Just In Time: Strategi Efisiensi Produksi
Just In Time: Strategi Efisiensi Produksi
Dosen Pengampu :
Disusun Oleh :
FAKULTAS EKONOMI
2023
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T., Tuhan yang menciptakan,
mengatur dan memelihara alam semesta yang menundukkan segala sesuatu untuk
kepentingan dan kemaslahatan semua makhluk ciptaannya, salam dan shalawat semoga
terlimpah atau tercurah kepada junjungan Rasul-Nya Muhammad SAW, keluarga, sahabat,
dan orang-orang yang mengikuti sunnah-nya sampai akhir zaman..
Makalah ini disusun dan diselesaikan dalam waktu yang begitu singkat sebagai upaya
untuk memenuhi harapan dan tuntutan sebagai mahasiswa yakni Mata Kuliah Akuntansi
Manajemen. Makalah ini diberi judul “JUST IN TIME (JIT)”. Penyusun berharap dengan
selesainya makalah ini dapat menambah khazanah keilmuan dan sebagai tolak ukur dosen
dalam memberikan penilaian.
Penyusun menyadari betul bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan,
sehingga menjadi harapan Penyusun kirannya kritik korektif yang bersifat konstruktif dalam
proses revisi atau perbaikan selanjutnya. Pada akhirnya, hanya kepada Allah SWT, kami
berserah diri serta berharap semoga bimbingan, pertolongan dan perlindungan tetap tercurah
untuk mendapat ridha-Nya. Nasrun minallah fathun qarib, Wassalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kelompok Penyusun
ii
DAFTAR ISI
COVER.......................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. 1
A. Latar Belakang.................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................................ 2
C. Tujuan................................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................... 4
A. Kesimpulan........................................................................................................ 24
B. Studi Kasus........................................................................................................ 24
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 26
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Just In Time ( JIT ) adalah filosofi yang merupakan suatu paradigma baru dari strategi
bisnis bergeser dari manajemen persediaan tradisional ke manajemen rantai pasokan berbasis
web yang meningkatkan perputaran persediaan dan mengurangi penumpukan persediaan. JIT
merupakan suatu konsep yang dapat diterapkan pada banyak aspek dari bisnis selain
persediaan. Sistem pemanufakturan tradisional mengatur jadwal produksinya berdasarkan
pada peramalan kebutuhan dimasa yang akan datang dengan pasti walaupun ia memiliki
pemahaman yang sempurna tentang masa lalu dan memiliki insting yang tajam terhadap
kecenderungan yang terjadi di pasar. JIT tergantung pada logistik termasuk transportasi,
pergudangan dan beberapa strategi untuk menangani ketidak pastian pasokan rantai potensial.
Perhitungan serta kerja sama yang baik antara penyalur, pemasok dan bagian produksi
haruslah baik karena keterlambatan akibat salah perhitungan atau kejadian lainnya dapat
menghambat proses produksi sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Just In
Time merupakan filosofi pemanufakturan yang memiliki implikasi penting dalam manajemen
biaya sebab ide dasar Just In Time sangat sederhana, yaitu berproduksi hanya apabila ada
permintaan (full system) atau dengan kata lain hanya memproduksi sesuatu yang diminta,
pada saat diminta, dan hanya sebesar kuantitas yang diminta karena tujuannya adalah untuk
mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep
1
arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja
sama dengan komponen- komponen lainnya.
Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan
tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang
dan waktu produksi. Tujuan utama just in time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi
persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha pengendalian biaya, peningkatan kualitas,
serta perbaikan kinerja pengiriman.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan JIT?
2. Apa saja karakteristik dasar JIT?
3. Apa saja persyaratan JIT?
4. Apa konsep dasar dari JIT?
5. Apa saja strategi penerapan JIT?
6. Apa saja manfaat dari JIT?
7. Apa saja biaya persiapan dan penyimpanan : pendekatan JIT?
8. Apa saja kinerja jatuh tempo : solusi JIT?
9. Bagaimana menghindari penghentian produksi dan kendala proses : pendekatan
JIT?
10. Bagaimana diskon dan kenaikan harga : pembelian JIT versus
11. Bagaimana kontribusi JIT untuk keunggulan bersaing?
12. Bagaimana prinsip kerja JIT?
13. Apa saja aspek dari JIT?
14. Apa saja keuntungan dan kelemahan JIT?
15. Apa saja keterbatasan JIT?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan JIT.
2. Untuk mengetahui apa saja karakteristik dasar JIT.
3. Untuk mengetahui apa saja persyaratan JIT.
4. Untuk mengetahui apa konsep dasar dari JIT.
5. Untuk mengetahui apa saja strategi penerapan JIT.
6. Untuk mengetahui pa saja manfaat JIT.
7. Untuk mengetahui apa saja biaya persiapan dan penimpanan : pendekatan JIT.
2
8. Untuk mengetahui apa saja kinerja jatuh tempo : solusi JIT.
9. Untuk mengetahui bagaimana menghindari penghentian produksi dan kendala
proses : pendekatan JIT.
10. Untuk mengetahui bagaimana diskon dan kenaikan harga : pembelian JIT versus.
11. Untuk mengetahui bagaimana kontribusi JIT untuk keunggulan bersaing.
12. Untuk mengetahui bagaimana prinsip kerja JIT.
13. Untuk mengetahui apa saja aspek dari JIT.
14. Untuk mengetahui apa saja keuntungan dan kelemahan JIT.
15. Untuk mengetahui apa saja keterbatasan JIT.
3
BAB II
PEMBAHASAN
JIT sasaran utamanya adalah meningkatkan produktivitas sistem produksi atau operasi
dengan cara menghilangkan semua kegiatan yang tidak menambah nilai bagi suatu produk,
karena JIT merupakan suatu filosofi manajemen operasi yang berusaha untuk menghilangkan
pemborosan pada semua aspek dari kegiatan-kegiatan produksi perusahaan.
Tata Letak Pabrik Jenis dan efisiensi tata letak pabrik dikelola secara berbeda dalam
proses manufaktur JIT. Dalam pekerjaan secara tradisional dan proses manufaktur secara
batch, produk dipindahkan dari satu kelompok mesin yang sama ke kelompok mesin yang
lainnya. Biasanya, mesin dengan fungsi yang sama ditempatkan menjadi satu dalam suatu
area, yang disebut sebagai suatu departemen atau proses. Para pekerja yang dikhususkan
dalam operasi suatu mesin tertentu, ditempatkan dalam setiap departemen terkait. JIT
mengganti tata letak pabrik tradisional ini dengan suatu pola sel manufaktur. Sel manufaktur
(manufactur ing cell) terdiri dari mesin-mesin yang dikelompokkan dalam kumpulan,
biasanya dalam bentuk setengah lingkaran. Mesin-mesin diatur sehingga mereka dapat
digunakan untuk melakukan berbagai operasi secara berurutan. Tiap sel dipersiapkan untuk
menghasilkan produk atau kumpulan produk tertentu. Produk pindah dari satu mesin ke yang
lainnya dari awal hingga selesai. Para pekerja ditugaskan pada sel-sel dan dilatih untuk
mengoperasikan semua mesin dalam sel. Jadi, tenaga kerja dalam lingkungan JIT memiliki
beberapa keahlian sekaligus, tidak berkeahlian khusus. Tiap sel manufaktur pada dasarnya
adalah sebuah pabrik mini, dan sel-sel tersebut sering disebut sebagai pabrik dalam pabrik.
4
karyawan. Sebagaimana baru saja ditunjukkan, tiap sel dipandang sebagai suatu pabrik mini.
Jadi, tiap sel membutuhkan akses yang mudah dan cepat untuk mendukung pelayanan, yang
berarti departemen pelayanan yang terpusat harus diturunkan skalanya dan personelnya
ditugaskan ulang untuk bekerja secara langsung dengan berbagai sel manufaktur. Akibatnya,
para personel dari departemen pelayanan, seperti teknisi proses manufaktur dan kualitas,
sering kali ditugaskan ke sel.
Total Quality Control JIT perlu memberikan tekanan yang lebih kuat pada
pengelolaan kualitas. Suatu suku cadang yang cacat memberikan pekerjaan pada
pemotongan. Kualitas yang rendah tidak dapat ditoleransi dalam suatu lingkungan
manufaktur yang beroperasi tanpa persediaan. Secara sederhana, JIT tidak dapat
diimplementasikan tanpa suatu komitmen pada pengendalian kualitas total (total quality
control-TQC). TQC pada intinya adalah suatu pengejaran tanpa henti untuk suatu kualitas
sempuma, usaha untuk mendapatkan suatu desain produk dan proses manufaktur tanpa cacat.
5
menentang alasan tradisional untuk menyimpan persediaan. Alasan-alasan ini tidak lagi
dipandang berlaku. Sebagai contoh, masalah penyelesaian antara biaya pemesanan atau biaya
persiapan serta biaya penyimpanan diselesaikan dengan memilih suatu tingkat persediaan
yang meminimalkan jumlah biaya-biaya ini. Jika permintaan lebih banyak dari yang
diharapkan atau jika produksi menurun karena kegagalan dan inefisiensi produksi, maka
persediaan menjadi penyangga, menyediakan produk bagi pelanggan yang mungkin tidak lagi
tersedia. Sama halnya, persediaan dapat menghindarkan penutupan yang disebabkan
pengiriman yang terlambat dari bahan baku, suku cadang yang cacat, dan kegagalan mesin
yang digunakan untuk memproduksi bagian rakitan. Akhirnya, persediaan sering menjadi
solusi masalah pembelian bahan baku terbaik dengan biaya terkecil melalui penggunaan
diskon kuantitas.
6
4. Eliminasi Kemacetan. Untuk menghapus kemcetan, baik dalam fase setup maupun
dalam masa produksi, perlu dilakukan beberapa pendekatan yang melibatkan tim
fungsi silang. Tim ini terdiri dari berabagi departemen, seperti perekayasaan,
manufaktur, keuangan dan departemen lainnya yang relevan.
5. Ukuran Lot Kecil Dan Pengurangan Waktu Setup. Ukuran lot yang ideal bukan
ukuran yang terbesar, tetapi ukuran lot yang terkecil. Pendekatan ini sesuai bila
mesin-mesin digunakan untuk menghasilkan berbagai bagian atau komponen yang
berbeda yang digunakan proses berikutnya dalam tahap produksi.
6. Total Productive Maintance (TPM) merupakan suatu keharusan dalam sistem JIT.
Mesin-mesin membersihkan dan diberi pelumas secara rutin, biasanya dilakukan
oleh operator yang menjalankan mesin tersebut.
7. Kemampuan Proses, Statistical Proses Control (SPC), Dan Perbaikan
berkesinambungan. Kemampuan proses, SPC, dan perbaikan berkesinambungan
harus ada dalam pemanufakturan JIT, karena beberapa hal : Pertama, segala
sesuatu harus bekerja sesuai dengan harapan dan mendekati sempurna. Kedua,
dalam JIT tidak ada bahan cadangan untuk kemacetan perusahaan dan Ketiga,
semua kondisi mesin harus bekerja dengan prima.
Sistem produksi just in time pada awalnya dikembangkan dan di promosikan oleh
Toyota Motor Corporation di Jepang. Strategi ini kemudian banyak diabdosi oleh banyak
perusahaan Jepang, terutama setelah terjadinya krisis minyak dunia pada tahun 1973. Tujuan
utama dari diterapkannya system produksi just in time ini adalah mengurangi ongkos
produksi dan meningkatkan produktivitas total industry secara keseluruhan dengan cara
menghilangkan pemborosan (waste) secara terus-menerus (john A. White : Production Hand
Book, Georgia Institute of Technology, 1987). Sasaran dari strategi produksi just in time
(JIT) adalah reduksi biaya dan meningkatkan arus perputaran modal (Capital turnover ratio)
dengan jalan menghilangkan setiap pemborosan (waste) dalam system industry. JIT harus
dipandang sebagai suatu yang lebih luas dari pada sekedar suatu program pengendalian
inventori.
7
Ada delapan kunci utama pelaksanaan just in time (JIT) dalam kegiatan industri yaitu :
8
5. Menyempurnakan kualitas produk.
Salah satunya untuk menyempurnakan kualitas produk dengan melihat prinsip
manajemen yaitu memelihara pengendalian proses dan membuat semua orang
bertanggung-jawab terhadap tercapainya mutu, meningkatkan pandangan manajemen
terhadap mutu, terpenuhinya pengendalian mutu produk dengan tegas, memberikan
wewenang kepada karyawan untuk mengadakan pengendalian mutu produk,
menghendaki koreksi terhadap produk cacat oleh karyawan, tercapainya inspeksi 100
% terhadap mutu produk dan tercapai komitmen terhadap pengedalian mutu jangka
panjang
6. Orang-orang yang tanggap.
Penerapan sistem JIT ini tidak lagi menggunakan pilar keuangan, pemasaran, SDM,
tapi menggunakan lintas fungsi atau lintas disiplin sehingga seluruh karyawan harus
menguasai seluruh bidang dalam perusahan sesuai dengan jenjang dan kedudukannya
dan kesalahan dalam proses selalu ditandai dengan menyalanya lampu andon dan
proses dihentikan dan seluruh karyawan terfokus pada perbaikan yang terkenal
dengan istilh jidoka yaitu semua karyawan bertanggungjawab terhadap tercapaianya
produk yang baik dan mencegah terjadinya kesalahan.
7. Menghilangkan ketidakpastian.
Untuk menghilangkan ketidakpastian dengan pemasok dengan cara menjalin
hubungan abadi dan memilki satu pemasok yang lokasinya berdekatan dengan
perusahaan yang masih kerabat dengan pemilik perusahaan, sedang dalam proses
produksi dengan cara menerapkan sistem produksi tarik dengan bantuan kartu kanban
dan produksi campur merata.
8. Penekanan pada pemeliharaan jangka panjang.
Karakteristik pemeliharaan dengan berpegang pada kontrak jangka panjang,
memperbaiki mutu, fleksibelitas dalam mengadakan pesanan barang, pemesanan
dalam jumlah kecil yang dilakukan berkali-kali, mengadakan perbaikan secara terus-
menerus dan berkesinambungan.
Strategi Penerapan pembelian Just in Time. Dukungan, yaitu dari semua pihak
terutama yang berkaitan dengan kegiatan pembelian, dan khususnya dukungan dari pimpinan.
Tanpa ada komitmen dari pimpinan tersebut JIT tidak dapat terlaksana. Mengubah sistem,
9
yaitu mengubah cara mengadakan pembelian, yaitu dengan membuat kontrak jangka panjang
dengan pemasok sehingga perusahaan cukup hanya memesan sekali untuk jangka panjang,
selanjutnya barang akan datang sesuai kebutuhan atau proses produksi perubahan
diperusahaan.
Strategi penerapan Just in Time dalam sistem produksi. Penemuan sistem produksi
yang tepat, yaitu dengan sistem tarik yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan harapan
pelanggan dengan menghilangkan sebanyak mungkin pemborosan. Penemuan lini produksi
yaitu dalam satu lini produksi harus dibuat bermacam-macam barang, sehingga semua
kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda itu dapat terpenuhi. Selain itu lini produksi tersebut
dapat menghemat biaya, biaya bahan, persediaan, dan sebagainya. JIT bukan hanya sekedar
metode pengedalian persediaan, tetapi juga merupakan sistem produksi yang saling berkaitan
dengan semua fungsi dan aktivitas.
JIT bukan hanya sekedar metode pengendalian persediaan tetapi juga merupakan
system produksi yang saling berkaitan dengan semua fungsi dan aktivitas. Manfaat JIT antara
lain :
JIT merupakan pendekatan untuk meminimalkan total biaya penyimpanan dan biaya
persiapan yang sangat berbeda dari pendekatan tradisional. Pendekatan tradisional mengakui
keberadaan biaya persiapan dan kemudian menentukan kuantitas pesanan yang merupakan
perimbangan terbaik dari dua kategori biaya. Di lain pihak, JIT tidak menerima biaya
persiapan (atau pemesanan); malah sebaliknya JIT mencoba menekan biaya-biaya ini sampai
10
nol. Jika biaya persiapan dan biaya pemesanan menjadi tidak signifikan, maka biaya yang
tersisa untuk dikurangi adalah biaya penyimpanan, yang dicapai dengan mengurangi
persediaan sampai ke tingkat yang sangat rendah. Pendekatan ini yang menjelaskan dorongan
untuk persediaan nol dalam sistem JIT.
Proses pengisian kembali yang berkelanjutan akan lebih dipermudah oleh pertukaran data
elektronik. Pertukaran data elektronik (electronic data inter- change-EDI) adalah suatu
bentuk awal dari perdagangan elektronik yang pada intinya adalah suatu metode
terotomatisasi dari pengiriman informasi dari komputer ke komputer. Pada awalnya, jaringan
bernilai tambah (value-added networks- VAN) dibutuhkan untuk memindahkan informasi ini.
Pada tahun 1998, sekitar 95 persen transaksi EDI dipindahkan melalui VANS. Akan tetapi,
alternatif komunikasi internet diharapkan menurunkan penggunaan VANS ini untuk EDI
hingga kurang dari 50 persen.
Meskipun EDI digunakan pada banyak jenis transaksi bisnis ke bisnis yang berbeda, namun
fokus kira adalah pada penggunaannya untuk manajemen persediaan. Sebagai contoh, EDI
11
memungkinkan para pemasok mengakses data- base para pembeli. Dengan mengetahui
jadwal produksi pembeli (dalam hal perusahaan manufaktur), para pemasok dapat
mengirimkan suku cadang ke tempat di mana mereka dibutuhkan tepat pada waktu untuk
penggunaannya. EDI tidak melibatkan penggunaan kertas-tidak ada perintah pembelian atau
faktur. Para pemasok menggunakan jadwal produksi, yang mana ada dalam database, untuk
menentukan jadwal produksi dan pengirimannya sendiri. Ketika suku cadang dikirim, pesan
elektronik juga dikirim dari pemasok kepada pembeli bahwa pengiriman dalam perjalanan.
Ketika suku cadang tiba, suatu kode batang (bar code) dipindai dengan pemindai elektronis
dan ini mengawali pembayaran atas barang tersebut. Jelaslah bahwa EDI memerlukan
pengaturan kerja yang erat antara pemasok dan pembeli-mereka beroperasi hampir lebih
seperti satu perusahaan daripada dua perusahaan yang terpisah.
Pembelian JIT II menyertakan pengaturan kemitraan JIT ke tingkat yang lebih tinga.
Hubungan JIT II memiliki wakil pemasok yang bekerja di laparıgın (secara penuh) di fasilitas
pelanggan sementara dibayar oleh pemasok. Karyawan pemasok ini dianggap sebagai wakil
Idi pabrik. Dengan berada di lapangan secara seratus persen penuh, wakil di pabrik
menyediakan dukungan pemasok yang berkelanjutan. Wakil pemasok menghadiri pertemuan
perencanaan produksi, memiliki otoritas untuk membuat pesanan atas nama pelanggan, dan
dapat menyelesaikan masalah pembelian (seperti perbaikan pesanan dan penundaan pesanan).
Hubungan ini menurunkan biaya administratif kedua pihak dan secara baik memfasilitasi
penggunaan pembelian JIT. Pengaturan bersama sering didukung dengan kontrak terbuka,
jangka panjang yang dianggap sebagai suatu kontrak abadi (evergreen contract). Kontrak
abadi tidak memiliki tanggal berakhir, tidak membutuhkan penawaran ulang, sehingga
menurunkan risiko permintaan bagi pemasok. Sebagai gantinya untuk menurunkan
permintaan atas produknya yang tidak menentu, pemasok menarik beberapa biaya pembelian
pelanggan karena hal ini untuk membayar gaji wakil di lapangan pabrik. Contoh perusahaan
yang menggunakan JIT II adalah Bose, IBM, Intel, Honeywell, dan AT&T.
12
dari bilangan jam ke menit. Perusahaan lainnya juga telah mengalami hasil yang serupa.
Umumnya, waktu persiapan dapat dikurangi sedikitnya 75 persen.
Penghentian produksi terjadi karena salah satu dari tiga alas an yaitu : kegagalan
mesin, kececatan bahan baku atau subrakitan, dan ketidaktersediaan bahan baku atau
subrakitan. JIT memecahkan ketiga masalah tersebut dengan menekankan pemeliharaan
pencegahan total dan pengendalian kualitas total, serta membina hubungan yang tepat
dengan pemasok.
13
maupun dibeli secara eksternal meningkat tajam. Penurunan jumlah komponen yang
ditolak antara 75 sampai 90 persen bukan hal yang tidak biasa. Menurunya komponen
yang cacat juga menghapuskan justifikasi untuk persediaan berdasarkan proses yang
tidak dapat diandalkan.
c. Sistem Kanban. Untuk menjamin komponen bahan baku tersedia ketika dibutuhkan,
digunakan sebuah sistem yang disebut sistem kanban. Sistem kanban adalah sebuah
sistem informasi yang mengendalikan produksi melalui penggunaan tanda atau kartu.
Sistem Kanban bertanggung jawab dalam memastikan produk yang dibutuhkan (atau
komponen) diproduksi (atau diperoleh) dalam kuantitas yang diperlukan secara tepat
waktu. Hal itu adalah inti dari sistem manajemen persediaan JIT. Sistem Kanban
menggunakan kartu atau tanda yang terbuat dari lembaran plastic, karton, atau metal
berukuran empat inci kali delapan inci. Sistem kanban dasar menggunakan tiga kartu :
Kanban Penarikan, Kanban Produksi, dan Kanban Pemasok.
14
Gambar 12.1. Faktor Kesuksesan JIT
Sumber : Haeyzer & Render, 1999
JIT pada pemasok diartikan dengan semangat JIT, jumlah pemasok sebaiknya sedikit,
antara sistem JIT pada pemasok ada hubungan kedekatan agar pemasok senantiasa
berbisnis ulang dengan bisnis yang kita jalani..
JIT pada tata letak menunjukkan tujuan JIT adalah mengurangi perpindahan baik
perpindahan orang maupun perpindahan barang.
JIT pada persediaan menggunakan sistem tarik (pull system) untuk memindahkan
suatu persediaan tersebut. Dalam hal ini, JIT akan mengurangi ukuran lot dan
mengurangi waktu penyetelan.
15
JIT pada pemeliharaan pencegahan dapat ditempuh dengan cara pemeliharaan
pencegahan yang terjadwal dan rutin secara harian.
JIT pada mutu produksi (kualitas) adalah diterapkannya dalam hal kendali proses
secara statistik.
1. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau jasa harus di
eliminasi. Aktivitas yang tidak bernilai tambah meningkatkan biaya yang tidak perlu,
misalnya persediaan dapat mungkin nol.
2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu yang lebih tinggi. Sehingga
produk rusak dan cacat sedapat mungkin nol, tidak memerlukan waktu dan biaya
untuk pengerjaan kembali produk cacat, dan kepuasan pembeli dapat meningkat.
3. Selalu diupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan (Continuous
Improvement) dalam meningkatkan efisiensi kegiatan.
4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan pemahaman terhadap
aktivitas yang bernilai tambah.
JIT dapat diterapkan dalam berbagai bidang fungsional perusahaan seperti misalnya
pembelian, produksi, distribusi, administrasi dan sebagainya.
Pembelian JIT
Pembelian JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian
rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau
penggunaan. Pembelian JIT dapat mengurangi waktu dan biaya yang berhubungan dengan
aktivitas pembelian dengan cara :
16
a) Mengurangi jumlah pemasok sehingga perusahaan dapat mengurangi sumber-sumber
yang dicurahkan dalam negosiasi dengan pamasoknya.
b) Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya negosiasi dengan pemasok.
c) Memiliki pembeli atau pelanggan dengan program pembelian yang mapan.
d) Mengeliminasi atau mengurangi kegiatan dan biaya yang tidak bernilai tambah.
e) Mengurangi waktu dan biaya untuk program-program pemeriksaan mutu.
Penerapan pembelian JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan
manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut :
Produksi JIT
Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat
waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi berikutnya
atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.
Untuk mengukur apakah biaya yang tidak bernilai tambah telah dapat dihilangkan atau
diminimumkan pada setiap tahap produksi, maka perlu dihitung efisiensi siklus
manufacturing (MCE). Persamaan MCE adalah :
Waktu tenggang
Waktu tenggang = Waktu proses + Waktu inspeksi + Waktu gerak + Waktu Tunggu +
Waktu Antri
17
Besaran MCE adalah : 0 < MCE ≤ 1, artinya MCE lebih besar dari nol dan lebih kecil atau
sama dengan satu. Jika waktu tidak bernilai tambah semakin mendekati nol maka besaran
MCE akan semakin mendekati satu yang berarti semakin efisien, begitupun sebaliknya. Pada
beberapa perusahaan manufacturing, MCE umumnya ± 10 %. Perusahaan manufacturing
yang efisien MCE idealnya adalah 100%, artinya tingkat pemborosan pada setiap tahap
produksi adalah 0%.
Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan cara :
a) Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses dalam setiap workstation (stasiun
kerja) atau tahapan pengolahan produk (konsep persediaan nol).
b) Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi (konsep waktu
tunggu nol).
c) Secara berkesinambungan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup
mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk (workstation).
d) Menekankan pada penyederhanaan pengolahan produk sehingga aktivitas produksi
yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi.
Penerapan produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan
manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut :
18
Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih memusat daripada yang
ditemui dalam pemanufakturan tradisional. Penggunaan sistem pemanufakturan JIT
mempunyai dampak pada : (1) Meningkatkan Keterlacakan (Ketertelusuran) biaya, (2)
Meningkatkan akurasi penghitungan biaya produk, (3) Mengurangi perlunya alokasi pusat
biaya jasa (departemen jasa), (4) Mengubah perilaku dan relatif pentingnya biaya tenaga
kerja langsung, (5) Mempengaruhi sistem penentuan harga pokok pesanan dan proses.
Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama
untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk
tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang terinterdisipliner, dan aktivitas
jasa yang terdesentralisasi adalah karakteristik utama JIT.
Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan biaya
langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok Produk).
Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi kelompok biaya tidak langsung dan mengubah
sebagian besar dari biaya tersebut menjadi biaya langsung maupun sebaliknya, dapat
menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.
Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja
langsung tradisional dikurangi secara signifikan. Oleh sebab itu ada dua akibat :
19
a) Persentasi biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi
berkurang.
b) Biaya tenaga kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.
Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan penggunaan
pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk dalam rangka
penilaian persediaan. Jika terdapat persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan
penilaiannya mengikuti aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT
diusahakan persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga
penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.Dalam JIT,
keberadaan penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial.
Manajer memerlukan informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan
misalnya: (a) penetapan harga jual berdasar cost-plus, (b) analisis trend biaya, (c) analisis
profitabilitas lini produk, (d) perbandingan dengan biaya para pesaing, (e) keputusan
membeli atau membuat sendiri, dsb.
Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus
memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel
pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang. Dengan mereorganisasi tata
letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian yang besar dalam
mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan pada
level selular. lagi pula, karena ukuran lot sekarang lebih sangat kecil,maka tidak praktis
untuk menyusun kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan
akan menggunakan sifat sistem harga pokok proses.
Dalam metode proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena
adanya persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT, diusahakan persediaan
nol, sehingga penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan, dan tidak perlu
20
menghitung biaya dari periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada
penyederhanaan.
seluruh sistem yang ada dalam perusahaan dapat berjalan lebih efisien.
Pabrik mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk memperkerjakan para
staffnya.
Barang produksi tidak harus selalu di cek, disimpan atau duretur kembali.
kertas kerja dapat lebih simple.
Penghematan yang telah di lakukan dapat digunakan untuk mendapat profit yang
lebih tinggi misalnya, dengan mengadakan promosi tambahan.
21
N. Keterbatasan Just In Time (JIT)
JIT bukan merupakan pendekatan yang dapat dibeli dan diterapkan dengan hasil
segera. Implementasinya merupakan proses evolusioner, bukan revolusioner. Disini
dibutuhkan kesabaran. JIT sering kali disebut sebagai program penyederhanaan namun ini
bukan berarti ta mudah atau sederhana untuk diterapkan. Sebagai contoh, diperlukan waktu
untuk membina hubungan yang baik dengan pemasok. Memaksakan perubahan segera dalam
waktu penyerahan dan kualitas mungkin bukanlah suatu hal yang realistis dan dapat
menyebabkan konfrontasi antara perusahaan dan pemasoknya. Kemitraan, bukan pemaksaan,
harus menjadi dasar hubungan dengan pemasok. Untuk mendapatkan manfaat dari pembelian
JIT, perusahaan mungkin tergoda untuk mendefinisikan ulang hubungan pemasok secara
sepihak. Mendefinisikan ulang hubungan pemasok secara sepihak dengan konsesi yang
banyak dan syarat-syarat yang memaksa dapat menciptakan ketidakpuasan pemasok dan
mungkin menyebabkan pemasok menentangnya. Dalam jangka panjang, pemasok mungkin
mencari pasar baru, menemukan cara untuk menaikkan harga (sesuai dengan keinginan
pemasok), atau mencari pembebasan peraturan. Tindakan ini dapat menghancurkan banyak
manfaat JIT yang dipaksakan oleh perusahaan yang terburu-buru menerapkannya.
Pekerja juga dapat terpengaruh oleh JIT. Dari studi yang dilakukan terlihat bahwa
pengurangan penyangga persediaan secara tajam dapat menyebabkan arus kerja yang
terpecah dan tingkat stress yang tinggi diantara para pekerja produksi. Beberapa ahli
menyarankan pengurangan persediaan secara bertahap yang memungkinkan para pekerja
mengembangkan pengertian otonomi dan mendorong partisipasi mereka dalam usaha
perbaikan yang lebih luas. Pengurangan persediaan yang dipaksakan dan dramatis akan
sangat mungkin mengungkapkan masalah- tetapi hal ini dapat menyebabkan masalah lain
yang lebih banyak seperti penjualan yang hilang dan pekerja yang stress. Jika para pekerja
merasa bahwa JIT adalah sekadar cara untuk lebih memeras mereka, maka usaha JIT
sepertinya akan gagal. Mungkin strategi yang lebih baik dari penerapan JIT adalah di mana
pengurangan persediaan mengikuti perbaikan proses yang ditawarkan JIT. Menerapkan JIT
adalah tidak mudah dan memerlukan perencanaan serta persiapan yang hati-hati dan saksama.
Perusahaan harus siap untuk menghadapi perjuangan dan kegagalan.
Kekurangan yang paling menonjol dari JIT adalah tidak adanya persediaan untuk
menyangga berhentinya produksi. Penjuaları saat ini secara konstan terancam oleh
terhentinya produksi yang tidak terduga. Bahkan, bila terjadi masalah, pendekatan JIT
22
mencoba untuk menemukan dan menyelesaikan masalah sebelum aktivitas produksi lebih
lanjut terjadi. Pengecer yang menggunakan taktik JIT juga menghadapi kemungkinan
kekurangan barang. (Pengecer JIT memesan apa yang mereka butuhkan sekarang-bukan apa
yang mereka harapkan untuk jual-idenya adalah mengalirkan barang melalui saluran selambat
mungkin, menjaga persediaan tetap rendah dan menurunkan kebutuhan menurunkan harga).
Jika permintaan meningkat jauh di atas pasokan persediaan pengecer, maka pengecer
mungkin tidak mampu untuk melakukan penyesuaian pesanan secara cepat untuk
menghindari kehilangan penjualan dan pelanggan yang terganggu. Namun di samping sisi
negatifnya, para penjual eceran tampaknya tetap teguh menggunakan JIT. Tampaknya,
kerugian akibat kehilangan penjualan sewaktu-waktu masih lebih rendah daripada tingkat
biaya menyimpan persediaan yang tinggi. Perusahaan manufaktur JIT juga bersedia
menggantikan penjualan saat ini dengan
Risiko untuk mencapai jaminan penjualan masa depan. Jaminan ini akan dicapai
dengan kualitas yang lebih tinggi, waktu tanggap yang lebih cepat, dan biaya operasional
yang lebih rendah. Namun, perusahaan harus menyadari bahwa kehilangan penjualan saat ini
adalah penjualan yang hilang selamanya. Memasang sistem JIT sehingga beroperasi dengan
interupsi yang sangat sedikit bukanlah merupakan proyek jangka pendek. Jadi, penjualan
yang hilang adalah biaya riil dari pemasangan sistem JIT.
Pilihan lain, yang mungkin sebagai pendekatan pelengkap, adalah teori kendala
(theory of constraints-TOC). Pada prinsipnya, TOC dapat digunakan bersama- sama dengan
manufaktur JIT; bagaimanapun juga, lingkungan manufaktur JIT juga mempunyai batasan.
Lebih jauh, pendekatan TOC mempunyai kualitas yang sangat menarik pada perlindungan
penjualan saat ini di samping juga berupaya meningkatkan penjualan di masa mendatang
dengan meningkatkan kualitas, mempersingkat waktu tanggap, dan menurunkan biaya
operasi.
23
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Just In Time adalah suatu sistem produksi yang dirancang untuk mendapatkan
kualitas, menekankan biaya, dan mencapai waktu penyerahan seefisien mungkin dengan
menghapus seluruh jenis pemborosan yang terdapat dalam proses produksi sehingga
perusahaan mampu menyerahkan produknya sesuai kehendak konsumen tepat waktu. Untuk
mencapai sasaran dari sistem ini, perusahaan memproduksinya hanya sebanyak jumlah yang
dibutuhkan, sehingga dapat mengurangi biaya pemeliharaan maupun menekan kemungkinan
kerusakan atas kerugian akibat menimbun barang. Tujuan utama just in time adalah untuk
meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui usaha
pengendalian biaya, peningkatan kualitas, serta perbaikan kinerja pengiriman.
B. Studi Kasus
Peranan Penerapan Sistem Persediaan Just In Time Terhadap Hasil Produksi “STUDI
KASUS PADA TOKO GROSIR SEPATU VILEVA BOGOR”
Bidang usaha yang dilakukan Toko Vileva adalah menjual berbagai macam sepatu
dengan jenis balet yang diproduksi oleh pihak ketiga atas dasar permintaan pesanan dari
pelanggan. Sepatu yang dihasilkan memiliki beragam model yang terus berkembang seiring
dengan perkembangan mode dan selera masyarakat.
Proses produksi yang dilakukan oleh Toko Vileva yang bekerja sama dengan pihak
bengkel, bermula dari adanya permintaan dari pelanggan terhadap suatu produk untuk
kemudian dilakukan proses produksi terhadap produk tersebut. Hal ini dapat meningkatkan
hubungan baik antara konsumen, pihak pengelola toko (Toko Vileva), dan pihak bengkel
yang berimbas positif bagi setiap pihak. Pihak konsumen akan mendapatkan produk
berkualitas yang diinginkan dengan berkomunikasi dengan pihak toko mengenai barang
tersebut. Pihak toko, akan mendapatkan keuntungan dalam hal nama baik, karena konsumen
yang biasanya berasal dari luar daerah akan memberikan rekomendasi kepada konsumen luar
daerah lainnya tentang nilai lebih bekerja sama dengan Toko Vileva. Sedangkan pihak
24
bengkel akan mendapatkan keuntungan berupa order produksi yang regular berkat
meningkatnya jumlah konsumen.
Dalam menerapkan metode sistem persediaan just in time pada Toko Vileva, untuk
pelaksanaan proses produksi, tahap awalnya adalah perencanaan dan analisa kebutuhan bahan
baku yang sangat diperhitungkan untuk kelancaran proses produksi. Analisa yang dilakukan
oleh pihak bengkel dan pihak toko sudah cukup memadai, karena mampu memperhitungkan
dan menganalisa kebutuhan bahan baku dalam memproduksi 100 kodi sepatu dengan jenis
P18. Hal ini ditentukan oleh pengalaman dan kualitas kerja dari pihak toko maupun pihak
bengkel.
Penghematan atas kegunaan bahan baku jelas terpenuhi karena bahan baku yang
dibeli, hampir sama dengan kebutuhan bahan baku dalam proses produksi. Hal ini terlihat
dari sisa bahan baku yang digunakan dalam proses produksi cenderung sedikit, dan hampir
semua bahan yang tersisa tersebut masih bisa digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
Dengan metode sistem persediaan just in time, kecepatan proses produksi, efektivitas
pengerjaan produk, penghematan biaya, dan kesempurnaan kualitas produk menjadi prioritas
yang mana keseluruhan hal tersebut merupakan nilai lebih dari proses produksi dengan sistem
Just in time. Sistem persediaan just in time dinilai sudah sangat baik dan cocok untuk
diterapkan di usaha dagang Toko Vileva yang melakukan proses produksi di bengkel yang
ditunjuk oleh pihak toko. Hal ini dikarenakan dalam proses produksi, persediaan tidak
disimpan, melainkan dibeli langsung dan digunakan langsung dalam proses produksi yang
berimbas pada penghematan bahan baku dan tempat penyimpanannya.
25
DAFTAR PUSTAKA
http://ejurnal.stiedharmaputra-smg.ac.id/index.php/DE/article/download/47/46
Gustini, Tini, and Desi Efrianti. "Peranan Penerapan Sistem Persediaan Just In Time
Terhadap Hasil Produksi STUDI KASUS PADA TOKO GROSIR SEPATU VILEVA
BOGOR." Jurnal Ilmiah Akuntansi Kesatuan 1.3 (2013): 221-232.
26