BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anggaran
2.1.1 Definisi Anggaran
Bagi perusahaan anggaran merupakan hal yang sangat perlu sebagai
perencanaan, koordinasi, dan pengendalian. Pemahaman mengenai anggaran
perlu kita ketahui melalui pengertian-pengertian dari beberapa sumber. Menurut
Sasongko (2019:2), “Anggaran adalah rencana kegiatan yang akan dijalankan oleh
manajemen dalam satu periode yang tertuang secara kuantitatif.” Sehubungan
dengan itu menurut Sjahrial dkk,(2017:49) “Anggaran (budget) adalah rencana
terinci yang dinyatakan secara formal dalam ukuran kuantitatif, biasanya dalam
satuan uang, untuk menunjukkan perolehan dan penggunaan sumber-sumber suatu
organisasi dalam jangka waktu tertentu, biasanya dalam satu tahun.”
“Anggaran (budget) merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu
organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam
satuan uang untuk jangka waktu tertentu” Nafarin (2000:9). Menurut Siregar
(2014:112), “Anggaran adalah ekspresi kuantitatif suatu rencana yang dinyatakan
dalam satuan fisik atau keuangan atau keduanya.”
2.1.2 Tujuan Penyusunan Anggaran
Menurut Nafarin (2000:12), ada beberapa tujuan disusunnya anggaran,
antara lain:
1) Untuk digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber
dan penggunaan dana.
2) Untuk mengadakan pembatasan jumlah dana yang dicari dan digunakan.
1
3) Untuk merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis penggunaan
dana, sehingga dapat mempermudah pengawasan.
4) Untuk merasionalkan sumber dan penggunaan dana agar dapat mencapai
hasil yang maksimal.
5) Untuk menyempurnakan rencana yang telah disusun, karena dengan
anggaran lebih jelas dan nyata terlihat.
6) Untuk menampung dan menganalisa serta memutuskan setiap usulan yang
berkaitan dengan keuangan.
2.1.3 Fungsi Anggaran
Menurut Nafarin (2000:5), seluruh fungsi anggaran di dalam suatu
organisasi dapat dikelompokkan ke dalam empat fungsi pokok, yaitu fungsi:
1) Planning (Perencanaan)
Fungsi ini ditetapkan untuk tujuan jangka panjang, tujuan jangka pendek,
sasaran yang ingin dicapai, strategi yang akan digunakan dan sebagainya.
didalam fungsi ini berkaitan dengan segala sesuatu yang ingin dihasilkan
dan dicapai perusahaan di masa mendatang. termasuk di dalamnya
menetapkan produk yang akan dihasilkan, bagaimana menghasilkannya,
sumber daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk tersebut,
bagaimana memasarkan produk tersebut dan sebagainya.
2) Organizing (Pengorganisasian)
Setelah segala sesuatu yang ingin dihasilkan dan dicapai perusahaan di
masa depan telah ditetapkan, maka perusahaan harus mencari sumber daya
yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana yang telah tersebut.
Dimulai dari upaya memperoleh bahan baku, mencari mesin yang
dibutuhkan untuk mengelola bahan tersebut, bangunan yang dibutuhkan
untuk mengelola produk tersebut, mencari tenaga kerja dengan kualifikasi
yang dibutuhkan, mencari modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan
produk yang direncanakan dan sebagainya.
3) Actuating (Menggerakkan)
Setelah sumber daya yang dibutuhkan diperoleh, maka tugas manajemen
selanjutnya adalah mengarahkan dan mengelola setiap sumber daya yang
telah dimiliki perusahaan tersebut agar dapat digunakan sesuai dengan
fungsinya masing-masing. Setiap seumber daya yang ada harus
dikerahkan, dikoordinasikan satu dengan lainnya agar dapat bekerja
optimal untuk mencapai tujuan perusahaan.
4) Controlling (Pengendalian)
Setelah sumber daya yang dibutuhkan perusahaan diperoleh dan diarahkan
untuk bekerja sesuai dengan fungsi masing-masing, maka langkah
berikutnya adalah memastikan bahwa setiap sumber daya tersebut telah
bekerja sesuai dengan rencana yang telah dibuat perusahaan untuk
menjamin bahwa tujuan perusahaan secara umum dapat dicapai. Fungsi ini
2
berkaitan erat dengan upaya untuk menjamin bahwa setiap sumber daya
organisasi telah bekerja dengan efektif dan efisien.
2.1.4 Manfaat Anggaran
Menurut Nordiawan (2012:15) anggaran mempunyai banyak manfaat,
,antara lain:
1) Anggaran merupakan alat komunikasi internal yang menghubungkan
departemen (divisi) yang satu dengan departemen (divisi) lainnya dalam
organisasi maupun dengan manajemen puncak.
2) Anggaran menyediakan informasi tentang hasil kegiatan yang
sesungguhnya dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan.
3) Anggaran sebagai alat pengendalian yang mengarah manajemen untuk
menentukan bagian organisasi yang kuat dan lemah. Hal ini akan dapat
mengarahkan manajemen untuk menentukan tindakan koreksi yang harus
diambil.
4) Anggaran memengaruhi dan memotivasi manajer dan karyawan untuk
bekerja dengan konsisten, efektif dan efisien dalam kondisi kesesuaian
tujuan perusahaam dengan tujuan karyawan.
5) Anggaran sebagai alat pengawasan yang baik, jika perusahaan sedang
menyelesaikan suatu kegiatan, maka manajemen perusahaan dapat
membandingkan pelaksanaan kegiatan dengan anggaran yang telah
ditetapakan dalam perusahaan.
2.1.5 Jenis-jenis Anggaran
Menurut Sasongko (2019:10-128), jenis-jenis anggaran sebagai berikut :
1) Anggaran penjualan
Anggaran penjualan menyajikan informasi tentang perkiraan jumlah barang
jadi yang akan dijual oleh perusahaan dan harga jual yang diharapkan
diperoleh untuk periode anggaran mendatang. Perusahaan umumnya memulai
proses penyusunan dari anggaran penjualan karena anggaran penjualan akan
memengaruhi penyusunan anggran produksi, anggran biaya produksi, anggran
beban operasi, anggaran laba rugi, anggaran kas dan anggaran neraca.
3
2) Anggaran Produksi
Anggaran produksi adalah anggaran yang disusun oleh perusahaan untuk
menentukan jumlah barang jadi yang harus diproduksi perusahaan. Anggaran
ini harus dibuat setelah anggaran penjualan disusun karena perusahaan harus
menentukan jumlah barang jadi yang harus diproduksi dalam rangka
mendukung target penjualan yang ada di anggaran penjualan. Untuk dapat
menyusun anggran produksi dibutuhkan data seperti estimasi jumlah unit
barang jadi yang akan dijual pada periode mendatang, estimasi jumlah
persediaan barang jadi pada akhir periode anggaran, dan estimasi jumlah
persediaan barang jadi pada awal periode anggaran.
3) Anggaran Pemakaian Bahan Baku
Anggaran pemakaian bahan baku menyajikan informasi tentang kuantitas dan
biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang jadi.
4) Anggaran Pembelian Bahan Baku
Setelah mengetahui jumlah bahan baku yang diperlukan untuk memproduksi
barang jadi, perusahaan harus menentukan banyaknya bahan baku yang akan
dibeli dalam satu periode anggaran. Jumlah bahan baku yang akan dibeli
pada satu periode anggaran dapat diketahui dengan menyusun anggaran
pembelian bahan baku. Selain itu, anggaran pembelian bahan baku juga
memperlihatkan harga bahan baku per unit dan total nilai pembelian bahan
baku dalam rupiah.
4
5) Anggaran Tenaga Kerja Langsung
Anggaran biaya tenaga kerja langsung memperlihatkan jumlah jam tenaga
kerja langsung yang dibutuhkan untuk meproduksi barang jadi yang
ditetapkan dalam anggaran produksi. Selain itu, anggaran biaya tenaga kerja
langsung memperlihatkan perkiraan tingkat upah yang akan diberikan oleh
perusahaan kepada tenaga kerja langsungnya.
6) Anggaran Biaya Overhead Produksi
Anggaran biaya overhead produksi memperlihatkan perkiraan biaya overhead
produksi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan utnuk mencapai target
produksi seperti yang ditetapkan dalam anggaran produksi.
7) Anggaran Biaya Produksi
Anggaran biaya produksi memperlihatkan seluruh biaya produksi yang akan
dikeluarkan pada suatu tahun anggaran. Anggaran biaya produksi sebenarnya
hanya mengumpulkan informasi-informasi yang terdapat pada anggaran
pemakaian bahan baku, anggaran tenaga kerja langsung, dan anggaran
overhead.
8) Anggaran Beban Operasi
Setelah anggaran biaya produksi disusun, langkah berikutnya menyusun
anggaran beban operasi. Beban operasi adalah beban-beban yang dikeluarkan
untuk kegiatan-kegiatan selain kegiatan produksi. Kegiatan-kegiatan yang
menjadi sumber pengeluaran beban operasi umumnya terbagi dalam dua
kelompok kegiatan, yaitu kegiatan penjualan dan administrasi.
5
9) Anggaran Laba Rugi
Anggaran laba rugi disusun untuk memberikan informasi kepada manajemen
tentang jumlah laba atau rugi bersih yang akan diperoleh perusahaan dalam
suatu periode anggaran.
10) Anggaran Kas
Anggaran kas disusun oleh perusahaan agar pihak manajemen memeperoleh
informasi tentang likuiditas perusahaan pada periode mendatang karena
anggaran kas menyajikan informasi tentang perkiraan jumlah penerimaan dan
pengeluaran kas pada periode mendatang
11) Anggaran Neraca
Anggaran neraca adalah anggaran yang paling akhir disusun oleh perusahaan
dalam proses penyusunan anggaran induknya (master budget). Anggaran
neraca menyajikan informasi kepada manajemen tentang hasil akhir dari
seluruh anggaran yang telah disusun sebelumnya. Anggaran neraca juga
memperlihatkan kepada manajemen tentang pengaruh kebijakan yang
diambil oleh manajemen terhadap aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan
dalam suatu periode anggaran.
2.1.6 Syarat Penyusunan Anggaran Perusahaan
Penyusunan anggaran perlu memperhatikan beberapa syarat sebagai berikut:
1) Realistis. Artinya tidak terlalu optimis maupun pesimis. Anggaran dibuat
berdasarkan kemampuan yang ada baik kemampuan secara finansial
maupun sumber daya manusianya
2) Luwes. Artinya tidak terlalu kaku, dan memiliki peluang untuk
disesuaikan dengan keadaan yang mungkin berubah. Pihak manajemen
perlu mengamati perubahan lingkungan yang terus-menerus terjadi agar
dapat melakukan penyesuaian bilamana diperlukan.
6
3) Kontinyu. Artinya perlu diperhatikan secara terus-menerus dan tidak
merupakan suatu usaha yang insidentil. Anggaran adalah merupakan
kegiatan yang senantiasa selalu harus mendapatkan perhatian. Misalnya
setelah 3 bulan berjalan anggaran maka perlu dilihat apakah program yang
tercermin dalam anggaran sudah berjalan sesuai dengan rancana, akalu
belum harus dilakukan evaluasi dan kalau perlu dilakukan penyesuaian-
penyesuaian atau perlu direvisi, sehingga apa yang sudah menjadi tujuan
atau target manajemen dapat tercapai (Husnayetti, 2012:11).
2.1.7 Keunggulan dan Kelemahan Anggaran
Anggaran memiliki keunggulan dan kelemahan antara lain sebagai berikut:
1) Keunggulan
a) Hasil analisis lingkungan internal perusahaan yaitu analisis data
historis perusahaan yang menjelaskan kekuatan dan kelemahannya
kemudian dijadikan bahan baku untuk membuat program kerja di
masa mendatang.
b) Hasil analisis lingkungan eksternal yang menjelaskan peluang bisnis
dan kendala yang dihadapinya, kemudian dijadikan bahan baku untuk
membuat program kerja di masa mendatang.
c) Sebagai alat pedoman kerja dan pengendalian kegiatan operasional
dan keuangan.
d) Sebagai sarana koordinasi antar seksi, bagian, divisi dalam suatu
perusahaan.
e) Sebagai sumber rasa tanggungjawab dan partisipasi aktif semua
kepala seksi, bagian, divisi dalam suatu perusahaan.
f) Sebagai dasar untuk mengetahui wewenang dan tanggungjawab
semua level manajer.
2) Kelemahan
a) Prediksi kegiatan bisnis di masa mendatang, belum tentu tepat
mendekati kenyataan.
b) Perubahan kondisi politik, sosial, ekonomi, bisnis di masa mendatang
sulit diprediksi sehingga sering tidak terjangkau dalam pemikiran
pembuat anggaran.
c) Sering terjadi konflik kepentingan dalam penyusunan anggaran
maupun dalam pelaksanannya.
d) Pembuat anggaran (kepala seksi, bagian, divisi) sering berpikir
subyektif mementingkan seksinya, bagiannya, atau divisinya saja.
e) Anggaran pada umumnya sangat idealistik sehingga sulit dicapai dan
dapat mengakibatkan para pelaksan frustasi (Prawironegoro, 2010:13).
7
2.2 Anggaran Penjualan
Budget Penjualan adalah budget yang merencanakan secara sistematis dan
lebih terperinci tentang penjualan perusahaan selama periode tertentu yang akan
datang, yang di dalamnya meliputi kualitas barang, jumlah barang, harga barang,
waktu penjualan, serta tempat (daerah) pemasaran (Munandar, 2017:41)
Menurut Nafarin (2000:23), “Anggaran penjualan merupakan dasar
penyusunan anggaran lainnyab dan pada umumnya anggaran penjualan disusun
terlebih dahulu sebelum menyusun anggaran lainnya.”
2.2.1 Data dan Informasi untuk Menyusun Budget Penjualan
Menurut Munandar (2017:42-43), data dan informasi yang dibutuhkan
untuk menyusun budget penjualan, antara lain:
1) Data internal, yaitu data dan informasi yang ada di dalam perusahaan
sendiri, seperti misalnya :
a) Perkembangan penjualan di waktu-waktu yang lalu, baik tentang jenis
(kualitas), jumlah (kuantitas), harga, waktu, maupun tempat (daerah)
pemasarannya.
b) Kebijakan-kebijakan perusahaan yang berhubungan dengan
pemasaran.
c) Kapasitas yang nantinya diperlukan untuk menunjang penjualan
d) Tersedianya karyawan yang ditugasi di bidang pemasaran, baik
jumlahnya (kuantitas), maupun keterampilannya (kualitas).
e) Tersedianya fasilitas-fasilitas penunjang kegiatan pemasaran, seperti
misalnya gudang, kendaraan pengangkut, jaringan pemasaran, dan
sebagainya.
f) Tersedianya modal kerja untuk menunjang kegiatan pemasaran
2) Data eksternal, yaitu data dan informasi yang ada di luar perusahaan
sendiri, tetapi dirasa mempunyai pengaruh terhadap budget penjualan,
seperti misalnya:
a) Pesaing dan tingkat persaingan di pasar.
b) Posisi perusahaan dalam persaingan.
c) Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhannya.
d) Rata-rata penghasilan penduduk dan tingkat pertumbuhannya.
e) Konsumen, baik jumlahnya, tingkat penghasilannya, selera serta
keinginannya, dan sebagainya.
8
f) Elastisitas permintaan terhadap produk yang akan dijual oleh
perusahaan (demand elasticity), yang nantinya akan sangat
berpengaruh terhadap harga jual.
g) Agama, adat-istiadat, dan berbagai kebiasaan masyarakat.
h) Kebijakan-kebijakan pemerintah, baik di bidang politik, ekonomi,
sosial, budaya, maupun keamanan.
i) Keadaan perekonomian nasional maupun internasional.
j) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya.
2.2.2 Prosedur Penyusunan Anggaran Penjualan
Langkah penyusunan anggaran penjualan menurut Nafarin (2000:176),
yaitu:
1) Mempertimbangkan faktor yang memengaruhi anggaran penjualan.
2) Menetapkan harga jual untuk produk tertentu dan daerah tertentu.
3) Membuat taksiran (ramalan penjualan) tiap jenis produk yang akan dijual
dan penentuan produk yang akan dijual pada daerah tertentu.
4) Memperhitungkan anggaran penjualan.
5) Menyusun anggaran penjualan.
2.2.3 Forecast Penjualan
Forecast penjualan merupakan suatu perkiraan penjualan pada periode
tertentu yang akan datang dan dibuat berdasarkan data-data yang pernah terjadi
dan/atau mungkin akan terjadi. Teknik membuat forecast penjualan dapat
dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif atau perpaduan dari cara kualitatif dan
kuantitatif.
Forecast penjualan yang dibuat secara kualitatif, seperti menggunakan
metode pendapat (judgement method). Sumber pendapat yang dipakai sebagai
dasar melakukan forecast penjualan, antara lain: pendapat salesman, manajer
pemasaran, dan pendapat para ahli atau survei konsumen. Forecast penjualan
yang menggunakan metode kuantitatif, umumnya menggunakan metode statistik.
9
Adapun metode statistik yang dapat dipergunakan dalam membuat forecast
penjualan, seperti analisis trend, standar kesalahan forecasting, dan analisis
korelasi (Nafarin, 2000: 24).
2.2.4 Metode Peramalan dan Penaksiran Anggaran Penjualan
Menurut Nafarin (2000:33), menjelaskan ada tiga metode penganggaran
penjualan yaitu:
1) Metode Least Square
Dengan menggunakan metode trend linear ini kecendrungan permintaan di
masa yang akan datang diwujudkan dalam bentuk garis lurus. Fungsi
persamaan dari metode ini adalah:
2) Metode Trend Moment
Metode moment menggunakan cara-cara perhitungan statistika dan matematika
tertentu untuk mengetahui fungsi garis lurus sebagai pengganti garis patah-
patah yang dibentuk oleh data historis perusahaan. Dengan demikian pengaruh
unsur subjektif juga dapat dihindarkan. Fungsi garis lurus :
3) Metode Kuadrat (Trend Garis Lengkung)
Pada dasarnya semua metode trend menggunakan prinsip yang sama, yaitu
berusaha mengganti atau mengubah garis patah-patah dalam grafik yang
dibentuk oleh data historis, menjadi garis yang teratur bentuknya, agar dapat
digunakan untuk melakukan penaksiran-penaksiran (forecasting). Adapun garis
yang lebih teratur tersebut secara umum dapat berbentuk garis lurus (linear)
10
dan dapat pula berbentuk garis lengkung (nonlinear). Bentuk parabola
semacam ini dinyatakan dalam suatu persamaan atau fungsi parabola, yaitu :
Sementara itu menurut Sasongko (2019:15-24), terdapat empat metode
dalam membuat perkiraan penjualan, yaitu:
1) Metode Rata-rata Bergerak (Moving Average)
Metode Rata-rata Bergerak (Moving Average) menggunakan sejumlah data dari
masa lalu untuk memperoleh perkiraan hasil di masa mendatang. Metode ini
akan sangat bermanfaat apabila kita dapat memastikan bahwa permintaan pasar
(pelanggan) akan tumbuh secara stabil untuk beberapa periode mendatang.
2) Metode Trend Moment
Metode trend moment menggunakan persamaan . Untuk mencari
nilai a dan b, digunakan persamaan di bawah ini.
∑ ∑ ∑
3) Metode Perkiraan Asosiatif: Regresi dan Analisis Korelasi
Berikut ini adalah persamaan regresi sederhana yang dapat digunakan untuk
memprediksi nilai variabel dependen berdasarkan perubahan yang terjadi pada
nilai variabel dependen berdasarkan perubahan yang terjadi pada nilai variabel
independen.
11
Dimana:
y = nilai dari variabel dependen adalah penjualan produk
a = konstanta atau garis intercept
b = slope atau kemiringan dari garis regresi
x = variabel independen
4) Metode Analisis Industri
Metode yang digunakan untuk melakukan peramalan penjualan dengan
memperkirakan penjualan industrinya. Jika pertumbuhan penjualan industri
tempat perusahaan berada menurun maka membuat penjualan perusahaan yang
ada di dalamnya juga menurun.
2.2.5 Standar Kesalahan Forecasting
Didalam analisis trend ada dua metode yang dapat digunakan dalam ramalan
penjualan, yaitu metode trend garis lurus (least square dan moment) dan metode
trend garis lengkung. Untuk menentukan metode yang paling sesuai dari kedua
metode tersebut, dipergunakanlah standar kesalahan forecasting (SKF). Nilai SKF
yang terkecil menunjukkan bahwa peramalan yang disusun mendekati kesesuaian.
Menurut Nafarin (2000:105), rumus standar kesalahan forecasting (SKF) adalah
sebagai berikut:
∑ -
SKF =√
Keterangan :
X = penjualan nyata
Y = ramalan penjualan
n = jumlah data yang dianalisis
12
2.3 Anggaran Pembelian
Menurut Christina (2001:74), “Anggaran adalah semua anggaran yang
berhubungan dengan perencanaan secara terperinci mengenai penggunaan barang
dagang selama periode yang akan datang”.
Menurut Welsch (2001:207), anggaran pembelian dapat dibagi berdasarkan:
1) Jumlah setiap barang dagang yang akan dibeli.
2) Penentuan waktu pembelian.
3) Perkiraan besarnya biaya barang yang dibeli.
Menurut Welsch (2001:208) untuk mebuat anggaran pembelian, manajer
perlu bertanggung jawab atas hal-hal berikut:
1) Mematuhi kebijakan-kebijakan manajemen tentang tingkat persediaan
barang dagang.
2) Menentukan jumlah unit dan waktu pembelian untuk setiap jenis barang
dagang.
3) Memperkirakan biaya per unit dari setiap barang dagang yang akan dibeli.
2.3.1 Tujuan Penyusunan Anggaran Pembelian
Tujuan penyusunan anggaran pembelian menurut Christina (2001:75)
adalah sebagai berikut:
1) Perkiraan jumlah kebutuhan barang dagang.
2) Pekiraan jumlah pembelian barang dagang yang dibutuhkan.
3) Dasar perkiraan kebutuhan dana dalam pembelian barang dagang.
4) Dasar penentuan komponen harga pokok produk karena pemakaian
barang dagang.
5) Dasar pengawasan penggunaan barang dagang.
13
2.3.2 Faktor-Faktor Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Penyusunan Anggaran
Pembelian
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan anggaran
pembelian menurut Christina dkk, (2001:76) adalah sebagai berikut:
1) Anggaran unit kebutuhan barang dagang.
2) Biaya pengadaan (set-up cost).
3) Biaya-biaya penyimpanan dan risiko penyimpanan (carrying cost)
4) Fluktuasi harga barang dagang.
5) Tersedianya barang dagang di pasar.
6) Kebijakan perusahaan terhadap persediaan barang dagang, yang pada
umumnya dipengaruhi oleh: fasilitas tempat penyimpanan, risiko
kerugian, biaya-biaya penyimpanan, tingkat perputaran persediaan bahan
baku, lead time dan modal kerja yang dimiliki.
2.3.3 Metode Penyusunan Anggaran Pembelian
Metode penyusunan anggaran pembelian menurut Sasongko (2019:42-43)
adalah sebagai berikut:
1) Anggaran pembelian dengan stabilitas produksi
Metode pembelian dengan stabilitas produksi adalah kebijakan untuk
berproduksi pada tingkat produksi yang sama setiap bulannya dalam satu
tahun.
2) Anggaran pembelian dengan stabilitas persediaan
Maksud dari metode ini adalah perubahan pada setiap periodenya itu
sama (fluktuasi dari persediaan). Cara penyusunannya adalah:
a) Menentukan selisih antara persediaan awal dan akhir dan
membandingkan selisih tersebut dengan periode yang ingin
dianggarkan.
b) Jika persediaan awal lebih besar dari persediaan akhir maka rencana
produksi atau rencana pembelian lebih kecil daripada penjualan.
c) Jika persediaan awal lebih kecil dari persediaan akhir maka rencana
produksi atau rencana pembelian lebih besar daripada penjualan.
14
2.3.4 Format Penyusunan Anggaran Pembelian
Tabel 2.1 Format Anggaran Pembelian
Rencana Persediaan Persediaan Rencana
Kebutuhan
Bulan Penjualan Akhir BD Awal BD Pembelian
(c=a+b)
(a) (b) (d) (e=c-d)
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Sumber : Nafarin (2000:21)
15