0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
261 tayangan78 halaman

Skripsi Aulia

Pariwisata syariah

Diunggah oleh

hmpspws23
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Kegiatan Evaluasi,
  • Identitas Budaya,
  • Kegiatan Ekonomi Kreatif,
  • Kre Alang,
  • Infrastruktur Wisata,
  • Pelayanan Wisata,
  • Kegiatan Sosial,
  • Pelatihan Budaya,
  • Kegiatan Sosialisasi,
  • Aksesibilitas
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
261 tayangan78 halaman

Skripsi Aulia

Pariwisata syariah

Diunggah oleh

hmpspws23
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Topik yang dibahas

  • Kegiatan Evaluasi,
  • Identitas Budaya,
  • Kegiatan Ekonomi Kreatif,
  • Kre Alang,
  • Infrastruktur Wisata,
  • Pelayanan Wisata,
  • Kegiatan Sosial,
  • Pelatihan Budaya,
  • Kegiatan Sosialisasi,
  • Aksesibilitas

POTENSI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA BUDAYA

DESA POTO KECAMATAN MOYO HILIR


KABUPATEN SUMBAWA

Oleh :
AULIA RADIVA
NIM : 200503030

PROGRAM STUDI PARIWISATA SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM
2024
POTENSI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA BUDAYA
DESA POTO KECAMATAN MOYO HILIR
KABUPATEN SUMBAWA
Skripsi
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram
Untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Ekonomi

Oleh :
AULIA RADIVA
NIM : 200503030

PROGRAM STUDI PARIWISATA SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM
2024

i
ii
iii
iv
v
PENGESAHAN

Skripsi oleh Aulia Radiva, NIM 200503030 dengan judul “Potensi


Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Desa Poto Kecamatan Moyo
Hilir Kabupaten Sumbawa”, telah dipertahankan di depan dewan penguji
Jurusan Pariwisata Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN
Mataram pada tanggal

DEWAN PENGUJI

Ketua Sidang________

Wahyu Khalik, M. Par

Penguji 1____________

Penguji 2____________

Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Prof. Dr. Ridwan Mas`ud, M.Ag


NIP 197111102002121001

vi
MOTTO

‫۝‬٤٥ ‫َو اْسَتِع ْيُنْو ا ِبالَّصْبِر َو الَّص ٰل وِۗة َو ِاَّنَها َلَك ِبْيَر ٌة ِااَّل َع َلى اْلٰخ ِشِع ْيَۙن‬
Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.
Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang
yang khusyuk (Qs. Al-Baqarah : 45 )

vii
PERSEMBAHAN

“kupersembahkan skripsi ini untuk ayah


dan ibuku tercinta, kelurgaku,
almamaterku, semua guruku, dan
dosenku”.

viii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT, karena limpahan Rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita
Nabi Besar Muhammad Saw. Beserta keluarga, para sahabat, dan mudah-
mudahan kita semua mendapatkan syafa’atnya di akhirat nanti, amin ya
rabbal alamin
Dalam menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Potensi
Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Desa Poto Kecamatan Moyo
Hilir Kabupaten Sumbawa” penulis banyak mendapatkan dukungan dari
berbagai pihak, sehingga melalui kesempatan ini penulis menyampaikan
ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Wahyu Khalik, M.Par selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, motivasi dan koreksi mendetail terus
menerus dan tanpa bosan ditengah kesibukannya dalam suasana
keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.
2. Bapak Muhammad Johari, M.S.I sebagai Ketua Jurusan Pariwisata
Syariah.
3. Bapak Dr. Ridwan Mas’ud, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Islam.
4. Bapak Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram
yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan
memberi bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di
kampus tanpa pernah selesai.
5. Bapak dan Ibu dosen Pariwisata Syariah yang telah memberikan
ilmunya selama duduk di bangku perkuliahan.
6. Kedua orang tua tercinta saya, yang telah memberikan dukungan
materi serta do’a yang tiada henti untuk kesuksesan saya, karena
tiada kata sindah lantunan do’a dan tiada do’a yang paling khusuk
selain do’a yang diucap orang tua. Ucapan terimakasih saja tidak
akan cukup untuk membalas kebaikan orang tua.
7. Abang saya Dirmawansyah S,Pd yang senantiasa memberikan
dukungan , semangat, dan motivasi untuk menggapai cita-cita
saya.

ix
8. Semua keluarga tercinta saya yang selalu memberikan support
dana setiap saya akan berangkat lagi ke perantauan.
9. Jude Bellingham dan Nathan Tjoe A On, yang selalu membuat
saya bersemangat ketika mengerjakan skripsi.
10. Sahabat dan Teman Angkatan 2020 kelas A Pariwisata Syariah,
terimakasih untuk suka dan dukanya selama 4 tahun.
11. Para sahabat yang telah membantu selama di perantauan,
terimakasih untuk canda tawa, tangis dan perjuangan yang kita
lewati bersama.
Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak
kekurangan, kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak
sangat peneliti harapkan demi penyempurnaan pada masa yang akan
datang. Akhirnya, semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut
mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Semoga
penyusunan skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Mataram, 08 Mei 2024

Aulia Radiva

x
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL..........................................................................
HALAMAN JUDUL.............................................................................i
HALAMAN LOGO...............................................................................ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................iii
NOTA DINAS PEMBIMBING............................................................iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI...............................................v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI...................................................vi
HALAMAN MOTTO............................................................................vii
HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................viii
KATA PENGANTAR............................................................................ix
DAFTAR ISI..........................................................................................xi
DAFTAR TABEL..................................................................................xiii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................xiv
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................xv
ABSTRAK..............................................................................................xvi
BAB I PENDAHULUAN......................................................................1
A. Latar Belakang............................................................................1
B. Rumusan Masalah.......................................................................5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian....................................................5
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian........................................6
E. Telaah Pustaka.............................................................................7
F. Kerangka Teori............................................................................9
G. Metode Penelitian........................................................................20
H. Sistematika Pembahasan.............................................................24

xi
BAB II POTENSI DESA POTO SEBAGAI DESTINASI WISATA
BUDAYA DESA POTO KECAMATAN MOYO HILIR KABUPATEN
SUMBAWA............................................................................................25
A. Profil Desa Poto..........................................................................25
B. Potensi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa.............................30
C. Analisis Potensi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Desa
Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa....................42
BAB III STRATEGI PENGEMASAN PRODUK WISATA BUDAYA
DESA POTO KECAMATAN MOYO HILIR KABUPATEN
SUMBAWA............................................................................................47
A. Strategi Pengemasan Produk Wisata Budaya Desa Poto Kecamatan
Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa................................................47
B. Analisis Strategi Pengemasan Produk Wisata Budaya Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa.............................52
BAB IV PENUTUP...............................................................................57
A. Kesimpulan..................................................................................57
B. Saran ...........................................................................................57
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................59
DAFTAR RIWAYAT HIDUP...............................................................65

xii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Desa Poto, 29
Tabel 2.2 Luas Lahan Menurut Jenis Penggunaannya, 30
Tabel 2.3 Potensi Wisata Desa Poto, 34

xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Wilayah Desa Poto, 29
Gambar 2.2 Pelatihan Pengembangan Motif Kre Alang, 35
Gambar 2.3 Workshop Versifikasi Produk Kre Alang, 36
Gambar 2.4 Nesek Dengan Alat Tenun Bukan Mesin, 37
Gambar 2.5 Pelatihan Pengembangan Sakeco, 38
Gambar 2.6 Bale Budaya Desa Poto, 39
Gambar 2.7 Nesek di Bale Budaya Desa Poto, 40
Gambar 2.8 Akses Festival Ponan, 41
Gambar 2.9 Festival Sadekah Ponan, 42
Gambar 3.1 Pelatihan Menenun, 47
Gambar 3.2 Objek Wisata Ponan, 48
Gambar 3.3 Pamflet Festival Sadekah Ponan, 51

xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Profil Informan, 61
Lampiran 2 Dokumentasi Saat Melakukan Penelitian, 62
Lampiran 3 Riwayat Hidup, 65

xv
POTENSI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA BUDAYA
DESA POTO KECAMATAN MOYO HILIR
KABUPATEN SUMBAWA
Oleh
Aulia Radiva
Nim: 200503030
ABSTRAK
Keanekaragaman budaya dianggap mempunyai potensi dalam
pengembangan daya tarik suatu daerah tujuan wisata, kekhasan dan
keragaman budaya lokal menjadikan pariwisata bernilai tidak hanya
sebagai perjalanan untuk bersenang-senang, tetapi juga sebagai perluasan
dan juga kegiatan pembelajaran terhadap ragam khas budaya lokal.
Namun demikian perlu dilakukan pengembangan terhadap potensi-potensi
tersebut. Salah satunya yaitu Desa Poto yang memiliki ekosistem
kebudayaan yang masih terjaga sehingga perlu dilakukannya
pengembangan untuk menjadikan Desa Poto sebagai destinasi wisata
budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pengembangan
destinasi wisata budaya Desa Poto kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif
deskriptif dengan metode pengumpulan data yaitu observasi, wawancara
dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menerangkan bahwa pengembangan
destinasi wisata budaya Desa Poto dilakukan dengan cara : versifikasi
produk tenun Kre Alang, pelatihan pekan budaya, bale budaya sebagai
center tourism dan revitalisasi Festival Ponan. Sedangkan strategi
pengemasan produk wisata budaya adalah : mengemas produk wisata
budaya, mengemas fasilitas, mengemas pelayanan serta kerjasama dengan
stakeholder.
Kata Kunci : Pengembangan, Wisata Budaya, Desa Poto, Pengemasan
Produk Wisata

xvi
POTENTIAL DEVELOPMENT OF CULTURAL
TOURISM DESTINATION POTO VILLAGE
MOYO HILIR DISTRICT, SUMBAWA REGENCY
By
Aulia Radiva
Nim: 200503030
ABSTRACT
Cultural diversity is considered to have potential in developing the
attractiveness of a tourist destination, the distinctiveness and diversity of
local culture makes tourism valuable not only as a trip for fun, but also as
an expansion and also learning activities on the typical variety of local
culture. However, it is necessary to develop these potentials. One of them
is Poto Village which has a cultural ecosystem that is still maintained so
that development needs to be done to make Poto Village a cultural tourism
destination. This study aims to determine the potential development of
cultural tourism destinations in Poto Village, Moyo Hilir District,
Sumbawa Regency. The type of research used is descriptive qualitative
research with data collection methods, namely observation, interviews and
documentation. The results of this study explain that the development of
cultural tourism destinations in Poto Village is carried out by: versification
of Kre Alang weaving products, cultural week training, cultural bale as a
tourism center and revitalization of the Ponan Festival. While the strategy
of packaging cultural tourism products is: packaging cultural tourism
products, packaging facilities, packaging services and cooperation with
stakeholders.
Keywords : Development, Cultural Tourism, Poto Village, Tourism
Product Packaging

xvii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki
keanekaragaman budaya, baik itu budaya dari masa lalu
maupun budaya dari masa sekarang. Dapat dibayangkan lebih
dari 200 juta penduduk yang tersebar di sekitar 17 ribu pulau,
membuktikan Indonesia sebagai negara pluarisme dengan
keanekaragaman seni dan budaya, lebih dari 470 suku bangsa
dan 19 daerah hukum adat dengan tidak kurang dari 700 bahasa
yang digunakan oleh kelompok masyarakat. 1 Hal tersebut
diperkuat dengan masing-masing suku bangsa memiliki
keanekaragaman kesenian serta peninggalan budaya masa lalu
membuktikan Indonesia memang memiliki aset budaya yang
luar biasa sebagai identitas bangsa.
Wisatawan berkunjung ke Indonesia dilatarbelakangi karena
60% budaya Indonesia, 35% karena pemandangan alam
Indonesia, dan 5% karena wisata buatan. Kekayaan karya seni
dan budaya Indonesia menjadi kelebihan dan peluang yang
tidak dimiliki negara lain. Sayangnya di era globalisasi saat ini,
dengan masuknya budaya asing yang menjadi bagian dari
budaya nasional, keberagaman seni dan budaya tersebut
semakin hilang satu persatu. Faktanya, banyak negara yang iri
dengan kekayaan seni dan budaya Indonesia hingga mereka
berani mengklaim kesenian dan kebudayaan milik Indonesia.
Salah satu penyebab adalah bangsa kita kurang menghargai dan
mengapresiasi karya seni dan budaya sendiri, bahkan cendrung
lebih memilih produk budaya negara lain. Kesenian tradisional
dianggap tidak modern, kuno dan ketinggalan zaman, begitulah
pemahaman sebagain besar masyarakat kita. Kita lupa bahwa
keberagaman seni dan budaya modern yang mereka cinta lahir
dari budaya tradisional. Seni dan budaya merupakan aset utama
Indonesia yang apabila dikelola dengan baik mampu
1
Bintang Marsriwa Nusantara, dkk “Strategi Pemasaran Kampung Wisata
Balurwati Sebagai Destinasi Wisata Budaya di Kota Surakarta” Jurnal Pariwisata
Indonesia Vol,11 No,1 2015

1
menguatkan identitas dan jati diri bangsa sekaligus dapat
melayani kepentingan pembangunan nasional2.
Keanekaragaman budaya dianggap mempunyai potensi
dalam pengembangan daya tarik suatu daerah tujuan wisata,
kekhasan dan keragaman budaya lokal menjadikan pariwisata
bernilai tidak hanya sebagai perjalanan untuk bersenang-senang,
tetapi juga sebagai perluasan dan juga kegiatan pembelajaran
terhadap ragam khas budaya lokal. Atraksi wisata budaya
mengacu pada berbagai kegiatan sosial berupa kekayaan
intelektual, spiritual, dan emosional masyarakat yang meliputi
seni, arsitektur, warisan sejarah, warisan kuliner, sastra, musik,
industri, kreatif, dan gaya hidup serta sistem nilai, kepercayaan
dan tradisi. Potensi budaya sebagai atraksi wisata dianggap
sebagai salah satu faktor terbesar dalam menarik wisatawan.
Berdasarkan The Organization For Economic Co-Operation
and Development (OECD), wisata budaya adalah salah satu
yang terbesar dan pariwisata global yang tumbuh paling cepat
dan industry budaya dan kreatif semakin meningkat digunakan
untuk mempromosikan destinasi dan untuk meningkatkan daya
saing dan daya tarik3.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.10 Tahun
2009 tentang kepariwisataan dalam pasal 1 yang dimaksud
wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat
tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau
mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam
jangka waktu sementara4.
Wisata budaya merupakan suatu kegiatan wisata yang
condong atau cendrung kepada daya tarik wisata berwujud
hasil-hasil dari seni budaya daerah tersebut, contohnya adat
istiadat, upacara keagamaan, tata hidup masyarakat,

2
Ibid. hlm 2
3
Leily Suci Rahmatin “Potensi Budaya Lokal Sebagai Atraksi Wisata Dusun
Segunung, Desa Carangwulung” (Jurnal Kajian dan Terapan Pariwisata ISSN 2747-
060 Vol.3 No. 2 Mei 2023)
4
Undang-Undang No.10 Pasal 1 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan

2
peninggalan sejarah, hasil seni dan juga kerajinan masyarakat di
daerah tersebut5.
Budaya dan pariwisata selalu terkait dengan erat. Tempat
wisata budaya, atraksi dan peristiwa memberikan motivasi
penting untuk dikunjungi. Industri pariwisata apabila dilihat
dari segi budaya, secara tidak langsung memberikan kontribusi
bagi pengembangan budaya Indonesia karena dengan adanya
suatu objek wisata maka dapat diperkenalkan keberagaman
budaya yang dimiliki suatu negara seperti kesenian tradisional,
upacara-upacara keagamaan atau adat yang menarik perhatian
wisatawan asing dan wisatawan Inonesia.
Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa
termasuk dalam daftar 359 Desa Program Pemajuan
Kebudayaan sebagai Desa percontohan pemajuan kebudayaan
oleh Direktur Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan. Hal ini ditegaskan pula melalui Surat Keputusan
Bupati Sumbawa, No. 522.3/401/Bappeda/2019.6
Ekosistem budaya Desa Poto masih sangat aktif, seperti
kesenian tradisional Sakeco, tenun khas Sumbawa (kre alang),
dan sadekah ponan. Desa Poto sudah lama dikenal sebagai
sentra wisata budaya dan tenun tradisional di Kabupaten
Sumbawa. Pelestarian adat dan budaya di Desa Poto
merupakan hasil upaya berbagai pihak dalam melestarikan dan
memperkuat tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun
lamanya.7
Desa Poto mempunyai potensi-potensi budaya yang sedang
gencar untuk dikembangkan dengan didukung oleh potensi
alam, potensi budaya, dan potensi sejarah yang dimiliki oleh
Desa Poto, hal ini bisa menjadi modal dalam mengembangkan
pariwisata Desa Poto. Potensi-potensi budaya yang ada di Desa
Poto diantaranya : Sadekah ponan merupakan salah satu tradisi
5
Damardjati, R.S 2001. Istilah-istilah Dunia Pariwisata, (Jakarta : Pradnya
Paramita )
6
Surat Keputusan Bupati Sumbawa, No. 522.3/401/Bappeda/2019
7
Ardiansyah, Heri Kurniawansyah HS, Dwi Yanti, “Peran Pokdarwis Dalam
Pembangunan Sektor Kebudayaan di Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa” Jurnal Kapita Selekta Administrasi Publik eISSN Vol.3.No. 2 Desember
2022

3
unik yang dimiliki oleh kalangan petani di Sumbawa. Hal ini
bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Sumbawa setiap musim
tanam untuk mendoakan kesuburan hasil pertanian. Tradisi
ponan diawali dengan dzikir dan doa bersama yang dipimpin
dengan langkah adat. Setelah sembahyang selesai, seluruh
warga membacakan puji-pujian kepada leluhur yang diucapkan
dalam bahasa kasankawa, kemudian acara diakhiri dengan
pencampuran makanan dan santapan bersama. Namun tidak
semua makanan itu dikonsumsi, ada pula yang dibawa pulang
untuk dibawa pulang ke ladang masing-masing. Mereka percaya
bahwa makanan ini dapat menyuburkan ladang mereka dan
melindungi mereka dari segala ladang. Siapapun yang berada di
makam yang sedang menstruasi dapat mengikuti festival ponan
ini. Sementara itu, pada tahun 1970-an, anak perempuan
dilarang mengikuti upacara tersebut karena adanya mitos bahwa
panen padi akan bisa dilakukan. Upacara ini diadakan pada hari
Minggu pertama atau kedua antara bulan Januari dan Maret
setelah setiap musim tanam8.
Kesenian tradisional Sakeco adalah tradisi lisan yang
dikembangkan untuk mengungkapkan cinta, kesedihan, ktirik
dan nasihat. Sakeco menggunakan temung atau irama dalam
penyampaiannya. Kesenian Sakeco melibatkan dua pemain dan
penutur yang sekaligus bertugas untuk memukul rebana sebagai
musik pengiring, yang ditabuhkan saat penutur selesai
menyampaikan satu bait cerita. Tenun khas Sumbawa (kre
alang) merupakan hasil kerajinan tenun berupa kain sarung
berukuran lebih kecil dari sarung pada umumnya. Kre alang
memiliki motif yang dibuat dengan benang berwarna emas,
semuanya berbahan dasar benang, hanya saja dibuatkan motif
dan model yang indah menggunakan sesek. Dari segi Teknik,
pembuatannya dengan sistem gurin (lidi pembatas). Hasil karya
budaya Sumbawa yang didalamnya terdapat ragam hias motif

8
Indah Wulandari, Ofi Hidayat, “Model Komunikasi Masyarakat Terhadap
Kelestarian Tradisi Ponan Di Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir” e-ISSN : 2622-7290
Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, Vol. 6, No.1 Oktober 2023

4
yang mejadi pembeda dengan tenunan sejenis yang ada di
daerah lain.9
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian
terhadap “potensi pengembangan destinasi wisata budaya Desa
Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa” diharapkan
dapat menjadi salah satu usaha untuk mengetahui potensi
pengembangan budaya Desa Poto dan strategi pengemasan
produk wisata budaya yang terdapat di Desa Poto.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian pembahasan masalah di atas maka dapat
dirumuskan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi rumusan
masalah dalam penelitian ini yaitu :
a. Bagaimana potensi pengembangan destinasi wisata
budaya Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa?
b. Bagaimana strategi pengemasan produk wisata budaya
Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa?
C. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui potensi pengembangan destinasi
wisata buadaya Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir
Kabupaten Sumbawa
b. Untuk mengetahui strategi pengemasan produk wisata
budaya Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
literatur tambahan dan pelengkap mengenai potensi
Desa Poto sebagai destinasi wisata budaya.
b. Manfaat Praktis
1. Bagi pemerintah, sebagai bahan referensi dan kajian
dalam penelitian sosial budaya lokal dan dapat
9
Sukiman “Pemanfaatan Kesenian Sakeco Etnis Samawa Sebagai Materi
Pembelajaran Sastra di SMP” (Universitas Billfath Lamongan), Vol. 12 Nomor. 1,
Juni 2018

5
menjadi salah satu potensi wisata budaya di
Kecamatan Moyo Hilir.
2. Bagi masyarakat, dapat mempertahankan dan
melestarikan secara terus menerus mengenai
budaya/tradisi lokal khusunya Sakeco, kain tenun
khas Sumbawa (kre alang) dan sadekah ponan yang
ada di Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten
Sumbawa
3. Bagi peneliti, dapat memperluas ilmu secara
komprehensif dan menambah pemahaman berbagai
ilmu yang berkaitan didalamnya, tentang potensi
pengembangan destinasi wisata budaya Desa Poto.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
1. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk menjelaskan masalah agar tidak melenceng dari
pembahasan maka peneliti memberikan batasan-batasan
pada penelitian ini. Oleh karena itu cakupan dalam
penelitian ini yaitu potensi pengembangan destinasi wisata
budaya Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa dan strategi pengemasan produk wisata budaya
Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Poto Kecamatan
Moyo Hilir, 11 km arah Tenggara kota Sumbawa.
E. Telaah Pustaka
Untuk memperkuat latar belakang serta landasan teori yang
telah dipaparkan sebelumnya, maka dibutuhan penelitian
terdahulu yang digunakan peneliti sebagai acuan dalam
melakukan penelitian:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Ardiansyah,dkk tentang
“Peran Pokdarwis Dalam Pembangunan Sektor Kebudayaan
di Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa
NTB”. Penelitian ini berfokus pada eksistensi kebudayaan
Desa Poto yaitu: Kesenian Tradisional Sakeco, Kain Tenun
Tradisional (Kre Alang), dan Tradisi Sadekah Ponan. Hasil
penelitian yang didapatkan bahwa peran Pokdarwis dalam

6
Pembangunan sektor kebudayaan di Desa Poto meliputi tiga
Objek Pemajuan Kebudayaan yang sudah ditetapkan. Tiga
objek tersebut adalah Kesenian Tradisional Sakeco, Kain
Tenun Tradisional (Kre Alang), dan Tradisi Sadekah Ponan.
Adapun faktor pendukung Pokdarwis dalam pembangunan
sektor kebudayaan adalah partisipasi masyarakat,
ketersediaan objek pemajuan kebudayaan pendukung,
dukungan penuh dari Pemerintah Desa Poto. Sedangkan,
faktor penghambat yaitu keterbatasan sumber daya manusia,
kurangnya sarana dan prasarana, terbatasnya komunikasi
dengan Pemerintah Daerah, serta tidak adanya anggaran
tetap Pokdarwis.
Sedangkan penelitian ini berfokus pada potensi yang
dimiliki Desa Poto sebagai destinasi wisata budaya.10
2. Penelitian yang dilakukan oleh Leily Suci Rahmatin tentang
“Potensi Budaya Lokal Sebagai Atraksi Wisata Dusun
Segunung, Desa Carangwulung” dalam penelitian ini
penulis menjelaskan potensi wisata budaya yang terdapat di
Desa Carangwulung yaitu kampung adat segunung,
pentingnya tulisan ini adalah sebagai bentuk analisis
terhadap potensi pariwisata berbasis budaya lokal untuk
menjadi destinasi wisata yang dapat memberikan nilai
kompetitif terhadap pariwisata, namun juga dengan
memperhatikan nilai keaslian desa adat di segunung. Potensi
wisata yang menjadi peluang pengembangan pariwisata
kampung adat segunung merupakan prospek produk wisata
yang sebagian besar terletak pada destinasi wisata dengan
konsep budaya.11
Penelitian ini berfokus pada identifikasi wisata budaya
yang dimiliki Desa Poto sebagai destinasi wisata budaya
Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa.
10
Ardiansyah, Heri Kurniawan Hs, Dwi Yanti “ Peran Pokdarwis Dalam
Pembangunan Sektor Kebudayaan Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa” (Jurnal kapita Selekta Administrasi Publik eISSN 2775-2194 Vol.3 No.2
Desember 2022)
11
Leily Suci Rahmatin “Potensi Budaya Lokal Sebagai Atraksi Wisata
Dusun Segunung, Desa Carangwulung”( Jurnal Kajian dan Terapan Pariwisata
ISSN 2747-060 Vol.3 No.2 Mei 2023)

7
3. Penelitian yang dilakukan Oleh Nyoman Dini Andiani, Ni
Made Ary Widiastani “Pengemasan Produk Wisata Oleh
Pokdarwis Sebagai Salah Satu Model Pariwisata Alternatif”.
Dalam penelitian ini masalah yang diteliti terkait dengan
pengemasan produk wisata yang dilakukan oleh pokdarwis
mengetahui peran dan kontribusi pokdarwis dalam
pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Buleleng12,
Bali. Adanya program tahunan yaitu Ipteks Bagi Masyarakat
(IbM) yang bertujuan untuk melatih masyarakat dalam
membuat paket wisata termasuk strategi pemasarannya.
Selain itu memahami lemahnya cara memandu wisata
terutama memandu wisatawan asing yang mewajibkan
mereka menggunakan bahasa asing, maka program IbM ini
dilakukan pembuatan buku panduan guiding dalam dua
bahasa yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Penelitian ini berfokus pada strategi pengemasan produk
wisata yang ada di Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Sahrul Amar, I Made
Suyasa, Mahsun “Strategi Pengembangan Produk Ekonomi
Kreatif Kain Tenun Kre Alang Sebagai Daya Tarik Wisata di
Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir”. Penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan potensi pengembangan produk
ekonomi kreatif kain tenun Kre Alang, agar menjadi daya
tarik wisata. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
kain tenun Kre Alang memiliki potensi untuk dikembangkan
sebagai daya tarik wisata seperti sumber daya manusia,
pemasaran, daya dukung dari berbagai pihak, nilai filosofi
dan nilai budaya serta inovasi, menjalin kerjasama dengan
pelaku pariwisata, mengemas paket wisata dan menjaga
generasi penerus.13

12
Nyoman Dini Andini”Pengemasan Produk Wisata Oleh Pokdarwis Sebagai
Salah Satu Model Pariwisata Alternatif” e-ISSN :2549-155 (JKB Vol. 20. No. X1 Juni
2017)
13
Sahrul Amar, I Made Suyasa, Mahsun “Strategi Pengembangan Produk
Ekonomi Kreatif Kain Tenun Kre Alang Sebagai Daya Tarik Wisata di Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir” (Jurnal Of Responsible Tourism Vol. 2 No. 2 November
2022)

8
Penelitian ini mengidentifikasi tentang 3 objek
pemajuan kebudayaan yaitu Kre Alang, Sadekah Ponan dan
Sakeco.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Bintang Marsriwa
Nusantara, Agus Gunawan, Deria Adi Wijaya “Strategi
Pemasaran Kampung Wisata Baluwarti Sebagai Destinasi
Wisata Budaya di Kota Surakarta”. Dalam penelitian ini
masalah yang diteliti terkait dengan potensi-potensi apa saja
yang terdapat di Kampung Wisata Baluwarti, bagaimana
sistem pengelolaan Kampung Wisata Baluwarti, serta
bagaimana strategi pemasaran Kampung Baluwarti agar
dikenal oleh wisatawan domestik maupun mencanegara
sebagai destinasi wisata budaya. Hasil penelitian yang
dilakukan penulis bahwa potensi yang ada di Kampung
Wisata Balurwati meliputi potensi cagar budaya, potensi
atraksi budaya, potensi event budaya, potensi makanan khas
Balurwati, potensi kerajinan unggulan. Dalam strategi
pengelolaan, pengelola Kampung Wisata Balurwati
membuat organisasi-organisasi diantaranya ialah Pantia
Pengelola kampung Wisata Budaya (PPKWB), Kelompok
Sadar Wisata (POKDARWIS), serta Kelompok Kerja
(POKJA).
Sedangkan penelitian ini membahas tentang potensi
budaya yang terdapat di Desa Poto dan strategi pengemasan
produk wisata budaya. Kedua penelitian ini menggunakan
jenis penelitian yang sama yaitu penelitian kualitatif
deskriptif.14
F. Kerangka Teori
1. Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Pariwisata
a. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan
didukung berbagai fasilitas serta layanan yang
disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan
Pemerintah daerah.
14
Bintang Marsriwa Nusantara, Agus Gunawan, Deria Adi Wijaya “Stratagi
Pemasaran Kampung Wisata Balurwati Sebagai Destinasi Wisata Budaya di Kota
Surakarta” (Jurnal Pariwisata Indonesia ISSN 2581-2688 Vol. 11 No. 1 Tahun 2015)

9
b. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait
dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta
multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan
setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan,
Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha.
c. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.
d. Destinasi wisata merupakan kawasan geografis yang
berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang
di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum,
fasilitas pariwisata, aksesibilitas serta masyarakat yang
saling terkait dan melengkapi terwujudnya
kapariwisataan.
e. Daya tarik wisata merupakan segala sesuatu yang
memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa
keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil
buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan
kunjungan wisata.
2. Pengertian Budaya
Budaya ialah salah satu metode untuk hidup dan bisa
berkembang yang mana dimiliki bersama di sebuah
kelompok orang yang kemudian akan diwariskan dari
generasi ke generasi lainnya. Budaya kan terbentuk dari
beberapa unsur yang rumit yang mana terdiri dari sistem
agama, politik, bahasa, adat istiadat, perkakas, bangunan,
pakaian dan juga karya seni. Kebudayaan merupakan
keseluruhan yang kompleks, didalamnya terkandung
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat
seseorang sebagai anggota masyarakat.15
3. United Nation World Tourism Organization
Definisi Tourism menurut UNWTO memiliki pengertian
yang lebih luas yaitu Tourism is a social , cultural, economi
phenomenon which entails the movement of people to
countries or place outside their usual environment for
personal or business/professional purposes. These people

15

10
are called visitors (which may be either tuorist or
excursionist; residents or non residents) and tourism has to
do with their activities, some of which imply tourism
expenditure16. Wisata Budaya merupakan suatu jenis
kegiatan pariwisata yang motivasi penting pengunjungnya
adalah untuk mempelajari, menemukan, mengalami dan
mengkonsumsi atraksi budaya yang berwujud dan tidak
berwujud/produk di suatu destinasi pariwisata.
Atraksi/produk ini berkaitan dengan serangkaian ciri khas
material, intelektual, spiritual dan emosional suatu
Masyarakat yang mencakup seni dan arsitektur, warisan
sejarah dan budaya. Warisan kuliner, sastra, musik, industri
kreatif dan budaya hidup dengan gaya hidup dan nilai-
nilainya, sistem, kepercayaan dan tradisi.
Ada beberapa komponen utama yang disepakati secara
umum dalam batasan pariwisata, antara lain sebagai berikut:
a. Pelancong, yaitu orang yang melakukan perjalanan
antara dua tempat atau lebih
b. Pengunjung, yaitu seseorang yang melakukan perjalanan
ke suau daerah bukan tempat tinggal dalam jangka
waktu kurang dari 12 bulan dan tidak melakukan
perjalanan dengan tujuan mencari nafkah, penghasilan
atau penghidupan di tempat tujuan.
c. Wisatawan, yaitu bagian dari visitor yang menginap di
kawasan wisata tidak satu malam (24 jam) di daerah
yang dikunjungi. 17
4. Pengembangan Pariwisata
Pengembangan adalah usaha yang dilakukan secara
sadar dan berencana untuk memperbaiki sesuatu yang
sedang berjalan atau menambah jenis yanh dihasilkan
maupun yang akan dipasarkan. Pada hakekatnya,
pengembangan adalah suatu proses memperbaiki dan
meningkatkan susuatu yang ada, pengembangan objek
16
Oda I.B Hariyanto “Destinasi Wisata Budaya dan Religi Di Cirebon” Vol.
IV, No. 2 September 2016
17
Leily Suci Rahmatin “ Potensi Budaya Lokal Sebagai Atraksi Wisata
Dusun Segunung, Desa Carangwulung” ( Jurnal Kajian dan Terapan Pariwisata Vol
3. No. 2 Mei Tahun 2023)

11
wisata merupakan kegiatan membangun, memelihara dan
melestarikam sarana dan prasrana maupun fasilitas lainnya.
Berbagai elemen dasar yang harus diperhatikan dalam
perencanaan pengembangan pariwisata paling tidak
mencakup aspek-aspek sebagai berikut :
a. Pengembangan Produk Wisata
Produk pariwisata merupakan daya tarik yang akan
melahirkan motivasi bagi wisatawan untuk mengunjungi
objek wisata.
b. Pengembangan Amenities dan Akomodasi
Berbagai fasilitas wisata yang harus dikembangkan
dalam aspek amenities seperti akomodasi, rumah makan,
pusat informasi wisata, toko cinderamata, pusat
kesehatan, pusat layanan perbankan, sarana komunikasi,
pos keamanan, biro perjalanan wisata, ketersediaan air
bersih, listrik dan lain sebagainya.
c. Pengembangan Aksesibilitas
Aksesibilitas tidak hanya menyangkut kemudahan
transportasi bagi wisatawan untuk sampai ke tujuan
tempat wisata, akan tetapi juga waktu yang dibutuhkan,
tanda penunjuk arah menuju lokasi wisata dan perangkat
terkait lainnya.
d. Pengembangan Image (Citra Wisata)
Pencitraan (image building) merupakan bagian dari
positioning, yaitu kegiatan untuk membangun citra atau
image dibenak pasar (wisatawan) melalui desain terpadu
antara aspek kualitas produk, komunikasi pemasaran,
kebijakan harga dan saluran pemasaran yang tepat dan
konsisten dengan citra atau image yang dibangun serta
eskpresi yang tampak dari sebuah produk. Contohnya
tersedia toko oleh-oleh atau souvenir yang dapat dibawa
pulang oleh wisatawan dengan harga dan kualitas yang
setara.18
5. Daya Tarik Wisata

18
Titing Kartika, Rosman Ruskana, Muhammad Iqbal Fauzi “Srategi
Pengembangan Daya Tarik Dago Tea House Sebagai Alternatif Wisata Budaya

12
Komponen Daya Tarik Wisata yang dikemukakan oleh
Cooper menjelaskan bahwa dalam memenuhi seluruh
kebutuhan pelayanan suatu kawasan tujuan wisata harus
didukung oleh empat komponen yang utama dalam
pariwisata atau dikenal dengan “4A”, yaitu : attraction,
accessibility, amenity, dan ancillary service.
a. Atraksi
Komponen atraksi merupakan komponen yang penting,
pentingnya komponen ini adalah bagaimana pariwisata
mempunyai keunikan tersendiri yang bisa menjadi daya
tarik wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi wisata.
Suatu daerah bisa menjadi tujuan wisata ketika kondisi dari
daerah tersebut mendukung untuk dikembangkan menjadi
sebuah atraksi wisata . Potensi apapun yang dikembangkan
dan menjadi daya tarik wisata akan menjadi modal atau
sumber daya pariwisata. Terdapat tiga modal kepariwisataan
yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke suatu
destinasi wisata yaitu :
1. Natural Resources seperti bentang alam yang indah
atau pariwisata alam seperti air terjun, pantai,
pegunungan, hutan dan lain-lain. Contohnya seperti
Bukit Ponan yang terletak di Desa Poto, Kecamatan
Moyo Hilir. Bukit seluas 82 are ini dikelilingi oleh
tiga dusun, yakni Dusun Poto, Dusun Malili dan
Dusun Lengas. Bukit ponan berada sekitar 11
kilometer arah Tenggara kota Sumbawa. Bukit
ponan merupakan tempat di selenggarakannya pesta
ponan. Di atas bukit tersebut tedapat makam Haji
Batu yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat.
Haji Batu adalah orang yang rajin merawat padinya
sehingga hasil panennya melimpah. Menurut cerita
masyarakat, Gafar atau yang dikenal dengan Haji
Batu suatu hari ketika beliau sedang melewati
sebuah sungai, beliau melihat banyak burung yang
hendak minum dari sungai tersebut namun burung-
burung tersebut terlihat ketakutan. Melihat hal
tersebut Haji Batu mencoba untuk berwudhu dengan

13
air sungai tersebut, Ketika beliau mengambil air
tiba-tiba batu dari dasar sungai menempel
ditangannya, itulah mengapa masyarakat setempat
memanggil beliau dengan sebutan Haji Batu19.
2. Atraksi Wisata Budaya seperti perayaan rutin dari
masyarakat, tarian tradisional, atau keseluruhan
kebudayaan suatu masyarakat. Contoh nya seperti :
a. Sadekah Ponan merupakan pesta tahunan yang
sudah dijalani oleh masyarakat setempat secara
turun temurun. Upacara ini dikenal sebagai
bentuk rasa syukur masyarakat setempat pasca
penanaman padi sekaligus ajang silaturrahmi
antar warga. Masyarakat Sumbawa meyakini
bahwa tradisi dan adat istiadat merupakan
wadah kesepakatan untuk mewujudkan
kearifan lokal di dalam masyarakat yang
memiliki fungsi bagi keberlangsungan hidup
suatu masyarakat. Berdasarkan tujuan tersebut,
kegiatan ritual yang dilakukan ini merupakan
bentuk komitmen Masyarakat setempat dan
menjadi perekat bagi keberagaman serta
merupakan bentuk pengabdian diri mereka
kepada kelompoknya20.
b. Lawas adalah puisi daerah atau biasa disebut
dengan pantun, kadang juga digunakan sebagai
lagu daerah atau pribahasa. Pada hakikatnya
lawas merupakan sumber seni sastra lisan
Sumbawa. Lawas bukan milik perseorangan
melainkan milik kolektif masyarakat seperti
sastra lisan yang hidup di daerah lain. Secara
tradisional, lawas dinyanyikan baik oleh
perorangan maupun kelompok yang disebut
19
Vivin Nila Rakhmatullah “Makna Sajian Makanan Pada Tradisi Pasaji
Ponan Menggunakan Teori Interkasi Simbolik” (Jurnal Poltik, Sosial, Hukum dan
Humaniora e-ISSN : 2988-2281Vol. 1 No. 3 September 2023)
20
Vivin Nila Rakhmatullah “Makna Sajian Makanan Pada Tradisi Pasaji
Ponan Menggunakan Teori Interkasi Simbolik” (Jurnal Poltik, Sosial, Hukum dan
Humaniora e-ISSN : 2988-2281Vol. 1 No. 3 September 2023)

14
balawas. Balawas kemudian menjadi seni
penyajian kuno yang dipertunjukkan di
hadapan banyak orang untuk upacara adat atau
tujuan hiburan. Balawas selain menggunakan
lawas dan temung (tembang), juga
menggunakan kesenian lain untuk
menunjangnya yaitu musik. Lawas dapat
dibawakan dalam berbagai bentuk kesenian,
misalnya kesenian Balawas, Rabalas Lawas,
Malangko, Badede, Badiya, Bagenang,
Bagesong dan Sakeco, bahkan bertutur atau
bercerita pun dapat disampaikan dalam bentuk
lawas.21
c. Ratib sakeco merupakan suatu bentuk kesenian
yang berasal dari syair atau puisi khas
masyarakat Sumbawa. Alat musiknya berupa
dua buah rabana dan dimainkan oleh dua orang
penabuh yang membawakan puisi khas
masyarakat Sumbawa atau biasa dikenal
dengan “lawas”. Ratib sakeco biasanya
dibawakan pada saat upacara pengantin,
khitanan dan upacara upacara adat, sakeco
berisikan tentang nasehat, kisah percintaan,
cerita rakyat dan masih banyak lagi22.
d. Bahasa Samawa merupakan bahasa yang
digunakan sebagai alat komunikasi dalam
kehidupan sehari-hari oleh masyarakat
Samawa. Sebagai bahasa dominan yang
digunakan oleh kelompok sosial di Sumbawa,
bahasa Samawa juga digunakan sebagai media
promosi budaya daerah23.

21
Mardiah Husnul Fitri Wahid “Lawas Sebagai Salah Satu Wujud Budaya
Sumbawa” e-ISSN : 2655-1780 (Universitas Gajah Mada)
22
Rizda Viola Utami, Dian Lestari Miharja, Aurelius Rofinus Lolong
Teluma”Strategi Komunikasi Pemerintah Kabupaten Sumbawa Dalam Upaya
Mempromosikan Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir Sebagai Desa Pemajuan
Kebudayaan” (Universitas Mataram)

15
3. Atraksi buatan manusia seperti tarian kontemporer,
karya seni dan lain-lain. Contohnya adalah Festival
Nesek.
Festival nesek merupakan proses pembuatan kain
tenun khas Sumbawa, dan pelakasanaan festival
nesek merupakan salah satu metode pelaksanaan
untuk memperkuat eksistensi Desa Poto sebagai desa
pemajuan kebudayaan. Khayalak dari festival nesek
ini adalah para perajin tenun Desa Poto, masyarakat
Sumbawa maupun luar daerah yang ingin
mengetahui seperti apa tenun tradisional khas
Sumbawa kre alang, bagaimana proses
pembuatannya serta untuk membangun rasa
kebanggaan Desa Poto terhadap eksistensinya
sebagai desa pemajuan kebudayaan24.
b. Aksesibilitas
Aksesibilitas mengacu pada segala sesuatu yang terlibat
dalam mencapai daerah tujuan wisata. Berbagai jenis
angkutan umum atau jasa angkutan menjadi akses penting
bagi pariwisata. Tidak hanya itu, di sisi lain akses tersebut
juga berarti transferability yaitu kemudahan berpindah dari
suatu kawasan ke kawasan wisata yang lain. Ketika suatu
wilayah masih kekurangan fasilitas transportasi yang baik
seperti bandara, Pelabuhan, stasiun, jalan dan lain-lain,
maka wisatawan akan sulit untuk menjangkau kawasan
wisata. Apabila suatu daerah sudah mempunyai potensi
wisata, maka harus disediakan aksesibilitas yang memadai
agar wisatawan dapat dengan mudah mengunjungi daerah
tersebut.
c. Amenitas atau Fasilitas
Amenitas merupakan berbagai sarana dan prasarana
yang dibutuhkan wisatawan pada suatu daerah tujuan
wisata. Fasilitas dalam hal ini antara lain akomodasi,
23
Mardiah Husnul Fitri Wahid “Lawas Sebagai Salah Satu Wujud Budaya
Sumbawa” e-ISSN : 2655-1780 (Universitas Gajah Mada)
24
Vivin Nila Rakhmatullah “Makna Sajian Makanan Pada Tradisi Pasaji
Ponan Menggunakan Teori Interaksi Simbolik “ (Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan
Humaniora e-ISSN : 12998-2281 Vol. 1 No. 3 September 2023)

16
restoran, tempat ibadah, biro perjalanan wisata, infrastruktur
lain yang dibutuhkan antara lain sarana air bersih, listrik,
tempat pembuangan sampah, konektivitas internet,
teknologi telekomunikasi, dan lain-lain. Mengingat
keterkaitan antara sarana dan prasarana, terlihat jelas bahwa
pembangunan infrastruktur seringkali harus mendahului
fasilitas. Sebaliknya fasilitas dapat meningkatkan prasarana
kawasan wisata apabila prasarana itu sendiri merupakan
syarat dari fasilitas tersebut.
d. Pelayanan tambahan
Ancillary service atau pelayanan tambahan merupakan
organisasi pariwisata yang diperlukan untuk layanan
pariwisata, seperti organisasi manajemen pemasaran
destinasi, biro konvensi dan pengunjung. Layanan tambahan
ini harus disediakan oleh pemerintah daerah. Pelayanan
tersebut berupa pemasaran, Pembangunan fisik (jalan raya,
kereta api, listrik, dan lain sebagainya) serta dapat
mengkoordinir dengan baik berbagai kegiatan dan seluruh
peraturan perundang-undangan mengenai tempat wisata25.
6. Strategi Pengemasan Produk Wisata Budaya
a. Produk Pariwisata
Berkaitan dengan pariwisata, manfaat dan kepuasan
berwisata ditentukan oleh dua faktor yang saling berkaitan,
pertama tourist resource yaitu segala sesuatu yang terdapat
di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar
orang-orang mau datang berkunjung ke suatu tempat daerah
tujuan wisata dan kedua, tourist service yaitu semua
fasilitas dan aktifitas yang dapat dilakukan.
b. Mengemas Fasilitas
Mengemas objek dan atraksi wisata dan sarana
akomodasi yang baik belum cukup untuk mendatangkan
wisatawan ke Daerah Tujuan Wisata apabila tanpa adanya
kemudahan aksesibilitas menuju ke atraksi wisata. Sarana

25
Ida Bagus Dwi Setiawan “Identifikasi Potensi Wisata Beserta 4A
(Atraction, Amenity, Accesibility, Ancillary) di Dusun Sumber Wangi, Desa
Pemuteran Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, Bali” (Universitas Udayana
Denpasar Tahun 2015)

17
untuk mempermudah akses dan mobilitas wisatawan dapat
dipenuhi dengan menyediakan sarana transportasi baik
melalui darat, laut maupun udara. Agar memiliki nilai
tambah di mata wisatawan, transportasi di Daerah Tujuan
Wisata harus memiliki fasilitas yang berkualitas, pelayanan
yang sempurna dan keramahtamahan.
Penyempurnaan pengemasan, patut diperhatikan
penataan lima jenis komponen Daerah Tujuan Wisata,
berupa : (1) gateaway atau pintu masuk, pintu gerbang
berupa bandar udara, pelabuhan laut, stasiun kereta api dan
terminal bus, (2) tourist center atau pusat pengembangan
pariwisata (PPP), (3) attraction atau atraksi kelompok satu
atau lebih, (4) tourist corridor atau pintu masuk wisata,
yang menghubungkan gate away dengan tourist center, dan
dari tourist center ke attraction, (5) hinterland atau tanah
yang digunakan untuk 4 komponen tersebut.
c. Mengemas Pelayanan
Berkaitan dengan memperlihatkan kualitas jasa yang
berperan penting adalah contact personnel atau orang-orang
yang terlibat dalam pariwisata, seperti pegawai pemerintah
daerah, masyarakat dan industri jasa. Mereka inilah aktor
utama yang dapat memuaskan wisatawan. Sehingga upaya-
upaya yang harus ditempuh untuk memuaskan wisatawan
dengan cara setiap orang yang terlibat melayani wisatawan
harus memberikan pelayanan yang unggul (service
excellence), yaitu sikap atau cara karyawan dalam melayani
pelanggan secara memuaskan; berupa kecepatan, ketepatan,
keramahan dan kenyamanan.
d. Komitmen dan Kerjasama
Industri pariwisata bukan suatu industri yang berdiri
sendiri melainkan terdiri dari berbagai kmponen-komponen
yang saling terkait. Penyelenggaraan sistem pariwisata dapat
berjalan dengan sempurna bila komponen-komponen
tersebut melebur menjadi satu dan saling mendukung satu
dengan lainnya. Komponen-komponen kepariwisataan yang
berperan dalam penyelenggaraan sistem industri pariwisata
secara garis besar terdiri dari tiga komponen, yaitu:

18
pemerintah, jasa-jasa kepariwisataan dan masyarakat di
sekitar objek dan atraksi wisata. Kewajiban pemerintah
daerah adalah bersama-sama merencanakan, pembangunan,
pengorganisasian, pemeliharaan dan pengawasan dengan
pemerintah daerah lainnya dalam segala sektor yang
mendukung kegiatan pariwisata. Pemerintah daerah beserta
instansi-instansinya, industri jasa dan masyarakat
mempunyai kewajiban untuk duduk bekerjasama dengan
pemerintah daerah lainnya dalam mengemas paket-paket
wisata.26
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif,
yaitu suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk
mendeskripsikan fenomena- fenomena yang ada, baik yang
bersifat alamiah maupun buatan manusia. Fenomena itu bisa
berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan,
hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang
satu dengan fenomena lainnya.27
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Poto Kecamatan
Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa. Alasan peneliti memilih
lokasi ini dikarenakan peneliti tertarik untuk mencari tahu
dan mendalami lagi terkait potensi Desa Poto sebagai
destinasi wisata budaya. Karena di desa tersebut memiliki
ekosistem budaya yang masih hidup seperti ratib rabana dan
sakeco, tenun khas Sumbawa (kre alang), sadekah ponan
dan tokoh-tokoh budayawan banyak yang berasal dari Desa
Poto.
3. Kehadiran Peneliti
Peneliti memiliki peranan yang sangat penting dalam
suatu penelitian karena peneliti merupakan instrument
utama dalam suatu penelitian. Tugas peneliti adalah harus
26
Edwin Fiatino “Tata Cara Mengemas Produk Pariwisata Pada Daerah
Tujuan Wisata” (Universitas Airlangga)
27
Bintang Marsriwa Nusantara, Agus Gunawan, Deria Adi Wijaya “Strategi
Pemasaran Kampung Wisata Baluwarti Sebagai Destinasi Wisata Budaya di Kota
Surakarta” ( Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 11, No .1 Tahun 2015

19
benar-benar mencari dan mengamati data dengan sangat
teliti dan sebagai pelapor hasil penelitian dalam
melaksanakan kegiatan, pengamatan, dan pengumpulan
data. Dalam hal ini peneliti sebagai pengumpul data dan
informasi tentang Potensi Desa Poto sebagai Destinasi
Wisata Budaya Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa.
4. Jenis dan Sumber Data
Sumber data merupakan segala sesuatu yang dapat
memberikan informasi terkait data yang dibutuhkan. Berikut
sumber data dari penelitian ini :
a. Data Primer
Sumber data primer adalah data umum yang
berhubungan langsung dengan topik penelitian. Data ini
berasal dari pernyataan idividu. Sumber data yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil-hasil
penelitian yang diperoleh dalam bidang tersebut. Dalam
penelitian ini yang akan menjadi pusat data primer
adalah Kepala Desa Poto, Pokdarwis, Ketua Sanggar
Seni Mata Ano Desa Poto, dan Masyarakat Penenun
b. Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh
langsung dari sumber referensi yang digunakan untuk
menafsirkan data primer berupa literatur-literatur, data
perpustakaan dan situs internet yang berkaitan dengan
topik penelitian28. Data-data tersebut merupakan data
pelengkap atau data pendukung dari data asli yang
diperoleh dari literatur, seperti artikel, karya ilmiah,
buku kepustakaan dan website internet yang berkaitan
dengan penelitian yang sedang berlangsung sehingga
dapat digunakan sebagai pelengkap data dalam
penelitian.
5. Prsosedur Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah perangkat untuk
akumulasi data yang diperlukan agar dapat menjawab
28
Laxy J. Moleong “Metodologi Penelitian Kualitatif” (Bandung: Remaja
Rosdakarya, Tahun 1993) hlm. 114

20
rumusan masalah penelitian yang dilakukan. Teknik
pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan
beberapa teknik yaitu :
a. Observasi merupakan suatu proses melihat, mengamati
dan mencermati serta merekam perilaku secara
sistematis untuk suatu tujuan tertentu. Peneliti
melakukan observasi terkait dengan potensi Desa Poto
sebagai destinasi wisata budaya dan strategi pengemasan
produk wisata budaya.
b. Wawancara yaitu kegiatan pertemuan yang dilakukan
oleh pewawancara dan narasumber dengan cara
memberikan pertanyaan secara langsung atau pertanyaan
yang terstruktur untuk mengetahui potensi
pengembangan destinasi wisata budaya Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir dan strategi pengemasan produk
wisata budaya Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir dengan
menggunakan pedoman wawancara tersrtuktur.
c. Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan salah satu metode
pengumpulan data kualitatif dengan cara menganalisis
dan menelaah dokumen-dokumen yang dibuat peneliti
atau orang lain yang membuat topik penelitian 29. Peneliti
melakukan dokumentasi terkait dengan potensi
pengembangan destinasi wisata budaya Desa Poto dan
strategi pengemasan produk wisata budaya Desa Poto.
6. Teknik Analisis Data
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode analisis data kualitatif yang bersifat induktif, yaitu
suatu analisis yang didasarkan pada data yang diperoleh.
Analisis data terdiri dari 3 kegiatan yang terjadi secara
bersamaan yaitu, reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan.
a. Reduksi data
Reduksi adalah proses seleksi yang berfokus pada
penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data yang
29
A. Muri Yusuf “Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian
Gabungan” (Jakarta: Kencana Tahun 2017) hlm. 391

21
dihasilkan dari catatan tertulis di lapangan. Dengan
reduksi data, peneliti tidak perlu menafsirkannya sebagai
kuantifikasi. Data kualitatif dapat disederhanakan dan
ditransformasikan melalui banyak cara, yaitu : melalui
seleksi yang ketat, melalui ringkasan atau uraian singkat,
mengelompokkannya ke dalam pola yang lebih luas dan
sebagainya. Terkadang dimungkinkan untuk mengubah
data menjadi angkat atau peringkat, namun hal ini tidak
selalu bijaksana. Reduksi data dipilih dan diputuskan
oleh peneliti berdasarkan hasil wawancara lapangan dan
observasi.
b. Penyajian data
Penyajian data adalah menyusun sekumpulan
informasi yang memberikan kesempatan untuk menarik
kesimpulan dan mengambil tindakan. Penyajian data
bertujuan untuk menyatukan informasi yang disusun
dalam format yang konsisten dan mudah diaskses.
c. Penarikan kesimpulan
Kesimpulan adalah hasil akhir yang memberikan
jawaban peneliti yang berbasis analisis
30
data. Dihadirkannya justifikasi terhadap suatu reduksi
data dan paparan data untuk ditarik kesimpulannya.
Dalam reduksi data peneliti memfokuskan pada
instrument penelitian, transkip wawancara, dan
dokumen-dokumen.
7. Pengecekan keabsahan data
Pengecekan keabsahan data merupakan suatu konsep
yang berguna untuk meningkatkan derajat kepercayaan dan
kebenaran data. Fungsi pengecekan keabsahan data ini
adalah untuk menyanggah balik apa yang dituduhkan
kepada penelitian-penelitian kualitatif yang menyatakan
tidak ilmiah31.

30
Dwi Yanti, “ Peran Pokdarwis Dalam Pembangunan Sektor Kebudayaan
Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa”, (Universitas Samawa tahun
2022) hlm. 34-35
31
Lexy J. Moleong “Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi” (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya Tahun 2016) hlm. 320

22
Teknik pengujian data yang digunakan oleh peneliti
yaitu teknik triangulasi yang merupakan salah satu teknik
yang digunakan dalam proses pengumpulan data untuk
memperoleh temuan data yang lebih dapat dipercaya dan
lebih akurat32.
H. Sistematika Pembahasan
BAB I. Pendahuluan
Bab ini terdiri dari beberapa sub-bab yang meliputi :
Judul Penelitian, Latar Belakang Masalah, Tujuan dan Manfaat
Penelitian, Ruang Lingkup dan Setting Penelitian, Telaah
Pustaka, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian dan
Sistematika Pembahasan.
BAB II. Paparan dan Temuan
Pada bab ini, peneliti memaparkan data temuan yang
terdapat di setting penelitian yaitu data temuan secara umum
terkait Desa Poto dan Potensi Pengembangan Destinasi Wisata
Budaya Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa
BAB III. Pembahasan
Pada bab ini, peneliti akan menguraikan terkait dengan
Strategi Pengemasan Produk Wisata Budaya Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa.
BAB IV. Penutup
Pada bab ini, berisikan kesimpulan serta saran-saran
yang bisa dijadikan sebagai solusi atas masalah-masalah yang
sudah dibahas.

32
A. Muri Yusuf “Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian
Gabungan” (Jakarta: Kencana Tahun 2017) hlm. 395

23
BAB II
POTENSI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA BUDAYA
DESA POTO KECAMATAN MOYO HILIR
KABUPATEN SUMBAWA
A. Profil Desa Poto
1. Sejarah Desa Poto
Desa Poto adalah salah satu desa dalam wilayah
Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa. Desa Poto
berasal dari Desa Bekat Loka yang terdiri dari 3 Dusun
yaitu Dusun Poto, Dusun Bekat, dan Dusun Malili. Dengan
seiring berjalannya waktu terjadi pemekaran wilayah Desa
24
Bekat Loka yang mana telah berganti nama menjadi Desa
Poto yang terdiri dari tujuh Dusun dan Dusun Malili
menjadi wilayah Desa Berare.
Masyarakat ketiga Dusun tersebut memiliki nenek
moyang dan asal usul yang sama. Desa asal yang bernama
Bekat tersebut terletak di tengah persawahan yang sering
disebut Orong-Rea. Orong-Rea menghampar seluas lebih
dari 1000 Ha mulai dari bukit Berare di sebelah selatan
sampai ke Desa Pungkit di sebelah utara. Sedangkan sebelah
barat dan timurnya dialiri oleh sungai yang bertemu di
Brang-Penemung. Lokasi Orong-Rea ini berada di atas
Tana-ela (Tanah-lidah) mirip delta.
Wilayah Bekat itu persis di tengah hamparan
persawahan tersebut, ditandai oleh bukit perkuburan tua
yang bernama Bukit Ponan. Di bukit Ponan itulah terdapat
makam para leluhur masyarakat Bekat. Sekitar 300 meter di
sebelah tenggara bukit Ponan ditandai sebagai desa Bekat
sehingga lokasi tersebut disebut Bekat Loka (Bekat Tua),
yang kini seluruhnya sudah menjadi sawah yang subur.
Ada tiga alasan mengapa mereka berpisah membentuk
pemukiman baru di Dusun Melili, Dusun Lengas dan Dusun
Poto adalah :
1. Penduduk semakin bertambah, sementara lahan
pemukiman sudah menyempit, agar tidak merusak
persawahan yang telah ada
2. Mendekatkan diri pada lahan garapannya
3. Menghindari bahaya banjir yang hampir setiap tahun
meluap ke Bekat Loka
Berdasarkan alasan tersebut sehingga saat ini dusun Poto
dan Lengas menempati aliran Sungai di kaki bukit Langko
sebelah barat persawahan, sedangkan dusun Melili
walaupun masih tetap berada di tengah persawahan, tetapi
menempati kaki bukit Melili, sebuah bukit batu cadas di
sebelah timur, dekat dengan aliran sungai. Sampai saat ini
penduduk wilayah Desa Poto masih memegang teguh adat
istiadat yang disebut Ponan. Desa Poto merupakan salah
satu wilayah yang berpotensi menjadi desa wisata di

25
Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa karena
terdapat Festival Pona yang rutin diselengarakan setiap
tahun.33
2. Sejarah Terbentuknya Desa Budaya di Desa Poto
Desa Budaya merupakan salah satu bentuk Objek
Pemajuan Kebudayan yang ada di Desa Poto Kecamatan
Moyo Hilir dengan mempunyai 3 OPK yaitu (kesenian
sakeco.tenun tradisional, dan tradisi sadekah ponan).
Dimana Desa Poto dinobatkan pada Tahun 2018 sebagai
Desa Pemajuan Kebudayaan di Indonesia dan merupakan
salah satu dari 8 desa yang ada di Indonesia sebagai Desa
Percontohan Kebudayaan.
Desa Poto memang dari dulu satu-satuya desa yang ada
di Kabupaten Sumbawa yang setia dengan budaya
tradisionalnya yang tidak luput dari tahun ke tahun.
Meskipun ada pergeseran zaman, tetapi fenomena itu tidak
mengganggu substansi budayanya. Dari ke-3 Objek
Pemajuan Kebudayaan yang ada di Desa Poto, Sekeco
merupakan kesenian yang ranahnya hanya untuk orang tua,
tetapi di Desa Poto ini justru sasarannya dikalangan anak
muda, dimana orang tua hanya berperan sebagai
pembimbing dan penasehat sedangkan pelakunya adalah
anak muda. Sehingga, budaya yang ada di Desa Poto akan
tetap terjaga kelestariannya hingga masa yang akan dating.
Di Dusun Samri anak-anak SD sudah mulai belajar
menenun (nyesek), sehingga kedepannya akan menjdi
generasi penerus yang terus mengembangkan tenun
tradisional yang ada di Desa Poto. Tradisi sadekah ponan
yang diadakan tiap tahun oleh masyarakat, meskipun
banyak menghabiskan dana tetapi masyarakat tetap senang
dalam mengadakan tradisi sadekah ponan ini karena dapat
mempererat tali silaturahmi serta dapat mempertahankan
tradisi yang ada di Desa Poto.
Melihat konsistensi Desa Poto melaksanakan kegiatan
budaya dan tradisinya yang menjadi salah satu alasan

33
Profil Desa Poto Tahun 2023

26
Pemerintah dalam menetapkan Desa Poto sebagai Desa
Budaya. Karena konsistensi melaksanakan itu tanpa harapan
apa-apa, tanpa berharap nama baik, uang dan sebagainya
tetapi ini sudah menjadi naluri masyarakat secara otomatis
dalam mengembangkan kebudayaan yang ada di Desa Poto.
Sehingga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kebupaten
Sumbawa mengusulkan ketingkat pusat Desa Poto sebagai
Desa Objek Pemajuan Kebudayaan. Dimana, tim dari
pusat/Jakarta, mereka melihat atraksi -atraksi dan budaya-
budaya yang ada di Desa Poto sehingga Desa Poto
dinobatkan sebagai objek Desa Budaya dari tahun 2018
sampai dengan sekarang34.
3. Lembaga Kebudayaan Desa Poto
Upaya pembangunan berbasis kebudayaan di Desa Poto
dalam rangka meletarikan dan mengembangkan kebudayaan
daerah serta mempertahankan jati dan nilai-nilai budaya di
tengah semakin derasnya arus informasi dan kebudayaan
global telah dilakukan secara gotong royong. Pemerintah
desa dan tokoh masyarakat berkomitmen untuk
menghidupkan kembali aktivitas yang berakar dari tradisi
dan kearifan budaya lokal.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga melakukan Upaya
Pembangunan berbasis kebudayaan di tingkat desa, hal ini
didorong dengan adanya peraturan Bupati No. 10 Tahun
2017 tentang Kewenangan Desa Berdasarkan Hak Asal Usul
dan Kewenangan Lokal Berskala Desa sesuai dengan
amanat Permendagri No.18 Tahun 2018 mengenai Lembaga
Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa. Namun
Desa Poto belum memiliki turunan yang merupakan bentuk
implementasi berupa Peraturan Desa mengenai
kelembagaan desa.
Meskipun belum memiliki Peraturan Desa yang
mengatur mengenai kelembagaan desa, namun sudah ada
lembaga adat yang dibentuk untuk mewujudkan upaya
34
Dwi Yanti “Peran Pokdarwis Dalam Pembangunan Sektor Kebudayaan
Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa” (Universitas Samawa Tahun
2022) hlm.38-39

27
Pembangunan desa berbasis kebudayaan, yaitu Lembaga
Adat Ponan. Selain itu, Desa Poto juga memiliki beberapa
Lembaga kebudayaan swadaya masyarakat yang berfungsi
sebagai pelestari kebudayaan yang ada di desa. Lembaga
tersebut yaitu Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan
Rakyat (LINKKAR), Asosiasi Penenun Tradsional
Sumbawa (APDISA) dan sanggar kesenian tradisional.35
4. Aspek Geografi dan Demografi Penduduk
Desa Poto merupakan lokasi yang secara geografis
terletak di wilayah Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa yang terbagi dalam 7 lingkungan (Dusun Poto,
Dusun Samri, Dusun Tengke A, Dusun tegke B. Dusun
Bekat, Dusun Bekat Tengah, Dusun Bekat Pungka) dengan
luas secara keseluruhan 1.367,00 Ha/m persegi.
Secara administrasi Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir
Kabupaten Sumbawa memiliki batas-batas wilayah, yaitu :
1. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sebewe
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Moyo
3. Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan
Seketeng
4. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Berare
Gambar 2.1 Peta Wilayah Desa Poto

35
Website Desa Poto

28
Jumlah penduduk Desa Poto berdasarkan Profil Desa Tahun
2023 sebanyak 2.742 jiwa, dengan jumlah penduduk laki-
laki 1.337 jiwa dan jumlah penduduk Perempuan 1.405
jiwa, dan jumlah Kepala keluarga adalah 810 jiwa36.
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Desa Poto

No Jenis Kelamin Jumlah Status


1.
Penduduk laki-laki 1.337 Orang
2.
Penduduk Perempuan 1.405 Orang
3.
Kepala keluarga 810 Orang
4.
Jumlah keseluruhan 2.742 Orang
Sumber : Data Profil Desa Poto 2023
5. Penggunaan Lahan
Pada umunya, lahan yang terdapat di Desa Poto
digunakan secara produktif dan sebagian besar berupa
sawah yaitu seluas 770 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa
kawasan Desa Poto memiliki sumber daya alam yang
memadai. Berikut ini luas lahan menurut jenis
penggunaannya :

Tabel 2.2 Luas Lahan Menurut Jenis Penggunaannya

No Jenis Luas Penggunaan Lahan


(Ha)
1. Sawah 770
2. Tegalan 441
3. Perkebunan 20
4. Hutan Rakyat 48
5. Tambak/Kolam 15
6. Permukiman 73
Sumber : profil Desa Poto Tahun 2023

B. Potensi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Desa Poto


Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa

36
Profil Desa Poto Tahun 2023

29
Desa Poto memiliki potensi pariwisata berbasis budaya,
alam dan buatan yang apabila dirangkai dan dikelola secara
sistematis memiliki potensi sebagai penggerak ekonomi
masyarakat tanpa meninggalkan warisan budaya. Beberapa
Objek Pemajuan Kebudayaan yang sangat erat dengan Desa
Poto adalah Sadekah Adat Ponan, kesenian Ratib dan Sakeco,
Rebana Rea dan Rebana Ode, serta tenun atau yang disebut
dengan Kre Alang.
1. Sadekah Adat Ponan atau juga dikenal dengan sebutan Lalo Ko
Ponan (Berziarah ke Ponan) adalah sebuah ritus yang dilakukan
setiap tahun untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa untuk hasil bumi yang diterima dan yang akan dating.
Kegiatan Sadekah Ponan berpusat di Bukit Ponan yang berada
di Tengah Kawasan persawahan atau yang sering disebut Orong
Rea. Bukit Ponan merupakan tempat dimana makam Haji Batu
berada. Haji Batu merupakan leluhur dari masyarakat Desa Poto
yang kisah hidupnya menjadi dasar pelaksanaan Sadekah
Ponan. Sebagai sebuah ritus sadekah tani, Sadekah Ponan
sangat unik karena makanan yang disediakan hanya boleh
diolah dengan cara direbus, dikukus atau dibakar serta berbahan
baku beras, kelapa dan pisang. Hal tersebut dikarenakan
bungkus dan sisa makanan dari Sadekah Ponan akan dibuang ke
sawah yang menunjukkan filosofi “apa yang berasal dari tanah
akan kembali ke tanah”. Sadekah Ponan tidak hanya dihadiri
oleh masyarakat Desa Poto dan sekitarnya. Bahkan kini
Sadekah Ponan telah menjadi salah satu atraksi pariwisata bagi
Kabupaten Sumbawa.
2. Kre Alang bermakna “Kain Loteng”. Hal tersebut dikarenakan
alat tenun tradisional Sumbawa atau Alat Sesek merupakan
bagian dari arsitektur rumah panggung Sumbawa yang terletak
di bagian atas rumah. Kre Alang adalah kain tenun dengan motif
khas Sumbawa yang mencerminkan filosofi daur hidup dari
masyarakat Sumbawa. Awalnya kain ini digunakan untuk
keeprluan adat seperti sebagai kain, selendang (kobase) dan
tutup kepala.
Menenun bagi masyarakat Sumbawa merupakan kegiatan
yang sudah menjadi tradisi. Bahkan terdapat ungkapan

30
masyarakat setempat “lamin no to nesek siong tau soai” yang
artinya bila tidak bisa menenun, bukanlah perempuan. Terdapat
beberapa proses dalam membuat kain tenun, antara lain:
1. Proses memintal, yaitu mengubah kapas menjadi benang
yang akan digunakan sebagai bahan dasar menenun
2. Membuat pola/merane, yaitu proses pengaturan benang
untuk mendapatkan motif yang diinginkan dengan
bantuan alat nesek
3. Menenun/menesek, setelah benang tersusun dengan pola
yang telah ditentukan, maka proses selanjutnya adalah
menenun atau menesek.
Setiap motif dalam Kre Alang dituangkan dalam bentuk
simbol yang masing-masing membawa pesan dan nilai yang
terkandung di dalamnya. Ada beberapa motif yang populer
dibuat oleh para pengrajin, diantaranya adalah Lonto Engal
(ragam sulur), Selimpat (jaringan), Kemang Setange (ragam
bunga), dan Pohon Hayat. Motif selimpat menyimbolkan cinta
kasih dan kekeluargaan. Motif lonto engal bermakna daur
hidup, kesinambungan daur hidup, segala sesuatu berlangsung
secara berkelanjutan, dan juga menyimbolkan sosok pekerja
keras. Motif pohon hayat menggambarkan akar, pohon, daun,
bunga dan buah yang bermakna perjalanan manusia menuju
perbaikan, menyimbolkan tingkat kehidupan manusia. Dapat
juga bermakna sebagai sumber dari kehidupan, kekayaan dan
kemakmuran.
3. Sakeco merupakan suatu kesenian tradisional dari masyarakat
suku Samawa yang berada di pulau Sumbawa. Berdasarkan
cerita, istilah Sakeco berasal dari dua kata yaitu sake da co,
masing-masing diambil dari nama Sakariah dan Samsudin yang
berasal dari karang pekat. Penyebaran Sakeco sendiri
bersamaan dengan masuknya islam ke Sumbawa pada tahun
1812. Sakeco juga dikenal sebagai musik para sufi karena isinya
mengandung makan filosofis. Menggambarkan pesan moral,
kebaikan dan rasa cinta kepada Tuhan. Merupakan seni tradisi
lisan yang dimainkan oleh 2 orang dengan cara melantunkan
lawas sambil memukul 2 buah rabana kecil sebagai alat musik
pengiring tutur. Sakeco dalam penyajiannya dilantunkan

31
menggunakan vokal yang merupakan bahasa asli Sumbawa
yang disebut juga dengan lawas.37
4. Ratib adalah seni pertunjukan masyarakat Poto yang
berkembang dengan pengaruh ajaran islam yang kental. Tradisi
ini dimainkan oleh sekelompok orang dengan alat musik rebana
dengan berbagai ukuran. Kitab hadrah merupakan syair yang
disenandungkan ketika ratib sedang berlangsung. Isi dari kitab
hadrah sendiri adalah pujian-pujian kepada Allah SWT. Sakeco
merupakan sebuah tradisi lokal khas Sumbawa yang dimainkan
oleh dua orang pria dengan menggunakan rebana yang sejenis,
yaitu rebana ode dan rebana rea sebagai instrumennya.
Penggunaan rebana ditentukan dengan nada lagu dan isi sakeco.
Rebana ode dimainkan dengan tempo yang lebih lincah, agresif,
dan variatif, sedangkan untuk rebana rea sebaliknya. Syair yang
digunakan untuk mengiringi sakeco umumnya menggunakan
lawas.
5. Rebana merupakan alat musik pukul yang digunakan saat
memainkan ratib dan sakeco. Dibuat dari kayu utuh, selaputnya
menggunakan kulit kambing betina yang memiliki karakter
ketebalan yang tipis namun lebih lentur dibandingkan dengan
kulit kambing jantan, agar menimbulkan suara nyaring saat
dipukul. Rebana dengan ukuran lebih besar disebut rebana rea,
sedangkan ukuran yang lebih kecil disebut rebana ode.38
6. Lawas merupakan puisi rakyat atau biasa diistilahkan dengan
pantun, kadang bisa digunakan sebagai nyanyian rakyat atau
pribahasa. Pada intinya, lawas merupakan sumber dari seni
sastra lisan Sumbawa. Lawas tidak dimiliki oleh perorangan
tetapi merupakan milik bersama masyarakat sebagaimana sastra
lisan yang hidup di daerah lain. Secara turun temurun lawas
dalam penyampaiannya dinyanyikan oleh perorangan maupun
kelompok yang disebut balawas. Balawas kemudian menjadi
sebuah seni penyampaian lawas yang dipertunjukkan dihadapan
orang banyak untuk keperluan adat atau hiburan. Seperti sastra
lisan di daerah lainnya, sastra lisan Sumbawa lawas dalam
syairnya juga menyimpan makna dan fungsi tersendiri yang
37
Wawancara Arif Fianto (Tokoh Budayawan) Sabtu 10 Februari 2024
38
Website Desa Poto

32
diketahui oleh masyarakatnya. Tradisi dan kebudayaan
Sumbawa biasanya tercermin dalam karya sastra yang dimiliki,
maka dari itu sebuah keberadaan karya sastra dalam sejarah
kehidupan masyarakat itu penting. Tidak hanya itu,
kepercayaan-kepercayaan tau Samawa (orang Sumbawa)
biasanya terselip dalam sastra lisan, maka tidak jarang diketahui
sastra lisan yang turun-temurun dari ahli warisnya yang
mengandung pesan-pesan dan kepercayaan tertentu yang dapat
menjadi unsur mitos.39
7. Main Rabanga merupakan salah satu permainan tradisional
Sumbawa. Permainan rabanga ini sederhana saja, sejumlah anak
berlomba mengeluarkan biji-biji jambu mete yang telah mereka
tumpuk di atas tanah lapangan dalam garis lingkaran
berdiameter kurang lebih satu meter dengan cara melemparkan
batu bata yang terbuat dari pecahan genteng dibentuk bulat
dengan diameter 4 hingga 5 centimeter. Taba dilemparkan
masing-masing anak secara berurutan berdasarkan undian yang
disepakati. Biji mete yang keluar dari lingkaran menjadi milik
sipembidik. Putaran permainan rabanga berakhir ketika biji
mete telah habis dikeluarkan dari lingkaran. Pemenangnya
adalah yang terbanyak mengeluarkan biji mete. Setelah puas
bermain rabanga biasanya biji-biji mete itu dibakar untuk
dimakan bersama-sama. Baik yang menang maupun yang kalah
mendapat bagian sama banyak.
Tabel 2.3 Potensi Wisata Desa Poto

No Potensi Potensi Wisata Potensi Wisata


Wisata Alam Budaya Buatan
1. Bukit ponan Kre Alang Spot foto festival
ponan
2. Agrowisata Sakeco, ratib
persawahan rabana ode,
3. Festival ponan

39
Mardiah Husnul Fitri Wahid “Lawas Sebagai Salah Satu Wujud Budaya
Sumbawa” (Universitas Gadjah Mada)

33
4. Lawas
Sumber : analisis potensi dokumentasi Desa Poto
Untuk menjawab rumusan masalah pada penelitian ini
terkait dengan Potensi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya
Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa,
peneliti melakukan observasi dan wawancara yang dilakukan di
Desa Poto. Sehingga peneliti mendapatkan data tambahan
berupa dokumen dan informasi yang terkait dengan penelitian
yang sedang dilakukan. Adapun strategi yang dilakukan adalah
sebagai berikut :
1. Versifikasi Produk Kre Alang
Di Desa Poto terdapat sekitar 300 penenun dari
berbagai dusun yang tergabung dalam satu organisasi
yang bernama APDISA (Asosiasi Penenun Tradisional
Sumbawa) 300 penenun ini menjual produk tenun dalam
bentuk kain sarung. Dalam merespon hal tersebut,
karena tidak semua orang bisa menjangkau untuk
membeli kre Alang dikarenakan harganya yang cukup
mahal kisaran 1,5 - 2 jt dan penggunaanya juga terbatas
hanya digunakan pada acara-acara adat, Pokdarwis
menyikapi fenomena tersebut dengan memberikan
inovasi baru berupa versifikasi terhadap produk tenun.
Pokdarwis membuat produk turunan berupa tas,
aksesosris, baju, dll. Pokdarwis juga mengadakan
sosialisasi kepada masyarakat bahwa kain tenun produk
nya bukan hanya sarung saja tetapi ada banyak produk-
produk lain yang harganya jauh lebih terjangkau.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan ketua
Pokdarwis yang menyatakan :
Pelatihan diversifikasi produk tenun yang diadakan
untuk masyarakat oleh Pokdarwis ini mampu
memberikan pengaruh dalam potensi Desa Budaya
khusunya di bidang kain tenun tradisional dan dapat
menambah penghasilan masyarakat dari hasil karya

34
yang mereka buat akan dijual ke masyarakat baik
dalam maupun luar daerah40.
Gambar 2.2 Pelatihan Pengembangan Motif Kre
Alang

Sumber: Dokumenstasi Desa Poto


Kepala Desa Poto juga menjelaskan bahwa :
Pemerintah setempat memfasilitasi berupa pelatihan
menenun itu sendiri dan pelatihan pengembangan
motif kre alang. Sebenarnya kita juga mau lebih luas
termasuk keterampilan untuk menggunakan bahan
berupa pewarna alami sehingga tidak lagi
menggunakan pewarna sintetis.41
Versifikasi produk kre Alang juga disampaikan oleh
Sanggar Seni :
Diversifikasi produk kre alang dan pelatihan
pengembangan motif kre alang di laksanakan di
gedung serbaguna Desa Poto yang dihadiri oleh
masyarakat penenun yang tergabung dalam
organisasi Apdisa42.
Gambar 2.3 Workshop Versifikasi Produk Kre
Alang

40
Wawancara Samsun Amri (Pokdarwis) Minggu 14 Januari 2024
41
Wawancara Fathul Muin (Kepala Desa)Senin 29 Januari 2024
42
Wawancara Isnaini (Sanggar Seni) Kamis 18 Januari 2024

35
Sumber: Dokumentasi Desa Poto
Hal ini disampaikan juga oleh Tokoh Budayawan
Desa Poto :
Adanya bantuan-bantuan berupa alat tenun bukan
mesin kemudian pemerintah setempat berupaya
menerbitkan dokumen Hak Kekayaan Intelektual.
Tujuannya supaya motif-motif kre alang yang ada di
Kabupaten Sumbawa khusunya yang ada di Poto tidak
mudah di klaim atau dimanfaatkan oleh pihak luar.43

Gambar 2.4 Nesek dengan Alat Tenun Bukan


Mesin

43
Wawancara Arif Fianto (Tokoh Budayawan) Sabtu 10 Februari 2024

36
Sumber : observasi peneliti
2. Pelatihan Pekan Budaya
Berdasarkan wawancara peneliti menemukan data
bahwa Pokdarwis Desa Poto juga membuat pelatihan
pekan budaya yang diadakan setiap sekali seminggu
untuk generasi muda. Pelatihan pekan budaya ini
berfungsi sebagai bentuk warisan budaya kepada
generasi muda sebagai upaya untuk membangkitkan
kembali kebudayaan lokal. Serta diharapkan mampu
menjadi pertahanan dan filter atas penetrasi budaya barat
yang mengikis kebudayaan lokal.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan ketua
Pokdarwis yang menyatakan :
Melalui pekan budaya ini, diharapkan dapat menjadi
upaya atau langkah awal kami dalam mewarisi
kebudayaan kepada masyarakat khususnya generasi
muda serta tetap menjaga dan dapat
mengembangkan objek pemajuan kebudayaan yang
sudah ditetapkan.44

Gambar 2.5 Pelatihan Pengembangan Sakeco

44
Wawancara Samsun Amri (Pokdarwis) Minggu 14 Januari 2024

37
Sumber : Dokumentasi Desa Poto
Pelatihan pekan budaya ini juga diungkapkan oleh
Tokoh Budayawan Desa Poto :
Dengan adanya pelatihan pekan budaya yang
diadakan tiap minggu oleh pokdarwis, saya lihat
anak-anak begitu semangat dalam latihan. Mungkin,
sesuatu hal yang baru bagi mereka, dimana dari
pokdarwis memberi pemahaman kepada generasi
muda terkait dengan kesenian tradisional dan
permainan tradisional untuk tetap menjaga
kebudayaan yang sudah ada khususnya di Desa
Poto.45
Hal tersebut juga disampaikan oleh Kepala Desa
Poto yang menyatakan :
Sakeco ini sendiri memang tumbuh sendiri di
masyarakat. Tetapi ada biaya-biaya pembinaan yang
kita berikan ke pihak sanggar seni jadi kalo ada
pembinaan kita alokasikan. Kemudian kita juga
berkoordinasi ke sd-sd yang ada di Desa Poto supaya
ada kurikulum muatan lokal yang berbasis pada
objek pemajuan kebudayaan sakeco ini. Nah
sehingga SD di Desa Poto dan MI di Dusun Bekat
itukan sedang mengembangkan keterampilan sakeco
supaya ada proses regenerasi yang tidak terputus.
Jadi bentuk kontribusi pemerintah desa yaitu ikut

45
Wawancara Arif Fianto (Tokoh Budayawan) Sabtu 10 Februari 2024

38
memberikan perhatian penganggaran sekaligus
pembinaan.46
3. Adanya Bale Budaya sebagai Center Tourism
Berdasarkan hasil observasi, peneliti menemukan
data bahwa Desa Poto sudah memiliki instrumen
pendukung diantaranya yaitu adanya bale budaya yang
digunakan sebagai sentra kebudayaan untuk latihan
gabungan masyarakat yaitu kesenian tradisional sakeco
dan rumah menenun (bale nyesek) yang digunakan
sebagai kegiatan eksebisi tempat melakukan pelatihan
menenun, serta adanya objek wisata sadekah ponan
sebagai tempat penggelaran kegiatan tahunan tradisi
sadekah ponan.
Gambar 2.6 Bale Budaya Desa Poto

Sumber: Dokumentasi Desa Poto


Pernyataan ini dikuatkan dengan hasil wawancara
peneliti dengan Ketua Pokdarwis Desa Poto yang
menyatakan :
Fasilitas berupa bale budaya sebagai pusat integrasi
atau sebagai tourism center. Pokdarwis bisa
mengkonfirmasi ke wisatawan apa saja yang mereka
ingin lihat di Desa Poto. selain itu Pokdarwis juga
menawarkan potensi-potensi yang ada. Jadi, bale
budaya dipusatkan untuk mengintegrasikan berbagai
macam potensi wisata yang ada di Desa poto
termasuk ketika ada wisatawan yang ingin melihat
proses pembuatan tenun ataupun ingin pergi ke
makam Haji Batu yang berada di bukit ponan. Dan
46
Wawancara Fathul Muin (Kepala Desa ) Senin 29 Januari 2024

39
beberapa kali juga orang-orang dari stasiun tv
nasional baik itu Trans7 maupun TVRI World
dalam rentang waktu 3 bulan berturut-turut mereka
stay di Poto untuk membuat konten-konten seperti si
bolang, jejak anak negeri, dll.47
Gambar 2.7 Nesek di Bale Budaya Desa Poto

Sumber : Ardiansyah,dkk
Hal ini disampaikan juga oleh Tokoh Budayawan
Desa Poto yang menyatakan :
Bale budaya sebagai sentralisasi kebudayaan di Desa
Poto khusunya Dusun Poto. Bale budaya ini yang
dimana sebelumnya seperti kesenian tradisional
sakeco, dan lain-lain masih tercecer atau latihan
dirumah masing-masing. Sehingga, muncul gagasan
untuk membuat bale budaya agar kebudayaan Desa
Poto dapat tergabung menjadi satu, sebagai sentral
kebudayaan di Desa Poto yaitu bale budaya.48
4. Revitalisasi Festival Ponan
Berdasarkan wawancara dengan Kepala Desa Poto
diperoleh penjelasan berikut :
Jadi, untuk memperkuat ketahanan kebudayaan
ponan ini kita juga melakukan kerjasama dengan
instansi terkait. Bahkan baru-baru ini kita juga
mendapat bantuan dari pemerintah pusat dalam
rangka revitalisasi ponan. Jadi ponan itu sudah kita
tata, atraksinya juga sudah kita kembangkan dengan

47
Wawancara Samsun Amri (Pokdarwis) Minggu 14 Januari 2024
48
Wawancara Arif Fianto (Tokoh Budayawan) Sabtu 10 Februari 2024

40
tidak menghilangkan nilai-nilai tradisi yang ada
tetapi kita buat inovasi-inovasi yang lebih atraktif
sebagai objek wisata.49
Gambar 2.8 Akses Festival Ponan

Sumber: https://bitly.ws/3gTrC
Peneliti juga memperoleh penjelasan dari Sanggar
Seni yang menyatakan :
Dari segi infrastruktur kita sudah semakin membaik,
dulu akses menuju ke tempat penyelenggaraan
ponan sangat buruk, masyarakat hanya bisa jalan
kaki untuk menuju ke sana. Tapi sekarang akses
jalannya sudah bisa dilalui oleh roda empat bahkan
sudah di hotmix.50
Gambar 2.9 Festival Sadekah Ponan

Sumber : https://bitly.ws/3gQ6C

49
Wawancara Fathul Muin (Kepala Desa) Senin 29 Januari 2024
50
Wawancara Isnaini (Sanggar Seni) Kamis 18 Januari 2024

41
Hal ini juga disampaikan oleh Tokoh Budayawan
Desa Poto yang menyatakan :
Adanya lembaga adat ponan yang mengatur mulai
dari teknis, kapan pelaksanaannya, jajan apa saja
yang bisa dibawakan serta jumlah porsi yang akan
dibawa.51

C. Analisis Potensi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya


Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa
1. Pengembangan Produk Kre Alang
Sebelum adanya pelatihan diversifikasi produk tenun
khas Sumbawa (kre alang), masyarakat hanya menjual
selembar kain dengan pemasaran yang agak sulit. Melalui
pelatihan diversifikasi produk tenun yang diadakan oleh
pokdarwis, kre alang bisa dikreasikan menjadi totebag,
pakaian, bros, dan aksesoris lainnya. Perputaran
pemasarannya lebih cepat dan masyarakat bisa mengalami
kemajuan serta sebagai langkah awal untuk tetap
mengembangkan tenun khas Sumbawa hingga dikenal
secara nasional maupun internasional. Selain itu, pokdarwis
lapoto emas juga membantu masyarakat dalam memasarkan
dan mempromosikan kain tenun kre alang dengan cara
menampilkan dan memasarkan produk tersebut pada event-
event, ekspo dan kegiatan lainnya.
Pemerintah Desa Poto memberikan bantuan berupa alat
tenun bukan mesin kepada pengrajin. Setiap pengrajin
memiliki alat tenun yang memudahkan dalam proses
produksi walaupun alat tersebut masih bersifat tradisional
sehingga menghasilkan produk kre alang yang berkualitas.
Dimana setiap kre alang yang diproduksi memiliki motif
atau corak yang khas sehingga harga dari kre alang tersebut
relatif mahal karena mempunyai nilai estetika yang tinggi.
Dari paparan data yang peneliti temukan jika dikaitkan
dengan teori pengembangan produk wisata maka terdapat

51
Wawancara Arif Fianto (Tokoh Budayawan) Sabtu 10 Februari 2024

42
kesesuian antara paparan data dengan teori yang peneliti
gunakan.
2. Pengembangan Sakeco
Tradisi lisan Sakeco tidak hanya sebagai hiburan atau
pertunjukan semata, tetapi juga sebagai sarana untuk
melestarikan dan menyebarkan nilai-nilai budaya yang
diwariskan dari generasi ke generasi. Pokdarwis desa Poto
melakukan pelatihan pekan budaya yang diadakan setiap
sekali dalam seminggu. Pelatihan pekan budaya ini
berfungsi sebagai bentuk warisan budaya kepada generasi
muda sebagai upaya untuk membangkitkan kembali
kebudayaan lokal. Serta diharapkan mampu menjadi
pertahanan dan filter atas penetrasi budaya barat yang
mengikis kebudayaan lokal. Melalui Sakeco, seniman dan
komunitas kesenian lisan dapat bekerjasama dalam
pertunjukan bersama seperti festival budaya dan acara daur
ulang kehidupan yang dapat meningkatkan apresiasi
terhadap kesenian lisan Sumbawa.
Dari paparan data yang peneliti temukan jika dikaitkan
dengan teori pengembangan produk wisata maka terdapat
kesesuaian antara paparan data dengan teori yang peneliti
gunakan.
3. Pengembangan Sadekah Ponan
Berdasarkan data yang peneliti dapatkan, akses menuju
ke tempat penyelenggaraan sadekah ponan sudah memadai.
Selain itu juga sadekah ponan dapat menjadi platform untuk
mempromosikan seni, musik, tarian tradisional, pakaian
adat, kuliner dan kebudayaan Samawa secara luas kepada
masyarakat dan wisatawan. Dalam memperingati pesta
ponan ada dua acara penting yang menjadi daya tarik
tersendiri bagi wisatawan, yaitu:
a. Malam pesta ponan adalah acara yang dilaksanakan
pada malam sebelum pesta ponan dilaksanakan.
Pada acara ini biasanya ditampilkan banyak sekali
pertunjukan budaya mulai dari tarian daerah
Sumbawa, rabalas lawas, ngumang, bakelung,
pementasan drama dan dialog adat. Serangkaian

43
acara ini mengandung makna tentang asal usul
terjadinya ponan. Selain menjadi ajang silaturahmi,
acara ini juga menjadi wadah pembelajaran budaya
bagi anak-anak dan generasi muda agar lebih
mencintai budaya dan adatnya sendiri.
b. Acara puncak dari sadekah ponan biasanya
dilaksanakan pada hari minggu. Pada acara ini setiap
keluarga wajib membawa membawa satu nampan
yang berisi berbagai jenis kue dan jajanan khas
ponan, masyarakat Sumbawa biasa menyebutnya
dengan ”dulang”.
Dari paparan data dan teori tentang pengembangan
aksesibilitas maka terdapat kesesuaian diantaranya.
Aksesibilitas untuk menuju ke tempat penyelenggaraan
sadekah ponan sudah semakin membaik.
4. Pengembangan Ratib
Ratib merupakan seni pertunjukan masyarakat Poto
yang berkembang dengan pengaruh ajaran islam yang
kental. Ratib juga berfungsi sebagai sarana mempererat
hubungan sosial antar anggota komunitas. Ratib dapat
menjadi salah satu atraksi wisata religi di Sumbawa, yang
dapat menarik minat wisatawan dengan pengalaman
spiritual dan tradisi keagamaan.
Dari paparan data yang peneliti temukan jika dikaitkan
dengan teori pengembangan produk wisata maka terdapat
kesesuaian antara paparan data dengan teori yang peneliti
gunakan.
5. Pengembangan Rebana
Rebana merupakan instrumen musik tradisional yang
sering digunakan dalam seni pertunjukan seperti lawas dan
Sakeco. Rebana dapat dikembangkan melalui pendidikan
seni tradisional, baik bagi generasi muda maupun wisatawan
yang tertarik untuk mempelajari kebudayaan lokal. Rebana
dapat menjadi bagian dari atraksi wisata budaya Kabupaten
Sumbawa melalui penyelenggaraan acara festival pesona
Moyo.

44
Dari paparan data yang peneliti temukan jika dikaitkan
dengan teori pengembangan produk wisata maka terdapat
kesesuaian antara paparan data dengan teori yang peneliti
gunakan.
6. Pengembangan Lawas
Pelestarian kekayaan budaya sangat penting untuk
memastikan bahwa nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga.
Nilai spiritual yang terdapat terdapat pada lawas mencakup
beragam aspek seperti keselarasan dengan alam,
keterhubungan dan kebersamaan, dan keseimbangan hidup
bagi masyarakat Sumbawa. Dalam penyampaiannya, lawas
menggunakan bahasa daerah Sumbawa. Dengan
menggunakan bahasa daerah, penyair bisa mempertahankan
warisan budaya yang terkandung di dalamnya. Selain itu,
bahasa daerah seringkali memiliki nuansa yang lebih akrab
dan dekat sehingga dapat meningkatkan kualitas komunikasi
antara penyair dan pendengar.
Dari paparan data yang peneliti temukan jika dikaitkan
dengan teori pengembangan produk wisata maka terdapat
kesesuaian antara paparan data dengan teori yang peneliti
gunakan.

45
BAB III
STRATEGI PENGEMASAN PRODUK WISATA BUDAYA
DESA POTO KECAMATAN MOYO HILIR
KABUPATEN SUMBAWA
A. Strategi Pengemasan Produk Wisata Budaya Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa
1. Mengemas Produk Wisata Budaya
Berdasarkan pengamatan peneliti terkait dengan
pengemasan produk wisata budaya terdapat beberapa atraksi
wisata yang bisa dilakukan wisatawan ketika berkunjung ke
Desa Poto salah satunya yaitu belajar nesek (menenun).
Pernyataan diatas dikuatkan oleh hasil wawancara
peneliti dengan ketua Pokdarwis yang mengatakan :
Pengemasan terhadap produk wisata budaya berupa
wisata edukasi seperti pelatihan menenun. Karena
memang kita tidak memiliki alam yang cukup baik
seperti air terjun, pantai dan lain sebaginya jadi yang
menjadi produk wisata adalah produk-produk wisata
budaya yang kita kemas dalam bentuk wisata edukasi.
Jadi, segmentasi pasarnya itu disasar untuk pelajar dan
pelancong.52
Gambar 3.1 Pelatihan Menenun

Sumber : https://bitly.ws/3gQ6a

52
Wawancara Isnaini (Sanggar Seni) Kamis 18 Januari 2024

46
Tourism resource merupakan segala sesuatu yang
terdapat di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik
agar wisatawan mau datang berkunjung ke daerah wisata
tersebut. Pada perayaan tradisi tahunan festival sadekah
ponan terdapat beberapa atraksi wisata budaya yang bisa
ditemui salah satunya yaitu sakeco yang sudah menjadi
identitas budaya dari suku samawa. Selain itu wisatawan
juga dapat menikmati pertunjukan permainan tradisional
suku samawa yang biasa disebut dengan main rantok.
2. Pengemasan fasilitas
Berdasarkan observasi dan wawancara dengan Kepala
Desa Poto peneliti menemukan bahwa sarana dan prasana
pariwisata yang terdapat di Desa Poto cukup memadai.
Jadi, fasilitas yang terdapat di Desa Poto sudah cukup
memadai seperti adanya bale budaya sebagai tourist
center serta papan penunjuk arah di perayaan festival
tahunan tradisi sadekah ponan.53
Gambar 3.2 Objek Wisata Ponan

Sumber : https://bitly.ws/3gTo8
Fasilitas wisata merupakan segala sesuatu yang
disediakan atau diatur di destinasi wisata untuk
meningkatkan pengalaman pengunjung dan mendukung
kegiatan wisata. Adapun fasilitas wisata yang terdapat di
Desa Poto adalah :

53
Wawancara Fathul Muin (Kepala Desa) Senin 29 Januari 2024

47
a. Gateaway atau pintu masuk, tersedianya pintu
masuk ketika mengunjungi festival tradisi sadekah
ponan.
b. Tourist center, adanya bale budaya sebagai
sentralisasi kebudayaan masyarakat Desa Poto
seperti menyediakan informasi yang lengkap dan
akurat tentang destinasi wisata, tempat penerimaan
wisatawan yang sedang berkunjung ke Desa Budaya,
pelatihan kesenian tradisional serta tempat bertukar
pikiran masyarakat atau berdiskusi perihal kesenian
dan kebudayaan yang ada di Desa Poto.
c. Attraction, segala hal atau objek yang menjadi daya
tarik utama bagi wisatawan untuk mengunjungi
suatu destinasi atau daerah tujuan wisata seperti
kesenian tradisional sakeco, lawas, festival sadekah
ponan, main rabanga sebagai atraksi wisata budaya
dan bukit ponan sebagai atraksi wisata alam.
d. Tourist corridor, adanya penunjuk arah yang
memudahkan wisatawan untuk mengetahui area
yang terdapat di destinasi wisata seperti stand
makanan, souvenir, area parkir. Tourist corridor juga
berfungsi untuk meningkatkan pengalaman
wisatawan dengan memberikan akses yang mudah
dan terintegrasi ke berbagai atraksi dan layanan
wisata yang ada di sepanjang koridor tersebut.
e. Hinterland, adanya bukit ponan sebagai tempat
perayaan festival tahunan tradisi sadekah ponan.
3. Pengemasan Pelayanan
Berkaitan dengan memperlihatkan kualitas jasa yang
berperan penting adalah contact personnel atau orang-orang
yang terlibat dalam pariwisata, seperti pegawai pemerintah
daerah, masyarakat dan industri jasa. Mereka inilah aktor
utama yang dapat memuaskan wisatawan. Sehingga upaya-
upaya yang harus ditempuh untuk memuaskan wisatawan
dengan cara setiap orang yang terlibat melayani wisatawan
harus memberikan pelayanan yang unggul (service
excellence), yaitu sikap atau cara karyawan dalam melayani

48
pelanggan secara memuaskan; berupa kecepatan, ketepatan,
keramahan dan kenyamanan.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Ketua
Pokdarwis yang menyatakan :
Teman-teman dari Pokdarwis juga sudah diajarkan
bagaimana cara untuk menerima tamu, cara untuk
memperlakukan tamu yang diperoleh melalui pelatihan
tour guide dan kita mempelajari bagaimana perilaku kita
sebagai pelaku wisata untuk menyambut para
wisatawan. Nah seperti itu cara kita mengemas bentuk
pelayanan yang kita berikan kepada wisatawan.54
Dalam melayani wisatawan ada beberapa aspek yang
perlu diperhatikan antara lain:
a. Kecepatan
Memberikan informasi yang jelas dan cepat
terkait dengan destinasi wisata, aktivitas dan layanan
yang tersedia serta memberikan respon yang cepat
terhadap keluhan atau masalah yang mungkin timbul
dari wisatawan.
b. Keramahan
Memiliki sikap yang ramah adalah langkah
pertama dalam memberikan pelayanan yang baik
kepada wisatawan.
c. Ketepatan
Ketepatan dalam melayani wisatawan adalah
kunci penting untuk memberikan pengalaman yang
memuaskan dan efisien bagi wisatawan. Pada
perayaan tradisi festival sadekah ponan, Pokdarwis
dan Lembaga Adat Ponan memastikan acara
dilaksanakan dengan tepat waktu dan sesuai dengan
jadwal yang telah ditentukan.
a. Kenyamanan
Tersedianya fasilitas pendung seperti bale budaya
sebagai center tourism.
4. Kerjasama dengan Stakeholder

54
Wawancara Isnaini (Sanggar Seni) Kamis 18 Januari 2024

49
Industri pariwisata bukan suatu industri yang berdiri
sendiri melainkan terdiri dari berbagai komponen-
komponen yang saling terkait. Penyelenggaraan sistem
pariwisata dapat berjalan dengan sempurna bila komponen-
komponen tersebut melebur menjadi satu dan saling
mendukung satu dengan lainnya. Komponen-komponen
kepariwisataan yang berperan dalam penyelenggaraan
sistem industri pariwisata secara garis besar terdiri dari tiga
komponen, yaitu: pemerintah, jasa-jasa kepariwisataan dan
masyarakat di sekitar objek dan atraksi wisata.
Hal ini dikuatkan dengan adanya pernyataan dari ketua
Pokdarwis Desa Poto :
Jadi kita melakukan pengemasan melalui kerjasama-
kerjasama dengan berbagai stakeholder terkait seperti
agen travel, Pemerintah Daerah, Dinas Pariwisata dan
lain-lain.55

B. Analisis Strategi Pengemasan Produk Wisata Budaya Desa


Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa
Dari hasil observasi wawancara, peneliti menemukan
keterkaitan antara teori dan pemaparan data yang disampaikan
sehingga dapat dianalisis strategi pengemasan produk wisata
budaya adalah dengan membuat paket wisata. Salah satu bentuk
kerjasama Pemerintah Desa Poto adalah menjadikan festival
sadekah ponan sebagai festival wajib tahunan masyarakat
Kabupaten Sumbawa dengan membuat kebijakan berupa
penetapan festival sadekah ponan pada kalender pariwisata.
Untuk itu, lembaga adat tana samawa membuat promosi terkait
dengan festival yang akan diselenggarakan melalui penyebaran
brosur atau pamflet. Sedangkan masyarakat setempat
menyediakan atraksi wisata pada festival sadekah ponan seperti
ratib rabana sakeco, balawas, main rantok.

55
Wawancara Samsun Amri (Pokdarwis) Minggu 14 Januari 2024

50
Gambar 3.3 Pamflet Festival Sadekah Ponan

Sumber : https://bitly.ws/3gTnK
Tabel 3.2 Itenerary Paket Wisata Festival Ponan

Tempat Waktu Durasi Acara Kegiatan


Homestay 19:30 30 menit Persiapan Wisatawan
memulai tour bersiap-siap
(kegiatan) menuju ke
destinasi wisata
Gedung 20:00 20 menit Melihat tarian Wisatawan
serbaguna khas daerah menikmati
Sumbawa pertunjukan seni
tari khas daerah
Sumbawa
Gedung 20:20 20 menit Melihat tradisi Wisatawan
serbaguna lisan masyarakat menikmati
Sumbawa pertunjukan
(sakeco) sakeco
Gedung 20:40 40 menit Melihat Wisatwan
serbaguna pementasan menikmati
drama asal usul pementasan
terjadinya ponan drama ponan
Gedung 21:20 20 menit Melihat balas Wisatawan

51
serbaguna pantun melihat
masyarakat pertunjukan
Sumbawa (rabalas rabalas lawas
lawas)
Homestay 07:00 30 menit Sarapan
(breakfast)
Homestay 07:30 30 menit Persiapan Wisatawan
memulai tour bersiap-siap
(perjalanan) menuju ke lokasi
tour
Bukit 08:00 120 Melihat perayaan Wisatawan ikut
Ponan menit tradisi tahunan terlibat dalam
masyarakat Desa perayaan tradisi
Poto festival ponan
Bukit 10:00 60 menit Makan bersama Wisatawan bisa
Ponan dengan seluruh berburu oleh-
masyarakat yang oleh kain tenun
hadir di festival khas Sumbawa
ponan sambil (kre alang)
berburu souvenir
Sumber : analisis paket wisata Desa Poto
Include:
1. Homestay
2. Travel agen
3. Makan siang
Detail harga paket:
Jumlah peserta Harga
1 orang 300/pax
2 orang 290/pax
3 orang 285/pax
4 orang 280/pax
5 orang 275/pax

52
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang
potensi pengembangan destinasi wisata budaya Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa, maka dapat
diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Pengembangan destinasi
wisata budaya Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten
Sumbawa dilakukan dengan menerapkan beberapa aspek yaitu :
(a) versifikasi produk kre alang, (b) pelatihan pekan budaya, (c)
adanya bale budaya sebagai tourism center, (d) revitalisasi
festival ponan.
Strategi pengemasan produk wisata budaya Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa dilakukan dengan
beberapa cara seperti: (a) mengemas produk wisata budaya
menjadi wisata edukasi, (b) mengemas fasilitas, (c)mengemas
pelayanan, (d)melakukan kerjasama dengan stakeholder.
B. Saran
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti berharap penelitian ini dapat menjadi bahan
referensi untuk penelitian selanjutnya, untuk hasil yang
maksimal sebaiknya peneliti melakukan wawancara,
observasi dan dokumentasi secara mendalam.
2. Bagi Masyarakat
Diharapkan masyarakat dan pengelola dapat
memodifikasi budaya yang terdapat di Desa Poto yang
disuguhkan untuk masyarakat lokal dengan membuat lebih
banyak atraksi wisata serta masyarakat tidak terpaku dengan
fasilitas yang seharusnya tetapi bisa menjadikan potensi
yang ada sebagai fasilitas pendukung bagi paket wisata
dengan menggunakan rumah warga setempat sebagai
akomodasi.

53
DAFTAR PUSTAKA
A Muri Yusuf “Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan
Penelitian Gabungan” (Jakarta: Kencana Tahun 2017)

Ardiansyah, Heri Kurniawan Hs, Dwi Yanti “ Peran Pokdarwis


Dalam Pembangunan Sektor Kebudayaan Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa” (Jurnal
kapita Selekta Administrasi Publik Vol.3 No.2 Desember
2022)

Bintang Marsriwa Nusantara, Agus Gunawan, Deria Adi Wijaya


“Strategi Pemasaran Kampung Wisata Baluwarti
Sebagai Destinasi Wisata Budaya di Kota Surakarta” (
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 11, No .1 Tahun 2015

Eko Murdiyanto “Metode Penelitian Kualitatif” ( Lembaga


Penelitian dan Pengabdian Pada Masyrakat UPN:
Yogyakarta Press Tahun 2020)

Hartaman,dkk “Strategi Pemerintah Dalam Pengembangan


Wisata Budaya dan Kearifan Lokal di Kabupaten
Majene” ( Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No.
2 Tahun 2021)

Ida Bagus Dwi Setiawan “ Identifikasi Potensi Wisata Beserta


4A ( Atraction, Amenity, Accesibility, Ancilliary) di
Dusun Sumber Wangi, Desa Pemuteran Kecematan
Gerokgak Kabupten Buleleng, Bali” ( Universitas
Udayana Denpasar Tahun 2015 )

Indah Wulandari, Ofi Hidayat “Model Komunikasi Masyarakat


Terhadap Kelestarian Tradisi Ponan Di Desa Poto
Kecamatan Moyo Hilir (Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi
e-ISSN : 2622-7290 Vol. 6 No. 1 Oktober 2023)

54
Laxy J. Moleong “Metodologi Penelitian Kualitatif” (Bandung:
Remaja Rosdakarya, Tahun 1993)
Leily Suci Rahmatin “Potensi Budaya Lokal Sebagai Atraksi
Wisata Dusun Segunung, Desa Carangwulung” (Jurnal
Kajian dan Terapan Pariwisata Vol.3 No. 2 Mei 2023)

Lexy J. Moleong “Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi”


(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Tahun 2016)

Mardinah Husnul Fitri Wahid “Lawas Sebagai Salah Satu


Wujud Budaya Sumbawa” e-ISSN : 2655-1780
(Universitas Gajah Mada)

Muh. Fitrah dan Luthfiyah “Metodologi Penelitian Kualitatif,


Tindakan Kelas & Studi Kasus” (Sukabumi: CV Jejak
tahun 2017)

Nyoman Dini Andini “Pengemasan Produk Wisata Oleh


Pokdarwis Sebagai Salah Satu Model Pariwisata
Alternatif” (JKB Vol. 20 No. XI Juni 2017)
Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional
(RIPPARNAS) Pasal 14 Ayat (1)

Sahrul Amar, I Made Suyasa, Mahsun “Strategi Pengembangan


Produk Ekonomi Kreatif Kain Tenun Kre Alang Sebagai
Daya Tarik Wisata di Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir”
(Jurnal Of Responsible Tourism Vol. 2 No. 2 November
2022)

Undang-Undang No.10 Pasal 1 Tahun 2009 tentang


Kepariwisataan

Vivin Nila Rakhmatullah “Makna Sajian Makanan Pada Tradisi


Pasaji Ponan Menggunakan Teori Interaksi Simbolik”
(Jurnal Politik, Sosial dan Humaniora e-ISSN : 2988-
2281 Vol. 1 No. 3 September 2023

55
Lampiran 1
PEDOMAN WAWANCARA
POTENSI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA
BUDAYA DESA POTO KECAMATAN MOYO HILIR
KABUPATEN SUMBAWA
Profil Informan

No Nama Jabatan Lama Kerja


1. Fathul Muin Kepala Desa 5 tahun
2. Samsun Amri Pokdarwis 4 tahun
3. Isnaini Sanggar Seni 15 tahun
4 Arief Fianto Tokoh Budayawan 20 tahun

PERTANYAAN:
1. Apa potensi wisata yang terdapat di Desa Poto ?
2. Bagaimana strategi terhadap pengembangan motif produk Kre
Alang?
3. Apa upaya yang dilakukan untuk menjaga kelestarian budaya di
Desa Poto?
4. Bagaimana pengembangan fasilitas destinasi wisata budaya
Desa Poto?
5. Bagaimana pengembangan infrastruktur destinasi wisata budaya
Desa Poto?
6. Bagaimana strategi yang digunakan untuk mengemas produk
Kre Alang?
7. Apakah ada kerjasama yang dilakukan dengan stakeholder
untuk membranding Desa Poto sebagai destinasi wisata budaya?
8. Bagaimana cara yang dilakukan untuk mengemas fasilitas
destinasi wisata budaya Desa Poto?
9. Bagaimana cara yang dilakukan untuk mengemas pelayanan
destinasi wisata budaya Desa Poto?

Lampiran 2
56
Gambar 1 Wawancara dengan Ketua Pokdarwis

57
Gambar 2 Wawancara dengan Kepala Desa Poto

58
Gambar 3 Wawancara dengan Tokoh Budayawan Desa Poto

59
Lampiran 3
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. Identitas Diri
Nama : Aulia Radiva
Tempat, Tanggal Lahir : Olatpo, 22 Desember 2001
Alamat Rumah : Dusun Olatpo, Desa Berare
Nama Ayah : Syamsuddin H.S
Nama Ibu : Sriana
B. Riwayat Pendidikan
Pendidikan Formal
SDN 1 Moyo Hilir 2008-2014
MTs Islam Gunung Galesa 2014-2017
MAN 2 Sumbawa 2017-2020
C. Pengalaman
 Juara 2 Olimpiade Fisika Kabupaten Sumbawa 2017
 Juara Umum Palang Merah Remaja 2017
 Juara 3 Cerdas Cermat 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan
Bernegara 2017
 Juara Umum Ujian Madrasah Berbasis Komputer 2020
 MC The 1 Gen Z Halal Tourism Festival and
Internasional Conference 2022

60

Common questions

Didukung oleh AI

Balé budaya di Desa Poto berfungsi sebagai sentralisasi kegiatan kebudayaan, tempat latihan, dan integrasi berbagai seni seperti Sakeco yang sebelumnya terpecah dan dilaksanakan terpisah . Ini menciptakan sebuah pusat untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan, serta menyediakan informasi kepada wisatawan mengenai budaya dan kegiatan lokal di Desa Poto .

Fasilitas di Desa Poto mendukung pengembangan wisata budaya melalui penyediaan bale budaya yang berfungsi sebagai tourism center, adanya penunjuk arah yang memudahkan wisatawan, serta aksesibilitas yang baik ke tempat festival dan atraksi wisata . Peningkatan infrastruktur, seperti jalan yang bisa dilalui roda empat, juga mendukung pertumbuhan wisatawan .

Revitalisasi festival Ponan memberikan dampak positif dengan melakukan inovasi yang atraktif tanpa menghilangkan nilai tradisi, serta meningkatkan aksesibilitas lokasi festival . Festival ini memperkenalkan seni, musik, dan tarian tradisional kepada masyarakat luas, menjadi ajang silaturahmi, dan wadah pembelajaran budaya bagi generasi muda, yang dapat meningkatkan apresiasi terhadap budaya lokal .

Strategi pengemasan produk wisata budaya di Desa Poto melibatkan beberapa cara, antara lain mengemas produk wisata budaya menjadi wisata edukasi, mengemas fasilitas, mengemas pelayanan, dan melakukan kerjasama dengan stakeholders . Selain itu, fasilitas seperti bale budaya berfungsi sebagai sentral kebudayaan dan pusat informasi, serta terdapat penunjuk arah dan wisata edukasi melalui paket wisata .

Pokdarwis di Desa Poto berkontribusi dalam inovasi produk wisata melalui diversifikasi produk Kre Alang menjadi suvenir yang lebih komersial, mengadakan pekan budaya untuk melestarikan Sakeco, serta memanfaatkan festival Ponan sebagai atraksi utama yang terintegrasi dengan infrastruktur yang lebih baik . Inovasi ini diharapkan dapat menarik wisatawan baik domestik maupun asing, meningkatkan pembayaran langsung masyarakat lokal dan memperkenalkan Sumbawa ke ranah internasional .

Pokdarwis berperan penting dalam pengembangan sektor kebudayaan di Desa Poto dengan melibatkan diri dalam pelatihan diversifikasi produk seperti tenun kre alang, mengadakan pekan budaya untuk melestarikan kesenian Sakeco, dan mengorganisasi festival sadekah ponan . Penyediaan fasilitas seperti bale budaya sebagai pusat integrasi kebudayaan dan infrastruktur yang memadai juga menjadi bagian dari upaya Pokdarwis .

Hambatan yang dihadapi oleh Pokdarwis meliputi keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya sarana dan prasarana, komunikasi yang terbatas dengan Pemerintah Daerah, serta tidak adanya anggaran tetap bagi Pokdarwis . Meskipun ada dukungan langsung dari masyarakat dan Pemerintah Desa, tantangan internal ini dapat menghambat kelancaran pengembangan kebudayaan .

Kesenian Sakeco dipertahankan di Desa Poto melalui pelatihan pekan budaya yang diadakan sekali dalam seminggu oleh Pokdarwis, bertujuan sebagai warisan budaya kepada generasi muda . Sakeco tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana untuk melestarikan dan menyebarkan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi . Dengan demikian, Sakeco berperan penting dalam mempertahankan kebudayaan lokal dan bertindak sebagai filter terhadap penetrasi budaya dari luar .

Diversifikasi produk Kre Alang dari kain tenun menjadi produk seperti totebag, pakaian, bros, dan aksesoris memudahkan pemasaran dan mempercepat perputaran penjualan . Hal ini membantu dalam meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dengan membuka peluang pasar baru di tingkat nasional dan internasional, serta menambah daya tarik wisata budaya di Desa Poto .

Tradisi Sakeco diintegrasikan ke dalam pekan budaya yang diadakan setiap minggu untuk memberikan pendidikan dan memperkuat nilai budaya kepada generasi muda . Sementara itu, Sadekah Ponan, dengan acara pra-ponan dan puncaknya, menyajikan pertunjukan budaya seperti tarian daerah dan drama yang mengisahkan sejarah tradisi ponan, menjadikannya sarana pembelajaran yang efektif bagi anak-anak dan generasi muda .

Anda mungkin juga menyukai