PEMERINTAH KABUPATEN MALANG
DINAS KESEHATAN
UPT PUSKESMAS SINGOSARI
Jl. TohjoyoIII/ No. 1 Tlp. (0341) 458961
Email : puskesmassingosari03@gmail.com
SINGOSARI-65153
BAB I
PENDAHULUAN
A. Definisi
Fogging adalah salah satu usaha pemberantasan nyamuk dengan
menggunakan bahan kimia. Pemberantasan nyamuk dengan cara fogging ini,
perlu dilakukan pengulangan-pengulangan beberapa kali penggunnaan cara ini,
biaya dan usaha mencegah bahaya sampingan dari pemakaian pestisida.
Alat fogging biasa digunakan untuk penyemprotan ruang (spaces
spraying). Fogging juga dilakukan di semak-semak dan rerumputan sekitar
sarang nyamuk yang dilakukan pagi hari, sehingga setelah sore hari akan
memberikan perasaan lega yang temporer terhadap gangguan nyamuk dewasa
selama satu sampai dua minggu.
Penggunaan pestisida untuk fogging terebut harus didasarkan atas
pengetahuan terhadap spesies nyamuk yang ada, sarang dan keadaan musim,
padat atau jarangnya nyamuk. Penyemprotan pyrethirum atau dichlorovos di
bawah atau sekitar alat-alat rumah tangga yang terbuat dari kain lenen, baik
untuk pemberantasan di dalam rumah.
Pengasapan atau fogging bertujuan menyebarkan pestisida ke udara atau
lingkungan sekitar melaului asap. Fogging ini diharapkan dapat membunuh
nyamuk dewasa (yang infentil). Sehingga rantai penularan DHF atau demam
berdarah dapat diputuskan. Hal ini akan menurunkan populasi nyamuk penyebab
DHF tersebut secara keseluruhan. Pengasapan atau fogging lazimnya
menggunakan fog machin atau fog generator dengan spesifikasi dan persyaratan
tertentu.
B. Tujuan
Tujuan Umum
Untuk menyebarkan pestisida ke udara di lingkungan sekitar melalui asap
untuk pengendalian nyamuk sebagai rantai penularan DHF.
1
C. Sasaran
Sasaran dalam kegiatan Fogging adalah Penderita DBD dan tetangga sekitar
penderita dengan radius 200 m dari penderita DBD
D. Dasar Hukum
1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2011 Tentang
Zoonosis
2. Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014
Tentang Penyelenggaraan Survaians Kesehatan
3. Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2014
Tentang Penanggulangan Penyakit Menular
4. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 20 Tahun 2011 Tentang
Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Provinsi Jawa Timur
5. Peraturan Bupati Malang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengendalian
Penyakit Demam Berdarah Dengue
E. Batasan Operasional
Bentuk kegiatan ini adalah dilakukan setelah pelaksanaan Penyelidikan
Epidemologi (PE) jika Hasil Positif (Bila ditemukan penderita DBD lainnya (1 atau
lebih) atau ditemukan 3 atau lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik (≥5%)
dari rumah/bangunan yang diperiksa ) maka dilakukan fogging. Kegiatan fogging
dilakukan pada saat pagi atau sore hari tempat pelaksanaan fogging di radius
200 m dari penderita.
2
BAB II
RUANG LINGKUP
1. Adanya laporan penderita DBD dari Rumah Sakit/Puskesmas.
2. Petugas puskesmas melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) di lingkungan
penderita DBD untuk mengetahui adakah penderita DBD lainnya dan penderita
demam dalam kurun waktu 1 minggu sebelumnya.
3. Bila ditemukan penderita demam tanpa sebab yang jelas pada saat itu ditemukan
pemeriksaan di kulit dan dilakukan uji Tourniquet.
4. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat penampungan air (TPA) dan tempat-
tempat lain yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypty baik didalam maupun di luar rumah/bangunan pada radius 100 meter dari
lokasi tepat tinggal penderita.
5. Hasil pemeriksan adanya penderita DBD lainnya dan hasil pemeriksaan terhadap
penderita demam (tersangka DBD) dan pemeriksaan jentik dicatat dalam formulir
PE.
6. Hasil PE dilaporkan ke Dinas Kesehatan.
7. Berdasarkan hasil PE dilakukan penanggulangan focus, sebagai berikut :
8. Bila ditemukan penderita DBD lainnya (1 atau lebih) atau ditemukan 3 atau lebih
tersangka DBD dan ditemukan jentik (≥5%) dari rumah/bangunan yang diperiksa,
maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) DBD, larvasidasi, penyuluhan dan pengasapan dengan insektisida di rumah
penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya dalam radius 200 meter.
9. Bila tidak ditemukan penderita lainnya tetapi ditemukan jentik, maka dilakukan
penggerakan masyarakat dalam PSN DBD, larvasidasi dan penyuluhan.
10. Bila tidak ditemukan penderita lainnya dan tidak ditemukan jentik, maka dilakukan
penyuluhan kepada masyarakat.
3
BAB III
TATA LAKSANA
A. Lingkup Kegiatan
1. Menerima Laporan Penderita DBD
2. Melakukan Pelacakan Penderita DBD
3. Kesimpulan Hasil Pelacakan Penderita DBD
4. Hasil Positif (Bila ditemukan penderita DBD lainnya (1 atau lebih) atau
ditemukan 3 atau lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik (≥5%) dari
rumah/bangunan yang diperiksa )
B. Metode
Metode yang digunakan dalam kegiatan Fogging adalah dengan melakukan
pemberantasan nyamuk dengan menggunakan alat / mesin Fog yang berbahan
kimia.
C. Langkah Kegiatan
1. Persiapan Alat
1) Fog machine
2) Alat pelindung diri (APD)
3) Jerigen plastik voleme 20 liter
4) Jerigen plastik voleme 5 liter
5) Alat penakar 1 liter
6) Ember plastik
7) Corong bersaring
2. Bahan
1) Pestisida cair
2) Bahan pelarut (solar)
3) Bahan bakar (bensin)
4) Batu batere (4 buah)
3. Cara Kerja
1) Siapkan semua peralatan yang diperlukan dan periksa lokasi yang akan
difog
2) Masukan larutan pestisida yang sudah dilarutkan dengan solar, bensin
serta bateray sesuai dengan tempatnya pada fog machine
3) Pasang nozzle yang sesuai
4) Kemudian hidupkan machin dengan cara :
4
Tutup kran bensin dan pompa sebanyak 5 kali. Kran bensin di buka,
kemudian tekan tombal starter bersama. Dengan beberapa kali hingga
mesin hidup.
5) Atur kran katup udara hingga bunyi mesin terdengar normal dan stabil
6) Angkat (gendong) fog machine. Arahkan moncong ketempat-tempat yang
akan difog dan moncong mesin dengan lantai diusahakan membentuk
sudut lancip. Kemudian kran larutan dibuka dan asap akan menyebur
keluat dari moncong mesin
7) Jika terget selesai difog, kran larutan di tutup kembali hingga asap tidak
lagi menyebur dari moncong mesin
8) Kemudian matikan mesin dengan cara menutup kran bahan bakar.