BAHAN BANGUNAN
“Kasus Pekerjaan Bata pada Proyek”
DOSEN PENGAJAR:
ARDI WILIYANTO DAN RIFANE GAZALIE, ST, MT
OLEH:
NOR ALIFAH
NIM .A010323026
KELAS : 1/A
KEMENTRIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI
POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN KEBUMIAN
PROGRAM STUDI D3 TEKNIK SIPIL
BANJARMASIN
2023/2024
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...................................................................................................I
KATA PENGANTAR....................................................................................II
BAB I Pendahuluan
1.1. Latar belakang....................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah...............................................................................1
1.3. Tujuan.................................................................................................1
BAB II Pembahasan
2.1 Pengertian...........................................................................................2
2.2 Spesifikasi Teknis Pemasangan Bata..................................................2
2.3 Teknologi Baru pada Pemasangan Bata.............................................2
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan........................................................................................3
3.2 Daftar Pustaka....................................................................................3
i
KATA PENGANTAR
Penulis panjatkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
denganrahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Kasus Pekerjaan Bata pada Proyek” ini dengan baik meskipun
banyak kekurangandidalamnya.Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam
rangka menambahwawasan kita. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
makalah ini terdapatkekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis
berharap adanya kritik,saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah penulis buat
di masa yang akandatang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi kita semua
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pemasangan dinding bata secara konvensional memiliki beberapa kelemahan
yaitu kecepatan waktu pelaksanaan pekerjaan yang tergantung pada keterampilan
tenaga kerja. Selain itu, keterampilan tenaga kerja juga mempengaruhi kualitas
hasil pekerjaan yang relatif sulit untuk mencapai keseragaman dan kerapihan
hasil pekerjaan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu
upaya untuk mencapai kesuksesan pekerjaan konstruksi sesuai standar yang
ditetapkan. Namun, peningkatan kualitas sumber daya manusia tentunya
membutuhkan waktu yang relatif lama sehingga untuk mempercepat peningkatan
keterampilan pekerja tersebut, diperlukan inovasi berupa alat bantu kerja yang
relatif mudah dioperasikan oleh para pekerja. Inovasi metode kerja melalui
pembuatan instrumen kerja yang relatif lebih sederhana diharapkan mampu
meningkatkan pencapaian kualitas kerja sesuai standar yang ditentukan dengan
waktu pekerjaan yang lebih cepat pada skala industri.
Banyaknya proyek berskala besar yang dibangun oleh pemerintah, swasta
maupun yang berasal dari perusahaan negara lain mengindikasikan bahwa
Indonesia saat ini telah berada pada tahap perkembangan bidang konstruksi yang
cukup signifikan. Perumahan berada dan merupakan bagian dari permukiman,
perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana
lingkungan. Pasangan batu bata merupakan susunan batu bata yang teratur dalam
arah memanjang/ mendatar yang direkatkan oleh spesi dengan perbandingan
campuran tertentu. Fungsi utama pasangan batu bata utamanya sebagai dinding
penyekat bangunan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
a) Berdasarkan uraian dalam latar belakang, pembahasan mengarah yang
lebih spesifik yaitu bagaimana metode pelaksanaan pekerjaan pasangan
batu bata, dan
b) Teknologi terbaru pada Pemasangan Bata
1.3 TUJUAN
Dari rumusan masalah di atas dapat diambil tujuan, diantaranya :
a) Mempelajari metode pelaksanaan pekerjaan pasangan batu bata
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Pemasangan bata sebagai dinding rumah merupakan pekerjaan yang perlu
mendapatkan perhatian terutama pada pekerjaan pasangan bata yang ditujukan untuk
pembuatan dinding. Terdapat 6 jenis batu bata yang paling umum digunakan dalam
proyek konstruksi:
Batu Merah
Jenis Pemasangan Dinding Batu Bata Ada 3 Jenis Pemasangan Batu Bata Merah,
yaitu :
1. Pasangan ½ batu: Pemasangan bata secara memanjang dengan lebar bata
merah sebagai tebal dinding.
2. Pasangan 1 batu: Pasangan bata secara melintang dengan panjang bata sebagai
tebal dinding.
3. Pasangan roolag: Pasangan bata secara miring melintang yang berfungsi
sebagai pasangan resapan air dibagian paling bawah pasangan bata.
Teknik Pemasangan
1. Pasangan batu bata untuk dinding - dinding luar pada bangunan umumnya
dapat dipakai pasangan batu bata ½ batu.
2. Dinding Pengisi dari pasangan bata ½ bata harus diperkuat dengan kolom
praktis, sloof, rollag, dan ring balok yang berfungsi untuk mengikat pasangan
bata dan menahan/menyalurkan beban struktural pada bangunan agar tidak
mengenai pasangan dinding bata tsb.
3. Campuran spesi pada pasangan tembok harus cukup kedap air agar tembok
tidak mudah basah jika terkena air hujan. Dinding bata yang memerlukan
campuran kedap air misalnya tembok pada kamar mandi, WC, tempat cuci, dan
dapur, spesi nya 1 : 3, artinya 1 takaran semen dan 3 takaran pasir. Dinding bata
yang tdk memerlukan campuran kedap air, perbandingan spesi nya 1: 5.
4. Perkuatan dinding batu bata dengan kolom praktis. Kolom - kolom praktis
merupakan bagian kerangka yang membantu dan memperkuat posisi dinding
pasangan batu bata, dan pemasangan kolom ditempatkan pada sudut pertemuan
pasangan batu bata.
5. Pasangan dan penempatan kolom - kolom praktis yang berukuran 13 x 13 atau
15 x 15 ditempatkan pada seluas bidang dinding tembok batu bata 12 m2. Jadi,
penampang kolom praktis yang berukuran 15 x 15 cm itu ditempatkan
penulangan / pembesian ø 4 -12 mm dan pemasangan sengkang / cincinnya
dengan ø 8- 20 cm dan terpasang pada dinding bata sejarak 3 - 4 m2.
2
6. Kusen gendong yang diartikan konstruksi kusen pintu dan jendelanya menjadi
satu. Di bagian atas dari ambang atas kusen dipasangkan batu bata berdiri atau
disebut sebagai rollag dengan adukan menggunakan perbandingan 1 PC: 3 Ps.
gendong yang diartikan konstruksi kusen pintu dan jendelanya menjadi satu. Di
bagian atas dari ambang atas kusen dipasangkan batu bata berdiri atau disebut
sebagai rollag dengan adukan menggunakan perbandingan 1 PC: 3 Ps
Batako
Batako merupakan batu cetak yang tidak dibakar tetapi dipress. Batako dibuat
dari campuran semen PC dan pasir atau abu batu yang di press padat. Ukuran dan
model nya beragam. Pada batako terdapat 3 lubang disisinya. Lubang tersebut
digunakan sebagai adukan pengikat.
Pemasangan Dinding Batako Prinsip pengerjaan dinding batako hampir sama
dengan dinding dari pasangan bata,antara lain:
1. Batakoharus disimpan dalam keadaan kering dan terlindung dari hujan.
2. Pada saat pemasangan dinding, tidak perlu dibasahi terlebih dahulu dan tidak
boleh direndam dengan air.
3. Pemotongan batako menggunakan palu dan tatah, setelah itu dipatahkan pada
kayu/ batu yang lancip.
4. Pemasangan batako dimulai dari ujung-ujung, sudut pertemuan dan berakhir di
tengah-tengah.
5. Dinding batako juga memerlukan penguat/ rangka pengkaku terdiri dari kolom
dan balok beton bertulang yang dicor dalam lubang-lubang batako. Perkuatan
dipasang pada sudut-sudut, pertemuan dan persilangan.
Bata Ringan/Hebel
Teknik Pemasangan Dinding Bata Ringan :
1. Bersihkan dasar permukaan lokasi dari debu, kotoran, minyak, setelah itu
beriair.
2. Siapkan pondasi, tarik benang antara sudut -sudut di dinding untuk
penempatan bata ringan di lahan yang ingin di gunakan.
3
3. Permukaan bata ringan di tekan agar rata dengan tarikan benang penempatan.
4. Setiap akan memasang lapisan bata ringan yang baru permukaan blok harus
dibersikan dahulu.
5. Kelurusan dinding sesuai tarikan benang, Gunakan Waterpass.
6. Tuangkan adonan pada tiap lapisan bata ringan setebal 3 mm dengan roskam
bergigi 6 mm yang telah dipersiapkan.
7. Lalu tebarkan adukan dengan memakai alat yang rata sehinnga permukaan
blok bata ringan tertutup adukan.
8. Permukaan blok bata ringan harus diratakan dengan menggunakan alat perata
sehingga permukaan dinding rapi dan rata.
9. Pemasangan bata ringan harus lurus dan rata, tahap pertama setinggi 7 lapis
dengan spesi dasar 3 cm, setelah tahap pertama selesai biarkan pasangan
mengering lebih kurang 3 jam, lanjutkan hingga tinggi yang ditentukan .
2.2 Spesifikasi Teknis Pemasangan Bata
Tujuan Pemasangan Bata Dinding (antara lain bata) adalah bagian bangunan yang
sangat penting perannya bagi suatu konstruksi bangunan.. Dinding membentuk dan
melindungi isi bangunan baik dari segi konstruksi maupun penampilan artistik
Faktor umum yang perlu diperhatikan saat pelaksanaan pekerjaan pasangan bata:
1. Kualitas Material
2. Kelengkapan Peralatan
3. Ikatan Pasangan Bata
4. Siar
Agar pemasangan bata merah, bata ringan, bata ekspos tidak rubuh sebaiknya anda
perhatikan cara memasang batu bata yang benar.
1. Cek posisi penempatan dinding yang akan dikerjakan dan cek kondisi pondasi
penempatan dinding apakah sudah kondisi baik.
2. Kondisi pondasi/sloof harus bersih dan mempunyai alur pengikatan antara sloof
ke pasangan bata. Jika terdapat kotoran atau lumpur pada sloof harus dibersihkan
supaya pengikatan dinding dengan sloof terikat dengan baik.
3. Kolom harus dipastikan tersedia angkur untuk pengikatan ke dinding (biasanya
angkur menggunakan besi 10 mm yang ditanamkan ke kolom sewaktu
pengecoran dan muncul dengan panjang antara 15 – 20 cm).
4. Jika kondisi sloof dan kolom sudah baik, kemudian lakukan pembuatan garis
benang pada bagian dinding yang akan dipasangkan.
5. Untuk garis lurus secara horizontal dilakukan pembuatan benang pada salah satu
sisi bagian pinggir bata yang akan dipasang, dilakukan dengan penarikan benang
dari ujung ke ujung dinding.
6. Untuk ketegakan dibuat garis tegak lurus secara vertical terhadap benang
horizontal yang sudah dibuat, pembuatan garis vertical dapat dibuat pada kolom
yang ada ataupun pembuatan mal bantu dikedua ujung dinding yang akan
dipasangkan .
7. Jika benang horizontal pada pemasangan awal sudah terpasang, kemudian mulai
memasang bata pada kedua ujung bagian dinding.
4
8. Kemudian dilanjutkan mulai satu demi satu hingga tercapai sambungan dari
ujung ke ujung.
9. Lakukan pengecekan leveling di atas batu bata yang sudah terpasang dan pastikan
semua pasangan bata semuanya dalam keadan rata. Jika sudah rata maka ini
adalah menjadi panduan untuk memasang ke tingkat berikutnya.
10. Harus dipastikan ketebalan mortar harus tetap sama dan demikian juga pengisian
mortar antar bata harus sama.
11. Jika saat pemasangan terdapat perbedaan ketinggian bata, maka untuk
mendapatkan kerataan dapat dilakukan dengan memukul ujung bata dengan pelan
sampai bata tetap rata, pemukulan dapat dilakukan dengan kondisi adukan masih
dalam keadaan basah.
12. Jika adukan/ mortar sudah kering maka mortar harus diambil dan diganti dengan
adukan/mortar baru.
13. Jika bata sudah dipasangkan dalam beberapa rangkaian, kadang adukan/mortar
ada yang berlebih atau sampai meleleh hingga keluar dari sisi pinggir pasangan.
Jika itu terjadi, maka adukan berlebih harus segera di ratakan dengan
menggunakan sendok semen supaya permukaan tetap rata. Jangan biarkan sempat
mengering karena hal ini sangat mempengarui kerapian dan kerataan dinding saat
pelaksanaan plesteran.
14. Setelah mendapatkan beberapa tingkatan pasangan bata yang sudah dipasangkan
yang telah terhubung dari ujung keujung bagian dinding ayng dipasangkan, anda
kemudian harus menarik garis horizontal dari ujung ke ujung pada garis vertikal
yang dibuat untuk mendapatkan ketegakan dinding.
15. Pemasangan benang horizontal dapat dilakukan setiap 50 cm.
16. Pastikan anda tetap memasangkan dalam 1 garis lurus sesuai denga benang yang
dipasangkan sehingga didapatkan ketegakan dinding yang baik dan kondisi
pasangan tetap rapi sampai posisi atas.
Teknik pemasangan batu bata terinspirasi dari tukang bangunan. Perbedaan pasangan
1 bata dan 1/2 bata yang dimaksud dengan dinding tembok 1/2 bata adalah tebal
dinding tembok tersebut sama dengan panjang 1/2 bata. dinding tembok 1/2 bata ini
terdiri dari 2 macam lapisan. lapisan 1 terdiri bata strek semuanya, sedangkan lapisan
2 diawali dan diakhiri dengan bata 1/2. fungsi dinding tembok 1/2 bata adalah sebagai
tembok pembatas, atau pemisah, yaitu untuk membatasi atau memisahkan ruangan
yang satu dengan yang lainya.
Untuk mendapatkan hasil pasang bata ekspos atau pleseter yang maksimal, maka ada
beberapa faktor yang harus diperhatikan saat pelaksanaan pekerjaan pemasangan
bata.
a. Cek Kualitas Batu Bata
Pastikan bata yang dipakai adalah bermutu baik. Ciri-ciri batu bata yang
bagus dapat dilihat secara visual, yaitu:
berwarna merah atau coklat tua. Warna merah ini hasil dari pembakaran batu bata
yang sempurna.
bata tidak cepat rapuh
permukaan bata tidak terlalu rapat karena akan menyulitkan penyerapan
permukaan bata terhadap mortar sehingga ikatan akan kurang baik.
ukuran bata seragam. Batu bata kadang ditemukan dalam berbagai ukuran dan
lebar yang tidak sama, baik panjang, lebar dan ketebalan
5
b. Cek daya serap batu bata
Sebelum batu bata dipasang, lakukan pengecekan daya serap air pada bata. Jika bata
terlalu kering, maka lakukan perendaman bata sekitar 5-10 menit sehingga tercapai
bata jenuh dengan air. Perendaman bata ini dilakukan supaya tingkat penyerapan bata
terhadap campuran adukan semen (mortar) tidak terlalu cepat. Pasalnya, proses
pengeringan yang terlalu cepat dapat mengakibatkan kekuatan ikatan struktur
dindingi menjadi tidak baik. Jika bata dalam keadaan basah jangan terlalu dipaksakan
untuk dipasang, tunggu permukaan bata agak kering. Permukaan yang terlalu basah
mengakibatkan bata akan jenuh menyerap adukan mortar sehingga akan
memungkinkan adukan akan meleleh dan air semen akan terbuang dari pasangan.
Jika bata terlalu kering maka akan menimbulkan penyerapan yang terlalu cepat, yang
akan menimbulakn pengikatan tidak terlalu bagus.
c. Tumpuk bata dekat area pemasangan
Lakukan penumpukan material batu bata dekat area dinding yang dipasangi bata
merah. Penumpukan material tidak boleh terlalu jauh dan tidak terlalu dekat karena
akan menyulitkan pemasangan. Batu bata harus ditumpuk beraturan supaya
memudahkan pengambilan oleh tukang pasang.
d. Gunakan pasir yang bagus
Pastikan adukan mortar menggunakan pasir yang baik dengan gradasi yang bagus.
Pasir juga dianjurkan tidak banyak mengadung butiran batu dan juga tidak banyak
mengandung lumpur.
e. Perhatikan komposisi adukan mortar
Pastikan pengadukan dilakukan dengan perbandingan campuran yang
seimbang sesuai dengan yang disyaratkan. Biasanya campuran dengan
perbandingan 1:3, 1:4 dan 1:5.
Pembuatan adukan harus diperhatikan secara benar. Jangan membuat adukan
dalam volume terlalu banyak. Maksudnya, jumlahnya harus diseimbangkan
antara volume adukan dengan volume pemasangan. Jika volume adukan
terlalu banyak, dikhawatirkan adukan/ mortar cepat mengering sebelum
dipasang.
6
2.3 Teknologi Baru pada Pemasangan Bata
Bata Ringan CLC
Semen yang digunakan dalam proyek percontohan ini berjenis Portland
Pozzolan Cement (PPC). Pemilihan jenis semen ini dikarenakan jenis semen PPC
mudah didapat di pasar lokal disekitar wilayah Kabupaten Bogor. Air yang
digunakan untuk proses pencampuran bahan adalah air dari PDAM setempat.
Selain itu digunakan juga abu terbang (fly ash) yang merupakan hasil sampingan
dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Abu terbang digunakan untuk
menggurangi penggunaan semen dan untuk meningkatkan sifat mekanis bata.
Abu terbang yang digunakan dalam proyek ini diambil dari hasil sampingan
PLTU Suralaya. Agregat halus menggunakan pasir dari sungai lokal dengan sifat
berat jenis yang kecil agar dapat mengurangi berat produk bata CLC. Pasir yang
digunakan sedapat mungkin memiliki butiran yang halus dan tidak tidak tajam,
karena jika butirannya tajam dapat merusak busa secara mekanis. Pasir yang
digunakan harus bebas dari bahan organik ataupun kotoran lainnya. Foam agent
yang digunakan berbahan dasar surfaktan memiliki sifat basa yang tinggi. Karena
itu foam agent harus diencerkan agar tidak menghalangi pengerasan semen yang
berlebihan (Malau, 2014). Dalam proyek ini menggunakan 1 bagian foam agent
yang dilarutkan dalam 40 bagian air. Busa diproduksi menggunakan mesin foam
generator yang terhubung dengan kompresor udara. Ukuran produk bata ringan
yang dihasilkan adalah 75x200x600 mm. Dimensi bata ini dipilih karena
menghasilkan bata sejumlah 111 bata/m3 , lebih banyak bila dibandingkan
menggunakan dimensi 100x200x600 mm yang hanya menghasilkan 83 bata/m3 .
Selain itu juga mempertimbangkan bahwa tidak diperlukan penggunaan dinding
rumah yang terlalu tebal.
Spesifikasi Produk Tidak ada metode standar untuk mengatur proporsi campuran
pada CLC, nilai kerapatan merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan
(Chandel & Sakale, 2016). Bata ringan CLC dapat diproduksi dengan nilai
kerapatan dan kuat tekan tertentu. Besarnya nilai kerapatan bata CLC dapat
dikendalikan dengan penambahan gelembung udara ke dalam campuran.
Gelembung udara dibuat oleh generator foam dengan tingkat viskositas busa yang
bisa diatur. Menurut IS 2185-4:2008, bata CLC hanya diklasifikasikan ke dalam
dua katagori yaitu untuk penahan beban dan bukan penahan beban. Namun, lebih
lengkapnya bata CLC juga dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelas (Tabel 1).
Kerapatan
Kelas Kegunaan 3
(kg/m )
Struktur : untuk
A menahan beban 1200 - 1800
Non struktur : tidak
B untuk menahan beban 700 - 1000
C Untuk isolasi termal 400 - 600
7
Bata untuk dinding yang dimaksud dalam tulisan ini adalah komponen
non struktural dan tidak ditujukan untuk menerima beban berat. Bata ringan
CLC yang dibuat dalam proyek ini termasuk ke dalam kelas mutu B
dengan target nilai kerapatan antara
3
900-1000 kg/m . Pengujian sampel dilakukan untuk mengetahui data
karakteristik bata yang dihasilkan. Pada penelitian ini 18 sampel diambil secara
3
acak untuk setiap 111 bata yang dihasilkan dalam 1 m cetakan. Untuk itu
3
dilakukan pengambilan secara acak pada 5 m bata dari hasil proses
pencampuran adukan per meter kubiknya. Sehingga total sampel secara
keseluruhan adalah 90 sampel. Proses sampling dan jumlah benda uji ini
didasarkan pada standar IS 2185-4:2008. Dari masing- masing 18 bata yang
diambil, 3 bata diuji untuk pengujian kerapatan kering, 6 bata diuji untuk
pengujian kuat tekan, 3 bata untuk pengujian konduktivitas termal, 3 bata
untuk pengujian penyerapan air, dan 3 bata untuk pengujian kering susut.
Hasil pengujian karakteristik bata dapat dibandingkan dengan standar
persyaratan bata untuk bangunan (Tabel 2).
Tabel 2. Karakteristik Bata CLC
No Parameter Bata CLC Persyaratan
Kerapatan lebih ringan
3
1. oven (kg/m ) 900 - 1000 lebih bagus
Kuat tekan minimum : 2.8
2. 2.9 - 3.85 (IS 2185-4)
(MPa)
Konduktivitas
termal lebih rendah
3. (W/m.k) 0.15 - 0.20
lebih bagus
Penyerapan maksimum : 25
4. air (%) 10 - 15 (ASTM C 869)
Kering susut Maksimum
5 tidak susut
(%) 0,08%
8
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis maka dapat ditarik kesimpulan:
1. Pekerjaan persiapan berperan penting dalam proses pelaksanaan
pekerjaan
2. Teknologi pembuatan bata ringan CLC ini merupakan teknologi
yang sederhana dan mudah diterapkan pada skala industri.
9
DAFTAR PUSTAKA
https://www.batamerahgarut.com/pemasangan-batu-bata/ Diakses pada tanggal
19 November 2023
Timtujuh.com. (2013, 13 Juni). Cara Pemasangan Dinding Bata. Diakses pada
19 November 2023, dari https://www.timtujuh.com/index.php/art-
proporsi/item/3-cara-pemasangan-dinding-bata.html
Agung, Summarecon. (2014). Metode Kerja Untuk Pemasangan Dinding Bata.
Standar Summarecon Agung Indonesia, P15.
10