasumber yang kompeten dan seorang guru besar.
Majalah Kesehatan : sepanjang majalah kesehatan tersebut memiliki ISBN dan
authornya dapat di kontak untuk dimintai keterangan ataupun konfirmasi terkait
masalah penelitian yang diteliti, sumber tersebut dapat digunakan.
4.5 CARA MEMBUAT TINJAUAN PUSTAKA
Beberapa cara dalam menuliskan tinjauan pustaka, antara lain :
1. Mulailah dengan mengidentifkiasi beberapa kata kunci (keywords)
penelitian. Langkah ini utamanya penting ketika Anda ingin mencari
berbagai materi, referensi, dan bahan pustaka di perpustakaan universitas.
Kata kunci bisa Anda peroleh ketika Anda tengah mengidentfiikasi topik
penelitian atau bisa jadi berasal dari hasil bacaan beberapa buku.
2. Setelah kata kunci diperoleh, selanjutnya kunjungi perpustakaan dan
mulaialah mencari katalog untuk materi referensi (seperti jurnal, dan buku)
3. Bacalah sepintas kumpulan artikel atau bab dalam buku, lalu salinlah
/gandakanlah baba tau artikel yang memang relevan dengan topik
penelitian
4. Setelah membuat peta literatur, buatlah ringkasan dari beberapa artikel
yang relevan. Ringkasan inilah yang nantinaya akan dimasukkan ke dalam
tinjauan psutaka
5. Setelah membuat ringkasan dari beberapa literatur yang peroleh, dan
membuat tinjauan pustaka, dengan menyusunnya secara teoritis atau
berdasarkan konsep penting.
Ketika melakukan studi literatur sebaiknya memperhatikan beberapa hal
berikut :
1. Memilih Sumber Studi Literatur Yang Relevan
2. Don’t be afraid of English
Ketika menentukan sumber studi literatur sebaiknya tidak membatasi
pada sumber-sumber berbahasa Indonesia saja.
3. Gunakan Google Scholar
Sumber literatur dapat diperoleh pada portal khusus karya ilmiah yang
dimiliki Google, yaitu Google Scholar atau Google Cendekia . Melalui
portal ini selain menggunakan kata/frase kunci yang tepat, kita juga dapat
membatasi masa terbit suatu sumber literatur. Sebagai contoh jika ingin
mengetahui publikasi yang terbit pada tahun 2014-2018, maka dapat
dipilih pilihan waktu yang terdapat pada sudut kiri atas, seperti ditunjukan
pada Gambar 1
Figure 1: Penggunaan Google Scholar
4. Hindari Plagiarisme, gunakan Pharapharsing
Ketika melakukan studi literatur, sering sekali kita terjebak pada
proses copy-paste.. Setiap kali mengambil pernyataan dari suatu sumber
maka lakukanlah paraphrasing yaitu menuliskan kembali pernyataan tersebut
menggunakan kata-kata sendiri.
5. Jangan lupa lakukan sitasi
Sitasi adalah proses pengakuan dan pencatatan terhadap sumber literatur
yang digunakan.
6. Gunakan pengaturan literatur atau referensi otomatis
Software pengaturan literatur atau referensi otomatis telah tersedia luas
dan tidak berbayar. Software- sofware seperti Mendeley atau EndNote dapat
memudahkan kita untuk mengatur sitasi dan daftar pustaka dan
meminimalisir kesalahan. Software-software ini terhubung pada Microsoft
Word dan Google Scholar secara otomatis sehingga proses update sitasi dapat
dilakukan dengan efisien.
4.6 MANFAAT TINJAUAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN
a. Menguraikan Variabel
Manfaat tinjauan pustaka adalah bisa menguraikan sejumlah variabel umum
dalam penulisan
b. Memberikan Batasan
Pada dasarnya untuk membuat tinjauan pustaka yang baik akan bisa
memberikan batasan mengenai tulisan yang disampaikan.
c. Mempercepat Proses Analisis Data
Manfaat tinjauan pustaka selanjutnya yakni mempercepat analisis data dengan
tepat.
d. Meningkatkan KepercayaanDidalam bagian tinjauan pustaka akan bisa
meningkatkan kepercayaan.
4.7 LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT TINJAUAN PUSTAKA
Langkah-langkah umum yang bisa dilakukan dalam menulis Tinjauan
Pustaka adalah :
1. Tentukan Masalah atau Topik
Bagian ini hendaknya dimulai dengan pertanyaan masalah apa yang akan
Anda carikan jawaban atau penjelasan dari literatur. Adanya masalah yang
dikemukakan dengan jelas akan memberi arah kepada kita dalam mencari
sumber pustaka yang relevan, dan juga dalam menulis Tinjauan Pustaka. Bila
tidak diawali dengan masalah yang ingin dicarikan jawabannya, kita
cenderung untuk mengambil terlalu banyak dari pustaka, padahal mungkin
kurang relevan dengan yang kita inginkan.
2. Menelaah semua kepustakaan dan atau penelitian yang relevan dengan
masalah yang menjadi minat peneliti. Telaah penelitian yang ada mencakup
rancangan penelitian, metode sampling, pengumpulan data, analisis data dan
hasil penelitian.
3. Kemudian merumuskan masalah penelitian atas dasar konsep yang
disesuaikan dengan daerah yang berbeda secara geografis, sosial budaya,
kondisi dan situasi dari penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan.
4. Atas dasar telaah dan kritik tersebut, peneliti mengembangkan kerangka
teoritis dan atau kerangka konsep, serta hipotesis penelitian.
5. Akhirnya peneliti harus menyusun ringkasan yang menjelaskan keunikan atau
perbedaan dari penelitian yang sudah ada. Dalam hal ini mungkin termasuk
kerangka konsep, variabel, rancangan penelitian, sampling, pengumpulan data
dan atau analisis data.
BAB 5
DAFTAR KEPUSTAKAAN
5.1 PENGERTIAN
Daftar Pustaka memuat informasi pustaka-pustaka yang diacu dalam proposal
penelitian. Dalam daftar pustaka, biasanya, buku dan majalah tidak dipisahkan
dalam daftar sendiri-sendiri. Untuk penulisan daftar pustaka terdapat banyak
corak tata penulisan. Ikutilah petunjuk yang berlaku dan terapkan corak tersebut
secara konsisten Daftar kepustakaan (= daftar rujukan = bibliografi) adalah
sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan
penerbitan lainnya, yang terkait dengan sebuah tulisan (makalah). Kegunaan
membuat daftar kepustakaan adalah memberikan penghormatan kepada sumber
informasi yang telah kita kutip dan memungkinkan pembaca untuk menelusuri
sumber asli dari kepustakaan, baik untuk tujuan verifikasi maupun sebagai sumber
informasi yang lebih lengkap. Daftar kepustakaan diperlukan sebagai sumber
informasi dalam proses penyusunan latar belakang, penulisan metode dan
pembahasan hasil penelitian. Dalam pembahasan diperlukan hasil-hasil penelitian
orang lain sebagai rujukan. Untuk setiap pustaka yang dirujuk dalam tulisan harus
muncul dalam daftar kepustakaan, juga sebaliknya setiap daftar kepustakaan harus
merujuk pada tulisan yang dibuat.
Daftar kepustakaan mengandung unsur-unsur sebagai berikut.
1. Penulis : mencakup penulis utama dan penulis pendamping (co-author). Jika
penulis lebih dari 6, maka hanya ditulis 6, kemudian di belakangnya ditulis et al.
(berasal dari et ali). Nama keluarga (family name) ditulis pertama kemudian
diikuti singkatan nama pertama dan nama tengah. Untuk etnis yang tidak
mempunyai nama keluarga, nama terakhir dianggap sebagai nama keluarga. Gelar
kesarjanaan tidak perlu ditulis.
2. Judul: mencakup judul, subjudul makalah dalam jurnal, bab atau bagian buku
dan judul, subjudul majalah, buku atau monografi.
3. Fakta penerbitan: mencakup tempat (kota), nama penerbit, waktu penerbitan
(datum), dan jika perlu volume dan atau edisi (kecuali edisi pertama). Tempat
penerbitan (kota) dituliskan nama lengkap resmi kota tempat buku tersebut
diterbitkan, jika lebih dari satu kota, tulis yang pertama saja. Untuk kota yang
tidak terkenal, boleh dituliskan juga nama negaranya.
5.2 TUJUAN PENULISAN DAFTAR PUSTAKA
Adapun Tujuan Penulisan Daftar Pustaka :
1. Membantu pembaca dalam menelusur secara detail topik terkait dengan
membaca sumber lain yang ada di daftar pustaka.
2. Sebagai bentuk apresiasi atau menghargai penulis terhadap karya atau tulisan
orang lain yang dijadikan sebagai sumber referensi atau masukan dalam
menyusun suatu tulisan.
3. Menunjukan sebuah tulisan tidak dibuat dengan asal-asalan. Melainkan ditulis
berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya dibidang keahlian masing-
masing.
4. Untuk mengantisipasi adanya tuduhan plagiasi intelektual.
5. Sebagai ciri khas dan kelaziman karya tulis ilmiah.
6. Mengetahui kota atau tempat terbit.
7. Membangun kepercayaan pembaca.
5.3 CARA MENULIS DAFTAR PUSTAKA
Untuk cara penulisan daftar pustaka, ada beberapa hal yang mesti Anda
perhatikan saat akan menulis daftar pustaka, mulai dari susunan tulisan, cara
penulisan nama dan lain sebagainya. Berikut cara menulis daftar pustaka yang
baik dan benar.
1. Struktur penulisan dalam daftar pustaka harus diawali dengan Nama Penulis,
Tahun Terbit, Judul , Kota Penerbit dan yang terakhir adalah Nama Penerbit.
2. Setelah penulisan Nama, Tahun , Judul dan Penerbit akhiri dengan
menggunakan tanda titik (.) dan setelah Nama Kota Penerbit diakhiri dengan
titik dua (:).
3. Jika nama pengarang mempunyai 2 suku kata atau lebih. Maka dalam
penulisan namanya dibalik dengan syarat antara kata pertama dan kedua di
beri tanda koma (,). Contoh: nama pengarang adalah Abdul Khadir maka di
daftar pustaka ditulis: Khadir, Abdul.
4. Jika nama penulis terdiri dari 3 suku kata atau lebih. Maka nama yang
terakhir diletakan didepan dan diikuti tanda koma (,). Contoh: Yudhoyono,
Susilo Bambang.
5. Jika pengarangnya ada 2 orang, maka hanya nama pengarang yang pertama
yang dibalik , lalu antara nama pengarang yang pertama dan kedua di beri
kata ‘dan’.
6. Susunan penulisan daftar pustaka harus berurutan dari A-Z sesuai dengan
huruf di awal dari Nama Penulis.
7. Untuk penulisan nama, gelar akademis, gelar keagamaan, dan sebagainya
tidak dicantumkan. Contoh: Dian Sastro, M. Pd cukup ditulis: Sastro, Dian.
8. Cara penulisan daftar pustaka dibedakan tiap sumbernya, misal dari internet,
buku, jurnal atau yang lainya.
Contoh Penulisan Daftar Pustaka Berdasarkan Sumbernya
Berikut beberapa contoh penulisan daftar pustaka yang sesuai dengan sumber
atau rujukan yang digunakan.
Contoh Penulisan Daftar Pustaka Dari Buku
Jika Nama Penulis 2 Kata Atau Lebih
Khadir, Abdul. 2005. Kisah Orang Mualaf. Surabaya: Gramedia.
Yudhoyono, Susilo Bambang. 2016. Panduan Perang. Jakarta:
Gramedia.
Penulisan Daftar Pustaka Jika Dua Pengarang atau Lebih
Rendra, Siti, Budiawan dan Sugeng. 2016. Panduan Pelatihan IM.
Bandung: Desamedia.
Sugeng, R.W., dan Rizal Chairi. 2002. Kisah Perjuangan. Jakarta: Indo
Media.
Husein, Hasan. dkk. 2007. Kumpulan Doa-Doa. Edisi Kedua. Jakarta.
Penulisan Daftar Pustaka Untuk Buku Terjemahan Atau Suntingan
Saputra, Ardi (Penterjermah). 2013. Dasar Dasar HTML. Jakarta:
Informatika.
Jika Nama Penulis Sama, Tapi Judul Buku Berbeda
Setyawan. 2012. Dasar Manajemen . Sidoarjo: Arjo Media.
________ . 2014. Akuntasi Dasar. Jakarta: Jaka Media.
ika Tidak Ada Nama Pengarang
Depdiknas. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Dana Bantuan
Operasional. Jakarta: Depdiknas.
Contoh Cara Penulisan Daftar Pustaka Yang Baik dan Benar
Andre. 2002. Kota Lama. Malang: Pustaka Desa._____. 2005. Kota Baru.
Malang: Pustaka Desa. Anwar, Chairil. dkk. 2010. Cara Belajar Bahasa Inggris
Edisi Kedua. Jakarta: PT Indo Nusantara. Skak, Bayu. 2014. Cara Sukses
Youtuban. Malang: Bayu Pustaka. Departemen Pendidikan Nasional. 2001.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya: Gerai Pustaka. Ratna, Dewi.
“Kehidupan Laut” Ocean, Volume XI, No. 1, 2016, hlm 13—15. Desi, Sarini.
2003. Tips Sukses Meraih Masa Depan. Jakarta: Balai Pustaka.
Contoh Daftar Pustaka Dari Koran
Bagus, Yadi. 2011. Cara Internet Gratis, Harian Malang. Malang:
Media Pustaka. (5 Januari 2011)
Yuli, Yanti. 2011. “Cara Mudah Menjahit Pakaian”, Kompas, Rabu,
15 Februari 2011. Jakarta.
Contoh Daftar Pustaka Untuk Tugas Akhir atau Skripsi
Nama penulis, diikuti dengan tahun pada sampul, judul tugas/skripsi/tesis,
pernyataan tugas akhir/skripsi, pernyataan tidak diterbitkan, fakultas, nama
perguruan tinggi, kota tempat perguruan tinggi.
Deny S. 2004. Pengaruh Kuman Salmonella terhadap Kesehatan
Tubuh. Tugas Akhir. Tidak di terbitkan. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia : Jakarta.
Damayanti S. 2011. Ciri-Ciri Kanker Serviks. Skripsi. Tidak
diterbitkan. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya : Malang.
Contoh Daftar Pustaka dari Ensiklopedia atau Kamus
Penulisan daftar pustaka yang bersumber dari ensiklopedia atau kamus sama
halnya dengan daftar pustaka pada umumnya.
Clark-Kent, D. 2001. Superman. The New Encyclopedia America.
Encyclopedia America. 21: 517-538.
Sandler, J.M. dan Adam, H. (Eds). 1991. Kamus Bahasa Inggris –
Indonesia. Lawang: PT Gramedia.
Contoh Daftar Pustaka dari Internet
Pratama, Deny. 2017. Cara Menulis Daftar Pustaka Yang Baik dan
Benar.
Daftar Pustaka dari Peraturan Pemerintah atau Keputusan Presiden
Penanggung jawab dari dokumen ini adalah pemerintah Indonesia, maka
dapat ditulis dengan Republik Indonesia atau Pemerintah Indonesia atau Cukup
Indonesia saja.
Republik Indonesia. 1991. Undang-Undang No. 23 Tahun 1991 tentang
Penataan Ruang. Lembaran Negara RI Tahun 1991, No. 114.
Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 1998. Undang-Undang No. 21 Tahun 1998 tentang
Pemerintahan Daerah. Lembaran Negara RI Tahun 1998, No. 50.
Sekretariat Negara. Jakarta.
5.4 Gaya Penulisan Daftar Pustaka
Gaya penulisan daftar kepustakaan antara lain sebagai berikut :
1. Gaya Harvard (Harvard style) Harvard Style (American Psychological
Association atau APA), yaitu sistem nama dan tahun, dalam daftar kepustakaan
nama pengarang disusun menurut abjad.
2. Gaya Vancouver (Vancouver style), yaitu sistem nomor, dalam daftar rujukan
nama pengarang disusun menurut urutan pemunculan dalam naskah.
3. Gaya campuran, yaitu memakai sistem nomor tetapi daftar rujukan disusun
menurut abjad penulis, yang merupakan gabungan antara kedua sistem di atas.
Masing-masing sistem mempunyai keunggulan dan kelemahan. Gaya
Harvard terutama memberi kejelasan mengenai sumber dan tahun informasi,
tetapi banyak mengambil tempat dalam naskah. Gaya Harvard banyak dipakai
dalam penulisan KTI, skripsi, tesis, dan laporan penelitian. Sedangkan gaya
Vancouver bersifat ringkas dalam naskah, sehingga lebih banyak dipakai dalam
penulisan makalah pada majalah/jurnal biomedik dan kesehatan.
Cara penulisan referensi dengan aturan Harvard paling banyak digunakan
(Huckin dan Olsen, 1991), (Kirkman, 1992) dan (Sekaran, 1992)).
Lebih mudah, lebih informatif. karena cara penulisan internal referencing-nya
dengan menggunakan nama belakang (lastname) penulis, dan diikuti dengan
tahun acuan tersebut ditulis.
Sehingga, pembaca akan dengan mudah untuk dapat mengingat dan
menghubungkan nama penulis dengan inti serta karya penulis tersebut yang
biasanya mudah dikenang dan dikenal. Kemudahan di atas didukung oleh cara
penyajian full referencing-nya yang terurut abjad dari nama belakang
pengarangnya, sehingga akan memudahkan pencariannya.
TATA CARA PENULISAN DAFTAR PUSTAKA… (APA version
Nama Tokoh. (Tahun). Judul artikel. Nama Jurnal, bila sumber berasal dari Jurnal
Volume Jurnal
(Nomor Jurnal), Halaman
Nama Tokoh. (Tahun, Bulan Tanggal). Judul artikel. bila sumber berasal dari
Nama Majalah, Volume Majalah
, Halaman
Nama Tokoh. (Tahun, Bulan Tanggal). Judul artikel. bila sumber berasal dari Surat
Nama Surat Kabar, Kabar
Halaman
Nama artikel. (Tahun, Bulan Tanggal). bila sumber berasal dari
Surat Kabar, tanpa nama
Nama Surat Kabar, penulis.
Halaman
Nama Tokoh. (Tahun, Bulan Tanggal). Judul bila sumber berasal dari
Surat Kabar padakolom
Surat !emba"a
Nama Surat Kabar,
Halaman
Nama Tokoh. (Tahun). bila sumber berasal dari
Buku Teks
Judul buku Kota !enerbit$ Nama !enerbit.
Nama %ditor (%d.&%ds.). (Tahun). bila sumber berasal dari
Buku yan'g diedit (%dited
Judul buku Kota !enerbit dan Nama penerbit. Book
1. Penulisan Daftar Kepustakaan Gaya Harvard
Contoh gaya Harvard dalam tinjauan pustaka/naskah tulisan sebagai berikut.
”Noor (2006) menjelaskan penyakit infeksi terselubung adalah keadaan suatu
penyakit yang tidak menampakan diri secara jelas dan nyata dalam bentuk gejala
klinis yang jelas.
”Penyakit infeksi terselubung adalah keadaan suatu penyakit yang tidak
menampakan diri secara jelas dan nyata dalam bentuk gejala klinis yang jelas
(Noor, 2006). Hasil penelitian dari beberapa sumber menunjukkan bahwa
penggunaan obat flu konvensional dalam kasus flu burung dapat berakibat fatal
(Nguyen, 1987 dan Green, 1983) bahkan dalam beberapa kasus dapat
menyebabkan kematian mendadak (Lewis, 2003 dan Green, 1983).”
Cara penulisan gaya Harvard dalam daftar kepustakaan sebagai berikut :
1. Daftar pustaka disusun berdasarkan urutan alfabet, berturut-turut dari atas ke
bawah, tanpa menggunakan angka arab (1,2,3, dan seterusnya).
2. Cara penulisan daftar pustaka sebagai berikut: Tulis nama pengarang (nama
pengarang bagian belakang ditulis terlebih dahulu, baru nama depan)
3. Tulislah tahun terbit buku. Setelah tahun terbit diberi tanda titik (.). Tulislah
judul buku (dengan diberi garis bawah atau cetak miring). Setelah judul buku
diberi tanda titik (.). Tulislah kota terbit dan nama penerbitnya. Diantara kedua
bagian itu diberi tanda titik dua (:). Setelah nama penerbit diberi tanda titik
4. Apabila digunakan dua sumber pustaka atau lebih yang sama pengarangnya,
maka sumber dirilis dari buku yang lebih dahulu terbit, baru buku yang terbit
kemudian. Diantara kedua sumber pustaka itu dibutuhkan tanda garis panjang.
Contoh penulisan gaya Harvard :
1. Buku
Saragih, S. (2011). Panduan penggunaan obat. Jakarta: Rosemata Publisher.
2. Terjemahan
Keenan, W,K; Klienfelter, D.C; dan Wood,J.H, (1989). Kimia untuk
universitas, terjemahan Handyana.P. Jakarta:Erlangga.
3. Jurnal
Indijah, S.W. (2008). Uji Komparasi kasiat antelmentik rebusan biji papaya
(Carica papaya L. Semen) dan seduhan biji waluh (Cucurbita maschata
Semen) disbanding piperazin sitrat terhadap cacing (Ascaria gali) secara in
vitro, Sanitas.Vol 3 no 2 Juli.
4. Makalah dalam suatu pertemuan ilmiah
Bengstsson S; dan Solheim BG, (1992). Enforcement of data protection,
privacy and security in medical informatics. In: Lun KC, Degoulet P, Piemme
TE, Rienhoff O, editors.
MEDINFO 92. Proceedings of the 7th World Congress on Medical
Informatics, Geneva, Switzerland. Amsterdam: North-Holland.
5. Skripsi, tesis dan disertasi
Rahayu F. (2009). Potensi pati pisang kapok (Musa paradisiacal L) sebagai
bahan pengikat dalam formulasi tablet acetaminophen. Skripsi, Yogyakarta:
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam
Indonesia
6. Artikel (Bagian dari Buku)
Nana S, (2007). Imunisasi. Dalam Kesehatan masyarakat. Jakarta: CV Andi
Press
7. Achmad Djunaedi (2000). Penulisan Tinjauan Pustaka.
2. Penulisan Kepustakaan Gaya Vancouver
Cara penulisan gaya Vancouver dalam daftar kepustakaan sebagai berikut.
a. Rujukan diberi nomor sesuai dengan pemunculannya untuk pertama kali
dalam naskah. Sumber rujukan ditulis dalam naskah memakai angka (Arab)
dalam kurung (parentheses). Nomor rujukan pada keterangan gambar atau
tabel urutannya sesuai dengan pemunculannya dalam naskah, 1,3,4,5,6.
b. Judul jurnal disingkat sesuai dengan singkatan menurut Index Medicus.
Daftar singkatan ini dapat juga diakses pada library's web site
(http://www.nlm.nih.gov).
c. Hindarkan memakai abstrak sebagai rujukan. Naskah yang telah diterima oleh
suatu majalah, tetapi belum diterbitkan diberi tanda "in press" atau
"forthcoming".
d. Hindari memakai sumber "personal communication" atau "hubungan pribadi"
e. Semua rujukan harus diverifikasi oleh penulis dari dokumen asli.
Contoh Penulisan Gaya Vancouver
1. Artikel jurnal baku (standard journal article)
Pengarang 6 orang atau kurang :
Mandrelli F, Annino L, Rotoli B. The GIMEMA ALL 0813 trial: analysis of 10-
year followup.
Br J Haematol 1996; 92:665-72.
Pengarang lebih dari 6 orang, ditulis enam orang dan diakhiri kata et al.
Organisasi sebagai pengarang
The Cardiac Society of Australia and New Zealand. Clinical exercise stress
testing.
Safety and performance guidelines. Med J Aust 1996; 164:282-4.
Pengarang tidak disebutkan
Cancer in South Africa [editorial]. S Afr Med J 1994; 84:15.
2. Volume dengan suplemen
Aulitzky WE, Despres D, Rudolf G, Aman C, Peschel C, Huber C. Recombinant
Interferon
Beta in Chronic Myelogenous Leukemia. Semin Hematol 1993; 30 Suppl 3:14-6.
No penerbitan majalah (issue) tanpa nomor volume
Turan I, Wredmark T, Fellander-Tsai L. Arthroscopic ankle arthrodesis in
rheumatoid
arthritis. Clin Orthop 1995; (320):110-4
Tidak ada nomor penerbitan majalah (issue) maupun nomor volume
Browell DA, Lennard TW. Immunologic status of cancer patient and the effects of
blood transfusion on antitumor responses. Curr Opin Gen Surg 1993; 325-33.
Tipe artikel yang perlu disebutkan Enzensberger W, Fisher PA. Metronome in
Parkinson's disease [letter]. Lancet 1996; 347:1337.
3. Buku dan monograf lain
Armitage P, Berry G. Statistical Methods in Medical Research. 2nd ed. Oxford
(UK):
Blackwell Science; 1994.
4. Makalah dalam suatu pertemuan ilmiah
Bengstsson S, Solheim BG, Enforcement of data protection, privacy and security
in medical informatics. In: Lun KC, Degoulet P, Piemme TE, Rienhoff O, editors.
MEDINFO 92. Proceedings of the 7th World Congress on Medical Informatics;
1992 Sep 6-10;
Geneva, Switzerland. Amsterdam: North-Holland; 1992. p.1561-5ari penulis
naskah tersebut.
5. Laporan teknis atau laporan ilmiah
WHO Scientific Group. Intestinal protozoan and helminthic infection. Geneva:
World Health Organization; 1981. Technical Report Series No. 666.
6. Disertasi, tesis dan skripsi
Kaplan SJ. Post-hospital home health care: the elderly access and utilization.
[dissertation]. StLouis(MO): Washington Univ.; 1995.
BAB 6 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP
6.1 KERANGKA TEORI
Teori adalah seperangkat konsep dan definisi yang saling berhubungan yang
mencerminkan suatu pandangan sistematik mengenai fenomena dengan
menerangkan hubungan antar variabel, dengan tujuan untuk menerangkan dan
meramalkan fenomena. teori adalah kesatuan pengertian konsep dan pernyataan
yang sesuai yang akan menyajikan suatu fenomena dan dapat digunakan untuk
menjabarkan, menjelaskan dan memprediksi suatu kejadian.
Kerangka teori adalah kerangka yang dibangun dari berbagai teori yang ada dan
saling berhubungan sebagai dasar untuk membangun kerangka konsep. Kerangka
teori perlu diungkapkan, dan merupakan kerangka acuan komprehensif mengenai
konsep, prinsip, atau teori yang digunakan sebagai landasan dalam memecahkan
masalah yang dihadapi. Kerangka teori atau kerangka pikir adalah hubungan
antara konstruk berdasarkan studi empiris.
Peranan Kerangka Teori dalam Penelitian
1. Memberi kerangka pemikiran bagi penelitian
2. Membantu peneliti dalam menyusun hipotesis penelitian
3. Memberikan landasan yang kuat dalam menjelaskan dan memaknai data dan
fakta
4. Mendudukkan permaslahan penelitian secara logis dan runtut
5. Membantu dalam membangun ide-ide yang diperoleh dari hasil penelitian
6. Memberikan acuan dan menunjukkan jalan dalam membangun kerangka
pemikiran
7. Memberikan dasar-dasar konseptual dlm merumuskan difinisi operasional
8. Membantu mendudukkan secara tepat dan rasional dalam mensitesis dan
mengintegrasikan gagasann
Prosedur Penyusunan Kerangka Teori
1. Melakukan kajian pustaka.
2. Melakukan sintesa atau modifikasi antara teori yang satu dengan yang lain.
3. Menyusun sendiri kerangka pemikiran secara logis, runtut, dan rasional; setelah
mengemukakan beberapa teori tentang variabel yang diteliti.
Kerangka Teori adalah hubungan antar konsep berdasarkan studi empiris.
Kerangka teori harus berdasarkan teori asal / grand theory. Sebagai contoh
masalah perilaku ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya dapat
menggunakan kerangka teori dari Green yang sering digunakan mahasiswa, atau
dapat juga menggunakan kerangka teori reason action, Health Believe Model, atau
teori lain yang sesuai dengan masalah penelitian yang dapat di temukan dalam
buku ajar Health Behavior Theory for Public Health dan buku ajar lainnya. Jika
masalah yang diteliti berhubungan dengan penyakit tetapi yang di dalami adalah
pengetahuan tentang penyakit tersebut, maka dapat menggunakan teori
pengetahuan seperti tacit knowledge dan explicit knowledge. Contoh PERCEDE
teori Green dapat dilibat pada gambar berikut ini.
Gambar 1. PERCEDE Teori Green.7
6.2 KERANGKA KONSEP
Konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga
dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Konsep
adalah suatu pengertian dasar dari sesuatu yang akan diteliti. Konsep adalah
kaidah umum (abstraksi) mengenai sesuatu himpunan benda-benda atau hal-hal
yang biasanya dibedakan dari penglihatan atau perasaan. Perbedaan kata concept
dengan construct adalah concept untuk sesuatu yang kongkret, misalnya besar
upah, usia, jenis kelamin, dan sebagainya. Sedangkan construct untuk sesuatu
yang abstrak misalnya “motivasi”, ”kepuasan”, “haus”, “citra”, “budaya” dan
sebagainya.
Contoh : Sehat adalah konsep: Istilah ini mencakup pengamatan terhadap hal-hal
atau gejala yang mencerminkan keanekaragaman kondisi kesehatan seseorang.
Untuk mengetahui apakah seseorang itu “sehat” atau tidak maka pengukuran
konsep “Sehat” tersebut harus melalui konstruk atau variabel-variabel, misalnya :
Suhu badan, tekanan darah, denyut nadi, Hb darah, kadar kolesterol darah dan
sebagainya, ini adalah variable-variabel yang digunakan untuk mengobservasi
atau mengukur apakah seseorang itu “sehat” atau “tidak sehat
Kerangka Konsep adalah hubungan antara konsep yang dibangun berdasarkan
hasil-hasil studi empiris terdahulu sebagai pedoman dalam melakukan penelitian.
Penentuan kerangka konseptual oleh peneliti akan sangat membantu dalam
menentukan arah kebijakan dalam pelaksanaan penelitian. Kerangka konseptual
merupakan kerangka fikir mengenai hubungan antar variabel-variabel yang
terlibat dalam penelitian atau hubungan antar konsep dengan konsep lainnya dari
masalah yang diteliti sesuai dengan apa yang telah diuraikan pada studi
kepustakaan. Kerangka konseptual penelitian menurut Sapto Haryoko dalam
Isksaudara (2008) menjelaskan secara teoritis model konseptual variabel-variabel
penelitian, tentang bagaimana pertautan teori-teori yang berhubungan dengan
variabel-variabel penelitian yang ingin diteliti, yaitu variabel bebas dengan
variable terikat. Kerangka konseptual dalam suatu penelitian perlu dikemukakan
apabila penelitian berkenaan dengan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian
hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka perlu dilakukan
deskripsi teoritis masing-masing variabel dengan argumentasi terhadap variasi
besarnya yang diteliti.
Kerangka konseptual yang baik memenuhi syarat antara lain:
1. Variabel-variabel penelitian yang akan diteliti harus jelas.
2. Kerangka konseptual haruslah menjelaskan hubungan antara variabel-variabel
yang akan diteliti, dan ada teori yang mendasarinya.
3. Kerangka konsep jawabannya mudah dipahami.
Dalam penelitian kuantitatif, kerangka konseptual merupakan suatu kesatuan
kerangka pemikiran yang utuh dalam rangka mencari jawaban-jawaban ilmiah
terhadap masalah-masalah penelitian yang menjelaskan tentang variabel-variabel,
hubungan antara variabel-variabel secara teoritis yang berhubungan dengan hasil
penelitian yang terdahulu yang kebenarannya dapat diuji secara empiris adalah
uraian tentang hubungan antar variabel-variabel yang terkait dengan masalah
penelitian dan dibangun berdasarkan kerangka teori/kerangka pikir atau hasil studi
sebelumnya sebagai pedoman penelitian.
Dengan kata lain kerangka konsep merupakan bagian dari kerangka teori
yang akan diteliti, untuk mendeskripsikan secara jelas variabel yang dipengaruhi
(variabel dependen) dan variabel yang mempengaruhi (variabel independen).
Kerangka konsep sebaiknya dibuat dalam bentuk skema atau diagram, sehingga
memudahkan untuk melihat hubungan antar variabel dan analisis datanya.
Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal yang
khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi, maka konsep tidak dapat
langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati dan diukur melalui
konstruk yang dikenal dengan istilah variabel. Contoh : variabel dalam penelitian
kesehatan adalah Hb darah, tekanan darah, berat badan, kunjungan ANC, jenis
tenaga kesehatan, dan lain sebagainya.
Kerangka Konsep dapat berpijak pada kerangka teori yang dibentuk pada bab
II. Kerangka teori biasanya lebih kompleks dari kerangka konsep, karena tidak
semua variabel dalam kerangka teori diangkat menjadi variabel penelitian. Oleh
karena itu pada BAB II sebelum gambar kerangka konsep penelitian dipaparkan,
peneliti wajib menjustifikasi mengapa variabel lain tidak diteliti..
Gambar 3. Kerangka Konsep dengan Variabel Perancu8
BAB 7 HIPOTESIS
7.1 PENGERTIAN
Hipotesis berasal dari kata hypo (= di bawah) dan thesis (= kaidah) adalah
suatu pernyataan sementara yang harus dibuktikan kebenarannya dengan
menggunakan uji statistik yang sesuai.
Hipotesis dalam suatu penelitian berarti jawaban sementara, patokan duga,
atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian
tersebut.
Jika ditinjau dari asal kata, Hipotesis terdisi dari kata :
Hipo : di bawah
Thesis : dalil
Jadi Hipotesis adalah suatu dalil atau kaidah yang kebenarannya belum
diketahui. Hipotesis adalah penjelasan sementara yang diajukan tentang hubungan
antara dua atau lebih fenomena terukur/variabel untuk pembuktian secara empirik.
Setelah melalui pembuktian dengan penelitian yang dilakukan, maka hipotesis
yang dibuat tentu saja dapat terbukti benar atau salah, dapat diterima atau ditolak.
Jika diterima atau terbukti benar, maka hipotesis tersebut menjadi tesis. Hipotesis
adalah suatu asumsi pernyataan hubungan antar dua variable atau lebih yang
diharapkan dapat menjawab pertanyaan penelitian. Sehingga hipotesis
tidakmenilai benar atau salah tetapi menguji asumsi dengan data empiris apakah
sahih atau tidak.Hipotesis diperlukan untuk penelitian eksperimen dan analitik.
Hipotesis dalam penelitian iniharus operasional dalam bentuk narasi (bukan
hipotesis nol).
7.2 SUMBER HIPOTESIS
1. pengalaman dalam klinik
2. teori
3. reviu literature
7.3 CIRI-CIRI HIPOTESIS
Ciri atau syarat hipotesis yang baik adalah :
1. Hipotesis adalah hasil kontruksi dari gagasan-gagasan yang dapat diterangkan
berdasarkan teori-teori atau dibuat berdasarkan kerangka konsep penelitian
2. Hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan (statement) dan bukan dalam
bentuk pertanyaan
3. Hipotesis selalu dikaitkan dengan populasi, sampel penelitan hanya berfungsi
sebagai wahana pengujian hipotesis yang akan digeneralisasikan pada
populasi
4. Hipotesis paling sedikit melibatkan dua variabel yang perlu diuji
kebenarannya
5. Hipotesis penelitian harus dapat diuji.
7.4 KEGUNAAN HIPOTESIS
Hipotesis berguna untuk :
1. Menuntun arah penelitian : hubungan dua fenomena atau lebih dari dua
2. Identifikasi variabel yang digunakan: Misalnya untuk meneliti status gizi
dengan mengukur berat badan yang dibandingkan dengan usia menggunakan
KMS.
3. Menentukan disain penelitian: analitik vs deskriptif; Potong lintang vs
eksperimental
4. Petunjuk jenis analisis statistik yang digunakan : satu arah atau dua arah
5. memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan
7.5 JENIS HIPOTESIS
Hipotesis Penelitian dan Hipotesis Statistik
Seringkali terdapat dalam naskah penelitian hipotesis penelitian ditulis
hipotesis kerja. Yang harus muncul dalam naskah penelitian adalah hipotesis
penelitian atau hipotesis kerja.9 Dalam penelitian dikenal dua macam hipotesis
yaitu :
Hipotesis Kerja / hipotesis penelitian
Hipotesis kerja / hipotesis penelitian adalah suatu rumusan hipotesis
dengan tujuan untuk membuat ramalan tentang peristiwa yang terjadi
apabila suatu gejala muncul. Ciri hipotesis kerja adalah terdapat kata: ada,
terdapat, jika, , maka, lebih dan sebagainya.
Contoh hipotesis penelitian / hipotesis kerja:
1. Terdapat hubungan merokok dengan kejadian BBLR.
2. Angka kematian bayi lebih tinggi pada persalinan yang ditolong oleh
dukun bayi.
Hipotesis Statistik
Hipotesis statistik adalah Hipotesis yang digunakan dalam analisis
statistik, pertama kali diperkenalkan oleh Fisher. Hipotesis statistik
biasanya menggunakan rumus,
Contoh : H0 : x = y.1
Hipotesis statistik bersifat universal, sedangkan hipotesis penelitian berifat
individual, sesuai dengan penelitian yang dikerjakan peneliti, tergantung pada
dugaan si peneliti itu sendiri.
Selanjutnya hipotesis yang akan dibahas adalah hipotesis penelitian bukan
hipotesis statistik.
Contoh lain hipotesis statistik pada uji perbandingan satu proporsi :10
H0 : tidak ada perbedaan proporsi perokok antara mahasiswa dan populasi
Ha : ada perbedaan proporsi perokok antara mahasiswa dan populasi
Batas kritis alfa = 0,05
Uji yang dilakukan adalah uji Z dan untuk SE karena sampel (mahasiswa) dan
populasi yang dipakai adalah populasi (masyarakat umum).
Rumus :
Sampel : x = 35, n = 75 p (Perokok) = 35/75 = 0,47
Proporsi Perokok di populasi p = 0,25
Dari nilai pv : Keputusan uji adalah H0 ditolak
Kesimpulan : Ada perbedaan proporsi perokok antara sampel
(mahasiswa) dengan populasi (masyarakat umum).
7.6 JENIS HIPOTESIS
Menurut Arah Hipotesis
Jenis hipotesis menurut arah hipotesis terdiri dari ada dua macam yaitu:
1. Hipotesis satu arah : Hipotesis yang sudah memberi arah. Ciri hipotesis satu
arah terdapat kata : “ lebih tinggi, lebih rendah.”
Contoh : “Proporsi kejadian spina bifida pada ibu hamil yang mengkonsumsi
asam folat 3 bulan pra konsepsi lebih rendah dibandingkan dengan ibu hamil
yang mengkonsumsi asam folat hanya pada saat trimester pertama.”
2. Hipotesis dua arah : Hipotesis yang belum mempunyai arah, ciri hipotesis ini
adalah terdapat kata : “ada hubungan, ada korelasi, ada perbedaan” Jadi
belum mengarahkan dampak faktor tertentu terhadap kejadian tertentu.
Contoh: “Terdapat hubungan senam hamil dengan lama persalinan kala II.”
Hipotesis Positif dan Hipotesis Negatif
Ada juga jenis hipotesis positif dan hipotesis negatif. Hipotesis yang lazim
ditemukan dalam penelitian adalah hipotesis positif, namun jarang ditemukan
hipotesis negatif.
Contoh :
Hipotesis Negatif :
Tidak terdapat hubungan antara minum alkohol dengan kanker payudara
Tidak terdapat hubungan antara makanan cepat saji dengan penurunan densitas
massa tulang. Tidak ada hubungan antara obat SF dengan kejadian perdarahan
kala tiga
Hipotesis Positif :
Terdapat hubungan antara pemakaian kontrasepsi hormonal dengan kejadian
kualitas hidup akseptor.Terdapat hubungan antara masase perineum dengan
robekan perineum tingkat III Semakin teratur ibu hamil melakukan senam hamil,
semakin cepat persalinan kala II.
Jenis Hipotesis
Dikenal dua jenis hipotesis, yaitu :
1. Hipotesis nihil/Ho
Hipotesis yang menyatakan tidak ada pengaruh, tidak ada hubungan atau
tidak ada perbedaan antara satu variabel dengan variabel lain
2. Hipotesis alternatif/Hα
Hipotesis yang menyatakan ada pengaruh, ada hubungan atau ada perbedaan
antara satu variabel dengan variabel lain
Pengujian hipotesis dapat berguna untuk pengambilan keputusan apakah
suatu hipotesis yang diajukan akan diterima atau ditolak. Bentuk uji hipotesis
adalah :
1. One tail atau satu sisi, bila hipotesis alternatif menyatakan ada hubungan
searah atau berlawanan, atau salah satu variabel lebih tingi atau rendah
daripada variabel lainnya
2. Two tail atau dua sisi, bila hipotesis alternatif hanya menyatakan ada
hubungan atau ada perbedaan tanpa menyebutkan arahnya hubungan atau
perbedaan.
7.7 CARA MEMBUAT HIPOTESIS YANG BENAR
Suatu hipotesis haus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Merupakan kalimat deklaratif
2. Merupakan jawaban sementara
3. Dapat dibuktikan secara empiris
4. Berkaitan dengan teori-teori yang ada
5. Konsisten dengan pertanyaan penelitian
6. Hipotesis hanya dibuat untuk penelitian analitik : Korelasi / hubungan
antara dua atau lebih variable
7. Hipotesis hanya dibuat untuk pertanyaan utama
8. Menyebutkan variabel secara spesifik
9. Hipotesis boleh mengandung beberapa variabel bebas/independen, tetapi
hanya
mengandung satu variabel terikat/dependen
10. Hipotesis dapat dibuat dalam bentuk Hipotesis positif dan hipotesis
negative
11. Hipotesis dapat terdir dari dua arah dan satu arah
BAB 8 DESAIN PENELITIAN
8.1 PENGERTIAN
Desain penelitian ialah macam atau jenis penelitian tertentu yang dipilih
untuk dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan penelitian yang telah
ditetapkan.
Desain penelitian merupakan pedoman dalam melakukan proses penelitian
diantaranya dalam menentukan instrumen pengambilan data, penentuan sampel,
pengumpulan data serta analisa data. Tanpa desain yang benar seorang peneliti
tidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena tidak memiliki
pedoman penelitian yang jelas.
Rancangan penelitian atau desain penelitian adalah proses pengumpulan dan
analisis data penelitian. Ini berarti bahwa penelitian ini meliputi perencanaan dan
melakukan penelitian. Untuk rancangan perencanaan diawali dengan observasi
dan evaluasi penelitian yang telah dilakukan dan telah dikenal, sampai
pembentukan kerangka diperlukan bukti lebih lanjut. Dalam Implementasi
rancangan penelitian termasuk juga membuat eksperimen atau pengamatan, dan
juga memilih variabel pengukuran, teknik dan prosedur, pengumpulan data,
instrumen, analisis data telah mengumpulkan sampel, dan pelaporan hasil
penelitian. Menurut pengertian diatas, tujuan dari desain penelitian ini adalah
untuk memberikan rencana untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Metode adalah bagian dari metodologi (metode, teknik, prosedur,
danberbagai macam alat (tools), dengan tahap-tahap terntentu dalam suatu
penelitian) disebut dengan metodologi.
Metode penelitian bisa juga disebut dengan desain penelitian.
Cara mengkatagorisasikan penelitian bisa dilakukan dengan melihat metode
penelitian ataupun dengan melihat riset desainnya atau ada juga yang
membaginya berdasarkan dikotonomi penelitian dasar dan penelitian
aplikatif.
Metode penelitian dan metodologi penelitian, keduanya berbeda namun saling
terkait satu sama lainnya.
Metode penelitian merupakan suatu teknik atau prosedur untuk
mengumpulkan dan menganalisa data.
8.2 PEMILIHAN DESAIN PENELITIAN
Kualitas penelitian dan ketepatan penelitian antara lain ditentukan oleh desian
penelitian yang dipakai. Suatu desain penelitian dapat dikatakan berkualitas atau
memiliki ketepatan jika memenuhi dua syarat (Machfoedz, 2007: 101-102), yaitu :
1. dapat dipakai untuk menguji hipotesis (khusus untuk penelitian kuantitatif
analitik)
2. dapat mengendalikan atau mengontrol varians Prosedur pemilihan desain
penelitian disajikan dalam bentuk bagan oleh Nursalam (2003: 81) sebagai
berikut :
Gambar 3.1. Presudur Mememilih Desain Penelitian (sumber: Nursalam, 2003:
81)
8.3 TIPE-TIPE DESAIN PENELITIAN
Secara garis besar ada dua macam tipe desain, yaitu: Desain Non
ekperimental dan Desain Eskperimental. Faktor-faktor yang membedakan kedua
desain ini ialah pada desain. Non Eksperimental tidak terjadi manipulasi variabel
bebas sedang pada desain yang Eksperimental terdapat adanya manipulasi
variabel bebas. Tujuan utama penggunaan desain yang Non Eksperimental ialah
bersifat eksplorasi dan deskriptif; sedang desain Eksperimental bersifat
eksplanatori (sebab akibat). Jika dilihat dari sisi tingkat pemahaman permasalahan
yang diteliti, maka desain non- eksperimental menghasilkan tingkat pemahaman
persoalan yang dikaji pada tataran permukaan sedang desain eksperimental dapat
menghasilkan tingkat pemahaman yang lebih mendalam. Kedua desain utama
tersebut mempunyai sub-sub desain yang lebih khusus. Yang termasuk dalam
kategori pertama desain penelitian deskriptif, desain penelitian korelasional,
Sedang yang termasuk dalam kategori kedua ialah percobaan dilapangan (field
experiment) dan percobaan di laboratorium (laboratory experiment).
8.4 DESAIN PENELITIAN NON-EKSPERIMEN
1. Desain Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptIf dilakukan dengan tujuan untuk mendiskripsikan atau
menggambarakan fakta-fakta mengenai populasi secara sistematis, dan akurat.
Dalam penelitian deskriptif fakta-fakta hasil penelitian disajikan apa adanya. Hasil
penelitian deskriptif sering digunakan, atau dilanjutkan dengan dilakukannya
penelitian analitik. Desain penelitian deskriptif dibedakan menjadi dua : desain
penelitian studi kasus dan desain penelitian survai (Nursalam, 2003: 83-84).
a. Desain penelitian studi kasus
Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup pengkajian
satu unit penelitian secara intensif, misalnya satu pasien, keluarga,
kelompok, komunitas, atau institusi (Nursalam, 2003 : 83). Karakteristik
studi kasus adalah subjek yang diteliti sedikit tetapi aspek-aspek yang
diteliti banyak.
b. Desain penelitian survai
Survai adalah suatu desain penelitian yang digunakan untuk menyediakan
informasi yang berhubungan dengan prevalensi, distribusi dan hubungan
antar variable dalam suatu populasi (Nursalam, 2003 : 84). Karakteristik
dari penelitian survai adalah bahwa subjek yang diteliti banyak atau sangat
banyak sedangkan aspek yang diteliti sangat terbatas.
2. Desain penelitian korelasional
Tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-
variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi- variasi pada satu atau lebih
faktor lain berdasarkan koefisien korelasi (Suryabrata, 2000 : 24). Hubungan
korelatif mengacu pada kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diikuti oleh
variasi variabel yang lain dan dengan demikian dalam rancangan korelasional
peneliti melibatkan paling tidak dua variable (Nursalam, 2003 : 84). Jika variabel
yang diteliti ada dua, maka masing-masing merupakan variabel bebas dan variabel
terikat. Bila variabel yang diteliti lebih dari dua, maka dua atau lebih variabel
sebagai variabel bebas atau prediktor dan satu variabel sebagai variabel terikat
atau kriterium Desain penelitian korelasional dapat digambarkan dengan bagan
sebagai berikut :
3. Desain Penelitian Kausal-komparatif
Penelitian kausal-komparatif difokuskan untuk membandingkan variable
bebas dari beberapa kelompok subjek yang mendapat pengaruh yang berbeda dari
variabel bebas. Pengaruh variabel bebas terhadap variable terikat terjadi bukan
karena perlakuan dari peneliti melainkan telah berlangsung sebelum penelitian
dilakukan.
Desain penelitian kausal-komparatif dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
desain penelitian kohort dan desain penelitian kasus kontrol (Nursalam, 2003 :
86).
a. Desain penelitian kohort
Pendekatan yang dipakai pada desain penelitian kohort adalah pendekatan
waktu secara longitudinal atau time period approach. Sehingga penelitian
ini disebut juga penelitian prospektif. Secara skematis desain penelitian
kohort dapat digambarkan seperti berikut.
b. Desain penelitian kasus control
Desain penelitian kasus kontrol merupakan kebalikan dari desain
penelitian kohort, dimana peneliti melakukan pengukuran pada variabel
terikat terlebih dahulu. Sedangkan variabel bebas dteliti secara retrospektif
untuk menentukan ada tidaknya pengaruh pada variabel terikat. Desain
penelitian kasus control secara skematis dapat digambarkan sebagai
berikut :
4. Desain Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan atau action research merupakan penelitian yang bertujuan
mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan
untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia
actual yang lain (Sumadi Suryabrata, 2000 : 35).
Penelitian tindakan mempunyai ciri-ciri :
1) praktis dan langsung relevan untuk situasi actual dalam dunia kerja,
2) menyediakan kerangka kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan
perkembangan-perkembangan baru,
3) fleksibel dan adaptatif, dan
4) memilikikekurangan dalam hal ketertiban ilmiah (Sumadi Suryabrata,
2000 : 3
5) Secara skematis desain penelitian tindakan dapat divisualisasikan sebagai
berikut.
5. Desain Penelitian Eksperimen
1) Sistem notasi
Sebelum membicarakan desain dan eksperimental, sistem notasi yang
digunakan perlu diketahui terlebih dahulu. Sistem notasi tersebut adalah
sebagai berikut (Sarwono, 2006) :
X : Digunakan untuk mewakili pemaparan (exposure) suatu kelompok
yang diuji terhadap suatu perlakuan ekspe- riment al pada variabel bebas
yang kemudian efek pada variable tergantungnya akan diukur.
O : Menunjukkan adanya suatu pengukuran atau observasi terhadap
variable tergantung yang sedang diteliti pada individu, kelompok atau
obyek tertentu.
R : Menunjukkan bahwa individu atau kelompok telah dipilih dan
ditentukan secara random.
2) Jenis-jenis desain ekperimental
Ditinjau berdasarkan tingkat pengendalian variable, desain penelitian
eksperimental dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
a. Desain penelitian pra-eksperimental
Desain penelitian pra-eksperimental ada tiga jenis yaitu :
1) One-shot case study
Prosedur desain penelitian one-shot case study adalah sebagai
berikut. Sekolompok subjek dikenai perlakuan tertentu (sebagai
variable bebas) kemudian dilakukan pengukuran terhadap variable
bebas. Desain penelitian ini secara visual dapat digambarkan
sebagai berikut ;
2) One group pretest-posttes design
Prosedur desain penelitian ini adalah :
a) dilakukan pengukuranvariabletergantung dari satu kelompok
subjek (pretest),
b) subjek diberi perlakuan untuk jangka waktu tertentu (exposure),
c) dilakukan pengukuran ke-2 (posttest) terhadap variable bebas,
dan
d) hasil pengukuran prestest dibandingan dengan hasil pengukuran
posttes. Prosedur one group pretest-posttes design dapat
digambarkan sebagai berikut.
3) Static Group Comparison
Desain ketiga adalah static group comparison yang merupakan
modifikasi dari desain b. Dalam desain ini terdapat dua kelompok
yang dipilih sebagai objek penelitian. Kelompok pertama
mendapatkan perlakuan sedang kelompok kedua tidak mendapat
perlakuan.
Kelompok kedua ini berfungsi sebagai kelompok pembanding /
pengontrol. Desainnya adalah sebagai berikut:
b. Desain penelitian eksperimen semu (quasy-experiment)
Desain penelitian eksperimen semu berupaya mengungkap hubungan
sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol dan kelompok
ekperimen tetapi pemilihan kedua kelompok tersebut tidak dilakukan
secara acak (Nursalam, 2003: 89). Kedua kelompok tersebut ada secara
alami. Desain penelitian jenis ini dapat digambarkan sebagai berikut.
c. Desain eksperimen sungguhan (true-experiment)
Desain ini memiliki karakteristik dilibatkannya kelompok control dan
kelompok eksperimen yang ditentukan secara acak. Ada tiga jenis
desain penelitian yang termasuk desain eksperimental sungguhan, yaitu
:
1) Pasca-tes dengan pemilihan kelompok secara acak
Pada rancangan ini kelompok eksperimen diberi perlakuan
sedangkan kelompok control tidak. Pengukuran hanya diberikan
satu kali yaitu setelah perlakuan diberikan kepada kelompok
eksperimen. Desaian ini dapat digambarkan sebagai berikut.
2) Pra dan pasca tes dengan pemilihan kelompok secara acak
Dalam rancangan ini ada dua kelompok yang dipilih secara acak.
Kelompok pertama diberi perlakuan (kel. Ekperimen) dan kelopok
kedua tidak diberiperlakuan (kel. Control). Observasi atau
pengkukuran dilakukan untuk kedua kelompok baik sebelum
maupun sesudah pemberian perlakuan. Desain ini dapat
digambarkan berikut ini :
3) Desain Solomon
Desain yang merupakan penggabungan dari desain 1) dan desain 2)
disebut desain Solomon atau Randomized Solomon Four-Group
Design. Ada empat kelompok yang dilibatkan dalam penelitian ini :
dua kelompok kontrol dan dua kelompok eksperimen. Pada satu
pasangan kelompok eskperimen dan control diawali dengan pra-
tes, sedangkan pada pasangan yang lain tidak. Gambar dari desain
Solomon adalah sebagai berikut :
6. Jenis –jenis Penelitian
a. Causal – Comperative Research
Causal – Comparative Research disebut juga dengan penelitian sebab
akibat. Penelitian kausal bisa dimasukkan dalam penelitian eksperimen
dan bentuk lain misalnya dalam bentuk komperatif riset. Indipendent
variable pada penelitian komperatif tidak bisa dimanipulasi dan tidak bisa
diberikan perlakuan (treatment). Penelitian komperatif lebih terfokus
pada dampak yang terjadi dengan mencari penyebab dari dampak
tersebut dan melihat perbedaan yang terjadi diantara dua grup atau lebih
serta penjelasan terhadap perbedaan diantara kedua kelompok/grup.
b. Correlational Research Pengukuran dua variable
Metode penelitian dan rata-rata grade point Determine degree of
relationship between them
Koefisien korelasi ( misl r = 0.50) Deskripsi dan prediksi dari
setiap hubungan Unlike experiment, tidak ada varibel yang
dikontrol Correlational Research
Correlational Research adalah penelitian kuantitatif.
Penelitian ini dialakukan untuk melihat hubungan diantara dua
variable.
Korelasi tidak menjamin adanya kausaliti (hubungan sebab akibat),
tetapi kausaliti menjamin adanya korelasi.
c. Survey Research
Penelitian survei termasuk ke dalam penelitian kuantitatif untuk
meneliti perilaku suatu individu atau kelompok.
Pada umumnya penelitian survei menggunakan kuesioner sebagai
alat pengambil data.
Penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu
populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data
yang pokok.
Jumlah populasi yang cukup besar jika penelitinya menginginkan
hasil yang mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
Metode survei ini sangat popular dan banyak digunakan dalam
penelitian sosial dan bisnis karena cepat dan mudah untuk
dilaksanakan.
d. Action Research
Action research merupakan penelitian yang berfokus langsung pada
tindakan sosial.
Empowering ada peneliti yang terjun langsung ke daerah penelitian
karena tidak bisa disurvei.
Penelitian tindakan (action research) adalah bisa penelitian kualitatif
maupun kuantitatif.
Penelitian tindakan ini merupakan metode yang didasarkan pada
tindakan masyarakat yang seringkali diselenggarakan pada suatu
latar yang luas, seperti di rumah sakit, pabrik, sekolah, dan lain
sebagainya.
e. Ethnographic Research
Penelitian etnographi adalah penelitian yang memfokuskan diri pada
budaya dari sekelompok orang.
Umumnya penelitian etnogarhi meneliti tentang budaya secara
umum.
Penelitian ethographic hampir sama dengan action riset.
Penelitian ini lebih terfokus pada organisasi yang mendefenisikan
grup of people. Misalnya kajian tentang pembagian irigasi di Bali
(SUBAK). Masyarakatnya berkumpul untuk pembagian air kesawah.
f. Case Studies Research
Studi kasus merupakan penelitian yang memusatkan perhatian pada
suatu kasus tertentu dengan menggunakan individu atau kelompok
sebagai bahan studinya.
Penggunaan penelitian studi kasus ini biasanya difokuskan untuk
menggali dan mengumpulkan data yang lebih dalam terhadap obyek
yang diteliti untuk dapat menjawab permasalahan yang sedang
terjadi.
Studi kasus dikatakan bahwa penelitian bersifat deskriptif dan
eksploratif.
BAB 9 TEKNIK SAMPLING
9.1 PENGERTIAN POPULASI
Populasi adalah keseluruhan sesuatu yang karakteristiknya mungkin
diselidiki/diteliti. Anggota atau unit populasi disebut elemen populasi. Contoh
elemen populasi adalah: anak balita, ibu hamil, hasil produksi perkebunan, dan
tablet yang diproduksi oleh suatu perusahaan farmasi. Dalam suatu penelitian
mungkin hanya terdapat satu macam unit analisis, namun bias juga lebih. Populasi
dapat dibedakan lagi menjadi populasi studi dan populasi sasaran atau target.
Populasi studi atau populasi sampel adalah kumpulan dari satuan atau unit tempat
kita mengambil sampel. Populasi target atau sasaran adalah kumpulan dari satuan
atau unit yang ingin kita buat inferensi atau generalisasi-nya dalam suatu
penelitian atau sering disebut juga sebagai sasaran penelitian.
9.2 PENGERTIAN SAMPEL
Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi objek penelitian. Unit
sampel bias sama dengan unit populasi tetapi bisa juga berbeda. Sebagai contoh
unit analisis atau populasi suatu penelitian adalah anak berumur di bawah tiga
tahun atau batita, hal yang akan diteliti adalah kebiasaan makan maka unit sampel
adalah ibu atau pengasuh yang memiliki anak usia di bawah tiga tahun sebab tidak
mungkin pertanyaan tentang makanan anak batita dapat ditanyakan langsung pada
anak batita tersebut. Unit sampel adalah unit terkecil pada populasi yang akan
diambil sebagai sampel. Idealnya dalam suatu penelitian untuk mengetaui
karakteristik populasi adalah dengan melakukan pengamatan terhadap populasi.
Namun dalam praktiknya kita hanya bias melakukan pengamatan terhadap
sampel, tidak hanya disebabkan oleh biaya penelitian yang besar tetapi juga
karena penelitian terhadap populasi akan memakan waktu yang sangat lama dan
dapat menimbulkan kesalahan yang besar dalam pengukuran atau bias. Beberapa
alasan mengapa dalam suatu penelitian dilakukan pengambilan sampel antara lain
adalah :
1. adanya populasi yang sangat besar (infinite population), di dalam populasi
yang sangat besar dan tidak terbatas tidak mungkin seluruh populasi
diamati atau diukur sebab membutuhkan waktu yang lama,
2. homogenitas, tidak perlu semua unit populasi yang homogen diamati atau
diukur sebab akan membuang waktu dan tidak akan berguna karena
variabel yang akan diteliti telah terwakili oleh sebagian populasi tersebut,
3. penarikan sampel menghemat biaya dan waktu, dan
4. ketelitian atau ketepatan pengukuran, meneliti atau mengukur subjek
dalam jumlah sedikit (sampel) tentu akan lebih teliti jika dibandingkan
dengan mengukur subjek yang banyak (populasi).
Berdasarkan alasan penarikan sampel, maka sampel suatu penelitian harus
dapat menggambarkan populasinya. Dengan kata lain sampel harus memiliki
karakteristik yang sama dengan karakeristik populasinya. Sampel yang baik
adalah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. dapat menghasilkan gambaran karakter populasi yang tepat,
2. dapat menentukan presisi (ketepatan) hasil penelitian dengan menentukan
standar deviasi dari taksiran yang diperoleh,
3. sederhana, mudah dilaksanakan, dan
4. dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya yang
efisien.
Jika syarat-syarat sampel di atas tidak terpenuhi maka kesimpulan yang
digeneralisasikan untuk populasi akan menjadi bias (bias conclusion).
9.3 JUMLAH SAMPEL
1. Penentuan Besar Sampel
Pertanyaan yang sering muncul ketika hendak melakukan penelitian
adalah berapa besar atau seberapa banyak sampel yang harus ”diambil”
agar dapat mewakili populasinya? Ada dua hal yang harus dipenuhi untuk
memperoleh sampel yang dapat mewakili populasinya atau representatif
terhadap populasinya, yakni besar sampel dan cara pengambilan sampel.
Besar sampel saja tidak menjamin bahwa sampel yang kita ”ambil” akan
mewakili karakteristik populasinya tanpa memperhatikan cara
pengambilannya, sebaliknya cara pengambilan sampel yang menganut
azas probabilitas atau random tidak dengan sendirinya akan memperoleh
sampel yang representatif terhadap populasinya tanpa memperhitungkan
besar sampel terhadap populasinya. Besar sampel tergantung pada hal-hal
berikut ini :
(1) jenis penelitian, jika penelitian bersifat eksploratif maka satu sampel
saja mungkin sudah cukup, namun jika penelitian bertujuan untuk
melakukan generalisasi maka sampel harus representatif terhadap populasi
sehingga perlu memperhatikan besar sampel selain cara pengambilan
sampelnya;
(2) skala ukur variabel dependen, apakah berskala katagorikal atau
kontinu; dan derajat ketepatan perkiraan yang diinginkan, makin tinggi
derajat ketepatan yang diinginkan maka makin besar pula sampel yang
dibutuhkan. Besar sampel juga ditentukan oleh tujuan penelitian apakah
untuk mengestimasi nilai populasi atau untuk menguji hipotesis. Berikut
akan dijelaskan perhitungan besar sampel berdasarkan tujuan penelitian.
2. Besar Sampel untuk Estimasi Proporsi
a. Estimasi proporsi dengan presisi mutlak
Dalam melakukan penelitian sering kali peneliti ingin mengetahui
proporsi suatu kejadian, seperti cakupan imunisasi di suatu Provinsi,
prevalensi anemia pada ibu hamil di suatu Kabupaten, dan prevalensi
balita gizi kurang di suatu Kecamatan. Proporsi pada populasi yang
hendak diketahui dilambangkan dengan ”P”, sedangkan proporsi pada
sampel dilambangkan dengan ”p”. Dengan menggunakan teori
distribusi rata-rata sampel, kita ketahui bahwa pada pengambilan
sampel yang dilakukan secara berulang-ulang, ”p” akan berdistribusi
secara ”normal” dengan rata-rata=P dan varians=P(1-P)/n. Distribusi
sampel dapat digambarkan seperti kurva di bawah ini.
Nilai d melambangkan simpangan baku (standar deviasi) dari proporsi
pada populasi, dan besarnya d dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :
Nilai Z1-α/2 melambangkan jarak sekian standar error dari rata-rata.
Nilai d disebut sebagai presisi dan nilainya makin kecil dengan makin
besarnya jumlah sampel. Sedangkan nilai Z1-α/2 ditentukan
berdasarkan derajat kepercayaan yang dikehendaki. Derajat
kepercayaan yang lazim digunakan adalah 90, 95, dan 99%, dengan
nilai Z1-α/2 adalah 1,64, 1,96, dan 2,58. Jika nilai Z1-α/2 ditentukan
1,96 maka berarti 95% dari seluruh proporsi pada sampel akan berada
pada kisaran 1,96 standar error dari proporsi populasi, di mana standar
error sama dengan P .
Namun standar error merupakan fungsi dari proporsi di populasi yang
tak diketahui. Dengan menyelesaikan persamaan di atas (3.1) maka
diperoleh rumus menghitung sampel untuk estimasi proporsi sampel
sebagai berikut :
Jadi jumlah sampel minimum yang dibutuhkan sebesar 87,39 pasien.
Jumlah tersebut dibulatkan menjadi 88 pasien, berarti 88 pasien
diperlukan sebagai sampel agar kita 95% percaya dalam melakukan
estimasi jumlah atau persentase tingkat kepuasan pasien.
b. Estimasi proporsi dengan presisi relative
Dalam melakukan estimasi proporsi, ada kalanya peneliti memerlukan
presisi relative seperti 10% P bukan 10% angka mutlak. Sebagai
contoh, jika proporsi pasien yang puas terhadap pelayanan farmasi pada
populasi adalah 70%, dengan pendekatan presisi mutlak 10% dan
derajat kepercayaan 95% maka 95% dari sampel yang diambil akan
menghasilkan cakupan sebesar 60—80%. Sedangkan dengan
pendekatan presisi relatif, 95% dari sampel yang diambil akan
menghasilkan cakupan 63—77% (70±0,1x70). Presisi relatif dapat
dituliskan sebagai berikut :
dan menurut rumus (3.1)
dengan membagi kedua sisi persamaan dengan P, dihasilkan persamaan
:
Dengan menyelesaikan persamaan tersebut, diperoleh rumus untuk
menghitung besar sampel dengan presisi relatif sebagai berikut.
Contoh
Seorang peneliti ingin mengetahui gambaran masyarakat yang
melakukan pengobatan sendiri ketika demam. Dari survei di Indonesia,
diketahui bahwa persentase masyarakat yang mengobati sendiri ketika
demam adalah 60%. Berapa jumlah sampel yang diperlukan jika
peneliti mengharapkan derajat kepercayaan 95% dan presisi relatif
10%? Dengan menggunakan rumus (3.6), jumlah sampel dapat dihitung
berdasarkan isian
P = 0,60, ϵ = 0,10, dan Z = 1,96, maka: n = (1,96)2
orang sampel, jumlah tersebut dibulatkan menjadi 257 orang sampel.
Dengan demikian diperlukan 257 orang sebagai sampel agar kita 95%
percaya dalam melakukan estimasi persentase masyarakat yang
mengobati sendiri ketika demam di daerah tersebut.
c. Besar Sampel untuk Uji Hipotesis Beda Proporsi
Penelitian sering juga dilakukan dalam rangka menguji sebuah
hipotesis. Jika data yang kita kumpulkan berupa data hitung maka uji
hipotesis yang dilakukan adalah uji hipotesis beda proporsi. Untuk
menghitung besar sampel uji hipotesis beda proporsi menggunakan Z1-
β yang merupakan nilai Z pada kekuatan uji (power)1-β. Jika kekuatan
uji 90% maka berarti jika pada populasi memang ada perbedaan
proporsi adalah 90%. Kekuatan uji yang umum digunakan adalah 99,
95, 90, dan 80% dengan nilai Z berturut-turut 2,33; 1,64; 1,28; dan
0,84. Dengan asumsi n1=n2=n maka penentuan besar sampel pada
penelitian yang bertujuan menguji hipotesis beda proporsi dapat
digunakan rumus sebagai berikut.
Keterangan :
n = besar sampel
Z1-α/2 = derajat kemaknaan
P = proporsi rata-rata (p1+p2)/2
Z1-β = kekuatan uji
p1 = proporsi kelompok-1
p2 = proporsi kelompok-2
d. Besar Sampel untuk Uji Hipotesis Beda Rata-rata Dua Kelompok
Independen
Penelitian sering juga ditujukan untuk mengetahui perbedaan dua rata-
rata pada kelompok atau populasi independen. Misalnya peneliti ingin
mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata kadar haemoglobin ibu
hamil yang patuh dan tidak patuh minum tablet tambah darah.
Pengujian yang dilakukan oleh peneliti dalam analisis adalah pengujian
hipotesis nol, Ho: μ1=μ2. Sedangkan hipotesis yang ingin dibuktikan
adalah hipotesis alternatif, Ha: μ1≠μ2. Pada distribusi sampel 1 x dan 2
x (di mana 1 x adalah rata-rata pada populasi 1 dan 2 x adalah rata-rata
pada populasi 2), jika Ho benar maka x x variansnya
adalah Var x x )=2𝛔2/n
Berdasarkan persamaan tersebut maka dapat dikembangkan rumus
besar sampel untuk uji hipotesis beda dua rata-rata sebagai berikut.
Jika derajat kemaknaan 5% maka berarti jika pada populasi tidak ada
perbedaan ratarata (μ1=μ2), maka peluang penelitian kita untuk
memperlihatkan ada perbedaan rata-rata (μ1≠μ2) atau salah mengambil
kesimpulan adalah 5%. Derajat kemaknaan yang umum digunakan
adalah 1%, 5%, dan 10% dengan nilai z1-α/2 secara berurutan 2,58;
1,96; dan 1,64. Z1-β adalah nilai z pada kekuatan uji (power) 1-β. Jika
kekuatan uji 90%, berarti jika pada populasi memang ada perbedaan
rata-rata, maka peluang penelitian kita untuk memperlihatkan ada
perbedaan rata-rata adalah 90%. Kekuatan uji yang biasa digunakan
adalah 99%, 95%, 90%, dan 80% dengan nilai z secara berurutan adalah
2,33; 1,64; 1,28; dan 0,84. 𝛔2 pada persamaan dalam rumus (9.20)
adalah standar deviasi dari beda rata-rata. Pada umumnya nilai 𝛔2 tidak
diketahui sehingga 𝛔2 umumnya diperkirakan berdasarkan varians
gabungan dengan rumus sebagai berikut.
e. Besar Sampel untuk Uji Hipotesis Beda Rata-rata Dua Kelompok
Berpasangan
Pada uji hipotesis beda rata-rata berpasangan (dependen sampel),
peneliti ingin menguji perbedaan rata-rata sebelum dan sesudah
intervensi diberikan. Misalnya peneliti ingin mengetahui apakah ada
perbedaan rata-rata kadar haemoglobin ibu hamil sebelum dan sesudah
diberikan tablet zat besi selama kurun waktu tertentu. Dalam kondisi
seperti itu maka rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
di mana 𝛔 adalah standar deviasi dari beda dua rata-rata berpasangan
dari penelitian terdahulu atau penelitian pendahuluan (awal), μ1 adalah
rata-rata pada keadaan sebelum
f. Besar Sampel untuk Penelitian Survei
Besar sampel untuk penelitian survei dapt dihitung dengan rumus
sebagai berikut:intervensi dan μ2 adalah rata-rata pada keadaan sesudah
intervensi.
n= jumlah sampel
Zα/2= nilai z pada alpha tertentu, misal 0,05 maka zα/2=1,96
p= proporsi populasi dengan masalah tertentu
q=1-p
d= tingkat presisi
9.4 CARA PENGAMBILAN SAMPEL (SAMPLING)
Kerangka sampel (sampling frame) adalah daftar unit-unit yang ada pada
populasi yang akan diambil sampelnya. Sebagai contoh, jumlah ibu hamil di suatu
daerah, jumlah balita disuatu posyandu, dan daftar nomor telepon. Kerangka
sampel harus “up to date”. Untuk menjaga sifat “up to date” ada baiknya
kerangka sampel dibuat sendiri oleh peneliti sebelum melakukan sampling
sehingga tidak akan mengalami kesulitan pada saat penelitian dilaksanakan.
Rancangan sampel adalah rancangan yang meliputi cara pengambilan sampel dan
penentuan besar sampel. Rancangan sampel akan membantu peneliti dalam
memperoleh sampel yang memiiki sifat representatif terhadap populasinya. Dalam
menentukan teknik pengambilan sampel yang digunakan harus sesuai dengan
tujuan penelitian. Jika tujuan penelitian untuk membuktikan hipotesis serta
melakukan generalisasi, maka teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
pengambilan sampel secara random. Namun jika tujuan penelitian bukan untuk
menguji hipotesis dan tidak melakukan generalisasi maka dapat digunakan teknik
pengambilan sampel non-random. Random adalah cara mengambil sampel yang
memungkinkan semua unit populasi memiliki kesempatan yang sama untuk
terpilih sebagai subjek penelitian. Teknik pengambilan sampel terdiri dari dua
jenis, yaitu pengambilan sampel secara acak (probability/random sampling) dan
pengambilan sampel secara tidak acak (non-probability/non random sampling).
1. Pengambilan Sampel secara Acak
Dalam pengambilan sampel secara acak (probability/random sampling),
semua unsur atau elemen yang ada di populasi memiliki kesempatan yang
sama untuk terpilih sebagai sampel mewakili populasinya. Agar sampel
dapat mewakili populasi, sampel tersebut harus diambil secara acak
(random). Teknik pengambilan sampel acak terdiri atas: acak sederhana
(simple random sampling), acak sistematis (systematic random sampling),
acak strata (stratified random sampling), sampel kluster (cluster sampling),
dan sampel bertingkat atau bertahap (multistage sampling).
a. Acak sederhana (simple random sampling, SRS)
Teknik ini dapat digunakan jika populasi tidak terlalu bervariasi
(homogen) dan secara geografis tidak terlalu menyebar, serta syarat
utamanya harus tersedia daftar populasi (sampling frame).
Cara pengambilan sampel adalah sebagai berikut :
(1) dengan diundi atau dilotere,
(2) menggunakan tabel bilangan random, dan
(3) menggunakan perangkat lunak komputer (jika tersedia kerangka
sampel).
b. Acak sistematik (systematic random sampling)
Pada teknik ini sampel yang diambil secara acak hanya elemen pertama
saja, selanjutnya dipilih secara sistematik sesuai langkah yang sudah
ditetapkan. Syarat pengambilan sampel secara sistematik adalah
tersedianya kerangka sampel, populasi memiliki pola beraturan seperti
blok-blok rumah, nomor urut pasien, dan populasi sedikit homogen.
Sebagai contoh, mialnya dari 1000 orang anak balita di suatu daerah akan
diambil 50 orang untuk penelitian tentang status gizi. Pengambilan
sampel dilakukan secara sistematik, sehingga secara teoritis probabilitas
untuk terpilih sebagai sampel adalah 50/1000=1/20. Untuk mengambil
elemen pertama dilakukan secara acak sederhana dari nomor 1 sampai
nomor 20, misalnya sudah terundi nomor 10 untuk selanjutnya diambil
setiap jarak 20 satu sampel. dalam contoh ini akan diambil nomor 30, 50,
70, …, dan seterusnsya hingga diperoleh 50 orang anak balita.
c. Sampel strata (stratified random sampling)
Dalam realita sehari-hari pada umumnya populasi bersifat heterogen.
Oleh sebab itu agar seluruh sifat dapat terwakili, terlebih dahulu populasi
dibagi menjadi beberapa strata, sebagai contoh, pendidikan: (tinggi-
sedang-rendah); status ekonomi: (kaya-sedang-miskin). Dalam
melakukan stratifikasi dan pengambilan sampel perlu diperhatikan hal-
hal berikut :
unsur populasi di dalam strata tersebut diupayakan se-homogen
mungkin,
antar strata diupayakan se-heterogen mungkin,
sampel diambil secara proporsional menurut besarnya unit atau
elemen yang ada dalam masing-masing strata dan antar strata, dan
di dalam masing-masing strata unit sampel diambil secara acak atau
random.
Keuntungan penarikan sampel secara strata ini adalah semua ciri yang
heterogen di dalam populasi dapat terwakili dan memungkinkan mencari
hubungan antar strata atau membandingkannya.
d. Sampel klaster (cluster sampling)
Kenyataan di lapangan acap kali kerangka sampel (sampling frame) sulit
didapatkan sehingga peneliti harus membuatnya sebelum pelaksanaan
pengumpulan data. Secara teknis hal itu tidaklah terlalu sulit, tetapi
membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit sehingga proses
pengumpulan data menjadi tidak efisien. Di dalam metoda kluster,
populasi dibagi ke dalam beberpa gugus atau kelas dengan asumsi setiap
gugus aau kelas sudah terdapat semua sifat-sifat atau variasi yang hendak
diteliti. Selanjutnya kelas-kelas itulah yang akan diacak atau dirandom
dan unit sampel akan diambil dari kelas yang sudah terpilih. Syarat-
syarat pengambilan sampel klaster adalah :
sifat-sifat anggota populasi di dalam kelas se-homogen mungkin, dan
antar kelas memiliki sifat yang heterogen, teknik ini sering juga
disebut sebagai “area sampling”.
e. Sampel bertingkat atau bertahap (multistage sampling)
Pengambilan sampel bertingkat dilakukan jika secara geografis populasi
sangat menyebar dan meliputi wilayah yang sangat luas. Sebagai contoh,
misalnya kita hendak meneliti puskesmas yang ada di seluruh Indonesia
yang terdiri dari 33 provinsi. Tahap pertama dirandom dulu sebanyak
delapan provinsi (tahap-I) dari 33 provinsi tersebut, selanjutnya pada
tiap-tiap provinsi yang terpilih secara random, dirandom lagi kabupaten
atau kota mana yang akan ditarik sebagai sampel (tahap-II). Setelah
kabupaten atau kota dirandom, tahap-III dirandom lagi puskesmas mana
yang akan menjadi sampel dari penelitian tersebut.
2. Metoda Pengambilan Sampel secara Tidak Acak
Pengambilan sampel secara tidak acak (non-random/probability sampling),
tidak semua elemen di dalam populasi memiliki kesempatan yang sama
untuk terpilih sebagai sampel. Termasuk dalam metode pengambilan sampel
secara tidak acak adalah: purposive sampling, accidental sampling, dan
quota sampling.
a. Sampel dengan kondisi tertentu (purposive sampling)
Teknik purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang
dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti semata yang menganggap
bahwa unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel
yang diambil. Teknik ini digunakan jika seorang peneliti telah mengenal
betul populasi yang akan diteliti. Dengan demikian, sampel tersebut akan
representatif terhadap populasi yang sedang diteliti. Purposive sampling
juga sering dikaitkan dengan tujuan penelitian yang akan dilakukan.
Sebagai contoh, jika kita hendak meneliti tentang hubungan pemberian
tablet zat besi pada ibu hamil dengan kenaikan kadar haemoglobin darah
ibu hamil tersebut, maka tidak perlu semua ibu hamil diteliti karena
dampak pemberian zat besi akan terlihat setelah beberapa waktu
pemberian. Dengan demikian maka sampel yang dipilih dalam penelitian
tersebut adalah ibu hamil dengan usia kehamilan empat bulan atau lebih
(trimester ke-2 dan ke-3).
b. Sampel insidental atau aksidental
Sampel insidental atau aksidental (insidental sampling atau accidental
sampling) adalah pengambilan sampel dilakukan atas dasar seadanya
tanpa direncanakan terlebih dahulu dan penggambaran hasil dari
pengumpulan data tidak didasarkan pada suatu metoda yang baku.
Misalnya, terjadi suatu keadaan luar biasa (KLB), data yang sudah
terkumpul disajikan secara deskriptif dan hasil tersebut tidak dapat
digeneralisasi.
c. Sampel berjatah
Sampel berjatah (quota sampling) adalah pengambilan sampel yang
dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti semata, jumlah sampel telah
dijatah. Sampel yang akan diambil ditentukan oleh pengumpul data dan
sebelumnya telah ditentukan jumlah yang akan diambil. Jika jumlah
tersebut sudah tercapai maka pengumpulan data dihentikan dan hasilnya
disajikan. Teknik pengambilan sampel ini lebih baik jika peneliti benar-
benar mengenal daerah maupun situasi daerah yang akan diteliti. Sebagai
contoh, misalnya seorang peneliti ingin mengetahui apakah masyarakat
setuju dengan kebijakan larangan merokok di tempat umum. Sebelum
mengumpulkan data telah ditentukan bahwa ia akan mewawancara
sebanyak 1000 orang yang sedang mengunjungi sebuah pusat
perbelanjaan di Jakarta. Kepada setiap orang yang hendak mengunjungi
sebuah pusat perbelanjaan ditanyakan apakah ia setuju dengan kebijakan
larangan merokok di tempat umum. Orang yang ditanya atau responden
mungkin hanya menjawab setuju atau tidak setuju. Peneliti tersebut akan
berhenti setelah ia menanyai sebanyak 1000 orang dan akan menulis
hasil temuannya.
BAB 10 VARIABEL PENELITIAN
10.1 PENGERTIAN
Variabel “berasal dari Bahasa inggris variabel dengan arti: “ubahan”,
“faktor tak tetap”, atau “gejala yang dapat diubahubah”. Pengertian yang lainnya
bahwa variabel adalah karakteristik objek yang dapat dapat diklasifikasikan
kedalam sekurang-kurangnya dua klasifikasi. Sugiyono, (2007) mengartikan
variabel penelitian pada dasarnya adalah suatu hal yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal
tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Kelinger (2000) menyatakan bahwa
variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari, sehingga
merupakan representasi konkrit dari konsep abstrak. Sebagai contoh tingkat
aspirasi, penghasilan, pendidikan, status sosisal, jenis kelamin, golongan gaji,
produktivitas kerja dan lain-lain. Di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa
variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang
berbeda (different values). Dengan demikian variabel itu merupakan suatu yang
bervariasi. Selanjutnya Keddles (1981), menyatakan bahwa variabel adalah suatu
kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
Secara teoritis, variable didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau subyek yang
mempunyai “variasi” antara satu orang dengan orang yang lain atau satu objek
dengan objek lain (Hatch dan Farhady, 1981).
Bervariasi berarti pada veriabel tersebut mempunyai nilai, skor, ukuran yang
berbeda. Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau
kegiatan tertentu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin
kerja, merupakan atribut dari objek. Struktur organisasi, model pendelegassian,
kepemimpinan, pengawasan, koordinasi, prosedur, dan mekanisme kerja,
deskripsi pekerjaan, kebijakan, adalah merupakan contoh variabel dalam kegiatan
administrasi. Berat badan dapat dikatan variabel, Karena berat badan sekolompok
orang itu bervariasi antara satu dengan yang lain, (ada berat badannya 25 kg, 50
kg, 67 kg dst). Dapat diartikan bahwa variabel merupakan segala sesuatu yang
akan menjadi objek pengamatan penelitian, dimana didalamnya tredapat faktor-
faktor yang berperan dalam peristiwa yang akan diteliti.
Jadi kalau dikaitkan dengan proses pengukuran, maka variabel merupakan :
1. Besaran tertentu dari sifat suatu objek/orang (characteristic of objects or
person)
2. Besarnya dapat ditangkap oleh pancaindra (observable)
3. Nilainya berbeda-beda dari pengamatan ke pengamatan berikutnya (differs
from observation to observation)
Variabel Penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa
saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi
tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2007).
Secara Teoritis, para ahli telah mendefinisikan Variable sebagai berikut :
Hatch & Farhady (1981)
Variable didefinisikan sebagai Atribut seseorang atau obyek yang
mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan
obyek yang lain.
Kerlinger (1973)
Variable adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari.
Misalnya : tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status social, jenis
kelamin, golongan gaji, produktifitas kerja, dll.
Variable dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai
yang berbeda (different values).
Dengan demikian, Variabel itu merupakan suatu yang bervariasi.
Kidder (1981)
Variable adalah suatu kualitas qualities) dimana peneliti mempelajari dan
menarik kesimpulan darinya.
Bhisma Murti (1996)
Variable didefinisikan sebagai fenomena yang mempunyai variasi nilai.
Variasi nilai itu bisa diukur secara kualitatif atau kuantitatif.
Sudigdo Sastroasmoro
Variable merupakan karakteristik subyek penelitian yang berubah dari satu
subyek ke subyek lainnya.
Dr. Ahmad Watik Pratiknya (2007)
Variable adalah Konsep yang mempunyai variabilitas. Sedangkan Konsep
adalah penggambaran atau abstraksi dari suatu fenomena tertentu. Konsep yang
berupa apapun, asal mempunyai ciri yang bervariasi, maka dapat disebut sebagai
variable. Dengan demikian, variable dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang
bervariasi.
Dr. Soekidjo Notoatmodjo (2002)
Variable mengandung pengertian ukuran atau cirri yang dimiliki oleh
anggota – anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh
kelompok yang lain.
Variable adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang
dimiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang sesuatu konsep
pengertian tertentu. Misalnya : umur, jenis kelamin, pendidikan, status
perkawinan, pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit, dsb.
10.2 JENIS VARIABEL
Ada beberapa jenis variabel, antara lain :
a. Variabel diskrit dan variabel kontinyu
Nilai numerik yang diberikan pada variabel didasarkan pada sifat yang
beragam. Misalnya untuk variabel yang bersifat dikotomi mempunyai dua
nilai yang menunjukkan ada atau tidak adanya sifat tertentu, contohnya
pria-wanita, pengangguran-bukan pengangguran. Variabel juga bisa terdiri
dari dua kategori, misalnya, suku, agama, jenis perusahaan, dan lain-lain.
Semua variabel-variabel dalam bentuk kategori-kategori tersebut disebut
variabel diskrit. Sedangkan pendapatan, suhu, umur, nilai ujian adalah
contoh-contoh variabel kontinyu.
b. Variabel bebas (independent) dan variabel tak bebas (dependent)
Jenis variable ini terutama digunakan dalam menganalisis hubungan antara
variabel, yaitu variabel tak bebas dipengaruhi oleh variabel bebas.
Misalnya, gaya kepemipinan (variabel bebas) akan mempengaruhi kinerja
atau kepuasan kerja (variabel tak bebas).
c. Variabel nominal, ordinal, interval, dan ratio
Pengklasifikasikan ini didasarkan pada tingkat pengukurannya, yang akan
dijelaskan secara lengkap pada kegiatan belajar berikutnya.
d. Variabel kuantitatif dan kualitatif
Variabel kuantitatif menggunakan skala numerik atau metrik sehingga bisa
ditransformasikan melalui operasi matematika dan analisis statistika yang
lengkap. Sedangkan variabel kualitatif menggunakan skala non numerik
(karakter atau string) atau non metrik. Teknik analisinya, baik operasi
matematika atau teknik statistikanya, relatif lebih terbatas dibandingkan
variabel kuantitatif.
10.3 MACAM-MACAM VARIABEL
Macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi:
a. Variabel pendahulu, adalah variabel yang penampilannya mendahului
variable bebas dan berhubungan dengan variabel terikat.
b. Variabel Independen, Sering disebut juga sebagai variabel bebas, variabel
yang mempengaruhi. Merupakan variabel yang dapat mempengaruhi atau
yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).
Dengan demikian variabel independen mempunyai ciri-ciri :
Variabel yang menentukan variable
Kegiatan stimulus yang dilakukan peneliti menciptakan suatu dampak
pada variabel dependen
Biasanya dimanipulasi, diamati dan diukur untuk diketahui
hubungannya. Contoh : “Pengaruh Therapi Musik terhadap Penurunan
Tingkat Kecemasan…”
c. Variabel Dependen, disebut juga variabel terikat, variabel akibat, variable
respon, output, konsekuen,. Merupakan variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel ini merupakan
variable terikat yang besarannya tergantung dari besaran variabel
indpenden ini, akan memberi peluang terhadap perubahan variabel
dependen (terikat) sebesar koefisien (besaran) perubahan dalam variabel
indepen. Artinya, setiap terjadi perubahan sekian kali satuan varibel
dependen, diharap akan menyebabkan variabel depnden berubah sekian
satuan juga. sebalikanya jika terjadi diharapkan akan menyebabkan
perubahan (penurunan) variabel dependen sekian satuan juga. Dengan
demikian variabel dependen mempunya ciri :
Variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain
Aspek tingkah laku yang diamati dari suatu organiseme yang dikenai
stimulus
Faktor yang diamati dan diukur untuk menentukan ada tidaknya
hubungan atau pengaruh dari variabel bebas. Contoh : “Pengaruh
Therapi Musik terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan
d. Variabel Moderator, Variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan
memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen.
Variabel disebut juga sebagai variabel independen kedua (Sugiyono,
2009). Analisis hubungan yang menggunakan minimal dua variabel, yakni
satu variable dependen dan satu atau beberapa variabel independen, ada
kalanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam
model statistik yang kita gunakan. Dalam analisis statistik ada yang
dikenal dengan variabel moderator. Variabel moderator ini adalah variabel
yang selain bisa memperkuat hubungan antara satu atau beberapa variabel
yang selain bisa memperlemah hubungan antara satu atau beberapa
variabel independen dan variabel dependen. Variabel Moderator disebut
juga Variabel Independen Kedua.
Contoh hubungan Variabel Independen – Moderator – Dependen :
Hubungan motivasi dan prestasi belajar akan semakin kuat bila peranan dosen
dalam menciptakan iklim/lingkungan belajar sangat baik, dan hubungan
semakin rendah bila peranan dosen kurang baik dalam menciptakan iklim
belajar
e. Variabel Intervening atau variabel antara Variabel Intervening atau
variabel antara adalah. Dalam hal ini Tuckman (1988) menyatakan “an
intervening variabel as that factor that theoretically offect the observed
phenomenon but can not be seen, measured, or manipulated”. Variabel
yang secara teoritis mempengaruhi (memperlemah dan memperkuat)
hubungan antara variabel independent dengan dependent, tetapi tidak
dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara
yang terletak diantara variabel bebas dan variabel terikat, sehingga
variabel bebas tidak secara langsung mempengaruhi berubahnya atau
timbulnya variabel terikat. Variabel ini berperan menambah atau
mengurangi efek variabel independent terhadap variable dependen. Dalam
setiap penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa, biasanya menemukan
variabel yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antar
variabel (variabel moderator)yang sedang diukur. Secara teori setiap
variabel ada sebagian variabel yang nilainya secara satuan relatif tidak
dapat diukur secara pasti. Misalnya nafsu makan, stress, frustasi dsb.
Variabel seperti itu dinamakan variabel intervening. Contoh : anak yang
pandai nilainya akan tinggi, tetapi dalam kasus tertentu ada anak yang
pandai nilainnya rendah, ternyata ia sedang sakit hati sewaktu
mengerjakan soal. Sakit hati, dalam hal ini, merupakan Variabel
Intervening.
Contoh :
Tinggi rendahnya penghasilan akan mempengaruhi secara tidak langsung
terhadap umur harapan hidup. Di sini ada varaibel antaranya yaitu yang
berupa Gaya Hidup seseorang. Antara variabel penghasilan dan gaya
hidup terdapat variabel moderator yaitu Budaya Lingkungan Tempat
Tinggal.
f. Variabel Kontrol, Variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan
sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak
dipengaruhi oleh factor luar yang tidak diteliti (Sugiyono, 2009). Variabel
control sering digunkaan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian
yang bersifat membandingkan. Variabel yang sering digunakan dalam
penelitian mahasiswa, selain variabel moderator dan variabel intervening
aalah variabel kontrol. Variabel ini (kontrol), kualitas dan kuantitasnya
bisa dikendalikan oleh peneliti sesuai dengan waktu dan tempat yang
dikehendaki. Biasanya digunakan penelitian eksperimen. Secara skematis
dapat dijelaskan pada bagan berikut ini. Contoh : Pengaruh relaksasi
progresif terhadap penurunan kecemasan pada pasien pra- operasi.
Penelitian ini melihat pengaruh relaksasi progresif terhadap penurunan
kecemasan pada pasien operasi. Maka harus ditetapkan variabel control
berupa pasien yang sama, lingkungan yang sama, jenis penyakit yang
sama, misalnya, seluruh pasien Hernia Inguinalis Lateralis dan lain-lain.
Tanpa adanya variabel kontrol maka sulit ditemukan apakah ada pengaruh
relaksasi progresif terhadap penurunan kecemasan karena faktor pasien,
lingkungan dan jenis penyakit yang sama. Dengan adanya Variabel kontrol
tersebut, maka besarnya pengaruh relaksasi progresif terhadap penurunan
kecemasan dapat diketahui lebih pasti. Contoh lain : penelitian
membandingkan kecepatan mengetik siswa SMK dan SMU maka
diperlukan Variabel Kontrol yaitu: naskah yang diketik sama, mesin ketik
sama, ruang kerja sama.
Untuk dapat menentukan kedudukan variabel independen, dependen,
moderator dan variabel intervening atau bahkan variabel lain, maka harus dilihat
kontekstualnya dengan dilandasi konsep teoritis yang mendasari maupun hasil
pengamatan yang empiris ditempat penelitian (Sugiyono, 2009). Hal ini berarti
bahwa tinjauan teoritis benar-benar harus disiapkan oleh si peneliti sebelum
melakukan penelitian. Dalam disertasi dikenal istilah Materi Kuliah Penunjang
Disertasi, dimana seorang peneliti harus mampu menjelaskan tinjauan teoritis
yang mendasari penelitiannya melalui seminar, sebelum benar-benar melakukan
penelitan. Dengan kejelasan teoritis yang mendasari penelitian, tentunya dapat
diidentifikasi mana variabel independen, dependen, moderator dan variable
intervening atau bahkan variabel lain. Untuk itu sebelum peneliti memilih variabel
apa yang akan diteliti. Selanjutya, Sugiyono (2009) berpendapat perlu
melakukan tinjauan teoritis dulu dan melakukan studi pendahulian untuk mencari
potret pada objek yang akan diteliti dan tidak membuat rancangan penelitian
terlebih dahulu tanpa terebih dahulu mengetahui permasalahan yang ada di objek
penelitian. Seringkali rumusan masalah penelitian dibuat tanpa melalui studi
pendahuluan atau mengetahui potret pada objek yang akan diteliti, sehingga
setelah ditetapkan rumusan masalah, ternyata masalah tersebut tidak menjadi
masalah pada objek penelitian. Baru setelah masalah dapat dipahami dengan jelas
dan dikaji secara teoritis, maka peneliti dapat menentukan variabelvariabel
penelitiannya. Pada penelitian kualitatif, semua variabel seharusnya diamati
semua, karena penelitian kualitatif berasumsi bahwa gejala tersebut tidak dapat
diklasifikasikan, akan tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan
(holistic).
10.4 DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
Definisi operasional variabel adalah batasan dan cara pengukuran variabel
yang akan diteliti. Definisi operasional (DO) variabel disusun dalam bentuk
matrik, yang berisi : nama variabel, deskripsi variabel (DO), alat ukur, hasil ukur
dan skala ukur yang digunakan (nominal, ordinal, interval dan rasio). Definisi
operasional dibuat untuk memudahkan dan menjaga konsistensi pengumpulan
data, menghindarkan perbedaan interpretasi serta membatasi ruang lingkup
variabel.
Langkah-langkah mendefinisi operasionalkan variable :
1) Mencari definisi operasional variabel yang telah ditulis dalam literatur
oleh peneliti sebelumnya. Kalau sudah didapat dan definisi tersebut cukup
operasional, maka dapat langsung untuk dipakai. Kalau definisi tersebut
belum operasional, maka kita harus mendefinisikan variabel tersebut
seoperasional mungkin, sehingga memudahkan dalam penyusunan
kuesioner.
2) Kalau dalam literatur belum ada definisi operasional variabel yang
diperlukan, maka harus dibuat definisi opeasional sendiri dan
mendiskusikan dengan sesama peneliti agar lebih operasional, sebelum
digunakan.
3) Dengan uji coba kuesioner dengan jawaban terbuka, sehingga bisa dibuat
definisi operasional suatu variabel.
Definisi operasional variable dapat berupa narasi atau matrik, yang di
dalamnya terdapat tentang nama variable, definisi variable, Cara ukur variable,
Alat Ukur variable, Hasil ukur variable dan jenis skala variable, sebagai contoh
Tabel 1. Contoh penulisan definisi operasional
CONTOH
1. Judul penelitian
“Hubungan antara karakteristik ibu dan pengetahuan tentang swamedikasi
pada Balita yang mengalami diare di Kabupaten Ciamis”.
2. Masalah Penelitian
“Belum diketahui apakah ada hubungan antara karakteristik ibu dan
pengetahuan tentang swamedikasi pada Balita yang mengalami diare di
Kabupaten Ciamis”.
3. Tujuan khusus penelitian
Mengetahui karakteristik ibu balita
Mengetahui pengetahuan ibu balita tentang swamedikasi pada diare
Mengetahui hubungan antara karakteristik ibu dan pengetahuan tentang
swamedikasi pada Balita yang mengalami diare di Kabupaten Ciamis
4. Manfaat penelitian
“Bahan penyuluhan swamedikasi pada saat diare terhadap ibu yang
mempunyai anak balita di Kabupaten Ciamis”.
5. Tinjauan pustaka mencakup
Karakteristik ibu balita
Pengetahuan
Swamedikasi
Diare
6. Kerangka konsep
Berdasarkan teori perilaku Green (1980) dimana pengetahuan seseorang
dipengaruhi oleh karakteristiknya, maka disusun kerangka konsep sebagai
berikut.
7. Hipotesis alternative
Ada hubungan antara umur ibu dan pengetahuannya
Ada hubungan antara pendidikan ibu dan pengetahuannya
BAB 11 PENGOLAHAN DATA
11.1 TAHAP PENGOLAHAN DATA
Agar analisis penelitian menghasilkan informasi yang benar, paling tidak
ada empat tahapan dalam pengolahan data yang harus dilalui, yaitu:
1. Editing, merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir
atau kuesioner apakah jawaban yang ada di kuesioner sudah :
a. Lengkap : semua pertanyaan sudah terisi jawabannya
b. Jelas : jawaban pertanyaan apakah tulisannya cukup jelas terbaca
c. Relevan : jawaban yang tertulis apakah relevan dengan pertanyaaanya.
d. Konsisten : Apakah antara beberapa pertanyaan yang terkait isi
jawabannya konsisten, misalnya anatara pertanyaan usia dengan
pertanyaan jumlah anak. Bila dipertanyaan usia berisi 15 tahun dan di
pertanyaan jumlah anak terisi 10, ini berarti tidak konsisten.
2. Koding, Koding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf
menjadi data berbentuk angka/bilangan. Misalnya untuk variabel
pendidikan dilakukan koding 1=SD, 2=SMP, 3=SMU dan 4=PT. Jenis
kelamin: 1=laki-laki dan 2=perempuan dan sebagainya. Kegunaan dari
koding adalah untuk mempermudah pada saat analisis data dan juga
mempercepat saat entry data.
3. Prosesing, Setelah semua isian kuesioner terisi penuh dan benar , dan juga
sudah melewati pengkodingan, maka langkah selanjutnya adalah
memproses data agar dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan
cara mengentry data dari kuesioner dengan menggunakan program
komputer ( Hal ini akan dibahas di bab lain).
4. Cleaning
Cleaning (pembersihan data) merupakan kegiatan pengecekan kembali
data yang sudah dientry apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan
tersebut dimungkinkan terjadi pada saat kita mengentry ke komputer.
Setelah kegiatan Cleaning data siap dilakukan analisis. Analisis data
bertujuan untuk menjelaskan fenomena, kejadian atau perilaku, atau untuk
menerangkan apa yang menjadi latar belakang fenomena, kejadian atau
perilaku itu baik yang mengenahi seseorang, sekelompok orang atau
masyarakat. Analisis mempunyai posisi strategis dalam suatu penelitian.
Namun perlu dimengerti bahwa bahwa dengan melakukan analisis tidak
dengan sendirinya dapat langsung memberi jawaban penelitian, untuk itu
perlu diketahui bagaimana menginterpretasi hasil analisis tersebut.
Menginterpretasi berarti kita dapat menjelaskan hasil analisis guna
memperoleh makna/arti. Interpretasi mempunyai dua bentuk. Yaitu arti
sempit dan arti luas. Interprestasi dalam arti sempit (Deskreptif) yaitu
interpretasi data dilakukan hanya sebatas pada masalah penelitian yang
diteliti berdasarkan data yang dikumpulkan dan diolah untuk keperluan
penelitian tersebut. Sedangkan interpretasi dalam arti luas (analitik)
berguna untuk mencari makna data hasil penelitian dengan jalan hanya
menjelaskan/menganalisis data hasil penelitian tersebut, tetapi juga
melakukan inferensi (generalisasi) dari data yang diperoleh dengan teori-
teori yang relevan dengan hasil penelitian tersebut. Analisis perlu dimulai
dari yang sederhana, lalu melangkah ke yang rumit. Langkah pertama
adalah analisis univariat, langkah ke dua analisis bivariat dan yang terakhir
multivariat. Secara umum bab 5 ini menjelaskan mengenai: jenis dan
sumber data, pengolahan dan analisis data, dan Interpretasi hasil analisis
data. Setelah mempelajari materi yang ada dala bab ini, secara khusus
Saudara diharapkan dapat :
1. Menjelaskan konsep jenis dan sumber data.
2. Menjelaskan konsep dasar pengolahan dan analisis data.
3. Sajian dan interpretasi data.
11.2 JENIS DATA DAN SUMBER DATA
Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam dua
jenis yaitu :
1. Data primer, adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan secara
langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli
atau data baru yang memiliki sifat up to date. Untuk mendapatkan data
primer, peneliti harus mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang
dapat digunakan oleh Saudara untuk mengumpulkan data primer antara
lain hasil pemeriksaan laboratorium yg dilakukan secara langsung oleh
Saudara, observasi, wawancara, diskusi terfokus (focus grup discussion –
FGD) dan penyebaran kuesioner yang dilakukan secara langsung baik
sendiri maupun dengan bantuan enumerator.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan dari berbagai
sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder
dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik (BPS),
buku, laporan, jurnal, catatan medis dan lain-lain.
Berdasarkan bentuk dan sifatnya, data penelitian dapat dibedakan dalam dua
jenis yaitu :
1. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk
angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik
pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi
terfokus, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan
(transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh
melalui pemotretan atau rekaman video.
2. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai
dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis
menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika. Berdasarkan
proses atau cara untuk mendapatkannya, data kuantitatif dapat
dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu sebagai berikut :
a. Data diskrit, adalah data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh
dengan cara membilang. Contoh data diskrit misalnya:
1) Jumlah Laboratorium Klinik di Kecamatan X sebanyak 10.
2) Jumlah laki-laki peserta Uji Kompetesi TLM sebanyak 2500 orang.
3) Jumlah anak dikeluaraga sebanyak 3 orang.
Karena diperoleh dengan cara membilang, data diskrit akan berbentuk
bilangan bulat (bukan bilangan pecahan).
b. Data kontinum, adalah data dalam bentuk angka/bilangan yang diperoleh
berdasarkan hasil pengukuran (menggunakan alat ukur). Data kontinum
dapat berbentuk bilangan bulat atau pecahan tergantung jenis skala
pengukuran yang digunakan. Contoh data kontinum misalnya :
1) Tinggi badan Budi adalah 150,5 centimeter.
2) Kadar Hb Budi adalah 12,8 g/dl.
3) Suhu udara di ruang laboratorium 24ᵒ Celcius.
Pengukuran adalah cara pengumpulan data penelitian dengan mengukur
objek menggunakan alat ukur tertentu, misalnya berat badan dengan timbangan
badan, tensi darah dengan tensimeter, dan sebagainya. Berdasarkan tipe skala
pengukuran yang digunakan, data dapat dikelompokan dalam empat jenis
(tingkatan) yang memiliki sifat berbeda yaitu :
1. Data nominal atau sering disebut juga data kategori yaitu data yang
diperoleh melalui pengelompokkan obyek berdasarkan kategori tertentu.
Ciri data ini hanya dapat membedakan, namun sederajat antara data satu
dengan yang lain, artinya hanya dapat membedakan antar satu dengan
yang lain tanpa tahu nilai mana yang lebih rendah atau tinggi. Contoh data
nominal antara lain: Jenis kelamin, status pernikahan, golongan darah,
warna kulit dll.
a. Jenis kelamin yang terdiri dari dua kategori yaitu : (1) Laki-laki (2)
Perempuan Angka (1) untuk laki-laki dan angka (2) untuk perempuan
hanya merupakan symbol yang digunakan untuk membedakan dua
kategori jenis kelamin. Angka-angka tersebut tidak memiliki makna
kuantitatif, artinya angka (2) pada data di atas tidak berarti lebih besar
dari angka (1), karena laki-laki tidak memiliki makna lebih baik dari
perempuan. Terhadap kedua data (angka) tersebut tidak dapat dilakukan
operasi matematika (penjumlahan, pengurangan, pembagian dan
perkalian). Misalnya (1) = laki-laki, (2) = perempuan, maka (1) + (2) ≠
(3), karena tidak ada kategori (3) yang merupakan hasil penjumlahan (1)
dan (2).
b. Status pernikahan yang terdiri dari tiga kategori yaitu: (1) Belum
menikah, (2) Menikah, (3) Janda/ Duda. Data tersebut memiliki sifat-sifat
yang sama dengan data tentang jenis kelamin.
2. Data ordinal adalah data yang berasal dari suatu objek atau kategori yang
telah disusun secara berjenjang menurut besarnya. Setiap data ordinal
memiliki tingkatan tertentu yang dapat diurutkan mulai dari yang terendah
sampai tertinggi atau sebaliknya. Namun demikian, jarak atau rentang
antar jenjang yang tidak harus sama. Dibandingkan dengan data nominal,
data ordinal memiliki sifat berbeda dalam hal urutan. Terhadap data
ordinal berlaku perbandingan dengan menggunakan fungsi pembeda yaitu
“>” dan “<”. Walaupun data ordinal dapat disusun dalam suatu urutan,
namun belum dapat dilakukan operasi matematika penjumlahan,
pengurangan, pembagian dan perkalian). Contoh jenis data ordinal antara
lain :
a. Tingkat pendidikan yang disusun dalam urutan sebagai berikut: (1)
Sekolah Dasar (SD); (2) Sekolah Menengah Pertama (SMP); (3)
Sekolah Menengah Umum (SMU); (4) Perguruan tinggi. Analisis
terhadap urutan data di atas menunjukkan bahwa SD memiliki
tingkatan lebih rendah dibandingkan dengan SMP. Namun demikian
Bpk/Ibu tidak tahu besar perbedaaan pengetahuan orang lulusan SD
dengan yang lulus SMP.
b. Tingkat kepuasan yang terdiri dari 4 katagori: (1) Sangat tidak puas;
(2) Tidak puas; (3) Puas (4) Sangat Puas. Hasil pengukuran data
tingkat kepuasan ini memiliki sifat-sifat yang sama dengan data
tentang tingkat pendidikan.
3. Data Interval adalah data hasil pengukuran yang dapat diurutkan atas
dasar kriteria tertentu serta menunjukan semua sifat yang dimiliki oleh
data ordinal. Kelebihan sifat data interval dibandingkan dengan data
ordinal adalah memiliki sifat kesamaan jarak (equality interval) atau
memiliki rentang yang sama antara data yang telah diurutkan. Karena
kesamaan jarak tersebut, terhadap data interval dapat dilakukan operasi
matematika penjumlahan dan pengurangan ( +, – ). Namun demikian
masih terdapat satu sifat yang belum dimiliki yaitu tidak adanya angka Nol
mutlak pada data interval.
Berikut dikemukakan tiga contoh data interval, antara lain:
a. Hasil pengukuran suhu (temperatur) menggunakan termometer yang
dinyatakan dalam ukuran derajat. Rentang temperatur antara 00
Celcius sampai 10 Celcius memiliki jarak yang sama dengan 10
Celcius sampai 20 Celcius. Oleh karena itu berlaku operasi matematik
( penjumlahan dan pengurangan ), misalnya 150 Celcius + 150 Celcius
= 300 Celcius. Namun demikian tidak dapat dinyatakan bahwa benda
yang bersuhu 150 Celcius memiliki ukuran panas separuhnya dari
benda yang bersuhu 300 Celcius. Demikian juga, tidak dapat dikatakan
bahwa benda dengan suhu 00 Celcius tidak memiliki suhu sama sekali.
Angka 00 Celcius memiliki sifat relatif (tidak mutlak). Artinya, jika
diukur dengan menggunakan Termometer Fahrenheit diperoleh 00
Celcius = 320 Fahrenheit.
b. Pengkuran tingkat kecerdasaran intelektual yang dinyatakan dalam IQ.
Rentang IQ 100 sampai 110 memiliki jarak yang sama dengan 110
sampai 120. Namun demikian tidak dapat dinyatakan orang yang
memiliki IQ 150 tingkat kecerdasannya 1,5 kali dari urang yang
memiliki IQ 100.
c. Didasari oleh asumsi yang kuat, skor tes prestasi belajar (misalnya IPK
mahasiswa dan hasil ujian siswa) dapat dikatakan sebagai data interval.
4. Data rasio adalah data yang menghimpun semua sifat yang dimiliki oleh
data nominal, data ordinal, serta data interval. Data rasio adalah data yang
berbentuk angka dalam arti yang sesungguhnya karena dilengkapi dengan
titik Nol absolut (mutlak) sehingga dapat diterapkannya semua bentuk
operasi matematik penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian.
Sifat-sifat yang membedakan antara data rasio dengan jenis data lainnya
(nominal, ordinal, dan interval) dapat dilihat dengan memperhatikan
contoh berikut :
a. Panjang suatu benda yang dinyatakan dalam ukuran meter adalah data
rasio. Benda yang panjangnya 1 meter berbeda secara nyata dengan
benda yang panjangnya 2 meter sehingga dapat dibuat kategori benda
yang berukuran 1 meter dan 2 meter (sifat data nominal). Ukuran
panjang benda dapat diurutkan mulai dari yang terpanjang sampai yang
terpendek (sifat data ordinal). Perbedaan antara benda yang
panjangnya 1 meter dengan 2 meter memiliki jarak yang sama dengan
perbedaan antara benda yang panjangnya 2 meter dengan 3 (sifat data
interval). Kelebihan sifat yang dimiliki data rasio ditunjukkan oleh dua
hal yaitu : (1) Angka 0 meter menunjukkan nilai mutlak yang artinya
tidak ada benda yang diukur; serta (2) Benda yang panjangnya 2 meter,
2 kali lebih panjang dibandingkan dengan benda yang panjangnya 1
meter yang menunjukkan berlakunya semua operasi matematik. Kedua
hal tersebut tidak berlaku untuk jenis data nominal, data ordinal,
ataupun data interval.
b. Data hasil pengukuran berat suatu benda yang dinyatakan dalam gram
memiliki semua sifat-sifat sebagai data interval. Benda yang beratnya
1 kg. berbeda secara nyata dengan benda yang beratnya 2 kg. Ukuran
berat benda dapat diurutkan mulai dari yang terberat sampai yang
terringan. Perbedaan antara benda yang beratnya 1 kg. dengan 2 kg
memiliki rentang berat yang sama dengan perbedaan antara benda
yang beratnya 2 kg. dengan 3 kg. Angka 0 kg. menunjukkan tidak ada
benda (berat) yang diukur. Benda yang beratnya 2 kg., 2 kali lebih
berat dibandingkan dengan benda yang beratnya 1 kg
11.3 PROSEDUR ANALISIS DATA
Dalam Analisis kuantitatif dalam suatu penelitian dapat didekati dari dua
sudut pendekatan, yaitu analisis kuantitatif secara deskriptif, dan analisis
kuantitatif secara inferensial. Masing-masing pendekatan ini melibatkan
pemakaian dua jenis statistik yang berbeda. Yang pertama menggunakan statistik
deskriptif dan yang kedua menggunakan stastistik inferensial. Kedua jenis statistik
ini memiliki karakteristik yang berbeda, baik dalam hal teknik analisis maupun
tujuan yang akan dihasilkannya dari analisisnya itu. Dalam bab ini kita hanya
akan membahas tentang analisis secara Deskreptif. Sesuai dengan namanya,
deskriptif hanya akan mendeskripsikan keadaan suatu gejala yang telah direkam
melalui alat ukur kemudian diolah sesuai dengan fungsinya. Hasil pengolahan
tersebut selanjutnya dipaparkan dalam bentuk angka-angka sehingga memberikan
suatu kesan lebih mudah ditangkap maknanya oleh siapapun yang membutuhkan
informasi tentang keberadaan gejala tersebut. Dengan demikian hasil olahan data
dengan statistik ini hanya sampai pada tahap deskripsi, belum sampai pada tahap
generalisasi. Dengan kata lain, statistik deskriptif adalah statistik yang mempunyai
tugas mengorganisasi dan menganalisa data angka, agar dapat memberikan
gambaran secara teratur, ringkas dan jelas, mengenai suatu gejala, peristiwa atau
keadaan, sehingga dapat ditarik pengertian atau makna tertentu. Secara teknis
pada dasarnya analisis Deskriptif merupakan kegiatan meringkas kumpulan data
menjadi: Ukuran tengah dan Ukuran variasi. Selanjutnya membandingkan
gambaran-gambaran tersebut antara satu kelompok subyek dan kelompok subyek
lain sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam analisis. Berbicara
peringkasan data (yang berujud ukuran tengah dan ukuran variasi), jenis data
(apakah numeric atau katagorik) akan sangat menentukan bentuk peringkasan
datanya. Berikut akan diuraikan bentuk/cara peringkasan data untuk data numerik
dan data katagorik.
11.3.1 ANALISIS DESKRIPTIF DATA NUMERIK
1. Ukuran Tengah
Ukuran tengah merupakan cerminan dari konsentrasi dari nilai-nilai hasil
pengukuran. Berbagai ukuran dikembangkan untuk mencerminkan ukuran
tengah tersebut dan yang paling sering dipakai adalah mean, median dan
modus.
a. Mean
Rata-rata hitung atau arithmetik mean atau lebih dikenal dengan mean
saja adalah nilai yang baik mewakili suatu data. Nilai ini sangat sering
dipakai dan malah yang paling banyak dikenal dalam menyimpulkan
data. Simbul di sampel Χ = ekbar, Simbul di populasi μ = miu
Misal kalau kita mempunyai n pengamatan yang terdiri dari X1, X2,
X3…..Xn, maka nilai rata-rata adalah _ X1 + X2 + X3 ….Xn, Χ= -----
---------------------n
Contoh: Data dari kadar Hb lima orang 13,5 14,2 15,3 12,6 13,4 gr/dl
Rata-rata kadar Hb lima orang tersebut adalah 13,5 + 14,2 + 15,3 +
12,6 + 13,4 gr/dl ------------------------------------------- = 13.8 gr/dl
Sifat dari Mean
1) Merupakan wakil dari keseluruhan data
2) Mean sangat dipengaruhi nilai ektrim baik ektrim kecil maupun
besar
3) Nilai mean berasal dari semua nilai pengamatan
b. Median
Median adalah nilai yang terletak pada observasi yang ditengah atau
nilai tengah yang membagi data menjadi dua bagian 50% dibawah
median 50% diatas median, kalau data tersebut telah disusun. Nilai
median disebut juga nilai letak. Posisi median adalah n + 1 --------- 2
Nilai median adalah nilai pada posisi tersebut.
Contoh: kalau kadar Hb lima orang diatas disusun menurut besat
kecilnya nilai maka didapatkan susunan sebagai berikut 12,6 13,4 13,5
14,2 15,3 gr/dl 5+1 Posisi median -------- = 32
Nilai observasi ke tiga adalah 13,5 gr/dl , maka dikatakan median
adalah 13,5 gr/dl.
Kalau datanya genap maka posisi median terletak antara dua nilai ,
maka nilai median adalah rata-rata dari kedua nilai tersebut.
Contoh pengamatan diatas tidak 5 orang tetapi ada 6 orang, 12,6 13,4
13,5 14,2 15,3 15,8 gr/dl
Posisi Median adalah pengamatan yang ke 3,5 . maka nilai median
adalah jumlah pengamatan ke tiga dank e empat dibagi dua dalam hal
ini nilai median adalah 13,5 + 14,2 -------------- = 13,8 gr/dl 2
Keuntungan median tidak dipengaruhi data Ekstrim
c. Modus (Mode)
Modus adalah nilai yang paling banyak ditemui didalam suatu
pengamatan . dari sifatnya ini maka untuk sekelompok data
pengamatan ada beberapa kemungkinan :
1) Tidak ada nilai yang lebih banyak diobservasi , jadi tidak ada modus
2) Ditemui satu modus ( uni mode)
3) Ada dua modus ( bi mode)
4) Lebih dari tiga modus (multi mode)
Contoh: Dari pengamatan kadar Hb delapan orang sebagai berikut:
12,6 13,4 13,5 14,2 15,3 15,8 13,4 12,3 gr/dl
Dari pengamatan diatas ditemui nilai 13,4 sebanyak dua kali . Dengan
demikian maka nilai modus adalah 13,4.
Hubungan antara nilai Mean, Median dan Modus
a. Pada distribusi yang simetris ketiga nilai sama besarnya
b. Nilai Median selalu terletak diantara nilai Modus dan Mean
c. Apabila nilai Mean lebih besar dari nilai Median dan Modus maka
dikatakan distribusi menceng ke kanan.
d. Apabila nilai Mean lebih kecil dari nilai Median dan Modus maka
distribusi menceng ke kiri.
2. Nilai Letak (Posisi)
Median adalah nilai pengamatan pada posisi paling ditengah kalau data itu
disusun. Nilai posisi lainnya adalah :
a. Kwartil yaitu nilai yang membagi pengamatan menjadi empat bagian.
Karena itu ada tiga kwartil (kwartil I, kwartil II dan kwartil III).
b. Desil yaitu nilai yang membagi pengamatan menjadi sepuluh, sehingga
ada Sembilan kwartil.
c. Prsentil yaitu nilai yang membagi pengamatan menjadi 100 bagian,
sehingga ada 99 persentil.
3. Nilai-nilai Variasi
Dengan mengetahui nilai rata-rata saja informasi yang didapat kadang-
kadang biasalah interpretasi. Misalnya dari dua kelompok data diketahui
rata-ratanya sama, kalau hanya dari informasi ini kita sudah menyatakan
bahwa dua kelompok ini sama mungkin saja bias salah kalau tidak
diketahui bagaimana bervariasinya data didalam kelompok masing-
masing. Nilai variasi atau deviasi adalah nilai yang menunjukkan
bagaimana bervariasinya data didalam kelompok data itu terhadap nilai
rata-ratanya. Sehingga makin besar nilai variasi maka makin bervariasi
pula data tersebut. Ada bermacam-macam nilai variasi.
a. Range
Range adalah nilai yang menunjukkan perbedaan nilai pengamatan
yang paling besar dengan nilai yang paling kecil. Contoh: 12,6 13,4
13,5 14,2 15,3 15,8 gr/dl adalah data pengukuran kadar Hb orang
dewasa. Range adalah: 15,8 gr/dl – 12,6 gr/dl = 3,2 gr/dl.
b. Rata-rata deviasi (Mean deviation).
Rata-rata deviasi adalah rata-rata dari seluruh perbedaan pengamatan
dibagi banyaknya pengamatan. Untuk ini diambil mutlak.
Rumus :
Σ (X – Xi)
Md = ------------------
N
Contoh:
c. Varian
Varian adalah rata-rata perbedaan antara mean dengan nilai masing-
masing observasi.
Rumus:
Contoh: Dari data diatas dapat dihitung Varian
d. Standar deviasi
Standar deviasi adalah akar dari varian. Nilai standar deviasi disebut
juga sebagai “simpangan baku” kareena merupakan patokan luas area
dibawah kurva normal
Rumus: S= √ S2
Contoh: Standar deviasi dari data diatas adalah S= √ 58 = 7,6 kg.
e. Koefisien Varian (Coeficient Of Variation =COV)
Koefisien varian ini bertujuan untuk melihat konsistensi pengukuran.
Semakin kecil nilainya semakin bagus pengukurannya.
11.3.2 ANALISIS DESKRIPTIF DATA KATAGORIK
Untuk analisis deskreptip data yang berbentuk katagorik cukup dengan
mengeluarkan :
a. Proporsi/Persentasi
b. Frekwensi
c. Homogen atau Heterogen
Misalnya data yang diolah sebanyak 50 responden, kemudian kita ingin
mengetahui berapa banyak responden yang berjenis kelamin laki-laki dan berapa
banyak responden yang cara pengobatannya secara tradisional. Karena jenis
kelamin dan cara pengobatan merupakan data katagorik maka pengolahan data
secara deskreptip cukup dilaporkan jumlah (Frekwensi) dan proporsi (persentasi)
seperti dalam tabel 1 dan tabel 2 berikut :
Tabel 5. 1. Distribusi Jenis kelamin responden
Berdasarkan tabel 1 dapat dijelas bahwa responden yang berjenis kelamin Laki-
laki
sebanyak 30 orang atau 60% dari 50 jumlah responden. Sisanya berjenis kelamin
perempuan sebanyak 20 orang atau 40%.
Tabel 5. 2. Distribusi Cara Pengobatan yang Dipilih Responden
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S. (2009). Metode Penelitian. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
Budiarto,E. (2004). Metodologi Penelitian Kedokteran : Sebuah Pengantar,
Jakarta, EGC.
Budiman. (2011). Penelitian Kesehatan. Bandung. PT. Refika Aditama
Chandra. B. (2008). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. EGC
Creswell.J.W. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan
Mixed. Yogyakarta. Pustaka Pelajar
Danim. S. (2002). Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung. CV. Pustaka Setia
Dawson, C. (2010). Metode Penelitian Praktis: Sebuah Panduan. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.
Hadi.S. (2001). Metodologi Research. Jilid 3. Yogyakarta. Andi Offset.
Heriyanto. A., Sandjaja. (2006). Panduan Penelitian. Jakarta. Prestasi Pustaka
Ideputri, M.E., Muhith, A., Nasir, A. (2011). Buku Ajar Metodologi Penelitian:
Konsep Pembuatan Karya Tulis dan Tesis untuk Mahasiswa Kesehatan.
Yogyakarta. Nuha Medika
Mardalis (2002). Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta, Bumi
Aksara
Nasution (2003). Metode Research. Jakarta. PT. Bumi Aksara
Notoatmodjo, Soekidjo (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta, Rineka
Cipta
Creswell, John. (2016). Research Design Pendekatan Metode, Kualitatif,
Kuantitatif, dan Campuran. Diterjemahkan oleh Fawaid dan Pancasari.
Yogjakarta: Pustaka Pelajar
Notoatmodjo S. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta Rineka Cipta; 2010.
Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara; 2012
Riyanto A. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan; Dilengkapi COntoh
kuesioner dan Laporan Penelitian. Yogyakarta: Nuha Medika; 2011
Hamdiyati Y. Cara Membuat Kajian Pustaka
Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi Guru-Guru MGMP Kota
Bandung [Internet]. 2008. Available from:
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196611031991012
-YANTI_HAMDIYATI/Kajian_Pustaka_Pelatihan_KTI-PTK.pdf
Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:
Sagung Seto; 2011
Kusumayati A. Materi Ajar Metodologi Penelitian. Kerangka Teori, Kerangka
Konsep dan Hipotesis. Depok: Universitas Indonesia; 2009
Green LW, Ottoson JM. A Framework for Planning and Evaluation: PRECEDE-
PROCED Evolution anf Application of te Model. Journees de Sante Publique
[Internet]. 2006. Available from:
http://jasp.inspq.qc.ca/Data/Sites/1/SharedFiles/presentations/2006/JASP2006-
Ottawa-Green-Ottoson14-1.PDF.
Djami MEU. Hubungan Kontrasepsi Hormonal dengan Kualitas Hidup wanita
Pernah Kawin di Wilayah Kerja Puskesmas Tigaraksa. In: Indonesia U, editor.
Manuskrip. Depok2011
Dahlan S. Langkah-Langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran
dan Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto; 2009
Hastono SP, Sabri L. Statistik Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers; 2006.