Evaluasi Kesesuaian Lahan Jeruk Petung Sewu
Evaluasi Kesesuaian Lahan Jeruk Petung Sewu
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang.
Tanaman jeruk merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia. Di Indonesia
merupakan Negara tropis di mana berbagai jenis jeruk banyak dijumpai dan dibudidayakan
mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Tanaman ini dapat tumbuh didaerah pada
ketinggian tempat sampai 1400 meter diatas permukaan laut. Ketinggian tempat tersebut
sangat mempengaruhi kualitas serta rasa buah, (Martasari dan Mulyanto, 2008). Sehingga di
Indonesia, jeruk merupakan tanaman yang termasuk dalam komoditas utama secara nasional
yang memberikan kontribusi dalam pemasukan negara.
Salah satu komoditas pertanian utama yang erat dengan kondisi tanah di desa Petung
Sewu adalah jeruk. Desa Petung Sewu adalah salah satu desa di daerah kecamatan Dau, Kab.
Malang, Jawa Timur yang terkenal dengan penghasil jeruk. Belakangan ini, produksi jeruk
menurun, sedangkan potensi pemasarannya cukup tinggi. Untuk pemecahan masalah ini
perlu diketahui penyebab turunnya produksi diantaranya lingkungan tumbuh tanaman jeruk
terutama tanahnya sebagai tempat tumbuh dan penyedia hara tanaman. Selain itu beberapa
waktu di daerah tersebut pengaruh cuaca yang tidak menentu menyebabkan hasil buah yang
dihasilkan dari tanaman tidak baik seperti kenampakan secara fisiknya bahkan kualitas
buahnya, (Malang-Micom, 2015). Sehingga perlu dilakukan validasi kesesuaian lahan untuk
tanaman jeruk pada daerah tersebut sehingga dapat diperoleh evaluasi lahan pada lahan
tanaman jeruk. Hal itu dilakukan dengan maksud apakah sampai saat ini lahan tersebut
memiliki kesesuaian lahan yang sesuai untuk pertumbuhan, perkembangan dan produksi
tanaman jeruk ideal sehingga dapat memberikan keuntungan bagi petani. Selain itu menurut
petani setempat faktor yang menyebabkan turunnya hasil panen adalah ketersediaan air atau
irigasi yang kurang memadai untuk pertumbuhan tanaman jeruk disana.
Penilaian dan evaluasi lahan pada tanaman jeruk ini dikaji melalui mata kuliah GALIFU
yang mana mata kuliah ini tergabung dari mata kuliah Sistem Informasi Sumber daya Lahan
(SISL), Ananlisis Landskap (ALAND) dan Tanah-Tanah Utama di Indonesia (TTU). Dari
ketiga mata kuliah ini memiliki keterkaitan satu sama lain dalam memecahkan masalah yang
ada dalam project disini. Dari segi mata kuliah SISL dapat dikaji terkait informasi dalam
bentuk peta daerah kesesuaian lahan pada tanaman jeruk. Mata kuliah ANLAND dapat dikaji
untuk permasalahan yang ada melalui landform (bentukan lahan) pada daerah tersebut seperti
apa sehingga dapat dikaitkan pula dengan mata kuliah TTU yang dapat dimanfaatkan juga
dalam mengkajiklasifikasi tanah dari bentukan lahannya dan proses pembentukan tanahnya
(pedogenesis). Terkait hal demikian, evaluasi kesesuaian lahan ini nantinya akan dianlisa
menggunakan sistem matching (mencocokan), serta membandingkan antara kualitas dan
sifat-sifat lahan dengan criteria kelas kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan
criteria kesesuaian lahan untuk komoditas pertanian (Djaenudin et al., 2005). Harapannya
dengan metode demikian dapat menghasilkan keluaran yang baik dan bermanfaat berupa
sebuah peta.
I.2 Tujuan.
1.2.1 Menentukan kelas kesesuaian lahan untuk pengembangan komoditas jeruk di
1.2.3
1.2.2
ketersediaan air.
Adanya penurunan hasil produksi akibat penurunan tingkat kelas kesesuaian
lahan.
I.4 Manfaat.
Penentuan kelas kesesuaian lahan atau validasi ini diharapkan dapat mengevaluasi
lahan tersebut apakah sampai saat ini masih memberikan kontribusi maksimal dalam hal
produksi dan menguntungkan bagi petani sehingga dapat diketahui faktor apa yang
mempengaruhinya dan dapat diatasi. Selain itu juga memberikan informasi pada petani
wilayah mana yang memilki kesesuaian yang cocok dengan tanaman jeruk di desa Petung
Sewu. Pada akhir penelitian informasi yang diberikan dalam bentuk peta sehingga dapat
dibaca informasinya lebih mudah, cepat dan praktis.
Data Primer
Data Sekunder
wawancara
Kriteria Kesesuaian Lahan Tanaman Jeruk
Hasil
Analisis GIS dengan sistem Matching
Rekomendasi
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
belajar, sehingga sebagian besar waktu belajar dihabiskan di luar ruangan (outdoor). Kita
bisa belajar tentang pelestarian alam lewat permainan, petualangan, dan rekreasi. Apalagi
di lokasi itu ditunjang suasana alami, sejuk dengan pemandangan pedesaan yang
menenangkan hati. Segala sesuatu yang berhubungan dengan konservasi alam dan satwa
liar ada di P-WEC. Program edukasi informal yang ditawarkan juga sangat menarik dan
bervariasi, salah satu destinasi favorit yang dikunkungi oleh para wisatawan adalah
wisata petik Jeruk.
Petik Jeruk adalah program destinasi wisata yang telah berlangsung sejak tahun
2004, dimana para wisatawan bebas memetik jeruk yang mereka inginkan, dan juga bisa
beli untuk dibawa pulang. Jeruk yang paling digemari oleh para wisatawan adalah jeruk
keprok (Citrus sp.), dimana jeruk keprok adalah produk perkebunan unggulan yang
dimiliki Desa Petungsewu.
2.1.3 Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Jeruk (Citrus sp.)
Dalam menilai kesesuaian lahan ada beberapa cara, antara lain, dengan perkalian
parameter, penjumlahan, atau menggunakan hukum minimum yaitu mencocokkan
(matching) antara kualitas lahan dan karakteristik lahan sebagai parameter dengan kriteria
kelas kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan atau
persyaratan tumbuh tanaman atau komoditas lainnya yang dievaluasi. Pada metode faktor
pembatas, setiap sifat-sifat lahan atau kualitas lahan disusun berurutan mulai dari yang
terbaik (yang memiliki pembatas paling rendah) hingga yang terburuk atau terbesar
penghambatnya. Masing-masing kelas disusun tabel kriteria untuk penggunaan tertentu
demikian rupa, sehingga faktor pembatas terkecil untuk kelas terbaik dan faktor pembatas
terbesar jatuh ke kelas terburuk. Berikut adalah tabel kriteria kelas kesesuaian lahan
untuk tanaman jeruk.
Tabel 1. Kriteria Kelas Kesesuaian Lahan untuk Tanaman Jeruk (Citrus sp.). (Komoditas
Pertanian oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Bogor, 2003).
Karakteristik
Lahan
Temperatur (tc)
Temp. rata-rata (0C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm)
1200-3000
N
>39
1000-1200
3000-3500
4-5
<50, >90
800-1000
3000-4000
5-6
-
<800
>4000
>6
-
Agak terhambat
Terhambat, agak
cepat
Sangat halus
Sangat terhambat,
cepat
kasar
15-35
75-100
35-55
50-75
>55
<50
>16
20
5,5-7,6
16
<20
5,2-5,5
7,6-8,0
<5,2
>0,8
<3
0,8
3-4
8,0
4-6
>6
<8
8-12
12-15
>15
>125
100-125
60-100
<60
16-30
Berat
-
>30
Sangat berat
>F0
15-40
15-25
>40
>25
S1
19-33
Agak kasar,
sedang, agak
halus, halus
<15
>100
<8
Sangat rendah
F0
8-16
Rendah-sedang
-
<5
<5
5-15
5-15
Kelas S1 : Lahan tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti atau nyata
terhadap penggunaan secara berkelanjutan, atau faktor pembatas bersifat minor
dan tidak akan berpengaruh terhadap produktivitas lahan secara nyata.
Kelas S2 : Lahan mempunyai faktor pembatas, dan faktor pembatas ini akan
berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan masukan (input).
Pembatas tersebut biasanya dapat diatasi oleh petani sendiri.
Kelas S3 : Lahan mempunyai faktor pembatas yang berat, dan faktor pembatas ini
akan sangat berpengaruh terhadap produktivitasnya, memerlukan tambahan
masukan yang lebih banyak daripada lahan yang tergolong S2. Untuk mengatasi
faktor pembatas pada S3 memerlukan modal tinggi, sehingga perlu adanya
bantuan atau campur tangan (intervensi) pemerintah atau pihak swasta.
Kelas N Lahan yang karena mempunyai faktor pembatas yang sangat berat
dan/atau sulit diatasi.
2.2
yang terbaik dan berturutan semakin besar hambatan semakin rendah kelasnya. Selain itu,
metode ini didasarkan pada pencocokan antara kriteria kesesuaian lahan dengan data
kualitas lahan. Hasil yang diperoleh menunjukkan korelasi yang baik antara indeks
produktivitas dengan produksi dari tanaman tertentu di daerah tempat indeks tersebut
dikembangkan (sangat bersifat lokal). Jika sistem ini diterapkan di tempat lain yang
iklimnya berbeda, maka diperlukan perubahan nilai pengharkatan iklim agar sesuai
dengan pengalaman petani di tempat tersebut. Oleh sebab itu perlu dilakukan evaluasi
melalui metode matching (perbandingan).
2.3
10
desaPetung sewu yang merupakan bagian dari kecamatan Dau ini didominasi oleh
penggunaan lahan kebun jeruk dengan daerah yang berbukit sehingga landform yang ada
di wilayah tersebut juga termasuk dalam landform structural. Selain itu juga termasuk
dalam landform alluvial karena terbentuk dari aliran sungai yang melewati daerah
tersebut.
11
BAB III
METODE
ArcGis 9.3
ER Mapper
GPS
Landsat
DEM SRTM
12
survey
Syarat tumbuh / data kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk dan faktor pembatas
Faktor pembatas lahan jeruk
Matching/skoring
Rekomendasi
13
Tahapan pertama yang akan dilakukan yaitu dengan membuat peta dasar untuk
survey yang terdiri dari peta administrasi, kelerengan, penggunaan lahan, geologi, dan
bentuk lahan. Dari beberapa peta tersebut nantinya akan dioverlay sehingga menjadi peta
kesesuaian lahan. Peta kesesuaian lahan tersebut akan dibuat SPL (satuan peta lahan)
berdasarkan kelerengan. Peta SPL tersebut nantinya akan dilakukan pengamatan di lapang
dengan menggunakan metode survey. Survey akan dilakukan berdasarkan peta SPL yang
telah dibuat. Metode survey yang dilakukan untuk mengetahui data validasi antara di lapang
dan di peta SPL mengenai informasi yang ada di lapang akan dimasukan kedalam peta SPL.
Selain itu juga dilakukan pengamatan parameter kualitas lahan tanaman jeruk seperti
temperatur, ketinggian, bahaya erosi, dan bahaya banjir. Metode survey ini nantinya juga
akan mengetahui faktor pembatas kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk. Dari parameter
kualitas lahan yang didapatkan dengan metode survey selanjutnya akan dilakukan validasi
dan memasukkan data hasil survey kedalam peta dengan metode matching/skoring. Metode
skoring ini digunakan untuk penilaian skor pada masing-masing SPL sehingga nantinya akan
didapat nilai kesesuaian lahan pada masing-masing SPL. Setelah dilakukan skoring
selanjutnya akan dilakukan penamaan atau kesimpulan dari hasil skoring pada masingmasing SPL dan akan terbentuk sebuah peta kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk. Dari
peta kesusaian lahan untuk tanaman jeruk akan dapat diambil langkah atau rencana untuk
memperbaiki lahan jeruk untuk kesusaian lahan dengan faktor pembatas yang sekiranya
dapat diperbaiki sesuai dengan nilai ekonomi, ekologi, tenaga, maupun waktu sehingga
kesusaian lahan untuk tanaman jeruk bisa menjadi lebih baik lagi.
3.4 Kegiatan Pra Survei
3.4.1
dasar yang nantinya digunakan untuk pengambilan titik sampel dan hasilnya digunakan
untuk membuat peta kesesuaian lahan melalui evaluasi lahan yang sudah dilakukan.
Penyusunan peta meliputi peta administrasi desa petungsewu, peta penggunaan lahan peta
geologi, peta bentuk lahan (landform), dan peta curah hujan dengan skala kerja 1:5000.
Selain itu dilakukan studi literatur terkait topik project tentang evaluasi lahan tanaman jeruk.
3.4.2
Data Sekunder
14
3.4.3
3.4.4
3.5.2
15
sesuai dengan parameter yang diperlukan dalam kesesuaian lahan tanaman jeruk
yaitu lereng, suhu, drainase, bahaya erosi, bahaya banjir, dan bahaya genangan
banjir. Selain itu dilakukan pula wawancara pada beberapa petani yang ditemui
dilahan jeruk untuk menambah keterangan terkait evaluasi lahan tanaman jeruk
dan dilakukan dokumentasi pada beberapa titik sampel pengamatan sebagai
pelengkap informasi yang dibutuhkan untuk mendukung laporan project.
3.6 Tahap Analisis Data dan Analisa Laboratorium
Analisis data mengacu pada data sekunder yang didapatkan dari peta SPL hasil
overlay peta administrasi, kelerengan dan tutupan lahan tanaman jeruk. Selain itu juga dari
data primer yang didapat dari pengamatan di lapangan. Dari hasil pengamatan dilapang yang
didasarkan pada peta SPL dan parameter pengamatan akan dilakukan pencatatan serta
pendekatan untuk pencocokan dalam evaluasi kesesuaian lahan komoditas jeruk.
Tabel 2. Parameter pengamatan
CSR/FAO, 1983
Temperature
Bahaya erosi
Curah hujan
Batuan permukaan
FAO, 1983
Kemudahan diolah
Bahaya banjir
Drainase tanah
Curah hujan
Batuan permukaan
Untuk evaluasi lahan menggunakan pendekatan dua tahap. Pendekatan ini terdiri atas
tahap pertama adalah evaluasi lahan secara fisik, dan tahap kedua evaluasi lahan secara
ekonomi. Pada tahap pertama ini didasarkan pada kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan
yang telah diseleksi sejak awal kegiatan survei. Kontribusi dari analisis sosial ekonomi
terhadap tahap pertama terbatas hanya untuk mengecek jenis penggunaan lahan dan faktor
fisik lainnya yang relevan. Hasil dari kegiatan tahap pertama ini disajikan dalam bentuk
laporan dan peta yang kemudian dijadikan subjek pada tahap kedua untuk segera ditindak
lanjuti dengan analisis aspek ekonomi dan sosisalnya.Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan
dengan cara membandingkan persyaratan tumbuh tanaman jeruk dengan karakteristik fisik
lahan. Metode yang digunakan pada tahap ini adalah overlay dan matching. Overlay
dilakukan terhadap peta yang diperoleh dengan analisis sistem informasi geografis. Peta
16
yang dihasilkan dari proses overlay kemudian dilakukan pencocokan (matching) dengan
persyaratan tumbuh tanaman, sehingga diperoleh peta kesesuaian lahan. Melalui analisis
tabular pada perangkat lunak ArcGis, dapat ditentukan kesesuaian lahan komoditas jeruk
pada setiap SPL (Satuan Peta Lahan). Tingkat kesesuaian peubah untuk suatu aktivitas dapat
dibedakan kedalam 4 kelas, yaitu sangat sesuai (S1, sesuai (S2), sesuai marginal (S3), dan
tidak sesuai (N).
17
Titik
SPL
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Bahaya Genangan
Banjir Banjir
F0
Tidak ada
F0
Tidak ada
F0
Tidak ada
F0
Tidak ada
F0
F0
F0
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
F0
F0
F0
F0
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
18
4.2
Titik
SPL
Bahaya Genangan
Banjir Banjir
F0
Tidak ada
6 Jeruk
60
25 Baik
5 Jeruk
42
25 Baik
5 Jeruk
40
2 Jeruk
10
11
1
2
3
4
F0
Tidak ada
F0
Tidak ada
F0
Tidak ada
F0
Tidak ada
Rendah
F0
Tidak ada
F0
Tidak ada
25 Baik
Sangat
rendah
Rendah
F0
Tidak ada
12
25 Baik
Sedang
F0
Tidak ada
2 Jeruk
10
25 Baik
Sedang
F0
Tidak ada
1 Jeruk
25 Baik
Sedang
F0
Tidak ada
Tekstur
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
Lempung
berpasir
19
20
SPL 1
NO
Faktor pembatas
Data
Kode
Kelas
Lereng
7%
S1
Tingkat Erosi
Sedang
eh
S2
Kedalaman
Efektif
Tekstur:
Atas
Tekstur
Bawah
Permeabilitas
Sedang
S2
Drainase
Baik
S1
Batuan/Krikil
Bahaya Banjir
Tidak Pernah
fh
S1
Data
12%
Sedang
-
Kode
eh
Kelas
S2
S2
rc
S1
rc
S3
fh
S2
S1
S1
Kelas
S3
Sub
Kelas
S3rc
rc
S1
rc
S3
Lempung Berdebu
Liat
SPL 2
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
Kelas
Sub
Kelas
Faktor pembatas
Lereng
Tingkat Erosi
Kedalaman
Efektif
Tekstur:
Atas
Tekstur
Bawah
Permeabilitas
Drainase
Batuan/Krikil
Bahaya Banjir
S3
S3rc
Lempung Berdebu
Liat
Sedang
Baik
0%
Tidak Pernah
21
SPL 3
NO
Faktor pembatas
Data
Lereng
25%
2
3
Sangat rendah
-
Tingkat Erosi
Kedalaman
Efektif
Tekstur:
Atas
Tekstur
Bawah
Permeabilitas
Sedang
S2
Drainase
Baik
S1
Batuan/Krikil
0%
S1
Bahaya Banjir
Tidak Pernah
fh
S1
Data
39%
Sangat rendah
-
Kode
Kelas
N
S1
-
Kelas
S3
Sub
Kelas
S3rc
Kode
Kelas
S3
eh
-
S1
-
rc
S1
rc
S3
Lempung Berdebu
Liat
SPL 4
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
Kelas
Sub
Kelas
Faktor pembatas
Lereng
Tingkat Erosi
Kedalaman
Efektif
Tekstur:
Atas
Tekstur
Bawah
Permeabilitas
Drainase
Batuan/Krikil
Bahaya Banjir
N
Neh
eh
rc
S1
rc
S3
Lempung Berdebu
Liat
Sedang
Baik
0%
Tidak Pernah
S1
fh
S1
22
SPL 5
NO
1
2
3
Faktor pembatas
Lereng
Tingkat Erosi
Kedalaman Efektif
Data
42%
Sangat rendah
-
Tekstur:
Atas
Lempung Berdebu
Tekstur
Bawah
Permeabilitas
Sedang
S2
Drainase
Baik
S1
7
Batuan/Krikil
8
Bahaya Banjir
Kelas
N
Sub Kelas Neh
Liat
Kode
eh
-
Kelas
N
S1
-
rc
S1
rc
S3
0%
Tidak Pernah
fh
S1
Kode
Kelas
SPL 6
NO
Faktor pembatas
Data
Lereng
60%
Tingkat Erosi
rendah
Kedalaman Efektif
Tekstur:
Atas
Tekstur
Bawah
Permeabilitas
Sedang
Drainase
Baik
S1
Batuan/Krikil
0%
S1
Bahaya Banjir
Tidak Pernah
Kelas
N
eh
S2
-
rc
S1
rc
S3
Lempung Berdebu
Liat
fh
S1
23
SPL 1
Data
Kelas
Baik
S1
Lempung
S1
berpasir
-
7%
Sedang
S1
S2
F0
F0
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN
Bahaya erosi
S2eh
LAHAN
SPL 2
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
SPL 2
Data
Kelas
24
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN
LAHAN
Baik
S1
Lempung
S1
berpasir
-
12%
Sedang
F0
S2
S2
F0
S
Lereng
S2eh
25
SPL 3
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN
SPL 3
Data
Kelas
Baik
S1
Lempung
S1
berpasir
-
25%
Sangat rendah
S3
S1
F0
S1
-
S
Lereng
S3eh
LAHAN
SPL 4
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
Kelembaban (%)
SPL 4
Data
Kelas
26
Baik
S1
Lempung
S1
berpasir
-
39 %
Sangat
N
S1
rendah
F0
S1
N
lereng
Neh
LAHAN
SPL 5
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
SPL 5
Data
Kelas
Baik
Lempung
berpasir
42%
Sangat rendah
S1
S1
N
S1
27
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN
LAHAN
F0
-
S1
-
N
Lereng
Neh
28
SPL 6
Persyaratan
penggunaan/karakteristik lahan
Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (mm) pada masa
pertumbuhan
Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman efektif (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)
KELAS KESESUAIAN LAHAN
FAKTOR PEMBATAS
SUB KELAS KESESUAIAN
LAHAN
SPL 6
Data
Kelas
Baik
S1
Lempung
S1
berpasir
-
60%
Rendah
N
S2
F0
S1
N
Lereng
Neh
29
4.3
Pembahasan Proyek
Kesesuaian Lahan Aktual
Berdasarkan dari data kesesuaian lahan telah didapatkan bahwa kelas kesesuaian lahan
tanaman jeruk masuk kedalam kelas S3 dan N dengan faktor pembatas berupa kelerengan.
Kelerengan yang didapatkan bervariasi antara 7-60 %. Kemiringan lereng berpengaruh terhadap
kecepatan aliran permukaan, sehingga memperbesar daya perusakan air. Jika kecepatan aliran
meningkat dua kali, maka jumlah butir-butir tanah yang tersangkut menjadi 32 kali lipat (Arsjad,
2008). Kelerengan ini dapat menyebabkan erosi jika pengolahan ataupun penggunaan dan
tutupan lahannya tidak sesuai dengan kemampuan lahannya karena dengan terjadinya erosi juga
dapat mengurangi kualitas lahan berupa menurunnya kadar unsur hara, hilangnya lapisan atas
tanah sehingga hanya tersisa lapisan bawah yang minim unsur hara dan tanah yang lebih keras
karena mendekati lapisan bahan induk. Dan bila panjang lereng menjadi dua kali lipat, maka
umumnya erosi yang terjadi akan meningkat 1,5 kali (Nurhajati Hakim, 2007). Dari kondisi
aktual di lapang, erosi tidak terlalu tinggi karena adanya pembuatan teras pada lahan yang miring
atau dengan kelerengan tinggi. Pembuatan teras ini bertujuan untuk mengurangi tingkat erosi
sehingga dapat menjaga kualitas lahan dan dapat menjadi tempat tumbuh untuk tanaman jeruk
yang lebih baik. Menurut Kartasapoetra (2005), untuk mengurangi bahay erosi bisa dengan
pembuatan teras.
Kesesuaian Lahan Potensial
Kesesuaian lahan potensial pada lahan komoditas jeruk tidak ada karena faktor pembatas
terbesar pada lahan ini adalah kelerengan. Hal tersebut dikarenakan kelerengan atau tingkat
kemiringan lahan merupakan bentuk alami topografi sehingga sangat sulit bahkan tidak dapat
diperbaiki lagi. Hanya saja untuk bahaya erosi yang terjadi dapat dikurangi atau dicegah dengan
pembuatan terasering. Namun hal tersebut bukan untuk mengatasi kelerengan melainkan untuk
mencegah terjadinya erosi. Menurut Martono (2004) Lereng yang semakin curam dan semakin
panjang akan meningkatkan kecepatan aliran permukaan dan volume air permukaan semakin
besar, sehingga benda yang bisa diangkut akan lebih banyak. Untuk kesesuaian lahan potensial
30
masih tetap sama dengan kesesuaian lahan aktual karena faktor pembatas lereng tidak bisa
dirubah
atau diperbaiki.
Titik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
SPL
4
4
4
3
6
6
5
5
2
2
1
Bahaya
Erosi
S1
S1
S1
S2
S2
S2
S1
S2
S2
S2
S2
Bahaya
Banjir
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
Genangan
Banjir
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
S1
Kelas
S3eh
Neh
S3eh
S3eh
Neh
Neh
Neh
Neh
S2eh
S2eh
S1
31
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Lincolin. 1992. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta:Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi
Ilmu EkonomiYKPN. Edisi Kedua.
BBSDLP.
2003.
Kriteria
Kelas
Kesesuaian
Lahan
tanaman
Jeruk.
32
LAMPIRAN
1. Peta Administrasi Desa Petungsewu
33
34
35
36