BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kegiatan pembangunan seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan,
sehingga menyebabkan penurunan mutu lingkungan, berupa kerusakan ekosistem yang
selanjutnya mengancam dan membahayakan kelangsungan hidup manusia itu sendiri.
Kegiatan seperti pembukaan hutan, penambangan, pembukaan lahan untuk industri
lain. Akibat yang ditimbulkan antara lain kondisi fisik, kimia dan biologis tanah menjadi
buruk, seperti contohnya lapisan tanah tidak berprofil, terjadi bulk density (pemadatan),
kekurangan unsur hara yang penting, pH rendah, pencemaran oleh logam-logam berat
pada lahan bekas tambang, serta penurunan populasi mikroba tanah. Untuk itu
diperlukan adanya suatu kegiatan sebagai upaya pelestarian lingkungan agar tidak
terjadi kerusakan lebih lanjut. Upaya tersebut dapat ditempuh dengan cara
merehabilitasi ekosistem yang rusak. Dengan rehabilitasi tersebut diharapkan akan
mampu memperbaiki ekosistem yang rusak sehingga dapat pulih, mendekati atau
bahkan lebih baik dibandingkan kondisi semula.
Harus diakui aktivitas pertambangan mineral dan batubara sangat berpotensi
menyebabkan gangguan terhadap fungsi lingkungan.Sebagai kebijakan yang searah
dengan pembangunan berkelanjutan dan tetap mengedepankan fungsi lingkungan,
maka tiap perusahaan pemegang IUP haruslah memiliki konsep sejak awal tentang
penataan lahan bekas tambang.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 1
Pertambangan yang baik dan benar merupakan suatu keharusan bagi setiap
pemegang IUP baik pada tahapan Eksplorasi, maupun tahapan Operasi Produksi yang
akan dilakukan oleh pemegang IUP tersebut. Salah satu kewajiban yang menjadi suatu
tanggung jawab pemegang Izin Usaha Pertambangan adalah penataan dalam bentuk
adanya atau tersusunnya suatu dokumen yang membahas masalah perlindungan
lingkungan, salah satu bentuk aplikasinya adalah kewajiban rencana pascatambang.
Kegiatan pascatambang yang menjadi tanggungjawab pemegang IUP (CV.
BINTANG UTAMA MANYAMPA) yaitu berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun
2010 tentang Reklamasi dan pascatambang yang menjadi dasar regulasi pada
pelaksanaan reklamasi dan pascatambang serta petunjuk teknis penyusunan Laporan
Rencana Reklamasi dan pascatambang dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral nomor 7 tahun 2014 tentang pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang.
Pemegang IUP CV. BINTANG UTAMA MANYAMPA merupakan perusahaan
pemegang IUP eksplorasi yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan,
penyusunan dokumen ini adalah salah satu persyaratan peningkatan IUP Eksplorasi ke
IUP Operasi Produksi.
1.2. Maksud dan Tujuan
Kegiatan pertambangan telah berlangsung sejak lama, pengelolaan
pertambangan tersebut relatif tidak berubah, yang berubah adalah sekala kegiatannya.
Mekanisasi peralatan pertambangan telah menyebabkan sekala pertambangan semakin
membesar. Perkembangan teknologi menyebabkan lebih ekonomis, sehingga semakin
luas dan semakin dalam mencapai lapisan bumi jauh di bawah permukaan. Hal ini
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 2
menyebabkan kegiatan tambang menimbulkan dampak lingkungan yang sangat besar
dan bersifat penting. Pengaruh kegiatan pertambangan mempunyai dampak yang
sangat signifikan terutama berupa pencemaran antara lain air permukaan dan air tanah.
Rencana pascatambang diharapkan menjadi dokumen yang dinamis, yang akan
ditinjau secara berkala dan diperbaharui sesuai dengan rencana pertambangan dan
operasi yang dibuat di masa yang akan datang, perubahan kondisi tapak tambang,
keterlibatan masyarakat dan masukan yang diperoleh akibat perkembangan teknologi
dan metode rencana penutupan. Dokumen ini menguraikan rencana pascatambang
yang diukur pada tingkat konseptual untuk menyediakan dasar perhitungan biaya
reklamasi dan rehabilitasi dokumen Pascatambang yang final dan akurat yang akan
disampaikan sebelum pelaksanaan pascatambang.
Pada pascatambang, infrakstruktur dan fasilitasnya, pemegang IUP CV. BINTANG
UTAMA MANYAMPA akan mereklamasi lahan bekas tambang dan bukan bekas
tambang dengan cara yang aman dan berwawasan lingkungan untuk memenuhi
tujuanantara lain sebagai berikut:
Perlindungan terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat sekitar WIUP
Mengurangi atau mencegah degradasi lingkungan akibat penambangan.
Mereklamasi lahan bekas tambang dan lahan bukan bekas tambang untuk
memungkinkan penggunaan kembali yang bermanfaat bagi masyarakat dan
pemerintah.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 3
1.3. Pendekatan dan Ruang Lingkup
Aktivitas pertambangan haruslah dijalankan secara berkelanjutan karena
sifatnya yang sementara atau jangka pendek dan mengambil sumberdaya yang tak
terpulihkan (un-renewable resources).Pemulihan lahan yang terganggu akibat aktivitas
pertambangan harus dioptimalkan sehingga menjadi lahan yang produktif. Selain itu,
manfaat dari aktivitas pertambangan perlu dikonversi ke dalam bentuk lain
(transformasi manfaat) agar pembangunan tetap dapat berlanjut dan tetap
memberikan manfaat kesejahteraan di daerah sekitarnya.
Pemegang IUP dalam hal ini CV. BINTANG UTAMA MANYAMPA akan
melanjutkan reklamasi bekas tambang secara progresif selama usia tambang, untuk
mengurangi luas area yang harus direklamasi pada saat pascatambang. Pemegang IUP
menjalankan program revegetasi di wilayah yang tidak aktif dengan cara yang mutakhir,
termasuk di dalamnya mengganti dan memberi tingkatan kesuburan pada tanah.
Tindakan rehabilitasi dan reklamasi akan diimplementasikan secara progresif
selama sisa umur tambang (khususnya di daerah yang sudah ditambang). Sebagian
besar bekas tambang, bangunan dan infrastruktur akan dibongkar dan tapak akan
direklamasi pada saat tambang ditutup. Secara keseluruhan untuk area tambang yang
telah terganggu akan dilakukan tindakan reklamasi tambang, termasuk revegetasi yang
menggunakan jenis tumbuhan local. Kegiatan revegetasi ini sedapat mungkin akan
memulihkan kondisi area bekas tambang.
Secara umum, rencana pascatambang antara lain adalah
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 4
1. Profil wilayah yang terdiri dari
a. Lokasi dan kesampaian wilayah
b. Kepemilikan dan peruntukan lahan
c. Rona lingkungan awal yang meliputi: peruntukan lahan, morfologi, air permukaan, air
tanah, biologi akuatik dan terestrial, serta sosial, budaya, dan ekonomi sesuai dengan
dokumen lingkungan hidup yang telah disetujui.
d. Kegiatan lain disekitar tambang
2. Deskripsi kegiatan pertambangan yang meliputi keadaan cadangan awal, sistem dan
metode penambangan, pengolahan, serta fasilitas penunjang.
3. Rona lingkungan awal yang meliputi: peruntukan lahan, morfologi, air permukaan, air
tanah, biologi akuatik dan terestrial, serta sosial, budaya, dan ekonomi
4. Program pascatambang meliputi: reklamasi pada lahan bekas tambang dan lahan diluar
bekas tambang, pengembangan sosial, budaya dan ekonomi, pemeliharaan hasil
reklamasi, pemantauan.
5. Organisasi termasuk jadwal pelaksanaan pascatambang
6. Kriteria keberhasilan pascatambang, meliputi standar keberhasilan pada tapak bekas
tambang, fasilitas pengolahan dan pemurnian, fasilitas penunjang dan pemantauan
7. Rencana biaya pascatambang
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 5
BAB II
PROFIL WILAYAH
2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah
Secara geografis Kabupaten Bulukumba terletak pada koordinat antara 5°20” sampai
5°40” Lintang Selatan dan 119°50” sampai 120°28” Bujur Timur. Batas-batas
wilayahnya adalah:
- Sebelah Utara: Kabupaten Sinjai
- Sebelah Selatan: Kabupaten Kepulauan Selayar
- Sebelah Timur: Teluk Bone
- Sebelah Barat: Kabupaten Bantaeng
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 6
Lokasi
Gambar 1
Peta Tunjuk Kabupaten Bulukumba
2.2 Kepemilikan dan Peruntukan Lahan
Status lahan merupakan hal utama dalam penentuan pola serta pemanfaatan
ruang pascatambang, status kepemilikan lahan merupakan hak milik perusahaan
(pemilik IUP). Lahan kegiatan pertambangan merupakan kawasan atau wilayah dimana
areal tersebut tidak terdapat kegiatan usaha masyarakat.
Secara umum tataguna lahan berada diluar dari wilayah kawasan kehutanan
atau merupakan wilayah APL (area pengguna lainnya).Wilayah izin usaha pertambangan
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 7
(WIUP) dan sekitarnya atau wilayah Desa Manyampa Kecamatan Ujung Loe Kabupaten
Bulukumba, peruntukannya untuk area tambak ikan
2.3. Rona Lingkungan Awal
1. Komponen Geofisik Kimia
Lokasi pengukuran kualitas udara maupun kualitas perairan dilakukan yaitu untuk
kualitas udara di daerah pemukiman dan daerah penambangan di Desa Manyampa Kec.
Ujung Loe Kab. Bulukumba
a. Temperatur Udara
Temperature udara merupakan unsur iklim yang sangat penting.Temperature
udara ini selalu berubah-ubah dengan tempat dan waktu, sebagai eksperesi dan
perambatan energi yang dipancarkan oleh gelombang elektromagnetik dari cahaya.
Temperatur ini secara fisik dan respon oleh permukaan bumi yang variatif yang
memungkinkan terjadinya perbedaan dipermukaan bumi ini.Oleh sebab itulah maka
seringkali berubah dari satu tempat ketempat lain. Disamping itu temperatur juga akan
mengalami perubahan dari satu waktu ke waktu lainnya pada tempat yang sama
berkaitan dengan rotasi bumi
Hasil pengukuran langsung suhu di lingkungan sekitar wilayah studi,
rangkuman umum tentang perubahan temperatur tersebut adalah suhu udara
kisaran210C .
b. Debu
Debu salah satu paremeter yang dikaji, dari perakkiraan sumber dampak terjadi
dari kegiatan penggalian dan pengolahan, oleh karena itu parameteter ini perlu dikaji.
Adapun nilai paparan debu di udara sekitar lokasi rencana tambang dan pemukiman
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 8
yaitu 19,78 µg/Nm3dan SO2 0,26 µg/Nm3 dan CO 374,27 µg/Nm3. Masih memenuhi
standar kualitas udara Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Baku
Mutu Udara AmbienNasonal.
2. Kalitas Perairan Parameter Fisika
a. Temperatur (Suhu)
Besarnya panas dalam suatu bahan ditunjukkan oleh besaran yang disebut suhu atau
temperatur dengan satuan pengukuran derajat celcius dan diukur dengan
menggunakan alat thermometer. Suhu yang tinggi dalam air akan mempengaruhi
ketersediaan oksigen dan pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan mikroorganisme
dalam air. Hasil analisis temperatur sampel air sekitar tapak proyek menunjukkan nilai
pada kisaran 210C. Nilai temperatur sampel air ini masih memenuhipersyaratan Nilai
Baku Mutu (deviasi 3 dari temperatur udara) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor
82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
3. Komponen Biologi Darat
Keadaan vegetasi yang di rencana areal Pertambangan CV. BINTANG UTAMA
MANYAMPA dan sekitarnya terdiri atas pepohonan dan tanaman pekarangan.Pada
kebun campuran dan tanaman pekarangan terdapat beberapa jenis tanaman yang
didominasi oleh jenis tanaman budidaya yaitu pisang, mangga, jambu, beberapa
tanaman yang juga di jumpai seperti pohon jati.
Adapun daerah sekitar yaitu lahan Perkebunan.Rendahnya vegetasi sekitar
lokasi di pengaruhi oleh kondisi substrat tanah sekitar yang cenderng berbatu sehingga
tidak semua lahan dapat ditumbuhi pepohonan.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 9
3. Sosial, Budaya dan Ekonomi
Hampir keseluruhan masyarakat di Kecamatan Ujung Loe ber-etnis bugis dan
merupakan penduduk asli daerah ini. Masyarakat Kecamatan Ujung Loe hampir secara
keseluruhan menganut agama Islam, sehingga kehidupan keagamaan dalam
masyarakat bersifat homogen.Ada beberapa sarana ibadah yang ada di wilayah
kecamatan ini.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 10
BAB III
DESKRIPSI KEGIATAN PERTAMBANGAN
3.1. Keadaan Sumber Daya dan Cadangan Awal
Perhitungan Sumberdaya komoditas batuan jenis Tanah Urug dalam wilayah izin
usaha pertambangan (WIUP) atas nama CV. BINTANG UTAMA MANYAMPA Kecamatan
Ujung Loe Kabupaten Bulukumba ditentukan berdasarkan tingkat kepercayaan.
Perkiraan potensi sumberdaya yang mungkin (possible), ditentukan berdasarkan hasil
perkalian luas penyebaran, tebal rata-rata dalam meter
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus tersebut diatas
jumlah sumberdaya komoditas batuan jenis Tanah Urug adalah sebesar 8.658.100 m3.
Dari jumlah sumberdaya ini, sebagian telah ditingkatkan menjadi cadangan melalui
pengkajian kelayakan ditinjau dari beberapa aspek, sehingga untuk sementara jumlah
cadangan adalah 8.658.100 m3 yang dilakukan secara bertahap dan mengikuti kaidah
keilmuan geologi yang berlaku, terdapat beberapa kegiatan dalam eksplorasi antara lain
pemetaan geologi. Berdasarkan hasil eksplorasi tersebut akan didapat sumberdaya dan
cadangan baru disuatu lokasi dalam wilayah izin usaha pertambangan.
3.2. Sistem dan Metode Penambangan
Kegiatan pertambangan yang dilakukan adalah menggunakan sistem tambang
terbuka (quary) pada daerah perbukitan dengan mengambil elemen material batuan
dan tanah yang dilokasi tersebut, dengan metode kerja sebagai berikut :
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 11
a) Material tambang yang ada diperbukitan di bongkar dan di ambil dengan
cara mekanis menggunakan alat gali excavator.
b) Proses ini akan menghasilkan bongkahan batu ukuran besar dan kecil. Batu-
batu tersebut akan dikumpulkan berdasarkan ukurannya didalam lokasi
kegiatan atau juga dapat langsung dilakukan pemuatan menggunakan
excavator atau wheeloader sebagai alat muat kedalam dump truck sebagai
alat angkut untuk dibawa ke lokasi pemesanan material.
Metode penambangan tersebut dianggap relatif lebih baik dan efisien karena
pembukaan lahan dilakukan secara bertahap dan lubang-lubang bekas tambang bisa
langsung dilakukan penataan lahan untuk persiapan reklamasi dan pascatambang.
3.3. Fasilitas Penunjang
Kegiatan operasi produksi dapat beroperasi apabila ditunjang oleh fasilitas
penunjang yang memadai sehingga sarana infrastruktur yang dibuat sifatnya hanya
menjadi pendukung kegiatan, perusahaan hanya membangun kantor,
gudang/workshop, toilet, dan sarana olah raga yang pembangunannya melibatkan
masyarakat/penduduk lokal di sekitar wilayah izin usaha pertambangan. Sarana
olahraga yang disamping dimanfaatkan oleh pekerja tambang juga oleh masyarakat
sekitar lokasi pertambangan yaitu Desa Manyampa Kec. Ujung Loe Kab. Bulukumba
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 12
BAB IV
RONA LINGKUNGAN AKHIR LAHAN PASCATAMBANG
4.1. Keadaan Cadangan Tersisa
Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang memiliki potensi
mengganggu lingkungan hidup dimana penambangan dengan bantuan alat mekanis
dilakukan terhadap sumberdaya/cadanganyang tidak dapat dilepaskan dari lingkungan
pembentukannya di bumi. Daerah dengan tatanan geologis tertentu akan menghasilkan
sumberdaya serta cadangan mineral yang ekonomis. Oleh karena itu, pertambangan
memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan di suatu daerah karena umumnya
tambang berlokasi di remote area yang akhirnya dapat membuka akses dan
meningkatkan infrastruktur di sekitar lokasi tersebut.
Setelah melakukan perhitungan sumber daya dan cadangan dimana jumlah
cadangan di wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) adalahs ekitar 8.658.100 m3
sedangkan sasaran produksi per tahunadalah sekitar 120.400 m 3 kemungkinan lamanya
izin usaha pertambangan yang diberikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan sesuai
ketentuan yang berlakuadalah selama 69 tahun maka perkiraan jumlah produksi selama
masa berlakunya izin usaha pertambangan tersebut yaitu 69 tahun adalah sebesar
8.658.100 m3.
Setelah berakhir izin usaha pertambangan maka langkah selanjutnya adalah
bagaimana penghitungan sisa cadangan yaitu nilai angka neraca didapat dari nilai
sumber daya kemudian dikurangi data produksi selama 69 tahun masa izin. Maka
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 13
neraca sumber daya komoditas mineral bukan logam jenis Tanah Urug yang tersisa
setelah masa izin usaha pertambangan berakhir adalah masih ada sumber daya yang
tersisa, yang memungkinkan ditingkatkan menjadi cadangan sehingga masih bisa
diperpanjang.
4.2 Peruntukan Lahan
Pemulihan lahan yang terganggu akibat aktivitas pertambangan harus
dioptimalkan sehingga menjadi lahan yang produktif. Selain itu, manfaat dari aktivitas
pertambangan perlu dikonversi ke dalam bentuk lain (transformasi manfaat) agar
pembangunan tetap dapat berlanjut dan tetap memberikan manfaat kesejahteraan di
wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) dan sekitarnya.
Peruntukan lahan pada akhir pascatambang sebelumnya akan disesuaikan
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bulukumba yang ditetapkan dalam
Perda, dan beberapa masukan dan hasil konsultasi pemangku kepentingan. Secara garis
besar kondisi lahan pada akhir kegiatan usaha pertambangan telah direhabilitasi.
4.3 Morfologi
Kegiatan operasi produksi (penambangan Tanah Urug). Untuk meminimalisasi
dampak lingkungan pascatambang, maka perusahaan pemegang IUP diwajibkan untuk
melakukan upaya reklamasi, untuk mencapai kondisi seperti sebelum ditambang atau
kondisi lain yang telah disepakati dalam dokumen lingkungan. Masalah utama yang
timbul akibat kegiatan penambangan Tanah Urug di wilayah izin usaha pertambangan,
adalah terjadinya perubahan kondisi lingkungan berupa perubahan morfologi dan
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 14
topograpi akibat kegiatan pertambangan, bebarapa upaya untuk mengelola lahan
pascatambang difokuskan untuk memperbaiki siklus hidrologi dan kegiatan revegetasi
agar supaya bisa memelihara daya dukung lingkungan seperti kondisi sebelum
ditambang. Untuk menganalisis kemungkinan penggunaan lahan pascatambang sebagai
antara lain penampung air, persawahan dan pemukiman dilakukan pendataan geologi
dan litologi, pengambilan conto, interpretasi petrographi, uji infiltrasi, karakteristik
hidrologi, curah hujan, sifat fisik dan kimia air dan tanah. Dengan melakukan rekahan
buatan, menggunakan tanaman tertentu dan rekayasa teknik pada lahan bekas
tambang dan bukan bekas tambang, maka diperkirakan sebagian air permukaan dapat
dikembalikan sebagai suplai airtanah, yang otomatis akan mengurangi airluah. Dengan
upaya ini diharapkan akan terjadi proses secara alamiah pada lantai pascatambang,
sehingga dalam jangka panjang, siklus hidrologi didaerah ini akan seperti kondisi
sebelum ditambang.
Walaupun topografi sebelum penambangan tidak bisa direplikasi total, bentang
alam setelah penambangan diharapkan dapat bersatu dengan baik dengan area
sekitarnya yang tidak terganggu. Penggunaan tumbuhan alami dan jenis pepohonan
akan mempercepat proses reklamasi. Seiring dengan waktu, reklamasi tapak dan upaya
revegetasi akan menghasilkan bentang alam yang tampak alami dan menyatu dengan
sangat baik dengan topografi di sekitarnya. Vegetasi yang telah direklamasi dengan baik
akan mengaburkan bentukan yang dibuat manusia
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 15
4.4. Sosial, Budaya, dan Ekonomi
Rencana kegiatan pascatambang, pemegang IUP telah melakukan
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku, dan
dirancang untuk meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dan meringankan dampak
dari pascatambang melalui pengembangan usaha oleh masyarakat sebagaimata
pencaharian baru.
Aktifitas usaha ekonomi produktif banyak tumbuh di pedesaan.Sebagian besar
kelompok usaha rakyat yang dikenal dengan istilah Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) ini masih dijalankan secara tradisional.Ciri usaha yang bersifat tradisional
adalah belum adanya penerapan manajemen yang jelas, orientasi usahanya berjangka
pendek, dalam arti sekedar memenuhi kebutuhan hidup sesaat, tidak ada investasi
jangka panjang dan tidak berorientasi pasar.Untuk mengangkat potensi usaha kecil ini,
kemudian ditawarkan bentuk usaha dengan konsep kelompok usaha bersama. Dengan
cara ini diharapkan masyarakat sasaran mampu menciptakan dinamika ekonomi
pedesaan. Program ini dilaksanakan berdasarkan empat prinsip utama, yaitu : (1)
Keberpihakan kepada kepentingan masyarakat, (2) Menjadi bagian strategi bisnis
perusahaan, (3) Berkontribusi untuk peningkatan ekonomi keluarga dan kualitas hidup
masyarakat dan (4) Menjunjung tinggi etika bisnis. Pengembangan dan pemeberdayaan
masyarakat sekitar wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) di Kecamatan Ujung Loe
Kabupaten Bulukumbajuga dapat dilakukan melalui penerapan usaha jasa
pertambangan melalui perizinan yaitu izin usaha jasa pertambangan (IUJP) dan surat
keterangan terdaftar (SKT) sepanjang kegiatan pertambangan bisa dilakukan oleh
kontraktor lokal, maka kontraktor dari luar sedapat mungkin dihindari.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 16
BAB V
PROGRAM PASCATAMBANG
Program pascatambang antara lain kegiatan pembongkaran fasilitas
pertambangan, kemudian dilakukan kegiatan reklamasi pada lahan yang telah
dibongkar, pemeliharaan dan perawatan serta sosial dan ekonomi. Pada saat
pascatambang, seluruh struktur buatan manusia akan dibongkar kecuali pemerintah
atau masyarakat masih ingin mempertahankan selanjutnya dilakukan reklamasi pada
lahan yang telah dibongkar. Permukaan tanah akan dibuat bertingkat untuk menutupi
bekas-bekas topografi asli yang terganggu. Penutupan dengan tanah pucuk akan
dipersiapkan sebelum tahap penanaman, sebagai langkah akhir reklamasi lahan. Untuk
memastikan keberhasilan reklamasi, akan dilakukan perawatan dan pemantauan hingga
tutupan vegetasi telah mencapai pertumbuhan yang cukup stabil dan kuat untuk dapat
bertahan sehingga kriteria keberhasilan pascatambang dapat dicapai yang telah
ditetapkan oleh pemerintah.
Penjelasan secara rinci juga dijelaskan dalam bab ini yaitu tentang penonaktifan
dan atau pembongkaran beberapa fasilitas di area tapak tambang, fasilitas pengolahan,
fasilitas bengkel, serta fasilitas penunjang lainnya.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 17
5.1. Reklamasi
a. Tapak bekas tambang
1. Pembongkaran fasilitas tambang
Pembongkaran sarana penunjang fasilitas tambang tidak terlalu membebani
perusahaan pemegang IUP OP dikarenakan dibuat semi permanen dan sebagian lagi
tidak dibongkar melainkan dihibahkan atau disumbangkan bagi kegiatan sosial
kemasyarakatan yang ada disekitar wilayah kegiatan operasi produksi (penambangan)
oleh CV. BINTANG UTAMA MANYAMPA dan jika akan dilakukan pembongkaran akan
melibatkan masyarakat sekitar penambangan, material sisa dapat dimanfaatkan lebih
lanjut oleh masyarakat atau bangunan itu sendiri tetap dipelihara untuk dimanfaatkan
sebagai sarana kegiatan ekonomi kerakyatan di sekitar wilayah izin usaha
pertambangan di Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba.
2.Reklamasi lahan bekas fasilitas Tambang
Tanah atau areal bekas lokasi kegiatan operasi produksi atau lahan bekas
tambang dan lahan bukan bekas tambang tersebut dapat direklamasi. Kegiatan lain dan
sangat penting yaitu lahan bekas penyimpanan BBM, Oli, Sisa Solar harus segera
dibersihkan karena termasuk B3, drum oli bekas dikeluarkan. Media yang digunakan
untuk menyerap ceceran oli dan solar tersebut harus dimusnahkan sesuai ketentuan
peraturan perundang undangan yang berlaku.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 18
3. Pembongkaran dan reklamasi jalan tambang
Akses jalan bekas tambang dan bukan bekas tambang yang ada dipertimbangkan
untuk dibuat lebih baik lagi, selain tidak adanya akses jalan di lokasi penambangan juga
dapat berfungsi sebagai jalan rintisan untuk mempermudah kegiatan ekonomi
masyarakat,selain itu bekas jalan tambang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan
pengangkutan hasil budidaya masyarakat yang hidup di sekitar wilayah izin usaha
pertambangan
4. Reklamasi lahan bekas tambang permukaan
Lahan bekas tambang permukaan berupa front tambang secara keseluruhan
direklamasi secara bertahap serta sumber air untuk kegiatan budidaya pertanian. Lahan
bekas penambangan ditata kembali kemudian melakukan penyebaran tanah pucuk dan
penataan akhir permukaan tanah dan sebagian revegetasi.
5.Reklamasi lahan bekas tambang kolam pengendap
Bekas kolam pengendap akan dibongkar atau diratakan kembali dikarenakan
pembuatan kolam pengendap hanya meninggalkan tanggul-tanggul kolam, air pada
kolam dipompa keluar dan tanggul-tanggul pembatasnya diratakan kembali atau kolam
mini akan dipertahankan sebagai kolam ikan atau reservoir air untuk kebutuhan
masyarakat di sekitar wilayah izin usaha pertambangan.
6. Pengamanan lahan bekas tambang
Lokasi lahan bekas pertambangan yang telah direklamasi diberi tanda
peringatan dilarang masuk sampai kegiatan reklamasi dan pascatambang benar-
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 19
benardisetujui oleh stakeholder yang berkompeten sesuai ketentuan keberhasilan
pascatambang.
b. Fasilitas Penunjang
1. Reklamasi lahan bekas landfill
Sampah organik dan sampah industri yang dihasilkan dari aktifitas
penambangan maupun aktifitas tenaga kerja seperti sisa bungkus makanan, plastik air
mineral sebagian langsung dibuang pada tempat sampah non B3 dan dimusnahkan,
sedangkan material lain yang lebih besar dikumpulkan terlebih dahulu. Setelah
pascatambang landfill yang dipenuhi dengan material besar akan diremediasi dan
diolah setelah material pengisinya dipindahkan terlebih dahulu.
2. Remediasi Tanah
Yang terkontaminasi tumpahan oli dan solar yaitu menggunakan media yang
berfungsi menyerap tumpahan kemudian pencucian dengan detergen lalu penambahan
zat organic dan anorganic untuk mengembalikan kesuburan tanah pada bekas
tumpahan oli.
5.2. Pengembangan Sosial, Budaya dan Ekonomi
Pemegang izin usaha pertambangan operasi produksi (IUP OP) harus mempunyai
komitmen untuk membangun dan membina hubungan positif dengan masyarakat
sekitar WIUP di Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba, Pemegang IUP OP
tersebut memiliki komitmen untuk menyediakan peluang bagi pengembangan di bidang
social, pendidikan dan ekonomi, kesehatan termasuk upaya upaya khusus untuk
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 20
memberi pelatihan dan memperkerjakan warga setempat. Hal yang terpenting adalah
komitmen pemegang IUP OP untuk menghormati masyarakat adat dan budayanya,serta
secara berkesinambungan bersama mereka mengenai hal-hal yang menyangkut
kepentingan bersama.
Pemegang IUP memahami kebutuhan masyarakat untuk memelihara tradisi budaya
mereka yang unik dan bertekad membantu mereka mewujudkan aspirasi tersebut.
Perusahaan pemegang IUP OP dalam hal ini CV. BINTANG UTAMA MANYAMPA
membantu kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat dengan acara-acara
budaya lokal seperti membiayai sejumlah acara budaya tahunan di sekitar WIUP di
Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba.
5.3. Pemeliharaan
Reklamasi pada area bekas tambang dan bukan bekas tambang atau fasilitas
pendukung kegiatan pertambangan akan dipantau secara berkala. Penyulaman
tanaman, pemupukan dan penanaman rumput akan dilakukan apabila diperlukan
dalam tahapan kegiatan pascatambang
Pemantauan akan dilakukan untuk menunjukkan bahwa kriteria penyelesaian
telah dipenuhi dan bahwa lahan tersebut aman, dan telah mencapai tujuan
penggunaan lahan yang relevan. Pemantauan biasanya meliputi kualitas air, vegetasi,
social, stabilitas tanah, dan pelaporan. Pemantauan vegetasi akan dilakukan setahun
sekali pada plot-plot pengamatan permanen di lokasi reklamasi yang representative.
Pemeliharaan juga akan diperlukan dalam periode setelah pelaksanaan penutupan
selesai, mengakui bahwa dibeberapa daerah strategi penutupan mungkin tidak segera
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 21
berhasil dan bahwa beberapa aktifitas perbaikan biasanya akan diperlukan termasuk
pengendalian erosi dan sedimentasi serta perbaikan vegetasi, pengolahan air dan akses
pemeliharaan jalan disekitar wilayah izin usaha pertambangan yang memasuki tahap
pascatambang.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 22
BAB VI
PEMANTAUAN KEGIATAN PASCATAMBANG
Pelaksanaan tahapan kegiatan pascatambang yang dilakukan oleh perusahaan
wajib dipantau, baik pelaksanaan program-program yang telah dicanangkan untuk
dilakukan oleh perusahaan.Pemantauan tersebut mencakup data. Analisa laboratorium,
kondisi nyata pelaksanaan program pascatambang dan pelaporan kepada
instansi/lembaga yang berwewenang yang berfungsi sebagai tim penilai dan pengawas
kegiatan pascatambang. Hal-hal yang menjadi perhatian dari laporan kegiatan tersebut
sebagai berikut :
6.1. Kestabilan Fisik
Pelaporan hasil penimbunan kembali front penambangan, penanganan erosi
dan sedimentasi dilaksanakan dan dilaporkan tertulis pertriwulan tahun kerja, dan
pemantauan dan pengawasnya dilakukan pertriwulan, pelaporan dan pengawasnnya
dalam hal ini menyangkut antara lain keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pekerja
tambang yang terlibat pada kegiatan pascatambang, keselamatan operasi yang
berhubungan dengan kestabilan lereng dan saluran pengelak dokumentasi, kegiatan
tersebut dilakukan dengan mengambil sample langsung dilapangan, pengukuran, dan
pelaporan sesuai rencana pascatambang, koreksi dan perintah dari instansi terkait
terutama dari instansi energi dan sumber daya mineral dan dari badan lingkungan
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 23
hidup sesuai kewenangannya, harus ditaati oleh perusahaan pemegang IUP OP yaitu
CV. BINTANG UTAMA MANYAMPA.
6.2. Air permukaan dan air tanah
Pemantauan dan pengambilan sampel kualitas air permukaan dilakukan pada sumur
warga, alur anak sungai dan kolam pengendap dengan standar baku sifat fisika dan
kimia dari air permukaan, pengambilan sampel air tanah bisa dilakukan dengan
membuat sumur bor dalam atau geolistrik pada saat rona awal dilakukan dicek ulang
dititik yang sama untuk melihat perubahan muka air tanah dan kondisi air tanah.
6.3. Flora dan Fauna
Pemantauan flora dan fauna dilakukan pertriwulan dan dilaporkan setiap triwulan
6.4. Sosial dan Ekonomi
Pemerintah dan masyarakat akan memantau mengenai kewajiban sosial dan
ekonomi masyarakat, laporan pemantauan ini dapat berupa pengambilan data pada
pustu, fasilitas pelayanan kesehatan dan puskesmas yang tersebar di sekitar wilayah izin
usaha pertambangan dalam wilayah Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 24
BAB VII
ORGANISASI KEGIATAN PASCATAMBANG
Struktur organisasi adalah merupakan suatu bagian dari sistem manejemen yang
sangat penting, terutama dalam pengelolaan suatu perusahaan, khususnya usaha
pertambangan mineral dan batubara salah satunya usaha pertambangan terhadap
komoditas tambang batuan jenis Tanah Urug.
Struktur organisasi suatu perusahaan bertujuan untuk mengatur setiap kegiatan
dan orang yang terlibat didalamnya, sehingga pelaksanaan pekerjaan yang dibebankan
kepada masing bagian/pekerja dapat dipertanggung jawabkan. Dengan adanya kegiatan
usaha pertambangan, maka akan memerlukan banyak pekerja tambang termasuk usaha
jasa pertambangan yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Pekerja tambang umumnya
dapat dipenuhi oleh masyarakat sekitar wilayah izin usaha pertambangan, sedangkan
pekerja tambang dengan kualifikasi khusus bila tidak terdapat di sekitar lokasi maka
akan diusahakan dari daerah lain baik dalam wilayah Kabupaten Bulukumba maupun di
luar wilayah Kabupaten Bulukumba.
Adapun struktur organisasi dan pekerja tambang pada usaha kegiatan
pertambangan komoditas tambang batuan jenis Tanah Urug yang diusulkan sebagai
berikut :
1.Pimpinan
2. Pengawas
3.Manejer/Bagian Umum, terdiri dari seksi kepegawaian, Keuangan, Pemasaran
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 25
4. Manejer Produksi terdiri dari seksi perawatan, pengendalian mutu, operasi produksi
Kewajiban pelaksanaan pascatambang yang dilakukan oleh perusahaan bukan
hanya bertanggung jawab terhadap masalah pascatambang, melainkan juga mencakup
permasalahan sosial seperti kondisi sosial masyarakat, pemutusan hubungan tenaga
kerja (pekerja tambang) oleh sebab itu perlu disusun suatu susunan organisasi yang
diajukan oleh perusahaan pemegan IUP OP. Keterlibatan bersama dan keterbukaan
dalam melaksanakan program pascatambang merupakan tanggung jawab besar yang
harus dilaksanakan dalam bentuk pemantauan dan pengawasan kegiatan pelaksanaan
pascatambang,
7.1. Organisasi Pascatambang
GUBERNUR SULSEL
(Decomisioning,
persetujuan
pengembalian WIUP
kepada pemerintah
PEMANGKU INSTANSI
Kepala Teknik
KEPENTINGAN(Lembaga TERKAIT(Dinas ESDM,
Tambang (KTT)
swadaya masyarakat dan Dinas Kehutanan
tokoh masyarakat) pertambangan, BLHD
Kabupaten Bulukumba)
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 26
7.2. Jadwal Pelaksanaan Pascatambang
Adapun tahapan kegiatan pelaksanaan pascatambang yang akan direncanakan
adalah sebagai berikut :
Pembongkaran tapak bekas tambang
Pembongkaran fasilitas penunjang
Pengembangan sosial, budaya dan ekonomi
Pemeliharaan
pemantauan
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 27
BAB VIII
KRITERIA KEBERHASILAN PASCATAMBANG
Pelaksanaan kegiatan pascatambang yang direncanakan dan disusun dalam
dokumen rencana pascatambang oleh pemegang IUP OP dalam hal ini CV. BINTANG
UTAMA MANYAMPA dalam Wilayah Izin Usaha Pertambangan dinyatakan akan
berhasil, diukur dengan kenyataan di lapangan antara lain :
Pembongkaran fasilitas tambang sesuai rencana dokumen pascatambang.
Reklamasi lahan bekas tambang sesuai dokumen pascatambang.
Pembongkaran dan reklamasi jalan tambang sesuai dokumen pascatambang.
Reklamasi tambang permukaan sesuai rencana dokumen pascatambang.
Reklamasi lahan bekas kolam pengendap sesuai rencana dokumen
pascatambang.
Pengamanan semua lahan bekas tambang sesuai rencana dokumen
pascatambang.
Reklamasi lahan bekas bangunan dan pondasi beton sesuai dokumen
pascatambang
Pemulihan (remediasi) sesuai rencana dokumen pascatambang.
Pengembangan sosial budaya dan ekonomi ( sesuai rencana dokumen
pascatambang)
Pemeliharaan ( sesuai rencana dokumen pascatambang)
Pemantauan ( sesuai rencana dokumen pascatambang)
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 28
BAB IX
RENCANA BIAYA PASCATAMBANG
Besarnya nilai jaminan pascatambang yang diserahkan oleh pemegang IUP OP
CV. BINTANG UTAMA MANYAMPA kepada bank pemerintah tergantung dari
perhitungan besarnya biaya rencana pascatambang, komponen biaya pascatambang
terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung dengan rincian sebagai berikut.
9.1 Biaya Langsung
a. Pembongkaran fasilitas tambang termasuk bangunan dan sarana penunjang yang
sudah tidak digunakan lagi. Pembongkaran bangunan-bangunan tersebut lebih
mudah dan bahkan tidak akan dibongkar melainkan dihibahkan atau
disumbangkan kepada pemerintah atau warga masyarakat setelah kegiatan
berakhir, biaya pembongkaran sebesar Rp. 5.000.000
b. Reklamasi lahan bekas fasilitas tambang, rencana biaya sebesar Rp. 4.000.000
c. Pembongkaran dan reklamasi jalan tambang, rencana biaya sebesar Rp.5.000.000
d. Reklamasi tambang permukaan, rencana biaya Rp. 4.000.000
e. Remediasi areal seluas 100 m2 sebagai tempat penyimpanan BBM dengan
penyiraman detergen, penyerapan dengan pasir dan serbuk kayu bekas gergaji
serta penambahan tanah pucuk, penambahan pupuk serta penanaman
covercrop, perkiraan biaya sebesar Rp.3.000.000
f. Bantuan social kepada masyarakat berupa bantuan untuk kegiatan keagaman,
kemasyarakatan, bibit pertanian sebesar Rp. 2.000.000.
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 29
g. Pemantauan fisik dan pengambilan sample tanah dan air serta uji laboratorium
sebesar Rp.1.000.000.
Jumlah Biaya Langsung adalah = Rp. 24.000.000
9.2. Biaya Tidak Langsung
a. Biaya Mobilisasi dan demobilisasi alat sebesar 2,5% atau hasil perhitungan
sebesar Rp. 5.000.000
b. Biaya perencanaan reklamasi sebesar 4% dari biaya langsung yaitu :Rp.
2.000.000
c. Biaya administrasi dan keuntungan pihak ketiga sebagai pelaksana 5 % dari biaya
langsung yaitu :Rp.2.000.000,-
d. Biaya Supervisi
Biaya supervise 5 % dari biaya langsung yaitu : Rp.1.000.000,-
Jumlah Biaya tidak langsung adalah :Rp. 10.000.000,-
9.3. Total Biaya Pascatambang
Total biaya adalah jumlah biaya langsung dan jumlah biaya tidak langsung yaitu :
Jumlah biaya langsung : Rp. 24.000.000,-
Jumlah biaya tidak langsung : Rp. 10.000.000,-
Jadi Total Biaya Pascatambang : Rp. 34.000.000,-
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 30
Tabel 1
Rekapitulasi Rencana Dan Biaya Pascatambang
NO. DESKRIPSI BIAYA LUAS BIAYA (Rp)
1. Biaya Langsung
a. Pembongkaran fasilitas bekas 5.000.000
Tambang
b. Reklamasi lahan bekas tambang 4.000.000
c. Pembongkaran dan reklamasi jalan 5.000.000
tambang
d. Reklamasi tambang permukaan 4.000.000
e. Remediasi 3.000.000
f. Pengembangan social, Budaya 2.000.000
g. Pemantauan 1.000.000
Total Biaya Langsung 24.000.000
2. Biaya Tidak Langsung
a. - Biaya Mobilisasi dan Demobilisasi 5.000.000
Alat (2,5%) atau hasil perhitungan.
b. - Biaya Perencanaan Reklamasi (4%) 2.000.000
c. - Biaya Administrasi dan keuntungan 2.000.000
pihak ketiga (5%)
d. - Biaya Supervisi (5%) 1.000.000
TOTAL 10.000.000
Total Keseluruhan 34.000.000
Pascatambang_CV. Bintang Utama Manyampa Page 31