0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
566 tayangan97 halaman

Pengembangan Wisata Cagar Budaya Pasuruan

Dokumen tersebut membahas pengembangan kawasan cagar budaya di Kota Pasuruan sebagai wahana wisata edukasi dan sejarah. Terdapat beberapa bangunan bersejarah seperti Gedung Harmonie dan Taman Kota yang telah direvitalisasi, namun masih perlu penataan pedagang kaki lima dan fasilitas pengunjung untuk meningkatkan kenyamanan dan menjaga tata kelola kawasan.

Diunggah oleh

rising rose
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
566 tayangan97 halaman

Pengembangan Wisata Cagar Budaya Pasuruan

Dokumen tersebut membahas pengembangan kawasan cagar budaya di Kota Pasuruan sebagai wahana wisata edukasi dan sejarah. Terdapat beberapa bangunan bersejarah seperti Gedung Harmonie dan Taman Kota yang telah direvitalisasi, namun masih perlu penataan pedagang kaki lima dan fasilitas pengunjung untuk meningkatkan kenyamanan dan menjaga tata kelola kawasan.

Diunggah oleh

rising rose
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Pusat Penelitian Perkebunan Gula

Indonesia, Bangunan Cagar Budaya Gedung Harmonie dan Struktur Cagar


Budaya Taman Kota Pasuruan sebagai Wahana Wisata Edukasi dan Sejarah

Arahan Pengembangan Kawasan Cagar Budaya sebagai Wisata Edukasi dan


Sejarah. Studi Kasus : Kawasan Cagar Budaya di Jalan Pahlawan Kota
Pasuruan

Dyah Rembulan Widya Sishartami


Mata Kuliah Studi Kasus Rancang Kota
Institut Teknologi Bandung

BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, sistematika
penulisan, serta kerangka berpikir.

1.1 Latar Belakang

Pasuruan merupakan kota dengan pesona keanekaragaman budaya yang


tinggi. Di Pasuruan bermukim berbagai suku bangsa mulai dari suku Jawa, Madura,
Bugis serta keturunan Cina dan Arab. Bahkan hingga kini masih dapat ditemui satu
suku yang memiliki latar belakang sosial religi yang khas yaitu masyarakat Tengger
yang bermukim di Kawasan Tengger dan gunung Bromo.
Tidak hanya unik dari segi budaya, kota yang disebut-sebut sebagai
hinterland gerbang Kertosusilo ini juga kental akan kerukunan dan toleransi
beragama. Tercatat agama Islam, Kristen, Protestan, Katholik, Budha dan Hindu
sebagai agama yang dianut oleh masyarakat Pasuruan. Oleh karena itu
masyarakat Pasuruan terkenal sebagai masyarakat yang agamis.
Fakta adanya keanekaragaman budaya yang tinggi dan keindahan
keberagaman budaya yang mengakar kuat di Pasuruan dapat ditelisik dari
sejarahnya yang panjang. Pada zaman dahulu Pasuruan adalah sebuah kota
Bandar kuno yang pada zaman Kerajaan Airlangga dikenal dengan sebutan
“Paravan”. Pada masa itu Pasuruan dijadikan sebagai pelabuhan transit dan pasar
perdagangan antar pulau serta antar negara karena letaknya yang strategis.
Hingga kini pelabuhan tersebut masih berfungsi walaupun sebatas untuk
kepentingan transportasi laut antar pulau.
Oleh karena letaknya yang strategis tak mengherankan bila pemerintah
Hindia Belanda menjadikan Pasuruan sebagai tempat kedudukan lembaga riset
gula. Bahkan hingga kinipun Pasuruan menjadi pusat pembangunan Surabaya-
Malang-Jember dan hinterland gerbang Kertosusilo. Potensi hidrografi yang
memberikan sumbangan cukup besar bagi pemenuhan kebutuhan irigasi, bahkan
juga air minum, pariwisata dan industri membuat Pasuruan menjadi pusat
pengembangan wilayah sejak dahulu kala.
Letak Pasuruan di pesisir Utara pulau Jawa yang strategis dengan adanya
pelabuhan menjadi salah satu faktor pendukung munculnya kolonialisasi di Jawa
Timur. Selain itu adanya akses menuju beberapa kota di Jawa Timur terutama
Surabaya, mempermudah komunikasi dengan pemerintah Hindia Belanda pada
waktu itu. Kolonialisasi Belanda di Pasuruan dimulai pada tahun 1707 ketika kongsi
dagang Vereniging Oost-Industriie Compagnie atau VOC mulai melirik Pasuruan
dengan segala sumber daya alam yang dimiliki (Ibnu Rustamaji, Majalah Arkeologi
Indonesia).
Seiring berjalannya waktu dan munculnya industri gula dan perkebunan tebu
di Jawa Timur, Pasuruan diminati oleh beberapa pengusaha terutama Eropa dan
Tionghoa. Latar belakang masuknya pengusaha ini adalah adanya kebijakan
culture stelsel yang digalakkan oleh pemerintah Belanda pada masa pemerintahan
Graff Johanees van den Bosch. Ketika itu banyak sekali bermunculan perkebunan
tebu dan pabrik gula di Jawa Timur, salah satunya di Pasuruan.
Di era pemerintahan Hindia Belanda daerah Jawa Timur memang
merupakan pusat produksi gula tebu. Lokasi di Jawa Timur kala itu sangat cocok
bagi industri gula karena terdapat sawah beririgasi luas dan tenaga kerja lokal yang
melimpah. Pasuruan dikenal sebagai surganya pabrik gula meskipun saat ini
banyak yang sudah mati bahkan dibongkar pada masa Class II oleh pejuang
Indonesia demi mencegah alih fungsi oleh tentara Belanda.
Adanya perusahaan gula dan lokasi yang strategis ini mendorong
pemerintah Hindia Belanda mendirikan banyak bangunan di Kota Pasuruan yang
ditujukan sebagai tempat tinggal masyarakat Eropa dan Tionghoa, serta sarana
dan prasarana pendukung lainnya. Bangunan-bangunan beraliran Industriische
Empire banyak ditemui di beberapa sudut kota Pasuruan, di antaranya adalah
gedung di sepanjang jalan Pahlawan yaitu gedung Proofstation oost Java yang
sekarang bernama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Societeiet
Harmonie dan kawasan taman kota Pasuruan,
Peninggalan-peninggalan masa kolonial merupakan aset wisata yang
berpotensi dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan
pemerintah daerah setempat. Pada hakekatnya sumberdaya arkeologi pada zaman
kolonial merupakan peninggalan bersejarah yang memiliki arti penting, baik nilai
sejarahnya, nilai pengetahuan, maupun nilai budayanya (Libra, 2008: 224).
Di era otonomi, daerah mempunyai kewajiban melestarikan nilai sosial
budaya seperti yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Pasuruan Nomor 3
Tahun 2019 tentang perubahan atas peraturan daerah kota pasuruan nomor 24
tahun 2012 tentang pelestarian cagar budaya. Peraturan Daerah ini ditindaklanjuti
dengan terbitnya Surat Keputusan Walikota Pasuruan Nomor
188/166.423.011/2020 tentang penetapan status cagar budaya peringkat Kota
Pasuruan. Di dalam Surat Keputusan tersebut ditetapkan status cagar budaya
yang berada di jalan Pahlawan yaitu Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
sebagai Kawasan Cagar Budaya, Gedung Harmonie sebagai Bangunan Cagar
Budaya, dan Taman Kota Pasuruan sebagai Struktur Cagar Budaya.
Selama dua tahun terakhir ini Pemerintah Kota Pasuruan terus berupaya
membangun kawasan wisata heritage. Gedung-gedung bersejarah dan cagar
budaya direnovasi, namun tetap tidak meninggalkan ciri khasnya. Satu per satu
gedung peninggalan kolonial Belanda dipercantik tanpa merubah arsitektur aslinya.
Salah satunya adalah gedung Harmonie yang ada di kawasan Taman Kota Jalan
Pahlawan. Gedung megah yang sebelumnya kusam dipoles dan diperindah.
Begitu juga trotoar depan gedung Harmonie direnovasi dengan batu alam sehingga
dapat mengembalikan nuansa heritage. Pagar gedung yang dulu tampak kusam
kini dihilangkan sehingga kesan gedung yang gagah dapat kembali terlihat.
Pemandangan ini pun dapat langsung dinikmati oleh masyarakat dari jalan raya.
Di depan gedung Harmonie adalah struktur taman kota Pasuruan. Taman
kota (stadstuin) Pasuruan diperkirakan mulai dibangun sekitar tahun 1930-an.
Taman kota yang berfungsi rekreatif ini dahulunya diperuntukkan untuk orang
Belanda. Pada tanggal 7 Agustus 1934 Taman Kota Pasuruan diganti namanya
oleh dewan Belanda menjadi Burgemeester Boissevain Park untuk mengenang
jasa Bossevain yang telah memerintah Kota Pasuruan selama 6 tahun
(https://pasuruankotamuseumjatim.wordpress.com/taman-kota/). Seperti halnya
Harmonie, struktur taman kota juga direnovasi dan dipertahankan keasliannya.
Di jalan Pahlawan juga ada gedung lembaga riset gula tertua di dunia yang
didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang bernama Proofstation oost
Java (POJ), setelah nasionalisasi bernama Pusat Penelitian Perkebunan Gula
Indonesia (P3GI). Gedung ini didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun
1887. Gedung bersejarah ini telah dicat ulang dan diberikan sentuhan detail di
sejumlah titik sebagai tindak lanjut kesepakatan bersama antara Direktur Utama
PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Holding dengan Walikota Pasuruan
tentang Kerja Sama Optimasi Pemanfaatan Aset Tetap PT. Perkebunan Nusantara
III (Persero) di P3GI Pasuruan pada tanggal 30 Juli 2021. Dalam kesepakatan
tersebut diantaranya memanfaatkan bangunan Cagar Budaya P3GI sebagai
Museum Gula, di samping untuk melestarikan warisan sejarah dan budaya bangsa,
juga untuk menunjang wisata edukasi khususnya di kota Pasuruan. Kondisi ini
diperkuat dengan telah ditetapkannya Kawasan P3GI sebagai Cagar Budaya Kota
Pasuruan berdasarkan Surat Keputusan Walikota Pasuruan No.
188/166/423.011/2020 tanggal 29 April 2020 dan Situs Cagar Budaya Provinsi
Jawa Timur oleh Gubernur Jawa Timur No. 88/860/KPTS/ 013/2021 tanggal 19
Desember 2021.
Sebagai upaya mewujudkan program Pemerintah Kota Pasuruan dalam
membangun kawasan wisata heritage terutama di sepanjang jalan Pahlawan, maka
perlu dilakukan pengembangan untuk meningkatkan potensi nilai informasi, dan
promosi Cagar Budaya serta pemanfaatannya melalui penelitian, revitalisasi, dan
adaptasi secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan pelestarian.
Hal tersebut dapat ditempuh melalui kegiatan revitalisasi yang ditujukan untuk
menumbuhkan kembali nilai-nilai penting Cagar Budaya dengan penyesuaian
fungsi ruang baru yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian dan nilai
budaya masyarakat (Perda Kota Pasuruan, 2020).

1.2 Rumusan Masalah

Pada saat ini Kawasan Cagar Budaya P3GI, bangunan cagar budaya
Gedung Harmonie dan struktur cagar budaya Taman Kota Pasuruan sudah
memanfaatkan beberapa bangunan bersejarah sebagai objek wisata edukasi
bagi masyarakat umum, khususnya anak-anak sekolah. Kegiatan ini mendapat
respon yang baik dari masyarakat dengan adanya kunjungan anak-anak
sekolah dan masyarakat umum. Banyaknya animo masyarakat yang ingin
menikmati kawasan heritage di sepanjang jalan Pahlawan kota Pasuruan
menyebabkan banyaknya pedagang kaki lima yang berserak di depan stadion
Untung Suropati. Hal ini mengakibatkan pengunjung bertebaran di depan
stadion yang seringkali mengganggu jalannya transportasi di Jalan
Pahlawan karena pedagang dan pengunjung tidak beraturan.
Para pedagang tidak menyediakan tempat duduk maupun tempat parkir
sehingga pengunjung duduk bergerombol di sepanjang trotoar jalan Pahlawan.
Tentu saja hal ini menimbulkan pemandangan yang kurang baik dan trotoar di
sepanjang jalan Pahlawan menjadi kotor karena digunakan oleh pengunjung
untuk duduk-duduk dan menikmati makanan. Oleh karena itu untuk
meningkatkan potensi kawasan heritage dan wisata edukasi perlu dilakukan
upaya pengembangan kawasan dengan cara menyediakan tempat tersendiri
bagi para pedagang dan pengunjung namun tetap dapat menikmati suasana
kawasan heritage dan tidak mengganggu transportasi jalan raya di kawasan
tersebut.

Permasalahan yang ditimbulkan oleh hal tersebut adalah sebagai


berikut.
1. Munculnya pedagang di sepanjang jalan Pahlawan terutama di depan
stadion dan taman kota.
2. Belum memadainya sarana dan prasarana bagi pembeli sehingga
memanfaatkan ruang trotoar sebagai area tempat duduk pembeli
terutama di depan stadion.
3. Badan jalan sering digunakan sebagai tempat parkir.
4. Transportasi di Jalan Pahlawan melambat karena aktivitas pedagang di
sebelah kanan jalan sedangkan pembeli di sebelah kiri jalan (di depan
stadion).
5. Belum adanya pemecahan permasalahan untuk menertibkan antara
pedagang dan pembeli di kawasan heritage jalan Pahlawan.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa dan bagaimana
pengembangan Kawasan Cagar Budaya Pusat Penelitian Perkebunan Gula
Indonesia, Bangunan Cagar Budaya Gedung Harmonie, dan Struktur Cagar
Budaya Taman Kota Pasuruan sebagai wahana wisata pendidikan dan sejarah
terpadu?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah


mendeskripsikan pengembangan Kawasan Cagar Budaya Pusat Penelitian
Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Bangunan Cagar Budaya Gedung Harmonie,
dan Struktur Cagar Budaya Taman Kota Pasuruan sebagai wahana wisata
pendidikan dan sejarah terpadu.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengambil kebijakan,


masyarakat, dan warga (pelaku usaha) di sekitar Kawasan Cagar Budaya Pusat
Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Bangunan Cagar Budaya Gedung
Harmonie, dan Struktur Cagar Budaya Taman Kota Pasuruan. Manfaat bagi
pengambil kebijakan adalah sebagai arahan pengembangan Kawasan Cagar
Budaya Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Bangunan Cagar Budaya
Gedung Harmonie, dan Struktur Cagar Budaya Taman Kota Pasuruan sebagai
wisata pendidikan dan sejarah terpadu, bagi masyarakat bermanfaat sebagai
alternatif wahana wisata pendidikan dan sejarah, sedangkan bagi warga (pelaku
usaha) di sekitar kawasan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat
meningkatkan pendapatan mereka.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


1.5.1 Ruang Lingkup Wilayah

Wilayah yang akan dikaji pada studi ini adalah kawasan heritage di jalan
Pahlawan Kota Pasuruan sesuai dengan Surat Keputusan Walikota Pasuruan
Nomor 188/166.423.011/2020 tentang penetapan status cagar budaya peringkat
Kota Pasuruan. Adapun status cagar budaya yang berada di jalan Pahlawan
adalah sebagai berikut:
1. Kawasan Cagar Budaya : Pusat Penelitian Perkebunan Gula
Indonesia
2. Bangunan Cagar Budaya : Gedung Harmonie
3. Struktur Cagar Budaya : Taman Kota Pasuruan

Adapun batasan wilayah studi sebagai berikut.


Batas sebelah Utara : Taman Kota
Batas sebelah Selatan : BRI
Batas sebelah Barat : Jalan Diponegoro
Batas sebelah Timur : Jalan Tengger
1.5.2 Ruang Lingkup studi
Objek yang dikaji dalam studi ini adalah kegiatan dan pemanfaatan
ruang oleh pedagang di kawasan taman kota dan stadion Untung Suropati.
Kegiatan pedagang dan pembeli dalam studi ini ditunjukkan dari perilaku
pedagang dan pembeli, memperhatikan bagaimana pedagang memilih lokasi,
waktu berjualan, dan cara berdagang di kawasan heritage tersebut.

1.6 Sistematika Penulisan


1.7 Kerangka Berpikir

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Kota Pasuruan

Pasuruan adalah daerah di Jawa Timur yang letaknya berada di sebelah


Tenggara Kota Surabaya. Wilayah Kabupaten Pasuruan berbatasan dengan
Kabupaten Sidoarjo di sebelah Utara, Kabupaten Probolinggo di sebelah Timur,
Kabupaten Malang di sebelah Selatan, dan Kabupaten Mojokerto di sebelah Barat.
Pasuruan merupakan salah satu Kabupaten tertua di Jawa Timur yang telah eksis
sejak tahun 929, atau berusia hampir 1.100 tahun. Sedangkan Kota Pasuruan
berdiri pada tahun 1686, bertepatan dengan pengangkatan Untung Suropati
sebagai Adipati Pasuruan (Kompas, 2022).
Sejarah Pasuruan dapat ditelusuri sejak zaman kerajaan Hindu-Budha di
Nusantara. Di masa lalu Pasuruan adalah bekas dari Kerajaan Kalingga atau
Holing, yang diperintah oleh Ratu Shima. Setelah Kerajaan Kalingga runtuh,
muncul Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Pada abad ke-10, Mpu Sindok
memindahkan pusat pemerintahan Mataram Kuno ke Jawa Timur, tepatnya ke
daerah Tawlang, yang berada di daerah Jombang. Pada masa pemerintahannya di
Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur atau dikenal sebagai Kerajaan
Medang, Mpu Sindok mengeluarkan banyak prasasti. Salah satu prasasti tersebut
bernama Prasasti Cungrang, yang berada di Dusun Sukci, Desa Bulusari,
Kecamatan Gempol, Pasuruan. Prasasti Cungrang atau Cunggrang menyebut
bahwa Cunggrang (sekarang Dusun Sukci) ditetapkan sebagai desa Sima (tanah
perdikan) bagi pertapaan untuk pemujaan Rakryan Bawang, ayah dari permaisuri
Mpu Sindok. Prasasti tersebut menggunakan penanggalan tahun Saka, yang
setelah ditafsirkan menjadi 18 September 929 Masehi.
Berdasarkan pertimbangan perjalanan sejarah, 18 September 929 kemudian
ditetapkan sebagai hari lahir Kabupaten Pasuruan. Keputusan ini tertuang dalam
Peraturan Daerah Kabupaten Pasuruan Nomor 8 Tahun 2007 tentang Hari Jadi
Kabupaten Pasuruan, yang menetapkan 18 September sebagai Hari Jadi
Kabupaten Pasuruan.
Di masa Kerajaan Kahuripan pada abad ke-11, Pasuruan merupakan kota
pelabuhan kuno yang mempunyai Pelabuhan yang disebut Tanjung Tembikar.
Oleh karena itu, Pasuruan di masa lalu dikenal dengan nama “Paravan.” Orang
Tionghoa menyebut Pasuruan sebagai “Yanwang” atau “Basuluan.” Ada juga yang
menyandingkan nama Pasuruan dengan kata ‘Pasar dan ‘Oeang’. Ini tidak lepas
dari ramainya perdagangan di Pasuruan dengan adanya Pelabuhan Tanjung
Tembikar, sehingga mampu menarik banyak kaum pedagang untuk datang ke
Pasuruan. Berkat pelabuhan ini pulalah di masa lalu Kota Pasuruan menjadi
tersohor sebagai salah satu pusat terjadinya transaksi dagang antar pulau di
kawasan Timur Nusantara.
Era Kerajaan Majapahit hingga Mataram Islam di era Kerajaan Majapahit,
keberadaan Pasuruan sebagai hunian masyarakat dapat ditemukan dalam Kitab
Negarakertagama. Nama kuno Pasuruan adalah Pasoeroean, yang artinya tempat
tumbuh tanaman suruh (sirih) atau kumpulan daun sirih. Kata ini diucapkan oleh
Raja Hayam Wuruk saat sedang berkunjung ke wilayah Pasuruan. Setelah
Kerajaan Majapahit runtuh, pengaruh Islam mulai mendominasi wilayah Jawa,
termasuk Pasuruan. Konon, Sidogiri merupakan daerah awal Sunan Giri (1442-
1506) meletakkan dasar dakwahnya dengan membuka tempat mengaji.
Peran Pasuruan dalam menyebarkan agama Islam berlanjut pada masa
Kerajaan Demak (1475-1568), Kerajaan Pajang (1568-1582), dan Kerajaan
Mataram Islam. Ketika Kerajaan Mataram Islam di bawah pemerintahan Sultan
Agung (1613-1645), wilayah Pasuruan berhasil dikuasai. Kyai Darmojoedo I atau
Darmoyuda kemudian diangkat sebagai adipati atau Bupati pertama Pasuruan
pada periode 1613-1645. Pada 8 Februari 1686, Untung Suropati ditunjuk sebagai
adipati Pasuruan kelima oleh Pangeran Nerangkusuma dari Mataram Islam.
Selama hampir dua dekade pemerintahan Untung Suropati selalu dipenuhi dengan
pertempuran melawan Belanda. Untung Suropati juga dikenal sebagai tokoh yang
membunuh Kapten Tack, seorang perwira VOC dari Belanda. Hari pengangkatan
Untung Suropati pada 8 Februari 1686 kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Kota
Pasuruan.
Pasuruan dilewati oleh sungai yang cukup besar bernama Sungai Gembong
yang membelah kota dari Utara ke Selatan. Pada zaman penjajahan Belanda,
sungai ini digunakan sebagai jalur angkut hasil bumi dari daerah pedalaman
menuju pesisir. Sepanjang abad ke-19, ketika eksploitasi pemerintah kolonial
Belanda diintensifkan melalui tanam paksa, Pasuruan menjadi pelabuhan untuk
membawa hasil perkebunan langsung ke Eropa. Pada periode ini, Pasuruan juga
dimanfaatkan oleh Hindia Belanda sebagai kota pelabuhan yang mendistribusikan
perdagangan hasil bumi ke daerah sekitar.
Selain memiliki pelabuhan yang ramai, pada abad ke-19 wilayah Pasuruan
telah dilewati Jalan Raya Pos (grotepostweg) yang menghubungkan kota-kota
pantai Utara Jawa, dari Anyer ke Panarukan juga melalui Kota Pasuruan yang
dibangun pada masa pemerintahan Daendels pada tahun 1808-1811. Hal ini bisa
diinterpretasikan sebagai perwujudan ide dari generasi yang terdahulu. Oleh
karena itu, hubungan Pasuruan dengan kota-kota lain seperti Surabaya (disebelah
Barat), Probolinggo dan kota-kota ujung Timur Jatim, serta daerah pedalaman
seperti Malang menjadi sangat mudah. Di samping itu, sejak tahun 1867 dibangun
jalur kereta api Surabaya-Pasuruan. Ditambah dengan pelabuhan lautnya, maka
infrastruktur yang baik sebagai salah satu syarat bagi sebuah kota sudah bukan
masalah bagi Pasuruan. Tidak heran kemudian daerah itu dulunya bernama
‘passer oeang’ yang kemudian berubah menjadi Pasuruan, karena memang
menjadi tujuan perdagangan bagi daerah sekitarnya (Hadinoto,..).

2.2 Pembentukan Desentralisasi Kota Pasuruan

Pada masa penjajahan Belanda, Pasuruan dijadikan sebuah karesidenan


yang terdiri dari tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Bangil, dan
Kabupaten Malang. Berdasarkan Staatblad 1900 No 334 tanggal 1 Januari 1901,
dibentuk Kabupaten Pasuruan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Langkah ini
ditindustriaklanjuti dengan pembentukan Kota Praja (Gementee) Pasuruan
berdasarkan Staatblat 1918 No. 320 dengan nama Stads Gementee van
Pasoeroean pada 20 Juni 1918 (Van Java, Dinas Komunikasi, Informatika, dan
Statisika Pasuruan, 2023).
Kebijakan desentralisasi secara resmi diterapkan oleh pemerintah Hindia
Belanda pada tahun 1903 melalui Undang-Undang Desentralisasi. Tujuan
pemberlakuan Undang-Undang tersebut dimungkinkan adanya pembentukan
daerah-daerah otonom di seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk di dalamnya
Kota Pasuruan. Hal ini dipandang perlu karena sistem sentralisasi tidak mampu
lagi mengakomodasi pekerjaan yang bersifat lokal. Dengan sistem desentralisasi,
pemerintah pusat mulai menyerahkan urusan dan kepentingan lokal kepada
pemerintah daerah setempat (Dwi Ratna Nurhajarini, Jantra Jantra Vol. V, No. 10,
Desember 2010, GEMEENTE PASURUAN 1918-1942 ).
Pada bentuk pemerintahan ini, personalia dan proyek-proyek yang ditujukan
untuk kepentingan wilayah Gemeente (Kota) Pasuruan tidak lagi menjadi urusan
pemerintah pusat. Dinas Pengairan dan Pekerjaan Umum Negara tidak lagi
mengurusi keperluan di tingkat lokal. Peraturan tentang pembentukan Gemeente
Pasuruan terdapat dalam Lembaran Negara tanggal 1 Juli, tahun 1918 nomor 320.
Kota Pasuruan yang mendapat status sebagai Gemeente (Kotapraja)
berdasar Staatersebutlad tahun 1918 No 320. Dalam keputusan tersebut,
diresmikan pembentukan Gemeente Pasuruan dan pembentukan sebuah Dewan
Kota (Gemeenteraad) yang mengatur pengelolaan yang sebelumnya menjadi kota
(gemeente). Bidang yang masih menjadi tanggung jawab finansial negara adalah
pengelolaan dinas kereta api dan tram. Pasuruan pada tahun 1928 melalui
Staatersebutlad tahun 1928 No. 502 diubah menjadi sebuah stadgemeente
(kotamadia) (Dwi Ratna Nurhajarini, Jantra Jantra Vol. V, No. 10, Desember 2010,
GEMEENTE PASURUAN 1918-1942 ).
Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 14 Agustus 1950,
Pasuruan dinyatakan sebagai daerah otonom Kotamadya, yang terdiri dari tiga
desa dalam satu kecamatan. Pada 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan
diperluas menjadi 3 kecamatan dengan 19 kelurahan dan 15 desa. Berdasarkan
UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, terjadi perubahan nama dari
Kotamadya menjadi kota, sehingga Kotamadya Pasuruan berubah menjadi Kota
Pasuruan. Kemudian, pada 12 Januari 2002 terjadi perubahan status desa menjadi
kelurahan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2002. Dengan
demikian, wilayah Kota Pasuruan terbagi menjadi 34 kelurahan. Sedangkan
Kabupaten Pasuruan saat ini terdiri dari 24 Kecamatan yang terdiri dari 34
kelurahan dan 341 desa (Kompas, 2022, Widya Lestari Ningsih).

2.3 Penyebaran Wilayah Hunian Berdasarkan Etnis di Pasuruan

2.3.1 Etnis Cina

Sebelum kedatangan pengaruh kolonial, daerah Pasuruan telah berabad-


abad lamanya dihuni oleh orang-orang pribumi yang mempunyai kebudayaan
cukup tinggi. Hal ini karena pengaruh dari Kerajaan Majapahit dan kemudian
menjadi daerah pengaruh kekuasaan Kerajaan Mataram Islam. Pada masa
pengaruh kedua kerajaan tersebut, masuklah pedagang-pedagang asing, salah
satunya Cina. Memang selain orang-orang pribumi, Cina, dan Belanda masih
banyak pedagang-pedagang lain (baik lokal maupun asing) yang ikut meramaikan
wilayah Pasuruan. Masing-masing dari ketiga etnis tersebut (pribumi, Cina, dan
Belanda) menempati lokasi tertentu yang tidak sama. Orang-orang pribumi selaku
penduduk asli menempati hampir di seluruh pelosok daerah Pasuruan. Sementara
kelompok pendatang (Cina dan Belanda) menempati lokasi tertentu sesuai dengan
kepentingannya masing-masing (Chawari, 2002). Berka/a Arkeologi Th. XXII (1): 68-80.
Masing-masing kelompok etnis mempunyai ciri khas yang melekat padanya
sehingga dapat diketahui keberadaannya secara spesifik. Kelompok etnis China
ditunjukkan dengan ciri khas bangunan tempat tinggalnya dan juga bangunan
klenteng sebagai tempat peribadatan mereka. Demikian juga dengan keberadaan
etnis Belanda dapat diketahui berdasarkan kekhasan bangunan Belanda serta
adanya gereja sebagai tempat melaksanakan kegiatan ritualnya. Dengan melihat
ciri khas yang berbeda antar kelompok etnis tersebut maka dapat diketahui lokasi
tempat tinggal mereka dalam kelompok-kelompok tertentu di suatu kota seperti
Pasuruan. (Chawari, 2002). Berka/a Arkeologi Th. XXII (1): 68-80.
Sebagai kota pelabuhan, Pasuruan mempunyai penduduk yang relatif lebih
heterogen jika dibandingkan dengan kota-kota pedalaman di Jawa. Sejak ramainya
perdagangan di Pasuruan terdapat banyak sekali pemukiman dari berbagai etnis,
dengan alasan untuk berdagang. Diantaranya adalah etnis China, yang
diperkirakan sudah ada sejak abad ke 17 di Pasuruan. Bahkan menurut
pengamatan ’Tombe’ pengelana bangsa Perancis yang pernah mengunjungi
komunitas China di Pasuruan pada th. 1803, memperkirakan, penduduk China
yang hidup berkelompok waktu itu, merupakan sepertiga dari penduduk Pasuruan
Franke (1997: vol. 2 bagian 2 : 831-844 dalam Handinoto,….).
Orang Cina adalah pemukim asing yang hampir selalu dijumpai di Jawa
bahkan sejak masa lampau. Pemukiman Cina dapat dijumpai di berbagai kota kuno
di Jawa, baik di kawasan pesisir maupun pedalaman. Pada umumnya, orang-orang
Cina yang terdapat di berbagai kota di Jawa tersebut bergerak di bidang ekonomi,
khususnya di sektor perdagangan (Kartodirjo, 1992; Abbas dan Enny Ratna Dewi,
1995, Chawary, Berka/a Arkeologi Th. XXII (1) 68). Mereka berperan di sektor jasa
yang menjembatani antara produsen dan konsumen dan jarang sekali yang
bergerak di bidang produksi. Kenyataan ini agak berbeda dengan yang terjadi di
luar Jawa, di mana mereka juga terlibat di sektor produksi. Misalnya di Kalimantan
Barat, orang-orang Cina sudah sejak dahulu terlibat di sektor produksi, di antaranya
sebagai petani, penambang emas, atau perajin keramik (Wibisono, 1992).
Wibisono, Sonny. Chr. 1992. Emas di Kalimantan Baral: Kajian Etnohistori Untuk
Arkeologi. PIA IV. Malang.
Gambar….Pelabuhan Pasoeroean Hindia bElanda

Menurut Chawari (2002), secara umum kemunduran dan kehancuran kota-


kota pelabuhan dagang di pantai Utara Jawa salah satunya disebabkan oleh
perkembangan politik internal di Jawa. Hal ini akibat munculnya dua kekuatan
kerajaan di pedalaman Jawa yaitu Pajang dan Mataram. Munculnya dua kekuatan
yang waktunya berurutan tersebut mengakibatkan terhentinya perdagangan Cina di
Jawa. Tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi kekuatan VOC Belanda, sebab
kedudukan Batavia pada abad XVII telah mantap, sehingga dapat mendukung
kegiatan perdagangan kolonial Belanda di Jawa (Graaf, 1998). Graaf, DR. H.J. de
dkk. 1998. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI Antara Historisitas dan Mitos.
Yogyakarta: Penerbit PT Tiara Wacana.
2.3.2 Etnis Belanda
Pedagang asing yang ikut meramaikan perdagangan di daerah Pasuruan
selain etnis Cina adalah orang-orang Belanda. Daerah Pasuruan sebelum
kedatangan pengaruh asing, semula merupakan pelabuhan tradisional yang cukup
ramai. Orang-orang Belanda yang hadir di Indonesia (khususnya di Jawa) pada
akhir abad XVI semula bertujuan untuk berdagang semata. Lama kelamaan tujuan
semula berubah menjadi keinginan menguasai sumber-sumber perdagangan.
Penguasaan terhadap daerah-daerah tersebut diawali di daerah Pesisir Utara
Jawa, kemudian ke seluruh Pulau Jawa dan Nusantara (Soekiman, 2000).
Setelah berhasil menguasai daerah-daerah penting, selanjutnya Belanda
berusaha untuk mempertahankannya dengan cara membuat pemerintahan baru di
daerah yang dikuasai. Hal ini yang mendasari timbulnya kota-kota yang memiliki
ciri-ciri asing (Belanda). Selanjutnya adanya pemukiman orang-orang asing di
Pasuruan pada abad XVIII antara lain disebutkan dalam Babad Kitha Pasuruan.
Babad ini memberikan gambaran tentang Kota Pasuruan pada masa pemerintahan
Bupati Nitidiningrat yang berkuasa pada sekitar pertengahan abad XVIII, yaitu
sebagai berikut: Setelah itu sang nata (Bupati) setiap hari mengadakan pengaturan
kota. Jalan-jalan dibersihkan. Kampung kampung yang terdiri atas kampung Jawa,
Cina, Madura, dan Belanda diatur menurut tempatnya masing-masing, sehingga
menjadi indah dipandang. Nagari (kota) makin makmur dan terkenal hingga ke
daerah lain. Karenanya banyak orang luar Pasuruan yang datang ke tempat
tersebut bersama istri dan anak-anak mereka sambil membawa barang dagangan.
Mereka kemudian berjualan dan memperoleh banyak keuntungan. Makin lama
makin banyak orang yang datang, seperti orang Cina, Belanda, Mandar, Bawean,
dan Bugis. Orang Sumbawa menjual kuda dan orang Belanda mendirikan loji atau
villa (Tjiptoatmodjo, 1983).
Karesidenan Pasuruan pada waktu itu meliputi tiga kabupaten, yaitu
Pasuruan, Bangil dan Malang, serta terbagi menjadi 12 Distrik yaitu Kraton, Kota,
Rajasa, Winongan, Keboncandi, Jati, Grati, Melaten, Gempeng, Ngempit, Tengger,
dan Wangkal. Kedudukannya sebagai pusat atau ibukota karesidenan menjadikan
Kota Pasuruan sebagai denyut nadi kegiatan masyarakat di dalamnya, termasuk
masyarakat Eropa yang menetap di Kota Pasuruan sejak akhir abad ke-18
(Chawary, 2002).

Gambar….Aloon-aloon van Pasoeroean Between the 19th and 20th century


(https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/852680)
Pada abad ke 19 di Hindia Belanda berlaku undang-undang yang
dinamakan sebagai Wijkenstelsel. Pada jaman kolonial Belanda, masyarakat di
Jawa dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan Ras. Kelompok pertama adalah orang
Eropa (yang didominasi oleh orang Belanda). Kelompok kedua adalah Pribumi.
Dan ketiga adalah kelompok Timur Asing (Vreemde Oosterlingen), yang terdiri dari
orang-orang Tionghoa, Arab dan India yang lahir atau tinggal di Hindia Belanda
selama 10 tahun. Muhammad I’mad Hamdy KAWASAN ELIT MASYARAKAT EROPA DI KOTA
PASURUAN TAHUN 1918 – 1942, AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, Volume 10, No. 2 Tahun
2021

Gambar….Pasoeroean 30 April tahun 1927

Untuk mempertegas pemisahan ini pada tahun 1835, diadakan undang-


undang yang disebut sebagai ‘wijkenstelsel’ di P. Jawa. Peraturannya menyatakan
bahwa orang Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) yang menjadi penduduk Hindia
Belanda, dikumpulkan di daerah-daerah terpisah dibawah pimpinan kepala mereka
masing-masing. Dari undang-undang tersebut muncul pemimpin-pemimpin setiap
kelompok etnis yang akan melaporkan kondisi kawasannya kepada pemerintah
Hindia-Belanda, tidak jarang juga pemimpin etnis ini mengatur jalannya hukum dan
pemungutan pajak di kawasan yang mereka pimpin.
Sebagaimana yang dilaporkan oleh Handinoto (….), di kawasan pecinan
Kota Pasuruan dipimpin oleh seorang Kapitan China. Kapitan Cina pada zaman
Pemerintahan Hindia-Belanda menjadi sebuah jabatan yang prestisius, sebab
hanya orang terkemuka dan memiliki peran serta hubungan dengan orang Eropa
(kompeni) yang bisa menempati jabatan tersebut. Di Kota Pasuruan ada beberapa
keluarga yang berpengaruh dan pernah menduduki jabatan sebagai Kapitan Cina,
yaitu keluarga Han dan Kwee. Keluarga Han dikenal sebagai landheer atau tuan
tanah di daerah Besuki dan Panarukan serta pemilik pabrik gula Plered, sedangkan
keluarga Kwee juga dikenal sebagai pengusaha gula di Pasuruan dan berhasil
membangun banyak properti menumental seperti rumah singa yang ada di Jalan
Hasanudin Pasuruan. Lihat: Handinoto, Pasuruan dan Arsitektur Etnis China Akhir
Abad 19 dan Awal Abad ke 20, (Surabaya: Simposium Nasional Arsitektur
Vernakular 2: Pertemuan Arsitektur Nusantara), hlm. 2.
Meskipun peraturan ‘wijkenstelsel’ ini dihapuskan pada tahun 1920, namun
berdampak hingga kini, terutama keterpisahan (separateness) orang Tionghoa dari
pribumi (Lea E. William, Overseas Chineses Nationalism: The Genesis of The Pan-
Chinese Movments in Indonesia 1900-1916, Glencoe, Illinois Free Press, 1960, hal.
31). Orang China yang sebelumnya memang banyak yang hidup secara
berkelompok di kota-kota di Jawa mendiami sebuah satuan hunian yang biasa
disebut sebagai Pecinan. Hampir semua kota-kota (terutama di Jawa) mempunyai
daerah hunian yang disebut sebagai Pecinan. Pada peralihan abad 19 ke abad 20
undang-undang wijkenstelsel ini sudah agak diperlonggar, bahkan pada tahun
1910-an kemudian dihapus.
Namun demikian, undang-undang tersebut telah berdampak pada tata kelola
wilayah hunian etnis hingga sekarang. Dalam peta Gemeente Pasuruan, kota ini
dibelah oleh aliran sungai Gembong. Di sebelah Timur sungai Gembong
merupakan kawasan Europeesche Wijk dan disebelah Barat sungai adalah
kawasan Vreemde Oosterlingen Wijk. Sedangkan penduduk pribumi menyebar di
kawasan hunian orang Cina dan Orang Eropa, namun mereka lebih terkonsentrasi
di wilayah pelabuhan dan alun-alun berbaur dengan orang Arab dan India seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 1 (Hamdy, 2021).
Keterangan Gambar: wilayah yang diarsir warna biru adalah kawasan hunian
orang Eropa, wilayah yang diarsir warna merah adalah kawasan hunian orang
Cina, dan wilayah yang diarsir warna hijau adalah kawasan hunian orang Arab
dan priyayi pribumi. Sumber: kolonialarchitecture.eu

Selain orang Eropa, di Gemeente Pasuruan juga dihuni oleh orang Cina,
Arab dan pribumi dengan aktivitas perdagangan di sekitar pelabuhan Kota
Pasuruan. Khususnya orang Cina sudah ada di Pasuruan sejak abad ke-17,
kegiatan perdagangan mereka kemudian menciptakan kelompok elit lokal yang
secara kebudayaan berorientasi pada China daratan tetapi juga dipengaruhi oleh
kebudayaan setempat, pada periode berikutnya ketika orang Eropa datang mereka
juga saling berinteraksi dan menghasilkan pola kebudayaan dan kelompok elit etnis
di Kota Pasuruan. Lihat: Handinoto, Pasuruan dan Arsitektur Etnis China Akhir
Abad 19
Menurut Chawari (2002), penyebaran hunian berdasarkan etnis pada tahun
1830 di Kota Pasuruan dapat digambarkan sebagai berikut: Di daerah dekat pantai
terdapat perkampungan orang-orang Cina, Moor atau Arab. Di antara kelompok
etnis-etnis tersebut, orang-orang Cina yang paling berpengaruh. Kegiatan
perdagangan cukup ramai, sehingga di tepi pantai Bangil hingga Pasuruan
bermukim ratusan pedagang dari Melayu, Bugis, dan Mandar. Sebagian besar
orang Eropa (Belanda) di daerah Pasuruan tinggal di distrik Kota sebanyak 329
jiwa, sedangkan di distrik Kraton sebanyak 7 jiwa. Orang-orang Jawa bertempat
tinggal di semua distrik, demikian juga dengan orang Madura yang mendiami di
setiap distrik kecuali di distrik Ngempit. Sejak tahun 1830 jumlah penduduk
Karesidenan Pasuruan semakin meningkat. Hal ini terutama disebabkan karena
adanya pembukaan tanah-tanah perkebunan di daerah tersebut yang menyerap
banyak sekali pendatang dari daerah lain untuk menjadi tenaga kerja, seperti di
perkebunan tebu dan kopi (Tjiptoatmodjo, 1983 dalam Chawari, 2002).
Perkembangan fisik kota Pasuruan, baik kota lokal tradisional maupun yang
terkena pengaruh asing atau kolonial, dipengaruhi oleh faktor budaya setempat.
Kota yang terkena pengaruh Islam maka budaya Islam ikut berperan di kota
tersebut. Demikian juga kota yang terkena pengaruh asing maka budaya asing ikut
mempengaruhi kota tersebut.
Pada masa kolonial Belanda, kota Pasuruan mempunyai beberapa ciri fisik.
Ciri-ciri fisik tersebut dapat dilihat dari keberadaan bangunan-bangunan Belanda
dengan ciri khasnya. Bangunan-bangunan tersebut dapat dibedakan menjadi
bangunan-bangunan yang bersifat pribadi (rumah tinggal) dan bangunan-bangunan
yang bersifat umum (bangunan kantor, gereja, hotel, gudang, tempat rekreasi atau
taman kota, tempat bersenang-senang atau kamar bola atau sociteit). Dengan
demikian unsur pembentuk kota Pasuruan pada masa kolonial berkaitan erat
dengan bangunan-bangunan tersebut.
Bangunan-bangunan Belanda di Kota Pasuruan sebagian besar terpusat di
4 ruas jalan yaitu Jalan Balai Kota, Jalan WR. Supratman, Jalan Veteran, dan Jalan
Pahlawan. Sedangkan sebagian kecil tersebar di 14 jalan yaitu Jalan Hasanudin,
Jalan Pasar Ikan, Jalan Alun-alun Sebelah Timur, Jalan Alun-alun Sebelah Utara,
Jalan Pelabuhan, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Gadjah Mada, Jalan Panglima
Sudirman, Jalan Sukarno Hatta, Jalan Cemara, Jalan Wahidin Utara, Jalan
Nusantara, Jalan Kartini, dan Jalan Anjasmara (Chawari, 2000). Bangunan
bercorak kolonial tersebut dapat dikelompokkan ke dalam 19 jenis bangunan yang
terletak di Kota Pasuruan Lama atau Kota Tua (masa kolonial Belanda).
Kota Pasuruan Lama atau Kota Tua berlokasi di sepanjang Jalan Balai Kota
ke Selatan sampai ke Jalan Pahlawan dan di antara ke dua ruas jalan tersebut
yaitu ke Barat sepanjang Jalan WR. Supratman dan ke Timur sepanjang Jalan
Veteran terutama di bagian Barat. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya
bangunan-bangunan penting yang berkaitan erat dengan ciri-ciri sebuah pusat kota
di sepanjang Jalan Balai Kota mulai dari arah Utara. Bangunan-bangunan tersebut
adalah Sekolah Teknik dan Kantor Balai Kota yang berada di sisi Barat jalan
tersebut. Sedangkan di sisi Timur terdapat bangunan Gereja Katolik Roma,
Sekolah Eropa Tingkat 2, Hotel Morbeck, Kantor Residen, dan Hotel Marine.
Selanjutnya ke arah Selatan yaitu di Jalan Pahlawan di sisi Barat terdapat
bangunan Hotel Tonjas, rumah residen dan rumah-rumah tinggal warga Belanda
serta beberapa bangunan yang berfungsi sebagai perkantoran.
Sementara itu, di sisi Timur jalan terdapat bangunan-bangunan yaitu Kamar
Bola atau sociteit atau Harmonie, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia,
Sekolah Eropa Tingkat I, dan rumah-rumah tinggal warga Belanda. Antara Jalan
Balai Kota dengan Jalan Pahlawan, ke arah Barat terdapat Jalan WR. Supratman.
Di Jalan WR. Supratman terdapat bangunan-bangunan antara lain Hotel Centrum
(sekarang menjadi Gereja Kristen Jawa) dan beberapa rumah tinggal warga
Belanda. Sementara itu, ke arah Timur di Jalan Veteran terdapat beberapa
bangunan yang semuanya merupakan rumah tinggal warga Belanda. Dari Jalan
Pahlawan ke Selatan yaitu di Jalan Wahidin Utara terdapat Pabrik Gula.
Sementara itu, di ujung Utara Jalan Balai Kota belok ke arah Timur yaitu sepanjang
Jalan Anjasmara terdapat Gereja GPIB-PNIEL. Dari Jalan Anjasmara ke arah Barat
lurus menembus Jalan Sukarno Hatta terdapat beberapa bangunan Belanda yaitu
pasar lama, stasiun, dan gudang. Berdasarkan peta lama diketahui ada Toko
Opium yang terletak tidak jauh dari pusat kota yaitu di Jalan Hayam Wuruk. Di
daerah ini juga terdapat penjara yang terletak di Jalan Panglima Sudirman.
Beberapa bangunan kolonial lainnya berada di Jalan Hasanudin. Di jalan ini
terdapat sembilan bangunan, semuanya berfungsi sebagai rumah tinggal. Tiga
buah bangunan diantaranya merupakan bangunan campuran antara kolonial
dengan Cina yang merupakan milik keluarga Kweek yaitu orang dari etnis Cina
yang pernah ikut mengelola "de Brome Machine Shops" (Chawari, 2002).

2.4 Pasuruan di Masa Sekarang

Nama Pasuruan dewasa ini terdiri atas dua daerah tingkat dua, yaitu
Kotamadya Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan. Secara geografis Kota Pasuruan
yang berkaitan dengan era Kolonial Belanda hanya meliputi sebagian kecil dari
Kotamadya Pasuruan karena Kabupaten Pasuruan letaknya mengelilingi
Kotamadya Pasuruan, kecuali bagian Utara yang merupakan daerah pantai yaitu
Selat Madura.
Kotamadya Pasuruan sekarang ini mempunyai batas wilayah yaitu sebelah
Utara merupakan daerah pantai (Selat Madura), daerah paling Selatan terdiri atas
Desa Pohjentrek, Desa Wirogunan, dan Desa Tembokrejo, Kecamatan Purworejo
dan Desa Sekar Gadung, Kecamatan Bugul Kidul, daerah paling Timur terdiri atas
Desa Blandongan dan Desa Bakalan, Kecamatan Bugul Kidul, dan daerah paling
Barat terdiri atas Desa Karang Ketug, Desa Randusari, dan Desa Krapyakrejo,
Kecamatan Gadingrejo atau berada di ujung paling Barat Jalan Sukarno Hatta
(Chaldun, tt). Berka/a Arkeologi Th. XXII (/) 73
Dengan demikian jika batas-batas kota Pasuruan masa sekarang
dibandingkan dengan batas kota Pasuruan pada masa kolonial Belanda
berdasarkan konsentrasi bangunan Belanda, maka terlihat bahwa Pasuruan di
sekitar abad XVIII s.d. XIX hanya merupakan bagian kecil dari wilayah Pasuruan
saat ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa Kotamadya Pasuruan dewasa ini telah
mengalami pengembangan terutama dari segi luasan wilayah administratif.

2.5 Sejarah Industri Gula di Jawa mendorong berdirinya P3GI di Pasuruan

Sejarah industri gula di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan


industri gula di Jawa pada era pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa itu di
Jawa terdapat 168 pabrik gula (PG) berbahan baku tebu. Industri gula Jawa kala
itu mampu menjadi penopang utama perekonomian pemerintahan Hindia Belanda
dan menjadi pemasok utama devisa bagi kerajaan Belanda. Oleh karenanya,
pabrik gula (PG) yang ada di Jawa saat ini merupakan warisan industri gula di era
pemerintah kolonial Belanda. Sekitar 35 PG di Jawa masih bertahan dan tetap
memproduksi gula hingga sekarang. Sejak saat itu praktis tak banyak
pembangunan PG baru di Jawa.
Penjajahan kolonial Hindia Belanda membawa industri gula Indonesia
mencapai masa kejayaan pada awal abad XX. Tepatnya pada awal dekade ketiga
abad XX yaitu pada 1929, prestasi tertinggi industri gula Hindia Belanda mencapai
2,97 juta ton dan ekspor gula dari Jawa 2,66 juta ton pada tahun yang sama. Pada
saat itu jumlah pabrik gula (PG) berbahan baku tebu yang beroperasi di Jawa
sebanyak 168 pabrik dan produktivitas gula sekitar 148 kw/ha dengan rendemen
11,82% (Darmodjo dkk, 1985). Puncak kejayaan tersebut terjadi setelah nyaris
mengalami kehancuran akibat penyakit sereh yang melanda industri gula di Jawa.
Kinerja yang dicapai pada tahun 1930-an itu ternyata prestasi tertinggi terakhir
yang pernah dicapai dalam sejarah industri gula Indonesia.
Masa kejayaan Industri gula di Jawa pada era tersebut dapat dicapai karena
adanya sistem tanam paksa dengan operatornya yang terkenal yaitu Johannes van
den Bosch. Lahan yang digunakan untuk tebu adalah lahan sawah yang subur. Di
samping kemudahan dalam memperoleh lahan sawah yang subur, keberhasilan
tersebut dicapai karena tenaga kerja yang murah dan disiplin dalam penerapan
teknologi sehingga biaya produksi dapat ditekan serendah mungkin.
Dengan kemajuan industri gula di Jawa, pemerintah Belanda memanen hasil
yang sangat menguntungkan. Bsinis gula ini terlihat pada perluasan areal sawah
yang ditanami tebu meningkat tajam dari 76.000 ha pada 1894 menjadi 200.000 ha
pada 1931 yang ditanami varietas POJ 2878. Pada 1920 ekspor Hindia Belanda
mencapai 2,3 M gulden dan dari jumlah tersebut 46,8% diantaranya berasal dari
ekspor gula (P3GI, 2008). Ketika itu hanya Indonesia (Het Netherlandsche
Industriie) dan Cuba yang mampu menghasilkan gula dari tebu dalam jumlah
besar. Tujuan utama ekspor gula dari Jawa adalah ke Eropa, Amerika, Cina,
Jepang dan Australia. Pada saat itu perusahaan gula Belanda sangat mendominasi
pasar gula dunia.
Peranan pedagang Cina dan Belanda sangat besar dalam mendukung
berkembangnya industri gula di Jawa. Para saudagar Cina dan dan juga saudagar
India dan Arab yang berabad-abad datang lebih dahulu dari bangsa Belanda ke
Indonesia telah memiliki pengetahuan tentang cara memproduksi dan berdagang
gula.
Prospek bisnis gula di era Hindia Belanda memang sangat menggiurkan
bagi para pengusaha. Hal ini dipicu oleh harga gula dunia yang sangat tinggi di
awal abad XX. Harga gula di awal abad XX sangat tinggi karena pasok gula di
pasar dunia yang lebih kecil dari permintaan. Ketika itu hanya Indonesia
(Nederlandsche Industriie) dan Cuba yang mampu menghasilkan gula dari tebu
dalam jumlah besar (P3GI, 2008).
Menurut P3GI (2008), ada tiga periode penting sebagai masa yang
mewarnai perkembangan industri gula di masa itu. Pertama adalah masa
berkuasanya perusahaan Belanda yang bernama Vereniging Oost Industriische
Compagnie (VOC). Kedua adalah masa tanam paksa dengan operatornya yang
terkenal yaitu Gubernur Van den Bosch. Ketiga, masa berkembangnya industri gula
swasta setelah diterbitkannya Agrarisch Wet 1870.
Kehadiran VOC telah menyemarakkan bisnis gula di Indonesia. Pada
awalnya VOC tidak tertarik menanamkan investasi dalam bisnis gula, tetapi
tingginya permintaan gula membuat VOC melirik bisnis ini. Namun VOC tak
bertahan lama di bisnis gula karena mengalami kebangkrutan dan dilikuidasi pada
tahun 1799.
Kebangkrutan VOC ini tidak menghentikan aktivitas industri gula di Jawa.
Industri gula tetap ada karena pemerintah Hindia Belanda menerapkan system
Tanam Paksa yang mewajibkan 1/5 bagian dari luas lahan suatu wilayah ditanami
tebu. Dengan pola ini, industri gula kembali bangkit, bukan saja karena biaya
produksi ditekan serendah mungkin, melainkan juga pemasaran gula ke Eropa
cukup terjamin karena Belanda menguasai pasar kala itu.
Kemajuan industri gula di Jawa membawa keuntungan bagi pemerintah
Belanda. Jika pada tahun 1830 nilai ekspor gula dari Jawa hanya mencapai 12,9
juta gulden, pada tahun 1835 nilainya meningkat menjadi 32,6 juta gulden dan
tahun 1840 menjadi 74,2 juta gulden.
Walaupun menguntungkan, namun sistem tanam paksa tidak berlangsung
lama. Pada tahun 1878 sistem Tanam Paksa untuk tebu dihilangkan. Sistem
Tanam Paksa digantikan dengan masuknya sektor swasta ke dalam bisnis gula,
terutama sejak diterapkannya Agrarisch Wet 1870. Sistem yang baru ini
memberikan kesempatan sektor swasta mengelola perkebunan, meskipun
sebenarnya sejak tahun 1850-an sudah ada perusahaan swasta yang mengelola
Perkebunan tebu dan industri gula. Hal ini ditandai dengan dibangunnya
perusahaan Kedawoeng en Lust Andrust di Pasuruan. Namun baru tahun 1870
perusahaan gula swasta berkembang dengan pesat.
Bisnis gula semakin bergairah seiring dengan dibukanya Terusan Suez
(1906) yang memperlancar jalur transportasi perdagangan hasil bumi termasuk
gula dari daerah tropis ke Eropa. Bisnis gula ini terlihat pada perluasan areal
sawah yang ditanami tebu, yang meningkat tajam dari 76.000 ha pada 1894
menjadi 200.000 ha pada 1931 yang ditanami varietas POJ 2878. Puncak kejayaan
tersebut terjadi pada 1920 ekspor Hindia Belanda mencapai 2,3 M gulden dan dari
jumlah tersebut 46,8% diantaranya berasal dari ekspor gula (P3GI, 2008). Prestasi
tertinggi industri gula Hindia Belanda dicapai pada akhir dekade ketiga abad XX
yaitu mencapai 2,97 juta ton pada 1929 dan ekspor gula dari Jawa sebesar 2,66
juta ton pada tahun tersebut. Prestasi ini tidak terlepas dari peran P3GI di era
Hindia Belanda.
Perkembangan industri gula tebu yang pesat di Hindia Belanda pada awal
abad XX tidak terlepas dari masalah. Persaingan ketat berasal dari industri gula bit
yang sudah lebih dahulu menguasai pasar gula di Eropa dan mampu menghasilkan
kualitas gula yang lebih baik. Kendala yang dirasakan industri gula di Jawa tidak
hanya aspek kualitas melainkan juga budidaya. Produksi dan protas tebu yang
dihasilkan masih terbatas. Terlebih lagi ketika serangan penyakit sereh
menghancurkan hampir seluruh industri gula di Jawa.
Kendala ini menyadarkan para pengusaha pemilik PG di Jawa untuk
memperbaiki pertanaman tebu serta meningkatkan produksi dan kualitas gula.
Mereka mulai menyadari pentingnya dukungan lembaga riset yang dapat
membantu menanggulangi kendala-kendala produksi dan juga mencari solusi untuk
mengatasi kesulitan pemasaran di Eropa.

2.6 Sejarah berdirinya Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) di


Pasuruan

Kota Pasuruan berada di jalur utama pantai Utara yang menghubungkan


Pulau Jawa dengan Pulau Bali yang menjadikannya sebagai kota dengan prospek
ekonomi yang besar di kawasan Indonesia bagian Timur. Dilihat dari sejarahnya,
kota Pasuruan merupakan kota gula dimana potret perjalanan sejarah industri gula
nasional masih terwakili dengan kuat di Kota Pasuruan (Maharani, 2008). Salah
satu bukti peninggalan sejarah yang masih berdiri dan berpengaruh pada
perindustrian gula nasional hingga saat ini adalah P3GI (Pusat Penelitian
Perkebunan Gula Indonesia).
Gambar…… Gerbang masuk POJ era Belanda

Gambar…… Bangunan Het proefstation Oost Java (POJ) di era Hindia


Belanda

Masa kejayaan industri gula di Indonesia pada jaman Hindia Belanda tidak
terlepas dari dukungan lembaga riset gula tertua di dunia yang sekarang bernama
P3GI. Varietas POJ 2878 yang dijuluki Wonder cane of the world yang dihasilkan
oleh P3GI pada tahun 1923 adalah bukti bahwa riset dapat menyelamatkan
industri.
Pada tahun 1883-1884, perindustrian gula di Jawa mengalami suatu krisis
yang disebabkan oleh persaingan yang hebat dari gula biet yang berasal dari luar
negeri, terutama dari Eropa. Pada waktu yang bersamaan menurut Deer (1949),
perindustrian gula di Jawa terancam pula oleh penyakit sereh yang hebat pada
tahun 1884. Hal ini, oleh karena varietas yang ditanam pada waktu itu, Cirebon
hitam, peka terhadap penyakit tersebut (Bremer, 1961).
Serangan penyakit sereh yang hampir menghancurkan industri gula di Jawa
pada tahun 1884 menyadarkan para pengusaha pemilik PG di Jawa untuk
bergabung dan berkolaborasi mendirikan lembaga riset gula. Menurut P3GI
(2008), berawal dari seorang Inspektur Kepala Pertanian Pemerintah Hindia
Belanda yaitu LHF Sollewijn Gelpke yang menganjurkan untuk memulai
mengadakan penelitian di bidang pergulaan, terutama dengan mendirikan
Lembaga Riset Gula. Rekomendasi Gelpke sangat tepat karena kala itu industri
gula di Jawa hampir mengalami kehancuran akibat serangan penyakit sereh dan
juga karena kualitas gula tebu jauh lebih rendah dari gula bit.
Para industriawan gula menyadari bahwa perlu dilakukan perbaikan-
perbaikan agar dapat bersaing dgn produsen lain di dunia. Untuk itu perlu
dukungan teknologi dan inovasi yang dihasilkan lembaga riset. Inilah yang
mendasari usulan Gelpke ttg pendirian lembaga riset. Usaha Gelpke tak sia-sia,
setelah ia mempublikasi gagasannya, pengusaha-pengusaha gula yang sukses
saling mengadakan hubungan untuk mendirikan lembaga riset. Bahkan beberapa
perusahaan langsung mendirikan lembaga riset tantara lain De Cheribonsche
Vereeniging van Suikerfabrikanten pada tahun 1884. Antusiasme para pengusaha
mendirikan lembaga riset terus meningkat. Pada tahun 1886 di Jabar didirikan
Proefstation voor Suikerriet in West Java. Pada saat itu laboratorium yang luas
juga dibangun di desa Kagok, distrik Slawi sekitar 15 km Selatan Tegal.
Dalam waktu yang bersamaan, di Jawa Tengah pada tahun 1886 atas
parakarsa para pengusaha dan penyewa lahan di wilayah Yogya, Solo, Semarang,
Comal dan Kendal didirikan Het Proef Midden Java di Semarang. Namun pada
perkembangan selanjutnya Het Proef Midden Java dibubarkan pada 1893 dan
digabung dengan Het Proef voor Suikerriet in west Java.
Seakan tak ingin tertinggal dari daerah lain, pada 1886 pengurus
Soerabajasche Vereenigin van Suikerfabrikanten merancang pendirian Proefstation
gula di Jawa Timur. Pada 20 Mei 1887 status Proefstation Oost Java ditetapkan
oleh para donator dan para pengusaha yang kemudian pada 9 Juli 1887
mendapatkan persetujuan dari pemerintah Hindia Belanda serta ditempatkan di
kota Pasuruan. Hal inilah yang menjadi cikal bakal P3GI.
Munculnya berbagai lembaga riset gula yang didirikan oleh para pengusaha
gula di masing-masing wiayah seringkali menimbulkan ketidakharmonisan
pekerjaan riset. Pertengahan 1903 mulai digagas peleburan dua lembaga riset gula
yang terbesar yaitu Proefstation voor Suikerriet in West Java dengan Het
proefstation Oost Java. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 1907, kedua lembaga
riset gula besar itu dilebur menjadi Het proefstation voor de Java Suikerindustrie
yang berkedudukan di Pasuruan. Dan proefstation yang ada di Pasuruan menjadi
Cultuur Afdeling (bagian tanaman), sampai akhirnya terjadi reorganisasi sehingga
semua bagian tanaman, kimia dan teknik dipusatkan di Pasuruan. Kedua instansi
tersebut secara fisik dan organisasi berhasil disatukan pada 1 Januari 1907
menjadi Het Proefstation voor de Java-Suikerindustrie, dan dipilih Pasuruan atau
wilayah Oosthoek karena lebih cocok untuk perkebunan tebu. Oosthoek adalah
sebutan Belanda untuk daerah ujung Timur Jawa, yaitu bagian yang menyempit
dari Jawa Timur, mulai dari Pasuruan sampai Selat Bali, atau sering juga disebut
“green gold”. Oosthoek/eastern slient/bang wetan/ujung Timur meliputi Pasuruan,
Probolinggo (Banger), Situbondo (Panarukan), Besuki (Bondowoso dan Jember),
Lumajang serta Banyuwangi (Blambangan).
Yang menarik dalam pendirian dan pengelolaan lembaga riset kala itu
hampir seluruhnya dilakukan oleh perusahaan swasta pemilik industri gula.
Pembiayaan operasional lembaga riset menjadi beban industri gula. Upaya
mendapatkan subsidi dari pemerintah Hindia Belanda dilakukan sejak tahun 1886,
1887, 1888, namun permohonan ini selalu ditolak. Sehingga sampai dengan
perang dunia kedua, Het proefstation voor de Java Suikerindustrie tidak pernah
mendapatkan subsidi dari pemerintah Hindia Belanda.
Peran lembaga riset sangat dirasakan industri gula sehingga tidak
mengherankan bila lembaga riset gula pada waktu itu mendapatkan perhatian luar
biasa dari para pengusaha industri gula. Lembaga riset gula tersebut diberi dana
yang sangat besar dan diberikan kesempatan merekrut tenaga-tenaga peneliti
kelas dunia.
Pada masa itu publikasi POJ menjadi bacaan wajib bagi kalangan industri
gula. Archief voor de Java Suiker Industries, Meddelingen van de Proofstation dan
Verslagen voor de Leden merupakan publikasi POJ yang tinggi mutunya serta sarat
dengan hasil-hasil riset teknologi gula. Dengan publikasi tersebut, POJ menjadi
pusat perhatian sebagai lembaga riset gula terbesar yang berada di Selatan garis
Khatulistiwa.
Berkat dukungan para pengusaha gula di Jawa maka lembaga riset gula
dapat melakukan kegiatan penelitian tebu dan gula dengan sangat baik. Dalam
kurun waktu 50 tahun (1887-1941) lembaga riset gula di Jawa telah menjadi
raksasa penelitian gula di dunia. Penelitian budidaya tebu dan teknologi
pengolahan gula maju pesat. Hasil-hasil penelitian langsung diterapkan dan
dimanfaatkan secara maksimal oleh PG di Jawa.
Dukungan pendanaan industri gula serta dukungan peraturan-peraturan
pemerintah Hindia Belanda yang mengistimewakan PG sebagai penghasil gula
ekspor merupakan penunjang keberhasilan POJ/P3GI menjadi lembaga riset gula
terpandang di dunia. Pada periode keemasan ini peran optimal riset tebu dan gula
berlangsung dengan lancar. Prestasi hasil riset tebu dan gula pada masa itu
sebagian masih digunakan dan dimanfaatkan oleh PG di Indonesia dan di dunia
hingga saat ini.
Hasil-hasil riset POJ yang sangat fenomenal dan dimanfaatkan oleh industri
gula di seluruh dunia adalah perakitan tebu POJ 2878 dan POJ 3016. POJ 2878
yang disebut sebagai wonder cane dalam sejarahnya dapat menyelamatkan
industri gula di Jawa dari ambang kebangkrutan karena serangan penyakit sereh
dan persaingan dengan gula bit pada masa itu. Kemampuan riset menghasilkan
inovasi dan teknologi telah memberikan manfaat nyata bagi industri gula di era
Hindia Belanda. Dapat dikatakan lembaga riset gula yang bernama POJ atau P3GI
telah menyelamatkan industri gula di Jawa di masa itu dari keterpurukan dan
kebangkrutan.

2.7 Perkembangan POJ menjadi P3GI


Menilik dari sejarah P3GI yang pada jaman Belanda bernama POJ
merupakan lembaga riset gula tertua di dunia yang menjadi kiblat gula dunia pada
era itu. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) didirikan pada 9 Juli
1887 di era Pemerintah Hindia-Belanda, dengan sebutan "Proefstation Oost Java
(POJ)” yang merupakah hasil penyatuan dari dua pusat penelitian gula yaitu “Het
Proefstation Midden Java” di Semarang dan “Proefstation Voor Suikerriet in West
Java” di Kagok, Tegal.
Latar belakang berdirinya P3GI pada saat itu adalah untuk menanggulangi
serangan penyakit “sereh” yang hebat, yang melanda hampir seluruh tanaman tebu
di dunia, dan untuk mengimbangi dan memenangkan persaingan/ancaman gula bit
khususnya dari Eropa. Sejarah pemilihan Pasuruan sebagai lokasi Pusat
Penelitian Perkebunan Gula Indonesia bermula dari ide pengurus Soerabajache
Vereeniging van Suikerfabrikanten untuk merancang pendirian lembaga riset gula
di Jawa Timur. Pada masa Pemerintah Hindia Belanda, Oosthoek memang
merupakan pusat produksi gula tebu. Hal ini dikarenakan lokasinya sangat cocok
dengan adanya sawah beririgasi luas dan tenaga kerja lokal yang melimpah.
Namun kala itu industri gula di Jawa hampir mengalami kehancuran akibat
serangan penyakit sereh dan juga karena kualitas gula tebu lebih rendah dari gula
bit (P3GI, 2008).
Oleh karena itu pada tahun 1885 didirikan “Het Proefstation Midden Java” di
Semarang, selanjutnya pada tahun 1886 didirikan “Proefstation Voor Suikerriet in
West Java” di Kagok, Tegal. Pada tahun 1887, didirikan “Proefstation Oost Java” di
Pasuruan dan dikenal dengan nama POJ. Pada 20 mei 1887 status Het
Proefstation Oost-Java ditetapkan oleh para donator dan para pengusaha yang
kemudian pada tanggal 9 Juli 1887 mendapat persetujuan dari Pemerintah Hindia
Belanda. Dengan alasan efisiensi dan meningkatkan keberhasilan riset, maka
pada tanggal 1 Januari 1907 Het Proefstation voor Suikeriet in West Java dan Het
Proefstation Oost-Java dilebur menjadi Het Proefstation voor de Java-
Suikerindustrie yang berkedudukan di Pasuruan. Proefstasion yang ada di
Pasuruan kemudian menjadi Cultuur Afdelling (bagian tanaman), sampai akhirnya
terjadi reorganisasi sehingga semua bagian meliptui tanaman, kimia, dan teknik
dipusatkan di Pasuruan (Cagar budaya dan Sejarah Jatim, Pemprov jatim, Dinas
Kebudayaan dan pariwisata, Pusat penelitian perkebunan gula indonesia, 1 Juli
2022).
Pada tahun 1942-1945, POJ dikuasai oleh Pemerintah Jepang kemudian
pada tahun 1945 Komite Nasional Indonesia mengambil alih POJ dari Pemerintah
Jepang. Pada tahun 1947 Pemerintah Belanda merehabilitasi gedung POJ.
Selanjutnya pada tahun 1957 Pemerintah Indonesia mengambil alih POJ dan
mengganti nama menjadi Balai Penyelidikan Perusahaan Perusahaan Gula
(BP3G).
Gambar…..Penandatanganan plakat perubahan nama POJ menjadi BP3G
pada 23 September 1978

Pada Tahun 1963, BP3G secara organisasi diserahkan kepada Badan


Pimpinan Umum Perusahaan Perkebunan Gula Indonesia (BPU-PPN Gula)
Jakarta. Pada tahun 1968, Menteri Pertanian membentuk “Dewan Pembina BP3G”
yang bertugas mengelola Balai melalui SK Mentan No 344/Kpts/12/1968. Pada
tanggal 11 Mei 1987, Dewan Pembina merubah nama BP3G menjadi Pusat
Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Perkembangan selanjutnya pada 15
Mei 1992 didirikan Asosiasi Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (AP2GI) untuk
menunjang kegiatan penelitian yang dilakukan oleh P3GI. Pada tanggal 1 Februari
1996 dibentuk Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (APPI) yang merupakan
integrasi dari Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Penelitian Indonesia (AP3I)
dan Asosiasi Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (AP2GI).
Seiring berjalannya waktu pada tanggal 23 Desember 2002, APPI
membentuk Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) sebagai pengelola Pusat
Penelitian yang terdiri dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember, Pusat
Penelitian Perkebunan Gula Indonesia di Pasuruan, Pusat Penelitian Teh dan Kina
di Gambung, Pusat Penelitian Karet di Sungai Putih, Sumatera Utara, yang
memiliki 3 Balai yakni Balai Penelitian Sembawa, Balai Penelitian Teknologi Karet
Bogor, dan Balai Penelitian Getas, Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan, yang
memiliki 2 Balai yaitu Balai Penelitian Medan dan Balai Penelitian Marihat, Pusat
Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia di Bogor. Pada tanggal 20
November 2009 didirikan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) yang
merupakan transformasi dari LRPI.

2.8 Gedung P3GI sebagai Kawasan Cagar Budaya Pasuruan

Bukti masa kejayaan industri gula di Jawa masih dapat dilihat hingga saat ini
dari gedung POJ yang sekarang bernama Pusat Penelitian Perkebunan Gula
Indonesia (P3GI), yang terletak di Kota Pasuruan Provinsi Jawa Timur. Bangunan
ini terdiri dari beberapa gedung dalam satu kawasan atau situs bangunan yang
berfungsi sebagai Pusat Penelitian Perkebunan Gula dan Tebu.
Gedung P3GI didirikan pada 9 Juli 1887 dengan nama Proefstation Oost
Java (POJ) di Pasuruan sebagai pusat penelitian dan riset gula. Pendiriannya demi
mendukung komoditas unggulan pada abad ke-19 dan ke-20, yakni gula yang
dalam perkembangannya menjadi cikal bakal Revolusi Industri di Jawa.
Masyarakat setempat pada masa itu menyebutnya dengan nama Gedung Prop.
Gedung ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, bahkan menjadi salah satu
gedung terbesar sekaligus tertua di Kota Pasuruan. Sesuai dengan namanya,
gedung ini berfungsi sebagai tempat penelitian pertanian dan perkebunan Gula.
Selain penelitian, gedung P3GI juga digunakan sebagai tempat untuk mengkaji dan
menghasilkan teknologi dan produk yang berkaitan dengan gula. Bahkan, P3GI
berperan besar dalam perkembangan gula dunia pada separuh awal abad ke-20.
Kondisi ini juga memicu perkembangan industri gula yang semakin
menjamur di daerah Pasuruan. Pada tahun 1828 di Pasuruan terdapat 21 pabrik
gula, satu tahun kemudian jumlah pabrik gula bertambah menjadi 51 buah.
Selanjutnya pada tahun 1831 jumlahnya mencapai 91 buah sampai yang kecil-kecil
milik Cina dengan hasil produksinya mencapai 29.513 pikul per tahun.

Gambar….. Gedung POJ era Hindia Belanda di Heerenstraat yang sekarang


Jalan Pahlawan Pasuruan
Gambar….. Gedung POJ era Hindia Belanda di Heerenstraat sekarang
Jalan Pahlawan Pasuruan

Gambar….. Gedung POJ era Hindia Belanda di Heerenstraat yang sekarang


Jalan Pahlawan Pasuruan
Lembaga penelitian perkebunan gula ini didirikan pada 9 Juli 1887 di era
Pemerintah Hindia-Belanda dengan sebutan Proefstation Oost Java (POJ). Warga
Pasuruan menyebutnya dengan "Prop." Het Proefstation voor de Java
Suikerindustrie dibentuk untuk melakukan riset pasar gula di Eropa dan sekaligus
menjadi pelopor International Society of Sugarcane Technologist (ISSCT), Asosiasi
Ahli Gula Dunia mengkhususkan pada penelitian teknologi budidaya tebu dan
industri gula. Tahap perintisannya banyak mendapat kontribusi dari J.D. Kobus,
yang pada tahun 1897-1910 menjabat direktur (directeur) POJ.
Misi yang diemban POJ adalah riset pemuliaan tebu untuk ketahanan
terhadap penyakit sereh dan antisipasi persaingan dengan industri gula bit di benua
Eropa. Kontribusi POJ terlihat pada tahun 1921 dengan dirilisnya varietas tebu
unggul POJ 2878 yang secara dramatis dapat menyelamatkan industri gula di
dunia yang nyaris bangkrut kala itu akibat serangan penyakit sereh yang hebat.
Varietas tebu unggul POJ 2878 yang fenomenal sehingga mendapat julukan
“wondercane from Java” merupakan hasil persilangan antara tebu asli (Saccharum
officinarum) dengan tebu liar atau glagah (Saccharum spontaneum) yang menjadi
sumber gen untuk sifat ketahanan terhadap penyakit. Persilangan ini menjadi
salah satu keberhasilan dalam persilangan antar spesies, dan hal ini merupakan
prestasi terbesar POJ di kala itu. Pada tahun 1930, POJ kembali menorehkan
prestasinya dengan merilis varietas tebu unggul baru yaitu POJ 3016 yang memiliki
daya hasil gula tinggi.

Kawasan bersejarah di sepanjang jalan Pahlawan Pasuruan diarahkan untuk


menjadi wahana wisata yang dikemas dalam bentuk wisata edukasi. Baik bagi
keperluan studi sejarah perkebunan tebu dan industri gula di Nusantara maupun
sebagai obyek studi "arsitektur heritage'. Keberadaan P3GI pada "koridor yang
kaya heritage" di kota Pasuruan berpotensi dijadikan sebagai destinasi "wisata
heritage.” Aset kultural ini menjadi menu wisata di Kota Pasuruan yang dulu
merupakan "Kota Gula" terpenting di Jawa Timur.
Wisata heritage ini memberi edukasi kepada masyarakat bahwa
Indonesia yang kita tinggali ini memiliki sejarah gula yang cukup baik yang bahkan
memiliki pengaruh kuat pada dunia di eranya.
Gambar….. Gedung POJ era Hindia Belanda di Heerenstraat yang sekarang
jalan Pahlawan Pasuruan

Gambar….. Gedung Museum di kawasan POJ era Hindia Belanda pada


tahun 1926 di Heerenstraat sekarang jalan Pahlawan Pasuruan

Kawasan bangunan POJ pernah mengalami kerusakan selama pendudukan


Jepang pada tahun 1942- 1945 dan Perang Kemerdekaan atau Agresi Militer II
pada tahun 1948. Banyak buku dan barang inventaris hilang. Bahkan, ketika
Agresi Militer Belanda II, gedung utama serta sebagian besar perpustakaan dan
arsip terbakar. Setelah perkebunan yang diusahakan oleh para swasta Belanda
diambil alih oleh Pemerintah RI atau "nasionalisasi" pada Desember 1957, POJ
beralih nama menjadi "Balai Penyelidikan Perusahaan-Perusahaan Gula
(Experiment Station for Sugar Estates) atau disingkat "BP3G". Statusnya seperti
sebelum era Perang Kemerdekaan yaitu sebagai lembaga penelitian yang dibiayai
oleh kalangan industriawan gula yang pengelolaannya dikendalikan oleh suatu
Dewan Pembina.

Gambar…. Gedung BP3GI direnovasi setelah Agresi II


Gambar…. Gedung BP3GI direnovasi setelah Agresi II

Gambar….. Renovasi gedung BP3G setelah agresi II

Pada tahun 1965 lembaga ini berganti nama kembali menjadi "Balai
Penyelidikan Perusahan Perkebunan Gula (Indonesian Sugar Experiment Station)".
Selanjutnya dinamai dengan "Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula
(Indonesian Sugar Research Institute)" terhitung sejak 1 Januari 1982. Pada
akhirnya, berdasarkan keputusan dewan pengurus tanggal 11 Mei 1987, nama
yang digunakan adalah "Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) atau
Indonesian Sugar Research Institute (ISRI)". Nama ini berlaku hingga sekarang.

Gambar…. Gedung POJ atau P3GI masa sekarang

Gambar…..Gedung POJ atau P3GI sekarang


Gambar….. Gedung Museum di kawasan POJ/P3GI masa sekarang

Jejak kejayaan POJ di masa lampau masih terlihat jelas di Jalan Pahlawan
No. 25 (dahulu bernama "Herenstraat") yang berada di koridor utama tepat di
tengah Kota Pasuruan. Disamping sejumlah bangunan heritage yang berada di
kawasan luas kantor P3GI, terdapat sederet bangunan heritage di sisi Timur Jalan
Pahlawan yang merupakan rumah dinas para Staf Peneliti P3GI dan fasilitas
pendukung bagi sentra pengelolaan gula di Jawa Timur, termasuk Societiet
Harmonie (kini SMK Untung Surapati). Peran dan kontribusi P3GI kini tak sesentral
di masa lalunya. Bangunan megah, luas dan berwibawa dari P3GI tinggal
menyimpan "memori kebesarannya" di masa lalu. Aset kultura dari P3GI yang
berdasarkan nilai kesejarahannya ditetapkan sebagai "Cagar Budaya (CB)"
berdasarkan SK Walikota Pasuruan Nomor 188/496/423.031/2015.
Gambar….Heerenstraat Pasoeroean pada jaman Belanda

Kawasan bersejarah di sepanjang jalan Pahlawan Pasuruan diarahkan untuk


menjadi wahana wisata yang dikemas dalam bentuk wisata edukasi. Baik bagi
keperluan studi sejarah perkebunan tebu dan industri gula di Nusantara maupun
sebagai obyek studi "arsitektur heritage'. Keberadaan P3GI pada "koridor yang
kaya heritage" di kota Pasuruan berpotensi dijadikan sebagai destinasi "wisata
heritage.” Aset kultural ini menjadi menu wisata di Kota Pasuruan yang dulu
merupakan "Kota Gula" terpenting di Jawa Timur.
Wisata heritage ini memberi edukasi kepada masyarakat bahwa
Indonesia yang kita tinggali ini memiliki sejarah gula yang cukup baik yang bahkan
memiliki pengaruh kuat pada dunia di eranya.

2.8.1 Aset Kultura Kawasan Cagar Budaya P3GI

Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) yang didirikan pada 9


Juli 1887 di era Pemerintahan Hindia-Belanda dengan nama "Proefstation Oost
Java (POJ)” merupakah hasil penyatuan dari dua pusat penelitian gula di Jawa
Tengah dan jawa Barat, yaitu “Het Proefstation Midden Java” di Semarang dan
“Proefstation Voor Suikerriet in West Java” di Kagok, Tegal. Berdasarkan SK
Walikota Pasuruan No. 188/166/423.011/2020 tanggal 29 April 2020 tentang
ditetapkannya Kawasan P3GI sebagai Cagar Budaya Kota Pasuruan dan Situs
Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur oleh Gubernur Jawa Timur No. 88/860/KPTS/
013/2021 tanggal 19 Desember 2021, maka pada naskah ini diulas beberapa
bangunan yang menjadi ikon di kawasan cagar Budaya P3GI.

1. Gedung H
Gedung ini dulunya merupakan gedung museum dan auditorium POJ
yang terbagi menjadi dua ruangan yang terpisah oleh dinding berpintu
yaitu ruang Gedung H1 dan H2. Gedung H1 merupakan bangunan asli
yang dulunya adalah musem dimana terdapat sebuah tiang-tiang di
bagian atas yang ternyata berfungsi sebagai alat menggantungkan
bahan materi atau skema penelitian dengan desain langit-langit
melengkung setinggi 4 m. Bangunan yang dulunya berfungsi sebagai
Museum tersebut bergaya Industri Indische Empire Style yang membujur
dari Timur ke Barat dan dikelilingi oleh halaman luas yang berada di
depan, di belakang dan di samping serta berdenah simetris yang terdiri
dari teras depan dan belakang, sentral room dengan susunan bata tebal
dan papan diplester serta plafon yang tinggi.
Gambar…. Interior Museum POJ atau P3GI (Interior gedung H1)
Gambar…. Interior Museum POJ atau P3GI (Interior gedung H1)

Gambar…. Museum bij het Proefstation voor de Java-Suikerindustrie te


Pasoeroean Pasuruan (regentschap). 1926
museum POJ/P3GI jaman Belanda
Gambar……Museum POJ/P3GI jaman Belanda

Gambar …. Gedung Museum POJ/P3GI masa sekarang


Sementara itu, gedung H2 digunakan sebagai auditorium dimana
sepanjang langit-langit, dinding dan jendela dipasang aksen kayu
membujur.

Gambar….. Interior Gedung Auditorium POJ/P3GI

2. Gedung Galery POJ


Gedung gallery ini merupakan salah satu gedung yang didirikan pertama
kali bersama dengan berdirinya Proefstation oost Java yang didirikan
pada tahun 1904. Dapat dilihat dari bentuk pintu dan jendela yang sangat
besar dan tebal. Sebelum dijadikan sebagai gallery (tempat display),
gedung ini difungsikan sebagai gedung administratif P3GI. Dalam
gedung ini juga terdapat patung J.D.Kobus, beliau adalah director POJ
yang berpengaruh terhadap perkembangan POJ dan berkontribusi dalam
perintisan POJ antara tahun 1897-1910. Patung J.D. Kobus ini dahulu di
era Belanda, ditempatkan di halaman depan kantor POJ. Kini patung
tersebut menjadi salah satu spot foto wajib bagi pengunjung P3GI.
Menariknya lagi, pengunjung juga dapat mencermati bagian-bagian
patung ini untuk menemukan pahatan tahun pembuatannya. Dulunya
gedung ini dijadikan pusat aktivitas karyawan, dan sekarang dijadikan
sebagai gallery museum mini yang menyimpan barang-barang
peninggalan jaman Belanda.

Gambar….. Patung Direktur pertama POJ/P3GI J.D Kobus

3. Eksplan (Pabrik Gula Mini)


Gedung ini merupakan bangunan gedung baru yang terdapat miniatur
pabrik gula mini di dalamnya. Pabrik gula mini yang ada di dalamnya
berada sejak kisaran tahun 1973, dimana fasilitas pabrik gula mini ini
dipesan dari Jerman. Pabrik eksperimental yang dipesan dari Jerman ini
merupakan yang ketiga di dunia dimana berukuran mini dengan struktur
yang sama dengan pabrik gula normal, tetapi dapat bekerja secara
diskontinu sesuai dengan kebutuhan, dengan penyesuaian fleksibel yang
dapat dimodifikasi sesuai dengan peralatan terkait atau sistem
pengolahannya. Hingga sekarang, pabrik gula mini ini masih bisa
dioperasikan saat ada kunjungan maupun kegiatan pelatihan di P3GI.
Gambar…. Eksplan atau pabrik gula mini POJ/P3GI

4. Laboratorium Analisa Tanah


Laboratorium ini merupakan laboratorium yang sejak awal dibangun
hingga sekarang masih menjalankan fungsi yang sama yaitu sebagai
laboratorium analisa tanah. Ketika memasuki ruangan ini, terdapat
balkon lemari yang berfungsi sebagai penyimpanan berkas-berkas dan
sampel-sampel laboratorium yang penting agar mengantisipasi
kehilangannya dokumentasi penting jika terjadi bencana banjir di
Pasuruan, yang dulunya sempat terjadi.

Gambar….. Laboratorium analisa tanah jaman Belanda


Gambar….. Laboratorium analisa tanah masa sekarang
5. Engineering
Bangunan ini merupakan bangunan lama yang telah berdiri dan masih
beroperasi sama yaitu sebagai blueprint PG-PG yang ada di Indonesia.

Gambar…. Laboratorium engineering era Belanda


Gambar…. Laboratorium engineering masa sekarang

Gambar…. Laboratorium engineering masa sekarang

6. Rumah Dinas Direktur (POJ House)


Bangunan ini merupakan tempat tinggal direktur-direktur POJ sejak
jaman Belanda dahulu kala. Rumah ini masih mempertahankan sebagian
besar bentuk aslinya, hanya saja pintu depan dan empat jendela yang
mengapitnya sudah diganti dengan pintu dan jendela kaca, dulunya
jendela lama berterali besi dan berdaun jendela jalusi (krepyak) kayu.
Saat ini, kegunaan bangunan ini dijadikan sebagai tempat penginapan
bagi para tamu yang berkunjung maupun masyarakat umum yang diberi
nama “POJ House”.

Gambar…. Rumah Dinas Direktur POJ


7. Perpustakaan
Bangunan ini merupakan bangunan baru yang disahkan bersamaan
dengan gedung utama BP3G sekitar tanggal 23 September 1978.
Struktur bangunan perpustakaan didesign oleh arsitek Belanda, dimana
bangunan ini berada di bawah permukaan tanah yang terdiri dari 2 lantai.
Atap gedung terbuat dari aspal, dengan bentuk atap menyerupai bintang
sehingga menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang. Ketika masuk
ke dalam perpustakaan, pengunjung akan menemui banyak buku-buku
lama berbahasa Belanda yang masih tersusun rapi di dalam rak-rak.
Meskipun ini bangunan baru, tetapi bangunan ini banyak mencuri
perhatian masyarakat yang melintas sekitar jalan Pahlawan.

Gambar … Perpustakaan jaman Belanda

8. Lab Analisa Kimia

Gambar….. Laboratorium kimia analitik jaman Belanda


Gambar….. Laboratorium kimia analitik masa sekarang
Gambar…. Laboratorium Entomologi

Gambar…. Laboratorium Fisiologi jaman Belanda


Gambar…. Laboratorium Fisiologi jaman Belanda

Gambar…. Laboratorium Genetika jaman Belanda

Demikian sederetan bangunan yang ada di Kawasan Cagar Budaya P3GI


yang menjadi aset kultura kota Pasuruan yang memiliki potensi wahana heritage.

2.8.2 Potensi Wisata Edukasi di Kawasan Cagar Budaya P3GI


Di Wisata edukasi P3GI disajikan beberapa fasilitas yaitu :

1. Sejarah riset
2. Teknologi gula

Pengenalan Explant P3GI Selamat datang di Experimental Plant P3GI


atau Explant P3GI atau bisa disebut sebagai Pabrik Gula Mini P3GI.
Keseluruhan peralatan yang ada berada disini kami setting dengan
alur proses, teknologi, dan alat/mesin yang mirip dengan pabrik gula
sesungguhnya. Kegunaan Explant P3GI adalah sebagai (1) penelitian
terkait teknolgi gula dan (2) sarana pembelajaran atau edukasi untuk
wisatawan serta masyarakat untuk mengenal bagaimana secara
sederhana gula kristal putih dari tebu dapat dihasilkan. Explant P3GI
yang ada disini dibangun sekitar tahun 1976 dan memiliki kapasitas
mencapai 10 TCD (Ton Cane per Day) dengan kadar gula pada tebu
rata – rata sebesar 10,0% dan keluaran gula kristal putihnya rata –
rata sebesar 7,0% atau 700 kg per hari. 2. Tahap & Proses Produksi
Peralatan dan tahapan proses yang ada disini disusun sesuai dengan
tahapan proses yang ada di pabrik gula yang terdiri dari stasiun.
Kemudian akan saya jelaskan beberapan tahapan dari proses
pembuatan gula kristal putih. Stasiun Preparasi 2. Stasiun Gilingan 3.
Stasiun Pemurnian 4. Stasiun Penguapan 5. Stasiun Kristalisasi 6.
Stasiun Putaran 7. Stasiun Penyelesaian (tidak ada di Explant P3GI)
Pertama adalah Stasiun Preparasi, yaitu memotong kecil-kecil,
menghancurkan, dan membuka sel-sel tebu hingga didapatkan sabut
tebu untuk mendapatkan bahan umpan (sabut tebu) dengan luas
permukaan yang lebih besar serta membantu untuk memaksimalkan
pemerahan nira (air gula) yang terdapat pada tebu pada proses
selanjutnya. Kedua adalah Stasiun Gilingan, yaitu bertujuan untuk
mengambil gula yang ada di dalam tebu sebanyak mungkin dengan
cara yang lebih efisien, efektif, dan ekonomis dan memisahkan
ampas dengan nira sebanyak – banyaknya. Pada stasiun ini, Explant
P3GI memiliki dua peralatan yaitu Gilingan Tunggal Set dan Tandem
Gilingan Set. Perbedaannya terletak pada bagaimana
memperlakukan tebu yang masuk sebelum masuk ke dalam gilingan.
∙ Pada gilingan tunggal, tebu tanpa melalui cane preparation sehingga
bentuk tebu yang dimasukkan berbentuk lonjoran untuh atau dapat di
potong pendek secara manual. ∙ Sedangkan pada tandem gilingan,
tebu akan melalui tahap cane preparation menggunakan cane cutter
(CC) dan unigerator untuk mengecilkan ukuran tebu, mencacah tebu,
membuka sel tebu dan memperbesar luas permukannya, disesuaikan
dengan tahapan stasiun gilingan yang ada di pabrik gula sebenarnya.
Gambaran atau ilustrasi tebu yang sudah dicacah seperti bentuk
jerami yang berserat-serat. Fungsinya adalah untuk mempermudah
gilingan untuk mengambil gula dari tebu lebih banyak dan efisien. Nira
yang dikeluarkan pada gilngan disebut sebagai Nira Gilingan (NG),
sedangkan keseluruhan Nira Gilingan (NG) yang sudah ditampung ke
dalam tangki nira sementara disebut Nira Mentah (NM), yang
berfungsi untuk persiapan nira menuju proses pemurnian. Ketiga
adalah Stasiun Pemurnian, yaitu bertujuan untuk memisahkan
komponen air gula dan kotoran – kotoran (non-gula) yang terdapat
dalam Nira Mentah (NM) sebanyak mungkin dengan menggunakan
teknik secara kimia-fisika. Teknologi pemurnian secara umum dapat
dikenal menjadi tiga (3), yaitu: 1. Defekasi (susu kapur/CaOH2), 2.
Defekasi + sulfitasi (susu kapur/CaOH2 + gas belerang/SO2), dan 3.
Defekasi + karbonatasi (susu kapur/CaOH2 + gas karbon
dioksida/CO2). Umumnya, sebanyak 85% pabrik gula di Indonesia
menggunakan teknologi sulfitasi. Tahapan proses Pemurnian
dilalukan dilakukan 3 tahapan, yaitu: 1. Pemanasan Nira Mentah (NM)
a. Dipanaskan pada Pemanas Nira I Nira Mentah (NM) dipanaskan
hingga suhu 75 – 80 o C. Pemanasan I bertujuan untuk: ∙
Mempercepat rekasi antara kotoran dalam NM dengan susu kapur
(CaOH2) dan gas belerang (SO2), dan flokulan ∙ Mengendapkan
kotoran ∙ Mematikan mikroba dan menghilangkan buih b. Dipanaskan
pada Pemanas Nira II Nira mentah (NM) yang sudah dipanaskan,
ditambahkan dengan susu kapur (CaOH2), gas belerang (SO2), dan
flokulan (bahan mempercepat pengedapan). Kemudian dipanaskan
kembali hingga suhu 80 – 90 o C (pH nira: 6,2 – 6,5). Pemanasan II
bertujuan untuk: ∙ Menyempurnakan reaksi antara gas belerang (SO2)
dengan kelebihan kapur dalam nira ∙ Mempercepat pengeluaran gas
dan membantuk proses pengendapan dalan Benjara Pengedap
(Clarifier) 2. Pengaturan pH 3. Pemisahan kotoran Hasil pemanasan
akan berupa berupa cairan yang terpisah seperti minyak dan air,
dimana bagian atas adalah kotoran (non-gula) dan bagian bawah
adalah cairan gula. Pemisahakan kotoran menggunakan filter press.
Hasil dari pemisahan merupakan Nira Jernih (NJ) atau Nira Encer
(NE) kemudian ditampung dalam tangki. Keempat adalah Stasiun
Penguapan, yaitu bertujuan untuk memisahkan air dengan nira serta
mengubah Nira Encer (NE) menjadi Nira Kental (NK). Kandungan air
dalam nira cukup besar, sehingga dilakukan penguapan untuk
mengurangi kadar air secara maksimal. Operasional menggunakan 4
– 5 unit peralatan penguapan. Hasil yang didapatkan berupa Nira
Kental (NK). 1. Evaporator I 2. Evaporator II 3. Evaporator III 4.
Evaporator IV Kelima adalah Stasiun Kristalisasi, yaitu bertujuan
untuk mengubah sukrosa yang berbentuk larutan pada Nira Kental
(NK) menjadi kristal gula berukuran rata-rata 0,7 – 1,0 mm. Sistem
kristalisasi menggunakan 3 tahapan, yaitu ACD. Nira kental (NK)
kemudian di masak sehingga didapatkan hasil merupakan Massecuite
atau Masakan (campuran kristal gula dan larutannya seperti
tetes/molasses). Massecuite atau Masakan diturunkan dan
didinginkan di palung pendingin, kemudian didapatkan cairan kental
yang bertekstur kasar seperti pasir. Keenam adalah Stasiun Puteran,
yaitu bertujuan untuk memisahkan antara kristal gula dengan
larutannnya (tetes/molasses) pada Massecuite atau Masakan yang
sudah dingin. Pemisahan menggunakan prinsip sentrifugasi, mirip
pengering mesin cuci dengna keceptan 1.800 rpm. Kristal gula putih
(GKP) akan tetap berada di dalam peralatan, sedangkan cairan
(tetes/molasses) akan terpisah keluar dari peralatan dengan
menggunakan bantuan penyiraman hot spray water ( suhu > 95 o C
untuk Masakan A; suhu 40 – 50 o C untuk Masakan C dan D).
Ketujuh adalah Stasiun Penyelesaian (Tidak Ada di Explant P3GI),
yaitu bertujuan untuk pengeringan gula kristal putih (GKP) yang
sudah terpisahkan (biasanya menggunakan cooling blower) supaya
tidak terlalu basah. Setelah kering dilakukan pengemasan dalam
bentuk retail 1 kg atau karung 50 kg.

3. Kebun budidaya tebu

Pembukaan : Selamat datang bagi seluruh peserta wisata di lokasi


praktek tanam tebu. Perkenalkan nama saya (nama pemandu), yang
akan membantu teman2 untuk belajar mengenai proses menanam
tanaman tebu di dalam media polybag. Pertama : Hal yang perlu
diperhatikan sebelum kita menanam tebu adalah media tanam yang
digunakan harus siap terlebih dahulu. Kali ini, kita akan menanam
tanaman tebu dengan menggunakan 3 jenis media tanam dengan
perbandingan campuran media ialah 2 : 1 : 1, terdiri dari : 1. Tanah :
sebagai media tumbuh tanaman yang didalamnya terdapat tempat
persediaan udara bagi pernafasan akar, kehidupan mikroorganisme
yang butuhkan tanaman dan tempat persediaan unsur hara baik
berupa zat organik maupun non organik bagi pertumbuhan tanaman.
Kesuburan tanah menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi
produktivitas tanah dan mempengaruhi hasil tanaman. Kesehatan
tanah yang optimal tersebut tergantung pada keseimbangan antara
kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah dan keseimbangan sifat-sifat
tersebut antara lain ditentukan oleh kandungan bahan organik tanah.
2. Pasir : sebagai media tumbuh tanaman alternative yang biasanya
digunaka untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanama tebu
serta membantu dalam meningkatkan sistem aerasi (pertukaran
udara di dalam tanah yang berkaita dengan porositas tanah,
perkembangan akar & kesuburan tanah) dan juga drainase (untuk
mengalirkan air limpasan permukaan media tanah ke bawah
permukaan tanah) media tumbuh. 2. Kompos : sebagai penambah
bahan organik yang dapat membantu tanaman tumbuh subur dan
berkembang, karena memiliki sifat yang mampu mengembalikan
kesubura tanah melalui perbaikan sifat-sifat tanah baik itu fisik,
kimiawi maupun biologis. Selain itu, kompos juga menjadi fasilisator
dalam penyerapan unsur Nitrogen (N) yang sangat dibutuhkan
tanaman, mampu meningkatkan pH tanah. Kedua : Media tanam
sudah dijelaskan, selanjutnya kita akan mengenal benih tebu yang
akan di tanam. Didalam perbenihan tanaman tebu memiliki beberapa
macam-macam benih: 1) bagal mata satu, dua, dan tiga, 2) lonjoran,
4) rayungan tunas dua, 5) rayungan tunas satu, 6) pucukan, 8)
budchip, dan 9) budsett. Saat ini kita menggunakan benih tebu bagal
mata satu, hal yang perlu diperhatikan dalam proses menanam tebu
adalah posisi mata tunas tebu harus mengarah ke atas ketika kita
menanamnya di dalam polybag, akan tetapi jika kita menanam di
lahan/ladang maka posisi mata tunas tebu yang kita tanam di dalam
juringan adalah dalam posisi tidur dengan posisi mata tunas
mengarah ke samping. Varietas tanaman tebu yang kita gunakan saat
ini adalah varietas (.............). Untuk mempermudah proses
penanaman tebu, maka benih tebu bagal mata satu ini dibentuk
runcing (dipotong menyamping) pada bagian bawah mata tunas
sebagai tanda posisi penanaman benih tebu agar posisi mata tunas
tidak terbalik, selain itu pemotongan batang bagian bawah mata tunas
tebu ini juga berfungsi untuk memperluas area/permukaan serapan
batang tebu dalam menyerap unsur hara dan air di dalam media
tanam. Jika semua sudah memahaminya, maka proses penanaman
bisa dilakukan dengan tetap mempehatikan posisi mata tunas tebu.
Ketiga : Perawatan benih tebu yang sudah ditanam dalam polybag
antara lain: ─ Letakkan benih tebu di dalam naungan, dan tidak
langsung terkena sinar matahari karena kondisi benih tanaman tebu
yang masih rentan sehingga apabila terkena sinar matahari secara
langsung dapat menimbulkan potensi kematian pada benih tebu.
Meskipun, sinar matahari sangat diperlukan dalam proses fotosintesis
yang selanjutnya akan berpengaruh dalam pertumbuhan dan hasil
panen tebu. ─ Siram tanaman tebu dengan interval penyiraman 2-3
hari (200- 300ml/polybag) sekali dengan tetap mengecek kondisi
media tanam, apakah dalam kondisi lembab atau kering. Jangan
terlalu intens dalam penyiraman karena dapat membuat mata tunas
tanaman tebu menjadi busuk ─ Benih tanaman tebu yang sudah
bertunas atau muncul daun, dapat dipindahkan ke lahan setelah
berumus 1 – 1,5 bulan dari proses penanaman.
4. Colourful cane
5. Pick tour
6. East Indies Café
7. POJ Store
8. Tour Guide
9. Free cane juice

2.9. Sejarah Harmonie

Gedung Societeit Harmonie terletak di Jalan Pahlawan tepat di seberang


Taman Kota dan berada di sebelah kawasan Pusat Penelitian Perkebunan Gula
Indonesia (P3GI). Gedung ini awalnya didirikan sebagai ballroom pada 1858 untuk
memfasilitasi orang-orang Eropa, terutama Belanda. Khususnya untuk tempat
hiburan. Kemudian diperluas dan dipercantik pada tahun 1921, dan diresmikan
serta diberi nama Sociëteit Harmonie te Pasoeroean. Sejarah mencatat bahwa
gedung Sociëteit Harmonie di Pasuruan merupakan gedung perkumpulan sosialita
Eropa di daerah Pasuruan dan sekitarnya. Di dalamnya ada ruang dansa, biliar,
arena bermain kartu, gudang minuman, teater, ruang pertemuan, sampai
penginapan. Kamar-kamar tersedia untuk tempat singgah. Letak Gedung
Harmonie Gedung Harmonie berkapasitas lebih dari ratusan orang dan merupakan
gedung yang kokoh dan mewah di Pasuruan kala itu. Di dalam gedung terdapat
ruangan luas dengan lantai dari marmer dan tiang-tiang yang tinggi, lampu kristal
mewah, cermin dinding yang tinggi juga patung-patung dari perunggu. Di
dalamnya juga terdapat ruang baca dan billiar.
Sociëteit De Harmonie te Pasoeroean 1895
(http://hdl.handle.net/1887.1/item:771593)

Sociët Harmonie, Pasoeroean 1900 and 1938


(Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)
Gambar… Heerenstraat di Pasoeroean sekarang Jalan Pahlawan Pasuruan
(National Museum of World Cultures)

Gedung yang mendapat julukan “Rumah Bola” oleh penduduk pribumi ini
dengan cepat menjadi tempat pertemuan, berkumpul, berbincang sambil menikmati
secangkir teh, minum alkohol, main kartu, main billiar dan pesta dansa para
sosialita Eropa di Pasuruan hingga larut malam. Sociëteit Harmonie sangat populer
di Pasuruan pada saat itu karena hanya orang-orang Eropa dari kelas atas,
pejabat, pengusaha dan priyayi yang boleh menjadi anggota perkumpulan klub
eksekutif itu.
Gambar …. Pejamuan di gedung Harmonie pada masa Belanda (Sumber :nationaal
museum van wereldculturen)
Gambar…. Iklan Societeit Harmonie te Pasoeroean pada masa Hindia Belanda

Setelah diberlakukan Undang-Undang Gula (Suiker Wet) dan Undang-


Undang Agraria (Agrarische Wet) pada tahun 1870, yang memberian izin secara
luas pada perusahaan swasta Eropa untuk menanamkan investasinya di Hindia
Belanda, banyak perusahaan, industri, dan perkebunan didirikan di daerah
Pasuruan. Salah satunya adalah industri gula di Oosthoek (yang kemudian
berkembang menjadi Karesidenan Besuki dan Probolinggo hingga akhirnya
menjadi Gemeente Pasuruan). Dampak dari pendirian industri ini adalah
banyaknya warga Belanda dan Eropa yang pada akhirnya tinggal di Hindia
Belanda, termasuk di Pasuruan. Banyaknya orang Belanda dan Eropa yang
bermukim di Pasuruan ini, membutuhkan beberapa fasilitas atau sarana seperti
pemukiman, sekolah, dan hiburan. Salah satunya adalah Sociëteit Harmonie ini.
Gedung Harmonie terdiri dari tiga bangunan. Satu bangunan utama dan dua
bangunan samping yang sudah mengalami banyak perubahan. Bangunan utama
terdiri dari dua lantai. Bangunan samping terdiri dari satu lantai. Bangunan utama
dan samping membujur dari arah Timur ke Barat, sedangkan gedung menghadap
ke Barat. Di sekelilingnya ada halaman di depan, belakang, dan samping gedung
Harmonie.
Bangunan utama berukuran lebih besar daripada bangunan samping. Posisi
banguan utama menjorok ke depan. Lantainya lebih tinggi dengan atap berbentuk
pelana. Teras depan menggunakan lantai marmer berwarna abu abu. Plafonnya
pelat seng warna putih.
Di bagian teras terdapat tiga pasang pintu kaca. Pintu itu berbentuk persegi
panjang. Setelah melewati pintu, terdapat sentral room yang berukuran besar.
Ruangan ini menghubungkan teras depan dengan teras belakang serta halaman
samping. Ruang tengah terdiri atas bagian depan, tengah, dan belakang.
Lantainya beberapa macam. Lantai samping menggunakan tegel berbentuk persegi
dan segi enam, serta lantai persegi, dan marmer. Setelah melewati ruang tengah,
terdapat kamar di sisi kanan dan kiri. Kamar itu memiliki pintu kayu. Menghadapnya
ke ruang tengah. Kedua kamar ini mempunya pintu yang saling berhadapan.
Di teras belakang terdapat tangga menuju lantai dua. Lantai ini terbuat dari
papan kayu. Tangga kayu dan ruang atas ini merupakan tambahan yang dibangun
lebih baru dari bangunan utama. Bangunan samping ada dua. Bangunan samping
Selatan dan Utara. Namun keduanya sudah sangat berubah.
Pemerintah Kota Pasuruan telah melakukan pemugaran dan pelestarian
Gedung Harmoni sebagai cagar budaya sebagai langkah awal mengembangkan
wisata heritage. Gedung tersebut diyakini memiliki daya tarik bagi wisatawan untuk
datang ke kota santri ini. Karena selama perjalanan sejarahnya, gedung Harmonie
punya nilai historis yang tinggi. Dan tentu menjadi saksi bisu perkembangan Kota
Pasuruan selama ratusan tahun terakhir.
Program Pemkot Pasuruan menetapkan sepanjang Jalan Pahlawan menjadi
destinasi wisata heritage di Kota Pasuruan. Karena memang terdapat banyak
bangunan bersejarah di kawasan tersebut. Bukan hanya Gedung Harmoni saja,
namun juga terintegrasi dalam satu kawasan heritage dengan sejumlah bangunan
lain yang mempunyai nilai sejarah di kawasan tersebut seperti Taman Kota, Taman
Makam Pahlawan, hingga Gedung Proefstation Oost Java yang sekarang bernama
P3GI.

Alih Fungsi Gedung Harmonie Pasuruan setelah kemerdekaan (Radar Bromo,


19 May 2021)
Gedung Societiet de Harmonie sudah mengalami sejumlah perubahan
bangunan dan fungsi. Pertama pada tahun 1921, saat diresmikan oleh Hindia
Belanda gedung tersebut diperluas dan dipercantik di lantai aula utama. Setelah
kemerdekaan RI, pada tahun 1947, gedung Sociëteit Harmonie ini beralih fungsi
menjadi Markas TRIP karena letak dan arsitektur bangunan ini sesuai dengan
konsep pertahanan. TRIP adalah singkatan dari Tentara Republik Indonesia
Pelajar. Di sejumlah daerah, terdapat beberapa istilah untuk penyebutan TRIP.
Kalau di Jawa Timur akrab dengan sebutan TRIP, di Jawa Tengah dikenal dengan
Tentara Pelajar (TP), Di Yogyakarta dinamakan Tentara Genie Pelajar (TGP), dan
di Jawa Barat disebut Corps Pelajar Siliwangi (CPS). Kesemua istilah tersebut
sebenarnya sama, yaitu sebutan untuk Tentara Pelajar (TP) yang merupakan suatu
kesatuan militer yang ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia di mana para
anggotanya dari para pelajar. Umumnya usianya berkisar antara 15 hingga 20
tahun.
Pada tahun 1951, Tentara Pelajar secara resmi dibubarkan dalam sebuah
upacara demobilisasi. Sehingga gedung Sociëteit Harmonie yang dulu digunakan
sebagai Markas TRIP, sejak dibubarkannya secara otomatis juga tidak menjadi
markas lagi. Selanjutnya pada tahun 1962, gedung tersebut difungsikan sebagai
tempat pertemuan dan pertunjukan kesenian rakyat dengan nama Gedung Rakyat.
Kemudian pada tahun 1964, Gedung Rakyat berganti menjadi Yayasan Pendidikan
Kejuruan Untung Surapati dan difungsikan sebagai sarana pendidikan sekolah
kejuruan. Selain memodifikasi ruang-ruang yang ada pada bangunan lama untuk
menjadi ruang kelas, juga mendirikan bangunan baru. Gedung Harmoni ini
dijadikan bangunan sekolah sejak 1964. Semua berawal dari kepedulian tokoh
pendidikan setempat. Karena saat itu belum ada sekolah kejuruan. Saat itu, P3GI
bekerjasama dengan PT Boma mendirikan sekolah kejuruan di Pasuruan. Dan
yang pertama memimpin sekolah ini adalah orang PT Boma. Pada saat ini SMK
Untung Surapati telah terakreditasi A, dan mempunyai beberapa program jurusan,
yaitu Teknik Pemesinan, Ketenagaan Listrik, Otomotif, serta Komputer dan
Jaringan.
Sesuai dengan perjalanan sejarahnya, bangunan gedung berlanggam
Indische Empire Style ini berdasarkan Surat Keputusan Walikota Pasuruan Nomor
188/496/423.031/2015 tentang Penetapan Cagar Budaya Kota Pasuruan
ditetapkan sebagai salah satu dari 20 bangunan atau kawasan yang telah
ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan sesuai yang tertera pada Diktum
Kesatu.

Tidak hanya beralih fungsi, luas bangunan juga mengalami perubahan.


Berdasar surat ukur yang diterbitkan pada 1955, luas Gedung Harmonie adalah
6.502 meter persegi. Sekarang tinggal 6.000 meter persegi karena yang 502 meter
persegi diminta menjadi akses Jalan Tengger di sisi utara gedung (Jawa timur
News, 20 April 2023. Sejarah SMK Untung Surapati Pasuruan)

Gambar…. Harmonie beralih fungsi menjadi SMK Untung Surapati


Nederlands: Negatief. Sociëteitsgebouw, Pasuruan, Oost-Java 1900 - 1940

National Museum of World Cultures


gambar…. harmonie sekarang

gambar…. harmonie sekarang

2.10. Sejarah Taman Kota Pasuruan


Pasuruan adalah kota dengan nilai sejarah yang cukup tinggi. Gedung-
gedung tua peninggalan penjajah Belanda adalah saksi nyata bekas kejayaan
Pasuruan di masa lampau. Menyusuri Jalan Pahlawan seperti melihat dan
mendengar kembali alam zaman Belanda. Tak salah jika Pasuruan menjadikan
Jalan Pahlawan sebagai ikon kota yang diharapkan bisa mengangkat kembali
pamor Pasuruan sebagai salah satu kota penting di Indonesia.
Pembangunan taman sepanjang Jalan Pahlawan seolah ingin memberitahu
kepada dunia, bahwa Pasuruan masih ada dan akan kembali berjaya. Melintas
sepanjang Jalan Pahlawan di malam hari membuat kita semakin terpesona.
Gemerlap lampu taman sepanjang jalan sungguh membuat hati bahagia.
Masyarakat Pasuruan tentu sangat terhibur dan merasa nyaman tanpa harus pergi
ke luar kota. Sepoi angin khas kota pesisir membuat suasana semakin nyaman.

Pembenahan infrastruktur telah membuat wajah kota Pasuruan mengalami


perubahan. Banyak sarana umum seperti Jalan Pahlawan. Trotoar telah berfungsi
ganda. Dibuat lebar sehingga memungkinkan orang untuk jalan kaki dan bisa
beristirahat dengan duduk-duduk di kursi dengan ornament lawas. Banyak warga
berfoto dan bergaya di sepanjang Jalan Pahlawan.

Di siang hari yang cukup terik nyatanya kini sepulang sekolah anak-anak
bisa meluangkan waktu untuk bermain. Hijaunya dedaunan serta trotoar yang
berfungsi ganda benar-benar merupakan pemandangan baru di wajah Pasuruan.

Taman kota Pasuruan terletak di Jalan Pahlawan, tepat di depan gedung


Harmonie. Taman kota (stadstuin) Pasuruan diperkirakan mulai dibangun sekitar
tahun 1930-an. Taman kota yang berfungsi rekreatif ini dahulunya diperuntukkan
untuk orang Belanda dan sarana berolah raga dengan membangun lapangan tenis.
Pada tanggal 7 Augustus 1934 oleh dewan, Taman Kota Pasuruan diganti nama
menjadi Burgemeester Boissevain Park untuk mengenang jasa Bossevain yang
telah memerintah Kota anak-anak dan aiir mancur yang dapat dinikmati
pengunjung padaPasuruan selama 6 tahun (Mutiara Kecil Pasuruan, Museum
Online Kota Pasuruan).

Saat ini taman kota mulai direnovasi dengan menambahkan berbagai


mainan waktu malam. Di sebelah Selatan taman ada pemancar Radio Lokal
Ramapati. Taman Kota Pasuruan merupakan tempat sarana berlibur untuk
masyarakat Pasuruan khususnya dan pengunjung dari kota maupun negara lain
pada umumnya. Terdapat bangunan di taman kota tersebut yang sengaja di
bangun oleh pemerintah setempat, bangunan tersebut menyerupai monumen atau
tiang yang mirip dengan gedung kepresidenan. Tempat ini tidak pernah sepi, baik
pagi maupun sore hari.
gbr taman kota masa sekarang
2.11. Cagar Budaya

Pelestarian Cagar Budaya merupakan upaya untuk mempertahankan


warisan budaya agar tetap lestari dan berkelanjutan di samping memberikan
manfaat bagi kebudayaan, tetapi juga memiliki nilai manfaat secara ekonomi.
Pelestarian yang semula dipahami secara sempit hanya sebagai upaya
perlindungan, kini diperluas tidak saja untuk maksud tersebut, tetapi juga terkait
dengan upaya pengembangan dan pemanfaatan.
Keinginan pemerintah kota Pasuruan dalam mewujudkan Pasuruan sebagai
kota heritage dituangkan dalam SK Walikota Pasuruan Nomor
188/166/423.011/2020 tentang penetapan status cagar budaya peringkat kota
Pasuruan. Dalam SK tersebut menetapkan Gedung Harmonie sebagai status
cagar budaya, P3GI sebagai kawasan cagar budaya, dan taman kota sebagai
struktur cagar budaya kota Pasuruan. Hal ini diperkuat dengan SK Gubernur
Provinsi Jawa Timur Nomor 188/860/KPTS/013/2021 tentang P3GI sebagai situs
cagar budaya tingkat Provinsi Jawa Timur.

Berdasarkan PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR


I TAHUN 2022 TENTANG REGISTER NASIONAL DAN PELESTARIAN CAGAR
BUDAYA pasal 1, yang dimaksud dengan cagar budaya adalah warisan budaya
bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur
cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di
air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi
sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui
proses penetapan.
Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia,
baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau
bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan
kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda
alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding
dan/atau tidak berdinding, dan beratap.
Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda
alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan
yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan
manusia.
Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang
mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur
Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.

2.12. Wisata Edukasi

Wisata edukasi yang telah diangkat oleh P3GI sebagai satu destinasi wisata
heritage Pasuruan mempunyai pengertian dari dua kata yaitu wisata dan edukasi.
Berikut diulas pengertian tentang dua kata tersebut.

1. Wisata

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wisata adalah kegiatan


bepergian bersama-sama dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan,
bersenang-senang, dan sebagainya, atau bertamasya. Sedangkan, menurut
World Tourism Organization (WTO), pengertian wisata memiliki arti sebuah
aktivitas perjalanan dan tinggal selama beberapa waktu di suatu tempat
yang bukan tempat tinggalnya (Heriawan : 2004).

Menurut Harahap (2018), pengertian wisata adalah kegiatan perjalanan yang

dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat

tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan

daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara objek wisata

merupakan tempat yang menjadi pusat daya tarik dan dapat memberikan kepuasan

khususnya pengunjung.

Kemudian menurut pendapat dari Koen Meyers (2009), pengertian wisata

adalah sebuah kegiatan yang berupa perjalanan sementara waktu yang dilakukan

seseorang di luar tempat tinggalnya. Menurut Meyers, orang berwisata ingin


memenuhi rasa ingin tahunya tentang tempat yang ia tuju, menghabiskan waktu

liburan, atau aktivitas menghabiskan kekayaan.

Definisi wisata adalah suatu proses berpergian yang bersifat sementara

yang dilakukan seseorang untuk menuju tempat lain di luar tempat tinggalnya. Motif

kepergiannya tersebut bisa karena kepentingan ekonomi, kesehatan, agama,

budaya, sosial, politik, dan kepentingan lainnya. (Gamal : 2004)

Sedangkan dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang

Kepariwisataan Bab 1 Pasal 1 menyatakan bahwa pengertian wisata adalah

Kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang

dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi,

atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu

sementara ( UU RI no 10 th 2009).

Dari pengertian wisata tersebut, ada empat unsur di dalamnya, yaitu

kegiatan perjalanan; dilakukan secara sukarela; bersifat sementara; perjalanan itu

seluruhnya atau sebagian bertujuan untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata.

Menurut Andre Kurniawan (2 Nov 2022) Pengertian Wisata dan Jenisnya,

Kenali Manfaatnya bagi Manusia (merdeka.com), wisata Sosial-Budaya terdiri dari

peninggalan sejarah kepurbakalaan dan monumen. Dalam jenis wisata ini termasuk

golongan budaya, monumen nasional, gedung bersejarah, kota, desa, bangunan-

bangunan keagamaan, serta tempat-tempat bersejarah lainnya seperti bekas

pertempuran (battle fields) yang menjadi daya tarik utama dari pariwisata di banyak

negara. Sementara itu, museum dan fasilitas budaya lainnya, merupakan wisata

yang berkaitan dengan aspek alam dan kebudayaan di suatu kawasan atau daerah

tertentu. Museum kemudian dikembangkan berdasarkan temanya, seperti misalnya

museum arkeologi, sejarah, entologi, sejarah alam, seni dan kerajinan, ilmu

pengetahuan dan teknologi, industri, dan lain sebagainya.

2. Edukasi
Pendidikan merupakan usaha secara sadar untuk mewujudkan
sesuatu pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain.
Pendidikan menjadikan generasi ini sebagai sosok panutan dari pengajaran
generasi yang terdahulu. Sampai sekarang ini, pendidikan tidak mempunyai
batasan untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap karena sifatnya
yang kompleks seperti sasarannya yaitu manusia. Sifatnya yang kompleks
itu sering disebut ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan merupakan kelanjutan
dari pendidikan. Ilmu pendidikan lebih berhubungan dengan teori pendidikan
yang mengutamakan pemikiran ilmiah. Pendidikan dan ilmu pendidikan
memiliki keterkaitan dalam artian praktik serta teoritik. Sehingga, dalam
proses kehidupan manusia keduanya saling berkolaborasi (Rahman dkk,
2022. PENGERTIAN PENDIDIKAN, ILMU PENDIDIkan DAN UNSUR-
UNSUR PENDIDIKAN. Al Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam ISSN:
2775-4855 Volume 2, Nomor 1, Juni 2022
https://journal.unismuh.ac.id/index.php/alurwatul).
Menurut Notoatmodjo (2012) pengertian edukasi adalah kegiatan atau
usaha menyampaikan pesan kepada masyarakat, individu ataupun
kelompok. Dimana pesan tersebut bertujuan untuk memberikan informasi
yang lebih baik. Dari beberapa pengertian edukasi menurut para ahli, maka
dapat disimpulkan bahwa pengertian edukasi sebagai upaya
mengembangkan diri melalui proses pendidikan atau belajar. Dapat pula
edukasi diartikan sebagai kondisi, peristiwa, kejadian yang memberikan
pembelajaran sikap dan tata laku seseorang ataupun kelompok menuju
kedewasaan dan menjadi pribadi yang lebih matang secara kognitif dan
mental.

3. Wisata edukasi

Pengertian Wisata Edukasi atau Wisata Pendidikan adalah suatu program


yang menggabungkan unsur kegiatan wisata dengan muatan pendidikan
didalamnya. Program ini dapat dikemas sedemikian rupa menjadikan kegiatan
wisata tahunan atau kegiatan ekstrakurikuler memiliki kualitas dan berbobot.
Materi-materi dalam pemanduan telah disesuaikan dengan bobot siswa dan
kurikulum pendidikan. Setiap kali mengunjungi obyek wisata akan disesuaikan
dengan ketertarikan obyek dan bidang ilmu yang akan dipelajari.
Keanekaragaman budaya dan obyek wisata dapat membuat besarnya
kemungkinan wisatawan datang berkunjung ke Indonesia untuk mengadakan
kegiatan wisata edukasi. Program Wisata Edukasi yang telah lama diluncurkan juga
menjadi suatu kebutuhan bagi sekolah untuk membina dan mendidik para siswa.
Selain program pembelajaran di dalam kelas, Program wisata Pendidikan telah
terbukti efektif untuk meningkatkan pola pembelajaran dan sosialisasi para siswa.
Program Wisata Edukasi juga didukung oleh para kalangan akademisi perguruan
tinggi dalam menyampaikan materi dilapangan. Sehingga program ini betul-betul
disusun untuk memenuhi kegiatan wisata sekolah dengan berkualitas.
Wisata edukasi adalah suatu perjalanan wisata yang dimaksudkan untuk
memberikan gambaran, studi perbandingan ataupun pengetahuan mengenai
bidang kerja yang dikunjunginya. Wisata jenis ini juga sebagai study tour atau
perjalanan kunjungan-kunjungan pengetahuan (Suwantoro, 1997.Suwantoro.
(1997). Dasar-Dasar Pariwisata. Yogyakarta : Penerbit Andi. Systematic Linkange.
Gramedia: Jakarta.). Sedangkan menurut (Rodger, 1998. Rodger, 1998. Leisure,
Learning and Travel, Journal of Physical Education, 69 (4): hal 28. ), wisata edukasi
adalah suatu program dimana peserta kegiatan wisata melakukan perjalanan
wisata pada suatu tempat tertentu dalam suatu kelompok dengan tujuan utama
mendapatkan pengalaman belajar secara langsung terkait dengan lokasi yang
dikunjungi. Wisata edukasi adalah aktivitas pariwisata yang dilakukan oleh
wisatawan yang mengambil liburan sehari dan mereka yang melakukan perjalanan
untuk pendidikan dan pembelajaran sebagai tujuan utama atau kedua. Wisata
edukasi dilihat berdasarkan pengaruh lingkungan eksternal yang mempengaruhi
penawaran dan permintaan produk daya tarik wisata edukasi untuk memenuhi
kebutuhan yang berbeda.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
Pada bagian ini akan dibahas mengenai jenis dan metode penelitian, lokasi
penelitian, populasi dan sampel penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data,
serta teknik analisis data.

3.1 Jenis dan Metode Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pengembangan Kawasan Cagar


Budaya Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Bangunan Cagar Budaya Gedung
Harmonie, dan Struktur Cagar Budaya Taman Kota Pasuruan sebagai Wahana Wisata
Pendidikan dan Sejarah terpadu. Karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan
atau memaparkan suatu fenomena atau masalah yang terjadi maka penelitian ini termasuk
dalam penelitian deskriptif.
Proses pengembangan Kawasan Cagar Budaya Pusat Penelitian Perkebunan Gula
Indonesia, Bagunan Cagar Budaya Gedung Harmonie, dan Struktur Cagar Budaya Taman
Kota Pasuruan sebagai Wahana Wisata Pendidikan dan Sejarah terpadu ini didasarkan
pada sikap, pandangan, serta pendapat para pemangku kepentingan Kawasan Cagar
Budaya Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Bangunan Cagar Budaya Gedung
Harmonie, dan Struktur Cagar Budaya Taman Kota Pasuruan, oleh karena itu penelitian ini
akan menggunakan metode survei.

3.2 Lokasi Penelitian

Kawasan Cagar Budaya Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Bangunan


Cagar Budaya Gedung Harmonie, dan Struktur Cagar Budaya Taman Kota Pasuruan
ketiganya terletak di Jalan Pahlawan, oleh karena itu lokasi penelitian ini adalah kawasan
Jalan Pahlawan, Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Provinsi
Jawa Timur.

3.3 Populasi dan Sampel

Penelitian ini dilakukan pada 3 cagar budaya, Kawasan Cagar Budaya Pusat
Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Bangunan Cagar Budaya Gedung Harmonie, dan
Struktur Cagar Budaya Taman Kota Pasuruan, dan lingkungan Stadion Untung Suropati
oleh karena itu terdapat empat populasi yang akan diikutsertakan yakni:
1. semua pegawai (peneliti dan non-peneliti) P3GI;
2. semua guru, siswa, dan pegawai SMK Untung Suropati;
3. masyarakat yang tinggal di lingkungan Taman Kota Pasuruan;
4. pelaku usaha di sekitar Stadion Untung Suropati.

Dalam penelitian ini digunakan teknik sampling simple random sampling, terdapat
33 responden pegawai P3GI, 20 responden untuk bangunan harmonie, 34 responden
masyarakat yang tinggal di lingkungan Taman Kota Pasuruan, serta 20 responden pelaku
usaha di sekitar Stadion Untung Suropati.

3.4 Instrumen Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian survei dengan instrumen penelitian lembar


kuesioner. Terdapat empat lembar kuesioner untuk empat kelompok responden, yakni 1)
pegawai P3GI, 2) guru, siswa, dan pegawai SMK Untung Suropati, 3) masyarakat yang
tinggal di lingkungan Taman Kota Pasuruan, dan 4) pelaku usaha di sekitar Stadion Untung
Suropati. Kuesioner dibuat dalam bentuk google form.

3.4.1 Kuesioner untuk Pegawai P3GI

Berikut ini adalah item-item pertanyaan dalam kuesioner untuk pegawai P3GI,
kuesioner lengkap dapat dilihat dalam Lampiran …

1. Apakah Anda mengetahui bahwa Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur
Taman Kota Pasuruan telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan?
(tahu, tidak tahu).
2. Menurut Anda bagaimana sosialisasi Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan? (baik, cukup,
kurang)
3. Menurut Anda bagaimana daya tarik cagar budaya Kawasan P3GI, Gedung
Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan? (sangat menarik, menarik, kurang
menarik)
4. Sepengetahuan Anda, seberapa banyak wisatawan yang mengunjungi Kawasan
P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan?(banyak, cukup,
kurang)
5. Menurut Anda, bagaimana fasilitas parkir di Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya? (memadai, kurang
memadai, tidak tahu)
6. Menurut Anda, bagaimana kalau Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur
Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi wahana
wisata edukasi dan sejarah terpadu? (setuju, tidak setuju, terserah pemda).
7. Jika Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan serta
lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi wahana wisata edukasi dan sejarah
terpadu, sarana apa yang perlu ditambahkan? (area parkir, arkade (sarana jalan
kaki beratap), arena bermain anak, taman, lainnya sebutkan)
8. Menurut Anda bagaimana faktor kenyamanan lingkungan kawasan cagar budaya
P3GI?(nyaman, kurang nyaman (panas))
9. Menurut Anda apakah Kawasan P3GI sebagai wahana wisata edukasi dan sejarah
perlu dikembangkan? (perlu, tidak perlu, tidak tahu)
10. Berikan masukan Anda dalam pengembangan Kawasan P3GI sebagai wahana
wisata edukasi dan sejarah!

3.4.2 Kuesioner untuk Guru, Siswa, dan Pegawai SMK Untung Suropati

Berikut ini adalah item-item pertanyaan dalam kuesioner untuk guru, siswa, dan
pegawai SMK Untung Suropati, kuesioner lengkap dapat dilihat dalam Lampiran …

1. Apakah Anda mengetahui bahwa Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur
Taman Kota Pasuruan telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan?
(tahu, tidak tahu).
2. Menurut Anda bagaimana sosialisasi Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan? (baik, cukup,
kurang)
3. Menurut Anda bagaimana daya tarik cagar budaya Kawasan P3GI, Gedung
Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan? (sangat menarik, menarik, kurang
menarik)
4. Sepengetahuan Anda, seberapa banyak wisatawan yang mengunjungi Kawasan
P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan?(banyak, cukup,
kurang)
5. Menurut Anda, bagaimana fasilitas parkir di Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya? (memadai, kurang
memadai, tidak tahu)
6. Menurut Anda, bagaimana kalau Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur
Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi wahana
wisata edukasi dan sejarah terpadu? (setuju, tidak setuju, terserah pemda).
7. Jika Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan serta
lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi wahana wisata edukasi dan sejarah
terpadu, sarana apa yang perlu ditambahkan? (area parkir, arkade (sarana jalan
kaki beratap), arena bermain anak, taman, lainnya sebutkan)
8. Menurut Anda bagaimana kenyamanan lingkungan Gedung Harmonie? (nyaman,
kurang nyaman (panas))
9. Menurut Anda apakah cagar budaya Bangunan Harmonie sebagai wahana wisata
perlu dikembangkan?
10. Berikan masukan Anda dalam pengembangan Gedung Harmonie sebagai wahana
wisata sejarah!

3.4.3 Kuesioner untuk Masyarakat yang Tinggal di Lingkungan Taman Kota Pasuruan

Berikut ini adalah item-item pertanyaan dalam kuesioner untuk masyarakat yang
tinggal di lingkungan Taman Kota Pasuruan, kuesioner lengkap dapat dilihat dalam
Lampiran …

1. Apakah Anda mengetahui bahwa Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur
Taman Kota Pasuruan telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan?
(tahu, tidak tahu).
2. Menurut Anda bagaimana sosialisasi Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan? (baik, cukup,
kurang)
3. Menurut Anda bagaimana daya tarik cagar budaya Kawasan P3GI, Gedung
Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan? (sangat menarik, menarik, kurang
menarik)
4. Sepengetahuan Anda, seberapa banyak wisatawan yang mengunjungi Kawasan
P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan?(banyak, cukup,
kurang)
5. Menurut Anda, bagaimana fasilitas parkir di Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya? (memadai, kurang
memadai, tidak tahu)
6. Menurut Anda, bagaimana kalau Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur
Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi wahana
wisata edukasi dan sejarah terpadu? (setuju, tidak setuju, terserah pemda).
7. Jika Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan serta
lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi wahana wisata edukasi dan sejarah
terpadu, sarana apa yang perlu ditambahkan? (area parkir, arkade (sarana jalan
kaki beratap), arena bermain anak, taman, lainnya sebutkan)
8. Menurut Anda bagaimana kenyamanan lingkungan Taman Kota Pasuruan?
9. Menurut Anda cagar budaya Struktur Taman Kota sebagai wahana wisata sejarah
perlu dikembangkan?
10. Berikan masukan Anda dalam pengembangan cagar budaya Struktur Taman Kota
sebagai wahana wisata sejarah!

3.4.4 Kuesioner untuk Pelaku Usaha di sekitar Stadion Untung Suropati

Berikut ini adalah item-item pertanyaan dalam kuesioner untuk pelaku usaha di
sekitar Stadion Untung Suropati, kuesioner lengkap dapat dilihat dalam Lampiran …

1. Apakah Anda mengetahui bahwa Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur
Taman Kota Pasuruan telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan?
(tahu, tidak tahu).
2. Menurut Anda bagaimana sosialisasi Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan? (baik, cukup,
kurang)
3. Menurut Anda bagaimana daya tarik cagar budaya Kawasan P3GI, Gedung
Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan? (sangat menarik, menarik, kurang
menarik)
4. Sepengetahuan Anda, seberapa banyak wisatawan yang mengunjungi Kawasan
P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan?(banyak, cukup,
kurang)
5. Menurut Anda, bagaimana fasilitas parkir di Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya? (memadai, kurang
memadai, tidak tahu)
6. Menurut Anda, bagaimana kalau Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur
Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi wahana
wisata edukasi dan sejarah terpadu? (setuju, tidak setuju, terserah pemda).
7. Jika Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan serta
lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi wahana wisata edukasi dan sejarah
terpadu, sarana apa yang perlu ditambahkan? (area parkir, arkade (sarana jalan
kaki beratap), arena bermain anak, taman, lainnya sebutkan)
8. Menurut Anda bagaimana kenyamanan lingkungan tempat usaha Anda?
9. Berikan masukan Anda untuk peningkatan usaha Anda!
BAB IV PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini akan dibahas paparan data dan pembahasan dari hasil kuesioner
yang telah diisi responden.

4.1 Paparan Data

Pada bagian ini akan disajikan data yang berupa respon dari responden atas
kuesioner yang telah dibagikan melalui google form.

4.1.1 Paparan Data Responden P3GI

Responden untuk Kawasan P3GI sebanyak 33 orang, rekapitulasi jawaban


responden untuk item pertanyaan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, dan 9 disajikan dalam Tabel … berikut.

Item Respon

1 Ya Tidak

30 3

2 Baik Cukup Kurang

13 12 8

3 Menarik Cukup Kurang

22 9 2

4 Banyak Cukup Kurang

13 13 7

5 Memadai Cukup Kurang

22 9 2

6 Setuju Tidak Setuju

33 0
8 Nyaman Tidak Nyaman

16 17

9 Perlu Tidak Perlu Tidak Tahu

33 0 0

Untuk item pertanyaan 7, rekapitulasi jawaban responden disajikan dalam Tabel ..


berikut.

No Sarana yang perlu ditambahkan Banyak responden

1. Taman 24

2. Sarana jalan beratap 20

3. Arena bermain anak 17

4. Area parkir 13

5. Toilet 3

6. Food court 2

7. Fasilitas disabilitas 1

8. Toko cinderamata 1

9. Spot foto 1

10. Papan petunjuk arah 1

Sedangkan untuk item pertanyaan 10, rekapitulasi jawaban responden disajikan


dalam Tabel .. berikut.

No. Masukan Pengembangan Banyak Responden

1. Wahana hiburan menarik 6

2. Ruang display riset P3GI 2

3. Food court 3

4. Toilet 3

5. Museum gula 1

6. Informasi budidaya tebu 1


7. Atraksi 1

8. Toko souvenir 1

9. Spot foto yang instagramable 1

10. Fasilitas disabilitas 1

11. Tempat sampah 1

12. Petunjuk arah 1

13. Tempat berteduh 1

4.1.2 Paparan Data Responden Harmonie

Responden untuk Banguna Harmonie sebanyak 20 orang, rekapitulasi jawaban


responden untuk item pertanyaan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, dan 9 disajikan dalam Tabel … berikut.

Item Respon

1 Ya Tidak

19 1

2 Baik Cukup Kurang

12 6 2

3 Menarik Cukup Kurang

13 7 0

4 Banyak Cukup Kurang

6 12 2

5 Memadai Cukup Kurang

6 8 6

6 Setuju Tidak Setuju

19 1

8 Nyaman Tidak Nyaman

14 6

9 Perlu Tidak Perlu Tidak Tahu

20 0 0
Untuk item pertanyaan 7, rekapitulasi jawaban responden disajikan dalam Tabel .. berikut.

No Sarana yang perlu ditambahkan Banyak responden

1. Taman 8

2. Sarana jalan beratap 7

3. Arena bermain anak 8

4. Area parkir 9

5. Toilet 1

6. Museum 1

Sedangkan untuk item pertanyaan 10, rekapitulasi jawaban responden disajikan


dalam Tabel .. berikut.

No. Masukan Pengembangan Banyak Responden

1. Toilet 2

2. Pohon 3

3. Parkir 4

4. Plaza Harmonie 1

5. Sarana ke lantai 2 1

6. Taman 1

7. Souvenir 1

8. Tambahan Atraksi 1

9. Peneduh 1

10. Objek bernuansa sejarah 1

4.1.3 Paparan Data Responden Taman Kota

Responden untuk Struktur Taman Kota sebanyak 34 orang, rekapitulasi jawaban


responden untuk item pertanyaan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 8, dan 9 disajikan dalam Tabel … berikut.
Item Respon

1 Ya Tidak

29 5

2 Baik Cukup Kurang

19 8 7

3 Menarik Cukup Kurang

21 12 1

4 Banyak Cukup Kurang

9 19 6

5 Memadai Cukup Kurang

14 8 12

6 Setuju Tidak Setuju

34 0

8 Nyaman Tidak Nyaman

16 18

9 Perlu Tidak Perlu Tidak Tahu

34 0 0
Untuk item pertanyaan 7, rekapitulasi jawaban responden disajikan dalam Tabel .. berikut.

No Sarana yang perlu ditambahkan Banyak responden

1. Taman 14

2. Sarana jalan beratap 22

3. Arena bermain anak 18

4. Area parkir 20

5. Toilet 1

6. Food court 3

7. Tempat ibadah 1

8. Tulisan yang memiliki arti sejarah 1

9. Sarana informasi 1
10. Perpustakaan 1

11. Akses mengelilingi gedung 1

Sedangkan untuk item pertanyaan 10, rekapitulasi jawaban responden disajikan


dalam Tabel .. berikut.

No. Masukan Pengembangan Banyak


Responden

1. Wahana hiburan menarik 3

2. Pohon 5

3. Food court 1

4. Toilet 7

5. Parkir 7

6. Penambahan unsur sejarah dan edukasi 6

7. penerangan jalan 1

8. penambahan teduhan 3

9. Arena bermain anak 1

10. Pusat informasi 1

11. Publikasi wisata edukasi dan sejarah 1

12. Penertiban masyarakat 3

13. Penambahan mall 1

14. Aksesibilitas yang ramah wisatawan 1

15. pengenalan budaya melalui seni 3D 1

16. Penambahan tempat sampah 2

17. Peningkatan keamanan 1

18. Peningkatan kualitas atraksi 3

4.1.4 Paparan Data Responden Pelaku Usaha

Responden pelaku usaha sebanyak 20 orang, rekapitulasi jawaban responden


untuk item pertanyaan 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 8 disajikan dalam Tabel … berikut.
Item Respon

1 Ya Tidak

19 1

2 Baik Cukup Kurang

9 7 4

3 Menarik Cukup Kurang

8 10 2

4 Banyak Cukup Kurang

10 6 4

5 Memadai Cukup Kurang

3 11 6

6 Setuju Tidak Setuju

19 1

8 Nyaman Tidak Nyaman

7 13

Untuk item pertanyaan 7, rekapitulasi jawaban responden disajikan dalam Tabel .. berikut.

No Sarana yang perlu ditambahkan Banyak responden

1. Taman 9

2. Sarana jalan beratap 11

3. Arena bermain anak 6

4. Area parkir 6

5. Toilet 2

6. Papan sejarah 1

7. perluasan akses pedagang 3


Sedangkan untuk item pertanyaan 9, rekapitulasi jawaban responden disajikan
dalam Tabel .. berikut.

No. Masukan Pengembangan Banyak


Responden

1. Area berdagang yang nyaman 3

2. Tenda pedagang 6

3. Toilet 3

4. Tempat sampah 3

5. Penanaman pohon 2

4.2 Pembahasan

Pada bagian ini akan dibahas hasil kuesioner yang telah diisi oleh para responden.
Pembahasan akan disajikan butir demi butir yang ada dalam kuesioner.

4.2.1 Penetapan Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan
telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan.

Untuk aspek popularitas, responden ditanya apakah mengetahui bahwa Kawasan


P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan telah ditetapkan sebagai
cagar budaya Kota Pasuruan. Dari 107 responden, 97 responden (91%) menyatakan tahu
bahwa Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan telah
ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan. Kondisi tersebut cukup bagus untuk
rencana pengembangan berikutnya, namun demikian sebaiknya bisa diupayakan agar
semua masyarakat tahu tentang penetapan Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan. Karena
pengetahuan tersebut diharapkan dapat mendukung rencana pengembangan.

4.2.2 Sosialisasi Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan
sebagai cagar budaya Kota Pasuruan?

Untuk aspek sosialisasi, responden ditanya bagaimana sosialisasi Kawasan P3GI,


Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan sebagai cagar budaya Kota
Pasuruan. Dari 107 responden, 53 responden (49%) menyatakan baik, 33 responden
(31%) menyatakan cukup baik, dan 21 responden (20%), menyatakan kurang. Kondisi
tersebut menunjukkan bahwa 50% responden menyatakan bahwa pelaksanaan sosialisasi
kurang baik atau cukup baik. Dengan demikian diperlukan peningkatan kegiatan
sosialisasi Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan sebagai
cagar budaya Kota Pasuruan, baik dari sisi frekuensi maupun jenis sosialisasi yang
dilakukan. Upaya sosialisasi melalui media sosial perlu lebih ditingkatkan baik secara
kuantitas dan kualitas. Selain itu, upaya sosialisasi juga bisa ditingkatkan melalui
pembuatan brosur (flyer dan leaflet), baliho, billboard, videotron, neonbox, banner,
spanduk, poster, kalender, embalase dan sebagainya.

Dalam pembuatannya brosur harus berisi konten atau informasi yang lebih
terperinci dan jelas mengenai Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota
Pasuruan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan. Dalam penyampaiannya kepada
masyarakat perlu diupayakan menyebarluaskan brosur secara langsung kepada
masyarakat, bukan hanya sekedar ditaruh di kantor atau suatu tempat tertentu. Untuk
tempat umum dan strategis serta tepi jalan dengan lalu lintas yang padat bisa dibuatkan
baliho atau billboard tentang Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota
Pasuruan. Baliho dan billboard harus dibuat dengan tulisan besar dan gambar yang
menarik. Baliho juga bisa dibuat dalam bentuk digital atau lebih dikenal dengan videotron.

4.2.3 Daya tarik cagar budaya Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman
Kota Pasuruan

Untuk aspek daya tarik, responden ditanya bagaimana daya tarik cagar budaya
Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan. Dari 107
responden, 64 responden (60%) menyatakan menarik, 38 responden (35%) menyatakan
cukup menarik, dan 5 responden (5%) menyatakan kurang menarik. Kondisi tersebut
cukup bagus karena hanya 5% responden menyatakan bahwa Kawasan P3GI, Gedung
Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan kurang menarik, selebihnya mereka
menyatakan menarik atau cukup menarik. Dengan demikian usaha-usaha pengembangan
perlu dan pantas untuk dilakukan. Karena jika Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan tidak menarik, maka usaha-usaha pengembangan tidak
akan ada artinya.

4.2.4 Banyak wisatawan yang mengunjungi Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan
struktur Taman Kota Pasuruan

Untuk aspek kunjungan wisatawan, responden ditanya seberapa banyak wisatawan


yang mengunjungi Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan.
Dari 107 responden, 38 responden (35%) menyatakan banyak, 50 responden (47%)
menyatakan cukup, dan 19 responden (18%) menyatakan kurang. Kondisi tersebut
mengindikasikan bahwa menurut 65 % responden kunjungan wisatawan masih belum
banyak, oleh karena itu diperlukan usaha-usaha termasuk didalamnya pengembangan
untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke tiga cagar budaya tersebut.

4.2.5 Fasilitas parkir di Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota
Pasuruan serta lingkungan sekitarnya

Untuk aspek fasilitas parkir, responden ditanya bagaimana fasilitas parkir di


Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan serta lingkungan
sekitarnya. Dari 107 responden, 45 responden (42%) menyatakan memadai, 36
responden (34%) menyatakan cukup memadai, dan 26 responden (24%) menyatakan
kurang memadai. Dari kondisi tersebut terlihat bahwa 58% responden menyatakan bahwa
fasilitas parkir di Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan
serta lingkungan sekitarnya masih belum memadai. Faktanya memang di kawasan 3 cagar
budaya tersebut belum tersedia lahan parkir khusus, sementara ini parkir dikondisikan di
pinggir jalan.

Untuk mengatasi hal tersebut diusulkan untuk menyediakan fasilitas parkir sistem
vertikal, mengingat kondisi di sekitar cagar budaya tersebut sudah tidak banyak tersedia
lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk parkir. Untuk saat sekarang sudah tersedia
sistem parkir mobil otomatis. Menggunakan sistem tersebut parkir menjadi lebih efisien
karena menghemat lahan dan biaya konstruksi, pengambilan mobil juga mudah dan
nyaman. Selain itu keamanan lebih terjamin karena dikontrol dengan satu sistem. Sistem
tersebut juga ramah lingkungan karena bisa mengurangi emisi gas buang, hal itu
dikarenakan saat memarkir mobil mesin mobil dalam keadaan mati. Untuk kawasan yang
kesulitan lahan untuk parkir, sistem ini merupakan solusi yang tepat, lahan yang biasanya
hanya bisa digunakan untuk 2 mobil dapat meningkat menjadi 10 - 16 mobil.

4.2.6 Pengembangan Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota
Pasuruan serta lingkungan sekitarnya dikembangkan menjadi wahana wisata edukasi dan
sejarah terpadu

Untuk melihat pendapat masyarakat untuk pengembangan tiga cagar budaya


tersebut menjadi kawasan wisata terpadu, responden ditanya bagaimana kalau Kawasan
P3GI, Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya
dikembangkan menjadi wahana wisata edukasi dan sejarah terpadu. Dari 107 responden,
105 responden (98%) menyatakan setuju dan hanya 2 responden (2%) menyatakan tidak
setuju. Kondisi tersebut sangat mendukung untuk usaha pengembangan Kawasan P3GI,
Gedung Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya
menjadi wahana wisata edukasi dan sejarah terpadu. Persepsi masyarakat yang positif
dapat berpengaruh pada proses pengembangan dalam beberapa aspek. Yang pertama,
dukungan masyarakat cenderung lebih besar, sehingga dapat menciptakan lingkungan
yang kooperatif dan memudahkan implementasi pengembangan tersebut. Yang kedua,
dapat meningkatkan minat investor dan pengusaha untuk berpartisipasi dalam
pengembangan sehingga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan
pendapatan masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Yang ketiga, tingkat
dukungan politik meningkat, sehingga proses pengembangan dapat dilaksanakan dengan
efektif dan efisien serta membantu mengatasi hambatan dan tantangan yang mungkin
muncul dalam proses pengembangan.

4.2.7 Peningkatan Sarana Kawasan P3GI, Gedung Harmonie, dan Struktur Taman Kota
Pasuruan serta Lingkungan Sekitarnya dalam Pengembangkan menjadi Wahana Wisata
Edukasi dan Sejarah Terpadu

Untuk aspek peningkatan sarana, responden ditanya jika kawasan P3GI, Gedung
Harmonie, dan struktur Taman Kota Pasuruan serta lingkungan sekitarnya dikembangkan
menjadi wahana wisata edukasi dan sejarah terpadu, sarana apa yang perlu ditambahkan.
Untuk butir tersebut responden boleh memilih lebih dari satu pilihan jawaban dan boleh
menambahkan alternatif peningkatan sarana. Untuk pilihan jawaban yang disediakan,
jawaban responden sebagai berikut: 60 responden (56%) memilih sarana jalan beratap, 48
responden (44%) memilih sarana parkir, 55 responden (51%) memilih taman, dan 49
responden (46%) menyatakan area bermain anak. Responden juga menambahkan sarana
yang perlu disediakan sebagai berikut : toilet, food court, toko cinderamata, museum,
perpustakaan, spot foto yang menarik.

Penambahan sarana jalan beratap (arkade) merupakan usulan yang perlu


mendapatkan prioritas dalam pengembangannya, mengingat seluruh Kota Pasuruan
merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 4 meter di atas permukaan laut
dan suhu rata-rata berkisar antara 25 - 31 derajat celcius, sehingga merupakan kota yang
suhu udaranya cukup panas. Dalam pengembangannya arkade ini bisa dibangun
menghubungkan Taman Kota, Harmonie, dan kawasan P3GI. Jika memungkinkan,
atapnya bisa dibuat cukup luas sehingga bisa digunakan untuk cafe, area food court, kios
cinderamata, spot foto, atau kebutuhan yang lain.

Usulan penambahan sarana taman dan area bermain anak juga merupakan usulan
yang perlu mendapatkan perhatian, mengingat tiga cagar budaya tersebut berupa
bangunan dan kawasan yang belum banyak pohon pelindung. Dengan adanya taman dan
tambahan pohon pelindung akan menambah kenyamanan wisatawan. Arena bermain
anak dapat dipergunakan sebagai alternatif jika wisatawan yang berkunjung juga
membawa anak-anak.

4.2.8 Kenyamanan Lingkungan Kawasan Cagar Budaya P3GI, Struktur Taman Kota, dan
Bangunan Harmonie

Untuk aspek kenyamanan, responden ditanya bagaimana faktor kenyamanan


lingkungan kawasan cagar budaya P3GI, Struktur Taman Kota, dan Bangunan Harmonie.
Dari 107 responden, 53 responden (50%) menyatakan nyaman dan 54 responden (50%)
menyatakan tidak nyaman (panas). Dengan demikian aspek kenyamanan (tidak panas)
perlu mendapat perhatian dalam proses pengembangannya. Usulan penyediaan peneduh
dan pohon sebagai peneduh perlu mendapat prioritas.

4.2.9 Pengembangan masing-masing Kawasan P3GI, Struktur Taman Kota, dan


Bangunan Harmonie sebagai Wahana Wisata Edukasi dan Sejarah

Untuk aspek pengembangan masing-masing kawasan, responden ditanya apakah


Kawasan P3GI/Struktur Taman Kota/Bangunan Harmonie sebagai wahana wisata edukasi
dan sejarah perlu dikembangkan. Dari 87 responden semuanya menyatakan bahwa
Kawasan P3GI/Struktur Taman Kota/Bangunan Harmonie sebagai wahana wisata edukasi
dan sejarah perlu dikembangkan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa
pengembangan tiga cagar budaya tersebut sangat relevan dan urgen. Dengan demikian
keputusan Walikota Pasuruan dalam penetapan Kawasan P3GI, Struktur Taman Kota, dan
Bangunan Harmonie sebagai cagar budaya harus segera diikuti dengan usaha-usaha
nyata dalam pengembangan tiga cagar budaya tersebut menjadi wahana wisata edukasi
dan sejarah.

4.2.10 Masukan Pengembangan Kawasan P3GI, Struktur Taman Kota, dan Bangunan
Harmonie sebagai Wahana Wisata Edukasi dan Sejarah.
Masing-masing responden terkait diminta masukan dalam pengembangan kawasan
P3GI, Struktur Taman Kota, dan Bangunan Harmonie sebagai wahana wisata edukasi dan
sejarah. Rangkuman masukan masing-masing kelompok responden disajikan di bawah ini.

4.2.10.1 Masukan Kelompok Responden untuk Kawasan P3GI

Dari kelompok responden untuk kawasan P3GI diperoleh beberapa masukan untuk
tambahan sarana sebagai berikut: 1) wahana hiburan yang menarik; 2) ruang display hasil
riset P3GI; 3) food court; 4) toilet; dan 5) museum gula. Dari beberapa masukan tersebut,
pembangunan museum gula dan ruang display hasil riset perlu mendapatkan perhatian
dan prioritas mengingat sejarahnya bahwa lembaga P3GI merupakan lembaga riset tebu
yang berkaitan dengan produksi gula. Dengan demikian akan terdapat dokumentasi yang
berkelanjutan mulai dari awal berdirinya P3GI sampai masa sekarang. Hal tersebut akan
membuat kawasan P3GI lebih menarik dikunjungi wisatawan.

4.2.10. 2 Masukan Kelompok Responden untuk Bangunan Harmonie

Dari kelompok responden untuk Bangunan Harmonie diperoleh masukan sebagai


berikut: 1) penyediaan toilet; 2) penanaman pohon sebagai peneduh; 3) penambahan area
parkir; 4) pembangunan plaza Harmonie; 5) pembangunan sarana menuju lantai 2; 6)
penyediaan taman; 7) penyediaan kios souvenir; 8) tambahan atraksi; 9) pembangunan
peneduh; dan 10) penambahan objek bernuansa sejarah. Dari beberapa masukan
tersebut penanaman pohon sebagai peneduh perlu mendapat perhatian lebih demikian
pula penyediaan kios souvenir. Selain itu tambahan atraksi bisa direalisasikan untuk
meningkatkan atraksi yang sudah ada sebelumnya.

4.2.10.3 Masukan Kelompok Responden Struktur Taman Kota

Dari kelompok responden untuk Struktur Taman Kota diperoleh masukan sebagai
berikut: 1) penambahan wahana hiburan yang menarik; 2) penanaman pohon peneduh; 3)
penambahan food court; 4) penambahan toilet; 5) penambahan pusat informasi; 6)
penambahan unsur sejarah dan edukasi; 7) penambahan penerangan jalan; 8)
penambahan teduhan; 9) penambahan mall; 10) penyediaan akses disabilitas; 11)
pengenalan budaya melalui 3D; 12) penambahan tempat sampah; 13) peningkatan kualitas
atraksi; dan 14) peningkatan keamanan. Berdasarkan masukan tersebut penyediaan pusat
informasi dan akses disabilitas perlu mendapatkan prioritas, selain itu penambahan
penerangan jalan dan peningkatan keamanan perlu mendapatkan perhatian yang serius.

4.2.10.4 Masukan Kelompok Responden Pelaku Usaha

Dari kelompok responden untuk pelaku usaha diperoleh masukan sebagai berikut:
1) penyediaan area berdagang yang nyaman; 2) penyediaan tenda berdagang; 3)
penyediaan toilet; 4) penyediaan tempat sampah; dan penanaman pohon. Berdasarkan
masukan tersebut penyediaan tempat berdagang yang nyaman perlu mendapatkan
prioritas, selain itu penyediaan toilet dan tempat sampah juga perlu mendapatkan
perhatian.
BAB V USULAN ARAHAN PENGEMBANGAN

Berdasarkan hasil kuesioner, 98% responden menyatakan setuju apabila Kawasan


P3GI, Struktur Taman Kota, dan Bangunan Harmonie dikembangkan menjadi wahana
wisata edukasi dan sejarah terpadu. Di dalam kuesioner juga ditanyakan masukan dari
responden dalam rangka pengembangan tiga cagar budaya tersebut menjadi wahana
wisata edukasi dan sejarah terpadu. Berdasarkan hasil pembahasan di bab sebelumnya
terdapat beberapa usulan arahan pengembangan sebagai berikut.

1. Penyediaan sarana jalan kaki beratap (arkade) yang menghubungkan Struktur Taman
Kota, Bangunan Harmonie, dan Kawasan P3GI sebaiknya dijadikan prioritas
pengembangan. Dengan adanya arkade ini tiga cagar budaya terhubung menjadi satu
kesatuan, dengan demikian wisatawan bisa berjalan dari Taman Kota menuju
Bangunan Harmonie dilanjutkan ke Kawasan P3GI atau sebaliknya. Dengan adanya
arkade ini wisatawan dapat menikmati tiga cagar budaya tersebut dengan lebih
nyaman. Taman Kota dan bangunan Harmonie dihubungkan dengan jembatan
penyeberangan yang cukup luas. Diusulkan pula atap arkade berupa lantai yang kuat
yang bisa digunakan oleh pelaku usaha untuk menyediakan souvenir atau makanan
khas Kota Pasuruan.
2. Penyediaan sarana parkir vertikal dan otomatis merupakan prioritas berikutnya.
Sarana parkir ini bisa dibangun di lahan sebelah selatan Bangunan Harmonie yang
masih kosong.
3. Penyediaan area bermain anak merupakan prioritas berikutnya. Dengan adanya area
bermain anak, wisatawan yang membawa anak-anak bisa lebih lama mengunjungi
Kota Pasuruan yang berpotensi meningkatkan ekonomi Kota Pasuruan. Penyediaan
area bermain anak ini bisa menggunakan lahan kosong di sebelah selatan Harmonie
menjadi satu dengan sarana parkir vertikal. Penyediaan taman yang representatif juga
bisa dijadikan satu dengan area bermain anak.
4. Di Kawasan P3GI diusulkan dibangun museum gula, di dalamnya terdapat sejarah
berdirinya lembaga P3GI, hasil-hasil penelitian P3GI, benda-benda bersejarah yang
berkaitan dengan produksi gula dan proses pembuatan gula.
5. Untuk pelaku usaha perlu dibuatkan tempat yang representatif untuk berdagang bisa
berupa tenda-tenda atau stand yang menarik.
6. Perlu dipikirkan juga untuk menampilkan atraksi khas Kota Pasuruan pada saat
weekend atau hari libur.
7. Perlu disediakan pusat informasi yang menyediakan informasi yang lengkap tentang
tiga cagar budaya tersebut, selain itu juga perlu disediakan informasi untuk cagar
budaya yang lain, atau informasi-informasi yang lain tentang wisata Kota Pasuruan.
8. Sarana pendukung juga perlu dilengkapi diantaranya toilet yang representatif, tempat
sampah yang cukup, akses disabilitas, dan lain sebagainya.
9. Sosialisasi juga perlu lebih ditingkatkan baik melalui media sosial maupun media yang
lain.
DAFTAR PUSTAKA

(Chawari, 2002). Perkotaan Pasuruan Di Era Kolonial Belanda Pada Sekitar


Abad XVIII s.d. XIX. Berkala Arkeologi Th. XXII (1): 68-80.
Tjiptoatmodjo, F.A Sutjipto. 1983. Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura
(Abad XVII s.d. Medio Abad XIX). Yogyakarta: Disertasi pada Universitas Gadjah
Mada.
Darmodjo dkk, 1985).
Wibisono, Sonny. Chr. 1992. Emas di Kalimantan Baral: Kajian Etnohistori
Untuk Arkeologi. PIA IV. Malang.
Soekiman, Prof, DR. Djoko. 2000. Kebudayaan lndis Dan Gaya Hidup
Masyarakat Pendukungnya di Jawa Abad XVIII - Medio Abad XX. Yogyakarta:
Penerbit Yayasan Bentang Budaya, Cetakan Pertama.
Graaf, DR. H.J. De dan Pigeaud, DR. TH. G. TH. 1985. Kerajaan-kerajaan
Islam di Jawa. Jakarta: Penerbit PT Grafiti Pers. Graaf, DR. H.J. de dkk. 1998. Cina
Muslim di Jawa Abad XV dan XVI Antara Historisitas dan Mitos. Yogyakarta:
Penerbit PT Tiara Wacana
Chaldun, Achmad. Tt. Atlas limn Pengetahuan Sosial Jawa Timur. Surabaya:
PT. Karya Pembina Swajaya.
Chawari, Muhammad. 2000. Laporan Penelitian Arkeologi Keletakan dan
Bentukbentuk Makam Belanda Pada Kota-kota Pantai (Tahap III). Yogyakarta:
Balai Arkeologi.
(Dwi Ratna Nurhajarini, Jantra Vol. V, No. 10, Desember 2010, GEMEENTE
PASURUAN 1918-1942 ).
(Graaf, 1998). Graaf, DR. H.J. de dkk. 1998. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan
XVI Antara Historisitas dan Mitos. Yogyakarta: Penerbit PT Tiara Wacana.
Kartodirdjo, Sartono dkk. 1978. “Memori Residen Pasuruan (G.H.H. Snell), 20 Juli
1930” dalam Memori Serah Terima Jabatan 1921-1930 (Jawa Timur dan Tanah
Kerajaan). Jakarta: ANRI seri Penerbitan Sumber-Sumber Sejarah No. 10.

Nurhajarini, Dwi Ratna. 2010. Gemeente Pasuruan 1918- 1942. Jantra, Vol. V, No.
10

Handinoto. Pasuruan dan Arsitektur Etnis China Akhir Abad 19 dan Awal Abad ke
20. Simposium Nasional Arsitektur Vernakular 2: Pertemuan Arsitektur Nusantara

Ibnu Rustamaji, Majalah Arkeologi Indonesia 22 Des 2017. . Rumah Singa yang masih
utuh, hanya sudah beralih tangan dari keluarga Han

(Nurhajarini, Dwi Ratna. 2010. Gemeente Pasuruan 1918- 1942. Jantra, Vol.
V, No. 10

(Lea E. William, Overseas Chineses Nationalism: The Genesis of The Pan-


Chinese Movments in Indonesia 1900-1916, Glencoe, Illinois Free Press, 1960, hal.
31).
(https://pasuruankotamuseumjatim.wordpress.com/taman-kota/)
https://www.kompas.com/stori/read/2022/07/25/110000079/sejarah-pasuruan-dari-zaman-
kerajaan-hingga-sekarang?page=all.

1997: vol. 2 bagian 2 : 831-844 dalam Handinoto,….).


(Kartodirjo, 1992; Abbas dan Enny Ratna Dewi, 1995, Chawary, Berka/a
Arkeologi Th. XXII (1) 68)
Handinoto, Pasuruan dan Arsitektur Etnis China Akhir Abad 19 dan Awal
Abad ke 20, (Surabaya: Simposium Nasional Arsitektur Vernakular 2: Pertemuan
Arsitektur Nusantara), hlm. 2.Budihardjo, Eko. 1997. Kepekaan Sosio-Kultural
Arsitek, dalam Perkembangan Arsitektur dan Pendidikan Arsitektur di Indonesia,
editor Eko Budihardjo. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Heriawan, Rusman. 2004. Peranan dan Dampak Pariwisata Pada
Perekonomian Indonesia : Suatu Pendekatan Model I-O dan SAM. Disertasi.
Doktoral Institut Pertanian Bogor. Bogor.
(Maharani, 2008). Maharani, Krisnina. 2008. Jejak Gula, Warisan Industri
Gula di Jawa. Jakarta: Yayasan Warna Warni Indonesia.
(Perda Kota Pasuruan, 2020).
(Kompas, 2022).
(Kompas, 2022, Widya Lestari Ningsih
(Soekiman, 2000).
(Lea E. William, Overseas Chineses Nationalism: The Genesis of The Pan-
Chinese Movments in Indonesia 1900-1916, Glencoe, Illinois Free Press, 1960, hal.
31).
(Van Java, Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statisika Pasuruan, 2023).
(Wibisono, 1992). Wibisono, Sonny. Chr. 1992. Emas di Kalimantan Baral: Kajian
Etnohistori Untuk Arkeologi. PIA IV. Malang.

Muhammad I’mad Hamdy KAWASAN ELIT MASYARAKAT EROPA DI KOTA PASURUAN


TAHUN 1918 – 1942, AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, Volume 10, No. 2 Tahun 2021
Muhammad I’mad Hamdy KAWASAN ELIT MASYARAKAT EROPA DI KOTA PASURUAN
TAHUN 1918 – 1942, AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, Volume 10, No. 2 Tahun 2021
(P3GI, 2008) 121 tahun P3GI

https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/852680

Jawa timur News, 20 April 2023. Sejarah SMK Untung Surapati Pasuruan

Mutiara Kecil Pasuruan, Museum Online Kota Pasuruan


(Rahman dkk, 2022. PENGERTIAN PENDIDIKAN, ILMU PENDIDIkan DAN
UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN. Al Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam
ISSN: 2775-4855 Volume 2, Nomor 1, Juni 2022
https://journal.unismuh.ac.id/index.php/alurwatul).

(Suwantoro, 1997.Suwantoro. (1997). Dasar-Dasar Pariwisata. Yogyakarta :


Penerbit Andi. Systematic Linkange. Gramedia: Jakarta.).

(Rodger, 1998. Rodger, 1998. Leisure, Learning and Travel, Journal of


Physical Education, 69 (4): hal 28. ),
Andre Kurniawan (2 Nov 2022) Pengertian Wisata dan Jenisnya, Kenali

Manfaatnya bagi Manusia (merdeka.com),

( UU RI no 10 th 2009). Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang

Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan. Sekretariat

Negara. Jakarta.

Suwantoro, Gamal. 2004. Dasar-dasar Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset

Cahyono, MD. 2019. JEJAK KELAMPAUAN KEJAYAAN P3Gi DI "KOTA

HERITAGE" PASURUAN. http://kanal24.co.id/read/jejak-kelampauan-kejayaan-

p3gi-di-kota-heritagepasuruan. (28 Desember 2019)

Harahap (2018). tanggapan pengunjung terhadap fasilitas objek wisata

rumah batu Serombou di Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal organiassai dan

management. 5(1):1-8

Koen Meyers. 2009. Panduan Dasar Pelaksanaan Ekowisata. Jakarta: Unesco Office
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

SK Walikota Pasuruan Nomor 188/166/423.011/2020


SK Gubernur Provinsi Jawa Timur Nomor 188/860/KPTS/013/2021
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR I TAHUN
2022

Anda mungkin juga menyukai