Anda di halaman 1dari 36

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang.
Tanaman jeruk merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia. Di Indonesia
merupakan Negara tropis di mana berbagai jenis jeruk banyak dijumpai dan dibudidayakan
mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Tanaman ini dapat tumbuh didaerah pada
ketinggian tempat sampai 1400 meter diatas permukaan laut. Ketinggian tempat tersebut
sangat mempengaruhi kualitas serta rasa buah, (Martasari dan Mulyanto, 2008). Sehingga di
Indonesia, jeruk merupakan tanaman yang termasuk dalam komoditas utama secara nasional
yang memberikan kontribusi dalam pemasukan negara.
Salah satu komoditas pertanian utama yang erat dengan kondisi tanah di desa Petung
Sewu adalah jeruk. Desa Petung Sewu adalah salah satu desa di daerah kecamatan Dau, Kab.
Malang, Jawa Timur yang terkenal dengan penghasil jeruk. Belakangan ini, produksi jeruk
menurun, sedangkan potensi pemasarannya cukup tinggi. Untuk pemecahan masalah ini
perlu diketahui penyebab turunnya produksi diantaranya lingkungan tumbuh tanaman jeruk
terutama tanahnya sebagai tempat tumbuh dan penyedia hara tanaman. Selain itu beberapa
waktu di daerah tersebut pengaruh cuaca yang tidak menentu menyebabkan hasil buah yang
dihasilkan dari tanaman tidak baik seperti kenampakan secara fisiknya bahkan kualitas
buahnya, (Malang-Micom, 2015). Sehingga perlu dilakukan validasi kesesuaian lahan untuk
tanaman jeruk pada daerah tersebut sehingga dapat diperoleh evaluasi lahan pada lahan
tanaman jeruk. Hal itu dilakukan dengan maksud apakah sampai saat ini lahan tersebut
memiliki kesesuaian lahan yang sesuai untuk pertumbuhan, perkembangan dan produksi
tanaman jeruk ideal sehingga dapat memberikan keuntungan bagi petani. Selain itu menurut
petani setempat faktor yang menyebabkan turunnya hasil panen adalah ketersediaan air atau
irigasi yang kurang memadai untuk pertumbuhan tanaman jeruk disana.
Penilaian dan evaluasi lahan pada tanaman jeruk ini dikaji melalui mata kuliah GALIFU
yang mana mata kuliah ini tergabung dari mata kuliah Sistem Informasi Sumber daya Lahan
(SISL), Ananlisis Landskap (ALAND) dan Tanah-Tanah Utama di Indonesia (TTU). Dari
ketiga mata kuliah ini memiliki keterkaitan satu sama lain dalam memecahkan masalah yang
ada dalam project disini. Dari segi mata kuliah SISL dapat dikaji terkait informasi dalam

bentuk peta daerah kesesuaian lahan pada tanaman jeruk. Mata kuliah ANLAND dapat dikaji
untuk permasalahan yang ada melalui landform (bentukan lahan) pada daerah tersebut seperti
apa sehingga dapat dikaitkan pula dengan mata kuliah TTU yang dapat dimanfaatkan juga
dalam mengkajiklasifikasi tanah dari bentukan lahannya dan proses pembentukan tanahnya
(pedogenesis). Terkait hal demikian, evaluasi kesesuaian lahan ini nantinya akan dianlisa
menggunakan sistem matching (mencocokan), serta membandingkan antara kualitas dan
sifat-sifat lahan dengan criteria kelas kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan
criteria kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian (Djaenudin et al., 2005). Harapannya
dengan metode demikian dapat menghasilkan keluaran yang baik dan bermanfaat berupa
sebuah peta.
I.2 Tujuan.
1.2.1 Menentukan kelas kesesuaian lahan untuk pengembangan komoditas jeruk di
1.2.3
1.2.2

Desa Petung sewu, Kecamtan Dau.


Memetakan kesesuaian lahan tanaman jeruk di Desa Petung sewu.
Mengetahui faktor pembatas pada lahan jeruk dan mengevaluasi lahan jeruk di

desa Petung Sewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.


I.3 Hipotesis.
I.3.1 Lahan jeruk di Desa Petung sewu, Kecamatan Dau masuk kedalam kelas sesuai.
I.3.2 Hasil evaluasi tingkat kesesuaian lahan memiliki faktor pembatas temperatur dan
I.3.3

ketersediaan air.
Adanya penurunan hasil produksi akibat penurunan tingkat kelas kesesuaian

lahan.
I.4 Manfaat.
Penentuan kelas kesesuaian lahan atau validasi ini diharapkan dapat mengevaluasi
lahan tersebut apakah sampai saat ini masih memberikan kontribusi maksimal dalam hal
produksi dan menguntungkan bagi petani sehingga dapat diketahui faktor apa yang
mempengaruhinya dan dapat diatasi. Selain itu juga memberikan informasi pada petani
wilayah mana yang memilki kesesuaian yang cocok dengan tanaman jeruk di desa Petung
Sewu. Pada akhir penelitian informasi yang diberikan dalam bentuk peta sehingga dapat
dibaca informasinya lebih mudah, cepat dan praktis.

Alur Pikir Proyek.

Lahan pertanian di Desa Petung sewu

Degradasi lahan dan minim ketersediaan air


Permasalahan
Pendekatan Masalah

Evaluasi Kesesuaian Lahan

Lahan tanaman jeruk aktual

Data Primer

Data Sekunder

wawancara
Kriteria Kesesuaian Lahan Tanaman Jeruk

Analisis Kesesuaian Lahan

Hasil
Analisis GIS dengan sistem Matching
Rekomendasi

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Penjelasan tentang gambaran umum permasalahan yang diangkat.


2.1.1 Kondisi Wilayah di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Malang.
Dau adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur,
Indonesia. Ada yang mengatakan Dau berasal dari Dadiyo Ayeming Urip. Daerah ini
berada antara kecamatan Lowokwaru Kota Malang dan kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Kecamatan Dau memiliki 11 kelurahan, salah satunya adalah Desa Petungsewu (Renstra,
2015). Desa Petungsewu merupakan salah satu daerah potensial yang dimiliki Kecamatan
Dau. Desa Petungsewu memliki perbatasan wilayah yang cukup strategis, yaitu di
sebelah utara adalah Desa Selorejo, Sebelah Timur adalah Perbatasan Kota Malang,
sebelah selatan adalah Desa Kucur, dan yang terakhir Sebelah Barat berbatasan dengan
Karangwidoro.

2.1.2 Produk Perkebunan Unggulan di Desa Petungsewu.


Petungsewu merupakan desa yang diunggulkan di Kecamatan Dau, setelah Desa
Selorejo yang terkenal akan wisatanya. Produk unggulan yang dimiliki desa Petungsewu
ini salah satunya adalah tanaman jeruk keprok (Citrus sp.). Renstra (2015) menyebutkan
bahwasanya tanaman Jeruk Keprok telah menjadi ikon utama dalam produk unggulan
yang diterapkan oleh petani di Kecamatan Dau, dengan luas desa Petungsewu yang
mencapai 9.564 m2 sehingga desa Petungsewu mampu menampilkan produk-produk
berbasis pertanian di masyarakat luas khususnya di sekitar daerah Malang. Selain itu ada
juga ikon yang amat penting di Desa ini adalah P-WEC (Petungsewu Wildlife Education
Center).
Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) adalah pusat pendidikan
informal tentang pelestarian alam yang didirikan oleh ProFauna Indonesia pada akhir
tahun 2003. Petungsewu Wildlife Education Center berada di Jl. Margasatwa 1 Desa
Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. depan balai Desa Petungsewu. Dari
sini bisa naik ojek menuju Dusun Sumberbendo. Metode pendidikan yang dipakai tidak
lain pendidikan pengalaman (experiential learning). Alam dimanfaatkan sebagai media

belajar, sehingga sebagian besar waktu belajar dihabiskan di luar ruangan (outdoor). Kita
bisa belajar tentang pelestarian alam lewat permainan, petualangan, dan rekreasi. Apalagi
di lokasi itu ditunjang suasana alami, sejuk dengan pemandangan pedesaan yang
menenangkan hati. Segala sesuatu yang berhubungan dengan konservasi alam dan satwa
liar ada di P-WEC. Program edukasi informal yang ditawarkan juga sangat menarik dan
bervariasi, salah satu destinasi favorit yang dikunkungi oleh para wisatawan adalah
wisata petik Jeruk.
Petik Jeruk adalah program destinasi wisata yang telah berlangsung sejak tahun
2004, dimana para wisatawan bebas memetik jeruk yang mereka inginkan, dan juga bisa
beli untuk dibawa pulang. Jeruk yang paling digemari oleh para wisatawan adalah jeruk
keprok (Citrus sp.), dimana jeruk keprok adalah produk perkebunan unggulan yang
dimiliki Desa Petungsewu.
2.1.3 Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Jeruk (Citrus sp.)
Dalam menilai kesesuaian lahan ada beberapa cara, antara lain, dengan perkalian
parameter, penjumlahan, atau menggunakan hukum minimum yaitu mencocokkan
(matching) antara kualitas lahan dan karakteristik lahan sebagai parameter dengan kriteria
kelas kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan atau
persyaratan tumbuh tanaman atau komoditas lainnya yang dievaluasi. Pada metode faktor
pembatas, setiap sifat-sifat lahan atau kualitas lahan disusun berurutan mulai dari yang
terbaik (yang memiliki pembatas paling rendah) hingga yang terburuk atau terbesar
penghambatnya. Masing-masing kelas disusun tabel kriteria untuk penggunaan tertentu
demikian rupa, sehingga faktor pembatas terkecil untuk kelas terbaik dan faktor pembatas
terbesar jatuh ke kelas terburuk. Berikut adalah tabel kriteria kelas kesesuaian lahan
untuk tanaman jeruk.

Tabel 1. Kriteria Kelas Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Jeruk (Citrus sp.). (Komoditas
Pertanian oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Bogor, 2003).
Karakteristik
Lahan
Temperatur (tc)
Temp. rata-rata (0C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm)

1200-3000

Bahan kasar (%)


Kedalaman tanah (cm)
Retensi hara (mf)
KTK (ME/100 g)
Kejenuhan basa (%)
pH H2O
C-Organik (%)
Toksisitas (xc)
Salinitas (dS/m)
Sodisitas (xm)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Bantuan dipermukaan (%)
Singkapan batuan (%)

N
>39

1000-1200
3000-3500
4-5
<50, >90

800-1000
3000-4000
5-6
-

<800
>4000
>6
-

Agak terhambat

Terhambat, agak
cepat
Sangat halus

Sangat terhambat,
cepat
kasar

15-35
75-100

35-55
50-75

>55
<50

>16
20
5,5-7,6

16
<20
5,2-5,5
7,6-8,0

<5,2

>0,8
<3

0,8
3-4

8,0

4-6

>6

<8

8-12
12-15

>15

>125

100-125
60-100

<60

16-30
Berat
-

>30
Sangat berat
>F0

15-40
15-25

>40
>25

Lamanya massa kering (bln) 2,5-4


Kelembaban (%)
50-90
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Baik, sedang
Media perakaran (rc)
Tekstur

Kelas Kesesuaian Lahan


S2
S3
33-36
36-39

S1
19-33

Agak kasar,
sedang, agak
halus, halus
<15
>100

<8
Sangat rendah
F0

8-16
Rendah-sedang
-

<5
<5

5-15
5-15

Kesesuaian lahan potensial menggambarkan kesesuaian lahan yang akan dicapai


apabila dilakukan usaha-usaha perbaikan. Lahan yang dievaluasi dapat berupa hutan
konversi, lahan terlantar atau tidak produktif, atau lahan pertanian yang produktivitasnya
kurang memuaskan tetapi masih memungkinkan untuk dapat ditingkatkan bila
komoditasnya diganti dengan tanaman yang lebih sesuai. Struktur klasifikasi kesesuaian
lahan menurut kerangka FAO (1976) dapat dibedakan menurut tingkatannya, yaitu
tingkat Ordo, Kelas, Subkelas dan Unit. Ordo adalah keadaan kesesuaian lahan secara
global. Pada tingkat ordo kesesuaian lahan dibedakan antara lahan yang tergolong sesuai
(S=Suitable) dan lahan yang tidak sesuai (N=Not Suitable). Kelas adalah keadaan tingkat
kesesuaian dalam tingkat ordo. Berdasarkan tingkat detail data yang tersedia pada
masing-masing skala pemetaan, kelas kesesuaian lahan dibedakan menjadi: (1) Untuk
pemetaan tingkat semi detail (skala 1:25.000-1:50.000) pada tingkat kelas, lahan yang
tergolong ordo sesuai (S) dibedakan ke dalam tiga kelas, yaitu: lahan sangat sesuai (S1),
cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3). Sedangkan lahan yang tergolong ordo tidak
sesuai (N) tidak dibedakan ke dalam kelas-kelas. (2) Untuk pemetaan tingkat tinjau (skala
1:100.000-1:250.000) pada tingkat kelas dibedakan atas Kelas sesuai (S), sesuai bersyarat
(CS) dan tidak sesuai (N).
Berikut adalah penjabaran dari kelas klasifikasi dari kesesuaian lahan :

Kelas S1 : Lahan tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti atau nyata
terhadap penggunaan secara berkelanjutan, atau faktor pembatas bersifat minor
dan tidak akan berpengaruh terhadap produktivitas lahan secara nyata.

Kelas S2 : Lahan mempunyai faktor pembatas, dan faktor pembatas ini akan
berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan (input).
Pembatas tersebut biasanya dapat diatasi oleh petani sendiri.

Kelas S3 : Lahan mempunyai faktor pembatas yang berat, dan faktor pembatas ini
akan sangat berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan
masukan yang lebih banyak daripada lahan yang tergolong S2. Untuk mengatasi
faktor pembatas pada S3 memerlukan modal tinggi, sehingga perlu adanya
bantuan atau campur tangan (intervensi) pemerintah atau pihak swasta.

Kelas N Lahan yang karena mempunyai faktor pembatas yang sangat berat
dan/atau sulit diatasi.

2.2

Metode pengkajian masalah berdasakan teori


2.2.1 Permasalahan yang Signifikan di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Malang
Permasalahan yang ada pada beberapa waktu ini di desa Petungsewu adalah
penurunan produksi tanaman jeruk. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa
permasalahan salah satunya menurunnya kualitas tanah akibat pengolahan dan
pemupukan yang intensif. Menurut Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) tentang
pengolahan tanah minimum (minimum tillage) tahun 1994 juga menyatakan bahwa
pengolahan tanah dapat mempercepat kerusakan sumber daya tanah contohnya
meningkatkan laju erosi dan kepadatan tanah. Hal tersebut dikarenakan permukaan tanah
yang bersih dan gembur tidak mampu menahan laju aliran permukaan yang mengalir
deras, sehingga banyak partikel tanah yang mengandung humus dan hara tergerus dan
terbawa air ke hilir (Utomo, 2012). Sedangkan pemadatan tanah biasanya disebabkan
oleh penggunaan alat berat untuk kegiatan pertanian di lahan.
Adanya pemupukan yang intensif juga dapat mengakibatkan penurunan
kesuburan tanah karena terjadi ketimpangan hara atau kekurangan hara lain, dan semakin
merosotnya kandungan bahan organik tanah sehingga menyebabkan tanah tidak subur.
.Selain itu diakibatkan karena pengaruh cuaca yang tidak menentu menyebabkan hasil
buah yang dihasilkan dari tanaman tidak baik seperti kenampakan secara fisiknya bahkan
kualitas buahnya, (Malang-Micom, 2015). Oleh sebab itu dari permasalahan demikian
perlu diadakan evaluasi pada lahan tanaman jeruk yang mana apakah sampai saat ini
kondisi lahan masih mendukung dalam produksi tanaman jeruk yang optimal.
2.2.2 Pemilihan Penggunaan Metode Matching
Metode yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan dari proyek.
Dalam proyek ini (evaluasi lahan) metode yang cocok digunakan adalah metode
perbandingan (matching). Metode perbandingan (matching) adalah suatu cara menilai
potensi lahan dengan membandingkan antara karakteristik lahan terhadap kriteria lahan
yang telah ditetapkan. Setiap karakteristik lahan diurutkan dari yang terbaik sampai yang
terburuk atau dari yang paling kecil hambatan atau ancamannya sampai terbesar.
Kemudian disusun tabel kriteria untuk setiap kelas; penghambat yang terkecil untuk kelas

yang terbaik dan berturutan semakin besar hambatan semakin rendah kelasnya. Selain itu,
metode ini didasarkan pada pencocokan antara kriteria kesesuaian lahan dengan data
kualitas lahan. Hasil yang diperoleh menunjukkan korelasi yang baik antara indeks
produktivitas dengan produksi dari tanaman tertentu di daerah tempat indeks tersebut
dikembangkan (sangat bersifat lokal). Jika sistem ini diterapkan di tempat lain yang
iklimnya berbeda, maka diperlukan perubahan nilai pengharkatan iklim agar sesuai
dengan pengalaman petani di tempat tersebut. Oleh sebab itu perlu dilakukan evaluasi
melalui metode matching (perbandingan).
2.3

Uraian hal-hal terkait proyek berdasarkan teori (SISL, ANLAN, TTU)

2.3.1 Aspek TTU


Tanah merupakan tubuh alam sebagai tempat tumbuh semua makhluk hidup.
Tanah dimanfaatkan oleh manusia dengan cara mengelolanya sehingga dapat memenuhi
kebutuhan manusia. Namun karena kurangnya kemampuan manusia dalam memelihara
dan memahami khususnya kesesuaian lahan tersebut sehingga manusia tidak dapat
memperoleh kebutuhan yang cukupbagi hidupnya (Foth, 1998).
Jeruk meruppakan salah satu tanaman yang banyak dibudidayakan di Desa Petung
Sewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Tanah yang subur dan gembur merupakan
tempat tumbuh yang baik untuk tanaman jeruk. Pada tanah yang banyak mengandung
humus pertumbuhan tanaman jeruk berlangsung snagat cepat, sedangkan pada tanah yang
banyak mengandung garam akan menghambat pertumbuhan tanaman jreuk. Hasil yang
baik untuk tanaman jeruk yaitu tanah yang memiliki derajat keasaman (pH) 5-6 (Arsya
ddkk, 1992). Selain itu juga baik bila tanaman ditanam padadaerah yang curah hujannya
sekitar 1000-2000 mm/th merata sepanjang tahun. Temperature optimal antara 25-30C
dan kelembaban optimum sekitar 70-80%. Ketinggian optimum antara 1-1200 mdpl.
2.3.2 Aspek SISDL
Desa Petung sewu merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Dau,
Kota Malang. Dimana keadaan geografis kota Malang itu sendiri berada pada ketinggian
sekitar 440-667 meter diatas permukaan air laut, merupakan salah satu kota tujuan wisata
di Jawa Timur karena potensi alam dan iklim yang dimiliki. Letaknya berada ditengahtengah wilayah kabupaten Malang. Secara astronomis terletak 112,06-112,07 Bujur
Timur dan 7,06-8,02 Lintang Selatan, dengan batas wilayah sebagai berikut :

10

1. Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kec. Karangploso Kabupaten Malang


2. Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang
3. Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang
4. Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau Kabupaten Malang
Serta dikelilingi gunung-gunung :
1. Gunung Arjuno di sebelah Utara
2. Gunung Semeru di sebelah Timur
3. Gunung Kawi dan Panderman di sebelah Barat
4. Gunung Kelud di sebelah Selatan
Untuk kecamatan Dau itu sendiri berada pada 1123311 1123563 BT dan 75775
75494 LS. dengan batas wilayah sebagai berikut :
Utara : Kota Batu dan Kecamatan Karangploso
Timur : Kota Malang
Selatan : Kecamatan Wagir
Barat : Kabupaten Blitar
Luas wilayahnya 41,96 km (1,41% luas Kabupaten Malang)
2.3.3 Aspek ANLAN
Landform dan bahan induk tanah merupakan komponen penting dalam satuan
lahan yang

penting sebagai dasar penilaian potensi lahan suatu wilayah. Wilayah

desaPetung sewu yang merupakan bagian dari kecamatan Dau ini didominasi oleh
penggunaan lahan kebun jeruk dengan daerah yang berbukit sehingga landform yang ada
di wilayah tersebut juga termasuk dalam landform structural. Selain itu juga termasuk
dalam landform alluvial karena terbentuk dari aliran sungai yang melewati daerah
tersebut.

11

BAB III
METODE

3.1 Tempat dan Waktu


3.1.1 Tempat (Uraian singkat semua lokasi mengerucut ke proyek)
Tempat untuk pelaksanaan proyek ini terdapat di Desa Petungsewu, Kecamatan
Dau, Malang. Desa Petungsewu masuk kedalam Kecamatan Dau, Malang.
Kecamatan Dau termasuk daerah dengan sentra produksi utamanya yaitu jeruk yang
menjadi icon Malang. Komoditas yang paling dominan di Desa Petungsewu adalah
komoditas jeruk.
3.1.2 Waktu Pelaksanaan
Proyek dilakukan pada bulan Maret April 2016
3.2 Alat dan Bahan (Untuk proyek + fungsi)
3.2.1 Alat
Alat tulis

: untuk mencatat data

ArcGis 9.3

: sebagai pengolahan peta

ER Mapper

: sebagai pengolahan data citra

GPS

: untuk menentukan titik pengamatan di lapang

Microsoft office 2010 : untuk mengolah data


3.2.2 Bahan
Peta RBI

: dasar untuk pembuatan peta administrasi

Landsat

: dasar untuk pembuatan peta penggunaan lahan

DEM SRTM

: untuk pembuatan peta kelerengan

Data Curah Hujan

: untuk pembuatan peta curah hujan

12

3.3 Metode Pelaksanaan (alur kerja + penjelasan)


Peta RBI, DEM SRTM, Landsat 8 ETM, data curah hujan

Pemetaan unit lahan jeruk

survey

Analisis lahan untuk karakterisasi kualitas lahan

Validasi data kualitas lahan dengan peta unit kesesuaan lahan

Syarat tumbuh / data kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk dan faktor pembatas
Faktor pembatas lahan jeruk

Matching/skoring

Peta klasifikasi kesesuaian lahan tanaman jeruk

Rekomendasi

13

Tahapan pertama yang akan dilakukan yaitu dengan membuat peta dasar untuk
survey yang terdiri dari peta administrasi, kelerengan, penggunaan lahan, geologi, dan
bentuk lahan. Dari beberapa peta tersebut nantinya akan dioverlay sehingga menjadi peta
kesesuaian lahan. Peta kesesuaian lahan tersebut akan dibuat SPL (satuan peta lahan)
berdasarkan kelerengan. Peta SPL tersebut nantinya akan dilakukan pengamatan di lapang
dengan menggunakan metode survey. Survey akan dilakukan berdasarkan peta SPL yang
telah dibuat. Metode survey yang dilakukan untuk mengetahui data validasi antara di lapang
dan di peta SPL mengenai informasi yang ada di lapang akan dimasukan kedalam peta SPL.
Selain itu juga dilakukan pengamatan parameter kualitas lahan tanaman jeruk seperti
temperatur, ketinggian, bahaya erosi, dan bahaya banjir. Metode survey ini nantinya juga
akan mengetahui faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk. Dari parameter
kualitas lahan yang didapatkan dengan metode survey selanjutnya akan dilakukan validasi
dan memasukkan data hasil survey kedalam peta dengan metode matching/skoring. Metode
skoring ini digunakan untuk penilaian skor pada masing-masing SPL sehingga nantinya akan
didapat nilai kesesuaian lahan pada masing-masing SPL. Setelah dilakukan skoring
selanjutnya akan dilakukan penamaan atau kesimpulan dari hasil skoring pada masingmasing SPL dan akan terbentuk sebuah peta kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk. Dari
peta kesusaian lahan untuk tanaman jeruk akan dapat diambil langkah atau rencana untuk
memperbaiki lahan jeruk untuk kesusaian lahan dengan faktor pembatas yang sekiranya
dapat diperbaiki sesuai dengan nilai ekonomi, ekologi, tenaga, maupun waktu sehingga
kesusaian lahan untuk tanaman jeruk bisa menjadi lebih baik lagi.
3.4 Kegiatan Pra Survei
3.4.1

Persiapan Data Awal


Persiapan data awal sebelum dilakukan survey adalah pembuatan peta

dasar yang nantinya digunakan untuk pengambilan titik sampel dan hasilnya digunakan
untuk membuat peta kesesuaian lahan melalui evaluasi lahan yang sudah dilakukan.
Penyusunan peta meliputi peta administrasi desa petungsewu, peta penggunaan lahan peta
geologi, peta bentuk lahan (landform), dan peta curah hujan dengan skala kerja 1:5000.
Selain itu dilakukan studi literatur terkait topik project tentang evaluasi lahan tanaman jeruk.
3.4.2

Data Sekunder

14

3.4.3

Penyusunan Peta Survei


Penyusunan peta survei pada desa Petungsewu dibuat dalam bentuk satuan
peta lahan (SPL). SPL dibuat dari hasil Clip dalam program ArcGIS 9.3 antara
peta kelerengan dan tutupan lahan. Peta kelarengan dibuat dari data DEM
petungsewu dan tutupan lahan dibuat dari hasil kenampakan visual tutupan lahan
dalam google earth. Dari pembuatan peta SPL ini didapatkan 6 SPL yangmana
setiap SPL diambil 2 titik pengamatan untuk dilakukan survei.

3.4.4

Penyusunan Foto Udara (Stereotriplet)


Penyusunan foto udara dilakukan di dalam lab. PSPJP di Jurusan Tanah.

3.5 Kegiatan Survei


3.5.1

Groundcheck Peta dan Foto Udara


Groundcheck peta dilakukan untuk memastikan bahwa daerah pengamatan
pada peta apakah sudah sesuai. Peta yang digunakan adalah peta kelerengan peta,
peta tutupan lahan, peta SPL yang akan digunakan untuk groundcheck dan peta
actual kesesuaian lahan jeruk. Pada pengamatannya disesuaikan dengan kondisi
fisiografi di daerah tersebut serta dilakukan pengamatan pada setiap titik sampel
sesuai dengan parameter yang sudah disediakan (parameter kesesuaian lahan).
Sedangkan foto udara dilakukan pengamatan pada bentuk kenampakan desa
Petungsewu yang meliputi relief, landform, pola drainase, dan sebagainya.

3.5.2

Pengamatan dan Pengambilan Sampel


Pengamatan daerah evaluasi lahan tanaman jeruk dilakukan pada SPL
yang sudah dibuat. Pembuatan Satuan Peta Lahan berdasarkan tutupan lahan
(tanaman jeruk) dan kelerengan pada desa Petungsewu yang diolah dalam ArcGIS
melalui analysis tool dengan Clip. Jumlah SPL pengamatan ada enam dan setiap
SPL diwakili 2 titik sampel pengamatan. Pada pengambilan sampel dilakukan

15

sesuai dengan parameter yang diperlukan dalam kesesuaian lahan tanaman jeruk
yaitu lereng, suhu, drainase, bahaya erosi, bahaya banjir, dan bahaya genangan
banjir. Selain itu dilakukan pula wawancara pada beberapa petani yang ditemui
dilahan jeruk untuk menambah keterangan terkait evaluasi lahan tanaman jeruk
dan dilakukan dokumentasi pada beberapa titik sampel pengamatan sebagai
pelengkap informasi yang dibutuhkan untuk mendukung laporan project.
3.6 Tahap Analisis Data dan Analisa Laboratorium
Analisis data mengacu pada data sekunder yang didapatkan dari peta SPL hasil
overlay peta administrasi, kelerengan dan tutupan lahan tanaman jeruk. Selain itu juga dari
data primer yang didapat dari pengamatan di lapangan. Dari hasil pengamatan dilapang yang
didasarkan pada peta SPL dan parameter pengamatan akan dilakukan pencatatan serta
pendekatan untuk pencocokan dalam evaluasi kesesuaian lahan komoditas jeruk.
Tabel 2. Parameter pengamatan
CSR/FAO, 1983
Temperature
Bahaya erosi
Curah hujan
Batuan permukaan

FAO, 1983
Kemudahan diolah
Bahaya banjir
Drainase tanah
Curah hujan
Batuan permukaan

Sys et al., 1993


Topografi/kelerengan
Drainase tanah
Curah hujan

Untuk evaluasi lahan menggunakan pendekatan dua tahap. Pendekatan ini terdiri atas
tahap pertama adalah evaluasi lahan secara fisik, dan tahap kedua evaluasi lahan secara
ekonomi. Pada tahap pertama ini didasarkan pada kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan
yang telah diseleksi sejak awal kegiatan survei. Kontribusi dari analisis sosial ekonomi
terhadap tahap pertama terbatas hanya untuk mengecek jenis penggunaan lahan dan faktor
fisik lainnya yang relevan. Hasil dari kegiatan tahap pertama ini disajikan dalam bentuk
laporan dan peta yang kemudian dijadikan subjek pada tahap kedua untuk segera ditindak
lanjuti dengan analisis aspek ekonomi dan sosisalnya.Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan
dengan cara membandingkan persyaratan tumbuh tanaman jeruk dengan karakteristik fisik
lahan. Metode yang digunakan pada tahap ini adalah overlay dan matching. Overlay
dilakukan terhadap peta yang diperoleh dengan analisis sistem informasi geografis. Peta

16

yang dihasilkan dari proses overlay kemudian dilakukan pencocokan (matching) dengan
persyaratan tumbuh tanaman, sehingga diperoleh peta kesesuaian lahan. Melalui analisis
tabular pada perangkat lunak ArcGis, dapat ditentukan kesesuaian lahan komoditas jeruk
pada setiap SPL (Satuan Peta Lahan). Tingkat kesesuaian peubah untuk suatu aktivitas dapat
dibedakan kedalam 4 kelas, yaitu sangat sesuai (S1, sesuai (S2), sesuai marginal (S3), dan
tidak sesuai (N).

17

IV. Hasil dan Pembahasan


4.1

Kondisi Umum Wilayah Pengamatan


Desa Petung sewu merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Dau,
Kota Malang. Dimana keadaan geografis kota Malang itu sendiri berada pada ketinggian
sekitar 440-667 meter diatas permukaan air laut, merupakan salah satu kota tujuan wisata
di Jawa Timur karena potensi alam dan iklim yang dimiliki. Letaknya berada ditengahtengah wilayah kabupaten Malang. Secara astronomis terletak 112,06-112,07 Bujur
Timur dan 7,06-8,02 Lintang Selatan, dengan batas wilayah sebagai berikut :

Titik

Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kec. Karangploso Kabupaten Malang


Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang
Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang
Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau Kabupaten Malang

SPL
1
2
3
4
5
6
7

8
9
10
11

Tutupan Lereng Suhu


Drainase Bahaya
Lahan
(%)
(C)
Erosi
4 Jeruk
28
25 Baik
Sangat
rendah
4 Jeruk
39
25 Baik
Sangat
rendah
4 Jeruk
25
25 Baik
Sangat
rendah
3 Jeruk
19
25 Baik
Agak
terhambat
6 Jeruk
60
25 Baik
Rendah
6 Jeruk
60
25 Baik
Rendah
5 Jeruk
42
25 Baik
Sangat
rendah
5 Jeruk
40
25 Baik
Rendah
2 Jeruk
12
25 Baik
Sedang
2 Jeruk
10
25 Baik
Sedang
1 Jeruk
7
25 Baik
Sedang

Bahaya Genangan
Banjir Banjir
F0
Tidak ada
F0

Tidak ada

F0

Tidak ada

F0

Tidak ada

F0
F0
F0

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

F0
F0
F0
F0

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

18

4.2

Hasil Analisis Proyek

Titik

SPL

Bahaya Genangan
Banjir Banjir
F0
Tidak ada

Tutupan Lereng Suhu


Drainase Bahaya
Lahan
(%)
(C)
Erosi
4 Jeruk
28
25 Baik
Sangat
rendah
4 Jeruk
39
25 Baik
Sangat
rendah
3 Jeruk
25
25 Baik
Sangat
rendah
3 Jeruk
19
25 Baik
Agak
terhambat
6 Jeruk
60
25 Baik
Rendah

6 Jeruk

60

25 Baik

5 Jeruk

42

25 Baik

5 Jeruk

40

2 Jeruk

10
11

1
2
3
4

F0

Tidak ada

F0

Tidak ada

F0

Tidak ada

F0

Tidak ada

Rendah

F0

Tidak ada

F0

Tidak ada

25 Baik

Sangat
rendah
Rendah

F0

Tidak ada

12

25 Baik

Sedang

F0

Tidak ada

2 Jeruk

10

25 Baik

Sedang

F0

Tidak ada

1 Jeruk

25 Baik

Sedang

F0

Tidak ada

Tabel 2. Hasil pengamatan pada titik sampel di setiap SPL

Tekstur
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir

19

Gambar 1. Satuan Peta Lahan di Desa Petungsewu

20

SPL 1
NO

Faktor pembatas

Data

Kode

Kelas

Lereng

7%

S1

Tingkat Erosi

Sedang

eh

S2

Kedalaman
Efektif
Tekstur:
Atas

Tekstur
Bawah
Permeabilitas

Sedang

S2

Drainase

Baik

S1

Batuan/Krikil

Bahaya Banjir

Tidak Pernah

fh

S1

Data
12%
Sedang
-

Kode
eh

Kelas
S2
S2

rc

S1

rc

S3

fh

S2
S1
S1

Kelas

S3

Sub
Kelas

S3rc

rc

S1

rc

S3

Lempung Berdebu
Liat

SPL 2
NO
1
2
3
4

5
6
7
8
Kelas
Sub
Kelas

Faktor pembatas
Lereng
Tingkat Erosi
Kedalaman
Efektif
Tekstur:
Atas
Tekstur
Bawah
Permeabilitas
Drainase
Batuan/Krikil
Bahaya Banjir
S3
S3rc

Lempung Berdebu
Liat
Sedang
Baik
0%
Tidak Pernah

21

SPL 3
NO

Faktor pembatas

Data

Lereng

25%

2
3

Sangat rendah
-

Tingkat Erosi
Kedalaman
Efektif
Tekstur:
Atas

Tekstur
Bawah
Permeabilitas

Sedang

S2

Drainase

Baik

S1

Batuan/Krikil

0%

S1

Bahaya Banjir

Tidak Pernah

fh

S1

Data
39%
Sangat rendah
-

Kode

Kelas
N
S1
-

Kelas

S3

Sub
Kelas

S3rc

Kode

Kelas
S3

eh
-

S1
-

rc

S1

rc

S3

Lempung Berdebu
Liat

SPL 4
NO
1
2
3
4

5
6
7
8
Kelas
Sub
Kelas

Faktor pembatas
Lereng
Tingkat Erosi
Kedalaman
Efektif
Tekstur:
Atas
Tekstur
Bawah
Permeabilitas
Drainase
Batuan/Krikil
Bahaya Banjir
N
Neh

eh
rc

S1

rc

S3

Lempung Berdebu
Liat
Sedang
Baik
0%
Tidak Pernah

S1
fh

S1

22

SPL 5
NO
1
2
3

Faktor pembatas
Lereng
Tingkat Erosi
Kedalaman Efektif

Data
42%
Sangat rendah
-

Tekstur:
Atas

Lempung Berdebu

Tekstur
Bawah
Permeabilitas

Sedang

S2

Drainase

Baik

S1

7
Batuan/Krikil
8
Bahaya Banjir
Kelas
N
Sub Kelas Neh

Liat

Kode
eh
-

Kelas
N
S1
-

rc

S1

rc

S3

0%
Tidak Pernah

fh

S1

Kode

Kelas

SPL 6
NO

Faktor pembatas

Data

Lereng

60%

Tingkat Erosi

rendah

Kedalaman Efektif

Tekstur:
Atas

Tekstur
Bawah
Permeabilitas

Sedang

Drainase

Baik

S1

Batuan/Krikil

0%

S1

Bahaya Banjir

Tidak Pernah

Kelas

Sub Kelas Neh

N
eh

S2
-

rc

S1

rc

S3

Lempung Berdebu
Liat

fh

S1

23

4.2.2 Kesesuaian Lahan


SPL 1
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)

SPL 1
Data

Kelas

Baik

S1

Lempung

S1

berpasir
-

7%
Sedang

S1
S2

F0

F0

KELAS KESESUAIAN LAHAN

FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN

Bahaya erosi
S2eh

LAHAN
SPL 2
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan

SPL 2
Data

Kelas

24

Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN
LAHAN

Baik

S1

Lempung

S1

berpasir
-

12%
Sedang
F0

S2
S2
F0

S
Lereng
S2eh

25

SPL 3
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN

SPL 3
Data

Kelas

Baik

S1

Lempung

S1

berpasir
-

25%
Sangat rendah

S3
S1

F0

S1
-

S
Lereng
S3eh

LAHAN

SPL 4
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
Kelembaban (%)

SPL 4
Data

Kelas

26

Ketersediaan oksigen (oa)


Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN

Baik

S1

Lempung

S1

berpasir
-

39 %
Sangat

N
S1

rendah
F0

S1

N
lereng
Neh

LAHAN
SPL 5
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)

SPL 5
Data

Kelas

Baik
Lempung
berpasir
42%
Sangat rendah

S1
S1
N
S1

27

Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN
LAHAN

F0
-

S1
-

N
Lereng
Neh

28

SPL 6
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN
LAHAN

SPL 6
Data

Kelas

Baik

S1

Lempung

S1

berpasir
-

60%
Rendah

N
S2

F0

S1

N
Lereng
Neh

29

4.3

Pembahasan Proyek
Kesesuaian Lahan Aktual
Berdasarkan dari data kesesuaian lahan telah didapatkan bahwa kelas kesesuaian lahan

tanaman jeruk masuk kedalam kelas S3 dan N dengan faktor pembatas berupa kelerengan.
Kelerengan yang didapatkan bervariasi antara 7-60 %. Kemiringan lereng berpengaruh terhadap
kecepatan aliran permukaan, sehingga memperbesar daya perusakan air. Jika kecepatan aliran
meningkat dua kali, maka jumlah butir-butir tanah yang tersangkut menjadi 32 kali lipat (Arsjad,
2008). Kelerengan ini dapat menyebabkan erosi jika pengolahan ataupun penggunaan dan
tutupan lahannya tidak sesuai dengan kemampuan lahannya karena dengan terjadinya erosi juga
dapat mengurangi kualitas lahan berupa menurunnya kadar unsur hara, hilangnya lapisan atas
tanah sehingga hanya tersisa lapisan bawah yang minim unsur hara dan tanah yang lebih keras
karena mendekati lapisan bahan induk. Dan bila panjang lereng menjadi dua kali lipat, maka
umumnya erosi yang terjadi akan meningkat 1,5 kali (Nurhajati Hakim, 2007). Dari kondisi
aktual di lapang, erosi tidak terlalu tinggi karena adanya pembuatan teras pada lahan yang miring
atau dengan kelerengan tinggi. Pembuatan teras ini bertujuan untuk mengurangi tingkat erosi
sehingga dapat menjaga kualitas lahan dan dapat menjadi tempat tumbuh untuk tanaman jeruk
yang lebih baik. Menurut Kartasapoetra (2005), untuk mengurangi bahay erosi bisa dengan
pembuatan teras.
Kesesuaian Lahan Potensial
Kesesuaian lahan potensial pada lahan komoditas jeruk tidak ada karena faktor pembatas
terbesar pada lahan ini adalah kelerengan. Hal tersebut dikarenakan kelerengan atau tingkat
kemiringan lahan merupakan bentuk alami topografi sehingga sangat sulit bahkan tidak dapat
diperbaiki lagi. Hanya saja untuk bahaya erosi yang terjadi dapat dikurangi atau dicegah dengan
pembuatan terasering. Namun hal tersebut bukan untuk mengatasi kelerengan melainkan untuk
mencegah terjadinya erosi. Menurut Martono (2004) Lereng yang semakin curam dan semakin
panjang akan meningkatkan kecepatan aliran permukaan dan volume air permukaan semakin
besar, sehingga benda yang bisa diangkut akan lebih banyak. Untuk kesesuaian lahan potensial

30

masih tetap sama dengan kesesuaian lahan aktual karena faktor pembatas lereng tidak bisa
dirubah
atau diperbaiki.
Titik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

SPL
4
4
4
3
6
6
5
5
2
2
1

Tutupan Lereng Suhu


Drainase
Lahan
(%)
(C)
Jeruk
S3
S1 S1
Jeruk
N
S1 S1
Jeruk
S3
S1 S1
Jeruk
S3
S1 S1
Jeruk
N
S1 S1
Jeruk
N
S1 S1
Jeruk
N
S1 S1
Jeruk
N
S1 S1
Jeruk
S2
S1 S1
Jeruk
S2
S1 S1
Jeruk
S1
S1 S1

Bahaya
Erosi
S1
S1
S1
S2
S2
S2
S1
S2
S2
S2
S2

Bahaya
Banjir
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1

Genangan
Banjir
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1

Kelas
S3eh
Neh
S3eh
S3eh
Neh
Neh
Neh
Neh
S2eh
S2eh
S1

31

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Lincolin. 1992. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta:Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi
Ilmu EkonomiYKPN. Edisi Kedua.
BBSDLP.

2003.

Kriteria

Kelas

Kesesuaian

Lahan

tanaman

Jeruk.

http://bbsdlp.litbang.pertanian.go.id/kriteria/jeruk ,diakses tanggal 24 Maret 2016


CSR/FAO. 1983. Reconnaissance Land Resource Surveys 1:250.000 Scale. Atlas format
Procedures. AGOF/INS/78/006. Manual 4 Ver.1.CSR, Bogor
Djaenudin D., Marwan, H., Subagjo, H., Hidayat, A., 2003. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan
Untuk Komoditas Pertanian. Balai Penelitian Tanah. Puslitbangtanak. Balitbang Pertanian.
Bogor.
Foth, H. D. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan : Purbayanti, E. D. Lukiowati dan R.
Triwulatsih. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
LIPTAN. (1994) Lembar Informasi Pertanian. Irian Jaya. Balai Informasi Pertanian Irian Jaya
Martasari, C. DAN H. Mulyanto. 2008. Teknik Identifikasi Varietas Jeruk. Balai Penelitian
Tanaman Jeruk dan Buah Sub tropika, JawaTimur.
Ritung, s,et al.2007.Evaluasi Kesesuaian Lahan.Balai Penelitian Tanah Word Agroforestry
Center.

32

LAMPIRAN
1. Peta Administrasi Desa Petungsewu

33

2. Peta Lereng Desa Petungsewu

34

3. Peta Penggunaan Lahan Desa Petungsewu

35

4. Peta Bentuk Lahan Desa Petungsewu

36

5. Peta Geologi Desa Petungsewu