0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan10 halaman

Len Makalah 2023

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang kritik musik, termasuk pengertian, fungsi, dan tujuan dari kritik musik. 2. Kritik musik bertujuan untuk mengevaluasi karya musik, meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik, dan mengembangkan kreativitas di bidang musik. 3. Kritik musik berperan penting dalam menghubungkan pencipta, penyaj

Diunggah oleh

Vony Purnama
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan10 halaman

Len Makalah 2023

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang kritik musik, termasuk pengertian, fungsi, dan tujuan dari kritik musik. 2. Kritik musik bertujuan untuk mengevaluasi karya musik, meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik, dan mengembangkan kreativitas di bidang musik. 3. Kritik musik berperan penting dalam menghubungkan pencipta, penyaj

Diunggah oleh

Vony Purnama
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karya musik dapat kita dengarkan melalui pertunjukan langsung atau melalui hasil
rekaman. Karya tersebut oleh penyajinya, baik pemain musik maupun penyanyi selalu
berusaha tampil sebaik-baiknya untuk memenuhi harapan (keindahan) bagi
pendengarnya. Sebelum pertunjukan berlangsung, mereka berlatih intensif. Fokusnya
adalah menyajikan yang terbaik dan terindah kepada pendengar. Dengan konsentrasi
penuh disertai perasaan yang sesuai dengan musik yang dibawakan, penyaji berusaha
membawa keindahan untuk dinikmati bersama pendengarnya. Namun demikian, suatu
pertunjukan musik kadang kala kurang mendapat respons positif dari pendengarnya.
Keindahan yang diharapkan tidak didapatkan. Penyaji pun kecewa akibat dari kurangnya
respons dari pendengar. Pada keadaan ini, tampak ada jarak antara harapan penyaji
dengan pendengar.
Pada acara lomba menyanyi yang sering ditampilkan akhir-akhir ini di media televisi
(seperti AFI atau Indonesia Idol) penampilan seorang penyanyi selalu dikomentari oleh
para juri. Komentar yang disampaikan juri ada yang berifat pujian dan ada juga yang
bersifat celaan. Ada pula komentar yang bersifat teknis, penghayatan (interpretasi) atau
pembawaan (ekspresi). Bagi penyaji atau peserta suatu lomba/festival musik, komentar
dari pendengar atau juri dapat mendorong musisi untuk berkarya lebih baik. Sebaliknya
dapat juga terjadi. Namun demikian, dapat dibayangkan hasilnya apabila tidak ada
komentar dari para juri, maka setiap peserta tentu merasa sudah baik. Rasa puas diri
kadang dapat menurunkan upaya untuk meningkatkan kemampuan diri. Melalui komentar
yang dilontarkan, penonton atau pendengar menjadi paham akan apa yang terbaik atau
pun kekurangan seorang penyanyi.
Pernyataan-pernyataan yang disampaikan juri pada suatu lomba tentu berdasarkan
penilaian atas karya dan penampilan peserta secara lisan. Penilaian tersebut didasarkan
atas pengetahuan, pengalaman dan penguasaan keterampilan, serta perasaan musikal yang
dimiliki para juri. Komentar yang disampaikan bukan berdasarkan perasaan senang atau
tidak senang terhadap pribadi peserta. Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan bagian
dari kritik. Kritik musik tentu bukan hanya komentar sesaat seusai pertunjukan tetapi
suatu ulasan mendalam dan luas guna memberi pemahaman atas karya. Kritik musik
berusaha menghubungkan karya musik dan pelakunya dengan masyarakat musik

1
(pendengar) sehingga terbangun suatu pemahaman atas nilai-nilai keindahan (estetika). Di
sini terlihat peran penting kritik dari seorang kritikus musik.
Suka Hardjana pernah menulis, bahwa “berbeda dengan dunia sastra, teater dan seni
rupa, kritik seni mempunyai tabiat dan perilakunya sendiri dalam dunia musik. Yaitu,
kritik tak didengar oleh-dan nyaris tak ada gunanya-bagi seniman musik” (2004: vii). Hal
ini dapat dipahami karena ada sebagian seniman yang berpandangan bahwa musik itu
cukup dirasakan lewat bunyi sebagai esensi musik bukan dipahami lewat pengertian-
pengertian verbal. Pandangan ini tentu benar tetapi bagi yang berpandangan seperti ini
mungkin kurang menyadari bahwa pendengar musik tidak memiliki referensi yang sama
baiknya dengan pencipta atau penyaji musik. Selain itu, penganut pandangan ini
barangkali kurang menyadari pula bahwa apa yang ditampilkan dalam suatu pertunjukan
merupakan obyek yang tidak hanya dapat dirasakan lewat bunyi tetapi merupakan hal
yang terbuka untuk diamati dari berbagai sisi atau pengertian-pengertian, baik yang
bersifat musikal maupun non musikal.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam
makalah tentang kritik musik ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian kritik musik
2. Apa saja fungsi kritik musik
3. Apa tujuan kritik musik
4. Apa saja jenis kritik musik
5. Bagaimana pendekatan dalam kritik musik
6. Bagaimana langkah-langkah dan penulisan kritik musik
7. Bagaimana cara penyajian kritik musik?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah tentang kritik musik ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengidentifikasi aspek-aspek dalam pertunjukan musik sebagai objek
kritik musik.
2. Untuk mengidentifikasi beberapa kritik musik dalam kompetisi musik.
3. Untuk menguraikan dasar-dasar pengetahuan untuk melakukan kritik musik.
4. Untuk membedakan jenis-jenis kritik musik.
5. Untuk membedakan langkah-langkah dalam kritik musik.
6. Untuk menguraikan hasil pengamatan sebagai bagian dari tahap deskripsi dalam
kritik musik.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kritik Musik
Secara etimologis, kritik berasal dari kata Yunani “Krinein” yang artinya memisahkan,
merinci. Dalam kenyataan yang dihadapinya, orang membuat pemisahan, perincian, antara
nilai dan bukan nilai, arti dan yang bukan arti, baik dan jelek (Kwant, 1975:12). Dengan
pengertian ini, dapat dilihat bahwa dalam melakukan kritik musik ada obyek yang dikritik
dan ada orang yang mengkritik, yang disebut kritikus.
Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), kritik diartikan sebagai kecaman,
kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik atau buruk terhadap suatu hasil karya,
pendapat, dan sebagainya. Kritik akan membawa ke arah kemajuan, jika diterima dengan akal
pikiran yang sehat dan maju. Kritik bagi sebuah karya seni, baik koreografi, komposisi,
sastra, rupa dan artefak lainnya adalah suatu hal yang utama untuk kemajuan positif.
Berdasarkan pengertian dari sumber itu, maka kritik musik dalam pertunjukan seni.
Berdasarkan pengertian dari sumber itu maka kritik musik dalam pertunjukan seni dapat
diartikan sebagai pertimbangan baik atau buruk terhadap kemampuan seseorang atau
kelompok dalam memproduksi musik/lagu atau karya musik dalam pertunjukan seni. Dengan
kata lain, kritik musik dalam pertunjukan seni memperlihatkan objek dari kritik, yaitu musik,
yang berhubungan dengan nada, ritme, harmoni, intensitas, warna suara, interpretasi, dan
ekspresi.
Obyek yang dikritik dalam musik tentu saja terutama karya musik yang sedang
dicermati. Karya musik itu umumnya memiliki gagasan (keindahan) bunyi atau pesan yang
ingin disampaikan oleh penciptanya. Gagasan berupa nilai keindahan itulah yang akan
dikritisi. Oleh karena karya tersebut ada orang yang menciptanya, maka gagasan dari
penciptanya yang paling utama dianalisis. Oleh karena itu pula gagasan atau ide musik itu
biasanya berupa hasil olahan perasaan dan pikiran penciptanya terhadap sesuatu, maka hal-
hal yang mendorong timbulnya gagasan tersebut yang dikaji lebih mendalam. Suatu karya
musik yang telah tercipta, umumnya memerlukan mediator atau penyaji agar dapat dinikmati
oleh pendengarnya. Fungsi sebagai mediator ini pula yang mendapat perhatian dalam kritik
musik.
Pemahaman yang dimaksud di atas adalah pemahaman akan nilai-nilai keindahan yang
terkandung dalam karya musik. Kwant (1975: 19) mengatakan, bahwa “karena berkisar pada
nilai-nilai, maka kepekaan terhadap nilai harus memegang peranan pokok dalam kritik.
Kalau kepekaan terhadap nilai itu tidak ada, kritik menjadi tanpa respek”. Dengan kata lain,

3
kritik berfungsi sebagai penilaian atas nilai. Nilai-nilai yang diungkap melalui kritik itu pula
yang berguna bagi masyarakat
B. Fungsi Kritik Musik
Sem C. Bangun mengatakan, bagi masyarakat kritik seni berfungsi sebagai memperluas
wawasan. Bagi seniman kritik tampil sebagai ‘cambuk’ kreativitas (Bangun 2011: 3). Melalui
pernyataan tersebut jelaslah bagi kita, bahwa kritik memiliki dampak yang baik bagi
perkembangan musik itu sendiri dan bagi masyarakatnya. Jadi ada hubungan yang erat suatu
kritik musik dengan orang-orang yang terlibat dalam dunia keindahan musik itu. Fungsi kritik
musik di antaranya adalah:
1. Pengenalan karya musik dan memperluas wawasan masyarakat.
2. Jembatan antara pencipta, penyaji, dan pendengar.
3. Evaluasi diri bagi pencipta dan penyaji musik.
4. Pengembangan mutu karya musik.
Suatu gagasan pencipta dalam karya musik dapat dinikmati oleh pendengar melalui
penyajinya. Gagasan itu dituangkan melalui elemen-elemen musikal dengan warna bunyi
tertentu dan mengambil bentuk tertentu pula. Dalam penuangan gagasan itulah yang menjadi
persoalan untuk dikaji. Namun hal itu baru dapat sampai kepada pendengar ketika penyaji
memainkan dan atau menyanyikannya. Persoalan penyajian ini juga yang nantinya akan
dikaji oleh kritikus.
Akhirnya karya tersebut diterima atau ditolak oleh pendengar. Penerimaan atau
penolakan inilah yang merupakan persoalan lain bagi kritikus. Walaupun sifatnya subyektif,
namun penerimaan atau penolakan suatu karya oleh pendengar perlu dikoreksi apakah
berhubungan dengan gagasan yang disampaikan oleh pencipta melalui penyaji atau ia berasal
dari hal-hal non-musikal.
C. Tujuan Kritik Musik
Melalui gambaran di atas, kita juga mengerti tujuan suatu kritik musik. Sem C. Bangun
mengatakan, bahwa “tujuan kritik seni adalah evaluasi seni, apresiasi seni, dan
pengembangan seni ke taraf yang lebih kreatif dan inovatif ” (2011:3). Artinya, dengan
adanya koreksi yang bersifat evaluasi atas karya dan penyajiannya oleh kritikus, masyarakat
dan pelaku seni memiliki apresiasi terhadap karya musik. Dengan demikian diharapkan akan
ada inovasi dan peningkatan mutu karya musik di masa yang akan datang. Tujuan dari kritik
musik di antaranya adalah:
1. Pengenalan karya musik dan memperluas wawasan masyarakat.
2. Jembatan antara pencipta, penyaji, dan pendengar.

4
3. Evaluasi diri bagi pencipta dan penyaji musik.
4. Pengembangan mutu karya musik.
D. Jenis Kritik Musik
Berdasarkan prosedur atau landasan kerja, jenis atau tipe kritik seni terdiri dari:
1. Kritik Jurnalistik
Kritik ini isinya mengandung aspek pemberitaan. Tujuannya memberikan informasi
tentang berbagai peristiwa musik, baik pertunjukan maupun rekaman. Biasanya ditulis
dengan ringkas karena untuk keperluan surat kabar atau majalah. Sem C. Bangun
menyatakan, bahwa “kewajiban seorang kritikus jurnalistik adalah memuaskan rasa ingin
tahu para pembaca yang beragam dan untuk menyenangkan perasaan mereka (2011: 8).
2. Kritik Pedagogik
Kritik ini diterapkan oleh pengajar kesenian dalam lembaga pendidikan. Tujuan kritik
ini adalah untuk mengembangkan bakat dan potensi peserta didik. Ini dilakukan dalam proses
belajar mengajar dengan obyek kajian adalah karya peserta didiknya sendiri.
3. Kritik Ilmiah
Kritik ini berkembang di kalangan akademisi dengan metodologi penelitian ilmiah,
dilakukan dengan pengkajian secara luas, mendalam dan sistematis, baik dalam menganalisis
maupun membandingkan dapat dipertanggung-jawabkan secara akademis dan estetis
(Bangun, 2011: 11).
4. Kritik Populer
Kritik yang dilakukan secara terus menerus secara langsung atau tidak langsung
dikerjakan oleh penulis yang tidak menuntut keahlian kritis (Bangun, 2011: 12). Ini berarti
kritik yang disampaikan bukan pada tepat tidaknya analisis dan evaluasi yang disajikan tetapi
pada kesetiaan atas suatu gaya atau jenis musik yang mereka tekuni.
E. Pendekatan dalam Kritik Musik
Pendekatan yang umum digunakan dalam kritik seni terdiri dari pendekatan formalistik,
instrumentalistik, dan ekspresivistik. Pendekatan berikut ini disarikan dari buku yang ditulis
oleh Sem. C. Bangun (2011). Pendekatan dapat diartikan dasar pijakan kritikus dalam
menyusun kerangka berpikirnya atau caranya menyajikan kritik.
1. Formalistik
Pendekatan kritik ini berasumsi bahwa kehidupan seni memiliki kehidupannya sendiri,
lepas dari kehidupan nyata sehari-hari. Kritik jenis ini cenderung menuntut kesempurnaan
karya seni yang dibahas. Kriteria yang digunakan adalah tatanan yang terpadu (integratif)
antar unsur formal atau unsur dasar pembangun karya seni (bunyi) dengan menghindari unsur

5
estetis yang tidak relevan, seperti deskripsi sosial, kesejarahan dan lain-lain. (Bangun, 2011:
56-57).

2. Instrumentalistik
Pendekatan kritik yang menganggap seni sebagai sarana atau instrumen untuk
mengembangkan tujuan tertentu seperti moral, politik, atau psikologi. Pada pendekatan ini,
karya seni dianggap sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Karya seni bukan terletak pada
bagaimana penyajiannya tetapi apa dampak dari karya tersebut bagi kehidupan masyarakat.
Di sini, nilai seni ini terletak pada kegunaannya.
3. Ekspresivistik
Pendekatan kritik ini menganggap karya seni sebagai rekaman perasaan yang
diekspresikan penggubahnya. Jadi, karya seni ditempatkan sebagai sarana komunikasi.
Kritikus yang menggunakan pendekatan ini melakukan aktivitas kritik berdasarkan
pengalaman pencipta suatu karya seni dengan tetap memperhatikan aspek teknis dalam
penyajian gagasan sebagai pendukung emosi penciptanya.
F. Langkah-langkah dan Penulisan Kritik Musik
Pada hakikatnya, aktivitas kritik seni berhubungan dengan aktivitas musik yang
dilakukan secara konkret. Berdasarkan teori kritik yang dikemukakan oleh Feldman (1967),
sebagaimana dikutip oleh Bangun (2001), dalam teori kritik seni dikenal empat tahap
kegiatan, yaitu: deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi atau penilaian.
1. Tahap Deskripsi
Tahap deskripsi, mengacu pada suatu proses pengumpulan data yang secara langsung
diperoleh oleh kritikus. Dalam tahap ini, kritikus hanya mengemukakan hasil pengamatannya
terhadap suatu objek, yaitu musik atau pertunjukan musik. Penilaian ‘bagus’ atau ‘tidak
bagus’; ‘benar’ atau ‘salah’ tidak masuk dalam tahap ini. Misalnya, mengemukakan
pengamatan kritikus terhadap permainan musik siswa lain dan mengemukakan bagaimana
cara siswa itu mengekspresikan musik yang ia mainkan. Dalam tahap ini siswa yang memberi
kritik tidak mengatakan bahwa permainan musik tidak ekspresif atau kurang bagus.
2. Tahap Analisis Formal
Tahap analisis formal, mengacu pada suatu proses analisis yang dilakukan oleh siswa
yang memberi kritik atau kritikus terhadap musik yang dimainkan. Dalam tahap ini, kritikus
mengemukakan hasil analisisnya tentang bunyi yang dihasilkan, baik nada, ritme,
harmonisasi akor, dinamika, atau warna suara dari musik atau lagu yang dimainkan. Dengan

6
kata lain, tahap analisis formal ini lebih menekankan pada elemen-elemen musik yang
dimainkan.

3. Tahap Interpretasi
Tahap interpretasi, mengacu pada suatu proses ketika kritikus memaknai musik
berdasarkan pemahaman dan analisis yang telah dilakukannya dengan teliti. Menurut Bangun
(2011), tahap ini juga tidak bertujuan untuk menilai musik yang diamati.
4. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi, mengacu pada suatu proses ketika kritikus menyatakan pandangan atau
kritiknya terhadap musik yang dimainkan. Pada tahap inilah kritikus memberi penilaian.
Namun, penilaian yang diberikan oleh seorang kritikus bukan penilaian subjektif yang tidak
berdasar, tetapi penilaian yang dilatarbelakangi oleh pemahaman mendalam terhadap musik,
kemampuan menganalisis musik, dan kemampuan memaknai musik yang dimainkan.
Inti dalam tahap ini adalah ‘baik’ atau ‘buruk’, ‘benar’ atau ‘salah’, atau ‘berhasil’ atau
‘gagal’. Penilaian terhadap ‘baik’, ‘benar’, atau ‘berhasil’ berhubungan dengan penilaian-
penilaian positif yang ditemukan kritikus, sedangkan penilaian terhadap ‘buruk’, ‘salah’, atau
‘gagal’ berhubungan dengan penilaian-penilaian negatif. Apa pun bentuk penilaian itu, positif
atau negatif, memiliki tujuan yang baik dalam pembelajaran musik di sekolah, yaitu
memotivasi serta mendukung potensi dan pengetahuan siswa dalam bidang musik.
G. Penyajian Kritik Musik
Penyajian kritik musik dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan. Pada awal tulisan
perlu kiranya ditambahkan bagian pendahuluan. Dengan demikian penyajian kritik dalam
bentuk tulisan meliputi:
1. Pendahuluan
Pada bagian ini kemukakan latar belakang kritik yang berhubungan dengan pengalaman
yang diperoleh setelah menyaksikan suatu konser musik. Dalam konser musik itu, kita
berperan sebagai pendengar, bukan pemain. Genre musik dalam konser itu sebaiknya
merupakan genre musik yang dipahami dengan baik.
2. Deskripsi
Pada bagian ini tuliskan seluruh informasi tentang penyelenggaraan pertunjukan atau
konser musik itu. Misalnya, tuliskan tanggal, waktu, dan lokasi pertunjukan. Siapa pemain
musiknya, apa yang disaksikan dalam pertunjukan itu, jenis atau genre musik apa yang

7
dimainkan, kondisi akustik ruang pertunjukan, tata panggung, dan sebagainya yang dapat
diamati secara konkret.

3. Analisis
Pada bagian ini fokuskan pada musik yang dimainkan. Kita amati bagaimana cara
pemain musik memainkan karya-karya musik atau lagu mereka, seperti kemampuan musikal
masing-masing pemain dalam memainkan musik, mengekspresikan musik,
menginterpretasikan musik, keharmonisan dan keseimbangan permainan musik,
pengalimatan (phrasing) lagu, intonasi, dan lain-lain.
4. Interpretasi
Pada bagian ini harus dapat memaknai musik atau lagu yang dimainkan dalam
pertunjukan musik tersebut. Pemaknaan musik yang dimainkan dalam pertunjukan yang
disaksikan tidak dapat terjadi apabila tidak memiliki pemahaman yang cukup dalam tentang
musik, pencipta, nilai-nilai estetik, dan pemahaman budaya yang terjadi ketika karya musik
dihasilkan. Dalam bagian ini, dituntut untuk memiliki beragam referensi yang diperoleh dari
beragam sumber untuk melengkapi pengetahuan yang dimiliki sebagai upaya untuk
mengungkapkan makna dari musik yang dimainkan.
5. Evaluasi
Pada bagian ini baru dapat memberi penilaian terhadap pertunjukan atau konser musik
yang disaksikan. Namun, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, penilaian yang
dituliskan pada bagian ini bukan berupa penilaian-penilaian pribadi atau subjektif, tetapi
dilandaskan pada analisis dan interpretasi yang telah dilakukan dalam tahap sebelumnya.

8
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Seperti halnya pertunjukan musik, kritik musik dipandang penting untuk dilibatkan
dalam pembelajaran musik di sekolah karena siswa dapat memperoleh pengalaman empiris
dalam mengaplikasikan pengetahuan dan wawasan musikal mereka melalui kritik terhadap
suatu pertunjukan musik. Kritik musik, khususnya jenis kritik pedagogik, tidak hanya
bermanfaat bagi siswa yang memberi kritik, tetapi juga pada siswa yang diberi kritik, yaitu
memotivasi dan meningkatkan potensi musik siswa di sekolah.
Dalam prosesnya, kritik seni, termasuk kritik musik, dapat dibagi menjadi empat tahap,
yaitu deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi. Dalam tahap deskripsi, siswa hanya
menggambarkan fakta-fakta yang mereka temui dalam permainan atau pertunjukan atau
konser musik. Tahap analisis formal memperlihatkan kemampuan siswa untuk memfokuskan
perhatian pada aspek musikal dari suatu pertunjukan. Tahap interpretasi memperlihatkan
kemampuan siswa untuk menafsirkan atau memaknai simbol-simbol dan nilai-nilai estetik
yang ada dalam suatu pertunjukan. Dalam tahap interpretasi, siswa dituntut untuk melandasi
penafsirannya berdasarkan pemahaman mereka atas musik yang dimainkan dalam suatu
pertunjukan.
Pemahaman mendalam itu harus didukung pula oleh banyaknya referensi dari beragam
sumber sebagai upaya mereka untuk mengungkapkan makna dari simbol dan nilai-nilai
estetik tersebut. Dalam tahap evaluasi, siswa baru dapat memberi penilaian atas pertunjukan
yang mereka saksikan. Penilaian dalam tahap ini bukan lah sebagai penilaian pribadi atau
subjektif saja, tetapi penilaian yang didasarkan pada analisis mendalam atas karya musik dan
interpretasi simbol dan nilai-nilai estetik yang telah mereka lakukan sebelumnya. Kritik
musik dapat dikomunikasikan melalui tulisan maupun lisan. Dalam tulisan, kritik musik
dilakukan dengan menuliskan kelima langkah penulisan kritik musik, yaitu pendahuluan
deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi sebagai kesimpulan tulisan kritik musik.
3.2 Saran
Pemahaman untuk melakukan kritik musik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
memperlihatkan kemampuan siswa untuk menghargai pengetahuan dan wawasan musik

9
pihak yang dikritik, toleransi antar-siswa, peduli, santun, responsif, kerja sama, sikap santun,
jujur, cinta damai, dan merefleksikan pula sikap anggota masyarakat yang memiliki
pengetahuan dan wawasan yang luas.

DAFTAR PUSTAKA
Bangun, Sem C. 2011. Kritik Seni Rupa. Cetakan Ketiga. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Hardjana, Suka. 2004. Esai dan Kritik Musik. Yogyakarta: Galang Press.
Kwant, E.C. 1975. Manusia dan Kritik. Terj. A. Soedarminto. Yogyakarta: Kanisius.
Sumardjo, J., dan Saini. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia.

10

Anda mungkin juga menyukai